P. 1
protap-bedah

protap-bedah

|Views: 74|Likes:
Dipublikasikan oleh Nor Ubudiah Seti
semoga bermanfaat buat kalian!
semoga bermanfaat buat kalian!

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Nor Ubudiah Seti on Jun 02, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2013

pdf

text

original

: D16 : TUMOR JINAK TULANG : 1. Keluhan : tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang 2.

Fisik : tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas, atau ada patah tulang patologis 3. Radiologi : X-foto tulang; tampak densitas tulang bertambah (osteoblastik) atau berkurang (ostolitic) atau campuran. 4. Alkali fosfatase naik 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang 3. Osteomyelitis 5. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radiologi : X-foto tulang, CT-scan 2. Biopsi : FNA, biopsi tulang, pemeriksaan spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Bedah : 1. Reseksi tulang 2. Kuretage 3. Cryosurgery b. Non Bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Penyulit : 1. Penyakit 2. Terapi 11. Informed Consent : Perlu 12. tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Dokter Spesialis Bedah Onkologi 13. Lama Perawatan : ± 1 minggu 14. Masa Pemulihan : ± 4 – 12 minggu 15. Hasil : Bebas tumor, sembuh 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak tulang 1). Osteoma, 2). Osteobastoma 3). Kondroma 4). Kondroblastoma 5). Adamantinoma 6). Fibroma 7). Hemangioma 8). Limfangioma 9). Giant cell tumor 2. Tumor non neoplasma 1). Kiste tulang 2). Fibrous displasia 17. Otopsi : 18. Prognosis : Baik, tumor hilang / sembuh 19. Tindak lanjut : -

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

1

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D23 : TUMOR JINAK KULIT TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT : Neoplasma jinak kulit, D24 Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis 1. Papiloma 1). Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit, permukaan kasar 2). Berwarna seperti kulit normal disekitarnya 2. Epithelioma 1). Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit 2). Berwarna seperti kulit normal 3. Nevus pigmentosus Plaque atau nodus berwarna hitam 4. Kiste dermoid 1). Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau brachial cleft 2). Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak, dinding 5. Dermatofibroma 1). Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkutis 2). Berwarna coklat, menyerupai keloid Tumor non neoplasma kulit 1. Verruca vulgaris (B07) 1). Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan yang besar 2). Warnanya seperti kulit normal disekitarnya 2. Keratosis (L82-L86) 1). Keratosis seborrhoicum (L82) a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna coklat atau kehitaman, sering multipel b. Lokasi trutama pada kulit muka atau leher dan tubuh 2). Keratosis solaris = keratosis senilis (L57.0) a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoicum b. Umumnya terdapat pada orang tua c. Lokasi terutama pada muka, leher dan bagian kulit yang terbuka 3). Keratoacanthoma (L85.8) a. Tumor papiler dengan sentralnekrose, b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami regresi spontan c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma kulit keganasan rendah 4). Kiste epidermoid (L72.0) a. Tumor kistus subkutan, berisi sebum, berdinding epidermis b. Lokasi umumnya di tangan atau kaki

2

4. Diagnosis banding : 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Terapi a. Bedah b. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi

17. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut

: : : : 1. Eksisi tumor, 2. elektrokoagulasi, 3. desikasi, 4. kuretage, 5. dermobrasion : 1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate, 2. salep FU, salep keratotlitik : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. : 1. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Terapi : perdarahan, infeksi, timbul keloid : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : Poliklinik : ± 1 minggu : Benas tumor, sembuh : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak kulit 1). Nevus intradermal 2). Nevus junctional nevus 3). Compound nevus 4). Papiloma 5). Epithelioma 6). Adenoma 7). Keratoacanthoma 8). Syringoma 9). Hydradenoma 10). Trichoepithelioma 11). Demoid cyst 2. Tumor non neoplastik kulit 1). Seborrhoic keratosis 2). Verruca vulgaris 3). Molluscum contagiosum : : baik : 3 bulan, 6 bulan kemudian lepas

5). Kiste sebaceus = Atheroma (L72.1) a. Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum b. Pada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang buntu oleh sebum yang mengeras c. Tumor mobil dari jaringan subkutan dibawahnya 6). Molluscum contagiosum (B08.1) a. Nodus kecil di kulit, berwarna keputihan b. Bila dipencet keluar inti yang keras 7). Granuloma (L92.3) a. Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi lunak, mudah berdarah (L92.3) b. Dapat berupa reaksi benda asing dibawahnya berupa benang (T81.8) Tumor ganas kulit Diagnosis : Pemeriksaan patologi spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

3

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D17 s/d D21 : TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK & TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK : Tumor jinak jaringan lunak 1. Lipoma, D17 Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan, konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan 2. Hemangioma, D18 1). Hemangioma kapilare Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu anak-anak 2). Hemangioma cavernosum a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons, berwarna kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan, umumnya sebelum umur 5-7 tahun 3). Hemangioma arteriale (hemangioma racemosum, cirrsoid hemangioma) a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok, berdenyut, karena ada shunt antara arteri dan vena, sejak bayi atau kecil b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala 3. Limfangioma, D18 1). Limfangioma kapilare (limfangioma simpleks) Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, berisi cairan limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul sejak lahir atau waktu kecil 2). Limfangioma cavernosum Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, seperti bibir (makrocheili) lidah (makroglosi), dsb, dengan kulit diatas tumor berwarna normal, konsistensi seperti spons 3). Limfangioma kistikum (Higroma) a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit diatas tumor warnanya normal, timbul sejak lahir atau waktu bayi b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) atau di axilla (higroma axillare). 4. Fibroma, D21 1). Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsistensi ada yang beras (fibroma durum), ada yang lunak (fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan ikat pada tumor. 2). Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare 3). Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia musculus rektus atau obliquus abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas, tetapi patologis sebagai tumor jinak

4

suatu plaque berwarna coklat susu pada kulit 4). Lama perawatan 14. Neurofibromatosis von Recklinghausen. menjadi neurogenic sarcoma.0 1). Abrasi / dermobrasi : 1. tumor atau polipoid. sembuh 5 . MRI pada tempat tumor 2. M67. Radiologis : X-foto. Perawatan RS 8. yang tumbuh progresif dengan pelan 2). Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat. Ganglion. Tumor ganas jaringan lunak 1.S. Hemangioma : radioterapi. dikulit. Pemeriksaan penunjang : 6. infeksi : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : ± 3 hari : ± 1 minggu : Bebas tumor. yang berisi cairan seperti gudir. subkutis atau subfascial. dengan ukuran bervariasi. Hasil : : : : 1. Terapi a.S. biopsi. Neurofibroma. Q85. yang terdapat sejak lahir atau baru manifest setelah dewasa. Eksisi tumor 2. kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea (ganglion poplitea) 1). berasal dari bungkus syaraf. konsistensi lunak 3). Dapat timbul nyeri atau paraestehia Tumor non neoplasma 1. Non bedah 9. multipel diseluruh tubuh. Konsultasi 7. Diagnosis banding : 5. 2). Berbentuk tumor bulat panjang. Ganglion : kortikosteroid intra kistik : Minimal R. Penyulit 11. 2). konsistensi berubah menjadi padat. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Masa pemulihan 15. Informed Consent 12. tatouage 2. : 1.5. Yang khas ialah terdapat cafe aux lait. Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion karpi). Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi.1 1). lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. Elektro cauter 4. Patologis : FNA. sering multipel sepanjang jalan syaraf perifir. CT-scan. Suatu penyakit kongenital herediter. Cryosurgery 3. D36. Tenaga standar 13. Tempat pelayanan 10. harus dicurigai mengalami transformasi ganas. pemeriksaan spesimen operasi Staging : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait Ruang inap untuk diagnosis dan tindakan 4. Bedah b. kortikosteroid. kelas C R.4 1). 2. Terapi : perdarahan. Berbentuk nodus.

Fibroma 4. Gangion aponeutikum 10. Neurofibromatosis : : Baik : 12 minggu. Otopsi 18. kemudian lepas 6 . Hemangioma 2. Synovioma 8. Patologi 17.16. Benign fibrous histiocytoma 5. Rhabdomyoma 7. 24 minggu. Prognosis 19. Lipoma 3. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Neurofibroma 6. Leiomyoma 9. 52 minggu.

berbatas tegas. spermatookel. di prostat (colok dubur) testis. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. fibroma. Terapi : perdarahan. Tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Urologi 13. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Terapi : a. kelas C R. ICD 2. Hidrokel testis 3. ICD : Teratoma Ganas In situ Jinak Tidak tentu 7 . Kriteria diagnosis : 1. Tindak lanjut : - 1. hidrokel funikuli 3). atheroma 17. infeksi 11. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait ] 7. Prostat : hiperplasia 2). karsinoid. Tempat pelayanan : Minimal R. Fisik : tumor kecil. Keluhan : testis. Perawatan RS : Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Neoplasma 1). Diagnosis 1. Testis & epididimis : granuloma. Otopsi : 18. Bedah : Eksisi tumor. Testis & epididimis : teratoma matur. Penyulit : 1. Tumor non neoplasma 1).: D29 : TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI 3. Penyakit : 2. Patologi : biopsi eksisi. penis atau skrotum 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas 2. biopsi testis. Prognosis : Baik 19. padat atau kisteus.S. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. epididimis. Masa pemulihan : ± 1 minggu 15.S. Penis & skrotum : kiste epidermis. umumnya < 2 cm. Spematokel 5. Prostat : adenoma. Informed Consent : Perlu 12. myoma 2). penis atau kulit genetalia 2. FNA. Non bedah : 9. Lama perawatan : ± 3 hari 14. pemeriksaan spesimen operasi 6. TUR b. tumor Brenner 2. sertoli sel tumor. pemeriksaan spesimen operasi 2. Hasil : Bebas tumor / sembuh 16.

Kriteria diagnosis : : 4. kelas-C. makin besar kemungkinan keganasan 3.9 D33. Tempat pelayanan 10.S.2 D43. dsb. dsb. Sacoccocygeal C76.7 D48. patologi N : Klinis. Pemeriksaan penunjang : 6. Teratoma ganas : eksisi luas atau organtektomi : Radioterapi : Minimal R. Hasil : : : : 1.2.S. hanya untuk tumor ganas T : Klinis. 2. Penyakit : erosi atau destruksi tulang disekitarnya 2. Patologis : FNA. imaging.3 D15.3 3.9 D07. Diagnosis 3. usus. Retroperitoneum C48. Radiologis : X-foto.1 6.3 D27 D39. infeksi 2). Makin dewasa manifestnya. Diagnosis banding : 5. pemeriksaan spesimen operasi 3. Berbentuk tumor ada yang padat. Teratoma jinak : eksisi tumor 2. Radiologi : X-foto polos/CT-scan.2 D38. Mediastinum C38. gigi. Konsultasi 7. imaging. MRI : nampak ada klasifikasi atau bentuknya seperti tulang. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Non bedah 9. Stadium dini : bebas kanker 1. atau setelah dewasa. imaging.2 TERATOMA 1. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi teratoma. Radioterapi : radionekrose : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 7 hari : ± 1 bulan : 1. Supraseller C71. FNA M : Klinis. Eksplorasi operasi : untuk melihat keadaan tumor Staging. Bedah b. MRI pada tempat tumor 2. mengandung kulit. dsb 1. patologi Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8 . Terapi a. tulang.0 D48. seperti di sacrococcygeal. testis.3 4. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak 2. biopsi. Testis C62 D07. Tenaga standar 13. rambut. ovarium.3 D09. CT-scan. Operasi : perdarahan. Penyulit 11.2 D40.1 5. Tumor jinak atau ganas organ yang bersangkutan Diagnosis 1. Masa pemulihan 15. Manifest sejak lahir.7 2. Fisik : 1). Ovarium C56.7 D36. Informed Consent 12. Eksplorasi operasi : Tumor berkapsul yang tegas (ganas). Terapi 1). R. ada yang kistik yang terdapat pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi suatu teratoma 2). 4. Perawatan RS 8. Lama perawatan 14.0 D20.6 D29.

Teratoma ganas 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Prognosis 19. Teratoma jinak 3.0-C22. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium dini : baik 2. Teratoma sifat tidak jelas : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1.16. Tindak lanjut 2. Stadium sangat lanjjut : jelek : 0 – 3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 – 5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 1. Otopsi 18. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. ICD : C64-C79.2 9 .4-C22. Patologi 17.

in situ. Tumor pada hati pada anak. pada IMP terlihat pyelum normal 3). tampak ada tulang atau kalsifikasi dalam tumor pada USG.2 1). pada USG abdomen terlihat tumor dari ginjal 4). toraks. anemia 2. ovarium. Tumor jinak. Ada trias gejala : tumor abdomen. ikterus 4. VMA = vanyl mandelic acid. Tumor Willem (nephroblastoma). Keluhan : sakit perut. mual muntah. gangguan fungsi hati. Hepatoblastoma. pada USG. yang terdiri dari campuran derivat jaringan epithelial. Laboratorium : AFP naik. Terdapat leukocoria. kulit. nyeri dan hematuri. terlihat ada klasifikasi dalam tumor. endothelial dan mesenchymal (tulang. Tumor ginjal pada anak-anak. Diagnosis banding : KANKER PEDIATRI 1. Radiologi : Pada X-foto polos. Tumor berasal dari ginjal. RETINOBLASTOMA 5. Radiologi : USG abdomen / CT-scan : nampaktumor pada hati 4). TUMOR WILMS. 2. sifat tidak tentu atau jinak 3). strabismus. Pada penyinaran : X-foto polos. Terdapat tumor di mediastinum. Radiologi : pada IVP. Diagnosis 3. retroperitoneum. C79. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 10 . rambut. C22. ada filling defek di pyelum. FlexnerWintersteiner rosette pada retina 3). testis. CT-scan atau MRI nampak ada tulang atau macam-macam komponen jaringan dalam tumor : 1). usus. C69. umumnya dibawah 12 tahun 3). hati. hipertensi atau panas 3). mungkin pula disertai anemi. Tumor dapat bersifat ganas. dsb) 2). Limfoma maligna 5. releks papil putih. Neuroblastoma adrenal. NEUROBLASTOMA 3.2 1).4 1). Tumor mata pada anak-anak. Tumor ganas syaraf atau ganglion perifir. anoreksi. dapat mengalami regresi spontan pada bayi kurang dari 1 tahun 2). HEPATOBLASTOMA 4. panas. dapat di leher.2 1). pada umur dibawah 5 tahun. Kriteria diagnosis 4. dsb. Teratoma. HVA = homo vandelic acid 3. Retinoblastoma. abdomen. Tumor dapat uni atau bilateral 5. TERATOMA : 1.2. 2). Laboratorium : hematuria. umumnya pada umur 1-3 tahun 2). berat badan meurun 2). tetapi umumnya di kelenjar adrenal. C76. Laboratorium : dalam urine terdapat kenaikan katekolamine. umumnya pada umur dibawah 5 tahun 2). gigi. C64 1).

Non bedah 9. Teratoma : malignant teratoma. Lama perawatan 14. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Eksisi luas tumor. pada ovarium : ovariektomi. fungsi ginjal. paraneoplastik sindrom 2. doxorubicin. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Terapi a. imaging. USG abdomen. Radioterapi pre atau pasca bedah. Patologi. Stadium dini : bebas kanker 2. actinomycin-D. urine. Masa pemulihan 15. 2. Sitologi : FNA. pada testis : orchidektomi. pada mata : eksentrasio bulbi. benign teratoma. Perawatan RS 8. infeksi. sitologi 4. Tempat pelayanan 10. seroma. Terapi : perdarahan. Hepar : hepatoblastoma. 2. patologi M : Klinis. CT-scan. MRI 2. Bedah : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : 1. : 1. katekolamine 3. imaging. dsb. Penyakit : perdarahan. Adrenal : neuroblastoma. terato carcinoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan ksus kematian yang sebabnya tidak jelas b. Konsultasi 7. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Laboratorium : darah. Organtektomi : Pada tumor Willen : nefrektomi. atau radioterapi primer bila tumor inoperabel. AFP. gangguan fungsi organ : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Anak Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 10 – 14 hari : ± 12 minggu : 1. : Minimal R. fungsi hati. patologi 6. Informed Consent 12. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna dalam 1-3 bulan.S. Kemoterapi : dengan vincristine. cyclophospha-mide. Patologi 17. Ginjal : nephroblastoma 2. jenis histologi. patologi N : Klinis.1. Tenaga standar 13. Otopsi 11 . kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Mata : retinoblastoma 5. imaging. infeksi. derajat Staging : T : Klinis. Radiologi : IMP. Penyulit 11. hepatocelular carcinoma 4. Hasil 16. ganglioneuroma 3.

Stadium sangat lanjut : jelek : 0 .18. Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3.3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 .5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 12 . Stadium dini : baik 2. Tindak lanjut : 1.

Radiologi : USG abdomen. Pembesaran kelenjar limfesuperficial seperti di leher. 8. Hodgkin Disease = HD C81 2. Eksplorasi : laparoskopi. fungsi ginjal. Fisik : limfadenopati singel atau multiple. Immunohistokimia : Sel-T atau sel-B Staging 1. C82 2). laparotomi. ketiak. Pada laparotomi karena ileus ditemukan adanya agregat jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan obstruksi ileus itu Diagnosis banding : 1. Limphadenitis tuberkulosa 3. fungsi hati. sumsum tulang 4. faktor resiko 2. : C81 s/d C85 : LIMFOMA MALIGNA 1. inguinal. di salah satu atau lebih regio kelenjar limfe superficial. C84 4. Laboratorium : darah lengkap. MRI untuk terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe 4. 7. jika timbul ileus atau peritonitis b. 6. Diffuse NHL. CT-scan abdomen. Radiologi : X-foto toraks. C83 3. atau keluhan karena ada benjolan di perut 2).1. Peripherial and cutaneous T-cell lymphoma. 4. penurunan berat badan atau berkeringat malam yang tidak jelas sebabnya 2. Bedah : Laparotomi. Tumor jinak kelenjar limfe 2. Pada sindroma vena cava superior 13 . X-foto tulang. sumsum tulang terbuka. SGPT. Klinis : cS = clinical staging 2. seperti leher. Panas badan. Follicular (nodular) NHL. torakoskopi 6. Patologi : biopsi kelenjar limfe. Keluhan : 1). albumin. ketiak. Non Hodgkin Lymphoma = NHL 1). tulang. atau dengan VC 5. inguinal. Radioterapi : 1). USG abdomen. pada HD = Hodgkin Disease. C85 Kriteria diagnosis : 1. CTscan. atau benjolan di tonsil atau faring. globulin. ICD 2. 5. Patologi : pS = pathological staging Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Epidemiologi : umur. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma. pada NHL = Nn Hodgkin Limfoma tidak 7. Limphadenitis non spesifik Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Diagnosis 3. Patologis : jenis histologi. alkali fosfatase. LDH. 40 Gy. bila limfoma masih lokal pada satu regio 2). Non bedah : 1. MRI 3. ditemukan sel Reed Sternberg. tonsil atau lingkaran Waldeyer 3.

bleomycin.Other Hodgkin’s disease 6). Operasi : Perdarahan. Hasil 16. Masa pemulihan 15. Follicular (Nodular) 2). Non Hodgkin Lymphoma 1). radionekrose. AVBD = adriamycin. Hodgkin Disease 1). Mycosis fungoides 3. Tindak lanjut : : : 2. vinblastine dan dacarbazine 2). Hodgkin’s unspecified 7). Lymphocytic predominace 2). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. MOPP = mechorethamine. Nodular sclerosis 3). anemia. Stadium dini : baik 2. peritonitis. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 14 . Penyakit : ileus obstruksi. Otopsi 18. Informed Consent 12. Reticulosarcoma perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas 1. Tenaga standar 13. Stadium dini : bebas kanker 2. alopecia Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis onkologi medik ± 24 minggu ± 4-8 minggu 1. Penyulit : : 11. sindrom vena cava superior 2. Mixed cellularity 4). oncovin. Stadium lanjut : dubius 3. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. infeksi 2). prednison dan procarbazine Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 1. Radioterapi : Radiodermatitis. Tempat pelayanan 10. Kemoterapi dengan : 1). Terapi : 1). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Lymphocytic depletion 5). Plasmacytoma 4. Diffuse 2. Kemoterapi : Netropenia. Lama perawatan 14.9. lemas 3). mual / muntah. Prognosis 19. Patologi : : : : : : 17.

Sekunder : bila ditemukan ada tumor primernya 4. biopsi eksisi 3. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi 1. Primer : apabila kelenjar membesar progresif. Kriteria diagnosis 15 . Pemeriksaan pennunjang : Diagnosis : 1. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin) 3. baik spesifik maupun non spesifik 2. Hasil : Tergantung dari sebabnya : 1. hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker T : cari letak tumor primernya. Terapi : 11. Radiologi : tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk mencari tumor primernya 2. inguinal yang dapat : 1. terfiksasi. Metastasis kanker dari tempat lain. toksoplasma) Staging. Bedah : Tergantung dari penyebabnya b. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Diagnosis banding : 1. ICD. klinis dan imaging N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase jauhnya M : cari lokasi metastase jauhnya. Penyulit : 1. Limfoma maligna : bebas kanker 4. Penyakit : 2. untuk diagnosis dan tindakan 8. Reaktif hiperplasia kelenjar lilmfe 3. Reaktif hyperplasia : sembuh 3. 5. Reaktif hiperplasia 4. Metastase kanker : sukar sembuh 16. Limphadenitis khronika. Singel atau multipel 2. Lama perawatan : ± tegantung dari sebabnya 14. Informed Consent : Perlu 12. klinis dan imaging 6. atau tidak sembuh dengan antibiotika atau obat anti TBC 2). Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Non bedah : Tergantung dari penyebabnya 9.C77 atau C80. Diagnosis 3. Masa pemulihan : ± tegantung dari sebabnya 15. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. ICD 2. Laboratorium : test immunologis (TBC. tanpa ada radang. Dicurigai ganas : 1). Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk konglomerat 3. Tuberkulosa : sembuh 2. Limfadenitis tuberkulosa 2. ketiak. Limfoma maligna 1. padat. Terapi : a. Patologi : FNA. Perawatan RS : Rawat inap bila perlu.: R59 : LIMFADENOPATI : Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio leher.

Neoplasma : tergantung dari stadiumnya : Tergantung dari penyebabnya 16 . ICD.17. C80) : : 1. C77 atau ICD topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis menjadi MUO = Metastase of Unknown Origin atau CUP = Cancer of Unknown Primary. Metastase kanker Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat ditemukan tumor primernya (ICD. Prognosis 19. Otopsi 18. Tindak lanjut 4. Non neoplasma : baik 2.

Radioterapi : a). Reseksi tulang + transplantasi tulang atau prosthese tulang (limb preserving operation) 2). lokasi tumor 2. Masa pemulihan : ± 4-12 minggu 1. Kriteria diagnosis 17 . MRI. Tumor jinak tulang 2. fungsi ginjal. Diagnosis banding : 1. Radionekrose c). scintigrafi tulang). urine. MRI : ada pembentukan tulang baru (Codman’s trangle). ada invasi tumor keluar tulang. faktura patologis 4. patologi spesimen operasi N : Klinis. atau radioterapi primer 2. Infeksi d).: C40-C41 : KANKER TULANG : 1. cyclophosphamide. cisplatin. fosfatase alkali 4. Radiologi : X-foto tulang. leher. atau phenomena “union peel = kulit bawanng” pada Ewing sarcoma. Lemas d). CT-scan. USG abdomen. biopsi tulang. MRI. Radiologi : X-foto tulang. Bedah : 1. timbul patah tulang. Netropenia b). Non bedah : 1. Terapi : a. derajat diferensiasi sel) Staging T : Klinis. imaging (X-foto toraks. Radiodermatitis b). paraplegia 2. fungsi hati. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah ortopaedi 13. nyeri tulang. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait 7. patah tulang patologis. Penyakit : fraktur. methotrexare 9. paraplegia 3. Keluhan : tumor. ada “sunrays phenomen” pada osteogenic sarcoma. Informed Consent : Perlu 12. paraplegia 2. Ekstemitas : 1). imaging. CT-scan. Kiste tulang 3. Fibrosis 3). Mual/muntah c). Operasi : a). Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. tubuh : Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks / rekonstruksi b. Hematoma c). Terapi 1). Kepala. Laboratorium : darah. Kemoterapi : dengan kombinasi cyclophosphamide. doxorubicin. Cacat 2). Penyulit : 1. CT-scan. Alopecia 11. Radioterapi pra atau pasca bedah. Patologi : Biopsi : FNA. Perdarahan b). imaging M : Klinis. Amputasi / disartikulasi 2. Osteomyelitis 5. Scintigrafi tulang 3. ICD 2. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Chemoterapi : a). Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Diagnosis 3. Epidemiologi : umur. patologi 6. Fisik : tumor pada tulang dengan invasi keluar tulang.

Stadium dini : bebas kanker 2. Membentuk tulang atau kartilago 1). Chondrosarcoma 4). Tindak lanjut : 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 18 . Hemangioepithelioma 2). Fibrosarcoma 5). Osteogenic sarcoma 2). Lisis tulang 1). Giant cell tumor 2). Prognosis 19. Hasil 16. Adamantinoma dari tulang panjang : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Patologi 17. Juxtacortical osteosarcoma 3). Mesenchymal chondrosarcoma 2. Undifferentiated sarcoma 8). Liposarcoma 6). Stadium lanjut : dubius 3. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Stadium dini : baik 2. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3.15. Ewing sarcoma 3. Hemangiopericytoma 3). Malignant mesenchymoma 7). Juxtra chondrosarcoma 5). Lain-lain 1). Angiosarcoma 4). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Otopsi 18. Chordoma 9).

Patologi : FNA. vas deferen 2. muntah. imaging M : klinis. AFP. diarhoea. Terapi : 1). USG : testis bentuk irreguler. cisplatin 9. Tumor jinak 2. Kemoterapi : etoposide. Lokal : 1). Diagnosis 3. HCG naik > 5 mIU/ml. pertanda tumor N : klinis. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Radioterapi : 25-30 Gy 2. Orchidektomi radikal 2. paliasi 1. Terapi : a. keras. Penyakit : invasi ke kulit skrotum. HCG 3. Informed Consent : Perlu 12. CT-scan abdomen 2. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Radiol : X-foto toraks. nafsu makan turun 3). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. badan lemas. densitas heterogen 2). Operasi : perdarahan. Laboratorium : darah. Lab : AFT naik > 15 ng/ml. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. nyeri. USG abdomen. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Keluhan : Testis membesar.5 xN (normal) 4. Chemoterapi : mual. badan lemas. Hidrokel testis 3. ICD 2. diarhoea. Masa pemulihan : ± 12-24 minggu 15. Bedah : Untuk non seminoma 1. Kriteria dignosis 19 . biopsi testis. Orchidektomi total 2). imaging. Penyulit : 1. infeksi 2). terasa berat 2. LDH > 1-1. Diagnosis banding : 1. BUN. urine. Fisik : tumor membesar. imaging (X-foto toraks. alopesia. Nodus regional : diseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. (USG testis). derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. Stadium dini : bebas kanker 2. USG abdomen. MRI) 6. CT-scan. lokal atau difuse. dsb 11. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. nafsu makan turun leukopeni. konsistensi padat. Orchitis 5. Non bedah : Untuk seminoma atau non seminoma 1. muntah. Hasil : 1. kanan dan kiri tidak sama 3. Radioterapi : mual.: C62 : KANKER TESTIS : 1. Radiologi : 1). tumor testis.

York sac tumor 6). Stadium sangat lanjut : dubius : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 20 . Non seminoma 1). Patologi 17. Teratoma maligna 4). Embryonal carcinoma 2). Prognosis 19. Otopsi 18. Seminoma 2. Embryonal rhabdomyosarc 5). Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Granulosa cell tumor : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1.16. Choriocarcinoma 3). Leydig cell tumor 7). Stadium dini : baik 2. Stadium lanjut : baik 3.

VBM : Vincristin. biopsi (insisi / eksisi / cakot). Eksisi luas lesi trans-oral. MRI 2. Multifarma : a. Flourouracil c. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. FAM : Flouroutacil. Terapi : a. CT-scan) 6. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Radiologi : X-foto rahang. Granuloma 4. panoramik. yang mudah berdarah. kelaianan gigi. eritroplasia Querat 4). Ada lesi di mulut dapat berupa indurasi. Radiologi : pada X-foto maksila / mandibula atau panoramik. Endoxan 2). mulut berbau. Cisplatin b. derajat diferensiasi sel) Staging T : klinis. Tunggal : a. Operasi Commando dan rekonstruksi. Adriamycin. Diagnosis banding : 1. Sukar nafas 1. Ada lesi pra kanker : seperti leukoplakia. Keluhan : ada tumor atau ulkus. peminum alkohol. Penyulit : 1. Patologi : FNA. Lidah C02. Reseksi palatum / mandibula / pipi + rekonstruksi b. Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir 2). nginang. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel 2. nodus. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. spesimen operasi (jenis histologi. Stomatistik 5. defek mukosa ditutup dengan Thiersch pada tumor T1S atau T1 3). Palatum C05. mudah berdarah. Fisik : 1). Operasi khusus : a. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. imaging. Methotrexate b. ICD 2. Bedah : 1. Tumor jinak mulut 2. patologi M : klinis. Kriteria diagnosis : 1. Ulkus kronik benigna 3. USG abdomen. CT-scan. Gusi C03. tidak menghilang degan pengobatan konservatif selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrasi 2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau leher 3). Nyeri 2). pada T2 keatas Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan diberikan perawatan higiena mulut yang baik b.C06 : KANKER RONGGA MULUT Bibir C00. Penyakit 1). Sukar makan & minim 4). Non bedah : 1. Ada faktor predisposisi seperti merokok. Kemoterapi : dengan obat 1). Pangkal lidah C01. sering nyeri. tumor atau ulkus. Trismus 3). imaging.: C00 . Mitomycin-C 9. Dasar mulut C04. Tumor primer 1). Glosektomi total c. higiene mulut 3. sering nyeri di mulut 2. imaging (X-foto toraks. patologi N : klinis. Rongga mulut lainnya C06 3. Bleomycin. mungkin terlihat ada destruksi tulang 4. Diagnosis 21 .

infeksi. Operasi : Perdarahan. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Syadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 22 . Tenaga standar 13. Stadium dini : baik 2. Mal. Informed Consent 12. Fibrosarcoma 2). Stadium dini : bebas kanker 2. Tindak lanjut 2. Hemangiopericytoma : Perlu unuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. fitula oro-kutan. mulut kering. infeksi. Malignant melanoma 17. Rhabdomyosarcoma 3). Leiomyosarcoma 4). Mesenchymal 1). Squamous cell carcinoma 3). Patologi : : : : : : 2. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. kiloma. Radioterapi : Mukositis. Karsinoma in situ 2). mukositis infeksi. Epithelial 1). Prognosis 19. kawat/plat skrup. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. fibrosis 3). sinus dari implant. Otopsi 18.11. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium lanjut : dubius 3. Lama perawatan 14. Chemoterapi : neutropenia. Adenoid cystic carcinoma 5) Pleomorphic carcinoma 6). toksis Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. Nekrose flap 2). Adenocarcinoma 4). Terapi : 1).

struktur uretra. Diseksi kelenjar limfe b. Lesi berupa plaque merah. Bedah : 1. Penyulit : 1. Non SCC : Sarkoma. nodus. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Radioterapi 40 Gy. Kemoterapi : bleomycin. Informed Consent : Perlu 12. Kriteria diagnosis : C60 : KANKER PENIS : 1. Keluhan : benjolan di penis 2. CT-abdomen 3. Diagnosis 3. urine 6. USG abdomen. Panektomi parsial atau total 2. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. derajat deferensiasi sel 2. pemeriksaan spesimen operasi. Terapi : perdarahan. Otopsi 18.1. Pembesaran kelenjar limfe inguinal 4. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. erosi atau ulkus terutama di glans atau preputium 2). Prognosis 19. paliasi 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. cysplatin 9. infeksi 11. Diagnosis banding : 1. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. ICD 2. jenis histologi. Tumor jinak 2. Conyloma 5. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Penyakit : kehilangan penis 2. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Stadium dini : baik 2. Stadium dini : bebas kanker 2. brachiterapi dengan implantasi irridium 2. Hasil : 1. Non bedah : 1. Squamous cell carcinoma 2. tumor eksofitik. Fisik 1). Laboratorium : darah. Tindak lanjut 23 . Radiologi : X-foto toraks. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Stadium lanjut : dubius 3. BCC melanoma lymphoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yag sebabnya tidak jelas : 1. Lama pemulihan : ± 4-8 minggu 15. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 17. methotrexate. Terapi : a. Biopsi lesi.

FNA Juga VC / PC dan pemreiksaan patologi spesimen operasi Staging : T : Klinis. Kriteria diagnosis 4. imaging. erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal puting susu 2. Displasia mamma 4. bone scan. Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau kanker insitu diseksi axilla tergantung dari keadaan kelenjar axilla atau dari biopsi sentinal node 3. Limfoma maligna Pemeriksaan penunjang : Diagnosis : Triple diagnostik : 1. Klinis 2. batas tidak jelas. USG mamma : ada tumor berbatas tidak tegas. Bedah : 1. Keluhan : tumor atau borok yag mudah berdarah pada payudara. Mammografi ada tumor batas tidak tegas. Standar : Mastektomi Radical Modifikasi (Patey / Madden) 2. imaging (X-foto toraks. Alternatif : 1). Radiologi : a. stellate. Tumor phillodes 3. 7. dan ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas. 8. MRI) Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. klasifikasi mikro yang tidak teratur b. umumnya pada permulaan tidak nyeri. patologi (jenis histologi. biopsi sentinal node M : Klinis. peau d’orange. hiper-echoic Diagnosis banding : 1. derajat diferensiasi) N : Klinis. 5. ICD 2. Tumor jinak mamma 2. melekat kulit / muskulus pektoralis / dinding dada. imaging. 6. bentuk irreguler. Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi ± diseksi axilla + radioterapi pasca bedah b. bentuk tidak teratur. ada pembesaran kelenjar limfe ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh 3. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant 24 . tumbuh progresif. USG abdomen. ulserasi Tanda metastase : regional. ± Reskonstruksi mamma (myokutaneus latisimus dorsi flap) 3). Diagnosis 3. Fisik : pada payudara terdapat tumor padat keras. Sarcoma jaringan lunak 6. : C50 : KANKER PAYUDARA : 1. BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery) : a.1. Mastitis Khronika 5. eritema kulit diatas tumor. satelit nodule. CT-scan. Mammografi atau USG mamma 3. Mastektomi Radical Standard Radical (Halstedt) 2).

Stadium lanjut : dubius 3. paraplegia 2. dll. Adriamycin. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnose Epithelial 1. muntah. Tamoxifen. Flourouracil CAF : Cyclophosphamide. Prognosis 19. GnRH analogue 4. Kemoterapi : Adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan : CMF : Cyclophosphamide. Undifferentiated carcinoma Mesemchymal 1. Fibrosarcoma 2. nekrose kulit. Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma 2. Patologi 17. infeksi. sendi bahu kaku 2). leukopenia. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma 3. Tindak lanjut : 1. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Flourouracil 3. Otopsi 18. Methotrexate. Squamous cell carcinoma 8). fibrosis. Non bedah 9. Medullary carcinoma 2). Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer 2. faktura patologis. sendi bahu kaku 3). Scirrhus 6). Tumor phyllodes 2. Informed Consent 12. Tempat pelayanan 10. Variant khusus : 1). Kemoterapi : mual. oedema lengan. Liposarcoma 3. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 25 . Mal. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan ovariektomi. alopesia. Stadium dini : bebas kanker 2. Mal. Campuran 1. infeksi. Masa pemulihan 15. oedema lengan. efusi pleura. Cribriform carcinoma 4). seroma. Penyakit : perdarahan. Aromatase inhibitor. dsb : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 7-14 hari : ± 24-36 minggu : 1. Carcinosarcoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. plebitis. Papillary carcinoma 3). Pagets disease 7). Fibrous histiocytoma 4. Terapi : 1). oedema lengan. Lama perawatan 14. Stadium dini : baik 2. Operasi : perdarahan. nekrose kulit tempat infusi. Tenaga standar 13. Hasil 16. nekrose flap. Terapi paliatif dan bantuan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Penyulit 11. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. infeksi. Mucinous carcinoma 5). Radioterapi : radiodermatitis.b.

Tumor pada mamma yang besar. Sangat mobil dalam korpus mamma h). Batas tegas d). Konsistensi padat elastis g). Terapi : 1). Hematoma 3). Fibroadenosis 5. Infeksi 11. dibawah umur 30 tahun b). > 5 cm dan dapat lebih dari 30 cm a). Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase 3). Patologi : Biopsi. Penyulit : Operasi : 1). Bentuk bulat atau oval e). Radiologi : USG mamma / mammografi 3). Permukaan berbenjol-benjol c). Perdarahan 2). Tumor dapat singel atau multipel (2). Fibroadenoma mamma : eksisi tumor mamma 2). Ada bagian yang padat dan kisteus d). ICD 2. Epidemiologi : umur. Tumbuuh pelan dalam waktu tahunan c). Konsultasi : Dokter spesialis Bedah Umum Dokter spesialis Bedah Onkologi 7. Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada tanda metastase jauh 2). faktor resiko 2). Vries Coup 6. Tumor filloides mamma (1). Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel 3). Tumor filloides dan papiloma intraduktal : MRS 8. Fibroadenoma mamma : Poliklinik.1. kalau perlu MRS untuk tumor yang multipel 2). Kriteria diagnosis klinis : D24 : TUMOR JINAK PAYUDARA : 1). Perawatan RS : 1). Papillima intra duktal (1). Tumor kecil di subareoler 4. Kiste payudara 3. Sitologi : FNA 4). Diameter umumnya besar diatas b). Permukaan halus f). Informed Consent : Perlu ada informed consent 26 . Tumor di mamma pada wanita a). Vena subkutan membesar dan berbelok-belok (venaektasi) (4). Kulit diatas tumor mengkilat (3). Kanker payudara 2. Pemeriksaan diagnostik klinis : 1). Diagnosis banding : 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Sangat mobil dari dinding dada (2). Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu (2). Fiboadenoma mamma (1). Papiloma intraduktal : duktektomi 4). Diagnosis 3. Muda. Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma 9.

Lama perawatan 14. Otopsi 18. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 0-7 hari : ± 1-2 minggu : Sembuh : 1). Masa pemulihan 15. Tenaga standar 13. 0-1 tahun : tiap 3 bulan 2). Hasil 16. Fibroadenoma 2). Lipoma : : Tumor jinak : baik : 1).12. Tumor phyllodes 3). Prognosis 19. Patologi 17. > 1 tahun : lepas 27 .

(N64.1. siklis sesuai dengan siklus menstruasi atau non siklis b). (O92. konsistensi padat. Mastitis chronika Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan areola atau ditempat lain disertai atau tidak disertai dengan tanda-tanda radang 3). Fibroadenosis mamma (ICD. ICD 2. Hipertrofi pada wanita a). Dengan tumor a). N60. batas tidak tegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau menghilang secara spontan Tumor sering multipel atau bilateral 2). Kista mamma Pada aspirasi keluar cairan serous. Mastitis (1). fungsio lesa) b). Galaktokel non puerperalis. N61 (2). Jaringan mamma subareoler paling sedikit terba sebesar 1½ cm 4). Kanker payudara 2). lokal atau difuse c). Mastitis puerperalis (O91) a). 4. Ginekomasti = hipertrophi pada laki a).1) pada satu atau kedua mamma b). Ukuran besar mamma melebihi ukuran normal b).8) (2). keruh atau seperti nanah dalam kista Kista dapat tunggal (N60.2) Tumor umumnya tidak besar. Sitologi : FNA 3). Kelainan dapat menghilang dan timbul dengan spontan sesuai dengan siklus menstruasi (2). Galaktokel puerperalis. noduler. Neoplasma jinak payudara Pemeriksaan penunjang : 1). Displasia mamma N60 (1). Radiologi : mammografi / USG mamma 2). 6. Mamma pria membesar. Tanpa tumor yang dominat a). Nyeri pada mamma. Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda radang (dolor. Diagnosis 3. rubor. Mastitis non puerperalis. Mamma padat. : N60 – N64 : DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LANNYA Kriteria diagnostik klinis : 1). Hipertrophi mamma (1). seperti mamma wanita b). tumor. calor.9) Diagnosis banding : 1).0) atau jamak (N60. 5. Galaktokel Terdapat kiste pada mamma yang berisi air susu (1). Dapat uni atau bilateral (2). Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sediaan beku atau parafin Konsultasi : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi 28 .

Tenaga standar 13. Masa pemulihan 15. Displasia mamma (1). Adolesesent : reduction mammoplasti (2). Patologi : : : : : : : : 17. EPO. Purulent / abses : insisi & drainage 3). MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara : 1). Galatokel : (1). Hypertrofi mamma (1). Mastitis (1). antioksidan. Infeksi Perlu ada informed consent Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Pasca bedah 2-3 hari Tergantung pada jenis tumornya Sembuh Perlu 1). Poliklinik 2). Operatif : eksisi ginekomasti 4). Bila gagal : eksisi tumor Minimal RS Kelas-C Operasi : 1). Non purulent : antibiotika (2). Aspirasi (2). Simple cyst (2). Perdarahan 2). Otopsi 18. antiestrogen b). Penyulit 11. Adenosis (4). Hasil 16. Informed Consent 12. Konservatif : dengan testosteron. Tumor displasia mamma (1). tamoxifen (2). Lama perawatan 14. Konservatif : aspirasi kista.7. Papillary cyst (3). Terapi : 1). Perawatan RS 8. Hematoma 3). Gynecomasti Baik 3 bulan sampai 1 tahun 9. Prognosis 19. Tempat pelayanan 10. Operasi : eksisi tumor. Duct ectasia (5). Tindak lanjut : : : 29 . danocrine. bila konservatif gagal 2). Ginekomasti a).

berak berdarah atau lendir Fisik : Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau polipod di anus. Basal cell carc. tumor mobil atau melekat dengan struktur disekitarnya. pada toucher rektum. Polip anus. muuntah. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Endoskopi : rektoskopi. doubel kontrast Patologis : biopsi. 2). Hemorroid 5. Non Bedah 9. Konsultasi 7. pemeriksaan histologis spesimen operasi Staging : T : klinis. Perawatan RS 8. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Terapi Operasi : perdarahan. Penyakit : obstruksi ileus. paliasi : Epithelial 1). patologi M : klinis. EUS. Kriteria diagnosis : C21 : KANKER ANUS : Keluhan : nyeri kalau berak. MRI) : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : Operabel : eksisi anus untuk menyelamatkan sphinter reseksi abdominoperineal (operasi Moles) Inoperabel : Sigmoidostomi Elektrokoagulasi : Radioterapi : 40-50 Gy Chemoterapi : dengan FUFA. Adenocarcinoma. 4). Diagnosis banding : Tumor jinak anus. gemzar. leukopeni. Bedah b.1. Otopsi 30 . 5). Squamous cell carc. camptothecin. Mucoepidermoid carc. kolonoskopi Radiologi : foto kolon. USG abdomen. Paget’s disease 8). proktitis. Tempat pelayanan 10. infeksi. Informed Consent 12. infeksi Radioterapi : radiodermatitis. patologi N : klinis. 3). derajat deferensiasi sel. spincter ani terba tegang. kistitis Kemoterapi : mual. anemi 2. toksis : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah digestif : ± 10-14 hari : ± 24 hari : 1. 6). : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 6. nutrisi : Minimal RS kelas-C : 1. cisplatin Paliatif : analgetika. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tenaga standar 13. CT-scan. 7). Terapi a. imaging. Undifferentiated carc. jenis histologis. Penyulit 11. Patologi 17. Hasil 16. Melanoma maligna. Diagnosis 3. imaging. ICD 2. Kelenjar llimfe iguinal atau pararektal teraba besar Anuskopi / proktoskopi : terdapat tumor di anus 4. Basaloid carcinoma. (X-foto toraks. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Stadium dini : bebas kanker 2.

Stadium lanjut : dubius 3. Prognosis 19.18. Tindak lanjut : 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 31 . Stadium dini : baik 2.

1. Tumor jinak kulit 2. MRI lokal pada lesi 2. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional Kanker kulit lainnya. nodus. Eksisi luas (pada BCC : tepi irisan ½ -1 cm. Eritroplasia Querat Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Bedah : 1. memborok atau mudah berdarah 2. gatel. cisplatin. BCC dan SCC : 5-Flourouracil. bila ada metastase b. Melanoma maligna : Dacarbazine. infeksi. Keluhan : andeng-andeng membesar. Defek kulit ditutup dengan flap lokal atau transplantasi kulit Thierch 2. Posisi : ada lesi di kulit berbentuk plaque. destruktif atau progresif Ada pembesaran kelenjar limfe regional Diagnosis banding : 1. Radiologi : X-foto. Kriteria diagnosis 4. tumor eksofitik atau ulkus yang berbau. 5. Tempat pelayanan 10. operasi tidak dapat radikal. methotrexate. Fisik : ada lesi di kulit berbentuk plague. CT-scan. tumbuh infiltratif. indurasi. Penyakit : perdarahan. kasus inoperabel atau pada basalioma yang kalau dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi sukar. 7. indurasi. Leukoplakia 5. nekrose kulit. Diagnosis 3. Patologi : biopsi insisi atau eksisi. Keratosis seborrhoicum 3. nodus. (C44) BCC = Kanker sel basal SCC = Kanker sel skwarnosa 1. seroma. CT-scan Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. X-foto toraks. Keluhan : benjolan atau borok dikulit. : C43 – C44 : KANKER KULIT : Melanoma maligna (C43) 1. cisplatin. melphalan 2. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. infeksi. patologi N : klinis. ICD 2. bleomycin : Minimal RS kelas-C : 1. imaging. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang menginfiltrasi kulit 3. 8. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. Penyulit 32 . tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman 3. Diseksi kelenjar limfe regional. imaging. Non bedah : Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi. Keratoakantoma 4. SCC 1-2 cm. Operasi : perdarahan. anemi. patologi M : klinis. defek yang luas di muka 2. Thiersch gagal 9. Kemoterapi : 1. 6. dan melanoma maligna 2-3 cm mengelilingi tumor). Terapi : 1). USG abdomen. mudah berdarah 2.

Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 33 . Otopsi 18. Metatypical carcinoma Melanosit 1. nafsu makan turun 3). Informed Consent 12. Masa pemulihan 15. Tenaga standar 13. alopesia. Patologi : : : : : : 17. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Adenocarcinoma 4. dsb. diarhoea.11. Radioterapi : mual. badan lemas. Dermatofibrosarcoma protuberan Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 1. nafsu makan turun leukopeni. Squamous cell carcinoma 3. Malignant melanoma Mesenchymal 1. paliatif Epithelial 1. muntah. Chemoterapi : mual. Stadium lanjut : dubius 3. Hasil 16. badan lemas. muntah. Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. Stadium dini : bebas kanker 2. Prognosis 19. diarhoea. Stadium sangat lanjut : Tidah sembuh. Basal cell carcinoma 2. Stadium dini : baik 2. Lama perawatan 14. Tindak lanjut : : : 2).

CT-scan. mengivasi jaringan disekitarnya (tulang. MRI tampak tumor berbatas tidak tegas. di kepala-leher. ada neovaskularisasi. Disartikulasi Tumor di kepala. Lama perawatan 14. ada bagian tumor yang nekrosis. imaging M : klinis. Bedah : Tumor di ekstrimitas 1. misalnya dengan CyVADIC Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyakit : perdarahan. Radiologi : X-foto lokal. hematom. Masa pemulihan : : : : : : : 34 . Diagnosis banding : Tumor jinak jaringan lunak. kulit). imaging. CT-scan. 7. dan pada arteriografi tampak tumor hiper-vaskuler. Eksisi luas 2. Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan suatu tumor ganas. sesak nafas Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-12 minggu atau cacat seumur hidup b. : C49 : SARKOMA JARINGAN LUNAK : Keluhan : tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh progresif Fisik : Tumor subkutan di ekstrimitas. Amputasi 4. CT-scan. Kriteria diagnosis 4. Eksisi dinding abdomen Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor Radioterapi : 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primer Kemoterapi. Informed Consent 12. invasi / penekanan struktur vital. patologi Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. 5. retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat bervariasi tergantung dari lokasinya. MRI Patologi : biopsi. ICD 2. dapat superfisial atau dalam. dinding tubuh.1. Non bedah 9. 6. derajat diferensiasi sel) N : klinis. Tumor tumbuh progresif. Tenaga standar 13. 8. tumor abdomen Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Radiologi : X-foto polos. Reseksi dindig toraks 3. Eksisi kompartment 3. dinding tubuh 1. pemeriksaan spesimen operasi Staging T : klinis. USG abdomen. umumnya besar > 5 cm. Penyulit 11. Diagnosis 3. menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya. imaging (X-foto toraks. leher. patologi dari biopsi / spesimen operasi (jenishistologi. MRI). Eksisi luas 2. Tempat pelayanan 10. anemi.

Fibrosarcoma 4. Otopsi 18. Prognosis 19. Angiosarcoma 10. Mesothelioma 12. Leiomyosarcoma 8. Stadium dini : baik 2. Hasil 16. Liposarcoma 5. Synovial sarcoma 6. Neurofibrosarkoma 3. Lain-lain : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Stadium dini : bebas kanker 2. Patologi 17. Epitheloid sarcoma 9. Malignant fibrous histiocytoma 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium lanut : DFS atau OS diperpanjang 3.15. Rhabdomyosarcoma 7. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 35 . Tindak lanjut : 1. Mesenchymoma 11. Stadium lanjut : dubius 3. paliasi : 1.

Chusingsindrom. tumor ginjal USG. USG abdomen. Radiologi : IVP. alopesia. nyeri di pinggang. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Diagnosis banding : Batu pyelum. diarhoea. infeksi 2. creatinin. terbatas atau meluas keluar ginjal c). patologi M : klinis. badan lemas. venacavografi 2. Keluhan : hamaturia. Keluhan : hematuria. Radiologi : IMP : deformitas dari calices. patologi N : klinis. diarhoea. uni atau bilateral 3). berat badan menurun. ± keluhan paraneoplastik seperti : anemia. retrograde pyelografi. Diagnosis 3. IVP : ada filling defek dari calices atau pyelum b). CT-scan. hiperpireksi 2). Informed Consent : Perlu 1. eksplorasi laparotomi. Radiologi : a). USG / CT-scan. 11. Penyulit : 1. Terapi 1). Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Chemoterapi : mual. Explorasi laparotomi : tumor dari ginjal Kanker ginjal pada orang dewasa 1). MRI : ada tumor di ginjal. Kriteria diagnosis 36 . cisplatin 9. SGOT. tumor di pinggang 2). doxorubucin. Laboratorium : darah. Tumor jinak ginjal. hipertensi erythro-cytosis. muntah. Fisik : Tumor di pinggang. Angiografi : tumor hyopervasuler 4. ICD 2. MRI : tumor ginjal 4). Kiste ginjal 5. badan lemas. BUN. eksplorasi laparotomi. Retrograde pyelografi : ada ekstensi tumor ke pelvis d). Laboratorium : hamatoria 4). MRI angiografi. Patologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. eksplorasi laparotomi. derajat diferensiasi del) Staging T : klinis. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Radioterapi : mual. Fisik : terdapat tumor di daerah ginjal 3). mitomycin.: C64 : KANKER GINJAL : Kanker ginjal pada anak-anak 1). SGPT 3. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. muntah. dsb. Bedah : Nefrektomi radikal ± thrombo-embolektomi ± Deseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. imaging. urine. uric acid. imaging. Operasi : perdarahan infeksi 2). hipercalcemia. imaging. patologi 6. nafsu makan turun 3). nafsu makan turun leukopeni. Terapi : a. Penyakit : gagal ginjal. Non bedah : Radioterapi : pre atau pasca bedah atau radioterapi primer Kemoterapi : dengan FU. CTscan.

Papillary carc e). Stadium dini : baik 2. Hasil 16. Masa pemulihan 15. Renal cell carc d).12. Hemangiosarcoma Complex mixed cells a). Fibroushistiocytoma c). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 37 . paliasi : Epithelial / Adenocarcinoma a). Clear cell carc (hypernephroma) f). Patologi 17. Mal. Nephroblastoma (Wilm tumor) b). Leiomyosarcoma d). Rhabdomomyosarcoma e). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Granular cell carc c). Prognosis 19. Tenaga standar 13. Otopsi 18. Teratoma : Perlu untuk :konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Lama perawatan 14. Stadium dini : bebas kanker 2. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak : ± 7-14 hari : ± 12-24 minggu : 1. Carcinoid tumor Mesenchymal cell a). Stadium lanjut : dubius 3. Tubular carc b). Fibrosarcoma b).

TUR. Ginjal : adenoma. squamous cell metaplasia 3). Ginjal : IVP. Penyakit : hematuria. spesimen operasi Staging : . Ginjal : USG. fibous polip. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi 13. squamous cell papilloma 2. hematoma. fibroma. hamartoma 2). Penyulit : 1. BUN. Tumor ganas 2. Terapi : perdarahan. Eksisi tumor 2. Ginjal : kiste ginjal. endometriosis. kiste 17. Tumor jinak 1). adenoma 3). TUR b. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Pielum : transitional cell metaplasia. Non bedah : 9. Patologi : FNA. Radiologi : 1). untuk diagnosis dan tindakan 8. Buli-buli : transitional cell papilloma. Buli-buli : kistografi atau kistokopi terlihat tumor kecil di buli-buli 4. Laboratorium : darah. Lama perawatan : ± 2-5 hari 14. ICD 2. Informed Consent : Perlu 12. Keluhan : hematuria. Pielum : transitional cell papilloma. Kriteria diagnosis : 1. mioma 2). Otopsi : 18. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. sitologi. kreatinine 2. Infeksi 5. Sitologi : urine 4. FNA. Bedah : 1. Diagnosis banding : 1. Terapi : a. Pyelum : IVP. terlihat tumor kecil di ginjal. padat atau kisteus 3. USG. Tumor non neopplasma 1). Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. biopsi 3). Buli-buli : IVP. retrograde pyelografy 2). kistografi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. kistoskopi 3. urine. Diagnosis 38 .: D30 : TUMOR JINAK UROLOGI & TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI 3. Buli-buli : transitional cell metaplasia. infeksi 2. infeksi 11. Urolithiasis 3. pieloskopi. Hasil : Keluhan dan tumor hilang 16. glandular metaplasia. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7.(hanya untuk tumor ganas) 6. Tindak lanjut : - 1. Pyelum : IVP terlihat filling defek di pyelum 4. disuria 2. Perawatan RS : Rawat inap kalau perlu. Prognosis : Baik 19. squamous cell metaplasia.

tipe diferensiasi baik. Hasil : Tumor terangkat secara onkologi / radikal 16. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. struma adenomatosa 5. Diagnosis banding : Tiroiditis kronis. ICD 2. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. suara parau. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. Lama perawatan : ± 5 hari 14. Kriteria diagnosis 39 . Perawatan RS : Rawat inap 8. Penyulit : Sesak nafas. USG abdomen. konsistensi keras. perdarahan 11.: C 73 : KARSINOMA TIROID : Benjolan di leher bagian depan. gangguan menelan. sesak nafas. Terapi : Total tiroidektomi / near / total tiroidektomi + FND bila metastase ke kgb leher / radiasi ekstera / interna (J-131). ikut bergerak waktu menelan disertai tanda pembesaran yang cepat. kejang karena hipo-paratiroid. FNAB keganasan (+) 4. Pemeriksaan penunjang : FNAB X-foto leher (kalau perlu) Untuk staging : X-foto toraks. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi FND dilakukan oleh dokter spesialis bedah 13. alkalifosfatase 6. suara serak karena lesi rekuren. Informed Consent : Perlu 12. Substitusiterapi levotiroksin 9. Diagnosis 3. Prognosis : Tergantung faktor prognostik Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm. Otopsi : Tidak perlu 18. trakheomalaise. mobilitas terbatas. Patologi : Perlu 17. pembesaran kelenjar getah bening leher. kemoterapi bila ada indikasi. tidak ada ekstensi 1.

E 05. Terapi : Operasi. Patologi : Perlu 17. sesak (+).Basedow : tiroidektomi subtotal Struma uninodosa : lobektomi subtotal Struma multinodosa : lobektomi / tiroidektomi subtotal (tergantung jumlah lobus yang terkena) Tiroiditis kronis : ismektomi 9. Bentuk bisa difus. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10.: E 04. Informed Consent : Perlu 12. Curiga ganas bila tumbuhnya cepat. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. ikut bergerak ke atas bila penderita melakukan gerakan menelan. suara parau. ada pembesaran kgb leher. benjolan keras. gelisah. uninoduler atau multi noduler. Perawatan RS : Rawat inap bila ada indikasi operasi : Keganasan Hipertiroidi yang sudah teregulasi Gejala penekanan Keluhan kosmetik 8. Diagnosis banding : 5. E 06 : STRUMA : Benjolan / massa di trigonum koli di anterior sebelah bawah. Pemeriksaan penunjang : Faal tiroid : T3. T4. diare) atau gejala hipotiroidi (malas. ngantuk.Basedow ). Otopsi : Tidak perlu 18. sulit tidur. Rekuren. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah kurus. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. ICD 2. Lama perawatan : ± 2 hari 14. Hipoparatiroidi. macamnya tergantung proses patologis tiroid : M. Hasil : Struma (-) 16. sering keringatan. kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut 1. Hematoma Krisis tiroid (untuk M. Prognosis : Baik. TSH Biopsi aspirsai jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga ganas BMR (pada saat rawat inap) 6. Hipotiroidi 11. jantung berdebar. Kriteria diagnosis 40 . Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. tambah gemuk. Penyulit : Lesi N. 4. Diagnosis 3. obstipasi. mudah capek. mata sembab). fixed. disfagi (+).

biopsi eksisional. Pemeriksaan penunjang : FNAB. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. toksoplasma) CT-scan bila ada indikasi 6. pembedahan. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Informed Consent : Perlu 12. Perawatan RS : Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose 8. Terapi : Sesuai penyebab (radioterapi. Lama perawatan : Tergantung penyebab 14. Prognosis : tergantung penyebab 1. antibiotika) 9. Kriteria diagnosis 41 . ICD 2. Diagnosa 3.0 : PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & L : Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila : Pembesaran progresif Tanpa ada radang Ada tumor primer di tempat lain Tidak sembuh dengan antibiotika Benjolan teraba agak keras 4.: C 77. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Masa pemulihan : Tergantung penyebab 15. Diagnosis banding : Limfadenitis spesifik / non spesifik Limfoma maligna Metastase dari tempat lain 5. Penyulit : Tergantung penyebab 11. Hasil : Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi 16. atau biopsi insisional Pemeriksaan darah lengkap Tumor marker bila ada fasilitas Pemeriksaan serologis (TB-DOT. Patologi : Perlu 17. kemoterapi. Otopsi : Tidak perlu 18.

Patologi 17. Tenaga standar : : 13. Masa pemulihan 15. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding : : : : 5. makin dini makin besar kemungkinan hidup 5 tahun Perlu Tidak perlu Tumor jinak . Prognosis : : : C 07 TUMOR PAROTIS Benjolan di regio parotis pre/infra/postaurikuler Adenoma parotis Karsinoma parotis Metastase kelenjar getah bening parotis Metastase karsinoma nasofaring Untuk keperluan staging karsinoma parotis : Bila tumor fixed : X-foto mandibula. Hasil : : : 16.stadium dini : baik stadium lanjut : jelek 42 . Terapi : : : 9. 3. Penyulit : : 11. Tempat pelayanan 10. 2. Otopsi 18. Informed Consent 12. Konsultasi 7. CT-scan bila ada fasilitas X-foto toraks USG hepar Bone survey bila ada indikasi Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan Rawat inap Tumor operable : paratidektomi superticial periksa → potong beku Jinak : parotidektomi superficial Ganas : parotidektomi total Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Lesi N. Pemeriksaan penunjang : 6.1.VII Fistel liur Sindroma Frey Hematoma Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Bila tumor fixed atau ada metastase kelenjar getah bening leher Dokter spesialis bedah onkologi ± 4-5 hari 2 minggu Tumor terangkat radikal Tumor ganas : daya tahan hidup 5 tahun tergantung stadiumnya.baik Tumor ganas . Perawatan RS 8. 4. Lama perawatan 14.

Penyulit : Perdarahan. Pemeriksaan penunjang : Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik Maksila : X-foto Waters + Hap Adanya gambaran kista multiple / single 6. tumbuh pelan (bertahun-tahun). fistel orokutan. konsistensi keras. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13.5 : AMELOBLASTOMA : Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang) tak nyeri. kadang ada fenomena bola pingpong. Informed Consent : Perlu 12. lesi n. Terapi : Reseksi mengikutsertakan tulang sehat 1-2 cm dari batas lesi + rekonstruksi 9. gigi yang bersangkutan biasanya tak teratur 4. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. ICD 2. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Patologi : Perlu 17. Diagnosis banding : Ossifying fibroma Kista odontogenik Giant cell tumor 5.hipoglosus & n. Diagnosis 3. hematom. Kriteria diagnosis 43 . Perawatan RS : Rawat inap 8. Lingualis 11. Lama perawatan : ± 12-14 hari 14. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10.: D 16. Prognosis : Baik 1. Hasil : Tumor terangkat radikal 16. Otopsi : Tidak perlu 18.

edema laring 11. infeksi. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Prognosis : Baik. tak nyeri tekan. kecuali bila sangat ekstensif 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. saluran nafas dan phagus) hematoma. sering berlobi. Tanaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak 13. dinding tipis. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Perawatan RS : Rawat inap 8. saraf. Hasil : Benjolan terangkat sebersih mungkin 16. Penyulit : Lesi struktur vital (pemb.1 : HIGROMA KOLI : Benjolan di leher sejak lahhir / bayi.: D 18. transiluminasi (+) 4. ketiak atau mediastinum. rongga mulut. sebagian berbatas jelas. Informed Consent : Perlu 12. Diagnosis banding : Lipoma. bisa meluas ke wajah. Patologi : Perlu 17. membesar sesuai pertumbuhan anak. fimfangioma simpleks. Lama perawatan : ± 5-7 hari 14. kista brankhiogenik 5. Diagnosis 3. Darah. Kriteria diagnosis 44 . Otopsi : Tidak perlu 18. hemangioma. ICD 2. Terapi : ekstirpasi 9. konsistensi kistik.

Patologi : Tidak perlu 17. Informed Consent : Perlu 12. Otopsi : Tidak perlu 18. Penyulit : Perdarahan Infeksi 11. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Perawatan RS : Rawat inap untuk operasi 8.: K 11. Pemeriksaan penunjang : 6. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Kriteria diagnosis 45 . Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Hasil : Muara kelenjar liur terbuka.6 : RANULA : Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara lenjar liur sublingual 4. Terapi : Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste 9. kiste terdrainase 16. ICD 2. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Diagnosis 3. Prognosis : Baik 1. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Diagnosis banding : 5.

ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Hasil 16. Patologi 17. Masa pemulihan 15. Penyulit 11. 3.1. 8. 6. 7. Prognosis D 10. epulis Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 46 . Lama perawatan 14. Otopsi 18. 5. 4. Tanaga standar 13. 9.3 TUMOR JINAK RONGGA MULUT Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma. Informed Consent 12. 2. papiloma.

3. 6. 2. 9. Masa pemulihan 15. Tenaga standar 13. Prognosis TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA & LEHER Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau dileher Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu dilakukan Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Kalau lokal anestesi bisa poliklinis Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 47 . 4. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Informed Consent 12. Penyulit 11. 5. Lama perawatan 14. Otopsi 18. Hasil 16. 7. 8. Patologi 17.1.

ICD 2. Informed Consent : Perlu 12. Pemeriksaan penunjang : 6. Perawatan RS : Rawat inap 8. Kriteria diagnosis 48 . Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Konsultasi : Dokter spesialis terkait (bila diperlukan) 7. Hasil : Tumor terangkat 16.0 : KISTA BRANCHIOGENIK : Benjolan kistik didepan 1/3 atas m sternokleido mastrideus dileher akibat kelainan kongenital 4. Diagnosis 3. Prognosis : Baik 1. Penyulit : Hematom Infeksi Fistel 11. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Patologi : Perlu 17.: Q 18. Diagnosis banding : Higroma Tiroid aberan 5. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Terapi : Eksisi 9. Otopsi : Tidak perlu 18.

Penyulit : Infeksi. nekrosis. hygiene mulut jelek. baik Stadium lanjut. cenderung tumbuh cepat. Patologi : Perlu 17. nginang. peminum alkohol. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. lesi prakanker berupa leukoplakia.1. Kriteria diagnosis 49 . bila tumor sangat dekat dengan tulang : X-foto mandibula AP + Eisler / panoramic serta X-foto maksila Waters + Hap Mengetahui metastase jauh : X-foto toraks. Diagnosis banding : Ulkus kronis benigna. biopsi positif. Kemungkinan ada faktor predisposisi seperti merokok. Informed Consent : Perlu 12. 4. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Terapi : Eksisi luas sampai 1 . Lama perawatan : ± 10 hari 14. fistula orokutan. Perawatan RS : Rawat inap 8. ICD 2. chyloma. eritroplakia. malnutrisi. seroma 11. dehisensi luka. Pemeriksaan penunjang : Biopsi Tumor < = 1 cm. biopsi eksisional 9dengan batas 1 cm keliling tumor) pada lokasi tertentu Tumor > 1 cm. Bisa disertai metastase pada kelenjar getah bening leher. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Granuloma 5.: C 00 – C 06 : KANKER RONGGA MULUT : Lesi di rongga mulut berbentuk bungan kol/ulserasi/peninggian yang tak hilang setelah 4 minggu. Diagnosis 3. k/p rekonstruksi 9. Otopsi : Tidak perlu 18. Hasil : Sembuh total untuk stadium I 16. Prognosis : Stadium dini. nasograstrik feeding 7 hari. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. bisa disertai rasa tebal atau nyeri. jelek 1.5 cm diluar jaringan patologis. USG hepar dan bone survey bila ada indikasi 6. gigi runcing. biopsi insisional Untuk keperluan staging : Untuk mengetahui infiltrasi. flap.

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnostik 4. Diagnosis banding 5. Pemeriksan penunjang 6. 7. 8. 9. Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan

10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. Otopsi 18. Prognosis

: K 09.0 : KISTA ODONTOGENIK : Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, adanya ganggren radiks atau gigi yang tidak sembuh : Kista radikuler : X-foto mandibula AP / Eisler, atau panoramik X-foto maksila Waters / Hap : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi) : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai : Infeksi Hematoma : Perlu : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah gigi & mulut : ± 5 hari : ± 2 minggu : Kista terangkat bersih : Perlu : Tidak perlu : Baik

50

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: Q 89.2 : KISTA DUKTUS TIROGLOSUS : Benjolan di leher daerah midline setinggi kartilago hioid, batas jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita menelan dan menjulurkan lidah 4. Diagnosis banding : Struma pada istmus Limfadenopati Kista dermoid 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Operasi prosedur Sistrunk 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Fistel Residif 11. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ±3 hari 14. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Hasil : Benjolan terangkat bersih bersama salurannya 16. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik

Kepustakaan : 1. Sukardja IDG, Purnomo B, Tahalele P, Marnadi M, Murtejo U, (EDS) : STANDAR PELAYANAN PROFESI DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA. Edisi I. Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, 2002, Hal. 42-106. 2. Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW, (EDS) : SURGERY, Basic Science and Clinical Evidence. Springer-Berlag New York Inc. 2001, pp 1565-1881. 3. Feig BW, Berger DH, Fuhrman GM, (EDS) : THE M.D. ANDERSON SURGICAL ONCOLOGY HANDBOOK. Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Houston Texas, 2003. 4. Devita PT, Hellman S, Rosenberg SA, (EDS) : CANCER, Principles & Practice of Oncology. 6 Ed. Lippincott – William & Wilkins, 2001. 5. Ramli M, dkk. PROTOKOL PERABOI. BANDUNG 2003

51

KELAINAN BAWAAN (CONGENITAL ANOMALY) KELAINAN BAWAAN WAJAH NAMA PENYAKIT/DIAGNOSE SUMBING/SKISIS, FACIAL CLEFT, ANOMALI KRANIOFACIAL, ANOMALI DENTOFACIAL ICD Q 35, Q 36, Q37, Q75, K07 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan lahir berupa : 1. Celah pada bibir atas 2. Celah pada bibir dan gnatum atas 3. Celah pada bibir, gnatum dan langitan 4. Celah pada langitan saja. 5. Celah pada muka/wajah ( facial cleft), dibagi menurut klasifikasi Tessier 6. Disproporsi kranio-facial atau dento-facial dengan atau tanpa kraniosinostosis Klasifikasi: 1. Syndromic anomaly 2. Non-syndromic anomaly Diagnose banding Tidak ada Pemeriksaan penunjang Foto kepala AP & lateral, CT scan (3 dimensi) untuk sumbing muka Konsultasi Bila perlu : 1. Dokter Gigi : untuk kebersihan mulut dan pembuatan obturator 2. Dokter THT : - bila ada radang telinga tengah, - bila ada defisit pendengaran 3. Speech Therapist : untuk belajar bicara 4. Psikoloog Anak : - untuk pemeriksaan IQ, - untuk defisit kepribadian 5. Orthodontist : untuk perbaikan pertumbuhan gigi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk keperluan operasi berencana. Terapi Bedah Penutupan bibir/labioplasti pada usia 3 bulan keatas. Penutupan langitan/palatoplasti pada usia 15-24 bulan Perbaikan parut bibir operasi pertama pada usia 4-5 tahun Penyempitan faring/faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun keatas. Penambahan tulang(bone grafting) rahang pada usia 8 tahun keatas Perbaikan bentuk muka/maxillary advancement, kalau perlu, pada usia 15 tahun keatas. Bedah kraniofasial atau distraksi osteogenesis untuk anomali kraniofasial dan dentofacial

52

Nonbedah Speech therapy oleh Speech Therapist pada usia 4 tahun ke atas Perbaikan gigi oleh Ortodontist pada usia 9 tahun setelah penambahan tulang. Standar RS Tipe C untuk penutupan bibir/labioplasti, penutupan langitan/palatoplasti Tipe B dan A untuk: - Perbaikan parut bibir - penyempitan faring/faringoplasti - penambahan tulang (bone grafting) rahang - perbaikan bentuk muka/maxillary advancement - bedah kraniofasial Penyulit Untuk labiognatopalatoskisis dan palatoskisis : Karena penyakit : OMP Pendengaran kurang Maloklusi gigi Suara sengau, kata-kata tidak jelas Karena operasi : Parut tidak baik Fistula oronasal Untuk bedah kraniofasial: Gangguan penghiduan karena cedera lamina cribriformis Relaps pada distraksi osteogenesis Informed consent Diperlukan untuk tindakan operasi, operasi dilakukan bertahap, ketepatan waktu operasi sangat mempengaruhi hasil akhir penanganan Masa pemulihan Lama perawatan 2-3 hari : labioplasti (tidak selalu diperlukan rawat inap) 2-5 hari : palatoplasti 5 hari : faringoplasti 5 hari : bone grafting rahang 7 hari : maxillary advancement 10 hari : bedah kraniofasial Tenaga yang berkompeten Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua tindakan operatif. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk sumbing bibir atau unilateral komplit bila tidak ada tenaga Bedah Plastik. Speech therapist untuk terapi bicara Ortodontist untuk perbaikan gigi.

53

Sydney. James W. W. Brwon and Company. Perbaikan proporsi estetik kepala. Aston (Edit). London. 1991. Philadelphia. gigi tak beraturan. Toronto. Ph. London. WB Saunders Company. Bell WH. Plastic Surgery (8 vol) . bentuk muka bagian tengah lebih ke dalam. Smith. Januz Bardach. 5. Grabb and Smith's Plastic Surgery. parut operasi halus. suara normal. 54 .. 1982. bentuk muka normal. Little. Fourth Edition. Morris.Surgical Correction of Dentofacial Deformities. London Toronto. . Pasien kontrol teratur Kepustakaan : 1. Prognosis Baik Tindak lanjut Penderita keluar dengan keadaan klinis baik. Whitaker LA. Philaadelphia. Philadelphia. asimetri bibir dan lubang hidung. Montreal. Tokyo. Hughlett L. Salyer KE. St Louis. oklusi baik Kurang normal Parut kasar.Toronto. Sherrell J. Munro IR. 1980. M. Toronto. Sydney. Boston/Toronto/London 2. PA Tak perlu Autopsi/risalah rapat Tak perlu.Saunders Company. suara sengau. 1990 4.Saunders Company Hacourt Brace Jovaanovich Inc. . . Mosby Company. McCarthy. Joseph G.B. 1990. 3. Profit WR. gigi geligi tumbuh bagus. Montreal. London. hasil operasi memuaskan.Hasil Normal Bentuk bibir dan hidung simetris.D.D. W.D.wajah. M. White RP. Jackson IT. Multidisciplinary Management of Cleft Lip and Palate .B. Tokyo.. Atas of Craniomaxillofacial Surgery.

kematian flap. 2. 3. Q16. Perawatan RS Rawat jalan kecuali operasi. Konsultasi Spesialis THT bila ada defisit pendengaran.tak ada Pemeriksaau penunjang .Ro foto untuk melihat pembentukan organ telinga tengah bila perlu. Operasi satu tahap (sandwich technique) 4. Q17 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan pada daun telinga berupa telinga kurang terbentuk/kecil Diagnosis banding . Tiga-empat bulan setelah operasi I dibentuk telinga dengan pengangkatan tulang rawan yang sudah ditanam pada operasi I. Menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada operasi sebelumnya. Standar RS Tipe B ke atas. dilanjutkan operasi berikutnya penanaman rangka tulang rawan. Operasi pemasangan tissue expander. Pananaman rangka tulang rawan. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 4-7 hari untuk tahap I 7 hari untuk tahap II Bergantung pada tindakan untuk tahap III Masa pemulihan Berkisar antara 2-3 rninggu untuk tahap I 2 minggu untuk tahap II 55 .1. Terapi Rekonstruksi telinga dapat berupa: 1.0.Microtia ICD Q16. Penyulit Infeksi.

(Eng. Smith. 1980.C.tak diperlukan. Aston (Edit). Joseph G.C. McGregor M.B.). Edinburgh london and New York.. McCarthy. Little. James W. Greco (Edit) . Tokyo. Boston/Toronto/London. Fourth Edition. Philaadelphia. F. . 3. 4. (Glasg. PA . W. F.. 1990. Sherrell J. 56 . M.S. Boston/Toronto/London.Luaran Sembuh dengan telinga bentuknya mendekati normal.C.B.R.A. Montreal. Hon.Saunders Company. Brown and Company.tak diperlukan Autopsi/ risalah rapat .S.. Richard J. Emergency Plastic Surgery . Ian A. London Toronto. Plastic Surgery (8 vol) .D. Kepustakaan : 1. 2. 1991. Brwon and Company. Little.). M. Sydney. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 1991. F. Grabb and Smith's Plastic Surgery.R.S. Ch. Churchill Livingstone.

rekonstruksi urethra. bilq perlu. Konsultasi Bagian Kesehatan Anak untuk pemeriksaan kromosum seks. daerah perineum. Masa pemulihan Batu urethra Striktura urethra Sisa korde Untuk masing-masing tahap selama 2 minggu 57 . Pemeriksaan fisik Meatus urethra eksterna terletak lebih proksimal dari letak normal : bisa dibatang penis. Kriteria diagnosis Cacat bawaan berupa muara urethra terletak lebih proksimal dari biasanya. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk tindakan operasi Terapi Tahap I eksisi korde Tahap II berjarak paling sedikit 6 bulan setelah tahap I. tergantung metoda operasinya. Pemeriksaan penunjang Kromosum seks bila ada kesulitan identifikasi jenis kelamin. ada atau tidak ada korde.KELAINAN BAWAAN GENETALIA Nama Penyakit/Diagnosis Hipospadi ICD Q54 Difinisi Kelainan bawaan berupa meatus uretra eksterna terdapat di bagian ventral dan letaknya lebih proksimal dari letak yang normal. Penis bengkok kearah ventral karena ada korde. Standar RS Tipe B keatas Penyulit Fistula urethra Divertikel urethra Stenosis meatus Informed consent Perlu untuk opcrasi Standar tenaga I)okter Spesialis Bedah Plastik Dokter spesialis Bedah Urologi Dokter Spesialis Bedah Anak Lama Perawatan Masing-masing tahap memerlukan perawatan 7 hari. daerah skrotum.

1990. London Toronto. Greco (Edit) . Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Brwon and Company. Tokyo. 1991. Aston (Edit).S.Saunders Company. F. 1980.S. Joseph G.). M. Smith.R. 3. F. 4.. PA tak perlu Autopsi/risalah rapat tak perlu Kepustakaan : 1. Richard J.S. M.C. Ian A. Ch. Montreal. Churchill Livingstone.. (Glasg. Boston/Toronto/London 58 .A.Luaran Sembuh dengan penis lurus dengan meatus uretra eksterna letaknya di ujung penis.R. Boston/Toronto/London 2. McCarthy. . Grabb and Smith's Plastic Surgery.D. Little. Hon. Fourth Edition.(Eng.). Sydney. McGregor M. F. James W. Philaadelphia. Edinburgh london and New York. Sherrell J..C. W.C. Brown and Company. Emergency Plastic Surgery . 1991.B. Plastic Surgery (8 vol) . Little.B.

Fraktur mandibula 2. salah satu hidung terasa tersumbat. hematome atau edema pada tempat benturan . septum nasi. Prosedur lengkap Kriteria diagnosis Anamnesis Terdapat riwayat trauma pada tulang muka.Adanya deformitas wajah.Teraba diskontinuitas tulang Diagnose banding . Dokter Spesialis Mata bila dengan cedera bola mata. Fraktur maksila 3. 59 .tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen jenis dan proyeksi bergantung pada keperluan (Foto tulang muka AP & lateral. dibagi menjadi beberapa jenis fraktur : 1. Fraktur zigoma 4. Fraktur regio sendi temporomandibula 8. foto TM joint) Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Saraf.Perdarahan lewat lubang hidung dan mulut. Fraktur hidung 5. diplopia.Untuk tiga jenis yang pertama bisa ditemukan maloklusi .Gangguan pergerakan bola mata.Deviasi hidung atau septum nasi . Fraktur dasar orbita. Persiapan operasi. distopia . Dokter Spesialis Saraf (untuk cedera kepala). Dislokasi sendi TMJ.Gangguan membuka dan menutup rahang bawah . atap orbita 9.TRAUMA Trauma Kranio-maksilo-facial (Fraktur tulang wajah) ICD SO2 (Fracture of skull and facial bone) ICD SO3 ( Dislokasi. sprain & strain ligament dan sendi) Patah tulang muka. Water`s photo/Reverse Water`s. asimetri . Perawatan RS Rawat inap: Bila memberikan gangguan saluran napas. fraktur Processus alveolaris 7. Fraktur sinus frontalis /nasofrontal 6. Pemeriksaan . Foto panoramic.

normal. . Montreal. Plastic Surgery (8 vol) . Gangguan bentuk atau fungsi 2. 60 . B. PA Tidak ada Autopsi/ risalah rapat Tidak ada. Untuk fraktur lainnya 2 rninggu. Kematian bila ada cedera kepala berat. Sembuh dengan deformitas/cacat fungsi. Smith. Philaadelphia. Brwon and Company. James W.Terapi Konservatif Bila tidak memberikan gangguan fungsi maupun bentuk dan fraktur dianggap cukup stabil. McCarthy. bervariasi bergantung pada jenis berat fraktur Masa pemulihan Untuk 3 fraktur pertama 8 minggu atau lebih. dan trauma berat lainnya sudah diatasi.D. 1991. Operatif Dilakukan apabila keadaan intrakranial sudah stabil. Informed consent Diperlukan tertulis Standar tenaga Personil unit gawat darurat pada pertolongan pertama Dokter Spesialis Bedah Umum untuk fraktur mandibula simple dengan luka terbuka menggunakan fiksasi non rigid Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 2 sampai 20 hari. C Penyulit 1. Fourth Edition. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Pertimbangan estetik dan fungsional harus diberikan dan dijelaskan sebaik-baiknya kepada pasien. Sydney. Little. Joseph G. M. W. Boston/Toronto/London 2. Infeksi 3. Tokyo. Aston (Edit). Sherrell J. Kepustakaan : 1. 1990.B. London Toronto. Luaran Sembuh.Saunders Company. Standar RS Tipe A.

M.S.B. F. Della Rocca. Paris. Philadelphia. Richard J.©.. Inc. Jackson. New York and Tokyo. W. Mexico City. deB. . Kaban. Melbourne. MD. F. Jacques Rougier.. 1980. Paul Bramley (Edit) . M. Toronto.. Sydney. Barcelona.A. M.R.M.. Salyer. 8.C. D. 1990. Greco (Edit) . Craniomaxillofacial Trauma . Surgery of Facial Bone Fractures . Bradley N. W.S.S. 1990.C.C.D.C. A Textbook and Colour Atlas of The Temporomandibular Joint .R. 1982. Ian A. Brown and Company. John E.(Eng. Lemke. 7.. 1989..D. F. Sydney. 11. Atlas of Oral and Maxillofacial Surgery .D. Paris. Paul Tessier. 13.. Munro. . Churchill Livingstone. Plastic Surgery of the Orbit and Eyelids . Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery . Ian T. Montreal. F. Wolfe Medical Publications Ltd. (Glasg. 12. Kenneth E. 1991.. M. Foster. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.. Tokyo. Robert C.. Edinburgh.. Simpson .B. B.). Montreal.R. 1992. Tokyo. Prentice-Hall International Inc.. F.S. 1995 10..D. London. Hon.S.V.Saunders Company.3. ..D. . Little. Michel Lekieffre. London.Saunders Company.S. Whitaker. D. Surgery of the Eyelids & Orbit an Anatomical Approach . M. D. F.S.R.D. McGregor M. Craig A. Sherman. D. Toronto. London.FACS. Springer-Verlag Berlin.S.D.. Tokyo. St. New york. FACS. London.C.C. Heidelberg. 6...B. London.).(Edit) .D. Madrid. Bernd Spiessl . Churchill Livingstone.R. Internal Fixation of the Mandible.S. Marcel Woillez.C. Milan. The C. Melbourne.. Ian R. F. Hong Kong.J..A.. Churchill Livingstone.D. John E. Leonard B. Boston/Toronto/London 5. Norman. Mosby Company.A. Keith. M. Toronto. Philadelphis. Masson publishing USA. David A. A Manual of AO/ASIF Principles .B. F. Linton A. David & D. Francois Hervouet. London.D.C. Edinbergh. M.S. 1987.S.M. London. F. Rio de Janeiro..A. 1981 9.S..B. M.D. New York. Edinburgh london and New York 4.A. Emergency Plastic Surgery . 1990 61 . Louis. Atlas of Craniomaxillofacial Surgery .C. Patrick Derome . New York. M. Ch.

Tipe A atau B. sebagian besar atau total.S61) Avulsi kulit Kritcria diagnosis terlepasnya kulit dari dasar/kulit sekitarnya.S50. Terapi Penyulit Penilaian vitalitas kulit yang terlepas dan pembuangan kulit yang ternyata mati.tak ada Konsultasi . . SO1.bisa tanpa luka (closed avulsion /degloving ). Luaran PA Sembuh baik Sembuh dengan cacat.delayed STSG Drain untuk closed avulsion /degloving Kematian sebagian atau seluruh kulit yang terangkat Infeksi Parut yang jelek. Penjahitan situasi tanpa tegangan sisa kulit yang masih vital.SO9) Crush injury kepala dan muka (SO7) Cedera kulit dan jaringan lunak ekstremitas (S40. Informed consent Diperlukan tertulis Lama perawatan 2 rninggu atau lebih Lama pemulihan 4 rninggu sampai 1-2 tahun tergantung faktor-faktor yang menyertainya.bisa dengan luka (open avulsion /degloving) Diagnosis banding . S41.tak diperlukan 62 . Hanya pencucian luka tidak dijahit.tak ada Pemeriksaan penunjang . Skin graft (tandur kulit) pada luka terbuka yang tersisa.S51.tak ada Perawatan RS . S60.Cedera kulit dan jaringan lunak Cedera superfisial dan luka terbuka daerah kepala dan wajah (ICD SO0.S57.

W. London Toronto.C. M.tak diperlukan Kepustakaan : o James W. Aston (Edit)..D. Boston/Toronto/London Stephen J. 1991. Little.). Philaadelphia. F. Edinburgh london and New York.Saunders Company. Brwon and Company.C. Fourth Edition. Tokyo. McGregor M. F.R.B.S. Sherrell J. 1990. F. Foad Nahai . McCarthy.B. . Churchill Livingstone. Sydney. Emergency Plastic Surgery . Boston/Toronto/London.A. Hon. Montreal. (Glasg. London. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.). St. Ch.. Ian A.S.Autopsi/risalah rapat .S. Little.. Mosby Company. Smith. Joseph G. 1991. Toronto. Richard J. 1980. Clinical Atlas Of Muscle And Musculocutaneous Flaps . Grabb and Smith's Plastic Surgery. M. Mathes.(Eng.C. Brown and Company. The C. Greco (Edit) . 1979 o o o o 63 . Plastic Surgery (8 vol) .R.V. louis.

Diagnosis banding . Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik. Sebaiknya tindakan ini dilakukan segera di tempat kejadian. Terapi Amputasi dirawat sebagal berikut: Masukkan kedalarn kantong plastik bersih (tanpa cairan) Kantong tersebut ditutup rapat lalu dirnasukkan ke kantong kedua berisi air biasa (2/3 bagian) + potongan es (1/3 bagian). Standar RS: Tipe A Penyulit Perdarahan Trombus Infeksi Kegagalan replantasi akibat thrombus.tak diperlukan Perawatan RS Rawat inap segera untuk persiapan operasi. 64 . S58 ICD S67. Vulva) dan ekstremitas ICD S08 ICD S38. Pemeriksaan penunjang . S68 Kriteria diagnosis Terpisahnya sama sekali bagian atau ekstremitas dari tubuh tersebut Clean cut (amputasi secara tajam) atau bukan. penis.2 ICD S48.Bedah mikro dan bedah tangan Diagnosis Amputasi Organ (Avulsi kulit kepala.Laboratorium . Operasi replantasi dengan rnikroskop + instrurnen Bedah mikro. Telinga. hidung.amputasi partial.Radiologis Konsultasi .

Luaran Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik. 1980. Hon.A. Emergency Plastic Surgery ..S.Saunders Company. Plastic Surgery (8 vol) .B. London Toronto.Chase .R. M. F. Ch.C. Atlas of Hand Surgery volume 2 1984 W. 1990. 4. Sherrell J.C. Aston (Edit). (Glasg. F.Tokyo.S. Philaadelphia. 1991. Edinburgh london and New York. McGregor M. 3.. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.). Montreal.tak diperlukan Kepustakaan : 1. W. 65 .B. 1991.Mexico City. Fourth Edition. Greco (Edit) .London. Robert A.tak diperlukan Autopsi/risalab rapat . Joseph G. Brown and Company. McCarthy.Saunders Company. F.C. Little. Sembuh kurang sempurna Gagal. Grabb and Smith's Plastic Surgery.. Sydney.S. Boston/Toronto/London 5.B. Little.). 2. James W. . Tokyo.D.Toronto. Boston/Toronto/London.Lama perawatan 10 hari sampai 1 bulan Masa pemulihan 6 minggu sampai setahun. PA .Philaxdelphia. Brwon and Company. Churchill Livingstone. Ian A. M.(Eng. Smith. Richard J.R.

Luka bakar daerah wajah. Hari berikutnya pemberian cairan hipertonik.retardasi mental Penderita tidak mampu merawat dirinya sendiri. Komplikasi penyerta seperti syok hipovolemik.perineal/genital Disertai trauma penyerta lain atau penyakit sistemik berat lain. Luka bakar disertai trauma berat lain: inhalasi dan sebagainya. Escharotomy untuk daerah dada dan extrimitas pada eskar yang konstriktif 66 .Combustio /Burn Injury/ Luka Bakar ICD T20-T25.tak ada Pemeriksaan penunjang tak ada Konsultasi Disiplin ilmu lain sesuai dengan penyakit yang menyertai atau komplikasi yang timbul. T26-T35 Kriteria diagnosis Anamnesis Ada riwayat trauma bakar karena api. Lokasi luka bakar. Penyakit premorbid Diagnosis banding .tangan . kimia. radiasi. Derajat kedalaman: I: hanya eritem II: bila superficial kerusakan sampai sebagian dermis. Luka bakar listrik. Pemeriksaan 1. listrik. 15% pada dewasa. bila dalam kerusakan pada seluruh dermis III: kerusakan lebih dalarn dari dermis (sudah mengenai subkutis) Dalam penilaian derajat I tidak diperhitungkan. Derajat III > 2%. cedera inhalasi dan cedera penyerta 6. 4. 3. untuk kemudahan menggunakan rumus 9. Perawatan RS Rawat inap untuk : Luka bakar derajat II / III lebih dan 10 % pada anak-anak. 5. Luas luka bakar dalam %. panas.kaki. Terapi Didahulukan penanggulangan terhadap gangguan jalan nafas dan sirkulasi Perawatan Intensif Luka Bakar Perkiraan jumlah dan pemberian cairan dengan menggunakan rumus Baxter: Hari I diperkirakan memerlukan: berat badan dalam kg x % luas luka bakar x 4 cc ringer laktat.

Fisioterapi 8. 5. tidak dapat menggerakkan sendi-sendi. saluran kemih. Diet kalori dan protein tinggi. Infeksi pada kulit. Informed Consent: Diperlukan Standar tenaga Dokter Umum untuk luka bakar rigan. Sukrafat untuk protekor mukosa lambung. Dirawat sampai luka lebih kecil dari indikasi perawatan. saluran napas. Dokter Spesialis Bedah yang berkecimpung pada luka bakar ( Burn Surgeon) Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua luka bakar. Kelebihan atau kekurangan cairan maupun elektrolit. Derajat II dalam Derajat III. Toksoid 1 cc untuk tiap 2 mg. Standar RS Tipe B dan A untuk yang berat. selanjutnya berdasarkan hasil kultur 4. Masa pemulihan Sangat bervariasi. 7. Dokter Spesialis Penyakit Dalam. mungkin 2 tahun atau lebih bergantung pada parut yang terjadi. Dokter Spesialis Anestesi. Eksisi tangential dini dan skin grafting setelah pasien stabil. Derajat II. obat topikal yang dapat menembus skar (silversulfadiazin) 3. 6. perlu dibilas secara tuntas dengan air segera pada jam-jam permulaan. Luaran Sembuh dengan kecacatan warna kulit saja sampai kecacatan berat. 67 . Ulkus stres. Kematian.Terapi pada luka: 1.nutrisi enteral dini 7. Bila penyebab adalah bahan kimia. 6. ATS diberikan pada semua yang belum pemah mendapat toksoid. 3. 5. Perawatan seluruh pasien di Burn Unit bila fasilitasnya sudah tersedia Penyulit 1. Antibiotika (bila luka kotor) ada infeksi sistemik. superfisial obat topikal untuk luka 2. dengan cedera inhalasi. 3 x berturut-turut. 4. Gangguan saluran napas Gangguan sirkulasi bila berlanjut dapat rnenyebabkan kegagalan organ multipel. 9. untuk jangka panjang Deformitas penampakan yang hebat. Parut hipertrofi dan kontraktur. 2. Paramedis yang berkecimpung pada perawatan luka bakar Lama perawatan Sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan luas luka.

McGregor M.F. Sydney. Boston/Toronto/London. Butterworths. W. MRCS. FRCS(Ed) and John A.. Settle. ChM. McCarthy. FACS. 1979. BURN A Team Approach . Fourth Edition. Joseph G. 1991. M. Sherrell J. London. Singapore.. Ch. F. FRCS.Saunders Company. FACS. Boston/Toronto/London 4.. Ian A.. 1991. Richard J. FACS. MB. MBE. Kepustakaan : 1.K. 1990 3.L.S.B.A. M.S. 1987.D. Toronto. M.C.. Aston (Edit). 2. Curtis P.Saunders Company.. James W. Durban. Barclay.Pruitt. Smith.B. Edinburgh london and New York. Little. FRCS(Ed).B. MB. Hon. 68 . London. Plastic Surgery (8 vol) . OBE. VRD. W. MS. (Glasg.)..Artz MD.Moncrief. FRCS. 5. Tokyo. Wellington.S.. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Boston. Greco (Edit) . Third Edition .. F.(Eng. 6. F.PA tak diperlukan Autopsi/risalah rapat mungkin diperlukan bila terjadi kematian. Montreal. 1980. T.D. Philadelphia. Sydney. I.R. Burn and Their Treatment . DA .C. Brown and Company. Basil A. Philaadelphia. Mphil. Grabb and Smith's Plastic Surgery. . Brwon and Company. Toronto. LRCP. MD. Churchill Livingstone. Muir.R. Emergency Plastic Surgery .JR. John A.. London Toronto.C. Little.).D.

Diagnosis banding . tidak selalu perlu rawat inap. Sernua keluhan yang pada dasarnya ingin mengubah penampilan kearah yang lebih baik/ harmonis. dll. misalnya : Rhinoplasti Blepharoplasti Mentoplasti Mammoplasti Lipodistrofi.tidak ada Pemeriksaan penunjang bila diperlukan: Laboratorium Radiologi dan lain-lain KonsuItasi Dokter Spesialis yang dianggap perlu. Z44. Y98 Semua masalah mengenai estetika yang bisa ditolong dengan pembedahan termasuk diantaranya : Estetika untuk cacat bawaan Estetika untuk cacat yang didapat Estetika untuk proses ketuaan Estetika untuk masalah psikososial . Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Penyulit Seperti halnya pembedahan umumnya dan hal khusus misal parut berlebih Masa pernulihan: bervariasi 69 . Kriteria diagnosis Semua keluhan yang menyangkut masalah penampilan. Z42. Estetika lain yang tidak bisa dipisahkan dari bedah plastik rekonstruksi. Terapi Operatif Mengubah penampilan pasien dengan menambah-mengurangi-menggeser jaringan yang diperlukan.BEDAH PLASTIK ESTETIK/KOSMETIK ICD Z41. Perawatan RS Pasca operasi.

1992. Boston/Toronto/London. McGregor M.. Toronto. Psillakis (Edit) . London Toronto. 6.B. Aston (Edit). 10. Gregory P. Emergency Plastic Surgery .D. Sydney. Boston/Toronto/London.S. Williams & Wilkins.S.S. Excerpta Medica. New York. FACS. Berlin. 5. ainc. London. Ch. Basil A. Plastic Surgery 1992 . 12. J. . Karen H. . Little.T. Saunders Company.B. James Roller . FACS. 14. 1994. Paris. Fourth Edition. Saunders Company.. 1991. MD. F. Toronto.. 18. Tokyo. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 1987. Fernando Ortiz-Monasterio. Saunders Company. Joseph G. Philadelphia. Thieme Medical Publishers. 17. Inc. Rhinoplasty . Regan Thomas. 8. Marco Gasparotti. Philadelphia. Erdulfo Appiani. Psillakis. Hong Kong.. Jorge M. Sydney. Brwon and Company. Stiernberg .). T. 13. Thieme Medical Publishers. Cranio-Facial Deformities.S. Wintroub : Atlas of Cutaneous Surgery .JR. Ian A.C.). Amsterdam-London-New YorkTokyo. Montreal. Superficial Liposculpture. Color Atlas of Aesthetic Surgery of The Abdomen : Thieme Medical Publishers. Brown and Company. 1979. M. James W. Robinson. Inc. Kepustakaan : 1.R. Little. 7. Rafael de la Plaza .. New York. Henriksson. Georg Thieme Verlag. Tokyo. 1990. W. Little.B.. Sydney.Pruitt. Thaller. W. Hinderer (Edit) . Brown and Company.Saunders Company. Manual of Technique . Carson M. 1991. Charles M.D.Moncrief.. Montreal.. 1988.B.(Eng. An Introductory Guide . William W. W. New York. Tokyo. Curtis P. New York. Edinburgh london and New York. M.. 1980.B.D. 1990. Adelaide. Springer-Verlag.A. Churchill Livingstone. 2.G. Toronto.D. Cooter . Luiz S. David. Aesthetic Facial Surgery . 1989. M. Sydney. Hetter. Budapest. McCarthy. New York. Hon. 9. Smith. New York. FACS. Thieme Medical Publisher.Saunders Company. Toronto. Deep Face-Lifting Techniques . Calhoun. U. 1992. Inc. Philadelphia.C. Montgomery . Flaps in Head and Neck Surgery . 16. Montreal. Second Edition .. (Edit). Guide to Dental Problems for Physicians and Surgeons .. Philaadelphia. John A. Cutaneous Facial Surgery . Surgery Of The Lip . Boston/Toronto/London. . 3. London.J. R. Tokyo. Australian Cranio-Maxillo-Facial Foundation. Stuttgart. Montreal. London. International Congress Series 935. 1993. BURN A Team Approach . Tokyo. Arndt. 15. 1992. 1991. Le Boit. Baltimore. F.Informed consent Perlu benar dijelaskan sebelum dilakukan operasi bahwa hasil yang dicapai adalah sejauh kemampuan-pengalaman dokter. (Glasg.B. F.R. M. Inc. M.C. Hong Kong. W. F. W. John Q Owsley. 1994. D. Volume 1 : Lectures and Panels .. London.. Toledo . New York.A. Sydney. Greco (Edit) . Jorge M. 70 . M. Barcelona. 1996. John Conley Carl Patow . Richard J.C. 1994. Heidelberg.Artz MD. Sherrell J. Plastic Surgery (8 vol) . Thieme Medical Publishers. Philadelphia. Seth R. 4. London.. Lipoplasty The Theory and Practice of Blunt Suction Lipectomy . Grabb and Smith's Plastic Surgery. London.D.D. 11. Lewis. Luaran Penampilan pasien setelah operasi plastik tambah baik dan terdapat peningkatan kepercayaan dirinya.

U. Green. 1996. Louis.D. 71 .19. 1985. Bernd Spiessl (Edit) . St.S.. Skin Surgery ..A. Warren H. (Edit) . Heidelberg. Marwali Harahap. 20. M. Inc. New York. New Concepts in Maxillofacial Bone Surgery : Springer-Verlag. Berlin. Missouri.

tak diperlukan 72 . Diagnosis banding . Masa pemulihan 3 minggu atau lebih tergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya.B Penyulit Nekrosis flap/graft. Informed consent Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedali Plastik Lama perawatan 7-10 hari. PA . tak ada gangguan gerakan.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi. Konsultasi . Masih tersisa sedikit akibat kontraktur.tak ada Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Release kontraktur dan graf/flap. Standar RS TipeA .GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA Kontraktur ICD N 940 S/D N 949 Kriteria diagnosis Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses kontraksi pada penyembuhan luka. Luaran Sembuh normal.

B. Montreal.). Hon.(Eng. Boston/Toronto/London. F. F. 1991. Brwon and Company.A.S.D. 1980. Sherrell J. Richard J. Boston/Toronto/London.C. Philaadelphia.B. 1991. . Ian A. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Little. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. McGregor M. W.tak diperlukan.. 1990.S. 2. Edinburgh london and New York. Fourth Edition.C.). 4. Smith..C.Autopsi/ risalah rapat . McCarthy. 73 . F. Joseph G.Saunders Company. Ch. London Toronto. M.S. Tokyo. Little. Plastic Surgery (8 vol) . 3. Emergency Plastic Surgery . Sydney. (Glasg. M. Churchill Livingstone. Greco (Edit) . Kepustakaan : 1.. Brown and Company. James W.R. Aston (Edit).R.

74 . Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Farmakologis Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal. Standar RS Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid. Dokter Spesialis Radioterapi untuk radiasi. Parut hipertrofik: bila parut yang menonjol tidak melebihi batas luka awal Diagnosis banding Fibrosarkoma Pemeriksaan penunj ang Tidak ada Konsultasi Dokter Spesialis Patalogi Anatomi bila perlu. sakit) berkepanjangan. Balut penekan Bedah Eksisi kalau perlu full thickness skin graft.5. Penyulit Karena penyakit Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian. Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi. Dokter Umum untuk suntikan kortikosteroid. dilanjutkan dengan Radiasi atau suntikan kostikosteroid pascaeksisi. Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang. L91 Kriteria diagnosis Keloid: parut yang menonjol menyebuk ke kuilt yang sehat jauh diluar trauma dengan tanda-tanda inflamasi (tambah besar gatal.Keloid dan parut hipertrofik ICD L90. Karena operasi Residif Informed consent Diper1ukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik.

James W.C.Lama perawatan 1 hari – 2 minggu. 1980. Little. 4.). W. 3. 1990. Joseph G. Edinburgh london and New York. M. Sydney. Philaadelphia. Brwon and Company. 1991. Grabb and Smith's Plastic Surgery.Bila ada keraguan dengan sarkoma Autopsi/risalah rapat Tidak diperlukan.B.. Plastic Surgery (8 vol) .S. 2. Emergency Plastic Surgery . Boston/Toronto/London.Saunders Company. Aston (Edit). Kepustakaan : 1. Hon.B. 75 .R. Montreal.A. Luaran Sembuh dengan estetika baik Residif Depigmentasi akibat radiasi PA .S. London Toronto. Ian A. M. Sherrell J.D. Tokyo. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Boston/Toronto/London. F. Smith. Masa pemulihan Sangat bervariasi. Richard J. McGregor M. . Greco (Edit) . Brown and Company.S.(Eng.C. Fourth Edition.. McCarthy. (Glasg. 1991.C. Little. F. Churchill Livingstone.R.). F. Ch..

3 dan 4. 2. 4. Bedah Eksisi. 2. ada sejak lahir atau timbul dekat-dekat kelahiran. eksisi dan perban penekan. 4. kortikosteroid. kebiruan. 3. Cacat berupa bercak merah pada kulit. Tattoage untuk 2. Kortikosteroid untuk 1. 3 dan 4. Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi. 3 dan 4. kalau perlu skin graft untuk 1. 3.TUMOR KULIT DAN JARINGAN LUNAK Hemangioma ICD D18 Dibagi menjadi: 1. tumbuh progresit. timbul setelah lahir. tak sakit 2.2. Embolisasi (kalau perlu) baru eksisi untuk 3 dan 4. Campuran 1 dan 3 Diagnosis banding Fistula A-V Pemeriksaan penunjang kalau perlu arteriografi. stasioner. rata (bisa menimbul setelah dewasa). Hemangioma kapiler simpleks/jenis strawberry Hemangioma kapiler jenis "port wine stain" atau nevus flamus Hemangioma kavernosa Hemangioma campuran l dan 3 Kriteria diagnosis 1. Benjolan pada kulit atau subkutis. Standar RS. 76 . sedikit menimbul. tidak sakit. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir.4. Tipe C untuk suntikan sklerosing. Laser untuk 1. bila perlu Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi Terapi Farmakologis Suntikan obat-obat sklerosing untuk 1. dapat ditekan kempes. Tipe A untuk embolisasi dan laser. Nonbedah Observasi atau ditambah perban penekan untuk 1.

Compound naevi: tumbuh perlahan.Penyulit Karena penyakit Perdarahan pada 1 . irregular. Dysplastic Naevi:lesi berpigmen. e. umumnya dengan multiple nevi. Informed consent Diperlukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Radiologi untuk embolisasi Dokter umum untuk perban penekan.tak perlu Autopsi/risalah rapat - tak perlu. lebih gelap/mengkilat dari kedua jenis lainnya. lebih tebal.1 bulan atau lebih Luaran Sembuh dengan estetika bagus. perlahan menebal atau melebar. Cacat berat pada daerah yang terkena 3 dan 4. warna kurang gelap. lebih banyak dijumpai pada anak dan remaja. Intradermal naevi: berbentuk datar atau meninggi. lokasi tumor dari epidermis hingga dermis. PA . Pigmented lesion/Melanocytic naevi ICD D22 a. Lama perawatan 1 rninggu atan lebih Masa pemulihan 1 minggu . Estetik jelek. Nevus Ota: lesi berwarna biru kehijauan. d. dapat tumbuh rambut. warna campuran yang bervariasi. tepi irregular. lokasi tumor pada perbatasan dermis dan epidermis c. Masih tersisa. di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. Karena operasi Perdarahan Residif Kelainanjantung pada 3 dan 4. lokasi tumor pada dermis b. umumnya mengenai wanita 77 . pigmen menyebar ke jaringan kulit sekitarnya. 3 dan 4. distribusi mengikuti pola nervus V. Junctional naevi: sifatnya rata/tidak menimbul. lokasi tersering daerah terpapar sinar matahari.

mobile tetapi sedikit melekat ke kulit di atasnya. Boston 1991. 3. dengan pungtat di atasnya. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Jackson T. luas > 4 inch.2. malar eminence. Bents ML. ekstensinya dapat sampai otot. berambut. Aston SJ. esi berupa nodul subkutis. Spira M. D17. 1998 78 . Connecticut. Stal S. umumnya mengenai muka.f. tengkorak bahkan meningen Diagnosis banding: Melanoma Maligna Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: Bidang terkait (bila diperlukan) Terapi : eksisi bedah.3 Tumor yang terdiri dari sel-sel lemak. Melanoma Maligna. Boston 1991. Little Brown. 4th ed. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. D17. tidak nyeri kecuali bila mengalami peradangan. In: Smith Jw. rekonstruksi dengan skin graft atau tissue expansion Lipoma ICD D 17. Mihm MC. In: Smith Jw. Aston SJ. Ekstirpasi Kepustakaan : 1. Benign Growth and Generalized Skin Disorder. D23 Kista Epidermoid. Boston 1991. berisi produk sebaseus Diagnosis banding: Konsultasi: Terapi: Eksisi. Appleton & Lange. sedikit mobile. Congenital pigmented Naevi/Giant pigmented naevi: lesi berpigmen. Basal and Squamous Cell Carcinoma of the Skin. 4th ed. Intraoral tumor and Radical Neck Dissection for Oral Cancer. Kista Dermoid: lesi subkutis. 4th ed. mobile dan tak melekat ke kulit di atasnya. scalp. Little Brown. Pediatric Plastic Surgery. 5. Little Brown. In: Smith Jw. lunak. Stamford. Zarem HA. Kista Atherome ICD D21. In: Smith Jw. lokasi subkutis. terfiksasi ke dasar. Sober AJ.1. D17. 4. Kista Epidermoid. mengenai daerah punggung atau muka. Aston SJ. Kista Dermoid. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 4th ed. Lowe NJ. Boston 1991.0. Little Brown. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Kibbi AG. Aston SJ. lokasi pada daerah –daerah fusi embrional Kista atherome: lesi subkutis. 2. distribusi cenderung mengikuti dermatome.

bentuk tuberous Breast ptosis: jatuh dan tergantungnya posisi payudar yang berlebih sehingga nipple areola berada di bawah lipatan inframmamary.athelia: tidak terbentuknya jaringan payudara.Phylloides tumor . bisanya soliter. muncul saat /segera setelah pubertas. Diagnosis Banding: Pemeriksaan penunjang: Konsultasi: Standar tenaga: Bedah Plastik Terapi: Eksisi ektopik breast.Virginal hypertrophy. N64 Diagnosis Ectopic breast tissue (Polythelia/accessory nipple. tuberous deformity dan breast ptosis. Macromastia: pertumbuhan berlebih jaringan payudara akibat physiologi normal atau juga karena kurangnya kepekaan reseptor kelenjaar payudara terhadap hormon yang mengaturnya. Hipomastia: kurang bertumbuhnya jaringan payudara ditandai oleh payudara yang kecil Amastia. unilateral. Inverted nipple: terbaliknya putting susu akibat tarikan duktus di bawahnya. ditandai dengan pertumbuhan cepat dan tiba-tiba. tidak nyeri.Reduksi mammoplasti McKissock 79 .Enukleasi . firm. N60 Diagnosis: Giant fibroadenoma mamma Kriteria diagnosis: lesi berdiameter > 5 – 10 cm. asimetris dengan nipple areola yang lebar. Reduksi mammoplasty dan mastopexy untuk macromastia. Polymastia/ectopic glandular tissue): jaringan payudara yang tumbuh di sepanjang mammary ridge umumnya di axilla dan lipatan inframammary.BREAST DISORDER Gangguan perkembangan kelenjar payudara ICD N62. Tuberous breast deformity: payudara kecil. dengan atau tanpa terbentuknya nipple. Augmentasi mammoplasty untuk untuk hipo/amastia Lesi jinak payudara ICD D24. Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: bidang terkait bila diperlukan Terapi: . N63. dengan dilatasi vena di atasnya. Diagnosis banding: .

Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 4th ed.Kepustakaan : 1.No1. Gynecomastia In: Smith Jw. Marks MW. Benign Tumor of Teenage Breast. Aston SJ. McGrath MH. Little Brown. Fundamentals of Plastic Surgery. Marks C. 2. Plastic & Reconstructive SurgeryVol 105. McKinney P. Lewis PL. WB Saunders. 1997 80 . Jan 2000 3. Boston 1991. USA.

Sherrell J. James W. Little.Saunders Company. McCarthy. Smith. kulit diatasnya kemerahan. Fourth Edition. 1990. 1980. konsul dokter gigi bila sumber infeksinya dari gigi Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis: Baik Kepustakaan : 1. Edinburgh london and New York. Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi sebelumnya Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap. Churchill Livingstone. F.). M. Sydney. F.Sepsis Informed Consent : Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan: ± 3 .A. rasa hangat dan nyeri tekan. London Toronto. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Boston/Toronto/London. 1.. .S. McGregor M. (Glasg. Boston/Toronto/London.C. 81 . Little. 2. Brown and Company.B.C. Grabb and Smith's Plastic Surgery. 1991. segera Terapi : Insisi-drainase → kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas .(Eng. Emergency Plastic Surgery ..C. Ch. Ian A. Aston (Edit). 1991.S. Philaadelphia.).B. M. Montreal. Tokyo.S..2 Kriteria diagnosis : Pembengkakan submandibuler dengan rasa nyeri dan panas badan. Joseph G.R.D.5 hari Masa pemulihan : ± 1-2 minggu Hasil : Infeksi (-) Setelah infeksi reda. Richard J. F.INFEKSI Flegmon dasar mulut ICD : K 12. Brwon and Company. Greco (Edit) .R. W. Hon. Plastic Surgery (8 vol) . 2.

1991. Fourth Edition. F. London Toronto.C. Brwon and Company.0 Kriteria diagnosis : Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisis.Saunders Company. 2. Tokyo.C. Sydney. M.). Grabb and Smith's Plastic Surgery. nyeri tekan (+) Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap segera bila :Lokasi didasar mulut. W..Sepsis . McGregor M. periorbital.A.Thrombosis sinus kavernosus Informed Consent: Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan : ± 3 – 5 hari Masa pemulihan : ± 10 – 14 hari Hasil: Abses (-). Edinburgh london and New York. Little. Churchill Livingstone. Greco (Edit) . 1980. F. 3. Richard J. Boston/Toronto/London. diserta rasa nyeri dan kadang disertai panas badan. Philaadelphia.S. fluktuasi (+). (Glasg. Montreal.. 1990. Brown and Company. kulit diatasnya kemerahan.B. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. nasofrontal. infeksi reda Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis : Baik Kepustakaan : 1. Ch. Ian A.S.Abses Maksilofasial ICD : L 02. 1991. 4. McCarthy. 82 . Boston/Toronto/London. Diameter > 6 cm Terapi : Insisi drainase – kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan: Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas .R.D. Hon. M. . Little.C. F.R.B. Emergency Plastic Surgery .). Plastic Surgery (8 vol) .(Eng.. Joseph G.S.

Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. AP /Lat 6. Kualifikasi operator : . 1983. 1993.PENYULIT : Infeksi . PENGOBATAN : A. nyeri kalau gerak.MASA PEMULIHAN : 12 minggu 13. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. pemendekan tulang panjang) Ada perlukaan di daerah fraktur yang berhubungan dengan fragment fractur 4.HASIL : Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal 14. 83 .OTOPSI : 16. perdarahan.PROGNOSIS : Dubius ad bonam 17. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap untuk observasi dan tindakan 8. Salter. Tujuan terapi : Kuratif B.G. 2nd Ed. NOMOR ICD : S 82 2. TEMPAT PELAYANAN RS Perjan Denpasar 10. DIAGNOSIS : PATAH TULANG TERBUKA 3. gangguan fungsi.Sesuai dengan komplikasi yang timbul (Infeksi . Cara pengobatan : Debridement dan fiksasi sesuai dengan grade & displasement Fiksasi interna elektif untuk grade I Fiksasi internal immediate untuk grade II Fiksasi eksterna untuk grade III C. kompartment syndrome. KEPUSTAKAAN : 1. & Solomon. KRITERIA DIAGNOSIS : Ada trauma Ada tanda patah tulang (krepitasi. pergerakan normal. Edition.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Butterworth-Heinemann. 2. kompartment syndrome. deformitas. A. 7th. KONSULTASI : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.B. Williams & Wilkins Baltimore/London.1. emboli lemak) 11.PATOLOGI : 15. L. DIAGNOSIS BANDING : 5. R. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Radiologi : Foto Ro. Terapi komplikasi pengobatan : . emboli lemak) F. Apley. perdarahan. Macam pengobatan : D.INFORMED CONSENT : Perlu 12.TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.

1983. KONSULTASI : Dokter spesialis terkait {bila diperlukan) 7. 2nd Ed. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. 1993. Terapi komplikasi pengobatan : Reposisi ulang/ bone graft ( malunion/delayed Union F. TEMPAT PELAYANAN: RS. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Cara pengobatan : Reposisi C. Apley. INFORMED CONSENT : Perlu 12.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. PEMERIKSAAN PENUNJANG : foto polos cruris AP/ Lat 6. NOMOR ICD : S 82 2. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan untuk non bedah : Rawat inap untuk pembedahan 8.1. Edition. Williams & Wilkins Baltimore/London. PENYULIT: Malunion/ delayed union 11. Perjan Denpasar RS. Reposisi terbuka : Pemasangan implant/ plate screw D. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. PENGOBATAN : A. MASA PEMULIHAN : 4-8 minggu 13. OTOPSI : 16. KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat trauma Tanda pasti patah tulang tibia/ fibula Foto Ro.: Long leg cast. DIAGNOSIS : FRAKTUR CRURIS 3. Macam pengobatan : Reposisi tertutup. Butterworth-Heinemann. KEPUSTAKAAN : 1. & Solomon. 7th. L. HASIL : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal 14.B.G. Tujuan terapi : kuratif B.Kualifikasi operator : . Salter. 84 . R. PATOLOGI :15. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10. DIAGNOSIS BANDING : 5.fraktur pada tibia da fraktur pada fibula 4. A. 2. PROGNOSIS : Baik 17.

INFORMED CONSENT : Perlu 12. 5. Edition. 85 . Apley. Williams & Wilkins Baltimore/London. DIAGNOSIS : RUPTUR TENDON ACHILES 3. Terapi komplikasi pengobatan dan bias dipersiapkan secepatnya pada yang Tertutup. Perjan Denpasar 10 PENYULIT : Infeksi. & Solomon. Butterworth-Heinemann. 2. 7. Salter.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi achiles Trauma tangan Clean cut injury Fungsilaesia 4. DIAGNOSIS BANDING : PEMERIKSAAN PENUNJANG : KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8.G. Cara pengobatan: Repair tendon C. PENGOBATAN : A.1. sambungan putus. NOMOR ICD : S 86. Tujuan terapi : Kuratif B. A. PATOLOGI : 15. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 1983. 6. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. HASIL : Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal 14. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit pada yang clean cut E.0 2. R. OTOPSI : 16. kontraktur ankle 11. Kualifikasi operator : . L. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Macam pengobatan : Operasi dengan tehnik Bunnel atau Kesler Immobilisasi dengan fore slab D. 2nd Ed. TEMPAT PELAYANAN : RS. KEPUSTAKAAN : 1. MASA PEMULIHAN : 6 minggu sudah buka gip 13. 7th.B. F. PROGNOSIS : Baik 17. 1993.

PEMERIKSAAN PENUJANG : Foto polos genu AP/ Lat 6. PROGNOSIS : Baik/ cacat 17.1. crepitasi. OTOPSI : 16. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.Gangguan extensor mekanisme lutut Radiologi : . defect antar fragmen. Perjan Denpasar RS. R.Partial/ total patelectomy D. MASA PEMULIHAN : 8-12 minggu 13. TEMPAT PELAYANAN : RS. KRITERIA DIAGNOSIS : Klinis : . PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan dan rawat inap 8.bengkak.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9.Cara pengobatan : Reposisi tertutup dan reposisi terbuka.Nyeri. PENYULIT: Haemathros Infeksi. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 2nd Ed. L. Williams & Wilkins Baltimore/London. C Macam pengobatan : Reposisi tertutp : Pasang Kocher gips untuk permukaan yang intact dan fragmen tidak bergeser Reposisi terbuka: ORIF : gangguan permukaan artikuler . haemathros) F. Salter. DIAGNOSIS : FRAKTUR PATELA 3. 7th.kekakuan lutut 11. haemathros . 86 . PENGOBATAN A Tujuan pengobatan : Kuratif B. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.Foto genu AP/ Lat . separasi fragmen Kelemahan otot-otot quadrisep. A. 1983. 1993.B. Terapi komplikasi : Sesuai dengan komplikasi yang timbul (non union malunion. INFORMED CONSENT : Perlu 12. KEPUSTAKAAN : 1.0 2. HASIL : Kedua fragmen patela tereposisi & rigid Fragmen terangkat 14. infeksi. 2.TBW . Edition. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. DIAGNOSIS BANDING : 5.G. PATOLOGI : 15. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. Butterworth-Heinemann. NOMOR ICD : S 82. Apley. & Solomon. Kualifikasi operator : .Bila perlu sunrise/ tangensial (untuk fraktur vertikal& fragmen osteochondral) 4.

Cara pengobatan : Non operative dan operative C Macam pengobatan : a. Butterworth-Heinemann.B. TEMPAT PELAYANAN : RS. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. trauma vaskulaer. Infeksi. A. 7th. Edition.Waktu pengobatan : segera saat penderita datanmg ke rumah sakit E.Terapi komplikasi pengobatan : . KEPUSTAKAAN : 1. Salter. PENGOBATAN : A. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. malunion Joint stiffnes. 2. DIAGNOSIS : FRAKTUR FEMUR 3. F. INFORMED CONSENT : Perlu 11. 9.Fraktur trokanter . PROGNOSIS : Baik 16. 2nd Ed. Apley. emboli lemak. Operative D. atrofi otot.G. 1993. trombo emboli. infeksi. . HASIL : Posisi anatomis optimal Fungsional baik 13. metal fatique. 2. & Solomon. lesi nervus. Tujuan terapi : Kuratif B. Komplikasi Awal Syok.Fraktur kolum femur .1. MASA PEMULIHAN : 1 minggu 12. Komplikasi lambat Refraktur. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma mayor pada paha Tanda pasti patah tulang (+) 4. mlunion. infeksi. Non operative Traksi skeletal Traksi kulit pada anak b.Kualifikasi operator/ pemberi pelayanan : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi.Fraktur shaft femur .1. dan cidera neurovaskuler 10. Perjan Denpasar PENYULIT : Non union. Williams & Wilkins Baltimore/London. delayed union. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos Femur AP/ Lat 6. 87 . DIAGNOSIS BANDING : Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara klinis . TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 17. OTOPSI : 15. NOMOR ICD : S. L. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8.Fraktur kondilus femur 5. 1983. 72 2. PATOLOGI : 14. R.

Dislokasi posterior Merupakan jenis tersering Tungkai memendek. KRITERIA DIAGNOSIS : A.pyriformis menghalang reposisi Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi D. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. Terapi komplikasi pengobatan : F. Bigelow 3. kapsul sendi atau m. DIAGNOSIS BANDING : 5. ekstensi Eksternal rotasi 4. > 15 % avaskuler nekrosis kaput femoris. NOMOR ICD : S 73.ischidikus. TEMPAT PELAYANAN : RS. Tujuan pengobatan : kuratif B.0 2.1.Type III : fraktur comminutive tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . Inferior (obturator) : panggul abduksi. DIAGNOSIS : DISLOKASI PANGGUL 3. ischiadicus 88 . Perjan Denpasar 10. Macam pengobatan : Reposisi tertutup dengan anastesi umum : 1. Dislokasi anterior 10 % insiden dislokasi panggul 4 % mengalami avaskuler nekrosis Identasi fraktur caput femur : identasi 4 mm atau lebih Dengan prognosis buruk Type : Superior (pubis atau iliac) : panggul abduksi.Type IV :fraktur tepi acetabulum dan besar .Type V : Fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain B. Klasifikasi : . Kualifikasi operator : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. endorotasi dan adduksi 10 % komplikasi n. KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) 7. PENGOBATAN : A. fleksi eksternal rotasi. Allis 2.Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal . Cara pengobatan : Reposisi segera C.Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar . PENYULIT : Fraktur intra artikuler Cidera N. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos panggul AP/ Lat 6. Stimson Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 minggu. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. 9.

OTOPSI :16. & Solomon. Apley. 1993. PROGNOSIS : Baik 17. A. 1983.11. Salter. MASA PEMULIHAN : 8 minggu 13. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 2. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. HASIL : Tereposisi dengan baik 14. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.G. 2nd Ed. Butterworth-Heinemann. L. Edition. 7th. Williams & Wilkins Baltimore/London.B. 89 . R. KEPUSTAKAAN : 1. PATOLOGI :15.

Macam pengobatan : D. 8. 7. Hasil 14. Waktu pengobatan : segera saat penderita dating ke rumah sakit E. 2. saraf. Otopsi 16.0 : FRAKTUR KLAVIKULA :Terputusnya kontinyuitas tulang klavikula akibat trauma Klinins : Penderita : nyeri. Terapi komplikasi : 9.Masa Pemulihan 13. 6. Tujuan terapi B.5 bulan : Tereposisi dengan baik F. Adakah gejala dan tanda trauma penyerta (trauma vaskuler. Cara pengobatan : Dislokasi acromio-klavikular : Dokter spesialis terkait. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk perawatan bedah : Kuratif : Konservatif Operatip : pasang ransel verband : Plate & Screw atau ada lesi vaskuler/ saraf Pemeriksaan penunjang : X-foto klavikula AP C.1.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Prognosis : Perlu uintuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS Perjan Denpasar : Lesi vaskuler Lesi saraf : Perlu : 1-1. 5. Nomor ICD Diagnosis Kriteria diagnosis : S 42.Informed consent 12. pembengkakan dan krepitasi pada daerah klavikula.thorak) Foto Ro adanya fraktur di klavikula 4. 3. Diagnosa banding Konsultasi Perawatan RS Pengobatan: A. Kualifikasi operator : 90 .Patologi 15.

G. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinis : 1. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Edition. A. & Solomon. ButterworthHeinemann. 1993. Williams & Wilkins Baltimore/London. 7th.B. 2. 1983.17 Tindak lanjut 18. 91 . L. Apley. Salter. 2nd Ed. R. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.

Radialis : Perlu : 12-24 minggu : Terreposisi dengan baik : : : Baik : perawatan poliklinis : 1. Pemeriksaan Penunjang 6.Otopsi 16. Terapi kompliksai F. 1993. KEPUSTAKAAN : : : saat penderita dating ke rumah sakit : Lesi N.1. Tujuan terapi B. Masa pemulihan 13. Edition. gangguan fungsi) Foto Rontgen adanya fraktur humerus 4.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. krepitasi. Prognosis 17. - 92 .Konsultasi 7. Macam pengobatan D. A. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.3 : FRAKTUR HUMERUS : Ada riwayat trauma Tanda pasti fraktur humerus (nyeri. Axillary view :Dokter spesialis yang terkait. 1983. ICD 2. bila diperlukan :Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : Kuratif : Non Bedah :Reposisi dengan pembiusan pasang Gips U – slab / Hanging cast Bedah: Pemasangan implant plate screw C. 2. Perjan Denpasar : Lesi N. Perawatan RS 8.Informed consent 12. Diagnosa banding 5. Williams & Wilkins Baltimore/London. Patologi 15. Kualifikasi operator 9.Penyulit 11. 7th. Salter. Cara pengobatan : : X Foto humerus AP/ lateral. bengkak diformitas. L. Waktu pengobatan E. Tindak lanjut 18. Diagnosis 3. & Solomon. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.Tempat pelayanan 10. 2nd Ed. Hasil 14. Apley. Kriteria diagnosis : S 42.G. angulasi / pemendekan. ButterworthHeinemann. Radialis . R.Pengobatan : A.B.

Prognosis : Perlu : + 4 – 6 minggu : Terreposisi dengan baik : :: Baik : Segera direposisi saat penderita dating ke rumah sakit untuk yang baru. 93 . asimetri Gangguan gerakan bahu 4. Waktu pengobatan E. Kriteria diagnosis : S 43. Hasil 14. Pemeriksaan Penunjang 6.0 : DISLOKASI BAHU : Ada riwayat trauma Nyeri.Konsultasi 7. Terapi komplikasi F. dengan persiapan. Patologi 15.Tempat pelayanan 10. C. Perjan Denpasar : Cedera N Axilaris / plexus brachialis Gangguan sirkulasi Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama Dislokasi sendi berulang 11.Informed consent 12. Otopsi 16.Pengobatan A. Diagnosis 3. Tujuan terapi B. deformitas. Diagnosa banding 5. Perawatan RS 8. Cara pengobatan : : X Foto bahu AP : Dokter spesialis yang terkait. Macam pengobatan D. Kualifikasi operator 9. Nomor ICD 2. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : : kuratif : Non Bedah : Reposisi menurut Kocher atau Hipokrates Bedah Reduksi operatif untuk kasus-kasus neglected.Penyulit : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Lama Pemulihan 13.1.

17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

94

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan

: S 42.4 : FRAKTUR SUPRA CONDILER SIKU : Riwayat Trauma Tanda –tanda pasti patah tulang di atas siku : : X Foto siku AP / lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : a. Non bedah : - Reposisi dengan pembiusan - Traksi b. Bedah : Bila non bedah gagal – operasi Plate & Screw atau CCW

C. Macam pengobatan : D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : segera saat penderita dating ke rumah sakit : Kaku sendi siku (Fisioterapi) Kompresi pembuluh darah : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Kompresi pembuluh darah Kaku sendi siku : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik: : : : Dubius / kaku sendi siku : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

95

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.0 : FRAKTUR OLEKRANON : Riwayat Trauma Tanda pasti patah tulang pada siku Teraba gep pada olecranon X Foto Olekranon patah

4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan C. Macam pengobatan D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator :

: Fraktur lain di daerah siku : X Foto siku AP lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan :Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : Operasi dengan pemasangan tension band wire : saat penderita datang ke rumah sakit pada yang terbuka : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12. Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS. Perjan Denpasar : Kaku sendi siku Lesi N.Ulnaris : Perlu : + 4 – 6 minggu : Fragmen terfiksasi dengan baik : : : Dubius / cacat : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

96

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S3.1 : DISLOKASI SIKU : Riwayat trauma, sakit sendi siku Deformitas / asimetri Limitasi gerakan sendi

4. Diagnosis banding 5. Pemeriksaan penunjang 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 9. Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan a. Non bedah b. Bedah C. Macam pengobataqn D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis : : : :

: : X Foto siku AP/ lateral : Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap

: Reposisi dengan pembiusan Imobilisasi dengan posisi fleksi pada siku : Operasi bila reposisi gagal : segera saat penderita dating ke rumah sakit

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Lesi N.Ulnaris, N.Medianus Lesi vaskuler : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik : : Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Kaku sendi bisa terjadi

97

B. 1993. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinik : 1. 2nd Ed. Apley. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. A. Williams & Wilkins Baltimore/London. ButterworthHeinemann.G. L. Edition. 1983 98 . 2.17. 7th. Salter. R. Tindak lanjut 18. & Solomon.

5. Masa pemulihan : RS. deformitas. gangguan gerak. 3. Informed consent 12. Tempat pelayanan 10. Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Diagnosis 3. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang radius disertai dislokasi sendi radioulnar distal . Dilakukan reposisi tertutup dengan anestesi umum c. Diagnosis Banding 6. Perawatan Rumah Sakit : Rawat inap untuk observasi atau tindakan b. Perjan Denpasar : Non union. Bedah : operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal d. Konsultasi 8. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. “false movement”. Waktu pengobatan : e. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi interna. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Ro. 7. malunion. Terapi komplikasi pengobatan : f. lengan bawah AP/lat. krepitasi dan nyeri. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : : kuratif kemudian imobilisasi dengan gips (long arm cast) pada posisi supinasi selama 4-6 minggu. Cara pengobatan : 1. Penyulit 11. 4. Kriteria Diagnosis : FRAKTUR GALEAZI : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. post operasi diperiksa stabilitas sendi radioulnar. bila tidak stabil diimobilisasi dengan gips pada posisi supinasi selama 3 minggu. Macam pengobatan : 1. 2. Non bedah : reposisi (gips sampai di atas siku) 2.2. : Perlu : ± 6 minggu 99 . Pengobatan a. Radiologi : anteroposterior dan lateral.

L. Tindak lanjut 18. Prognosis 17.13. 2. Patologi 15. & Solomon. 1993. Salter. A. Otopsi 16. 1983 100 . 7th. Hasil 14. KEPUSTAKAAN : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. ButterworthHeinemann.G.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. R. Apley. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Edition. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed.

Kualifikasi operator / pemberi pelayanan Dokter Spesialis Bedah Ortopaedi 9. Non bedah 2. Bedah : : Pembedahan e.1. Konsultasi 7. 5. nyeri terutama pada tempat fraktur dan sendi radioulnar proksimal. 2. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi internal 3. deformitas. Cara pengobatan : 1. dislokasi kaput radius ke lateral Bado 4. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Macam pengobatan d. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi atau tindakan : : kuratif dengan posisi lengan supinasi. Radiologi : anteroposterior dan lateral . Perjan Denpasar 101 . “false movement” dan krepitasi. Waktu pengobatan : : 1.0 : FRAKTUR MONTEGIA : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Perawatan rumah sakit 8. dislokasi kaput radius ke posterior Bado 3. dislokasi kaput radius ke anterior Bado 2. Kriteria diagnosis : S 52. Diagnosis banding 6. Imobilisasi selama 4-6 minggu. Pengobatan a. 4. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang ulna dan dislokasi caput radii Klasifikasi : Bado 1. Nomor ICD 2. Terapi komplikasi pengobatan : f. lengan bawah AP / lat b. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. Diagnosis 3. dislokasi ka[ut radius diseratai Fraktur radius dan ulna. Dilakukan reposisi tertutup kemudian imobilisasi c. Tempat pelayanan : RS.

A. malunion. & Solomon. 7th. : Perlu : ± 6 minggu : Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik Caput radii tereposisi atau dibuang 14. Apley.G. Informed consent 12. 2. Patologi 15. Masa pemulihan 13. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 1983 102 . KEPUSTAKAAN : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. Salter. Prognosis 17. Williams & Wilkins Baltimore/London. ButterworthHeinemann. Hasil : Non union. R. 2nd Ed. L.B. Edition. Otopsi 16.10. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Tindak lanjut 18. infeksi. gangguan gerak. 1993. Penyulit 11.

Definitif orang muda immobilisasi dengan gips sirkuler butuh anesthesia regional atau general : . Konsultasi 7. Emergensi : .pada anak dan orang tua blok) 2. Kriteria diagnosis : S 52. Cara pengobatan : 1.5 : FRAKTUR COLLES : Tanda-tanda pasti patah tulang Trauma lengan karena menahan dengan “out strecht hand” 4. Gips sampai di bawah siku a.1. Pemeriksaan penunjang : Radiologi . Non bedah : Reposisi dengaqn pembiusan b. Pengobatan a. Perawatan rumah sakit 8. Macam pengobatan : Fiksasi dalam posisi pronasi. Nomor ICD 2. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : : local anesthesia (hematome 5. Bedah : Bila non bedah gagal 103 . Diagnosis banding 6.Macam : • • • • • reduksi tertutup dan splint reduksi tetutup dan pinning perkutan fiksasi externa reduksi terbuka dan fiksasi interna fiksasi externa dan interna stabilisasi fraktur besarnya displacement kwalitas tulang usia dan aktifitas penderita ketersediaan peralatan c. foto polos radius-distal AP / lat b. Diagnosis 3.Faktor yang menpengaruhi optimalisasi : • • • • • . semi fleksi dan ulnar Deviasi pada pergelangan tangan.

9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Massa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS Perjan Denpasar : Kompartment syndrome Suddec atropi : Perlu : ± 4 – 6 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posisi optimal Fungsional baik : : : baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

104

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.4 : FRAKTUR RADIUS-ULNA : Klinis : didapatkan adanya tanda-tanda fraktur seperti edema, deformitas, “false movement”, krepitasi dan nyeri. Radiologis : anteroposterior dan lateral, akan didapat kan adanya diskontinuitas tulang.

4. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pengobatan a. Tujuan terapi

: : Dokter spesialis yang terlait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : :

5. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. antebrachii AP/lat

b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup dengan anesthesia umum, kemudian immobilisasi dengan gips (long arm cast). Posisi antebrachii tergantung letak fraktur, pada fraktur antebrachii 1/3 proksimal diletakkan dalam posisi supinasi, 1/3 tengah dalam posisi netral, dan 1/3 distal dalam posisi pronasi. Gips dipertahankan 4 – 6 minggu 2. Bila reposisi tertutup tidak berhasil (angulasi lebih dari 10º pada semua arah) maka dilakukan internal fiksasi. 3. Pada fraktur terbuka terlebih dahulu dilakukan “debridement” kemudian dilakukan tindakan seperti diatas. Sedangkan pada fraktur terbuka derajat III dilakukan eksternal fiksasi. c. Macam pengobatan : Gips sampai diatas siku b. Bedah : Bila non bedah gagal plate and screw d. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit : RS. Perjan Denpasar : Kompartment syndrome a. Non Bedah : Reposisi dengan pembiusan

105

11. Informent consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perlu : ± 6 – 8 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

106

1. Nomor ICD 2. Diagnosis

: C22.0 : Hepatoma

3. Kriteria Diagnosis - Pemeriksaan Klinis : - Anamnesa : - berat badan menurun - nyeri hipokondrium kanan - alkoholisme - riwayat sirosis hepatis atau hepatitis kronis - Inspeksi : tampak tumor pada hipokondrium kanan (tumor besar) - Palpasi : massa pada hipokondrium kanan - Perkusi : untuk mencari batas-batas tumor - Auskultasi : suara usus normal Pemeriksaan Laboratorium : - AFP - LFT - CEA Pemeriksaan Imaging : - USG - CT Scan

-

Pemeriksaan Radiologi : - angiografi - Ba- enema (bila curiga primer berasal dari kolon) Pemeriksaan Jarum Halus Pemeriksaan Kolosnokopi : bila curiga primer dari kolon

-

4. Diagnosis Banding - Tumor jinak hepar (Hemangioma, Adenoma) - Kolangiokarsinoma 5. Pemeriksaan Penunjang : 6. Konsultasi : Penyakit dalam bila ada riwayat sirosis hepatis dan hepatitis khronis. 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan - Pembedahan / Terapi 1. Tumor metastase dari kolon / rektum dan primer terkontrol : dilakukan reseksi hepar. 2. Tumor metastase dan tumor primer in operabel tindakan suportif. 3. Tumor hepar primer : karsinoma hepatoseluler - inresektabel : suportif. - resektabel : reseksi hepar. 4. Tumor jinak : - bila ada gejala : dilakukan reseksi. - bila tak ada gejala : observasi. 5. Sebelum reseksi sebaiknya dilakukan embolisasi untuk mengecilkan tumor dan mengurangi perdarahan.

107

Perlu 14. Mc Graw Hill.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Perlu 11. 10th ed. 9. Hasil : .Rumah Sakit tipe A/B yang sudah memiliki Ahli Bedah Digestif. Tindak Lanjut : . Prognosis : . 8. 10th ed. 1561-1590 108 . Kepustakaan : . Seiji Kawasaki : Hepatocellular Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operations. 1997.Tergantung jenis tumor (jinak atau ganas) dan apakah resektabel atau tidak 13. Prentice Hall Inc. 1989. Prentice Hall International. Patologi : . p. Otopsi : 15. 5th ed. 1327-1376 . Masa Pemulihan : . Informed Consent : .Maratoshi Maknuchi.Follow up secara klinis. p.Schwartz SI : Principles of Surgery.6. 1994 . Tempat Pelayanan : . Laboratorium dan Imaging 17. Pada kasus resiko tinggi untuk operasi dan tumor kecil dapat dicoba penyuntikan perkutan alkohol 90% dalam tumor dengan tuntunan USG.Tumor Jinak .Tergantung jenis tumor 12. Penyulit : Perdarahan (Spontan atau akibat tindakan) 10.Tumor Ganas : Baik : Resektabel → Dubois Ad Bo anam : Inresektabel → Dubois Ad Malam 16.

Masa Pemulihan : 3-5 hari 12. Tempat Pelayanan : . Nomor ICD 2.finger test. bila inkarserata terasa nyeri. Konsultasi : .Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Hernioplasty : .Palpasi .Hidrokel 5.1. UL 6. : benjolan di pelipatan paha yang dapat keluar masuk (hernia reponibilis) tak dapat keluar masuk (irreponibilis dan inkarserata).Lab.Penilaian isi kantong bila nekrosis dilakukan reseksi . DL.tehnik Bassini. Diagnosis Banding . : . . jantung) 7. . Patologi : Tidak perlu 14.thumb test.Anamnesa .Pembedahan / Terapi .Pemeriksaan Klinis : . Prognosis : Baik 109 . Penyulit : .Inkarserata / strangulasi dengan segala akibatnya 10. Hasil : Baik 13. 8.zieman test (tri finger test) : : ( diatas benjolan) terdengar suara bising usus (bila isi kantong usus).Herniotomi .Pemeriksaan fisik : . 4. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Perkusi .Inspeksi .Auskultasi : benjolan di pelipatan paha.Lipoma pada pelipatan paha . .tehnik Halsted. Otopsi : 15. Kriteria Diagnosis .Kalau ada penyakit penyerta (liver. Pemeriksaan Penunjang : . Informed Consent : Perlu 11.Pembesaran kelenjar limfe . Diagnosis : K40 : Hernia 3.

London 1988 .Way LW : Hernia other lesion of the abdominal wall In : Current Surgical Diagnosis and Treatment.16. 1986. Tindak Lanjut : Follow up apakah terjadi residif / tidak 17. 712724 . Butterworth & Co. John Wright & Sons. 11th ed. 1984.Dodson TF : Hernia In : Manual of Clinical Problem in Surgery. Ist ed. 10th ed.Dudley. 215-218 . 375-381 . Litle Brown and Co Boston. 1988 110 . p. Prentice Hall International Inc.Skandalakis JE : Hernia Surgical Anatomy and Technique. Kepustakaan : . p. HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. USA. Mc Graw Hill Inc. p.Devlin HB : Management of Abdominal Hernia. 1994. Ist ed. Bristol.

. Diagnosis : K35 : Radang Usus Buntu 3.anoreksia mual. kolesistitis.Anamnesa : .saat flexi dan endo rotasi tungkai kanan (Obturator Sign).Pemeriksaan USG (bila ragu-ragu) 4.saat testis kanan ditarik (Tenhorn Sign) .pembiakan kuman dan test kepekaan antibiotik. Golongan gastro-enteritis : lim fadenitis mesenterik.saat tekanan perut kiri dilepas (Blumberg Sign). Pemeriksaan Penunjang . . Diagnosis Banding 3. febris (bila ada komplikasi) . entero-kolitis. 4. 5. pankreatitis divertikulitis.saat mengangkat tungkai kanan (Psos Sign). perforasi karsinoma kolon.Apendektomi .USG . .lapangan operasi dibersihkan dari pus dan bahan kontaminasi. .Pemeriksaan Klinis : .Inspeksi : gerakan perut kanan bawah berkurang waktu bernafas .dipasang drain sub fasial. .tidak melakukan penjahitan lemak. ileitis terminalis.Pemeriksaan laboratorium : DL : leukosit UL : sedimen urin .Bila saat operasi didapatkan apendik yang mengalami perforasi maka dilakukan : .Ba inloop double kontras 6. . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 111 .sub febris. Konsultasi : Obstetri Ginekologi 7. . .Perkusi : Nyeri ketok ⊕ (kadang-kadang dilakukan) . 8.Colok dubur : nyeri perut kanan bawah (jam 10 – 11) . Kriteria Diagnosis . Kelainan-kelainan lain didalam abdomen ulcus pepticum. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Palpasi : * nyeri daerah Mc Burney / kanan bawah : . Nomor ICD 2. .kulit dijahit situasi.Pembedahan / Terapi . Kelainan genitalia interna pada wanita 5.nyeri epigastrium kemudian disusul nyeri perut kanan bawah yang menetap.bila perut kiri ditekan (Rovsing Sign).1. .Auskultasi : Suara usus menurun .

2 9th ed. P. Hasil : Baik 13. Prentice Hall Int.. 610-614 112 . 5. Vol.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. Masa Pemulihan : 5-7 hari 12. Prognosis : Baik 16. Appleton Century Crofts. Bristol. Norwalk Connecticut.Dudley HAF : Hamilton Biley’s Emergency Surgery. 4. Tindak Lanjut Jahitan diangkat hari ke-7 pasca bedah. 1990. Appendisitis perforasi Periappendicular infiltrat Periappendicular abscess Peritonitis umum Foic appendiculare 10. 10th ed. Patologi : Perlu 14. Kepustakaan : .p.Way. 11th ed. Otopsi : 15. LW : Appendix In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 336-345 . Inc. John Wright & Sons Ltd. 2. 1994. 953-978 .p. Penyulit 1. 3.9. Informed Consent : Perlu 11. 1986. bila luka mengalami infeksi perlu dipertimbangkan kondisi luka 17.

Pemeriksaan Klinis : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan Pembedahan / Terapi . 8.untuk mengetahui lubang fistel sebelah dalam. hidrogen peroksida datu metilen biru. proktits tbc 5. nanah. .Fistulektomi .penggunan seton (pada fistula yang banyak melibatkan sfingter ani) .Irigasi saluran : untuk mengetahui saluran dan lubang interna dengan garam fisiologis.Colok dubur : dengan bidigital yaitu antara jari telunjuk pada anus dan ibu jari pada perineum akan teraba jaringan yang mengeras seperti tali.Inspeksi : adanya perianal fistel. Informed Consent : Perlu 113 . Diagnosis Banding 3.Pemeriksaan radiologis : fistulografi. Pemeriksaan Penunjang : Fistulografi 6. 4. Nomor ICD 2. . Penyulit : Kadang-kadang residif 10. amoeba.Fistulotomi. Morbus Crohn 5. morbus Crohn). Amoeba 6. proktitis tbc. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.bahan yang dieksisi dilakukan pemeriksaan histo PA. Kriteria Diagnosis . . . . faeces dari lubang dekat anus. Karsinoma rekti 4.3 : Perianal Fistula 3.Palpasi : nyeri tekan dan teraba massa sebagai tali memanjang .Sondasi : untuk mengetahui saluran dari fistula.untuk mengetahui adanya penyakit lain (karsinoma. .Anamnesa : mengeluarkan lendir.Perkusi :.Auskultasi : .1. Diagnosis : K60. Konsultasi : 7. .Proktoskopi : . .

1994. Saunders Co. 701-703 . Rectum and Anus. Hasil : Baik 13. In : Principles of Surgery 5th ed. WB. Rectum and Colon. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 418-466 114 .11. 1993.Keighley. Philadelphia. et al : Colon.Way LW. Anorectal Fistulas.Golberg. Masa Pemulihan : Tergantung derajat fistula (melibatkan banyak sfingter ani atau tidak) 12. Prognosis : Baik 16. Tindak Lanjut : Follow up berkala 17. SM. Mc Graw Hill. p. Kepustakaan : . 1988 p. Patologi : Perlu 14. MRB : Anorectal Fistula in Surgery of the Anus. London. 1303-1306 . p. 10th ed Prentice Hall International Inc. Otopsi : 15. Ltd.

1.berak darah segar (tanpa bercampur berak) . . . Diagnosis : K60.Operasi : .rendam duduk (Krim 04) . 4.bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat.salep lokal Ichtamol 10%.Anamnesa : .Palpasi : bila anus dilakukan everasi tampak fissura .prosedur : lateral internal sfingterotomi. Otopsi : 15. .Rumah Sakit tipe C/B/A 9.0 : Fissura Ani 3.Proktoskopi : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan hipertropi papilla dan fissura.diet membuat faeces lunak. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .minum banyak. Prognosis : Baik 115 . Informed Consent : Perlu 11. hidrokortison 1%.Perkusi : . Hasil : Baik 13.Inspeksi : adanya sentinel pile .nyeri waktu berak . Diagnosis Banding : 5.Medikamentosa : . Konsultasi : 7. . Patologi : 14. . Tempat Pelayanan : .Pembedahan / Terapi .Pemeriksaan Klinis : . 8. Pemeriksaan Penunjang : 6. Nomor ICD 2. Masa Pemulihan : 2-3 hari 12. Kriteria Diagnosis .Colok dubur : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan lokasi fissura dan stenosis. Penyulit : 10.Auskultasi : .

et al : Colon.Keighley. 10th ed Prentice Hall International Inc. SM. p. 1993. Saunders Co.Way LW. London.16. 698-699 . In : Principles of Surgery 5th ed. MRB :Fissure in Ano. WB. Kepustakaan : . 369-386 116 . In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. p. 1303-1306 . 1994. In : Surgery of the Anus. Rectum and Colon. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi (Poliklinis) 17. Philadelphia. Anal Fissure. Rectum and Anus.Golberg. Ltd. 1988 p. Mc Graw Hill.

Pemeriksaan Penunjang . Nomor ICD 2. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Kriteria Diagnosis .1 : Ikterus Obstruksi 3.kolesistektomi dan kolangiografi intra operatif. Diagnosis Banding .Lithotripsi Untuk tumor pankreas . .Pemeriksaan imaging : .ERCP .ERCP 4.ERCP . USG.tanpa batu di saluran utama : tindakan selesai .Interne .Lab .sfingterotomi Untuk batu residual .Tumor hati .Pemeriksaan Klinis : .1.CT Scan. CT Scan.ada batu di saluran utama : koledokotomi + scope pasang T-drain.Pemeriksaan laboratorium : .penurunan berat badan . .kanker tanpa metastase : reseksi pankreas 117 . Untuk batu empedu dengan kolangitis .Courvoissier Law .test faal hati.Tumor pada papila vateri 5.FNAB Bila : . ERCP 6.Pembedahan / Terapi Untuk batu empedu tanpa kolangitis .Gatal-gatal.Pediatri pada anak 7.panas badan . Konsultasi .foto polos abdomen .Anamnesa : .bila hasil kolangiografi : .Perkusi : nyeri ketok pada perut kanan atas . kulit berwarna kuning .USG .Inspeksi : ikterus .BOF.Batu kandung empedu .Auskultasi : suara usus normal .ERCP . Diagnosis : K83.nyeri hipokondrium kanan . .Murphy’s sign .Palpasi : .

reseksi . Joel J. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic.bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. Otopsi : 15.Kim U. hidrokortison 1%.Dudley HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery.prosedur : lateral internal sfingterotomi..Medikamentosa : . . 10th ed. 1986.K. 11th ed.by pass .salep lokal Ichtamol 10%. 7th ed. Prognosis : Tergantung kausa 16.R. . Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi dan advis makanan 17.kanker dengan metastase : .diet membuat faeces lunak. Wright. Hasil : Ikterus hilang. Kepustakaan : . mencegah kolangitis & kerusakan sel-sel hepar 13.by pass . . Informed Consent : Perlu 11. Boston. 273-290 . 315-336 118 . 1994.353-374 .rendam duduk (Krim 04) . Patologi : Perlu 14. Masa Pemulihan : 1-2 minggu 12.stent (ERCP) Untuk tumor Klatskin : .Operasi : .stent Untuk striktura saluran bilier : . .Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Bristol. Little Brown & Coy.by pass . 1991. p. . 8. 1988. : Jaundice in Maingot’s Abdominal Operations. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9. 10th ed Prentice Hall International Inc. Prentice Hall inc.ERCP pro dilatasi .minum banyak.Condon RE. p.p. Penyulit Cholangitis Sepsis 10.

Prolaps rekti . Penyulit : Anemia 10. .Perkusi : . . Diagnosis : I84.Auskultasi : . .Pembedahan / Terapi .tonjolan terasa nyeri (untuk hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis).prolaps yang berasal dari tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya. . . . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Pemeriksaan Penunjang : 6.sodium morbuat / tetradesil sulfat 0.25-0.Proktoskopi : untuk mengetahui derajat dan lokalisasi hemorrhoid.Palpasi : .Inspeksi : prolaps tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.Pemeriksaan Klinis : . . Konsultasi : 7.berak darah segar tanpa nyeri . . Informed Consent : Perlu 119 .50 ml.Colok dubur : untuk mengetahui apakah ada kelainan lain. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Hemorrhoid asimptomatik tidak perlu pembedahan.Hemorrhoid interna derajat III/IV : hemoroidektomi.1. . 4.dengan obat lokal (suppositoria atau salep) yang mengandung kortikosteroid dan anestesia . Nomor ICD 2.Anamnesa : .Karsinoma rekti 5.disuntik bahan sklerotan : .Hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis : eksisi dan evakuasi trombus.diet yang mengandung serat (buah-buahan segar) .Hemorrhoid interna derajat I/II.fenol oli 5% atau krim uretan 5% dosis 3-5 ml/tonjolan maksimum 15ml.1 : Hemorrhoid 3. 8. Kriteria Diagnosis . Diagnosis Banding .

Masa Pemulihan : 7 hari 12. Philadelphia. JC. 1988. Patologi : 14. Otopsi : 15. Little Brown & Coy. Bailiere Tindall. 7th ed. 695-698 . 1984. p. Rectum Colon. p. Kepustakaan : . 10th ed Appleton & Langes.Condon RE. 1993. Boston. Tindak Lanjut :Follow up poliklinis 17. Hasil : Baik 13.11. : Hemorrhod or Piler – Surgery of the Anus.Golinger. 317-322 . 98-149 . 5th ed. Prognosis : Baik 16.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Rectum and Colon. p. London. p.Williams NS : Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus. London. 295-363 120 . Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. 1994. Saunders Co. Ltd. WB.

PTCD 6. .Palpasi . Kriteria Diagnosis . ERCP.bila peradangan dan sudah ada massa dilakukan terapi konservatif. setelah stadium tenang baru dilakukan kolesistektomi.kadar gula darah. 8. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Penyulit : Kolangitis 10. CT Scan. Pemeriksaan Penunjang : USG.USG.ikterus.Pemeriksaan Klinis : .Pembedahan / Terapi . reasi Heyman v/d Berg. .Auskultasi Pemeriksaan darah : . SGOT. kolestreol. Konsultasi : Interne 7. gamma glucorinyl transferase. triggliserid.CT Scan .Anamnesa - - .nyeri.BOF . tegang perut kanan atas. Otopsi : - 121 . Nomor ICD 2.kolesistektomi terbuka . SGPT.1. Masa Pemulihan : 7 hari 12. Informed Consent : Perlu 11. Pemeriksaan Imaging : . Hasil : Tergantung apakah ada penyulit / tidak 13. Diagnosis Banding : Malignancy 5. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Inspeksi .PTCD : . alkali fosfatase. Diagnosis : K80 : Batu Empedu 3.Perkusi . : ikterus : Murphy’s sign : : 4. .ERCP . tes faal hepar.kolesistektomi laparoskopi. Patologi : 14.

Prentice Hall International Inc. 476-498 . Prognosis : Baik 16. 1990. 1981. 222-224. Joel Rslyn : Cholelithiasis and Cholecystectomy in Maingot’s Abdominal Operation. Kepustakaan : . 1717-1738 122 . Oxford.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 1337-1479 .15. 527-557 . 1991.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. p. Prentice Hall Inc.Joseph A. 10th ed. 9th ed. Blackwell Scientific Publication.Dames SS : Disease of the Liver and Billiary System. Prentice Hall International Inc. 10th ed. Karan.p. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17.p. 6th ed. p. 1997.

dilanjutkan proktoskopi . .pemeriksaan IVP untuk mendeteksi infiltrasi tumor terhadap sistem saluran kemih.Palpasi : . kelenjar para aorta Pemeriksaan pertanda tumor CEA untuk monitoring kekambuhan tumor.Kolonoskopi .Penyakit dalam .untuk mendeteksi kelainan-kelainan didaerah rektosigmoid. Konsultasi . . fleksura hepatika.IVP .Reseksi kolon transversum : untuk tumor di kolon transversum.Ba-enema . Pemeriksaan Penunjang . . Pemeriksaan Radiologis : .Anasthesi 7.0 : Karsinoma Kolorektal 3.Colok dubur : . 4. kolon ascenden.Pembedahan / Terapi .1. Diagnosis Banding : Kelainan-kelainan intralumen pada daerah kolorektal 5. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Nomor ICD 2.Inspeksi : .pemeriksaan foto polos dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru.Pemeriksaan Klinis : .perubahan pola defekasi . . Diagnosis : C18.berak campur darah / lendir .darm contour / darm steifung (bila ada obstruksi) .anemia / kelemahan umum .Auskultasi : tanda-tanda obstruksi (pada keganasan kolon kiri) .USG kalau perlu CT Scan untuk mengetahui penyebaran ke hati.CT Scan 6. Pemeriksaan Imaging : .USG .pemeriksaan Ba-enema dengan kontrast ganda .perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah defekasi.Perkusi : mencari chest board phenomena .Anamnesa - - : .Hemikolektomi kiri : untuk tumor di fleksura lienalis dan kolon descendens 123 .massa di perut kanan bawah / kiri .Hemikolektomi kanan : untuk tumor di sekum. Kriteria Diagnosis .

830-1091. Williams : Surgery of the Anus..metronidasol atau . p.Spiessl B. Penyulit Anemia Hipo albuminemia 10. JC. p. Masa Pemulihan : 7-14 hari 12. Springer Verlag. Hasil : Tergantung stadium tumor 13. Prognosis : Tergantung stadium tumor jenis patologi 16. Chang. Norman S. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. 124 . : Surgery of the Anus.Helena R. 1033-1172 . 1993 p. 1281-1308. 1984. Englewood Cliffs. Rectum Colon. 78-99 . Bailiere Tindall. p.Reseksi anterior : untuk tumor di rektum lebih dari 12 cm dari anus .B. : UICC-TNM Atlas. Schebe O. Prentice Hall. W.Golinger. 1990. London.B. Kirby I. .Reseksi sigmoid : untuk tumor sigmoid . 9th ed. 5th ed. p. Patologi : Harus 14. 1984. Keighley. . Bland : Tumors of the Colon in Maingot’s Abdominal Operation.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation.Michael R.metronidasol 8. 1997. 1982. 267-412 . 1st ed.sefalosporin generasi III . And Wagner G. 10th ed.aminoglikosida. p.Corman ML : Colon and Rectal Surgery. Saunders Co. Rectum and Colon. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis sampai 5 tahun atau 10 tahun 17. Kepustakaan : . Informed Consent : Perlu 11. Otopsi : 15. Prentice Hall International Inc. 426-793 .

9 .USG . Diagnosis Banding . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Masa Pemulihan : - 125 . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.Ikterus obstruktif ok keganasan saluran empedu 5.CT Scan 6.Ikterus obstruktif ok batu empedu .alkoholisme .Anamnesa - : . Konsultasi . Diagnosis : D13. Kriteria Diagnosis . Pemeriksaan Penunjang .ERCP atau PTCD .Untuk kasus metastase : terapi paliatif 8.tanpa ikterus : eksplorasi untuk reseksi atau by pass .Perkusi : .6 : Karsinoma Pankreas 3.dilanjutkan eksplorasi untuk reseksi atau by pass . CA. Informed Consent : Perlu 11.Pemeriksaan Klinis : .9 Pemeriksaan aspirasi jarum halus. 19.dengan ikterus : .Inspeksi : ikterus .Penyakit Dalam .pankreatitis kronis .Pembedahan / Terapi . 4.Ikterus obstruktif ok Stenosi saluran empedu .Palpasi : Courvoisier Sign .diabetes mellitus .Untuk kasus tidak ada metastase : .Anasthesi 7. CA 19. Nomor ICD 2. Penyulit Gangguan faal pembekuan darah Hipo albumin Kolangitis 10.Auskultasi : Pemeriksaan Laboratorium : LFT.Laboratorium : LFT.1.

10th ed. 1997. 5th ed. 1997.12. 1429-1437 .Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Reber : Operation on the Pancreas in Maingot’s Abdominal Operation. p. Mc Graw Hill. p. Hasil : Tergantung apakah tumornya resetabel / tidak 13. prentice Hall Inc. 9th ed.Schwartz SI : Principles of Surgery. 2003-2030 126 . p. Patologi : Perlu 14. John L. Prentice Hall Inc.Howard A. 1977-2002 . Lilleane. Cameron : Pancreatic and Periampullary Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operation. 10th ed. Kepustakaan : . Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17.Keith D. Otopsi : 15. 1989. Prentice Hall International Inc . Prognosis : Tergantung kepada stadium tumor dan tindakan yang dilakukan 16.

unilateral 3. KRITERIA DIAGNOSIS : I. Benjolan didaerah inguinal dapat menetap dan memberikan gejala/keluhan nyeri atau menyebabkan anak/bayi rewel dan menangis c. PERAWATAN RUMAH SAKIT : a. Seringkali terdapat gangguan pasase usus jika terjadi jepitan pada usus dalam kantong hernia 2.40. Limfadenofati inguinal 3.I. KONSULTASI : a. Pemeriksaan Klinis : 1. Cara pengobatan : Dilakukan herniotomi dengan berbagai tehnik c. Pemeriksaan fisik di daerah inguinal dapat terlihat atau teraba benjolan yang timbul hilang atau menetap II. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk tindakan pembedahan : a. Dokter Spesialis Anestesi untuk toleransi pembiusan 7. Macam pengobatan : Tehnik Pembedahan : 1. Terdapat riwayat adanya benjolan yang timbul hilang didaerah inguinal b. Abses inguinal 5. Pemeriksaan fisik umum: Kondisi pasien baik b. Untuk pasien anak usia >1 tahun dapat rawat jalan pra dan pascabedah 8. HERNIA INGUINALIS LATERALIS UNILATERAL 1. Pada Neonatus : herniotomi dengan tehnik Michael Banks tanpa membuka fascia muskulus obliqus abdominalis 127 . DIAGNOSIS : Hernia Inguinalis Lateralis. Pemeriksaan laboratorium : darah rutin 6. Dokter Spesialis Anak untuk toleransi operasi b.9 2. DIAGNOSIS BANDING : 1. Pemeriksaan Penunjang : tidak diperlukan untuk diagnosis 4. Anamnesis : a. Pemeriksaan fisik : a. Pemeriksaan radiologi torak b. PENGOBATAN : a. NOMOR ICD : K. Hidrokel funikuli 2. Tujuan terapi : Untuk pembedahan herniotomi secara berencana dengan persiapan b. Untuk pasien neonatus dan bayi usia < 1 tahun perlu rawat inap pra dan pascabedah b.

Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Dokter Umum d. TEMPAT PELAYANAN : a. Pada bayi dan anak-anak : dikerjakan herniotomi dengan tehnik Pott’s.2. Residif 11. Terapi komplikasi pengobatan : a. OTOPSI : Tidak diperlukan 16. Perawat senior 13. Hematome luka operasi b. HASIL : Tidak terjadi kekambuhan hernia inguinalis 14. PROGNOSIS : Baik 17. Kelas B b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. TINDAK LANJUT : Setelah pasien pulang dari rumah sakit dilakukan evaluasi : 1. Dokter Spesialis Bedah c. MASA PEMULIHAN : Perawatan luka operasi dapat dilakukan oleh : a. Hernia Inguinalis Lateralis pada neonatus : RS. Hernia Inguinalis Lateralis pada bayi dan anak-anak : RS kelas C 10. PENYULIT : a. Hematom : dilakukan evakuasi b. Paskabedah : penilaian penyembuhan luka dan kekambuhan 2. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Dokter Spesialis Bedah Umum dan Chief Residen Ilmu Bedah Umum untuk hernia inguinalis lateralis reponibilis pada anak-anak 9. dengan tehnik membuka fascia muskulus obliqus abdominalis d. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : 1. Dokter Spesialis Bedah Anak untuk operasi Hernia Inguinalis Lateralis reponibilis pada neonatus dan bayi usia kurang dari 1 tahun 2. Residif hernia : dilakukan pembedahan ulang f. Jangka panjang : Kekambuhan dan munculnya hernia sisi lain 128 .

Elektrolit darah c. b.Gangguan evakuasi mekonium dalam kwalitas dan kwantitas dapat merupakan gejala obstruksi intestinalis pada neonatus. 2. Jika terlihat satu gambaran gelembung udara ( single bubble ) berarti ada sumbatan didaerah pilorus. Pada kasus obstruksi intestinal lanjut dapat ditemukan gejala dehidrasi.II. Jika gambaran gelembung udara terlihat kecil-kecil dengan jumlah 3 gelembung atau lebih. Muntah hijau menunjukkan lokasi obstruksi dibawah muara ampulla vater sebagai manifestasi peningkatan empedu yang keluar. 2. Jika terlihat dua gambaran gelembung udara ( double bubble ) berarti ada sumbatan didaerah duodenum. Darah rutin b. Muntah dan distensi abdomen merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada semua jenis obstruksi intestinalis. d. syok hipovolumik. 3.56. Radiologi : a. sepsis sampai peritonitis Pemeriksaan penunjang : 1. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilihat kaliber kolon mulai dari bagian distal sampai proksimal tempat obstruksi kolon dan melihat posisi sekum pada kasus malrotasi. Pemeriksaan Fisik : 1. Muntah tidak berwarna tidak berwarna hijau namun jumlahnya lebih dari 25 cc menunjukkan sumbatan / obstruksi pada pintu kaluar lambung ( gastric outlet obstruction ).Foto polos abdomen posisi tegak merupakan penunjang diagnosis paling bermanfaat : a. DIAGNOSIS : Obstruksi saluran pencernaan pada neonatus 3. Pada obtruksi intestinalis segmen tengah dari saluran pencernaan umumnya mekonium dapat keluar namun jumlahnya sedikit. c. Analisa gas darah 129 . 2. b. Gejala muntah pada neonatus harus dianggap sebagai manifestasi obstruksi intestinalis sampai dapat dibuktikan secara klinis dan penunjang diagnosis tidak ditemukan. artinya obstruksi daerah yeyunum atau illeum. OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN PADA NEONATUS 1. Obstruksi usus distal akan memperlihatkan gambaran distensi usus halus maupun kolon secara segmental atau keseluruhan. Laboratorium : a. Jika pada usus bagian distalnya terlihat gambaran udara itu berarti obstruksinya perineal.6 2. Terlihat distensi abdomen yang massive pada obtruksi intestinal distal sedangkan pada obstruksi intestinal tinggi distensi hanya terlihat didaerah epigastrium dan biasanya hilang setelah dipasang pipa lambung. NOMOR ICD : K. KRITERIA DIAGNOSIS : Pemeriksaan Klinis : Anamnesis : 1.

Dokter Spesialis Anak : untuk toleransi pembedahan b.4. DIAGNOSIS BANDING : 1. RS. MASA PEMULIHAN : a. PENGOBATAN : a. Waktu pengobatan : Segera setelah dignosis ditegakkan e. Small left colon syndrome 5. Kelas B untuk pelayanan pembedahan b. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Penyakit Hirshsprung’s 3. KONSULTASI : Tidak diperlukan untuk diagnosis Konsultasi sebelum pembedahan : a. Atresia intestinalis : Gastric outlet. Mekonium Plug Syndrome 4. anorektum. jejunoileal. RS. Kelas C untuk penatalaksanaan awal 10. Laboratorium 6. Cara pengobatan : 1) Intestinal dekompresi pada obstruksi non mekanis 2) Laparotomi eksplorasi untuk mengatasi obstruksi mekanis c. PENYULIT : Sepsis 11. Dengan komplikasi di rawat di Ruang Perawatn Intensif 130 . TEMPAT PELAYANAN : a. Dokter Spesialis Anastesi : untuk toleransi pembiusan 7. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. duodenum. Macam pengobatan : Tergantung jenis penyebab obstruksi saluran pencernaan d. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Kelas B 8. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perforasi dan peritonitis dilakukan laparotomi eksplorasi 2) Sepsis dilakukan perawatan intensif f. Tanpa komplikasi dapat di rawat di ruang biasa b. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dokter Spessialis Bedah jika tanpa komplikasi 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk penatalaksanaan awal 9. Mekonium ileus 5. Tujuan terapi : Mengatasi obstruksi saluran pencernaan b. kolon dan rektum. Radiologi b. 2.

PATOLOGI : Diperlukan 15. HASIL : Tergantung kondisi awal saat pasien datang 14.13. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. OTOPSI : Diperlukan 16. TINDAK LANJUT : Setelah pasien di pulangkan pasien kontrol untuk evaluasi pascabedah dan pasca perawatan 131 .

1 2. Dengan pemeriksaan rektum dapat dibrdakan. Nyeri sistemik intermitten merupakan gejala paling sering menyebabkan bayi dibawa ke dokter 5.56. Intussusepsi lanjut dapat juga terlihat prolaps intussuseptum melalui anus sehingga seringkali sulit dibedakan dengan prolaps mukosa rektum. Umumnya tanpa keluhan nyeri. Distensi abdomen kadangkala terlihat pada kasus intussusepsi lanjut atau telah terdapat komplikasi seperti perforasi usus 2. 132 .000 mm3) dan pergeseran sel ke kiri(shift to the left). NOMOR ICD : K. laboratorium 6. yang terlihat adanya peningkatan produksi cairan lambung yang berwarna seperti empedu. Pemeriksaan Penunjang Medis : Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium akan didapatkan gambaran leukositosis (>20. Pada perabaan dinding abdomen yang masih lembut umumnya dapat diraba massa berbentuk sosis pada kwadran kanan atas dan ditemukan pada hampir sebagian besar pasien intussusepsi yang datang lebih awal 3. pada prolaps karena intussusepsi teraba ada celah diantara bagian usus yang prolaps dengan mukosa anorektum 5. Dapat terlihat pada saat serangan bayi menangis sambil kakinya ditarik. Intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan secara klinis dengan obstruksi usus mekanis oleh penyebab lainnya sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang medis seperti radiologi. Muntah ditemukan pada 90% bayi dengan intussusepsi dan kadangkala juga terlihat dehidrasi 7. Kondisi pasien secara umum lebih memburuk. Gejala intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan dengan gejala obstruksi intestinalis lain. wajahnya pucat seperti dalam keadaan sakit berat dan keadaan ini dapat berlangsung sekitar 20 detik selanjutnya bayi terlihat normal kembali. 2. Serangan dan gambaran seperti ini dapat terulang lagi dengan interval waktu 1 sampai 2 jam 6. DIAGNOSIS : Intussusepsi 3. Sedangkan intussusepsi dengan lead point dapat terjadi pada semua usia. demikian juga pada intussusepsi pascabedah umumnya terjadi setelah 2-5 hari kemudian dengan meningkatnya produksi NGT disertai dengan memburuknya kedaan pasien tanpa penyebab yang jelas. terdapat riwayat gastroenteritis dan atau infeksi saluran nafas sebelumnya 4. Intussusepsi idiopatis merupakan kelainan paling sering ditemukan pada bayi usia 6-8 bulan (sekitar 50-85% kasus).III. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. 3. INTUSSUSEPSI 1. Intussusepsi pasca bedah abdomen dan toraks umumnya terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5 setelah pembedahan. Pemeriksaan rectum kadang-kadang dapat diraba pseudoportio dari ujung distal intussuseptum dan pada sarung tangan terdapat darah dan atau lendir 4. Intussusepsi khas didapatkan pada bayi sehat dengan gizi baik. Keluhan defekasi berdarah yang khas “ Current jelly stool” didapatkan pada 50% kasus intussusepsi Pemeriksaan fisik : 1.

Terapi komplikasi pengobatan : a. Perforasi : dengan laparotomi eksplorasi b. reduksi dengan tekanan hidrostatis : enema barium. Sepsis : dengan laparotomi eksplorasi dan perawatan intensif f. foto torak b. Radiologi. Spesialis Bedah Anak 133 . 4. Cara pengobatan : 1) tanpa operasi. Divertikulitis c. Obstruksi saluran pencernaan b. Macam pengobatan : 1) Reduksi intussusepsi tanpa operasi. Spesialis Bedah b. Dengan enema barium akan terlihat lokasi intussusepsi terutama jika terdapat ileosekokolokolikal intussusepsi sedangkan intussusepsi ileoileal sulit ditegakkan diagnosis dengan cara ini. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk persiapan pembedahan : a. Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen posisi AP tegak dianjurkan jika gejala klinis belum mendukung karena fase awal akan terlihat gambaran distribusi udara dalam usus lebih banyak pada sisi kiri abdomen sedangkan gambaran udara usus sisi abdomen kanan menghilang.Radiologi : 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Harus dirawat di RS Kelas B atau RS. Tujuan terapi : 1) melakukan reduksi segmen usus yang mengalami intussusepsi 2) mengatasi komplikasi b. bila tanpa kontraindikasi 2) Reduksi manual dengan operasi d. 2. Kelas C 8. Fissura anus 5. udara 2) dengan operasi : laparotomi eksplorasi c. Enteritis hemorrhagika d. Untuk pembedahan konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. laju endap darah. KONSULTASI : a. DIAGNOSIS BANDING : a. leukosit darah. Laboratorium: hemoglobin darah. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : a. Gambaran kontras akan memperlihatkan adanya “cupping” seperti gambaran huruf “U” terbalik didaerah intussusepsi dan intussuseptum dari kolon. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Untuk diagnosis dan terapi non operatif konsultasi Dokter Spesialis Radiologi b. PENGOBATAN : a. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilakukan pada kasus tanpa komplikasi atau gejala klinis belum jelas. analisa gas darah 6.

Dokter Spesialis Bedah iii. Reduksi non operatif. HASIL : Pasien pulang dengan kondisi baik dalam fungsi usus dan defekasi 14. TEMPAT PELAYANAN : a. Pascabedah : 1) Infeksi pascabedah 2) Sepsis 3) Ileus berkepanjangan 11.9. PATOLOGI : Jika ditemukan leadpoint diperiksakan patologi anatomi 15. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah iv. RS. Kelas B: intussusepsi dengan komplikasi b. rawat inap 7 – 10 hari dilakukan oleh i. TINDAK LANJUT : Pasien harus dilakukan evaluasi setelah pulang dari rumah sakit untuk follow up 134 . MASA PEMULIHAN : a. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. diperlukan rawat inap untuk observasi selama 2-3 hari dirawat oleh : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah b. Prabedah : 1)Perforasi 2)Sepsis b. Perawat senior 13. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa penyebab yang jelas 16. PROGNOSIS : 1) Baik jika tanpa komplikasi 2) Jelek jika terdapat komplikasi 17. RS. Dengan reseksi usus halus dan atau usus besar. PENYULIT : a. Pascabedah reduksi manual tanpa komplikasi rawat inap 5 – 7 hari dilakukan oleh : 1) Dirawat Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dirawat Dokter Spesialis Bedah 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 4) Perawat Senior c. Dokter Spesialis Bedah Anak ii. Kelas C : intussusepsi tanpa komplikasi 10.

vestibulun vagina sehingga mekonium tampak keluar melalui tempat tersebut. Tidak mempunyai lubang anus pada bayi baru lahir sehingga tidak terdapat evakuasi mekonium. 3. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. 42. 2. DIAGNOSIS BANDING : Tidak diperlukan 5. Radiologi : 1. Radiologi : Foto Cross table abdominal foto. Untuk diagnosis tidak diperlukan konsultasi b. Terdapat keluhan mekonium keluar bersama-sama saat pasien kencing atau keluar didaerah perineum dan atau vagina karena adanya fistula. Laboratorium : 1) Hemoglobin darah 2) Laju endap darah 3) Leukosit darah 4) Faal hemostasis 5) Albumin darah dan total protein ii. Untuk pembedahan konsultasi : 1) Dokter Spesialis Anak 2) Dokter Spesialis Anestesi 7. Foto tulang belakang 6. 2. NOMOR ICD : Q. ANUS IMPERFORASI : 1.IV.3 2. Foto toraks 2. Laboratorium : pemeriksaan urine lengkap 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan penunjang prabedah : i. sering ditemukan fistule rektum ke perineum. Bayi usia lebih dari 24 jam secara klinis akan memperlihatkan gambaran obstruksi intestinalis rendah 3. anus tidak ditemukan pada tempat yang seharusnya. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengetahui kelainan congenital lain yang menyertai anus imperforasi Pemeriksaan penunjang : 1. muntah hijau Pemeriksaan fisik : 1. Pada pemeriksan fisik daerah perineum. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Perlu rawat inap 135 . Gejala obstruksi intestinalis rendah seperti abdomen kembung. KONSULTASI : a. DIAGNOSIS : Anus Imperforasi 3. posisi prone 4. Distal colostogram 3.

Kelas B untuk Anoplasti b. Perdarahan tempat operasi b Retraksi anus c. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa sebab yang jelas 136 . RS Kelas C untuk kolostomi 10. RS. tanpa komplikasi pascabedah 14. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan. Prolaps anus d.8. MASA PEMULIHAN : 1) Pascabedah kolostomi dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk kolostomi 2) Dokter Spesialis Bedah Anak untuk Anoplasti 9. Inkontinensi anus 11. Dokter Spesialis Bedah. PENYULIT : a. Cara pengobatan : 1) Pengobatan sementara dengan kolostomi 2) Pengobatan definitive dengan anoplasti c. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. PENGOBATAN : a. HASIL : Diharapkan pasien dapat defekasi kontinens. Macam pengobatan : 1) Pembuatan kolostomi terpisah (divided colostomy) jika diperlukan 2) Pembuatan anus dengan tehnik Postero sagittal anorectoplasy (PSA) d. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. TEMPAT PELAYANAN : a. dan hemoglobin pasien memenuhi syarat untuk pembedahan definitive berencana e. Perawat Senior 2) Pascabedah Anoplasti dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Anak. dilakukan kolostomi atau anoplasti 2) Setelah usia. berat badan. Tujuan terapi : 1) Terapi awal untuk pengalihan sementara saluran pembuangan melalui kolostomi jika diperlukan 2) Terapi definitive untuk pembuatan lubang anus dengan tehnik anoplasti b. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan pada saat kolostomi atau anoplasti dilakukan reoperasi 2) Retraksi anus atau kolostomi dilakukan reparasi ulang 3) Prolaps anus atau kolostomi dilakuakn reparasi 4) Skinrash karena iritasi kulit diberikan local proteksi dengan zinksalf f.

16. PROGNOSIS : Baik jika pengelolaan awal dan lanjut sesuai prosedur 17. TINDAK LANJUT : 1)Setelah pasien pulang dilanjutkan dengan businasi dan dilatasi anus sampai kaliber sesuai usia pasien dilakukan kontrol dan evaluasi secara rawat jalan 2) Penutupan kolostomi dilanjutkan dengan dilatasi dan businasi anus sampai kaliber sesuai dengan usia dengan frekwensi sesuai skedul 3) Toilet training sampai pasien defekasi kontinens melalui evaluasi sesuai sistim skoringnya 137 .

Terdapat obstruksi intestinalis parsial berulang b.Udara tidak mencapai cavum pelvis 138 . Muntah hijau d.Foto polos abdomen 3 posisi anterior-posterior (AP). Evakuasi mekonium terlambat lebih dari 24 jam b. Gangguan defekasi berlanjut.1 2. PENYAKIT HIRSCHSPRUNG’S 1. Distensi abdomen 2. Tanda dan gejala sepsis dan septik syok Pemeriksaan penunjang : A. DIAGNOSIS : Penyakit Hirschprung’s 3. Diare berulang 3. Malnutrisi 5.Gambaran obstruksi usus akut / khronis . Perut buncit 3. Konstipasi khronis : a. Dehidrasi sampai syok 2. konstipasi e.V. Muntah-muntah c. Tidak bisa mengedan 4. Sepsis Pada anak lebih besar : 1.43. Foto polos abdomen : gambaran obstruksi usus rendah . Diare khronis atau akut b. Distensi abdomen d. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : Pada bayi baru lahir dan usia beberapa minggu : 1. Perut kembung c. Fekaloma Pemeriksaan fisik : 1. Perut kembung c. Konstipasi sebagai gejala pokok 2. Tanda dan gejala dehidrasi 3. Terdapat tanda-tanda obstruksi Intestinalis akut: a.Radiologi : 1. Enterokolitis akut atau khronis : a. NOMOR ICD : Q. Demam e. Tanda dan gejala enterokolitis akut 4. lateral dan tengkurap akan memperlihatkan : .

Cara pengobatan : 1) Tindakan awal dikerjakan kolostomi untuk diversi feses sementara 2) Tindakan definitive tarik terobos retrorektal prosedur Duhamel modifikasi dengan stapler 139 . Fissura anus e. Biopsi daerah anorektum untuk pemeriksaan patologi anatomi diperlukan jika diagnosis klinis dan penunjang radiologi belum memberikan diagnosis definitif 4. Biopsi rectum b.Gambaran lipatan mukosa kolon ( transversal fold ) B. Untuk diagnosis : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi 2) Konsultasi Dokter Spesialis Patologi Anatomi b.Gambaran daerah rektum yang menyempit. Anak lebih besar . Mekonium plug syndrome b. Manometri rectum 6.3. retardasi mental b. PENGOBATAN : a. Stenosis anus c. Prematuritas d. Bayi baru lahir dan usia beberapa minggu . Foto dengan kontras : Enema barium memperlihatkan : . a. Laboratorium untuk diagnosis tidak diperlukan C. . Konstipasi oleh karena berbagai penyebab seperti : hipotiroid. Fisura anus f. Enterokolitis netrotikans e. Tujuan terapi : Membuat fungsi defekasi pasien kembali mendekati normal b. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Dilakukan jika diagnosis klinis dan radiologi belum memberikan kepastian diagnosis : a. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. Untuk Tindakan dan perawatan : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Anak 2) Konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Anterior anus 5. daerah proksimal yang dilatasi dibatasi daerah transisi. Hipotiroid 2. DIAGNOSIS BANDING : 1. KONSULTASI : a. a. Stenosis anus c. Tumor anorektum d.

TEMPAT PELAYANAN : a. Untuk diagnosis b. Dokter Spesialis Bedah c. dilakukan reoperasi untuk menghentikan perdarahan 2) Enterokolitis. Kelas C untuk tindakan dan perawatan awal 10. Perawat senior 13. HASIL : Pasien dapat defekasi spontan dan kontinen 14. Menentukan demarkasi usus yang aganglioner dan yang berganglion 15. RS. berat badan. untuk diagnosis. PATOLOGI : Diperlukan untuk : a. laboratorium dan toleransi operasi d. Enterokolitis b. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. PENYULIT : a. pemberian antibiotika dan kolonrektal washing 3) Gangguan defekasi. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12.c. Kelas B untuk tindakan defnitif b. kolostomi dan perawatan awal 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan dilakukan kolostomi 2) Setelah persyaratan operasi definitive terpenuhi dilakukan Prosedur Duhamel e. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Spesialis Bedah Anak.tindakan kolostomi dan terapi definitive 2) Spesialis Bedah untuk diagnosis. Inkontinensi alvi 11. dengan regulasi defekasi melalui pengaturan diet dan obat pencahar f. Obstivasi khronis c. untuk perawatan awal dan kolostomi 9. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan. Macam pengobatan : 1) Kolostomi sigmoid jika memungkinkan 2) Leveling kolostomi pada kasus yang tidak tegas segmen kolon yang aganglioner 3) Laparotomi pada Penyakit Hirschsprung’s neonatus dengan gejala obstruksi total 4) Prosedur Duhamel setelah memenuhi syarat dalam usia. MASA PEMULIHAN : Dilakukan perawatan pascabedah oleh : a. RS. OTOPSI : Diperlukan pada kematian pasien Penyakit Hirschsprung’s yang tidak disebabkan langsung oleh tindakan maupun komplikasi dalam pengelolaannya 140 . fisik.

TINDAK LANJUT : Pasien kontrol rawat jalan untuk follow-up fungsi defekasi. jika pengelolaan sesuai dengan prosedur.16. dan pasien datang pada saat belum terdapat komplikasi 17. PROGNOSIS : Baik. adanya penyulit dan perlunya tindakan revisi pembedahan 141 .

pipi kemerahan.000 mm3) dengan pergeseran sel kekiri namun demikian hasil pemeriksaan leukosit normal dapat ditemukan pada anak dengan apendisitis. jika abses terlokalisir dalam rongga peritoneum teraba massa dengan palpasi bimanual dari dinding abdomen dan pemeriksaan rectum. Wajah nampak pucat. sedangkan jika hasil pemeriksaan leukosit mencapai 20.Obturator dan psoas sign sebagai petunjuk lain terdapat proses keradangan didaerah posterior lokasi apendiks namun jarang ditemukan pada anak-anak.Pada pemeriksaan abdomen. 2.Mual dan muntah terjadi setelah timbul gejala nyeri perut. 6.Tanda-tanda “rebound tenderness rigiditas” dinding abdomen muncul jika telah terjadi perforasi apendiks. Umumnya hasil pemeriksaan urine normal pada apendisitis pada beberapa kasus apendisitis dapat ditemukan sel darah merah dan atau sel darah putih pada sidemen urine Pemeriksaan radiology atau ultrasound : Untuk gejala apendisitis tertentu membutuhkan pemeriksaan radiology dan atau ultrasound ( USG ) seperti : 1.Tanda peritonitis umum yang lebih menonjol pada pemeriksaan abdomen terdapat nyeri perut yang menyeluruh dan seluruh dinding abdomen mengalami rigiditas. 7. seringkali sulit dibedakan dengan gejala gastroenteritis. Urinalisis Perlu diperiksa jika terdapat gejala klinis yang sulit dibedakan dengan infeksi saluran kencing. anak mengalami demam dengan suhu axilla diatas 38 derajat celcius 2. ditemukan pada 10% kasus dapat 142 . KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. kadang-kadang anak lebih besar terdapat gejala anoreksia sehingga semakin menyulitkan diagnosis.Nyeri perut daerah periumbilikus 2.Pemeriksaan palpasi abdomen ditemukan titik nyeri daerah “Mc Burney’s 4. Pemeriksaan fisik : 1. DIAGNOSIS : Appendisitis Akut 3. kadangkala dapat diraba adanya massa atau pembentukan abses. Foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran mass effect akibat hilangnya gambaran gas di daerah abdomen kanan bawah. Darah Umumnya ditemukan leukositosis (11.Agak sulit berjalan dan tungkai kanan terlihat fleksi pada saat tiduran 3. 5.35. abdomen distensi dan tegang.Selanjutnya nyeri perut berpindah kedaerah kwadran kanan bawah abdomen (daerah Mc Burney) 3.Pemeriksaan rectum dilakukan jika penemuan gejala seperti diatas masih belum dapat membantu diagnosis apendisitis.VI. 8.9 2. APPENDISITIS AKUT 1. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium : 1. NOMOR ICD : K. bibir terlihat kering. pada pemeriksaan ini akan ditemukan tenderness kearah kanan dinding rectum.000 mm3 dengan gejala klinis minimal untuk apendisitis kemungkinan disebabkan keadaan lain.000-15.

Untuk diagnosis : konsultasi Dokter Spesialis Anak b. Laboratorium : 1) Darah rutin : Leukosit darah dan Laju endap darah (LED). sickle cell crisis. Apendiktomi anterograde b. Tujuan terapi : Menganggkat apendiks vermiformis b. c. Cara pengobatan : Melalui tindakan pembedahan. Enema barium perlu dikerjakan pada anak dengan nyeri perut berulang tanpa gejala penyerta yang jelas. d. Gastroenteritis : Gejala muntah dan diare mendahului gejala sakit perut pada umumnya tidak ditemukan nyeri perut terlokalisir di daerah abdomen bagian bawah. 4. apendiktomi c. pnemonia paru kanan lobus bawah. Apendiktomi retrograde d. b. 3. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan rutin pada anak dengan gejala klinis minimal atau anak yang gemuk.terlihat gambaran fekolit (feses yang mengeras sebagai penyebab sumbatan obstruksi lumen apendiks) 2. intususepsi. KONSULTASI : a. Untuk pembedahan: konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. regional enteritis. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. namun dapat dibedakan dari proses nyeri perut yang tidak didahului oleh nyeri perut klasik didaerah umbilicus. 5. Ultrasound/USG dapat terlihat ukuran apendiks lebih besar dari normal disertai gambaran abses periapendikuler atau tumpukan abses di daerah rongga pelvis. PENGOBATAN : a. Beberapa kasus lain seperti infeksi saluran kencing dan infeksi Mackle’s divertikulum. Konstipasi : Massa feses yang teraba pada pemeriksaan palpasi abdomen dan pemeriksaan rectum dapat membedakannya dengan apendisitis. Tanda-tanda apendisitis akut akan terlihat gambaran barium yang menunjukkan penyempitan lumen apendiks dan tiba-tiba terhenti (cut off) akibat adanya obstruksi. Macam pengobatan : a. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan dan pasien memenuhi sayarat untuk pembedahan 143 . PEMERIKSAAN PENUNJANG : Prabedah : a. Radiologi : 1) Foto toraks 2) Sonografi appendiks vermiformis 3) Apendikograpi jika diperlukan 6. Penyakit radang panggul : terutama anak dan wanita dapat menyerupai gejala apendisitis. kolesistis kadangkala gejala klinis menyerupai apendisitis. faal hemostasis 2) Urine : sedimen urin b. DIAGNOSIS BANDING : a.

Abses peri apendikulare d. PENYULIT : a. Dokter Spesialias Bedah Anak b. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dapat dilakukan oleh : a. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. Kelas B bila terdapat komplikasi b. Spesialis Bedah Anak b. dengan perawatan luka c. Dokter Spesialis Bedah c. TINDAK LANJUT : Pasien rawat jalan untuk kontrol dan follow-up pascabedah 144 . Terapi komplikasi pengobatan : a. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. OTOPSI : Diperlukan jika kematian pasien tidak jelas penyebabnya 16. HASIL : Pascabedah pasien pulih baik 14. RS kelas C bila tanpa komplikasi 10. Infeksi luka operasi. Infeksi luka operasi c. Spesialis Bedah c. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 9. Sepsis prabedah dan pascabedah 11. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. RS. Perforasi appendicitis akut b. dengan relaparotomi f. Abses intraperitoneal. PATOLOGI : Diperlukan untuk konfirmasi 15. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Perdarahan. Perawat senior 13. TEMPAT PELAYANAN : a.e. dilakukan reoperasi b.

Keadaan umum bayi buruk b. Untuk diagnosis tidak dibutuhkan pemeriksaan penunjang b. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : a.Faal hemostasis. Cara pengobatan : Pasien dilakukan pembedahan dengan persiapan minimal untuk penutupan defek dinding abdomen dan pascabedah mendapat perawatan intensif dengan alat bantu pernafasan c. Untuk diagnosis tidak diperlukan b. Terlihat dinding abdomen mengalami kelain 4. Dinding abdomen dan tali pusar yang tidak normal Pemeriksaan fisik : a. PENGOBATAN : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. OMPHALOCELE PECAH DAN GASTROSCHISIS 1. DIAGNOSIS : Omphaloce pecah dan Gastroschisis 3. Untuk tindakan pembedahan dibutuhkan pemeriksaan penunjang : 1)Radiologi : foto torak dan abdomen 2)Laboratorium: Hb. NOMOR ICD :Q. setelah usia. DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada 5. KONSULTASI : a.VII. Macam pengobatan : 1. Penutupan sekunder dengan alat bantu seperti mesh 3.silastik. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan perawatan di rumah sakit prabedah maupun pascabedah 8.kasa steril dll) b. Pembedahan definitif. Waktu pengobatan : 1. Analisa gas darah 6. Tujuan terapi : Untuk mengembalikan organ rongga abdomen yang berada diluar.2 dan Q. Untuk tindakan pembedahan konsultasi: Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anestesi 7. Penutupan definitif d.79. sekaligus menutup dinding abdomen langsung maupun ditutup sementara dengan alat (mesh. Riwayat kehamilan dan persalinan dengan distocia b.beratbadan dan kondisi pasien memenuhi syarat untuk pembedahan berencana 145 . Penutupan primer dinding abomen 2.79. Pembedahan primer dan sekunder dilakukan sebelum usia bayi 12 jam 2.3 2.

Spesialis Bedah c. Kelas B 10. OTOPSI : Diperlukan pemeriksaan otopsi jika pasien meninggal untuk menentukan causa mortis 16. PENYULIT : g.e. Distres pernafasan dengan alat bantu pernafasan b. pasase usus berfungsi baik 14. HASIL : Pasien bisa survive. Kelainan bawaan pada organ lainnya yang terjadi bersamaan h. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. Sepsis j. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk perawatan awal 9. Terapi komplikasi pengobatan : a. Syok hipovolumik k. Distress pernafasan pascabedah i. PROGNOSIS : Du-Boab ad malam 17. TINDAK LANJUT : Pasca perawatan di rumah sakit pasien rawat jalan untuk evaluasi dan follow-up perlunya tindakan lebih lanjut 146 . Gangguan pasase usus dengan relaparotomi dan intestinal dekompresi f. Spesialis Bedah Anak b. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. Dokter Spesialis Bedah f. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dilakukan oleh : c. Gangguan pasase usus 11. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. TEMPAT PELAYANAN : RS. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Dokter Spesialis Bedah Anak e. Intensifis di Ruang Perawatan Intensif d.

M..Rowe.Grosfeld. Aschraft.O’Neil Jr.D.: Jay L.D.. Essential of Pediatric Surgery Mare I. Misouri Copyright 1995 147 .D. St Louis.M. Second Edition.Holder. Inc. Mosby-Year Book. Arnold G. W. Copyright 2000 2.D. Fondkallsrud. M. Saunders Company Philadelphia. James A.B.M.. Pediatric Surgery Keith W. Coran.MD.M.M.Thomas M. Eric W.D..D..Kepustakaan : 1.

Penurunan kesadaran.Orthopedi) 6.I.mual.Keluhan : . Perawatan RS : . muntah. Diagnosis Banding : .CT-Scan kepala : Penderita CKR dengan : .ICD 850 2.Sefal hematoma diameter >5cm.IRD kemudian untuk observasi di IRD lantai 2 atau Instansi Rawat Inap 9.Perdarahan Intra kranial . .Observasi terhadap penyulit yang timbul yaitu: .Vertigo. Terapi : .Anti Emetik .CVA hemoragik dan non hemoragik. . .Anti Vertigo .Simtomatis .Kardio. Nama Penyakit/Diagnosis/ICD : . .Subdural hematum . .Lateralisasi 7. .Pernah tidak sadar/saat ini tidak sadar. kecuali ada penyulit dan perlu operasi (tertulis).Neurologi . Informed Consent : Tidak perlu. nyeri kepala. Konsultasi : . nyeri kepala.Intra cerebral hematum 10.Keluhan bertambah berat. Pemeriksaan Penunjang : . 8.dengan obat-obatan → indikasi CT-Scan kepala. 5. Kriteria Diagnosis : . mesti dengan pemberian obat-obatan. .Kalau ada kelainan: Hipertensi.Epidural hematum .Cidera kepala ringan (CKR) / Commotio Cerebri .Analgetik .Derajat kesadaran.GCS< 15 . mual muntah. Tempat Pelayanan : . 148 . Penyulit : .Foto polos kepala AP & lateral : Penderita CKR dengan : .Lateralisasi. Cedera kepala 1.Cairan infus selama penderita minumnya tidak adekuat. . . gelisah bila memberat walaupun .Gelisah. 4. Patah tulang (Interne.Vulnus apertum dikepala panjang > 5cm .GCS 3. DM.Riwayat cidera kepala.

Residen bedah umum . 2. Narayan RK. Masa Pemulihan : . American Association of Neurological Surgeons: Guidelines for the Management of Severe Head Injury.Tidak perlu 16. 5.Penderita CKR meninggal tanpa kausa yang jelas. McGraw. 34 : 216-222. Carlier PM : Problems with initial Glasgow Coma Scale assessment caused by prehospital treatment of patients with head injuries . Povlishock JT (eds) : Neurotrauma. 3. Journal of Trauma 1993 . Lama Perawatan : .11.Penyulit 5-7 hari 13.hill. Willberger JE.Residen senior bedah . 149 . New York. Kepustakaan: 1.Pulang dengan sembuh total. 4. PA : . et al : The role of secondary brain injury in determining outcome from severe head injury.Dokter umum/Residen . Journal of Trauma 1994 . Klauber MR. Marion DW. 15. American college of Surgeon ATLS . 1996. Head trauma : Chicago Six edition 1997.Ahli Bedah Saraf 12.Bila ada penyulit: .1-2 minggu 14.Perawat yang terlatih .Bila tidak ada penyulit : . Chestnut RM. 1995. Otopsi/Risalah : . Standar Tenaga : . 36 (1) : 89-95. Marshall LF.Ahli Bedah Umum . Output : .Tanpa penyulit 2-5 hari . results of a national survey.

.Benjolan pada pangkal hidung.021 2. Tenaga standar: .Bedah Plastik (pada penderita dewasa) 6. United state of America 1996. Julian R. Informed Consent (tertulis): .Eksisi meningoensefalokel & duraplasti 8.Rawat inap 7. 150 .ICD 5. teratoma.Neurologi . lipoma 4.II.3 hari Kepustakaan: 1. Terapi: .MENINGOENSEFALOKEL . Kriteria Diagnosis: .Foto Ro : Kepala atau Lumbosakral. Penyulit: . Pemeriksaan Penunjang : . Neurological Surgery. Youmans..Kista Dermoid. kebocoran cairan serebrospinal 10. Konsultasi : . Diagnosis Banding : . WB Saunder Company.infeksi.IBS 9.MRI 5. Forth edition .tengkuk atau pinggang bawah sejak lahir. Tempat pelayanan : . Nama penyakit / diagnosis: .Spesialis Bedah Saraf 12. nyeri tekan 3. Lama perawatan: .Ya 11. CT Scan . Perawatan RS: . Meningoensefalokel 1.

Informed Consent (tertulis): .Rawat inap 7. Lama perawatan: . Terapi: . United state of America 1996.Neurology 6. Pemeriksaan Penunjang: . sejak lahir.Makrosefal 4.7 Hari Kepustakaan: 1.023 2.Kepala besar. IV. Perawatan RS: . Forth edition . Nama penyakit / diagnosis: . Penyulit: .III.IBS 9.hematoma intracranial 10.Spesialis Bedah Saraf 12.Ya 11.ICD 5. Tempat pelayanan : .Ro Kepala. 3. Tenaga standar: .V-P shunt 8. Julian R. Kriteria Diagnosis: . Youmans. psikomotor terhambat. WB Saunder Company. Sun set phenomena. Tumor otak 151 . Diagnosis Banding: .HIDROSEFALUS INFANTIL . Konsultasi : . CT Scan 5. Hidrosefalus 1.. vasa kepala prominen. Neurological Surgery.

William and Wuilkins co. WB Saunder Company. defisit Neurologi fokal ( TIK meningkat kronis Progresif) 3. MRI 5. Julian R. CT Scan.Spesialis Bedah Saraf 12. Neurological Surgery.Nyeri kepala. United state of America 1996. muntah. Lama perawatan: . United state of America 1996.IBS 9. tension headache. Nama penyakit / diagnosis: .Ro Kepala. Kinpodo Publising Company.Migrain.3 bulan 14. Kriteria Diagnosis : .Neurologi 6. Tenaga standar: . Penyulit: .Ya Kepustakaan: 1.A. edema serebri. Perawatan RS: . Konsultasi : . Tempat pelayanan : . penglihatan kabur. tuberkuloma 4. SDH kronik. 152 . 3.029 2.Perdarahan. Abses. Terapi: .Ya 11. Ohta Tomio .TUMOR OTAK . P. Japan 1995. The Practice of Neurosurgery.10 hari 13. Youmans. Forth edition .1.: . Masa pemulihan: ..ICD 5. George T. Tindall. 2. infeksi 10.: Illustrated Neurosurgery.Rawat Inap 7. Pemeriksaan Penunjang: . Informed Consent (tertulis): .Trepanasi + reseksi tumor 8. Diagnosis Banding: .

Konsultasi : . Cedera saraf dan medula Spinalis 10.Konservatif 2 minggu : bed rest. Pemeriksaan Penunjang: . Terapi: . HNP 1. WB Saunder Company.: Illustrated Neurosurgery. 153 .Kaudografi . Lama perawatan: . Kriteria Diagnosis: . Tempat pelayanan: . 2. Japan 1995.Robekan duramater. William and Wuilkins co. tes laseque positif 3.803 2. Bila 1) gagal (laminektomi + eksisi HNP) 8. Kinpodo Publising Company. Diagnosis Banding: . Forth edition . Penyulit: . Nama penyakit / diagnosis: . Youmans. fisioth/.Tumor Kauda Equina 4. 3.Rawat inap 7. United state of America 1996. Informed Consent (tertulis): . Julian R. Perawatan RS: .. Neurological Surgery. Tenaga standar: . George T. analgesik 2.Nyeri salah satu tungkai yang menjalar dari pinggang kepaha dan betis.V.Spesialis Bedah Saraf 12.IBS 9.MRI 5. United state of America 1996.Ya 11. The Practice of Neurosurgery.HNP (Hernia Nukleus Pulposus) ICD 5.7 hari Kepustakaan: 1.Neurologi 6. Tindall. Ohta Tomio .

Bedah Onkologi (pada tumor ganas) 6.10 hari Kepustakaan: 1. Perawatan RS: . Nama penyakit / diagnosis: .039 2. Terapi: . George T. kebocoran cairan serebrospinal 10. William and Wuilkins co. The Practice of Neurosurgery. Julian R. 2. Informed Consent (tertulis): . Lama perawatan: . WB Saunder Company.Trauma. Tempat pelayanan : . Penyulit: . Spondilitis 4.eksisi biopsi 9.TUMOR MEDULA SPINALIS .. Forth edition .Spesialis Bedah Saraf 12. CT Scan 5. Youmans.Lumpuh anggota gerak bilateral secara progresif. Tindall. Tumor medulla spinalis 1. Pemeriksaan Penunjang: . paresis tipe UMN 3. Neurological Surgery. United state of America 1996.Laminektomi + reseksi tumor 8.VI. United state of America 1996. 154 .Myelografi. Konsultasi : .Neurologi . Diagnosis Banding: . infeksi.ICD 5.Ya 11. Kriteria Diagnosis: .Perdarahan. MRI. Tenaga standar: .Rawat Inap 7.

: . Tekanan darah.N 20. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.BATU STAGHORN 1. SC <2mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 155 . Asam Urat darah. Nadi. NOMOR ICD 2.BATU KALIKS . SC > 2mg% tanpa kontras.BATU PIELUM . DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu ureter 5. Sedang.BATU KALIKS . DIAGNOSIS 3. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/penderita kurus) 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. UL.I. BUN/SC.BATU STAGHORN : . Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. BATU GINJAL : .USG kurang/tidak informatif.BATU PIELUM . Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis berat/penderita kurus) Teraba tumor kistik.

TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Phyellolithotomy Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A.6. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy) Phyellolithotomy Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy atas pertimbangan khusus 9.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy jika ada fasilitas) Simple/Extended Phyellolithotomy Nephrolithotomy. Bivalve Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. Nephrostomy atas indikasi khusus 156 . B dan RS.

Guidelines on Urolithiasis. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14 -90 hari pascabedah) • Lain-lainnya atas intruksi operator 13.-G. infeksi. Resnick MI. Gallucci M. Heath Care Office. Paris. • Tiselius H. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. Buck C. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. Cambell’s Urology. infeksi. • IDI . Batu Saluran Kemih. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Kambuh (residif) • Contracted kidney (ginjal mengecil) 11. 17. KEPUSTAKAAN • Alken P. Standar Pelayanan Medis. Urinary Lithiasis: Etiology. Eddition 2003. Stone Desease. Ackermann D. Treatment of Renal Stone. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. July 4-5. 1998. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Depkes RI-IDI. Urological Guidelines. 157 . March 2004. 18. Alken P. 2003. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 8th . • Menon M. European Association of Urology. Conort P. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15.10. 2001. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. First International Consultation on Stone desease. Diagnosis and Medical Management. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Vol.(3)..

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. BUN/SC. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 158 . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/pada penderita kurus) 4.1 : .BATU URETER 3.N 20. Tekanan darah. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis berat/pada penderita kurus) Teraba tumor kistik. UL.II. DIAGNOSIS : . USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. Asam Urat darah. SC > 2mg% tanpa kontras. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. NOMOR ICD 2. Nadi. BATU URETER 1. Sedang. SC <2 mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu pielum/kaliks 5. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14-90 hari pascabedah) • Lain-lainnya tergantung instruksi operator 159 . TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Kombinasi Nephrectomy. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Ureterolithotomy 1/3 tengah dan 1/3 atas Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. Nefrostomy atas indikasi khusus 9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Contracted kidney (ginjal mengecil) • Kambuh (residif) 11. B dan RS. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Ureterolithotomy Kombinasi Nephrostomy.8. Nephrectomy atas indikasi khusus 10.

Batu Saluran Kemih. Urological Guidelines. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. Cambell’s Urology. Conort P.-G. Vol. European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • Alken P. infeksi. Urinary Lithiasis: Etiology. infeksi. 2003. Assimos DG et al. Heath Care Office.(3). fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Depkes RI-IDI. First International Consultation on Stone desease. Ackermann D. • IDI . The Management of Ureteral Calculi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. • Segura JW.. 2001. • Menon M. 160 . HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. Eddition 2003.13. Paris. Standar Pelayanan Medis. March 2004. Resnick MI. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. • Tiselius H. Gallucci M. Guidelines on Urolithiasis. Diagnosis and Medical Management. Alken P. Preminger GM. July 4-5. 1997. 1998. Stone Desease. Buck C. American Urological Assosiation. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. 17. 8th . Treatment of Renal Stone.

DIAGNOSIS BANDING : • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • PID untuk wanita dewasa 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Laboratorium DL. Asam Urat darah. 6. KONSULTASI : • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun). UL. 7. Kultur urin dan BS acak untuk umur > 40 tahun • Radiologi BNO/BOF.BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 3. Nadi. DIAGNOSIS : . USG ginjal dan kandung kencing. • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan. Kurus) Lokal Teraba batu (apabila batu cukup besar/penderita kurus) 4. SC > 2mg% tanpa kontras.BATU KANDUNG KENCING . BATU KANDUNG KENCING DAN BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 1.0 : . • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis. BUN/SC. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PERAWATAN RUMAH SAKIT : • Prabedah • Pascabedah 161 .N 21. • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor. NOMOR ICD 2. IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. Tekanan darah. SC < 2mg dengan kontras).III. Sedang. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

8. kombinasi dengan cystostomy atas pertimbangan khusus Diverticulecthomy dan ambil batu. kombinasi dengan cystostomy atas pertinmangan khusus • RS Kelas A dan B (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Vesicolithotomy. PENYULIT : • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. TEMPAT PELAYANAN : • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Vesicolithotomy. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1 hari pascabedah • Pelepasan kateter uretra setelah 7 hari pascabedah (pada vesicolithotomy) • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu/devertikel kandung kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Lithotripsy Vesicolithotomy Diverticulecthomy dan ambil batu Kombinasi 9. INFORMED CONSENT : • Diperlukan 12. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 162 . kombinasi cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10.

1998. Ackermann D. • IDI . 2001. Guidelines on Urolithiasis. Cambell’s Urology.. July 4-5. 18. Resnick MI. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. infeksi. Heath Care Office. Alken P. Batu Saluran Kemih. Diagnosis and Medical Management.-G. • Menon M. Urinary Lithiasis: Etiology. Conort P. March 2004. Urological Guidelines.(3). Stone Desease. Depkes RI-IDI. Standar Pelayanan Medis. infeksi. Treatment of Renal Stone. Gallucci M. KEPUSTAKAAN • Alken P. Buck C. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. European Association of Urology. 2003. • Tiselius H.14. Eddition 2003. First International Consultation on Stone desease. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. PATOLOGI • Batu analisa 15. Vol. PROGNOSIS • Baik 17. 8th . 163 . Paris.

Tekanan darah. NOMOR ICD 2. DIAGNOSIS : . Kultur urin dan BS acak(untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS BANDING • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • Batu kandung kencing 5. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.N 21. BATU URETRA 1. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 164 . Nadi.IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.1 : . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Asam Urat darah. Kurus) Lokal Teraba batu pada uretra Teraba kandung kencing (apabila sisa urin/retensio urin/penderita kurus) 4. Sedang. UL. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6.BATU URETRA 3. BUN/SC.

INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. drong batu kedalam/keluar kandung kencing dan pemasangan kateter uretra (dower catheter).Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10.8. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 14. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. PATOLOGI • Batu analisa 165 . TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Lubrikasi. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Cystostomy atas pertimbangan khusus Lithotripsy Kombinasi 9. vesicolithotomy Cystostomy atas indikasi retensio urin • RS Kelas A. B dan RS. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1 hari pasca-Lithotripsy • Pelepasan cystostomy catheter sesuai operator 13.

PROGNOSIS • Baik 17. 8th . Cambell’s Urology. Alken P. Urinary Lithiasis: Etiology. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. • IDI . First International Consultation on Stone desease. Guidelines on Urolithiasis. infeksi. March 2004. 2003. Conort P. Depkes RI-IDI. July 4-5.. Gallucci M. • Menon M.-G. KEPUSTAKAAN • Alken P. Standar Pelayanan Medis. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Eddition 2003.15. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. Heath Care Office. infeksi. Buck C. 1998. European Association of Urology. Vol. Ackermann D. Resnick MI. Batu Saluran Kemih. 166 . Treatment of Renal Stone. Urological Guidelines. Paris. Diagnosis and Medical Management. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2001.(3). Stone Desease. • Tiselius H.

NOMOR ICD 2.V.N 40 : -BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 3. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan IPSS (International Prostate Symptom Score). Pole atas (Mudah dicapai/Susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 1. DIAGNOSIS BANDING • Batu uretra • Sistitis • Batu kandung kencing 5.7 gejala ringan Jumlah score 8-19 gejala sedang Jumlah score 20-35 gejala berat Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: i. Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. DIAGNOSIS : . Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) ii. terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan memiliki nilai dari 0 sampai 5 sehingga total score maksimal 35 Jumlah score 0. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak 167 . Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) d. UL. Perabaan prostat 1. Nadi. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) e. Tekanan darah. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) c. SC. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) : a. Melihat sekitar anus b. Nodul (Soliter/Multiple) 4.

5 ng/ml o Usia 60-70 tahun: 0-4. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) Pemeriksaan tambahan Uroflometri(optional) o Uroflo > 15 ml/detik kecil kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo < 10 ml/detik besar kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo 10-15 ml/detik sulit utuk mendeteksi obstruksi infravesical Postvoid residual urin (PVD) Prostate Specific Antigen (PSA).5 ng/ml o Usia 50-60 tahun: 0-3.• • Radiologi atas indikasi medis Hematuria ISK Insufisiensi renal Riwayat batu saluran kencing Irwayat pembedahan saluran U-G BNO/BOF. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.5 ng/ml o Usia 70-80 tahun: 0-6. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Dokter Spesialis Bedah) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka 168 .Flow Studies) (optional) 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.5 ng/ml Trans-Rectal Ultra-Sonography (TRUS) (optional) Urodynamic Study (Pressure. rentang kadar PSA dianggap normal berdasar usia o Usia 40-50 tahun: 0-2. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal • Medikamentosa Alpa-Blocker 5 Alpa-Reductase Inhibitor Fitofarmaka • Pembedahan TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) Prostatectomy 9. TERAPI • Tujuan Pola kencing normal/mendekati normal Mencegah komplikasi infeksi.

Ejakulasi retrograde 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Prostat 15. HASIL • Kencing normal/mendekati pola kencing normal 14. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka Pembedahan o TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) o TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) o Prostatectomy 10. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pascabedah • Pelepasan kateter uretra 3-5 hari pasca TURP • Pelepasan kateter uretra 5 hari pasca Prostatectomy • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. PENYULIT 1. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 3.• Pembedahan o Prostatectomy RS Kelas A. Pendarahan 2. Water intoxication. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Disfungsi ereksi 8. Inkontinensia urin 4. perforasi (khusus untuk TURP) 5. Kambuh (residif) 6. Striktura uretra 7. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan kandung kencing baik 169 .

(3). 2003. infeksi dan pola kencing untuk mengetahui kencing normal. Depkes RI-IDI. Lowe FC . inkontinensia urin. Madersbacher S. 18. Guidelines on Benign Prostatic Hyperlasea. European Association of Urology. Basuki Bambang Poernomo.. KEPUSTAKAAN • De la Rosseta J. Pembesaran Prostat Jinak. dkk. • Lepor H. Heath Care Office. Urological Guidelines. Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia BPH) di Indonesia. et al .untuk mengetahui karsinoma prostat.17. Alivisator G. Akmal Taher. Cambell’s Urology. • Sunaryo Hardjowijoto. infeksi saluran kencing. tidak normal/inkontinensia • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 170 . disfungsi ereksi. striktura uretra dan rectal toucher. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2003. 8th . Evaluation and Non-Surgical Management of Benign Prostatic Hyperplasea. Standar Pelayanan Medis. • IDI . Vol. 1998. March 2004.

C 61 : . Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) o BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) o Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) o Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) untuk mencari irigularitas. DIAGNOSIS BANDING • Pembesaran Prostat a. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan adanya keluhan karena pembesaran prostat dan metastase ke tulang pelvis. kekerasan dan nodul pada prostat yang mengarah pada karsinoma prostat: o Melihat sekitar anus o Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: iii. DIAGNOSIS : . Kandung kencing neurogenik 171 . NOMOR ICD 2. Fraktur patologis b. Batu kandung kencing • Metastase tulang a. KARSINOMA PROSTAT (ADENO CARCINOMA PROSTATE) 1. Nadi. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) iv. Sistitis c. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Pole atas (Mudah dicapai/susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. collumna vetebra dan lain-lain Riwayat penyakit/keluarga adanya tumor saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Perabaan prostat 1.VI. Tekanan darah. Batu uretra b.KARSINOMA PROSTAT (ADENOCARCINOMA PROSTATE) 3. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5.

Bone survey d. ISK c. Hematuria b. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak PSA (kalau perlu Free PSA) • Radiologi a. Insufisiensi renal d. BNO/BOF dan USG Ginjal dan Kandung kencing b. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pengobatan dengan Hormonal a) Flutamid b) LH. SC <2 mg% dengan kontras) • Biopsi prostat dan pemeriksaan PA 6.5. Riwayat pembedahan saluran U-G f. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Pola kencing normal/mendekati normal d) Mencegah komplikasi infeksi. SC > 2mg% tanpa kontras. USG Transrectal(Optional) c. Bone scanning (optional) • Radiologi lain atas indikasi medis a. Riwayat batu saluran kencing e. Rh antagonis c) Subcapsuler Orchidectomy d) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) • Pembedahan atas indikasi obstruksi karena pembesaran Prostate Disobstruksi Prostat a) TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) b) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) 172 . Metastase tulang IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan Ambomen(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif . UL.

PATOLOGI • Prostat 173 . Striktura uretra 5. Obstruksi saluran kencing (hydronephrosis. retensio urin) 11. 14. Pendarahan 2. Water intoxication dan perforasi (khusus untuk TURP) 7. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. HASIL • Kuratif Bebas tumor Dapat kencing normal/mendekati pola kencing normal Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 6. dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pasca TURP • Pelepasan kateter 3-5 hari pasca TURP • Lain-lain atas instruksi operator 13. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Pengobatan dengan Pemasangan kateter uretra (Dower catheter) apabila retensio urin Hormonal • RS Kelas A.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pengobatan dengan Hormonal Pembedahan a) Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) b) Disobstruksi Prostat Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 10. PENYULIT 1. Inkontinensia urin 3. Disfungsi ereksi 4. B dan RS. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.• • Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.

8th . March 2004. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. • IDI . • Carter HB. • Tumor residif/recurent dan metastase. KEPUSTAKAAN • Aus G. Depkes RI-IDI.(3). Heidenreich A. 19. Partin AW . Vol. Cambell’s Urology.15. disfungsi ereksi Striktura uretra. 1998. Karsinoma Prostat. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 174 . infeksi saluran kencing. Guidelines on Prostate Carcer. Diagnosis and Staging of Prostate Cancer. European Association of Urology. Standar Pelayanan Medis. Urological Guidelines. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2003. Heath Care Office. infeksi dan pola kencing • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. fungsi ginjal dan rectal toucher.Abbou CC.

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. BUN/SC. • Radiologi BNO/BOF. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. Nadi. TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 1. UL. DIAGNOSIS : -C 64 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.VII. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup 175 . Tekanan darah. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas satu sisi Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 3. NOMOR ICD 2. KONSULTASI • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.

PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. OTOPSI Tidak diperlukan 16.• • • • Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. 14. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 176 . HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. B dan RS. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10.

Urological Guidelines. 177 . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Cambell’s Urology. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.Renal Tumor. Tumor Ganas Ginjal (Wilm’s).17. Depkes RI-IDI. 1998. March 2004. Carballido J. European Association of Urology. Vol. Cambell SC .M) dengan CT Scan 18. infeksi. • Novick AC. Hillsten S. et al . 2003. 8th . KEPUSTAKAAN • IDI . • Mickisch G. Standar Pelayanan Medis.N. Heath Care Office. Guidelines on Renal Cell Carcer.(3).

DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5.TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 3. • Radiologi BNO/BOF. BUN/SC. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. UL. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.VIII. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Tekanan darah. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal 178 . TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 1. Nadi. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS : .C 64 : .

• • • • Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 179 . B dan RS. OTOPSI Tidak diperlukan 16. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. 14.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10.

European Association of Urology. Guidelines on Renal Cell Carcer. et al . Urological Guidelines. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. 180 .17.M) dengan CT Scan 18. Carballido J. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Cambell SC . 8th . KEPUSTAKAAN • IDI . March 2004. 1998. 2003. Vol. Heath Care Office.(3). infeksi.N. Cambell’s Urology.Renal Tumor. Tumor Ganas Ginjal (Grawitz). • Mickisch G. Standar Pelayanan Medis. Depkes RI-IDI. • Novick AC. Hillsten S.

BUN/SC. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS : . TUMOR KANDUNG KENCING(TRANSISIONAL CELL CARCINOMA) 1. DIAGNOSIS BANDING • Hematuria oleh berbagai sebab • Blood clot retension oleh berbagai sebab 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.IX. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.TRANSISIONAL CELL CARCINOMA BULI-BULI 3.C 67 : . Nadi. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor 181 . NOMOR ICD 2. batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. UL. Tekanan darah. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tampa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran kencing.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13.• • • • b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan proses miksi dan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dan pola kencing dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.B dan RS. 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI Tidak diperlukan 182 . PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. PATOLOGI • Tumor buli-buli 15. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.

Standar Pelayanan Medis. Cambell’s Urology. March 2004. Tumor Ganas Buli. Urological Guidelines. Guidelines on Badder Carcer. Jakse G. 183 . • Jiminez VK. European Association of Urology.N. 8th . 1998. Marshall FF . Surgery of Bladder Cancer.(3).M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. infeksi. Depkes RI-IDI. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. 2003. KEPUSTAKAAN • IDI . Heath Care Office.16. Vol. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. et al . • OosterlinckW. Lobel B. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.

DIAGNOSIS BANDING • Masa solid abdomen bawah • Hematuria oleh berbagai sebab • Streng ileus dengan masa abomen bawah 5. DIAGNOSIS : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 184 . BUN/SC.ADEO-CARCINOMA BULI-BULI 3. UL. Tekanan darah. Nadi. NOMOR ICD 2. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4.X. TUMOR KANDUNG KENCING(ADENO-CARCINOMA) 1. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tanpa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat gangguan fungsi usus/ileus Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran cerna dan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.C 67 : .

B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.8. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguang fungsi ginjal dan saluran cerna Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy partial Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PATOLOGI • Tumor buli-buli 185 . HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. 14.

Urological Guidelines.N. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Surgery of Bladder Cancer. European Association of Urology. Tumor Ganas Buli. Depkes RI-IDI. OTOPSI Tidak diperlukan 16. 186 . 1998. et al . Cambell’s Urology. Standar Pelayanan Medis. Guidelines on Badder Carcer. Marshall FF . 8th . • OosterlinckW.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. Lobel B. 2003. Jakse G. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. March 2004. KEPUSTAKAAN • IDI .(3).15. • Jiminez VK. Heath Care Office. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. infeksi. Vol.

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Luka kronis/tumor seperti bunga kol pada penis Pimosis pada orang dewasa/tua Pimosis dengan benjolan pada pelipatan paha Luka kronis dengan benjolan pada pelipatan paha Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS : . DIAGNOSIS BANDING • Veruca Vulgaris • Limfadenitis inguinalis • Limfadenitis veneralis (STD) 5.EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA PENIS 3.C 60 : . Nadi. BUN/SC Biopsi luka/tumor pada penis • Radiologi BNO/BOF. UL. Sedang Kurus) Lokal Luka kronis/tumor cowly flower pada penis Teraba tumor solid mobil/fixed inguinal Pimosis 4. TUMOR PENIS (EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA) 1. NOMOR ICD 2. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. USG abdomen atas dan bawah 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Thorax. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tekanan darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 187 .XI.

PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Stenosis miatus uretra eksternus • Odema ekstremitas inferior (apabila inguinalis/radiotherapy) • Ruptura vasa femoralis • Kambuh (residif) 11. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.8. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator dilakukan deseksi kelenjar limfe 188 .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotherapy Radiotherapy Kombinasi 10. B dan RS. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi kencing d) Mengusahakan mempertahan aktifitas sexual Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node Total penectomy dengan biopsi sentinal node Radical penectomy Deseksi kelenjar limfe inguinalis kanan dan atau kiri (atas indikasi khusus) • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.

et al . Pettaway CA .M) dengan CT Scan 18.13. European Association of Urology. 189 . Cambell’s Urology. 2003. OTOPSI Tidak diperlukan 16. Guidelines on Penile Carcer. Depkes RI-IDI. Heath Care Office. Standar Pelayanan Medis. Vol. Tumor of Penile. • Lynch DF. KEPUSTAKAAN • IDI . 8th . Urological Guidelines. Horenblas S. March 2004. PATOLOGI • Tumor penis prabedah (biopsi) • Tumor penis pasca bedah (radikalitas pembedahan) • Kelenjar limfe inguinalis 15. • Solona E.N. Algaba F.(3). PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. 1998. infeksi. HASIL • Kuratif Bebas tumor Pola kencing normal/mendekati normal Aktifitas sexual mendekati/tidak normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. Karsinoma Penis. 14. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.

Tekanan darah.C 62 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. TUMOR TESTIS (SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED) 1. Nadi. Thorax. DIAGNOSIS BANDING • Orchitis • Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi • Torsiotestis 5. UL.XII. BUN/SC Beta HCG(Human Chorionic Gonadotropin). KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Testis mengeras/ada benjolan Cryptorchism dengan masa abdominalis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED TESTIS 3. USG abdomen atas dan bawah 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase 190 . AFP(Alfa Feto Protein) • Radiologi BNO/BOF. Sedang Kurus) Lokal Teraba tumor solid pada testis Teraba tumor solid pada abdominalis pada penderita cryptorchism Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi 4. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. DIAGNOSIS : .

HASIL • Kuratif Bebas tumor Fertilitas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. B RS. PENYULIT • Pendarahan • Gangguan fertilitas • Disfungsi ereksi • Infeksi luka operasi • Odema ekstremitas imferior (apabila dilakukan RPLND) • Kambuh (residif) 11.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. 14. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.• • • • c) Mencegah gangguan fertilitas Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical orchidectomy inguinal approach RPLND(Retro-Peritonial Lymp Node Desectie) (atas pertimbangan khusus) Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) Radiotheraphy(PA Seminoma) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Radical orchidectomy inguinal approach • RS Kelas A. PATOLOGI • Tumor testis • Kelenjar limfe retroperitonial 191 .

• Sheinfeld J. Depkes RI-IDI. 2003. Vol.(3). 8th . Heath Care Office. infeksi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.M) dengan CT Scan 18. Surgery of Testicular Tumor. KEPUSTAKAAN • IDI . Guidelines on Testicular Carcer.N. Cambell’s Urology.15. Mc Kiernan J Bosl G J . 1998. Urological Guidelines. OTOPSI Tidak diperlukan 16. et al . March 2004. 192 . Horwich A. European Association of Urology. • Laguna MP. Klepp O. Standar Pelayanan Medis. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Tumor Ganas Testis. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.

Nadi.VARICOCELE 3. Tekanan darah. UL. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Belum punya anak setelah kawin > 1 tahun Nyeri testis bersangkutan Ada bentukan seperti cacing pada skrotum bersangkutan Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis • Epididimitis kronis 5.C 46 : .XIII. Thorax. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. Sedang Kurus) Lokal Kadang-kadang terlihat masa seperti cacing pada skrotum saat berdiri/tidur Teraba tumor kistik seperti cacing pada funikulus spermatikus Kadang-kadang testis bersangkutan lebih kecil dibanding testis yang normal 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. INFERTILITAS PRIA (MALE INFERTILITY) 1. DIAGNOSIS : . NOMOR ICD 2. Analisa sperma (atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi pembedahan (untuk umur >40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. PENGOBATAN • Tujuan Perbaikan fertilitas Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Kadang-kadang 193 .

C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.(3). March 2004. PROGNOSIS • Tergantung Gangguan kwantitas dan atau kwalitas sperma suami Azoospermia Gangguan fertilitas istri Kombinasi 17.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 10. Depkes RI-IDI. PENYULIT • Infeksi luka operasi 11. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. Jungwirth A. Infertilitas. 194 . Heath Care Office. HASIL • Kwantitas dan kwalitas sperma membaik/normal • Istri bisa hamil 14. 1998. Vol.• a) Mengurangi/menghilangkan nyeri testis b) Mengecilkan/menghilangkan varicocele Pembedahan “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 9. 8th . Wiedner W. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13.B. Standar Pelayanan Medis. Cambell’s Urology. KEPUSTAKAAN • Dahle GR. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Urological Guidelines. • IDI . Male Infertility. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. European Association of Urology. 2003. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. analisa sperma dan kehamilan pada istri 18. Guidelines on Male Infertility. et al . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. • Sigman M Jarow JP .

Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PENGOBATAN • Tujuan Memperbaiki anatomi dan fungsi penis dan uretra Estetika/kosmetika penis Mencegah gangguan fertilitas pria 195 . BUN/SC Tes “XY chromosom”(atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Nadi. NOMOR ICD 2. HYPOSPADIA 1.Q 54 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tekanan darah. Thorax. DIAGNOSIS : . Sedang Kurus) Lokal a) Penis Miatus uretra ekternus subgladuler/ventral penis/penoscrotal/perinal b) Testis Kadang-kadang disertai cryptorhism/kelainan bawaan lainnya 4.HYPOSPADIA 3. UL. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. DIAGNOSIS BANDING • Micropenis • Ambiguitas 5. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.XIV. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Air kencing tidak keluar dari ujung penis (seperti pada umumnya) sejak lahir Penis bengkok/sembunyi pada skrotum Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. HASIL • Anatomi. fungsi. estetika/kosmetika penis dan uretra baik/normal • Fertilitas baik/normal 14. adanya urethrocutan fistel • Anatomi. estetika/kosmetika penis dan uretra • Fertilitas (Analisa sperma. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15.Kehamilan istri) 196 . Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.• Pembedahan MAGPY Procedure Chodectomy-Urethroplasty (satu tahap) dengan/tanpa Nesbit Procedure Ducket’s Procedure (Prepotiale tube flap urethroplasty) 9. PROGNOSIS • Tergantung Lokasi miatus uretra eksternus Berat-ringannya chordae Status gizi pasien Ada/tidaknya kelainan bawaan lainnya 17. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Buka bebat hari ke-5 • Buka splint uretra dan klem kateter sistotomi hari ke-10-12 • Buka kateter sistostomi satu hari setelah buka kateter sistostomi/bisa kencing lancar • Lain-lain atas intruksi operator 13. fungsi. PENYULIT • Fistel “Urethrocutan” • Nekrosis kulit penis/tube plap • Infeksi luka operasi 11.B dan RS. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi.

Beurton D. Standar Pelayanan Medis. Vol. Depkes RI-IDI. Pediatric Urology : Hypospadias. 2003. Hypospadias. • Retik AB. March 2004. et al . Androulakakis P.(3). Urological Guidelines. European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • IDI . Hypospadia. 197 . 1998. Cambell’s Urology. Borer JG. Heath Care Office. • Reidmiller H. 8th .18.

DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis 5. Thorax. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/membesar sejak lahir kadang-kadang bisa mengecil saat tiduran Skrotumnya ada air didalamnya sejak lahir Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah.P 83.5 : . USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasi/diaphonoscopy positif pada skrotum Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4.XV. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy inguinal approach 198 . KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.HYDROCELE CONGINITAL 3. Nadi.CT • Radiologi BNO/BOF. HYDROCELE ANAK-ANAK (CONGINITAL) 1. BT. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. DIAGNOSIS : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.

Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. Bellinger MF. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10.(3). PROGNOSIS Baik 17. 199 . PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi 11.B. Hidrokel Testis. • Schneck FX.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. Vol. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Fertititas setelah dewasa/kawin 18. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Standar Pelayanan Medis.9. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. KEPUSTAKAAN • IDI . 8th . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain atas intruksi operator 13. 1998. 2003. Cambell’s Urology. Depkes RI-IDI.

HYDROCELE AQUARED 3. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. NOMOR ICD 2. BUN/SC • Radiologi BNO/BOF. HYDROCELE DEWASA (AQUARED) 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy/Marsupialisasi 200 . Thorax. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasidiaphonoscopy positif pada skrotum. Nadi.N 43 : . KONSULTASI • Dokter Spesialis Kardiologi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.XVI. kadang-kadang transiluminasi negatif apabila sudah terjadi inlamasi/infeksi pada hydrocele Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. UL. DIAGNOSIS BANDING • Tumor testis 5. DIAGNOSIS : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/mebesar setelah dewasa Skrotumnya ada air didalamnya setelah dewasa Riwayat infeksi/imflamasi/trauma daerah skrotum/testis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

(3). PATOLOGI • Tidak diperlukan • Diperlukan (atas pertimbangan khusus) 15. Bellinger MF. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Cambell’s Urology.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. Depkes RI-IDI. Vol. • Schneck FX.9. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. Standar Pelayanan Medis. 2003. 8th . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. Hydrokel Testis. 1998. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Melihat kekambuhan 18.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. KEPUSTAKAAN • IDI . OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 201 . PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi • Kambuh(residif) 11. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management.B. PROGNOSIS Baik 17.

Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. neuropati. dengan stadium lanjut bisa lebih imformatif seperti . RFT. Diagnosis Banding : a. untuk metastasis ke tulang.1. e. 4. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. lymphangitis spreeding. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan.9 2. TBLNB. bila tumornya besar.FH. USG abdomen. dll. b. benjolan di pangkal leher. EKG 202 . AGD. sulit/sakit menelan. (Bila ada indikasi) Brain CT. CT . batuk darah. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. Pemeriksaan Lain i. pembesaran KGB supraclavicula. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. pembesaran KGB mediastinum. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. Pemeriksaan Laboratorium. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. atelektasis. atelectasis. identasi pleura. Fungus Ball. penekanan bronkus. LFT. iv. core biopsi. penekanan vena kava superior. d. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. b. tumor satelit. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. iii.faal paru. Tumor Mediastinum. nafsu makan hilang demam hilang timbul. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. menyisihkan kelainan lain. Torakoskopi. dll. trombosis vena. adanya fraktur patologi. Kriteria Diagnosis : a.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. dll. 5. sesak nafas. Pemeriksaan Penunjang : a. washing lavage. invasi tumor kedinding dada. b. suara serak. pembesaran hepar. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. sakit dada. ICD : C 34. f. Sitologi Sputum ii. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. Diagnosis : Kanker Paru 3. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. c. DL. efusi fleura. sembab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. vi. efusi pleura.

Penyulit : a. Upper Airway obstruction. Obstuksi jalan nafas c. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Ruang perawat ii. Dokter Spesialis Anasthesi d. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys.6. 5 hari per minggu c. Imiunoterapi e. Dokter Spesialis Paru b. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Konsultasi : a. Hormonoterapi f. Terapi Gen g. OK 10. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. Supportif therapy sama 9. Hemoptisis d. Tempat pelayanan : a. RS tipe B Plus b. Inform Concern : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Atelektasis b. RS tipe A i. Kompresi esopagus f. Lab Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. 8. treparasi oleh SOL. ii. Respiratory failure 11. d. b. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. hemoptisis. Kemoterapi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. :: Free & Post Op : Operasi 203 . ICU/ICCU iii. Pembedahan Indikasi pembedahan i. Fleural efusi e. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom.

Hasil 16. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR Stage II Stage III Stage IV 57 – 67 % 22 – 34 % 3 – 21 % 1 %. Lama Perawatan 14. Tenaga Standar : a.12. 204 . Patologi 17. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Autopsi 18. Dokter Spesialis Paru b. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) 13. Masa Pemulihan 15.

9 2. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. d. pembesaran hepar. penekanan bronkus. atelektasis. penekanan vena kava superior. b. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. Sitologi Sputum ii. AGD.FH. benjolan di pangkal leher. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. iii. sembab muka dan leher. pembesaran Kelenjar Getah Bening (KGB) supraclavicula. Pemeriksaan Penunjang : a. 4. sakit dada. Kriteria Diagnosis : a.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. 205 . untuk mengetahui metastase di hepar dan tempat atau organ lain. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. f. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. ICD : C 34. b. trombosis vena. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit.faal paru. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. neuropati. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. dll. Diagnosis Banding : a. batuk darah. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. menyisihkan kelainan lain. Tumor metastase (Kanker Paru Sekundair) 5. dengan stadium lanjut tanda-tanda bisa lebih informatif seperti . suara serak. iv. Pemeriksaan Lain i. tumor satelit. Torakoskopi. c. nafsu makan hilang demam hilang timbul. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. efusi pleura. washing lavage. CT . adanya fraktur patologi. LFT. atelectasis. (Bila ada indikasi) Brain CT. TBLNB. Fungus Ball. pembesaran KGB mediastinum. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. b. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. USG abdomen. DL. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. Diagnosis : Kanker Paru 3. Bila tumornya besar. invasi tumor kedinding dada. c. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. dll.1. Pemeriksaan Laboratorium. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. sesak nafas. identasi pleura. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. core biopsi. dll. sulit/sakit menelan. efusi Pleura. RFT. e. lymphangitis spreeding. untuk metastasis ke tulang. Tumor Mediastinum.

5 hari per minggu atau bekerja sama dengan spesialis Radiotherapi. b. mediostinoskopi. RS tipe A i. EKG 6. c. Upper Airway obstruction. thoracoscopy (VATs). Dokter Spesialis Paru b. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Konsultasi / bekerja sama dengan : a. Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. ICCU : Post Op iii. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Karnovsky index rendah (<50%). perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Perawatan RS : • Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Dokter Spesialis Anasthesi d. • Untuk tindakan pembedahan pengangkatan tumor. Tempat pelayanan : a. hemoptisis. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. Bag. d. RS tipe B Plus b.vi. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. ii. Immunoterapi e. OK : Operasi 206 . Pembedahan Indikasi pembedahan i. trepanasi oleh karena SOL dengan deteorasi neurology. iii. Hormonterapi f. Kemoterapi bekerja sama dengan pulmonologi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. 8. Biopsi kelenjar lymphe supraclavicula atas biopsi paru terbuka (thoracotomy). Supportif therapy 9. Ruang perawatan : Pre operative ii. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Terapi Gen g.

Hal : 124 – 146 3. Pleural efusi e. Ruck deschel.al. Penyulit : a. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) d. Informed Consent : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Fraktur patologis h. Weisenburger. Masa Pemulihan 15. Autopsi 18. Prentice Hall International. Obstuksi jalan nafas c. in Glenn’s Thoracic and Cardiovascular Surgery sixth ed. 1996 : 421 – 444. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Phyladelphia. Dokter Spesialis Rehab Medik 13. Dokter Spesialis Anesthesi e. Lama Perawatan 14. WB Saunders Company. Binsburg R. by Arthur E Bauc et. Hemoptisis d. London. Martin N. Ginsberg RJ : Surgical Treatment Of Lung Carcinoma. 26 – 48. Wagner H. 2. 12. Kompresi esopagus f. Water PF : Surgery for Non Small Cell Lung Cancer in …………………. P : Preoperative and Postoperative Therapy for NS CLC in ………………… Hal : 147 -146 4. Hasil 16. Jr .J Goldber.10. Penurunan kesadaran i. Burt. Patologi 17. Doyle LA Aisner J : Clinical Presentation of Lung Cancer in Thoracic Oncology II ed. Gangguan hepar 11. 207 . Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR 57 – 67 % Stage II Stage III Stage IV 22 – 34 % 3 – 21 % 1% Kepustakaan : 1. M. Respiratory failure g. Atelektasis b. Weisen Burger TH : Definitive Radiotherapy and Combined Modality Therapy for In operable NSCLC : In …………………Hal 164 – 180 5. Bonomi. 1995. By Roth. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Paru b.

mutilasi. Diagnosis : Ulkus/Gangren Diabetikum 3. Diet & exercise. d. iv. Non Bedah i. Terapi : a. Dokter Spesialis terkait dengan komplikasi DM 7. Pembedahan i. e. DM menurut WHO GD Acak > 200 mg/dl GD Puasa > 140 mg/dl b. tekanan darah kedua tungkai. Ulkus Varikosum. Rontgen foto : Melihat adanya Osteomyelitis dan soft tissue swelling + gas subcutan f. c. Wound toilet. Buerger Disease. ICD : E 14. Perlu untuk tindakan debridement dan pembedahan lain serta pemberian insulin regulasi cepat. DL. Amputasi (digiti –TMA – BKA & AKA) iv. c. Debridement. Repair deformitas kaki v. 208 .8 (ankle brachial index). Pengendalian gula darah. iii.Toe Pressure. FH. Ulkus Tropikum. Pemeriksaan adanya neuropati : (Bila ada) Dengan Semmes Weinstein Monofilament Wire/Biothessiometer c. 4. Diagnosis Banding : a. Pemeriksaan kultur / sensitivitas kuman. Incisi Drainage iii. b. d. b. LFT. Dokter Spesialis Anesthesi.5 2. ABI < 0. Derajat dan luas infeksi memakai klasifikasi Wagner. necrotomy ii.1. PAPO (penyakit arteri perifer oklusive) 5. 8. Antibiotika sesuai dengan kultur. Laboratorium . Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan endokrin. BUN / SC 6. UL. Pemeriksaan Penunjang : a. Perawatan RS : a. Ulkus/Gangren ini dapat diikuti invasi bakteri sehingga terjadi infeksi. ii. Revaskularisasi arteri tungkai (bypass) b. Konsultasi : a. Kriteria Diagnosis : Ulkus/Gangren DM adalah kematian jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (nekrosis iskemia) akibat penyakit arteri prifir oklusi (micro dan macroangiopaty) yang menyertai penderita DM. Pemeriksaan integritas vaskuler Terdapat claudicasio intermitten dan restpain.

berbagai manifestasi klinis akibat DM. Prentice Hall International. c. 15. Ruang perawat biasa. 16. Mengancam jiwa jika terjadi gas gangren dan sepsis. Osteomielitis b. Lama Perawatan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus/infeksi (Wagner Classification) semakin besar semakin lama perawatannya. Tempat pelayanan RS Type A. Resiko amputasi 85% bila ada infeksi serius. Hal 514 – 522 209 . Kepustakaan : 1. in Vascular Surgery theory and practice ed by Allan D Callow. 17. 2. Wagner III ke atas. ICU bila ada komplikasi. Patologi : Tidak perlu. Masa Pemulihan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus serta jenis tindakan. 10. Sembuh tanpa cacat b.. Mueller MP. Marcaccio. Sembuh dengan cacat tetap akibat amputasi. Kelainan organ lain akibat angiopaty diffuse + neuropaty diffuse. London. Reamputasi > 20% c. 18. Habershaw : Management of the Diabetic Foot. Penyulit : a. Informed Consent : Perlu lebih-lebih bila dilakukan amputasi. OK untuk tindakan operasi. Wright J.9. Gas gangren c.B dan RS yang ada ICU : a. Prognosa : a. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk debridemen. 1995 : 167 – 180. c. b. Hasil : a. Gibbons. 12. Sepsis d. b. Klein SR : Diabetes and Peripheral vase dissore in Vascular Sergery dst ……. Tenaga Standar : a.Tindakan pembedahan dapat mempercepat masa perawatan. Sepsis prognosenya jelek. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Konsultan endokrin d. 14. Dokter Spesialis Anasthesi 13. b. Autopsi : Tidak perlu. 11. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c.

Chilo thorax e. Abses paru d.6 vii. malaize. pH < 7. DL. BUN / SC 6. Diagnosis : Empiema Toraks. Perawatan RS : a.9 2.perkusi dullness. Glukosa < 40 mg/dl e. FH.penurunan suara nafas sisi sakit.empiema necessitans (erosi dinding dada akibat abses dinding toraks). Dokter Spesialis Paru b.kadangkadang sputum purulent bila ada fistel bronchopleura. Tes Rivalta (+ ) ii. Konsultasi : a. Pemeriksaan Penunjang : a. Protein > 3 g/dl iii. panas. Leukosit > 50% linfosit > 15 000 sel/mm3 viii. Torakosentesis e. berat badan menurun. UL. b. Dokter Spesialis Anesthesi 7. Pemeriksaan Fisik Takipnea. Anamnesis Empiema Toraks atau Pyothorax adalah pengumpulan nanah atau pus didalam rongga pleura. 86. Rasio dg LDH plasma > 0. Perlu bila akan dilakukan pemasangan Chest tube dan WSD dan dekortikasi.1. Diagnosis Banding : a. 3. Malignant pleural effusion 5. Gejala Klinis Nyeri dada. Multiple thoracosintesis dan pemberian AB intra vena 210 .3 ix. sesak nafas. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru c. cultur dan sensitivitas test. trauma dll. Laboratorium pemeriksaan cairan pleura. temperatur tubuh meningkat. c. batuk. b. Kriteria Diagnosis : a. pergerakan dada terbatas. ICD : J. LFT. LDH > 200IU vi. d. 4. Dapat terjadi sebagai akibat komplikasi pneumonie (parapneumonic empyema) tindakan pembedahan. Rasio dengan protein plasma > 0. CT Scan toraks c. Berat jenis >1016 v. Pnemonia b.5 iv. Foto polos toraks AP/lateral b. USG d. Pemeriksaan Bakteriologi Menunjukan hasil (+ ) kuman pada cairan pleura. Pleural effusi c. Dengan pemeriksaan cairan pleura menunjukan eksudat yaitu : i.

693 211 .hal 684 . Kepustakaan : 1. Obliterasi rongga empiema c. Light RW : The Physiology of Pleural Fluid Production and Benign Peural effusion in General Thoracic Surgery ed by W Shields T. Shields. Lama Perawatan : 7 – 14 hari 14.. Mengeluarkan nanah b. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. OK pemasangan Chest Tube dan tindakan. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Dokter Spesialis Paru d. Dokter Anesthesi 13. 16. Sepsis e. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Tenaga Standar : a. Ruang rawat biasa b.8.W. Penyulit : a. Patologi : Tidak perlu. 9. Pemberian antibiotika untuk eradikasi kuman sesuai dengan kultur sesitivitas. Hasil : Sembuh bila diterapi cepat dan tepat. 1994. 10. Broncopleural fistel b. Fibrotoraks d. TW : Para Pneumonic empyema in ……………. 674 – 683 2. Terapi : Dasar terapi empiema toraks adalah a. Autopsi : Tidak perlu. Fourth ed Vol 1 William & Wilkins. Tempat pelayanan : a. 17. Prognosa : Tergantung fase penyakitnya saat ditemukan pertama kali. Deformitas diding dada dan scoliosis 11. Informed Consen t : Perlu 12. Baltimore. 18. Empiema necessitan c.

Anamnesis Adanya cairan kemerahan/darah atau serosanguinus didalam cavum pleura secara berlebihan > 50 ml dengan didapatkannya sel ganas didalam cairan pleura atau biopsi pleura. b.dada terasa penuh. 4. c. Bronkoskopi. CT Scan toraks . fremitus suara melemah. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru d. Dokter Spesialis Paru b. b. Namun bila tumor primer diluar paru tidak ditemukan. Konsultasi : a. f. pleurodesis. Gejala Klinis Sesak nafas. Dokter Anasthesi untuk operasi 7. maka efusi pleura maligna itu di anggap berasal dari paru. Pengobatan kausal. pemasangan chest tube. Sebaiknya dilakukan setelah cairan dikeluarkan maksimal. Pemeriksaan Penunjang : a. c. pleuro abdominal shunting. Diagnosis : Pleural Efusi Maligna 3. Bila tumor primernya berasal dari tumor paru. Berupa punksi. b. batuk. USG toraks dan torakotomi explorasi perlu dilakukan untuk menegakan diagnosis.1. maka efusi pleural maligna termasuk stage IV. e. efusi ini termasuk gejala sistemik metastatik tumor tersebut dan pengobatan disesuaikan dengan tumor primernya. Empiema toraks b. Pemeriksaan Fisik Gerakan diapragma berkurang . nyeri dada. 90 2. Kemungkinan ditemukan keganasan organ lain di luar paru. biopsi transtorakal. dengan hasil eksudat. Foto polos toraks PA/lateral. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura. 212 . Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tujuan terapi dan mencari sumber keganasan. perkusi redup dan suara nafas melemah pada sisi toraks yang sakit. Kriteria Diagnosis : a. Abses paru c. Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui tumor primer. Dokter Spesilis terkait dengan tumor primernya c. Pengobatan lokal. Sitologi cairan pleura/biopsi pleura : dengan hasil positif sel ganas. Apabila tumor primer ditemukan diluar paru. Terapi : Efusi pleural maligna mempunyai 2 aspek penting dalam penatalaksanaannya yaitu : a. 8. Pengobatan kausal disesuaikan dengan tumor primernya. gejala ini sangat tergantung dari jumlah cairan dalam rongga pleura. Tumor solid intra pleura 5. ICD : J. Diagnosis Banding : a. d. 6. Efusi pleura karena sebab lain d.deviasi trakea dan atau jantung kearah kontra lateral.

Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Hasil : tergantung respon terapi dari tumor primernya 16. Sahn. OK : pemasangan chest tube dan WSD 10. 1003 .1016 213 . b. VW : Pleural Effusion : Benign and malignant in Thoracic Surgery ed by F Griffith Pearson. Masa Pemulihan : 3 – 7 hari 15. b. Penyulit : a. b. Prognosa : a. Efusi berulang. Tergantung respon terapi dari tumor primernya. Bila berasal dari paru maka dianggap kanker paru stadium III keatas Kepustakaan : 1. Respiratory distres 11. Tempat pelayanan : a. Churchill Living Stone. 18. Dokter Spesialis Paru d. SA : Malignant pleural effusion in General Thoracic hal 757 – 797 2. Patologi : Perlu. 17. Empiema toraks. Autopsi : Perlu bila diagnosa tidak jelas. Informed Consent : Perlu 12. Ruang perawatan (normal). c. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru e.9. New York. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Rusch. Lama Perawatan : 3 – 7 hari 14. Dokter Spesialis anesthesi 13. 1995.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan Hematology / Onkology Medik c. Bone merrow aspirasi k. tulang. Bone Scaning. Yang paling sering menimbulkan tumor metastatik kedinding dada adalah urogenital. Kriteria Diagnosis : Tumor yang muncul di dinding dada.1. Lab lengkap i. f. b. gambaran dan globulin 6. 4. bila > 4 cm dilakukan FNAB/Incisional Biopsi. Terapi : a. b. ada riwayat trauma ringan dengan fraktur fatologis. c. 8. Tumor bisa primer dan metastatik. Tempat pelayanan : a. d. Untuk kasus-kasus unresectable dipertimbangkan pemberian radioterapi. Pembedahan (Reseksi diding dada dan rekonstuksi) merupakan first line treatment dikombinasikan dengan kemoradioterapi (bila ada tumor ganas berasal dari tulang). 5. Ruangan biasa. Defornitas dinding dada oleh inflamsi. Konsultasi : a. OK : bila perlu operasi. Rhabdomiosarkoma dan Ewing sarcoma. Diagnosis Banding : a. bila kecurigaan dari tulang. Analisa gas darah h. Dokter Spesilis Anasthesi 7. tiroid. 9. mamma. Biopsi (PA). Pemeriksaan Penunjang : a. dapat berasal dari beberapa elemen-elemen histologis dari dinding toraks yaitu otot. b. Dokter Spesialis Paru b. c. colon.1 2. Diagnosis : Tumor Dinding Dada. Foto polos toraks (PA/lateral). Keluhan dan gejala : Sering tanpa keluhan (asimptomatik). Test fungsi paru g. 76. bila tumor < 4 cm langsung di Excisi dan Frozen Section. soft tissue lainnya. Bunce Jones protein. 3. tulang rawan. fixed dengan dasar ikut pergerakan respirasi. Defornitas dinding dada oleh kelainan congenital. CT Scan toraks c. kemoradioterapi merupakan pilihan pertama. batas tak jelas. Perawatan RS : Perlu untuk persiapan pembedahan. e. ICD : C. MRI d. ICU post operasi. j. Tumor jinak : reseksi dan bila perlu rekonstruksi. 214 . Tumor primer sebagian kecil jinak. Massa : Berbentuk. bila ada residual tumor dilakukan reseksi. syaraf. b. Selektif angiografi bila tumor dekat/berada di axila. adanya massa di dinding dada disertai dengan reffered pain atau nyeri lokal.

Dokter Spesialis Jantung (bila invasi kejantung & pembuluh darah) d. Idem : Chest Wall Reconstruktion : In General Thoracic Surgery …..10. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. Dokter Spesialis Paru (bila invasi ke paru) c. 1996 : 593 608 215 .14 hari 14.. Penyulit : a. Tenaga Standar : a. b. Prognosa : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren Kepustakaan : 1. durante operasi dapat dikerjakan FS. Lama Perawatan : 7 . Informed Consent : Tertulis bila dilakukan operasi. Depormitas dengan kecacatan. MC Carmack PM : Chest Wall Tumors in Glemis Thoracic and Cardio Vascular Sergery . 2. 18. 17. Invasi keorgan-organ intra toraks. 3. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler b. Hasil : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren 16.hal 579 – 588.hal 589 – 597. London. Sixth ed Vol II ed by Athur E Baue Prentice-Hall International Inc. Patologi : Perlu. Autopsi : Tidak perlu dengan excisi luas. Dokter Spesialis Anasthesi (untuk perawatan post operasi) 13. Rekonstruksi dinding dada dan keterbtasan respirasi. Pailorelo PC : Chest Wall Tumors : In General Thoracic Surgery …. 12. 11. c.

thrombophlebitis. 216 . Stadium IV Ulkus varikosum. Duplex Scan. Babcock extractie/stab avulsi. Sclerotherapy. berat. c. iv. b. ICD : 183. 10. Medikamentosa flavunoid. Doppler USG. hisperidine diosmin. cepat lelah. d. Tempat pelayanan : a. Diagnosis Banding :- 5. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi dan untuk operasi. Bi pedal phlebografi 6. 7. 8. iii. DVT d. chronic venous insuffi ciency (CVI) 4.1. Compression therapy. Stadium II Venaectasis Stadium III Gejala & tanda varises tampak jelas. Terapi : a. Informed Consent : Perlu bila operasi. b. iii. Konsultasi : Dokter Spesilis Anasthesi untuk operasi. Aneurysma vena 11. 3. sakuler atau silindris vena-vena superfisial menyeluruh atau segmental termasuk teleangiektasis pada tungkai. Ruang rawat biasa. OK untuk tindakan operasi. Gejala dan tanda tergantung stadium Stadium I pegel. Non Bedah i. High Ligasi ii. Symptomatis pasta lasar. Bedah i. Ulkus yang tak sembuh-sembuh. iv. Pemeriksaan Penunjang : (bila ada alat) a. Airplathysmography. ii. Perdarahan c. Penyulit : a. Excisi ulcus + skingraft 9. Diagnosis : Varices Tungkai. b. Ligasi dan stripping. Kriteria Diagnosis : Pelebaran abnormal.9 2. b.

Bisa berulang bila masih ada pengisian vena yang inkompeten. Tenaga Standar a. 17. Autopsi : Tidak perlu. 1994 : 841 – 851 2. New York. b. second ed by Frank J Veith. second ed by Frank J Veith. William RA : Vasicose Vein. 217 . Baik bila belum ada komplikasi. 1994 : 865 – 888. Prognosa : a. GH : Chronic Venous Insufficiency : in Vascular Surgery Principles and pratice. b. White. Nordestgaard AG. Hasil : Sembuh 16. Kepustakaan : 1. Mc Graw – Hill Inc. c. in Vascular Surgery Principles and pratice.12. Lama Perawatan : 2 – 3 hari 14. 18. : Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler Dokter Spesialis Bedah Vaskuler 13. Mc Graw – Hill Inc. New York. Masa Pemulihan : 4 – 5 hari 15. Patologi : Tidak Perlu.

CT dengan contras b. 218 . Lesi dibawah kulit lymphangiomacystika. lembek. Ruang rawat biasa b. kosistensi lebih compressable. Dokter Spesialis Bedah Plastik bila perlu Rekonstruksi. Ruang radiologi untuk radiotherapy 9. KGB (kelenjar getah bening). biasanya dengan klinis saja sudah cukup. Katiko steroid ii. b. Bentuk kubah plaque. 18. c. Embolisasi / Scleroterapi d. Konsultasi /team : a. Cryo surgery iii. Pemeriksaan Penunjang : a. Konsistensi padat. Excisi . OK bila perlu operasi / tindakan bedah c. Dokter Spesilis Anak bila ada ganguan hemostasis koagulapati. b. Arteriografi d. Terapi : Biasanya sebagian besar regresi spontan pada usia 5 – 8 tahun. Dokter Spesialis Anasthesi bila akan dioperasi. 6. AVM c. Histo Patologis Atas indikasi kuat. Interferon c. Medikamentosa i. 7. 3. meluas dan lebih merah seperti buah strowberry saat menangis. Laser surgery ii. Fase Proliferasi (sejak lahir – 12 bulan) Kulit pucat. teleangiektasis. Kriteria Diagnosis : a. b./merah tua dengan halo. b. tumor atau kombinasi. Radiasi Tempat pelayanan : a. Pembedahan i. 5. ICD : D. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi (life threatening) dan pembedahan 8. Diagnosis Banding : a. d. seperti spon. dikerjakan pada fase involusi untuk mengurangi resiko perdarahan dan kerusakan struktur vital. Fase involusi (sampai dengan umur 7 – 12 th) Menipis secara sentrifugal mulai dari sentral. Dokter Spesialis Radioterapi bila perlu Raditherapy.0 2. Diagnosis : Hemangioma. a. MRI c. makula/papula merah. 4. Kelainan Vena seperti kista.1.

1995. Mengalami keganasan Informed Consent : Perlu bila ada tindakan. Dokter Spesialis Anasthesi Lama Perawatan : 2 – 7 hari Masa Pemulihan : 2 – 7 hari Hasil : Mudah timbul residif bila excisi tidak komplit. 16. CHF dan trombositopenia e. Mengganggu fungsi menelan. Dean et al. d. HH. 11.324 219 . Autopsi : Tidak perlu. ulkus. c. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Dokter Spesialis Bedah Vaskuler d. Angka rekurensi masih tinggi setelah pembedahan. 12. Kepustakaan : 1. Patologi : Perlu. Feinberg RL : Vascular Anomalies & Acquired Akteriovenons Fistulas . Tenaga Standar : a. in Current Diagnosis & Treatment in Vascular Surgery. Prognosa : a. Ed by : Richard H. Prentice –Hall International Inc London.10. Penyulit : a. 309 . Facial distrorsi b. 17. Ist ed. infeksi. 13. Perdarahan. 15. Regresi spontan sebelum umur 12 tahun. mendengar dsb. 18. Tront III. Dokter Spesialis Bedah Umum ( excisi ) b. b. pernafasan. 14. visus.

8.Tahikardi. Needle aspiration iii. OK (bila dilakukan tindakan bedah) Penyulit : a. hipotensi dan pucat bila tension pneumothorax. CT Scan Toraks. 220 . Faktor penyebab i. 93. 9 Diagnosis : Pneumothorax spontan. Neonatal c. Empyema thoraks Informed Consent : Perlu bila diambil tindakan 7. tanpa adanya Penyakit paru yang mendasari. Bedah . Konsultasi / team : a. Anannesis Adanya udara bebas dalam rongga pleura yang bukan disebabkan oleh faktor trauma. 9. 6. 5. Terapi : a. 11. ii. d. 4. Bila ada alat VATS maka dikerjakan VATS Tempat Pelayanan : a. 3. i. Ruang dengan observasi fungsi respirasi pra bedah b. Primer : Ruptur subpleura bleb. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu tindakan operasi. Foto thoraks tidak dibenarkan pada tension pneumothorax. ICU/RTI c. Keluhan dan tanda-tanda Terjadi mendadak berupa nyeri dada.1. Perawatan RS : Perlu bila akan diambil tindakan. Bronkopleural Fistel b. b. sesak nafas dan batuk dari ringan sampai berat. Bila Recurrent (≥ 3 kali berulang)→ thoracotomy repair fistule iv. Open thoracostomy dengan WSD ii. Skunder : Akibat penyakit paru yang mendasari serta kelainan diluar paru iii. 2. Observasi ii. Closed thoracostomy (WSD) b. Diagnosis Banding Pemeriksaan Penunjang : Emphysema bulosa paru. Non Bedah . Dokter Spesilis Paru b.Tanda lain penurunan suara nafas. 10. Bila persisten (menetap ≥ 4 hari)→ thoracotomy repair fistule iii. Diagnosis pasti dengan foto toraks AP adanya paru kolap dan bayangan udara (radiolusen) pada rongga dada. berkeringat. i. ICD : J. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat Paru c. Kriteria Diagnosis : a. hipersonor. : Foto polos toraks. Tension pneumothorax c.

Dokter Spesialis Paru d. 662 . 14. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat paru e. 1037 – 1054 2. 18. Dokter Spesialis Bedah Umum pemesangan Chest Tube b. Kepustakaan : 1. Churchill Livingstone. New York 1995. ed by F Griffith Pearson. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu thoracotomy Lama Perawatan Masa Pemulihan Hasil Patologi Autopsi Prognosis : 2 – 7 hari : 2 – 7 hari : sembuh bila tidak ada penyakit paru yang mendasari : Perlu bila perlu operasi thoracotomy : Perlu bila meninggal tak wajar : Baik Ada resiko berulang pada penderita yang mengalami pneumothoraks secunder. G : Spontaneous Pneumothorax and Pneumoneediastinum in Thoracic Surgery. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. 15. Beauchamp. Fry WA. Williams & Wilkins Baltimore.12. 17. 1994.673 221 . Paape K : Pneumothorax in General Thoracic Surgery Fourth ed Vol 1 ed by Thomas W Shields. 13. Tenaga Standar : a. 16.

b. Infeksi terutama TBC/imflamasi lain vi. Kortiko Steroid kalau perlu c. emboli paru akut. Diagnosis Banding : a. area pekak jantung melebar pada tamponade maka Trias Beck’s lebih jelas yaitu suara jantung menjauh. Definisi : Akumulasi abnormal cairan di rongga perikardium. Water bottle ii. SLE dan kelainan sistemik lainnya c. nadi meningkat. Konsultasi : a. 4. Sitologi / Histopatologi 6. pulsus paradoxus. open perikardiostomi (subxiphoid atau window) dengan artero lateral thoracotomy kiri • Medikamentosa . Cardiac Enzym : pada kelainan jantung. hipotensi dan distensi vena leher (CVP ↑). Foto toraks : melihat adanya pelebaran mediastinum atau CT ratio > 50% b. Perawatan RS : Perlu bila menunjukkan tanda-tanda tamponade. Neoplasma iii. Bila gagal. Terapi : • Terapi Bedah .1. COPD. ST elevasi difus. d. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah b. c. Penyebab : i. PR depresi f. Dokter Spesialis Anasthesi c. Perikardiosentesis b. terasa berat didada sakit tidak spesifik seperti suara jantung menjauh. Kateterisasi jantung : perlu pada kelainan jantung. 3 2. e. Foto Toraks : i. Globular shape e. bila belum tamponade perawatan konservatip diruang biasa (observasi) 8. gagal jantung kanan akut. ICD : I 31. Tamponade akut : Tension pneumothorak. Diagnosis : Efusi Perikardium 3. perikarditis konstriktiva/sicca. Kardiomegali dengan kelainan jantung intra kardial. 5. Ekokardiografi : melihat cairan intra pericardium dan kelainan jantung. a. Terapi causal lainnya 222 . d. Post infark miokard (Dressler’s syndrome) iv. EKG : Low voltage. Lab : DL. Post operasi jantung v. Uremia ii. Kriteria Diagnosis : a. Pemeriksaan Penunjang : a. Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung 7. a. Antiinflamasi (NSAID) b. Ekokardiografi : Echo free space dan dapat dihitung jumlah cairan. Keluhan dan tanda-tanda : Sesak. b.

Lama Pemulihan: 2 – 7 hari 15. Tamponade jantung. 12. 17. Lama Perawatan : 2 – 7 hari 14. c. Penyulit : a. Cardiogenic Shock. b. OK bila perlu tindakan bedah 10. Naitkus PT. Prentice Hall International Inc London 1995.9. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 13. Le Winter MM : Pericardiac disease. Dokter Spesialis Bedah Umum ( perikardiosentesis ) b. Kepustakaan : 1. Cardiac failure 11. 18. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. Prognosa : Tergantung Penyebabnya. Patologi : Perlu untuk mencari penyebab sitologys dan kultur. UPIJ/ICU b. Tempat Pelayanan : a. Hasil : Sembuh/kambuh 16. in Current Diagnosis & Treatment in Cardiology ed by Michael H Crawford. Informed Consent : Perlu apabila ada tindakan. 192 -203 223 . Autopsi : Perlu bila tak jelas penyebab kematiannya. Tenaga Standar : a.

224 .

225

226

227

228

229 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->