Anda di halaman 1dari 4

Emas dan Air Laut Emas?

Emas adalah logam pertama yang bisa menyaingi perhiasan2 dari batuan spt Berlian,Safir dll. Uniknya, dunia modern mengklasifikasikan logam-logam mulia tersebut dalam kolom yang sama. Tabel Periodik menempatkan emas, perak, dan tembaga (dengan simbol masing-masing Au, Ag, dan Cu) dalam kelompok yang sama yakni Golongan 11. Berbeda dengan kebanyakan logam lainnya, emas memiliki sifat yang sangat istimewa. Archimedes (300 SM) membuktikan bahwa emas bisa dideteksi tanpa merusak dan hanya dengan menggunakan air tawar biasa. Karena bukan termasuk logam yang aktif maka emas tidak terpengaruh oleh air dan udara. Tidak seperti besi atau logam lainnya, emas tidak bisa berkarat. Selain itu, emas juga termasuk logam yang sangat lunak. Bisa ditempa menjadi lempengan yang super tipis dan bisa juga ditempa menjadi kawat dengan ketebalan super mini. Bayangkan saja, satu ons emas bisa ditempa dengan luas seukuran 100 kaki persegi atau dibuat kawat sepanjang 50 mil. Emas juga dikenal sebagai logam mulia paling berat. Satu kaki kubik emas beratnya mencapai lebih dari setengah ton. Itulah sebabnya mengapa dalam sejarah manusia tidak pernah ada pencurian emas dalam skala besar karena untuk itu diperlukan alat berat untuk mengangkatnya. Sepanjang sejarah manusia, penambangan emas dunia dari tahun ke tahun hanya mengalami kenaikan dua persen tiap tahunnya. Dalam setahun seluruh industri tambang emas dunia menghasilkan kira-kira 2.000 ton emas. Bandingkan dengan produksi baja AS sejak 1995 seperti yang dirilis Iron and Steel Institute yang bermarkas di Washington DC yang mencapai 10. 500 ton perjamnya. Sebab itu, emas sungguh-sungguh logam yang sangat langka dan sangat stabil nilainya sejak awal sejarah manusia hingga kini. Penggunaan emas dan perak sebagai mata uang sejati sesungguhnya telah dipergunakan berabad-abad yang lalu. Koin emas dalam sejarah dibuat pertama kalinya pada masa Raja Croesus dari Lydia, sebuah kerajaan kuno yang terletak di barat Anatolia, sekitar tahun 560 SM. Emas adalah logam yang paling empuk,mudah di tempa dan mudah untuk melapisi logam apapun dari pada logam2 lainnya. Emas adalah logam yang paling langka di muka bumi. Emas Berwarna kuning kemilau, cerah dan indah sehingga bila di masukkan ke dalam air tidak akan Teroksidasi (bercak2 hitam). Bila suatu Negara pecah perang dan mata uang di hilangkan dari Negara itu, maka Emas akan digunakan sebagai Uang atau alat tukar, contoh, Yugoslavia dan negara2 lainnya. Emas adalah penghantar listrik yang paling baik. Emas bisa di tempa setipis mungkin hingga menjadi hampir transparan spt kaca. Emas bila ditempa dengan logam lain maka emas yg akan mempengaruhi kekerasan maupun kelenturan dari logam yg di tempa tsb. Emas 24 karat tidak memiliki rasa dan bau. Emas dijadikan Simbol untuk Juara 1 di dalam olahraga2 Dunia spt Olimpiade dan lain2, sedangkan Perak Juara 2 dan Perunggu juara 3. Emas bisa di jadikan benang yg lembut, lebih lembuh dari logam manapun, kecuali Sutra, karena sutra bukan terbuat dari logam, banyak Orang kaya yg suka menggunakan sebagai baju dan juga mandi dengan benang emas untuk kesehatan

dan kekuatan. Sampai saat ini tidak ada prediksi kandungan Emas di bumi, itulah mengapa endapan Emas di laut jumlahnya sampai jutaan ton, tapi satu yang pasti hingga kini Emas masih tetap banyak di produksi. Lautan kita pun mengandung 20 juta ton emas. Tapi, logam mulia ini sangat encer. Dalam setiap liter air laut terkandung sepersekian miliar gram emas. Logam incaran manusia ini juga larut dalam bebatuan di dasar laut dan sejauh ini belum ada cara yang efisien untuk mendapatkan emas murni dari lautan ini. Sekilas Mengenai Emas Yang Ada di Lautan. Air laut mengandung sekitar 0,1-2 mg / ton emas dilarutkan dalam air (rata-rata 1 mg / ton). Tetapi mengingat jumlah air laut yang tersedia, itu adalah tambang emas benar-benar besar. Secara teoritis bagus, tetapi masalah yang praktis (yang mencegah ekstraksi menguntungkan sampai sekarang). Namun ini bisa menjadi mungkin dengan teknik elektrolisis tua, dengan satusatunya perbedaan bahwa perbedaan tegangan antara elektroda harus dijaga sedikit kurang dari perbedaan potensial minimum yang diperlukan untuk elektrolisis air. Perbedaan, katakanlah 1,48 volt, yang di bawah air tidak akan dihidrolisis. Tapi karena emas terletak di bawah hidrogen dalam seri elektrokimia, itu akan bisa diendapkan pada katoda. Karena tidak praktis untuk memompa jutaan galon air, lebih praktis untuk memindahkan elektroda di daerah luas lautan.

Dengan sedikit modifikasi, para propellors kapal dapat dirancang untuk membentuk elektroda. Masing-masing dari 3 pisau akan menjadi tumpukan 3 pisau (seperti sandwich) dengan pisau terjepit dipertahankan ve dan dua lainnya membentuk katoda (tentu saja mereka tidak akan menyentuh satu sama lain. Akan ada kesenjangan beberapa cm antara masing-masing pisau, didukung oleh karet / gabus). Kemiringan masing-masing pisau akan jauh lebih sedikit daripada propeler konvensional, sehingga membuat lebih banyak revolusi per kemajuan, dan

karenanya memindai volume air lebih efektif. Hal ini praktis untuk membuat setiap blade 1,7 meter panjangnya, sehingga luas penampang lingkaran yang terbentuk pada revolusi pisau akan menjadi 10 meter persegi. Ini akan memindai 10 ton air per 1 meter digerakkan oleh kapal. Menimbang bahwa efisiensi ekstraksi hanya 0,1 mg / ton, datang ke 1 mg / meter jarak yang ditempuh (atau 1 gram per km atau 1 kg emas per 1000 km) Jadi, ini mungkin tidak menguntungkan jika kapal dirancang hanya untuk emas berburu. Tapi itu bisa menjadi bonus nyata bagi kapal-kapal komersial yang memiliki untuk menutupi ribuan km pula. Survei, yang dilakukan sebagian besar di Atlantik Selatan, antara Maret, 1925 dan Juli, 1927 Hasil penelitian menunjukkan bahwa emas dilarutkan dalam konsentrasi yang jauh lebih rendah daripada yang diharapkan: hanya 0,003 mikrogram (0.0000003 gram) per liter air laut. Biaya mengekstraknya untuk membuat koin emas akan biaya jauh lebih besar dari nilai koin emasnya. Oleh karena itu riset di lanjutkan, tetapi apa yang patut dicatat tentang hal itu adalah ide mengekstraksi logam dari air laut, yang tak pernah pikirkan sebelumnya.

Konsentrasi logam di laut jika bandingkan dengan jumlah sumber daya di darat sebenarnya lebih besar di lautan daripada di daratan: diantaranya nikel, seng, emas dan perak. Karena semakin banyak sumber daya tanah bumi dieksplorasi, sadar tidak sadar pasokan logam dari darat akan habis, lautan akan menjadi reservoir bumi terbesar untuk sumber logam. Upaya Jerman untuk mengekstrak emas dari air laut pada 1920-an mungkin telah berakhir dengan kegagalan, tetapi kita sekarang pada tahap dimana seluruh dunia harus mempertimbangkan kembali lautan sebagai lumbung logam yang berlimpah, tidak hanya emas, tapi mineral lainnya juga. Pernahkan anda melihat pendulang butiran emas di pelabuhan ratu, ya, cara ini sudah lama dilakukan di Indonesia,meski hasil yang di dapat oleh para pendulang air laut ini hanya sekitar 0,2 gram perhari. Sebenarnya lebih mudah untuk memompa air laut pada wilayah pesisir pantai, daripada pertambangan di darat dengan membor jauh ke dalam bumi. Hasil bijih emas dari darat disempurnakan/dimurnikan dengan menggunakan temperatur yang sangat tinggi dan sejumlah besar polusi dari limbah kimia. Masalah seperti itu tidak akan muncul dalam proses ekstraksi logam dari air laut, penggunaan bahan kimia yang membahayakan tidak lagi digunakan, air laut begitu banyak tersedia. Lalu, mengapa cara ini tidak langsung ada yang memulai?Masalahnya

adalah bahwa kita belum memiliki teknologi untuk mengekstrak emas di laut dengan konsentrasi yang rendah ini secara ekonomis dan efisien. Tetapi tidak perlu khawatir manusia tidak pernah lelah dalam mencari cakrawala baru, dan tentu saja salah satu mimpi besar dimasa depan bagi para ilmuwan yaitu menemukan cara mengekstrak logam dari lautan yang efisien dan ekonomis.

Proses Pengolahan Emas Pada Air Laut Pada proses pengolahan emas pada air laut dapat menggunakan proses sianida. Proses Sianidasi terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari larutannya. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses cyanidasi adalah NaCN, KCN, Ca(CN)2, atau campuran ketiganya. Pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya. Secara umum reaksi pelarutan Au dan Ag adalah sebagai berikut: 4Au + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Au(CN)2- + 4OH4Ag + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Ag(CN)2- + 4OHPada tahap kedua yakni pemisahan logam emas dari larutannya dilakukan dengan pengendapan dengan menggunakan serbuk Zn (Zinc precipitation). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

2 Zn + 2 NaAu(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Au + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2 2 Zn + 2 NaAg(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Ag + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2 Penggunaan serbuk Zn merupakan salah satu cara yang efektif untuk larutan yang mengandung konsentrasi emas kecil. Serbuk Zn yang ditambahkan kedalam larutan akan mengendapkan logam emas dan perak. Prinsip pengendapan ini mendasarkan deret Clenel, yang disusun berdasarkan perbedaan urutan aktivitas elektro kimia dari logam-logam dalam larutan cyanide, yaitu Mg, Al, Zn, Cu, Au, Ag, Hg, Pb, Fe, Pt. setiap logam yang berada disebelah kiri dari ikatan kompleks sianidanya dapat mengendapkan logam yang digantikannya. Jadi sebenarnya tidak hanya Zn yang dapat mendesak Au dan Ag, tetapi Cu maupun Al dapat juga dipakai, tetapi karena harganya lebih mahal maka lebih baik menggunakan Zn. Proses pengambilan emas-perak dari larutan kaya dengan menggunakan serbuk Zn ini disebut Proses Merill Crowe.