: D16 : TUMOR JINAK TULANG : 1. Keluhan : tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang 2.

Fisik : tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas, atau ada patah tulang patologis 3. Radiologi : X-foto tulang; tampak densitas tulang bertambah (osteoblastik) atau berkurang (ostolitic) atau campuran. 4. Alkali fosfatase naik 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang 3. Osteomyelitis 5. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radiologi : X-foto tulang, CT-scan 2. Biopsi : FNA, biopsi tulang, pemeriksaan spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Bedah : 1. Reseksi tulang 2. Kuretage 3. Cryosurgery b. Non Bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Penyulit : 1. Penyakit 2. Terapi 11. Informed Consent : Perlu 12. tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Dokter Spesialis Bedah Onkologi 13. Lama Perawatan : ± 1 minggu 14. Masa Pemulihan : ± 4 – 12 minggu 15. Hasil : Bebas tumor, sembuh 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak tulang 1). Osteoma, 2). Osteobastoma 3). Kondroma 4). Kondroblastoma 5). Adamantinoma 6). Fibroma 7). Hemangioma 8). Limfangioma 9). Giant cell tumor 2. Tumor non neoplasma 1). Kiste tulang 2). Fibrous displasia 17. Otopsi : 18. Prognosis : Baik, tumor hilang / sembuh 19. Tindak lanjut : -

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

1

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D23 : TUMOR JINAK KULIT TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT : Neoplasma jinak kulit, D24 Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis 1. Papiloma 1). Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit, permukaan kasar 2). Berwarna seperti kulit normal disekitarnya 2. Epithelioma 1). Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit 2). Berwarna seperti kulit normal 3. Nevus pigmentosus Plaque atau nodus berwarna hitam 4. Kiste dermoid 1). Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau brachial cleft 2). Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak, dinding 5. Dermatofibroma 1). Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkutis 2). Berwarna coklat, menyerupai keloid Tumor non neoplasma kulit 1. Verruca vulgaris (B07) 1). Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan yang besar 2). Warnanya seperti kulit normal disekitarnya 2. Keratosis (L82-L86) 1). Keratosis seborrhoicum (L82) a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna coklat atau kehitaman, sering multipel b. Lokasi trutama pada kulit muka atau leher dan tubuh 2). Keratosis solaris = keratosis senilis (L57.0) a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoicum b. Umumnya terdapat pada orang tua c. Lokasi terutama pada muka, leher dan bagian kulit yang terbuka 3). Keratoacanthoma (L85.8) a. Tumor papiler dengan sentralnekrose, b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami regresi spontan c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma kulit keganasan rendah 4). Kiste epidermoid (L72.0) a. Tumor kistus subkutan, berisi sebum, berdinding epidermis b. Lokasi umumnya di tangan atau kaki

2

4. Diagnosis banding : 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Terapi a. Bedah b. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi

17. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut

: : : : 1. Eksisi tumor, 2. elektrokoagulasi, 3. desikasi, 4. kuretage, 5. dermobrasion : 1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate, 2. salep FU, salep keratotlitik : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. : 1. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Terapi : perdarahan, infeksi, timbul keloid : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : Poliklinik : ± 1 minggu : Benas tumor, sembuh : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak kulit 1). Nevus intradermal 2). Nevus junctional nevus 3). Compound nevus 4). Papiloma 5). Epithelioma 6). Adenoma 7). Keratoacanthoma 8). Syringoma 9). Hydradenoma 10). Trichoepithelioma 11). Demoid cyst 2. Tumor non neoplastik kulit 1). Seborrhoic keratosis 2). Verruca vulgaris 3). Molluscum contagiosum : : baik : 3 bulan, 6 bulan kemudian lepas

5). Kiste sebaceus = Atheroma (L72.1) a. Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum b. Pada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang buntu oleh sebum yang mengeras c. Tumor mobil dari jaringan subkutan dibawahnya 6). Molluscum contagiosum (B08.1) a. Nodus kecil di kulit, berwarna keputihan b. Bila dipencet keluar inti yang keras 7). Granuloma (L92.3) a. Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi lunak, mudah berdarah (L92.3) b. Dapat berupa reaksi benda asing dibawahnya berupa benang (T81.8) Tumor ganas kulit Diagnosis : Pemeriksaan patologi spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

3

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D17 s/d D21 : TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK & TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK : Tumor jinak jaringan lunak 1. Lipoma, D17 Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan, konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan 2. Hemangioma, D18 1). Hemangioma kapilare Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu anak-anak 2). Hemangioma cavernosum a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons, berwarna kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan, umumnya sebelum umur 5-7 tahun 3). Hemangioma arteriale (hemangioma racemosum, cirrsoid hemangioma) a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok, berdenyut, karena ada shunt antara arteri dan vena, sejak bayi atau kecil b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala 3. Limfangioma, D18 1). Limfangioma kapilare (limfangioma simpleks) Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, berisi cairan limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul sejak lahir atau waktu kecil 2). Limfangioma cavernosum Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, seperti bibir (makrocheili) lidah (makroglosi), dsb, dengan kulit diatas tumor berwarna normal, konsistensi seperti spons 3). Limfangioma kistikum (Higroma) a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit diatas tumor warnanya normal, timbul sejak lahir atau waktu bayi b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) atau di axilla (higroma axillare). 4. Fibroma, D21 1). Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsistensi ada yang beras (fibroma durum), ada yang lunak (fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan ikat pada tumor. 2). Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare 3). Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia musculus rektus atau obliquus abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas, tetapi patologis sebagai tumor jinak

4

Pemeriksaan penunjang : 6. Q85. tumor atau polipoid. kelas C R.1 1). Terapi : perdarahan. biopsi. CT-scan. dengan ukuran bervariasi. Berbentuk tumor bulat panjang. sembuh 5 . Tumor ganas jaringan lunak 1. Hasil : : : : 1. Informed Consent 12. Non bedah 9. Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion karpi). konsistensi berubah menjadi padat. Terapi a. Penyulit 11. M67.S. konsistensi lunak 3). 2. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. sering multipel sepanjang jalan syaraf perifir.0 1). suatu plaque berwarna coklat susu pada kulit 4). 2). multipel diseluruh tubuh. Berbentuk nodus. Neurofibromatosis von Recklinghausen. berasal dari bungkus syaraf.4 1). Ganglion. Tenaga standar 13. infeksi : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : ± 3 hari : ± 1 minggu : Bebas tumor. Diagnosis banding : 5. Radiologis : X-foto. Abrasi / dermobrasi : 1. MRI pada tempat tumor 2. kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea (ganglion poplitea) 1). Dapat timbul nyeri atau paraestehia Tumor non neoplasma 1. : 1. Suatu penyakit kongenital herediter. kortikosteroid. yang terdapat sejak lahir atau baru manifest setelah dewasa. yang berisi cairan seperti gudir. Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat. Hemangioma : radioterapi. menjadi neurogenic sarcoma. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Tempat pelayanan 10. Cryosurgery 3. Konsultasi 7. Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi. Elektro cauter 4. Eksisi tumor 2. 2). Patologis : FNA. D36. dikulit. Masa pemulihan 15.S. Yang khas ialah terdapat cafe aux lait. harus dicurigai mengalami transformasi ganas. pemeriksaan spesimen operasi Staging : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait Ruang inap untuk diagnosis dan tindakan 4. Bedah b.5. Perawatan RS 8. Neurofibroma. yang tumbuh progresif dengan pelan 2). Lama perawatan 14. tatouage 2. subkutis atau subfascial. Ganglion : kortikosteroid intra kistik : Minimal R.

Otopsi 18. 24 minggu. Lipoma 3. Patologi 17. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. kemudian lepas 6 . Fibroma 4. Gangion aponeutikum 10. 52 minggu. Prognosis 19. Rhabdomyoma 7. Benign fibrous histiocytoma 5. Hemangioma 2. Synovioma 8. Neurofibromatosis : : Baik : 12 minggu.16. Neurofibroma 6. Leiomyoma 9.

Informed Consent : Perlu 12. kelas C R. Prostat : adenoma. FNA. Diagnosis 1. Terapi : a. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. ICD 2. Patologi : biopsi eksisi. Bedah : Eksisi tumor. umumnya < 2 cm. Non bedah : 9. Prostat : hiperplasia 2). atheroma 17. infeksi 11. Kriteria diagnosis : 1. sertoli sel tumor. berbatas tegas. pemeriksaan spesimen operasi 2. padat atau kisteus. penis atau skrotum 4. biopsi testis. pemeriksaan spesimen operasi 6. di prostat (colok dubur) testis. epididimis. Neoplasma 1). Keluhan : testis. Prognosis : Baik 19. Otopsi : 18. hidrokel funikuli 3). Fisik : tumor kecil. ICD : Teratoma Ganas In situ Jinak Tidak tentu 7 . Hasil : Bebas tumor / sembuh 16. penis atau kulit genetalia 2. Tempat pelayanan : Minimal R. Tumor ganas 2. Tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Urologi 13. Terapi : perdarahan. Hidrokel testis 3. Diagnosis banding : 1. Testis & epididimis : teratoma matur. Tumor non neoplasma 1). Spematokel 5.S. Tindak lanjut : - 1. Penyakit : 2. karsinoid. Penis & skrotum : kiste epidermis. tumor Brenner 2. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait ] 7. fibroma. myoma 2). lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Lama perawatan : ± 3 hari 14. TUR b.: D29 : TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI 3. Testis & epididimis : granuloma. Masa pemulihan : ± 1 minggu 15.S. Perawatan RS : Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Penyulit : 1. spermatookel.

Sacoccocygeal C76. Penyulit 11. MRI pada tempat tumor 2.3 D15. Perawatan RS 8. Tenaga standar 13.2. ovarium. patologi N : Klinis. Stadium dini : bebas kanker 1. FNA M : Klinis. Diagnosis 3. Supraseller C71.9 D07. hanya untuk tumor ganas T : Klinis. kelas-C. Bedah b. Penyakit : erosi atau destruksi tulang disekitarnya 2. Radiologis : X-foto. Makin dewasa manifestnya.S. dsb.S. Fisik : 1).7 D36.2 TERATOMA 1.6 D29. Tumor jinak atau ganas organ yang bersangkutan Diagnosis 1. Tempat pelayanan 10. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak 2. dsb 1. tulang. Radiologi : X-foto polos/CT-scan. CT-scan. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi teratoma.0 D20. Retroperitoneum C48. Mediastinum C38. Manifest sejak lahir. Hasil : : : : 1. Pemeriksaan penunjang : 6. R. 2. Konsultasi 7.3 4.1 6. Eksplorasi operasi : untuk melihat keadaan tumor Staging. Lama perawatan 14.7 2.3 D27 D39. pemeriksaan spesimen operasi 3. ada yang kistik yang terdapat pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi suatu teratoma 2). Informed Consent 12. imaging. seperti di sacrococcygeal. Teratoma jinak : eksisi tumor 2. mengandung kulit. Teratoma ganas : eksisi luas atau organtektomi : Radioterapi : Minimal R. 4. Testis C62 D07. biopsi. rambut. testis. imaging. infeksi 2). Eksplorasi operasi : Tumor berkapsul yang tegas (ganas). Patologis : FNA. Radioterapi : radionekrose : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 7 hari : ± 1 bulan : 1.2 D38. Ovarium C56. Operasi : perdarahan.7 D48. Kriteria diagnosis : : 4.1 5.2 D40. Masa pemulihan 15. patologi Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8 . dsb.9 D33. Non bedah 9. usus. MRI : nampak ada klasifikasi atau bentuknya seperti tulang.3 D09. gigi. Berbentuk tumor ada yang padat. Terapi a.2 D43. makin besar kemungkinan keganasan 3. Diagnosis banding : 5.0 D48. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. atau setelah dewasa. Terapi 1). imaging.3 3.

Stadium sangat lanjjut : jelek : 0 – 3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 – 5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 1. Otopsi 18.4-C22. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Stadium dini : baik 2. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. ICD : C64-C79. Teratoma ganas 2.0-C22. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tindak lanjut 2. Patologi 17.16. Teratoma jinak 3. Stadium lanjut : dubius 3. Teratoma sifat tidak jelas : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1.2 9 . Prognosis 19.

C79. dsb. Terdapat tumor di mediastinum. Diagnosis banding : KANKER PEDIATRI 1. releks papil putih. 2. Laboratorium : AFP naik. yang terdiri dari campuran derivat jaringan epithelial. C69.2. in situ. dapat di leher. Keluhan : sakit perut. strabismus. mual muntah. umumnya pada umur dibawah 5 tahun 2). abdomen. dapat mengalami regresi spontan pada bayi kurang dari 1 tahun 2). Pada penyinaran : X-foto polos. Ada trias gejala : tumor abdomen. tetapi umumnya di kelenjar adrenal. gigi. hipertensi atau panas 3). HEPATOBLASTOMA 4. usus. umumnya dibawah 12 tahun 3). pada USG abdomen terlihat tumor dari ginjal 4). sifat tidak tentu atau jinak 3). hati. Laboratorium : dalam urine terdapat kenaikan katekolamine. ikterus 4. RETINOBLASTOMA 5. Retinoblastoma. berat badan meurun 2). ovarium. terlihat ada klasifikasi dalam tumor. pada IMP terlihat pyelum normal 3). endothelial dan mesenchymal (tulang. HVA = homo vandelic acid 3. Diagnosis 3. C76.2 1). 2). Radiologi : USG abdomen / CT-scan : nampaktumor pada hati 4). Tumor berasal dari ginjal. VMA = vanyl mandelic acid. retroperitoneum. gangguan fungsi hati. TUMOR WILMS. C22. dsb) 2). NEUROBLASTOMA 3. pada umur dibawah 5 tahun. testis. Tumor pada hati pada anak. Tumor ginjal pada anak-anak. CT-scan atau MRI nampak ada tulang atau macam-macam komponen jaringan dalam tumor : 1). TERATOMA : 1. toraks. anemia 2. umumnya pada umur 1-3 tahun 2). anoreksi. ada filling defek di pyelum. Radiologi : pada IVP. Kriteria diagnosis 4. Tumor dapat uni atau bilateral 5. Tumor dapat bersifat ganas.2 1). Laboratorium : hematuria. nyeri dan hematuri. panas. kulit. Terdapat leukocoria. mungkin pula disertai anemi. Teratoma. Radiologi : Pada X-foto polos. rambut. Tumor jinak. Tumor mata pada anak-anak. Tumor Willem (nephroblastoma). Neuroblastoma adrenal. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 10 .2 1).4 1). pada USG. FlexnerWintersteiner rosette pada retina 3). Hepatoblastoma. C64 1). Limfoma maligna 5. Tumor ganas syaraf atau ganglion perifir. tampak ada tulang atau kalsifikasi dalam tumor pada USG.

infeksi. patologi 6. ganglioneuroma 3. Organtektomi : Pada tumor Willen : nefrektomi. Patologi 17. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. fungsi ginjal. : Minimal R. pada ovarium : ovariektomi. 2. patologi M : Klinis. : 1. paraneoplastik sindrom 2. sitologi 4. Radiologi : IMP. actinomycin-D. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna dalam 1-3 bulan. Kemoterapi : dengan vincristine. Radioterapi pre atau pasca bedah. pada testis : orchidektomi. MRI 2. 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. hepatocelular carcinoma 4. Eksisi luas tumor.S. imaging. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Bedah : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : 1. Mata : retinoblastoma 5. Terapi a. seroma. katekolamine 3. Patologi. Tempat pelayanan 10. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. USG abdomen. Masa pemulihan 15. Hepar : hepatoblastoma. Penyulit 11. Konsultasi 7. benign teratoma. Hasil 16. derajat Staging : T : Klinis. Sitologi : FNA. terato carcinoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan ksus kematian yang sebabnya tidak jelas b. fungsi hati. Ginjal : nephroblastoma 2. pada mata : eksentrasio bulbi. Penyakit : perdarahan. gangguan fungsi organ : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Anak Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 10 – 14 hari : ± 12 minggu : 1. Laboratorium : darah. imaging. Stadium dini : bebas kanker 2. Lama perawatan 14. patologi N : Klinis. doxorubicin. dsb. Adrenal : neuroblastoma. Terapi : perdarahan. kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. cyclophospha-mide. Non bedah 9. Otopsi 11 . CT-scan. imaging.1. Perawatan RS 8. jenis histologi. infeksi. urine. atau radioterapi primer bila tumor inoperabel. Teratoma : malignant teratoma. AFP.

Stadium sangat lanjut : jelek : 0 . Stadium dini : baik 2. Stadium lanjut : dubius 3. Tindak lanjut : 1.3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 . Prognosis 19.5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 12 .18.

ketiak. USG abdomen. alkali fosfatase. Diffuse NHL. Keluhan : 1). Peripherial and cutaneous T-cell lymphoma.1. Limphadenitis tuberkulosa 3. Pada laparotomi karena ileus ditemukan adanya agregat jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan obstruksi ileus itu Diagnosis banding : 1. 4. Hodgkin Disease = HD C81 2. MRI 3. Pembesaran kelenjar limfesuperficial seperti di leher. faktor resiko 2. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma. penurunan berat badan atau berkeringat malam yang tidak jelas sebabnya 2. di salah satu atau lebih regio kelenjar limfe superficial. Epidemiologi : umur. Immunohistokimia : Sel-T atau sel-B Staging 1. 8. sumsum tulang terbuka. tonsil atau lingkaran Waldeyer 3. Non bedah : 1. atau benjolan di tonsil atau faring. Patologi : pS = pathological staging Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Pada sindroma vena cava superior 13 . Patologi : biopsi kelenjar limfe. C84 4. atau dengan VC 5. bila limfoma masih lokal pada satu regio 2). torakoskopi 6. Radioterapi : 1). laparotomi. inguinal. pada NHL = Nn Hodgkin Limfoma tidak 7. Diagnosis 3. Klinis : cS = clinical staging 2. Laboratorium : darah lengkap. fungsi ginjal. Limphadenitis non spesifik Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. C82 2). 40 Gy. ICD 2. fungsi hati. ditemukan sel Reed Sternberg. Eksplorasi : laparoskopi. albumin. X-foto tulang. ketiak. 5. CT-scan abdomen. Fisik : limfadenopati singel atau multiple. jika timbul ileus atau peritonitis b. inguinal. 7. Radiologi : USG abdomen. : C81 s/d C85 : LIMFOMA MALIGNA 1. 6. seperti leher. sumsum tulang 4. Patologis : jenis histologi. SGPT. globulin. Follicular (nodular) NHL. Tumor jinak kelenjar limfe 2. CTscan. MRI untuk terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe 4. Panas badan. C83 3. Radiologi : X-foto toraks. tulang. Bedah : Laparotomi. pada HD = Hodgkin Disease. C85 Kriteria diagnosis : 1. LDH. Non Hodgkin Lymphoma = NHL 1). atau keluhan karena ada benjolan di perut 2).

MOPP = mechorethamine. Hodgkin Disease 1). Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 14 . vinblastine dan dacarbazine 2). alopecia Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis onkologi medik ± 24 minggu ± 4-8 minggu 1. Patologi : : : : : : 17. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tempat pelayanan 10. Kemoterapi : Netropenia. oncovin. Non Hodgkin Lymphoma 1). mual / muntah. Tindak lanjut : : : 2. Prognosis 19. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Diffuse 2. Otopsi 18. Nodular sclerosis 3). Follicular (Nodular) 2). Lama perawatan 14. anemia. Terapi : 1). Lymphocytic predominace 2). peritonitis. Plasmacytoma 4. Mixed cellularity 4). Informed Consent 12. Mycosis fungoides 3. Stadium dini : bebas kanker 2. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Reticulosarcoma perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas 1. bleomycin. Kemoterapi dengan : 1).Other Hodgkin’s disease 6). prednison dan procarbazine Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 1. Operasi : Perdarahan. Hasil 16. Penyakit : ileus obstruksi. lemas 3). Lymphocytic depletion 5). Tenaga standar 13. radionekrose. AVBD = adriamycin. sindrom vena cava superior 2. Stadium dini : baik 2. infeksi 2). Radioterapi : Radiodermatitis. Hodgkin’s unspecified 7). Penyulit : : 11. Masa pemulihan 15.9.

Metastasis kanker dari tempat lain. Laboratorium : test immunologis (TBC. Perawatan RS : Rawat inap bila perlu. Bedah : Tergantung dari penyebabnya b. Masa pemulihan : ± tegantung dari sebabnya 15. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker T : cari letak tumor primernya. terfiksasi. Hasil : Tergantung dari sebabnya : 1. Diagnosis 3. Singel atau multipel 2. toksoplasma) Staging. baik spesifik maupun non spesifik 2. klinis dan imaging 6. Patologi : FNA. Reaktif hiperplasia 4. atau tidak sembuh dengan antibiotika atau obat anti TBC 2). Limphadenitis khronika. Limfoma maligna 1. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin) 3. Kriteria diagnosis 15 . Dicurigai ganas : 1). klinis dan imaging N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase jauhnya M : cari lokasi metastase jauhnya. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi 1. ICD 2. Pemeriksaan pennunjang : Diagnosis : 1. Penyulit : 1. ketiak. Sekunder : bila ditemukan ada tumor primernya 4. inguinal yang dapat : 1. Lama perawatan : ± tegantung dari sebabnya 14. Reaktif hyperplasia : sembuh 3. biopsi eksisi 3. Terapi : a. Tuberkulosa : sembuh 2. Penyakit : 2. Terapi : 11. untuk diagnosis dan tindakan 8. Primer : apabila kelenjar membesar progresif.: R59 : LIMFADENOPATI : Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio leher. Informed Consent : Perlu 12. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk konglomerat 3. Metastase kanker : sukar sembuh 16. Diagnosis banding : 1. 5. Reaktif hiperplasia kelenjar lilmfe 3. tanpa ada radang. Radiologi : tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk mencari tumor primernya 2. Non bedah : Tergantung dari penyebabnya 9.C77 atau C80. padat. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Limfadenitis tuberkulosa 2. Limfoma maligna : bebas kanker 4. ICD.

Prognosis 19. Non neoplasma : baik 2. Neoplasma : tergantung dari stadiumnya : Tergantung dari penyebabnya 16 . C77 atau ICD topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis menjadi MUO = Metastase of Unknown Origin atau CUP = Cancer of Unknown Primary. Tindak lanjut 4. ICD. Metastase kanker Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat ditemukan tumor primernya (ICD. Otopsi 18.17. C80) : : 1.

Epidemiologi : umur. Laboratorium : darah. cyclophosphamide. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. patologi spesimen operasi N : Klinis. Chemoterapi : a). Ekstemitas : 1). MRI. CT-scan. Bedah : 1. Operasi : a). ada invasi tumor keluar tulang. Radiologi : X-foto tulang. cisplatin. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. lokasi tumor 2. leher. Radioterapi pra atau pasca bedah. Reseksi tulang + transplantasi tulang atau prosthese tulang (limb preserving operation) 2). MRI. Penyulit : 1. fosfatase alkali 4. Amputasi / disartikulasi 2. Scintigrafi tulang 3. Terapi 1). USG abdomen. biopsi tulang. timbul patah tulang. CT-scan. scintigrafi tulang). Radionekrose c). Osteomyelitis 5. Fibrosis 3). Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah ortopaedi 13. paraplegia 3. urine. Masa pemulihan : ± 4-12 minggu 1.: C40-C41 : KANKER TULANG : 1. Kepala. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait 7. Alopecia 11. tubuh : Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks / rekonstruksi b. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Kiste tulang 3. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. Radiodermatitis b). paraplegia 2. Lemas d). Mual/muntah c). MRI : ada pembentukan tulang baru (Codman’s trangle). nyeri tulang. ada “sunrays phenomen” pada osteogenic sarcoma. Non bedah : 1. Keluhan : tumor. Terapi : a. Perdarahan b). faktura patologis 4. Diagnosis 3. Hematoma c). Diagnosis banding : 1. Infeksi d). patah tulang patologis. fungsi hati. ICD 2. imaging (X-foto toraks. Patologi : Biopsi : FNA. atau radioterapi primer 2. Tumor jinak tulang 2. methotrexare 9. imaging. Informed Consent : Perlu 12. derajat diferensiasi sel) Staging T : Klinis. doxorubicin. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. CT-scan. Fisik : tumor pada tulang dengan invasi keluar tulang. fungsi ginjal. patologi 6. Kriteria diagnosis 17 . Radiologi : X-foto tulang. paraplegia 2. Kemoterapi : dengan kombinasi cyclophosphamide. Radioterapi : a). Cacat 2). Penyakit : fraktur. Netropenia b). imaging M : Klinis. atau phenomena “union peel = kulit bawanng” pada Ewing sarcoma.

Hemangioepithelioma 2). paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Otopsi 18. Hasil 16. Giant cell tumor 2). Fibrosarcoma 5). Hemangiopericytoma 3). Ewing sarcoma 3. Juxtacortical osteosarcoma 3). Lain-lain 1). Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Prognosis 19. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 18 . Juxtra chondrosarcoma 5). Chordoma 9). Membentuk tulang atau kartilago 1). Tindak lanjut : 1. Malignant mesenchymoma 7). Chondrosarcoma 4). Mesenchymal chondrosarcoma 2. Osteogenic sarcoma 2). Lisis tulang 1).15. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Patologi 17. Stadium dini : bebas kanker 2. Adamantinoma dari tulang panjang : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Angiosarcoma 4). Undifferentiated sarcoma 8). Stadium dini : baik 2. Liposarcoma 6).

Chemoterapi : mual. nafsu makan turun leukopeni. BUN. vas deferen 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. paliasi 1. muntah. Terapi : 1). urine. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. CT-scan. Nodus regional : diseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. Orchitis 5. MRI) 6. Tumor jinak 2. AFP. kanan dan kiri tidak sama 3.5 xN (normal) 4. badan lemas. pertanda tumor N : klinis. HCG 3. imaging (X-foto toraks. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. imaging M : klinis. konsistensi padat. dsb 11. Operasi : perdarahan. Radiologi : 1). Kriteria dignosis 19 . Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. Diagnosis banding : 1. Hasil : 1. (USG testis).: C62 : KANKER TESTIS : 1. Bedah : Untuk non seminoma 1. LDH > 1-1. USG abdomen. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Orchidektomi total 2). imaging. Lokal : 1). Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. nafsu makan turun 3). tumor testis. alopesia. Stadium dini : bebas kanker 2. Diagnosis 3. infeksi 2). Keluhan : Testis membesar. cisplatin 9. nyeri. Penyakit : invasi ke kulit skrotum. Patologi : FNA. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Masa pemulihan : ± 12-24 minggu 15. Laboratorium : darah. HCG naik > 5 mIU/ml. Lab : AFT naik > 15 ng/ml. Radioterapi : mual. terasa berat 2. badan lemas. Informed Consent : Perlu 12. USG abdomen. muntah. Fisik : tumor membesar. Kemoterapi : etoposide. diarhoea. Non bedah : Untuk seminoma atau non seminoma 1. USG : testis bentuk irreguler. Radiol : X-foto toraks. keras. ICD 2. Penyulit : 1. lokal atau difuse. Radioterapi : 25-30 Gy 2. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. diarhoea. Terapi : a. CT-scan abdomen 2. densitas heterogen 2). Hidrokel testis 3. biopsi testis. Orchidektomi radikal 2.

Otopsi 18. Stadium sangat lanjut : dubius : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 20 . Non seminoma 1). Embryonal rhabdomyosarc 5). Leydig cell tumor 7). Seminoma 2. Granulosa cell tumor : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Prognosis 19. York sac tumor 6). Stadium dini : baik 2. Embryonal carcinoma 2). Stadium lanjut : baik 3. Patologi 17. Choriocarcinoma 3). Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Teratoma maligna 4).16.

Trismus 3). spesimen operasi (jenis histologi. tidak menghilang degan pengobatan konservatif selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrasi 2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau leher 3). ICD 2. Endoxan 2). Bedah : 1. derajat diferensiasi sel) Staging T : klinis. sering nyeri. Patologi : FNA. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Flourouracil c. Lidah C02. patologi N : klinis. Ada faktor predisposisi seperti merokok. Dasar mulut C04. Non bedah : 1. patologi M : klinis. peminum alkohol. nodus.: C00 . Sukar makan & minim 4). Operasi khusus : a. eritroplasia Querat 4). Rongga mulut lainnya C06 3.C06 : KANKER RONGGA MULUT Bibir C00. MRI 2. Ulkus kronik benigna 3. USG abdomen. Adriamycin. Nyeri 2). Stomatistik 5. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir 2). Tunggal : a. Ada lesi pra kanker : seperti leukoplakia. nginang. mudah berdarah. Eksisi luas lesi trans-oral. tumor atau ulkus. imaging. FAM : Flouroutacil. Palatum C05. Kriteria diagnosis : 1. imaging (X-foto toraks. Keluhan : ada tumor atau ulkus. Sukar nafas 1. Granuloma 4. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Glosektomi total c. Cisplatin b. imaging. Kemoterapi : dengan obat 1). Gusi C03. pada T2 keatas Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan diberikan perawatan higiena mulut yang baik b. Tumor jinak mulut 2. Multifarma : a. mungkin terlihat ada destruksi tulang 4. Fisik : 1). Radiologi : pada X-foto maksila / mandibula atau panoramik. Penyakit 1). Bleomycin. Reseksi palatum / mandibula / pipi + rekonstruksi b. Tumor primer 1). Ada lesi di mulut dapat berupa indurasi. panoramik. Operasi Commando dan rekonstruksi. Radiologi : X-foto rahang. Pangkal lidah C01. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel 2. kelaianan gigi. VBM : Vincristin. mulut berbau. Diagnosis 21 . Methotrexate b. CT-scan) 6. biopsi (insisi / eksisi / cakot). Diagnosis banding : 1. CT-scan. higiene mulut 3. defek mukosa ditutup dengan Thiersch pada tumor T1S atau T1 3). Mitomycin-C 9. Penyulit : 1. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. yang mudah berdarah. Terapi : a. sering nyeri di mulut 2.

Epithelial 1). Lama perawatan 14. Malignant melanoma 17. Prognosis 19. Mesenchymal 1). Fibrosarcoma 2). Radioterapi : Mukositis. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Adenoid cystic carcinoma 5) Pleomorphic carcinoma 6). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Squamous cell carcinoma 3). Tindak lanjut 2. toksis Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. infeksi. Chemoterapi : neutropenia. Leiomyosarcoma 4). paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tenaga standar 13. sinus dari implant. Hasil 16. Rhabdomyosarcoma 3). mulut kering. Terapi : 1). Karsinoma in situ 2). kiloma. Adenocarcinoma 4). kawat/plat skrup. Stadium lanjut : dubius 3. Syadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 22 . mukositis infeksi. fibrosis 3). fitula oro-kutan. infeksi. Informed Consent 12. Stadium dini : bebas kanker 2. Mal. Otopsi 18. Operasi : Perdarahan. Stadium dini : baik 2. Hemangiopericytoma : Perlu unuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Masa pemulihan 15. Patologi : : : : : : 2.11. Nekrose flap 2).

infeksi 11. Keluhan : benjolan di penis 2. Tindak lanjut 23 . CT-abdomen 3. Laboratorium : darah. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Biopsi lesi. Pembesaran kelenjar limfe inguinal 4. Non SCC : Sarkoma. Stadium dini : bebas kanker 2. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Squamous cell carcinoma 2. Panektomi parsial atau total 2. Bedah : 1. urine 6. Stadium lanjut : dubius 3. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Tumor jinak 2. Radioterapi 40 Gy. brachiterapi dengan implantasi irridium 2. USG abdomen.1. Diagnosis 3. Terapi : perdarahan. methotrexate. Stadium dini : baik 2. Kemoterapi : bleomycin. nodus. jenis histologi. Hasil : 1. cysplatin 9. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. tumor eksofitik. Penyakit : kehilangan penis 2. derajat deferensiasi sel 2. Radiologi : X-foto toraks. Lesi berupa plaque merah. Terapi : a. BCC melanoma lymphoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yag sebabnya tidak jelas : 1. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 17. paliasi 16. Otopsi 18. pemeriksaan spesimen operasi. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Fisik 1). Lama pemulihan : ± 4-8 minggu 15. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Diagnosis banding : 1. erosi atau ulkus terutama di glans atau preputium 2). Non bedah : 1. Penyulit : 1. Diseksi kelenjar limfe b. Prognosis 19. ICD 2. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Conyloma 5. Kriteria diagnosis : C60 : KANKER PENIS : 1. struktur uretra. Informed Consent : Perlu 12.

USG mamma : ada tumor berbatas tidak tegas. Alternatif : 1). klasifikasi mikro yang tidak teratur b. Displasia mamma 4. stellate. imaging. Diagnosis 3. Tumor jinak mamma 2. FNA Juga VC / PC dan pemreiksaan patologi spesimen operasi Staging : T : Klinis. ± Reskonstruksi mamma (myokutaneus latisimus dorsi flap) 3). Klinis 2. Mastektomi Radical Standard Radical (Halstedt) 2). Bedah : 1. hiper-echoic Diagnosis banding : 1. ada pembesaran kelenjar limfe ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh 3. 7. Limfoma maligna Pemeriksaan penunjang : Diagnosis : Triple diagnostik : 1. Mammografi atau USG mamma 3. imaging. Radiologi : a. imaging (X-foto toraks. tumbuh progresif. Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau kanker insitu diseksi axilla tergantung dari keadaan kelenjar axilla atau dari biopsi sentinal node 3. MRI) Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. ICD 2. Tumor phillodes 3. Sarcoma jaringan lunak 6. Mastitis Khronika 5. dan ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas. bone scan. melekat kulit / muskulus pektoralis / dinding dada. patologi (jenis histologi. : C50 : KANKER PAYUDARA : 1. 6. Fisik : pada payudara terdapat tumor padat keras. peau d’orange. bentuk tidak teratur.1. BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery) : a. Standar : Mastektomi Radical Modifikasi (Patey / Madden) 2. biopsi sentinal node M : Klinis. derajat diferensiasi) N : Klinis. 5. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant 24 . Kriteria diagnosis 4. ulserasi Tanda metastase : regional. 8. Keluhan : tumor atau borok yag mudah berdarah pada payudara. batas tidak jelas. satelit nodule. USG abdomen. Mammografi ada tumor batas tidak tegas. bentuk irreguler. erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal puting susu 2. CT-scan. umumnya pada permulaan tidak nyeri. Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi ± diseksi axilla + radioterapi pasca bedah b. eritema kulit diatas tumor.

Lama perawatan 14. muntah. Stadium dini : baik 2. Patologi 17. faktura patologis. Tamoxifen. oedema lengan. plebitis. Masa pemulihan 15. Mal. Cribriform carcinoma 4). Carcinosarcoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Variant khusus : 1). Kemoterapi : Adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan : CMF : Cyclophosphamide. Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma 2. seroma. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Papillary carcinoma 3). Methotrexate. Tindak lanjut : 1. dsb : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 7-14 hari : ± 24-36 minggu : 1. oedema lengan. Hasil 16. Mal. Liposarcoma 3. Pagets disease 7). Tempat pelayanan 10. Kemoterapi : mual. Undifferentiated carcinoma Mesemchymal 1. Campuran 1. Mucinous carcinoma 5).b. Tumor phyllodes 2. Adriamycin. sendi bahu kaku 2). leukopenia. nekrose kulit tempat infusi. Stadium lanjut : dubius 3. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnose Epithelial 1. sendi bahu kaku 3). Operasi : perdarahan. Tenaga standar 13. Informed Consent 12. Scirrhus 6). infeksi. Penyulit 11. Otopsi 18. Stadium dini : bebas kanker 2. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Radioterapi : radiodermatitis. fibrosis. Fibrosarcoma 2. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan ovariektomi. infeksi. infeksi. Terapi : 1). efusi pleura. Flourouracil 3. nekrose kulit. GnRH analogue 4. dll. Prognosis 19. Fibrous histiocytoma 4. Flourouracil CAF : Cyclophosphamide. Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer 2. alopesia. Penyakit : perdarahan. Aromatase inhibitor. Squamous cell carcinoma 8). oedema lengan. nekrose flap. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma 3. Terapi paliatif dan bantuan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 25 . paraplegia 2. Medullary carcinoma 2). Non bedah 9.

Diameter umumnya besar diatas b). Batas tegas d). Kiste payudara 3. Kulit diatas tumor mengkilat (3). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Patologi : Biopsi. Sangat mobil dalam korpus mamma h). Fibroadenoma mamma : Poliklinik. Papiloma intraduktal : duktektomi 4). Muda. faktor resiko 2). Konsultasi : Dokter spesialis Bedah Umum Dokter spesialis Bedah Onkologi 7. Papillima intra duktal (1). Tumor kecil di subareoler 4. Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu (2). Kanker payudara 2. Informed Consent : Perlu ada informed consent 26 . Perawatan RS : 1). Tumor pada mamma yang besar. Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma 9. Hematoma 3). kalau perlu MRS untuk tumor yang multipel 2). Sangat mobil dari dinding dada (2). Ada bagian yang padat dan kisteus d). Tumor di mamma pada wanita a). Diagnosis 3. Bentuk bulat atau oval e). Permukaan berbenjol-benjol c). Konsistensi padat elastis g). Perdarahan 2). Tumor filloides dan papiloma intraduktal : MRS 8. Infeksi 11. Fibroadenoma mamma : eksisi tumor mamma 2). Vries Coup 6. Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada tanda metastase jauh 2). Pemeriksaan diagnostik klinis : 1). Fiboadenoma mamma (1). Fibroadenosis 5. Sitologi : FNA 4). Terapi : 1). Vena subkutan membesar dan berbelok-belok (venaektasi) (4). Epidemiologi : umur. Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel 3). Kriteria diagnosis klinis : D24 : TUMOR JINAK PAYUDARA : 1). Tumor filloides mamma (1). Penyulit : Operasi : 1).1. > 5 cm dan dapat lebih dari 30 cm a). Tumor dapat singel atau multipel (2). Tumbuuh pelan dalam waktu tahunan c). Radiologi : USG mamma / mammografi 3). ICD 2. Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase 3). Permukaan halus f). dibawah umur 30 tahun b). Diagnosis banding : 1.

0-1 tahun : tiap 3 bulan 2). Hasil 16. Lipoma : : Tumor jinak : baik : 1). Tumor phyllodes 3). Masa pemulihan 15. Fibroadenoma 2).12. Patologi 17. Lama perawatan 14. Prognosis 19. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 0-7 hari : ± 1-2 minggu : Sembuh : 1). > 1 tahun : lepas 27 . Tenaga standar 13. Otopsi 18.

Sitologi : FNA 3). Diagnosis 3. fungsio lesa) b). konsistensi padat. lokal atau difuse c). noduler. Dapat uni atau bilateral (2).8) (2). (N64.9) Diagnosis banding : 1). Ukuran besar mamma melebihi ukuran normal b).2) Tumor umumnya tidak besar. ICD 2. Mastitis puerperalis (O91) a). Hipertrofi pada wanita a). siklis sesuai dengan siklus menstruasi atau non siklis b). calor. Hipertrophi mamma (1). Dengan tumor a). Mastitis non puerperalis. (O92. Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda radang (dolor. N61 (2). seperti mamma wanita b). rubor. Kista mamma Pada aspirasi keluar cairan serous.1) pada satu atau kedua mamma b). Ginekomasti = hipertrophi pada laki a). Mastitis (1). Jaringan mamma subareoler paling sedikit terba sebesar 1½ cm 4). Fibroadenosis mamma (ICD. Galaktokel Terdapat kiste pada mamma yang berisi air susu (1). Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sediaan beku atau parafin Konsultasi : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi 28 . 5. : N60 – N64 : DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LANNYA Kriteria diagnostik klinis : 1). batas tidak tegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau menghilang secara spontan Tumor sering multipel atau bilateral 2).0) atau jamak (N60. Mastitis chronika Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan areola atau ditempat lain disertai atau tidak disertai dengan tanda-tanda radang 3). Mamma padat. Galaktokel non puerperalis. Neoplasma jinak payudara Pemeriksaan penunjang : 1). Radiologi : mammografi / USG mamma 2). tumor. Kanker payudara 2). N60. 6.1. Tanpa tumor yang dominat a). Kelainan dapat menghilang dan timbul dengan spontan sesuai dengan siklus menstruasi (2). Displasia mamma N60 (1). 4. Mamma pria membesar. Nyeri pada mamma. keruh atau seperti nanah dalam kista Kista dapat tunggal (N60. Galaktokel puerperalis.

Adolesesent : reduction mammoplasti (2). danocrine. Penyulit 11. Aspirasi (2). Papillary cyst (3). tamoxifen (2). Adenosis (4). Bila gagal : eksisi tumor Minimal RS Kelas-C Operasi : 1). Hematoma 3). Lama perawatan 14. Ginekomasti a). Prognosis 19. Konservatif : aspirasi kista. EPO. Mastitis (1). Tempat pelayanan 10. Hasil 16. Patologi : : : : : : : : 17. Duct ectasia (5). Gynecomasti Baik 3 bulan sampai 1 tahun 9. Tindak lanjut : : : 29 . Displasia mamma (1). Tumor displasia mamma (1). Purulent / abses : insisi & drainage 3). Terapi : 1). Otopsi 18. Galatokel : (1). Simple cyst (2). Tenaga standar 13. bila konservatif gagal 2). Informed Consent 12. Masa pemulihan 15. Infeksi Perlu ada informed consent Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Pasca bedah 2-3 hari Tergantung pada jenis tumornya Sembuh Perlu 1). Non purulent : antibiotika (2).7. Hypertrofi mamma (1). Perdarahan 2). antioksidan. Perawatan RS 8. MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara : 1). Poliklinik 2). Operatif : eksisi ginekomasti 4). Operasi : eksisi tumor. antiestrogen b). Konservatif : dengan testosteron.

Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Undifferentiated carc. pada toucher rektum. Bedah b. kolonoskopi Radiologi : foto kolon. anemi 2. derajat deferensiasi sel. 4). Non Bedah 9. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Endoskopi : rektoskopi. Penyakit : obstruksi ileus. toksis : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah digestif : ± 10-14 hari : ± 24 hari : 1. pemeriksaan histologis spesimen operasi Staging : T : klinis. Penyulit 11. cisplatin Paliatif : analgetika. 2). Diagnosis 3. Masa pemulihan 15. doubel kontrast Patologis : biopsi. Perawatan RS 8. 5). Paget’s disease 8). spincter ani terba tegang. Tenaga standar 13. EUS. Otopsi 30 . paliasi : Epithelial 1). Basaloid carcinoma. kistitis Kemoterapi : mual. Basal cell carc. proktitis. : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 6. Informed Consent 12. Melanoma maligna. Lama perawatan 14. 7). (X-foto toraks. CT-scan. jenis histologis. gemzar. 6). tumor mobil atau melekat dengan struktur disekitarnya. nutrisi : Minimal RS kelas-C : 1. USG abdomen. leukopeni. Kriteria diagnosis : C21 : KANKER ANUS : Keluhan : nyeri kalau berak. Squamous cell carc. Konsultasi 7. Terapi Operasi : perdarahan. Polip anus. imaging. patologi M : klinis. imaging. infeksi Radioterapi : radiodermatitis. berak berdarah atau lendir Fisik : Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau polipod di anus. infeksi. Patologi 17. Terapi a. patologi N : klinis. 3). Stadium dini : bebas kanker 2. Tempat pelayanan 10. Mucoepidermoid carc.1. MRI) : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : Operabel : eksisi anus untuk menyelamatkan sphinter reseksi abdominoperineal (operasi Moles) Inoperabel : Sigmoidostomi Elektrokoagulasi : Radioterapi : 40-50 Gy Chemoterapi : dengan FUFA. Adenocarcinoma. ICD 2. Hasil 16. Hemorroid 5. Diagnosis banding : Tumor jinak anus. camptothecin. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. muuntah. Kelenjar llimfe iguinal atau pararektal teraba besar Anuskopi / proktoskopi : terdapat tumor di anus 4.

Prognosis 19.18. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 31 . Stadium lanjut : dubius 3. Tindak lanjut : 1. Stadium dini : baik 2.

anemi. infeksi. Non bedah : Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi. mudah berdarah 2. patologi M : klinis. imaging. Terapi : 1). nodus. Patologi : biopsi insisi atau eksisi. nekrose kulit. Melanoma maligna : Dacarbazine. seroma. 7. tumor eksofitik atau ulkus yang berbau. Eksisi luas (pada BCC : tepi irisan ½ -1 cm.1. CT-scan Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Penyulit 32 . patologi N : klinis. kasus inoperabel atau pada basalioma yang kalau dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi sukar. Keratosis seborrhoicum 3. Tumor jinak kulit 2. tumbuh infiltratif. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. cisplatin. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang menginfiltrasi kulit 3. cisplatin. ICD 2. tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman 3. 6. Diagnosis 3. destruktif atau progresif Ada pembesaran kelenjar limfe regional Diagnosis banding : 1. Keratoakantoma 4. Posisi : ada lesi di kulit berbentuk plaque. Kriteria diagnosis 4. nodus. Thiersch gagal 9. Penyakit : perdarahan. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional Kanker kulit lainnya. BCC dan SCC : 5-Flourouracil. MRI lokal pada lesi 2. indurasi. Tempat pelayanan 10. memborok atau mudah berdarah 2. 8. bila ada metastase b. Operasi : perdarahan. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. CT-scan. dan melanoma maligna 2-3 cm mengelilingi tumor). melphalan 2. SCC 1-2 cm. Fisik : ada lesi di kulit berbentuk plague. Leukoplakia 5. (C44) BCC = Kanker sel basal SCC = Kanker sel skwarnosa 1. Keluhan : benjolan atau borok dikulit. 5. methotrexate. operasi tidak dapat radikal. Eritroplasia Querat Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Keluhan : andeng-andeng membesar. bleomycin : Minimal RS kelas-C : 1. Kemoterapi : 1. indurasi. gatel. X-foto toraks. Diseksi kelenjar limfe regional. Radiologi : X-foto. Bedah : 1. imaging. : C43 – C44 : KANKER KULIT : Melanoma maligna (C43) 1. defek yang luas di muka 2. USG abdomen. infeksi. Defek kulit ditutup dengan flap lokal atau transplantasi kulit Thierch 2.

Masa pemulihan 15. Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. paliatif Epithelial 1. Adenocarcinoma 4. nafsu makan turun leukopeni. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Basal cell carcinoma 2. Otopsi 18. Radioterapi : mual. Malignant melanoma Mesenchymal 1. Lama perawatan 14. diarhoea. Informed Consent 12. Chemoterapi : mual. Hasil 16. dsb. Tenaga standar 13. Patologi : : : : : : 17. Dermatofibrosarcoma protuberan Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 1.11. Tindak lanjut : : : 2). badan lemas. Stadium lanjut : dubius 3. Metatypical carcinoma Melanosit 1. badan lemas. nafsu makan turun 3). Stadium dini : bebas kanker 2. Squamous cell carcinoma 3. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 33 . Prognosis 19. Stadium dini : baik 2. muntah. alopesia. muntah. Stadium sangat lanjut : Tidah sembuh. diarhoea.

USG abdomen. imaging M : klinis. mengivasi jaringan disekitarnya (tulang. Penyulit 11. Eksisi dinding abdomen Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor Radioterapi : 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primer Kemoterapi. patologi Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. misalnya dengan CyVADIC Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyakit : perdarahan. CT-scan. tumor abdomen Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Radiologi : X-foto polos. Informed Consent 12. Disartikulasi Tumor di kepala. Eksisi luas 2. Tenaga standar 13. invasi / penekanan struktur vital. Radiologi : X-foto lokal. Diagnosis banding : Tumor jinak jaringan lunak. kulit). retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat bervariasi tergantung dari lokasinya. Lama perawatan 14. pemeriksaan spesimen operasi Staging T : klinis. Reseksi dindig toraks 3. Non bedah 9. Masa pemulihan : : : : : : : 34 . dapat superfisial atau dalam. umumnya besar > 5 cm. : C49 : SARKOMA JARINGAN LUNAK : Keluhan : tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh progresif Fisik : Tumor subkutan di ekstrimitas. dan pada arteriografi tampak tumor hiper-vaskuler. imaging. anemi. ICD 2. 6. 8. imaging (X-foto toraks. MRI tampak tumor berbatas tidak tegas. Kriteria diagnosis 4. patologi dari biopsi / spesimen operasi (jenishistologi. MRI Patologi : biopsi. ada neovaskularisasi. CT-scan. Diagnosis 3. MRI). Amputasi 4. di kepala-leher. Bedah : Tumor di ekstrimitas 1. CT-scan. 7. derajat diferensiasi sel) N : klinis. dinding tubuh. hematom.1. Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan suatu tumor ganas. 5. Eksisi luas 2. dinding tubuh 1. menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya. leher. Tumor tumbuh progresif. Eksisi kompartment 3. ada bagian tumor yang nekrosis. Tempat pelayanan 10. sesak nafas Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-12 minggu atau cacat seumur hidup b.

Stadium dini : baik 2. Angiosarcoma 10. Stadium lanjut : dubius 3. Malignant fibrous histiocytoma 2. paliasi : 1. Liposarcoma 5. Mesothelioma 12. Neurofibrosarkoma 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Rhabdomyosarcoma 7. Prognosis 19. Fibrosarcoma 4. Epitheloid sarcoma 9. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 35 . Leiomyosarcoma 8. Stadium dini : bebas kanker 2. Lain-lain : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Hasil 16. Stadium lanut : DFS atau OS diperpanjang 3.15. Otopsi 18. Synovial sarcoma 6. Mesenchymoma 11. Patologi 17. Tindak lanjut : 1.

diarhoea. Kriteria diagnosis 36 . USG abdomen. tumor di pinggang 2). venacavografi 2. ± keluhan paraneoplastik seperti : anemia. mitomycin. SGPT 3. Keluhan : hematuria. SGOT. Penyakit : gagal ginjal. Radiologi : a). CT-scan. Patologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Angiografi : tumor hyopervasuler 4. imaging. uni atau bilateral 3). patologi M : klinis. USG / CT-scan. terbatas atau meluas keluar ginjal c). alopesia. badan lemas. Keluhan : hamaturia. Chemoterapi : mual. 11. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. doxorubucin. derajat diferensiasi del) Staging T : klinis. cisplatin 9. hipertensi erythro-cytosis. Chusingsindrom. urine. eksplorasi laparotomi. Operasi : perdarahan infeksi 2). patologi 6. patologi N : klinis. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. tumor ginjal USG. Non bedah : Radioterapi : pre atau pasca bedah atau radioterapi primer Kemoterapi : dengan FU. berat badan menurun. Laboratorium : darah. retrograde pyelografi. Radioterapi : mual.: C64 : KANKER GINJAL : Kanker ginjal pada anak-anak 1). muntah. hipercalcemia. nafsu makan turun 3). uric acid. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. MRI : ada tumor di ginjal. Retrograde pyelografi : ada ekstensi tumor ke pelvis d). imaging. Diagnosis banding : Batu pyelum. muntah. creatinin. Diagnosis 3. eksplorasi laparotomi. Radiologi : IMP : deformitas dari calices. Explorasi laparotomi : tumor dari ginjal Kanker ginjal pada orang dewasa 1). diarhoea. CTscan. Laboratorium : hamatoria 4). Radiologi : IVP. Terapi : a. imaging. Tumor jinak ginjal. Fisik : Tumor di pinggang. BUN. MRI angiografi. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. infeksi 2. hiperpireksi 2). Fisik : terdapat tumor di daerah ginjal 3). badan lemas. Kiste ginjal 5. Bedah : Nefrektomi radikal ± thrombo-embolektomi ± Deseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. Informed Consent : Perlu 1. nafsu makan turun leukopeni. IVP : ada filling defek dari calices atau pyelum b). Penyulit : 1. ICD 2. MRI : tumor ginjal 4). nyeri di pinggang. Terapi 1). eksplorasi laparotomi. dsb.

Mal. Stadium dini : baik 2. Carcinoid tumor Mesenchymal cell a). Stadium dini : bebas kanker 2. Prognosis 19. Patologi 17.12. Fibrosarcoma b). Tubular carc b). Hemangiosarcoma Complex mixed cells a). Teratoma : Perlu untuk :konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Papillary carc e). Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 37 . Masa pemulihan 15. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak : ± 7-14 hari : ± 12-24 minggu : 1. Lama perawatan 14. Stadium lanjut : dubius 3. Rhabdomomyosarcoma e). Otopsi 18. Hasil 16. Tenaga standar 13. Granular cell carc c). paliasi : Epithelial / Adenocarcinoma a). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Renal cell carc d). Leiomyosarcoma d). Fibroushistiocytoma c). Nephroblastoma (Wilm tumor) b). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Clear cell carc (hypernephroma) f).

Tumor jinak 1). untuk diagnosis dan tindakan 8. squamous cell metaplasia. terlihat tumor kecil di ginjal. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi 13. Pielum : transitional cell papilloma. infeksi 11. fibous polip. Buli-buli : IVP. disuria 2. Perawatan RS : Rawat inap kalau perlu. padat atau kisteus 3. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1.: D30 : TUMOR JINAK UROLOGI & TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI 3. Buli-buli : transitional cell metaplasia. Pyelum : IVP. Diagnosis 38 . Tindak lanjut : - 1. sitologi. Laboratorium : darah. urine. Infeksi 5. Ginjal : IVP. Urolithiasis 3. hamartoma 2).(hanya untuk tumor ganas) 6. Diagnosis banding : 1. squamous cell papilloma 2. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. retrograde pyelografy 2). Lama perawatan : ± 2-5 hari 14. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Pielum : transitional cell metaplasia. kreatinine 2. Penyulit : 1. Radiologi : 1). Buli-buli : transitional cell papilloma. endometriosis. infeksi 2. kistoskopi 3. TUR. Informed Consent : Perlu 12. Sitologi : urine 4. Hasil : Keluhan dan tumor hilang 16. Pyelum : IVP terlihat filling defek di pyelum 4. USG. adenoma 3). Terapi : a. Kriteria diagnosis : 1. Otopsi : 18. Keluhan : hematuria. hematoma. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. squamous cell metaplasia 3). Patologi : FNA. Tumor non neopplasma 1). Eksisi tumor 2. glandular metaplasia. Terapi : perdarahan. ICD 2. pieloskopi. Ginjal : adenoma. FNA. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Ginjal : USG. TUR b. Ginjal : kiste ginjal. spesimen operasi Staging : . biopsi 3). Prognosis : Baik 19. kistografi. Tumor ganas 2. kiste 17. mioma 2). Bedah : 1. Non bedah : 9. BUN. fibroma. Buli-buli : kistografi atau kistokopi terlihat tumor kecil di buli-buli 4. Penyakit : hematuria.

Patologi : Perlu 17. suara serak karena lesi rekuren. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. Informed Consent : Perlu 12. Perawatan RS : Rawat inap 8. tidak ada ekstensi 1. Lama perawatan : ± 5 hari 14. kejang karena hipo-paratiroid. Diagnosis banding : Tiroiditis kronis. Penyulit : Sesak nafas. ICD 2. USG abdomen. Terapi : Total tiroidektomi / near / total tiroidektomi + FND bila metastase ke kgb leher / radiasi ekstera / interna (J-131). Kriteria diagnosis 39 . perdarahan 11. kemoterapi bila ada indikasi. pembesaran kelenjar getah bening leher. Hasil : Tumor terangkat secara onkologi / radikal 16. trakheomalaise. suara parau. Prognosis : Tergantung faktor prognostik Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm. konsistensi keras. FNAB keganasan (+) 4. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi FND dilakukan oleh dokter spesialis bedah 13. Otopsi : Tidak perlu 18. sesak nafas. tipe diferensiasi baik. mobilitas terbatas. Diagnosis 3. ikut bergerak waktu menelan disertai tanda pembesaran yang cepat. gangguan menelan. Pemeriksaan penunjang : FNAB X-foto leher (kalau perlu) Untuk staging : X-foto toraks. struma adenomatosa 5. alkalifosfatase 6. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.: C 73 : KARSINOMA TIROID : Benjolan di leher bagian depan. Substitusiterapi levotiroksin 9.

macamnya tergantung proses patologis tiroid : M. obstipasi. uninoduler atau multi noduler. mata sembab).Basedow : tiroidektomi subtotal Struma uninodosa : lobektomi subtotal Struma multinodosa : lobektomi / tiroidektomi subtotal (tergantung jumlah lobus yang terkena) Tiroiditis kronis : ismektomi 9. Curiga ganas bila tumbuhnya cepat. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. ICD 2. Hematoma Krisis tiroid (untuk M. Hipotiroidi 11. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. E 06 : STRUMA : Benjolan / massa di trigonum koli di anterior sebelah bawah. Terapi : Operasi.: E 04. tambah gemuk. Bentuk bisa difus. sering keringatan. Hasil : Struma (-) 16. mudah capek. fixed. 4. E 05.Basedow ). T4. Otopsi : Tidak perlu 18. ikut bergerak ke atas bila penderita melakukan gerakan menelan. Perawatan RS : Rawat inap bila ada indikasi operasi : Keganasan Hipertiroidi yang sudah teregulasi Gejala penekanan Keluhan kosmetik 8. disfagi (+). Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah kurus. ngantuk. diare) atau gejala hipotiroidi (malas. TSH Biopsi aspirsai jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga ganas BMR (pada saat rawat inap) 6. Penyulit : Lesi N. kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut 1. Lama perawatan : ± 2 hari 14. jantung berdebar. gelisah. Hipoparatiroidi. Pemeriksaan penunjang : Faal tiroid : T3. sesak (+). benjolan keras. Diagnosis 3. Patologi : Perlu 17. suara parau. Diagnosis banding : 5. ada pembesaran kgb leher. Prognosis : Baik. Rekuren. Informed Consent : Perlu 12. sulit tidur. Kriteria diagnosis 40 . Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10.

Penyulit : Tergantung penyebab 11. biopsi eksisional. Otopsi : Tidak perlu 18. kemoterapi. Informed Consent : Perlu 12. Diagnosa 3. Hasil : Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi 16. toksoplasma) CT-scan bila ada indikasi 6. Pemeriksaan penunjang : FNAB. Prognosis : tergantung penyebab 1. Perawatan RS : Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose 8. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. pembedahan. ICD 2. Lama perawatan : Tergantung penyebab 14. Patologi : Perlu 17. atau biopsi insisional Pemeriksaan darah lengkap Tumor marker bila ada fasilitas Pemeriksaan serologis (TB-DOT. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Terapi : Sesuai penyebab (radioterapi. Kriteria diagnosis 41 .: C 77. Diagnosis banding : Limfadenitis spesifik / non spesifik Limfoma maligna Metastase dari tempat lain 5. Masa pemulihan : Tergantung penyebab 15. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10.0 : PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & L : Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila : Pembesaran progresif Tanpa ada radang Ada tumor primer di tempat lain Tidak sembuh dengan antibiotika Benjolan teraba agak keras 4. antibiotika) 9.

makin dini makin besar kemungkinan hidup 5 tahun Perlu Tidak perlu Tumor jinak .stadium dini : baik stadium lanjut : jelek 42 . Penyulit : : 11. Perawatan RS 8. Otopsi 18.VII Fistel liur Sindroma Frey Hematoma Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Bila tumor fixed atau ada metastase kelenjar getah bening leher Dokter spesialis bedah onkologi ± 4-5 hari 2 minggu Tumor terangkat radikal Tumor ganas : daya tahan hidup 5 tahun tergantung stadiumnya. Pemeriksaan penunjang : 6. 2. Patologi 17. Terapi : : : 9. Konsultasi 7. 4. Masa pemulihan 15. Tempat pelayanan 10. 3.1. Prognosis : : : C 07 TUMOR PAROTIS Benjolan di regio parotis pre/infra/postaurikuler Adenoma parotis Karsinoma parotis Metastase kelenjar getah bening parotis Metastase karsinoma nasofaring Untuk keperluan staging karsinoma parotis : Bila tumor fixed : X-foto mandibula. CT-scan bila ada fasilitas X-foto toraks USG hepar Bone survey bila ada indikasi Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan Rawat inap Tumor operable : paratidektomi superticial periksa → potong beku Jinak : parotidektomi superficial Ganas : parotidektomi total Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Lesi N. Hasil : : : 16. Informed Consent 12. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding : : : : 5.baik Tumor ganas . Lama perawatan 14. Tenaga standar : : 13.

fistel orokutan. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. lesi n. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Informed Consent : Perlu 12. Prognosis : Baik 1. Otopsi : Tidak perlu 18. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Perawatan RS : Rawat inap 8. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Kriteria diagnosis 43 . Terapi : Reseksi mengikutsertakan tulang sehat 1-2 cm dari batas lesi + rekonstruksi 9. gigi yang bersangkutan biasanya tak teratur 4. Diagnosis banding : Ossifying fibroma Kista odontogenik Giant cell tumor 5. kadang ada fenomena bola pingpong. Diagnosis 3. tumbuh pelan (bertahun-tahun). Lingualis 11.hipoglosus & n. Lama perawatan : ± 12-14 hari 14. Penyulit : Perdarahan. Patologi : Perlu 17. ICD 2. Pemeriksaan penunjang : Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik Maksila : X-foto Waters + Hap Adanya gambaran kista multiple / single 6. hematom.5 : AMELOBLASTOMA : Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang) tak nyeri.: D 16. konsistensi keras. Hasil : Tumor terangkat radikal 16.

kecuali bila sangat ekstensif 1. kista brankhiogenik 5. Informed Consent : Perlu 12. transiluminasi (+) 4. Patologi : Perlu 17.1 : HIGROMA KOLI : Benjolan di leher sejak lahhir / bayi. Pemeriksaan penunjang : 6. Kriteria diagnosis 44 . saraf. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. infeksi. Prognosis : Baik. Terapi : ekstirpasi 9. Otopsi : Tidak perlu 18. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. saluran nafas dan phagus) hematoma. Perawatan RS : Rawat inap 8. bisa meluas ke wajah. sebagian berbatas jelas. Penyulit : Lesi struktur vital (pemb.: D 18. Lama perawatan : ± 5-7 hari 14. rongga mulut. edema laring 11. Darah. Tanaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak 13. ICD 2. konsistensi kistik. hemangioma. dinding tipis. fimfangioma simpleks. Hasil : Benjolan terangkat sebersih mungkin 16. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Diagnosis banding : Lipoma. sering berlobi. tak nyeri tekan. Diagnosis 3. membesar sesuai pertumbuhan anak. ketiak atau mediastinum.

: K 11.6 : RANULA : Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara lenjar liur sublingual 4. Prognosis : Baik 1. Penyulit : Perdarahan Infeksi 11. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Otopsi : Tidak perlu 18. Informed Consent : Perlu 12. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. kiste terdrainase 16. Hasil : Muara kelenjar liur terbuka. ICD 2. Patologi : Tidak perlu 17. Diagnosis banding : 5. Diagnosis 3. Terapi : Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste 9. Pemeriksaan penunjang : 6. Perawatan RS : Rawat inap untuk operasi 8. Kriteria diagnosis 45 . Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10.

Otopsi 18. Tanaga standar 13. 8. 3. 2. 6. Lama perawatan 14. 9.1. Informed Consent 12. epulis Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 46 . 7. 5. Masa pemulihan 15. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Patologi 17. Penyulit 11. Hasil 16. 4. Prognosis D 10. papiloma.3 TUMOR JINAK RONGGA MULUT Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma.

Prognosis TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA & LEHER Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau dileher Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu dilakukan Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Kalau lokal anestesi bisa poliklinis Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 47 . 3. 9. 2. Tenaga standar 13. Otopsi 18. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Hasil 16. 5. Lama perawatan 14. Informed Consent 12.1. Masa pemulihan 15. Patologi 17. 7. Penyulit 11. 8. 4. 6.

ICD 2. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Diagnosis 3. Penyulit : Hematom Infeksi Fistel 11. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Otopsi : Tidak perlu 18. Hasil : Tumor terangkat 16. Terapi : Eksisi 9. Konsultasi : Dokter spesialis terkait (bila diperlukan) 7.0 : KISTA BRANCHIOGENIK : Benjolan kistik didepan 1/3 atas m sternokleido mastrideus dileher akibat kelainan kongenital 4. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Diagnosis banding : Higroma Tiroid aberan 5. Kriteria diagnosis 48 . Perawatan RS : Rawat inap 8. Patologi : Perlu 17. Prognosis : Baik 1. Pemeriksaan penunjang : 6. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13.: Q 18.

fistula orokutan. 4. Kemungkinan ada faktor predisposisi seperti merokok. bila tumor sangat dekat dengan tulang : X-foto mandibula AP + Eisler / panoramic serta X-foto maksila Waters + Hap Mengetahui metastase jauh : X-foto toraks. Lama perawatan : ± 10 hari 14. Hasil : Sembuh total untuk stadium I 16. Patologi : Perlu 17. Pemeriksaan penunjang : Biopsi Tumor < = 1 cm. Diagnosis 3. gigi runcing. flap.5 cm diluar jaringan patologis. bisa disertai rasa tebal atau nyeri. Prognosis : Stadium dini. Terapi : Eksisi luas sampai 1 . Bisa disertai metastase pada kelenjar getah bening leher.: C 00 – C 06 : KANKER RONGGA MULUT : Lesi di rongga mulut berbentuk bungan kol/ulserasi/peninggian yang tak hilang setelah 4 minggu. lesi prakanker berupa leukoplakia. Granuloma 5. malnutrisi. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. eritroplakia. chyloma. seroma 11. Perawatan RS : Rawat inap 8. Otopsi : Tidak perlu 18. jelek 1.1. USG hepar dan bone survey bila ada indikasi 6. Kriteria diagnosis 49 . biopsi insisional Untuk keperluan staging : Untuk mengetahui infiltrasi. biopsi positif. hygiene mulut jelek. nasograstrik feeding 7 hari. ICD 2. baik Stadium lanjut.Penyulit : Infeksi. nginang. Informed Consent : Perlu 12. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. k/p rekonstruksi 9. dehisensi luka. nekrosis. peminum alkohol. Diagnosis banding : Ulkus kronis benigna. cenderung tumbuh cepat. biopsi eksisional 9dengan batas 1 cm keliling tumor) pada lokasi tertentu Tumor > 1 cm. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15.

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnostik 4. Diagnosis banding 5. Pemeriksan penunjang 6. 7. 8. 9. Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan

10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. Otopsi 18. Prognosis

: K 09.0 : KISTA ODONTOGENIK : Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, adanya ganggren radiks atau gigi yang tidak sembuh : Kista radikuler : X-foto mandibula AP / Eisler, atau panoramik X-foto maksila Waters / Hap : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi) : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai : Infeksi Hematoma : Perlu : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah gigi & mulut : ± 5 hari : ± 2 minggu : Kista terangkat bersih : Perlu : Tidak perlu : Baik

50

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: Q 89.2 : KISTA DUKTUS TIROGLOSUS : Benjolan di leher daerah midline setinggi kartilago hioid, batas jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita menelan dan menjulurkan lidah 4. Diagnosis banding : Struma pada istmus Limfadenopati Kista dermoid 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Operasi prosedur Sistrunk 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Fistel Residif 11. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ±3 hari 14. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Hasil : Benjolan terangkat bersih bersama salurannya 16. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik

Kepustakaan : 1. Sukardja IDG, Purnomo B, Tahalele P, Marnadi M, Murtejo U, (EDS) : STANDAR PELAYANAN PROFESI DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA. Edisi I. Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, 2002, Hal. 42-106. 2. Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW, (EDS) : SURGERY, Basic Science and Clinical Evidence. Springer-Berlag New York Inc. 2001, pp 1565-1881. 3. Feig BW, Berger DH, Fuhrman GM, (EDS) : THE M.D. ANDERSON SURGICAL ONCOLOGY HANDBOOK. Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Houston Texas, 2003. 4. Devita PT, Hellman S, Rosenberg SA, (EDS) : CANCER, Principles & Practice of Oncology. 6 Ed. Lippincott – William & Wilkins, 2001. 5. Ramli M, dkk. PROTOKOL PERABOI. BANDUNG 2003

51

KELAINAN BAWAAN (CONGENITAL ANOMALY) KELAINAN BAWAAN WAJAH NAMA PENYAKIT/DIAGNOSE SUMBING/SKISIS, FACIAL CLEFT, ANOMALI KRANIOFACIAL, ANOMALI DENTOFACIAL ICD Q 35, Q 36, Q37, Q75, K07 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan lahir berupa : 1. Celah pada bibir atas 2. Celah pada bibir dan gnatum atas 3. Celah pada bibir, gnatum dan langitan 4. Celah pada langitan saja. 5. Celah pada muka/wajah ( facial cleft), dibagi menurut klasifikasi Tessier 6. Disproporsi kranio-facial atau dento-facial dengan atau tanpa kraniosinostosis Klasifikasi: 1. Syndromic anomaly 2. Non-syndromic anomaly Diagnose banding Tidak ada Pemeriksaan penunjang Foto kepala AP & lateral, CT scan (3 dimensi) untuk sumbing muka Konsultasi Bila perlu : 1. Dokter Gigi : untuk kebersihan mulut dan pembuatan obturator 2. Dokter THT : - bila ada radang telinga tengah, - bila ada defisit pendengaran 3. Speech Therapist : untuk belajar bicara 4. Psikoloog Anak : - untuk pemeriksaan IQ, - untuk defisit kepribadian 5. Orthodontist : untuk perbaikan pertumbuhan gigi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk keperluan operasi berencana. Terapi Bedah Penutupan bibir/labioplasti pada usia 3 bulan keatas. Penutupan langitan/palatoplasti pada usia 15-24 bulan Perbaikan parut bibir operasi pertama pada usia 4-5 tahun Penyempitan faring/faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun keatas. Penambahan tulang(bone grafting) rahang pada usia 8 tahun keatas Perbaikan bentuk muka/maxillary advancement, kalau perlu, pada usia 15 tahun keatas. Bedah kraniofasial atau distraksi osteogenesis untuk anomali kraniofasial dan dentofacial

52

Nonbedah Speech therapy oleh Speech Therapist pada usia 4 tahun ke atas Perbaikan gigi oleh Ortodontist pada usia 9 tahun setelah penambahan tulang. Standar RS Tipe C untuk penutupan bibir/labioplasti, penutupan langitan/palatoplasti Tipe B dan A untuk: - Perbaikan parut bibir - penyempitan faring/faringoplasti - penambahan tulang (bone grafting) rahang - perbaikan bentuk muka/maxillary advancement - bedah kraniofasial Penyulit Untuk labiognatopalatoskisis dan palatoskisis : Karena penyakit : OMP Pendengaran kurang Maloklusi gigi Suara sengau, kata-kata tidak jelas Karena operasi : Parut tidak baik Fistula oronasal Untuk bedah kraniofasial: Gangguan penghiduan karena cedera lamina cribriformis Relaps pada distraksi osteogenesis Informed consent Diperlukan untuk tindakan operasi, operasi dilakukan bertahap, ketepatan waktu operasi sangat mempengaruhi hasil akhir penanganan Masa pemulihan Lama perawatan 2-3 hari : labioplasti (tidak selalu diperlukan rawat inap) 2-5 hari : palatoplasti 5 hari : faringoplasti 5 hari : bone grafting rahang 7 hari : maxillary advancement 10 hari : bedah kraniofasial Tenaga yang berkompeten Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua tindakan operatif. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk sumbing bibir atau unilateral komplit bila tidak ada tenaga Bedah Plastik. Speech therapist untuk terapi bicara Ortodontist untuk perbaikan gigi.

53

hasil operasi memuaskan. Salyer KE. Toronto. Sherrell J. W. W.. . James W. parut operasi halus. White RP.D. Hughlett L. Montreal. Bell WH. Pasien kontrol teratur Kepustakaan : 1. Philadelphia. 1991. Tokyo. Aston (Edit). WB Saunders Company. Atas of Craniomaxillofacial Surgery. Prognosis Baik Tindak lanjut Penderita keluar dengan keadaan klinis baik. London Toronto.Saunders Company Hacourt Brace Jovaanovich Inc.Hasil Normal Bentuk bibir dan hidung simetris.B. Plastic Surgery (8 vol) . 54 . bentuk muka normal. 1990. Philadelphia. 1990 4. Montreal. asimetri bibir dan lubang hidung. suara normal.B. M. gigi geligi tumbuh bagus. Mosby Company. Sydney. St Louis. 3. Jackson IT. Joseph G.D. Philaadelphia. Smith. Grabb and Smith's Plastic Surgery. London.D.Saunders Company. 5. Profit WR. Januz Bardach. Fourth Edition. Morris. Sydney. 1982. Ph. London. M. bentuk muka bagian tengah lebih ke dalam. Whitaker LA. Little.Toronto. Munro IR.. Boston/Toronto/London 2. Brwon and Company. London.Surgical Correction of Dentofacial Deformities. 1980. suara sengau. McCarthy. Toronto. PA Tak perlu Autopsi/risalah rapat Tak perlu. Perbaikan proporsi estetik kepala. oklusi baik Kurang normal Parut kasar. gigi tak beraturan. . Multidisciplinary Management of Cleft Lip and Palate .wajah. Tokyo. .

tak ada Pemeriksaau penunjang .1. 2. Operasi pemasangan tissue expander. 3. dilanjutkan operasi berikutnya penanaman rangka tulang rawan. Q16. Tiga-empat bulan setelah operasi I dibentuk telinga dengan pengangkatan tulang rawan yang sudah ditanam pada operasi I. Terapi Rekonstruksi telinga dapat berupa: 1. Standar RS Tipe B ke atas. kematian flap. Perawatan RS Rawat jalan kecuali operasi. Operasi satu tahap (sandwich technique) 4.Microtia ICD Q16. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 4-7 hari untuk tahap I 7 hari untuk tahap II Bergantung pada tindakan untuk tahap III Masa pemulihan Berkisar antara 2-3 rninggu untuk tahap I 2 minggu untuk tahap II 55 . Penyulit Infeksi. Pananaman rangka tulang rawan.Ro foto untuk melihat pembentukan organ telinga tengah bila perlu. Konsultasi Spesialis THT bila ada defisit pendengaran.0. Q17 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan pada daun telinga berupa telinga kurang terbentuk/kecil Diagnosis banding . Menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada operasi sebelumnya.

R.. Smith. 1980. M.C. Hon. 56 . 1991. Brwon and Company. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Boston/Toronto/London. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Tokyo.. 2. McGregor M. Sherrell J. W.S. 1991.). Edinburgh london and New York. F. 3.tak diperlukan. London Toronto.C. (Glasg. Ian A. Richard J.A. Little.B. Emergency Plastic Surgery . Aston (Edit). 1990. Ch.(Eng. Boston/Toronto/London.Luaran Sembuh dengan telinga bentuknya mendekati normal. . Greco (Edit) . Kepustakaan : 1.B. 4. Churchill Livingstone. Fourth Edition. F.). Philaadelphia. Brown and Company.Saunders Company. McCarthy. Plastic Surgery (8 vol) . Little.. Sydney.C.S. PA . M.D. James W. F. Montreal.S. Joseph G.tak diperlukan Autopsi/ risalah rapat .R.

Konsultasi Bagian Kesehatan Anak untuk pemeriksaan kromosum seks.KELAINAN BAWAAN GENETALIA Nama Penyakit/Diagnosis Hipospadi ICD Q54 Difinisi Kelainan bawaan berupa meatus uretra eksterna terdapat di bagian ventral dan letaknya lebih proksimal dari letak yang normal. Standar RS Tipe B keatas Penyulit Fistula urethra Divertikel urethra Stenosis meatus Informed consent Perlu untuk opcrasi Standar tenaga I)okter Spesialis Bedah Plastik Dokter spesialis Bedah Urologi Dokter Spesialis Bedah Anak Lama Perawatan Masing-masing tahap memerlukan perawatan 7 hari. daerah skrotum. Penis bengkok kearah ventral karena ada korde. daerah perineum. Pemeriksaan fisik Meatus urethra eksterna terletak lebih proksimal dari letak normal : bisa dibatang penis. ada atau tidak ada korde. Masa pemulihan Batu urethra Striktura urethra Sisa korde Untuk masing-masing tahap selama 2 minggu 57 . Kriteria diagnosis Cacat bawaan berupa muara urethra terletak lebih proksimal dari biasanya. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk tindakan operasi Terapi Tahap I eksisi korde Tahap II berjarak paling sedikit 6 bulan setelah tahap I. Pemeriksaan penunjang Kromosum seks bila ada kesulitan identifikasi jenis kelamin. rekonstruksi urethra. tergantung metoda operasinya. bilq perlu.

S.C. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Boston/Toronto/London 2.R.S. Brown and Company. Little. Richard J. F.. 1980. 3.Luaran Sembuh dengan penis lurus dengan meatus uretra eksterna letaknya di ujung penis. Philaadelphia. Churchill Livingstone.B. Boston/Toronto/London 58 . Brwon and Company.(Eng. M. Hon. W. McCarthy. Smith. Fourth Edition. Montreal. Sydney. 1990. F. Aston (Edit).. McGregor M. Little.R. .C. Edinburgh london and New York. 4.A. (Glasg. Joseph G. Ch.Saunders Company. James W.). PA tak perlu Autopsi/risalah rapat tak perlu Kepustakaan : 1.S.D. M. Sherrell J. Greco (Edit) .). Plastic Surgery (8 vol) . London Toronto. Tokyo. Ian A. Emergency Plastic Surgery . F. Grabb and Smith's Plastic Surgery. 1991. 1991.B..C.

asimetri . 59 . Dislokasi sendi TMJ.Adanya deformitas wajah. Fraktur regio sendi temporomandibula 8.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen jenis dan proyeksi bergantung pada keperluan (Foto tulang muka AP & lateral. Fraktur sinus frontalis /nasofrontal 6. Persiapan operasi. Dokter Spesialis Mata bila dengan cedera bola mata.Gangguan pergerakan bola mata. foto TM joint) Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Saraf. Perawatan RS Rawat inap: Bila memberikan gangguan saluran napas. Prosedur lengkap Kriteria diagnosis Anamnesis Terdapat riwayat trauma pada tulang muka. salah satu hidung terasa tersumbat.Perdarahan lewat lubang hidung dan mulut. atap orbita 9. hematome atau edema pada tempat benturan . Dokter Spesialis Saraf (untuk cedera kepala).Deviasi hidung atau septum nasi . dibagi menjadi beberapa jenis fraktur : 1.Gangguan membuka dan menutup rahang bawah .Untuk tiga jenis yang pertama bisa ditemukan maloklusi . sprain & strain ligament dan sendi) Patah tulang muka. Fraktur zigoma 4.TRAUMA Trauma Kranio-maksilo-facial (Fraktur tulang wajah) ICD SO2 (Fracture of skull and facial bone) ICD SO3 ( Dislokasi. Fraktur mandibula 2. diplopia. fraktur Processus alveolaris 7. Fraktur maksila 3. septum nasi. Water`s photo/Reverse Water`s. Fraktur dasar orbita. Foto panoramic. distopia . Pemeriksaan .Teraba diskontinuitas tulang Diagnose banding . Fraktur hidung 5.

Smith. Montreal. Kematian bila ada cedera kepala berat. C Penyulit 1. Infeksi 3. McCarthy. Untuk fraktur lainnya 2 rninggu. Operatif Dilakukan apabila keadaan intrakranial sudah stabil. Pertimbangan estetik dan fungsional harus diberikan dan dijelaskan sebaik-baiknya kepada pasien. Tokyo.B. Sydney.D. Informed consent Diperlukan tertulis Standar tenaga Personil unit gawat darurat pada pertolongan pertama Dokter Spesialis Bedah Umum untuk fraktur mandibula simple dengan luka terbuka menggunakan fiksasi non rigid Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 2 sampai 20 hari. 1991. James W. Sembuh dengan deformitas/cacat fungsi. Grabb and Smith's Plastic Surgery. bervariasi bergantung pada jenis berat fraktur Masa pemulihan Untuk 3 fraktur pertama 8 minggu atau lebih. M. Aston (Edit).Terapi Konservatif Bila tidak memberikan gangguan fungsi maupun bentuk dan fraktur dianggap cukup stabil. W.Saunders Company. B. Brwon and Company. Boston/Toronto/London 2. Philaadelphia. normal. Sherrell J. dan trauma berat lainnya sudah diatasi. London Toronto. Plastic Surgery (8 vol) . Little. 1990. Gangguan bentuk atau fungsi 2. 60 . . Kepustakaan : 1. Standar RS Tipe A. Luaran Sembuh. Joseph G. Fourth Edition. PA Tidak ada Autopsi/ risalah rapat Tidak ada.

F. Craniomaxillofacial Trauma . Little.C. Keith. Rio de Janeiro.©. 11. Edinburgh london and New York 4.S. Francois Hervouet.S.)..R.A. Prentice-Hall International Inc. Linton A.D. New york.D. deB. St.S. D. Marcel Woillez. M. 1990.A. D. 1990. D. W. W.D.Saunders Company. 6. Milan. New York.3.D. F. 1987.B.M.(Edit) . M. New York. Della Rocca. Surgery of the Eyelids & Orbit an Anatomical Approach . New York and Tokyo. F. London. M. Ch... Melbourne. F. London.. Sydney. 7. Edinburgh. Paul Tessier.C.R. Emergency Plastic Surgery . The C. John E.. Tokyo. London.D. Churchill Livingstone. Atlas of Craniomaxillofacial Surgery .C. A Textbook and Colour Atlas of The Temporomandibular Joint .C. Barcelona.. Whitaker. 1981 9.Saunders Company.S. 1982. Boston/Toronto/London 5.(Eng.D. Melbourne. A Manual of AO/ASIF Principles . M. Edinbergh.B.R. David A.C..). M. M. Louis. 1990 61 .C. Bernd Spiessl .C. 1995 10.M... Toronto. Richard J. Bradley N. London.S. 1991. Leonard B. FACS. Michel Lekieffre. Madrid. Mosby Company. 8. Munro.. Toronto. Masson publishing USA.. . Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Ian A.C. Inc. M. McGregor M. London. Robert C.A. Tokyo.. M.S.C.D. Ian T..S. Sherman.A. Montreal... Springer-Verlag Berlin. F. Montreal. B.B. Philadelphia. Brown and Company. Plastic Surgery of the Orbit and Eyelids .A. Jackson..J. Paris. Ian R. Mexico City. Wolfe Medical Publications Ltd. .S. Norman. London. Paul Bramley (Edit) ..D.D. 13. Kenneth E. Hon. Heidelberg. 1992. Foster.B. F. David & D. Patrick Derome . Toronto. F.. 1989..S.S. Hong Kong. F. Jacques Rougier.R. Kaban.D. Sydney.S. Salyer. London. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery . John E.. Greco (Edit) . Simpson . Churchill Livingstone. Tokyo. Craig A. Atlas of Oral and Maxillofacial Surgery . Paris..S. 1980. 12. F. Lemke. MD. .. (Glasg. Churchill Livingstone.R. Surgery of Facial Bone Fractures . D.V. Internal Fixation of the Mandible.B.FACS. Philadelphis.D. . M.

SO1. Skin graft (tandur kulit) pada luka terbuka yang tersisa.S61) Avulsi kulit Kritcria diagnosis terlepasnya kulit dari dasar/kulit sekitarnya.Cedera kulit dan jaringan lunak Cedera superfisial dan luka terbuka daerah kepala dan wajah (ICD SO0.Tipe A atau B. Terapi Penyulit Penilaian vitalitas kulit yang terlepas dan pembuangan kulit yang ternyata mati. . sebagian besar atau total. S41.tak ada Pemeriksaan penunjang .S50.S57.tak ada Perawatan RS .bisa tanpa luka (closed avulsion /degloving ).delayed STSG Drain untuk closed avulsion /degloving Kematian sebagian atau seluruh kulit yang terangkat Infeksi Parut yang jelek. Penjahitan situasi tanpa tegangan sisa kulit yang masih vital.S51.SO9) Crush injury kepala dan muka (SO7) Cedera kulit dan jaringan lunak ekstremitas (S40. Informed consent Diperlukan tertulis Lama perawatan 2 rninggu atau lebih Lama pemulihan 4 rninggu sampai 1-2 tahun tergantung faktor-faktor yang menyertainya.tak ada Konsultasi .bisa dengan luka (open avulsion /degloving) Diagnosis banding . S60. Luaran PA Sembuh baik Sembuh dengan cacat.tak diperlukan 62 . Hanya pencucian luka tidak dijahit.

C.B. Mathes. Grabb and Smith's Plastic Surgery. W. Brwon and Company. Joseph G. Montreal. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.Autopsi/risalah rapat . Boston/Toronto/London. F.V.tak diperlukan Kepustakaan : o James W. Ian A. Mosby Company. Philaadelphia. Churchill Livingstone. Ch. Brown and Company. Smith.). London Toronto. 1980.. Sherrell J. Foad Nahai . Tokyo. (Glasg. St. 1991. 1979 o o o o 63 .C.(Eng.S.R.B. . Fourth Edition. M.A. Richard J.. Hon. 1990. Aston (Edit). M.Saunders Company. Little. louis. Sydney. 1991. McCarthy.D. Greco (Edit) . Clinical Atlas Of Muscle And Musculocutaneous Flaps . Edinburgh london and New York. McGregor M.S.C. F. Toronto. London. F..S. Plastic Surgery (8 vol) . Emergency Plastic Surgery .). Boston/Toronto/London Stephen J.R. The C. Little.

Terapi Amputasi dirawat sebagal berikut: Masukkan kedalarn kantong plastik bersih (tanpa cairan) Kantong tersebut ditutup rapat lalu dirnasukkan ke kantong kedua berisi air biasa (2/3 bagian) + potongan es (1/3 bagian). Standar RS: Tipe A Penyulit Perdarahan Trombus Infeksi Kegagalan replantasi akibat thrombus. hidung. penis. S58 ICD S67.Radiologis Konsultasi .tak diperlukan Perawatan RS Rawat inap segera untuk persiapan operasi. Telinga. Operasi replantasi dengan rnikroskop + instrurnen Bedah mikro. Pemeriksaan penunjang . Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik.Bedah mikro dan bedah tangan Diagnosis Amputasi Organ (Avulsi kulit kepala. Diagnosis banding .amputasi partial. Vulva) dan ekstremitas ICD S08 ICD S38. 64 .2 ICD S48. S68 Kriteria diagnosis Terpisahnya sama sekali bagian atau ekstremitas dari tubuh tersebut Clean cut (amputasi secara tajam) atau bukan.Laboratorium . Sebaiknya tindakan ini dilakukan segera di tempat kejadian.

Sydney.Mexico City.Chase .tak diperlukan Kepustakaan : 1. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Montreal.B. McCarthy. F. M. Atlas of Hand Surgery volume 2 1984 W. 1991. 3.B. Sherrell J. Philaadelphia.. Boston/Toronto/London.). F.Philaxdelphia. London Toronto.R.Saunders Company. W.Saunders Company.S.. 2.Tokyo. Brown and Company. 1980. Hon. (Glasg. M. Richard J.). Robert A. James W. Luaran Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik. 4.D. Sembuh kurang sempurna Gagal. Brwon and Company.C.Toronto. McGregor M.(Eng.. Boston/Toronto/London 5. Emergency Plastic Surgery . PA .C.C.A. Aston (Edit).S. Edinburgh london and New York. Little.Lama perawatan 10 hari sampai 1 bulan Masa pemulihan 6 minggu sampai setahun. Greco (Edit) . 1991. Plastic Surgery (8 vol) . Joseph G. 1990. Ian A.R. 65 . Fourth Edition.tak diperlukan Autopsi/risalab rapat .London.B. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Tokyo. Smith. Churchill Livingstone. F. Little. .S. Ch.

untuk kemudahan menggunakan rumus 9. T26-T35 Kriteria diagnosis Anamnesis Ada riwayat trauma bakar karena api.tangan . Perawatan RS Rawat inap untuk : Luka bakar derajat II / III lebih dan 10 % pada anak-anak. Luka bakar daerah wajah. bila dalam kerusakan pada seluruh dermis III: kerusakan lebih dalarn dari dermis (sudah mengenai subkutis) Dalam penilaian derajat I tidak diperhitungkan.retardasi mental Penderita tidak mampu merawat dirinya sendiri. listrik. Komplikasi penyerta seperti syok hipovolemik. Terapi Didahulukan penanggulangan terhadap gangguan jalan nafas dan sirkulasi Perawatan Intensif Luka Bakar Perkiraan jumlah dan pemberian cairan dengan menggunakan rumus Baxter: Hari I diperkirakan memerlukan: berat badan dalam kg x % luas luka bakar x 4 cc ringer laktat. Pemeriksaan 1. Luka bakar listrik. Penyakit premorbid Diagnosis banding . cedera inhalasi dan cedera penyerta 6. Derajat III > 2%. Hari berikutnya pemberian cairan hipertonik. 4. kimia. radiasi. 5.Combustio /Burn Injury/ Luka Bakar ICD T20-T25. Escharotomy untuk daerah dada dan extrimitas pada eskar yang konstriktif 66 .kaki. Lokasi luka bakar. Luas luka bakar dalam %. 3. Luka bakar disertai trauma berat lain: inhalasi dan sebagainya. panas. 15% pada dewasa. Derajat kedalaman: I: hanya eritem II: bila superficial kerusakan sampai sebagian dermis.perineal/genital Disertai trauma penyerta lain atau penyakit sistemik berat lain.tak ada Pemeriksaan penunjang tak ada Konsultasi Disiplin ilmu lain sesuai dengan penyakit yang menyertai atau komplikasi yang timbul.

5. 3 x berturut-turut. Derajat II dalam Derajat III. 7. Dirawat sampai luka lebih kecil dari indikasi perawatan. Luaran Sembuh dengan kecacatan warna kulit saja sampai kecacatan berat. saluran kemih.nutrisi enteral dini 7. Paramedis yang berkecimpung pada perawatan luka bakar Lama perawatan Sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan luas luka. 6. saluran napas. Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Ulkus stres. dengan cedera inhalasi. Dokter Spesialis Bedah yang berkecimpung pada luka bakar ( Burn Surgeon) Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua luka bakar. Antibiotika (bila luka kotor) ada infeksi sistemik. Kelebihan atau kekurangan cairan maupun elektrolit. superfisial obat topikal untuk luka 2. ATS diberikan pada semua yang belum pemah mendapat toksoid. Diet kalori dan protein tinggi. Eksisi tangential dini dan skin grafting setelah pasien stabil. Gangguan saluran napas Gangguan sirkulasi bila berlanjut dapat rnenyebabkan kegagalan organ multipel. Parut hipertrofi dan kontraktur. 6. Masa pemulihan Sangat bervariasi. tidak dapat menggerakkan sendi-sendi. Sukrafat untuk protekor mukosa lambung. Standar RS Tipe B dan A untuk yang berat. perlu dibilas secara tuntas dengan air segera pada jam-jam permulaan. 5. Bila penyebab adalah bahan kimia. Perawatan seluruh pasien di Burn Unit bila fasilitasnya sudah tersedia Penyulit 1. untuk jangka panjang Deformitas penampakan yang hebat. 2.Terapi pada luka: 1. Fisioterapi 8. 4. Toksoid 1 cc untuk tiap 2 mg. 67 . Derajat II. Informed Consent: Diperlukan Standar tenaga Dokter Umum untuk luka bakar rigan. Dokter Spesialis Anestesi. 3. obat topikal yang dapat menembus skar (silversulfadiazin) 3. Kematian. selanjutnya berdasarkan hasil kultur 4. mungkin 2 tahun atau lebih bergantung pada parut yang terjadi. Infeksi pada kulit. 9.

Ian A. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Plastic Surgery (8 vol) . Singapore.B.F. MB. M. Edinburgh london and New York. Smith.. LRCP.L. James W. (Glasg. Little. Burn and Their Treatment .. Joseph G. 1980. Emergency Plastic Surgery . M.S. Basil A. Mphil. FACS. Sydney. Brown and Company. OBE. MB. McCarthy.Saunders Company. F. FRCS(Ed) and John A. Little. FRCS. Boston. Butterworths. 1979. Settle. Hon.(Eng. Grabb and Smith's Plastic Surgery. VRD. Churchill Livingstone. 5.JR. MD. MBE. DA . Sherrell J. 1987.. FRCS(Ed). 1990 3.C.. Greco (Edit) .S. W. F. MRCS. 6.. London Toronto. F. T. Philaadelphia. I. M.Pruitt. Durban.). Ch. Tokyo. Boston/Toronto/London. Philadelphia.D.C.B.Saunders Company. FACS. London. 1991.A.. ChM. BURN A Team Approach .. . MS.). Toronto. London. McGregor M. Third Edition ..R. 2.PA tak diperlukan Autopsi/risalah rapat mungkin diperlukan bila terjadi kematian. W. Montreal. Muir.Moncrief. Aston (Edit). 1991.. John A.D.. Curtis P. 68 .D.B. Fourth Edition.C.R. Boston/Toronto/London 4.S.Artz MD. FRCS. Barclay. FACS. Sydney. Wellington.K. Toronto. Brwon and Company. Richard J. Kepustakaan : 1.

tidak selalu perlu rawat inap. dll. Kriteria diagnosis Semua keluhan yang menyangkut masalah penampilan. Y98 Semua masalah mengenai estetika yang bisa ditolong dengan pembedahan termasuk diantaranya : Estetika untuk cacat bawaan Estetika untuk cacat yang didapat Estetika untuk proses ketuaan Estetika untuk masalah psikososial . Perawatan RS Pasca operasi. Z42. misalnya : Rhinoplasti Blepharoplasti Mentoplasti Mammoplasti Lipodistrofi. Diagnosis banding . Z44. Sernua keluhan yang pada dasarnya ingin mengubah penampilan kearah yang lebih baik/ harmonis. Estetika lain yang tidak bisa dipisahkan dari bedah plastik rekonstruksi.BEDAH PLASTIK ESTETIK/KOSMETIK ICD Z41. Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Penyulit Seperti halnya pembedahan umumnya dan hal khusus misal parut berlebih Masa pernulihan: bervariasi 69 . Terapi Operatif Mengubah penampilan pasien dengan menambah-mengurangi-menggeser jaringan yang diperlukan.tidak ada Pemeriksaan penunjang bila diperlukan: Laboratorium Radiologi dan lain-lain KonsuItasi Dokter Spesialis yang dianggap perlu.

. McGregor M. 5. Marco Gasparotti.D. W. D. FACS. Hong Kong. Sydney. John Conley Carl Patow . 4. Psillakis (Edit) . T. Little. Plastic Surgery (8 vol) ..G. New York.J. 1994.C. Kepustakaan : 1.Moncrief.C. Curtis P. John A... W. 1994. Brown and Company. 1992. Edinburgh london and New York. Tokyo. New York. R. M. U. Fourth Edition. Charles M. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Saunders Company.. Stiernberg . London. M.S.. M.B. Basil A. Philadelphia. FACS. . Brwon and Company. Ch. W.R.B. F. Sydney.S. Lipoplasty The Theory and Practice of Blunt Suction Lipectomy . Color Atlas of Aesthetic Surgery of The Abdomen : Thieme Medical Publishers. Calhoun. Adelaide. 6. Deep Face-Lifting Techniques . Aesthetic Facial Surgery . 9. Jorge M. McCarthy. J. Sydney. London. Seth R. Rafael de la Plaza .JR. Tokyo. Sherrell J. Hon. 1996. 1990.A. M. Hetter. Thieme Medical Publishers. 1989. Hinderer (Edit) .D.. F. Springer-Verlag. . Henriksson. International Congress Series 935. New York.(Eng. 1979. 11. 15. Erdulfo Appiani. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.T. Berlin. Montreal. Montreal. Philadelphia. Montreal.. Guide to Dental Problems for Physicians and Surgeons . New York. Toronto. Montgomery .A.Saunders Company. 1990. Barcelona. FACS. Regan Thomas. Baltimore.D. London. Sydney.Pruitt.. Tokyo. Excerpta Medica. Le Boit. Philaadelphia. Smith. Williams & Wilkins. Thaller. Saunders Company. Toronto. New York. Hong Kong.C. . Toronto. An Introductory Guide . Ian A. James Roller . New York. London. Montreal. London. Second Edition . F. Luaran Penampilan pasien setelah operasi plastik tambah baik dan terdapat peningkatan kepercayaan dirinya. Surgery Of The Lip . 1992. New York.C.D. Philadelphia. 1991. Luiz S. Sydney. ainc. Boston/Toronto/London. 10.. Little. Arndt. Inc. Thieme Medical Publishers. 1988. M. Toronto.). Inc. Flaps in Head and Neck Surgery . Paris.. F. Rhinoplasty . Inc. 3. Carson M. 13. Jorge M. 70 . Stuttgart. 1991.Artz MD. M.B. Richard J. Boston/Toronto/London. Thieme Medical Publishers.S. Cutaneous Facial Surgery .S.D. 7. 16.. Thieme Medical Publisher. Amsterdam-London-New YorkTokyo. Cranio-Facial Deformities. Volume 1 : Lectures and Panels .B.D. 18.. W. Lewis. (Edit). 14. 17. Inc.B. Karen H. 1987. David. MD. Tokyo. Georg Thieme Verlag. Saunders Company. Boston/Toronto/London. 1991.. 1994. Emergency Plastic Surgery . Fernando Ortiz-Monasterio. London. Cooter . Heidelberg. Budapest.R. Robinson. Manual of Technique .Informed consent Perlu benar dijelaskan sebelum dilakukan operasi bahwa hasil yang dicapai adalah sejauh kemampuan-pengalaman dokter. London Toronto. John Q Owsley. 8.). Gregory P. Australian Cranio-Maxillo-Facial Foundation. Psillakis. James W. 12. W. Churchill Livingstone. Wintroub : Atlas of Cutaneous Surgery . Superficial Liposculpture. Greco (Edit) . 2. Philadelphia. Toledo . 1980. William W.Saunders Company. Joseph G. (Glasg.B. Little. 1993. Aston (Edit). 1992. Tokyo. BURN A Team Approach . Plastic Surgery 1992 . Brown and Company.

Warren H. 71 .19.S. Inc. St. Berlin. Louis. Marwali Harahap. (Edit) .. New Concepts in Maxillofacial Bone Surgery : Springer-Verlag. Skin Surgery . U. New York.D. Bernd Spiessl (Edit) . Missouri. 1996.A. M. Green. 1985. Heidelberg. 20..

tak diperlukan 72 . Diagnosis banding . Masih tersisa sedikit akibat kontraktur. Masa pemulihan 3 minggu atau lebih tergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya. tak ada gangguan gerakan.B Penyulit Nekrosis flap/graft. PA .tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi.tak ada Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Release kontraktur dan graf/flap.GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA Kontraktur ICD N 940 S/D N 949 Kriteria diagnosis Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses kontraksi pada penyembuhan luka. Luaran Sembuh normal. Informed consent Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedali Plastik Lama perawatan 7-10 hari. Standar RS TipeA . Konsultasi .

S. Sherrell J. 73 .Saunders Company.). M. Churchill Livingstone.S.Autopsi/ risalah rapat . Tokyo. F. W.S. 1991. Sydney.C. F. Little.. 4. Brwon and Company. Kepustakaan : 1. Plastic Surgery (8 vol) . 1980. Little. Boston/Toronto/London. Montreal. Edinburgh london and New York. M. Hon. F. Ch. 3.B. Emergency Plastic Surgery . Smith. London Toronto. Joseph G. Grabb and Smith's Plastic Surgery. (Glasg.A..D.(Eng. Ian A. Brown and Company.). McCarthy. Aston (Edit).B. Fundamental Techniques of Plastic Surgery..C. 2. James W. Greco (Edit) .R. . Fourth Edition. 1991. Philaadelphia. Richard J.C. Boston/Toronto/London. McGregor M.R. 1990.tak diperlukan.

74 .Keloid dan parut hipertrofik ICD L90.5. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Farmakologis Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal. sakit) berkepanjangan. Karena operasi Residif Informed consent Diper1ukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik. Parut hipertrofik: bila parut yang menonjol tidak melebihi batas luka awal Diagnosis banding Fibrosarkoma Pemeriksaan penunj ang Tidak ada Konsultasi Dokter Spesialis Patalogi Anatomi bila perlu. Dokter Umum untuk suntikan kortikosteroid. dilanjutkan dengan Radiasi atau suntikan kostikosteroid pascaeksisi. Penyulit Karena penyakit Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian. Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang. Balut penekan Bedah Eksisi kalau perlu full thickness skin graft. L91 Kriteria diagnosis Keloid: parut yang menonjol menyebuk ke kuilt yang sehat jauh diluar trauma dengan tanda-tanda inflamasi (tambah besar gatal. Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi. Standar RS Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid. Dokter Spesialis Radioterapi untuk radiasi.

1991. Aston (Edit). Boston/Toronto/London.C. 1990.Lama perawatan 1 hari – 2 minggu.R. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Fourth Edition.B.Bila ada keraguan dengan sarkoma Autopsi/risalah rapat Tidak diperlukan. Masa pemulihan Sangat bervariasi. Joseph G.Saunders Company. James W. London Toronto. M. Little. 1991. . Churchill Livingstone. F.B. Philaadelphia. Ch.S. 2. Little. M. Sydney.S. Hon... McGregor M. McCarthy. Edinburgh london and New York.). Brwon and Company. 3.). 4. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. W. Ian A. F. 1980. Boston/Toronto/London.C. Smith. Tokyo. Emergency Plastic Surgery .D. Kepustakaan : 1. Plastic Surgery (8 vol) . Brown and Company.S.A. F.C. 75 . Montreal. Sherrell J. Luaran Sembuh dengan estetika baik Residif Depigmentasi akibat radiasi PA .R. (Glasg. Richard J.(Eng. Greco (Edit) ..

kortikosteroid. stasioner. Cacat berupa bercak merah pada kulit. timbul setelah lahir. 4. rata (bisa menimbul setelah dewasa). 3 dan 4. 3 dan 4. Kortikosteroid untuk 1. tak sakit 2. tidak sakit. Tattoage untuk 2. sedikit menimbul. kebiruan.TUMOR KULIT DAN JARINGAN LUNAK Hemangioma ICD D18 Dibagi menjadi: 1. Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi. 2. 3.2. Laser untuk 1. 3 dan 4. 4. Hemangioma kapiler simpleks/jenis strawberry Hemangioma kapiler jenis "port wine stain" atau nevus flamus Hemangioma kavernosa Hemangioma campuran l dan 3 Kriteria diagnosis 1. Bedah Eksisi. bila perlu Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi Terapi Farmakologis Suntikan obat-obat sklerosing untuk 1. eksisi dan perban penekan. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir. tumbuh progresit. kalau perlu skin graft untuk 1. Embolisasi (kalau perlu) baru eksisi untuk 3 dan 4. Campuran 1 dan 3 Diagnosis banding Fistula A-V Pemeriksaan penunjang kalau perlu arteriografi. Tipe A untuk embolisasi dan laser. 76 .4. dapat ditekan kempes. Standar RS. Benjolan pada kulit atau subkutis. 2. Tipe C untuk suntikan sklerosing. Nonbedah Observasi atau ditambah perban penekan untuk 1. ada sejak lahir atau timbul dekat-dekat kelahiran. 3.

irregular. lebih gelap/mengkilat dari kedua jenis lainnya. lokasi tersering daerah terpapar sinar matahari. Junctional naevi: sifatnya rata/tidak menimbul. Estetik jelek. Compound naevi: tumbuh perlahan. Dysplastic Naevi:lesi berpigmen. di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. e. lokasi tumor dari epidermis hingga dermis. pigmen menyebar ke jaringan kulit sekitarnya. Lama perawatan 1 rninggu atan lebih Masa pemulihan 1 minggu . Pigmented lesion/Melanocytic naevi ICD D22 a.1 bulan atau lebih Luaran Sembuh dengan estetika bagus. Karena operasi Perdarahan Residif Kelainanjantung pada 3 dan 4. warna kurang gelap. lokasi tumor pada perbatasan dermis dan epidermis c. distribusi mengikuti pola nervus V. warna campuran yang bervariasi. Informed consent Diperlukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Radiologi untuk embolisasi Dokter umum untuk perban penekan.tak perlu Autopsi/risalah rapat - tak perlu. PA . Nevus Ota: lesi berwarna biru kehijauan. lokasi tumor pada dermis b.Penyulit Karena penyakit Perdarahan pada 1 . Cacat berat pada daerah yang terkena 3 dan 4. lebih banyak dijumpai pada anak dan remaja. umumnya mengenai wanita 77 . perlahan menebal atau melebar. lebih tebal. dapat tumbuh rambut. Intradermal naevi: berbentuk datar atau meninggi. d. tepi irregular. Masih tersisa. umumnya dengan multiple nevi. 3 dan 4.

2. Aston SJ. berisi produk sebaseus Diagnosis banding: Konsultasi: Terapi: Eksisi. lunak. D17. esi berupa nodul subkutis. Boston 1991. D23 Kista Epidermoid. Stamford. Kista Atherome ICD D21. Intraoral tumor and Radical Neck Dissection for Oral Cancer. Ekstirpasi Kepustakaan : 1. tengkorak bahkan meningen Diagnosis banding: Melanoma Maligna Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: Bidang terkait (bila diperlukan) Terapi : eksisi bedah. mengenai daerah punggung atau muka. tidak nyeri kecuali bila mengalami peradangan. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Congenital pigmented Naevi/Giant pigmented naevi: lesi berpigmen. Jackson T. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Stal S. scalp. 4th ed. Pediatric Plastic Surgery. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Benign Growth and Generalized Skin Disorder. distribusi cenderung mengikuti dermatome. luas > 4 inch. Aston SJ. 2. 4th ed. Little Brown. Kista Dermoid. 1998 78 . Little Brown. Aston SJ. In: Smith Jw. mobile tetapi sedikit melekat ke kulit di atasnya. umumnya mengenai muka. 4th ed. dengan pungtat di atasnya. malar eminence. Kibbi AG. Aston SJ. berambut. Boston 1991. Appleton & Lange. lokasi pada daerah –daerah fusi embrional Kista atherome: lesi subkutis. Basal and Squamous Cell Carcinoma of the Skin.3 Tumor yang terdiri dari sel-sel lemak. Little Brown. Mihm MC. 4th ed. In: Smith Jw. Little Brown. Boston 1991.1. Spira M. 3. D17. Lowe NJ. In: Smith Jw. Kista Dermoid: lesi subkutis. Bents ML. lokasi subkutis.0. mobile dan tak melekat ke kulit di atasnya. 5. Kista Epidermoid. D17. Connecticut. Zarem HA. Sober AJ. ekstensinya dapat sampai otot. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 4.f. In: Smith Jw. rekonstruksi dengan skin graft atau tissue expansion Lipoma ICD D 17. Melanoma Maligna. terfiksasi ke dasar. sedikit mobile. Boston 1991.

Inverted nipple: terbaliknya putting susu akibat tarikan duktus di bawahnya. Diagnosis Banding: Pemeriksaan penunjang: Konsultasi: Standar tenaga: Bedah Plastik Terapi: Eksisi ektopik breast. Tuberous breast deformity: payudara kecil. dengan atau tanpa terbentuknya nipple.athelia: tidak terbentuknya jaringan payudara. Polymastia/ectopic glandular tissue): jaringan payudara yang tumbuh di sepanjang mammary ridge umumnya di axilla dan lipatan inframammary. Macromastia: pertumbuhan berlebih jaringan payudara akibat physiologi normal atau juga karena kurangnya kepekaan reseptor kelenjaar payudara terhadap hormon yang mengaturnya.Phylloides tumor .Enukleasi . tuberous deformity dan breast ptosis. Reduksi mammoplasty dan mastopexy untuk macromastia. N60 Diagnosis: Giant fibroadenoma mamma Kriteria diagnosis: lesi berdiameter > 5 – 10 cm. Augmentasi mammoplasty untuk untuk hipo/amastia Lesi jinak payudara ICD D24. bentuk tuberous Breast ptosis: jatuh dan tergantungnya posisi payudar yang berlebih sehingga nipple areola berada di bawah lipatan inframmamary. Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: bidang terkait bila diperlukan Terapi: . asimetris dengan nipple areola yang lebar.Reduksi mammoplasti McKissock 79 . firm. N64 Diagnosis Ectopic breast tissue (Polythelia/accessory nipple. dengan dilatasi vena di atasnya. ditandai dengan pertumbuhan cepat dan tiba-tiba.BREAST DISORDER Gangguan perkembangan kelenjar payudara ICD N62. N63. Hipomastia: kurang bertumbuhnya jaringan payudara ditandai oleh payudara yang kecil Amastia. tidak nyeri. Diagnosis banding: . unilateral.Virginal hypertrophy. muncul saat /segera setelah pubertas. bisanya soliter.

Fundamentals of Plastic Surgery. Plastic & Reconstructive SurgeryVol 105. Little Brown. Gynecomastia In: Smith Jw. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Aston SJ. WB Saunders. USA. Benign Tumor of Teenage Breast. 1997 80 . Lewis PL.No1.Kepustakaan : 1. Boston 1991. Marks MW. McGrath MH. Jan 2000 3. Marks C. McKinney P. 4th ed. 2.

W.C.D. 1990.. Sydney. . Aston (Edit). Montreal. Philaadelphia. (Glasg. Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi sebelumnya Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap.S.(Eng. 2. Little. Richard J. Churchill Livingstone. 81 . rasa hangat dan nyeri tekan. Emergency Plastic Surgery .R.). konsul dokter gigi bila sumber infeksinya dari gigi Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis: Baik Kepustakaan : 1. Ian A.B. Boston/Toronto/London.S. McGregor M. Boston/Toronto/London. Hon.R.C. M. 1.S. M.2 Kriteria diagnosis : Pembengkakan submandibuler dengan rasa nyeri dan panas badan. 1980. kulit diatasnya kemerahan. Sherrell J.Sepsis Informed Consent : Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan: ± 3 . Edinburgh london and New York. Little.INFEKSI Flegmon dasar mulut ICD : K 12. F. Smith. F. Brown and Company. Plastic Surgery (8 vol) . London Toronto. 2. McCarthy.A.C. James W. Joseph G. Fourth Edition. Tokyo.5 hari Masa pemulihan : ± 1-2 minggu Hasil : Infeksi (-) Setelah infeksi reda. 1991. Ch. 1991. Brwon and Company.. segera Terapi : Insisi-drainase → kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas . F.B. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Greco (Edit) .Saunders Company..). Grabb and Smith's Plastic Surgery.

R.S. nasofrontal. Brwon and Company. periorbital. Sydney. F. Fourth Edition.R. 1991. Joseph G. Plastic Surgery (8 vol) . F. Tokyo.C. Edinburgh london and New York. McGregor M. Ian A.A. Churchill Livingstone. Hon. Boston/Toronto/London. Richard J.C.).(Eng.Thrombosis sinus kavernosus Informed Consent: Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan : ± 3 – 5 hari Masa pemulihan : ± 10 – 14 hari Hasil: Abses (-).B. M. 1980...). W.S. Brown and Company. McCarthy.. 1991. 4. Boston/Toronto/London. Montreal. Little. London Toronto.Sepsis . (Glasg. . Little.Abses Maksilofasial ICD : L 02. 82 .D. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. infeksi reda Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis : Baik Kepustakaan : 1. Ch. Grabb and Smith's Plastic Surgery. fluktuasi (+). Diameter > 6 cm Terapi : Insisi drainase – kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan: Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas .C. 3. M.0 Kriteria diagnosis : Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisis. nyeri tekan (+) Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap segera bila :Lokasi didasar mulut.B. kulit diatasnya kemerahan. Greco (Edit) . Emergency Plastic Surgery . 1990. diserta rasa nyeri dan kadang disertai panas badan.Saunders Company. Philaadelphia.S. F. 2.

83 . Cara pengobatan : Debridement dan fiksasi sesuai dengan grade & displasement Fiksasi interna elektif untuk grade I Fiksasi internal immediate untuk grade II Fiksasi eksterna untuk grade III C.TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. Williams & Wilkins Baltimore/London. R.PROGNOSIS : Dubius ad bonam 17. A. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. NOMOR ICD : S 82 2. kompartment syndrome.B. 1993. Butterworth-Heinemann. kompartment syndrome. 2nd Ed. PENGOBATAN : A. DIAGNOSIS BANDING : 5.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. 7th.PENYULIT : Infeksi . emboli lemak) F. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap untuk observasi dan tindakan 8. perdarahan. pergerakan normal. TEMPAT PELAYANAN RS Perjan Denpasar 10.Sesuai dengan komplikasi yang timbul (Infeksi . AP /Lat 6. pemendekan tulang panjang) Ada perlukaan di daerah fraktur yang berhubungan dengan fragment fractur 4. Edition.G. Tujuan terapi : Kuratif B.HASIL : Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal 14. KEPUSTAKAAN : 1. emboli lemak) 11.INFORMED CONSENT : Perlu 12. KRITERIA DIAGNOSIS : Ada trauma Ada tanda patah tulang (krepitasi. 2. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.PATOLOGI : 15. KONSULTASI : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. gangguan fungsi. nyeri kalau gerak. Apley. Salter. & Solomon. deformitas. Macam pengobatan : D.MASA PEMULIHAN : 12 minggu 13. Kualifikasi operator : . Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Terapi komplikasi pengobatan : . DIAGNOSIS : PATAH TULANG TERBUKA 3. 1983. perdarahan.OTOPSI : 16. L. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Radiologi : Foto Ro.1.

Kualifikasi operator : . R. KONSULTASI : Dokter spesialis terkait {bila diperlukan) 7. A. 84 .fraktur pada tibia da fraktur pada fibula 4. DIAGNOSIS : FRAKTUR CRURIS 3. HASIL : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal 14. Edition. KEPUSTAKAAN : 1. 2nd Ed. Terapi komplikasi pengobatan : Reposisi ulang/ bone graft ( malunion/delayed Union F. Cara pengobatan : Reposisi C. PEMERIKSAAN PENUNJANG : foto polos cruris AP/ Lat 6. NOMOR ICD : S 82 2. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. PATOLOGI :15. Williams & Wilkins Baltimore/London. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.: Long leg cast. INFORMED CONSENT : Perlu 12. DIAGNOSIS BANDING : 5. TEMPAT PELAYANAN: RS. Apley. Macam pengobatan : Reposisi tertutup. L. KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat trauma Tanda pasti patah tulang tibia/ fibula Foto Ro. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 1993. Butterworth-Heinemann.1. MASA PEMULIHAN : 4-8 minggu 13.G. PENYULIT: Malunion/ delayed union 11. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan untuk non bedah : Rawat inap untuk pembedahan 8.B. PENGOBATAN : A. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. 1983. OTOPSI : 16. Tujuan terapi : kuratif B.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Reposisi terbuka : Pemasangan implant/ plate screw D. Perjan Denpasar RS. PROGNOSIS : Baik 17. & Solomon. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10. 7th. Salter. 2.

NOMOR ICD : S 86. 6. Butterworth-Heinemann. Macam pengobatan : Operasi dengan tehnik Bunnel atau Kesler Immobilisasi dengan fore slab D. Salter. sambungan putus.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. TEMPAT PELAYANAN : RS. Apley. L.1. 2nd Ed. R. 7th. & Solomon. Terapi komplikasi pengobatan dan bias dipersiapkan secepatnya pada yang Tertutup. 7. Edition. F. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit pada yang clean cut E. PENGOBATAN : A. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi achiles Trauma tangan Clean cut injury Fungsilaesia 4. 85 . 5. INFORMED CONSENT : Perlu 12.0 2. 1983. Perjan Denpasar 10 PENYULIT : Infeksi. A. 1993. kontraktur ankle 11. HASIL : Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal 14. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. DIAGNOSIS BANDING : PEMERIKSAAN PENUNJANG : KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. PATOLOGI : 15. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.G. Tujuan terapi : Kuratif B. DIAGNOSIS : RUPTUR TENDON ACHILES 3. PROGNOSIS : Baik 17. OTOPSI : 16. MASA PEMULIHAN : 6 minggu sudah buka gip 13. Kualifikasi operator : . Cara pengobatan: Repair tendon C.B. Williams & Wilkins Baltimore/London. KEPUSTAKAAN : 1. 2. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.

KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.Nyeri. L. OTOPSI : 16. R. DIAGNOSIS BANDING : 5. NOMOR ICD : S 82. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10.kekakuan lutut 11. INFORMED CONSENT : Perlu 12. separasi fragmen Kelemahan otot-otot quadrisep. Butterworth-Heinemann.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. HASIL : Kedua fragmen patela tereposisi & rigid Fragmen terangkat 14. haemathros) F. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 1993. crepitasi. Perjan Denpasar RS. Terapi komplikasi : Sesuai dengan komplikasi yang timbul (non union malunion. Salter. infeksi. Edition.0 2. 2nd Ed. MASA PEMULIHAN : 8-12 minggu 13.Bila perlu sunrise/ tangensial (untuk fraktur vertikal& fragmen osteochondral) 4. 86 . Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. Apley. 2.1. A.Partial/ total patelectomy D.Foto genu AP/ Lat . haemathros .TBW . PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan dan rawat inap 8. PENGOBATAN A Tujuan pengobatan : Kuratif B. PROGNOSIS : Baik/ cacat 17. KRITERIA DIAGNOSIS : Klinis : . & Solomon. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. PATOLOGI : 15. defect antar fragmen. PENYULIT: Haemathros Infeksi. 1983. DIAGNOSIS : FRAKTUR PATELA 3.bengkak. TEMPAT PELAYANAN : RS. Williams & Wilkins Baltimore/London. C Macam pengobatan : Reposisi tertutp : Pasang Kocher gips untuk permukaan yang intact dan fragmen tidak bergeser Reposisi terbuka: ORIF : gangguan permukaan artikuler .Gangguan extensor mekanisme lutut Radiologi : . 7th. KEPUSTAKAAN : 1.G. Kualifikasi operator : . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. PEMERIKSAAN PENUJANG : Foto polos genu AP/ Lat 6.B.Cara pengobatan : Reposisi tertutup dan reposisi terbuka.

HASIL : Posisi anatomis optimal Fungsional baik 13. mlunion. 1993. Tujuan terapi : Kuratif B. 9. L. F. emboli lemak. Komplikasi Awal Syok. trauma vaskulaer. NOMOR ICD : S. OTOPSI : 15. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Apley. infeksi.Fraktur kolum femur . Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. malunion Joint stiffnes. lesi nervus. A. dan cidera neurovaskuler 10. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Cara pengobatan : Non operative dan operative C Macam pengobatan : a. metal fatique. KEPUSTAKAAN : 1. Perjan Denpasar PENYULIT : Non union. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma mayor pada paha Tanda pasti patah tulang (+) 4. DIAGNOSIS BANDING : Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara klinis . Non operative Traksi skeletal Traksi kulit pada anak b. Infeksi. 72 2. Williams & Wilkins Baltimore/London. PENGOBATAN : A.Fraktur kondilus femur 5.Waktu pengobatan : segera saat penderita datanmg ke rumah sakit E.Fraktur trokanter . Salter. MASA PEMULIHAN : 1 minggu 12.Kualifikasi operator/ pemberi pelayanan : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8.Terapi komplikasi pengobatan : .G. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 17.Fraktur shaft femur . INFORMED CONSENT : Perlu 11. PATOLOGI : 14. R. Komplikasi lambat Refraktur. trombo emboli. Operative D. atrofi otot.1. TEMPAT PELAYANAN : RS. 1983. delayed union. 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos Femur AP/ Lat 6.1.B. PROGNOSIS : Baik 16. 2. & Solomon. Butterworth-Heinemann. 87 . 7th. infeksi. Edition. 2nd Ed. DIAGNOSIS : FRAKTUR FEMUR 3. .

Kualifikasi operator : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. kapsul sendi atau m. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos panggul AP/ Lat 6.Type IV :fraktur tepi acetabulum dan besar . Macam pengobatan : Reposisi tertutup dengan anastesi umum : 1. PENYULIT : Fraktur intra artikuler Cidera N. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. Dislokasi anterior 10 % insiden dislokasi panggul 4 % mengalami avaskuler nekrosis Identasi fraktur caput femur : identasi 4 mm atau lebih Dengan prognosis buruk Type : Superior (pubis atau iliac) : panggul abduksi. NOMOR ICD : S 73. Dislokasi posterior Merupakan jenis tersering Tungkai memendek.Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar . Inferior (obturator) : panggul abduksi. Stimson Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 minggu. Bigelow 3. ekstensi Eksternal rotasi 4.Type III : fraktur comminutive tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . 9.0 2. > 15 % avaskuler nekrosis kaput femoris. fleksi eksternal rotasi. Terapi komplikasi pengobatan : F. Tujuan pengobatan : kuratif B.Type V : Fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain B. endorotasi dan adduksi 10 % komplikasi n. Cara pengobatan : Reposisi segera C. Allis 2. Klasifikasi : . ischiadicus 88 . PENGOBATAN : A.ischidikus.pyriformis menghalang reposisi Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi D. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) 7.1. Perjan Denpasar 10. TEMPAT PELAYANAN : RS. DIAGNOSIS : DISLOKASI PANGGUL 3.Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal . DIAGNOSIS BANDING : 5. KRITERIA DIAGNOSIS : A.

2nd Ed. 7th.11. HASIL : Tereposisi dengan baik 14. PATOLOGI :15. 1983. KEPUSTAKAAN : 1. Apley. 1993. MASA PEMULIHAN : 8 minggu 13. A. 2. Williams & Wilkins Baltimore/London. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. R. L. & Solomon. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.B. Edition. Butterworth-Heinemann. 89 . INFORMED CONSENT : Perlu 12.G. OTOPSI :16. PROGNOSIS : Baik 17. Salter.

saraf. 7. 3. Diagnosa banding Konsultasi Perawatan RS Pengobatan: A. Tujuan terapi B. Waktu pengobatan : segera saat penderita dating ke rumah sakit E.Masa Pemulihan 13.thorak) Foto Ro adanya fraktur di klavikula 4.Informed consent 12. Macam pengobatan : D.Penyulit 11.5 bulan : Tereposisi dengan baik F. pembengkakan dan krepitasi pada daerah klavikula. Otopsi 16.1. Kualifikasi operator : 90 . 8. 5. Cara pengobatan : Dislokasi acromio-klavikular : Dokter spesialis terkait. Hasil 14.0 : FRAKTUR KLAVIKULA :Terputusnya kontinyuitas tulang klavikula akibat trauma Klinins : Penderita : nyeri. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk perawatan bedah : Kuratif : Konservatif Operatip : pasang ransel verband : Plate & Screw atau ada lesi vaskuler/ saraf Pemeriksaan penunjang : X-foto klavikula AP C.Prognosis : Perlu uintuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS Perjan Denpasar : Lesi vaskuler Lesi saraf : Perlu : 1-1. Adakah gejala dan tanda trauma penyerta (trauma vaskuler. Nomor ICD Diagnosis Kriteria diagnosis : S 42. 2. 6.Tempat pelayanan 10.Patologi 15. Terapi komplikasi : 9.

A. Salter.G. L. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 2nd Ed. ButterworthHeinemann. 1993. 7th. Edition. & Solomon. 1983. R.B.17 Tindak lanjut 18. 2. 91 . Apley. Williams & Wilkins Baltimore/London. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinis : 1.

A. bila diperlukan :Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : Kuratif : Non Bedah :Reposisi dengan pembiusan pasang Gips U – slab / Hanging cast Bedah: Pemasangan implant plate screw C. Radialis . Perjan Denpasar : Lesi N. Kualifikasi operator 9.Penyulit 11. Patologi 15. Diagnosis 3. Waktu pengobatan E. Macam pengobatan D. 1993.B. Prognosis 17. L. 2. Cara pengobatan : : X Foto humerus AP/ lateral. Terapi kompliksai F. Tujuan terapi B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 1983. 7th.G.Konsultasi 7. bengkak diformitas.Informed consent 12. Apley.1. ICD 2. Kriteria diagnosis : S 42. R. Williams & Wilkins Baltimore/London. Salter. krepitasi. KEPUSTAKAAN : : : saat penderita dating ke rumah sakit : Lesi N.Otopsi 16. Pemeriksaan Penunjang 6.Tempat pelayanan 10. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.Pengobatan : A. 2nd Ed. - 92 . Axillary view :Dokter spesialis yang terkait. Masa pemulihan 13. gangguan fungsi) Foto Rontgen adanya fraktur humerus 4. Diagnosa banding 5. Radialis : Perlu : 12-24 minggu : Terreposisi dengan baik : : : Baik : perawatan poliklinis : 1. & Solomon. Hasil 14.3 : FRAKTUR HUMERUS : Ada riwayat trauma Tanda pasti fraktur humerus (nyeri.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Tindak lanjut 18. Edition. Perawatan RS 8. angulasi / pemendekan. ButterworthHeinemann.

Otopsi 16. Kriteria diagnosis : S 43. Patologi 15.Informed consent 12. Prognosis : Perlu : + 4 – 6 minggu : Terreposisi dengan baik : :: Baik : Segera direposisi saat penderita dating ke rumah sakit untuk yang baru.Konsultasi 7. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : : kuratif : Non Bedah : Reposisi menurut Kocher atau Hipokrates Bedah Reduksi operatif untuk kasus-kasus neglected. Macam pengobatan D. C. dengan persiapan. Perjan Denpasar : Cedera N Axilaris / plexus brachialis Gangguan sirkulasi Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama Dislokasi sendi berulang 11. Waktu pengobatan E. Hasil 14. Nomor ICD 2.Tempat pelayanan 10.Pengobatan A.Penyulit : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Cara pengobatan : : X Foto bahu AP : Dokter spesialis yang terkait. 93 . Terapi komplikasi F. deformitas.0 : DISLOKASI BAHU : Ada riwayat trauma Nyeri. Lama Pemulihan 13. Kualifikasi operator 9. Diagnosis 3. Diagnosa banding 5. Tujuan terapi B.1. Perawatan RS 8. Pemeriksaan Penunjang 6. asimetri Gangguan gerakan bahu 4.

17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

94

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan

: S 42.4 : FRAKTUR SUPRA CONDILER SIKU : Riwayat Trauma Tanda –tanda pasti patah tulang di atas siku : : X Foto siku AP / lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : a. Non bedah : - Reposisi dengan pembiusan - Traksi b. Bedah : Bila non bedah gagal – operasi Plate & Screw atau CCW

C. Macam pengobatan : D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : segera saat penderita dating ke rumah sakit : Kaku sendi siku (Fisioterapi) Kompresi pembuluh darah : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Kompresi pembuluh darah Kaku sendi siku : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik: : : : Dubius / kaku sendi siku : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

95

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.0 : FRAKTUR OLEKRANON : Riwayat Trauma Tanda pasti patah tulang pada siku Teraba gep pada olecranon X Foto Olekranon patah

4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan C. Macam pengobatan D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator :

: Fraktur lain di daerah siku : X Foto siku AP lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan :Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : Operasi dengan pemasangan tension band wire : saat penderita datang ke rumah sakit pada yang terbuka : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12. Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS. Perjan Denpasar : Kaku sendi siku Lesi N.Ulnaris : Perlu : + 4 – 6 minggu : Fragmen terfiksasi dengan baik : : : Dubius / cacat : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

96

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S3.1 : DISLOKASI SIKU : Riwayat trauma, sakit sendi siku Deformitas / asimetri Limitasi gerakan sendi

4. Diagnosis banding 5. Pemeriksaan penunjang 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 9. Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan a. Non bedah b. Bedah C. Macam pengobataqn D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis : : : :

: : X Foto siku AP/ lateral : Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap

: Reposisi dengan pembiusan Imobilisasi dengan posisi fleksi pada siku : Operasi bila reposisi gagal : segera saat penderita dating ke rumah sakit

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Lesi N.Ulnaris, N.Medianus Lesi vaskuler : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik : : Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Kaku sendi bisa terjadi

97

2nd Ed.B. A. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. & Solomon. Apley. Salter.G. 2. Tindak lanjut 18. 1993. ButterworthHeinemann. R. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Williams & Wilkins Baltimore/London.17. 1983 98 . L. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinik : 1. Edition. 7th.

Informed consent 12. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1. gangguan gerak. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. 3. 7. Kriteria Diagnosis : FRAKTUR GALEAZI : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Diagnosis 3. krepitasi dan nyeri. Macam pengobatan : 1. Pengobatan a. 2. Masa pemulihan : RS. “false movement”. malunion. Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Cara pengobatan : 1. 4. bila tidak stabil diimobilisasi dengan gips pada posisi supinasi selama 3 minggu. post operasi diperiksa stabilitas sendi radioulnar. Konsultasi 8. Perjan Denpasar : Non union. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi interna. Bedah : operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal d. Diagnosis Banding 6. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : : kuratif kemudian imobilisasi dengan gips (long arm cast) pada posisi supinasi selama 4-6 minggu. Dilakukan reposisi tertutup dengan anestesi umum c. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. deformitas.2. 5. Waktu pengobatan : e. Penyulit 11. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang radius disertai dislokasi sendi radioulnar distal . Tempat pelayanan 10. lengan bawah AP/lat. Radiologi : anteroposterior dan lateral. : Perlu : ± 6 minggu 99 . Non bedah : reposisi (gips sampai di atas siku) 2. Terapi komplikasi pengobatan : f. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Ro. Perawatan Rumah Sakit : Rawat inap untuk observasi atau tindakan b.

ButterworthHeinemann. Tindak lanjut 18. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 7th.G. Patologi 15. Hasil 14. Prognosis 17.13.B. Salter. Apley. 1993. 2nd Ed. Otopsi 16. 2. L. & Solomon. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. R. KEPUSTAKAAN : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. A. Edition. Williams & Wilkins Baltimore/London. 1983 100 .

0 : FRAKTUR MONTEGIA : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Dilakukan reposisi tertutup kemudian imobilisasi c. Konsultasi 7. “false movement” dan krepitasi. dislokasi kaput radius ke lateral Bado 4. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan Dokter Spesialis Bedah Ortopaedi 9. Diagnosis banding 6. Waktu pengobatan : : 1. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi internal 3. Nomor ICD 2. deformitas. Bedah : : Pembedahan e. Imobilisasi selama 4-6 minggu. Diagnosis 3. nyeri terutama pada tempat fraktur dan sendi radioulnar proksimal. Perawatan rumah sakit 8. lengan bawah AP / lat b. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. Terapi komplikasi pengobatan : f. Cara pengobatan : 1. Non bedah 2. 5. dislokasi kaput radius ke anterior Bado 2. 2. dislokasi ka[ut radius diseratai Fraktur radius dan ulna. Kriteria diagnosis : S 52. Perjan Denpasar 101 . Radiologi : anteroposterior dan lateral .1. Tempat pelayanan : RS. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. 4. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Pengobatan a. dislokasi kaput radius ke posterior Bado 3. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang ulna dan dislokasi caput radii Klasifikasi : Bado 1. Macam pengobatan d. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi atau tindakan : : kuratif dengan posisi lengan supinasi.

7th. R. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. : Perlu : ± 6 minggu : Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik Caput radii tereposisi atau dibuang 14. Tindak lanjut 18. Edition. Apley. A. 2nd Ed. Patologi 15. Salter. 1983 102 . KEPUSTAKAAN : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. & Solomon. L.10. ButterworthHeinemann. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Prognosis 17.G. Informed consent 12. Williams & Wilkins Baltimore/London. infeksi. Masa pemulihan 13.B. Penyulit 11. 2. 1993. malunion. gangguan gerak. Hasil : Non union. Otopsi 16.

Pemeriksaan penunjang : Radiologi . Gips sampai di bawah siku a. semi fleksi dan ulnar Deviasi pada pergelangan tangan. Macam pengobatan : Fiksasi dalam posisi pronasi.1. Pengobatan a. foto polos radius-distal AP / lat b. Nomor ICD 2.Macam : • • • • • reduksi tertutup dan splint reduksi tetutup dan pinning perkutan fiksasi externa reduksi terbuka dan fiksasi interna fiksasi externa dan interna stabilisasi fraktur besarnya displacement kwalitas tulang usia dan aktifitas penderita ketersediaan peralatan c. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : : local anesthesia (hematome 5. Emergensi : .5 : FRAKTUR COLLES : Tanda-tanda pasti patah tulang Trauma lengan karena menahan dengan “out strecht hand” 4.pada anak dan orang tua blok) 2. Cara pengobatan : 1. Diagnosis banding 6. Perawatan rumah sakit 8. Bedah : Bila non bedah gagal 103 . Konsultasi 7. Non bedah : Reposisi dengaqn pembiusan b. Definitif orang muda immobilisasi dengan gips sirkuler butuh anesthesia regional atau general : . Kriteria diagnosis : S 52.Faktor yang menpengaruhi optimalisasi : • • • • • . Diagnosis 3.

9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Massa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS Perjan Denpasar : Kompartment syndrome Suddec atropi : Perlu : ± 4 – 6 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posisi optimal Fungsional baik : : : baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

104

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.4 : FRAKTUR RADIUS-ULNA : Klinis : didapatkan adanya tanda-tanda fraktur seperti edema, deformitas, “false movement”, krepitasi dan nyeri. Radiologis : anteroposterior dan lateral, akan didapat kan adanya diskontinuitas tulang.

4. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pengobatan a. Tujuan terapi

: : Dokter spesialis yang terlait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : :

5. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. antebrachii AP/lat

b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup dengan anesthesia umum, kemudian immobilisasi dengan gips (long arm cast). Posisi antebrachii tergantung letak fraktur, pada fraktur antebrachii 1/3 proksimal diletakkan dalam posisi supinasi, 1/3 tengah dalam posisi netral, dan 1/3 distal dalam posisi pronasi. Gips dipertahankan 4 – 6 minggu 2. Bila reposisi tertutup tidak berhasil (angulasi lebih dari 10º pada semua arah) maka dilakukan internal fiksasi. 3. Pada fraktur terbuka terlebih dahulu dilakukan “debridement” kemudian dilakukan tindakan seperti diatas. Sedangkan pada fraktur terbuka derajat III dilakukan eksternal fiksasi. c. Macam pengobatan : Gips sampai diatas siku b. Bedah : Bila non bedah gagal plate and screw d. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit : RS. Perjan Denpasar : Kompartment syndrome a. Non Bedah : Reposisi dengan pembiusan

105

11. Informent consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perlu : ± 6 – 8 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

106

1. Nomor ICD 2. Diagnosis

: C22.0 : Hepatoma

3. Kriteria Diagnosis - Pemeriksaan Klinis : - Anamnesa : - berat badan menurun - nyeri hipokondrium kanan - alkoholisme - riwayat sirosis hepatis atau hepatitis kronis - Inspeksi : tampak tumor pada hipokondrium kanan (tumor besar) - Palpasi : massa pada hipokondrium kanan - Perkusi : untuk mencari batas-batas tumor - Auskultasi : suara usus normal Pemeriksaan Laboratorium : - AFP - LFT - CEA Pemeriksaan Imaging : - USG - CT Scan

-

Pemeriksaan Radiologi : - angiografi - Ba- enema (bila curiga primer berasal dari kolon) Pemeriksaan Jarum Halus Pemeriksaan Kolosnokopi : bila curiga primer dari kolon

-

4. Diagnosis Banding - Tumor jinak hepar (Hemangioma, Adenoma) - Kolangiokarsinoma 5. Pemeriksaan Penunjang : 6. Konsultasi : Penyakit dalam bila ada riwayat sirosis hepatis dan hepatitis khronis. 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan - Pembedahan / Terapi 1. Tumor metastase dari kolon / rektum dan primer terkontrol : dilakukan reseksi hepar. 2. Tumor metastase dan tumor primer in operabel tindakan suportif. 3. Tumor hepar primer : karsinoma hepatoseluler - inresektabel : suportif. - resektabel : reseksi hepar. 4. Tumor jinak : - bila ada gejala : dilakukan reseksi. - bila tak ada gejala : observasi. 5. Sebelum reseksi sebaiknya dilakukan embolisasi untuk mengecilkan tumor dan mengurangi perdarahan.

107

Tumor Jinak . Otopsi : 15. Informed Consent : . Tindak Lanjut : . Prognosis : .Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Follow up secara klinis.Tergantung jenis tumor (jinak atau ganas) dan apakah resektabel atau tidak 13. Patologi : . Tempat Pelayanan : . 9.Perlu 14. 10th ed. Laboratorium dan Imaging 17. Masa Pemulihan : .Perlu 11. 8. 1989. p. Mc Graw Hill.6. 1561-1590 108 . Seiji Kawasaki : Hepatocellular Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operations.Tergantung jenis tumor 12.Rumah Sakit tipe A/B yang sudah memiliki Ahli Bedah Digestif.Schwartz SI : Principles of Surgery. Pada kasus resiko tinggi untuk operasi dan tumor kecil dapat dicoba penyuntikan perkutan alkohol 90% dalam tumor dengan tuntunan USG. 1997. 1994 . 5th ed. Prentice Hall Inc. Hasil : .Tumor Ganas : Baik : Resektabel → Dubois Ad Bo anam : Inresektabel → Dubois Ad Malam 16. p. Penyulit : Perdarahan (Spontan atau akibat tindakan) 10. 1327-1376 . 10th ed. Kepustakaan : .Maratoshi Maknuchi. Prentice Hall International.

1.Herniotomi .Lab. 8.Perkusi . Nomor ICD 2. Diagnosis : K40 : Hernia 3. UL 6. .Hernioplasty : . bila inkarserata terasa nyeri. Konsultasi : . Otopsi : 15.Hidrokel 5. Kriteria Diagnosis . Masa Pemulihan : 3-5 hari 12.thumb test. Prognosis : Baik 109 . Diagnosis Banding . DL.Anamnesa .Palpasi .zieman test (tri finger test) : : ( diatas benjolan) terdengar suara bising usus (bila isi kantong usus).Pembesaran kelenjar limfe . Penyulit : . Patologi : Tidak perlu 14.Inspeksi . Informed Consent : Perlu 11.finger test. jantung) 7. : .Pemeriksaan fisik : .Pembedahan / Terapi . Pemeriksaan Penunjang : . 4.tehnik Halsted.Auskultasi : benjolan di pelipatan paha. .tehnik Bassini.Penilaian isi kantong bila nekrosis dilakukan reseksi . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Kalau ada penyakit penyerta (liver. : benjolan di pelipatan paha yang dapat keluar masuk (hernia reponibilis) tak dapat keluar masuk (irreponibilis dan inkarserata).Inkarserata / strangulasi dengan segala akibatnya 10. .Pemeriksaan Klinis : . Hasil : Baik 13. Tempat Pelayanan : .Lipoma pada pelipatan paha .Rumah Sakit tipe C/B/A 9.

Ist ed. Butterworth & Co. HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. 10th ed. USA. 375-381 . 712724 . Litle Brown and Co Boston.Dodson TF : Hernia In : Manual of Clinical Problem in Surgery. p. 1994. Prentice Hall International Inc. 1988 110 . 11th ed. Bristol. p. John Wright & Sons.Way LW : Hernia other lesion of the abdominal wall In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Ist ed. 1986.Dudley.Devlin HB : Management of Abdominal Hernia. Mc Graw Hill Inc. 215-218 .16. p. Tindak Lanjut : Follow up apakah terjadi residif / tidak 17. Kepustakaan : . 1984.Skandalakis JE : Hernia Surgical Anatomy and Technique. London 1988 .

USG . kolesistitis. 8.bila perut kiri ditekan (Rovsing Sign). 4.Colok dubur : nyeri perut kanan bawah (jam 10 – 11) . Diagnosis Banding 3. . 5. . . Kriteria Diagnosis . Kelainan-kelainan lain didalam abdomen ulcus pepticum.dipasang drain sub fasial.saat mengangkat tungkai kanan (Psos Sign).lapangan operasi dibersihkan dari pus dan bahan kontaminasi. .pembiakan kuman dan test kepekaan antibiotik.Pemeriksaan USG (bila ragu-ragu) 4. . entero-kolitis.Ba inloop double kontras 6.Pembedahan / Terapi .Auskultasi : Suara usus menurun .anoreksia mual. . perforasi karsinoma kolon.Anamnesa : .Apendektomi .sub febris. .saat testis kanan ditarik (Tenhorn Sign) . Konsultasi : Obstetri Ginekologi 7. ileitis terminalis. Nomor ICD 2.nyeri epigastrium kemudian disusul nyeri perut kanan bawah yang menetap. Pemeriksaan Penunjang . pankreatitis divertikulitis. febris (bila ada komplikasi) . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 111 .Inspeksi : gerakan perut kanan bawah berkurang waktu bernafas .1. .kulit dijahit situasi. Golongan gastro-enteritis : lim fadenitis mesenterik.saat tekanan perut kiri dilepas (Blumberg Sign).Perkusi : Nyeri ketok ⊕ (kadang-kadang dilakukan) .Bila saat operasi didapatkan apendik yang mengalami perforasi maka dilakukan : . .Palpasi : * nyeri daerah Mc Burney / kanan bawah : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Pemeriksaan Klinis : . .Pemeriksaan laboratorium : DL : leukosit UL : sedimen urin .saat flexi dan endo rotasi tungkai kanan (Obturator Sign). Kelainan genitalia interna pada wanita 5. Diagnosis : K35 : Radang Usus Buntu 3.tidak melakukan penjahitan lemak.

Prentice Hall Int. Tindak Lanjut Jahitan diangkat hari ke-7 pasca bedah. 3. 4. 5. Bristol. Inc. 1990. Appleton Century Crofts..p.Dudley HAF : Hamilton Biley’s Emergency Surgery.2 9th ed. P. Patologi : Perlu 14. LW : Appendix In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Vol.Way. Hasil : Baik 13. bila luka mengalami infeksi perlu dipertimbangkan kondisi luka 17. 610-614 112 . Informed Consent : Perlu 11. 1986.9. 953-978 . 10th ed. Masa Pemulihan : 5-7 hari 12. 336-345 .p. 1994. 11th ed. Kepustakaan : . Otopsi : 15. Norwalk Connecticut. Prognosis : Baik 16. John Wright & Sons Ltd. 2. Penyulit 1.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. Appendisitis perforasi Periappendicular infiltrat Periappendicular abscess Peritonitis umum Foic appendiculare 10.

. . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Karsinoma rekti 4. . Informed Consent : Perlu 113 .Proktoskopi : .Auskultasi : . . . Amoeba 6.penggunan seton (pada fistula yang banyak melibatkan sfingter ani) .Pemeriksaan Klinis : . amoeba. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan Pembedahan / Terapi .untuk mengetahui adanya penyakit lain (karsinoma. Pemeriksaan Penunjang : Fistulografi 6.Inspeksi : adanya perianal fistel.bahan yang dieksisi dilakukan pemeriksaan histo PA.Perkusi :. Konsultasi : 7.Palpasi : nyeri tekan dan teraba massa sebagai tali memanjang . . Nomor ICD 2. . hidrogen peroksida datu metilen biru. Penyulit : Kadang-kadang residif 10. 8. proktits tbc 5. . 4. morbus Crohn).Irigasi saluran : untuk mengetahui saluran dan lubang interna dengan garam fisiologis. Diagnosis Banding 3. Diagnosis : K60. proktitis tbc.Fistulektomi .Pemeriksaan radiologis : fistulografi.Colok dubur : dengan bidigital yaitu antara jari telunjuk pada anus dan ibu jari pada perineum akan teraba jaringan yang mengeras seperti tali. faeces dari lubang dekat anus. nanah.Anamnesa : mengeluarkan lendir.Sondasi : untuk mengetahui saluran dari fistula.Fistulotomi. Kriteria Diagnosis . Morbus Crohn 5.untuk mengetahui lubang fistel sebelah dalam.3 : Perianal Fistula 3.1.

Patologi : Perlu 14. Anorectal Fistulas. Rectum and Anus.Golberg. Ltd. 701-703 . Masa Pemulihan : Tergantung derajat fistula (melibatkan banyak sfingter ani atau tidak) 12. Mc Graw Hill. Hasil : Baik 13. 1994. WB. 10th ed Prentice Hall International Inc.Keighley. p. 418-466 114 . In : Principles of Surgery 5th ed. Prognosis : Baik 16. p. 1988 p. 1993. Philadelphia.Way LW. et al : Colon. Kepustakaan : . Otopsi : 15. Tindak Lanjut : Follow up berkala 17.11. Saunders Co. SM. 1303-1306 . London. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. MRB : Anorectal Fistula in Surgery of the Anus. Rectum and Colon.

rendam duduk (Krim 04) . 4. .Operasi : .Inspeksi : adanya sentinel pile . Nomor ICD 2. Patologi : 14.prosedur : lateral internal sfingterotomi. Tempat Pelayanan : .nyeri waktu berak .diet membuat faeces lunak.Proktoskopi : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan hipertropi papilla dan fissura. Hasil : Baik 13. Informed Consent : Perlu 11.Colok dubur : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan lokasi fissura dan stenosis.Pembedahan / Terapi .bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. . .Anamnesa : .Medikamentosa : . .Perkusi : .0 : Fissura Ani 3. hidrokortison 1%. Penyulit : 10. Konsultasi : 7.Palpasi : bila anus dilakukan everasi tampak fissura . Otopsi : 15. Diagnosis : K60. Pemeriksaan Penunjang : 6. Kriteria Diagnosis . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Diagnosis Banding : 5.berak darah segar (tanpa bercampur berak) .Rumah Sakit tipe C/B/A 9.1.salep lokal Ichtamol 10%.minum banyak.Pemeriksaan Klinis : . 8.Auskultasi : . . Prognosis : Baik 115 . Masa Pemulihan : 2-3 hari 12.

et al : Colon. SM. Kepustakaan : . 10th ed Prentice Hall International Inc. London. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 698-699 . p. 369-386 116 . Rectum and Anus.Way LW. Philadelphia. Saunders Co. 1303-1306 . 1994. Ltd. Anal Fissure. WB.Golberg. MRB :Fissure in Ano.Keighley. 1988 p. In : Principles of Surgery 5th ed. p. Rectum and Colon. Mc Graw Hill.16. In : Surgery of the Anus. 1993. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi (Poliklinis) 17.

USG. Nomor ICD 2.nyeri hipokondrium kanan .Courvoissier Law .Murphy’s sign . .ERCP 4.test faal hati. .Inspeksi : ikterus . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Pediatri pada anak 7.ada batu di saluran utama : koledokotomi + scope pasang T-drain.Tumor pada papila vateri 5. Untuk batu empedu dengan kolangitis .Tumor hati .tanpa batu di saluran utama : tindakan selesai .BOF.sfingterotomi Untuk batu residual .Batu kandung empedu .Pemeriksaan laboratorium : . CT Scan.FNAB Bila : .ERCP . kulit berwarna kuning .USG .Pembedahan / Terapi Untuk batu empedu tanpa kolangitis .Perkusi : nyeri ketok pada perut kanan atas .Pemeriksaan imaging : .1. Diagnosis Banding .Palpasi : . .kanker tanpa metastase : reseksi pankreas 117 .ERCP .Lab .Pemeriksaan Klinis : . Konsultasi .penurunan berat badan .Auskultasi : suara usus normal .Anamnesa : .Interne .kolesistektomi dan kolangiografi intra operatif. Pemeriksaan Penunjang . ERCP 6.ERCP .foto polos abdomen .Gatal-gatal.bila hasil kolangiografi : . Diagnosis : K83.CT Scan.panas badan .1 : Ikterus Obstruksi 3.Lithotripsi Untuk tumor pankreas . Kriteria Diagnosis .

315-336 118 .rendam duduk (Krim 04) .Kim U.R.kanker dengan metastase : . Kepustakaan : . . mencegah kolangitis & kerusakan sel-sel hepar 13.stent (ERCP) Untuk tumor Klatskin : .Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.salep lokal Ichtamol 10%. 273-290 . .reseksi . Otopsi : 15. Joel J.bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. .K. 7th ed. Informed Consent : Perlu 11.by pass . 11th ed.diet membuat faeces lunak. Prognosis : Tergantung kausa 16. p. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9. Boston. . Masa Pemulihan : 1-2 minggu 12. .minum banyak.Operasi : . 1991. Little Brown & Coy. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi dan advis makanan 17.by pass .Condon RE.stent Untuk striktura saluran bilier : . Prentice Hall inc.. Penyulit Cholangitis Sepsis 10.ERCP pro dilatasi . hidrokortison 1%.by pass . 8. 1994. 10th ed Prentice Hall International Inc. 1988. 10th ed. Patologi : Perlu 14.Dudley HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. Hasil : Ikterus hilang. : Jaundice in Maingot’s Abdominal Operations. p. Bristol. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic.prosedur : lateral internal sfingterotomi. Wright.Medikamentosa : . 1986.353-374 .p.

1. .Prolaps rekti . . Penyulit : Anemia 10.fenol oli 5% atau krim uretan 5% dosis 3-5 ml/tonjolan maksimum 15ml.50 ml.disuntik bahan sklerotan : . Kriteria Diagnosis .Pemeriksaan Klinis : .sodium morbuat / tetradesil sulfat 0.25-0. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Perkusi : .prolaps yang berasal dari tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya. . Informed Consent : Perlu 119 . 8.Karsinoma rekti 5.tonjolan terasa nyeri (untuk hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis). .Proktoskopi : untuk mengetahui derajat dan lokalisasi hemorrhoid. .Hemorrhoid interna derajat III/IV : hemoroidektomi.Hemorrhoid interna derajat I/II. . Diagnosis : I84.1 : Hemorrhoid 3.Auskultasi : . .Colok dubur : untuk mengetahui apakah ada kelainan lain.Inspeksi : prolaps tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya. Diagnosis Banding . .Pembedahan / Terapi . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Nomor ICD 2.Hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis : eksisi dan evakuasi trombus.Hemorrhoid asimptomatik tidak perlu pembedahan. Pemeriksaan Penunjang : 6.berak darah segar tanpa nyeri .Palpasi : .dengan obat lokal (suppositoria atau salep) yang mengandung kortikosteroid dan anestesia .Anamnesa : . 4.diet yang mengandung serat (buah-buahan segar) . . Konsultasi : 7.

Boston. Saunders Co.Williams NS : Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus. 317-322 . p. 1988. Ltd. 1984. JC. 295-363 120 . 7th ed. Rectum and Colon.11. 10th ed Appleton & Langes. WB. 98-149 . 1994. 5th ed. 695-698 . p. Rectum Colon. Otopsi : 15. Hasil : Baik 13. Kepustakaan : . p. Patologi : 14. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. p. 1993. Bailiere Tindall. Philadelphia. Masa Pemulihan : 7 hari 12.Golinger. : Hemorrhod or Piler – Surgery of the Anus. London.Condon RE. Little Brown & Coy. London.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Prognosis : Baik 16. Tindak Lanjut :Follow up poliklinis 17.

ERCP . setelah stadium tenang baru dilakukan kolesistektomi.kolesistektomi terbuka . Konsultasi : Interne 7. 8. Penyulit : Kolangitis 10.USG.Palpasi . Otopsi : - 121 . Diagnosis : K80 : Batu Empedu 3. . : ikterus : Murphy’s sign : : 4. SGOT.Pemeriksaan Klinis : . reasi Heyman v/d Berg. Pemeriksaan Penunjang : USG.PTCD : . tes faal hepar. Diagnosis Banding : Malignancy 5. Hasil : Tergantung apakah ada penyulit / tidak 13.1.ikterus. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Pembedahan / Terapi . ERCP. PTCD 6.kadar gula darah. tegang perut kanan atas. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. gamma glucorinyl transferase. Masa Pemulihan : 7 hari 12. Kriteria Diagnosis . Pemeriksaan Imaging : . Informed Consent : Perlu 11. .Inspeksi . Patologi : 14.nyeri. Nomor ICD 2.Perkusi .CT Scan . alkali fosfatase. kolestreol. SGPT.BOF . triggliserid.bila peradangan dan sudah ada massa dilakukan terapi konservatif.Anamnesa - - . CT Scan. .kolesistektomi laparoskopi.Auskultasi Pemeriksaan darah : .

Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation.p. Blackwell Scientific Publication. 1997.Joseph A. p. 527-557 . 1981. 1991. 10th ed.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Dames SS : Disease of the Liver and Billiary System. Joel Rslyn : Cholelithiasis and Cholecystectomy in Maingot’s Abdominal Operation. Prentice Hall International Inc. 6th ed. 1337-1479 . 1990. 222-224. 10th ed. 9th ed. p. Karan.15. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. Prentice Hall International Inc. Prognosis : Baik 16. Prentice Hall Inc. 1717-1738 122 . 476-498 . Oxford. Kepustakaan : .p.

darm contour / darm steifung (bila ada obstruksi) . Pemeriksaan Imaging : .Palpasi : .IVP . .USG .Anamnesa - - : .Colok dubur : .1.Perkusi : mencari chest board phenomena .Reseksi kolon transversum : untuk tumor di kolon transversum.Hemikolektomi kanan : untuk tumor di sekum.USG kalau perlu CT Scan untuk mengetahui penyebaran ke hati.Pemeriksaan Klinis : .0 : Karsinoma Kolorektal 3. Kriteria Diagnosis . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Inspeksi : .Anasthesi 7. kolon ascenden. .Hemikolektomi kiri : untuk tumor di fleksura lienalis dan kolon descendens 123 .Penyakit dalam .perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah defekasi.anemia / kelemahan umum .Ba-enema .dilanjutkan proktoskopi . Pemeriksaan Radiologis : . . 4. Nomor ICD 2.Auskultasi : tanda-tanda obstruksi (pada keganasan kolon kiri) . Diagnosis Banding : Kelainan-kelainan intralumen pada daerah kolorektal 5.Pembedahan / Terapi . Pemeriksaan Penunjang .Kolonoskopi .perubahan pola defekasi . Konsultasi . .pemeriksaan Ba-enema dengan kontrast ganda .untuk mendeteksi kelainan-kelainan didaerah rektosigmoid.pemeriksaan IVP untuk mendeteksi infiltrasi tumor terhadap sistem saluran kemih. Diagnosis : C18.CT Scan 6. kelenjar para aorta Pemeriksaan pertanda tumor CEA untuk monitoring kekambuhan tumor.pemeriksaan foto polos dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru.berak campur darah / lendir .massa di perut kanan bawah / kiri . fleksura hepatika.

Norman S.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. 1990.Helena R. p.metronidasol 8. Englewood Cliffs. Chang. 830-1091. Masa Pemulihan : 7-14 hari 12. Penyulit Anemia Hipo albuminemia 10. Patologi : Harus 14. Prognosis : Tergantung stadium tumor jenis patologi 16. : Surgery of the Anus. Williams : Surgery of the Anus. 124 . 5th ed. 1281-1308. Informed Consent : Perlu 11.. London. 1982. Otopsi : 15. Springer Verlag. p. Kepustakaan : . 1033-1172 .sefalosporin generasi III . 10th ed. .B. 267-412 . 426-793 .Spiessl B. Hasil : Tergantung stadium tumor 13. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis sampai 5 tahun atau 10 tahun 17.Reseksi sigmoid : untuk tumor sigmoid . 78-99 .Reseksi anterior : untuk tumor di rektum lebih dari 12 cm dari anus . JC. Keighley. Bailiere Tindall. : UICC-TNM Atlas. Rectum Colon. Schebe O. 9th ed. 1997.Michael R. . Rectum and Colon. 1993 p. Bland : Tumors of the Colon in Maingot’s Abdominal Operation. 1984. W. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. p. 1984. Saunders Co.Corman ML : Colon and Rectal Surgery. Prentice Hall.B. And Wagner G. Prentice Hall International Inc. 1st ed.aminoglikosida. Kirby I. p.Golinger. p.metronidasol atau .

Inspeksi : ikterus .Auskultasi : Pemeriksaan Laboratorium : LFT. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.Anamnesa - : . CA. Penyulit Gangguan faal pembekuan darah Hipo albumin Kolangitis 10.ERCP atau PTCD .USG .9 .Perkusi : .Laboratorium : LFT.9 Pemeriksaan aspirasi jarum halus.Ikterus obstruktif ok batu empedu .tanpa ikterus : eksplorasi untuk reseksi atau by pass .Ikterus obstruktif ok Stenosi saluran empedu . 4. Diagnosis : D13.CT Scan 6.dengan ikterus : . Pemeriksaan Penunjang .1.6 : Karsinoma Pankreas 3. Konsultasi .Untuk kasus metastase : terapi paliatif 8.pankreatitis kronis . Nomor ICD 2.Untuk kasus tidak ada metastase : .Penyakit Dalam . 19.dilanjutkan eksplorasi untuk reseksi atau by pass .diabetes mellitus .Pemeriksaan Klinis : .Palpasi : Courvoisier Sign . Diagnosis Banding . Kriteria Diagnosis . Masa Pemulihan : - 125 .Anasthesi 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Informed Consent : Perlu 11.alkoholisme .Ikterus obstruktif ok keganasan saluran empedu 5.Pembedahan / Terapi . CA 19.

Kepustakaan : . prentice Hall Inc. John L. p.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Otopsi : 15.Howard A. 10th ed. 1997. 1429-1437 .Keith D. 1997. p. p. 10th ed.Schwartz SI : Principles of Surgery. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. 9th ed. 5th ed. 1977-2002 . Prentice Hall International Inc . Mc Graw Hill. Patologi : Perlu 14. Cameron : Pancreatic and Periampullary Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operation. 1989.12. Prognosis : Tergantung kepada stadium tumor dan tindakan yang dilakukan 16. Lilleane. Reber : Operation on the Pancreas in Maingot’s Abdominal Operation. Hasil : Tergantung apakah tumornya resetabel / tidak 13. Prentice Hall Inc. 2003-2030 126 .

Pemeriksaan fisik umum: Kondisi pasien baik b. Pada Neonatus : herniotomi dengan tehnik Michael Banks tanpa membuka fascia muskulus obliqus abdominalis 127 . NOMOR ICD : K. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk tindakan pembedahan : a. unilateral 3.40. KRITERIA DIAGNOSIS : I. Hidrokel funikuli 2. Dokter Spesialis Anestesi untuk toleransi pembiusan 7. Macam pengobatan : Tehnik Pembedahan : 1. Pemeriksaan Penunjang : tidak diperlukan untuk diagnosis 4. HERNIA INGUINALIS LATERALIS UNILATERAL 1. Pemeriksaan fisik di daerah inguinal dapat terlihat atau teraba benjolan yang timbul hilang atau menetap II. Pemeriksaan Klinis : 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT : a. KONSULTASI : a. Seringkali terdapat gangguan pasase usus jika terjadi jepitan pada usus dalam kantong hernia 2. DIAGNOSIS : Hernia Inguinalis Lateralis. Untuk pasien anak usia >1 tahun dapat rawat jalan pra dan pascabedah 8. Limfadenofati inguinal 3. Abses inguinal 5. PENGOBATAN : a. Pemeriksaan laboratorium : darah rutin 6. Terdapat riwayat adanya benjolan yang timbul hilang didaerah inguinal b. Cara pengobatan : Dilakukan herniotomi dengan berbagai tehnik c. Untuk pasien neonatus dan bayi usia < 1 tahun perlu rawat inap pra dan pascabedah b. Benjolan didaerah inguinal dapat menetap dan memberikan gejala/keluhan nyeri atau menyebabkan anak/bayi rewel dan menangis c. Pemeriksaan fisik : a.I. Tujuan terapi : Untuk pembedahan herniotomi secara berencana dengan persiapan b.9 2. Anamnesis : a. Dokter Spesialis Anak untuk toleransi operasi b. DIAGNOSIS BANDING : 1. Pemeriksaan radiologi torak b.

Residif hernia : dilakukan pembedahan ulang f. Jangka panjang : Kekambuhan dan munculnya hernia sisi lain 128 . PROGNOSIS : Baik 17. TINDAK LANJUT : Setelah pasien pulang dari rumah sakit dilakukan evaluasi : 1. PENYULIT : a. Terapi komplikasi pengobatan : a. Kelas B b. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. OTOPSI : Tidak diperlukan 16. Pada bayi dan anak-anak : dikerjakan herniotomi dengan tehnik Pott’s. Dokter Umum d. HASIL : Tidak terjadi kekambuhan hernia inguinalis 14. Dokter Spesialis Bedah c. Residif 11. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN : Perawatan luka operasi dapat dilakukan oleh : a. Hematome luka operasi b. Hematom : dilakukan evakuasi b. Dokter Spesialis Bedah Anak untuk operasi Hernia Inguinalis Lateralis reponibilis pada neonatus dan bayi usia kurang dari 1 tahun 2. Hernia Inguinalis Lateralis pada bayi dan anak-anak : RS kelas C 10. Perawat senior 13.2. Dokter Spesialis Bedah Umum dan Chief Residen Ilmu Bedah Umum untuk hernia inguinalis lateralis reponibilis pada anak-anak 9. Paskabedah : penilaian penyembuhan luka dan kekambuhan 2. Dokter Spesialis Bedah Anak b. dengan tehnik membuka fascia muskulus obliqus abdominalis d. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : 1. TEMPAT PELAYANAN : a. Hernia Inguinalis Lateralis pada neonatus : RS.

Jika pada usus bagian distalnya terlihat gambaran udara itu berarti obstruksinya perineal. b. Pada obtruksi intestinalis segmen tengah dari saluran pencernaan umumnya mekonium dapat keluar namun jumlahnya sedikit. DIAGNOSIS : Obstruksi saluran pencernaan pada neonatus 3. Jika terlihat satu gambaran gelembung udara ( single bubble ) berarti ada sumbatan didaerah pilorus. d. 2. Pemeriksaan Fisik : 1. b.6 2. artinya obstruksi daerah yeyunum atau illeum. NOMOR ICD : K. 2. 3.II. Muntah dan distensi abdomen merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada semua jenis obstruksi intestinalis. OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN PADA NEONATUS 1. Jika terlihat dua gambaran gelembung udara ( double bubble ) berarti ada sumbatan didaerah duodenum. Analisa gas darah 129 . Pada kasus obstruksi intestinal lanjut dapat ditemukan gejala dehidrasi. Obstruksi usus distal akan memperlihatkan gambaran distensi usus halus maupun kolon secara segmental atau keseluruhan. syok hipovolumik. Gejala muntah pada neonatus harus dianggap sebagai manifestasi obstruksi intestinalis sampai dapat dibuktikan secara klinis dan penunjang diagnosis tidak ditemukan. Terlihat distensi abdomen yang massive pada obtruksi intestinal distal sedangkan pada obstruksi intestinal tinggi distensi hanya terlihat didaerah epigastrium dan biasanya hilang setelah dipasang pipa lambung. Jika gambaran gelembung udara terlihat kecil-kecil dengan jumlah 3 gelembung atau lebih. c. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilihat kaliber kolon mulai dari bagian distal sampai proksimal tempat obstruksi kolon dan melihat posisi sekum pada kasus malrotasi. Radiologi : a. Laboratorium : a. Elektrolit darah c. Muntah hijau menunjukkan lokasi obstruksi dibawah muara ampulla vater sebagai manifestasi peningkatan empedu yang keluar. Muntah tidak berwarna tidak berwarna hijau namun jumlahnya lebih dari 25 cc menunjukkan sumbatan / obstruksi pada pintu kaluar lambung ( gastric outlet obstruction ). KRITERIA DIAGNOSIS : Pemeriksaan Klinis : Anamnesis : 1. 2. Darah rutin b.56.Gangguan evakuasi mekonium dalam kwalitas dan kwantitas dapat merupakan gejala obstruksi intestinalis pada neonatus.Foto polos abdomen posisi tegak merupakan penunjang diagnosis paling bermanfaat : a. sepsis sampai peritonitis Pemeriksaan penunjang : 1.

RS. Kelas B untuk pelayanan pembedahan b. Tujuan terapi : Mengatasi obstruksi saluran pencernaan b. Cara pengobatan : 1) Intestinal dekompresi pada obstruksi non mekanis 2) Laparotomi eksplorasi untuk mengatasi obstruksi mekanis c. Macam pengobatan : Tergantung jenis penyebab obstruksi saluran pencernaan d. kolon dan rektum. Small left colon syndrome 5. Radiologi b. Dokter Spesialis Anastesi : untuk toleransi pembiusan 7. Penyakit Hirshsprung’s 3. TEMPAT PELAYANAN : a.4. RS. jejunoileal. Mekonium ileus 5. KONSULTASI : Tidak diperlukan untuk diagnosis Konsultasi sebelum pembedahan : a. Dengan komplikasi di rawat di Ruang Perawatn Intensif 130 . Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dokter Spessialis Bedah jika tanpa komplikasi 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk penatalaksanaan awal 9. duodenum. Mekonium Plug Syndrome 4. Kelas C untuk penatalaksanaan awal 10. Dokter Spesialis Anak : untuk toleransi pembedahan b. PENGOBATAN : a. 2. Waktu pengobatan : Segera setelah dignosis ditegakkan e. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perforasi dan peritonitis dilakukan laparotomi eksplorasi 2) Sepsis dilakukan perawatan intensif f. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Kelas B 8. Tanpa komplikasi dapat di rawat di ruang biasa b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. MASA PEMULIHAN : a. Laboratorium 6. Atresia intestinalis : Gastric outlet. PENYULIT : Sepsis 11. anorektum. DIAGNOSIS BANDING : 1.

TINDAK LANJUT : Setelah pasien di pulangkan pasien kontrol untuk evaluasi pascabedah dan pasca perawatan 131 . OTOPSI : Diperlukan 16.13. HASIL : Tergantung kondisi awal saat pasien datang 14. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. PATOLOGI : Diperlukan 15.

INTUSSUSEPSI 1. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. demikian juga pada intussusepsi pascabedah umumnya terjadi setelah 2-5 hari kemudian dengan meningkatnya produksi NGT disertai dengan memburuknya kedaan pasien tanpa penyebab yang jelas. pada prolaps karena intussusepsi teraba ada celah diantara bagian usus yang prolaps dengan mukosa anorektum 5. Dapat terlihat pada saat serangan bayi menangis sambil kakinya ditarik. Dengan pemeriksaan rektum dapat dibrdakan. Kondisi pasien secara umum lebih memburuk. Serangan dan gambaran seperti ini dapat terulang lagi dengan interval waktu 1 sampai 2 jam 6. Pemeriksaan rectum kadang-kadang dapat diraba pseudoportio dari ujung distal intussuseptum dan pada sarung tangan terdapat darah dan atau lendir 4. 132 . Gejala intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan dengan gejala obstruksi intestinalis lain. Intussusepsi lanjut dapat juga terlihat prolaps intussuseptum melalui anus sehingga seringkali sulit dibedakan dengan prolaps mukosa rektum. Pada perabaan dinding abdomen yang masih lembut umumnya dapat diraba massa berbentuk sosis pada kwadran kanan atas dan ditemukan pada hampir sebagian besar pasien intussusepsi yang datang lebih awal 3.III. Intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan secara klinis dengan obstruksi usus mekanis oleh penyebab lainnya sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang medis seperti radiologi. Nyeri sistemik intermitten merupakan gejala paling sering menyebabkan bayi dibawa ke dokter 5. Intussusepsi idiopatis merupakan kelainan paling sering ditemukan pada bayi usia 6-8 bulan (sekitar 50-85% kasus). Distensi abdomen kadangkala terlihat pada kasus intussusepsi lanjut atau telah terdapat komplikasi seperti perforasi usus 2.000 mm3) dan pergeseran sel ke kiri(shift to the left). Keluhan defekasi berdarah yang khas “ Current jelly stool” didapatkan pada 50% kasus intussusepsi Pemeriksaan fisik : 1. laboratorium 6. Umumnya tanpa keluhan nyeri. Pemeriksaan Penunjang Medis : Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium akan didapatkan gambaran leukositosis (>20.1 2. Intussusepsi pasca bedah abdomen dan toraks umumnya terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5 setelah pembedahan. yang terlihat adanya peningkatan produksi cairan lambung yang berwarna seperti empedu. 2. Intussusepsi khas didapatkan pada bayi sehat dengan gizi baik. Muntah ditemukan pada 90% bayi dengan intussusepsi dan kadangkala juga terlihat dehidrasi 7. 3. DIAGNOSIS : Intussusepsi 3. terdapat riwayat gastroenteritis dan atau infeksi saluran nafas sebelumnya 4.56. NOMOR ICD : K. Sedangkan intussusepsi dengan lead point dapat terjadi pada semua usia. wajahnya pucat seperti dalam keadaan sakit berat dan keadaan ini dapat berlangsung sekitar 20 detik selanjutnya bayi terlihat normal kembali.

Obstruksi saluran pencernaan b. Sepsis : dengan laparotomi eksplorasi dan perawatan intensif f. Untuk diagnosis dan terapi non operatif konsultasi Dokter Spesialis Radiologi b. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilakukan pada kasus tanpa komplikasi atau gejala klinis belum jelas. reduksi dengan tekanan hidrostatis : enema barium. udara 2) dengan operasi : laparotomi eksplorasi c. Tujuan terapi : 1) melakukan reduksi segmen usus yang mengalami intussusepsi 2) mengatasi komplikasi b. DIAGNOSIS BANDING : a. Laboratorium: hemoglobin darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk persiapan pembedahan : a. Macam pengobatan : 1) Reduksi intussusepsi tanpa operasi. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : a. analisa gas darah 6. Perforasi : dengan laparotomi eksplorasi b. Terapi komplikasi pengobatan : a. Radiologi. Fissura anus 5. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen posisi AP tegak dianjurkan jika gejala klinis belum mendukung karena fase awal akan terlihat gambaran distribusi udara dalam usus lebih banyak pada sisi kiri abdomen sedangkan gambaran udara usus sisi abdomen kanan menghilang. Spesialis Bedah Anak 133 . Divertikulitis c. 4. 2. KONSULTASI : a. Spesialis Bedah b. Kelas C 8. PENGOBATAN : a. leukosit darah. Dengan enema barium akan terlihat lokasi intussusepsi terutama jika terdapat ileosekokolokolikal intussusepsi sedangkan intussusepsi ileoileal sulit ditegakkan diagnosis dengan cara ini. Cara pengobatan : 1) tanpa operasi. Untuk pembedahan konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Enteritis hemorrhagika d.Radiologi : 1. laju endap darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Harus dirawat di RS Kelas B atau RS. bila tanpa kontraindikasi 2) Reduksi manual dengan operasi d. foto torak b. Gambaran kontras akan memperlihatkan adanya “cupping” seperti gambaran huruf “U” terbalik didaerah intussusepsi dan intussuseptum dari kolon.

PROGNOSIS : 1) Baik jika tanpa komplikasi 2) Jelek jika terdapat komplikasi 17. rawat inap 7 – 10 hari dilakukan oleh i. PENYULIT : a. Prabedah : 1)Perforasi 2)Sepsis b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN : a. Reduksi non operatif. diperlukan rawat inap untuk observasi selama 2-3 hari dirawat oleh : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah b. TEMPAT PELAYANAN : a. Kelas B: intussusepsi dengan komplikasi b. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah iv. Dokter Spesialis Bedah Anak ii. Pascabedah reduksi manual tanpa komplikasi rawat inap 5 – 7 hari dilakukan oleh : 1) Dirawat Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dirawat Dokter Spesialis Bedah 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 4) Perawat Senior c. TINDAK LANJUT : Pasien harus dilakukan evaluasi setelah pulang dari rumah sakit untuk follow up 134 . PATOLOGI : Jika ditemukan leadpoint diperiksakan patologi anatomi 15. Dokter Spesialis Bedah iii. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa penyebab yang jelas 16. Perawat senior 13. Pascabedah : 1) Infeksi pascabedah 2) Sepsis 3) Ileus berkepanjangan 11. Dengan reseksi usus halus dan atau usus besar. RS. HASIL : Pasien pulang dengan kondisi baik dalam fungsi usus dan defekasi 14.9. RS. Kelas C : intussusepsi tanpa komplikasi 10.

Foto tulang belakang 6. NOMOR ICD : Q. Distal colostogram 3. 2. Radiologi : 1. posisi prone 4. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengetahui kelainan congenital lain yang menyertai anus imperforasi Pemeriksaan penunjang : 1. Laboratorium : pemeriksaan urine lengkap 2. Foto toraks 2. Radiologi : Foto Cross table abdominal foto.IV. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Perlu rawat inap 135 . Bayi usia lebih dari 24 jam secara klinis akan memperlihatkan gambaran obstruksi intestinalis rendah 3. Laboratorium : 1) Hemoglobin darah 2) Laju endap darah 3) Leukosit darah 4) Faal hemostasis 5) Albumin darah dan total protein ii.3 2. Pada pemeriksan fisik daerah perineum. Terdapat keluhan mekonium keluar bersama-sama saat pasien kencing atau keluar didaerah perineum dan atau vagina karena adanya fistula. 3. Untuk pembedahan konsultasi : 1) Dokter Spesialis Anak 2) Dokter Spesialis Anestesi 7. vestibulun vagina sehingga mekonium tampak keluar melalui tempat tersebut. Tidak mempunyai lubang anus pada bayi baru lahir sehingga tidak terdapat evakuasi mekonium. Untuk diagnosis tidak diperlukan konsultasi b. anus tidak ditemukan pada tempat yang seharusnya. DIAGNOSIS BANDING : Tidak diperlukan 5. 2. ANUS IMPERFORASI : 1. muntah hijau Pemeriksaan fisik : 1. 42. Gejala obstruksi intestinalis rendah seperti abdomen kembung. KONSULTASI : a. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. DIAGNOSIS : Anus Imperforasi 3. sering ditemukan fistule rektum ke perineum. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan penunjang prabedah : i.

tanpa komplikasi pascabedah 14. berat badan. RS. RS Kelas C untuk kolostomi 10. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan. dan hemoglobin pasien memenuhi syarat untuk pembedahan definitive berencana e. Dokter Spesialis Bedah. Inkontinensi anus 11. PENGOBATAN : a. HASIL : Diharapkan pasien dapat defekasi kontinens. Macam pengobatan : 1) Pembuatan kolostomi terpisah (divided colostomy) jika diperlukan 2) Pembuatan anus dengan tehnik Postero sagittal anorectoplasy (PSA) d. Prolaps anus d. dilakukan kolostomi atau anoplasti 2) Setelah usia. PENYULIT : a. Tujuan terapi : 1) Terapi awal untuk pengalihan sementara saluran pembuangan melalui kolostomi jika diperlukan 2) Terapi definitive untuk pembuatan lubang anus dengan tehnik anoplasti b. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. Perawat Senior 2) Pascabedah Anoplasti dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Anak. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan pada saat kolostomi atau anoplasti dilakukan reoperasi 2) Retraksi anus atau kolostomi dilakukan reparasi ulang 3) Prolaps anus atau kolostomi dilakuakn reparasi 4) Skinrash karena iritasi kulit diberikan local proteksi dengan zinksalf f. TEMPAT PELAYANAN : a. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Kelas B untuk Anoplasti b. Cara pengobatan : 1) Pengobatan sementara dengan kolostomi 2) Pengobatan definitive dengan anoplasti c. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa sebab yang jelas 136 . INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Perdarahan tempat operasi b Retraksi anus c.8. MASA PEMULIHAN : 1) Pascabedah kolostomi dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk kolostomi 2) Dokter Spesialis Bedah Anak untuk Anoplasti 9.

16. TINDAK LANJUT : 1)Setelah pasien pulang dilanjutkan dengan businasi dan dilatasi anus sampai kaliber sesuai usia pasien dilakukan kontrol dan evaluasi secara rawat jalan 2) Penutupan kolostomi dilanjutkan dengan dilatasi dan businasi anus sampai kaliber sesuai dengan usia dengan frekwensi sesuai skedul 3) Toilet training sampai pasien defekasi kontinens melalui evaluasi sesuai sistim skoringnya 137 . PROGNOSIS : Baik jika pengelolaan awal dan lanjut sesuai prosedur 17.

Malnutrisi 5. Tidak bisa mengedan 4. Terdapat tanda-tanda obstruksi Intestinalis akut: a. PENYAKIT HIRSCHSPRUNG’S 1. Konstipasi khronis : a. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : Pada bayi baru lahir dan usia beberapa minggu : 1. NOMOR ICD : Q. Perut kembung c. Perut buncit 3. Muntah hijau d.43.V. Muntah-muntah c. Diare berulang 3.Gambaran obstruksi usus akut / khronis . Tanda dan gejala sepsis dan septik syok Pemeriksaan penunjang : A. Distensi abdomen 2.Radiologi : 1. Diare khronis atau akut b. Terdapat obstruksi intestinalis parsial berulang b. Perut kembung c. Fekaloma Pemeriksaan fisik : 1.Foto polos abdomen 3 posisi anterior-posterior (AP). Tanda dan gejala enterokolitis akut 4. Konstipasi sebagai gejala pokok 2. Tanda dan gejala dehidrasi 3.Udara tidak mencapai cavum pelvis 138 . DIAGNOSIS : Penyakit Hirschprung’s 3.1 2. lateral dan tengkurap akan memperlihatkan : . Dehidrasi sampai syok 2. Gangguan defekasi berlanjut. Evakuasi mekonium terlambat lebih dari 24 jam b. Foto polos abdomen : gambaran obstruksi usus rendah . konstipasi e. Enterokolitis akut atau khronis : a. Sepsis Pada anak lebih besar : 1. Distensi abdomen d. Demam e.

Gambaran lipatan mukosa kolon ( transversal fold ) B. Stenosis anus c.3. Stenosis anus c. Foto dengan kontras : Enema barium memperlihatkan : . Prematuritas d. Enterokolitis netrotikans e. Konstipasi oleh karena berbagai penyebab seperti : hipotiroid.Gambaran daerah rektum yang menyempit. Bayi baru lahir dan usia beberapa minggu . a. Fissura anus e. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Dilakukan jika diagnosis klinis dan radiologi belum memberikan kepastian diagnosis : a. Laboratorium untuk diagnosis tidak diperlukan C. Tumor anorektum d. daerah proksimal yang dilatasi dibatasi daerah transisi. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. Mekonium plug syndrome b. Tujuan terapi : Membuat fungsi defekasi pasien kembali mendekati normal b. Fisura anus f. retardasi mental b. Untuk diagnosis : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi 2) Konsultasi Dokter Spesialis Patologi Anatomi b. DIAGNOSIS BANDING : 1. Biopsi daerah anorektum untuk pemeriksaan patologi anatomi diperlukan jika diagnosis klinis dan penunjang radiologi belum memberikan diagnosis definitif 4. a. KONSULTASI : a. . Manometri rectum 6. Hipotiroid 2. Anak lebih besar . PENGOBATAN : a. Cara pengobatan : 1) Tindakan awal dikerjakan kolostomi untuk diversi feses sementara 2) Tindakan definitive tarik terobos retrorektal prosedur Duhamel modifikasi dengan stapler 139 . Anterior anus 5. Biopsi rectum b. Untuk Tindakan dan perawatan : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Anak 2) Konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7.

c. Obstivasi khronis c. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan dilakukan kolostomi 2) Setelah persyaratan operasi definitive terpenuhi dilakukan Prosedur Duhamel e. MASA PEMULIHAN : Dilakukan perawatan pascabedah oleh : a. Dokter Spesialis Bedah Anak b. laboratorium dan toleransi operasi d. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Spesialis Bedah Anak. Macam pengobatan : 1) Kolostomi sigmoid jika memungkinkan 2) Leveling kolostomi pada kasus yang tidak tegas segmen kolon yang aganglioner 3) Laparotomi pada Penyakit Hirschsprung’s neonatus dengan gejala obstruksi total 4) Prosedur Duhamel setelah memenuhi syarat dalam usia. Inkontinensi alvi 11. HASIL : Pasien dapat defekasi spontan dan kontinen 14. Menentukan demarkasi usus yang aganglioner dan yang berganglion 15. Dokter Spesialis Bedah c. Perawat senior 13. untuk diagnosis. pemberian antibiotika dan kolonrektal washing 3) Gangguan defekasi. fisik. TEMPAT PELAYANAN : a. kolostomi dan perawatan awal 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. PATOLOGI : Diperlukan untuk : a. Kelas B untuk tindakan defnitif b. Untuk diagnosis b. RS. RS. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan. Kelas C untuk tindakan dan perawatan awal 10.tindakan kolostomi dan terapi definitive 2) Spesialis Bedah untuk diagnosis. dengan regulasi defekasi melalui pengaturan diet dan obat pencahar f. untuk perawatan awal dan kolostomi 9. dilakukan reoperasi untuk menghentikan perdarahan 2) Enterokolitis. berat badan. Enterokolitis b. PENYULIT : a. OTOPSI : Diperlukan pada kematian pasien Penyakit Hirschsprung’s yang tidak disebabkan langsung oleh tindakan maupun komplikasi dalam pengelolaannya 140 .

TINDAK LANJUT : Pasien kontrol rawat jalan untuk follow-up fungsi defekasi. adanya penyulit dan perlunya tindakan revisi pembedahan 141 . jika pengelolaan sesuai dengan prosedur. PROGNOSIS : Baik.16. dan pasien datang pada saat belum terdapat komplikasi 17.

000-15.9 2. 7. 2.Obturator dan psoas sign sebagai petunjuk lain terdapat proses keradangan didaerah posterior lokasi apendiks namun jarang ditemukan pada anak-anak. bibir terlihat kering. DIAGNOSIS : Appendisitis Akut 3.Pemeriksaan rectum dilakukan jika penemuan gejala seperti diatas masih belum dapat membantu diagnosis apendisitis.000 mm3) dengan pergeseran sel kekiri namun demikian hasil pemeriksaan leukosit normal dapat ditemukan pada anak dengan apendisitis. Foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran mass effect akibat hilangnya gambaran gas di daerah abdomen kanan bawah. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium : 1.35.VI. Wajah nampak pucat. APPENDISITIS AKUT 1. kadang-kadang anak lebih besar terdapat gejala anoreksia sehingga semakin menyulitkan diagnosis.Agak sulit berjalan dan tungkai kanan terlihat fleksi pada saat tiduran 3. Urinalisis Perlu diperiksa jika terdapat gejala klinis yang sulit dibedakan dengan infeksi saluran kencing.Tanda peritonitis umum yang lebih menonjol pada pemeriksaan abdomen terdapat nyeri perut yang menyeluruh dan seluruh dinding abdomen mengalami rigiditas. Umumnya hasil pemeriksaan urine normal pada apendisitis pada beberapa kasus apendisitis dapat ditemukan sel darah merah dan atau sel darah putih pada sidemen urine Pemeriksaan radiology atau ultrasound : Untuk gejala apendisitis tertentu membutuhkan pemeriksaan radiology dan atau ultrasound ( USG ) seperti : 1.Mual dan muntah terjadi setelah timbul gejala nyeri perut.000 mm3 dengan gejala klinis minimal untuk apendisitis kemungkinan disebabkan keadaan lain. Darah Umumnya ditemukan leukositosis (11. pipi kemerahan.Nyeri perut daerah periumbilikus 2. abdomen distensi dan tegang. sedangkan jika hasil pemeriksaan leukosit mencapai 20.Tanda-tanda “rebound tenderness rigiditas” dinding abdomen muncul jika telah terjadi perforasi apendiks. kadangkala dapat diraba adanya massa atau pembentukan abses. anak mengalami demam dengan suhu axilla diatas 38 derajat celcius 2. 8.Selanjutnya nyeri perut berpindah kedaerah kwadran kanan bawah abdomen (daerah Mc Burney) 3. NOMOR ICD : K. Pemeriksaan fisik : 1. pada pemeriksaan ini akan ditemukan tenderness kearah kanan dinding rectum.Pemeriksaan palpasi abdomen ditemukan titik nyeri daerah “Mc Burney’s 4. jika abses terlokalisir dalam rongga peritoneum teraba massa dengan palpasi bimanual dari dinding abdomen dan pemeriksaan rectum. 5. ditemukan pada 10% kasus dapat 142 . 6.Pada pemeriksaan abdomen. seringkali sulit dibedakan dengan gejala gastroenteritis.

Apendiktomi anterograde b. namun dapat dibedakan dari proses nyeri perut yang tidak didahului oleh nyeri perut klasik didaerah umbilicus. Macam pengobatan : a. apendiktomi c. sickle cell crisis. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. Konstipasi : Massa feses yang teraba pada pemeriksaan palpasi abdomen dan pemeriksaan rectum dapat membedakannya dengan apendisitis. Penyakit radang panggul : terutama anak dan wanita dapat menyerupai gejala apendisitis. Gastroenteritis : Gejala muntah dan diare mendahului gejala sakit perut pada umumnya tidak ditemukan nyeri perut terlokalisir di daerah abdomen bagian bawah. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Prabedah : a. Radiologi : 1) Foto toraks 2) Sonografi appendiks vermiformis 3) Apendikograpi jika diperlukan 6. kolesistis kadangkala gejala klinis menyerupai apendisitis. faal hemostasis 2) Urine : sedimen urin b. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan rutin pada anak dengan gejala klinis minimal atau anak yang gemuk.terlihat gambaran fekolit (feses yang mengeras sebagai penyebab sumbatan obstruksi lumen apendiks) 2. Beberapa kasus lain seperti infeksi saluran kencing dan infeksi Mackle’s divertikulum. regional enteritis. DIAGNOSIS BANDING : a. 3. intususepsi. Untuk diagnosis : konsultasi Dokter Spesialis Anak b. KONSULTASI : a. d. pnemonia paru kanan lobus bawah. Enema barium perlu dikerjakan pada anak dengan nyeri perut berulang tanpa gejala penyerta yang jelas. Cara pengobatan : Melalui tindakan pembedahan. Laboratorium : 1) Darah rutin : Leukosit darah dan Laju endap darah (LED). Ultrasound/USG dapat terlihat ukuran apendiks lebih besar dari normal disertai gambaran abses periapendikuler atau tumpukan abses di daerah rongga pelvis. Apendiktomi retrograde d. PENGOBATAN : a. b. 4. c. 5. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan dan pasien memenuhi sayarat untuk pembedahan 143 . Tanda-tanda apendisitis akut akan terlihat gambaran barium yang menunjukkan penyempitan lumen apendiks dan tiba-tiba terhenti (cut off) akibat adanya obstruksi. Tujuan terapi : Menganggkat apendiks vermiformis b. Untuk pembedahan: konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7.

OTOPSI : Diperlukan jika kematian pasien tidak jelas penyebabnya 16. PATOLOGI : Diperlukan untuk konfirmasi 15. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. Perdarahan. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. dengan relaparotomi f. TEMPAT PELAYANAN : a. Abses peri apendikulare d. Infeksi luka operasi. PENYULIT : a. Sepsis prabedah dan pascabedah 11. Abses intraperitoneal. Dokter Spesialias Bedah Anak b. dilakukan reoperasi b. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dapat dilakukan oleh : a. Infeksi luka operasi c. TINDAK LANJUT : Pasien rawat jalan untuk kontrol dan follow-up pascabedah 144 . Spesialis Bedah Anak b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Dokter Spesialis Bedah c.e. Spesialis Bedah c. Perforasi appendicitis akut b. Kelas B bila terdapat komplikasi b. dengan perawatan luka c. RS kelas C bila tanpa komplikasi 10. HASIL : Pascabedah pasien pulih baik 14. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 9. Perawat senior 13. RS. Terapi komplikasi pengobatan : a.

VII. Analisa gas darah 6. Untuk diagnosis tidak dibutuhkan pemeriksaan penunjang b. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan perawatan di rumah sakit prabedah maupun pascabedah 8.2 dan Q. Macam pengobatan : 1. Keadaan umum bayi buruk b. Tujuan terapi : Untuk mengembalikan organ rongga abdomen yang berada diluar. Cara pengobatan : Pasien dilakukan pembedahan dengan persiapan minimal untuk penutupan defek dinding abdomen dan pascabedah mendapat perawatan intensif dengan alat bantu pernafasan c. KONSULTASI : a. Untuk tindakan pembedahan konsultasi: Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anestesi 7. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : a.Faal hemostasis. PENGOBATAN : a. Penutupan primer dinding abomen 2.kasa steril dll) b. OMPHALOCELE PECAH DAN GASTROSCHISIS 1. DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada 5. NOMOR ICD :Q. Waktu pengobatan : 1. Riwayat kehamilan dan persalinan dengan distocia b.3 2.79.beratbadan dan kondisi pasien memenuhi syarat untuk pembedahan berencana 145 .79. Untuk tindakan pembedahan dibutuhkan pemeriksaan penunjang : 1)Radiologi : foto torak dan abdomen 2)Laboratorium: Hb. Pembedahan primer dan sekunder dilakukan sebelum usia bayi 12 jam 2. sekaligus menutup dinding abdomen langsung maupun ditutup sementara dengan alat (mesh. Dinding abdomen dan tali pusar yang tidak normal Pemeriksaan fisik : a. Terlihat dinding abdomen mengalami kelain 4.silastik. Penutupan definitif d. DIAGNOSIS : Omphaloce pecah dan Gastroschisis 3. setelah usia. Untuk diagnosis tidak diperlukan b. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Pembedahan definitif. Penutupan sekunder dengan alat bantu seperti mesh 3.

Kelainan bawaan pada organ lainnya yang terjadi bersamaan h. Spesialis Bedah c. TEMPAT PELAYANAN : RS. Distres pernafasan dengan alat bantu pernafasan b. Syok hipovolumik k. Distress pernafasan pascabedah i. Gangguan pasase usus 11. Sepsis j. PENYULIT : g.e. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. pasase usus berfungsi baik 14. Dokter Spesialis Bedah f. Spesialis Bedah Anak b. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk perawatan awal 9. Intensifis di Ruang Perawatan Intensif d. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. HASIL : Pasien bisa survive. Kelas B 10. OTOPSI : Diperlukan pemeriksaan otopsi jika pasien meninggal untuk menentukan causa mortis 16. Terapi komplikasi pengobatan : a. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Dokter Spesialis Bedah Anak e. Gangguan pasase usus dengan relaparotomi dan intestinal dekompresi f. PROGNOSIS : Du-Boab ad malam 17. TINDAK LANJUT : Pasca perawatan di rumah sakit pasien rawat jalan untuk evaluasi dan follow-up perlunya tindakan lebih lanjut 146 . MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dilakukan oleh : c.

W. Aschraft.Holder.M.M.. Coran. James A. Inc.Grosfeld.MD..D. St Louis.Kepustakaan : 1.M. Second Edition.O’Neil Jr.M.D. Essential of Pediatric Surgery Mare I.M. Arnold G..: Jay L.D.Rowe. Copyright 2000 2.D.Thomas M.. Saunders Company Philadelphia.B.D.. Mosby-Year Book. Pediatric Surgery Keith W. Eric W.D. Fondkallsrud. Misouri Copyright 1995 147 . M.

5.Keluhan : .CVA hemoragik dan non hemoragik.Intra cerebral hematum 10.Analgetik . . .Foto polos kepala AP & lateral : Penderita CKR dengan : . Patah tulang (Interne. muntah. Penyulit : .mual.ICD 850 2. DM.Vertigo.Orthopedi) 6. nyeri kepala.Anti Vertigo .Gelisah. kecuali ada penyulit dan perlu operasi (tertulis).Pernah tidak sadar/saat ini tidak sadar.Vulnus apertum dikepala panjang > 5cm . Nama Penyakit/Diagnosis/ICD : .I. .CT-Scan kepala : Penderita CKR dengan : .Neurologi . . Kriteria Diagnosis : .Anti Emetik . Perawatan RS : . Tempat Pelayanan : .Perdarahan Intra kranial .Lateralisasi 7.Epidural hematum . 8. Cedera kepala 1. Informed Consent : Tidak perlu. .Subdural hematum . Terapi : .Riwayat cidera kepala. Pemeriksaan Penunjang : . Konsultasi : .Penurunan kesadaran.Lateralisasi. .Keluhan bertambah berat.Cairan infus selama penderita minumnya tidak adekuat. gelisah bila memberat walaupun . mesti dengan pemberian obat-obatan.Observasi terhadap penyulit yang timbul yaitu: . . mual muntah.IRD kemudian untuk observasi di IRD lantai 2 atau Instansi Rawat Inap 9. 148 .Simtomatis .Sefal hematoma diameter >5cm. 4.GCS< 15 .GCS 3.Kalau ada kelainan: Hipertensi. .Kardio.Derajat kesadaran.Cidera kepala ringan (CKR) / Commotio Cerebri . nyeri kepala. .dengan obat-obatan → indikasi CT-Scan kepala. Diagnosis Banding : .

Residen senior bedah .Ahli Bedah Umum . PA : . Marion DW. Head trauma : Chicago Six edition 1997. 15. 34 : 216-222. Output : .Penyulit 5-7 hari 13. 5. Standar Tenaga : . Marshall LF. Masa Pemulihan : . Journal of Trauma 1993 .Pulang dengan sembuh total. Otopsi/Risalah : .Dokter umum/Residen . Chestnut RM.Tanpa penyulit 2-5 hari . Povlishock JT (eds) : Neurotrauma. American Association of Neurological Surgeons: Guidelines for the Management of Severe Head Injury. 4. Kepustakaan: 1. New York. Willberger JE.1-2 minggu 14. 36 (1) : 89-95. Journal of Trauma 1994 . 2.Tidak perlu 16. 1995.Bila tidak ada penyulit : .hill.Residen bedah umum . 3. et al : The role of secondary brain injury in determining outcome from severe head injury. Klauber MR.Penderita CKR meninggal tanpa kausa yang jelas. Carlier PM : Problems with initial Glasgow Coma Scale assessment caused by prehospital treatment of patients with head injuries . Lama Perawatan : .Ahli Bedah Saraf 12. 149 . McGraw. American college of Surgeon ATLS . 1996.Bila ada penyulit: .11. results of a national survey. Narayan RK.Perawat yang terlatih .

Nama penyakit / diagnosis: . Terapi: .Ya 11.Eksisi meningoensefalokel & duraplasti 8. Julian R.Foto Ro : Kepala atau Lumbosakral. Lama perawatan: .Bedah Plastik (pada penderita dewasa) 6. .Rawat inap 7. Forth edition . Diagnosis Banding : . 150 . Pemeriksaan Penunjang : . Konsultasi : .Spesialis Bedah Saraf 12.MENINGOENSEFALOKEL .infeksi. Kriteria Diagnosis: . Informed Consent (tertulis): .Benjolan pada pangkal hidung. teratoma.IBS 9. Penyulit: . Perawatan RS: .tengkuk atau pinggang bawah sejak lahir.021 2. United state of America 1996. Tenaga standar: . Neurological Surgery. CT Scan .. Tempat pelayanan : . Youmans.MRI 5. nyeri tekan 3.Kista Dermoid. kebocoran cairan serebrospinal 10. Meningoensefalokel 1.3 hari Kepustakaan: 1.II.ICD 5. lipoma 4.Neurologi . WB Saunder Company.

IBS 9. Nama penyakit / diagnosis: . CT Scan 5.Kepala besar.Spesialis Bedah Saraf 12. Informed Consent (tertulis): .V-P shunt 8.III.ICD 5.Ro Kepala.Neurology 6. WB Saunder Company. Perawatan RS: . Diagnosis Banding: . Tumor otak 151 . Terapi: .Makrosefal 4. Tempat pelayanan : . Hidrosefalus 1. Forth edition . sejak lahir.hematoma intracranial 10. 3. Lama perawatan: . vasa kepala prominen. IV. Kriteria Diagnosis: .Rawat inap 7. Sun set phenomena. Pemeriksaan Penunjang: . Penyulit: . Tenaga standar: . United state of America 1996. Julian R.7 Hari Kepustakaan: 1. Konsultasi : .Ya 11. psikomotor terhambat.. Youmans. Neurological Surgery.HIDROSEFALUS INFANTIL .023 2.

Masa pemulihan: . P. Neurological Surgery.Spesialis Bedah Saraf 12.10 hari 13. Informed Consent (tertulis): . MRI 5.: Illustrated Neurosurgery.Rawat Inap 7. penglihatan kabur. Kinpodo Publising Company. United state of America 1996.029 2. Diagnosis Banding: .TUMOR OTAK . Abses. 152 .Ro Kepala. WB Saunder Company. Konsultasi : . Tenaga standar: .: . tuberkuloma 4. edema serebri. Forth edition . Penyulit: . infeksi 10. Nama penyakit / diagnosis: .Ya Kepustakaan: 1. Julian R.Ya 11.ICD 5. Lama perawatan: . Kriteria Diagnosis : .Perdarahan.A. Youmans.. Ohta Tomio . CT Scan. muntah. Pemeriksaan Penunjang: . 2.3 bulan 14. George T.IBS 9.Migrain. The Practice of Neurosurgery. William and Wuilkins co. Perawatan RS: . Terapi: . SDH kronik.1.Nyeri kepala. Japan 1995. defisit Neurologi fokal ( TIK meningkat kronis Progresif) 3. Tindall. 3.Trepanasi + reseksi tumor 8. United state of America 1996. Tempat pelayanan : . tension headache.Neurologi 6.

Neurological Surgery. Kinpodo Publising Company.Neurologi 6. William and Wuilkins co. The Practice of Neurosurgery. Japan 1995.7 hari Kepustakaan: 1. Tempat pelayanan: . Julian R. Tenaga standar: . fisioth/. Forth edition .IBS 9. WB Saunder Company.Konservatif 2 minggu : bed rest. Tindall..Tumor Kauda Equina 4.: Illustrated Neurosurgery. 3. tes laseque positif 3. Diagnosis Banding: .MRI 5.V. HNP 1. United state of America 1996. Bila 1) gagal (laminektomi + eksisi HNP) 8.Kaudografi .Nyeri salah satu tungkai yang menjalar dari pinggang kepaha dan betis.Robekan duramater. 153 .803 2. Terapi: . analgesik 2. Youmans. Pemeriksaan Penunjang: . Penyulit: . Cedera saraf dan medula Spinalis 10. Perawatan RS: . Kriteria Diagnosis: . Ohta Tomio .Ya 11. Nama penyakit / diagnosis: . United state of America 1996. Lama perawatan: .HNP (Hernia Nukleus Pulposus) ICD 5. Informed Consent (tertulis): . Konsultasi : .Rawat inap 7. George T.Spesialis Bedah Saraf 12. 2.

Youmans.Spesialis Bedah Saraf 12. WB Saunder Company. Lama perawatan: .10 hari Kepustakaan: 1.Myelografi. MRI. Terapi: . kebocoran cairan serebrospinal 10.039 2. William and Wuilkins co.TUMOR MEDULA SPINALIS . United state of America 1996. Diagnosis Banding: .. Julian R. United state of America 1996.Bedah Onkologi (pada tumor ganas) 6. Spondilitis 4. 2.VI. paresis tipe UMN 3. Forth edition .Perdarahan.Lumpuh anggota gerak bilateral secara progresif. infeksi. Tempat pelayanan : . Tindall. Tenaga standar: .Rawat Inap 7. The Practice of Neurosurgery. Pemeriksaan Penunjang: . Neurological Surgery. Penyulit: . Informed Consent (tertulis): .Neurologi . Tumor medulla spinalis 1. Konsultasi : . Kriteria Diagnosis: .ICD 5. George T. Perawatan RS: .Laminektomi + reseksi tumor 8. 154 .eksisi biopsi 9.Ya 11. CT Scan 5. Nama penyakit / diagnosis: .Trauma.

SC > 2mg% tanpa kontras. Asam Urat darah.N 20. NOMOR ICD 2. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu ureter 5. Nadi. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. SC <2mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 155 . BATU GINJAL : . USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF. DIAGNOSIS 3. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.BATU PIELUM . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tekanan darah.BATU KALIKS .BATU KALIKS . BUN/SC. Sedang.BATU STAGHORN 1.USG kurang/tidak informatif.BATU PIELUM . : . Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis berat/penderita kurus) Teraba tumor kistik.BATU STAGHORN : .I. UL. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/penderita kurus) 4.

Bivalve Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy jika ada fasilitas) Simple/Extended Phyellolithotomy Nephrolithotomy. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy) Phyellolithotomy Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy atas pertimbangan khusus 9. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.6. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Phyellolithotomy Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. Nephrostomy atas indikasi khusus 156 . B dan RS.

Paris. Eddition 2003. Alken P. 2001. • IDI . Conort P. Vol. Urinary Lithiasis: Etiology. infeksi.10. Diagnosis and Medical Management. • Menon M. 17. Stone Desease. First International Consultation on Stone desease.-G. 18. Heath Care Office. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. • Tiselius H. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14 -90 hari pascabedah) • Lain-lainnya atas intruksi operator 13. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Urological Guidelines. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. infeksi. Cambell’s Urology.(3). KEPUSTAKAAN • Alken P. March 2004. 1998. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Kambuh (residif) • Contracted kidney (ginjal mengecil) 11. Gallucci M. Ackermann D. Guidelines on Urolithiasis.. European Association of Urology. 157 . July 4-5. Depkes RI-IDI. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. 2003. Buck C. 8th . Batu Saluran Kemih. Resnick MI. Treatment of Renal Stone. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. Standar Pelayanan Medis.

Sedang. BATU URETER 1. SC <2 mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6. UL. SC > 2mg% tanpa kontras. NOMOR ICD 2. Nadi.II. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.1 : . Asam Urat darah. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu pielum/kaliks 5. DIAGNOSIS : .N 20. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 158 . Tekanan darah. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. BUN/SC. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/pada penderita kurus) 4.BATU URETER 3. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis berat/pada penderita kurus) Teraba tumor kistik.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14-90 hari pascabedah) • Lain-lainnya tergantung instruksi operator 159 . TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Ureterolithotomy 1/3 tengah dan 1/3 atas Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Kombinasi Nephrectomy. Nefrostomy atas indikasi khusus 9. Nephrectomy atas indikasi khusus 10.8. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Ureterolithotomy Kombinasi Nephrostomy. B dan RS. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Contracted kidney (ginjal mengecil) • Kambuh (residif) 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.

infeksi. Ackermann D. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2001. July 4-5.. Guidelines on Urolithiasis. KEPUSTAKAAN • Alken P. Depkes RI-IDI. Urinary Lithiasis: Etiology.(3). fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. Cambell’s Urology.13. 1997. 8th . Batu Saluran Kemih. Resnick MI. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik.-G. Diagnosis and Medical Management. Buck C. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. Eddition 2003. • IDI . Alken P. Urological Guidelines. Standar Pelayanan Medis. • Tiselius H. Assimos DG et al. 160 . 17. 1998. • Segura JW. Stone Desease. Vol. Heath Care Office. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. First International Consultation on Stone desease. Treatment of Renal Stone. The Management of Ureteral Calculi. European Association of Urology. Paris. March 2004. infeksi. Conort P. Gallucci M. • Menon M. 2003. Preminger GM. American Urological Assosiation.

Kurus) Lokal Teraba batu (apabila batu cukup besar/penderita kurus) 4. SC > 2mg% tanpa kontras.0 : . IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif.BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 3. PERAWATAN RUMAH SAKIT : • Prabedah • Pascabedah 161 . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.N 21. Sedang. SC < 2mg dengan kontras). Kultur urin dan BS acak untuk umur > 40 tahun • Radiologi BNO/BOF. 7. Asam Urat darah. UL. Tekanan darah. 6. NOMOR ICD 2. • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan. DIAGNOSIS : . BUN/SC. Nadi. • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis.BATU KANDUNG KENCING .III. • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor. KONSULTASI : • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun). Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Laboratorium DL. DIAGNOSIS BANDING : • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • PID untuk wanita dewasa 5. USG ginjal dan kandung kencing. BATU KANDUNG KENCING DAN BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 1.

TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu/devertikel kandung kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Lithotripsy Vesicolithotomy Diverticulecthomy dan ambil batu Kombinasi 9. TEMPAT PELAYANAN : • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Vesicolithotomy. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 162 . kombinasi dengan cystostomy atas pertimbangan khusus Diverticulecthomy dan ambil batu.8. PENYULIT : • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1 hari pascabedah • Pelepasan kateter uretra setelah 7 hari pascabedah (pada vesicolithotomy) • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. kombinasi dengan cystostomy atas pertinmangan khusus • RS Kelas A dan B (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Vesicolithotomy. kombinasi cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. INFORMED CONSENT : • Diperlukan 12.

Resnick MI. 2001. Guidelines on Urolithiasis. Buck C. Batu Saluran Kemih. 18. Eddition 2003. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.14. Heath Care Office. Urinary Lithiasis: Etiology. • Tiselius H. July 4-5. • Menon M. infeksi.-G.. • IDI . Ackermann D. infeksi. Treatment of Renal Stone. First International Consultation on Stone desease. European Association of Urology. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. KEPUSTAKAAN • Alken P. Gallucci M. March 2004. 2003. PATOLOGI • Batu analisa 15. 8th . PROGNOSIS • Baik 17. Urological Guidelines. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Cambell’s Urology. Diagnosis and Medical Management. 163 . Stone Desease.(3). Conort P. Paris. 1998. Alken P. Depkes RI-IDI. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. Standar Pelayanan Medis. Vol.

Kurus) Lokal Teraba batu pada uretra Teraba kandung kencing (apabila sisa urin/retensio urin/penderita kurus) 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS : . BATU URETRA 1.N 21. Kultur urin dan BS acak(untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF.IV. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 164 . Tekanan darah. Sedang.BATU URETRA 3. Asam Urat darah. UL. BUN/SC. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • Batu kandung kencing 5. Nadi. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.1 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6.

PATOLOGI • Batu analisa 165 . drong batu kedalam/keluar kandung kencing dan pemasangan kateter uretra (dower catheter). PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 14. B dan RS. vesicolithotomy Cystostomy atas indikasi retensio urin • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10.8. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1 hari pasca-Lithotripsy • Pelepasan cystostomy catheter sesuai operator 13. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Cystostomy atas pertimbangan khusus Lithotripsy Kombinasi 9. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Lubrikasi.

2001. 1998. infeksi. Diagnosis and Medical Management. • IDI . Standar Pelayanan Medis. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Batu Saluran Kemih. 2003. Eddition 2003. Urological Guidelines. Treatment of Renal Stone. Guidelines on Urolithiasis. European Association of Urology.-G. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.15. PROGNOSIS • Baik 17. • Menon M. Stone Desease. Urinary Lithiasis: Etiology. Conort P. Depkes RI-IDI. Ackermann D. • Tiselius H. Gallucci M. 8th . July 4-5. Heath Care Office. Buck C. March 2004. Resnick MI. Vol.(3). fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18.. 166 . Alken P. Paris. First International Consultation on Stone desease. infeksi. Cambell’s Urology. KEPUSTAKAAN • Alken P. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan.

Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) c. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Tekanan darah. BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 1. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) ii.N 40 : -BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 3. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak 167 . Perabaan prostat 1. Nadi. Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) : a. SC. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan IPSS (International Prostate Symptom Score). UL. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3.V. NOMOR ICD 2. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS : . Pole atas (Mudah dicapai/Susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan memiliki nilai dari 0 sampai 5 sehingga total score maksimal 35 Jumlah score 0. DIAGNOSIS BANDING • Batu uretra • Sistitis • Batu kandung kencing 5. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) e. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5.7 gejala ringan Jumlah score 8-19 gejala sedang Jumlah score 20-35 gejala berat Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Melihat sekitar anus b. BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) d. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: i.

batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal • Medikamentosa Alpa-Blocker 5 Alpa-Reductase Inhibitor Fitofarmaka • Pembedahan TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) Prostatectomy 9.5 ng/ml Trans-Rectal Ultra-Sonography (TRUS) (optional) Urodynamic Study (Pressure.• • Radiologi atas indikasi medis Hematuria ISK Insufisiensi renal Riwayat batu saluran kencing Irwayat pembedahan saluran U-G BNO/BOF. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Dokter Spesialis Bedah) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka 168 . rentang kadar PSA dianggap normal berdasar usia o Usia 40-50 tahun: 0-2. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. TERAPI • Tujuan Pola kencing normal/mendekati normal Mencegah komplikasi infeksi. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) Pemeriksaan tambahan Uroflometri(optional) o Uroflo > 15 ml/detik kecil kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo < 10 ml/detik besar kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo 10-15 ml/detik sulit utuk mendeteksi obstruksi infravesical Postvoid residual urin (PVD) Prostate Specific Antigen (PSA).5 ng/ml o Usia 70-80 tahun: 0-6.Flow Studies) (optional) 6.5 ng/ml o Usia 50-60 tahun: 0-3.5 ng/ml o Usia 60-70 tahun: 0-4. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.

PATOLOGI • Prostat 15. Striktura uretra 7. Ejakulasi retrograde 11. perforasi (khusus untuk TURP) 5. Inkontinensia urin 4. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan kandung kencing baik 169 .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka Pembedahan o TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) o TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) o Prostatectomy 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Disfungsi ereksi 8. Pendarahan 2. Water intoxication. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pascabedah • Pelepasan kateter uretra 3-5 hari pasca TURP • Pelepasan kateter uretra 5 hari pasca Prostatectomy • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13.• Pembedahan o Prostatectomy RS Kelas A. B dan RS. PENYULIT 1. Kambuh (residif) 6. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 3. HASIL • Kencing normal/mendekati pola kencing normal 14.

170 . Cambell’s Urology. Lowe FC . 2003. Guidelines on Benign Prostatic Hyperlasea. dkk.17. Urological Guidelines. 1998. tidak normal/inkontinensia • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. • Lepor H. European Association of Urology. • IDI . Madersbacher S. striktura uretra dan rectal toucher. 8th .untuk mengetahui karsinoma prostat. Basuki Bambang Poernomo. Pembesaran Prostat Jinak. inkontinensia urin. 18. Standar Pelayanan Medis. disfungsi ereksi.(3). TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. infeksi saluran kencing. Evaluation and Non-Surgical Management of Benign Prostatic Hyperplasea. March 2004. Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia BPH) di Indonesia. Akmal Taher. 2003. • Sunaryo Hardjowijoto. et al . infeksi dan pola kencing untuk mengetahui kencing normal. Alivisator G. KEPUSTAKAAN • De la Rosseta J. Depkes RI-IDI. Heath Care Office.. Vol.

Batu uretra b.KARSINOMA PROSTAT (ADENOCARCINOMA PROSTATE) 3. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) o BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) o Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) o Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. Tekanan darah. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. NOMOR ICD 2. DIAGNOSIS BANDING • Pembesaran Prostat a. KARSINOMA PROSTAT (ADENO CARCINOMA PROSTATE) 1.C 61 : . Perabaan prostat 1. Batu kandung kencing • Metastase tulang a. Fraktur patologis b. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan adanya keluhan karena pembesaran prostat dan metastase ke tulang pelvis. kekerasan dan nodul pada prostat yang mengarah pada karsinoma prostat: o Melihat sekitar anus o Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: iii.VI. Sistitis c. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) untuk mencari irigularitas. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Nadi. collumna vetebra dan lain-lain Riwayat penyakit/keluarga adanya tumor saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS : . Kandung kencing neurogenik 171 . Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Pole atas (Mudah dicapai/susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) iv.

PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Hematuria b. Riwayat batu saluran kencing e. Bone scanning (optional) • Radiologi lain atas indikasi medis a. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pengobatan dengan Hormonal a) Flutamid b) LH. USG Transrectal(Optional) c. SC. ISK c. UL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.5. Insufisiensi renal d. SC <2 mg% dengan kontras) • Biopsi prostat dan pemeriksaan PA 6. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Pola kencing normal/mendekati normal d) Mencegah komplikasi infeksi. Bone survey d. Rh antagonis c) Subcapsuler Orchidectomy d) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) • Pembedahan atas indikasi obstruksi karena pembesaran Prostate Disobstruksi Prostat a) TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) b) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) 172 . Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak PSA (kalau perlu Free PSA) • Radiologi a. BNO/BOF dan USG Ginjal dan Kandung kencing b. Riwayat pembedahan saluran U-G f. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC > 2mg% tanpa kontras. Metastase tulang IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan Ambomen(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif .

PATOLOGI • Prostat 173 . Pendarahan 2. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.• • Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. Water intoxication dan perforasi (khusus untuk TURP) 7. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 6. 14. Striktura uretra 5. Disfungsi ereksi 4. retensio urin) 11. PENYULIT 1. B dan RS. Inkontinensia urin 3. dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pasca TURP • Pelepasan kateter 3-5 hari pasca TURP • Lain-lain atas instruksi operator 13.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pengobatan dengan Hormonal Pembedahan a) Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) b) Disobstruksi Prostat Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 10. Obstruksi saluran kencing (hydronephrosis. HASIL • Kuratif Bebas tumor Dapat kencing normal/mendekati pola kencing normal Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Pengobatan dengan Pemasangan kateter uretra (Dower catheter) apabila retensio urin Hormonal • RS Kelas A.

Karsinoma Prostat. 174 . March 2004. • IDI . Heidenreich A. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. infeksi saluran kencing. disfungsi ereksi Striktura uretra. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Heath Care Office. Standar Pelayanan Medis. Vol. Diagnosis and Staging of Prostate Cancer. fungsi ginjal dan rectal toucher. 1998. Guidelines on Prostate Carcer. Partin AW . 8th . European Association of Urology.(3). infeksi dan pola kencing • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. • Carter HB.Abbou CC. 19. Urological Guidelines. 2003. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. • Tumor residif/recurent dan metastase. Depkes RI-IDI.15. Cambell’s Urology. KEPUSTAKAAN • Aus G.

TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. • Radiologi BNO/BOF. NOMOR ICD 2.VII. BUN/SC. KONSULTASI • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : -C 64 : . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas satu sisi Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup 175 . Tekanan darah. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. UL. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. Nadi. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 3.

PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. B dan RS. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.• • • • Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. OTOPSI Tidak diperlukan 16.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. 14. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 176 . kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.

Hillsten S. Vol. Heath Care Office. et al .Renal Tumor. • Mickisch G. infeksi. Guidelines on Renal Cell Carcer. • Novick AC. KEPUSTAKAAN • IDI . 8th . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. European Association of Urology. March 2004. 2003. Depkes RI-IDI. Carballido J. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Cambell’s Urology.M) dengan CT Scan 18. Tumor Ganas Ginjal (Wilm’s). Cambell SC . 177 . Standar Pelayanan Medis.N. 1998.17. Urological Guidelines.(3).

BUN/SC. DIAGNOSIS : . Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. • Radiologi BNO/BOF. Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 3. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal 178 . SC> 2mg% tanpa kontras) 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.VIII. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. UL. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 1.C 64 : . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. 14.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.• • • • Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 179 . B dan RS. OTOPSI Tidak diperlukan 16.

Urological Guidelines. 2003. et al . infeksi. Carballido J. Cambell SC . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.M) dengan CT Scan 18. 8th . Cambell’s Urology.Renal Tumor. Depkes RI-IDI. European Association of Urology.17. Tumor Ganas Ginjal (Grawitz). Guidelines on Renal Cell Carcer. KEPUSTAKAAN • IDI . Heath Care Office. 180 . • Novick AC. March 2004.N. 1998. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. • Mickisch G.(3). Vol. Standar Pelayanan Medis. Hillsten S.

IX. TUMOR KANDUNG KENCING(TRANSISIONAL CELL CARCINOMA) 1. NOMOR ICD 2. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. DIAGNOSIS BANDING • Hematuria oleh berbagai sebab • Blood clot retension oleh berbagai sebab 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Nadi. batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. UL. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor 181 .C 67 : . Tekanan darah. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.TRANSISIONAL CELL CARCINOMA BULI-BULI 3. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS : . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tampa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran kencing. BUN/SC. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.

B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dan pola kencing dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.• • • • b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan proses miksi dan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. OTOPSI Tidak diperlukan 182 . 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PATOLOGI • Tumor buli-buli 15. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.

Marshall FF .16. European Association of Urology. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Standar Pelayanan Medis. Heath Care Office. Vol. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Jakse G. et al . Surgery of Bladder Cancer. 183 . 8th . infeksi.N. March 2004. Urological Guidelines. 1998.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. • Jiminez VK. 2003. Lobel B. Cambell’s Urology. Tumor Ganas Buli. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.(3). Guidelines on Badder Carcer. • OosterlinckW. Depkes RI-IDI. KEPUSTAKAAN • IDI .

SC> 2mg% tanpa kontras) 6. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. Tekanan darah. BUN/SC. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 184 . UL.ADEO-CARCINOMA BULI-BULI 3. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tanpa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat gangguan fungsi usus/ileus Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran cerna dan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.C 67 : . NOMOR ICD 2. TUMOR KANDUNG KENCING(ADENO-CARCINOMA) 1. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS : . USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Masa solid abdomen bawah • Hematuria oleh berbagai sebab • Streng ileus dengan masa abomen bawah 5.X.

MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tumor buli-buli 185 .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguang fungsi ginjal dan saluran cerna Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy partial Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. 14. B dan RS. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.8.

Cambell’s Urology. Tumor Ganas Buli. OTOPSI Tidak diperlukan 16. KEPUSTAKAAN • IDI . Marshall FF . Urological Guidelines. Standar Pelayanan Medis. European Association of Urology. 2003. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. et al . • Jiminez VK. infeksi. March 2004. 8th . Jakse G.N. Surgery of Bladder Cancer.(3).15. Heath Care Office. Depkes RI-IDI. • OosterlinckW. Lobel B. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. 186 .M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. Guidelines on Badder Carcer. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. 1998. Vol.

XI.EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA PENIS 3. Sedang Kurus) Lokal Luka kronis/tumor cowly flower pada penis Teraba tumor solid mobil/fixed inguinal Pimosis 4. Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Luka kronis/tumor seperti bunga kol pada penis Pimosis pada orang dewasa/tua Pimosis dengan benjolan pada pelipatan paha Luka kronis dengan benjolan pada pelipatan paha Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Nadi. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 187 . NOMOR ICD 2. USG abdomen atas dan bawah 6.C 60 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS : . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. UL. DIAGNOSIS BANDING • Veruca Vulgaris • Limfadenitis inguinalis • Limfadenitis veneralis (STD) 5. TUMOR PENIS (EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA) 1. Thorax. BUN/SC Biopsi luka/tumor pada penis • Radiologi BNO/BOF.

Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotherapy Radiotherapy Kombinasi 10. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi kencing d) Mengusahakan mempertahan aktifitas sexual Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node Total penectomy dengan biopsi sentinal node Radical penectomy Deseksi kelenjar limfe inguinalis kanan dan atau kiri (atas indikasi khusus) • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Stenosis miatus uretra eksternus • Odema ekstremitas inferior (apabila inguinalis/radiotherapy) • Ruptura vasa femoralis • Kambuh (residif) 11. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node • RS Kelas A. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator dilakukan deseksi kelenjar limfe 188 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. B dan RS.8. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.

infeksi. 189 . Algaba F. Standar Pelayanan Medis.(3). OTOPSI Tidak diperlukan 16. Heath Care Office. Karsinoma Penis. Pettaway CA . 1998. Guidelines on Penile Carcer. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. PATOLOGI • Tumor penis prabedah (biopsi) • Tumor penis pasca bedah (radikalitas pembedahan) • Kelenjar limfe inguinalis 15. HASIL • Kuratif Bebas tumor Pola kencing normal/mendekati normal Aktifitas sexual mendekati/tidak normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. • Solona E. 14. Tumor of Penile. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Depkes RI-IDI.N. et al .13. Cambell’s Urology. Horenblas S. 8th . • Lynch DF. Urological Guidelines. Vol. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.M) dengan CT Scan 18. KEPUSTAKAAN • IDI . March 2004. 2003. European Association of Urology.

XII.C 62 : . NOMOR ICD 2.SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED TESTIS 3. Nadi. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Testis mengeras/ada benjolan Cryptorchism dengan masa abdominalis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. BUN/SC Beta HCG(Human Chorionic Gonadotropin). DIAGNOSIS BANDING • Orchitis • Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi • Torsiotestis 5. DIAGNOSIS : . UL. TUMOR TESTIS (SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED) 1. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Thorax. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase 190 . Sedang Kurus) Lokal Teraba tumor solid pada testis Teraba tumor solid pada abdominalis pada penderita cryptorchism Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi 4. USG abdomen atas dan bawah 6. AFP(Alfa Feto Protein) • Radiologi BNO/BOF. Tekanan darah.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PATOLOGI • Tumor testis • Kelenjar limfe retroperitonial 191 . B RS. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fertilitas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PENYULIT • Pendarahan • Gangguan fertilitas • Disfungsi ereksi • Infeksi luka operasi • Odema ekstremitas imferior (apabila dilakukan RPLND) • Kambuh (residif) 11. 14. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Radical orchidectomy inguinal approach • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.• • • • c) Mencegah gangguan fertilitas Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical orchidectomy inguinal approach RPLND(Retro-Peritonial Lymp Node Desectie) (atas pertimbangan khusus) Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) Radiotheraphy(PA Seminoma) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.

OTOPSI Tidak diperlukan 16. • Laguna MP. Vol.15. 2003. 8th . Urological Guidelines.(3). 192 . efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Guidelines on Testicular Carcer. Depkes RI-IDI. March 2004. Horwich A. Surgery of Testicular Tumor. • Sheinfeld J. KEPUSTAKAAN • IDI . et al . 1998. Mc Kiernan J Bosl G J . PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17.M) dengan CT Scan 18. European Association of Urology. Klepp O. Cambell’s Urology. infeksi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.N. Tumor Ganas Testis. Heath Care Office. Standar Pelayanan Medis.

Thorax. PENGOBATAN • Tujuan Perbaikan fertilitas Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Kadang-kadang 193 . Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Belum punya anak setelah kawin > 1 tahun Nyeri testis bersangkutan Ada bentukan seperti cacing pada skrotum bersangkutan Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. NOMOR ICD 2. INFERTILITAS PRIA (MALE INFERTILITY) 1. Sedang Kurus) Lokal Kadang-kadang terlihat masa seperti cacing pada skrotum saat berdiri/tidur Teraba tumor kistik seperti cacing pada funikulus spermatikus Kadang-kadang testis bersangkutan lebih kecil dibanding testis yang normal 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.VARICOCELE 3. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis • Epididimitis kronis 5. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.XIII. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Nadi. UL. Analisa sperma (atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF.C 46 : . DIAGNOSIS : . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi pembedahan (untuk umur >40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.

Guidelines on Male Infertility. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Male Infertility. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. Standar Pelayanan Medis. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. et al . 194 . European Association of Urology. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. HASIL • Kwantitas dan kwalitas sperma membaik/normal • Istri bisa hamil 14. March 2004. analisa sperma dan kehamilan pada istri 18. Depkes RI-IDI. PENYULIT • Infeksi luka operasi 11.B. Vol. Urological Guidelines. Heath Care Office.(3). • Sigman M Jarow JP . PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. 8th . Jungwirth A. 2003.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 10. PROGNOSIS • Tergantung Gangguan kwantitas dan atau kwalitas sperma suami Azoospermia Gangguan fertilitas istri Kombinasi 17. Wiedner W. 1998. • IDI . Infertilitas.• a) Mengurangi/menghilangkan nyeri testis b) Mengecilkan/menghilangkan varicocele Pembedahan “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 9. Cambell’s Urology. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. KEPUSTAKAAN • Dahle GR.

Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Nadi. Sedang Kurus) Lokal a) Penis Miatus uretra ekternus subgladuler/ventral penis/penoscrotal/perinal b) Testis Kadang-kadang disertai cryptorhism/kelainan bawaan lainnya 4.HYPOSPADIA 3. DIAGNOSIS : . BUN/SC Tes “XY chromosom”(atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS BANDING • Micropenis • Ambiguitas 5. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Thorax.XIV. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.Q 54 : . HYPOSPADIA 1. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. UL. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Air kencing tidak keluar dari ujung penis (seperti pada umumnya) sejak lahir Penis bengkok/sembunyi pada skrotum Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. NOMOR ICD 2. Tekanan darah. PENGOBATAN • Tujuan Memperbaiki anatomi dan fungsi penis dan uretra Estetika/kosmetika penis Mencegah gangguan fertilitas pria 195 .

PATOLOGI • Tidak diperlukan 15.Kehamilan istri) 196 . PENYULIT • Fistel “Urethrocutan” • Nekrosis kulit penis/tube plap • Infeksi luka operasi 11.B dan RS. estetika/kosmetika penis dan uretra baik/normal • Fertilitas baik/normal 14. HASIL • Anatomi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi.• Pembedahan MAGPY Procedure Chodectomy-Urethroplasty (satu tahap) dengan/tanpa Nesbit Procedure Ducket’s Procedure (Prepotiale tube flap urethroplasty) 9. estetika/kosmetika penis dan uretra • Fertilitas (Analisa sperma. fungsi. adanya urethrocutan fistel • Anatomi. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. PROGNOSIS • Tergantung Lokasi miatus uretra eksternus Berat-ringannya chordae Status gizi pasien Ada/tidaknya kelainan bawaan lainnya 17. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Buka bebat hari ke-5 • Buka splint uretra dan klem kateter sistotomi hari ke-10-12 • Buka kateter sistostomi satu hari setelah buka kateter sistostomi/bisa kencing lancar • Lain-lain atas intruksi operator 13. fungsi. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.

Urological Guidelines. Borer JG. et al . Standar Pelayanan Medis. 2003. Heath Care Office.18. Cambell’s Urology. • Retik AB. Hypospadias. Vol. KEPUSTAKAAN • IDI . Pediatric Urology : Hypospadias.(3). March 2004. Hypospadia. Beurton D. • Reidmiller H. Androulakakis P. 8th . Depkes RI-IDI. European Association of Urology. 1998. 197 .

BT. HYDROCELE ANAK-ANAK (CONGINITAL) 1. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/membesar sejak lahir kadang-kadang bisa mengecil saat tiduran Skrotumnya ada air didalamnya sejak lahir Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Nadi. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis 5. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. Thorax. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.5 : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy inguinal approach 198 .CT • Radiologi BNO/BOF.XV. DIAGNOSIS : .HYDROCELE CONGINITAL 3. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasi/diaphonoscopy positif pada skrotum Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. Tekanan darah.P 83. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. NOMOR ICD 2.

TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi 11. 199 . KEPUSTAKAAN • IDI . Cambell’s Urology. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain atas intruksi operator 13. Standar Pelayanan Medis. 8th . Vol. Bellinger MF.(3). 2003. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. • Schneck FX.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Fertititas setelah dewasa/kawin 18. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. 1998.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. Hidrokel Testis. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. PROGNOSIS Baik 17.B.9. Depkes RI-IDI.

N 43 : . USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. BUN/SC • Radiologi BNO/BOF.XVI. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy/Marsupialisasi 200 . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. HYDROCELE DEWASA (AQUARED) 1. UL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Kardiologi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. kadang-kadang transiluminasi negatif apabila sudah terjadi inlamasi/infeksi pada hydrocele Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/mebesar setelah dewasa Skrotumnya ada air didalamnya setelah dewasa Riwayat infeksi/imflamasi/trauma daerah skrotum/testis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. NOMOR ICD 2. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. Tekanan darah. Thorax.HYDROCELE AQUARED 3. DIAGNOSIS : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS BANDING • Tumor testis 5. Nadi. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasidiaphonoscopy positif pada skrotum.

Hydrokel Testis. Vol. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.(3). PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi • Kambuh(residif) 11.B. Bellinger MF.9. PATOLOGI • Tidak diperlukan • Diperlukan (atas pertimbangan khusus) 15. Standar Pelayanan Medis. • Schneck FX. 1998. Cambell’s Urology. 2003.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PROGNOSIS Baik 17. 201 . estetika/kosmetika genetalia ekternus • Melihat kekambuhan 18. KEPUSTAKAAN • IDI . OTOPSI • Tidak diperlukan 16. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. 8th . HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. Depkes RI-IDI.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.

atelectasis. nafsu makan hilang demam hilang timbul. iv. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. f. efusi fleura. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. e. (Bila ada indikasi) Brain CT. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar.FH. sulit/sakit menelan. tumor satelit. Pemeriksaan Laboratorium. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan.1. Torakoskopi. menyisihkan kelainan lain. Tumor Mediastinum. identasi pleura. dll. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. d. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. Pemeriksaan Lain i. untuk metastasis ke tulang. iii. b. efusi pleura.faal paru. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. Pemeriksaan Penunjang : a. atelektasis. Fungus Ball. Diagnosis : Kanker Paru 3. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. DL. vi. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. pembesaran KGB supraclavicula. trombosis vena. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. sembab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. neuropati.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. ICD : C 34. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. dll. sakit dada. washing lavage. batuk darah. 4. core biopsi. benjolan di pangkal leher. bila tumornya besar. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. Diagnosis Banding : a.9 2. pembesaran hepar. CT . EKG 202 . lymphangitis spreeding. b. adanya fraktur patologi. dengan stadium lanjut bisa lebih imformatif seperti . tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. invasi tumor kedinding dada. USG abdomen. suara serak. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. sesak nafas. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. pembesaran KGB mediastinum. penekanan bronkus. dll. RFT. b. penekanan vena kava superior. 5. c. TBLNB. Sitologi Sputum ii. AGD. Kriteria Diagnosis : a. LFT.

b. Imiunoterapi e. Kemoterapi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. Inform Concern : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. hemoptisis. Dokter Spesialis Paru b. Supportif therapy sama 9. Kompresi esopagus f. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. 8. :: Free & Post Op : Operasi 203 . pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. Atelektasis b. ICU/ICCU iii. Tempat pelayanan : a. Obstuksi jalan nafas c. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Upper Airway obstruction. d. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c.6. RS tipe A i. RS tipe B Plus b. Fleural efusi e. Konsultasi : a. ii. Ruang perawat ii. Pembedahan Indikasi pembedahan i. Hormonoterapi f. Lab Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Terapi Gen g. Respiratory failure 11. Hemoptisis d. OK 10. Dokter Spesialis Anasthesi d. 5 hari per minggu c. treparasi oleh SOL. Penyulit : a. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress).

Autopsi 18. Dokter Spesialis Paru b. Patologi 17. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR Stage II Stage III Stage IV 57 – 67 % 22 – 34 % 3 – 21 % 1 %.12. Hasil 16. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) 13. Lama Perawatan 14. 204 . Masa Pemulihan 15. Tenaga Standar : a.

suara serak.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. adanya fraktur patologi. iv. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. menyisihkan kelainan lain. Kriteria Diagnosis : a. Pemeriksaan Lain i. AGD. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. (Bila ada indikasi) Brain CT.9 2. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. b. untuk mengetahui metastase di hepar dan tempat atau organ lain. 4.1. batuk darah. Torakoskopi. USG abdomen. c. core biopsi. untuk metastasis ke tulang. f. washing lavage. e. Sitologi Sputum ii. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. neuropati. RFT. Tumor Mediastinum. identasi pleura. b. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. dll. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. DL. invasi tumor kedinding dada. dengan stadium lanjut tanda-tanda bisa lebih informatif seperti . dll. penekanan vena kava superior. Diagnosis Banding : a. sembab muka dan leher. Pemeriksaan Penunjang : a. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. CT . tumor satelit.faal paru. c. lymphangitis spreeding. 205 . Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. pembesaran KGB mediastinum. pembesaran Kelenjar Getah Bening (KGB) supraclavicula. benjolan di pangkal leher. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. Pemeriksaan Laboratorium. Fungus Ball.FH. sulit/sakit menelan. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. ICD : C 34. dll. efusi pleura. b. iii. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. efusi Pleura. trombosis vena. nafsu makan hilang demam hilang timbul. Bila tumornya besar. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. pembesaran hepar. TBLNB. sesak nafas. LFT. sakit dada. penekanan bronkus. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. atelektasis. atelectasis. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. d. Tumor metastase (Kanker Paru Sekundair) 5. Diagnosis : Kanker Paru 3. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary.

Dokter Spesialis Paru b. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. c. RS tipe B Plus b. • Untuk tindakan pembedahan pengangkatan tumor. Tempat pelayanan : a. mediostinoskopi.vi. 8. Konsultasi / bekerja sama dengan : a. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Karnovsky index rendah (<50%). diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. Ruang perawatan : Pre operative ii. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. b. 5 hari per minggu atau bekerja sama dengan spesialis Radiotherapi. Bag. d. Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. thoracoscopy (VATs). Kemoterapi bekerja sama dengan pulmonologi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. hemoptisis. iii. Perawatan RS : • Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). RS tipe A i. EKG 6. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. ii. Supportif therapy 9. Terapi Gen g. Pembedahan Indikasi pembedahan i. trepanasi oleh karena SOL dengan deteorasi neurology. Hormonterapi f. Dokter Spesialis Anasthesi d. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. OK : Operasi 206 . Biopsi kelenjar lymphe supraclavicula atas biopsi paru terbuka (thoracotomy). ICCU : Post Op iii. Immunoterapi e. Upper Airway obstruction.

al. Ruck deschel. Dokter Spesialis Paru b. Ginsberg RJ : Surgical Treatment Of Lung Carcinoma.J Goldber. M. Dokter Spesialis Rehab Medik 13. Fraktur patologis h. 12. Masa Pemulihan 15. P : Preoperative and Postoperative Therapy for NS CLC in ………………… Hal : 147 -146 4. by Arthur E Bauc et. 207 . 1995. Doyle LA Aisner J : Clinical Presentation of Lung Cancer in Thoracic Oncology II ed. WB Saunders Company. Patologi 17. Bonomi.10. 1996 : 421 – 444. Water PF : Surgery for Non Small Cell Lung Cancer in …………………. Penyulit : a. Pleural efusi e. Autopsi 18. Weisen Burger TH : Definitive Radiotherapy and Combined Modality Therapy for In operable NSCLC : In …………………Hal 164 – 180 5. Gangguan hepar 11. Respiratory failure g. Weisenburger. Martin N. Prentice Hall International. Hal : 124 – 146 3. Kompresi esopagus f. By Roth. Tenaga Standar : a. Hasil 16. in Glenn’s Thoracic and Cardiovascular Surgery sixth ed. Phyladelphia. Wagner H. 2. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Hemoptisis d. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR 57 – 67 % Stage II Stage III Stage IV 22 – 34 % 3 – 21 % 1% Kepustakaan : 1. London. 26 – 48. Obstuksi jalan nafas c. Lama Perawatan 14. Atelektasis b. Binsburg R. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) d. Penurunan kesadaran i. Dokter Spesialis Anesthesi e. Informed Consent : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Jr . Burt.

e. Ulkus/Gangren ini dapat diikuti invasi bakteri sehingga terjadi infeksi. BUN / SC 6. b. UL. iv. ICD : E 14. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan endokrin. PAPO (penyakit arteri perifer oklusive) 5. Rontgen foto : Melihat adanya Osteomyelitis dan soft tissue swelling + gas subcutan f. Ulkus Tropikum. Pembedahan i. 4. b. Pemeriksaan kultur / sensitivitas kuman.Toe Pressure. c. Antibiotika sesuai dengan kultur. necrotomy ii. Incisi Drainage iii. Repair deformitas kaki v. Buerger Disease. Diagnosis : Ulkus/Gangren Diabetikum 3. Pemeriksaan integritas vaskuler Terdapat claudicasio intermitten dan restpain. FH. Non Bedah i. iii. Amputasi (digiti –TMA – BKA & AKA) iv. mutilasi. Pemeriksaan Penunjang : a. Derajat dan luas infeksi memakai klasifikasi Wagner.1. Dokter Spesialis Anesthesi. ii. Perlu untuk tindakan debridement dan pembedahan lain serta pemberian insulin regulasi cepat. LFT. d. Pemeriksaan adanya neuropati : (Bila ada) Dengan Semmes Weinstein Monofilament Wire/Biothessiometer c. Ulkus Varikosum. d. 208 . Pengendalian gula darah. DM menurut WHO GD Acak > 200 mg/dl GD Puasa > 140 mg/dl b.5 2. Terapi : a. Diagnosis Banding : a. Laboratorium . 8.8 (ankle brachial index). DL. Wound toilet. Perawatan RS : a. Kriteria Diagnosis : Ulkus/Gangren DM adalah kematian jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (nekrosis iskemia) akibat penyakit arteri prifir oklusi (micro dan macroangiopaty) yang menyertai penderita DM. Dokter Spesialis terkait dengan komplikasi DM 7. Debridement. Konsultasi : a. Diet & exercise. Revaskularisasi arteri tungkai (bypass) b. tekanan darah kedua tungkai. c. ABI < 0.

Masa Pemulihan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus serta jenis tindakan. Patologi : Tidak perlu. Sepsis prognosenya jelek. Gas gangren c. berbagai manifestasi klinis akibat DM. Hasil : a. OK untuk tindakan operasi. Wright J. Hal 514 – 522 209 . Sembuh dengan cacat tetap akibat amputasi.9. in Vascular Surgery theory and practice ed by Allan D Callow. c. 17. Tempat pelayanan RS Type A. 18. b. Lama Perawatan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus/infeksi (Wagner Classification) semakin besar semakin lama perawatannya. Informed Consent : Perlu lebih-lebih bila dilakukan amputasi. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Konsultan endokrin d. Marcaccio. Resiko amputasi 85% bila ada infeksi serius. 16. London. Osteomielitis b. ICU bila ada komplikasi. b. Prentice Hall International. Tenaga Standar : a.B dan RS yang ada ICU : a. Autopsi : Tidak perlu. Mengancam jiwa jika terjadi gas gangren dan sepsis. Gibbons.. Mueller MP. Ruang perawat biasa. 12. 15. c. 14. Kepustakaan : 1.Tindakan pembedahan dapat mempercepat masa perawatan. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Klein SR : Diabetes and Peripheral vase dissore in Vascular Sergery dst ……. 1995 : 167 – 180. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk debridemen. Prognosa : a. Sembuh tanpa cacat b. Kelainan organ lain akibat angiopaty diffuse + neuropaty diffuse. 2. Wagner III ke atas. Reamputasi > 20% c. 10. Habershaw : Management of the Diabetic Foot. Dokter Spesialis Anasthesi 13. Penyulit : a. 11. b. Sepsis d.

LFT. Anamnesis Empiema Toraks atau Pyothorax adalah pengumpulan nanah atau pus didalam rongga pleura. UL. Dokter Spesialis Paru b. DL. USG d.empiema necessitans (erosi dinding dada akibat abses dinding toraks). d. b. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru c. Multiple thoracosintesis dan pemberian AB intra vena 210 . Dokter Spesialis Anesthesi 7. b. Perawatan RS : a. temperatur tubuh meningkat.3 ix. Pemeriksaan Penunjang : a. Dapat terjadi sebagai akibat komplikasi pneumonie (parapneumonic empyema) tindakan pembedahan. Pemeriksaan Bakteriologi Menunjukan hasil (+ ) kuman pada cairan pleura. FH. Rasio dengan protein plasma > 0. CT Scan toraks c. Leukosit > 50% linfosit > 15 000 sel/mm3 viii. Chilo thorax e.6 vii.kadangkadang sputum purulent bila ada fistel bronchopleura. Torakosentesis e. trauma dll.9 2. sesak nafas. Kriteria Diagnosis : a. Pnemonia b. c. 86. Berat jenis >1016 v.penurunan suara nafas sisi sakit. Protein > 3 g/dl iii. Abses paru d. Rasio dg LDH plasma > 0. BUN / SC 6. pergerakan dada terbatas. 3. 4. panas.5 iv. Pleural effusi c. Glukosa < 40 mg/dl e. Pemeriksaan Fisik Takipnea. berat badan menurun. Gejala Klinis Nyeri dada.1. Konsultasi : a. Malignant pleural effusion 5. Diagnosis : Empiema Toraks. Tes Rivalta (+ ) ii. Diagnosis Banding : a. cultur dan sensitivitas test. Laboratorium pemeriksaan cairan pleura. Perlu bila akan dilakukan pemasangan Chest tube dan WSD dan dekortikasi. ICD : J.perkusi dullness. batuk. Dengan pemeriksaan cairan pleura menunjukan eksudat yaitu : i. Foto polos toraks AP/lateral b. malaize. pH < 7. LDH > 200IU vi.

TW : Para Pneumonic empyema in ……………. Informed Consen t : Perlu 12. 10.W. Lama Perawatan : 7 – 14 hari 14. Ruang rawat biasa b. Empiema necessitan c. Dokter Spesialis Paru d. Hasil : Sembuh bila diterapi cepat dan tepat. 18. Patologi : Tidak perlu. 1994. Autopsi : Tidak perlu. Tenaga Standar : a. 16.8. Penyulit : a. Dokter Anesthesi 13. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c.. Pemberian antibiotika untuk eradikasi kuman sesuai dengan kultur sesitivitas. Sepsis e. Tempat pelayanan : a. Prognosa : Tergantung fase penyakitnya saat ditemukan pertama kali. Kepustakaan : 1. Fourth ed Vol 1 William & Wilkins. Deformitas diding dada dan scoliosis 11. Broncopleural fistel b. Terapi : Dasar terapi empiema toraks adalah a. 674 – 683 2. Shields. Mengeluarkan nanah b. Baltimore. Fibrotoraks d. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15.hal 684 . Obliterasi rongga empiema c. Light RW : The Physiology of Pleural Fluid Production and Benign Peural effusion in General Thoracic Surgery ed by W Shields T. 9. 17.693 211 . OK pemasangan Chest Tube dan tindakan. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b.

c. 90 2. b. 6. b. Empiema toraks b. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tujuan terapi dan mencari sumber keganasan. pleurodesis. Dokter Anasthesi untuk operasi 7. Anamnesis Adanya cairan kemerahan/darah atau serosanguinus didalam cavum pleura secara berlebihan > 50 ml dengan didapatkannya sel ganas didalam cairan pleura atau biopsi pleura. maka efusi pleural maligna termasuk stage IV. maka efusi pleura maligna itu di anggap berasal dari paru. Dokter Spesialis Paru b. ICD : J.1. e. Namun bila tumor primer diluar paru tidak ditemukan. perkusi redup dan suara nafas melemah pada sisi toraks yang sakit. 212 . Diagnosis Banding : a. Apabila tumor primer ditemukan diluar paru. Tumor solid intra pleura 5. Diagnosis : Pleural Efusi Maligna 3. Sitologi cairan pleura/biopsi pleura : dengan hasil positif sel ganas. Pemeriksaan Fisik Gerakan diapragma berkurang . batuk. USG toraks dan torakotomi explorasi perlu dilakukan untuk menegakan diagnosis. Foto polos toraks PA/lateral. biopsi transtorakal. Berupa punksi. Bronkoskopi. Dokter Spesilis terkait dengan tumor primernya c. 8. pleuro abdominal shunting. d. Konsultasi : a. Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui tumor primer. Pengobatan kausal. pemasangan chest tube. Bila tumor primernya berasal dari tumor paru. Pemeriksaan Penunjang : a. fremitus suara melemah.dada terasa penuh. Pengobatan lokal. Kemungkinan ditemukan keganasan organ lain di luar paru. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru d.deviasi trakea dan atau jantung kearah kontra lateral. Sebaiknya dilakukan setelah cairan dikeluarkan maksimal. Kriteria Diagnosis : a. nyeri dada. gejala ini sangat tergantung dari jumlah cairan dalam rongga pleura. Terapi : Efusi pleural maligna mempunyai 2 aspek penting dalam penatalaksanaannya yaitu : a. Abses paru c. Gejala Klinis Sesak nafas. CT Scan toraks . Efusi pleura karena sebab lain d. efusi ini termasuk gejala sistemik metastatik tumor tersebut dan pengobatan disesuaikan dengan tumor primernya. Pengobatan kausal disesuaikan dengan tumor primernya. dengan hasil eksudat. 4. c. f. b.

Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Empiema toraks. Informed Consent : Perlu 12. 17. Dokter Spesialis anesthesi 13. New York. 18. Sahn.9.1016 213 . Patologi : Perlu. Autopsi : Perlu bila diagnosa tidak jelas. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Bila berasal dari paru maka dianggap kanker paru stadium III keatas Kepustakaan : 1. Efusi berulang. Rusch. Prognosa : a. Tergantung respon terapi dari tumor primernya. SA : Malignant pleural effusion in General Thoracic hal 757 – 797 2. OK : pemasangan chest tube dan WSD 10. Dokter Spesialis Paru d. VW : Pleural Effusion : Benign and malignant in Thoracic Surgery ed by F Griffith Pearson. Ruang perawatan (normal). Churchill Living Stone. 1003 . Tempat pelayanan : a. b. b. b. 1995. c. Respiratory distres 11. Penyulit : a. Tenaga Standar : a. Lama Perawatan : 3 – 7 hari 14. Masa Pemulihan : 3 – 7 hari 15. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru e. Hasil : tergantung respon terapi dari tumor primernya 16.

Untuk kasus-kasus unresectable dipertimbangkan pemberian radioterapi. dapat berasal dari beberapa elemen-elemen histologis dari dinding toraks yaitu otot. Dokter Spesilis Anasthesi 7. CT Scan toraks c. Defornitas dinding dada oleh inflamsi. 8. tiroid. Defornitas dinding dada oleh kelainan congenital. c. c. gambaran dan globulin 6. Kriteria Diagnosis : Tumor yang muncul di dinding dada. Keluhan dan gejala : Sering tanpa keluhan (asimptomatik). MRI d. Diagnosis : Tumor Dinding Dada. bila kecurigaan dari tulang. Yang paling sering menimbulkan tumor metastatik kedinding dada adalah urogenital. 9. Massa : Berbentuk. f. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan Hematology / Onkology Medik c.1. bila > 4 cm dilakukan FNAB/Incisional Biopsi. ada riwayat trauma ringan dengan fraktur fatologis. tulang rawan. bila tumor < 4 cm langsung di Excisi dan Frozen Section. mamma. b. Diagnosis Banding : a. soft tissue lainnya. Pembedahan (Reseksi diding dada dan rekonstuksi) merupakan first line treatment dikombinasikan dengan kemoradioterapi (bila ada tumor ganas berasal dari tulang). Bone Scaning. 4. Rhabdomiosarkoma dan Ewing sarcoma. bila ada residual tumor dilakukan reseksi. Test fungsi paru g. d. Terapi : a. Perawatan RS : Perlu untuk persiapan pembedahan. Ruangan biasa. kemoradioterapi merupakan pilihan pertama. Biopsi (PA). 76. 214 . Analisa gas darah h. Tumor primer sebagian kecil jinak. ICU post operasi. ICD : C. Lab lengkap i. Tumor jinak : reseksi dan bila perlu rekonstruksi. Pemeriksaan Penunjang : a. b. adanya massa di dinding dada disertai dengan reffered pain atau nyeri lokal. Tempat pelayanan : a. Bone merrow aspirasi k. Bunce Jones protein. Tumor bisa primer dan metastatik. e. syaraf.1 2. 3. 5. fixed dengan dasar ikut pergerakan respirasi. colon. tulang. b. OK : bila perlu operasi. Dokter Spesialis Paru b. Foto polos toraks (PA/lateral). j. Konsultasi : a. batas tak jelas. b. Selektif angiografi bila tumor dekat/berada di axila.

3.10. Lama Perawatan : 7 . Informed Consent : Tertulis bila dilakukan operasi.14 hari 14.. 2. 17. durante operasi dapat dikerjakan FS. 11. Dokter Spesialis Anasthesi (untuk perawatan post operasi) 13. Idem : Chest Wall Reconstruktion : In General Thoracic Surgery …. b. 18.hal 579 – 588. Prognosa : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren Kepustakaan : 1..hal 589 – 597. Penyulit : a. London. Rekonstruksi dinding dada dan keterbtasan respirasi. MC Carmack PM : Chest Wall Tumors in Glemis Thoracic and Cardio Vascular Sergery . Depormitas dengan kecacatan. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. Dokter Spesialis Paru (bila invasi ke paru) c. Dokter Spesialis Jantung (bila invasi kejantung & pembuluh darah) d. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler b. 1996 : 593 608 215 . Tenaga Standar : a. Hasil : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren 16. Autopsi : Tidak perlu dengan excisi luas. Invasi keorgan-organ intra toraks. Patologi : Perlu. Sixth ed Vol II ed by Athur E Baue Prentice-Hall International Inc. c. Pailorelo PC : Chest Wall Tumors : In General Thoracic Surgery …. 12.

Doppler USG. iv. DVT d. Tempat pelayanan : a. High Ligasi ii. Stadium IV Ulkus varikosum. Stadium II Venaectasis Stadium III Gejala & tanda varises tampak jelas. Aneurysma vena 11. Airplathysmography. iv. ii. OK untuk tindakan operasi. thrombophlebitis. cepat lelah. Non Bedah i. Sclerotherapy. ICD : 183. Symptomatis pasta lasar. Terapi : a. Penyulit : a. Ruang rawat biasa. 7. 10. Konsultasi : Dokter Spesilis Anasthesi untuk operasi. 3. Excisi ulcus + skingraft 9. Kriteria Diagnosis : Pelebaran abnormal. Medikamentosa flavunoid. Bedah i. Gejala dan tanda tergantung stadium Stadium I pegel. Duplex Scan. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi dan untuk operasi. 216 .1. chronic venous insuffi ciency (CVI) 4. d. Babcock extractie/stab avulsi. Compression therapy. sakuler atau silindris vena-vena superfisial menyeluruh atau segmental termasuk teleangiektasis pada tungkai. iii. 8. Diagnosis Banding :- 5. iii. Bi pedal phlebografi 6. b. berat. b.9 2. Informed Consent : Perlu bila operasi. b. Ligasi dan stripping. Perdarahan c. b. hisperidine diosmin. c. Diagnosis : Varices Tungkai. Ulkus yang tak sembuh-sembuh. Pemeriksaan Penunjang : (bila ada alat) a.

: Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler Dokter Spesialis Bedah Vaskuler 13. Hasil : Sembuh 16. c. b. b. Lama Perawatan : 2 – 3 hari 14. New York. Autopsi : Tidak perlu. 217 . 18. New York. Bisa berulang bila masih ada pengisian vena yang inkompeten. 1994 : 841 – 851 2. William RA : Vasicose Vein. 17. Patologi : Tidak Perlu.12. second ed by Frank J Veith. Mc Graw – Hill Inc. GH : Chronic Venous Insufficiency : in Vascular Surgery Principles and pratice. Kepustakaan : 1. Masa Pemulihan : 4 – 5 hari 15. Tenaga Standar a. in Vascular Surgery Principles and pratice. 1994 : 865 – 888. Mc Graw – Hill Inc. Nordestgaard AG. Prognosa : a. Baik bila belum ada komplikasi. second ed by Frank J Veith. White.

Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi (life threatening) dan pembedahan 8. Cryo surgery iii. d. 3. Fase involusi (sampai dengan umur 7 – 12 th) Menipis secara sentrifugal mulai dari sentral.1. Pembedahan i. Radiasi Tempat pelayanan : a. Embolisasi / Scleroterapi d. Dokter Spesialis Anasthesi bila akan dioperasi. 5. Ruang rawat biasa b. makula/papula merah. ICD : D. meluas dan lebih merah seperti buah strowberry saat menangis.0 2. Dokter Spesialis Bedah Plastik bila perlu Rekonstruksi. Arteriografi d. dikerjakan pada fase involusi untuk mengurangi resiko perdarahan dan kerusakan struktur vital. Pemeriksaan Penunjang : a. Excisi . b. teleangiektasis. Konsistensi padat. tumor atau kombinasi. Laser surgery ii. c. Interferon c. b. seperti spon. Dokter Spesilis Anak bila ada ganguan hemostasis koagulapati. Diagnosis : Hemangioma. Dokter Spesialis Radioterapi bila perlu Raditherapy. a. KGB (kelenjar getah bening). Ruang radiologi untuk radiotherapy 9. b. Diagnosis Banding : a. 7./merah tua dengan halo. biasanya dengan klinis saja sudah cukup. CT dengan contras b. Medikamentosa i. Bentuk kubah plaque. 4. MRI c. AVM c. lembek. Fase Proliferasi (sejak lahir – 12 bulan) Kulit pucat. Katiko steroid ii. Terapi : Biasanya sebagian besar regresi spontan pada usia 5 – 8 tahun. Konsultasi /team : a. kosistensi lebih compressable. OK bila perlu operasi / tindakan bedah c. Kriteria Diagnosis : a. 18. Lesi dibawah kulit lymphangiomacystika. 218 . b. 6. Histo Patologis Atas indikasi kuat. Kelainan Vena seperti kista.

Dean et al. Dokter Spesialis Bedah Umum ( excisi ) b. Perdarahan. HH. 13. in Current Diagnosis & Treatment in Vascular Surgery. Kepustakaan : 1.324 219 . 1995. Penyulit : a.10. 18. 14. c. Mengalami keganasan Informed Consent : Perlu bila ada tindakan. Angka rekurensi masih tinggi setelah pembedahan. Dokter Spesialis Anasthesi Lama Perawatan : 2 – 7 hari Masa Pemulihan : 2 – 7 hari Hasil : Mudah timbul residif bila excisi tidak komplit. Prentice –Hall International Inc London. 309 . 12. 11. Tront III. ulkus. Prognosa : a. Mengganggu fungsi menelan. Feinberg RL : Vascular Anomalies & Acquired Akteriovenons Fistulas . 16. d. Regresi spontan sebelum umur 12 tahun. CHF dan trombositopenia e. visus. 15. Ist ed. Patologi : Perlu. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. b. Autopsi : Tidak perlu. Ed by : Richard H. mendengar dsb. 17. infeksi. Facial distrorsi b. pernafasan. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Bedah Vaskuler d.

5. 10. Ruang dengan observasi fungsi respirasi pra bedah b. Anannesis Adanya udara bebas dalam rongga pleura yang bukan disebabkan oleh faktor trauma. hipotensi dan pucat bila tension pneumothorax. Empyema thoraks Informed Consent : Perlu bila diambil tindakan 7. hipersonor. i. Skunder : Akibat penyakit paru yang mendasari serta kelainan diluar paru iii. Observasi ii. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu tindakan operasi. tanpa adanya Penyakit paru yang mendasari. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat Paru c. Perawatan RS : Perlu bila akan diambil tindakan. Bila persisten (menetap ≥ 4 hari)→ thoracotomy repair fistule iii. 2. Faktor penyebab i. 220 . berkeringat. Keluhan dan tanda-tanda Terjadi mendadak berupa nyeri dada. Bila ada alat VATS maka dikerjakan VATS Tempat Pelayanan : a. Needle aspiration iii. Closed thoracostomy (WSD) b. CT Scan Toraks. Bronkopleural Fistel b. 9 Diagnosis : Pneumothorax spontan. Foto thoraks tidak dibenarkan pada tension pneumothorax. i. Diagnosis pasti dengan foto toraks AP adanya paru kolap dan bayangan udara (radiolusen) pada rongga dada. 11. ICU/RTI c. Non Bedah . ICD : J. Bedah . ii. Kriteria Diagnosis : a. sesak nafas dan batuk dari ringan sampai berat. 4. 9.Tahikardi. 3. Bila Recurrent (≥ 3 kali berulang)→ thoracotomy repair fistule iv. 8. b. Dokter Spesilis Paru b. Konsultasi / team : a. Open thoracostomy dengan WSD ii.Tanda lain penurunan suara nafas. d. 6. 93.1. Tension pneumothorax c. Terapi : a. Neonatal c. : Foto polos toraks. Diagnosis Banding Pemeriksaan Penunjang : Emphysema bulosa paru. Primer : Ruptur subpleura bleb. OK (bila dilakukan tindakan bedah) Penyulit : a.

1037 – 1054 2. Tenaga Standar : a. New York 1995. Churchill Livingstone. 662 . Beauchamp. 13. Kepustakaan : 1.673 221 . Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat paru e. 18. Paape K : Pneumothorax in General Thoracic Surgery Fourth ed Vol 1 ed by Thomas W Shields. G : Spontaneous Pneumothorax and Pneumoneediastinum in Thoracic Surgery. 17. 14.12. Dokter Spesialis Paru d. 1994. Dokter Spesialis Bedah Umum pemesangan Chest Tube b. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. 15. 16. ed by F Griffith Pearson. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu thoracotomy Lama Perawatan Masa Pemulihan Hasil Patologi Autopsi Prognosis : 2 – 7 hari : 2 – 7 hari : sembuh bila tidak ada penyakit paru yang mendasari : Perlu bila perlu operasi thoracotomy : Perlu bila meninggal tak wajar : Baik Ada resiko berulang pada penderita yang mengalami pneumothoraks secunder. Fry WA. Williams & Wilkins Baltimore.

1. hipotensi dan distensi vena leher (CVP ↑). Kortiko Steroid kalau perlu c. Foto Toraks : i. Infeksi terutama TBC/imflamasi lain vi. Kriteria Diagnosis : a. Diagnosis : Efusi Perikardium 3. terasa berat didada sakit tidak spesifik seperti suara jantung menjauh. Neoplasma iii. Uremia ii. Ekokardiografi : Echo free space dan dapat dihitung jumlah cairan. emboli paru akut. a. a. SLE dan kelainan sistemik lainnya c. Penyebab : i. Dokter Spesialis Anasthesi c. Konsultasi : a. c. Pemeriksaan Penunjang : a. 3 2. Kateterisasi jantung : perlu pada kelainan jantung. perikarditis konstriktiva/sicca. d. nadi meningkat. bila belum tamponade perawatan konservatip diruang biasa (observasi) 8. ST elevasi difus. Terapi causal lainnya 222 . Perikardiosentesis b. b. COPD. Tamponade akut : Tension pneumothorak. Sitologi / Histopatologi 6. Kardiomegali dengan kelainan jantung intra kardial. Water bottle ii. Antiinflamasi (NSAID) b. Post operasi jantung v. Cardiac Enzym : pada kelainan jantung. area pekak jantung melebar pada tamponade maka Trias Beck’s lebih jelas yaitu suara jantung menjauh. Keluhan dan tanda-tanda : Sesak. ICD : I 31. Perawatan RS : Perlu bila menunjukkan tanda-tanda tamponade. 5. Post infark miokard (Dressler’s syndrome) iv. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah b. PR depresi f. e. d. Terapi : • Terapi Bedah . Bila gagal. EKG : Low voltage. 4. Diagnosis Banding : a. Foto toraks : melihat adanya pelebaran mediastinum atau CT ratio > 50% b. b. Definisi : Akumulasi abnormal cairan di rongga perikardium. pulsus paradoxus. Globular shape e. Ekokardiografi : melihat cairan intra pericardium dan kelainan jantung. Lab : DL. gagal jantung kanan akut. Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung 7. open perikardiostomi (subxiphoid atau window) dengan artero lateral thoracotomy kiri • Medikamentosa .

Le Winter MM : Pericardiac disease. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. Tamponade jantung. Patologi : Perlu untuk mencari penyebab sitologys dan kultur. Hasil : Sembuh/kambuh 16. UPIJ/ICU b. b. Informed Consent : Perlu apabila ada tindakan. 17. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 13. 12. in Current Diagnosis & Treatment in Cardiology ed by Michael H Crawford. Tenaga Standar : a. c. Naitkus PT. Autopsi : Perlu bila tak jelas penyebab kematiannya. Prentice Hall International Inc London 1995. Lama Perawatan : 2 – 7 hari 14. Penyulit : a. Kepustakaan : 1.9. Prognosa : Tergantung Penyebabnya. 192 -203 223 . 18. Dokter Spesialis Bedah Umum ( perikardiosentesis ) b. Cardiogenic Shock. Tempat Pelayanan : a. Lama Pemulihan: 2 – 7 hari 15. Cardiac failure 11. OK bila perlu tindakan bedah 10.

224 .

225

226

227

228

229 .