: D16 : TUMOR JINAK TULANG : 1. Keluhan : tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang 2.

Fisik : tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas, atau ada patah tulang patologis 3. Radiologi : X-foto tulang; tampak densitas tulang bertambah (osteoblastik) atau berkurang (ostolitic) atau campuran. 4. Alkali fosfatase naik 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang 3. Osteomyelitis 5. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radiologi : X-foto tulang, CT-scan 2. Biopsi : FNA, biopsi tulang, pemeriksaan spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Bedah : 1. Reseksi tulang 2. Kuretage 3. Cryosurgery b. Non Bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Penyulit : 1. Penyakit 2. Terapi 11. Informed Consent : Perlu 12. tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Dokter Spesialis Bedah Onkologi 13. Lama Perawatan : ± 1 minggu 14. Masa Pemulihan : ± 4 – 12 minggu 15. Hasil : Bebas tumor, sembuh 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak tulang 1). Osteoma, 2). Osteobastoma 3). Kondroma 4). Kondroblastoma 5). Adamantinoma 6). Fibroma 7). Hemangioma 8). Limfangioma 9). Giant cell tumor 2. Tumor non neoplasma 1). Kiste tulang 2). Fibrous displasia 17. Otopsi : 18. Prognosis : Baik, tumor hilang / sembuh 19. Tindak lanjut : -

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

1

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D23 : TUMOR JINAK KULIT TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT : Neoplasma jinak kulit, D24 Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis 1. Papiloma 1). Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit, permukaan kasar 2). Berwarna seperti kulit normal disekitarnya 2. Epithelioma 1). Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit 2). Berwarna seperti kulit normal 3. Nevus pigmentosus Plaque atau nodus berwarna hitam 4. Kiste dermoid 1). Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau brachial cleft 2). Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak, dinding 5. Dermatofibroma 1). Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkutis 2). Berwarna coklat, menyerupai keloid Tumor non neoplasma kulit 1. Verruca vulgaris (B07) 1). Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan yang besar 2). Warnanya seperti kulit normal disekitarnya 2. Keratosis (L82-L86) 1). Keratosis seborrhoicum (L82) a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna coklat atau kehitaman, sering multipel b. Lokasi trutama pada kulit muka atau leher dan tubuh 2). Keratosis solaris = keratosis senilis (L57.0) a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoicum b. Umumnya terdapat pada orang tua c. Lokasi terutama pada muka, leher dan bagian kulit yang terbuka 3). Keratoacanthoma (L85.8) a. Tumor papiler dengan sentralnekrose, b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami regresi spontan c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma kulit keganasan rendah 4). Kiste epidermoid (L72.0) a. Tumor kistus subkutan, berisi sebum, berdinding epidermis b. Lokasi umumnya di tangan atau kaki

2

4. Diagnosis banding : 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Terapi a. Bedah b. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi

17. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut

: : : : 1. Eksisi tumor, 2. elektrokoagulasi, 3. desikasi, 4. kuretage, 5. dermobrasion : 1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate, 2. salep FU, salep keratotlitik : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. : 1. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Terapi : perdarahan, infeksi, timbul keloid : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : Poliklinik : ± 1 minggu : Benas tumor, sembuh : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak kulit 1). Nevus intradermal 2). Nevus junctional nevus 3). Compound nevus 4). Papiloma 5). Epithelioma 6). Adenoma 7). Keratoacanthoma 8). Syringoma 9). Hydradenoma 10). Trichoepithelioma 11). Demoid cyst 2. Tumor non neoplastik kulit 1). Seborrhoic keratosis 2). Verruca vulgaris 3). Molluscum contagiosum : : baik : 3 bulan, 6 bulan kemudian lepas

5). Kiste sebaceus = Atheroma (L72.1) a. Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum b. Pada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang buntu oleh sebum yang mengeras c. Tumor mobil dari jaringan subkutan dibawahnya 6). Molluscum contagiosum (B08.1) a. Nodus kecil di kulit, berwarna keputihan b. Bila dipencet keluar inti yang keras 7). Granuloma (L92.3) a. Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi lunak, mudah berdarah (L92.3) b. Dapat berupa reaksi benda asing dibawahnya berupa benang (T81.8) Tumor ganas kulit Diagnosis : Pemeriksaan patologi spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

3

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D17 s/d D21 : TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK & TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK : Tumor jinak jaringan lunak 1. Lipoma, D17 Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan, konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan 2. Hemangioma, D18 1). Hemangioma kapilare Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu anak-anak 2). Hemangioma cavernosum a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons, berwarna kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan, umumnya sebelum umur 5-7 tahun 3). Hemangioma arteriale (hemangioma racemosum, cirrsoid hemangioma) a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok, berdenyut, karena ada shunt antara arteri dan vena, sejak bayi atau kecil b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala 3. Limfangioma, D18 1). Limfangioma kapilare (limfangioma simpleks) Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, berisi cairan limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul sejak lahir atau waktu kecil 2). Limfangioma cavernosum Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, seperti bibir (makrocheili) lidah (makroglosi), dsb, dengan kulit diatas tumor berwarna normal, konsistensi seperti spons 3). Limfangioma kistikum (Higroma) a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit diatas tumor warnanya normal, timbul sejak lahir atau waktu bayi b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) atau di axilla (higroma axillare). 4. Fibroma, D21 1). Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsistensi ada yang beras (fibroma durum), ada yang lunak (fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan ikat pada tumor. 2). Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare 3). Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia musculus rektus atau obliquus abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas, tetapi patologis sebagai tumor jinak

4

Suatu penyakit kongenital herediter.5. Radiologis : X-foto. Penyulit 11. biopsi. sering multipel sepanjang jalan syaraf perifir. Hasil : : : : 1. : 1. Yang khas ialah terdapat cafe aux lait. Pemeriksaan penunjang : 6. Penyakit : umumnya tidak ada 2. tumor atau polipoid. yang terdapat sejak lahir atau baru manifest setelah dewasa. Abrasi / dermobrasi : 1. kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea (ganglion poplitea) 1). Ganglion. harus dicurigai mengalami transformasi ganas. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. kortikosteroid. Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi.S.1 1). Eksisi tumor 2. konsistensi berubah menjadi padat. Ganglion : kortikosteroid intra kistik : Minimal R. Q85. Berbentuk nodus. Tempat pelayanan 10. Perawatan RS 8. yang berisi cairan seperti gudir. M67. Lama perawatan 14. konsistensi lunak 3). Informed Consent 12. tatouage 2. Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat. MRI pada tempat tumor 2. Diagnosis banding : 5. sembuh 5 . Neurofibroma. CT-scan. yang tumbuh progresif dengan pelan 2).S. Neurofibromatosis von Recklinghausen. Tenaga standar 13. Dapat timbul nyeri atau paraestehia Tumor non neoplasma 1. Elektro cauter 4. D36. Non bedah 9. infeksi : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : ± 3 hari : ± 1 minggu : Bebas tumor. berasal dari bungkus syaraf. subkutis atau subfascial. dikulit.0 1). 2). Konsultasi 7. Tumor ganas jaringan lunak 1. 2. kelas C R.4 1). multipel diseluruh tubuh. Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion karpi). suatu plaque berwarna coklat susu pada kulit 4). Cryosurgery 3. Terapi : perdarahan. Masa pemulihan 15. 2). Hemangioma : radioterapi. Patologis : FNA. pemeriksaan spesimen operasi Staging : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait Ruang inap untuk diagnosis dan tindakan 4. dengan ukuran bervariasi. menjadi neurogenic sarcoma. Terapi a. Bedah b. Berbentuk tumor bulat panjang.

16. Hemangioma 2. Neurofibroma 6. 24 minggu. Neurofibromatosis : : Baik : 12 minggu. Patologi 17. 52 minggu. Fibroma 4. Gangion aponeutikum 10. kemudian lepas 6 . Otopsi 18. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Benign fibrous histiocytoma 5. Leiomyoma 9. Prognosis 19. Synovioma 8. Rhabdomyoma 7. Lipoma 3.

atheroma 17. biopsi testis. Tumor non neoplasma 1).S. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait ] 7. pemeriksaan spesimen operasi 2. Testis & epididimis : teratoma matur. Lama perawatan : ± 3 hari 14. Hidrokel testis 3. Penis & skrotum : kiste epidermis. Spematokel 5. pemeriksaan spesimen operasi 6. Kriteria diagnosis : 1. Testis & epididimis : granuloma. Otopsi : 18. Perawatan RS : Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. epididimis. Penyakit : 2.S. sertoli sel tumor. umumnya < 2 cm. Informed Consent : Perlu 12. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Fisik : tumor kecil. karsinoid. hidrokel funikuli 3). Masa pemulihan : ± 1 minggu 15. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. penis atau kulit genetalia 2. infeksi 11. penis atau skrotum 4. spermatookel. Prostat : adenoma. Tindak lanjut : - 1. Tempat pelayanan : Minimal R. berbatas tegas. myoma 2). Penyulit : 1. fibroma. Keluhan : testis. padat atau kisteus. ICD 2. ICD : Teratoma Ganas In situ Jinak Tidak tentu 7 . Prognosis : Baik 19. Bedah : Eksisi tumor. Neoplasma 1). kelas C R. tumor Brenner 2. Tumor ganas 2. Patologi : biopsi eksisi. Hasil : Bebas tumor / sembuh 16.: D29 : TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI 3. Non bedah : 9. FNA. TUR b. Terapi : a. Tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Urologi 13. Prostat : hiperplasia 2). Diagnosis banding : 1. di prostat (colok dubur) testis. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Diagnosis 1. Terapi : perdarahan.

patologi Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8 . gigi. Non bedah 9.3 D15. Supraseller C71. Radiologis : X-foto. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak 2. Berbentuk tumor ada yang padat. Manifest sejak lahir. FNA M : Klinis. seperti di sacrococcygeal. Terapi 1).7 D48. Radioterapi : radionekrose : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 7 hari : ± 1 bulan : 1. 2. Teratoma ganas : eksisi luas atau organtektomi : Radioterapi : Minimal R. mengandung kulit. Makin dewasa manifestnya. Mediastinum C38. Patologis : FNA.3 3. Penyakit : erosi atau destruksi tulang disekitarnya 2. Tempat pelayanan 10. Pemeriksaan penunjang : 6. Terapi a.2. Kriteria diagnosis : : 4. Teratoma jinak : eksisi tumor 2. Operasi : perdarahan. dsb. usus. imaging. dsb. Lama perawatan 14. tulang. ada yang kistik yang terdapat pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi suatu teratoma 2). kelas-C. Informed Consent 12. MRI : nampak ada klasifikasi atau bentuknya seperti tulang. Sacoccocygeal C76. CT-scan. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. patologi N : Klinis.2 D38. Perawatan RS 8. Retroperitoneum C48. Diagnosis banding : 5. hanya untuk tumor ganas T : Klinis. Hasil : : : : 1. Stadium dini : bebas kanker 1.3 D09. Ovarium C56.0 D48.0 D20. R. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi teratoma. Tenaga standar 13.1 6. makin besar kemungkinan keganasan 3.9 D33. Penyulit 11.6 D29. infeksi 2).2 D43. ovarium. Fisik : 1). Testis C62 D07.9 D07.S. atau setelah dewasa. Eksplorasi operasi : untuk melihat keadaan tumor Staging. pemeriksaan spesimen operasi 3. Tumor jinak atau ganas organ yang bersangkutan Diagnosis 1. Konsultasi 7. Diagnosis 3. dsb 1. Masa pemulihan 15. Radiologi : X-foto polos/CT-scan.3 4. testis.7 2. 4. imaging. biopsi. rambut.2 D40. MRI pada tempat tumor 2.3 D27 D39.2 TERATOMA 1. imaging.7 D36. Eksplorasi operasi : Tumor berkapsul yang tegas (ganas).1 5. Bedah b.S.

Prognosis 19.16. Teratoma sifat tidak jelas : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1.4-C22.2 9 . Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjjut : jelek : 0 – 3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 – 5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 1. ICD : C64-C79. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Teratoma ganas 2. Stadium dini : baik 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Patologi 17.0-C22. Tindak lanjut 2. Teratoma jinak 3. Otopsi 18.

endothelial dan mesenchymal (tulang. dsb) 2). in situ. C22. Radiologi : USG abdomen / CT-scan : nampaktumor pada hati 4). C76. CT-scan atau MRI nampak ada tulang atau macam-macam komponen jaringan dalam tumor : 1). RETINOBLASTOMA 5.2. berat badan meurun 2). kulit. FlexnerWintersteiner rosette pada retina 3). Terdapat tumor di mediastinum. VMA = vanyl mandelic acid. Keluhan : sakit perut. Radiologi : Pada X-foto polos. toraks. retroperitoneum. tampak ada tulang atau kalsifikasi dalam tumor pada USG. NEUROBLASTOMA 3. strabismus. Diagnosis banding : KANKER PEDIATRI 1. pada USG abdomen terlihat tumor dari ginjal 4). ovarium. rambut. C79.2 1). Tumor jinak. C69. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 10 . panas. Radiologi : pada IVP. umumnya dibawah 12 tahun 3). Terdapat leukocoria. Ada trias gejala : tumor abdomen.2 1). 2. Laboratorium : dalam urine terdapat kenaikan katekolamine. gangguan fungsi hati. Tumor pada hati pada anak. yang terdiri dari campuran derivat jaringan epithelial. TERATOMA : 1. Hepatoblastoma. HEPATOBLASTOMA 4. mual muntah. Tumor Willem (nephroblastoma). releks papil putih. sifat tidak tentu atau jinak 3). Pada penyinaran : X-foto polos. terlihat ada klasifikasi dalam tumor. abdomen. Tumor ginjal pada anak-anak. TUMOR WILMS. anemia 2. Teratoma. ikterus 4. pada umur dibawah 5 tahun. dapat mengalami regresi spontan pada bayi kurang dari 1 tahun 2). usus. Diagnosis 3. pada USG. testis. HVA = homo vandelic acid 3. umumnya pada umur 1-3 tahun 2). Tumor berasal dari ginjal. dsb. pada IMP terlihat pyelum normal 3). ada filling defek di pyelum. dapat di leher.2 1). umumnya pada umur dibawah 5 tahun 2). Neuroblastoma adrenal. gigi. 2). Tumor dapat bersifat ganas. anoreksi. C64 1). hipertensi atau panas 3). mungkin pula disertai anemi. Tumor dapat uni atau bilateral 5. Tumor mata pada anak-anak. nyeri dan hematuri. Tumor ganas syaraf atau ganglion perifir. Kriteria diagnosis 4. Retinoblastoma. hati.4 1). Laboratorium : AFP naik. Limfoma maligna 5. tetapi umumnya di kelenjar adrenal. Laboratorium : hematuria.

dsb. fungsi hati. derajat Staging : T : Klinis. : Minimal R. Tempat pelayanan 10. Penyakit : perdarahan. katekolamine 3. cyclophospha-mide. Perawatan RS 8. pada testis : orchidektomi. jenis histologi. Ginjal : nephroblastoma 2. Stadium dini : bebas kanker 2. infeksi. Terapi a. Eksisi luas tumor. gangguan fungsi organ : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Anak Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 10 – 14 hari : ± 12 minggu : 1. Terapi : perdarahan. Kemoterapi : dengan vincristine. Sitologi : FNA. seroma. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. 2. ganglioneuroma 3. Adrenal : neuroblastoma. 2. actinomycin-D. Bedah : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : 1. paraneoplastik sindrom 2. Radioterapi pre atau pasca bedah. Patologi 17. Radiologi : IMP. Non bedah 9. patologi M : Klinis. patologi 6. Hepar : hepatoblastoma. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tenaga standar 13. AFP. : 1. sitologi 4. pada ovarium : ovariektomi. MRI 2. Laboratorium : darah. Otopsi 11 . terato carcinoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan ksus kematian yang sebabnya tidak jelas b. patologi N : Klinis. Informed Consent 12. hepatocelular carcinoma 4. Mata : retinoblastoma 5. Konsultasi 7. Penyulit 11.1.S. Masa pemulihan 15. atau radioterapi primer bila tumor inoperabel. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. infeksi. imaging. benign teratoma. Lama perawatan 14. imaging. Organtektomi : Pada tumor Willen : nefrektomi. Hasil 16. doxorubicin. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna dalam 1-3 bulan. USG abdomen. fungsi ginjal. CT-scan. Patologi. kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. imaging. pada mata : eksentrasio bulbi. urine. Teratoma : malignant teratoma.

Stadium dini : baik 2. Tindak lanjut : 1. Stadium lanjut : dubius 3.18.3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 . Stadium sangat lanjut : jelek : 0 .5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 12 . Prognosis 19.

tonsil atau lingkaran Waldeyer 3. SGPT. tulang. alkali fosfatase. Radiologi : X-foto toraks. inguinal. Bedah : Laparotomi. Diagnosis 3. MRI untuk terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe 4. 6. Limphadenitis tuberkulosa 3. Hodgkin Disease = HD C81 2. Pada laparotomi karena ileus ditemukan adanya agregat jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan obstruksi ileus itu Diagnosis banding : 1. CTscan. bila limfoma masih lokal pada satu regio 2). Limphadenitis non spesifik Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. pada HD = Hodgkin Disease. inguinal. C82 2).1. ketiak. atau keluhan karena ada benjolan di perut 2). sumsum tulang terbuka. fungsi ginjal. sumsum tulang 4. C84 4. Immunohistokimia : Sel-T atau sel-B Staging 1. torakoskopi 6. Radiologi : USG abdomen. Non bedah : 1. C83 3. Pada sindroma vena cava superior 13 . globulin. 40 Gy. 5. fungsi hati. 4. Pembesaran kelenjar limfesuperficial seperti di leher. ditemukan sel Reed Sternberg. C85 Kriteria diagnosis : 1. Peripherial and cutaneous T-cell lymphoma. Fisik : limfadenopati singel atau multiple. Diffuse NHL. laparotomi. Patologi : pS = pathological staging Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Panas badan. di salah satu atau lebih regio kelenjar limfe superficial. Patologi : biopsi kelenjar limfe. Keluhan : 1). Follicular (nodular) NHL. Patologis : jenis histologi. jika timbul ileus atau peritonitis b. Radioterapi : 1). : C81 s/d C85 : LIMFOMA MALIGNA 1. Eksplorasi : laparoskopi. 8. X-foto tulang. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma. atau dengan VC 5. seperti leher. Epidemiologi : umur. LDH. Klinis : cS = clinical staging 2. ICD 2. CT-scan abdomen. faktor resiko 2. USG abdomen. atau benjolan di tonsil atau faring. MRI 3. penurunan berat badan atau berkeringat malam yang tidak jelas sebabnya 2. ketiak. albumin. 7. pada NHL = Nn Hodgkin Limfoma tidak 7. Laboratorium : darah lengkap. Tumor jinak kelenjar limfe 2. Non Hodgkin Lymphoma = NHL 1).

Penyakit : ileus obstruksi.9. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. lemas 3). Penyulit : : 11. Mycosis fungoides 3. Non Hodgkin Lymphoma 1). paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. vinblastine dan dacarbazine 2). oncovin. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Hasil 16. peritonitis. Stadium dini : bebas kanker 2. mual / muntah. Plasmacytoma 4. Stadium dini : baik 2. prednison dan procarbazine Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 1. Diffuse 2. Otopsi 18. radionekrose. Reticulosarcoma perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas 1. Terapi : 1). Follicular (Nodular) 2). Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 14 . Mixed cellularity 4). alopecia Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis onkologi medik ± 24 minggu ± 4-8 minggu 1. bleomycin. Operasi : Perdarahan. Tempat pelayanan 10. anemia. Masa pemulihan 15. Hodgkin’s unspecified 7). Tenaga standar 13. infeksi 2). Lymphocytic predominace 2). AVBD = adriamycin. Informed Consent 12. sindrom vena cava superior 2. Kemoterapi : Netropenia. Kemoterapi dengan : 1). Nodular sclerosis 3). Tindak lanjut : : : 2. Lama perawatan 14.Other Hodgkin’s disease 6). Lymphocytic depletion 5). Stadium lanjut : dubius 3. Patologi : : : : : : 17. Prognosis 19. Radioterapi : Radiodermatitis. MOPP = mechorethamine. Hodgkin Disease 1).

Primer : apabila kelenjar membesar progresif. Tuberkulosa : sembuh 2. Patologi : FNA. Limfadenitis tuberkulosa 2. Reaktif hiperplasia kelenjar lilmfe 3. Laboratorium : test immunologis (TBC. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10.: R59 : LIMFADENOPATI : Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio leher. Limphadenitis khronika. inguinal yang dapat : 1. Diagnosis 3. Penyakit : 2. Singel atau multipel 2. tanpa ada radang. klinis dan imaging N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase jauhnya M : cari lokasi metastase jauhnya. klinis dan imaging 6. Bedah : Tergantung dari penyebabnya b. hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker T : cari letak tumor primernya. Lama perawatan : ± tegantung dari sebabnya 14. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Terapi : a. Diagnosis banding : 1. padat. Metastase kanker : sukar sembuh 16. ketiak. Pemeriksaan pennunjang : Diagnosis : 1. Reaktif hiperplasia 4. Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk konglomerat 3. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin) 3. biopsi eksisi 3. toksoplasma) Staging. Penyulit : 1. 5. Sekunder : bila ditemukan ada tumor primernya 4. Reaktif hyperplasia : sembuh 3. terfiksasi. Informed Consent : Perlu 12. Metastasis kanker dari tempat lain. Masa pemulihan : ± tegantung dari sebabnya 15.C77 atau C80. ICD 2. Terapi : 11. Non bedah : Tergantung dari penyebabnya 9. Kriteria diagnosis 15 . Dicurigai ganas : 1). atau tidak sembuh dengan antibiotika atau obat anti TBC 2). Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. ICD. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi 1. untuk diagnosis dan tindakan 8. Radiologi : tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk mencari tumor primernya 2. Limfoma maligna 1. baik spesifik maupun non spesifik 2. Hasil : Tergantung dari sebabnya : 1. Limfoma maligna : bebas kanker 4. Perawatan RS : Rawat inap bila perlu.

Tindak lanjut 4.17. Otopsi 18. Neoplasma : tergantung dari stadiumnya : Tergantung dari penyebabnya 16 . C77 atau ICD topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis menjadi MUO = Metastase of Unknown Origin atau CUP = Cancer of Unknown Primary. Prognosis 19. Metastase kanker Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat ditemukan tumor primernya (ICD. ICD. C80) : : 1. Non neoplasma : baik 2.

ICD 2. Cacat 2). nyeri tulang. cisplatin. Diagnosis banding : 1. faktura patologis 4. Radiologi : X-foto tulang. MRI. urine. atau radioterapi primer 2. imaging. Scintigrafi tulang 3. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. biopsi tulang. Osteomyelitis 5. ada invasi tumor keluar tulang. Non bedah : 1. patah tulang patologis. fosfatase alkali 4. atau phenomena “union peel = kulit bawanng” pada Ewing sarcoma. Radioterapi : a). CT-scan. derajat diferensiasi sel) Staging T : Klinis. MRI : ada pembentukan tulang baru (Codman’s trangle). pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. USG abdomen. Hematoma c). Keluhan : tumor. Epidemiologi : umur. Operasi : a). Diagnosis 3. fungsi ginjal. Chemoterapi : a). Kemoterapi : dengan kombinasi cyclophosphamide. Masa pemulihan : ± 4-12 minggu 1. Bedah : 1. lokasi tumor 2. Amputasi / disartikulasi 2. paraplegia 2. Fisik : tumor pada tulang dengan invasi keluar tulang. Radioterapi pra atau pasca bedah. patologi spesimen operasi N : Klinis. Infeksi d). paraplegia 2. Tumor jinak tulang 2. paraplegia 3. Penyulit : 1. Informed Consent : Perlu 12. imaging M : Klinis. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah ortopaedi 13. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Ekstemitas : 1). Perdarahan b). Mual/muntah c). Reseksi tulang + transplantasi tulang atau prosthese tulang (limb preserving operation) 2).: C40-C41 : KANKER TULANG : 1. leher. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. cyclophosphamide. Fibrosis 3). Terapi : a. ada “sunrays phenomen” pada osteogenic sarcoma. doxorubicin. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Penyakit : fraktur. Kiste tulang 3. methotrexare 9. CT-scan. Patologi : Biopsi : FNA. scintigrafi tulang). Netropenia b). Radiodermatitis b). Radiologi : X-foto tulang. Kriteria diagnosis 17 . fungsi hati. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait 7. tubuh : Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks / rekonstruksi b. Lemas d). Terapi 1). Kepala. patologi 6. imaging (X-foto toraks. Alopecia 11. Laboratorium : darah. MRI. timbul patah tulang. Radionekrose c). CT-scan.

Prognosis 19. Patologi 17. Chondrosarcoma 4). paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Angiosarcoma 4). Chordoma 9). Malignant mesenchymoma 7). Membentuk tulang atau kartilago 1). Otopsi 18. Hemangiopericytoma 3). Juxtacortical osteosarcoma 3). Hemangioepithelioma 2). Stadium dini : bebas kanker 2. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 18 . Hasil 16.15. Mesenchymal chondrosarcoma 2. Fibrosarcoma 5). Juxtra chondrosarcoma 5). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tindak lanjut : 1. Stadium lanjut : dubius 3. Osteogenic sarcoma 2). Ewing sarcoma 3. Lain-lain 1). Undifferentiated sarcoma 8). Stadium dini : baik 2. Adamantinoma dari tulang panjang : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Giant cell tumor 2). Liposarcoma 6). Lisis tulang 1).

Tumor jinak 2. Fisik : tumor membesar. Radiol : X-foto toraks. terasa berat 2. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. dsb 11. cisplatin 9. imaging (X-foto toraks. Penyakit : invasi ke kulit skrotum. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. ICD 2. Radioterapi : 25-30 Gy 2. tumor testis. Orchidektomi total 2). Operasi : perdarahan. lokal atau difuse. Diagnosis banding : 1. pertanda tumor N : klinis. Orchitis 5. muntah. Keluhan : Testis membesar. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. (USG testis). Penyulit : 1. Kemoterapi : etoposide. densitas heterogen 2). Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. biopsi testis. Stadium dini : bebas kanker 2. Bedah : Untuk non seminoma 1. CT-scan abdomen 2. vas deferen 2. Nodus regional : diseksi kelenjar limfe retroperitoneal b.5 xN (normal) 4. Lokal : 1). nyeri. infeksi 2). AFP. Chemoterapi : mual. urine. Non bedah : Untuk seminoma atau non seminoma 1. USG abdomen. Hidrokel testis 3. Laboratorium : darah. imaging M : klinis. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. BUN. Radiologi : 1). diarhoea. konsistensi padat. Informed Consent : Perlu 12. CT-scan. alopesia. HCG naik > 5 mIU/ml. Lab : AFT naik > 15 ng/ml. paliasi 1. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Masa pemulihan : ± 12-24 minggu 15. HCG 3. Patologi : FNA. Terapi : a. Orchidektomi radikal 2. LDH > 1-1. USG : testis bentuk irreguler. keras. diarhoea. badan lemas. Hasil : 1. nafsu makan turun leukopeni. muntah. imaging. Radioterapi : mual. nafsu makan turun 3). kanan dan kiri tidak sama 3. MRI) 6. badan lemas.: C62 : KANKER TESTIS : 1. Kriteria dignosis 19 . Terapi : 1). Diagnosis 3. USG abdomen.

Granulosa cell tumor : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Seminoma 2. Stadium dini : baik 2. Otopsi 18. Embryonal carcinoma 2). Stadium lanjut : baik 3. Prognosis 19. Embryonal rhabdomyosarc 5). Non seminoma 1). Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Choriocarcinoma 3). York sac tumor 6). Stadium sangat lanjut : dubius : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 20 . Teratoma maligna 4).16. Patologi 17. Leydig cell tumor 7).

Ulkus kronik benigna 3. derajat diferensiasi sel) Staging T : klinis. CT-scan) 6. Bedah : 1. patologi M : klinis. defek mukosa ditutup dengan Thiersch pada tumor T1S atau T1 3).C06 : KANKER RONGGA MULUT Bibir C00. Operasi khusus : a. eritroplasia Querat 4). Endoxan 2). mulut berbau. sering nyeri di mulut 2. imaging (X-foto toraks. Sukar makan & minim 4). Glosektomi total c. Gusi C03. tidak menghilang degan pengobatan konservatif selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrasi 2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau leher 3). MRI 2. FAM : Flouroutacil. Patologi : FNA. Tunggal : a. Eksisi luas lesi trans-oral. Terapi : a. kelaianan gigi. Reseksi palatum / mandibula / pipi + rekonstruksi b. Penyakit 1). mungkin terlihat ada destruksi tulang 4. Non bedah : 1. Cisplatin b. Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir 2). pada T2 keatas Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan diberikan perawatan higiena mulut yang baik b. Kriteria diagnosis : 1. Palatum C05. Pangkal lidah C01. Radiologi : pada X-foto maksila / mandibula atau panoramik. Multifarma : a. Operasi Commando dan rekonstruksi. imaging. Keluhan : ada tumor atau ulkus. Ada lesi pra kanker : seperti leukoplakia. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Diagnosis banding : 1. Rongga mulut lainnya C06 3. Stomatistik 5. spesimen operasi (jenis histologi. biopsi (insisi / eksisi / cakot).: C00 . Adriamycin. Lidah C02. Ada faktor predisposisi seperti merokok. VBM : Vincristin. patologi N : klinis. mudah berdarah. USG abdomen. higiene mulut 3. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. peminum alkohol. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel 2. Trismus 3). ICD 2. Sukar nafas 1. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Nyeri 2). Ada lesi di mulut dapat berupa indurasi. nginang. yang mudah berdarah. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. nodus. Kemoterapi : dengan obat 1). Flourouracil c. Granuloma 4. Methotrexate b. imaging. Tumor primer 1). tumor atau ulkus. Fisik : 1). Diagnosis 21 . Bleomycin. CT-scan. Radiologi : X-foto rahang. sering nyeri. Tumor jinak mulut 2. panoramik. Mitomycin-C 9. Dasar mulut C04. Penyulit : 1.

Informed Consent 12. mulut kering. kiloma. Adenocarcinoma 4). Mal. Stadium lanjut : dubius 3. Fibrosarcoma 2). fitula oro-kutan. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Squamous cell carcinoma 3). infeksi. Prognosis 19. Malignant melanoma 17. Lama perawatan 14. Tenaga standar 13. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Rhabdomyosarcoma 3). Nekrose flap 2). paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Stadium dini : bebas kanker 2. Stadium dini : baik 2. Masa pemulihan 15. Otopsi 18. Karsinoma in situ 2). Operasi : Perdarahan. Terapi : 1). sinus dari implant. Syadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 22 .11. Mesenchymal 1). Hemangiopericytoma : Perlu unuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Adenoid cystic carcinoma 5) Pleomorphic carcinoma 6). Epithelial 1). fibrosis 3). Radioterapi : Mukositis. mukositis infeksi. infeksi. Tindak lanjut 2. Leiomyosarcoma 4). Hasil 16. Chemoterapi : neutropenia. toksis Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. Patologi : : : : : : 2. kawat/plat skrup.

Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 17. Bedah : 1. Diagnosis banding : 1. Diagnosis 3. Non SCC : Sarkoma. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Squamous cell carcinoma 2. Informed Consent : Perlu 12. Hasil : 1. Biopsi lesi. Tumor jinak 2. Lesi berupa plaque merah. erosi atau ulkus terutama di glans atau preputium 2). Lama pemulihan : ± 4-8 minggu 15. Non bedah : 1. BCC melanoma lymphoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yag sebabnya tidak jelas : 1. brachiterapi dengan implantasi irridium 2. Stadium lanjut : dubius 3. cysplatin 9. urine 6. Tindak lanjut 23 . Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. infeksi 11. Radiologi : X-foto toraks. ICD 2. Pembesaran kelenjar limfe inguinal 4. Penyakit : kehilangan penis 2. jenis histologi. CT-abdomen 3. Prognosis 19. Keluhan : benjolan di penis 2. derajat deferensiasi sel 2. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Penyulit : 1. Fisik 1). USG abdomen. Stadium dini : bebas kanker 2. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Panektomi parsial atau total 2. paliasi 16. Radioterapi 40 Gy. pemeriksaan spesimen operasi. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Otopsi 18. Kemoterapi : bleomycin. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. nodus. struktur uretra. tumor eksofitik. Diseksi kelenjar limfe b.1. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Terapi : perdarahan. Kriteria diagnosis : C60 : KANKER PENIS : 1. Conyloma 5. methotrexate. Stadium dini : baik 2. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Terapi : a. Laboratorium : darah.

Fisik : pada payudara terdapat tumor padat keras. umumnya pada permulaan tidak nyeri. bentuk tidak teratur. imaging. Kriteria diagnosis 4. FNA Juga VC / PC dan pemreiksaan patologi spesimen operasi Staging : T : Klinis. 7. ada pembesaran kelenjar limfe ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh 3. Diagnosis 3. tumbuh progresif. bone scan. stellate. USG mamma : ada tumor berbatas tidak tegas. derajat diferensiasi) N : Klinis. Tumor jinak mamma 2. klasifikasi mikro yang tidak teratur b. Mammografi ada tumor batas tidak tegas. hiper-echoic Diagnosis banding : 1. BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery) : a. batas tidak jelas. CT-scan. Radiologi : a. Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi ± diseksi axilla + radioterapi pasca bedah b. ± Reskonstruksi mamma (myokutaneus latisimus dorsi flap) 3). ulserasi Tanda metastase : regional. Klinis 2. ICD 2. melekat kulit / muskulus pektoralis / dinding dada.1. 8. Standar : Mastektomi Radical Modifikasi (Patey / Madden) 2. Displasia mamma 4. Mastektomi Radical Standard Radical (Halstedt) 2). eritema kulit diatas tumor. erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal puting susu 2. Keluhan : tumor atau borok yag mudah berdarah pada payudara. 6. Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau kanker insitu diseksi axilla tergantung dari keadaan kelenjar axilla atau dari biopsi sentinal node 3. biopsi sentinal node M : Klinis. Tumor phillodes 3. MRI) Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Limfoma maligna Pemeriksaan penunjang : Diagnosis : Triple diagnostik : 1. peau d’orange. imaging (X-foto toraks. USG abdomen. Sarcoma jaringan lunak 6. bentuk irreguler. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant 24 . satelit nodule. Mastitis Khronika 5. Alternatif : 1). Mammografi atau USG mamma 3. 5. Bedah : 1. patologi (jenis histologi. imaging. : C50 : KANKER PAYUDARA : 1. dan ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas.

muntah. oedema lengan. Mal. Informed Consent 12. Campuran 1. Tamoxifen. Scirrhus 6). Terapi : 1). sendi bahu kaku 2). Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma 2. Stadium dini : bebas kanker 2. Patologi 17. infeksi. faktura patologis. nekrose kulit tempat infusi. paraplegia 2. Methotrexate. Aromatase inhibitor. Papillary carcinoma 3). Hasil 16. Terapi paliatif dan bantuan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Non bedah 9. Masa pemulihan 15. Stadium lanjut : dubius 3. fibrosis. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. dsb : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 7-14 hari : ± 24-36 minggu : 1. Adriamycin. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Tindak lanjut : 1. GnRH analogue 4. Cribriform carcinoma 4). Pagets disease 7). Fibrosarcoma 2. Carcinosarcoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. oedema lengan. Flourouracil CAF : Cyclophosphamide.b. alopesia. sendi bahu kaku 3). efusi pleura. Kemoterapi : Adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan : CMF : Cyclophosphamide. Tenaga standar 13. Medullary carcinoma 2). paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnose Epithelial 1. Penyulit 11. Variant khusus : 1). Radioterapi : radiodermatitis. Mal. Squamous cell carcinoma 8). oedema lengan. Tumor phyllodes 2. Operasi : perdarahan. Lama perawatan 14. Tempat pelayanan 10. Penyakit : perdarahan. Prognosis 19. leukopenia. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma 3. seroma. Fibrous histiocytoma 4. Flourouracil 3. Stadium dini : baik 2. Mucinous carcinoma 5). Undifferentiated carcinoma Mesemchymal 1. Otopsi 18. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 25 . plebitis. nekrose flap. Kemoterapi : mual. infeksi. Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer 2. nekrose kulit. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan ovariektomi. Liposarcoma 3. infeksi. dll.

Tumbuuh pelan dalam waktu tahunan c). Hematoma 3). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Radiologi : USG mamma / mammografi 3). Sitologi : FNA 4). Tumor kecil di subareoler 4. Kanker payudara 2. Epidemiologi : umur. Infeksi 11. Penyulit : Operasi : 1). Batas tegas d). Patologi : Biopsi. Tumor dapat singel atau multipel (2). Muda. Kulit diatas tumor mengkilat (3). Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma 9. Fibroadenoma mamma : Poliklinik. Permukaan berbenjol-benjol c). Tumor filloides dan papiloma intraduktal : MRS 8. Ada bagian yang padat dan kisteus d). Sangat mobil dalam korpus mamma h). Tumor di mamma pada wanita a). Fibroadenoma mamma : eksisi tumor mamma 2). Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel 3). Fiboadenoma mamma (1). Vries Coup 6. kalau perlu MRS untuk tumor yang multipel 2). Terapi : 1). Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu (2). Pemeriksaan diagnostik klinis : 1). Kriteria diagnosis klinis : D24 : TUMOR JINAK PAYUDARA : 1). Bentuk bulat atau oval e). > 5 cm dan dapat lebih dari 30 cm a). Perawatan RS : 1). faktor resiko 2). dibawah umur 30 tahun b). Diagnosis 3. Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada tanda metastase jauh 2). Fibroadenosis 5. Tumor pada mamma yang besar. Kiste payudara 3.1. Konsistensi padat elastis g). Papillima intra duktal (1). Permukaan halus f). Informed Consent : Perlu ada informed consent 26 . Sangat mobil dari dinding dada (2). Vena subkutan membesar dan berbelok-belok (venaektasi) (4). Diameter umumnya besar diatas b). Konsultasi : Dokter spesialis Bedah Umum Dokter spesialis Bedah Onkologi 7. Tumor filloides mamma (1). ICD 2. Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase 3). Perdarahan 2). Papiloma intraduktal : duktektomi 4). Diagnosis banding : 1.

0-1 tahun : tiap 3 bulan 2). Otopsi 18. > 1 tahun : lepas 27 . Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 0-7 hari : ± 1-2 minggu : Sembuh : 1). Tenaga standar 13. Patologi 17. Lipoma : : Tumor jinak : baik : 1). Tumor phyllodes 3). Hasil 16. Prognosis 19. Fibroadenoma 2).12. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15.

Ukuran besar mamma melebihi ukuran normal b). Dapat uni atau bilateral (2). Hipertrophi mamma (1). Mamma padat. Tanpa tumor yang dominat a). Diagnosis 3. fungsio lesa) b). Kelainan dapat menghilang dan timbul dengan spontan sesuai dengan siklus menstruasi (2). konsistensi padat. ICD 2. Radiologi : mammografi / USG mamma 2). Ginekomasti = hipertrophi pada laki a).2) Tumor umumnya tidak besar. (O92. lokal atau difuse c). Mastitis (1). siklis sesuai dengan siklus menstruasi atau non siklis b).0) atau jamak (N60. Galaktokel puerperalis. Galaktokel Terdapat kiste pada mamma yang berisi air susu (1). Nyeri pada mamma.1) pada satu atau kedua mamma b).8) (2). noduler. Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sediaan beku atau parafin Konsultasi : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi 28 . calor. Displasia mamma N60 (1). Neoplasma jinak payudara Pemeriksaan penunjang : 1). Hipertrofi pada wanita a). N61 (2). Kista mamma Pada aspirasi keluar cairan serous. Fibroadenosis mamma (ICD. 5. Mastitis non puerperalis. : N60 – N64 : DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LANNYA Kriteria diagnostik klinis : 1). (N64. seperti mamma wanita b). Kanker payudara 2). Mastitis chronika Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan areola atau ditempat lain disertai atau tidak disertai dengan tanda-tanda radang 3). rubor.9) Diagnosis banding : 1). Galaktokel non puerperalis. 4. Dengan tumor a). keruh atau seperti nanah dalam kista Kista dapat tunggal (N60. 6. tumor. N60. Mastitis puerperalis (O91) a). Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda radang (dolor. Jaringan mamma subareoler paling sedikit terba sebesar 1½ cm 4). batas tidak tegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau menghilang secara spontan Tumor sering multipel atau bilateral 2). Mamma pria membesar. Sitologi : FNA 3).1.

bila konservatif gagal 2). antiestrogen b). Tenaga standar 13. Prognosis 19. Tindak lanjut : : : 29 . Adenosis (4). Non purulent : antibiotika (2). Tempat pelayanan 10. Adolesesent : reduction mammoplasti (2). Operasi : eksisi tumor. Duct ectasia (5). Hasil 16. tamoxifen (2). Galatokel : (1). EPO.7. antioksidan. Hypertrofi mamma (1). Gynecomasti Baik 3 bulan sampai 1 tahun 9. Papillary cyst (3). Terapi : 1). Simple cyst (2). Bila gagal : eksisi tumor Minimal RS Kelas-C Operasi : 1). Konservatif : dengan testosteron. Displasia mamma (1). Poliklinik 2). Lama perawatan 14. Perawatan RS 8. Patologi : : : : : : : : 17. Tumor displasia mamma (1). Masa pemulihan 15. Operatif : eksisi ginekomasti 4). Infeksi Perlu ada informed consent Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Pasca bedah 2-3 hari Tergantung pada jenis tumornya Sembuh Perlu 1). Perdarahan 2). Otopsi 18. Purulent / abses : insisi & drainage 3). Informed Consent 12. MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara : 1). Penyulit 11. Konservatif : aspirasi kista. Hematoma 3). Aspirasi (2). Mastitis (1). Ginekomasti a). danocrine.

Stadium dini : bebas kanker 2. jenis histologis. infeksi. pada toucher rektum. muuntah. 7). Perawatan RS 8. proktitis. tumor mobil atau melekat dengan struktur disekitarnya.1. Diagnosis 3. Hasil 16. USG abdomen. MRI) : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : Operabel : eksisi anus untuk menyelamatkan sphinter reseksi abdominoperineal (operasi Moles) Inoperabel : Sigmoidostomi Elektrokoagulasi : Radioterapi : 40-50 Gy Chemoterapi : dengan FUFA. Tenaga standar 13. infeksi Radioterapi : radiodermatitis. Adenocarcinoma. Paget’s disease 8). Terapi Operasi : perdarahan. Squamous cell carc. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. anemi 2. patologi M : klinis. gemzar. Basal cell carc. kolonoskopi Radiologi : foto kolon. Mucoepidermoid carc. Bedah b. spincter ani terba tegang. Informed Consent 12. imaging. Tempat pelayanan 10. (X-foto toraks. doubel kontrast Patologis : biopsi. leukopeni. Kriteria diagnosis : C21 : KANKER ANUS : Keluhan : nyeri kalau berak. Penyulit 11. paliasi : Epithelial 1). ICD 2. 4). Penyakit : obstruksi ileus. patologi N : klinis. pemeriksaan histologis spesimen operasi Staging : T : klinis. imaging. 2). Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Endoskopi : rektoskopi. 6). camptothecin. 3). Non Bedah 9. Undifferentiated carc. Polip anus. Terapi a. : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 6. toksis : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah digestif : ± 10-14 hari : ± 24 hari : 1. CT-scan. Basaloid carcinoma. Patologi 17. kistitis Kemoterapi : mual. cisplatin Paliatif : analgetika. Masa pemulihan 15. Otopsi 30 . Kelenjar llimfe iguinal atau pararektal teraba besar Anuskopi / proktoskopi : terdapat tumor di anus 4. 5). Melanoma maligna. Konsultasi 7. nutrisi : Minimal RS kelas-C : 1. Hemorroid 5. Diagnosis banding : Tumor jinak anus. Lama perawatan 14. berak berdarah atau lendir Fisik : Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau polipod di anus. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. derajat deferensiasi sel. EUS.

Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 31 .18. Tindak lanjut : 1. Stadium dini : baik 2. Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3.

indurasi. Terapi : 1). bleomycin : Minimal RS kelas-C : 1. Penyulit 32 . methotrexate. Radiologi : X-foto. CT-scan Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. anemi. bila ada metastase b. operasi tidak dapat radikal. Keluhan : andeng-andeng membesar. patologi M : klinis. CT-scan. SCC 1-2 cm. : C43 – C44 : KANKER KULIT : Melanoma maligna (C43) 1. gatel. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. infeksi. 7. X-foto toraks. defek yang luas di muka 2. tumor eksofitik atau ulkus yang berbau. patologi N : klinis. (C44) BCC = Kanker sel basal SCC = Kanker sel skwarnosa 1. Eksisi luas (pada BCC : tepi irisan ½ -1 cm. indurasi. BCC dan SCC : 5-Flourouracil. USG abdomen. Diseksi kelenjar limfe regional. imaging. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Operasi : perdarahan. nodus. Kemoterapi : 1. 6. Defek kulit ditutup dengan flap lokal atau transplantasi kulit Thierch 2. Leukoplakia 5. ICD 2. Penyakit : perdarahan. melphalan 2. Keratoakantoma 4. Non bedah : Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi. tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman 3. memborok atau mudah berdarah 2. Patologi : biopsi insisi atau eksisi. cisplatin. Kriteria diagnosis 4. Eritroplasia Querat Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Fisik : ada lesi di kulit berbentuk plague. 8. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang menginfiltrasi kulit 3. 5. seroma. Keratosis seborrhoicum 3. Melanoma maligna : Dacarbazine. Thiersch gagal 9. Bedah : 1. imaging. nekrose kulit. Tempat pelayanan 10. infeksi. mudah berdarah 2. nodus. Keluhan : benjolan atau borok dikulit. tumbuh infiltratif. MRI lokal pada lesi 2. Diagnosis 3. Tumor jinak kulit 2. kasus inoperabel atau pada basalioma yang kalau dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi sukar. destruktif atau progresif Ada pembesaran kelenjar limfe regional Diagnosis banding : 1. cisplatin. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional Kanker kulit lainnya. dan melanoma maligna 2-3 cm mengelilingi tumor).1. Posisi : ada lesi di kulit berbentuk plaque.

Prognosis 19. Informed Consent 12. Dermatofibrosarcoma protuberan Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 1. dsb. Lama perawatan 14. Adenocarcinoma 4. muntah. Chemoterapi : mual. diarhoea. Hasil 16. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Tindak lanjut : : : 2). Stadium lanjut : dubius 3. badan lemas. Radioterapi : mual. Tenaga standar 13. Squamous cell carcinoma 3. Otopsi 18. Metatypical carcinoma Melanosit 1. Masa pemulihan 15. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 33 . alopesia. Stadium sangat lanjut : Tidah sembuh. Stadium dini : baik 2. Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. Stadium dini : bebas kanker 2. muntah. nafsu makan turun 3). diarhoea. paliatif Epithelial 1.11. Patologi : : : : : : 17. Malignant melanoma Mesenchymal 1. Basal cell carcinoma 2. badan lemas. nafsu makan turun leukopeni.

1. dapat superfisial atau dalam. tumor abdomen Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Radiologi : X-foto polos. invasi / penekanan struktur vital. Radiologi : X-foto lokal. Eksisi dinding abdomen Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor Radioterapi : 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primer Kemoterapi. imaging. ada bagian tumor yang nekrosis. patologi Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat bervariasi tergantung dari lokasinya. CT-scan. 5. Diagnosis banding : Tumor jinak jaringan lunak. Penyulit 11. MRI tampak tumor berbatas tidak tegas. hematom. anemi. Tenaga standar 13. imaging (X-foto toraks. Masa pemulihan : : : : : : : 34 . Bedah : Tumor di ekstrimitas 1. 8. MRI). di kepala-leher. mengivasi jaringan disekitarnya (tulang. MRI Patologi : biopsi. ICD 2. Diagnosis 3. patologi dari biopsi / spesimen operasi (jenishistologi. Lama perawatan 14. 7. dinding tubuh 1. pemeriksaan spesimen operasi Staging T : klinis. USG abdomen. ada neovaskularisasi. : C49 : SARKOMA JARINGAN LUNAK : Keluhan : tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh progresif Fisik : Tumor subkutan di ekstrimitas. Reseksi dindig toraks 3. CT-scan. Informed Consent 12. Eksisi luas 2. umumnya besar > 5 cm. kulit). misalnya dengan CyVADIC Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyakit : perdarahan. Eksisi kompartment 3. dinding tubuh. leher. Disartikulasi Tumor di kepala. imaging M : klinis. derajat diferensiasi sel) N : klinis. CT-scan. Amputasi 4. Eksisi luas 2. Tumor tumbuh progresif. 6. sesak nafas Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-12 minggu atau cacat seumur hidup b. Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan suatu tumor ganas. dan pada arteriografi tampak tumor hiper-vaskuler. menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya. Kriteria diagnosis 4. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10.

Patologi 17. Liposarcoma 5. Stadium lanut : DFS atau OS diperpanjang 3. Rhabdomyosarcoma 7. Stadium dini : bebas kanker 2. Angiosarcoma 10. Neurofibrosarkoma 3. Otopsi 18. Fibrosarcoma 4. Prognosis 19. Leiomyosarcoma 8.15. Stadium dini : baik 2. Epitheloid sarcoma 9. Mesenchymoma 11. Mesothelioma 12. Tindak lanjut : 1. Synovial sarcoma 6. paliasi : 1. Hasil 16. Malignant fibrous histiocytoma 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Lain-lain : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 35 . Stadium lanjut : dubius 3.

uric acid. SGOT. derajat diferensiasi del) Staging T : klinis. Informed Consent : Perlu 1. eksplorasi laparotomi. nyeri di pinggang. tumor ginjal USG. dsb. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. creatinin. Explorasi laparotomi : tumor dari ginjal Kanker ginjal pada orang dewasa 1). cisplatin 9. SGPT 3. MRI : ada tumor di ginjal. mitomycin. MRI angiografi. berat badan menurun. Radioterapi : mual. 11. imaging. retrograde pyelografi. venacavografi 2. BUN. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. patologi N : klinis. Terapi 1). muntah. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Penyulit : 1. Kiste ginjal 5. urine. hiperpireksi 2). Diagnosis 3. Keluhan : hematuria. doxorubucin. Diagnosis banding : Batu pyelum. nafsu makan turun leukopeni. Angiografi : tumor hyopervasuler 4. Terapi : a. infeksi 2. ICD 2. Chusingsindrom. Laboratorium : darah. Tumor jinak ginjal. eksplorasi laparotomi. Laboratorium : hamatoria 4).: C64 : KANKER GINJAL : Kanker ginjal pada anak-anak 1). ± keluhan paraneoplastik seperti : anemia. Keluhan : hamaturia. Radiologi : IVP. eksplorasi laparotomi. Operasi : perdarahan infeksi 2). Radiologi : a). Retrograde pyelografi : ada ekstensi tumor ke pelvis d). Chemoterapi : mual. badan lemas. Kriteria diagnosis 36 . tumor di pinggang 2). nafsu makan turun 3). diarhoea. Non bedah : Radioterapi : pre atau pasca bedah atau radioterapi primer Kemoterapi : dengan FU. imaging. terbatas atau meluas keluar ginjal c). hipertensi erythro-cytosis. hipercalcemia. IVP : ada filling defek dari calices atau pyelum b). uni atau bilateral 3). patologi 6. Fisik : terdapat tumor di daerah ginjal 3). USG / CT-scan. Patologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. muntah. Fisik : Tumor di pinggang. badan lemas. Bedah : Nefrektomi radikal ± thrombo-embolektomi ± Deseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. Penyakit : gagal ginjal. USG abdomen. MRI : tumor ginjal 4). imaging. CT-scan. CTscan. alopesia. diarhoea. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. patologi M : klinis. Radiologi : IMP : deformitas dari calices.

Rhabdomomyosarcoma e). Masa pemulihan 15. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 37 . Hemangiosarcoma Complex mixed cells a). Stadium dini : bebas kanker 2. Teratoma : Perlu untuk :konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Clear cell carc (hypernephroma) f). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Granular cell carc c). Renal cell carc d). Tenaga standar 13. Patologi 17. Lama perawatan 14. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak : ± 7-14 hari : ± 12-24 minggu : 1. Otopsi 18. Nephroblastoma (Wilm tumor) b). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. paliasi : Epithelial / Adenocarcinoma a). Mal. Stadium lanjut : dubius 3. Papillary carc e). Prognosis 19.12. Tubular carc b). Hasil 16. Carcinoid tumor Mesenchymal cell a). Leiomyosarcoma d). Stadium dini : baik 2. Fibroushistiocytoma c). Fibrosarcoma b).

ICD 2. Kriteria diagnosis : 1. Pyelum : IVP terlihat filling defek di pyelum 4. Diagnosis banding : 1. kistoskopi 3.: D30 : TUMOR JINAK UROLOGI & TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI 3. terlihat tumor kecil di ginjal. padat atau kisteus 3. Pielum : transitional cell metaplasia. Penyulit : 1. glandular metaplasia. squamous cell metaplasia 3). endometriosis. Tumor non neopplasma 1). Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. FNA. Ginjal : IVP. Urolithiasis 3. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Ginjal : USG. squamous cell metaplasia. kreatinine 2. Lama perawatan : ± 2-5 hari 14. spesimen operasi Staging : . Laboratorium : darah. kistografi. untuk diagnosis dan tindakan 8. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Informed Consent : Perlu 12. Terapi : a. Prognosis : Baik 19. Non bedah : 9. urine. Patologi : FNA. TUR. Tumor jinak 1). hamartoma 2). Buli-buli : transitional cell metaplasia. Ginjal : adenoma. Otopsi : 18. Sitologi : urine 4. mioma 2). Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. BUN. squamous cell papilloma 2. Buli-buli : kistografi atau kistokopi terlihat tumor kecil di buli-buli 4. Penyakit : hematuria. retrograde pyelografy 2). Ginjal : kiste ginjal. hematoma. Buli-buli : IVP. Buli-buli : transitional cell papilloma. kiste 17. infeksi 11. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Bedah : 1. USG. Tindak lanjut : - 1. Perawatan RS : Rawat inap kalau perlu. Radiologi : 1). disuria 2.(hanya untuk tumor ganas) 6. biopsi 3). pieloskopi. Pielum : transitional cell papilloma. sitologi. Infeksi 5. TUR b. Eksisi tumor 2. Hasil : Keluhan dan tumor hilang 16. Terapi : perdarahan. fibous polip. Diagnosis 38 . Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi 13. Tumor ganas 2. adenoma 3). Keluhan : hematuria. Pyelum : IVP. fibroma. infeksi 2.

Perawatan RS : Rawat inap 8. pembesaran kelenjar getah bening leher. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. FNAB keganasan (+) 4. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi FND dilakukan oleh dokter spesialis bedah 13. trakheomalaise. USG abdomen. struma adenomatosa 5. mobilitas terbatas. suara serak karena lesi rekuren. Terapi : Total tiroidektomi / near / total tiroidektomi + FND bila metastase ke kgb leher / radiasi ekstera / interna (J-131). Diagnosis banding : Tiroiditis kronis. suara parau. Informed Consent : Perlu 12. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. Hasil : Tumor terangkat secara onkologi / radikal 16. perdarahan 11. ICD 2. gangguan menelan. Prognosis : Tergantung faktor prognostik Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm. tidak ada ekstensi 1. alkalifosfatase 6. sesak nafas. tipe diferensiasi baik. kemoterapi bila ada indikasi. Penyulit : Sesak nafas. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.: C 73 : KARSINOMA TIROID : Benjolan di leher bagian depan. kejang karena hipo-paratiroid. Diagnosis 3. Pemeriksaan penunjang : FNAB X-foto leher (kalau perlu) Untuk staging : X-foto toraks. Substitusiterapi levotiroksin 9. Kriteria diagnosis 39 . Lama perawatan : ± 5 hari 14. ikut bergerak waktu menelan disertai tanda pembesaran yang cepat. konsistensi keras.

Perawatan RS : Rawat inap bila ada indikasi operasi : Keganasan Hipertiroidi yang sudah teregulasi Gejala penekanan Keluhan kosmetik 8. Rekuren. ikut bergerak ke atas bila penderita melakukan gerakan menelan. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Hasil : Struma (-) 16. mata sembab). kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut 1. tambah gemuk. Otopsi : Tidak perlu 18. mudah capek. Penyulit : Lesi N. obstipasi. E 06 : STRUMA : Benjolan / massa di trigonum koli di anterior sebelah bawah. fixed. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13.: E 04. sulit tidur. Terapi : Operasi. jantung berdebar. sering keringatan. sesak (+). macamnya tergantung proses patologis tiroid : M.Basedow ). benjolan keras. Bentuk bisa difus. 4. E 05. Lama perawatan : ± 2 hari 14. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Patologi : Perlu 17. TSH Biopsi aspirsai jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga ganas BMR (pada saat rawat inap) 6. Curiga ganas bila tumbuhnya cepat. Informed Consent : Perlu 12. gelisah. T4. suara parau. Hipoparatiroidi. Hipotiroidi 11. Diagnosis 3. Pemeriksaan penunjang : Faal tiroid : T3. ada pembesaran kgb leher. Hematoma Krisis tiroid (untuk M. diare) atau gejala hipotiroidi (malas. Prognosis : Baik. disfagi (+). Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. ICD 2. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah kurus. ngantuk. uninoduler atau multi noduler. Kriteria diagnosis 40 . Diagnosis banding : 5.Basedow : tiroidektomi subtotal Struma uninodosa : lobektomi subtotal Struma multinodosa : lobektomi / tiroidektomi subtotal (tergantung jumlah lobus yang terkena) Tiroiditis kronis : ismektomi 9.

Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. antibiotika) 9. Prognosis : tergantung penyebab 1. kemoterapi.0 : PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & L : Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila : Pembesaran progresif Tanpa ada radang Ada tumor primer di tempat lain Tidak sembuh dengan antibiotika Benjolan teraba agak keras 4. Masa pemulihan : Tergantung penyebab 15. atau biopsi insisional Pemeriksaan darah lengkap Tumor marker bila ada fasilitas Pemeriksaan serologis (TB-DOT. Hasil : Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi 16. Penyulit : Tergantung penyebab 11. toksoplasma) CT-scan bila ada indikasi 6. Diagnosa 3. Terapi : Sesuai penyebab (radioterapi. Informed Consent : Perlu 12. Lama perawatan : Tergantung penyebab 14. Diagnosis banding : Limfadenitis spesifik / non spesifik Limfoma maligna Metastase dari tempat lain 5. Otopsi : Tidak perlu 18. Patologi : Perlu 17. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. biopsi eksisional. Perawatan RS : Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose 8. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Kriteria diagnosis 41 .: C 77. pembedahan. ICD 2. Pemeriksaan penunjang : FNAB.

3. Perawatan RS 8. Tempat pelayanan 10. makin dini makin besar kemungkinan hidup 5 tahun Perlu Tidak perlu Tumor jinak . 4.VII Fistel liur Sindroma Frey Hematoma Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Bila tumor fixed atau ada metastase kelenjar getah bening leher Dokter spesialis bedah onkologi ± 4-5 hari 2 minggu Tumor terangkat radikal Tumor ganas : daya tahan hidup 5 tahun tergantung stadiumnya.1. Prognosis : : : C 07 TUMOR PAROTIS Benjolan di regio parotis pre/infra/postaurikuler Adenoma parotis Karsinoma parotis Metastase kelenjar getah bening parotis Metastase karsinoma nasofaring Untuk keperluan staging karsinoma parotis : Bila tumor fixed : X-foto mandibula. Penyulit : : 11. Masa pemulihan 15. Hasil : : : 16. Otopsi 18. 2. Lama perawatan 14. Tenaga standar : : 13. Konsultasi 7. Pemeriksaan penunjang : 6. Terapi : : : 9.baik Tumor ganas . Patologi 17. CT-scan bila ada fasilitas X-foto toraks USG hepar Bone survey bila ada indikasi Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan Rawat inap Tumor operable : paratidektomi superticial periksa → potong beku Jinak : parotidektomi superficial Ganas : parotidektomi total Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Lesi N. Informed Consent 12. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding : : : : 5.stadium dini : baik stadium lanjut : jelek 42 .

Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ± 12-14 hari 14. kadang ada fenomena bola pingpong.hipoglosus & n. ICD 2. konsistensi keras. fistel orokutan. Patologi : Perlu 17. Diagnosis 3. Perawatan RS : Rawat inap 8. Pemeriksaan penunjang : Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik Maksila : X-foto Waters + Hap Adanya gambaran kista multiple / single 6. Kriteria diagnosis 43 . tumbuh pelan (bertahun-tahun).: D 16. hematom. Diagnosis banding : Ossifying fibroma Kista odontogenik Giant cell tumor 5. Prognosis : Baik 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10.5 : AMELOBLASTOMA : Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang) tak nyeri. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Lingualis 11. Penyulit : Perdarahan. gigi yang bersangkutan biasanya tak teratur 4. Informed Consent : Perlu 12. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Otopsi : Tidak perlu 18. Terapi : Reseksi mengikutsertakan tulang sehat 1-2 cm dari batas lesi + rekonstruksi 9. Hasil : Tumor terangkat radikal 16. lesi n.

Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. fimfangioma simpleks. Pemeriksaan penunjang : 6. Diagnosis 3. sebagian berbatas jelas. rongga mulut. Tanaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak 13. kecuali bila sangat ekstensif 1. Otopsi : Tidak perlu 18. dinding tipis. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. sering berlobi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Hasil : Benjolan terangkat sebersih mungkin 16. saluran nafas dan phagus) hematoma.1 : HIGROMA KOLI : Benjolan di leher sejak lahhir / bayi. transiluminasi (+) 4. Lama perawatan : ± 5-7 hari 14. Diagnosis banding : Lipoma. Penyulit : Lesi struktur vital (pemb. ICD 2. infeksi. Darah. edema laring 11. Kriteria diagnosis 44 . Terapi : ekstirpasi 9. tak nyeri tekan. Patologi : Perlu 17. kista brankhiogenik 5. membesar sesuai pertumbuhan anak. Perawatan RS : Rawat inap 8.: D 18. hemangioma. saraf. Prognosis : Baik. bisa meluas ke wajah. konsistensi kistik. ketiak atau mediastinum. Informed Consent : Perlu 12.

Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Hasil : Muara kelenjar liur terbuka. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Perawatan RS : Rawat inap untuk operasi 8. Patologi : Tidak perlu 17.: K 11. Prognosis : Baik 1. Informed Consent : Perlu 12. Terapi : Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste 9. Kriteria diagnosis 45 . Penyulit : Perdarahan Infeksi 11. Lama perawatan : ± 7 hari 14.6 : RANULA : Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara lenjar liur sublingual 4. ICD 2. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Pemeriksaan penunjang : 6. Diagnosis 3. kiste terdrainase 16. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Diagnosis banding : 5. Otopsi : Tidak perlu 18.

Tanaga standar 13. Prognosis D 10. Otopsi 18. papiloma. Informed Consent 12. Patologi 17. 7.3 TUMOR JINAK RONGGA MULUT Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma. 2.1. 3. Hasil 16. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Penyulit 11. 5. Masa pemulihan 15. 8. Lama perawatan 14. 6. 4. epulis Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 46 . 9.

Penyulit 11. 7. Hasil 16. 3. Lama perawatan 14.1. 9. 8. Tenaga standar 13. 6. Prognosis TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA & LEHER Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau dileher Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu dilakukan Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Kalau lokal anestesi bisa poliklinis Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 47 . Informed Consent 12. 5. Patologi 17. Otopsi 18. 2. 4. Masa pemulihan 15. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10.

Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Hematom Infeksi Fistel 11. Konsultasi : Dokter spesialis terkait (bila diperlukan) 7. Kriteria diagnosis 48 . Hasil : Tumor terangkat 16. Perawatan RS : Rawat inap 8. Otopsi : Tidak perlu 18. Informed Consent : Perlu 12. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Prognosis : Baik 1. Pemeriksaan penunjang : 6. Patologi : Perlu 17.0 : KISTA BRANCHIOGENIK : Benjolan kistik didepan 1/3 atas m sternokleido mastrideus dileher akibat kelainan kongenital 4.: Q 18. Terapi : Eksisi 9. ICD 2. Diagnosis banding : Higroma Tiroid aberan 5. Diagnosis 3. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13.

4. Hasil : Sembuh total untuk stadium I 16. Informed Consent : Perlu 12. nekrosis. biopsi insisional Untuk keperluan staging : Untuk mengetahui infiltrasi. fistula orokutan.: C 00 – C 06 : KANKER RONGGA MULUT : Lesi di rongga mulut berbentuk bungan kol/ulserasi/peninggian yang tak hilang setelah 4 minggu. chyloma.5 cm diluar jaringan patologis. jelek 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. gigi runcing. Prognosis : Stadium dini. Diagnosis banding : Ulkus kronis benigna. peminum alkohol. Granuloma 5. Bisa disertai metastase pada kelenjar getah bening leher.1. nginang. Diagnosis 3. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. baik Stadium lanjut. Kriteria diagnosis 49 . bila tumor sangat dekat dengan tulang : X-foto mandibula AP + Eisler / panoramic serta X-foto maksila Waters + Hap Mengetahui metastase jauh : X-foto toraks. eritroplakia. biopsi positif. Patologi : Perlu 17. cenderung tumbuh cepat.Penyulit : Infeksi. lesi prakanker berupa leukoplakia. Kemungkinan ada faktor predisposisi seperti merokok. biopsi eksisional 9dengan batas 1 cm keliling tumor) pada lokasi tertentu Tumor > 1 cm. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Otopsi : Tidak perlu 18. k/p rekonstruksi 9. flap. dehisensi luka. Perawatan RS : Rawat inap 8. Pemeriksaan penunjang : Biopsi Tumor < = 1 cm. seroma 11. bisa disertai rasa tebal atau nyeri. USG hepar dan bone survey bila ada indikasi 6. ICD 2. nasograstrik feeding 7 hari. Terapi : Eksisi luas sampai 1 . malnutrisi. Lama perawatan : ± 10 hari 14. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. hygiene mulut jelek.

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnostik 4. Diagnosis banding 5. Pemeriksan penunjang 6. 7. 8. 9. Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan

10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. Otopsi 18. Prognosis

: K 09.0 : KISTA ODONTOGENIK : Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, adanya ganggren radiks atau gigi yang tidak sembuh : Kista radikuler : X-foto mandibula AP / Eisler, atau panoramik X-foto maksila Waters / Hap : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi) : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai : Infeksi Hematoma : Perlu : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah gigi & mulut : ± 5 hari : ± 2 minggu : Kista terangkat bersih : Perlu : Tidak perlu : Baik

50

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: Q 89.2 : KISTA DUKTUS TIROGLOSUS : Benjolan di leher daerah midline setinggi kartilago hioid, batas jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita menelan dan menjulurkan lidah 4. Diagnosis banding : Struma pada istmus Limfadenopati Kista dermoid 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Operasi prosedur Sistrunk 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Fistel Residif 11. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ±3 hari 14. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Hasil : Benjolan terangkat bersih bersama salurannya 16. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik

Kepustakaan : 1. Sukardja IDG, Purnomo B, Tahalele P, Marnadi M, Murtejo U, (EDS) : STANDAR PELAYANAN PROFESI DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA. Edisi I. Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, 2002, Hal. 42-106. 2. Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW, (EDS) : SURGERY, Basic Science and Clinical Evidence. Springer-Berlag New York Inc. 2001, pp 1565-1881. 3. Feig BW, Berger DH, Fuhrman GM, (EDS) : THE M.D. ANDERSON SURGICAL ONCOLOGY HANDBOOK. Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Houston Texas, 2003. 4. Devita PT, Hellman S, Rosenberg SA, (EDS) : CANCER, Principles & Practice of Oncology. 6 Ed. Lippincott – William & Wilkins, 2001. 5. Ramli M, dkk. PROTOKOL PERABOI. BANDUNG 2003

51

KELAINAN BAWAAN (CONGENITAL ANOMALY) KELAINAN BAWAAN WAJAH NAMA PENYAKIT/DIAGNOSE SUMBING/SKISIS, FACIAL CLEFT, ANOMALI KRANIOFACIAL, ANOMALI DENTOFACIAL ICD Q 35, Q 36, Q37, Q75, K07 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan lahir berupa : 1. Celah pada bibir atas 2. Celah pada bibir dan gnatum atas 3. Celah pada bibir, gnatum dan langitan 4. Celah pada langitan saja. 5. Celah pada muka/wajah ( facial cleft), dibagi menurut klasifikasi Tessier 6. Disproporsi kranio-facial atau dento-facial dengan atau tanpa kraniosinostosis Klasifikasi: 1. Syndromic anomaly 2. Non-syndromic anomaly Diagnose banding Tidak ada Pemeriksaan penunjang Foto kepala AP & lateral, CT scan (3 dimensi) untuk sumbing muka Konsultasi Bila perlu : 1. Dokter Gigi : untuk kebersihan mulut dan pembuatan obturator 2. Dokter THT : - bila ada radang telinga tengah, - bila ada defisit pendengaran 3. Speech Therapist : untuk belajar bicara 4. Psikoloog Anak : - untuk pemeriksaan IQ, - untuk defisit kepribadian 5. Orthodontist : untuk perbaikan pertumbuhan gigi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk keperluan operasi berencana. Terapi Bedah Penutupan bibir/labioplasti pada usia 3 bulan keatas. Penutupan langitan/palatoplasti pada usia 15-24 bulan Perbaikan parut bibir operasi pertama pada usia 4-5 tahun Penyempitan faring/faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun keatas. Penambahan tulang(bone grafting) rahang pada usia 8 tahun keatas Perbaikan bentuk muka/maxillary advancement, kalau perlu, pada usia 15 tahun keatas. Bedah kraniofasial atau distraksi osteogenesis untuk anomali kraniofasial dan dentofacial

52

Nonbedah Speech therapy oleh Speech Therapist pada usia 4 tahun ke atas Perbaikan gigi oleh Ortodontist pada usia 9 tahun setelah penambahan tulang. Standar RS Tipe C untuk penutupan bibir/labioplasti, penutupan langitan/palatoplasti Tipe B dan A untuk: - Perbaikan parut bibir - penyempitan faring/faringoplasti - penambahan tulang (bone grafting) rahang - perbaikan bentuk muka/maxillary advancement - bedah kraniofasial Penyulit Untuk labiognatopalatoskisis dan palatoskisis : Karena penyakit : OMP Pendengaran kurang Maloklusi gigi Suara sengau, kata-kata tidak jelas Karena operasi : Parut tidak baik Fistula oronasal Untuk bedah kraniofasial: Gangguan penghiduan karena cedera lamina cribriformis Relaps pada distraksi osteogenesis Informed consent Diperlukan untuk tindakan operasi, operasi dilakukan bertahap, ketepatan waktu operasi sangat mempengaruhi hasil akhir penanganan Masa pemulihan Lama perawatan 2-3 hari : labioplasti (tidak selalu diperlukan rawat inap) 2-5 hari : palatoplasti 5 hari : faringoplasti 5 hari : bone grafting rahang 7 hari : maxillary advancement 10 hari : bedah kraniofasial Tenaga yang berkompeten Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua tindakan operatif. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk sumbing bibir atau unilateral komplit bila tidak ada tenaga Bedah Plastik. Speech therapist untuk terapi bicara Ortodontist untuk perbaikan gigi.

53

St Louis. gigi tak beraturan. M. Ph. London. 1980. Toronto. McCarthy. M. Profit WR. Boston/Toronto/London 2. Philaadelphia. Sydney. Smith.Saunders Company. oklusi baik Kurang normal Parut kasar. Morris. Atas of Craniomaxillofacial Surgery.D. London.D. Fourth Edition. Whitaker LA. Philadelphia. London Toronto. bentuk muka bagian tengah lebih ke dalam.Surgical Correction of Dentofacial Deformities. Philadelphia. suara normal. WB Saunders Company. 1990.B. Tokyo.. Joseph G. 54 . W. Sherrell J. Aston (Edit).Toronto. PA Tak perlu Autopsi/risalah rapat Tak perlu. Tokyo. Munro IR. Brwon and Company. asimetri bibir dan lubang hidung. Salyer KE. gigi geligi tumbuh bagus.wajah. Sydney. bentuk muka normal. Montreal.B.D. 3. Multidisciplinary Management of Cleft Lip and Palate . Toronto. 1991. W. Prognosis Baik Tindak lanjut Penderita keluar dengan keadaan klinis baik.Hasil Normal Bentuk bibir dan hidung simetris. James W. White RP. 5. 1982. Little. Montreal. Perbaikan proporsi estetik kepala.Saunders Company Hacourt Brace Jovaanovich Inc. Jackson IT. . . Mosby Company. parut operasi halus. 1990 4.. Januz Bardach. hasil operasi memuaskan. Plastic Surgery (8 vol) . London. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Hughlett L. Pasien kontrol teratur Kepustakaan : 1. Bell WH. . suara sengau.

Ro foto untuk melihat pembentukan organ telinga tengah bila perlu. 2. Standar RS Tipe B ke atas. kematian flap. Menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada operasi sebelumnya. Penyulit Infeksi.0. Perawatan RS Rawat jalan kecuali operasi. 3. Tiga-empat bulan setelah operasi I dibentuk telinga dengan pengangkatan tulang rawan yang sudah ditanam pada operasi I. Operasi satu tahap (sandwich technique) 4. Q16.1. Operasi pemasangan tissue expander. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 4-7 hari untuk tahap I 7 hari untuk tahap II Bergantung pada tindakan untuk tahap III Masa pemulihan Berkisar antara 2-3 rninggu untuk tahap I 2 minggu untuk tahap II 55 .Microtia ICD Q16. Q17 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan pada daun telinga berupa telinga kurang terbentuk/kecil Diagnosis banding . dilanjutkan operasi berikutnya penanaman rangka tulang rawan. Pananaman rangka tulang rawan. Terapi Rekonstruksi telinga dapat berupa: 1. Konsultasi Spesialis THT bila ada defisit pendengaran.tak ada Pemeriksaau penunjang .

. Hon. Brown and Company. Tokyo. Montreal. W.B. 1991.).S.C.). M.. Fourth Edition. Edinburgh london and New York.R. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Philaadelphia. Emergency Plastic Surgery . 1991.(Eng. M. McCarthy. PA .A. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Plastic Surgery (8 vol) . London Toronto. Ian A.S. F. Joseph G. Kepustakaan : 1. McGregor M. Sydney. (Glasg. 56 .. F. 4. Churchill Livingstone. Sherrell J.tak diperlukan.Luaran Sembuh dengan telinga bentuknya mendekati normal. Aston (Edit). Boston/Toronto/London. Ch. Brwon and Company.B.D. Greco (Edit) . 1990. Little.Saunders Company.R.tak diperlukan Autopsi/ risalah rapat .S. Richard J. 3. James W. 2. . Boston/Toronto/London. Little. F. 1980. Smith.C.C.

daerah perineum. Standar RS Tipe B keatas Penyulit Fistula urethra Divertikel urethra Stenosis meatus Informed consent Perlu untuk opcrasi Standar tenaga I)okter Spesialis Bedah Plastik Dokter spesialis Bedah Urologi Dokter Spesialis Bedah Anak Lama Perawatan Masing-masing tahap memerlukan perawatan 7 hari. rekonstruksi urethra.KELAINAN BAWAAN GENETALIA Nama Penyakit/Diagnosis Hipospadi ICD Q54 Difinisi Kelainan bawaan berupa meatus uretra eksterna terdapat di bagian ventral dan letaknya lebih proksimal dari letak yang normal. daerah skrotum. ada atau tidak ada korde. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk tindakan operasi Terapi Tahap I eksisi korde Tahap II berjarak paling sedikit 6 bulan setelah tahap I. Konsultasi Bagian Kesehatan Anak untuk pemeriksaan kromosum seks. Pemeriksaan fisik Meatus urethra eksterna terletak lebih proksimal dari letak normal : bisa dibatang penis. Kriteria diagnosis Cacat bawaan berupa muara urethra terletak lebih proksimal dari biasanya. Penis bengkok kearah ventral karena ada korde. Masa pemulihan Batu urethra Striktura urethra Sisa korde Untuk masing-masing tahap selama 2 minggu 57 . Pemeriksaan penunjang Kromosum seks bila ada kesulitan identifikasi jenis kelamin. bilq perlu. tergantung metoda operasinya.

). Edinburgh london and New York. Hon. 3.). Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Sydney. 1980. 4.S. James W.R.. Churchill Livingstone. F. Ch. (Glasg. Tokyo. McCarthy.S. Brown and Company. Boston/Toronto/London 58 . Richard J. W. M. Grabb and Smith's Plastic Surgery. F. Emergency Plastic Surgery .. Little. M.C.C. 1991. Joseph G.(Eng. 1991. .A. Ian A.C. F.B. Smith.B. Fourth Edition.S.. Little. 1990.D. Montreal. Philaadelphia. Brwon and Company. Greco (Edit) . Aston (Edit). McGregor M.Saunders Company. Boston/Toronto/London 2.Luaran Sembuh dengan penis lurus dengan meatus uretra eksterna letaknya di ujung penis.R. PA tak perlu Autopsi/risalah rapat tak perlu Kepustakaan : 1. Sherrell J. London Toronto. Plastic Surgery (8 vol) .

Fraktur maksila 3. Persiapan operasi.Gangguan pergerakan bola mata.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen jenis dan proyeksi bergantung pada keperluan (Foto tulang muka AP & lateral. dibagi menjadi beberapa jenis fraktur : 1. sprain & strain ligament dan sendi) Patah tulang muka. Pemeriksaan . Fraktur sinus frontalis /nasofrontal 6. asimetri .Perdarahan lewat lubang hidung dan mulut. Fraktur zigoma 4.Untuk tiga jenis yang pertama bisa ditemukan maloklusi .Teraba diskontinuitas tulang Diagnose banding . hematome atau edema pada tempat benturan .Deviasi hidung atau septum nasi . 59 . salah satu hidung terasa tersumbat.Adanya deformitas wajah.TRAUMA Trauma Kranio-maksilo-facial (Fraktur tulang wajah) ICD SO2 (Fracture of skull and facial bone) ICD SO3 ( Dislokasi. Dokter Spesialis Saraf (untuk cedera kepala). foto TM joint) Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Saraf. diplopia. Fraktur dasar orbita.Gangguan membuka dan menutup rahang bawah . Fraktur mandibula 2. fraktur Processus alveolaris 7. atap orbita 9. Perawatan RS Rawat inap: Bila memberikan gangguan saluran napas. distopia . Dokter Spesialis Mata bila dengan cedera bola mata. Foto panoramic. Prosedur lengkap Kriteria diagnosis Anamnesis Terdapat riwayat trauma pada tulang muka. septum nasi. Water`s photo/Reverse Water`s. Dislokasi sendi TMJ. Fraktur regio sendi temporomandibula 8. Fraktur hidung 5.

. McCarthy. bervariasi bergantung pada jenis berat fraktur Masa pemulihan Untuk 3 fraktur pertama 8 minggu atau lebih. PA Tidak ada Autopsi/ risalah rapat Tidak ada. W. Informed consent Diperlukan tertulis Standar tenaga Personil unit gawat darurat pada pertolongan pertama Dokter Spesialis Bedah Umum untuk fraktur mandibula simple dengan luka terbuka menggunakan fiksasi non rigid Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 2 sampai 20 hari. London Toronto. B. M. Joseph G. James W. Plastic Surgery (8 vol) . Sydney. 1990. normal. Untuk fraktur lainnya 2 rninggu. Brwon and Company. 1991. Grabb and Smith's Plastic Surgery.D.Saunders Company. C Penyulit 1. Pertimbangan estetik dan fungsional harus diberikan dan dijelaskan sebaik-baiknya kepada pasien. Infeksi 3. Gangguan bentuk atau fungsi 2. Boston/Toronto/London 2. Sembuh dengan deformitas/cacat fungsi. Sherrell J. dan trauma berat lainnya sudah diatasi. Operatif Dilakukan apabila keadaan intrakranial sudah stabil. Smith. 60 . Standar RS Tipe A.B. Philaadelphia.Terapi Konservatif Bila tidak memberikan gangguan fungsi maupun bentuk dan fraktur dianggap cukup stabil. Tokyo. Aston (Edit). Little. Luaran Sembuh. Fourth Edition. Kepustakaan : 1. Kematian bila ada cedera kepala berat. Montreal.

B.C..D.). 1990. ..S. M. 1987. New york.D.M. Patrick Derome . . 13. Melbourne.. Internal Fixation of the Mandible. Atlas of Craniomaxillofacial Surgery .C.. New York.R.. Jackson. Della Rocca. Edinburgh london and New York 4.C. McGregor M. Springer-Verlag Berlin. Lemke.D. Ch. Edinbergh. Brown and Company.A. London. Paris. Tokyo.. Richard J. Little. Marcel Woillez..M. Sherman.B.C. Tokyo.S. D. Leonard B. Mexico City.D. Norman. Milan. B. 7. Heidelberg. 1980.. F. M.B. Keith. New York. Craniomaxillofacial Trauma ..S.R. F..(Edit) . F..S.R.B.D.3. 1995 10. M. 1989.C. David & D. Mosby Company. Atlas of Oral and Maxillofacial Surgery . 11.B.FACS. Kaban.A.S. Ian A.S. Ian T.. London. Toronto. Prentice-Hall International Inc. Louis.Saunders Company. Montreal. New York and Tokyo.D.D.S. Whitaker. John E.V. 1990. M. 1981 9.. Melbourne. Philadelphis.. F. Sydney. F. Montreal. Craig A. London. W. Toronto.(Eng.S. M. Kenneth E. M.C. David A. Tokyo. F.A. F. W.©. Bernd Spiessl .Saunders Company. Boston/Toronto/London 5.D. Foster.S. Rio de Janeiro. 1992. D. London. . Linton A. M. M. D..S. Emergency Plastic Surgery . Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 12... Toronto.. A Manual of AO/ASIF Principles .C.R. Paris. London. Masson publishing USA. Hong Kong.J.. Simpson . Francois Hervouet. Bradley N. Inc.C. 1982.A. FACS. Churchill Livingstone.S.. Paul Tessier. 1991.D. 8.). (Glasg. F. Philadelphia. M. Surgery of the Eyelids & Orbit an Anatomical Approach . Sydney.R. Jacques Rougier.C. London. Greco (Edit) . . 6. Plastic Surgery of the Orbit and Eyelids . Hon.A.D. Salyer.D. Barcelona. St. John E. 1990 61 . Churchill Livingstone.. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery . Madrid. Surgery of Facial Bone Fractures . Edinburgh. Ian R. Munro. A Textbook and Colour Atlas of The Temporomandibular Joint . Michel Lekieffre. Wolfe Medical Publications Ltd. deB. London. D. F. Churchill Livingstone.. MD.S. Robert C. The C. Paul Bramley (Edit) .

Skin graft (tandur kulit) pada luka terbuka yang tersisa.bisa tanpa luka (closed avulsion /degloving ). S41.S51.S61) Avulsi kulit Kritcria diagnosis terlepasnya kulit dari dasar/kulit sekitarnya. Hanya pencucian luka tidak dijahit. sebagian besar atau total.Tipe A atau B.tak ada Pemeriksaan penunjang . Terapi Penyulit Penilaian vitalitas kulit yang terlepas dan pembuangan kulit yang ternyata mati.tak ada Perawatan RS .tak ada Konsultasi . Luaran PA Sembuh baik Sembuh dengan cacat.SO9) Crush injury kepala dan muka (SO7) Cedera kulit dan jaringan lunak ekstremitas (S40.bisa dengan luka (open avulsion /degloving) Diagnosis banding .Cedera kulit dan jaringan lunak Cedera superfisial dan luka terbuka daerah kepala dan wajah (ICD SO0.tak diperlukan 62 .delayed STSG Drain untuk closed avulsion /degloving Kematian sebagian atau seluruh kulit yang terangkat Infeksi Parut yang jelek. Informed consent Diperlukan tertulis Lama perawatan 2 rninggu atau lebih Lama pemulihan 4 rninggu sampai 1-2 tahun tergantung faktor-faktor yang menyertainya.S57. SO1.S50. Penjahitan situasi tanpa tegangan sisa kulit yang masih vital. S60. .

F. London Toronto. Plastic Surgery (8 vol) . 1991.).S. M. (Glasg.B.Saunders Company. Emergency Plastic Surgery . M. Boston/Toronto/London Stephen J. McGregor M.C. Churchill Livingstone. Sydney.(Eng. Brwon and Company.tak diperlukan Kepustakaan : o James W. Little.V. Toronto. Tokyo.B.). Smith. 1991. Greco (Edit) . Joseph G. Clinical Atlas Of Muscle And Musculocutaneous Flaps .S. 1979 o o o o 63 .. Ch. Little. Montreal. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.C. 1980. Philaadelphia.S. .A. Aston (Edit). Ian A.R. Brown and Company. Sherrell J. London. W.Autopsi/risalah rapat . Edinburgh london and New York.R. louis. Mosby Company. Foad Nahai . Richard J. Mathes. Hon. McCarthy.D.. The C. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Boston/Toronto/London. F. St. 1990. Fourth Edition.C.. F.

Operasi replantasi dengan rnikroskop + instrurnen Bedah mikro.amputasi partial. Vulva) dan ekstremitas ICD S08 ICD S38.Radiologis Konsultasi .Bedah mikro dan bedah tangan Diagnosis Amputasi Organ (Avulsi kulit kepala.2 ICD S48. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik.Laboratorium .tak diperlukan Perawatan RS Rawat inap segera untuk persiapan operasi. S68 Kriteria diagnosis Terpisahnya sama sekali bagian atau ekstremitas dari tubuh tersebut Clean cut (amputasi secara tajam) atau bukan. hidung. Telinga. S58 ICD S67. Pemeriksaan penunjang . 64 . Diagnosis banding . penis. Terapi Amputasi dirawat sebagal berikut: Masukkan kedalarn kantong plastik bersih (tanpa cairan) Kantong tersebut ditutup rapat lalu dirnasukkan ke kantong kedua berisi air biasa (2/3 bagian) + potongan es (1/3 bagian). Standar RS: Tipe A Penyulit Perdarahan Trombus Infeksi Kegagalan replantasi akibat thrombus. Sebaiknya tindakan ini dilakukan segera di tempat kejadian.

James W. Philaadelphia. Aston (Edit). Churchill Livingstone.D.Tokyo. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Ian A. Brwon and Company. Greco (Edit) .C. London Toronto.A. M.(Eng. (Glasg. F. M. Joseph G. 1991.S. Robert A.B.). 65 .Chase .Saunders Company. PA .Philaxdelphia.B. Hon. Little. Atlas of Hand Surgery volume 2 1984 W.tak diperlukan Autopsi/risalab rapat . Montreal.S. W. F. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Richard J.Saunders Company.R. Plastic Surgery (8 vol) . Sydney.tak diperlukan Kepustakaan : 1.C. Little. Smith.Mexico City. Emergency Plastic Surgery .Toronto. Boston/Toronto/London. 1980. McCarthy.. 1991.B. Ch. Tokyo. 1990.Lama perawatan 10 hari sampai 1 bulan Masa pemulihan 6 minggu sampai setahun.R. 2.C. Luaran Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik. Sembuh kurang sempurna Gagal. Sherrell J.. 3. Brown and Company.S. . 4. F. Edinburgh london and New York. Fourth Edition.).London. McGregor M. Boston/Toronto/London 5..

Pemeriksaan 1. Terapi Didahulukan penanggulangan terhadap gangguan jalan nafas dan sirkulasi Perawatan Intensif Luka Bakar Perkiraan jumlah dan pemberian cairan dengan menggunakan rumus Baxter: Hari I diperkirakan memerlukan: berat badan dalam kg x % luas luka bakar x 4 cc ringer laktat. Luas luka bakar dalam %. bila dalam kerusakan pada seluruh dermis III: kerusakan lebih dalarn dari dermis (sudah mengenai subkutis) Dalam penilaian derajat I tidak diperhitungkan. Lokasi luka bakar. untuk kemudahan menggunakan rumus 9. Escharotomy untuk daerah dada dan extrimitas pada eskar yang konstriktif 66 . Derajat kedalaman: I: hanya eritem II: bila superficial kerusakan sampai sebagian dermis. 3. 4.retardasi mental Penderita tidak mampu merawat dirinya sendiri. radiasi. Komplikasi penyerta seperti syok hipovolemik. Derajat III > 2%. panas. listrik. 5. Luka bakar disertai trauma berat lain: inhalasi dan sebagainya.perineal/genital Disertai trauma penyerta lain atau penyakit sistemik berat lain.tangan .Combustio /Burn Injury/ Luka Bakar ICD T20-T25.kaki. kimia.tak ada Pemeriksaan penunjang tak ada Konsultasi Disiplin ilmu lain sesuai dengan penyakit yang menyertai atau komplikasi yang timbul. 15% pada dewasa. Luka bakar daerah wajah. Penyakit premorbid Diagnosis banding . cedera inhalasi dan cedera penyerta 6. Hari berikutnya pemberian cairan hipertonik. Perawatan RS Rawat inap untuk : Luka bakar derajat II / III lebih dan 10 % pada anak-anak. T26-T35 Kriteria diagnosis Anamnesis Ada riwayat trauma bakar karena api. Luka bakar listrik.

Parut hipertrofi dan kontraktur. 4. Standar RS Tipe B dan A untuk yang berat. Bila penyebab adalah bahan kimia. 3 x berturut-turut. selanjutnya berdasarkan hasil kultur 4. Toksoid 1 cc untuk tiap 2 mg. Antibiotika (bila luka kotor) ada infeksi sistemik. Derajat II dalam Derajat III. Eksisi tangential dini dan skin grafting setelah pasien stabil. Gangguan saluran napas Gangguan sirkulasi bila berlanjut dapat rnenyebabkan kegagalan organ multipel. 9. 6. superfisial obat topikal untuk luka 2.Terapi pada luka: 1. Sukrafat untuk protekor mukosa lambung. saluran napas. Kematian. Luaran Sembuh dengan kecacatan warna kulit saja sampai kecacatan berat. mungkin 2 tahun atau lebih bergantung pada parut yang terjadi. Diet kalori dan protein tinggi. Perawatan seluruh pasien di Burn Unit bila fasilitasnya sudah tersedia Penyulit 1. Paramedis yang berkecimpung pada perawatan luka bakar Lama perawatan Sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan luas luka. 67 . 3. Dirawat sampai luka lebih kecil dari indikasi perawatan. Ulkus stres. perlu dibilas secara tuntas dengan air segera pada jam-jam permulaan. Masa pemulihan Sangat bervariasi. saluran kemih. Derajat II. dengan cedera inhalasi. ATS diberikan pada semua yang belum pemah mendapat toksoid. 5.nutrisi enteral dini 7. Kelebihan atau kekurangan cairan maupun elektrolit. 6. Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Dokter Spesialis Bedah yang berkecimpung pada luka bakar ( Burn Surgeon) Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua luka bakar. 5. 2. 7. Infeksi pada kulit. obat topikal yang dapat menembus skar (silversulfadiazin) 3. Fisioterapi 8. Dokter Spesialis Anestesi. untuk jangka panjang Deformitas penampakan yang hebat. Informed Consent: Diperlukan Standar tenaga Dokter Umum untuk luka bakar rigan. tidak dapat menggerakkan sendi-sendi.

1987. FACS.Saunders Company. Fourth Edition. Emergency Plastic Surgery . Curtis P.S. Durban. Sydney.D.R. F. Greco (Edit) . Barclay. Toronto.. 68 . BURN A Team Approach . Sydney. M. I. Boston/Toronto/London 4. MRCS. VRD. MBE.B. McCarthy.B. W. Sherrell J. 1991.A. Boston. John A.F. 5. W. Burn and Their Treatment ... Churchill Livingstone. Settle. Little. Kepustakaan : 1.Artz MD.D.. Little. LRCP. Brwon and Company.K.). McGregor M. 6. Third Edition . MB.. Edinburgh london and New York. 1980.C. London Toronto. Aston (Edit). Mphil. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 1990 3.JR.(Eng. MD.R.Pruitt. 1991. 1979. Toronto. James W. FRCS(Ed) and John A.).. Boston/Toronto/London. FRCS(Ed). Wellington.L. Muir. (Glasg. Grabb and Smith's Plastic Surgery. FACS. F.B. T. M. FRCS... Philaadelphia. Philadelphia. Joseph G.S. MB. Brown and Company.D. Smith.Moncrief.Saunders Company. Basil A. London. Singapore.S. Montreal. Plastic Surgery (8 vol) . Hon. Richard J.. Ian A.C. FRCS. London. 2. FACS. Butterworths. Tokyo..C. . OBE. M. DA .PA tak diperlukan Autopsi/risalah rapat mungkin diperlukan bila terjadi kematian. F. Ch. MS. ChM.

Kriteria diagnosis Semua keluhan yang menyangkut masalah penampilan. Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Penyulit Seperti halnya pembedahan umumnya dan hal khusus misal parut berlebih Masa pernulihan: bervariasi 69 .BEDAH PLASTIK ESTETIK/KOSMETIK ICD Z41. Y98 Semua masalah mengenai estetika yang bisa ditolong dengan pembedahan termasuk diantaranya : Estetika untuk cacat bawaan Estetika untuk cacat yang didapat Estetika untuk proses ketuaan Estetika untuk masalah psikososial . tidak selalu perlu rawat inap. Perawatan RS Pasca operasi. Z42. dll. Terapi Operatif Mengubah penampilan pasien dengan menambah-mengurangi-menggeser jaringan yang diperlukan. Estetika lain yang tidak bisa dipisahkan dari bedah plastik rekonstruksi. Z44.tidak ada Pemeriksaan penunjang bila diperlukan: Laboratorium Radiologi dan lain-lain KonsuItasi Dokter Spesialis yang dianggap perlu. Sernua keluhan yang pada dasarnya ingin mengubah penampilan kearah yang lebih baik/ harmonis. misalnya : Rhinoplasti Blepharoplasti Mentoplasti Mammoplasti Lipodistrofi. Diagnosis banding .

R. 3.. Smith. Heidelberg. New York. London Toronto.(Eng. Berlin. Robinson. Inc. Guide to Dental Problems for Physicians and Surgeons . Manual of Technique . R. Hinderer (Edit) . . 1990.S.B. 1993. FACS. Calhoun. Saunders Company. W. 7. Cranio-Facial Deformities. 10. 1991.S. Toledo . David. 18. Flaps in Head and Neck Surgery . Thaller. 1988. 13. 1994. M. Brwon and Company.. Thieme Medical Publisher. Excerpta Medica. 6. Cooter . Boston/Toronto/London.Informed consent Perlu benar dijelaskan sebelum dilakukan operasi bahwa hasil yang dicapai adalah sejauh kemampuan-pengalaman dokter. 8. 11. Montreal.S. Ch.).D.G..JR. Stuttgart. BURN A Team Approach . New York. Tokyo. Rhinoplasty . F. Budapest. Richard J.C. . Luiz S. Philadelphia. FACS. 1992. FACS. Arndt. Hong Kong. M. Karen H.C. Aesthetic Facial Surgery .D. Surgery Of The Lip . (Glasg. Le Boit.. Paris. F. Color Atlas of Aesthetic Surgery of The Abdomen : Thieme Medical Publishers. Seth R. New York..A. Joseph G. New York.. Deep Face-Lifting Techniques .B.). Philadelphia. Philadelphia. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.Artz MD. Gregory P. Montreal. Lewis. Georg Thieme Verlag. Little. New York. James Roller . Montreal. M. Curtis P. J.. 4. 2.. Marco Gasparotti. Thieme Medical Publishers. Aston (Edit). Barcelona. Wintroub : Atlas of Cutaneous Surgery . London. Springer-Verlag.D. Inc. Saunders Company. Baltimore. Second Edition . Regan Thomas.. Boston/Toronto/London. Jorge M. New York. 16. Sydney. Hon. W. Little. Sydney.B. Stiernberg . 9. Tokyo. William W.Moncrief. 1992. Sydney. Sydney. Thieme Medical Publishers. Toronto. (Edit).A. Tokyo. John Conley Carl Patow . Sherrell J. T. Toronto. Henriksson. Thieme Medical Publishers. Brown and Company. F. 1991. Fourth Edition. Jorge M. Carson M. Montreal.Pruitt.B.T. ainc.C. 1990. 1980. Psillakis (Edit) . .C. M.S. Brown and Company. 1987. 15. McCarthy. Philaadelphia.. James W.R. Inc. Basil A. F. Emergency Plastic Surgery . Kepustakaan : 1. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Philadelphia. W. D. Psillakis. Adelaide. W. Plastic Surgery (8 vol) . John A. Toronto.B. Erdulfo Appiani. London. Tokyo. International Congress Series 935. London. London. Montgomery .J. Volume 1 : Lectures and Panels . McGregor M. Plastic Surgery 1992 . 1991. M.D.Saunders Company.. Superficial Liposculpture. Edinburgh london and New York. Boston/Toronto/London. 1979.Saunders Company. 5. New York. Lipoplasty The Theory and Practice of Blunt Suction Lipectomy . Hong Kong. Cutaneous Facial Surgery . Little. John Q Owsley. Saunders Company..B. 1992. 12.. Australian Cranio-Maxillo-Facial Foundation. Toronto. 1994. Greco (Edit) . 1989. Churchill Livingstone. Inc. W. Rafael de la Plaza . London.D. Amsterdam-London-New YorkTokyo. London. Charles M.. Ian A. 17. M. Hetter. 70 . U. Tokyo. An Introductory Guide . MD. Sydney. 1996. 14. Luaran Penampilan pasien setelah operasi plastik tambah baik dan terdapat peningkatan kepercayaan dirinya. 1994. Fernando Ortiz-Monasterio.D. Williams & Wilkins.

U. Warren H... Green. (Edit) . Inc. Berlin. Heidelberg. 20.D. 71 . St. New York. Louis. Bernd Spiessl (Edit) . Missouri. M. Marwali Harahap. 1996.S. Skin Surgery . New Concepts in Maxillofacial Bone Surgery : Springer-Verlag.19.A. 1985.

Luaran Sembuh normal. Informed consent Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedali Plastik Lama perawatan 7-10 hari. Diagnosis banding .GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA Kontraktur ICD N 940 S/D N 949 Kriteria diagnosis Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses kontraksi pada penyembuhan luka. tak ada gangguan gerakan. PA .tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi. Masa pemulihan 3 minggu atau lebih tergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya.B Penyulit Nekrosis flap/graft. Konsultasi . Standar RS TipeA .tak ada Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Release kontraktur dan graf/flap. Masih tersisa sedikit akibat kontraktur.tak diperlukan 72 .

. James W. Sherrell J. Edinburgh london and New York. . Sydney.R. Montreal.Saunders Company.(Eng. F. 1980. F. Brwon and Company. 73 . 1991.D.Autopsi/ risalah rapat . Ian A.R.S. Greco (Edit) .C. London Toronto.tak diperlukan. Plastic Surgery (8 vol) .). Kepustakaan : 1. Richard J. Little. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.). Boston/Toronto/London.. Ch.B. Philaadelphia. M.C.. Hon. Fourth Edition. Boston/Toronto/London. F. Emergency Plastic Surgery . 1990.B.C. Grabb and Smith's Plastic Surgery. McCarthy. Brown and Company. Tokyo. McGregor M. M. Joseph G.A. Churchill Livingstone.S. 4. W. 3. 2. Smith. Little. Aston (Edit).S. 1991. (Glasg.

Balut penekan Bedah Eksisi kalau perlu full thickness skin graft. Parut hipertrofik: bila parut yang menonjol tidak melebihi batas luka awal Diagnosis banding Fibrosarkoma Pemeriksaan penunj ang Tidak ada Konsultasi Dokter Spesialis Patalogi Anatomi bila perlu.Keloid dan parut hipertrofik ICD L90. Dokter Umum untuk suntikan kortikosteroid. Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang.5. dilanjutkan dengan Radiasi atau suntikan kostikosteroid pascaeksisi. sakit) berkepanjangan. Standar RS Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid. Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi. Dokter Spesialis Radioterapi untuk radiasi. Karena operasi Residif Informed consent Diper1ukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik. 74 . L91 Kriteria diagnosis Keloid: parut yang menonjol menyebuk ke kuilt yang sehat jauh diluar trauma dengan tanda-tanda inflamasi (tambah besar gatal. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Farmakologis Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal. Penyulit Karena penyakit Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian.

(Eng. Montreal.Bila ada keraguan dengan sarkoma Autopsi/risalah rapat Tidak diperlukan. Little. Little. Hon. M.C. 75 .S. M.S.R.). McGregor M. London Toronto. . F.Lama perawatan 1 hari – 2 minggu.D. Joseph G. Brown and Company. Tokyo. W.Saunders Company. Edinburgh london and New York. Aston (Edit).. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Sherrell J. 1990.. Boston/Toronto/London. Churchill Livingstone. Richard J.C.S.A. 1991.C. 1991. Emergency Plastic Surgery . Ch. Plastic Surgery (8 vol) . 2.). James W. Luaran Sembuh dengan estetika baik Residif Depigmentasi akibat radiasi PA . Fourth Edition. F. Kepustakaan : 1.R. Brwon and Company.B. 4. Greco (Edit) . (Glasg.. Ian A. 1980. Philaadelphia. F. Sydney.B. Smith. Boston/Toronto/London. Masa pemulihan Sangat bervariasi. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 3. McCarthy.

Benjolan pada kulit atau subkutis. Standar RS. tumbuh progresit. 2. Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi. 3 dan 4. 4. ada sejak lahir atau timbul dekat-dekat kelahiran. 2.4. Tattoage untuk 2. tak sakit 2.TUMOR KULIT DAN JARINGAN LUNAK Hemangioma ICD D18 Dibagi menjadi: 1. Tipe C untuk suntikan sklerosing. sedikit menimbul. tidak sakit. kortikosteroid. Campuran 1 dan 3 Diagnosis banding Fistula A-V Pemeriksaan penunjang kalau perlu arteriografi. 3 dan 4. 3. Laser untuk 1.2. stasioner. Hemangioma kapiler simpleks/jenis strawberry Hemangioma kapiler jenis "port wine stain" atau nevus flamus Hemangioma kavernosa Hemangioma campuran l dan 3 Kriteria diagnosis 1. kebiruan. Tipe A untuk embolisasi dan laser. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir. eksisi dan perban penekan. dapat ditekan kempes. Nonbedah Observasi atau ditambah perban penekan untuk 1. Kortikosteroid untuk 1. kalau perlu skin graft untuk 1. bila perlu Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi Terapi Farmakologis Suntikan obat-obat sklerosing untuk 1. 4. rata (bisa menimbul setelah dewasa). timbul setelah lahir. 76 . 3. Embolisasi (kalau perlu) baru eksisi untuk 3 dan 4. Bedah Eksisi. Cacat berupa bercak merah pada kulit. 3 dan 4.

e. irregular. Estetik jelek. lebih tebal. PA . Masih tersisa.Penyulit Karena penyakit Perdarahan pada 1 . Junctional naevi: sifatnya rata/tidak menimbul. d. Informed consent Diperlukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Radiologi untuk embolisasi Dokter umum untuk perban penekan. tepi irregular. pigmen menyebar ke jaringan kulit sekitarnya.tak perlu Autopsi/risalah rapat - tak perlu. lebih gelap/mengkilat dari kedua jenis lainnya.1 bulan atau lebih Luaran Sembuh dengan estetika bagus. Cacat berat pada daerah yang terkena 3 dan 4. lebih banyak dijumpai pada anak dan remaja. di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. Compound naevi: tumbuh perlahan. Nevus Ota: lesi berwarna biru kehijauan. lokasi tumor pada dermis b. warna kurang gelap. Dysplastic Naevi:lesi berpigmen. dapat tumbuh rambut. perlahan menebal atau melebar. umumnya dengan multiple nevi. lokasi tumor dari epidermis hingga dermis. distribusi mengikuti pola nervus V. umumnya mengenai wanita 77 . Pigmented lesion/Melanocytic naevi ICD D22 a. 3 dan 4. Lama perawatan 1 rninggu atan lebih Masa pemulihan 1 minggu . lokasi tumor pada perbatasan dermis dan epidermis c. Intradermal naevi: berbentuk datar atau meninggi. lokasi tersering daerah terpapar sinar matahari. warna campuran yang bervariasi. Karena operasi Perdarahan Residif Kelainanjantung pada 3 dan 4.

D17. luas > 4 inch. 1998 78 . Jackson T.0. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Kista Epidermoid. Aston SJ. In: Smith Jw. Spira M. 4th ed. 3. Boston 1991. Little Brown. D17. Bents ML. Aston SJ. mengenai daerah punggung atau muka. berambut. Little Brown.2. Boston 1991. 5. Boston 1991. tengkorak bahkan meningen Diagnosis banding: Melanoma Maligna Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: Bidang terkait (bila diperlukan) Terapi : eksisi bedah. Intraoral tumor and Radical Neck Dissection for Oral Cancer. Boston 1991. scalp. In: Smith Jw. Little Brown. lunak. In: Smith Jw. 4th ed. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. terfiksasi ke dasar. 4. Congenital pigmented Naevi/Giant pigmented naevi: lesi berpigmen. 4th ed. Mihm MC.1. 2. Benign Growth and Generalized Skin Disorder. ekstensinya dapat sampai otot. dengan pungtat di atasnya. rekonstruksi dengan skin graft atau tissue expansion Lipoma ICD D 17. Connecticut. Kibbi AG. Melanoma Maligna. lokasi subkutis. D23 Kista Epidermoid.f. In: Smith Jw. Lowe NJ. Aston SJ. Pediatric Plastic Surgery. Appleton & Lange. tidak nyeri kecuali bila mengalami peradangan. 4th ed. esi berupa nodul subkutis. Kista Dermoid: lesi subkutis. Stamford. lokasi pada daerah –daerah fusi embrional Kista atherome: lesi subkutis. Zarem HA. Kista Dermoid.3 Tumor yang terdiri dari sel-sel lemak. Basal and Squamous Cell Carcinoma of the Skin. malar eminence. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. sedikit mobile. Little Brown. mobile tetapi sedikit melekat ke kulit di atasnya. distribusi cenderung mengikuti dermatome. berisi produk sebaseus Diagnosis banding: Konsultasi: Terapi: Eksisi. Ekstirpasi Kepustakaan : 1. mobile dan tak melekat ke kulit di atasnya. Kista Atherome ICD D21. Aston SJ. Stal S. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Sober AJ. umumnya mengenai muka. D17.

Virginal hypertrophy.Reduksi mammoplasti McKissock 79 . tidak nyeri. bentuk tuberous Breast ptosis: jatuh dan tergantungnya posisi payudar yang berlebih sehingga nipple areola berada di bawah lipatan inframmamary. tuberous deformity dan breast ptosis. Tuberous breast deformity: payudara kecil.Enukleasi . Diagnosis banding: . Macromastia: pertumbuhan berlebih jaringan payudara akibat physiologi normal atau juga karena kurangnya kepekaan reseptor kelenjaar payudara terhadap hormon yang mengaturnya. muncul saat /segera setelah pubertas.Phylloides tumor .BREAST DISORDER Gangguan perkembangan kelenjar payudara ICD N62. unilateral. ditandai dengan pertumbuhan cepat dan tiba-tiba. dengan dilatasi vena di atasnya. firm. N63.athelia: tidak terbentuknya jaringan payudara. Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: bidang terkait bila diperlukan Terapi: . Augmentasi mammoplasty untuk untuk hipo/amastia Lesi jinak payudara ICD D24. dengan atau tanpa terbentuknya nipple. bisanya soliter. N64 Diagnosis Ectopic breast tissue (Polythelia/accessory nipple. Polymastia/ectopic glandular tissue): jaringan payudara yang tumbuh di sepanjang mammary ridge umumnya di axilla dan lipatan inframammary. Diagnosis Banding: Pemeriksaan penunjang: Konsultasi: Standar tenaga: Bedah Plastik Terapi: Eksisi ektopik breast. Reduksi mammoplasty dan mastopexy untuk macromastia. Inverted nipple: terbaliknya putting susu akibat tarikan duktus di bawahnya. Hipomastia: kurang bertumbuhnya jaringan payudara ditandai oleh payudara yang kecil Amastia. asimetris dengan nipple areola yang lebar. N60 Diagnosis: Giant fibroadenoma mamma Kriteria diagnosis: lesi berdiameter > 5 – 10 cm.

Boston 1991. Lewis PL. Little Brown. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 2. 4th ed. Gynecomastia In: Smith Jw. Marks C. Jan 2000 3. Benign Tumor of Teenage Breast. 1997 80 . McGrath MH. McKinney P. Plastic & Reconstructive SurgeryVol 105.No1. Aston SJ. Fundamentals of Plastic Surgery. WB Saunders. USA.Kepustakaan : 1. Marks MW.

F. 1991.S.). F. Grabb and Smith's Plastic Surgery. James W. Brwon and Company. London Toronto. M. 2. konsul dokter gigi bila sumber infeksinya dari gigi Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis: Baik Kepustakaan : 1. Edinburgh london and New York.. . Emergency Plastic Surgery . Smith.D.A. 1. M. Ian A.B. Fourth Edition.C. McGregor M.INFEKSI Flegmon dasar mulut ICD : K 12.2 Kriteria diagnosis : Pembengkakan submandibuler dengan rasa nyeri dan panas badan.R.S.. segera Terapi : Insisi-drainase → kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas .B. Philaadelphia. Montreal.Sepsis Informed Consent : Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan: ± 3 .). Churchill Livingstone. Richard J. (Glasg. 1990.R.C. Brown and Company. Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi sebelumnya Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap..5 hari Masa pemulihan : ± 1-2 minggu Hasil : Infeksi (-) Setelah infeksi reda. 1991. rasa hangat dan nyeri tekan. Plastic Surgery (8 vol) . 81 . Boston/Toronto/London. Boston/Toronto/London.S. Tokyo. Sherrell J. McCarthy. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Sydney. 2.Saunders Company. Little. 1980.(Eng. F. Joseph G. Ch. Aston (Edit). Hon. Greco (Edit) . kulit diatasnya kemerahan. W.C. Little.

fluktuasi (+).C..R.A.S. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Ian A. Edinburgh london and New York.S. 82 . Brwon and Company. Greco (Edit) . 4. Boston/Toronto/London. Tokyo.C. Churchill Livingstone. nasofrontal. diserta rasa nyeri dan kadang disertai panas badan. ..Abses Maksilofasial ICD : L 02. F. Richard J.Thrombosis sinus kavernosus Informed Consent: Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan : ± 3 – 5 hari Masa pemulihan : ± 10 – 14 hari Hasil: Abses (-). Grabb and Smith's Plastic Surgery.S.B.D. Hon. Fourth Edition.0 Kriteria diagnosis : Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisis. M. McCarthy.). McGregor M. Joseph G.(Eng. Boston/Toronto/London.Saunders Company. periorbital. 1991. Diameter > 6 cm Terapi : Insisi drainase – kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan: Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas . 3. 2. Little.C. 1980. kulit diatasnya kemerahan.Sepsis . Sydney. F. (Glasg. 1990. London Toronto. nyeri tekan (+) Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap segera bila :Lokasi didasar mulut. Plastic Surgery (8 vol) . Brown and Company.). F. 1991. Philaadelphia. infeksi reda Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis : Baik Kepustakaan : 1. Ch. M. Emergency Plastic Surgery .B.R. Little. W.. Montreal.

KONSULTASI : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. kompartment syndrome. 1983.OTOPSI : 16. pemendekan tulang panjang) Ada perlukaan di daerah fraktur yang berhubungan dengan fragment fractur 4. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. PENGOBATAN : A.PENYULIT : Infeksi .Sesuai dengan komplikasi yang timbul (Infeksi . 7th. 1993. AP /Lat 6. 2. nyeri kalau gerak.MASA PEMULIHAN : 12 minggu 13. 83 . KRITERIA DIAGNOSIS : Ada trauma Ada tanda patah tulang (krepitasi. perdarahan.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. & Solomon. Macam pengobatan : D.INFORMED CONSENT : Perlu 12.1. gangguan fungsi. Salter. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Radiologi : Foto Ro. emboli lemak) F. 2nd Ed. Terapi komplikasi pengobatan : . DIAGNOSIS : PATAH TULANG TERBUKA 3. Edition. Butterworth-Heinemann.B. A.PATOLOGI : 15. L. Apley. Cara pengobatan : Debridement dan fiksasi sesuai dengan grade & displasement Fiksasi interna elektif untuk grade I Fiksasi internal immediate untuk grade II Fiksasi eksterna untuk grade III C. R. NOMOR ICD : S 82 2. Tujuan terapi : Kuratif B.G. perdarahan. pergerakan normal. TEMPAT PELAYANAN RS Perjan Denpasar 10.PROGNOSIS : Dubius ad bonam 17. emboli lemak) 11. kompartment syndrome. Williams & Wilkins Baltimore/London. DIAGNOSIS BANDING : 5.TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. deformitas. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap untuk observasi dan tindakan 8. KEPUSTAKAAN : 1. Kualifikasi operator : . Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.HASIL : Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal 14.

MASA PEMULIHAN : 4-8 minggu 13.G. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan untuk non bedah : Rawat inap untuk pembedahan 8.1.: Long leg cast. Macam pengobatan : Reposisi tertutup. DIAGNOSIS : FRAKTUR CRURIS 3. Butterworth-Heinemann. PROGNOSIS : Baik 17. 1983. Apley.fraktur pada tibia da fraktur pada fibula 4. PENGOBATAN : A. DIAGNOSIS BANDING : 5. 2.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Salter. 84 . 2nd Ed. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10. & Solomon. PATOLOGI :15. PENYULIT: Malunion/ delayed union 11. L. 7th. Williams & Wilkins Baltimore/London. OTOPSI : 16. Reposisi terbuka : Pemasangan implant/ plate screw D.B. Cara pengobatan : Reposisi C. Edition. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. PEMERIKSAAN PENUNJANG : foto polos cruris AP/ Lat 6. Perjan Denpasar RS. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. 1993.Kualifikasi operator : . KONSULTASI : Dokter spesialis terkait {bila diperlukan) 7. Terapi komplikasi pengobatan : Reposisi ulang/ bone graft ( malunion/delayed Union F. R. NOMOR ICD : S 82 2. Tujuan terapi : kuratif B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. KEPUSTAKAAN : 1. HASIL : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal 14. INFORMED CONSENT : Perlu 12. A. TEMPAT PELAYANAN: RS. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat trauma Tanda pasti patah tulang tibia/ fibula Foto Ro.

1. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Terapi komplikasi pengobatan dan bias dipersiapkan secepatnya pada yang Tertutup. Williams & Wilkins Baltimore/London. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit pada yang clean cut E. 7. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi achiles Trauma tangan Clean cut injury Fungsilaesia 4. TEMPAT PELAYANAN : RS. DIAGNOSIS BANDING : PEMERIKSAAN PENUNJANG : KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. L. Edition. Cara pengobatan: Repair tendon C. 85 . 1983. Apley. 6. PENGOBATAN : A. & Solomon.0 2. sambungan putus. Perjan Denpasar 10 PENYULIT : Infeksi. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. F. OTOPSI : 16. A. kontraktur ankle 11. Kualifikasi operator : . DIAGNOSIS : RUPTUR TENDON ACHILES 3. HASIL : Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal 14. 5.B. 7th. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Salter. 2nd Ed. 1993. PATOLOGI : 15.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. KEPUSTAKAAN : 1. MASA PEMULIHAN : 6 minggu sudah buka gip 13. Butterworth-Heinemann. NOMOR ICD : S 86. 2.G. Tujuan terapi : Kuratif B. R. PROGNOSIS : Baik 17. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Macam pengobatan : Operasi dengan tehnik Bunnel atau Kesler Immobilisasi dengan fore slab D.

TBW .0 2. HASIL : Kedua fragmen patela tereposisi & rigid Fragmen terangkat 14. Salter. R. & Solomon. PEMERIKSAAN PENUJANG : Foto polos genu AP/ Lat 6. 1993. Perjan Denpasar RS. 7th. Edition. L. PENGOBATAN A Tujuan pengobatan : Kuratif B. 86 . A. Terapi komplikasi : Sesuai dengan komplikasi yang timbul (non union malunion.Bila perlu sunrise/ tangensial (untuk fraktur vertikal& fragmen osteochondral) 4.kekakuan lutut 11. NOMOR ICD : S 82. MASA PEMULIHAN : 8-12 minggu 13. PROGNOSIS : Baik/ cacat 17. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10.Cara pengobatan : Reposisi tertutup dan reposisi terbuka.Nyeri. haemathros) F. PENYULIT: Haemathros Infeksi. DIAGNOSIS BANDING : 5. haemathros .G. 2nd Ed. OTOPSI : 16. DIAGNOSIS : FRAKTUR PATELA 3. 1983. separasi fragmen Kelemahan otot-otot quadrisep. 2. Williams & Wilkins Baltimore/London.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan dan rawat inap 8. Apley.1. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.B. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. Kualifikasi operator : .Foto genu AP/ Lat . C Macam pengobatan : Reposisi tertutp : Pasang Kocher gips untuk permukaan yang intact dan fragmen tidak bergeser Reposisi terbuka: ORIF : gangguan permukaan artikuler . infeksi. crepitasi. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Butterworth-Heinemann. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. KRITERIA DIAGNOSIS : Klinis : . PATOLOGI : 15.Gangguan extensor mekanisme lutut Radiologi : . KEPUSTAKAAN : 1.Partial/ total patelectomy D. defect antar fragmen. TEMPAT PELAYANAN : RS.bengkak. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.

F.1. 7th.Fraktur trokanter . emboli lemak. OTOPSI : 15. .Fraktur kolum femur . HASIL : Posisi anatomis optimal Fungsional baik 13. Infeksi. Komplikasi Awal Syok.Kualifikasi operator/ pemberi pelayanan : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. Perjan Denpasar PENYULIT : Non union.G. 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos Femur AP/ Lat 6. Apley. INFORMED CONSENT : Perlu 11. 2.B. infeksi. Cara pengobatan : Non operative dan operative C Macam pengobatan : a. KEPUSTAKAAN : 1. 2nd Ed.Terapi komplikasi pengobatan : . lesi nervus. Williams & Wilkins Baltimore/London. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. DIAGNOSIS BANDING : Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara klinis . 1983.1.Waktu pengobatan : segera saat penderita datanmg ke rumah sakit E. trauma vaskulaer. Salter. PROGNOSIS : Baik 16. Non operative Traksi skeletal Traksi kulit pada anak b. DIAGNOSIS : FRAKTUR FEMUR 3. 72 2. Operative D.Fraktur kondilus femur 5. PENGOBATAN : A. atrofi otot. mlunion. 87 . Butterworth-Heinemann. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma mayor pada paha Tanda pasti patah tulang (+) 4. Tujuan terapi : Kuratif B. malunion Joint stiffnes. A. MASA PEMULIHAN : 1 minggu 12. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 17. 1993. delayed union. L. TEMPAT PELAYANAN : RS. & Solomon. infeksi. Edition. R. PATOLOGI : 14. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 9.Fraktur shaft femur . metal fatique. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. trombo emboli. Komplikasi lambat Refraktur. dan cidera neurovaskuler 10. NOMOR ICD : S.

endorotasi dan adduksi 10 % komplikasi n.1. Terapi komplikasi pengobatan : F.Type III : fraktur comminutive tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . kapsul sendi atau m.ischidikus. Klasifikasi : . ischiadicus 88 .Type V : Fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain B. Dislokasi posterior Merupakan jenis tersering Tungkai memendek. KRITERIA DIAGNOSIS : A. Bigelow 3. TEMPAT PELAYANAN : RS. fleksi eksternal rotasi. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8.pyriformis menghalang reposisi Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi D. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos panggul AP/ Lat 6. PENYULIT : Fraktur intra artikuler Cidera N. Inferior (obturator) : panggul abduksi. KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) 7.Type IV :fraktur tepi acetabulum dan besar .0 2.Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar . DIAGNOSIS : DISLOKASI PANGGUL 3. Tujuan pengobatan : kuratif B. Perjan Denpasar 10.Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal . Macam pengobatan : Reposisi tertutup dengan anastesi umum : 1. Stimson Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 minggu. PENGOBATAN : A. 9. Cara pengobatan : Reposisi segera C. ekstensi Eksternal rotasi 4. DIAGNOSIS BANDING : 5. > 15 % avaskuler nekrosis kaput femoris. NOMOR ICD : S 73. Kualifikasi operator : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. Dislokasi anterior 10 % insiden dislokasi panggul 4 % mengalami avaskuler nekrosis Identasi fraktur caput femur : identasi 4 mm atau lebih Dengan prognosis buruk Type : Superior (pubis atau iliac) : panggul abduksi. Allis 2. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E.

& Solomon. PROGNOSIS : Baik 17. R. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.B. KEPUSTAKAAN : 1.G. PATOLOGI :15. Williams & Wilkins Baltimore/London. OTOPSI :16. Apley. 7th. MASA PEMULIHAN : 8 minggu 13. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 1983. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. 89 . Salter. HASIL : Tereposisi dengan baik 14. L.11. 2. 2nd Ed. A. Butterworth-Heinemann. 1993. Edition.

saraf. Terapi komplikasi : 9.Penyulit 11.0 : FRAKTUR KLAVIKULA :Terputusnya kontinyuitas tulang klavikula akibat trauma Klinins : Penderita : nyeri. 7. Waktu pengobatan : segera saat penderita dating ke rumah sakit E. Hasil 14. Diagnosa banding Konsultasi Perawatan RS Pengobatan: A. Tujuan terapi B.Informed consent 12.1.thorak) Foto Ro adanya fraktur di klavikula 4. Adakah gejala dan tanda trauma penyerta (trauma vaskuler. Otopsi 16.Prognosis : Perlu uintuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS Perjan Denpasar : Lesi vaskuler Lesi saraf : Perlu : 1-1.Tempat pelayanan 10. Macam pengobatan : D. 8. Cara pengobatan : Dislokasi acromio-klavikular : Dokter spesialis terkait. pembengkakan dan krepitasi pada daerah klavikula. 6.Masa Pemulihan 13.Patologi 15. 5. Kualifikasi operator : 90 . bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk perawatan bedah : Kuratif : Konservatif Operatip : pasang ransel verband : Plate & Screw atau ada lesi vaskuler/ saraf Pemeriksaan penunjang : X-foto klavikula AP C. Nomor ICD Diagnosis Kriteria diagnosis : S 42.5 bulan : Tereposisi dengan baik F. 3. 2.

A. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinis : 1. ButterworthHeinemann. L. 91 .17 Tindak lanjut 18. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 1993. Salter.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 2. 7th.G. & Solomon. Williams & Wilkins Baltimore/London. Apley. Edition. R. 2nd Ed. 1983.

Pengobatan : A. Perjan Denpasar : Lesi N. angulasi / pemendekan. krepitasi.1. 1983.Otopsi 16. Tujuan terapi B. - 92 .Informed consent 12. Diagnosa banding 5. Perawatan RS 8. Salter. Tindak lanjut 18. 1993. Edition. Radialis : Perlu : 12-24 minggu : Terreposisi dengan baik : : : Baik : perawatan poliklinis : 1. Apley. & Solomon. Hasil 14. Axillary view :Dokter spesialis yang terkait. Cara pengobatan : : X Foto humerus AP/ lateral.Konsultasi 7. Terapi kompliksai F. Macam pengobatan D. 7th.3 : FRAKTUR HUMERUS : Ada riwayat trauma Tanda pasti fraktur humerus (nyeri. Diagnosis 3.B. Prognosis 17.Tempat pelayanan 10. Masa pemulihan 13. ButterworthHeinemann. R. Kualifikasi operator 9.Penyulit 11. bila diperlukan :Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : Kuratif : Non Bedah :Reposisi dengan pembiusan pasang Gips U – slab / Hanging cast Bedah: Pemasangan implant plate screw C. Williams & Wilkins Baltimore/London.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Radialis . L. 2nd Ed. gangguan fungsi) Foto Rontgen adanya fraktur humerus 4. 2.G. bengkak diformitas. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Kriteria diagnosis : S 42. A. Pemeriksaan Penunjang 6. ICD 2. Waktu pengobatan E. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. KEPUSTAKAAN : : : saat penderita dating ke rumah sakit : Lesi N. Patologi 15.

Konsultasi 7. Diagnosis 3.Pengobatan A. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : : kuratif : Non Bedah : Reposisi menurut Kocher atau Hipokrates Bedah Reduksi operatif untuk kasus-kasus neglected.1. Tujuan terapi B. Nomor ICD 2. Cara pengobatan : : X Foto bahu AP : Dokter spesialis yang terkait. Kualifikasi operator 9. Pemeriksaan Penunjang 6. Waktu pengobatan E. C.Informed consent 12. dengan persiapan. Patologi 15. Perawatan RS 8. Prognosis : Perlu : + 4 – 6 minggu : Terreposisi dengan baik : :: Baik : Segera direposisi saat penderita dating ke rumah sakit untuk yang baru. Lama Pemulihan 13. asimetri Gangguan gerakan bahu 4. Diagnosa banding 5. Terapi komplikasi F.0 : DISLOKASI BAHU : Ada riwayat trauma Nyeri. Otopsi 16.Tempat pelayanan 10.Penyulit : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Hasil 14. Kriteria diagnosis : S 43. 93 . Macam pengobatan D. Perjan Denpasar : Cedera N Axilaris / plexus brachialis Gangguan sirkulasi Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama Dislokasi sendi berulang 11. deformitas.

17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

94

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan

: S 42.4 : FRAKTUR SUPRA CONDILER SIKU : Riwayat Trauma Tanda –tanda pasti patah tulang di atas siku : : X Foto siku AP / lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : a. Non bedah : - Reposisi dengan pembiusan - Traksi b. Bedah : Bila non bedah gagal – operasi Plate & Screw atau CCW

C. Macam pengobatan : D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : segera saat penderita dating ke rumah sakit : Kaku sendi siku (Fisioterapi) Kompresi pembuluh darah : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Kompresi pembuluh darah Kaku sendi siku : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik: : : : Dubius / kaku sendi siku : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

95

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.0 : FRAKTUR OLEKRANON : Riwayat Trauma Tanda pasti patah tulang pada siku Teraba gep pada olecranon X Foto Olekranon patah

4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan C. Macam pengobatan D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator :

: Fraktur lain di daerah siku : X Foto siku AP lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan :Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : Operasi dengan pemasangan tension band wire : saat penderita datang ke rumah sakit pada yang terbuka : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12. Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS. Perjan Denpasar : Kaku sendi siku Lesi N.Ulnaris : Perlu : + 4 – 6 minggu : Fragmen terfiksasi dengan baik : : : Dubius / cacat : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

96

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S3.1 : DISLOKASI SIKU : Riwayat trauma, sakit sendi siku Deformitas / asimetri Limitasi gerakan sendi

4. Diagnosis banding 5. Pemeriksaan penunjang 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 9. Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan a. Non bedah b. Bedah C. Macam pengobataqn D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis : : : :

: : X Foto siku AP/ lateral : Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap

: Reposisi dengan pembiusan Imobilisasi dengan posisi fleksi pada siku : Operasi bila reposisi gagal : segera saat penderita dating ke rumah sakit

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Lesi N.Ulnaris, N.Medianus Lesi vaskuler : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik : : Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Kaku sendi bisa terjadi

97

ButterworthHeinemann.B. 2. 2nd Ed. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinik : 1. 1983 98 . & Solomon. 1993. L. A.17. R. Edition. 7th. Salter. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.G. Williams & Wilkins Baltimore/London. Tindak lanjut 18. Apley.

Bedah : operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal d. krepitasi dan nyeri. Terapi komplikasi pengobatan : f. Konsultasi 8. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang radius disertai dislokasi sendi radioulnar distal . Diagnosis Banding 6. 3. gangguan gerak. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. “false movement”. : Perlu : ± 6 minggu 99 . Perawatan Rumah Sakit : Rawat inap untuk observasi atau tindakan b. Perjan Denpasar : Non union. 2. 5. Pengobatan a. deformitas. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Ro. Cara pengobatan : 1. post operasi diperiksa stabilitas sendi radioulnar. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi.2. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi interna. Macam pengobatan : 1. Non bedah : reposisi (gips sampai di atas siku) 2. Kriteria Diagnosis : FRAKTUR GALEAZI : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : : kuratif kemudian imobilisasi dengan gips (long arm cast) pada posisi supinasi selama 4-6 minggu. Radiologi : anteroposterior dan lateral. Informed consent 12. bila tidak stabil diimobilisasi dengan gips pada posisi supinasi selama 3 minggu. Waktu pengobatan : e. Masa pemulihan : RS. malunion. 4. lengan bawah AP/lat. Diagnosis 3. Tempat pelayanan 10. 7. Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Dilakukan reposisi tertutup dengan anestesi umum c. Penyulit 11.

R. KEPUSTAKAAN : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. 2. 1983 100 . Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 2nd Ed. ButterworthHeinemann. Tindak lanjut 18. Prognosis 17.G. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 1993. Apley. Patologi 15. 7th.B.13. Otopsi 16. Hasil 14. L. Williams & Wilkins Baltimore/London. A. Edition. & Solomon. Salter.

Imobilisasi selama 4-6 minggu. Terapi komplikasi pengobatan : f. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi atau tindakan : : kuratif dengan posisi lengan supinasi. Diagnosis 3. nyeri terutama pada tempat fraktur dan sendi radioulnar proksimal. dislokasi kaput radius ke posterior Bado 3. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi internal 3. Waktu pengobatan : : 1. 5. Cara pengobatan : 1. Perjan Denpasar 101 . Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. Bedah : : Pembedahan e. Dilakukan reposisi tertutup kemudian imobilisasi c. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan Dokter Spesialis Bedah Ortopaedi 9. “false movement” dan krepitasi. Perawatan rumah sakit 8. Konsultasi 7. Pengobatan a. dislokasi ka[ut radius diseratai Fraktur radius dan ulna. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. deformitas.0 : FRAKTUR MONTEGIA : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. 4. Diagnosis banding 6.1. Non bedah 2. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. dislokasi kaput radius ke anterior Bado 2. Macam pengobatan d. 2. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang ulna dan dislokasi caput radii Klasifikasi : Bado 1. Nomor ICD 2. Tempat pelayanan : RS. lengan bawah AP / lat b. Radiologi : anteroposterior dan lateral . dislokasi kaput radius ke lateral Bado 4. Kriteria diagnosis : S 52.

Tindak lanjut 18. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Edition. A. Williams & Wilkins Baltimore/London. infeksi. Penyulit 11. 2. R.10. Informed consent 12. Salter. ButterworthHeinemann. & Solomon. Otopsi 16. L. Apley.B. 2nd Ed. malunion. : Perlu : ± 6 minggu : Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik Caput radii tereposisi atau dibuang 14. Patologi 15. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 7th. 1993. 1983 102 . gangguan gerak. Hasil : Non union. Prognosis 17. Masa pemulihan 13. KEPUSTAKAAN : : : Baik / Gangguan gerak : : 1.G.

Cara pengobatan : 1. Gips sampai di bawah siku a. Diagnosis 3. Definitif orang muda immobilisasi dengan gips sirkuler butuh anesthesia regional atau general : . Kriteria diagnosis : S 52.Faktor yang menpengaruhi optimalisasi : • • • • • . Macam pengobatan : Fiksasi dalam posisi pronasi. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : : local anesthesia (hematome 5. Pengobatan a. Konsultasi 7. Non bedah : Reposisi dengaqn pembiusan b.Macam : • • • • • reduksi tertutup dan splint reduksi tetutup dan pinning perkutan fiksasi externa reduksi terbuka dan fiksasi interna fiksasi externa dan interna stabilisasi fraktur besarnya displacement kwalitas tulang usia dan aktifitas penderita ketersediaan peralatan c.1.5 : FRAKTUR COLLES : Tanda-tanda pasti patah tulang Trauma lengan karena menahan dengan “out strecht hand” 4. foto polos radius-distal AP / lat b. Perawatan rumah sakit 8. Emergensi : . Nomor ICD 2. Diagnosis banding 6. Pemeriksaan penunjang : Radiologi .pada anak dan orang tua blok) 2. semi fleksi dan ulnar Deviasi pada pergelangan tangan. Bedah : Bila non bedah gagal 103 .

9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Massa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS Perjan Denpasar : Kompartment syndrome Suddec atropi : Perlu : ± 4 – 6 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posisi optimal Fungsional baik : : : baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

104

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.4 : FRAKTUR RADIUS-ULNA : Klinis : didapatkan adanya tanda-tanda fraktur seperti edema, deformitas, “false movement”, krepitasi dan nyeri. Radiologis : anteroposterior dan lateral, akan didapat kan adanya diskontinuitas tulang.

4. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pengobatan a. Tujuan terapi

: : Dokter spesialis yang terlait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : :

5. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. antebrachii AP/lat

b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup dengan anesthesia umum, kemudian immobilisasi dengan gips (long arm cast). Posisi antebrachii tergantung letak fraktur, pada fraktur antebrachii 1/3 proksimal diletakkan dalam posisi supinasi, 1/3 tengah dalam posisi netral, dan 1/3 distal dalam posisi pronasi. Gips dipertahankan 4 – 6 minggu 2. Bila reposisi tertutup tidak berhasil (angulasi lebih dari 10º pada semua arah) maka dilakukan internal fiksasi. 3. Pada fraktur terbuka terlebih dahulu dilakukan “debridement” kemudian dilakukan tindakan seperti diatas. Sedangkan pada fraktur terbuka derajat III dilakukan eksternal fiksasi. c. Macam pengobatan : Gips sampai diatas siku b. Bedah : Bila non bedah gagal plate and screw d. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit : RS. Perjan Denpasar : Kompartment syndrome a. Non Bedah : Reposisi dengan pembiusan

105

11. Informent consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perlu : ± 6 – 8 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

106

1. Nomor ICD 2. Diagnosis

: C22.0 : Hepatoma

3. Kriteria Diagnosis - Pemeriksaan Klinis : - Anamnesa : - berat badan menurun - nyeri hipokondrium kanan - alkoholisme - riwayat sirosis hepatis atau hepatitis kronis - Inspeksi : tampak tumor pada hipokondrium kanan (tumor besar) - Palpasi : massa pada hipokondrium kanan - Perkusi : untuk mencari batas-batas tumor - Auskultasi : suara usus normal Pemeriksaan Laboratorium : - AFP - LFT - CEA Pemeriksaan Imaging : - USG - CT Scan

-

Pemeriksaan Radiologi : - angiografi - Ba- enema (bila curiga primer berasal dari kolon) Pemeriksaan Jarum Halus Pemeriksaan Kolosnokopi : bila curiga primer dari kolon

-

4. Diagnosis Banding - Tumor jinak hepar (Hemangioma, Adenoma) - Kolangiokarsinoma 5. Pemeriksaan Penunjang : 6. Konsultasi : Penyakit dalam bila ada riwayat sirosis hepatis dan hepatitis khronis. 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan - Pembedahan / Terapi 1. Tumor metastase dari kolon / rektum dan primer terkontrol : dilakukan reseksi hepar. 2. Tumor metastase dan tumor primer in operabel tindakan suportif. 3. Tumor hepar primer : karsinoma hepatoseluler - inresektabel : suportif. - resektabel : reseksi hepar. 4. Tumor jinak : - bila ada gejala : dilakukan reseksi. - bila tak ada gejala : observasi. 5. Sebelum reseksi sebaiknya dilakukan embolisasi untuk mengecilkan tumor dan mengurangi perdarahan.

107

8.Rumah Sakit tipe A/B yang sudah memiliki Ahli Bedah Digestif. Patologi : .Tergantung jenis tumor (jinak atau ganas) dan apakah resektabel atau tidak 13.Tumor Ganas : Baik : Resektabel → Dubois Ad Bo anam : Inresektabel → Dubois Ad Malam 16. Informed Consent : . 10th ed. 5th ed. 1994 .Schwartz SI : Principles of Surgery. Seiji Kawasaki : Hepatocellular Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operations. Pada kasus resiko tinggi untuk operasi dan tumor kecil dapat dicoba penyuntikan perkutan alkohol 90% dalam tumor dengan tuntunan USG. 1997. 1561-1590 108 . Otopsi : 15.6.Tumor Jinak . 1989. 9.Perlu 14. Laboratorium dan Imaging 17. Tindak Lanjut : . p. Prentice Hall International. p.Maratoshi Maknuchi. 1327-1376 . Penyulit : Perdarahan (Spontan atau akibat tindakan) 10. Prognosis : . Mc Graw Hill.Perlu 11. Kepustakaan : . Masa Pemulihan : . Tempat Pelayanan : . Prentice Hall Inc. Hasil : . 10th ed.Follow up secara klinis.Tergantung jenis tumor 12.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.

tehnik Bassini. bila inkarserata terasa nyeri. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Tempat Pelayanan : . . Patologi : Tidak perlu 14. UL 6.Auskultasi : benjolan di pelipatan paha.Pemeriksaan Klinis : . Otopsi : 15. Diagnosis : K40 : Hernia 3. Masa Pemulihan : 3-5 hari 12. Kriteria Diagnosis .thumb test.1.Perkusi .Lipoma pada pelipatan paha .Hidrokel 5.Inkarserata / strangulasi dengan segala akibatnya 10. : benjolan di pelipatan paha yang dapat keluar masuk (hernia reponibilis) tak dapat keluar masuk (irreponibilis dan inkarserata).zieman test (tri finger test) : : ( diatas benjolan) terdengar suara bising usus (bila isi kantong usus).Inspeksi .Pembesaran kelenjar limfe .Pembedahan / Terapi .Hernioplasty : . Penyulit : . Informed Consent : Perlu 11. : . Konsultasi : .finger test.Lab.Herniotomi .tehnik Halsted.Kalau ada penyakit penyerta (liver. .Penilaian isi kantong bila nekrosis dilakukan reseksi . Hasil : Baik 13. DL. jantung) 7. Pemeriksaan Penunjang : . .Pemeriksaan fisik : .Palpasi .Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Nomor ICD 2. Prognosis : Baik 109 . Diagnosis Banding . 4.Anamnesa . 8.

1986. 712724 . Litle Brown and Co Boston.Way LW : Hernia other lesion of the abdominal wall In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. USA. 11th ed. Tindak Lanjut : Follow up apakah terjadi residif / tidak 17. 1988 110 . HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. Bristol. Ist ed. 1994. p. Mc Graw Hill Inc. 375-381 . 1984. John Wright & Sons. 215-218 . p.Skandalakis JE : Hernia Surgical Anatomy and Technique.Devlin HB : Management of Abdominal Hernia. Butterworth & Co. Ist ed. Kepustakaan : . London 1988 .16. p. 10th ed.Dodson TF : Hernia In : Manual of Clinical Problem in Surgery. Prentice Hall International Inc.Dudley.

nyeri epigastrium kemudian disusul nyeri perut kanan bawah yang menetap. entero-kolitis.USG .saat flexi dan endo rotasi tungkai kanan (Obturator Sign). Kelainan-kelainan lain didalam abdomen ulcus pepticum. Diagnosis : K35 : Radang Usus Buntu 3.Ba inloop double kontras 6.Pemeriksaan laboratorium : DL : leukosit UL : sedimen urin . .Pembedahan / Terapi . .1.pembiakan kuman dan test kepekaan antibiotik. Nomor ICD 2. . .Anamnesa : .saat mengangkat tungkai kanan (Psos Sign). Diagnosis Banding 3.Colok dubur : nyeri perut kanan bawah (jam 10 – 11) .Auskultasi : Suara usus menurun . Konsultasi : Obstetri Ginekologi 7. .lapangan operasi dibersihkan dari pus dan bahan kontaminasi. kolesistitis.Pemeriksaan Klinis : .saat testis kanan ditarik (Tenhorn Sign) .saat tekanan perut kiri dilepas (Blumberg Sign).Bila saat operasi didapatkan apendik yang mengalami perforasi maka dilakukan : .Pemeriksaan USG (bila ragu-ragu) 4.tidak melakukan penjahitan lemak.kulit dijahit situasi. . 8. .Apendektomi . .Palpasi : * nyeri daerah Mc Burney / kanan bawah : . febris (bila ada komplikasi) .dipasang drain sub fasial. Kriteria Diagnosis .anoreksia mual. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 111 . Golongan gastro-enteritis : lim fadenitis mesenterik. 4. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . . perforasi karsinoma kolon.bila perut kiri ditekan (Rovsing Sign). . ileitis terminalis.Inspeksi : gerakan perut kanan bawah berkurang waktu bernafas . Pemeriksaan Penunjang . 5. Kelainan genitalia interna pada wanita 5. pankreatitis divertikulitis.Perkusi : Nyeri ketok ⊕ (kadang-kadang dilakukan) .sub febris.

. Appleton Century Crofts. 1986. Inc. Vol. Appendisitis perforasi Periappendicular infiltrat Periappendicular abscess Peritonitis umum Foic appendiculare 10.2 9th ed. Masa Pemulihan : 5-7 hari 12. 1994.p. 610-614 112 . Prognosis : Baik 16. Hasil : Baik 13. Kepustakaan : . Tindak Lanjut Jahitan diangkat hari ke-7 pasca bedah.Dudley HAF : Hamilton Biley’s Emergency Surgery.Way. Penyulit 1. 3. Prentice Hall Int.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. 5. 10th ed. P. 336-345 . LW : Appendix In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 2. 953-978 . bila luka mengalami infeksi perlu dipertimbangkan kondisi luka 17.9. Informed Consent : Perlu 11. Norwalk Connecticut. 4.p. John Wright & Sons Ltd. Otopsi : 15. 1990. Bristol. 11th ed. Patologi : Perlu 14.

1. Informed Consent : Perlu 113 . .3 : Perianal Fistula 3.Pemeriksaan Klinis : .Proktoskopi : . amoeba.Palpasi : nyeri tekan dan teraba massa sebagai tali memanjang .Perkusi :.Sondasi : untuk mengetahui saluran dari fistula.Inspeksi : adanya perianal fistel. Nomor ICD 2. .Irigasi saluran : untuk mengetahui saluran dan lubang interna dengan garam fisiologis. .bahan yang dieksisi dilakukan pemeriksaan histo PA. . Diagnosis : K60.untuk mengetahui lubang fistel sebelah dalam.penggunan seton (pada fistula yang banyak melibatkan sfingter ani) . hidrogen peroksida datu metilen biru. morbus Crohn). .Colok dubur : dengan bidigital yaitu antara jari telunjuk pada anus dan ibu jari pada perineum akan teraba jaringan yang mengeras seperti tali. Morbus Crohn 5. .Auskultasi : . Kriteria Diagnosis . . Diagnosis Banding 3.Anamnesa : mengeluarkan lendir. . Amoeba 6. Penyulit : Kadang-kadang residif 10. Konsultasi : 7. proktitis tbc. Pemeriksaan Penunjang : Fistulografi 6.untuk mengetahui adanya penyakit lain (karsinoma.Fistulektomi .Fistulotomi.Pemeriksaan radiologis : fistulografi. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. proktits tbc 5. 4. faeces dari lubang dekat anus. nanah. Karsinoma rekti 4. 8. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan Pembedahan / Terapi .

1988 p. London.Way LW. p. p. Ltd. In : Principles of Surgery 5th ed. WB. 701-703 . Tindak Lanjut : Follow up berkala 17. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Philadelphia. Kepustakaan : . 1303-1306 . 1993.Golberg. 418-466 114 . MRB : Anorectal Fistula in Surgery of the Anus. 1994. 10th ed Prentice Hall International Inc. Rectum and Anus. Anorectal Fistulas. Rectum and Colon. Otopsi : 15. Prognosis : Baik 16. Masa Pemulihan : Tergantung derajat fistula (melibatkan banyak sfingter ani atau tidak) 12. Mc Graw Hill. Patologi : Perlu 14.11.Keighley. et al : Colon. Hasil : Baik 13. SM. Saunders Co.

.Auskultasi : .bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat.Perkusi : . Patologi : 14. Nomor ICD 2.Palpasi : bila anus dilakukan everasi tampak fissura .nyeri waktu berak .Pembedahan / Terapi .salep lokal Ichtamol 10%.0 : Fissura Ani 3. Diagnosis : K60.Inspeksi : adanya sentinel pile . . . Hasil : Baik 13.prosedur : lateral internal sfingterotomi.rendam duduk (Krim 04) .Proktoskopi : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan hipertropi papilla dan fissura. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Informed Consent : Perlu 11. hidrokortison 1%.Anamnesa : . Kriteria Diagnosis .diet membuat faeces lunak. Tempat Pelayanan : . 4.minum banyak. .Operasi : .Pemeriksaan Klinis : . Otopsi : 15.Colok dubur : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan lokasi fissura dan stenosis. Pemeriksaan Penunjang : 6. 8. Penyulit : 10. Prognosis : Baik 115 .Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Medikamentosa : . .1. Diagnosis Banding : 5. Konsultasi : 7. Masa Pemulihan : 2-3 hari 12.berak darah segar (tanpa bercampur berak) .

1988 p. p. MRB :Fissure in Ano. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi (Poliklinis) 17. 10th ed Prentice Hall International Inc. 1994. Philadelphia. p. In : Principles of Surgery 5th ed.Way LW. et al : Colon.Golberg. WB. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 1303-1306 . Ltd. 698-699 .Keighley. In : Surgery of the Anus. Anal Fissure. London. Saunders Co. Rectum and Anus.16. 369-386 116 . SM. Rectum and Colon. Kepustakaan : . Mc Graw Hill. 1993.

test faal hati.kanker tanpa metastase : reseksi pankreas 117 .Inspeksi : ikterus .ERCP .1 : Ikterus Obstruksi 3. Diagnosis : K83.Perkusi : nyeri ketok pada perut kanan atas .Tumor hati .Gatal-gatal. ERCP 6.Murphy’s sign .1.FNAB Bila : .Courvoissier Law . . kulit berwarna kuning .ada batu di saluran utama : koledokotomi + scope pasang T-drain.Pediatri pada anak 7.Pembedahan / Terapi Untuk batu empedu tanpa kolangitis .Lab . CT Scan.penurunan berat badan .Interne .nyeri hipokondrium kanan . Untuk batu empedu dengan kolangitis .Auskultasi : suara usus normal .foto polos abdomen .tanpa batu di saluran utama : tindakan selesai . Konsultasi .CT Scan. Pemeriksaan Penunjang .bila hasil kolangiografi : .Palpasi : .kolesistektomi dan kolangiografi intra operatif.Tumor pada papila vateri 5.ERCP .BOF.Lithotripsi Untuk tumor pankreas .Anamnesa : .sfingterotomi Untuk batu residual . Nomor ICD 2. Kriteria Diagnosis . Diagnosis Banding .Pemeriksaan imaging : .USG .Batu kandung empedu .ERCP .Pemeriksaan Klinis : .Pemeriksaan laboratorium : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . .panas badan . . USG.ERCP 4.

mencegah kolangitis & kerusakan sel-sel hepar 13.R. p. .by pass .Dudley HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. Masa Pemulihan : 1-2 minggu 12. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.diet membuat faeces lunak. Otopsi : 15. Bristol.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 1986.Condon RE. .353-374 . Hasil : Ikterus hilang.stent Untuk striktura saluran bilier : . Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi dan advis makanan 17. Boston. 315-336 118 .K. 1988. 1994.rendam duduk (Krim 04) .by pass . 7th ed. Penyulit Cholangitis Sepsis 10. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic.by pass . 10th ed. Patologi : Perlu 14.ERCP pro dilatasi .. 8.Operasi : .Medikamentosa : . Kepustakaan : . . Wright. . Prognosis : Tergantung kausa 16. .stent (ERCP) Untuk tumor Klatskin : . 11th ed. Little Brown & Coy. p.kanker dengan metastase : .prosedur : lateral internal sfingterotomi.salep lokal Ichtamol 10%.p. Joel J. 273-290 . 1991. Informed Consent : Perlu 11. 10th ed Prentice Hall International Inc.bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. : Jaundice in Maingot’s Abdominal Operations. Prentice Hall inc. hidrokortison 1%.Kim U.minum banyak.reseksi .

Hemorrhoid interna derajat III/IV : hemoroidektomi. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . .1.Karsinoma rekti 5.50 ml. .Perkusi : .prolaps yang berasal dari tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya. Penyulit : Anemia 10. Pemeriksaan Penunjang : 6. Diagnosis Banding . 4. Kriteria Diagnosis .Colok dubur : untuk mengetahui apakah ada kelainan lain.diet yang mengandung serat (buah-buahan segar) . .Proktoskopi : untuk mengetahui derajat dan lokalisasi hemorrhoid.Prolaps rekti . .Pemeriksaan Klinis : . .Hemorrhoid asimptomatik tidak perlu pembedahan. .Hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis : eksisi dan evakuasi trombus.berak darah segar tanpa nyeri .Pembedahan / Terapi .sodium morbuat / tetradesil sulfat 0.Hemorrhoid interna derajat I/II.fenol oli 5% atau krim uretan 5% dosis 3-5 ml/tonjolan maksimum 15ml. 8. Diagnosis : I84.Palpasi : . . Nomor ICD 2.1 : Hemorrhoid 3.disuntik bahan sklerotan : . .Auskultasi : . . Konsultasi : 7.25-0.dengan obat lokal (suppositoria atau salep) yang mengandung kortikosteroid dan anestesia .Anamnesa : .tonjolan terasa nyeri (untuk hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis). Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Informed Consent : Perlu 119 .Inspeksi : prolaps tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.

295-363 120 . 1988. Prognosis : Baik 16. Hasil : Baik 13. Little Brown & Coy. JC. p. 695-698 . Boston. Tindak Lanjut :Follow up poliklinis 17. 1994. p. Kepustakaan : .Condon RE. Philadelphia.Williams NS : Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus.Golinger. Rectum Colon. WB.11. 98-149 . London. 1984. 317-322 . p. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. 10th ed Appleton & Langes. Masa Pemulihan : 7 hari 12. 1993. Patologi : 14. Rectum and Colon. Bailiere Tindall. 7th ed. p. Otopsi : 15. Ltd.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. London. 5th ed. Saunders Co. : Hemorrhod or Piler – Surgery of the Anus.

Diagnosis : K80 : Batu Empedu 3.bila peradangan dan sudah ada massa dilakukan terapi konservatif. SGPT.Palpasi . reasi Heyman v/d Berg.ikterus. Patologi : 14.nyeri.Anamnesa - - .Pembedahan / Terapi .CT Scan . gamma glucorinyl transferase. tes faal hepar. setelah stadium tenang baru dilakukan kolesistektomi. Masa Pemulihan : 7 hari 12. SGOT. 8. Nomor ICD 2. Diagnosis Banding : Malignancy 5. : ikterus : Murphy’s sign : : 4.kolesistektomi laparoskopi. .Pemeriksaan Klinis : . . Informed Consent : Perlu 11.Perkusi . . Konsultasi : Interne 7. Otopsi : - 121 .PTCD : . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.kolesistektomi terbuka . Kriteria Diagnosis .USG.Inspeksi .ERCP . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Auskultasi Pemeriksaan darah : . PTCD 6. Pemeriksaan Penunjang : USG. ERCP. triggliserid. alkali fosfatase. Hasil : Tergantung apakah ada penyulit / tidak 13. Penyulit : Kolangitis 10. Pemeriksaan Imaging : .BOF . tegang perut kanan atas. CT Scan. kolestreol.kadar gula darah.1.

476-498 .15. 1990. 1337-1479 . Kepustakaan : .Dames SS : Disease of the Liver and Billiary System. Prentice Hall Inc. Karan. Blackwell Scientific Publication. 6th ed. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. Prentice Hall International Inc. 1717-1738 122 . p.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 222-224. 9th ed.p. 1981. Oxford. 10th ed. 1991. Joel Rslyn : Cholelithiasis and Cholecystectomy in Maingot’s Abdominal Operation. Prognosis : Baik 16. Prentice Hall International Inc. 1997. p. 10th ed.p.Joseph A. 527-557 .

pemeriksaan foto polos dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru. Konsultasi . Diagnosis Banding : Kelainan-kelainan intralumen pada daerah kolorektal 5.Hemikolektomi kanan : untuk tumor di sekum. Pemeriksaan Imaging : . Kriteria Diagnosis .Inspeksi : .untuk mendeteksi kelainan-kelainan didaerah rektosigmoid. 4. Pemeriksaan Radiologis : . Diagnosis : C18.Pembedahan / Terapi . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Reseksi kolon transversum : untuk tumor di kolon transversum.Perkusi : mencari chest board phenomena .pemeriksaan Ba-enema dengan kontrast ganda .Penyakit dalam . kelenjar para aorta Pemeriksaan pertanda tumor CEA untuk monitoring kekambuhan tumor. . .anemia / kelemahan umum .Anamnesa - - : .Anasthesi 7.Colok dubur : .0 : Karsinoma Kolorektal 3. Pemeriksaan Penunjang .USG .1.Palpasi : .darm contour / darm steifung (bila ada obstruksi) . Nomor ICD 2.IVP .berak campur darah / lendir .Ba-enema .Hemikolektomi kiri : untuk tumor di fleksura lienalis dan kolon descendens 123 .USG kalau perlu CT Scan untuk mengetahui penyebaran ke hati.dilanjutkan proktoskopi .Auskultasi : tanda-tanda obstruksi (pada keganasan kolon kiri) . kolon ascenden. .perubahan pola defekasi .Kolonoskopi .massa di perut kanan bawah / kiri .perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah defekasi.pemeriksaan IVP untuk mendeteksi infiltrasi tumor terhadap sistem saluran kemih. fleksura hepatika.CT Scan 6. .Pemeriksaan Klinis : .

1984.Golinger. 5th ed. Prentice Hall. Bailiere Tindall. Norman S.aminoglikosida. Saunders Co. JC. London. : Surgery of the Anus. . 1997. Penyulit Anemia Hipo albuminemia 10. Informed Consent : Perlu 11. p. Englewood Cliffs. p.metronidasol 8. And Wagner G.Reseksi sigmoid : untuk tumor sigmoid . 267-412 . : UICC-TNM Atlas. Keighley. Prognosis : Tergantung stadium tumor jenis patologi 16. Schebe O. p. Rectum Colon. p.Michael R. Kepustakaan : . 1982. 10th ed.Helena R. 1990.metronidasol atau .B.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. Springer Verlag. Prentice Hall International Inc. Patologi : Harus 14.Reseksi anterior : untuk tumor di rektum lebih dari 12 cm dari anus . Tindak Lanjut : Follow up poliklinis sampai 5 tahun atau 10 tahun 17. 1993 p. 9th ed.Spiessl B. Rectum and Colon.B. Williams : Surgery of the Anus. p. 830-1091. 426-793 . Hasil : Tergantung stadium tumor 13. . Bland : Tumors of the Colon in Maingot’s Abdominal Operation.Corman ML : Colon and Rectal Surgery. W. 78-99 . 124 . 1033-1172 .. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. 1984. Otopsi : 15. Masa Pemulihan : 7-14 hari 12. 1st ed.sefalosporin generasi III . Kirby I. 1281-1308. Chang.

9 Pemeriksaan aspirasi jarum halus.Anasthesi 7. Penyulit Gangguan faal pembekuan darah Hipo albumin Kolangitis 10.Penyakit Dalam .Perkusi : . Kriteria Diagnosis . CA.Auskultasi : Pemeriksaan Laboratorium : LFT. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.Ikterus obstruktif ok Stenosi saluran empedu .Laboratorium : LFT.Ikterus obstruktif ok batu empedu .1.Palpasi : Courvoisier Sign . Diagnosis : D13.dilanjutkan eksplorasi untuk reseksi atau by pass . 19. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .tanpa ikterus : eksplorasi untuk reseksi atau by pass .CT Scan 6. Pemeriksaan Penunjang . Nomor ICD 2. Masa Pemulihan : - 125 . 4.pankreatitis kronis .dengan ikterus : .9 .Untuk kasus tidak ada metastase : .Ikterus obstruktif ok keganasan saluran empedu 5.Inspeksi : ikterus . CA 19.diabetes mellitus .Pembedahan / Terapi .USG .6 : Karsinoma Pankreas 3. Konsultasi .Anamnesa - : .Pemeriksaan Klinis : .Untuk kasus metastase : terapi paliatif 8. Diagnosis Banding .alkoholisme . Informed Consent : Perlu 11.ERCP atau PTCD .

Mc Graw Hill. p. 9th ed. p. p.Keith D.Schwartz SI : Principles of Surgery. Prentice Hall International Inc . Prentice Hall Inc. prentice Hall Inc. Hasil : Tergantung apakah tumornya resetabel / tidak 13. 1997. Cameron : Pancreatic and Periampullary Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operation. 10th ed. Prognosis : Tergantung kepada stadium tumor dan tindakan yang dilakukan 16. 2003-2030 126 . 1977-2002 . Reber : Operation on the Pancreas in Maingot’s Abdominal Operation. 1997. Lilleane. 1989. Kepustakaan : . Otopsi : 15.Howard A.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. John L. 1429-1437 . Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. Patologi : Perlu 14.12. 5th ed. 10th ed.

KONSULTASI : a. Pemeriksaan fisik umum: Kondisi pasien baik b. Untuk pasien anak usia >1 tahun dapat rawat jalan pra dan pascabedah 8. Macam pengobatan : Tehnik Pembedahan : 1. Benjolan didaerah inguinal dapat menetap dan memberikan gejala/keluhan nyeri atau menyebabkan anak/bayi rewel dan menangis c. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk tindakan pembedahan : a. Limfadenofati inguinal 3.I. Pemeriksaan radiologi torak b. Tujuan terapi : Untuk pembedahan herniotomi secara berencana dengan persiapan b. Untuk pasien neonatus dan bayi usia < 1 tahun perlu rawat inap pra dan pascabedah b.40. Pemeriksaan fisik : a. Anamnesis : a. Cara pengobatan : Dilakukan herniotomi dengan berbagai tehnik c. unilateral 3. Seringkali terdapat gangguan pasase usus jika terjadi jepitan pada usus dalam kantong hernia 2. NOMOR ICD : K. Pada Neonatus : herniotomi dengan tehnik Michael Banks tanpa membuka fascia muskulus obliqus abdominalis 127 .9 2. Pemeriksaan fisik di daerah inguinal dapat terlihat atau teraba benjolan yang timbul hilang atau menetap II. HERNIA INGUINALIS LATERALIS UNILATERAL 1. DIAGNOSIS : Hernia Inguinalis Lateralis. Pemeriksaan Penunjang : tidak diperlukan untuk diagnosis 4. DIAGNOSIS BANDING : 1. Hidrokel funikuli 2. Dokter Spesialis Anak untuk toleransi operasi b. PENGOBATAN : a. Abses inguinal 5. Terdapat riwayat adanya benjolan yang timbul hilang didaerah inguinal b. Pemeriksaan Klinis : 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT : a. KRITERIA DIAGNOSIS : I. Pemeriksaan laboratorium : darah rutin 6. Dokter Spesialis Anestesi untuk toleransi pembiusan 7.

Terapi komplikasi pengobatan : a. Hematome luka operasi b. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Dokter Umum d.2. Kelas B b. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Residif hernia : dilakukan pembedahan ulang f. OTOPSI : Tidak diperlukan 16. PROGNOSIS : Baik 17. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : 1. PENYULIT : a. Paskabedah : penilaian penyembuhan luka dan kekambuhan 2. TINDAK LANJUT : Setelah pasien pulang dari rumah sakit dilakukan evaluasi : 1. Dokter Spesialis Bedah Anak untuk operasi Hernia Inguinalis Lateralis reponibilis pada neonatus dan bayi usia kurang dari 1 tahun 2. Dokter Spesialis Bedah Umum dan Chief Residen Ilmu Bedah Umum untuk hernia inguinalis lateralis reponibilis pada anak-anak 9. TEMPAT PELAYANAN : a. Jangka panjang : Kekambuhan dan munculnya hernia sisi lain 128 . Residif 11. Dokter Spesialis Bedah c. MASA PEMULIHAN : Perawatan luka operasi dapat dilakukan oleh : a. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Hernia Inguinalis Lateralis pada bayi dan anak-anak : RS kelas C 10. dengan tehnik membuka fascia muskulus obliqus abdominalis d. Hematom : dilakukan evakuasi b. Pada bayi dan anak-anak : dikerjakan herniotomi dengan tehnik Pott’s. Hernia Inguinalis Lateralis pada neonatus : RS. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. HASIL : Tidak terjadi kekambuhan hernia inguinalis 14. Perawat senior 13.

OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN PADA NEONATUS 1. Obstruksi usus distal akan memperlihatkan gambaran distensi usus halus maupun kolon secara segmental atau keseluruhan. Jika gambaran gelembung udara terlihat kecil-kecil dengan jumlah 3 gelembung atau lebih. Terlihat distensi abdomen yang massive pada obtruksi intestinal distal sedangkan pada obstruksi intestinal tinggi distensi hanya terlihat didaerah epigastrium dan biasanya hilang setelah dipasang pipa lambung. Analisa gas darah 129 . KRITERIA DIAGNOSIS : Pemeriksaan Klinis : Anamnesis : 1. Radiologi : a.56. 2. b. c. Muntah tidak berwarna tidak berwarna hijau namun jumlahnya lebih dari 25 cc menunjukkan sumbatan / obstruksi pada pintu kaluar lambung ( gastric outlet obstruction ).II. Pada kasus obstruksi intestinal lanjut dapat ditemukan gejala dehidrasi. Pemeriksaan Fisik : 1. Muntah hijau menunjukkan lokasi obstruksi dibawah muara ampulla vater sebagai manifestasi peningkatan empedu yang keluar. 2. artinya obstruksi daerah yeyunum atau illeum.Gangguan evakuasi mekonium dalam kwalitas dan kwantitas dapat merupakan gejala obstruksi intestinalis pada neonatus.Foto polos abdomen posisi tegak merupakan penunjang diagnosis paling bermanfaat : a. 2. 3. DIAGNOSIS : Obstruksi saluran pencernaan pada neonatus 3. Laboratorium : a. Pada obtruksi intestinalis segmen tengah dari saluran pencernaan umumnya mekonium dapat keluar namun jumlahnya sedikit. Jika terlihat dua gambaran gelembung udara ( double bubble ) berarti ada sumbatan didaerah duodenum. d. Gejala muntah pada neonatus harus dianggap sebagai manifestasi obstruksi intestinalis sampai dapat dibuktikan secara klinis dan penunjang diagnosis tidak ditemukan. Darah rutin b. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilihat kaliber kolon mulai dari bagian distal sampai proksimal tempat obstruksi kolon dan melihat posisi sekum pada kasus malrotasi. Elektrolit darah c. Jika terlihat satu gambaran gelembung udara ( single bubble ) berarti ada sumbatan didaerah pilorus. sepsis sampai peritonitis Pemeriksaan penunjang : 1. b. Jika pada usus bagian distalnya terlihat gambaran udara itu berarti obstruksinya perineal. syok hipovolumik. Muntah dan distensi abdomen merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada semua jenis obstruksi intestinalis. NOMOR ICD : K.6 2.

DIAGNOSIS BANDING : 1. PENYULIT : Sepsis 11. PENGOBATAN : a. 2. Mekonium Plug Syndrome 4. Penyakit Hirshsprung’s 3. Dokter Spesialis Anak : untuk toleransi pembedahan b. Kelas B untuk pelayanan pembedahan b. Dengan komplikasi di rawat di Ruang Perawatn Intensif 130 . RS. Atresia intestinalis : Gastric outlet. RS. Tujuan terapi : Mengatasi obstruksi saluran pencernaan b. Macam pengobatan : Tergantung jenis penyebab obstruksi saluran pencernaan d.4. Tanpa komplikasi dapat di rawat di ruang biasa b. Dokter Spesialis Anastesi : untuk toleransi pembiusan 7. duodenum. Radiologi b. Cara pengobatan : 1) Intestinal dekompresi pada obstruksi non mekanis 2) Laparotomi eksplorasi untuk mengatasi obstruksi mekanis c. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perforasi dan peritonitis dilakukan laparotomi eksplorasi 2) Sepsis dilakukan perawatan intensif f. Waktu pengobatan : Segera setelah dignosis ditegakkan e. kolon dan rektum. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Kelas B 8. Mekonium ileus 5. Kelas C untuk penatalaksanaan awal 10. Laboratorium 6. TEMPAT PELAYANAN : a. anorektum. jejunoileal. Small left colon syndrome 5. MASA PEMULIHAN : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dokter Spessialis Bedah jika tanpa komplikasi 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk penatalaksanaan awal 9. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. KONSULTASI : Tidak diperlukan untuk diagnosis Konsultasi sebelum pembedahan : a.

OTOPSI : Diperlukan 16. TINDAK LANJUT : Setelah pasien di pulangkan pasien kontrol untuk evaluasi pascabedah dan pasca perawatan 131 . HASIL : Tergantung kondisi awal saat pasien datang 14. PATOLOGI : Diperlukan 15.13. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17.

DIAGNOSIS : Intussusepsi 3. Dapat terlihat pada saat serangan bayi menangis sambil kakinya ditarik. Pada perabaan dinding abdomen yang masih lembut umumnya dapat diraba massa berbentuk sosis pada kwadran kanan atas dan ditemukan pada hampir sebagian besar pasien intussusepsi yang datang lebih awal 3. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. NOMOR ICD : K. Serangan dan gambaran seperti ini dapat terulang lagi dengan interval waktu 1 sampai 2 jam 6. Pemeriksaan Penunjang Medis : Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium akan didapatkan gambaran leukositosis (>20. Distensi abdomen kadangkala terlihat pada kasus intussusepsi lanjut atau telah terdapat komplikasi seperti perforasi usus 2. demikian juga pada intussusepsi pascabedah umumnya terjadi setelah 2-5 hari kemudian dengan meningkatnya produksi NGT disertai dengan memburuknya kedaan pasien tanpa penyebab yang jelas. Muntah ditemukan pada 90% bayi dengan intussusepsi dan kadangkala juga terlihat dehidrasi 7. 3. pada prolaps karena intussusepsi teraba ada celah diantara bagian usus yang prolaps dengan mukosa anorektum 5.III. Intussusepsi pasca bedah abdomen dan toraks umumnya terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5 setelah pembedahan. INTUSSUSEPSI 1. yang terlihat adanya peningkatan produksi cairan lambung yang berwarna seperti empedu. Pemeriksaan rectum kadang-kadang dapat diraba pseudoportio dari ujung distal intussuseptum dan pada sarung tangan terdapat darah dan atau lendir 4.000 mm3) dan pergeseran sel ke kiri(shift to the left). Intussusepsi khas didapatkan pada bayi sehat dengan gizi baik. Umumnya tanpa keluhan nyeri. Keluhan defekasi berdarah yang khas “ Current jelly stool” didapatkan pada 50% kasus intussusepsi Pemeriksaan fisik : 1. Intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan secara klinis dengan obstruksi usus mekanis oleh penyebab lainnya sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang medis seperti radiologi. 132 . 2. wajahnya pucat seperti dalam keadaan sakit berat dan keadaan ini dapat berlangsung sekitar 20 detik selanjutnya bayi terlihat normal kembali. Gejala intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan dengan gejala obstruksi intestinalis lain. Sedangkan intussusepsi dengan lead point dapat terjadi pada semua usia. terdapat riwayat gastroenteritis dan atau infeksi saluran nafas sebelumnya 4.56. Dengan pemeriksaan rektum dapat dibrdakan. Intussusepsi lanjut dapat juga terlihat prolaps intussuseptum melalui anus sehingga seringkali sulit dibedakan dengan prolaps mukosa rektum. Nyeri sistemik intermitten merupakan gejala paling sering menyebabkan bayi dibawa ke dokter 5. Intussusepsi idiopatis merupakan kelainan paling sering ditemukan pada bayi usia 6-8 bulan (sekitar 50-85% kasus).1 2. laboratorium 6. Kondisi pasien secara umum lebih memburuk.

analisa gas darah 6. KONSULTASI : a. Cara pengobatan : 1) tanpa operasi. Macam pengobatan : 1) Reduksi intussusepsi tanpa operasi. Terapi komplikasi pengobatan : a. 2. Fissura anus 5. Spesialis Bedah Anak 133 . Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : a. laju endap darah. Untuk pembedahan konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Perforasi : dengan laparotomi eksplorasi b. Gambaran kontras akan memperlihatkan adanya “cupping” seperti gambaran huruf “U” terbalik didaerah intussusepsi dan intussuseptum dari kolon. udara 2) dengan operasi : laparotomi eksplorasi c. Spesialis Bedah b.Radiologi : 1. Laboratorium: hemoglobin darah. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilakukan pada kasus tanpa komplikasi atau gejala klinis belum jelas. leukosit darah. Sepsis : dengan laparotomi eksplorasi dan perawatan intensif f. Dengan enema barium akan terlihat lokasi intussusepsi terutama jika terdapat ileosekokolokolikal intussusepsi sedangkan intussusepsi ileoileal sulit ditegakkan diagnosis dengan cara ini. Obstruksi saluran pencernaan b. DIAGNOSIS BANDING : a. foto torak b. bila tanpa kontraindikasi 2) Reduksi manual dengan operasi d. reduksi dengan tekanan hidrostatis : enema barium. Radiologi. Untuk diagnosis dan terapi non operatif konsultasi Dokter Spesialis Radiologi b. Enteritis hemorrhagika d. PENGOBATAN : a. Divertikulitis c. 4. Tujuan terapi : 1) melakukan reduksi segmen usus yang mengalami intussusepsi 2) mengatasi komplikasi b. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Harus dirawat di RS Kelas B atau RS. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk persiapan pembedahan : a. Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen posisi AP tegak dianjurkan jika gejala klinis belum mendukung karena fase awal akan terlihat gambaran distribusi udara dalam usus lebih banyak pada sisi kiri abdomen sedangkan gambaran udara usus sisi abdomen kanan menghilang. Kelas C 8.

Dokter Spesialis Bedah iii. TINDAK LANJUT : Pasien harus dilakukan evaluasi setelah pulang dari rumah sakit untuk follow up 134 . OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa penyebab yang jelas 16. RS. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. PATOLOGI : Jika ditemukan leadpoint diperiksakan patologi anatomi 15. TEMPAT PELAYANAN : a. Reduksi non operatif. HASIL : Pasien pulang dengan kondisi baik dalam fungsi usus dan defekasi 14. Dengan reseksi usus halus dan atau usus besar. Dokter Spesialis Bedah Anak ii. PROGNOSIS : 1) Baik jika tanpa komplikasi 2) Jelek jika terdapat komplikasi 17. Kelas B: intussusepsi dengan komplikasi b. diperlukan rawat inap untuk observasi selama 2-3 hari dirawat oleh : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah b. MASA PEMULIHAN : a. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah iv. rawat inap 7 – 10 hari dilakukan oleh i. Pascabedah : 1) Infeksi pascabedah 2) Sepsis 3) Ileus berkepanjangan 11. PENYULIT : a. Perawat senior 13. RS. Prabedah : 1)Perforasi 2)Sepsis b. Kelas C : intussusepsi tanpa komplikasi 10.9. Pascabedah reduksi manual tanpa komplikasi rawat inap 5 – 7 hari dilakukan oleh : 1) Dirawat Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dirawat Dokter Spesialis Bedah 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 4) Perawat Senior c.

muntah hijau Pemeriksaan fisik : 1. Untuk pembedahan konsultasi : 1) Dokter Spesialis Anak 2) Dokter Spesialis Anestesi 7. ANUS IMPERFORASI : 1. Tidak mempunyai lubang anus pada bayi baru lahir sehingga tidak terdapat evakuasi mekonium. Gejala obstruksi intestinalis rendah seperti abdomen kembung. Radiologi : Foto Cross table abdominal foto. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Perlu rawat inap 135 . Laboratorium : pemeriksaan urine lengkap 2. anus tidak ditemukan pada tempat yang seharusnya. 42. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan penunjang prabedah : i. 3. Distal colostogram 3. sering ditemukan fistule rektum ke perineum. Pada pemeriksan fisik daerah perineum. posisi prone 4. 2. NOMOR ICD : Q. Foto toraks 2. Untuk diagnosis tidak diperlukan konsultasi b. Foto tulang belakang 6. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengetahui kelainan congenital lain yang menyertai anus imperforasi Pemeriksaan penunjang : 1. DIAGNOSIS BANDING : Tidak diperlukan 5. Bayi usia lebih dari 24 jam secara klinis akan memperlihatkan gambaran obstruksi intestinalis rendah 3. 2.3 2.IV. Radiologi : 1. Laboratorium : 1) Hemoglobin darah 2) Laju endap darah 3) Leukosit darah 4) Faal hemostasis 5) Albumin darah dan total protein ii. KONSULTASI : a. vestibulun vagina sehingga mekonium tampak keluar melalui tempat tersebut. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. Terdapat keluhan mekonium keluar bersama-sama saat pasien kencing atau keluar didaerah perineum dan atau vagina karena adanya fistula. DIAGNOSIS : Anus Imperforasi 3.

PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. berat badan. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa sebab yang jelas 136 . HASIL : Diharapkan pasien dapat defekasi kontinens. Prolaps anus d. MASA PEMULIHAN : 1) Pascabedah kolostomi dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS. PENGOBATAN : a. Kelas B untuk Anoplasti b. Perawat Senior 2) Pascabedah Anoplasti dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Anak. Macam pengobatan : 1) Pembuatan kolostomi terpisah (divided colostomy) jika diperlukan 2) Pembuatan anus dengan tehnik Postero sagittal anorectoplasy (PSA) d. PENYULIT : a. RS. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk kolostomi 2) Dokter Spesialis Bedah Anak untuk Anoplasti 9. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan. Dokter Spesialis Bedah. RS Kelas C untuk kolostomi 10. Perdarahan tempat operasi b Retraksi anus c. Tujuan terapi : 1) Terapi awal untuk pengalihan sementara saluran pembuangan melalui kolostomi jika diperlukan 2) Terapi definitive untuk pembuatan lubang anus dengan tehnik anoplasti b. dan hemoglobin pasien memenuhi syarat untuk pembedahan definitive berencana e. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Inkontinensi anus 11. Cara pengobatan : 1) Pengobatan sementara dengan kolostomi 2) Pengobatan definitive dengan anoplasti c. TEMPAT PELAYANAN : a. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan pada saat kolostomi atau anoplasti dilakukan reoperasi 2) Retraksi anus atau kolostomi dilakukan reparasi ulang 3) Prolaps anus atau kolostomi dilakuakn reparasi 4) Skinrash karena iritasi kulit diberikan local proteksi dengan zinksalf f. tanpa komplikasi pascabedah 14. dilakukan kolostomi atau anoplasti 2) Setelah usia.8.

TINDAK LANJUT : 1)Setelah pasien pulang dilanjutkan dengan businasi dan dilatasi anus sampai kaliber sesuai usia pasien dilakukan kontrol dan evaluasi secara rawat jalan 2) Penutupan kolostomi dilanjutkan dengan dilatasi dan businasi anus sampai kaliber sesuai dengan usia dengan frekwensi sesuai skedul 3) Toilet training sampai pasien defekasi kontinens melalui evaluasi sesuai sistim skoringnya 137 . PROGNOSIS : Baik jika pengelolaan awal dan lanjut sesuai prosedur 17.16.

Perut kembung c. Demam e. Terdapat obstruksi intestinalis parsial berulang b. Diare berulang 3.1 2. Distensi abdomen d. Konstipasi khronis : a.Udara tidak mencapai cavum pelvis 138 . Fekaloma Pemeriksaan fisik : 1. Foto polos abdomen : gambaran obstruksi usus rendah . Enterokolitis akut atau khronis : a. Tanda dan gejala dehidrasi 3. Distensi abdomen 2. Muntah-muntah c. Perut buncit 3. Terdapat tanda-tanda obstruksi Intestinalis akut: a. Konstipasi sebagai gejala pokok 2. Tanda dan gejala sepsis dan septik syok Pemeriksaan penunjang : A. Tanda dan gejala enterokolitis akut 4. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : Pada bayi baru lahir dan usia beberapa minggu : 1. Dehidrasi sampai syok 2.43. Muntah hijau d. PENYAKIT HIRSCHSPRUNG’S 1. Evakuasi mekonium terlambat lebih dari 24 jam b. NOMOR ICD : Q.V.Gambaran obstruksi usus akut / khronis . Diare khronis atau akut b. Malnutrisi 5. lateral dan tengkurap akan memperlihatkan : . DIAGNOSIS : Penyakit Hirschprung’s 3. Tidak bisa mengedan 4.Radiologi : 1. Sepsis Pada anak lebih besar : 1. Perut kembung c.Foto polos abdomen 3 posisi anterior-posterior (AP). konstipasi e. Gangguan defekasi berlanjut.

a. Tumor anorektum d. PENGOBATAN : a. Stenosis anus c. Cara pengobatan : 1) Tindakan awal dikerjakan kolostomi untuk diversi feses sementara 2) Tindakan definitive tarik terobos retrorektal prosedur Duhamel modifikasi dengan stapler 139 . Biopsi daerah anorektum untuk pemeriksaan patologi anatomi diperlukan jika diagnosis klinis dan penunjang radiologi belum memberikan diagnosis definitif 4. Manometri rectum 6. daerah proksimal yang dilatasi dibatasi daerah transisi. Anak lebih besar . Untuk diagnosis : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi 2) Konsultasi Dokter Spesialis Patologi Anatomi b. Stenosis anus c. Anterior anus 5. Mekonium plug syndrome b. Biopsi rectum b. Fissura anus e. Tujuan terapi : Membuat fungsi defekasi pasien kembali mendekati normal b. DIAGNOSIS BANDING : 1.Gambaran daerah rektum yang menyempit. Enterokolitis netrotikans e. a. Fisura anus f.Gambaran lipatan mukosa kolon ( transversal fold ) B. Bayi baru lahir dan usia beberapa minggu . Untuk Tindakan dan perawatan : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Anak 2) Konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7.3. Konstipasi oleh karena berbagai penyebab seperti : hipotiroid. KONSULTASI : a. Foto dengan kontras : Enema barium memperlihatkan : . Prematuritas d. Hipotiroid 2. Laboratorium untuk diagnosis tidak diperlukan C. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. . PEMERIKSAAN PENUNJANG : Dilakukan jika diagnosis klinis dan radiologi belum memberikan kepastian diagnosis : a. retardasi mental b.

dilakukan reoperasi untuk menghentikan perdarahan 2) Enterokolitis. PATOLOGI : Diperlukan untuk : a. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. untuk diagnosis. Untuk diagnosis b. Perawat senior 13. Enterokolitis b. Kelas B untuk tindakan defnitif b. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan. OTOPSI : Diperlukan pada kematian pasien Penyakit Hirschsprung’s yang tidak disebabkan langsung oleh tindakan maupun komplikasi dalam pengelolaannya 140 . berat badan. PENYULIT : a. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan dilakukan kolostomi 2) Setelah persyaratan operasi definitive terpenuhi dilakukan Prosedur Duhamel e. Inkontinensi alvi 11. kolostomi dan perawatan awal 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah. HASIL : Pasien dapat defekasi spontan dan kontinen 14. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Spesialis Bedah Anak. pemberian antibiotika dan kolonrektal washing 3) Gangguan defekasi.tindakan kolostomi dan terapi definitive 2) Spesialis Bedah untuk diagnosis.c. Obstivasi khronis c. RS. Kelas C untuk tindakan dan perawatan awal 10. MASA PEMULIHAN : Dilakukan perawatan pascabedah oleh : a. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Menentukan demarkasi usus yang aganglioner dan yang berganglion 15. untuk perawatan awal dan kolostomi 9. dengan regulasi defekasi melalui pengaturan diet dan obat pencahar f. fisik. TEMPAT PELAYANAN : a. Dokter Spesialis Bedah c. Macam pengobatan : 1) Kolostomi sigmoid jika memungkinkan 2) Leveling kolostomi pada kasus yang tidak tegas segmen kolon yang aganglioner 3) Laparotomi pada Penyakit Hirschsprung’s neonatus dengan gejala obstruksi total 4) Prosedur Duhamel setelah memenuhi syarat dalam usia. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. laboratorium dan toleransi operasi d. RS.

PROGNOSIS : Baik. TINDAK LANJUT : Pasien kontrol rawat jalan untuk follow-up fungsi defekasi. dan pasien datang pada saat belum terdapat komplikasi 17. adanya penyulit dan perlunya tindakan revisi pembedahan 141 .16. jika pengelolaan sesuai dengan prosedur.

Obturator dan psoas sign sebagai petunjuk lain terdapat proses keradangan didaerah posterior lokasi apendiks namun jarang ditemukan pada anak-anak.000-15.Pada pemeriksaan abdomen.Mual dan muntah terjadi setelah timbul gejala nyeri perut. anak mengalami demam dengan suhu axilla diatas 38 derajat celcius 2. pipi kemerahan. kadang-kadang anak lebih besar terdapat gejala anoreksia sehingga semakin menyulitkan diagnosis. 8. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium : 1. Pemeriksaan fisik : 1. bibir terlihat kering.VI.Tanda peritonitis umum yang lebih menonjol pada pemeriksaan abdomen terdapat nyeri perut yang menyeluruh dan seluruh dinding abdomen mengalami rigiditas. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1.Tanda-tanda “rebound tenderness rigiditas” dinding abdomen muncul jika telah terjadi perforasi apendiks. seringkali sulit dibedakan dengan gejala gastroenteritis. 7. 6.Pemeriksaan palpasi abdomen ditemukan titik nyeri daerah “Mc Burney’s 4. 2. sedangkan jika hasil pemeriksaan leukosit mencapai 20.Pemeriksaan rectum dilakukan jika penemuan gejala seperti diatas masih belum dapat membantu diagnosis apendisitis.Selanjutnya nyeri perut berpindah kedaerah kwadran kanan bawah abdomen (daerah Mc Burney) 3. NOMOR ICD : K. jika abses terlokalisir dalam rongga peritoneum teraba massa dengan palpasi bimanual dari dinding abdomen dan pemeriksaan rectum. Darah Umumnya ditemukan leukositosis (11. DIAGNOSIS : Appendisitis Akut 3.Nyeri perut daerah periumbilikus 2. ditemukan pada 10% kasus dapat 142 .000 mm3 dengan gejala klinis minimal untuk apendisitis kemungkinan disebabkan keadaan lain. Umumnya hasil pemeriksaan urine normal pada apendisitis pada beberapa kasus apendisitis dapat ditemukan sel darah merah dan atau sel darah putih pada sidemen urine Pemeriksaan radiology atau ultrasound : Untuk gejala apendisitis tertentu membutuhkan pemeriksaan radiology dan atau ultrasound ( USG ) seperti : 1. Foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran mass effect akibat hilangnya gambaran gas di daerah abdomen kanan bawah. kadangkala dapat diraba adanya massa atau pembentukan abses. APPENDISITIS AKUT 1.000 mm3) dengan pergeseran sel kekiri namun demikian hasil pemeriksaan leukosit normal dapat ditemukan pada anak dengan apendisitis. Urinalisis Perlu diperiksa jika terdapat gejala klinis yang sulit dibedakan dengan infeksi saluran kencing.9 2. 5.Agak sulit berjalan dan tungkai kanan terlihat fleksi pada saat tiduran 3. Wajah nampak pucat.35. abdomen distensi dan tegang. pada pemeriksaan ini akan ditemukan tenderness kearah kanan dinding rectum.

PEMERIKSAAN PENUNJANG : Prabedah : a. pnemonia paru kanan lobus bawah. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. 3. faal hemostasis 2) Urine : sedimen urin b. 4. apendiktomi c. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan dan pasien memenuhi sayarat untuk pembedahan 143 .terlihat gambaran fekolit (feses yang mengeras sebagai penyebab sumbatan obstruksi lumen apendiks) 2. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan rutin pada anak dengan gejala klinis minimal atau anak yang gemuk. Macam pengobatan : a. Enema barium perlu dikerjakan pada anak dengan nyeri perut berulang tanpa gejala penyerta yang jelas. DIAGNOSIS BANDING : a. b. d. intususepsi. Cara pengobatan : Melalui tindakan pembedahan. Gastroenteritis : Gejala muntah dan diare mendahului gejala sakit perut pada umumnya tidak ditemukan nyeri perut terlokalisir di daerah abdomen bagian bawah. kolesistis kadangkala gejala klinis menyerupai apendisitis. 5. Laboratorium : 1) Darah rutin : Leukosit darah dan Laju endap darah (LED). Tujuan terapi : Menganggkat apendiks vermiformis b. Apendiktomi anterograde b. regional enteritis. Ultrasound/USG dapat terlihat ukuran apendiks lebih besar dari normal disertai gambaran abses periapendikuler atau tumpukan abses di daerah rongga pelvis. Penyakit radang panggul : terutama anak dan wanita dapat menyerupai gejala apendisitis. Tanda-tanda apendisitis akut akan terlihat gambaran barium yang menunjukkan penyempitan lumen apendiks dan tiba-tiba terhenti (cut off) akibat adanya obstruksi. Untuk diagnosis : konsultasi Dokter Spesialis Anak b. Untuk pembedahan: konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Konstipasi : Massa feses yang teraba pada pemeriksaan palpasi abdomen dan pemeriksaan rectum dapat membedakannya dengan apendisitis. Radiologi : 1) Foto toraks 2) Sonografi appendiks vermiformis 3) Apendikograpi jika diperlukan 6. sickle cell crisis. KONSULTASI : a. Apendiktomi retrograde d. PENGOBATAN : a. namun dapat dibedakan dari proses nyeri perut yang tidak didahului oleh nyeri perut klasik didaerah umbilicus. Beberapa kasus lain seperti infeksi saluran kencing dan infeksi Mackle’s divertikulum. c.

PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. Infeksi luka operasi c. dilakukan reoperasi b. RS kelas C bila tanpa komplikasi 10. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN : a. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 9. Perdarahan. HASIL : Pascabedah pasien pulih baik 14. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. dengan relaparotomi f. RS. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dapat dilakukan oleh : a. Infeksi luka operasi. Terapi komplikasi pengobatan : a. Kelas B bila terdapat komplikasi b. Spesialis Bedah Anak b. Spesialis Bedah c. Perforasi appendicitis akut b. OTOPSI : Diperlukan jika kematian pasien tidak jelas penyebabnya 16. Abses intraperitoneal. TINDAK LANJUT : Pasien rawat jalan untuk kontrol dan follow-up pascabedah 144 . Dokter Spesialis Bedah c. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. dengan perawatan luka c. Dokter Spesialias Bedah Anak b.e. Abses peri apendikulare d. PENYULIT : a. Perawat senior 13. Sepsis prabedah dan pascabedah 11. PATOLOGI : Diperlukan untuk konfirmasi 15.

Analisa gas darah 6. sekaligus menutup dinding abdomen langsung maupun ditutup sementara dengan alat (mesh. setelah usia. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : a. Macam pengobatan : 1.silastik. Cara pengobatan : Pasien dilakukan pembedahan dengan persiapan minimal untuk penutupan defek dinding abdomen dan pascabedah mendapat perawatan intensif dengan alat bantu pernafasan c.79. Untuk tindakan pembedahan konsultasi: Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anestesi 7. OMPHALOCELE PECAH DAN GASTROSCHISIS 1. Pembedahan definitif.Faal hemostasis.2 dan Q. PENGOBATAN : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a.kasa steril dll) b. Penutupan primer dinding abomen 2. Untuk diagnosis tidak dibutuhkan pemeriksaan penunjang b. Riwayat kehamilan dan persalinan dengan distocia b.VII. NOMOR ICD :Q. Dinding abdomen dan tali pusar yang tidak normal Pemeriksaan fisik : a.3 2. Pembedahan primer dan sekunder dilakukan sebelum usia bayi 12 jam 2. KONSULTASI : a. DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada 5. Untuk tindakan pembedahan dibutuhkan pemeriksaan penunjang : 1)Radiologi : foto torak dan abdomen 2)Laboratorium: Hb.beratbadan dan kondisi pasien memenuhi syarat untuk pembedahan berencana 145 . Tujuan terapi : Untuk mengembalikan organ rongga abdomen yang berada diluar. Penutupan sekunder dengan alat bantu seperti mesh 3. Penutupan definitif d. Terlihat dinding abdomen mengalami kelain 4. DIAGNOSIS : Omphaloce pecah dan Gastroschisis 3. Keadaan umum bayi buruk b. Untuk diagnosis tidak diperlukan b.79. Waktu pengobatan : 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan perawatan di rumah sakit prabedah maupun pascabedah 8.

PROGNOSIS : Du-Boab ad malam 17. Kelainan bawaan pada organ lainnya yang terjadi bersamaan h. TINDAK LANJUT : Pasca perawatan di rumah sakit pasien rawat jalan untuk evaluasi dan follow-up perlunya tindakan lebih lanjut 146 . TEMPAT PELAYANAN : RS. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dilakukan oleh : c. Spesialis Bedah c. Gangguan pasase usus 11. Dokter Spesialis Bedah Anak e. Spesialis Bedah Anak b. Syok hipovolumik k.e. OTOPSI : Diperlukan pemeriksaan otopsi jika pasien meninggal untuk menentukan causa mortis 16. Gangguan pasase usus dengan relaparotomi dan intestinal dekompresi f. Kelas B 10. Dokter Spesialis Bedah f. Distres pernafasan dengan alat bantu pernafasan b. pasase usus berfungsi baik 14. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Distress pernafasan pascabedah i. Terapi komplikasi pengobatan : a. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk perawatan awal 9. Sepsis j. Intensifis di Ruang Perawatan Intensif d. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. PENYULIT : g. HASIL : Pasien bisa survive.

M. Inc.M.M. Aschraft.. W..D. Coran. Mosby-Year Book.Holder.D.. St Louis.M.Grosfeld.Kepustakaan : 1.D.M. Second Edition. Eric W. Pediatric Surgery Keith W. Fondkallsrud. James A.D. Arnold G.D..B.: Jay L.Thomas M.. Copyright 2000 2. M.D. Saunders Company Philadelphia.MD.Rowe. Essential of Pediatric Surgery Mare I. Misouri Copyright 1995 147 .O’Neil Jr.

.Intra cerebral hematum 10. mesti dengan pemberian obat-obatan.Foto polos kepala AP & lateral : Penderita CKR dengan : . Kriteria Diagnosis : . . . .Anti Emetik . Informed Consent : Tidak perlu. mual muntah.Riwayat cidera kepala.Analgetik .CT-Scan kepala : Penderita CKR dengan : . 4.Penurunan kesadaran. Terapi : .Vulnus apertum dikepala panjang > 5cm . Patah tulang (Interne. 148 .Gelisah.Cairan infus selama penderita minumnya tidak adekuat. Penyulit : .GCS< 15 . . Pemeriksaan Penunjang : . .Observasi terhadap penyulit yang timbul yaitu: . 5. muntah.Perdarahan Intra kranial . gelisah bila memberat walaupun .Epidural hematum .Simtomatis . Nama Penyakit/Diagnosis/ICD : .Orthopedi) 6. nyeri kepala. Konsultasi : .Sefal hematoma diameter >5cm.Neurologi .Anti Vertigo .Lateralisasi.ICD 850 2. Tempat Pelayanan : . kecuali ada penyulit dan perlu operasi (tertulis). 8. DM.Derajat kesadaran.Cidera kepala ringan (CKR) / Commotio Cerebri . Diagnosis Banding : .IRD kemudian untuk observasi di IRD lantai 2 atau Instansi Rawat Inap 9.CVA hemoragik dan non hemoragik. . Cedera kepala 1.GCS 3.Keluhan bertambah berat.I.Vertigo. Perawatan RS : .Kalau ada kelainan: Hipertensi.mual. .Keluhan : . nyeri kepala.dengan obat-obatan → indikasi CT-Scan kepala.Lateralisasi 7.Kardio.Subdural hematum .Pernah tidak sadar/saat ini tidak sadar. .

Perawat yang terlatih . Marshall LF.Penyulit 5-7 hari 13. Narayan RK.Tanpa penyulit 2-5 hari . 36 (1) : 89-95.Residen senior bedah . results of a national survey. Masa Pemulihan : .Tidak perlu 16. PA : . Lama Perawatan : .Residen bedah umum . 15. 4. 34 : 216-222.1-2 minggu 14. New York.Bila ada penyulit: .11. 2. American college of Surgeon ATLS .Pulang dengan sembuh total. Marion DW. Output : . 149 . Willberger JE.Penderita CKR meninggal tanpa kausa yang jelas.hill.Ahli Bedah Saraf 12. American Association of Neurological Surgeons: Guidelines for the Management of Severe Head Injury. Chestnut RM. Kepustakaan: 1.Ahli Bedah Umum . McGraw. Povlishock JT (eds) : Neurotrauma.Dokter umum/Residen . Journal of Trauma 1993 . Head trauma : Chicago Six edition 1997.Bila tidak ada penyulit : . Otopsi/Risalah : . Klauber MR. 5. 3. Carlier PM : Problems with initial Glasgow Coma Scale assessment caused by prehospital treatment of patients with head injuries . 1996. Standar Tenaga : . et al : The role of secondary brain injury in determining outcome from severe head injury. Journal of Trauma 1994 . 1995.

MENINGOENSEFALOKEL .MRI 5. Nama penyakit / diagnosis: .Benjolan pada pangkal hidung. Tempat pelayanan : . Kriteria Diagnosis: .021 2.infeksi. Konsultasi : .. Forth edition . nyeri tekan 3. Tenaga standar: .Rawat inap 7. Julian R. Penyulit: . Terapi: . United state of America 1996.ICD 5. CT Scan .IBS 9. Neurological Surgery.Eksisi meningoensefalokel & duraplasti 8. kebocoran cairan serebrospinal 10. Informed Consent (tertulis): .tengkuk atau pinggang bawah sejak lahir.Spesialis Bedah Saraf 12.Foto Ro : Kepala atau Lumbosakral.II. teratoma.Kista Dermoid. 150 . Youmans.Bedah Plastik (pada penderita dewasa) 6. lipoma 4. Perawatan RS: .Ya 11. WB Saunder Company.3 hari Kepustakaan: 1. Diagnosis Banding : . Pemeriksaan Penunjang : . . Meningoensefalokel 1. Lama perawatan: .Neurologi .

Konsultasi : .ICD 5. Forth edition . 3. Informed Consent (tertulis): . Perawatan RS: . Neurological Surgery. psikomotor terhambat. Julian R. Nama penyakit / diagnosis: . Pemeriksaan Penunjang: .HIDROSEFALUS INFANTIL .hematoma intracranial 10. Penyulit: .IBS 9. CT Scan 5. Kriteria Diagnosis: . Diagnosis Banding: .7 Hari Kepustakaan: 1. Tempat pelayanan : .Makrosefal 4.Spesialis Bedah Saraf 12. Sun set phenomena. Youmans. sejak lahir. vasa kepala prominen. United state of America 1996..Ya 11.Rawat inap 7. IV. Hidrosefalus 1. WB Saunder Company. Tumor otak 151 .Neurology 6.Ro Kepala.V-P shunt 8. Tenaga standar: .III. Terapi: .023 2.Kepala besar. Lama perawatan: .

United state of America 1996. Perawatan RS: . Terapi: . 2. William and Wuilkins co. Nama penyakit / diagnosis: . penglihatan kabur. tension headache. Tempat pelayanan : . defisit Neurologi fokal ( TIK meningkat kronis Progresif) 3. WB Saunder Company. Tindall. infeksi 10. Forth edition . George T. Abses. 3.3 bulan 14. Japan 1995.Rawat Inap 7. P. Kinpodo Publising Company. MRI 5.: Illustrated Neurosurgery. Neurological Surgery.: . SDH kronik.A. Youmans.TUMOR OTAK .Neurologi 6.1. Tenaga standar: . The Practice of Neurosurgery. Konsultasi : . Diagnosis Banding: . Penyulit: . tuberkuloma 4. Masa pemulihan: .Ya 11.Ya Kepustakaan: 1. Kriteria Diagnosis : .IBS 9.ICD 5. CT Scan.10 hari 13. United state of America 1996.Nyeri kepala.Migrain.Ro Kepala..Perdarahan. Pemeriksaan Penunjang: .Spesialis Bedah Saraf 12. Julian R.Trepanasi + reseksi tumor 8. muntah. 152 . Ohta Tomio . Lama perawatan: .029 2. edema serebri. Informed Consent (tertulis): .

Spesialis Bedah Saraf 12. Konsultasi : . 153 .HNP (Hernia Nukleus Pulposus) ICD 5. Neurological Surgery. Cedera saraf dan medula Spinalis 10.MRI 5. tes laseque positif 3.Rawat inap 7.Ya 11. George T.803 2. 2. Bila 1) gagal (laminektomi + eksisi HNP) 8. Pemeriksaan Penunjang: .Robekan duramater. Terapi: . Ohta Tomio . United state of America 1996. 3.7 hari Kepustakaan: 1. Diagnosis Banding: . Kinpodo Publising Company.Kaudografi . Informed Consent (tertulis): . WB Saunder Company. Perawatan RS: . Japan 1995. analgesik 2.V. Forth edition . fisioth/. The Practice of Neurosurgery. Tempat pelayanan: .Neurologi 6. Julian R.: Illustrated Neurosurgery.Nyeri salah satu tungkai yang menjalar dari pinggang kepaha dan betis.Konservatif 2 minggu : bed rest. Kriteria Diagnosis: . Penyulit: . Youmans. Nama penyakit / diagnosis: . Lama perawatan: . Tindall.Tumor Kauda Equina 4.. United state of America 1996. William and Wuilkins co. Tenaga standar: .IBS 9. HNP 1.

George T. Tumor medulla spinalis 1. paresis tipe UMN 3.Rawat Inap 7. CT Scan 5. Tempat pelayanan : . WB Saunder Company. Informed Consent (tertulis): . Nama penyakit / diagnosis: . 2.Ya 11.TUMOR MEDULA SPINALIS .Perdarahan.ICD 5. United state of America 1996. Neurological Surgery.Bedah Onkologi (pada tumor ganas) 6. William and Wuilkins co. United state of America 1996. Lama perawatan: .Myelografi.Trauma. Penyulit: . Terapi: .eksisi biopsi 9. The Practice of Neurosurgery.Spesialis Bedah Saraf 12.VI. Tindall.039 2. Julian R. Diagnosis Banding: . Tenaga standar: .Lumpuh anggota gerak bilateral secara progresif. Kriteria Diagnosis: . Perawatan RS: . kebocoran cairan serebrospinal 10.10 hari Kepustakaan: 1. MRI. infeksi. 154 .Neurologi .. Spondilitis 4.Laminektomi + reseksi tumor 8. Forth edition . Pemeriksaan Penunjang: . Konsultasi : . Youmans.

USG kurang/tidak informatif. Tekanan darah.BATU STAGHORN 1. Nadi. UL. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. SC > 2mg% tanpa kontras. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/penderita kurus) 4.N 20.BATU STAGHORN : .I.BATU PIELUM . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS 3. Asam Urat darah.BATU PIELUM . : . Sedang. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis berat/penderita kurus) Teraba tumor kistik. BATU GINJAL : . Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. SC <2mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 155 . USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF.BATU KALIKS . DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu ureter 5. BUN/SC. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.BATU KALIKS . NOMOR ICD 2.

Bivalve Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy. Nephrostomy atas indikasi khusus 156 . B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy jika ada fasilitas) Simple/Extended Phyellolithotomy Nephrolithotomy. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Phyellolithotomy Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy) Phyellolithotomy Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy atas pertimbangan khusus 9.6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.

Heath Care Office. Urinary Lithiasis: Etiology. 2003. • Menon M.10. 1998. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Conort P. Batu Saluran Kemih. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14 -90 hari pascabedah) • Lain-lainnya atas intruksi operator 13. • Tiselius H. Urological Guidelines. European Association of Urology. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. Eddition 2003. • IDI . Alken P. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Vol. Guidelines on Urolithiasis. 2001. Resnick MI. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Gallucci M. Cambell’s Urology. infeksi. Paris.(3). Diagnosis and Medical Management. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. Stone Desease. infeksi..-G. Depkes RI-IDI. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. 157 . Buck C. Ackermann D. July 4-5. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Kambuh (residif) • Contracted kidney (ginjal mengecil) 11. 17. March 2004. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Treatment of Renal Stone. Standar Pelayanan Medis. 8th . 18. First International Consultation on Stone desease. KEPUSTAKAAN • Alken P.

PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. BUN/SC. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu pielum/kaliks 5. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Asam Urat darah. SC > 2mg% tanpa kontras. Nadi.1 : . Sedang. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. Tekanan darah. UL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis berat/pada penderita kurus) Teraba tumor kistik.II.BATU URETER 3.N 20. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. NOMOR ICD 2. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 158 . BATU URETER 1. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/pada penderita kurus) 4. DIAGNOSIS : . SC <2 mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6.

PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Contracted kidney (ginjal mengecil) • Kambuh (residif) 11. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Kombinasi Nephrectomy. Nephrectomy atas indikasi khusus 10. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14-90 hari pascabedah) • Lain-lainnya tergantung instruksi operator 159 . Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Ureterolithotomy Kombinasi Nephrostomy. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Ureterolithotomy 1/3 tengah dan 1/3 atas Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. B dan RS. Nefrostomy atas indikasi khusus 9. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.8.

-G. Preminger GM. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. Stone Desease. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. Standar Pelayanan Medis. Urological Guidelines. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. KEPUSTAKAAN • Alken P. 1998. Cambell’s Urology. March 2004. 1997. 17. • IDI . Vol.(3). HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. Conort P. Gallucci M. Resnick MI. • Menon M. Heath Care Office. Alken P. American Urological Assosiation. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2001. 8th . Buck C. First International Consultation on Stone desease. infeksi. Paris. Batu Saluran Kemih. European Association of Urology. July 4-5. Depkes RI-IDI. • Segura JW. Eddition 2003. Diagnosis and Medical Management. Guidelines on Urolithiasis. 160 . The Management of Ureteral Calculi.. Ackermann D. Assimos DG et al. Treatment of Renal Stone.13. Urinary Lithiasis: Etiology. • Tiselius H. infeksi. 2003.

Tekanan darah. BATU KANDUNG KENCING DAN BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 1. Kurus) Lokal Teraba batu (apabila batu cukup besar/penderita kurus) 4.0 : . • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan. DIAGNOSIS : .BATU KANDUNG KENCING . SC < 2mg dengan kontras). Kultur urin dan BS acak untuk umur > 40 tahun • Radiologi BNO/BOF. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. 6. • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor. Nadi. IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Laboratorium DL. DIAGNOSIS BANDING : • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • PID untuk wanita dewasa 5. Sedang.N 21. PERAWATAN RUMAH SAKIT : • Prabedah • Pascabedah 161 .BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 3. BUN/SC. UL. USG ginjal dan kandung kencing. NOMOR ICD 2. Asam Urat darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.III. KONSULTASI : • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun). SC > 2mg% tanpa kontras. • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis.

PENYULIT : • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. INFORMED CONSENT : • Diperlukan 12. kombinasi cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. TEMPAT PELAYANAN : • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Vesicolithotomy. kombinasi dengan cystostomy atas pertinmangan khusus • RS Kelas A dan B (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Vesicolithotomy.8. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1 hari pascabedah • Pelepasan kateter uretra setelah 7 hari pascabedah (pada vesicolithotomy) • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 162 . TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu/devertikel kandung kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Lithotripsy Vesicolithotomy Diverticulecthomy dan ambil batu Kombinasi 9. kombinasi dengan cystostomy atas pertimbangan khusus Diverticulecthomy dan ambil batu.

Guidelines on Urolithiasis. Paris. Gallucci M. PROGNOSIS • Baik 17. Cambell’s Urology. • IDI . KEPUSTAKAAN • Alken P. March 2004. PATOLOGI • Batu analisa 15. July 4-5. • Tiselius H. Ackermann D.(3). Batu Saluran Kemih. 18. 2001. Depkes RI-IDI. Resnick MI. Treatment of Renal Stone. Buck C. Urinary Lithiasis: Etiology. 163 . Conort P. Stone Desease. Standar Pelayanan Medis. Heath Care Office. infeksi. Vol. 1998. 8th . Alken P. Urological Guidelines. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.-G. • Menon M. Eddition 2003. 2003. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. infeksi.. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu.14. First International Consultation on Stone desease. European Association of Urology. Diagnosis and Medical Management.

Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. NOMOR ICD 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. BUN/SC.BATU URETRA 3. Tekanan darah. Asam Urat darah. BATU URETRA 1.IV. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6. Sedang. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Kurus) Lokal Teraba batu pada uretra Teraba kandung kencing (apabila sisa urin/retensio urin/penderita kurus) 4. UL.N 21.1 : . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Kultur urin dan BS acak(untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS BANDING • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • Batu kandung kencing 5. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 164 . DIAGNOSIS : . Nadi.

Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 14. drong batu kedalam/keluar kandung kencing dan pemasangan kateter uretra (dower catheter).8. PATOLOGI • Batu analisa 165 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Lubrikasi. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. vesicolithotomy Cystostomy atas indikasi retensio urin • RS Kelas A. B dan RS. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Cystostomy atas pertimbangan khusus Lithotripsy Kombinasi 9. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1 hari pasca-Lithotripsy • Pelepasan cystostomy catheter sesuai operator 13.

• Menon M. 2003. Resnick MI. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. 166 . Depkes RI-IDI. infeksi. Buck C. KEPUSTAKAAN • Alken P. First International Consultation on Stone desease. Standar Pelayanan Medis. Urological Guidelines. PROGNOSIS • Baik 17. Conort P. Heath Care Office. Eddition 2003. Guidelines on Urolithiasis. • IDI . Urinary Lithiasis: Etiology. • Tiselius H. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. European Association of Urology. Alken P. July 4-5. Ackermann D.. Paris. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Gallucci M.-G.15. March 2004. 2001. Treatment of Renal Stone. Vol.(3). infeksi. 8th . Batu Saluran Kemih. Cambell’s Urology. Diagnosis and Medical Management. 1998. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Stone Desease.

Pole atas (Mudah dicapai/Susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak 167 . BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 1. Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: i. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) e. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) c.N 40 : -BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 3. UL. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan IPSS (International Prostate Symptom Score). Tekanan darah. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Perabaan prostat 1. BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) d. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) ii. Melihat sekitar anus b. DIAGNOSIS BANDING • Batu uretra • Sistitis • Batu kandung kencing 5. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. NOMOR ICD 2. Nadi. SC. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan memiliki nilai dari 0 sampai 5 sehingga total score maksimal 35 Jumlah score 0.V. DIAGNOSIS : .7 gejala ringan Jumlah score 8-19 gejala sedang Jumlah score 20-35 gejala berat Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3.

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. TERAPI • Tujuan Pola kencing normal/mendekati normal Mencegah komplikasi infeksi.5 ng/ml Trans-Rectal Ultra-Sonography (TRUS) (optional) Urodynamic Study (Pressure. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Dokter Spesialis Bedah) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka 168 . USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) Pemeriksaan tambahan Uroflometri(optional) o Uroflo > 15 ml/detik kecil kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo < 10 ml/detik besar kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo 10-15 ml/detik sulit utuk mendeteksi obstruksi infravesical Postvoid residual urin (PVD) Prostate Specific Antigen (PSA).5 ng/ml o Usia 70-80 tahun: 0-6.• • Radiologi atas indikasi medis Hematuria ISK Insufisiensi renal Riwayat batu saluran kencing Irwayat pembedahan saluran U-G BNO/BOF.5 ng/ml o Usia 50-60 tahun: 0-3. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal • Medikamentosa Alpa-Blocker 5 Alpa-Reductase Inhibitor Fitofarmaka • Pembedahan TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) Prostatectomy 9.5 ng/ml o Usia 60-70 tahun: 0-4.Flow Studies) (optional) 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. rentang kadar PSA dianggap normal berdasar usia o Usia 40-50 tahun: 0-2.

PENYULIT 1. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pascabedah • Pelepasan kateter uretra 3-5 hari pasca TURP • Pelepasan kateter uretra 5 hari pasca Prostatectomy • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. Pendarahan 2. HASIL • Kencing normal/mendekati pola kencing normal 14. Disfungsi ereksi 8. PATOLOGI • Prostat 15.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka Pembedahan o TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) o TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) o Prostatectomy 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. B dan RS. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan kandung kencing baik 169 . Water intoxication. Striktura uretra 7. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Inkontinensia urin 4.• Pembedahan o Prostatectomy RS Kelas A. Kambuh (residif) 6. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 3. Ejakulasi retrograde 11. perforasi (khusus untuk TURP) 5.

Pembesaran Prostat Jinak. Depkes RI-IDI. Guidelines on Benign Prostatic Hyperlasea.17. 2003.. Basuki Bambang Poernomo. • IDI . Madersbacher S.(3). European Association of Urology. 8th . Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia BPH) di Indonesia. March 2004. dkk. KEPUSTAKAAN • De la Rosseta J. Heath Care Office. 1998. Alivisator G. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 170 . Standar Pelayanan Medis. disfungsi ereksi. inkontinensia urin. 18. Evaluation and Non-Surgical Management of Benign Prostatic Hyperplasea.untuk mengetahui karsinoma prostat. • Sunaryo Hardjowijoto. et al . • Lepor H. Lowe FC . Vol. tidak normal/inkontinensia • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. infeksi dan pola kencing untuk mengetahui kencing normal. Akmal Taher. striktura uretra dan rectal toucher. Urological Guidelines. infeksi saluran kencing. Cambell’s Urology. 2003.

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan adanya keluhan karena pembesaran prostat dan metastase ke tulang pelvis.KARSINOMA PROSTAT (ADENOCARCINOMA PROSTATE) 3.C 61 : . Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. Sistitis c. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) o BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) o Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) o Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. DIAGNOSIS : . Nodul (Soliter/Multiple) 4. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) untuk mencari irigularitas. KARSINOMA PROSTAT (ADENO CARCINOMA PROSTATE) 1. kekerasan dan nodul pada prostat yang mengarah pada karsinoma prostat: o Melihat sekitar anus o Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: iii. NOMOR ICD 2. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Perabaan prostat 1. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Kandung kencing neurogenik 171 . Batu kandung kencing • Metastase tulang a. Batu uretra b. Fraktur patologis b. Nadi. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) iv.VI. collumna vetebra dan lain-lain Riwayat penyakit/keluarga adanya tumor saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. DIAGNOSIS BANDING • Pembesaran Prostat a. Pole atas (Mudah dicapai/susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6.

Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak PSA (kalau perlu Free PSA) • Radiologi a. Insufisiensi renal d. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. ISK c. Riwayat pembedahan saluran U-G f. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Riwayat batu saluran kencing e. Bone scanning (optional) • Radiologi lain atas indikasi medis a. SC. Rh antagonis c) Subcapsuler Orchidectomy d) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) • Pembedahan atas indikasi obstruksi karena pembesaran Prostate Disobstruksi Prostat a) TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) b) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) 172 . BNO/BOF dan USG Ginjal dan Kandung kencing b. SC <2 mg% dengan kontras) • Biopsi prostat dan pemeriksaan PA 6. Metastase tulang IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan Ambomen(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif .5. Bone survey d. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Pola kencing normal/mendekati normal d) Mencegah komplikasi infeksi. UL. Hematuria b. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pengobatan dengan Hormonal a) Flutamid b) LH. SC > 2mg% tanpa kontras. USG Transrectal(Optional) c.

Pendarahan 2. Disfungsi ereksi 4. dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pasca TURP • Pelepasan kateter 3-5 hari pasca TURP • Lain-lain atas instruksi operator 13. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Pengobatan dengan Pemasangan kateter uretra (Dower catheter) apabila retensio urin Hormonal • RS Kelas A. Water intoxication dan perforasi (khusus untuk TURP) 7. Obstruksi saluran kencing (hydronephrosis. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 6. PENYULIT 1. PATOLOGI • Prostat 173 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. HASIL • Kuratif Bebas tumor Dapat kencing normal/mendekati pola kencing normal Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. B dan RS. Striktura uretra 5.• • Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pengobatan dengan Hormonal Pembedahan a) Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) b) Disobstruksi Prostat Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 10. retensio urin) 11. 14. Inkontinensia urin 3.

Diagnosis and Staging of Prostate Cancer.15. KEPUSTAKAAN • Aus G. 19. Partin AW .(3). Urological Guidelines. 174 . Karsinoma Prostat. Vol. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. fungsi ginjal dan rectal toucher. infeksi saluran kencing. Cambell’s Urology. Guidelines on Prostate Carcer. March 2004. 8th . • Carter HB. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2003. disfungsi ereksi Striktura uretra. infeksi dan pola kencing • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Standar Pelayanan Medis. European Association of Urology. Heath Care Office.Abbou CC. Heidenreich A. Depkes RI-IDI. • IDI . • Tumor residif/recurent dan metastase. 1998.

BUN/SC. NOMOR ICD 2. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 1. KONSULTASI • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. • Radiologi BNO/BOF. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup 175 . Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4.TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 3. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas satu sisi Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. UL. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Nadi. Tekanan darah.VII. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. DIAGNOSIS : -C 64 : .

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 176 .• • • • Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. 14. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. OTOPSI Tidak diperlukan 16. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.

177 .(3). Vol. Carballido J. • Novick AC. Standar Pelayanan Medis. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Cambell SC . Hillsten S. Urological Guidelines. et al . KEPUSTAKAAN • IDI . Depkes RI-IDI.M) dengan CT Scan 18. 8th .Renal Tumor. • Mickisch G. 2003. Heath Care Office. infeksi. Cambell’s Urology. Guidelines on Renal Cell Carcer.17. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 1998. March 2004. Tumor Ganas Ginjal (Wilm’s).N. European Association of Urology.

• Radiologi BNO/BOF. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tekanan darah. TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 1.VIII. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 3. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. BUN/SC. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. DIAGNOSIS : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. NOMOR ICD 2. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal 178 . Nadi.C 64 : . UL.

PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 179 . HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.• • • • Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. B dan RS. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. OTOPSI Tidak diperlukan 16. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10.

March 2004. Vol. 2003. European Association of Urology.Renal Tumor. 1998. et al . Hillsten S. Tumor Ganas Ginjal (Grawitz). 8th . efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.17. • Mickisch G. Cambell’s Urology. infeksi. Carballido J.M) dengan CT Scan 18. Depkes RI-IDI.N. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.(3). KEPUSTAKAAN • IDI . • Novick AC. Heath Care Office. Guidelines on Renal Cell Carcer. Cambell SC . Urological Guidelines. Standar Pelayanan Medis. 180 .

USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.IX. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. BUN/SC. TUMOR KANDUNG KENCING(TRANSISIONAL CELL CARCINOMA) 1. Nadi. Tekanan darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS : .TRANSISIONAL CELL CARCINOMA BULI-BULI 3. batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor 181 . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tampa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran kencing. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF.C 67 : . DIAGNOSIS BANDING • Hematuria oleh berbagai sebab • Blood clot retension oleh berbagai sebab 5. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. NOMOR ICD 2. UL.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. 14.• • • • b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan proses miksi dan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.B dan RS. PATOLOGI • Tumor buli-buli 15. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dan pola kencing dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. OTOPSI Tidak diperlukan 182 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.

16. Urological Guidelines. 183 . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.N. Standar Pelayanan Medis. Jakse G. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. March 2004. 2003. 8th . • OosterlinckW.(3). et al . • Jiminez VK. Cambell’s Urology. Surgery of Bladder Cancer. Heath Care Office. Guidelines on Badder Carcer. infeksi. European Association of Urology. Depkes RI-IDI. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Lobel B. Marshall FF . Tumor Ganas Buli. KEPUSTAKAAN • IDI . 1998. Vol.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18.

Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tanpa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat gangguan fungsi usus/ileus Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran cerna dan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah.C 67 : . UL. NOMOR ICD 2. DIAGNOSIS BANDING • Masa solid abdomen bawah • Hematuria oleh berbagai sebab • Streng ileus dengan masa abomen bawah 5. BUN/SC.X. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Nadi. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 184 . Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF.ADEO-CARCINOMA BULI-BULI 3. DIAGNOSIS : . TUMOR KANDUNG KENCING(ADENO-CARCINOMA) 1.

MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. 14.8. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguang fungsi ginjal dan saluran cerna Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy partial Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. PATOLOGI • Tumor buli-buli 185 . HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.

March 2004. Heath Care Office. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Depkes RI-IDI. 8th . • OosterlinckW. 2003. Guidelines on Badder Carcer. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. Jakse G. OTOPSI Tidak diperlukan 16. infeksi. 1998.N. Cambell’s Urology. KEPUSTAKAAN • IDI . Surgery of Bladder Cancer. Vol. European Association of Urology. 186 .15. Urological Guidelines. Marshall FF . Standar Pelayanan Medis. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. • Jiminez VK. Tumor Ganas Buli. et al .(3). Lobel B.

Tekanan darah. Sedang Kurus) Lokal Luka kronis/tumor cowly flower pada penis Teraba tumor solid mobil/fixed inguinal Pimosis 4. Nadi.XI. DIAGNOSIS : . TUMOR PENIS (EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA) 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 187 . BUN/SC Biopsi luka/tumor pada penis • Radiologi BNO/BOF.EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA PENIS 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. Thorax. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Luka kronis/tumor seperti bunga kol pada penis Pimosis pada orang dewasa/tua Pimosis dengan benjolan pada pelipatan paha Luka kronis dengan benjolan pada pelipatan paha Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. USG abdomen atas dan bawah 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS BANDING • Veruca Vulgaris • Limfadenitis inguinalis • Limfadenitis veneralis (STD) 5.C 60 : . UL.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator dilakukan deseksi kelenjar limfe 188 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node • RS Kelas A.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotherapy Radiotherapy Kombinasi 10. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi kencing d) Mengusahakan mempertahan aktifitas sexual Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node Total penectomy dengan biopsi sentinal node Radical penectomy Deseksi kelenjar limfe inguinalis kanan dan atau kiri (atas indikasi khusus) • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. B dan RS.8. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Stenosis miatus uretra eksternus • Odema ekstremitas inferior (apabila inguinalis/radiotherapy) • Ruptura vasa femoralis • Kambuh (residif) 11.

Urological Guidelines. KEPUSTAKAAN • IDI . PATOLOGI • Tumor penis prabedah (biopsi) • Tumor penis pasca bedah (radikalitas pembedahan) • Kelenjar limfe inguinalis 15. Horenblas S. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Karsinoma Penis. HASIL • Kuratif Bebas tumor Pola kencing normal/mendekati normal Aktifitas sexual mendekati/tidak normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. Pettaway CA . • Solona E.13. Vol.N. 14. Cambell’s Urology.(3). Guidelines on Penile Carcer. Depkes RI-IDI. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.M) dengan CT Scan 18. European Association of Urology. Algaba F. infeksi. et al . 2003. March 2004. 189 . Heath Care Office. • Lynch DF. Standar Pelayanan Medis. 1998. 8th . OTOPSI Tidak diperlukan 16. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Tumor of Penile.

DIAGNOSIS : . USG abdomen atas dan bawah 6. TUMOR TESTIS (SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED) 1. Tekanan darah. AFP(Alfa Feto Protein) • Radiologi BNO/BOF. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.C 62 : . Thorax. NOMOR ICD 2. UL. BUN/SC Beta HCG(Human Chorionic Gonadotropin). PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase 190 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED TESTIS 3. DIAGNOSIS BANDING • Orchitis • Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi • Torsiotestis 5. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Sedang Kurus) Lokal Teraba tumor solid pada testis Teraba tumor solid pada abdominalis pada penderita cryptorchism Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Testis mengeras/ada benjolan Cryptorchism dengan masa abdominalis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.XII.

PENYULIT • Pendarahan • Gangguan fertilitas • Disfungsi ereksi • Infeksi luka operasi • Odema ekstremitas imferior (apabila dilakukan RPLND) • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Radical orchidectomy inguinal approach • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. 14. PATOLOGI • Tumor testis • Kelenjar limfe retroperitonial 191 . HASIL • Kuratif Bebas tumor Fertilitas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.• • • • c) Mencegah gangguan fertilitas Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical orchidectomy inguinal approach RPLND(Retro-Peritonial Lymp Node Desectie) (atas pertimbangan khusus) Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) Radiotheraphy(PA Seminoma) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. B RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10.

192 . Vol. Cambell’s Urology. Depkes RI-IDI. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. • Laguna MP. European Association of Urology.N. 1998. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Horwich A. Surgery of Testicular Tumor.M) dengan CT Scan 18. • Sheinfeld J. Heath Care Office. OTOPSI Tidak diperlukan 16. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. et al . Mc Kiernan J Bosl G J . Standar Pelayanan Medis. 8th .(3). KEPUSTAKAAN • IDI . Guidelines on Testicular Carcer. 2003.15. Klepp O. March 2004. Urological Guidelines. Tumor Ganas Testis. infeksi.

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Belum punya anak setelah kawin > 1 tahun Nyeri testis bersangkutan Ada bentukan seperti cacing pada skrotum bersangkutan Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Sedang Kurus) Lokal Kadang-kadang terlihat masa seperti cacing pada skrotum saat berdiri/tidur Teraba tumor kistik seperti cacing pada funikulus spermatikus Kadang-kadang testis bersangkutan lebih kecil dibanding testis yang normal 4. UL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi pembedahan (untuk umur >40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Thorax. NOMOR ICD 2. Nadi. Tekanan darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.XIII. Analisa sperma (atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. PENGOBATAN • Tujuan Perbaikan fertilitas Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Kadang-kadang 193 . DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis • Epididimitis kronis 5. INFERTILITAS PRIA (MALE INFERTILITY) 1. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.C 46 : . DIAGNOSIS : .VARICOCELE 3. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8.

Guidelines on Male Infertility. Urological Guidelines. Heath Care Office. Cambell’s Urology. March 2004. et al . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. HASIL • Kwantitas dan kwalitas sperma membaik/normal • Istri bisa hamil 14. Vol. 2003. Infertilitas. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. Depkes RI-IDI. Male Infertility.(3). Wiedner W. Jungwirth A. European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • Dahle GR.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 10. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. 194 . 1998. 8th . analisa sperma dan kehamilan pada istri 18. • Sigman M Jarow JP . Standar Pelayanan Medis. PENYULIT • Infeksi luka operasi 11. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.B. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. • IDI .• a) Mengurangi/menghilangkan nyeri testis b) Mengecilkan/menghilangkan varicocele Pembedahan “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 9. PROGNOSIS • Tergantung Gangguan kwantitas dan atau kwalitas sperma suami Azoospermia Gangguan fertilitas istri Kombinasi 17.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. UL. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. Sedang Kurus) Lokal a) Penis Miatus uretra ekternus subgladuler/ventral penis/penoscrotal/perinal b) Testis Kadang-kadang disertai cryptorhism/kelainan bawaan lainnya 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Air kencing tidak keluar dari ujung penis (seperti pada umumnya) sejak lahir Penis bengkok/sembunyi pada skrotum Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah. Thorax. NOMOR ICD 2. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS BANDING • Micropenis • Ambiguitas 5. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. HYPOSPADIA 1.HYPOSPADIA 3. DIAGNOSIS : .Q 54 : . PENGOBATAN • Tujuan Memperbaiki anatomi dan fungsi penis dan uretra Estetika/kosmetika penis Mencegah gangguan fertilitas pria 195 .XIV. BUN/SC Tes “XY chromosom”(atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF.

estetika/kosmetika penis dan uretra baik/normal • Fertilitas baik/normal 14. estetika/kosmetika penis dan uretra • Fertilitas (Analisa sperma. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. PENYULIT • Fistel “Urethrocutan” • Nekrosis kulit penis/tube plap • Infeksi luka operasi 11.• Pembedahan MAGPY Procedure Chodectomy-Urethroplasty (satu tahap) dengan/tanpa Nesbit Procedure Ducket’s Procedure (Prepotiale tube flap urethroplasty) 9.Kehamilan istri) 196 . Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. adanya urethrocutan fistel • Anatomi. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Buka bebat hari ke-5 • Buka splint uretra dan klem kateter sistotomi hari ke-10-12 • Buka kateter sistostomi satu hari setelah buka kateter sistostomi/bisa kencing lancar • Lain-lain atas intruksi operator 13. PROGNOSIS • Tergantung Lokasi miatus uretra eksternus Berat-ringannya chordae Status gizi pasien Ada/tidaknya kelainan bawaan lainnya 17. fungsi.B dan RS. fungsi. HASIL • Anatomi. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.

1998. Urological Guidelines. • Retik AB. 197 . March 2004.(3). Androulakakis P. KEPUSTAKAAN • IDI . Cambell’s Urology. Depkes RI-IDI. Vol. Borer JG. et al . Hypospadia. Heath Care Office. 2003. Hypospadias.18. • Reidmiller H. Beurton D. 8th . Pediatric Urology : Hypospadias. Standar Pelayanan Medis. European Association of Urology.

Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasi/diaphonoscopy positif pada skrotum Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. DIAGNOSIS : .CT • Radiologi BNO/BOF.5 : . DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis 5. NOMOR ICD 2. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy inguinal approach 198 . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. HYDROCELE ANAK-ANAK (CONGINITAL) 1.HYDROCELE CONGINITAL 3.XV. Thorax. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/membesar sejak lahir kadang-kadang bisa mengecil saat tiduran Skrotumnya ada air didalamnya sejak lahir Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Nadi.P 83. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. BT.

Cambell’s Urology.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. Hidrokel Testis. • Schneck FX. 8th . PROGNOSIS Baik 17.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10.9. 2003. KEPUSTAKAAN • IDI . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain atas intruksi operator 13. Vol. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Fertititas setelah dewasa/kawin 18. 1998. Standar Pelayanan Medis. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.(3). Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. 199 . PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Bellinger MF.B. PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi 11. Depkes RI-IDI. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14.

kadang-kadang transiluminasi negatif apabila sudah terjadi inlamasi/infeksi pada hydrocele Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. Thorax. Nadi. NOMOR ICD 2. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy/Marsupialisasi 200 . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. DIAGNOSIS BANDING • Tumor testis 5. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/mebesar setelah dewasa Skrotumnya ada air didalamnya setelah dewasa Riwayat infeksi/imflamasi/trauma daerah skrotum/testis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. UL.XVI. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasidiaphonoscopy positif pada skrotum. BUN/SC • Radiologi BNO/BOF.HYDROCELE AQUARED 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.N 43 : . HYDROCELE DEWASA (AQUARED) 1. KONSULTASI • Dokter Spesialis Kardiologi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : . Tekanan darah.

1998. KEPUSTAKAAN • IDI . TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Depkes RI-IDI.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. 201 . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.B. Standar Pelayanan Medis. Vol. • Schneck FX. Hydrokel Testis. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13.9. PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi • Kambuh(residif) 11. 2003. Bellinger MF. PROGNOSIS Baik 17. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Melihat kekambuhan 18. PATOLOGI • Tidak diperlukan • Diperlukan (atas pertimbangan khusus) 15.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. 8th . Cambell’s Urology.(3).

FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. sulit/sakit menelan. identasi pleura. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. atelektasis. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. dengan stadium lanjut bisa lebih imformatif seperti . ICD : C 34. Torakoskopi. 5. menyisihkan kelainan lain. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. sembab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. bila tumornya besar. Pemeriksaan Lain i. Fungus Ball. neuropati. pembesaran hepar. washing lavage. EKG 202 . USG abdomen. Diagnosis Banding : a. lymphangitis spreeding. untuk metastasis ke tulang. CT .1. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. core biopsi. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. c. penekanan bronkus. b. benjolan di pangkal leher. pembesaran KGB supraclavicula. f. 4. b. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. invasi tumor kedinding dada. trombosis vena. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. Sitologi Sputum ii. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. DL. Tumor Mediastinum. Pemeriksaan Laboratorium. dll. penekanan vena kava superior. TBLNB. tumor satelit. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. vi. Kriteria Diagnosis : a. sakit dada. suara serak. atelectasis. (Bila ada indikasi) Brain CT. d. RFT. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. LFT. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. b. dll. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm.FH. pembesaran KGB mediastinum. iii. e. nafsu makan hilang demam hilang timbul.faal paru. batuk darah. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. sesak nafas. efusi pleura. Diagnosis : Kanker Paru 3. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. dll. Pemeriksaan Penunjang : a. adanya fraktur patologi. iv. efusi fleura.9 2. AGD.

Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. :: Free & Post Op : Operasi 203 . OK 10. Inform Concern : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. hemoptisis. Dokter Spesialis Paru b. treparasi oleh SOL. Imiunoterapi e. Supportif therapy sama 9.6. Hormonoterapi f. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. Fleural efusi e. Lab Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Tempat pelayanan : a. Hemoptisis d. Respiratory failure 11. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. b. Obstuksi jalan nafas c. RS tipe A i. d. 8. Atelektasis b. ii. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Kompresi esopagus f. Upper Airway obstruction. Terapi Gen g. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. Penyulit : a. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Pembedahan Indikasi pembedahan i. Dokter Spesialis Anasthesi d. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. 5 hari per minggu c. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Kemoterapi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. Konsultasi : a. Ruang perawat ii. ICU/ICCU iii. RS tipe B Plus b.

Lama Perawatan 14. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Dokter Spesialis Paru b. Masa Pemulihan 15. Patologi 17. 204 . Autopsi 18. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) 13.12. Hasil 16. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR Stage II Stage III Stage IV 57 – 67 % 22 – 34 % 3 – 21 % 1 %.

4. Tumor metastase (Kanker Paru Sekundair) 5. Pemeriksaan Penunjang : a. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. sulit/sakit menelan. AGD. neuropati. pembesaran Kelenjar Getah Bening (KGB) supraclavicula. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. Tumor Mediastinum. d. menyisihkan kelainan lain. sakit dada. untuk mengetahui metastase di hepar dan tempat atau organ lain. Torakoskopi. suara serak. efusi Pleura. (Bila ada indikasi) Brain CT. penekanan vena kava superior. trombosis vena. e. Fungus Ball. invasi tumor kedinding dada. CT . c. sembab muka dan leher. identasi pleura. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. iii. efusi pleura. Pemeriksaan Laboratorium. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. batuk darah. f. adanya fraktur patologi. dll. pembesaran KGB mediastinum. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala.9 2. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. dengan stadium lanjut tanda-tanda bisa lebih informatif seperti . c. dll.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. atelektasis.faal paru. tumor satelit. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. b. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. Sitologi Sputum ii. ICD : C 34. Diagnosis Banding : a. core biopsi. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. DL. sesak nafas. atelectasis. penekanan bronkus. lymphangitis spreeding. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. Bila tumornya besar. TBLNB. pembesaran hepar. kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. benjolan di pangkal leher.1. 205 . Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. nafsu makan hilang demam hilang timbul. b. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. RFT. LFT. untuk metastasis ke tulang. USG abdomen. iv. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. washing lavage.FH. Diagnosis : Kanker Paru 3. dll. Kriteria Diagnosis : a. Pemeriksaan Lain i. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. b. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak.

Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. RS tipe A i. Biopsi kelenjar lymphe supraclavicula atas biopsi paru terbuka (thoracotomy). iii. Dokter Spesialis Paru b. 8. c. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Upper Airway obstruction. trepanasi oleh karena SOL dengan deteorasi neurology. d. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. EKG 6. OK : Operasi 206 . Kemoterapi bekerja sama dengan pulmonologi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Karnovsky index rendah (<50%). Perawatan RS : • Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Terapi Gen g. ICCU : Post Op iii. hemoptisis. Ruang perawatan : Pre operative ii. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Tempat pelayanan : a. Immunoterapi e. b. • Untuk tindakan pembedahan pengangkatan tumor. RS tipe B Plus b. 5 hari per minggu atau bekerja sama dengan spesialis Radiotherapi. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. mediostinoskopi. Hormonterapi f.vi. Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Konsultasi / bekerja sama dengan : a. thoracoscopy (VATs). Dokter Spesialis Anasthesi d. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. Supportif therapy 9. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Pembedahan Indikasi pembedahan i. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. ii. Bag.

M. 26 – 48. Binsburg R. Obstuksi jalan nafas c. Wagner H.10. Penurunan kesadaran i. Pleural efusi e. Dokter Spesialis Rehab Medik 13. in Glenn’s Thoracic and Cardiovascular Surgery sixth ed. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) d. Hemoptisis d. Ginsberg RJ : Surgical Treatment Of Lung Carcinoma. Patologi 17. WB Saunders Company. Water PF : Surgery for Non Small Cell Lung Cancer in …………………. Kompresi esopagus f. Phyladelphia. Dokter Spesialis Anesthesi e. 12. Burt. Gangguan hepar 11. Jr . Tenaga Standar : a. 1995. Weisenburger. Martin N. Fraktur patologis h. 207 . Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Prentice Hall International. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR 57 – 67 % Stage II Stage III Stage IV 22 – 34 % 3 – 21 % 1% Kepustakaan : 1. Respiratory failure g. Ruck deschel. Informed Consent : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Bonomi. Dokter Spesialis Paru b. Doyle LA Aisner J : Clinical Presentation of Lung Cancer in Thoracic Oncology II ed. by Arthur E Bauc et. Weisen Burger TH : Definitive Radiotherapy and Combined Modality Therapy for In operable NSCLC : In …………………Hal 164 – 180 5. Lama Perawatan 14. Autopsi 18. Penyulit : a. 2. By Roth. Hal : 124 – 146 3.J Goldber. Atelektasis b. P : Preoperative and Postoperative Therapy for NS CLC in ………………… Hal : 147 -146 4. 1996 : 421 – 444. Masa Pemulihan 15.al. London. Hasil 16.

d. Revaskularisasi arteri tungkai (bypass) b. b. 8. ICD : E 14. iii. Laboratorium . UL. necrotomy ii. DM menurut WHO GD Acak > 200 mg/dl GD Puasa > 140 mg/dl b. FH. c. Amputasi (digiti –TMA – BKA & AKA) iv. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan endokrin. 4. Repair deformitas kaki v. Debridement. Kriteria Diagnosis : Ulkus/Gangren DM adalah kematian jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (nekrosis iskemia) akibat penyakit arteri prifir oklusi (micro dan macroangiopaty) yang menyertai penderita DM. Antibiotika sesuai dengan kultur. Pemeriksaan integritas vaskuler Terdapat claudicasio intermitten dan restpain. Derajat dan luas infeksi memakai klasifikasi Wagner. ii. tekanan darah kedua tungkai. Pengendalian gula darah. BUN / SC 6. c. d. 208 . Pembedahan i. LFT. Rontgen foto : Melihat adanya Osteomyelitis dan soft tissue swelling + gas subcutan f. Wound toilet. Diagnosis : Ulkus/Gangren Diabetikum 3. mutilasi. Incisi Drainage iii. Pemeriksaan adanya neuropati : (Bila ada) Dengan Semmes Weinstein Monofilament Wire/Biothessiometer c. Perlu untuk tindakan debridement dan pembedahan lain serta pemberian insulin regulasi cepat. Dokter Spesialis terkait dengan komplikasi DM 7. Perawatan RS : a. Ulkus Tropikum. Diagnosis Banding : a. iv. PAPO (penyakit arteri perifer oklusive) 5. Dokter Spesialis Anesthesi. Terapi : a. b. Pemeriksaan kultur / sensitivitas kuman.8 (ankle brachial index). Diet & exercise. Konsultasi : a.Toe Pressure. Ulkus Varikosum. e. Buerger Disease. ABI < 0. DL. Pemeriksaan Penunjang : a. Non Bedah i.5 2.1. Ulkus/Gangren ini dapat diikuti invasi bakteri sehingga terjadi infeksi.

11. 1995 : 167 – 180. Prentice Hall International. Patologi : Tidak perlu. Sembuh tanpa cacat b. Dokter Spesialis Anasthesi 13. 14. Hasil : a. Wagner III ke atas. Habershaw : Management of the Diabetic Foot. c. Tenaga Standar : a. 10. Gas gangren c. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk debridemen. Marcaccio. Resiko amputasi 85% bila ada infeksi serius. Sembuh dengan cacat tetap akibat amputasi. Klein SR : Diabetes and Peripheral vase dissore in Vascular Sergery dst ……. Tempat pelayanan RS Type A. 17. 15. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Konsultan endokrin d. b. 2. Lama Perawatan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus/infeksi (Wagner Classification) semakin besar semakin lama perawatannya. b. Osteomielitis b. in Vascular Surgery theory and practice ed by Allan D Callow. 16. Kepustakaan : 1.. Prognosa : a. Penyulit : a. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c.9. Informed Consent : Perlu lebih-lebih bila dilakukan amputasi. b. ICU bila ada komplikasi. Mueller MP. Mengancam jiwa jika terjadi gas gangren dan sepsis. Kelainan organ lain akibat angiopaty diffuse + neuropaty diffuse. London. Wright J. 12. Autopsi : Tidak perlu. Reamputasi > 20% c. Ruang perawat biasa.B dan RS yang ada ICU : a. Masa Pemulihan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus serta jenis tindakan. OK untuk tindakan operasi. c.Tindakan pembedahan dapat mempercepat masa perawatan. berbagai manifestasi klinis akibat DM. Gibbons. 18. Sepsis prognosenya jelek. Sepsis d. Hal 514 – 522 209 .

Malignant pleural effusion 5. berat badan menurun. pergerakan dada terbatas. panas. UL. trauma dll. Chilo thorax e. Berat jenis >1016 v. Glukosa < 40 mg/dl e. d. LDH > 200IU vi. Rasio dg LDH plasma > 0.penurunan suara nafas sisi sakit.perkusi dullness. CT Scan toraks c. sesak nafas. Diagnosis : Empiema Toraks. DL. Foto polos toraks AP/lateral b. Dengan pemeriksaan cairan pleura menunjukan eksudat yaitu : i. 4.3 ix. Kriteria Diagnosis : a.6 vii.empiema necessitans (erosi dinding dada akibat abses dinding toraks). Pemeriksaan Bakteriologi Menunjukan hasil (+ ) kuman pada cairan pleura. Dokter Spesialis Anesthesi 7. Konsultasi : a. ICD : J. Perlu bila akan dilakukan pemasangan Chest tube dan WSD dan dekortikasi. pH < 7. FH. cultur dan sensitivitas test. b. Anamnesis Empiema Toraks atau Pyothorax adalah pengumpulan nanah atau pus didalam rongga pleura. Pemeriksaan Penunjang : a.1. Laboratorium pemeriksaan cairan pleura. Gejala Klinis Nyeri dada.kadangkadang sputum purulent bila ada fistel bronchopleura. Torakosentesis e. Pleural effusi c. c.9 2. Pemeriksaan Fisik Takipnea. Protein > 3 g/dl iii. USG d. malaize. b. batuk. Pnemonia b. Abses paru d. temperatur tubuh meningkat. Multiple thoracosintesis dan pemberian AB intra vena 210 . Perawatan RS : a. LFT. 86. Leukosit > 50% linfosit > 15 000 sel/mm3 viii. Rasio dengan protein plasma > 0. BUN / SC 6. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru c. Diagnosis Banding : a. Tes Rivalta (+ ) ii. 3. Dapat terjadi sebagai akibat komplikasi pneumonie (parapneumonic empyema) tindakan pembedahan.5 iv. Dokter Spesialis Paru b.

Informed Consen t : Perlu 12. 674 – 683 2. Shields. Fibrotoraks d. TW : Para Pneumonic empyema in ……………. Light RW : The Physiology of Pleural Fluid Production and Benign Peural effusion in General Thoracic Surgery ed by W Shields T. Hasil : Sembuh bila diterapi cepat dan tepat. OK pemasangan Chest Tube dan tindakan. Prognosa : Tergantung fase penyakitnya saat ditemukan pertama kali. Fourth ed Vol 1 William & Wilkins.8. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. Empiema necessitan c. 9. Dokter Anesthesi 13. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Broncopleural fistel b. Dokter Spesialis Paru d. Autopsi : Tidak perlu. Deformitas diding dada dan scoliosis 11. 1994. Terapi : Dasar terapi empiema toraks adalah a.693 211 . 17. Lama Perawatan : 7 – 14 hari 14. Penyulit : a. Kepustakaan : 1. Baltimore. Sepsis e. Patologi : Tidak perlu. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b.W. Ruang rawat biasa b. Tempat pelayanan : a. Mengeluarkan nanah b.. Obliterasi rongga empiema c. 18.hal 684 . 10. Tenaga Standar : a. Pemberian antibiotika untuk eradikasi kuman sesuai dengan kultur sesitivitas. 16.

Kriteria Diagnosis : a. 90 2. Namun bila tumor primer diluar paru tidak ditemukan.1. f. biopsi transtorakal. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru d. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tujuan terapi dan mencari sumber keganasan. pleurodesis. perkusi redup dan suara nafas melemah pada sisi toraks yang sakit. 8.deviasi trakea dan atau jantung kearah kontra lateral. Pengobatan kausal. Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui tumor primer. Terapi : Efusi pleural maligna mempunyai 2 aspek penting dalam penatalaksanaannya yaitu : a. pemasangan chest tube. Dokter Spesialis Paru b. 6. Pemeriksaan Fisik Gerakan diapragma berkurang . efusi ini termasuk gejala sistemik metastatik tumor tersebut dan pengobatan disesuaikan dengan tumor primernya. Dokter Anasthesi untuk operasi 7. ICD : J. 4. fremitus suara melemah.dada terasa penuh. nyeri dada. d. Gejala Klinis Sesak nafas. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura. Apabila tumor primer ditemukan diluar paru. c. Diagnosis Banding : a. CT Scan toraks . 212 . c. Tumor solid intra pleura 5. dengan hasil eksudat. Anamnesis Adanya cairan kemerahan/darah atau serosanguinus didalam cavum pleura secara berlebihan > 50 ml dengan didapatkannya sel ganas didalam cairan pleura atau biopsi pleura. e. pleuro abdominal shunting. Sitologi cairan pleura/biopsi pleura : dengan hasil positif sel ganas. Empiema toraks b. Pengobatan lokal. Konsultasi : a. gejala ini sangat tergantung dari jumlah cairan dalam rongga pleura. Bronkoskopi. Bila tumor primernya berasal dari tumor paru. b. USG toraks dan torakotomi explorasi perlu dilakukan untuk menegakan diagnosis. b. batuk. Pengobatan kausal disesuaikan dengan tumor primernya. maka efusi pleural maligna termasuk stage IV. b. Dokter Spesilis terkait dengan tumor primernya c. Kemungkinan ditemukan keganasan organ lain di luar paru. Pemeriksaan Penunjang : a. maka efusi pleura maligna itu di anggap berasal dari paru. Berupa punksi. Diagnosis : Pleural Efusi Maligna 3. Sebaiknya dilakukan setelah cairan dikeluarkan maksimal. Efusi pleura karena sebab lain d. Abses paru c. Foto polos toraks PA/lateral.

Informed Consent : Perlu 12. Penyulit : a. 1003 . Autopsi : Perlu bila diagnosa tidak jelas. Rusch. 18. Dokter Spesialis Paru d. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru e. OK : pemasangan chest tube dan WSD 10. Efusi berulang. Churchill Living Stone. Empiema toraks. 1995. b. Hasil : tergantung respon terapi dari tumor primernya 16.9. Prognosa : a. Patologi : Perlu. c. New York. Lama Perawatan : 3 – 7 hari 14. Masa Pemulihan : 3 – 7 hari 15. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Tergantung respon terapi dari tumor primernya. Sahn.1016 213 . b. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Tenaga Standar : a. Bila berasal dari paru maka dianggap kanker paru stadium III keatas Kepustakaan : 1. VW : Pleural Effusion : Benign and malignant in Thoracic Surgery ed by F Griffith Pearson. Ruang perawatan (normal). 17. SA : Malignant pleural effusion in General Thoracic hal 757 – 797 2. Tempat pelayanan : a. Dokter Spesialis anesthesi 13. b. Respiratory distres 11.

colon. gambaran dan globulin 6. Diagnosis : Tumor Dinding Dada. j. bila > 4 cm dilakukan FNAB/Incisional Biopsi. Foto polos toraks (PA/lateral). tulang rawan. Dokter Spesilis Anasthesi 7. Untuk kasus-kasus unresectable dipertimbangkan pemberian radioterapi. Perawatan RS : Perlu untuk persiapan pembedahan. 3. Keluhan dan gejala : Sering tanpa keluhan (asimptomatik). Defornitas dinding dada oleh inflamsi. Kriteria Diagnosis : Tumor yang muncul di dinding dada. ICD : C. bila ada residual tumor dilakukan reseksi. Analisa gas darah h. d. 9. Tumor jinak : reseksi dan bila perlu rekonstruksi. Biopsi (PA). kemoradioterapi merupakan pilihan pertama. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan Hematology / Onkology Medik c. Yang paling sering menimbulkan tumor metastatik kedinding dada adalah urogenital. mamma. Tumor bisa primer dan metastatik. Defornitas dinding dada oleh kelainan congenital. 4. 76. Diagnosis Banding : a. tulang. Lab lengkap i. c. b. adanya massa di dinding dada disertai dengan reffered pain atau nyeri lokal. b. ICU post operasi.1 2. tiroid. soft tissue lainnya. Tempat pelayanan : a. Pemeriksaan Penunjang : a. 8. Bone Scaning. CT Scan toraks c. MRI d. bila kecurigaan dari tulang. 214 . OK : bila perlu operasi. b.1. Rhabdomiosarkoma dan Ewing sarcoma. Massa : Berbentuk. Dokter Spesialis Paru b. Bunce Jones protein. ada riwayat trauma ringan dengan fraktur fatologis. f. dapat berasal dari beberapa elemen-elemen histologis dari dinding toraks yaitu otot. Test fungsi paru g. e. Ruangan biasa. Tumor primer sebagian kecil jinak. batas tak jelas. b. bila tumor < 4 cm langsung di Excisi dan Frozen Section. Selektif angiografi bila tumor dekat/berada di axila. 5. fixed dengan dasar ikut pergerakan respirasi. Konsultasi : a. syaraf. Terapi : a. Pembedahan (Reseksi diding dada dan rekonstuksi) merupakan first line treatment dikombinasikan dengan kemoradioterapi (bila ada tumor ganas berasal dari tulang). Bone merrow aspirasi k. c.

Rekonstruksi dinding dada dan keterbtasan respirasi. Autopsi : Tidak perlu dengan excisi luas. Sixth ed Vol II ed by Athur E Baue Prentice-Hall International Inc.. 17. Hasil : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren 16. Penyulit : a. Informed Consent : Tertulis bila dilakukan operasi.14 hari 14. Dokter Spesialis Jantung (bila invasi kejantung & pembuluh darah) d. Tenaga Standar : a. b. Lama Perawatan : 7 . Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. 3. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler b. MC Carmack PM : Chest Wall Tumors in Glemis Thoracic and Cardio Vascular Sergery . Prognosa : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren Kepustakaan : 1.10. 1996 : 593 608 215 . Dokter Spesialis Anasthesi (untuk perawatan post operasi) 13. Pailorelo PC : Chest Wall Tumors : In General Thoracic Surgery …. Idem : Chest Wall Reconstruktion : In General Thoracic Surgery …. Depormitas dengan kecacatan. London.hal 589 – 597. 2. 12. 18. durante operasi dapat dikerjakan FS. Invasi keorgan-organ intra toraks. c. Dokter Spesialis Paru (bila invasi ke paru) c.. Patologi : Perlu.hal 579 – 588. 11.

Diagnosis Banding :- 5.9 2. iii. ICD : 183. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi dan untuk operasi. Ruang rawat biasa. Tempat pelayanan : a. Aneurysma vena 11. Medikamentosa flavunoid. 3. Diagnosis : Varices Tungkai. b. 216 . hisperidine diosmin. d. Excisi ulcus + skingraft 9. 7. Stadium II Venaectasis Stadium III Gejala & tanda varises tampak jelas. b. b. DVT d. b. Perdarahan c. Konsultasi : Dokter Spesilis Anasthesi untuk operasi. iii. OK untuk tindakan operasi. Bi pedal phlebografi 6. iv. Symptomatis pasta lasar. ii. Sclerotherapy. Gejala dan tanda tergantung stadium Stadium I pegel. Terapi : a. sakuler atau silindris vena-vena superfisial menyeluruh atau segmental termasuk teleangiektasis pada tungkai. thrombophlebitis. iv. Pemeriksaan Penunjang : (bila ada alat) a. 8. Bedah i. High Ligasi ii. Ulkus yang tak sembuh-sembuh. Babcock extractie/stab avulsi. Penyulit : a. Compression therapy. Duplex Scan. Airplathysmography. Informed Consent : Perlu bila operasi. berat. Doppler USG. Non Bedah i. cepat lelah.1. c. Ligasi dan stripping. Stadium IV Ulkus varikosum. Kriteria Diagnosis : Pelebaran abnormal. chronic venous insuffi ciency (CVI) 4. 10.

Hasil : Sembuh 16. Prognosa : a. Patologi : Tidak Perlu. 17. in Vascular Surgery Principles and pratice. White. b. Nordestgaard AG. 217 . Bisa berulang bila masih ada pengisian vena yang inkompeten. Masa Pemulihan : 4 – 5 hari 15. 1994 : 865 – 888. Autopsi : Tidak perlu. New York. second ed by Frank J Veith. b. Baik bila belum ada komplikasi. GH : Chronic Venous Insufficiency : in Vascular Surgery Principles and pratice. William RA : Vasicose Vein.12. second ed by Frank J Veith. Mc Graw – Hill Inc. 1994 : 841 – 851 2. Mc Graw – Hill Inc. Tenaga Standar a. New York. c. Kepustakaan : 1. : Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler Dokter Spesialis Bedah Vaskuler 13. 18. Lama Perawatan : 2 – 3 hari 14.

CT dengan contras b. Laser surgery ii. Dokter Spesialis Radioterapi bila perlu Raditherapy. Diagnosis : Hemangioma. Katiko steroid ii. seperti spon. 6. Ruang radiologi untuk radiotherapy 9. Bentuk kubah plaque. Fase involusi (sampai dengan umur 7 – 12 th) Menipis secara sentrifugal mulai dari sentral. Konsultasi /team : a. teleangiektasis. MRI c. Dokter Spesialis Anasthesi bila akan dioperasi. c. d. ICD : D. 7. Dokter Spesilis Anak bila ada ganguan hemostasis koagulapati. biasanya dengan klinis saja sudah cukup. kosistensi lebih compressable. Radiasi Tempat pelayanan : a. Diagnosis Banding : a. Pemeriksaan Penunjang : a. 18. 5. Cryo surgery iii. Terapi : Biasanya sebagian besar regresi spontan pada usia 5 – 8 tahun. makula/papula merah. AVM c. Fase Proliferasi (sejak lahir – 12 bulan) Kulit pucat. Pembedahan i. Dokter Spesialis Bedah Plastik bila perlu Rekonstruksi. Medikamentosa i. Arteriografi d. KGB (kelenjar getah bening). b. Interferon c.1. Ruang rawat biasa b. Lesi dibawah kulit lymphangiomacystika. b. 4. meluas dan lebih merah seperti buah strowberry saat menangis. tumor atau kombinasi. lembek. Konsistensi padat. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi (life threatening) dan pembedahan 8. Embolisasi / Scleroterapi d. Kriteria Diagnosis : a. b. Kelainan Vena seperti kista. Histo Patologis Atas indikasi kuat. 3. dikerjakan pada fase involusi untuk mengurangi resiko perdarahan dan kerusakan struktur vital./merah tua dengan halo.0 2. 218 . OK bila perlu operasi / tindakan bedah c. Excisi . a. b.

Mengganggu fungsi menelan. Angka rekurensi masih tinggi setelah pembedahan. b. Feinberg RL : Vascular Anomalies & Acquired Akteriovenons Fistulas . 13. Penyulit : a. Ist ed. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. 14. Regresi spontan sebelum umur 12 tahun. 12. 16. CHF dan trombositopenia e. HH. Tenaga Standar : a. infeksi. Dean et al. Facial distrorsi b.324 219 . Dokter Spesialis Bedah Umum ( excisi ) b. mendengar dsb. ulkus. Kepustakaan : 1. visus. Perdarahan. Autopsi : Tidak perlu. 18. 309 . 15. Tront III. in Current Diagnosis & Treatment in Vascular Surgery. Prentice –Hall International Inc London. 17. d. 11. Dokter Spesialis Anasthesi Lama Perawatan : 2 – 7 hari Masa Pemulihan : 2 – 7 hari Hasil : Mudah timbul residif bila excisi tidak komplit. pernafasan. Ed by : Richard H. Dokter Spesialis Bedah Vaskuler d. Patologi : Perlu. 1995. Mengalami keganasan Informed Consent : Perlu bila ada tindakan. Prognosa : a.10. c.

Ruang dengan observasi fungsi respirasi pra bedah b. Diagnosis Banding Pemeriksaan Penunjang : Emphysema bulosa paru. Anannesis Adanya udara bebas dalam rongga pleura yang bukan disebabkan oleh faktor trauma. Keluhan dan tanda-tanda Terjadi mendadak berupa nyeri dada. 4. Diagnosis pasti dengan foto toraks AP adanya paru kolap dan bayangan udara (radiolusen) pada rongga dada. Observasi ii. b. 2. 3. hipotensi dan pucat bila tension pneumothorax. hipersonor. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu tindakan operasi. Bronkopleural Fistel b. Skunder : Akibat penyakit paru yang mendasari serta kelainan diluar paru iii. Bila Recurrent (≥ 3 kali berulang)→ thoracotomy repair fistule iv. 10.1. 220 . Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat Paru c. ICD : J. tanpa adanya Penyakit paru yang mendasari. Bila ada alat VATS maka dikerjakan VATS Tempat Pelayanan : a. 9 Diagnosis : Pneumothorax spontan. i. sesak nafas dan batuk dari ringan sampai berat. ii. 9. Dokter Spesilis Paru b. Konsultasi / team : a. Empyema thoraks Informed Consent : Perlu bila diambil tindakan 7. Bedah . d. ICU/RTI c. Terapi : a. Bila persisten (menetap ≥ 4 hari)→ thoracotomy repair fistule iii. i. Tension pneumothorax c. 93. Non Bedah .Tahikardi.Tanda lain penurunan suara nafas. Faktor penyebab i. 11. Foto thoraks tidak dibenarkan pada tension pneumothorax. 8. Neonatal c. Perawatan RS : Perlu bila akan diambil tindakan. Primer : Ruptur subpleura bleb. Closed thoracostomy (WSD) b. : Foto polos toraks. Needle aspiration iii. Open thoracostomy dengan WSD ii. CT Scan Toraks. berkeringat. 6. OK (bila dilakukan tindakan bedah) Penyulit : a. 5. Kriteria Diagnosis : a.

ed by F Griffith Pearson. New York 1995. 18. Tenaga Standar : a. Williams & Wilkins Baltimore. Churchill Livingstone. 1037 – 1054 2. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. Dokter Spesialis Paru d. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu thoracotomy Lama Perawatan Masa Pemulihan Hasil Patologi Autopsi Prognosis : 2 – 7 hari : 2 – 7 hari : sembuh bila tidak ada penyakit paru yang mendasari : Perlu bila perlu operasi thoracotomy : Perlu bila meninggal tak wajar : Baik Ada resiko berulang pada penderita yang mengalami pneumothoraks secunder. G : Spontaneous Pneumothorax and Pneumoneediastinum in Thoracic Surgery.12. Fry WA. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat paru e. 15. 16. 17. Paape K : Pneumothorax in General Thoracic Surgery Fourth ed Vol 1 ed by Thomas W Shields. Dokter Spesialis Bedah Umum pemesangan Chest Tube b. 662 . 1994. 14. Kepustakaan : 1.673 221 . Beauchamp. 13.

ICD : I 31. Cardiac Enzym : pada kelainan jantung. ST elevasi difus. Ekokardiografi : Echo free space dan dapat dihitung jumlah cairan. Keluhan dan tanda-tanda : Sesak. d. 4. Dokter Spesialis Anasthesi c. Kortiko Steroid kalau perlu c. Antiinflamasi (NSAID) b. Terapi causal lainnya 222 . b. COPD. c. a. Bila gagal. PR depresi f. EKG : Low voltage. Uremia ii. Sitologi / Histopatologi 6. Post operasi jantung v.1. Terapi : • Terapi Bedah . open perikardiostomi (subxiphoid atau window) dengan artero lateral thoracotomy kiri • Medikamentosa . Diagnosis : Efusi Perikardium 3. Neoplasma iii. e. Kardiomegali dengan kelainan jantung intra kardial. Diagnosis Banding : a. perikarditis konstriktiva/sicca. Pemeriksaan Penunjang : a. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah b. a. Foto Toraks : i. Kateterisasi jantung : perlu pada kelainan jantung. b. Tamponade akut : Tension pneumothorak. pulsus paradoxus. 3 2. Globular shape e. d. Definisi : Akumulasi abnormal cairan di rongga perikardium. Water bottle ii. Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung 7. Kriteria Diagnosis : a. gagal jantung kanan akut. Infeksi terutama TBC/imflamasi lain vi. area pekak jantung melebar pada tamponade maka Trias Beck’s lebih jelas yaitu suara jantung menjauh. 5. SLE dan kelainan sistemik lainnya c. emboli paru akut. Lab : DL. Ekokardiografi : melihat cairan intra pericardium dan kelainan jantung. nadi meningkat. terasa berat didada sakit tidak spesifik seperti suara jantung menjauh. Foto toraks : melihat adanya pelebaran mediastinum atau CT ratio > 50% b. bila belum tamponade perawatan konservatip diruang biasa (observasi) 8. Perikardiosentesis b. Post infark miokard (Dressler’s syndrome) iv. Perawatan RS : Perlu bila menunjukkan tanda-tanda tamponade. hipotensi dan distensi vena leher (CVP ↑). Konsultasi : a. Penyebab : i.

UPIJ/ICU b. 12. Naitkus PT. Cardiogenic Shock. Lama Pemulihan: 2 – 7 hari 15. Le Winter MM : Pericardiac disease. Tenaga Standar : a. Prentice Hall International Inc London 1995. Tempat Pelayanan : a. 17.9. Dokter Spesialis Bedah Umum ( perikardiosentesis ) b. Patologi : Perlu untuk mencari penyebab sitologys dan kultur. Hasil : Sembuh/kambuh 16. Informed Consent : Perlu apabila ada tindakan. Kepustakaan : 1. Tamponade jantung. OK bila perlu tindakan bedah 10. c. Prognosa : Tergantung Penyebabnya. b. 192 -203 223 . Lama Perawatan : 2 – 7 hari 14. Cardiac failure 11. Autopsi : Perlu bila tak jelas penyebab kematiannya. 18. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 13. Penyulit : a. in Current Diagnosis & Treatment in Cardiology ed by Michael H Crawford. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c.

224 .

225

226

227

228

229 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful