protap-bedah

: D16 : TUMOR JINAK TULANG : 1. Keluhan : tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang 2.

Fisik : tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas, atau ada patah tulang patologis 3. Radiologi : X-foto tulang; tampak densitas tulang bertambah (osteoblastik) atau berkurang (ostolitic) atau campuran. 4. Alkali fosfatase naik 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang 3. Osteomyelitis 5. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radiologi : X-foto tulang, CT-scan 2. Biopsi : FNA, biopsi tulang, pemeriksaan spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Bedah : 1. Reseksi tulang 2. Kuretage 3. Cryosurgery b. Non Bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Penyulit : 1. Penyakit 2. Terapi 11. Informed Consent : Perlu 12. tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Dokter Spesialis Bedah Onkologi 13. Lama Perawatan : ± 1 minggu 14. Masa Pemulihan : ± 4 – 12 minggu 15. Hasil : Bebas tumor, sembuh 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak tulang 1). Osteoma, 2). Osteobastoma 3). Kondroma 4). Kondroblastoma 5). Adamantinoma 6). Fibroma 7). Hemangioma 8). Limfangioma 9). Giant cell tumor 2. Tumor non neoplasma 1). Kiste tulang 2). Fibrous displasia 17. Otopsi : 18. Prognosis : Baik, tumor hilang / sembuh 19. Tindak lanjut : -

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

1

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D23 : TUMOR JINAK KULIT TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT : Neoplasma jinak kulit, D24 Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis 1. Papiloma 1). Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit, permukaan kasar 2). Berwarna seperti kulit normal disekitarnya 2. Epithelioma 1). Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit 2). Berwarna seperti kulit normal 3. Nevus pigmentosus Plaque atau nodus berwarna hitam 4. Kiste dermoid 1). Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau brachial cleft 2). Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak, dinding 5. Dermatofibroma 1). Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkutis 2). Berwarna coklat, menyerupai keloid Tumor non neoplasma kulit 1. Verruca vulgaris (B07) 1). Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan yang besar 2). Warnanya seperti kulit normal disekitarnya 2. Keratosis (L82-L86) 1). Keratosis seborrhoicum (L82) a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna coklat atau kehitaman, sering multipel b. Lokasi trutama pada kulit muka atau leher dan tubuh 2). Keratosis solaris = keratosis senilis (L57.0) a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoicum b. Umumnya terdapat pada orang tua c. Lokasi terutama pada muka, leher dan bagian kulit yang terbuka 3). Keratoacanthoma (L85.8) a. Tumor papiler dengan sentralnekrose, b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami regresi spontan c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma kulit keganasan rendah 4). Kiste epidermoid (L72.0) a. Tumor kistus subkutan, berisi sebum, berdinding epidermis b. Lokasi umumnya di tangan atau kaki

2

4. Diagnosis banding : 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Terapi a. Bedah b. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi

17. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut

: : : : 1. Eksisi tumor, 2. elektrokoagulasi, 3. desikasi, 4. kuretage, 5. dermobrasion : 1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate, 2. salep FU, salep keratotlitik : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. : 1. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Terapi : perdarahan, infeksi, timbul keloid : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : Poliklinik : ± 1 minggu : Benas tumor, sembuh : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak kulit 1). Nevus intradermal 2). Nevus junctional nevus 3). Compound nevus 4). Papiloma 5). Epithelioma 6). Adenoma 7). Keratoacanthoma 8). Syringoma 9). Hydradenoma 10). Trichoepithelioma 11). Demoid cyst 2. Tumor non neoplastik kulit 1). Seborrhoic keratosis 2). Verruca vulgaris 3). Molluscum contagiosum : : baik : 3 bulan, 6 bulan kemudian lepas

5). Kiste sebaceus = Atheroma (L72.1) a. Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum b. Pada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang buntu oleh sebum yang mengeras c. Tumor mobil dari jaringan subkutan dibawahnya 6). Molluscum contagiosum (B08.1) a. Nodus kecil di kulit, berwarna keputihan b. Bila dipencet keluar inti yang keras 7). Granuloma (L92.3) a. Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi lunak, mudah berdarah (L92.3) b. Dapat berupa reaksi benda asing dibawahnya berupa benang (T81.8) Tumor ganas kulit Diagnosis : Pemeriksaan patologi spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

3

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D17 s/d D21 : TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK & TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK : Tumor jinak jaringan lunak 1. Lipoma, D17 Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan, konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan 2. Hemangioma, D18 1). Hemangioma kapilare Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu anak-anak 2). Hemangioma cavernosum a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons, berwarna kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan, umumnya sebelum umur 5-7 tahun 3). Hemangioma arteriale (hemangioma racemosum, cirrsoid hemangioma) a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok, berdenyut, karena ada shunt antara arteri dan vena, sejak bayi atau kecil b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala 3. Limfangioma, D18 1). Limfangioma kapilare (limfangioma simpleks) Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, berisi cairan limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul sejak lahir atau waktu kecil 2). Limfangioma cavernosum Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, seperti bibir (makrocheili) lidah (makroglosi), dsb, dengan kulit diatas tumor berwarna normal, konsistensi seperti spons 3). Limfangioma kistikum (Higroma) a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit diatas tumor warnanya normal, timbul sejak lahir atau waktu bayi b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) atau di axilla (higroma axillare). 4. Fibroma, D21 1). Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsistensi ada yang beras (fibroma durum), ada yang lunak (fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan ikat pada tumor. 2). Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare 3). Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia musculus rektus atau obliquus abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas, tetapi patologis sebagai tumor jinak

4

Berbentuk tumor bulat panjang. pemeriksaan spesimen operasi Staging : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait Ruang inap untuk diagnosis dan tindakan 4. Terapi a. berasal dari bungkus syaraf. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. Patologis : FNA. Masa pemulihan 15. Ganglion. Eksisi tumor 2. infeksi : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : ± 3 hari : ± 1 minggu : Bebas tumor. biopsi. tatouage 2. Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion karpi). sembuh 5 . Abrasi / dermobrasi : 1. multipel diseluruh tubuh. Diagnosis banding : 5. Penyakit : umumnya tidak ada 2. yang berisi cairan seperti gudir.0 1). Neurofibromatosis von Recklinghausen. Non bedah 9. CT-scan. konsistensi berubah menjadi padat. Ganglion : kortikosteroid intra kistik : Minimal R. Konsultasi 7. kortikosteroid. menjadi neurogenic sarcoma. suatu plaque berwarna coklat susu pada kulit 4). Suatu penyakit kongenital herediter. Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi. Dapat timbul nyeri atau paraestehia Tumor non neoplasma 1. Q85. 2. Tempat pelayanan 10. dikulit. Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat. subkutis atau subfascial. harus dicurigai mengalami transformasi ganas. dengan ukuran bervariasi. Yang khas ialah terdapat cafe aux lait. Radiologis : X-foto. Pemeriksaan penunjang : 6. 2). D36. kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea (ganglion poplitea) 1). Perawatan RS 8. Tumor ganas jaringan lunak 1. M67. yang tumbuh progresif dengan pelan 2).S. Penyulit 11. Bedah b. Neurofibroma. : 1. sering multipel sepanjang jalan syaraf perifir. tumor atau polipoid. Elektro cauter 4. 2).1 1). Hemangioma : radioterapi. konsistensi lunak 3).S. Informed Consent 12. kelas C R. Cryosurgery 3. Lama perawatan 14. MRI pada tempat tumor 2. Hasil : : : : 1. Tenaga standar 13.5. Berbentuk nodus. yang terdapat sejak lahir atau baru manifest setelah dewasa.4 1). Terapi : perdarahan.

Patologi 17. Gangion aponeutikum 10. 24 minggu. kemudian lepas 6 . Leiomyoma 9. Hemangioma 2. Prognosis 19. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Neurofibromatosis : : Baik : 12 minggu. Synovioma 8. Neurofibroma 6.16. 52 minggu. Benign fibrous histiocytoma 5. Otopsi 18. Rhabdomyoma 7. Lipoma 3. Fibroma 4.

Prostat : hiperplasia 2). Tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Urologi 13. sertoli sel tumor. kelas C R. Hidrokel testis 3. pemeriksaan spesimen operasi 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait ] 7. Bedah : Eksisi tumor. Kriteria diagnosis : 1. Diagnosis 1. TUR b. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. padat atau kisteus. Prognosis : Baik 19. Terapi : a. Penyulit : 1. ICD : Teratoma Ganas In situ Jinak Tidak tentu 7 . Informed Consent : Perlu 12. Otopsi : 18. Fisik : tumor kecil. tumor Brenner 2. karsinoid. Keluhan : testis. Penis & skrotum : kiste epidermis.S. Testis & epididimis : granuloma. umumnya < 2 cm. Spematokel 5.S. Terapi : perdarahan. Neoplasma 1). Tempat pelayanan : Minimal R. Non bedah : 9. Penyakit : 2. Tumor ganas 2. spermatookel. epididimis. Prostat : adenoma. Patologi : biopsi eksisi. biopsi testis. infeksi 11. FNA. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. berbatas tegas. Masa pemulihan : ± 1 minggu 15. hidrokel funikuli 3). Hasil : Bebas tumor / sembuh 16. Tumor non neoplasma 1). fibroma. Diagnosis banding : 1. Lama perawatan : ± 3 hari 14. penis atau skrotum 4. Perawatan RS : Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. myoma 2). di prostat (colok dubur) testis. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. ICD 2. Testis & epididimis : teratoma matur. pemeriksaan spesimen operasi 2. atheroma 17. penis atau kulit genetalia 2. Tindak lanjut : - 1.: D29 : TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI 3.

9 D33. Tempat pelayanan 10.1 6. Terapi a.2 D43. hanya untuk tumor ganas T : Klinis. Terapi 1). patologi Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8 .3 4.S. Perawatan RS 8.3 D09. Operasi : perdarahan. Bedah b. biopsi. MRI : nampak ada klasifikasi atau bentuknya seperti tulang. Makin dewasa manifestnya.2 TERATOMA 1. Informed Consent 12. 2. Diagnosis banding : 5. Eksplorasi operasi : untuk melihat keadaan tumor Staging. Stadium dini : bebas kanker 1. imaging. Penyulit 11.0 D48. 4. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Retroperitoneum C48. dsb. imaging.6 D29. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi teratoma. dsb 1. tulang.2. Non bedah 9. Radiologis : X-foto. Konsultasi 7.S. Tenaga standar 13.2 D38. Diagnosis 3. Penyakit : erosi atau destruksi tulang disekitarnya 2. Supraseller C71.7 2. Teratoma ganas : eksisi luas atau organtektomi : Radioterapi : Minimal R. Pemeriksaan penunjang : 6.1 5. MRI pada tempat tumor 2. Hasil : : : : 1. rambut. imaging. Masa pemulihan 15. Tumor jinak atau ganas organ yang bersangkutan Diagnosis 1.7 D48. seperti di sacrococcygeal. Patologis : FNA.2 D40.3 D15. Testis C62 D07. ada yang kistik yang terdapat pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi suatu teratoma 2). Ovarium C56. Kriteria diagnosis : : 4. FNA M : Klinis. infeksi 2). Lama perawatan 14. ovarium. pemeriksaan spesimen operasi 3. Eksplorasi operasi : Tumor berkapsul yang tegas (ganas). Manifest sejak lahir. gigi.0 D20. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak 2.7 D36. Teratoma jinak : eksisi tumor 2. R. patologi N : Klinis. CT-scan. Radiologi : X-foto polos/CT-scan. Berbentuk tumor ada yang padat. dsb. Mediastinum C38.9 D07. usus. Sacoccocygeal C76.3 D27 D39. kelas-C. mengandung kulit. Fisik : 1).3 3. atau setelah dewasa. makin besar kemungkinan keganasan 3. Radioterapi : radionekrose : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 7 hari : ± 1 bulan : 1. testis.

Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3.0-C22.16. Teratoma ganas 2. Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3. Patologi 17. Stadium dini : baik 2. Teratoma sifat tidak jelas : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. ICD : C64-C79. Teratoma jinak 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tindak lanjut 2. Otopsi 18.2 9 . Stadium sangat lanjjut : jelek : 0 – 3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 – 5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 1.4-C22. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1.

Terdapat tumor di mediastinum.2 1). 2.2 1). C69. dsb. Neuroblastoma adrenal. Tumor pada hati pada anak. C76. Diagnosis banding : KANKER PEDIATRI 1. Teratoma. pada USG abdomen terlihat tumor dari ginjal 4). nyeri dan hematuri. CT-scan atau MRI nampak ada tulang atau macam-macam komponen jaringan dalam tumor : 1). Radiologi : USG abdomen / CT-scan : nampaktumor pada hati 4). C22. testis. endothelial dan mesenchymal (tulang. yang terdiri dari campuran derivat jaringan epithelial. TERATOMA : 1. Radiologi : pada IVP. strabismus. anemia 2.2. HVA = homo vandelic acid 3. Laboratorium : AFP naik. Tumor mata pada anak-anak. HEPATOBLASTOMA 4. RETINOBLASTOMA 5. Tumor dapat bersifat ganas. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 10 . Diagnosis 3. mual muntah. Hepatoblastoma. Radiologi : Pada X-foto polos. Laboratorium : dalam urine terdapat kenaikan katekolamine. Tumor ginjal pada anak-anak. pada USG. umumnya pada umur 1-3 tahun 2). toraks. Tumor ganas syaraf atau ganglion perifir. kulit. tetapi umumnya di kelenjar adrenal. Limfoma maligna 5. mungkin pula disertai anemi. ikterus 4. dsb) 2). VMA = vanyl mandelic acid. retroperitoneum. Kriteria diagnosis 4. terlihat ada klasifikasi dalam tumor. C64 1). Retinoblastoma. Keluhan : sakit perut. NEUROBLASTOMA 3. Tumor berasal dari ginjal. umumnya dibawah 12 tahun 3). dapat mengalami regresi spontan pada bayi kurang dari 1 tahun 2). gigi. releks papil putih. 2). Laboratorium : hematuria. Tumor jinak. hipertensi atau panas 3).2 1). pada IMP terlihat pyelum normal 3). usus. rambut. Tumor Willem (nephroblastoma). Pada penyinaran : X-foto polos. FlexnerWintersteiner rosette pada retina 3). panas. dapat di leher. TUMOR WILMS. Terdapat leukocoria. gangguan fungsi hati. sifat tidak tentu atau jinak 3). in situ. C79. anoreksi. abdomen. berat badan meurun 2). pada umur dibawah 5 tahun. Tumor dapat uni atau bilateral 5. hati.4 1). ovarium. Ada trias gejala : tumor abdomen. umumnya pada umur dibawah 5 tahun 2). ada filling defek di pyelum. tampak ada tulang atau kalsifikasi dalam tumor pada USG.

Hasil 16. CT-scan. doxorubicin. Ginjal : nephroblastoma 2. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna dalam 1-3 bulan. Masa pemulihan 15. Sitologi : FNA. kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. hepatocelular carcinoma 4. Terapi : perdarahan. pada mata : eksentrasio bulbi. Stadium dini : bebas kanker 2. paraneoplastik sindrom 2. patologi M : Klinis. Terapi a. imaging. Lama perawatan 14. : 1. Laboratorium : darah. Non bedah 9. seroma. imaging. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Penyakit : perdarahan. Mata : retinoblastoma 5. ganglioneuroma 3. Organtektomi : Pada tumor Willen : nefrektomi. katekolamine 3. 2. Tenaga standar 13. Bedah : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : 1. gangguan fungsi organ : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Anak Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 10 – 14 hari : ± 12 minggu : 1. USG abdomen. : Minimal R. Hepar : hepatoblastoma. 2. atau radioterapi primer bila tumor inoperabel. benign teratoma.S. Perawatan RS 8. Adrenal : neuroblastoma. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. patologi N : Klinis. urine. pada ovarium : ovariektomi. cyclophospha-mide. Radiologi : IMP. MRI 2.1. dsb. pada testis : orchidektomi. fungsi hati. terato carcinoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan ksus kematian yang sebabnya tidak jelas b. Eksisi luas tumor. imaging. AFP. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. actinomycin-D. Konsultasi 7. Tempat pelayanan 10. Radioterapi pre atau pasca bedah. Informed Consent 12. Kemoterapi : dengan vincristine. patologi 6. Teratoma : malignant teratoma. infeksi. Otopsi 11 . infeksi. Patologi 17. sitologi 4. Penyulit 11. jenis histologi. Patologi. fungsi ginjal. derajat Staging : T : Klinis.

3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 .18. Stadium sangat lanjut : jelek : 0 .5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 12 . Stadium lanjut : dubius 3. Prognosis 19. Tindak lanjut : 1. Stadium dini : baik 2.

Tumor jinak kelenjar limfe 2. inguinal. seperti leher. Diffuse NHL. ketiak. 4. pada HD = Hodgkin Disease. fungsi ginjal. sumsum tulang terbuka. tonsil atau lingkaran Waldeyer 3. Patologis : jenis histologi. tulang. Pada laparotomi karena ileus ditemukan adanya agregat jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan obstruksi ileus itu Diagnosis banding : 1. ditemukan sel Reed Sternberg. pada NHL = Nn Hodgkin Limfoma tidak 7. penurunan berat badan atau berkeringat malam yang tidak jelas sebabnya 2. Fisik : limfadenopati singel atau multiple. Bedah : Laparotomi. 7. atau keluhan karena ada benjolan di perut 2). Patologi : pS = pathological staging Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. torakoskopi 6. Panas badan. CTscan. Klinis : cS = clinical staging 2. Limphadenitis non spesifik Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Non Hodgkin Lymphoma = NHL 1). globulin. X-foto tulang. LDH. SGPT. sumsum tulang 4. albumin. jika timbul ileus atau peritonitis b. C83 3. 6. Pembesaran kelenjar limfesuperficial seperti di leher. ICD 2. MRI untuk terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe 4. CT-scan abdomen. Non bedah : 1. Radiologi : X-foto toraks. inguinal. Peripherial and cutaneous T-cell lymphoma. 5. fungsi hati. laparotomi. Laboratorium : darah lengkap. bila limfoma masih lokal pada satu regio 2). 40 Gy. Limphadenitis tuberkulosa 3. faktor resiko 2. C85 Kriteria diagnosis : 1. C82 2). Epidemiologi : umur. MRI 3. Patologi : biopsi kelenjar limfe. Keluhan : 1). ketiak.1. USG abdomen. C84 4. Radiologi : USG abdomen. Immunohistokimia : Sel-T atau sel-B Staging 1. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma. : C81 s/d C85 : LIMFOMA MALIGNA 1. alkali fosfatase. Hodgkin Disease = HD C81 2. atau benjolan di tonsil atau faring. Diagnosis 3. Eksplorasi : laparoskopi. Follicular (nodular) NHL. atau dengan VC 5. Pada sindroma vena cava superior 13 . 8. Radioterapi : 1). di salah satu atau lebih regio kelenjar limfe superficial.

paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1.9. Mixed cellularity 4). Hodgkin’s unspecified 7). Radioterapi : Radiodermatitis. Tindak lanjut : : : 2. Patologi : : : : : : 17. Reticulosarcoma perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas 1. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Lymphocytic depletion 5). Stadium dini : bebas kanker 2. Plasmacytoma 4. Nodular sclerosis 3). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. radionekrose. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 14 . Follicular (Nodular) 2). AVBD = adriamycin. mual / muntah. anemia. Kemoterapi dengan : 1). sindrom vena cava superior 2. peritonitis. bleomycin. Hasil 16. Mycosis fungoides 3.Other Hodgkin’s disease 6). Operasi : Perdarahan. Lymphocytic predominace 2). Tempat pelayanan 10. Non Hodgkin Lymphoma 1). Terapi : 1). alopecia Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis onkologi medik ± 24 minggu ± 4-8 minggu 1. Penyulit : : 11. Otopsi 18. Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3. Tenaga standar 13. Penyakit : ileus obstruksi. Kemoterapi : Netropenia. prednison dan procarbazine Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 1. Informed Consent 12. infeksi 2). oncovin. Diffuse 2. Lama perawatan 14. Stadium dini : baik 2. Hodgkin Disease 1). Masa pemulihan 15. lemas 3). MOPP = mechorethamine. vinblastine dan dacarbazine 2).

Penyakit : 2. Dicurigai ganas : 1).: R59 : LIMFADENOPATI : Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio leher. Sekunder : bila ditemukan ada tumor primernya 4. Limfoma maligna 1. Limfadenitis tuberkulosa 2. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. inguinal yang dapat : 1. Diagnosis 3. Tuberkulosa : sembuh 2. toksoplasma) Staging. Laboratorium : test immunologis (TBC. Kriteria diagnosis 15 . Perawatan RS : Rawat inap bila perlu. Pemeriksaan pennunjang : Diagnosis : 1. Masa pemulihan : ± tegantung dari sebabnya 15. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Terapi : 11. Penyulit : 1. hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker T : cari letak tumor primernya. biopsi eksisi 3. Hasil : Tergantung dari sebabnya : 1. Reaktif hiperplasia kelenjar lilmfe 3. ketiak. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin) 3. Metastasis kanker dari tempat lain. Informed Consent : Perlu 12. Terapi : a. 5. Radiologi : tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk mencari tumor primernya 2. ICD. Diagnosis banding : 1. Bedah : Tergantung dari penyebabnya b. Reaktif hyperplasia : sembuh 3. klinis dan imaging N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase jauhnya M : cari lokasi metastase jauhnya. ICD 2. untuk diagnosis dan tindakan 8. Metastase kanker : sukar sembuh 16. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Patologi : FNA. Reaktif hiperplasia 4. Limfoma maligna : bebas kanker 4. tanpa ada radang. Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk konglomerat 3. baik spesifik maupun non spesifik 2. Limphadenitis khronika. Lama perawatan : ± tegantung dari sebabnya 14. Primer : apabila kelenjar membesar progresif. terfiksasi. atau tidak sembuh dengan antibiotika atau obat anti TBC 2). Singel atau multipel 2. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi 1. Non bedah : Tergantung dari penyebabnya 9.C77 atau C80. padat. klinis dan imaging 6.

C77 atau ICD topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis menjadi MUO = Metastase of Unknown Origin atau CUP = Cancer of Unknown Primary. Otopsi 18. Tindak lanjut 4. Prognosis 19. Neoplasma : tergantung dari stadiumnya : Tergantung dari penyebabnya 16 . C80) : : 1. Non neoplasma : baik 2. ICD. Metastase kanker Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat ditemukan tumor primernya (ICD.17.

Infeksi d). Hematoma c). MRI : ada pembentukan tulang baru (Codman’s trangle). USG abdomen. Penyakit : fraktur. scintigrafi tulang). Radiologi : X-foto tulang. Alopecia 11. Kiste tulang 3. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Penyulit : 1. patah tulang patologis. Diagnosis banding : 1. CT-scan. Radioterapi pra atau pasca bedah. patologi spesimen operasi N : Klinis. ICD 2. patologi 6. Scintigrafi tulang 3. doxorubicin. leher. Laboratorium : darah. imaging (X-foto toraks. Tumor jinak tulang 2. timbul patah tulang. Terapi 1). Patologi : Biopsi : FNA. fosfatase alkali 4. Chemoterapi : a). Masa pemulihan : ± 4-12 minggu 1.: C40-C41 : KANKER TULANG : 1. Netropenia b). paraplegia 2. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah ortopaedi 13. methotrexare 9. ada invasi tumor keluar tulang. Operasi : a). Epidemiologi : umur. Radioterapi : a). lokasi tumor 2. Cacat 2). fungsi ginjal. biopsi tulang. Amputasi / disartikulasi 2. Perdarahan b). Kemoterapi : dengan kombinasi cyclophosphamide. Diagnosis 3. Terapi : a. ada “sunrays phenomen” pada osteogenic sarcoma. Non bedah : 1. Radiologi : X-foto tulang. CT-scan. paraplegia 2. derajat diferensiasi sel) Staging T : Klinis. paraplegia 3. Osteomyelitis 5. urine. Ekstemitas : 1). fungsi hati. cyclophosphamide. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Reseksi tulang + transplantasi tulang atau prosthese tulang (limb preserving operation) 2). imaging. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait 7. faktura patologis 4. Kepala. Lemas d). Fisik : tumor pada tulang dengan invasi keluar tulang. Fibrosis 3). tubuh : Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks / rekonstruksi b. MRI. Bedah : 1. MRI. Informed Consent : Perlu 12. Radiodermatitis b). Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Kriteria diagnosis 17 . Radionekrose c). Mual/muntah c). cisplatin. nyeri tulang. Keluhan : tumor. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. imaging M : Klinis. atau phenomena “union peel = kulit bawanng” pada Ewing sarcoma. atau radioterapi primer 2. CT-scan.

Giant cell tumor 2). Angiosarcoma 4). Juxtra chondrosarcoma 5). Juxtacortical osteosarcoma 3). Lisis tulang 1). Osteogenic sarcoma 2). Liposarcoma 6). Stadium dini : bebas kanker 2. Chondrosarcoma 4). Patologi 17.15. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 18 . Stadium lanjut : dubius 3. Malignant mesenchymoma 7). Hemangiopericytoma 3). Hasil 16. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Ewing sarcoma 3. Prognosis 19. Chordoma 9). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Lain-lain 1). Adamantinoma dari tulang panjang : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Hemangioepithelioma 2). Fibrosarcoma 5). Stadium dini : baik 2. Tindak lanjut : 1. Undifferentiated sarcoma 8). Otopsi 18. Mesenchymal chondrosarcoma 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Membentuk tulang atau kartilago 1).

BUN. densitas heterogen 2). vas deferen 2. MRI) 6. Hidrokel testis 3. Radiologi : 1).: C62 : KANKER TESTIS : 1. badan lemas.5 xN (normal) 4. diarhoea. kanan dan kiri tidak sama 3. Informed Consent : Perlu 12. Lab : AFT naik > 15 ng/ml. Keluhan : Testis membesar. HCG naik > 5 mIU/ml. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. urine. CT-scan abdomen 2. cisplatin 9. nafsu makan turun leukopeni. diarhoea. HCG 3. infeksi 2). muntah. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. Tumor jinak 2. Bedah : Untuk non seminoma 1. Masa pemulihan : ± 12-24 minggu 15. Terapi : a. imaging. USG abdomen. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Laboratorium : darah. Chemoterapi : mual. badan lemas. USG abdomen. AFP. Operasi : perdarahan. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. dsb 11. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. ICD 2. Penyakit : invasi ke kulit skrotum. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Orchidektomi total 2). konsistensi padat. nyeri. Terapi : 1). Radioterapi : 25-30 Gy 2. Radiol : X-foto toraks. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Diagnosis banding : 1. nafsu makan turun 3). USG : testis bentuk irreguler. biopsi testis. keras. Non bedah : Untuk seminoma atau non seminoma 1. CT-scan. Stadium dini : bebas kanker 2. terasa berat 2. Hasil : 1. paliasi 1. lokal atau difuse. (USG testis). Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. muntah. pertanda tumor N : klinis. Kriteria dignosis 19 . imaging M : klinis. Nodus regional : diseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. tumor testis. Patologi : FNA. Diagnosis 3. Radioterapi : mual. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Penyulit : 1. LDH > 1-1. imaging (X-foto toraks. Orchitis 5. Orchidektomi radikal 2. Kemoterapi : etoposide. Lokal : 1). alopesia. Fisik : tumor membesar.

Stadium sangat lanjut : dubius : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 20 . Otopsi 18. York sac tumor 6). Leydig cell tumor 7). Seminoma 2. Embryonal carcinoma 2). Non seminoma 1). Stadium lanjut : baik 3. Patologi 17. Choriocarcinoma 3).16. Prognosis 19. Embryonal rhabdomyosarc 5). Granulosa cell tumor : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Teratoma maligna 4). Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Stadium dini : baik 2.

Tumor primer 1). Tumor jinak mulut 2. Cisplatin b. Radiologi : X-foto rahang. sering nyeri di mulut 2. biopsi (insisi / eksisi / cakot). Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Patologi : FNA. CT-scan) 6. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. Ulkus kronik benigna 3. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel 2. Mitomycin-C 9. Fisik : 1). Bedah : 1. yang mudah berdarah. Methotrexate b. Radiologi : pada X-foto maksila / mandibula atau panoramik. sering nyeri. FAM : Flouroutacil. Gusi C03. Penyakit 1). pada T2 keatas Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan diberikan perawatan higiena mulut yang baik b. CT-scan. higiene mulut 3. Trismus 3). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. defek mukosa ditutup dengan Thiersch pada tumor T1S atau T1 3). patologi M : klinis. Stomatistik 5. Kriteria diagnosis : 1. panoramik. tidak menghilang degan pengobatan konservatif selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrasi 2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau leher 3). Ada lesi di mulut dapat berupa indurasi. imaging. Dasar mulut C04. Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir 2). spesimen operasi (jenis histologi. Glosektomi total c. Keluhan : ada tumor atau ulkus. Ada faktor predisposisi seperti merokok. Endoxan 2). Terapi : a. nodus. ICD 2. Flourouracil c. Eksisi luas lesi trans-oral. Sukar makan & minim 4). Penyulit : 1. imaging (X-foto toraks. Tunggal : a. Granuloma 4. USG abdomen. VBM : Vincristin. Bleomycin. Adriamycin. imaging. nginang. kelaianan gigi. tumor atau ulkus.: C00 . Multifarma : a. Diagnosis 21 . peminum alkohol. Lidah C02. Nyeri 2). mungkin terlihat ada destruksi tulang 4. Reseksi palatum / mandibula / pipi + rekonstruksi b. Non bedah : 1. derajat diferensiasi sel) Staging T : klinis. MRI 2. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. eritroplasia Querat 4). Rongga mulut lainnya C06 3. Palatum C05. patologi N : klinis. Sukar nafas 1. Operasi khusus : a. Pangkal lidah C01. Ada lesi pra kanker : seperti leukoplakia. mulut berbau. Diagnosis banding : 1.C06 : KANKER RONGGA MULUT Bibir C00. mudah berdarah. Operasi Commando dan rekonstruksi. Kemoterapi : dengan obat 1).

Nekrose flap 2). Stadium dini : baik 2. Tindak lanjut 2. Mal. Rhabdomyosarcoma 3). Karsinoma in situ 2). Squamous cell carcinoma 3). fibrosis 3). toksis Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. fitula oro-kutan. Hemangiopericytoma : Perlu unuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Epithelial 1). infeksi. Masa pemulihan 15. Prognosis 19. Stadium dini : bebas kanker 2. Hasil 16. Stadium lanjut : dubius 3. Terapi : 1). Mesenchymal 1). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Adenoid cystic carcinoma 5) Pleomorphic carcinoma 6). mukositis infeksi. Informed Consent 12. Syadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 22 . Otopsi 18. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Lama perawatan 14. kiloma. sinus dari implant. infeksi. mulut kering. Adenocarcinoma 4). Patologi : : : : : : 2. Radioterapi : Mukositis. Chemoterapi : neutropenia. Tenaga standar 13. kawat/plat skrup. Fibrosarcoma 2). Operasi : Perdarahan. Leiomyosarcoma 4).11. Malignant melanoma 17.

Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 17. Prognosis 19. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. Kriteria diagnosis : C60 : KANKER PENIS : 1. Lama pemulihan : ± 4-8 minggu 15. Penyakit : kehilangan penis 2. Biopsi lesi. Hasil : 1. Pembesaran kelenjar limfe inguinal 4. cysplatin 9. BCC melanoma lymphoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yag sebabnya tidak jelas : 1. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Penyulit : 1. Radioterapi 40 Gy. derajat deferensiasi sel 2. methotrexate. Squamous cell carcinoma 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Non bedah : 1. pemeriksaan spesimen operasi. Stadium dini : bebas kanker 2. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Diagnosis banding : 1. infeksi 11. Laboratorium : darah. Otopsi 18. Conyloma 5.1. Informed Consent : Perlu 12. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. CT-abdomen 3. Tindak lanjut 23 . Keluhan : benjolan di penis 2. Radiologi : X-foto toraks. jenis histologi. tumor eksofitik. Non SCC : Sarkoma. brachiterapi dengan implantasi irridium 2. Diagnosis 3. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Bedah : 1. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Lesi berupa plaque merah. Fisik 1). erosi atau ulkus terutama di glans atau preputium 2). USG abdomen. Diseksi kelenjar limfe b. ICD 2. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium dini : baik 2. urine 6. struktur uretra. Terapi : perdarahan. Panektomi parsial atau total 2. Kemoterapi : bleomycin. paliasi 16. Tumor jinak 2. nodus.

: C50 : KANKER PAYUDARA : 1. Kriteria diagnosis 4. imaging (X-foto toraks. Diagnosis 3. Displasia mamma 4. USG abdomen. USG mamma : ada tumor berbatas tidak tegas. peau d’orange. 7. Bedah : 1. dan ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas. eritema kulit diatas tumor. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant 24 . Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi ± diseksi axilla + radioterapi pasca bedah b. Alternatif : 1). ulserasi Tanda metastase : regional. Mastitis Khronika 5. hiper-echoic Diagnosis banding : 1. 6. derajat diferensiasi) N : Klinis. Limfoma maligna Pemeriksaan penunjang : Diagnosis : Triple diagnostik : 1. biopsi sentinal node M : Klinis. tumbuh progresif. satelit nodule. Tumor jinak mamma 2. erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal puting susu 2. batas tidak jelas. stellate. bentuk irreguler. imaging. Fisik : pada payudara terdapat tumor padat keras. BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery) : a. 5. Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau kanker insitu diseksi axilla tergantung dari keadaan kelenjar axilla atau dari biopsi sentinal node 3. Radiologi : a. ada pembesaran kelenjar limfe ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh 3. Sarcoma jaringan lunak 6. klasifikasi mikro yang tidak teratur b. Mammografi ada tumor batas tidak tegas. Klinis 2. Keluhan : tumor atau borok yag mudah berdarah pada payudara. CT-scan.1. bentuk tidak teratur. Standar : Mastektomi Radical Modifikasi (Patey / Madden) 2. ± Reskonstruksi mamma (myokutaneus latisimus dorsi flap) 3). Mastektomi Radical Standard Radical (Halstedt) 2). Tumor phillodes 3. umumnya pada permulaan tidak nyeri. FNA Juga VC / PC dan pemreiksaan patologi spesimen operasi Staging : T : Klinis. melekat kulit / muskulus pektoralis / dinding dada. bone scan. imaging. MRI) Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. ICD 2. patologi (jenis histologi. Mammografi atau USG mamma 3. 8.

leukopenia. alopesia. plebitis. Tamoxifen. Stadium lanjut : dubius 3. Lama perawatan 14. oedema lengan. Tempat pelayanan 10. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma 3. Non bedah 9. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Hasil 16. Adriamycin. Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer 2. Variant khusus : 1). Fibrosarcoma 2. infeksi. GnRH analogue 4. infeksi. efusi pleura. Methotrexate. Medullary carcinoma 2). dsb : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 7-14 hari : ± 24-36 minggu : 1. Campuran 1. Flourouracil 3. Informed Consent 12. paraplegia 2. Mucinous carcinoma 5). nekrose kulit. Kemoterapi : mual. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnose Epithelial 1. Operasi : perdarahan. seroma. Squamous cell carcinoma 8). muntah. dll. Patologi 17. Carcinosarcoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Papillary carcinoma 3). Undifferentiated carcinoma Mesemchymal 1. Mal. Scirrhus 6). Flourouracil CAF : Cyclophosphamide. Radioterapi : radiodermatitis. Penyulit 11. nekrose kulit tempat infusi. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 25 . Aromatase inhibitor. Kemoterapi : Adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan : CMF : Cyclophosphamide. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Mal. fibrosis. sendi bahu kaku 2). Stadium dini : baik 2. Prognosis 19. Tindak lanjut : 1. Penyakit : perdarahan. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan ovariektomi. Otopsi 18. nekrose flap. Masa pemulihan 15. Fibrous histiocytoma 4. Liposarcoma 3. faktura patologis. Tenaga standar 13. Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma 2. Terapi : 1). Terapi paliatif dan bantuan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. sendi bahu kaku 3). Cribriform carcinoma 4). Tumor phyllodes 2.b. Pagets disease 7). Stadium dini : bebas kanker 2. oedema lengan. infeksi. oedema lengan.

Patologi : Biopsi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Tumor dapat singel atau multipel (2). Papiloma intraduktal : duktektomi 4). Pemeriksaan diagnostik klinis : 1). Radiologi : USG mamma / mammografi 3). faktor resiko 2). Tumbuuh pelan dalam waktu tahunan c). Bentuk bulat atau oval e). Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada tanda metastase jauh 2). Penyulit : Operasi : 1). Diameter umumnya besar diatas b). kalau perlu MRS untuk tumor yang multipel 2). Fibroadenoma mamma : eksisi tumor mamma 2). Konsistensi padat elastis g). Vena subkutan membesar dan berbelok-belok (venaektasi) (4). Fibroadenosis 5. Konsultasi : Dokter spesialis Bedah Umum Dokter spesialis Bedah Onkologi 7. Perawatan RS : 1). Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel 3). Papillima intra duktal (1). Kriteria diagnosis klinis : D24 : TUMOR JINAK PAYUDARA : 1). Terapi : 1). Epidemiologi : umur. Sangat mobil dalam korpus mamma h). > 5 cm dan dapat lebih dari 30 cm a). Permukaan halus f). Diagnosis banding : 1. Informed Consent : Perlu ada informed consent 26 . Kulit diatas tumor mengkilat (3). Tumor filloides dan papiloma intraduktal : MRS 8. Sangat mobil dari dinding dada (2). Infeksi 11. Tumor filloides mamma (1). Tumor di mamma pada wanita a). Kiste payudara 3. Batas tegas d). ICD 2.1. Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase 3). Vries Coup 6. Sitologi : FNA 4). Kanker payudara 2. Fiboadenoma mamma (1). Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu (2). Ada bagian yang padat dan kisteus d). dibawah umur 30 tahun b). Tumor kecil di subareoler 4. Fibroadenoma mamma : Poliklinik. Muda. Tumor pada mamma yang besar. Perdarahan 2). Diagnosis 3. Permukaan berbenjol-benjol c). Hematoma 3). Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma 9.

Patologi 17. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 0-7 hari : ± 1-2 minggu : Sembuh : 1). Otopsi 18.12. Tumor phyllodes 3). Lipoma : : Tumor jinak : baik : 1). Masa pemulihan 15. Fibroadenoma 2). Tenaga standar 13. > 1 tahun : lepas 27 . Lama perawatan 14. Hasil 16. 0-1 tahun : tiap 3 bulan 2). Prognosis 19.

1) pada satu atau kedua mamma b). Mastitis (1). Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sediaan beku atau parafin Konsultasi : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi 28 . siklis sesuai dengan siklus menstruasi atau non siklis b).9) Diagnosis banding : 1). (O92. Mamma padat. 5. : N60 – N64 : DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LANNYA Kriteria diagnostik klinis : 1). N61 (2).0) atau jamak (N60. Galaktokel Terdapat kiste pada mamma yang berisi air susu (1). Mastitis puerperalis (O91) a). keruh atau seperti nanah dalam kista Kista dapat tunggal (N60. N60. Diagnosis 3. Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda radang (dolor. Dengan tumor a). Displasia mamma N60 (1). Kanker payudara 2). Mastitis non puerperalis. Neoplasma jinak payudara Pemeriksaan penunjang : 1). fungsio lesa) b). 4. Sitologi : FNA 3). rubor.1. 6. Fibroadenosis mamma (ICD. ICD 2. Kelainan dapat menghilang dan timbul dengan spontan sesuai dengan siklus menstruasi (2). Hipertrophi mamma (1). Tanpa tumor yang dominat a). lokal atau difuse c). Dapat uni atau bilateral (2). noduler.2) Tumor umumnya tidak besar. batas tidak tegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau menghilang secara spontan Tumor sering multipel atau bilateral 2). Radiologi : mammografi / USG mamma 2). Ukuran besar mamma melebihi ukuran normal b). Ginekomasti = hipertrophi pada laki a). calor. konsistensi padat. Nyeri pada mamma. Mamma pria membesar. (N64. Hipertrofi pada wanita a). tumor. Mastitis chronika Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan areola atau ditempat lain disertai atau tidak disertai dengan tanda-tanda radang 3). Jaringan mamma subareoler paling sedikit terba sebesar 1½ cm 4).8) (2). Galaktokel non puerperalis. Kista mamma Pada aspirasi keluar cairan serous. Galaktokel puerperalis. seperti mamma wanita b).

Patologi : : : : : : : : 17. Prognosis 19. Adenosis (4). antioksidan. Tempat pelayanan 10. Tumor displasia mamma (1). Aspirasi (2). Konservatif : dengan testosteron. Simple cyst (2). Bila gagal : eksisi tumor Minimal RS Kelas-C Operasi : 1).7. Mastitis (1). Hematoma 3). Konservatif : aspirasi kista. Terapi : 1). Tindak lanjut : : : 29 . Penyulit 11. Otopsi 18. EPO. Poliklinik 2). Operasi : eksisi tumor. Hasil 16. Perawatan RS 8. antiestrogen b). Papillary cyst (3). Hypertrofi mamma (1). tamoxifen (2). Gynecomasti Baik 3 bulan sampai 1 tahun 9. Adolesesent : reduction mammoplasti (2). Duct ectasia (5). danocrine. Infeksi Perlu ada informed consent Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Pasca bedah 2-3 hari Tergantung pada jenis tumornya Sembuh Perlu 1). Tenaga standar 13. Displasia mamma (1). Lama perawatan 14. MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara : 1). Non purulent : antibiotika (2). Perdarahan 2). bila konservatif gagal 2). Informed Consent 12. Galatokel : (1). Operatif : eksisi ginekomasti 4). Ginekomasti a). Masa pemulihan 15. Purulent / abses : insisi & drainage 3).

Melanoma maligna. Undifferentiated carc. proktitis. : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 6. Kriteria diagnosis : C21 : KANKER ANUS : Keluhan : nyeri kalau berak. jenis histologis. Patologi 17. Stadium dini : bebas kanker 2. tumor mobil atau melekat dengan struktur disekitarnya. Paget’s disease 8). derajat deferensiasi sel. imaging. CT-scan. Hasil 16. kolonoskopi Radiologi : foto kolon. gemzar. Kelenjar llimfe iguinal atau pararektal teraba besar Anuskopi / proktoskopi : terdapat tumor di anus 4. Mucoepidermoid carc.1. 6). Penyakit : obstruksi ileus. pada toucher rektum. toksis : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah digestif : ± 10-14 hari : ± 24 hari : 1. 2). Lama perawatan 14. USG abdomen. leukopeni. anemi 2. Informed Consent 12. Adenocarcinoma. Tempat pelayanan 10. pemeriksaan histologis spesimen operasi Staging : T : klinis. Hemorroid 5. 7). 4). MRI) : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : Operabel : eksisi anus untuk menyelamatkan sphinter reseksi abdominoperineal (operasi Moles) Inoperabel : Sigmoidostomi Elektrokoagulasi : Radioterapi : 40-50 Gy Chemoterapi : dengan FUFA. camptothecin. infeksi. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Diagnosis banding : Tumor jinak anus. ICD 2. Non Bedah 9. Terapi a. (X-foto toraks. Masa pemulihan 15. berak berdarah atau lendir Fisik : Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau polipod di anus. cisplatin Paliatif : analgetika. 5). Basal cell carc. patologi N : klinis. Squamous cell carc. EUS. spincter ani terba tegang. 3). nutrisi : Minimal RS kelas-C : 1. Perawatan RS 8. Bedah b. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Endoskopi : rektoskopi. Tenaga standar 13. doubel kontrast Patologis : biopsi. imaging. infeksi Radioterapi : radiodermatitis. paliasi : Epithelial 1). Konsultasi 7. patologi M : klinis. Otopsi 30 . Diagnosis 3. kistitis Kemoterapi : mual. Basaloid carcinoma. Terapi Operasi : perdarahan. Polip anus. muuntah. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Penyulit 11.

Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium dini : baik 2. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 31 .18. Tindak lanjut : 1.

X-foto toraks. Penyulit 32 . Penyakit : perdarahan.1. destruktif atau progresif Ada pembesaran kelenjar limfe regional Diagnosis banding : 1. SCC 1-2 cm. Posisi : ada lesi di kulit berbentuk plaque. Terapi : 1). Keratosis seborrhoicum 3. Eritroplasia Querat Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. ICD 2. bila ada metastase b. mudah berdarah 2. : C43 – C44 : KANKER KULIT : Melanoma maligna (C43) 1. Diagnosis 3. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. imaging. operasi tidak dapat radikal. indurasi. (C44) BCC = Kanker sel basal SCC = Kanker sel skwarnosa 1. bleomycin : Minimal RS kelas-C : 1. Kemoterapi : 1. USG abdomen. Tempat pelayanan 10. kasus inoperabel atau pada basalioma yang kalau dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi sukar. Keluhan : benjolan atau borok dikulit. infeksi. Tumor jinak kulit 2. Keratoakantoma 4. indurasi. cisplatin. MRI lokal pada lesi 2. anemi. Diseksi kelenjar limfe regional. 8. Keluhan : andeng-andeng membesar. nodus. CT-scan Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. patologi N : klinis. Leukoplakia 5. gatel. 5. Melanoma maligna : Dacarbazine. melphalan 2. Eksisi luas (pada BCC : tepi irisan ½ -1 cm. Kriteria diagnosis 4. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang menginfiltrasi kulit 3. CT-scan. Fisik : ada lesi di kulit berbentuk plague. nekrose kulit. patologi M : klinis. tumbuh infiltratif. dan melanoma maligna 2-3 cm mengelilingi tumor). Defek kulit ditutup dengan flap lokal atau transplantasi kulit Thierch 2. imaging. 7. seroma. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional Kanker kulit lainnya. methotrexate. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. 6. BCC dan SCC : 5-Flourouracil. cisplatin. nodus. Thiersch gagal 9. Operasi : perdarahan. infeksi. Bedah : 1. Non bedah : Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi. Patologi : biopsi insisi atau eksisi. Radiologi : X-foto. tumor eksofitik atau ulkus yang berbau. memborok atau mudah berdarah 2. tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman 3. defek yang luas di muka 2.

Hasil 16. nafsu makan turun 3).11. muntah. diarhoea. Patologi : : : : : : 17. Basal cell carcinoma 2. Tindak lanjut : : : 2). Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 33 . Squamous cell carcinoma 3. badan lemas. Radioterapi : mual. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Prognosis 19. Stadium dini : baik 2. Otopsi 18. Stadium dini : bebas kanker 2. Metatypical carcinoma Melanosit 1. Stadium lanjut : dubius 3. Dermatofibrosarcoma protuberan Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 1. paliatif Epithelial 1. muntah. Lama perawatan 14. Stadium sangat lanjut : Tidah sembuh. dsb. alopesia. Malignant melanoma Mesenchymal 1. Tenaga standar 13. nafsu makan turun leukopeni. Informed Consent 12. Adenocarcinoma 4. Masa pemulihan 15. badan lemas. diarhoea. Chemoterapi : mual. Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1.

retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat bervariasi tergantung dari lokasinya. misalnya dengan CyVADIC Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyakit : perdarahan. ICD 2. patologi dari biopsi / spesimen operasi (jenishistologi. anemi. Lama perawatan 14. menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya. Eksisi luas 2. : C49 : SARKOMA JARINGAN LUNAK : Keluhan : tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh progresif Fisik : Tumor subkutan di ekstrimitas. dan pada arteriografi tampak tumor hiper-vaskuler. dinding tubuh. sesak nafas Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-12 minggu atau cacat seumur hidup b. Masa pemulihan : : : : : : : 34 . kulit). Tenaga standar 13. MRI tampak tumor berbatas tidak tegas. invasi / penekanan struktur vital. dapat superfisial atau dalam. di kepala-leher. ada bagian tumor yang nekrosis. 6. 8. pemeriksaan spesimen operasi Staging T : klinis. MRI). CT-scan. Non bedah 9. tumor abdomen Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Radiologi : X-foto polos. patologi Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. umumnya besar > 5 cm. CT-scan. 7. Disartikulasi Tumor di kepala. Penyulit 11. mengivasi jaringan disekitarnya (tulang. Eksisi kompartment 3. Eksisi luas 2. Tempat pelayanan 10. ada neovaskularisasi. hematom. Diagnosis banding : Tumor jinak jaringan lunak. imaging M : klinis. imaging (X-foto toraks. MRI Patologi : biopsi. 5. leher. Kriteria diagnosis 4. USG abdomen. derajat diferensiasi sel) N : klinis. Reseksi dindig toraks 3. Tumor tumbuh progresif. imaging. Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan suatu tumor ganas. Bedah : Tumor di ekstrimitas 1. Amputasi 4. CT-scan. Diagnosis 3. Informed Consent 12. dinding tubuh 1. Eksisi dinding abdomen Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor Radioterapi : 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primer Kemoterapi.1. Radiologi : X-foto lokal.

Fibrosarcoma 4. Mesothelioma 12. Angiosarcoma 10. Rhabdomyosarcoma 7. Malignant fibrous histiocytoma 2. paliasi : 1. Prognosis 19. Stadium lanut : DFS atau OS diperpanjang 3.15. Stadium lanjut : dubius 3. Tindak lanjut : 1. Mesenchymoma 11. Stadium dini : baik 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Patologi 17. Hasil 16. Stadium dini : bebas kanker 2. Neurofibrosarkoma 3. Leiomyosarcoma 8. Otopsi 18. Lain-lain : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 35 . Epitheloid sarcoma 9. Synovial sarcoma 6. Liposarcoma 5.

Radioterapi : mual. eksplorasi laparotomi. mitomycin. dsb. infeksi 2. alopesia. USG abdomen. doxorubucin. imaging. Penyulit : 1. diarhoea. CTscan. nafsu makan turun 3). Operasi : perdarahan infeksi 2). Radiologi : IMP : deformitas dari calices. patologi 6. Terapi 1). diarhoea. Terapi : a. patologi N : klinis. Fisik : Tumor di pinggang. hipercalcemia. badan lemas. berat badan menurun. Angiografi : tumor hyopervasuler 4. BUN. Radiologi : IVP. Bedah : Nefrektomi radikal ± thrombo-embolektomi ± Deseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. imaging. IVP : ada filling defek dari calices atau pyelum b). badan lemas. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Informed Consent : Perlu 1. retrograde pyelografi. Explorasi laparotomi : tumor dari ginjal Kanker ginjal pada orang dewasa 1). 11. Retrograde pyelografi : ada ekstensi tumor ke pelvis d). Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. nafsu makan turun leukopeni. Patologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. MRI : tumor ginjal 4). Non bedah : Radioterapi : pre atau pasca bedah atau radioterapi primer Kemoterapi : dengan FU. imaging. SGPT 3. Tumor jinak ginjal. Kiste ginjal 5. derajat diferensiasi del) Staging T : klinis. CT-scan. SGOT. eksplorasi laparotomi. Keluhan : hematuria. eksplorasi laparotomi. terbatas atau meluas keluar ginjal c). Kriteria diagnosis 36 . Diagnosis 3. nyeri di pinggang. patologi M : klinis. Keluhan : hamaturia. USG / CT-scan. MRI : ada tumor di ginjal. muntah. Radiologi : a). tumor di pinggang 2). MRI angiografi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. cisplatin 9. Fisik : terdapat tumor di daerah ginjal 3). Penyakit : gagal ginjal.: C64 : KANKER GINJAL : Kanker ginjal pada anak-anak 1). Chemoterapi : mual. venacavografi 2. creatinin. Diagnosis banding : Batu pyelum. hiperpireksi 2). uric acid. uni atau bilateral 3). Laboratorium : hamatoria 4). ± keluhan paraneoplastik seperti : anemia. tumor ginjal USG. Chusingsindrom. muntah. ICD 2. urine. hipertensi erythro-cytosis. Laboratorium : darah.

Clear cell carc (hypernephroma) f). Tubular carc b). Renal cell carc d). Leiomyosarcoma d). Prognosis 19. Papillary carc e). Hasil 16. Masa pemulihan 15. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak : ± 7-14 hari : ± 12-24 minggu : 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 37 . Tenaga standar 13. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Fibroushistiocytoma c). Hemangiosarcoma Complex mixed cells a). Granular cell carc c). Lama perawatan 14. Stadium dini : baik 2. Stadium dini : bebas kanker 2. paliasi : Epithelial / Adenocarcinoma a). Teratoma : Perlu untuk :konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1.12. Carcinoid tumor Mesenchymal cell a). Mal. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Patologi 17. Fibrosarcoma b). Nephroblastoma (Wilm tumor) b). Rhabdomomyosarcoma e). Otopsi 18.

hematoma. Ginjal : USG. FNA. squamous cell metaplasia 3). Urolithiasis 3. Patologi : FNA. squamous cell papilloma 2. pieloskopi. biopsi 3). ICD 2. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. fibroma. Ginjal : IVP. Penyulit : 1. endometriosis. Tumor ganas 2. kreatinine 2. Buli-buli : IVP. Laboratorium : darah. Prognosis : Baik 19. Hasil : Keluhan dan tumor hilang 16. Eksisi tumor 2.: D30 : TUMOR JINAK UROLOGI & TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI 3. Sitologi : urine 4. Tumor jinak 1). Diagnosis banding : 1. mioma 2). kiste 17. padat atau kisteus 3. Ginjal : adenoma. Infeksi 5. disuria 2. TUR b.(hanya untuk tumor ganas) 6. Ginjal : kiste ginjal. adenoma 3). Kriteria diagnosis : 1. Penyakit : hematuria. Bedah : 1. Lama perawatan : ± 2-5 hari 14. USG. terlihat tumor kecil di ginjal. Keluhan : hematuria. Pielum : transitional cell metaplasia. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. spesimen operasi Staging : . kistoskopi 3. infeksi 2. squamous cell metaplasia. urine. Pyelum : IVP. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi 13. Buli-buli : transitional cell metaplasia. untuk diagnosis dan tindakan 8. glandular metaplasia. Informed Consent : Perlu 12. TUR. Pyelum : IVP terlihat filling defek di pyelum 4. Pielum : transitional cell papilloma. kistografi. Otopsi : 18. retrograde pyelografy 2). fibous polip. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Buli-buli : kistografi atau kistokopi terlihat tumor kecil di buli-buli 4. Radiologi : 1). Tumor non neopplasma 1). hamartoma 2). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Terapi : a. Terapi : perdarahan. Perawatan RS : Rawat inap kalau perlu. sitologi. infeksi 11. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Non bedah : 9. Diagnosis 38 . Buli-buli : transitional cell papilloma. BUN. Tindak lanjut : - 1.

Lama perawatan : ± 5 hari 14. gangguan menelan. suara serak karena lesi rekuren. Otopsi : Tidak perlu 18. mobilitas terbatas. Hasil : Tumor terangkat secara onkologi / radikal 16. Diagnosis banding : Tiroiditis kronis. Perawatan RS : Rawat inap 8. ICD 2. kejang karena hipo-paratiroid. Substitusiterapi levotiroksin 9. struma adenomatosa 5. Kriteria diagnosis 39 . tidak ada ekstensi 1. Terapi : Total tiroidektomi / near / total tiroidektomi + FND bila metastase ke kgb leher / radiasi ekstera / interna (J-131). Prognosis : Tergantung faktor prognostik Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm. alkalifosfatase 6. Diagnosis 3. Penyulit : Sesak nafas. Pemeriksaan penunjang : FNAB X-foto leher (kalau perlu) Untuk staging : X-foto toraks. USG abdomen. perdarahan 11. FNAB keganasan (+) 4. Informed Consent : Perlu 12.: C 73 : KARSINOMA TIROID : Benjolan di leher bagian depan. pembesaran kelenjar getah bening leher. trakheomalaise. ikut bergerak waktu menelan disertai tanda pembesaran yang cepat. Patologi : Perlu 17. tipe diferensiasi baik. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. konsistensi keras. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi FND dilakukan oleh dokter spesialis bedah 13. kemoterapi bila ada indikasi. suara parau. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. sesak nafas. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10.

Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. macamnya tergantung proses patologis tiroid : M. Prognosis : Baik.Basedow ). T4. fixed. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. jantung berdebar. Informed Consent : Perlu 12. Lama perawatan : ± 2 hari 14. Hipoparatiroidi. Bentuk bisa difus. Terapi : Operasi. Kriteria diagnosis 40 . mudah capek. sesak (+). disfagi (+). Perawatan RS : Rawat inap bila ada indikasi operasi : Keganasan Hipertiroidi yang sudah teregulasi Gejala penekanan Keluhan kosmetik 8. gelisah. E 06 : STRUMA : Benjolan / massa di trigonum koli di anterior sebelah bawah.: E 04. Hasil : Struma (-) 16. Pemeriksaan penunjang : Faal tiroid : T3. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. ada pembesaran kgb leher. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah kurus. obstipasi. benjolan keras. Curiga ganas bila tumbuhnya cepat. uninoduler atau multi noduler. ikut bergerak ke atas bila penderita melakukan gerakan menelan. tambah gemuk. Diagnosis 3. Patologi : Perlu 17. ngantuk. Hematoma Krisis tiroid (untuk M. Rekuren. Diagnosis banding : 5. Hipotiroidi 11. Otopsi : Tidak perlu 18. sering keringatan. 4. Penyulit : Lesi N. E 05. sulit tidur. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. TSH Biopsi aspirsai jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga ganas BMR (pada saat rawat inap) 6. suara parau. ICD 2. diare) atau gejala hipotiroidi (malas. kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut 1. mata sembab).Basedow : tiroidektomi subtotal Struma uninodosa : lobektomi subtotal Struma multinodosa : lobektomi / tiroidektomi subtotal (tergantung jumlah lobus yang terkena) Tiroiditis kronis : ismektomi 9.

Diagnosa 3. Lama perawatan : Tergantung penyebab 14.: C 77. antibiotika) 9. kemoterapi. Diagnosis banding : Limfadenitis spesifik / non spesifik Limfoma maligna Metastase dari tempat lain 5. Pemeriksaan penunjang : FNAB. pembedahan. biopsi eksisional. toksoplasma) CT-scan bila ada indikasi 6. Informed Consent : Perlu 12. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Masa pemulihan : Tergantung penyebab 15. Penyulit : Tergantung penyebab 11. atau biopsi insisional Pemeriksaan darah lengkap Tumor marker bila ada fasilitas Pemeriksaan serologis (TB-DOT. Terapi : Sesuai penyebab (radioterapi. Patologi : Perlu 17. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Otopsi : Tidak perlu 18.0 : PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & L : Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila : Pembesaran progresif Tanpa ada radang Ada tumor primer di tempat lain Tidak sembuh dengan antibiotika Benjolan teraba agak keras 4. Hasil : Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi 16. Prognosis : tergantung penyebab 1. Kriteria diagnosis 41 . Perawatan RS : Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose 8. ICD 2.

Penyulit : : 11. Masa pemulihan 15. Tempat pelayanan 10. 3.1. Otopsi 18. Konsultasi 7. Pemeriksaan penunjang : 6. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding : : : : 5. 4. Patologi 17.VII Fistel liur Sindroma Frey Hematoma Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Bila tumor fixed atau ada metastase kelenjar getah bening leher Dokter spesialis bedah onkologi ± 4-5 hari 2 minggu Tumor terangkat radikal Tumor ganas : daya tahan hidup 5 tahun tergantung stadiumnya. Tenaga standar : : 13. 2.baik Tumor ganas . Prognosis : : : C 07 TUMOR PAROTIS Benjolan di regio parotis pre/infra/postaurikuler Adenoma parotis Karsinoma parotis Metastase kelenjar getah bening parotis Metastase karsinoma nasofaring Untuk keperluan staging karsinoma parotis : Bila tumor fixed : X-foto mandibula. Terapi : : : 9. CT-scan bila ada fasilitas X-foto toraks USG hepar Bone survey bila ada indikasi Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan Rawat inap Tumor operable : paratidektomi superticial periksa → potong beku Jinak : parotidektomi superficial Ganas : parotidektomi total Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Lesi N. Perawatan RS 8. makin dini makin besar kemungkinan hidup 5 tahun Perlu Tidak perlu Tumor jinak . Lama perawatan 14. Hasil : : : 16. Informed Consent 12.stadium dini : baik stadium lanjut : jelek 42 .

gigi yang bersangkutan biasanya tak teratur 4. kadang ada fenomena bola pingpong. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10.5 : AMELOBLASTOMA : Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang) tak nyeri. tumbuh pelan (bertahun-tahun).hipoglosus & n. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lingualis 11. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. ICD 2. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. konsistensi keras. Penyulit : Perdarahan. Prognosis : Baik 1. Pemeriksaan penunjang : Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik Maksila : X-foto Waters + Hap Adanya gambaran kista multiple / single 6. Hasil : Tumor terangkat radikal 16. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. fistel orokutan. lesi n.: D 16. Kriteria diagnosis 43 . Informed Consent : Perlu 12. Lama perawatan : ± 12-14 hari 14. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Reseksi mengikutsertakan tulang sehat 1-2 cm dari batas lesi + rekonstruksi 9. Diagnosis banding : Ossifying fibroma Kista odontogenik Giant cell tumor 5. hematom. Diagnosis 3.

Darah. kista brankhiogenik 5. Patologi : Perlu 17.: D 18. Prognosis : Baik. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Informed Consent : Perlu 12. infeksi. konsistensi kistik. sebagian berbatas jelas. tak nyeri tekan. Penyulit : Lesi struktur vital (pemb.1 : HIGROMA KOLI : Benjolan di leher sejak lahhir / bayi. Tanaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak 13. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. transiluminasi (+) 4. Diagnosis 3. hemangioma. dinding tipis. rongga mulut. Terapi : ekstirpasi 9. ICD 2. Otopsi : Tidak perlu 18. ketiak atau mediastinum. bisa meluas ke wajah. edema laring 11. Perawatan RS : Rawat inap 8. membesar sesuai pertumbuhan anak. kecuali bila sangat ekstensif 1. saluran nafas dan phagus) hematoma. Kriteria diagnosis 44 . Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. fimfangioma simpleks. Diagnosis banding : Lipoma. saraf. Lama perawatan : ± 5-7 hari 14. sering berlobi. Hasil : Benjolan terangkat sebersih mungkin 16. Pemeriksaan penunjang : 6.

kiste terdrainase 16. Patologi : Tidak perlu 17. Kriteria diagnosis 45 . Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Diagnosis banding : 5. Prognosis : Baik 1. Perawatan RS : Rawat inap untuk operasi 8. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Hasil : Muara kelenjar liur terbuka. Otopsi : Tidak perlu 18. Penyulit : Perdarahan Infeksi 11. Terapi : Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste 9. Pemeriksaan penunjang : 6. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Lama perawatan : ± 7 hari 14. ICD 2. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.6 : RANULA : Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara lenjar liur sublingual 4.: K 11. Informed Consent : Perlu 12. Diagnosis 3.

9. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Patologi 17. 8. 2. epulis Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 46 . 3. Penyulit 11. 7. 4. papiloma. Prognosis D 10.1. 6. Hasil 16. Tanaga standar 13.3 TUMOR JINAK RONGGA MULUT Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma. Informed Consent 12. 5. Otopsi 18. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10.

Patologi 17. 9. 6. Tenaga standar 13. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. 4.1. Penyulit 11. 3. Informed Consent 12. 2. Prognosis TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA & LEHER Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau dileher Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu dilakukan Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Kalau lokal anestesi bisa poliklinis Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 47 . Masa pemulihan 15. Otopsi 18. 8. Hasil 16. 5. Lama perawatan 14. 7.

Diagnosis banding : Higroma Tiroid aberan 5. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Informed Consent : Perlu 12. Perawatan RS : Rawat inap 8. ICD 2. Diagnosis 3. Pemeriksaan penunjang : 6.0 : KISTA BRANCHIOGENIK : Benjolan kistik didepan 1/3 atas m sternokleido mastrideus dileher akibat kelainan kongenital 4. Kriteria diagnosis 48 . Hasil : Tumor terangkat 16. Otopsi : Tidak perlu 18. Penyulit : Hematom Infeksi Fistel 11. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Konsultasi : Dokter spesialis terkait (bila diperlukan) 7. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Terapi : Eksisi 9. Prognosis : Baik 1. Patologi : Perlu 17.: Q 18.

malnutrisi. nekrosis. Prognosis : Stadium dini. bila tumor sangat dekat dengan tulang : X-foto mandibula AP + Eisler / panoramic serta X-foto maksila Waters + Hap Mengetahui metastase jauh : X-foto toraks. Diagnosis banding : Ulkus kronis benigna. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Otopsi : Tidak perlu 18. lesi prakanker berupa leukoplakia. Perawatan RS : Rawat inap 8. USG hepar dan bone survey bila ada indikasi 6. Terapi : Eksisi luas sampai 1 . Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. biopsi eksisional 9dengan batas 1 cm keliling tumor) pada lokasi tertentu Tumor > 1 cm. Hasil : Sembuh total untuk stadium I 16. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.: C 00 – C 06 : KANKER RONGGA MULUT : Lesi di rongga mulut berbentuk bungan kol/ulserasi/peninggian yang tak hilang setelah 4 minggu. Granuloma 5. baik Stadium lanjut. Patologi : Perlu 17. biopsi insisional Untuk keperluan staging : Untuk mengetahui infiltrasi. nasograstrik feeding 7 hari. Lama perawatan : ± 10 hari 14. k/p rekonstruksi 9. fistula orokutan. peminum alkohol. chyloma. eritroplakia. hygiene mulut jelek. nginang. flap.1. ICD 2. Kriteria diagnosis 49 . Diagnosis 3. Bisa disertai metastase pada kelenjar getah bening leher. biopsi positif.Penyulit : Infeksi. dehisensi luka. cenderung tumbuh cepat. gigi runcing. jelek 1. Pemeriksaan penunjang : Biopsi Tumor < = 1 cm. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. 4.5 cm diluar jaringan patologis. bisa disertai rasa tebal atau nyeri. seroma 11. Kemungkinan ada faktor predisposisi seperti merokok.

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnostik 4. Diagnosis banding 5. Pemeriksan penunjang 6. 7. 8. 9. Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan

10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. Otopsi 18. Prognosis

: K 09.0 : KISTA ODONTOGENIK : Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, adanya ganggren radiks atau gigi yang tidak sembuh : Kista radikuler : X-foto mandibula AP / Eisler, atau panoramik X-foto maksila Waters / Hap : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi) : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai : Infeksi Hematoma : Perlu : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah gigi & mulut : ± 5 hari : ± 2 minggu : Kista terangkat bersih : Perlu : Tidak perlu : Baik

50

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: Q 89.2 : KISTA DUKTUS TIROGLOSUS : Benjolan di leher daerah midline setinggi kartilago hioid, batas jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita menelan dan menjulurkan lidah 4. Diagnosis banding : Struma pada istmus Limfadenopati Kista dermoid 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Operasi prosedur Sistrunk 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Fistel Residif 11. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ±3 hari 14. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Hasil : Benjolan terangkat bersih bersama salurannya 16. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik

Kepustakaan : 1. Sukardja IDG, Purnomo B, Tahalele P, Marnadi M, Murtejo U, (EDS) : STANDAR PELAYANAN PROFESI DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA. Edisi I. Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, 2002, Hal. 42-106. 2. Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW, (EDS) : SURGERY, Basic Science and Clinical Evidence. Springer-Berlag New York Inc. 2001, pp 1565-1881. 3. Feig BW, Berger DH, Fuhrman GM, (EDS) : THE M.D. ANDERSON SURGICAL ONCOLOGY HANDBOOK. Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Houston Texas, 2003. 4. Devita PT, Hellman S, Rosenberg SA, (EDS) : CANCER, Principles & Practice of Oncology. 6 Ed. Lippincott – William & Wilkins, 2001. 5. Ramli M, dkk. PROTOKOL PERABOI. BANDUNG 2003

51

KELAINAN BAWAAN (CONGENITAL ANOMALY) KELAINAN BAWAAN WAJAH NAMA PENYAKIT/DIAGNOSE SUMBING/SKISIS, FACIAL CLEFT, ANOMALI KRANIOFACIAL, ANOMALI DENTOFACIAL ICD Q 35, Q 36, Q37, Q75, K07 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan lahir berupa : 1. Celah pada bibir atas 2. Celah pada bibir dan gnatum atas 3. Celah pada bibir, gnatum dan langitan 4. Celah pada langitan saja. 5. Celah pada muka/wajah ( facial cleft), dibagi menurut klasifikasi Tessier 6. Disproporsi kranio-facial atau dento-facial dengan atau tanpa kraniosinostosis Klasifikasi: 1. Syndromic anomaly 2. Non-syndromic anomaly Diagnose banding Tidak ada Pemeriksaan penunjang Foto kepala AP & lateral, CT scan (3 dimensi) untuk sumbing muka Konsultasi Bila perlu : 1. Dokter Gigi : untuk kebersihan mulut dan pembuatan obturator 2. Dokter THT : - bila ada radang telinga tengah, - bila ada defisit pendengaran 3. Speech Therapist : untuk belajar bicara 4. Psikoloog Anak : - untuk pemeriksaan IQ, - untuk defisit kepribadian 5. Orthodontist : untuk perbaikan pertumbuhan gigi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk keperluan operasi berencana. Terapi Bedah Penutupan bibir/labioplasti pada usia 3 bulan keatas. Penutupan langitan/palatoplasti pada usia 15-24 bulan Perbaikan parut bibir operasi pertama pada usia 4-5 tahun Penyempitan faring/faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun keatas. Penambahan tulang(bone grafting) rahang pada usia 8 tahun keatas Perbaikan bentuk muka/maxillary advancement, kalau perlu, pada usia 15 tahun keatas. Bedah kraniofasial atau distraksi osteogenesis untuk anomali kraniofasial dan dentofacial

52

Nonbedah Speech therapy oleh Speech Therapist pada usia 4 tahun ke atas Perbaikan gigi oleh Ortodontist pada usia 9 tahun setelah penambahan tulang. Standar RS Tipe C untuk penutupan bibir/labioplasti, penutupan langitan/palatoplasti Tipe B dan A untuk: - Perbaikan parut bibir - penyempitan faring/faringoplasti - penambahan tulang (bone grafting) rahang - perbaikan bentuk muka/maxillary advancement - bedah kraniofasial Penyulit Untuk labiognatopalatoskisis dan palatoskisis : Karena penyakit : OMP Pendengaran kurang Maloklusi gigi Suara sengau, kata-kata tidak jelas Karena operasi : Parut tidak baik Fistula oronasal Untuk bedah kraniofasial: Gangguan penghiduan karena cedera lamina cribriformis Relaps pada distraksi osteogenesis Informed consent Diperlukan untuk tindakan operasi, operasi dilakukan bertahap, ketepatan waktu operasi sangat mempengaruhi hasil akhir penanganan Masa pemulihan Lama perawatan 2-3 hari : labioplasti (tidak selalu diperlukan rawat inap) 2-5 hari : palatoplasti 5 hari : faringoplasti 5 hari : bone grafting rahang 7 hari : maxillary advancement 10 hari : bedah kraniofasial Tenaga yang berkompeten Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua tindakan operatif. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk sumbing bibir atau unilateral komplit bila tidak ada tenaga Bedah Plastik. Speech therapist untuk terapi bicara Ortodontist untuk perbaikan gigi.

53

1991. W. Tokyo. Philadelphia. Tokyo. 1990 4. Sydney. Atas of Craniomaxillofacial Surgery. Montreal. .Saunders Company. . James W. Multidisciplinary Management of Cleft Lip and Palate . Januz Bardach. suara normal.Saunders Company Hacourt Brace Jovaanovich Inc. 1990. gigi geligi tumbuh bagus. Montreal. Plastic Surgery (8 vol) . St Louis. oklusi baik Kurang normal Parut kasar. gigi tak beraturan. 3. Ph. 1982. Sydney. Philaadelphia. bentuk muka normal. 54 . Sherrell J..D. suara sengau. Pasien kontrol teratur Kepustakaan : 1. bentuk muka bagian tengah lebih ke dalam. Grabb and Smith's Plastic Surgery.B. parut operasi halus. Toronto.Toronto. Philadelphia. Toronto.wajah. asimetri bibir dan lubang hidung. hasil operasi memuaskan. London. Little. PA Tak perlu Autopsi/risalah rapat Tak perlu. Whitaker LA. Jackson IT.D. Fourth Edition. McCarthy. White RP. Mosby Company. London Toronto. Brwon and Company. London.B. Profit WR. Morris.D. 1980. Perbaikan proporsi estetik kepala.Hasil Normal Bentuk bibir dan hidung simetris. Smith. 5. W. M. Joseph G. Munro IR. London. WB Saunders Company. M. .. Salyer KE. Boston/Toronto/London 2.Surgical Correction of Dentofacial Deformities. Hughlett L. Aston (Edit). Bell WH. Prognosis Baik Tindak lanjut Penderita keluar dengan keadaan klinis baik.

Perawatan RS Rawat jalan kecuali operasi. Terapi Rekonstruksi telinga dapat berupa: 1. 3.0. Pananaman rangka tulang rawan. dilanjutkan operasi berikutnya penanaman rangka tulang rawan. Tiga-empat bulan setelah operasi I dibentuk telinga dengan pengangkatan tulang rawan yang sudah ditanam pada operasi I. Operasi satu tahap (sandwich technique) 4. Penyulit Infeksi. Q16. 2.tak ada Pemeriksaau penunjang .Microtia ICD Q16. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 4-7 hari untuk tahap I 7 hari untuk tahap II Bergantung pada tindakan untuk tahap III Masa pemulihan Berkisar antara 2-3 rninggu untuk tahap I 2 minggu untuk tahap II 55 . Standar RS Tipe B ke atas. Operasi pemasangan tissue expander. Konsultasi Spesialis THT bila ada defisit pendengaran. kematian flap. Q17 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan pada daun telinga berupa telinga kurang terbentuk/kecil Diagnosis banding .1. Menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada operasi sebelumnya.Ro foto untuk melihat pembentukan organ telinga tengah bila perlu.

F. Greco (Edit) .C. Brwon and Company. Ian A.C. Plastic Surgery (8 vol) . (Glasg.tak diperlukan Autopsi/ risalah rapat . 1991. Hon.D.).(Eng.B. 56 . Brown and Company. Kepustakaan : 1.S. M. 1991.R. Ch. Philaadelphia. Smith. Boston/Toronto/London. Sherrell J.C. 2. F... Montreal.Luaran Sembuh dengan telinga bentuknya mendekati normal.Saunders Company. Tokyo. 1980. Little. Aston (Edit).S.S. Little. McCarthy. M. 1990. F. James W. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Fourth Edition. . 4.R. Emergency Plastic Surgery . Boston/Toronto/London.A.tak diperlukan. PA . Richard J. Edinburgh london and New York. Grabb and Smith's Plastic Surgery. 3.). Joseph G. Churchill Livingstone. W. Sydney. McGregor M. London Toronto.B..

Standar RS Tipe B keatas Penyulit Fistula urethra Divertikel urethra Stenosis meatus Informed consent Perlu untuk opcrasi Standar tenaga I)okter Spesialis Bedah Plastik Dokter spesialis Bedah Urologi Dokter Spesialis Bedah Anak Lama Perawatan Masing-masing tahap memerlukan perawatan 7 hari. tergantung metoda operasinya. Pemeriksaan fisik Meatus urethra eksterna terletak lebih proksimal dari letak normal : bisa dibatang penis. bilq perlu. daerah skrotum. daerah perineum. rekonstruksi urethra.KELAINAN BAWAAN GENETALIA Nama Penyakit/Diagnosis Hipospadi ICD Q54 Difinisi Kelainan bawaan berupa meatus uretra eksterna terdapat di bagian ventral dan letaknya lebih proksimal dari letak yang normal. Pemeriksaan penunjang Kromosum seks bila ada kesulitan identifikasi jenis kelamin. Masa pemulihan Batu urethra Striktura urethra Sisa korde Untuk masing-masing tahap selama 2 minggu 57 . Kriteria diagnosis Cacat bawaan berupa muara urethra terletak lebih proksimal dari biasanya. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk tindakan operasi Terapi Tahap I eksisi korde Tahap II berjarak paling sedikit 6 bulan setelah tahap I. Penis bengkok kearah ventral karena ada korde. Konsultasi Bagian Kesehatan Anak untuk pemeriksaan kromosum seks. ada atau tidak ada korde.

Richard J. Montreal. Brown and Company. F. Sydney.A. Fourth Edition. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Little. M. F.C. Hon. Plastic Surgery (8 vol) . 1980. James W. 1991. Brwon and Company. Edinburgh london and New York.S. 1991. 1990. London Toronto. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. W.B. Ch.B. Tokyo. Sherrell J.C. McGregor M. Philaadelphia. . McCarthy. F. Joseph G.. 4.S.D. Churchill Livingstone. Little.R.(Eng.Saunders Company. Ian A. Smith.C. Boston/Toronto/London 2. Boston/Toronto/London 58 . 3. Emergency Plastic Surgery .)... Aston (Edit).). PA tak perlu Autopsi/risalah rapat tak perlu Kepustakaan : 1.R.Luaran Sembuh dengan penis lurus dengan meatus uretra eksterna letaknya di ujung penis. M.S. (Glasg. Greco (Edit) .

Dislokasi sendi TMJ. fraktur Processus alveolaris 7. Perawatan RS Rawat inap: Bila memberikan gangguan saluran napas. Water`s photo/Reverse Water`s. salah satu hidung terasa tersumbat. Fraktur sinus frontalis /nasofrontal 6.Gangguan pergerakan bola mata. Fraktur hidung 5. Fraktur regio sendi temporomandibula 8. Prosedur lengkap Kriteria diagnosis Anamnesis Terdapat riwayat trauma pada tulang muka. foto TM joint) Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Saraf. sprain & strain ligament dan sendi) Patah tulang muka. septum nasi. asimetri . hematome atau edema pada tempat benturan . Dokter Spesialis Mata bila dengan cedera bola mata. diplopia. 59 .Untuk tiga jenis yang pertama bisa ditemukan maloklusi .Deviasi hidung atau septum nasi . Fraktur maksila 3. Pemeriksaan .tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen jenis dan proyeksi bergantung pada keperluan (Foto tulang muka AP & lateral.TRAUMA Trauma Kranio-maksilo-facial (Fraktur tulang wajah) ICD SO2 (Fracture of skull and facial bone) ICD SO3 ( Dislokasi. Persiapan operasi. Fraktur zigoma 4. atap orbita 9. Foto panoramic.Perdarahan lewat lubang hidung dan mulut. Dokter Spesialis Saraf (untuk cedera kepala).Teraba diskontinuitas tulang Diagnose banding . Fraktur dasar orbita. Fraktur mandibula 2. dibagi menjadi beberapa jenis fraktur : 1. distopia .Gangguan membuka dan menutup rahang bawah .Adanya deformitas wajah.

normal. Pertimbangan estetik dan fungsional harus diberikan dan dijelaskan sebaik-baiknya kepada pasien. Joseph G. 1990. McCarthy. Standar RS Tipe A. C Penyulit 1. Aston (Edit). Operatif Dilakukan apabila keadaan intrakranial sudah stabil. Brwon and Company. PA Tidak ada Autopsi/ risalah rapat Tidak ada. W.B. Sydney. Untuk fraktur lainnya 2 rninggu. Kepustakaan : 1. Montreal. Gangguan bentuk atau fungsi 2. dan trauma berat lainnya sudah diatasi. B. 1991. Infeksi 3.Terapi Konservatif Bila tidak memberikan gangguan fungsi maupun bentuk dan fraktur dianggap cukup stabil. Smith.D. London Toronto. Sembuh dengan deformitas/cacat fungsi. M. Informed consent Diperlukan tertulis Standar tenaga Personil unit gawat darurat pada pertolongan pertama Dokter Spesialis Bedah Umum untuk fraktur mandibula simple dengan luka terbuka menggunakan fiksasi non rigid Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 2 sampai 20 hari. Little. 60 . Kematian bila ada cedera kepala berat. Plastic Surgery (8 vol) .Saunders Company. bervariasi bergantung pada jenis berat fraktur Masa pemulihan Untuk 3 fraktur pertama 8 minggu atau lebih. Fourth Edition. Tokyo. . Boston/Toronto/London 2. Sherrell J. Philaadelphia. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Luaran Sembuh. James W.

..R.). F. London.. M. 1987. Richard J. Springer-Verlag Berlin..D. 7.D. Bernd Spiessl .D. W. Churchill Livingstone. Ian A.C.S. Marcel Woillez..B. Tokyo. Atlas of Craniomaxillofacial Surgery . M. Craniomaxillofacial Trauma . Sydney. 8. M. F.. F. 12. Mosby Company. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery . F.D.A. Tokyo.S. MD. 1990.A. Internal Fixation of the Mandible. London.. Jacques Rougier. Philadelphia. D. Little.. Sherman.C. 6.D. Leonard B.M. 1991.C..C. Atlas of Oral and Maxillofacial Surgery .R. Keith..).S.Saunders Company.R.. Churchill Livingstone.D. London.. Montreal. (Glasg. Milan. Surgery of Facial Bone Fractures . Hong Kong. 1981 9.S. Surgery of the Eyelids & Orbit an Anatomical Approach . Toronto. Kenneth E. 1982. The C. D. Boston/Toronto/London 5. New York.. . Mexico City. Philadelphis. Edinburgh london and New York 4. David A.C. London.D. Jackson. Plastic Surgery of the Orbit and Eyelids . London. M. London. 1980..B. Melbourne.Saunders Company.. McGregor M. 1989. Hon. Foster.D. Munro. Masson publishing USA. M.C. Sydney. M.B. London. Craig A.FACS. Toronto.S. Brown and Company.S. D.S. Emergency Plastic Surgery .. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. . 11. New York.. B. Paris. Robert C. D. Paul Bramley (Edit) . Della Rocca.S. F. W. Montreal. deB.R. Whitaker. Kaban. 1995 10. Inc. Louis. Norman.J. New york.. F. A Textbook and Colour Atlas of The Temporomandibular Joint .A.A.M. Edinbergh. Paris. M. Francois Hervouet. 13. F. Prentice-Hall International Inc...C.D.©. Simpson .D. Edinburgh.3..(Edit) .A. .B. Lemke. A Manual of AO/ASIF Principles . M.. Michel Lekieffre. Wolfe Medical Publications Ltd.C. Rio de Janeiro. John E. Madrid. M. F. Tokyo. David & D. Toronto. Linton A.V. Heidelberg. Ian R. F. Salyer.D. 1990. Greco (Edit) . St. John E. Melbourne.S.S. 1992. 1990 61 .R.C. .B. Paul Tessier. Patrick Derome .(Eng.S. Barcelona. Ch. FACS. Churchill Livingstone. Bradley N.S. New York and Tokyo. Ian T.

S41.S57. Luaran PA Sembuh baik Sembuh dengan cacat.S50.tak ada Perawatan RS . S60. sebagian besar atau total.S61) Avulsi kulit Kritcria diagnosis terlepasnya kulit dari dasar/kulit sekitarnya. Terapi Penyulit Penilaian vitalitas kulit yang terlepas dan pembuangan kulit yang ternyata mati. Informed consent Diperlukan tertulis Lama perawatan 2 rninggu atau lebih Lama pemulihan 4 rninggu sampai 1-2 tahun tergantung faktor-faktor yang menyertainya.tak ada Pemeriksaan penunjang . Skin graft (tandur kulit) pada luka terbuka yang tersisa.tak ada Konsultasi .bisa tanpa luka (closed avulsion /degloving ).bisa dengan luka (open avulsion /degloving) Diagnosis banding .S51.Tipe A atau B. SO1.Cedera kulit dan jaringan lunak Cedera superfisial dan luka terbuka daerah kepala dan wajah (ICD SO0.tak diperlukan 62 .SO9) Crush injury kepala dan muka (SO7) Cedera kulit dan jaringan lunak ekstremitas (S40. . Hanya pencucian luka tidak dijahit. Penjahitan situasi tanpa tegangan sisa kulit yang masih vital.delayed STSG Drain untuk closed avulsion /degloving Kematian sebagian atau seluruh kulit yang terangkat Infeksi Parut yang jelek.

Clinical Atlas Of Muscle And Musculocutaneous Flaps ..C.). Ch. Sherrell J. Mathes. Tokyo..R.B. 1980. Little. Aston (Edit).S. Plastic Surgery (8 vol) . 1979 o o o o 63 . . Boston/Toronto/London. St.V. Edinburgh london and New York. F.). (Glasg.D. 1991. F. Fourth Edition.R. Sydney. M.Autopsi/risalah rapat . Churchill Livingstone. Grabb and Smith's Plastic Surgery. 1991. McCarthy. Brown and Company. louis. Hon. Foad Nahai .C.A.S. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Philaadelphia. Montreal. The C. M. Mosby Company. Ian A.B. Smith.Saunders Company.. 1990. Boston/Toronto/London Stephen J. Greco (Edit) . Richard J. Little. Brwon and Company. F. Joseph G. Emergency Plastic Surgery . Toronto.(Eng. London. W.tak diperlukan Kepustakaan : o James W. London Toronto.C. McGregor M.S.

tak diperlukan Perawatan RS Rawat inap segera untuk persiapan operasi. S58 ICD S67.Bedah mikro dan bedah tangan Diagnosis Amputasi Organ (Avulsi kulit kepala. 64 . Standar RS: Tipe A Penyulit Perdarahan Trombus Infeksi Kegagalan replantasi akibat thrombus.Radiologis Konsultasi .amputasi partial. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik. Terapi Amputasi dirawat sebagal berikut: Masukkan kedalarn kantong plastik bersih (tanpa cairan) Kantong tersebut ditutup rapat lalu dirnasukkan ke kantong kedua berisi air biasa (2/3 bagian) + potongan es (1/3 bagian). Telinga. Pemeriksaan penunjang . Operasi replantasi dengan rnikroskop + instrurnen Bedah mikro. Sebaiknya tindakan ini dilakukan segera di tempat kejadian. Diagnosis banding . Vulva) dan ekstremitas ICD S08 ICD S38. S68 Kriteria diagnosis Terpisahnya sama sekali bagian atau ekstremitas dari tubuh tersebut Clean cut (amputasi secara tajam) atau bukan.Laboratorium . hidung. penis.2 ICD S48.

). Aston (Edit). Greco (Edit) . 1991. M.(Eng.C. London Toronto. Sydney. W.S. Atlas of Hand Surgery volume 2 1984 W. Smith. 1980.A.tak diperlukan Autopsi/risalab rapat . Luaran Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik. Philaadelphia. M.Tokyo. 4.S.London.C. Emergency Plastic Surgery . Churchill Livingstone.B. Brwon and Company. Boston/Toronto/London 5. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Tokyo.Philaxdelphia.D. James W..tak diperlukan Kepustakaan : 1. Montreal. Little. Grabb and Smith's Plastic Surgery. 65 . (Glasg.Mexico City.Lama perawatan 10 hari sampai 1 bulan Masa pemulihan 6 minggu sampai setahun.. 2. . F. Sembuh kurang sempurna Gagal.Chase . Ian A. F. 3. Fourth Edition.B.C.Saunders Company.. Little. Robert A. Ch. Richard J.B. F.Saunders Company. Hon.S. 1990. Joseph G.R. Boston/Toronto/London. McGregor M. 1991. PA . McCarthy.R.Toronto.). Edinburgh london and New York. Brown and Company. Plastic Surgery (8 vol) . Sherrell J.

untuk kemudahan menggunakan rumus 9. 15% pada dewasa. T26-T35 Kriteria diagnosis Anamnesis Ada riwayat trauma bakar karena api. Luka bakar listrik. panas. Pemeriksaan 1. 5. Escharotomy untuk daerah dada dan extrimitas pada eskar yang konstriktif 66 .tak ada Pemeriksaan penunjang tak ada Konsultasi Disiplin ilmu lain sesuai dengan penyakit yang menyertai atau komplikasi yang timbul. Luka bakar daerah wajah. Luka bakar disertai trauma berat lain: inhalasi dan sebagainya. Hari berikutnya pemberian cairan hipertonik. Komplikasi penyerta seperti syok hipovolemik. Derajat III > 2%. Lokasi luka bakar. cedera inhalasi dan cedera penyerta 6.retardasi mental Penderita tidak mampu merawat dirinya sendiri.kaki. Derajat kedalaman: I: hanya eritem II: bila superficial kerusakan sampai sebagian dermis.tangan . Terapi Didahulukan penanggulangan terhadap gangguan jalan nafas dan sirkulasi Perawatan Intensif Luka Bakar Perkiraan jumlah dan pemberian cairan dengan menggunakan rumus Baxter: Hari I diperkirakan memerlukan: berat badan dalam kg x % luas luka bakar x 4 cc ringer laktat. Luas luka bakar dalam %. listrik. radiasi. 3. 4. kimia.perineal/genital Disertai trauma penyerta lain atau penyakit sistemik berat lain. Perawatan RS Rawat inap untuk : Luka bakar derajat II / III lebih dan 10 % pada anak-anak.Combustio /Burn Injury/ Luka Bakar ICD T20-T25. bila dalam kerusakan pada seluruh dermis III: kerusakan lebih dalarn dari dermis (sudah mengenai subkutis) Dalam penilaian derajat I tidak diperhitungkan. Penyakit premorbid Diagnosis banding .

Dirawat sampai luka lebih kecil dari indikasi perawatan. superfisial obat topikal untuk luka 2. Informed Consent: Diperlukan Standar tenaga Dokter Umum untuk luka bakar rigan. Bila penyebab adalah bahan kimia. Antibiotika (bila luka kotor) ada infeksi sistemik. Dokter Spesialis Anestesi. 5. perlu dibilas secara tuntas dengan air segera pada jam-jam permulaan. 2. Fisioterapi 8. tidak dapat menggerakkan sendi-sendi. Infeksi pada kulit. Perawatan seluruh pasien di Burn Unit bila fasilitasnya sudah tersedia Penyulit 1. Kematian.Terapi pada luka: 1. 5. 7.nutrisi enteral dini 7. saluran napas. selanjutnya berdasarkan hasil kultur 4. Dokter Spesialis Bedah yang berkecimpung pada luka bakar ( Burn Surgeon) Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua luka bakar. Luaran Sembuh dengan kecacatan warna kulit saja sampai kecacatan berat. Toksoid 1 cc untuk tiap 2 mg. Kelebihan atau kekurangan cairan maupun elektrolit. Eksisi tangential dini dan skin grafting setelah pasien stabil. Parut hipertrofi dan kontraktur. mungkin 2 tahun atau lebih bergantung pada parut yang terjadi. 4. Standar RS Tipe B dan A untuk yang berat. Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Gangguan saluran napas Gangguan sirkulasi bila berlanjut dapat rnenyebabkan kegagalan organ multipel. Derajat II. Ulkus stres. untuk jangka panjang Deformitas penampakan yang hebat. Masa pemulihan Sangat bervariasi. 3. Paramedis yang berkecimpung pada perawatan luka bakar Lama perawatan Sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan luas luka. 67 . 6. 3 x berturut-turut. Derajat II dalam Derajat III. 9. dengan cedera inhalasi. obat topikal yang dapat menembus skar (silversulfadiazin) 3. ATS diberikan pada semua yang belum pemah mendapat toksoid. 6. saluran kemih. Sukrafat untuk protekor mukosa lambung. Diet kalori dan protein tinggi.

Fourth Edition. FRCS(Ed). 68 .. Hon. Singapore. Toronto. Sherrell J. F. F. Emergency Plastic Surgery . FACS.Pruitt. I. Philaadelphia.C.Artz MD.C. W. Butterworths. MBE. Montreal. MD.).S. Sydney. VRD. Boston/Toronto/London. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. FRCS(Ed) and John A.. FRCS. Boston/Toronto/London 4. Barclay.S. Aston (Edit). Ch.).D.B. F. Wellington. Churchill Livingstone. FRCS. ChM. MB. Durban.B. Richard J.JR. Plastic Surgery (8 vol) . 1987. MRCS. London. Philadelphia. Kepustakaan : 1. James W. Edinburgh london and New York.(Eng. Muir. McCarthy. FACS. (Glasg.K. Little. Smith. M.B.D. Ian A. 1991..L. T. 1991. MS.. 1980. McGregor M.A. 1979. Toronto. Greco (Edit) . FACS. W.. Sydney. Brown and Company.. Burn and Their Treatment .PA tak diperlukan Autopsi/risalah rapat mungkin diperlukan bila terjadi kematian. Basil A.. Third Edition .Moncrief.Saunders Company. 1990 3. London. Boston.. LRCP.R. Brwon and Company. Curtis P.Saunders Company.. Grabb and Smith's Plastic Surgery. 2. BURN A Team Approach . 6. DA .F. Settle. John A. Little.C.. Mphil. MB. London Toronto. Tokyo.D. M. OBE.R. 5. M.S. Joseph G. .

dll. Z44. Perawatan RS Pasca operasi.BEDAH PLASTIK ESTETIK/KOSMETIK ICD Z41. Estetika lain yang tidak bisa dipisahkan dari bedah plastik rekonstruksi. Terapi Operatif Mengubah penampilan pasien dengan menambah-mengurangi-menggeser jaringan yang diperlukan. Diagnosis banding . Sernua keluhan yang pada dasarnya ingin mengubah penampilan kearah yang lebih baik/ harmonis. Kriteria diagnosis Semua keluhan yang menyangkut masalah penampilan. tidak selalu perlu rawat inap. misalnya : Rhinoplasti Blepharoplasti Mentoplasti Mammoplasti Lipodistrofi. Z42. Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Penyulit Seperti halnya pembedahan umumnya dan hal khusus misal parut berlebih Masa pernulihan: bervariasi 69 . Y98 Semua masalah mengenai estetika yang bisa ditolong dengan pembedahan termasuk diantaranya : Estetika untuk cacat bawaan Estetika untuk cacat yang didapat Estetika untuk proses ketuaan Estetika untuk masalah psikososial .tidak ada Pemeriksaan penunjang bila diperlukan: Laboratorium Radiologi dan lain-lain KonsuItasi Dokter Spesialis yang dianggap perlu.

G. An Introductory Guide .D. Luaran Penampilan pasien setelah operasi plastik tambah baik dan terdapat peningkatan kepercayaan dirinya. Brown and Company.Saunders Company. F.JR. 1990. Saunders Company.. Plastic Surgery 1992 . FACS. Montreal. Georg Thieme Verlag. International Congress Series 935. 3. 1992. Arndt. Surgery Of The Lip . 1991. Thieme Medical Publishers. Grabb and Smith's Plastic Surgery.. FACS.Artz MD.D. Manual of Technique . ainc. 1991. Budapest. . Emergency Plastic Surgery . 14. Stuttgart. Hinderer (Edit) . James Roller . 1980. London. Kepustakaan : 1. Hong Kong. Little. Cranio-Facial Deformities. 70 . London.D. M. Sydney. Wintroub : Atlas of Cutaneous Surgery . New York. Rafael de la Plaza . Hon. London. 8. McCarthy. London Toronto. U. (Glasg. Williams & Wilkins. Tokyo.S.. Amsterdam-London-New YorkTokyo.Moncrief.B. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. R.A. James W. Superficial Liposculpture.C.. Paris. Lewis. 1990. Sydney. Gregory P. Tokyo. 1993. 7. Hong Kong.B. Philadelphia. Toronto. Ch.S. Sherrell J.B. John Conley Carl Patow . Plastic Surgery (8 vol) . Aston (Edit). 15.R. Henriksson. F. Churchill Livingstone. Curtis P.D.(Eng. Montreal. 6. Saunders Company. Thieme Medical Publishers. Excerpta Medica. New York... Guide to Dental Problems for Physicians and Surgeons . Hetter. FACS. McGregor M. 13. BURN A Team Approach . Jorge M. Psillakis. Basil A.B. Montreal. Rhinoplasty . Richard J. 1988.D.). New York. 11. Philaadelphia. 1994. Montreal.. Lipoplasty The Theory and Practice of Blunt Suction Lipectomy .B. W. Inc. MD. Saunders Company. Ian A. John Q Owsley. 1996. Philadelphia.Informed consent Perlu benar dijelaskan sebelum dilakukan operasi bahwa hasil yang dicapai adalah sejauh kemampuan-pengalaman dokter. Inc. New York... 16. Erdulfo Appiani. 10. Thieme Medical Publishers. Philadelphia.D. 12..B. Marco Gasparotti. Cutaneous Facial Surgery . New York.Saunders Company. Toronto. Brwon and Company. Psillakis (Edit) . New York. M. Deep Face-Lifting Techniques . Little. F. 4. Inc. M. Sydney. Boston/Toronto/London. Jorge M. Volume 1 : Lectures and Panels .R. M. Cooter . Aesthetic Facial Surgery . London. Springer-Verlag. Greco (Edit) .C. Carson M. Second Edition . Flaps in Head and Neck Surgery . Color Atlas of Aesthetic Surgery of The Abdomen : Thieme Medical Publishers.. Seth R. 9. W. F. Le Boit.C. Boston/Toronto/London. Philadelphia. Tokyo.J. 1991. Montgomery . London.). T.A. Berlin.S. Boston/Toronto/London.T. 1994. Brown and Company. Smith.C. .. Baltimore. Karen H. Tokyo.. J. 1992. Toronto. 1994. Toledo . London. Thaller. W. Joseph G. Luiz S. Adelaide. Sydney. Thieme Medical Publisher. New York. Australian Cranio-Maxillo-Facial Foundation. W. Inc.Pruitt. D. Sydney. Charles M. M. Regan Thomas. W. Calhoun.. 5. Little. Stiernberg . 17. John A. 18. 1987. Fourth Edition. 2. . 1979. (Edit). Tokyo. Barcelona. David. William W. 1992. Robinson. Toronto. Heidelberg. Fernando Ortiz-Monasterio. Edinburgh london and New York.S. 1989. M.

1996.19. Marwali Harahap.. Skin Surgery . Berlin. New York. M. 71 . Bernd Spiessl (Edit) . St. (Edit) ..A. U. Green.S. 1985. Warren H. 20. Heidelberg. New Concepts in Maxillofacial Bone Surgery : Springer-Verlag. Inc. Missouri.D. Louis.

Standar RS TipeA . Konsultasi . Luaran Sembuh normal.B Penyulit Nekrosis flap/graft.tak diperlukan 72 . tak ada gangguan gerakan. Masih tersisa sedikit akibat kontraktur. Diagnosis banding .tak ada Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Release kontraktur dan graf/flap.GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA Kontraktur ICD N 940 S/D N 949 Kriteria diagnosis Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses kontraksi pada penyembuhan luka. Masa pemulihan 3 minggu atau lebih tergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi. Informed consent Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedali Plastik Lama perawatan 7-10 hari. PA .

Aston (Edit).R. Little. (Glasg. Plastic Surgery (8 vol) . Philaadelphia. Grabb and Smith's Plastic Surgery. W. 1990. Greco (Edit) .C. 1991.C. Tokyo. Little. Edinburgh london and New York. Richard J. F.tak diperlukan.S.). Ch. F. Boston/Toronto/London.Autopsi/ risalah rapat .Saunders Company. F. Brwon and Company. Emergency Plastic Surgery . McCarthy. 1991.B. Ian A. Brown and Company.B.. 3. Boston/Toronto/London. Sydney.C.S. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 73 . 4.R. Montreal. James W. M. London Toronto... Hon. 1980.(Eng.). Joseph G. . McGregor M.A. 2. Fourth Edition. Churchill Livingstone. Kepustakaan : 1. Smith.D. M. Sherrell J.S.

Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Farmakologis Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal. dilanjutkan dengan Radiasi atau suntikan kostikosteroid pascaeksisi. Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi. L91 Kriteria diagnosis Keloid: parut yang menonjol menyebuk ke kuilt yang sehat jauh diluar trauma dengan tanda-tanda inflamasi (tambah besar gatal. Dokter Umum untuk suntikan kortikosteroid. Penyulit Karena penyakit Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian. sakit) berkepanjangan. Balut penekan Bedah Eksisi kalau perlu full thickness skin graft. Dokter Spesialis Radioterapi untuk radiasi. Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang. 74 . Standar RS Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid. Karena operasi Residif Informed consent Diper1ukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik.5.Keloid dan parut hipertrofik ICD L90. Parut hipertrofik: bila parut yang menonjol tidak melebihi batas luka awal Diagnosis banding Fibrosarkoma Pemeriksaan penunj ang Tidak ada Konsultasi Dokter Spesialis Patalogi Anatomi bila perlu.

B.Bila ada keraguan dengan sarkoma Autopsi/risalah rapat Tidak diperlukan. James W. Sydney. Churchill Livingstone. Edinburgh london and New York. . London Toronto. 1991.S. Sherrell J.). Tokyo. 1980. Boston/Toronto/London. Montreal. 75 .C. Ch. 4. Smith. 1991.. F. 3. Brown and Company.. Emergency Plastic Surgery .Saunders Company. Masa pemulihan Sangat bervariasi. Hon. Philaadelphia. Grabb and Smith's Plastic Surgery.A. Fourth Edition.Lama perawatan 1 hari – 2 minggu. M.(Eng.S. F. Little. F. Plastic Surgery (8 vol) . Aston (Edit). Luaran Sembuh dengan estetika baik Residif Depigmentasi akibat radiasi PA . McCarthy. Joseph G. (Glasg.S.R.C. Greco (Edit) . Ian A.R. McGregor M.D. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. M. Little. 1990. Richard J.C. W.B. Boston/Toronto/London.).. Brwon and Company. 2. Kepustakaan : 1.

tidak sakit. 2. 2. Bedah Eksisi. Nonbedah Observasi atau ditambah perban penekan untuk 1. bila perlu Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi Terapi Farmakologis Suntikan obat-obat sklerosing untuk 1.4. eksisi dan perban penekan. 3. 3. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir. Tipe A untuk embolisasi dan laser. kalau perlu skin graft untuk 1. 3 dan 4. 4. Embolisasi (kalau perlu) baru eksisi untuk 3 dan 4. Tattoage untuk 2. 3 dan 4. Hemangioma kapiler simpleks/jenis strawberry Hemangioma kapiler jenis "port wine stain" atau nevus flamus Hemangioma kavernosa Hemangioma campuran l dan 3 Kriteria diagnosis 1. Standar RS. Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi. Laser untuk 1. Tipe C untuk suntikan sklerosing. kebiruan. Cacat berupa bercak merah pada kulit. stasioner. sedikit menimbul. Benjolan pada kulit atau subkutis. kortikosteroid. 3 dan 4. tak sakit 2.2. ada sejak lahir atau timbul dekat-dekat kelahiran. tumbuh progresit. 76 . dapat ditekan kempes. rata (bisa menimbul setelah dewasa). Kortikosteroid untuk 1.TUMOR KULIT DAN JARINGAN LUNAK Hemangioma ICD D18 Dibagi menjadi: 1. 4. timbul setelah lahir. Campuran 1 dan 3 Diagnosis banding Fistula A-V Pemeriksaan penunjang kalau perlu arteriografi.

Pigmented lesion/Melanocytic naevi ICD D22 a. Compound naevi: tumbuh perlahan. tepi irregular. dapat tumbuh rambut. Karena operasi Perdarahan Residif Kelainanjantung pada 3 dan 4. Informed consent Diperlukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Radiologi untuk embolisasi Dokter umum untuk perban penekan. lokasi tersering daerah terpapar sinar matahari. Estetik jelek. warna kurang gelap. Junctional naevi: sifatnya rata/tidak menimbul. Masih tersisa. perlahan menebal atau melebar. Dysplastic Naevi:lesi berpigmen. 3 dan 4. d. umumnya dengan multiple nevi. Cacat berat pada daerah yang terkena 3 dan 4. Nevus Ota: lesi berwarna biru kehijauan. umumnya mengenai wanita 77 .Penyulit Karena penyakit Perdarahan pada 1 . pigmen menyebar ke jaringan kulit sekitarnya. irregular. di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. lokasi tumor pada perbatasan dermis dan epidermis c. lebih tebal. distribusi mengikuti pola nervus V. lebih gelap/mengkilat dari kedua jenis lainnya. warna campuran yang bervariasi. Intradermal naevi: berbentuk datar atau meninggi. Lama perawatan 1 rninggu atan lebih Masa pemulihan 1 minggu . PA .1 bulan atau lebih Luaran Sembuh dengan estetika bagus. lebih banyak dijumpai pada anak dan remaja. lokasi tumor dari epidermis hingga dermis.tak perlu Autopsi/risalah rapat - tak perlu. e. lokasi tumor pada dermis b.

Congenital pigmented Naevi/Giant pigmented naevi: lesi berpigmen. mobile dan tak melekat ke kulit di atasnya. D17. Aston SJ. Aston SJ. mobile tetapi sedikit melekat ke kulit di atasnya. 4th ed. lokasi subkutis. Aston SJ. luas > 4 inch. tidak nyeri kecuali bila mengalami peradangan. Mihm MC.2. mengenai daerah punggung atau muka. In: Smith Jw. Ekstirpasi Kepustakaan : 1. Kista Epidermoid. Jackson T. tengkorak bahkan meningen Diagnosis banding: Melanoma Maligna Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: Bidang terkait (bila diperlukan) Terapi : eksisi bedah. Lowe NJ. terfiksasi ke dasar. 4. rekonstruksi dengan skin graft atau tissue expansion Lipoma ICD D 17. In: Smith Jw. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 4th ed. Appleton & Lange. Boston 1991. Melanoma Maligna. D17.3 Tumor yang terdiri dari sel-sel lemak. 1998 78 . distribusi cenderung mengikuti dermatome. berambut. dengan pungtat di atasnya. D23 Kista Epidermoid. Boston 1991. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. In: Smith Jw. Sober AJ. ekstensinya dapat sampai otot. Kista Dermoid. Boston 1991. Boston 1991. sedikit mobile. Spira M. 4th ed. umumnya mengenai muka. Kibbi AG.f. Little Brown. Pediatric Plastic Surgery. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Connecticut. scalp. 2. malar eminence. Stal S. 3.1. Kista Atherome ICD D21. Zarem HA. Little Brown. lunak. Intraoral tumor and Radical Neck Dissection for Oral Cancer. 4th ed. Aston SJ. Little Brown. berisi produk sebaseus Diagnosis banding: Konsultasi: Terapi: Eksisi. esi berupa nodul subkutis. D17. Little Brown.0. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Basal and Squamous Cell Carcinoma of the Skin. In: Smith Jw. Kista Dermoid: lesi subkutis. Bents ML. Benign Growth and Generalized Skin Disorder. lokasi pada daerah –daerah fusi embrional Kista atherome: lesi subkutis. 5. Stamford.

BREAST DISORDER Gangguan perkembangan kelenjar payudara ICD N62. dengan atau tanpa terbentuknya nipple. tidak nyeri. tuberous deformity dan breast ptosis. N64 Diagnosis Ectopic breast tissue (Polythelia/accessory nipple. N63. Hipomastia: kurang bertumbuhnya jaringan payudara ditandai oleh payudara yang kecil Amastia. Polymastia/ectopic glandular tissue): jaringan payudara yang tumbuh di sepanjang mammary ridge umumnya di axilla dan lipatan inframammary. Macromastia: pertumbuhan berlebih jaringan payudara akibat physiologi normal atau juga karena kurangnya kepekaan reseptor kelenjaar payudara terhadap hormon yang mengaturnya. Diagnosis Banding: Pemeriksaan penunjang: Konsultasi: Standar tenaga: Bedah Plastik Terapi: Eksisi ektopik breast. firm. Diagnosis banding: .athelia: tidak terbentuknya jaringan payudara. N60 Diagnosis: Giant fibroadenoma mamma Kriteria diagnosis: lesi berdiameter > 5 – 10 cm.Virginal hypertrophy. Augmentasi mammoplasty untuk untuk hipo/amastia Lesi jinak payudara ICD D24. bentuk tuberous Breast ptosis: jatuh dan tergantungnya posisi payudar yang berlebih sehingga nipple areola berada di bawah lipatan inframmamary.Phylloides tumor .Enukleasi . Inverted nipple: terbaliknya putting susu akibat tarikan duktus di bawahnya. dengan dilatasi vena di atasnya. Tuberous breast deformity: payudara kecil. Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: bidang terkait bila diperlukan Terapi: . unilateral. ditandai dengan pertumbuhan cepat dan tiba-tiba.Reduksi mammoplasti McKissock 79 . asimetris dengan nipple areola yang lebar. bisanya soliter. Reduksi mammoplasty dan mastopexy untuk macromastia. muncul saat /segera setelah pubertas.

McKinney P. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Jan 2000 3. 1997 80 . Benign Tumor of Teenage Breast. WB Saunders. Aston SJ. 2. McGrath MH. Boston 1991. Gynecomastia In: Smith Jw. 4th ed. Marks MW. USA. Lewis PL. Fundamentals of Plastic Surgery. Marks C.No1.Kepustakaan : 1. Plastic & Reconstructive SurgeryVol 105. Little Brown.

M. M.R. Grabb and Smith's Plastic Surgery.S. Aston (Edit). Edinburgh london and New York.S.C. konsul dokter gigi bila sumber infeksinya dari gigi Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis: Baik Kepustakaan : 1. McGregor M.C. Philaadelphia. W. 2. Greco (Edit) . 2.. Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi sebelumnya Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap. (Glasg. 1980. Brwon and Company. Tokyo.S.B. Boston/Toronto/London. Little.(Eng. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 1991. 1.2 Kriteria diagnosis : Pembengkakan submandibuler dengan rasa nyeri dan panas badan. Churchill Livingstone.Saunders Company. 1991. Ch.. F.INFEKSI Flegmon dasar mulut ICD : K 12.Sepsis Informed Consent : Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan: ± 3 . Montreal.D. F. Little. 81 . Sydney.C.B. Boston/Toronto/London.. Smith. Sherrell J. Fourth Edition. Richard J. F.5 hari Masa pemulihan : ± 1-2 minggu Hasil : Infeksi (-) Setelah infeksi reda.).). London Toronto. Joseph G. Emergency Plastic Surgery . Plastic Surgery (8 vol) . kulit diatasnya kemerahan. Brown and Company. . rasa hangat dan nyeri tekan. James W. McCarthy. Hon. segera Terapi : Insisi-drainase → kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas .A.R. Ian A. 1990.

McGregor M.). fluktuasi (+). Montreal. Greco (Edit) . M. Edinburgh london and New York. 1991. F. Sydney. Emergency Plastic Surgery . Hon.C.R.C.C.B. 4. (Glasg.. Richard J.(Eng. Philaadelphia. 1990. W. Brwon and Company. 3. Joseph G. London Toronto. Boston/Toronto/London. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. M. Tokyo. .Sepsis .. Little. F.Abses Maksilofasial ICD : L 02. Churchill Livingstone.A.R. McCarthy. Grabb and Smith's Plastic Surgery. infeksi reda Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis : Baik Kepustakaan : 1. 1991. Little. Plastic Surgery (8 vol) .S. diserta rasa nyeri dan kadang disertai panas badan.S.S. Fourth Edition. kulit diatasnya kemerahan. 82 .B.Thrombosis sinus kavernosus Informed Consent: Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan : ± 3 – 5 hari Masa pemulihan : ± 10 – 14 hari Hasil: Abses (-). 2.D.. Diameter > 6 cm Terapi : Insisi drainase – kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan: Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas . Boston/Toronto/London. periorbital.0 Kriteria diagnosis : Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisis. F. 1980.). nasofrontal. Brown and Company. nyeri tekan (+) Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap segera bila :Lokasi didasar mulut. Ian A. Ch.Saunders Company.

NOMOR ICD : S 82 2. & Solomon.TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap untuk observasi dan tindakan 8. PENGOBATAN : A. Salter. KEPUSTAKAAN : 1.PENYULIT : Infeksi . TEMPAT PELAYANAN RS Perjan Denpasar 10.B.PATOLOGI : 15. Cara pengobatan : Debridement dan fiksasi sesuai dengan grade & displasement Fiksasi interna elektif untuk grade I Fiksasi internal immediate untuk grade II Fiksasi eksterna untuk grade III C.OTOPSI : 16. kompartment syndrome. DIAGNOSIS : PATAH TULANG TERBUKA 3. Macam pengobatan : D. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. perdarahan. A. emboli lemak) 11. 7th. Terapi komplikasi pengobatan : . perdarahan. pemendekan tulang panjang) Ada perlukaan di daerah fraktur yang berhubungan dengan fragment fractur 4. KONSULTASI : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. nyeri kalau gerak. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E.Sesuai dengan komplikasi yang timbul (Infeksi . 1983. deformitas.1. kompartment syndrome. DIAGNOSIS BANDING : 5.HASIL : Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal 14. KRITERIA DIAGNOSIS : Ada trauma Ada tanda patah tulang (krepitasi. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. emboli lemak) F. 2. pergerakan normal.INFORMED CONSENT : Perlu 12. 83 . Tujuan terapi : Kuratif B.PROGNOSIS : Dubius ad bonam 17. Apley. 1993. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.G. Butterworth-Heinemann. gangguan fungsi. L. R.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9.MASA PEMULIHAN : 12 minggu 13. AP /Lat 6. Kualifikasi operator : . Edition. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Radiologi : Foto Ro.

1993. PENYULIT: Malunion/ delayed union 11. Butterworth-Heinemann.Kualifikasi operator : . TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. TEMPAT PELAYANAN: RS. MASA PEMULIHAN : 4-8 minggu 13. Cara pengobatan : Reposisi C. Williams & Wilkins Baltimore/London. A. 7th. Tujuan terapi : kuratif B. Apley.1. Perjan Denpasar RS. INFORMED CONSENT : Perlu 12. R. PROGNOSIS : Baik 17.G. & Solomon. PEMERIKSAAN PENUNJANG : foto polos cruris AP/ Lat 6. 84 . lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10. Terapi komplikasi pengobatan : Reposisi ulang/ bone graft ( malunion/delayed Union F. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 2. NOMOR ICD : S 82 2. OTOPSI : 16. Macam pengobatan : Reposisi tertutup. KEPUSTAKAAN : 1. HASIL : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal 14. Edition.B. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E.: Long leg cast. L. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan untuk non bedah : Rawat inap untuk pembedahan 8. Salter.fraktur pada tibia da fraktur pada fibula 4. KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat trauma Tanda pasti patah tulang tibia/ fibula Foto Ro. DIAGNOSIS : FRAKTUR CRURIS 3. DIAGNOSIS BANDING : 5. 2nd Ed. KONSULTASI : Dokter spesialis terkait {bila diperlukan) 7. 1983. Reposisi terbuka : Pemasangan implant/ plate screw D. PENGOBATAN : A. PATOLOGI :15.

L. PENGOBATAN : A. Terapi komplikasi pengobatan dan bias dipersiapkan secepatnya pada yang Tertutup. HASIL : Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal 14. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit pada yang clean cut E. MASA PEMULIHAN : 6 minggu sudah buka gip 13. 5. DIAGNOSIS BANDING : PEMERIKSAAN PENUNJANG : KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. F. 6. Tujuan terapi : Kuratif B. & Solomon. Macam pengobatan : Operasi dengan tehnik Bunnel atau Kesler Immobilisasi dengan fore slab D. 1993. 1983. Edition.B. KEPUSTAKAAN : 1. DIAGNOSIS : RUPTUR TENDON ACHILES 3. 7th. PATOLOGI : 15.1. Williams & Wilkins Baltimore/London. TEMPAT PELAYANAN : RS. 7.G. sambungan putus. R. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi achiles Trauma tangan Clean cut injury Fungsilaesia 4. kontraktur ankle 11. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 85 . A. Kualifikasi operator : .Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Apley. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. NOMOR ICD : S 86. Perjan Denpasar 10 PENYULIT : Infeksi. PROGNOSIS : Baik 17.0 2. 2nd Ed. Salter. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Cara pengobatan: Repair tendon C. Butterworth-Heinemann. OTOPSI : 16. 2.

Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Terapi komplikasi : Sesuai dengan komplikasi yang timbul (non union malunion. 2nd Ed. PROGNOSIS : Baik/ cacat 17. DIAGNOSIS BANDING : 5. OTOPSI : 16. Edition. haemathros) F.Gangguan extensor mekanisme lutut Radiologi : . haemathros . PEMERIKSAAN PENUJANG : Foto polos genu AP/ Lat 6. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. R. 86 .TBW .Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9.Foto genu AP/ Lat . defect antar fragmen. MASA PEMULIHAN : 8-12 minggu 13. PENGOBATAN A Tujuan pengobatan : Kuratif B.B.Nyeri. A. infeksi.G.Partial/ total patelectomy D. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. KEPUSTAKAAN : 1. separasi fragmen Kelemahan otot-otot quadrisep.1. Kualifikasi operator : . Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. HASIL : Kedua fragmen patela tereposisi & rigid Fragmen terangkat 14. NOMOR ICD : S 82. PATOLOGI : 15. 2. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan dan rawat inap 8.Cara pengobatan : Reposisi tertutup dan reposisi terbuka. Perjan Denpasar RS.Bila perlu sunrise/ tangensial (untuk fraktur vertikal& fragmen osteochondral) 4. 1983. 1993. & Solomon. 7th. L.bengkak. TEMPAT PELAYANAN : RS. Salter. DIAGNOSIS : FRAKTUR PATELA 3.0 2. INFORMED CONSENT : Perlu 12. KRITERIA DIAGNOSIS : Klinis : . Apley. crepitasi. Williams & Wilkins Baltimore/London.kekakuan lutut 11. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. C Macam pengobatan : Reposisi tertutp : Pasang Kocher gips untuk permukaan yang intact dan fragmen tidak bergeser Reposisi terbuka: ORIF : gangguan permukaan artikuler . PENYULIT: Haemathros Infeksi. Butterworth-Heinemann. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10.

Edition. 1993. lesi nervus.Terapi komplikasi pengobatan : . DIAGNOSIS BANDING : Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara klinis . 2. atrofi otot.B. NOMOR ICD : S. emboli lemak. delayed union. metal fatique. Komplikasi lambat Refraktur. Apley. . 87 . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. 2. MASA PEMULIHAN : 1 minggu 12. 2nd Ed. Cara pengobatan : Non operative dan operative C Macam pengobatan : a.Waktu pengobatan : segera saat penderita datanmg ke rumah sakit E. malunion Joint stiffnes. Non operative Traksi skeletal Traksi kulit pada anak b.Fraktur trokanter .Kualifikasi operator/ pemberi pelayanan : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. dan cidera neurovaskuler 10. PROGNOSIS : Baik 16. 9.1. infeksi. 1983.Fraktur shaft femur . HASIL : Posisi anatomis optimal Fungsional baik 13. Perjan Denpasar PENYULIT : Non union. KEPUSTAKAAN : 1. Tujuan terapi : Kuratif B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.1. R. 7th.G. OTOPSI : 15. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma mayor pada paha Tanda pasti patah tulang (+) 4. TEMPAT PELAYANAN : RS. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 17. 72 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos Femur AP/ Lat 6. Williams & Wilkins Baltimore/London. F. & Solomon. Infeksi. infeksi.Fraktur kolum femur . Operative D. trauma vaskulaer. Komplikasi Awal Syok. mlunion. PATOLOGI : 14. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. L. DIAGNOSIS : FRAKTUR FEMUR 3.Fraktur kondilus femur 5. Salter. INFORMED CONSENT : Perlu 11. Butterworth-Heinemann. trombo emboli. PENGOBATAN : A. A.

ekstensi Eksternal rotasi 4. Dislokasi posterior Merupakan jenis tersering Tungkai memendek. PENGOBATAN : A. NOMOR ICD : S 73. Dislokasi anterior 10 % insiden dislokasi panggul 4 % mengalami avaskuler nekrosis Identasi fraktur caput femur : identasi 4 mm atau lebih Dengan prognosis buruk Type : Superior (pubis atau iliac) : panggul abduksi. Cara pengobatan : Reposisi segera C. DIAGNOSIS BANDING : 5. TEMPAT PELAYANAN : RS.Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar .pyriformis menghalang reposisi Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi D. Allis 2.0 2.Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal . DIAGNOSIS : DISLOKASI PANGGUL 3. Macam pengobatan : Reposisi tertutup dengan anastesi umum : 1. PENYULIT : Fraktur intra artikuler Cidera N.Type V : Fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain B. Stimson Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 minggu. Terapi komplikasi pengobatan : F. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. 9. Bigelow 3.ischidikus. Tujuan pengobatan : kuratif B. endorotasi dan adduksi 10 % komplikasi n. ischiadicus 88 . PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. Kualifikasi operator : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi.1.Type IV :fraktur tepi acetabulum dan besar . KRITERIA DIAGNOSIS : A. kapsul sendi atau m. Klasifikasi : . > 15 % avaskuler nekrosis kaput femoris. fleksi eksternal rotasi. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos panggul AP/ Lat 6. KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) 7.Type III : fraktur comminutive tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . Perjan Denpasar 10. Inferior (obturator) : panggul abduksi.

2. Williams & Wilkins Baltimore/London.11. R. 2nd Ed. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Salter. L. Edition. OTOPSI :16. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. HASIL : Tereposisi dengan baik 14. Apley. 1983. PATOLOGI :15. KEPUSTAKAAN : 1. 7th. 1993. INFORMED CONSENT : Perlu 12. MASA PEMULIHAN : 8 minggu 13. A. & Solomon. Butterworth-Heinemann. PROGNOSIS : Baik 17. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 89 .G.B.

Macam pengobatan : D.thorak) Foto Ro adanya fraktur di klavikula 4.Patologi 15.Penyulit 11. 2. Tujuan terapi B. Diagnosa banding Konsultasi Perawatan RS Pengobatan: A.Masa Pemulihan 13. Terapi komplikasi : 9. 8.1. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk perawatan bedah : Kuratif : Konservatif Operatip : pasang ransel verband : Plate & Screw atau ada lesi vaskuler/ saraf Pemeriksaan penunjang : X-foto klavikula AP C. Nomor ICD Diagnosis Kriteria diagnosis : S 42.0 : FRAKTUR KLAVIKULA :Terputusnya kontinyuitas tulang klavikula akibat trauma Klinins : Penderita : nyeri.Prognosis : Perlu uintuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS Perjan Denpasar : Lesi vaskuler Lesi saraf : Perlu : 1-1. Hasil 14. Otopsi 16. Waktu pengobatan : segera saat penderita dating ke rumah sakit E.5 bulan : Tereposisi dengan baik F. 5. 6.Tempat pelayanan 10. Cara pengobatan : Dislokasi acromio-klavikular : Dokter spesialis terkait. Adakah gejala dan tanda trauma penyerta (trauma vaskuler.Informed consent 12. 7. Kualifikasi operator : 90 . saraf. 3. pembengkakan dan krepitasi pada daerah klavikula.

A. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 2nd Ed. 2. L. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.G.B.17 Tindak lanjut 18. Apley. Salter. Edition. 1983. & Solomon. R. 7th. ButterworthHeinemann. Williams & Wilkins Baltimore/London. 1993. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinis : 1. 91 .

Penyulit 11.Tempat pelayanan 10.3 : FRAKTUR HUMERUS : Ada riwayat trauma Tanda pasti fraktur humerus (nyeri. Apley. Kualifikasi operator 9. Tujuan terapi B. ICD 2.Informed consent 12. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. krepitasi.Otopsi 16. Hasil 14. 1993.B. ButterworthHeinemann. 1983.Pengobatan : A. Radialis : Perlu : 12-24 minggu : Terreposisi dengan baik : : : Baik : perawatan poliklinis : 1. Diagnosis 3. Macam pengobatan D. Salter.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Terapi kompliksai F. bengkak diformitas. Tindak lanjut 18.1.Konsultasi 7. A. Kriteria diagnosis : S 42. L.G. 7th. Pemeriksaan Penunjang 6. 2. gangguan fungsi) Foto Rontgen adanya fraktur humerus 4. Perjan Denpasar : Lesi N. KEPUSTAKAAN : : : saat penderita dating ke rumah sakit : Lesi N. angulasi / pemendekan. Edition. 2nd Ed. R. & Solomon. bila diperlukan :Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : Kuratif : Non Bedah :Reposisi dengan pembiusan pasang Gips U – slab / Hanging cast Bedah: Pemasangan implant plate screw C. Radialis . Masa pemulihan 13. Perawatan RS 8. Waktu pengobatan E. - 92 . Diagnosa banding 5. Axillary view :Dokter spesialis yang terkait. Cara pengobatan : : X Foto humerus AP/ lateral. Williams & Wilkins Baltimore/London. Patologi 15. Prognosis 17. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.

Macam pengobatan D. Tujuan terapi B. Hasil 14.0 : DISLOKASI BAHU : Ada riwayat trauma Nyeri. Lama Pemulihan 13. Prognosis : Perlu : + 4 – 6 minggu : Terreposisi dengan baik : :: Baik : Segera direposisi saat penderita dating ke rumah sakit untuk yang baru.Penyulit : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS.Informed consent 12. asimetri Gangguan gerakan bahu 4.Konsultasi 7.Pengobatan A.Tempat pelayanan 10. Diagnosis 3. Perawatan RS 8. dengan persiapan. Patologi 15. Otopsi 16. Cara pengobatan : : X Foto bahu AP : Dokter spesialis yang terkait. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Perjan Denpasar : Cedera N Axilaris / plexus brachialis Gangguan sirkulasi Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama Dislokasi sendi berulang 11. Nomor ICD 2. Diagnosa banding 5. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : : kuratif : Non Bedah : Reposisi menurut Kocher atau Hipokrates Bedah Reduksi operatif untuk kasus-kasus neglected. 93 . Pemeriksaan Penunjang 6. Waktu pengobatan E. Kriteria diagnosis : S 43. deformitas. C.1.

17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

94

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan

: S 42.4 : FRAKTUR SUPRA CONDILER SIKU : Riwayat Trauma Tanda –tanda pasti patah tulang di atas siku : : X Foto siku AP / lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : a. Non bedah : - Reposisi dengan pembiusan - Traksi b. Bedah : Bila non bedah gagal – operasi Plate & Screw atau CCW

C. Macam pengobatan : D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : segera saat penderita dating ke rumah sakit : Kaku sendi siku (Fisioterapi) Kompresi pembuluh darah : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Kompresi pembuluh darah Kaku sendi siku : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik: : : : Dubius / kaku sendi siku : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

95

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.0 : FRAKTUR OLEKRANON : Riwayat Trauma Tanda pasti patah tulang pada siku Teraba gep pada olecranon X Foto Olekranon patah

4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan C. Macam pengobatan D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator :

: Fraktur lain di daerah siku : X Foto siku AP lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan :Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : Operasi dengan pemasangan tension band wire : saat penderita datang ke rumah sakit pada yang terbuka : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12. Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS. Perjan Denpasar : Kaku sendi siku Lesi N.Ulnaris : Perlu : + 4 – 6 minggu : Fragmen terfiksasi dengan baik : : : Dubius / cacat : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

96

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S3.1 : DISLOKASI SIKU : Riwayat trauma, sakit sendi siku Deformitas / asimetri Limitasi gerakan sendi

4. Diagnosis banding 5. Pemeriksaan penunjang 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 9. Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan a. Non bedah b. Bedah C. Macam pengobataqn D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis : : : :

: : X Foto siku AP/ lateral : Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap

: Reposisi dengan pembiusan Imobilisasi dengan posisi fleksi pada siku : Operasi bila reposisi gagal : segera saat penderita dating ke rumah sakit

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Lesi N.Ulnaris, N.Medianus Lesi vaskuler : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik : : Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Kaku sendi bisa terjadi

97

1983 98 . A. Edition. 2nd Ed. R.B. 7th. L. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinik : 1. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2. Salter. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Apley. 1993. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. & Solomon. ButterworthHeinemann.G.17.

2. Konsultasi 8. Diagnosis Banding 6. bila tidak stabil diimobilisasi dengan gips pada posisi supinasi selama 3 minggu. deformitas. Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Macam pengobatan : 1. Non bedah : reposisi (gips sampai di atas siku) 2. : Perlu : ± 6 minggu 99 . krepitasi dan nyeri. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi interna. lengan bawah AP/lat.2. Dilakukan reposisi tertutup dengan anestesi umum c. Informed consent 12. post operasi diperiksa stabilitas sendi radioulnar. Masa pemulihan : RS. Kriteria Diagnosis : FRAKTUR GALEAZI : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Ro. Cara pengobatan : 1. Penyulit 11. gangguan gerak. 4. “false movement”. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : : kuratif kemudian imobilisasi dengan gips (long arm cast) pada posisi supinasi selama 4-6 minggu. 5. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Perjan Denpasar : Non union. malunion. Pengobatan a. Diagnosis 3. 3. 7. Perawatan Rumah Sakit : Rawat inap untuk observasi atau tindakan b. Radiologi : anteroposterior dan lateral. Bedah : operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal d. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang radius disertai dislokasi sendi radioulnar distal . Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1. Tempat pelayanan 10. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi.

A. L. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Apley. Williams & Wilkins Baltimore/London. Edition.B. 1983 100 . Otopsi 16. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 2nd Ed. 1993. R. Patologi 15. Hasil 14. 7th.G. KEPUSTAKAAN : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. Tindak lanjut 18. 2. ButterworthHeinemann. & Solomon. Salter. Prognosis 17.13.

“false movement” dan krepitasi. Nomor ICD 2. Dilakukan reposisi tertutup kemudian imobilisasi c. Bedah : : Pembedahan e. Macam pengobatan d. 2. nyeri terutama pada tempat fraktur dan sendi radioulnar proksimal. Radiologi : anteroposterior dan lateral . Non bedah 2. deformitas. dislokasi kaput radius ke anterior Bado 2. dislokasi kaput radius ke posterior Bado 3.1. Diagnosis banding 6. Waktu pengobatan : : 1. Kriteria diagnosis : S 52. 5. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. Terapi komplikasi pengobatan : f. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi internal 3. 4. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan Dokter Spesialis Bedah Ortopaedi 9.0 : FRAKTUR MONTEGIA : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi atau tindakan : : kuratif dengan posisi lengan supinasi. lengan bawah AP / lat b. Pengobatan a. Tempat pelayanan : RS. Perjan Denpasar 101 . Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. dislokasi ka[ut radius diseratai Fraktur radius dan ulna. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Imobilisasi selama 4-6 minggu. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang ulna dan dislokasi caput radii Klasifikasi : Bado 1. Diagnosis 3. dislokasi kaput radius ke lateral Bado 4. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. Cara pengobatan : 1.

Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. ButterworthHeinemann. gangguan gerak. Penyulit 11.G. Salter. Williams & Wilkins Baltimore/London. Hasil : Non union. R. Edition. infeksi. 7th. Tindak lanjut 18. Prognosis 17. Patologi 15. : Perlu : ± 6 minggu : Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik Caput radii tereposisi atau dibuang 14. Otopsi 16. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 2nd Ed. Informed consent 12.10. L. 1993. A.B. & Solomon. Apley. malunion. 2. 1983 102 . KEPUSTAKAAN : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. Masa pemulihan 13.

Definitif orang muda immobilisasi dengan gips sirkuler butuh anesthesia regional atau general : . Perawatan rumah sakit 8.Faktor yang menpengaruhi optimalisasi : • • • • • . semi fleksi dan ulnar Deviasi pada pergelangan tangan.1. Pengobatan a. foto polos radius-distal AP / lat b. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : : local anesthesia (hematome 5. Kriteria diagnosis : S 52.5 : FRAKTUR COLLES : Tanda-tanda pasti patah tulang Trauma lengan karena menahan dengan “out strecht hand” 4. Nomor ICD 2. Non bedah : Reposisi dengaqn pembiusan b. Gips sampai di bawah siku a. Emergensi : . Diagnosis banding 6. Cara pengobatan : 1. Pemeriksaan penunjang : Radiologi . Konsultasi 7.pada anak dan orang tua blok) 2.Macam : • • • • • reduksi tertutup dan splint reduksi tetutup dan pinning perkutan fiksasi externa reduksi terbuka dan fiksasi interna fiksasi externa dan interna stabilisasi fraktur besarnya displacement kwalitas tulang usia dan aktifitas penderita ketersediaan peralatan c. Diagnosis 3. Macam pengobatan : Fiksasi dalam posisi pronasi. Bedah : Bila non bedah gagal 103 .

9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Massa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS Perjan Denpasar : Kompartment syndrome Suddec atropi : Perlu : ± 4 – 6 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posisi optimal Fungsional baik : : : baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

104

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.4 : FRAKTUR RADIUS-ULNA : Klinis : didapatkan adanya tanda-tanda fraktur seperti edema, deformitas, “false movement”, krepitasi dan nyeri. Radiologis : anteroposterior dan lateral, akan didapat kan adanya diskontinuitas tulang.

4. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pengobatan a. Tujuan terapi

: : Dokter spesialis yang terlait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : :

5. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. antebrachii AP/lat

b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup dengan anesthesia umum, kemudian immobilisasi dengan gips (long arm cast). Posisi antebrachii tergantung letak fraktur, pada fraktur antebrachii 1/3 proksimal diletakkan dalam posisi supinasi, 1/3 tengah dalam posisi netral, dan 1/3 distal dalam posisi pronasi. Gips dipertahankan 4 – 6 minggu 2. Bila reposisi tertutup tidak berhasil (angulasi lebih dari 10º pada semua arah) maka dilakukan internal fiksasi. 3. Pada fraktur terbuka terlebih dahulu dilakukan “debridement” kemudian dilakukan tindakan seperti diatas. Sedangkan pada fraktur terbuka derajat III dilakukan eksternal fiksasi. c. Macam pengobatan : Gips sampai diatas siku b. Bedah : Bila non bedah gagal plate and screw d. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit : RS. Perjan Denpasar : Kompartment syndrome a. Non Bedah : Reposisi dengan pembiusan

105

11. Informent consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perlu : ± 6 – 8 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

106

1. Nomor ICD 2. Diagnosis

: C22.0 : Hepatoma

3. Kriteria Diagnosis - Pemeriksaan Klinis : - Anamnesa : - berat badan menurun - nyeri hipokondrium kanan - alkoholisme - riwayat sirosis hepatis atau hepatitis kronis - Inspeksi : tampak tumor pada hipokondrium kanan (tumor besar) - Palpasi : massa pada hipokondrium kanan - Perkusi : untuk mencari batas-batas tumor - Auskultasi : suara usus normal Pemeriksaan Laboratorium : - AFP - LFT - CEA Pemeriksaan Imaging : - USG - CT Scan

-

Pemeriksaan Radiologi : - angiografi - Ba- enema (bila curiga primer berasal dari kolon) Pemeriksaan Jarum Halus Pemeriksaan Kolosnokopi : bila curiga primer dari kolon

-

4. Diagnosis Banding - Tumor jinak hepar (Hemangioma, Adenoma) - Kolangiokarsinoma 5. Pemeriksaan Penunjang : 6. Konsultasi : Penyakit dalam bila ada riwayat sirosis hepatis dan hepatitis khronis. 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan - Pembedahan / Terapi 1. Tumor metastase dari kolon / rektum dan primer terkontrol : dilakukan reseksi hepar. 2. Tumor metastase dan tumor primer in operabel tindakan suportif. 3. Tumor hepar primer : karsinoma hepatoseluler - inresektabel : suportif. - resektabel : reseksi hepar. 4. Tumor jinak : - bila ada gejala : dilakukan reseksi. - bila tak ada gejala : observasi. 5. Sebelum reseksi sebaiknya dilakukan embolisasi untuk mengecilkan tumor dan mengurangi perdarahan.

107

Mc Graw Hill. Penyulit : Perdarahan (Spontan atau akibat tindakan) 10. Prognosis : . Hasil : .Follow up secara klinis.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 10th ed. 9.Rumah Sakit tipe A/B yang sudah memiliki Ahli Bedah Digestif. Prentice Hall International. Tempat Pelayanan : . 10th ed.Perlu 14. p. Prentice Hall Inc. 1994 . Kepustakaan : . Patologi : . Laboratorium dan Imaging 17. Tindak Lanjut : .Tergantung jenis tumor 12. Masa Pemulihan : . 1997.6. Seiji Kawasaki : Hepatocellular Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operations.Tumor Ganas : Baik : Resektabel → Dubois Ad Bo anam : Inresektabel → Dubois Ad Malam 16.Perlu 11.Schwartz SI : Principles of Surgery. 1561-1590 108 . 5th ed. p.Maratoshi Maknuchi. Otopsi : 15.Tumor Jinak .Tergantung jenis tumor (jinak atau ganas) dan apakah resektabel atau tidak 13. Informed Consent : . 1989. Pada kasus resiko tinggi untuk operasi dan tumor kecil dapat dicoba penyuntikan perkutan alkohol 90% dalam tumor dengan tuntunan USG. 8. 1327-1376 .

Penyulit : .Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Perkusi .Hidrokel 5. UL 6. Diagnosis Banding . : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .tehnik Halsted.thumb test.Herniotomi .zieman test (tri finger test) : : ( diatas benjolan) terdengar suara bising usus (bila isi kantong usus). Kriteria Diagnosis . .Anamnesa . Tempat Pelayanan : . 8.tehnik Bassini.Pemeriksaan fisik : . Informed Consent : Perlu 11.Pemeriksaan Klinis : . : benjolan di pelipatan paha yang dapat keluar masuk (hernia reponibilis) tak dapat keluar masuk (irreponibilis dan inkarserata).Kalau ada penyakit penyerta (liver.1. Hasil : Baik 13. Konsultasi : .Hernioplasty : . Masa Pemulihan : 3-5 hari 12. Pemeriksaan Penunjang : . Otopsi : 15.Lab.Inspeksi .finger test.Lipoma pada pelipatan paha . jantung) 7.Pembesaran kelenjar limfe . DL.Auskultasi : benjolan di pelipatan paha.Penilaian isi kantong bila nekrosis dilakukan reseksi . bila inkarserata terasa nyeri.Pembedahan / Terapi .Palpasi . Nomor ICD 2.Inkarserata / strangulasi dengan segala akibatnya 10. . Diagnosis : K40 : Hernia 3. 4. Patologi : Tidak perlu 14. . Prognosis : Baik 109 .

Ist ed. Litle Brown and Co Boston. Prentice Hall International Inc. 11th ed. Ist ed.16. p. 712724 . 375-381 .Way LW : Hernia other lesion of the abdominal wall In : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Devlin HB : Management of Abdominal Hernia. Bristol. HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. London 1988 .Skandalakis JE : Hernia Surgical Anatomy and Technique. Butterworth & Co. p.Dodson TF : Hernia In : Manual of Clinical Problem in Surgery. 215-218 . Kepustakaan : . Tindak Lanjut : Follow up apakah terjadi residif / tidak 17. Mc Graw Hill Inc. 1984. 1986. USA. John Wright & Sons. 1988 110 . p. 1994.Dudley. 10th ed.

Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 111 .Anamnesa : .Palpasi : * nyeri daerah Mc Burney / kanan bawah : . entero-kolitis.lapangan operasi dibersihkan dari pus dan bahan kontaminasi.Bila saat operasi didapatkan apendik yang mengalami perforasi maka dilakukan : .Perkusi : Nyeri ketok ⊕ (kadang-kadang dilakukan) . ileitis terminalis. . 4.kulit dijahit situasi.USG . Nomor ICD 2.pembiakan kuman dan test kepekaan antibiotik.tidak melakukan penjahitan lemak. kolesistitis.1. perforasi karsinoma kolon. Kriteria Diagnosis .Pembedahan / Terapi .Auskultasi : Suara usus menurun .Apendektomi .Pemeriksaan USG (bila ragu-ragu) 4.Colok dubur : nyeri perut kanan bawah (jam 10 – 11) .Inspeksi : gerakan perut kanan bawah berkurang waktu bernafas .saat tekanan perut kiri dilepas (Blumberg Sign). Golongan gastro-enteritis : lim fadenitis mesenterik. . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . . Diagnosis Banding 3. . .saat mengangkat tungkai kanan (Psos Sign). 5.dipasang drain sub fasial.sub febris. .Pemeriksaan Klinis : .Ba inloop double kontras 6. Konsultasi : Obstetri Ginekologi 7. Pemeriksaan Penunjang . pankreatitis divertikulitis. 8.anoreksia mual. Diagnosis : K35 : Radang Usus Buntu 3. .bila perut kiri ditekan (Rovsing Sign). .saat flexi dan endo rotasi tungkai kanan (Obturator Sign). Kelainan genitalia interna pada wanita 5.Pemeriksaan laboratorium : DL : leukosit UL : sedimen urin . febris (bila ada komplikasi) .nyeri epigastrium kemudian disusul nyeri perut kanan bawah yang menetap. Kelainan-kelainan lain didalam abdomen ulcus pepticum. .saat testis kanan ditarik (Tenhorn Sign) . .

Inc. 4. Masa Pemulihan : 5-7 hari 12.9.. 10th ed. 11th ed. bila luka mengalami infeksi perlu dipertimbangkan kondisi luka 17.Way. Tindak Lanjut Jahitan diangkat hari ke-7 pasca bedah. Prognosis : Baik 16. 5. Penyulit 1. 953-978 . Bristol.Dudley HAF : Hamilton Biley’s Emergency Surgery.2 9th ed. 610-614 112 . John Wright & Sons Ltd.p. 2. 1990. Otopsi : 15. Appendisitis perforasi Periappendicular infiltrat Periappendicular abscess Peritonitis umum Foic appendiculare 10. Kepustakaan : . Hasil : Baik 13. Vol. 3.p. Informed Consent : Perlu 11. Appleton Century Crofts. Patologi : Perlu 14. 336-345 . LW : Appendix In : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. P. Norwalk Connecticut. 1986. 1994. Prentice Hall Int.

Pemeriksaan radiologis : fistulografi. Amoeba 6.Auskultasi : .untuk mengetahui lubang fistel sebelah dalam.Sondasi : untuk mengetahui saluran dari fistula. Diagnosis : K60.penggunan seton (pada fistula yang banyak melibatkan sfingter ani) .untuk mengetahui adanya penyakit lain (karsinoma. faeces dari lubang dekat anus. morbus Crohn). Diagnosis Banding 3. nanah. Pemeriksaan Penunjang : Fistulografi 6. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan Pembedahan / Terapi .Fistulotomi. 8. Konsultasi : 7. 4. Kriteria Diagnosis .Irigasi saluran : untuk mengetahui saluran dan lubang interna dengan garam fisiologis. .3 : Perianal Fistula 3.Fistulektomi .1. . proktitis tbc. . . proktits tbc 5.Perkusi :.Palpasi : nyeri tekan dan teraba massa sebagai tali memanjang .Anamnesa : mengeluarkan lendir.Inspeksi : adanya perianal fistel. hidrogen peroksida datu metilen biru. Penyulit : Kadang-kadang residif 10. .Colok dubur : dengan bidigital yaitu antara jari telunjuk pada anus dan ibu jari pada perineum akan teraba jaringan yang mengeras seperti tali. Nomor ICD 2. . . . Morbus Crohn 5.bahan yang dieksisi dilakukan pemeriksaan histo PA.Proktoskopi : . Karsinoma rekti 4.Pemeriksaan Klinis : . Informed Consent : Perlu 113 . amoeba. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.

WB. Otopsi : 15. London.Way LW. 1994. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Saunders Co.Keighley. p. Patologi : Perlu 14. Prognosis : Baik 16. Rectum and Colon. 1303-1306 . Kepustakaan : . Rectum and Anus. Masa Pemulihan : Tergantung derajat fistula (melibatkan banyak sfingter ani atau tidak) 12.Golberg. Ltd. Tindak Lanjut : Follow up berkala 17. MRB : Anorectal Fistula in Surgery of the Anus. 10th ed Prentice Hall International Inc. p. et al : Colon.11. Philadelphia. Hasil : Baik 13. 418-466 114 . 1993. Mc Graw Hill. In : Principles of Surgery 5th ed. Anorectal Fistulas. 1988 p. 701-703 . SM.

Pembedahan / Terapi .diet membuat faeces lunak.salep lokal Ichtamol 10%.Proktoskopi : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan hipertropi papilla dan fissura.Medikamentosa : .rendam duduk (Krim 04) .bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. Konsultasi : 7.Palpasi : bila anus dilakukan everasi tampak fissura . . Diagnosis Banding : 5. Tempat Pelayanan : .Inspeksi : adanya sentinel pile .Pemeriksaan Klinis : . Nomor ICD 2. Informed Consent : Perlu 11.Colok dubur : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan lokasi fissura dan stenosis. Kriteria Diagnosis .Anamnesa : . Hasil : Baik 13. Patologi : 14. . . Penyulit : 10.Perkusi : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . .Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Operasi : . hidrokortison 1%. Otopsi : 15.nyeri waktu berak . Diagnosis : K60. 4. 8.berak darah segar (tanpa bercampur berak) .prosedur : lateral internal sfingterotomi.0 : Fissura Ani 3. .minum banyak. Masa Pemulihan : 2-3 hari 12.Auskultasi : .1. Pemeriksaan Penunjang : 6. Prognosis : Baik 115 .

Keighley.Golberg. 1993. p. Philadelphia. et al : Colon. In : Surgery of the Anus. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Mc Graw Hill. Ltd.16. SM. Saunders Co. 698-699 . Rectum and Colon. 369-386 116 .Way LW. MRB :Fissure in Ano. Kepustakaan : . 1994. WB. In : Principles of Surgery 5th ed. 1988 p. 10th ed Prentice Hall International Inc. 1303-1306 . Rectum and Anus. p. London. Anal Fissure. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi (Poliklinis) 17.

Interne . USG.Perkusi : nyeri ketok pada perut kanan atas . ERCP 6.tanpa batu di saluran utama : tindakan selesai . Diagnosis Banding .ERCP . . Nomor ICD 2. Konsultasi .ERCP .Inspeksi : ikterus .CT Scan. Untuk batu empedu dengan kolangitis .Courvoissier Law .kolesistektomi dan kolangiografi intra operatif.Pemeriksaan laboratorium : .test faal hati.FNAB Bila : .Batu kandung empedu .Lab .kanker tanpa metastase : reseksi pankreas 117 .panas badan .ERCP 4.Pemeriksaan imaging : .Pemeriksaan Klinis : .1 : Ikterus Obstruksi 3. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .penurunan berat badan . kulit berwarna kuning .sfingterotomi Untuk batu residual .USG .ERCP . CT Scan.1.Lithotripsi Untuk tumor pankreas .BOF.Gatal-gatal. Diagnosis : K83.Palpasi : .Tumor hati .Auskultasi : suara usus normal .Pembedahan / Terapi Untuk batu empedu tanpa kolangitis .Murphy’s sign .foto polos abdomen . .ada batu di saluran utama : koledokotomi + scope pasang T-drain. Kriteria Diagnosis .nyeri hipokondrium kanan .Pediatri pada anak 7. Pemeriksaan Penunjang .Anamnesa : .Tumor pada papila vateri 5.bila hasil kolangiografi : . .

1991.353-374 . 8. Masa Pemulihan : 1-2 minggu 12.K.reseksi .by pass .Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 10th ed.kanker dengan metastase : . 315-336 118 . Joel J. Kepustakaan : . 7th ed. .bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat.. .minum banyak. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi dan advis makanan 17.p. Prognosis : Tergantung kausa 16. : Jaundice in Maingot’s Abdominal Operations.salep lokal Ichtamol 10%.stent (ERCP) Untuk tumor Klatskin : . Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. Patologi : Perlu 14. 1994.by pass . hidrokortison 1%. mencegah kolangitis & kerusakan sel-sel hepar 13. Wright. Informed Consent : Perlu 11. 10th ed Prentice Hall International Inc. .diet membuat faeces lunak. 11th ed. Boston. p. Prentice Hall inc.prosedur : lateral internal sfingterotomi. Bristol. Little Brown & Coy.R.Medikamentosa : . Otopsi : 15. 1986.Condon RE.ERCP pro dilatasi . Penyulit Cholangitis Sepsis 10.rendam duduk (Krim 04) .stent Untuk striktura saluran bilier : . .Kim U. . 273-290 .by pass . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9. 1988. p. Hasil : Ikterus hilang.Operasi : .Dudley HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery.

1 : Hemorrhoid 3. . .Proktoskopi : untuk mengetahui derajat dan lokalisasi hemorrhoid.disuntik bahan sklerotan : . .diet yang mengandung serat (buah-buahan segar) . Diagnosis : I84.fenol oli 5% atau krim uretan 5% dosis 3-5 ml/tonjolan maksimum 15ml.25-0.Hemorrhoid interna derajat I/II. .Karsinoma rekti 5. . Konsultasi : 7. .Inspeksi : prolaps tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.sodium morbuat / tetradesil sulfat 0. Diagnosis Banding .1.Pemeriksaan Klinis : .Perkusi : .Hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis : eksisi dan evakuasi trombus.Auskultasi : . .prolaps yang berasal dari tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.Hemorrhoid interna derajat III/IV : hemoroidektomi. .tonjolan terasa nyeri (untuk hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis).Pembedahan / Terapi .Palpasi : .Prolaps rekti . 8.Anamnesa : . Penyulit : Anemia 10. Informed Consent : Perlu 119 .dengan obat lokal (suppositoria atau salep) yang mengandung kortikosteroid dan anestesia . Pemeriksaan Penunjang : 6. Kriteria Diagnosis . .50 ml. Nomor ICD 2.Colok dubur : untuk mengetahui apakah ada kelainan lain. 4. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .berak darah segar tanpa nyeri .Hemorrhoid asimptomatik tidak perlu pembedahan.

Saunders Co. Little Brown & Coy. WB. Masa Pemulihan : 7 hari 12. Philadelphia. 1994. 1988. 295-363 120 . Rectum Colon. p. 1984. JC.Condon RE. London. Otopsi : 15. Rectum and Colon. p. Prognosis : Baik 16. 317-322 . 10th ed Appleton & Langes. Kepustakaan : . Ltd. 695-698 .Williams NS : Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus. p. p. 7th ed. : Hemorrhod or Piler – Surgery of the Anus. 1993. Bailiere Tindall. Patologi : 14.Golinger. London. Hasil : Baik 13. Boston. 5th ed. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. 98-149 . Tindak Lanjut :Follow up poliklinis 17.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.11.

ERCP. gamma glucorinyl transferase. Pemeriksaan Imaging : . triggliserid. Penyulit : Kolangitis 10. Pemeriksaan Penunjang : USG.Palpasi .bila peradangan dan sudah ada massa dilakukan terapi konservatif. Informed Consent : Perlu 11.kolesistektomi terbuka . Patologi : 14. SGPT. Otopsi : - 121 . . Nomor ICD 2. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.kadar gula darah.BOF .CT Scan . SGOT. reasi Heyman v/d Berg.USG. Hasil : Tergantung apakah ada penyulit / tidak 13.kolesistektomi laparoskopi. tegang perut kanan atas.Pemeriksaan Klinis : .nyeri. CT Scan. kolestreol. .Perkusi . .1. alkali fosfatase.ERCP . tes faal hepar.Anamnesa - - . setelah stadium tenang baru dilakukan kolesistektomi. Konsultasi : Interne 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .ikterus. Diagnosis Banding : Malignancy 5. Kriteria Diagnosis .PTCD : . Diagnosis : K80 : Batu Empedu 3. PTCD 6. Masa Pemulihan : 7 hari 12. : ikterus : Murphy’s sign : : 4.Inspeksi .Auskultasi Pemeriksaan darah : . 8.Pembedahan / Terapi .

Prognosis : Baik 16. Karan. 10th ed. Prentice Hall Inc. 1717-1738 122 .Joseph A. p.p. 6th ed.Dames SS : Disease of the Liver and Billiary System. Kepustakaan : .Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. 222-224. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. 1990. 1981. 9th ed.p. 10th ed. Joel Rslyn : Cholelithiasis and Cholecystectomy in Maingot’s Abdominal Operation. 1991. 1337-1479 . Blackwell Scientific Publication.15. p. Prentice Hall International Inc. 1997. Prentice Hall International Inc. 527-557 . Oxford.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 476-498 .

Perkusi : mencari chest board phenomena .USG kalau perlu CT Scan untuk mengetahui penyebaran ke hati.Reseksi kolon transversum : untuk tumor di kolon transversum. .berak campur darah / lendir .Anasthesi 7. Pemeriksaan Penunjang .anemia / kelemahan umum .Anamnesa - - : .Ba-enema .Colok dubur : .Inspeksi : .Hemikolektomi kiri : untuk tumor di fleksura lienalis dan kolon descendens 123 .pemeriksaan IVP untuk mendeteksi infiltrasi tumor terhadap sistem saluran kemih.darm contour / darm steifung (bila ada obstruksi) .Palpasi : .pemeriksaan Ba-enema dengan kontrast ganda .perubahan pola defekasi . Pemeriksaan Imaging : .Kolonoskopi .USG . Diagnosis Banding : Kelainan-kelainan intralumen pada daerah kolorektal 5.Pemeriksaan Klinis : .IVP .CT Scan 6. Nomor ICD 2. . fleksura hepatika.Hemikolektomi kanan : untuk tumor di sekum.untuk mendeteksi kelainan-kelainan didaerah rektosigmoid. . Kriteria Diagnosis . Diagnosis : C18.pemeriksaan foto polos dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . .Pembedahan / Terapi . kelenjar para aorta Pemeriksaan pertanda tumor CEA untuk monitoring kekambuhan tumor.Auskultasi : tanda-tanda obstruksi (pada keganasan kolon kiri) .massa di perut kanan bawah / kiri .perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah defekasi. Pemeriksaan Radiologis : .dilanjutkan proktoskopi .0 : Karsinoma Kolorektal 3. Konsultasi .1.Penyakit dalam . kolon ascenden. 4.

Informed Consent : Perlu 11. p. Norman S. Rectum and Colon. : Surgery of the Anus. p.Reseksi sigmoid : untuk tumor sigmoid .Michael R. Bland : Tumors of the Colon in Maingot’s Abdominal Operation. Patologi : Harus 14. p. Englewood Cliffs. : UICC-TNM Atlas. Otopsi : 15. p.aminoglikosida. 124 . Prognosis : Tergantung stadium tumor jenis patologi 16. Prentice Hall. Williams : Surgery of the Anus. W. Keighley. Bailiere Tindall.B. 10th ed.metronidasol 8.Reseksi anterior : untuk tumor di rektum lebih dari 12 cm dari anus . 830-1091. p. 1982.metronidasol atau . 426-793 .Golinger. 1990. Rectum Colon. Prentice Hall International Inc. 5th ed. 1st ed.Spiessl B. 9th ed. 1984.sefalosporin generasi III . London.Corman ML : Colon and Rectal Surgery. . Masa Pemulihan : 7-14 hari 12. And Wagner G. Saunders Co.Helena R. Penyulit Anemia Hipo albuminemia 10. Springer Verlag. Hasil : Tergantung stadium tumor 13. 1281-1308. 1033-1172 . 1997.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. JC. 1984.. Chang. 267-412 . 78-99 . Kirby I. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. . 1993 p.B. Schebe O. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis sampai 5 tahun atau 10 tahun 17. Kepustakaan : .

Informed Consent : Perlu 11. Diagnosis : D13.Ikterus obstruktif ok keganasan saluran empedu 5.Inspeksi : ikterus .Pemeriksaan Klinis : .Ikterus obstruktif ok Stenosi saluran empedu .diabetes mellitus .6 : Karsinoma Pankreas 3. Penyulit Gangguan faal pembekuan darah Hipo albumin Kolangitis 10. CA 19.tanpa ikterus : eksplorasi untuk reseksi atau by pass .Laboratorium : LFT.Untuk kasus metastase : terapi paliatif 8.pankreatitis kronis . Diagnosis Banding . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Penyakit Dalam .Anamnesa - : . Masa Pemulihan : - 125 .dilanjutkan eksplorasi untuk reseksi atau by pass .1.Anasthesi 7.USG .alkoholisme . 19.Ikterus obstruktif ok batu empedu .9 .Pembedahan / Terapi . Kriteria Diagnosis .Palpasi : Courvoisier Sign . Konsultasi .Perkusi : . CA.Auskultasi : Pemeriksaan Laboratorium : LFT. 4. Nomor ICD 2.Untuk kasus tidak ada metastase : .9 Pemeriksaan aspirasi jarum halus.ERCP atau PTCD . Pemeriksaan Penunjang . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.CT Scan 6.dengan ikterus : .

Mc Graw Hill. Lilleane. 1989. 9th ed. prentice Hall Inc. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. p. 1997. 10th ed.Schwartz SI : Principles of Surgery.Keith D. John L. Cameron : Pancreatic and Periampullary Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operation. p. Kepustakaan : . p. Prentice Hall Inc.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Patologi : Perlu 14. 5th ed. 1977-2002 .12. 1997. 2003-2030 126 .Howard A. Reber : Operation on the Pancreas in Maingot’s Abdominal Operation. 1429-1437 . Otopsi : 15. Hasil : Tergantung apakah tumornya resetabel / tidak 13. Prentice Hall International Inc . Prognosis : Tergantung kepada stadium tumor dan tindakan yang dilakukan 16. 10th ed.

PERAWATAN RUMAH SAKIT : a. Untuk pasien anak usia >1 tahun dapat rawat jalan pra dan pascabedah 8. Pemeriksaan Penunjang : tidak diperlukan untuk diagnosis 4. Cara pengobatan : Dilakukan herniotomi dengan berbagai tehnik c. DIAGNOSIS : Hernia Inguinalis Lateralis. Pemeriksaan fisik di daerah inguinal dapat terlihat atau teraba benjolan yang timbul hilang atau menetap II. Hidrokel funikuli 2. Macam pengobatan : Tehnik Pembedahan : 1. PENGOBATAN : a. Dokter Spesialis Anestesi untuk toleransi pembiusan 7. Seringkali terdapat gangguan pasase usus jika terjadi jepitan pada usus dalam kantong hernia 2. Benjolan didaerah inguinal dapat menetap dan memberikan gejala/keluhan nyeri atau menyebabkan anak/bayi rewel dan menangis c. Tujuan terapi : Untuk pembedahan herniotomi secara berencana dengan persiapan b. Pemeriksaan laboratorium : darah rutin 6. DIAGNOSIS BANDING : 1. Pemeriksaan Klinis : 1. HERNIA INGUINALIS LATERALIS UNILATERAL 1. Terdapat riwayat adanya benjolan yang timbul hilang didaerah inguinal b. KONSULTASI : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk tindakan pembedahan : a. Anamnesis : a. Limfadenofati inguinal 3. Untuk pasien neonatus dan bayi usia < 1 tahun perlu rawat inap pra dan pascabedah b. Pemeriksaan fisik : a. NOMOR ICD : K. Pada Neonatus : herniotomi dengan tehnik Michael Banks tanpa membuka fascia muskulus obliqus abdominalis 127 . Abses inguinal 5.40.9 2. Pemeriksaan fisik umum: Kondisi pasien baik b.I. Pemeriksaan radiologi torak b. Dokter Spesialis Anak untuk toleransi operasi b. unilateral 3. KRITERIA DIAGNOSIS : I.

Hernia Inguinalis Lateralis pada neonatus : RS. PROGNOSIS : Baik 17. dengan tehnik membuka fascia muskulus obliqus abdominalis d. PENYULIT : a. Residif 11. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Hematome luka operasi b. Perawat senior 13. Dokter Umum d. Pada bayi dan anak-anak : dikerjakan herniotomi dengan tehnik Pott’s. TEMPAT PELAYANAN : a. Hernia Inguinalis Lateralis pada bayi dan anak-anak : RS kelas C 10. OTOPSI : Tidak diperlukan 16. Dokter Spesialis Bedah Umum dan Chief Residen Ilmu Bedah Umum untuk hernia inguinalis lateralis reponibilis pada anak-anak 9. Dokter Spesialis Bedah Anak b. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Dokter Spesialis Bedah c. Hematom : dilakukan evakuasi b. Paskabedah : penilaian penyembuhan luka dan kekambuhan 2. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : 1. Kelas B b. HASIL : Tidak terjadi kekambuhan hernia inguinalis 14.2. TINDAK LANJUT : Setelah pasien pulang dari rumah sakit dilakukan evaluasi : 1. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. MASA PEMULIHAN : Perawatan luka operasi dapat dilakukan oleh : a. Terapi komplikasi pengobatan : a. Jangka panjang : Kekambuhan dan munculnya hernia sisi lain 128 . Residif hernia : dilakukan pembedahan ulang f. Dokter Spesialis Bedah Anak untuk operasi Hernia Inguinalis Lateralis reponibilis pada neonatus dan bayi usia kurang dari 1 tahun 2.

2. KRITERIA DIAGNOSIS : Pemeriksaan Klinis : Anamnesis : 1. DIAGNOSIS : Obstruksi saluran pencernaan pada neonatus 3. 3. sepsis sampai peritonitis Pemeriksaan penunjang : 1.II. Obstruksi usus distal akan memperlihatkan gambaran distensi usus halus maupun kolon secara segmental atau keseluruhan. Muntah dan distensi abdomen merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada semua jenis obstruksi intestinalis.6 2. b. 2. artinya obstruksi daerah yeyunum atau illeum. syok hipovolumik. Gejala muntah pada neonatus harus dianggap sebagai manifestasi obstruksi intestinalis sampai dapat dibuktikan secara klinis dan penunjang diagnosis tidak ditemukan.Gangguan evakuasi mekonium dalam kwalitas dan kwantitas dapat merupakan gejala obstruksi intestinalis pada neonatus. Terlihat distensi abdomen yang massive pada obtruksi intestinal distal sedangkan pada obstruksi intestinal tinggi distensi hanya terlihat didaerah epigastrium dan biasanya hilang setelah dipasang pipa lambung. NOMOR ICD : K. Elektrolit darah c. Laboratorium : a. Pemeriksaan Fisik : 1. Jika terlihat satu gambaran gelembung udara ( single bubble ) berarti ada sumbatan didaerah pilorus. Jika terlihat dua gambaran gelembung udara ( double bubble ) berarti ada sumbatan didaerah duodenum. Muntah hijau menunjukkan lokasi obstruksi dibawah muara ampulla vater sebagai manifestasi peningkatan empedu yang keluar. Jika pada usus bagian distalnya terlihat gambaran udara itu berarti obstruksinya perineal.56. Jika gambaran gelembung udara terlihat kecil-kecil dengan jumlah 3 gelembung atau lebih. OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN PADA NEONATUS 1. b. d. 2. Muntah tidak berwarna tidak berwarna hijau namun jumlahnya lebih dari 25 cc menunjukkan sumbatan / obstruksi pada pintu kaluar lambung ( gastric outlet obstruction ). Pada kasus obstruksi intestinal lanjut dapat ditemukan gejala dehidrasi. Radiologi : a. Analisa gas darah 129 . c. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilihat kaliber kolon mulai dari bagian distal sampai proksimal tempat obstruksi kolon dan melihat posisi sekum pada kasus malrotasi. Pada obtruksi intestinalis segmen tengah dari saluran pencernaan umumnya mekonium dapat keluar namun jumlahnya sedikit. Darah rutin b.Foto polos abdomen posisi tegak merupakan penunjang diagnosis paling bermanfaat : a.

Dengan komplikasi di rawat di Ruang Perawatn Intensif 130 . Laboratorium 6. Radiologi b. TEMPAT PELAYANAN : a. PENGOBATAN : a. Tujuan terapi : Mengatasi obstruksi saluran pencernaan b. duodenum. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Waktu pengobatan : Segera setelah dignosis ditegakkan e. Cara pengobatan : 1) Intestinal dekompresi pada obstruksi non mekanis 2) Laparotomi eksplorasi untuk mengatasi obstruksi mekanis c. KONSULTASI : Tidak diperlukan untuk diagnosis Konsultasi sebelum pembedahan : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perforasi dan peritonitis dilakukan laparotomi eksplorasi 2) Sepsis dilakukan perawatan intensif f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dokter Spessialis Bedah jika tanpa komplikasi 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk penatalaksanaan awal 9. Penyakit Hirshsprung’s 3. RS. Mekonium ileus 5. MASA PEMULIHAN : a. kolon dan rektum. PENYULIT : Sepsis 11. Kelas B untuk pelayanan pembedahan b. Tanpa komplikasi dapat di rawat di ruang biasa b.4. Small left colon syndrome 5. 2. Dokter Spesialis Anak : untuk toleransi pembedahan b. Dokter Spesialis Anastesi : untuk toleransi pembiusan 7. Atresia intestinalis : Gastric outlet. RS. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Kelas B 8. jejunoileal. Kelas C untuk penatalaksanaan awal 10. anorektum. Mekonium Plug Syndrome 4. DIAGNOSIS BANDING : 1. Macam pengobatan : Tergantung jenis penyebab obstruksi saluran pencernaan d.

PATOLOGI : Diperlukan 15. HASIL : Tergantung kondisi awal saat pasien datang 14.13. OTOPSI : Diperlukan 16. TINDAK LANJUT : Setelah pasien di pulangkan pasien kontrol untuk evaluasi pascabedah dan pasca perawatan 131 . PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17.

1 2. pada prolaps karena intussusepsi teraba ada celah diantara bagian usus yang prolaps dengan mukosa anorektum 5. Muntah ditemukan pada 90% bayi dengan intussusepsi dan kadangkala juga terlihat dehidrasi 7.III. Pada perabaan dinding abdomen yang masih lembut umumnya dapat diraba massa berbentuk sosis pada kwadran kanan atas dan ditemukan pada hampir sebagian besar pasien intussusepsi yang datang lebih awal 3. Sedangkan intussusepsi dengan lead point dapat terjadi pada semua usia.000 mm3) dan pergeseran sel ke kiri(shift to the left). Kondisi pasien secara umum lebih memburuk. 132 . wajahnya pucat seperti dalam keadaan sakit berat dan keadaan ini dapat berlangsung sekitar 20 detik selanjutnya bayi terlihat normal kembali. laboratorium 6. Serangan dan gambaran seperti ini dapat terulang lagi dengan interval waktu 1 sampai 2 jam 6. Nyeri sistemik intermitten merupakan gejala paling sering menyebabkan bayi dibawa ke dokter 5. Pemeriksaan rectum kadang-kadang dapat diraba pseudoportio dari ujung distal intussuseptum dan pada sarung tangan terdapat darah dan atau lendir 4. Dengan pemeriksaan rektum dapat dibrdakan. NOMOR ICD : K. Umumnya tanpa keluhan nyeri. Pemeriksaan Penunjang Medis : Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium akan didapatkan gambaran leukositosis (>20. DIAGNOSIS : Intussusepsi 3. Keluhan defekasi berdarah yang khas “ Current jelly stool” didapatkan pada 50% kasus intussusepsi Pemeriksaan fisik : 1. Intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan secara klinis dengan obstruksi usus mekanis oleh penyebab lainnya sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang medis seperti radiologi. Intussusepsi pasca bedah abdomen dan toraks umumnya terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5 setelah pembedahan. demikian juga pada intussusepsi pascabedah umumnya terjadi setelah 2-5 hari kemudian dengan meningkatnya produksi NGT disertai dengan memburuknya kedaan pasien tanpa penyebab yang jelas. yang terlihat adanya peningkatan produksi cairan lambung yang berwarna seperti empedu. INTUSSUSEPSI 1. terdapat riwayat gastroenteritis dan atau infeksi saluran nafas sebelumnya 4. Dapat terlihat pada saat serangan bayi menangis sambil kakinya ditarik. Gejala intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan dengan gejala obstruksi intestinalis lain. Intussusepsi idiopatis merupakan kelainan paling sering ditemukan pada bayi usia 6-8 bulan (sekitar 50-85% kasus). Intussusepsi khas didapatkan pada bayi sehat dengan gizi baik. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. Distensi abdomen kadangkala terlihat pada kasus intussusepsi lanjut atau telah terdapat komplikasi seperti perforasi usus 2. 2. 3.56. Intussusepsi lanjut dapat juga terlihat prolaps intussuseptum melalui anus sehingga seringkali sulit dibedakan dengan prolaps mukosa rektum.

Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilakukan pada kasus tanpa komplikasi atau gejala klinis belum jelas. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Harus dirawat di RS Kelas B atau RS. 2. Untuk diagnosis dan terapi non operatif konsultasi Dokter Spesialis Radiologi b. laju endap darah. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : a. KONSULTASI : a. DIAGNOSIS BANDING : a. bila tanpa kontraindikasi 2) Reduksi manual dengan operasi d. Untuk pembedahan konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. udara 2) dengan operasi : laparotomi eksplorasi c. Laboratorium: hemoglobin darah. Divertikulitis c. Spesialis Bedah Anak 133 . Sepsis : dengan laparotomi eksplorasi dan perawatan intensif f. Spesialis Bedah b. Enteritis hemorrhagika d. analisa gas darah 6. leukosit darah. Macam pengobatan : 1) Reduksi intussusepsi tanpa operasi.Radiologi : 1. Radiologi. Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen posisi AP tegak dianjurkan jika gejala klinis belum mendukung karena fase awal akan terlihat gambaran distribusi udara dalam usus lebih banyak pada sisi kiri abdomen sedangkan gambaran udara usus sisi abdomen kanan menghilang. foto torak b. PENGOBATAN : a. Dengan enema barium akan terlihat lokasi intussusepsi terutama jika terdapat ileosekokolokolikal intussusepsi sedangkan intussusepsi ileoileal sulit ditegakkan diagnosis dengan cara ini. Fissura anus 5. Kelas C 8. Perforasi : dengan laparotomi eksplorasi b. Obstruksi saluran pencernaan b. Terapi komplikasi pengobatan : a. Tujuan terapi : 1) melakukan reduksi segmen usus yang mengalami intussusepsi 2) mengatasi komplikasi b. Gambaran kontras akan memperlihatkan adanya “cupping” seperti gambaran huruf “U” terbalik didaerah intussusepsi dan intussuseptum dari kolon. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk persiapan pembedahan : a. Cara pengobatan : 1) tanpa operasi. reduksi dengan tekanan hidrostatis : enema barium.

RS.9. TEMPAT PELAYANAN : a. Dengan reseksi usus halus dan atau usus besar. Pascabedah reduksi manual tanpa komplikasi rawat inap 5 – 7 hari dilakukan oleh : 1) Dirawat Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dirawat Dokter Spesialis Bedah 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 4) Perawat Senior c. TINDAK LANJUT : Pasien harus dilakukan evaluasi setelah pulang dari rumah sakit untuk follow up 134 . OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa penyebab yang jelas 16. RS. Perawat senior 13. PROGNOSIS : 1) Baik jika tanpa komplikasi 2) Jelek jika terdapat komplikasi 17. Dokter Spesialis Bedah Anak ii. rawat inap 7 – 10 hari dilakukan oleh i. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. diperlukan rawat inap untuk observasi selama 2-3 hari dirawat oleh : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah b. Dokter Spesialis Bedah iii. Pascabedah : 1) Infeksi pascabedah 2) Sepsis 3) Ileus berkepanjangan 11. Kelas B: intussusepsi dengan komplikasi b. PENYULIT : a. Prabedah : 1)Perforasi 2)Sepsis b. PATOLOGI : Jika ditemukan leadpoint diperiksakan patologi anatomi 15. Reduksi non operatif. Kelas C : intussusepsi tanpa komplikasi 10. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah iv. MASA PEMULIHAN : a. HASIL : Pasien pulang dengan kondisi baik dalam fungsi usus dan defekasi 14.

ANUS IMPERFORASI : 1. DIAGNOSIS : Anus Imperforasi 3. posisi prone 4.3 2. Gejala obstruksi intestinalis rendah seperti abdomen kembung. Radiologi : Foto Cross table abdominal foto. Bayi usia lebih dari 24 jam secara klinis akan memperlihatkan gambaran obstruksi intestinalis rendah 3. Pada pemeriksan fisik daerah perineum. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan penunjang prabedah : i. Laboratorium : pemeriksaan urine lengkap 2. Tidak mempunyai lubang anus pada bayi baru lahir sehingga tidak terdapat evakuasi mekonium. NOMOR ICD : Q. Radiologi : 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Perlu rawat inap 135 . Distal colostogram 3. Laboratorium : 1) Hemoglobin darah 2) Laju endap darah 3) Leukosit darah 4) Faal hemostasis 5) Albumin darah dan total protein ii. KONSULTASI : a. vestibulun vagina sehingga mekonium tampak keluar melalui tempat tersebut. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengetahui kelainan congenital lain yang menyertai anus imperforasi Pemeriksaan penunjang : 1. Foto toraks 2. 3. Terdapat keluhan mekonium keluar bersama-sama saat pasien kencing atau keluar didaerah perineum dan atau vagina karena adanya fistula. anus tidak ditemukan pada tempat yang seharusnya. Foto tulang belakang 6. muntah hijau Pemeriksaan fisik : 1.IV. Untuk diagnosis tidak diperlukan konsultasi b. 2. sering ditemukan fistule rektum ke perineum. 2. 42. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. DIAGNOSIS BANDING : Tidak diperlukan 5. Untuk pembedahan konsultasi : 1) Dokter Spesialis Anak 2) Dokter Spesialis Anestesi 7.

Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk kolostomi 2) Dokter Spesialis Bedah Anak untuk Anoplasti 9. Perdarahan tempat operasi b Retraksi anus c. Inkontinensi anus 11. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan pada saat kolostomi atau anoplasti dilakukan reoperasi 2) Retraksi anus atau kolostomi dilakukan reparasi ulang 3) Prolaps anus atau kolostomi dilakuakn reparasi 4) Skinrash karena iritasi kulit diberikan local proteksi dengan zinksalf f. Macam pengobatan : 1) Pembuatan kolostomi terpisah (divided colostomy) jika diperlukan 2) Pembuatan anus dengan tehnik Postero sagittal anorectoplasy (PSA) d. PENYULIT : a. TEMPAT PELAYANAN : a. Prolaps anus d. berat badan. Tujuan terapi : 1) Terapi awal untuk pengalihan sementara saluran pembuangan melalui kolostomi jika diperlukan 2) Terapi definitive untuk pembuatan lubang anus dengan tehnik anoplasti b. Perawat Senior 2) Pascabedah Anoplasti dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Anak. MASA PEMULIHAN : 1) Pascabedah kolostomi dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS. dan hemoglobin pasien memenuhi syarat untuk pembedahan definitive berencana e. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan. HASIL : Diharapkan pasien dapat defekasi kontinens. RS.8. dilakukan kolostomi atau anoplasti 2) Setelah usia. PENGOBATAN : a. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa sebab yang jelas 136 . RS Kelas C untuk kolostomi 10. Kelas B untuk Anoplasti b. Dokter Spesialis Bedah. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. tanpa komplikasi pascabedah 14. Cara pengobatan : 1) Pengobatan sementara dengan kolostomi 2) Pengobatan definitive dengan anoplasti c.

16. PROGNOSIS : Baik jika pengelolaan awal dan lanjut sesuai prosedur 17. TINDAK LANJUT : 1)Setelah pasien pulang dilanjutkan dengan businasi dan dilatasi anus sampai kaliber sesuai usia pasien dilakukan kontrol dan evaluasi secara rawat jalan 2) Penutupan kolostomi dilanjutkan dengan dilatasi dan businasi anus sampai kaliber sesuai dengan usia dengan frekwensi sesuai skedul 3) Toilet training sampai pasien defekasi kontinens melalui evaluasi sesuai sistim skoringnya 137 .

1 2. PENYAKIT HIRSCHSPRUNG’S 1. Distensi abdomen d. Dehidrasi sampai syok 2. Konstipasi sebagai gejala pokok 2. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : Pada bayi baru lahir dan usia beberapa minggu : 1. Muntah hijau d.Gambaran obstruksi usus akut / khronis . Tanda dan gejala sepsis dan septik syok Pemeriksaan penunjang : A. Konstipasi khronis : a.Udara tidak mencapai cavum pelvis 138 . Diare berulang 3. Distensi abdomen 2. Terdapat tanda-tanda obstruksi Intestinalis akut: a. Evakuasi mekonium terlambat lebih dari 24 jam b. Perut kembung c. DIAGNOSIS : Penyakit Hirschprung’s 3.Foto polos abdomen 3 posisi anterior-posterior (AP). Perut kembung c. Gangguan defekasi berlanjut. Tanda dan gejala enterokolitis akut 4. konstipasi e.Radiologi : 1. Foto polos abdomen : gambaran obstruksi usus rendah . NOMOR ICD : Q. Malnutrisi 5.43. Terdapat obstruksi intestinalis parsial berulang b. lateral dan tengkurap akan memperlihatkan : . Muntah-muntah c. Diare khronis atau akut b. Fekaloma Pemeriksaan fisik : 1. Perut buncit 3. Sepsis Pada anak lebih besar : 1.V. Enterokolitis akut atau khronis : a. Demam e. Tanda dan gejala dehidrasi 3. Tidak bisa mengedan 4.

Biopsi daerah anorektum untuk pemeriksaan patologi anatomi diperlukan jika diagnosis klinis dan penunjang radiologi belum memberikan diagnosis definitif 4. Tumor anorektum d. Laboratorium untuk diagnosis tidak diperlukan C.3.Gambaran daerah rektum yang menyempit. Mekonium plug syndrome b. Hipotiroid 2. Konstipasi oleh karena berbagai penyebab seperti : hipotiroid. a. Stenosis anus c. Bayi baru lahir dan usia beberapa minggu . Tujuan terapi : Membuat fungsi defekasi pasien kembali mendekati normal b. DIAGNOSIS BANDING : 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8.Gambaran lipatan mukosa kolon ( transversal fold ) B. Biopsi rectum b. Cara pengobatan : 1) Tindakan awal dikerjakan kolostomi untuk diversi feses sementara 2) Tindakan definitive tarik terobos retrorektal prosedur Duhamel modifikasi dengan stapler 139 . Untuk Tindakan dan perawatan : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Anak 2) Konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Enterokolitis netrotikans e. Untuk diagnosis : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi 2) Konsultasi Dokter Spesialis Patologi Anatomi b. Anak lebih besar . Anterior anus 5. Foto dengan kontras : Enema barium memperlihatkan : . Manometri rectum 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Dilakukan jika diagnosis klinis dan radiologi belum memberikan kepastian diagnosis : a. Prematuritas d. Fisura anus f. Stenosis anus c. . Fissura anus e. PENGOBATAN : a. a. retardasi mental b. daerah proksimal yang dilatasi dibatasi daerah transisi. KONSULTASI : a.

PENYULIT : a. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. kolostomi dan perawatan awal 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan. Kelas B untuk tindakan defnitif b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. dilakukan reoperasi untuk menghentikan perdarahan 2) Enterokolitis. OTOPSI : Diperlukan pada kematian pasien Penyakit Hirschsprung’s yang tidak disebabkan langsung oleh tindakan maupun komplikasi dalam pengelolaannya 140 . Perawat senior 13. berat badan. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Spesialis Bedah Anak. untuk perawatan awal dan kolostomi 9. Macam pengobatan : 1) Kolostomi sigmoid jika memungkinkan 2) Leveling kolostomi pada kasus yang tidak tegas segmen kolon yang aganglioner 3) Laparotomi pada Penyakit Hirschsprung’s neonatus dengan gejala obstruksi total 4) Prosedur Duhamel setelah memenuhi syarat dalam usia. Dokter Spesialis Bedah c. Kelas C untuk tindakan dan perawatan awal 10.tindakan kolostomi dan terapi definitive 2) Spesialis Bedah untuk diagnosis. Untuk diagnosis b. RS. MASA PEMULIHAN : Dilakukan perawatan pascabedah oleh : a. Inkontinensi alvi 11. Menentukan demarkasi usus yang aganglioner dan yang berganglion 15. dengan regulasi defekasi melalui pengaturan diet dan obat pencahar f. Enterokolitis b. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan dilakukan kolostomi 2) Setelah persyaratan operasi definitive terpenuhi dilakukan Prosedur Duhamel e. pemberian antibiotika dan kolonrektal washing 3) Gangguan defekasi. Obstivasi khronis c.c. untuk diagnosis. TEMPAT PELAYANAN : a. laboratorium dan toleransi operasi d. HASIL : Pasien dapat defekasi spontan dan kontinen 14. fisik. PATOLOGI : Diperlukan untuk : a. RS.

jika pengelolaan sesuai dengan prosedur. dan pasien datang pada saat belum terdapat komplikasi 17. TINDAK LANJUT : Pasien kontrol rawat jalan untuk follow-up fungsi defekasi. adanya penyulit dan perlunya tindakan revisi pembedahan 141 . PROGNOSIS : Baik.16.

NOMOR ICD : K. pipi kemerahan. kadang-kadang anak lebih besar terdapat gejala anoreksia sehingga semakin menyulitkan diagnosis.9 2. 8. APPENDISITIS AKUT 1. 5. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium : 1.VI. sedangkan jika hasil pemeriksaan leukosit mencapai 20.Tanda-tanda “rebound tenderness rigiditas” dinding abdomen muncul jika telah terjadi perforasi apendiks.000 mm3) dengan pergeseran sel kekiri namun demikian hasil pemeriksaan leukosit normal dapat ditemukan pada anak dengan apendisitis.Pemeriksaan rectum dilakukan jika penemuan gejala seperti diatas masih belum dapat membantu diagnosis apendisitis. 7.000 mm3 dengan gejala klinis minimal untuk apendisitis kemungkinan disebabkan keadaan lain.000-15. Urinalisis Perlu diperiksa jika terdapat gejala klinis yang sulit dibedakan dengan infeksi saluran kencing.Agak sulit berjalan dan tungkai kanan terlihat fleksi pada saat tiduran 3.Nyeri perut daerah periumbilikus 2.Mual dan muntah terjadi setelah timbul gejala nyeri perut. kadangkala dapat diraba adanya massa atau pembentukan abses.Pada pemeriksaan abdomen. seringkali sulit dibedakan dengan gejala gastroenteritis.Selanjutnya nyeri perut berpindah kedaerah kwadran kanan bawah abdomen (daerah Mc Burney) 3. Darah Umumnya ditemukan leukositosis (11. Wajah nampak pucat. anak mengalami demam dengan suhu axilla diatas 38 derajat celcius 2.Obturator dan psoas sign sebagai petunjuk lain terdapat proses keradangan didaerah posterior lokasi apendiks namun jarang ditemukan pada anak-anak. ditemukan pada 10% kasus dapat 142 . DIAGNOSIS : Appendisitis Akut 3. bibir terlihat kering. Umumnya hasil pemeriksaan urine normal pada apendisitis pada beberapa kasus apendisitis dapat ditemukan sel darah merah dan atau sel darah putih pada sidemen urine Pemeriksaan radiology atau ultrasound : Untuk gejala apendisitis tertentu membutuhkan pemeriksaan radiology dan atau ultrasound ( USG ) seperti : 1. 2. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. jika abses terlokalisir dalam rongga peritoneum teraba massa dengan palpasi bimanual dari dinding abdomen dan pemeriksaan rectum.Pemeriksaan palpasi abdomen ditemukan titik nyeri daerah “Mc Burney’s 4. pada pemeriksaan ini akan ditemukan tenderness kearah kanan dinding rectum. abdomen distensi dan tegang. 6.35.Tanda peritonitis umum yang lebih menonjol pada pemeriksaan abdomen terdapat nyeri perut yang menyeluruh dan seluruh dinding abdomen mengalami rigiditas. Foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran mass effect akibat hilangnya gambaran gas di daerah abdomen kanan bawah. Pemeriksaan fisik : 1.

PENGOBATAN : a. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. Beberapa kasus lain seperti infeksi saluran kencing dan infeksi Mackle’s divertikulum. 5. 3. DIAGNOSIS BANDING : a. Cara pengobatan : Melalui tindakan pembedahan. c. Enema barium perlu dikerjakan pada anak dengan nyeri perut berulang tanpa gejala penyerta yang jelas. b. Konstipasi : Massa feses yang teraba pada pemeriksaan palpasi abdomen dan pemeriksaan rectum dapat membedakannya dengan apendisitis. Penyakit radang panggul : terutama anak dan wanita dapat menyerupai gejala apendisitis. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan dan pasien memenuhi sayarat untuk pembedahan 143 . Tanda-tanda apendisitis akut akan terlihat gambaran barium yang menunjukkan penyempitan lumen apendiks dan tiba-tiba terhenti (cut off) akibat adanya obstruksi. regional enteritis. faal hemostasis 2) Urine : sedimen urin b. Ultrasound/USG dapat terlihat ukuran apendiks lebih besar dari normal disertai gambaran abses periapendikuler atau tumpukan abses di daerah rongga pelvis. Gastroenteritis : Gejala muntah dan diare mendahului gejala sakit perut pada umumnya tidak ditemukan nyeri perut terlokalisir di daerah abdomen bagian bawah. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Prabedah : a. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan rutin pada anak dengan gejala klinis minimal atau anak yang gemuk. Radiologi : 1) Foto toraks 2) Sonografi appendiks vermiformis 3) Apendikograpi jika diperlukan 6. Apendiktomi retrograde d.terlihat gambaran fekolit (feses yang mengeras sebagai penyebab sumbatan obstruksi lumen apendiks) 2. kolesistis kadangkala gejala klinis menyerupai apendisitis. sickle cell crisis. Untuk diagnosis : konsultasi Dokter Spesialis Anak b. namun dapat dibedakan dari proses nyeri perut yang tidak didahului oleh nyeri perut klasik didaerah umbilicus. intususepsi. pnemonia paru kanan lobus bawah. KONSULTASI : a. 4. apendiktomi c. d. Tujuan terapi : Menganggkat apendiks vermiformis b. Apendiktomi anterograde b. Macam pengobatan : a. Untuk pembedahan: konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Laboratorium : 1) Darah rutin : Leukosit darah dan Laju endap darah (LED).

Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 9. Terapi komplikasi pengobatan : a. OTOPSI : Diperlukan jika kematian pasien tidak jelas penyebabnya 16. Abses peri apendikulare d. HASIL : Pascabedah pasien pulih baik 14. Infeksi luka operasi c. Dokter Spesialis Bedah c. dengan relaparotomi f. Perawat senior 13. TINDAK LANJUT : Pasien rawat jalan untuk kontrol dan follow-up pascabedah 144 . Spesialis Bedah Anak b. Dokter Spesialias Bedah Anak b. PENYULIT : a. RS kelas C bila tanpa komplikasi 10. Perforasi appendicitis akut b. dengan perawatan luka c. Infeksi luka operasi. Spesialis Bedah c. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dapat dilakukan oleh : a. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. TEMPAT PELAYANAN : a. RS. Kelas B bila terdapat komplikasi b. dilakukan reoperasi b. Sepsis prabedah dan pascabedah 11. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17.e. Abses intraperitoneal. PATOLOGI : Diperlukan untuk konfirmasi 15. Perdarahan.

KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Untuk diagnosis tidak dibutuhkan pemeriksaan penunjang b. Cara pengobatan : Pasien dilakukan pembedahan dengan persiapan minimal untuk penutupan defek dinding abdomen dan pascabedah mendapat perawatan intensif dengan alat bantu pernafasan c. Untuk tindakan pembedahan dibutuhkan pemeriksaan penunjang : 1)Radiologi : foto torak dan abdomen 2)Laboratorium: Hb.79. OMPHALOCELE PECAH DAN GASTROSCHISIS 1. Penutupan sekunder dengan alat bantu seperti mesh 3. Pembedahan definitif.3 2. Waktu pengobatan : 1. Keadaan umum bayi buruk b. Penutupan primer dinding abomen 2. Untuk diagnosis tidak diperlukan b. Terlihat dinding abdomen mengalami kelain 4. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan perawatan di rumah sakit prabedah maupun pascabedah 8.silastik. KONSULTASI : a.79.Faal hemostasis. DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada 5. Dinding abdomen dan tali pusar yang tidak normal Pemeriksaan fisik : a. Riwayat kehamilan dan persalinan dengan distocia b. DIAGNOSIS : Omphaloce pecah dan Gastroschisis 3. Macam pengobatan : 1. Untuk tindakan pembedahan konsultasi: Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anestesi 7. setelah usia.VII. Pembedahan primer dan sekunder dilakukan sebelum usia bayi 12 jam 2. Tujuan terapi : Untuk mengembalikan organ rongga abdomen yang berada diluar.2 dan Q. sekaligus menutup dinding abdomen langsung maupun ditutup sementara dengan alat (mesh. NOMOR ICD :Q.beratbadan dan kondisi pasien memenuhi syarat untuk pembedahan berencana 145 .kasa steril dll) b. Penutupan definitif d. Analisa gas darah 6. PENGOBATAN : a.

Kelas B 10. Kelainan bawaan pada organ lainnya yang terjadi bersamaan h. TINDAK LANJUT : Pasca perawatan di rumah sakit pasien rawat jalan untuk evaluasi dan follow-up perlunya tindakan lebih lanjut 146 . Distress pernafasan pascabedah i. HASIL : Pasien bisa survive. Distres pernafasan dengan alat bantu pernafasan b. Spesialis Bedah Anak b. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dilakukan oleh : c. Gangguan pasase usus dengan relaparotomi dan intestinal dekompresi f. OTOPSI : Diperlukan pemeriksaan otopsi jika pasien meninggal untuk menentukan causa mortis 16. Intensifis di Ruang Perawatan Intensif d. TEMPAT PELAYANAN : RS.e. Syok hipovolumik k. PENYULIT : g. Spesialis Bedah c. Dokter Spesialis Bedah Anak e. PROGNOSIS : Du-Boab ad malam 17. Sepsis j. Terapi komplikasi pengobatan : a. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. Gangguan pasase usus 11. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Dokter Spesialis Bedah f. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk perawatan awal 9. pasase usus berfungsi baik 14.

Kepustakaan : 1. Inc.D. St Louis. Pediatric Surgery Keith W. Eric W.: Jay L.D. Fondkallsrud.MD.D. Mosby-Year Book.M..D. Arnold G.D. Coran. Saunders Company Philadelphia. Misouri Copyright 1995 147 .Grosfeld. M.B.Rowe.. Second Edition. James A.Holder. Essential of Pediatric Surgery Mare I.O’Neil Jr. Aschraft. Copyright 2000 2.M.M..Thomas M. W.M..M.D..

Analgetik . .Penurunan kesadaran. 5. Patah tulang (Interne. nyeri kepala.Cairan infus selama penderita minumnya tidak adekuat. Perawatan RS : . .Sefal hematoma diameter >5cm.Vulnus apertum dikepala panjang > 5cm .Keluhan bertambah berat. muntah.Derajat kesadaran.Simtomatis .Keluhan : .Intra cerebral hematum 10.Lateralisasi.I. Informed Consent : Tidak perlu. Terapi : . Tempat Pelayanan : . Penyulit : . Kriteria Diagnosis : .Neurologi .Foto polos kepala AP & lateral : Penderita CKR dengan : . . 148 .Perdarahan Intra kranial .Lateralisasi 7. nyeri kepala.Anti Emetik . Konsultasi : . .Anti Vertigo .CVA hemoragik dan non hemoragik. Diagnosis Banding : . 8. kecuali ada penyulit dan perlu operasi (tertulis). mesti dengan pemberian obat-obatan.Orthopedi) 6. .Cidera kepala ringan (CKR) / Commotio Cerebri .Subdural hematum . .Epidural hematum .Riwayat cidera kepala. . mual muntah.dengan obat-obatan → indikasi CT-Scan kepala. Cedera kepala 1.Kalau ada kelainan: Hipertensi. DM. Pemeriksaan Penunjang : . . . 4.mual.Kardio.Vertigo.Gelisah.GCS< 15 . gelisah bila memberat walaupun . Nama Penyakit/Diagnosis/ICD : .IRD kemudian untuk observasi di IRD lantai 2 atau Instansi Rawat Inap 9.Observasi terhadap penyulit yang timbul yaitu: .GCS 3.Pernah tidak sadar/saat ini tidak sadar.CT-Scan kepala : Penderita CKR dengan : .ICD 850 2.

Output : .Ahli Bedah Umum . 1996. Journal of Trauma 1994 .Residen bedah umum . Willberger JE.Ahli Bedah Saraf 12. McGraw. Journal of Trauma 1993 .hill. Marshall LF. American college of Surgeon ATLS . 2. PA : .Pulang dengan sembuh total. 4. Masa Pemulihan : .Bila ada penyulit: .Residen senior bedah . results of a national survey. American Association of Neurological Surgeons: Guidelines for the Management of Severe Head Injury. 15. Head trauma : Chicago Six edition 1997.Tidak perlu 16. 36 (1) : 89-95. New York.Penyulit 5-7 hari 13. Narayan RK. Lama Perawatan : .1-2 minggu 14.Bila tidak ada penyulit : . Klauber MR. Otopsi/Risalah : . Marion DW.11. 149 .Tanpa penyulit 2-5 hari . Carlier PM : Problems with initial Glasgow Coma Scale assessment caused by prehospital treatment of patients with head injuries .Dokter umum/Residen . 1995. Kepustakaan: 1. 3. 5.Penderita CKR meninggal tanpa kausa yang jelas. Standar Tenaga : . Povlishock JT (eds) : Neurotrauma. Chestnut RM. 34 : 216-222. et al : The role of secondary brain injury in determining outcome from severe head injury.Perawat yang terlatih .

kebocoran cairan serebrospinal 10. Nama penyakit / diagnosis: .Ya 11. Penyulit: .ICD 5.IBS 9. Lama perawatan: . Tempat pelayanan : . Meningoensefalokel 1.Benjolan pada pangkal hidung.. Kriteria Diagnosis: .Spesialis Bedah Saraf 12. Forth edition . Julian R. United state of America 1996.Foto Ro : Kepala atau Lumbosakral.infeksi. Perawatan RS: .Bedah Plastik (pada penderita dewasa) 6. 150 . Youmans. teratoma. Informed Consent (tertulis): .tengkuk atau pinggang bawah sejak lahir.3 hari Kepustakaan: 1. Terapi: .Eksisi meningoensefalokel & duraplasti 8. WB Saunder Company. nyeri tekan 3.Rawat inap 7.MENINGOENSEFALOKEL . lipoma 4.MRI 5.021 2. . Tenaga standar: .II. Neurological Surgery.Kista Dermoid.Neurologi . CT Scan . Konsultasi : . Diagnosis Banding : . Pemeriksaan Penunjang : .

3. Tumor otak 151 . Penyulit: . Perawatan RS: . Forth edition . psikomotor terhambat. Diagnosis Banding: .III. Youmans. Informed Consent (tertulis): .V-P shunt 8. Kriteria Diagnosis: . Tenaga standar: . vasa kepala prominen. WB Saunder Company. IV. Pemeriksaan Penunjang: .Ya 11. Julian R. Nama penyakit / diagnosis: .Makrosefal 4. Lama perawatan: . CT Scan 5. Tempat pelayanan : .7 Hari Kepustakaan: 1.IBS 9. Hidrosefalus 1. sejak lahir.Ro Kepala.Rawat inap 7.HIDROSEFALUS INFANTIL . Neurological Surgery.023 2. Konsultasi : . United state of America 1996. Sun set phenomena.Neurology 6.hematoma intracranial 10.ICD 5..Spesialis Bedah Saraf 12.Kepala besar. Terapi: .

029 2. Informed Consent (tertulis): .Spesialis Bedah Saraf 12. Tenaga standar: . P.Ro Kepala. The Practice of Neurosurgery.1. Pemeriksaan Penunjang: . tuberkuloma 4. tension headache.Ya 11. Masa pemulihan: . Youmans.Migrain.. SDH kronik. edema serebri. MRI 5.Rawat Inap 7. Diagnosis Banding: . 3. WB Saunder Company.IBS 9. 152 . George T. Ohta Tomio .TUMOR OTAK . Neurological Surgery. defisit Neurologi fokal ( TIK meningkat kronis Progresif) 3. Julian R.: . William and Wuilkins co. Japan 1995.Trepanasi + reseksi tumor 8. Kinpodo Publising Company. Tindall. Kriteria Diagnosis : .3 bulan 14. United state of America 1996.Nyeri kepala.A. Abses. Tempat pelayanan : . CT Scan. United state of America 1996. Nama penyakit / diagnosis: .: Illustrated Neurosurgery. Konsultasi : .Ya Kepustakaan: 1. Forth edition . infeksi 10. penglihatan kabur. Perawatan RS: .10 hari 13. Terapi: . Penyulit: . 2. muntah.ICD 5.Perdarahan.Neurologi 6. Lama perawatan: .

Terapi: . tes laseque positif 3. Julian R. Konsultasi : . Youmans. Nama penyakit / diagnosis: . Pemeriksaan Penunjang: . Lama perawatan: . 2. Japan 1995. Ohta Tomio .803 2.7 hari Kepustakaan: 1. Perawatan RS: . HNP 1.HNP (Hernia Nukleus Pulposus) ICD 5. Tindall. Cedera saraf dan medula Spinalis 10. fisioth/. 153 . Tenaga standar: .Neurologi 6. 3.Nyeri salah satu tungkai yang menjalar dari pinggang kepaha dan betis.MRI 5.Konservatif 2 minggu : bed rest. Kinpodo Publising Company. Kriteria Diagnosis: . Penyulit: . George T.Spesialis Bedah Saraf 12. WB Saunder Company. analgesik 2.IBS 9. Forth edition .: Illustrated Neurosurgery.Tumor Kauda Equina 4. Bila 1) gagal (laminektomi + eksisi HNP) 8.Kaudografi . United state of America 1996. Neurological Surgery.Ya 11. United state of America 1996.V. Informed Consent (tertulis): . Tempat pelayanan: .Rawat inap 7. William and Wuilkins co. The Practice of Neurosurgery. Diagnosis Banding: .Robekan duramater..

Lama perawatan: . Nama penyakit / diagnosis: .Bedah Onkologi (pada tumor ganas) 6. Tempat pelayanan : . Neurological Surgery. Spondilitis 4. Tenaga standar: .Rawat Inap 7.Myelografi. Informed Consent (tertulis): .Laminektomi + reseksi tumor 8.Spesialis Bedah Saraf 12.TUMOR MEDULA SPINALIS .. Tindall. Forth edition . 154 . 2. The Practice of Neurosurgery.Lumpuh anggota gerak bilateral secara progresif. William and Wuilkins co. Kriteria Diagnosis: .ICD 5.039 2.Perdarahan.VI.eksisi biopsi 9.10 hari Kepustakaan: 1. Youmans. Perawatan RS: . CT Scan 5. Penyulit: . Pemeriksaan Penunjang: .Ya 11.Trauma. Konsultasi : . Terapi: . United state of America 1996. paresis tipe UMN 3. WB Saunder Company. infeksi. George T. Diagnosis Banding: . United state of America 1996. kebocoran cairan serebrospinal 10.Neurologi . MRI. Tumor medulla spinalis 1. Julian R.

Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.BATU PIELUM .USG kurang/tidak informatif. Tekanan darah. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF.N 20. Sedang.BATU STAGHORN : . SC > 2mg% tanpa kontras. Nadi. UL. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS 3. NOMOR ICD 2.BATU KALIKS . nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/penderita kurus) 4. : . USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF.BATU KALIKS . Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis berat/penderita kurus) Teraba tumor kistik. BATU GINJAL : . BUN/SC. SC <2mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 155 .BATU STAGHORN 1.BATU PIELUM . Asam Urat darah.I. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu ureter 5.

B dan RS. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Bivalve Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Phyellolithotomy Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy jika ada fasilitas) Simple/Extended Phyellolithotomy Nephrolithotomy. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy) Phyellolithotomy Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy atas pertimbangan khusus 9. Nephrostomy atas indikasi khusus 156 .6. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.

• Tiselius H. Diagnosis and Medical Management. Standar Pelayanan Medis. July 4-5. 18. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14 -90 hari pascabedah) • Lain-lainnya atas intruksi operator 13. First International Consultation on Stone desease. Buck C. 8th . 157 . Paris.(3).10.. 17.-G. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. KEPUSTAKAAN • Alken P. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Kambuh (residif) • Contracted kidney (ginjal mengecil) 11. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Gallucci M. March 2004. Guidelines on Urolithiasis. Alken P. 1998. Heath Care Office. European Association of Urology. Cambell’s Urology. Vol. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Batu Saluran Kemih. Stone Desease. infeksi. Conort P. • IDI . Eddition 2003. 2001. Ackermann D. Depkes RI-IDI. • Menon M. 2003. Urological Guidelines. Treatment of Renal Stone. Urinary Lithiasis: Etiology. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. infeksi. Resnick MI. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.

Asam Urat darah. SC <2 mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6.BATU URETER 3. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Nadi. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.II. NOMOR ICD 2.1 : . nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/pada penderita kurus) 4. DIAGNOSIS : . BUN/SC. Sedang. UL. SC > 2mg% tanpa kontras. BATU URETER 1. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis berat/pada penderita kurus) Teraba tumor kistik. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF.N 20. Tekanan darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 158 . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu pielum/kaliks 5.

TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Ureterolithotomy 1/3 tengah dan 1/3 atas Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Nephrectomy atas indikasi khusus 10. B dan RS.8. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Kombinasi Nephrectomy. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Contracted kidney (ginjal mengecil) • Kambuh (residif) 11. Nefrostomy atas indikasi khusus 9. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14-90 hari pascabedah) • Lain-lainnya tergantung instruksi operator 159 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Ureterolithotomy Kombinasi Nephrostomy.

8th . 1997. The Management of Ureteral Calculi. Stone Desease. • Menon M. European Association of Urology. Heath Care Office. Resnick MI. Paris. Assimos DG et al. • Segura JW. KEPUSTAKAAN • Alken P. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. infeksi. • IDI . 2001. Diagnosis and Medical Management. Batu Saluran Kemih. • Tiselius H. Ackermann D. American Urological Assosiation. First International Consultation on Stone desease. 2003. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 1998. Depkes RI-IDI. Treatment of Renal Stone.(3). Urinary Lithiasis: Etiology. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Buck C. Urological Guidelines. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. 17. March 2004. Eddition 2003. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. Alken P.13.-G. Vol. Standar Pelayanan Medis. Cambell’s Urology. Guidelines on Urolithiasis. July 4-5. 160 . Preminger GM. Conort P.. infeksi. Gallucci M.

SC < 2mg dengan kontras). DIAGNOSIS BANDING : • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • PID untuk wanita dewasa 5.N 21. DIAGNOSIS : . Asam Urat darah. IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif.BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 3. 6. BUN/SC. SC > 2mg% tanpa kontras. KONSULTASI : • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun). • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor. Kurus) Lokal Teraba batu (apabila batu cukup besar/penderita kurus) 4. UL.III. • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan. NOMOR ICD 2. 7. Sedang. PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Laboratorium DL.0 : . PERAWATAN RUMAH SAKIT : • Prabedah • Pascabedah 161 . Tekanan darah. Nadi.BATU KANDUNG KENCING . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. BATU KANDUNG KENCING DAN BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 1. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Kultur urin dan BS acak untuk umur > 40 tahun • Radiologi BNO/BOF. • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis. USG ginjal dan kandung kencing.

kombinasi cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. kombinasi dengan cystostomy atas pertimbangan khusus Diverticulecthomy dan ambil batu. INFORMED CONSENT : • Diperlukan 12. kombinasi dengan cystostomy atas pertinmangan khusus • RS Kelas A dan B (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Vesicolithotomy. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1 hari pascabedah • Pelepasan kateter uretra setelah 7 hari pascabedah (pada vesicolithotomy) • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13.8. TEMPAT PELAYANAN : • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Vesicolithotomy. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 162 . PENYULIT : • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu/devertikel kandung kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Lithotripsy Vesicolithotomy Diverticulecthomy dan ambil batu Kombinasi 9.

. Vol. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. 2003. July 4-5. Guidelines on Urolithiasis. PROGNOSIS • Baik 17. Conort P. infeksi. 163 . Diagnosis and Medical Management. Urinary Lithiasis: Etiology. Depkes RI-IDI. Eddition 2003. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. • Menon M. Batu Saluran Kemih. Treatment of Renal Stone. Resnick MI.(3). European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • Alken P. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 18. Standar Pelayanan Medis. 8th . Stone Desease. Gallucci M. 1998. Paris. PATOLOGI • Batu analisa 15.14. First International Consultation on Stone desease. Cambell’s Urology. 2001. Alken P. March 2004. Urological Guidelines. • Tiselius H. • IDI . infeksi.-G. Heath Care Office. Ackermann D. Buck C.

1 : . DIAGNOSIS : . Tekanan darah. BUN/SC.BATU URETRA 3. Kurus) Lokal Teraba batu pada uretra Teraba kandung kencing (apabila sisa urin/retensio urin/penderita kurus) 4. Sedang. BATU URETRA 1. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.N 21. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 164 . Nadi. NOMOR ICD 2. Asam Urat darah. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Kultur urin dan BS acak(untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6.IV. UL. DIAGNOSIS BANDING • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • Batu kandung kencing 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Cystostomy atas pertimbangan khusus Lithotripsy Kombinasi 9. vesicolithotomy Cystostomy atas indikasi retensio urin • RS Kelas A.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. PATOLOGI • Batu analisa 165 . kateter uretra dan mobilisasi setelah 1 hari pasca-Lithotripsy • Pelepasan cystostomy catheter sesuai operator 13. drong batu kedalam/keluar kandung kencing dan pemasangan kateter uretra (dower catheter). PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 14. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.8. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Lubrikasi. B dan RS.

8th . 2003. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. • Tiselius H. Alken P.-G. Heath Care Office. July 4-5. Gallucci M. KEPUSTAKAAN • Alken P. • Menon M. Urological Guidelines. March 2004. Buck C. Stone Desease.. Treatment of Renal Stone. Vol. PROGNOSIS • Baik 17. infeksi. Guidelines on Urolithiasis. European Association of Urology. Depkes RI-IDI. Ackermann D. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.(3). Resnick MI. 1998. Cambell’s Urology. infeksi. 2001. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Diagnosis and Medical Management. 166 . Eddition 2003. First International Consultation on Stone desease. Conort P. Paris. Standar Pelayanan Medis. Batu Saluran Kemih. Urinary Lithiasis: Etiology. • IDI . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan.15.

Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Nadi.7 gejala ringan Jumlah score 8-19 gejala sedang Jumlah score 20-35 gejala berat Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) c. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan IPSS (International Prostate Symptom Score). Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4.V. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) : a. BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 1. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: i.N 40 : -BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 3. Perabaan prostat 1. UL. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak 167 . Tekanan darah. NOMOR ICD 2. terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan memiliki nilai dari 0 sampai 5 sehingga total score maksimal 35 Jumlah score 0. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS BANDING • Batu uretra • Sistitis • Batu kandung kencing 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Pole atas (Mudah dicapai/Susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) d. SC. Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) e. Melihat sekitar anus b. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. DIAGNOSIS : . Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) ii.

5 ng/ml o Usia 70-80 tahun: 0-6. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) Pemeriksaan tambahan Uroflometri(optional) o Uroflo > 15 ml/detik kecil kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo < 10 ml/detik besar kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo 10-15 ml/detik sulit utuk mendeteksi obstruksi infravesical Postvoid residual urin (PVD) Prostate Specific Antigen (PSA).Flow Studies) (optional) 6. TERAPI • Tujuan Pola kencing normal/mendekati normal Mencegah komplikasi infeksi. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal • Medikamentosa Alpa-Blocker 5 Alpa-Reductase Inhibitor Fitofarmaka • Pembedahan TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) Prostatectomy 9.5 ng/ml o Usia 50-60 tahun: 0-3. rentang kadar PSA dianggap normal berdasar usia o Usia 40-50 tahun: 0-2.5 ng/ml Trans-Rectal Ultra-Sonography (TRUS) (optional) Urodynamic Study (Pressure. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Dokter Spesialis Bedah) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka 168 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.• • Radiologi atas indikasi medis Hematuria ISK Insufisiensi renal Riwayat batu saluran kencing Irwayat pembedahan saluran U-G BNO/BOF.5 ng/ml o Usia 60-70 tahun: 0-4.

Disfungsi ereksi 8. Ejakulasi retrograde 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. PENYULIT 1. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan kandung kencing baik 169 . Striktura uretra 7. Water intoxication. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pascabedah • Pelepasan kateter uretra 3-5 hari pasca TURP • Pelepasan kateter uretra 5 hari pasca Prostatectomy • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka Pembedahan o TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) o TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) o Prostatectomy 10. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 3. Kambuh (residif) 6. Inkontinensia urin 4. B dan RS. perforasi (khusus untuk TURP) 5. PATOLOGI • Prostat 15.• Pembedahan o Prostatectomy RS Kelas A. HASIL • Kencing normal/mendekati pola kencing normal 14. Pendarahan 2.

et al . tidak normal/inkontinensia • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia BPH) di Indonesia. Madersbacher S. KEPUSTAKAAN • De la Rosseta J. Pembesaran Prostat Jinak. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. March 2004.17. Guidelines on Benign Prostatic Hyperlasea. Vol. European Association of Urology. inkontinensia urin. Heath Care Office. Depkes RI-IDI.. Cambell’s Urology. Alivisator G. 170 . Standar Pelayanan Medis. 2003. 2003. • IDI . infeksi dan pola kencing untuk mengetahui kencing normal. 18. Evaluation and Non-Surgical Management of Benign Prostatic Hyperplasea. striktura uretra dan rectal toucher. 8th . 1998. dkk.untuk mengetahui karsinoma prostat. infeksi saluran kencing.(3). Basuki Bambang Poernomo. disfungsi ereksi. Urological Guidelines. • Sunaryo Hardjowijoto. Akmal Taher. Lowe FC . • Lepor H.

Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) o BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) o Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) o Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. Kandung kencing neurogenik 171 . DIAGNOSIS BANDING • Pembesaran Prostat a. Nodul (Soliter/Multiple) 4. kekerasan dan nodul pada prostat yang mengarah pada karsinoma prostat: o Melihat sekitar anus o Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: iii.C 61 : . collumna vetebra dan lain-lain Riwayat penyakit/keluarga adanya tumor saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. Batu kandung kencing • Metastase tulang a. Nadi.VI. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS : . Sistitis c. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Fraktur patologis b. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan adanya keluhan karena pembesaran prostat dan metastase ke tulang pelvis. Perabaan prostat 1. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Tekanan darah. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) iv. KARSINOMA PROSTAT (ADENO CARCINOMA PROSTATE) 1. NOMOR ICD 2. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) untuk mencari irigularitas.KARSINOMA PROSTAT (ADENOCARCINOMA PROSTATE) 3. Pole atas (Mudah dicapai/susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. Batu uretra b.

SC <2 mg% dengan kontras) • Biopsi prostat dan pemeriksaan PA 6. Bone scanning (optional) • Radiologi lain atas indikasi medis a. Metastase tulang IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan Ambomen(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif . Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak PSA (kalau perlu Free PSA) • Radiologi a. UL. Insufisiensi renal d. Riwayat batu saluran kencing e. Riwayat pembedahan saluran U-G f. ISK c. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Pola kencing normal/mendekati normal d) Mencegah komplikasi infeksi. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pengobatan dengan Hormonal a) Flutamid b) LH. Rh antagonis c) Subcapsuler Orchidectomy d) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) • Pembedahan atas indikasi obstruksi karena pembesaran Prostate Disobstruksi Prostat a) TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) b) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) 172 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. USG Transrectal(Optional) c. Bone survey d. SC > 2mg% tanpa kontras. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC. BNO/BOF dan USG Ginjal dan Kandung kencing b.5. Hematuria b.

B dan RS.• • Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. Striktura uretra 5. Pendarahan 2. PENYULIT 1. HASIL • Kuratif Bebas tumor Dapat kencing normal/mendekati pola kencing normal Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. Water intoxication dan perforasi (khusus untuk TURP) 7. 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Prostat 173 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. Obstruksi saluran kencing (hydronephrosis. Disfungsi ereksi 4. Inkontinensia urin 3. retensio urin) 11. dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pasca TURP • Pelepasan kateter 3-5 hari pasca TURP • Lain-lain atas instruksi operator 13. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 6.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pengobatan dengan Hormonal Pembedahan a) Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) b) Disobstruksi Prostat Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Pengobatan dengan Pemasangan kateter uretra (Dower catheter) apabila retensio urin Hormonal • RS Kelas A.

Abbou CC. 1998. Vol. Urological Guidelines. Standar Pelayanan Medis. Diagnosis and Staging of Prostate Cancer. Depkes RI-IDI. Karsinoma Prostat. fungsi ginjal dan rectal toucher. Guidelines on Prostate Carcer. 2003. • IDI . 8th .15. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Partin AW . KEPUSTAKAAN • Aus G. Cambell’s Urology. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan.(3). March 2004. • Tumor residif/recurent dan metastase. disfungsi ereksi Striktura uretra. • Carter HB. Heidenreich A. infeksi saluran kencing. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. infeksi dan pola kencing • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 19. 174 . European Association of Urology. Heath Care Office.

• Radiologi BNO/BOF. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup 175 . Tekanan darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Nadi. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5.VII. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. NOMOR ICD 2. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 1. BUN/SC. UL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : -C 64 : .TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 3. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas satu sisi Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. 14. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. B dan RS. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 176 .• • • • Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. OTOPSI Tidak diperlukan 16. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PATOLOGI • Tumor ginjal 15.

Hillsten S. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Cambell SC . Depkes RI-IDI. Cambell’s Urology. et al .M) dengan CT Scan 18. KEPUSTAKAAN • IDI . infeksi. 177 . Heath Care Office. European Association of Urology. 1998. Guidelines on Renal Cell Carcer. Carballido J. March 2004.(3). 2003. 8th . Tumor Ganas Ginjal (Wilm’s).N. Vol.Renal Tumor. Standar Pelayanan Medis. • Novick AC.17. Urological Guidelines. • Mickisch G. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.

Nadi. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5.TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 3. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 1. UL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.VIII. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal 178 . USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. • Radiologi BNO/BOF.C 64 : . NOMOR ICD 2. Tekanan darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS : . BUN/SC.

PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 179 .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. OTOPSI Tidak diperlukan 16.• • • • Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. B dan RS. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. 14.

• Mickisch G. Depkes RI-IDI. Heath Care Office. Vol. 1998. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.M) dengan CT Scan 18. 180 . • Novick AC. et al . Cambell’s Urology.(3). European Association of Urology. Cambell SC . Urological Guidelines. Guidelines on Renal Cell Carcer.Renal Tumor. Carballido J. March 2004.17. Standar Pelayanan Medis. infeksi. KEPUSTAKAAN • IDI .N. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Hillsten S. 2003. Tumor Ganas Ginjal (Grawitz). 8th .

TUMOR KANDUNG KENCING(TRANSISIONAL CELL CARCINOMA) 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. UL. BUN/SC. NOMOR ICD 2. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Hematuria oleh berbagai sebab • Blood clot retension oleh berbagai sebab 5.C 67 : . DIAGNOSIS : . batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Nadi. SC> 2mg% tanpa kontras) 6.IX. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tampa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran kencing. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor 181 . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.TRANSISIONAL CELL CARCINOMA BULI-BULI 3.

MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.• • • • b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan proses miksi dan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tumor buli-buli 15. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.B dan RS. OTOPSI Tidak diperlukan 182 . kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. 14. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dan pola kencing dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.

Heath Care Office.N. Urological Guidelines. Lobel B. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17.(3). European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • IDI . Marshall FF . • Jiminez VK. Standar Pelayanan Medis. et al . Tumor Ganas Buli. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Surgery of Bladder Cancer. 2003.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. 183 . Depkes RI-IDI. Guidelines on Badder Carcer. 1998. Vol.16. 8th . infeksi. March 2004. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Jakse G. • OosterlinckW. Cambell’s Urology.

BUN/SC. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.C 67 : .ADEO-CARCINOMA BULI-BULI 3. Tekanan darah. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.X. Nadi. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 184 . TUMOR KANDUNG KENCING(ADENO-CARCINOMA) 1. DIAGNOSIS BANDING • Masa solid abdomen bawah • Hematuria oleh berbagai sebab • Streng ileus dengan masa abomen bawah 5. NOMOR ICD 2. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. UL. DIAGNOSIS : . SC> 2mg% tanpa kontras) 6. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tanpa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat gangguan fungsi usus/ileus Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran cerna dan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF.

8. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. 14.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tumor buli-buli 185 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguang fungsi ginjal dan saluran cerna Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy partial Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. B dan RS. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.

8th . Vol. 2003. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Cambell’s Urology. • OosterlinckW. 186 . 1998.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. Guidelines on Badder Carcer. Depkes RI-IDI. Marshall FF . Surgery of Bladder Cancer. Heath Care Office. Jakse G.(3). European Association of Urology. et al . PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Lobel B. Tumor Ganas Buli. infeksi. • Jiminez VK. Standar Pelayanan Medis. OTOPSI Tidak diperlukan 16.N. Urological Guidelines. KEPUSTAKAAN • IDI .15. March 2004. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.

Thorax. TUMOR PENIS (EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA) 1.C 60 : . UL. Sedang Kurus) Lokal Luka kronis/tumor cowly flower pada penis Teraba tumor solid mobil/fixed inguinal Pimosis 4. Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Luka kronis/tumor seperti bunga kol pada penis Pimosis pada orang dewasa/tua Pimosis dengan benjolan pada pelipatan paha Luka kronis dengan benjolan pada pelipatan paha Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.XI. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 187 . DIAGNOSIS BANDING • Veruca Vulgaris • Limfadenitis inguinalis • Limfadenitis veneralis (STD) 5. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. BUN/SC Biopsi luka/tumor pada penis • Radiologi BNO/BOF. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA PENIS 3. DIAGNOSIS : . NOMOR ICD 2. USG abdomen atas dan bawah 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.

MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.8. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node • RS Kelas A. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Stenosis miatus uretra eksternus • Odema ekstremitas inferior (apabila inguinalis/radiotherapy) • Ruptura vasa femoralis • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator dilakukan deseksi kelenjar limfe 188 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotherapy Radiotherapy Kombinasi 10. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi kencing d) Mengusahakan mempertahan aktifitas sexual Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node Total penectomy dengan biopsi sentinal node Radical penectomy Deseksi kelenjar limfe inguinalis kanan dan atau kiri (atas indikasi khusus) • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.

TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 189 . KEPUSTAKAAN • IDI . OTOPSI Tidak diperlukan 16. Horenblas S.N. Standar Pelayanan Medis. 2003. Heath Care Office. Cambell’s Urology. 1998. Algaba F. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. HASIL • Kuratif Bebas tumor Pola kencing normal/mendekati normal Aktifitas sexual mendekati/tidak normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. Karsinoma Penis. infeksi.(3). • Lynch DF. Tumor of Penile. et al . • Solona E. PATOLOGI • Tumor penis prabedah (biopsi) • Tumor penis pasca bedah (radikalitas pembedahan) • Kelenjar limfe inguinalis 15. March 2004. Urological Guidelines.M) dengan CT Scan 18. 8th . Pettaway CA . Guidelines on Penile Carcer. 14.13. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Depkes RI-IDI. Vol. European Association of Urology.

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Testis mengeras/ada benjolan Cryptorchism dengan masa abdominalis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS BANDING • Orchitis • Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi • Torsiotestis 5.XII. BUN/SC Beta HCG(Human Chorionic Gonadotropin).C 62 : . Sedang Kurus) Lokal Teraba tumor solid pada testis Teraba tumor solid pada abdominalis pada penderita cryptorchism Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi 4. Nadi. Tekanan darah. NOMOR ICD 2. TUMOR TESTIS (SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED) 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED TESTIS 3. Thorax. USG abdomen atas dan bawah 6. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase 190 . AFP(Alfa Feto Protein) • Radiologi BNO/BOF. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. UL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.

14. PENYULIT • Pendarahan • Gangguan fertilitas • Disfungsi ereksi • Infeksi luka operasi • Odema ekstremitas imferior (apabila dilakukan RPLND) • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PATOLOGI • Tumor testis • Kelenjar limfe retroperitonial 191 . HASIL • Kuratif Bebas tumor Fertilitas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. B RS. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Radical orchidectomy inguinal approach • RS Kelas A.• • • • c) Mencegah gangguan fertilitas Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical orchidectomy inguinal approach RPLND(Retro-Peritonial Lymp Node Desectie) (atas pertimbangan khusus) Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) Radiotheraphy(PA Seminoma) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.

2003. KEPUSTAKAAN • IDI . Heath Care Office. Guidelines on Testicular Carcer.15. • Sheinfeld J.(3). Mc Kiernan J Bosl G J . 8th . March 2004. Horwich A. Tumor Ganas Testis. • Laguna MP. European Association of Urology. et al . Standar Pelayanan Medis. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Vol. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Surgery of Testicular Tumor. Depkes RI-IDI. Urological Guidelines. infeksi.M) dengan CT Scan 18.N. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 1998. Klepp O. Cambell’s Urology. OTOPSI Tidak diperlukan 16. 192 .

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi pembedahan (untuk umur >40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis • Epididimitis kronis 5. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PENGOBATAN • Tujuan Perbaikan fertilitas Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Kadang-kadang 193 .VARICOCELE 3. UL. Tekanan darah. DIAGNOSIS : . Nadi. Thorax. Sedang Kurus) Lokal Kadang-kadang terlihat masa seperti cacing pada skrotum saat berdiri/tidur Teraba tumor kistik seperti cacing pada funikulus spermatikus Kadang-kadang testis bersangkutan lebih kecil dibanding testis yang normal 4. NOMOR ICD 2. Analisa sperma (atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF.XIII.C 46 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. INFERTILITAS PRIA (MALE INFERTILITY) 1. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Belum punya anak setelah kawin > 1 tahun Nyeri testis bersangkutan Ada bentukan seperti cacing pada skrotum bersangkutan Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

Jungwirth A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. • Sigman M Jarow JP . analisa sperma dan kehamilan pada istri 18. European Association of Urology. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. March 2004. Male Infertility. Guidelines on Male Infertility. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.B. 194 . Wiedner W.(3). Cambell’s Urology.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. Heath Care Office. Urological Guidelines. HASIL • Kwantitas dan kwalitas sperma membaik/normal • Istri bisa hamil 14. Vol. Depkes RI-IDI. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.• a) Mengurangi/menghilangkan nyeri testis b) Mengecilkan/menghilangkan varicocele Pembedahan “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 9. 2003. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 10. Infertilitas. KEPUSTAKAAN • Dahle GR. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. 8th . PENYULIT • Infeksi luka operasi 11. Standar Pelayanan Medis. 1998. • IDI . et al . PROGNOSIS • Tergantung Gangguan kwantitas dan atau kwalitas sperma suami Azoospermia Gangguan fertilitas istri Kombinasi 17.

PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. PENGOBATAN • Tujuan Memperbaiki anatomi dan fungsi penis dan uretra Estetika/kosmetika penis Mencegah gangguan fertilitas pria 195 .XIV. NOMOR ICD 2. Tekanan darah. Sedang Kurus) Lokal a) Penis Miatus uretra ekternus subgladuler/ventral penis/penoscrotal/perinal b) Testis Kadang-kadang disertai cryptorhism/kelainan bawaan lainnya 4.Q 54 : . Nadi. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Micropenis • Ambiguitas 5. DIAGNOSIS : . Thorax. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. HYPOSPADIA 1. BUN/SC Tes “XY chromosom”(atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Air kencing tidak keluar dari ujung penis (seperti pada umumnya) sejak lahir Penis bengkok/sembunyi pada skrotum Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.HYPOSPADIA 3. UL.

PENYULIT • Fistel “Urethrocutan” • Nekrosis kulit penis/tube plap • Infeksi luka operasi 11.B dan RS.• Pembedahan MAGPY Procedure Chodectomy-Urethroplasty (satu tahap) dengan/tanpa Nesbit Procedure Ducket’s Procedure (Prepotiale tube flap urethroplasty) 9. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Buka bebat hari ke-5 • Buka splint uretra dan klem kateter sistotomi hari ke-10-12 • Buka kateter sistostomi satu hari setelah buka kateter sistostomi/bisa kencing lancar • Lain-lain atas intruksi operator 13. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. estetika/kosmetika penis dan uretra • Fertilitas (Analisa sperma. estetika/kosmetika penis dan uretra baik/normal • Fertilitas baik/normal 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. adanya urethrocutan fistel • Anatomi. fungsi. PROGNOSIS • Tergantung Lokasi miatus uretra eksternus Berat-ringannya chordae Status gizi pasien Ada/tidaknya kelainan bawaan lainnya 17.Kehamilan istri) 196 . HASIL • Anatomi. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan 10. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. fungsi.

Urological Guidelines.(3). Depkes RI-IDI. Vol. 197 . European Association of Urology. Standar Pelayanan Medis. 1998. • Reidmiller H.18. Hypospadias. Androulakakis P. KEPUSTAKAAN • IDI . Pediatric Urology : Hypospadias. et al . March 2004. • Retik AB. Borer JG. Hypospadia. 8th . Beurton D. Heath Care Office. Cambell’s Urology. 2003.

Thorax. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : . PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy inguinal approach 198 .5 : . DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis 5. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasi/diaphonoscopy positif pada skrotum Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/membesar sejak lahir kadang-kadang bisa mengecil saat tiduran Skrotumnya ada air didalamnya sejak lahir Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. NOMOR ICD 2. HYDROCELE ANAK-ANAK (CONGINITAL) 1.P 83.XV.HYDROCELE CONGINITAL 3.CT • Radiologi BNO/BOF. BT.

KEPUSTAKAAN • IDI . 8th . 1998. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Fertititas setelah dewasa/kawin 18.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.(3). PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain atas intruksi operator 13. Bellinger MF. • Schneck FX. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. Cambell’s Urology. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PROGNOSIS Baik 17. 2003. Standar Pelayanan Medis. 199 .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.B. Hidrokel Testis. PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi 11. Vol. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Depkes RI-IDI.9. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi.

DIAGNOSIS : . kadang-kadang transiluminasi negatif apabila sudah terjadi inlamasi/infeksi pada hydrocele Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy/Marsupialisasi 200 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. HYDROCELE DEWASA (AQUARED) 1. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasidiaphonoscopy positif pada skrotum. KONSULTASI • Dokter Spesialis Kardiologi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/mebesar setelah dewasa Skrotumnya ada air didalamnya setelah dewasa Riwayat infeksi/imflamasi/trauma daerah skrotum/testis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.HYDROCELE AQUARED 3. Tekanan darah. Nadi. UL.N 43 : . BUN/SC • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS BANDING • Tumor testis 5. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Thorax.XVI.

PROGNOSIS Baik 17. Cambell’s Urology.B. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Melihat kekambuhan 18. 2003.9. • Schneck FX. 8th . Vol.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. 1998. KEPUSTAKAAN • IDI .C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Depkes RI-IDI. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. Hydrokel Testis. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. 201 . PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi • Kambuh(residif) 11. PATOLOGI • Tidak diperlukan • Diperlukan (atas pertimbangan khusus) 15. Bellinger MF.(3). Standar Pelayanan Medis.

tumor satelit. pembesaran hepar. sembab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. identasi pleura. CT . Diagnosis : Kanker Paru 3. b. benjolan di pangkal leher. penekanan bronkus. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. dll. nafsu makan hilang demam hilang timbul. sulit/sakit menelan. AGD. atelektasis. 4. menyisihkan kelainan lain.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. pembesaran KGB supraclavicula.faal paru. Pemeriksaan Lain i. sesak nafas. pembesaran KGB mediastinum. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. efusi pleura. e. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. core biopsi. d. Fungus Ball. Pemeriksaan Penunjang : a. trombosis vena. dengan stadium lanjut bisa lebih imformatif seperti . FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. EKG 202 .FH. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. b. (Bila ada indikasi) Brain CT. batuk darah. sakit dada. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. DL. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. ICD : C 34. Pemeriksaan Laboratorium. invasi tumor kedinding dada. USG abdomen. Kriteria Diagnosis : a. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. Diagnosis Banding : a. RFT. dll. c.1. 5. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. suara serak. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. lymphangitis spreeding. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. Tumor Mediastinum.9 2. efusi fleura. b. bila tumornya besar. iv. penekanan vena kava superior. Torakoskopi. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. TBLNB. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. vi. atelectasis. neuropati. iii. f. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. washing lavage. Sitologi Sputum ii. dll. adanya fraktur patologi. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. untuk metastasis ke tulang. LFT.

Atelektasis b. OK 10. Supportif therapy sama 9. 5 hari per minggu c. hemoptisis. Kemoterapi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. Tempat pelayanan : a. Upper Airway obstruction. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Konsultasi : a. b. :: Free & Post Op : Operasi 203 . Pembedahan Indikasi pembedahan i. Hemoptisis d. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. Imiunoterapi e. Fleural efusi e. treparasi oleh SOL. Dokter Spesialis Paru b. 8. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c.6. Terapi Gen g. Dokter Spesialis Anasthesi d. ICU/ICCU iii. Kompresi esopagus f. Ruang perawat ii. Inform Concern : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Lab Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Hormonoterapi f. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. RS tipe A i. Respiratory failure 11. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Obstuksi jalan nafas c. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. d. ii. RS tipe B Plus b. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Penyulit : a.

Tenaga Standar : a. Patologi 17. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Lama Perawatan 14. Dokter Spesialis Paru b. Autopsi 18. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) 13. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR Stage II Stage III Stage IV 57 – 67 % 22 – 34 % 3 – 21 % 1 %. 204 . Hasil 16.12. Masa Pemulihan 15.

faal paru. c. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. RFT. adanya fraktur patologi. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. pembesaran KGB mediastinum.FH. iv. b. invasi tumor kedinding dada. TBLNB. AGD. Diagnosis : Kanker Paru 3. dll. Diagnosis Banding : a. Kriteria Diagnosis : a. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. Sitologi Sputum ii. LFT.9 2. washing lavage. f. lymphangitis spreeding. e. dll. 4. efusi Pleura. Pemeriksaan Laboratorium. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. c. batuk darah. iii. nafsu makan hilang demam hilang timbul. sulit/sakit menelan. untuk mengetahui metastase di hepar dan tempat atau organ lain. dengan stadium lanjut tanda-tanda bisa lebih informatif seperti . pembesaran hepar. b.1. neuropati. Pemeriksaan Lain i. efusi pleura. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. identasi pleura. sesak nafas. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. CT . sembab muka dan leher. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. Tumor Mediastinum. untuk metastasis ke tulang. penekanan bronkus. sakit dada. menyisihkan kelainan lain. trombosis vena. DL. kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. Fungus Ball. Bila tumornya besar. dll. (Bila ada indikasi) Brain CT. core biopsi. ICD : C 34. b. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. Tumor metastase (Kanker Paru Sekundair) 5. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. tumor satelit. Pemeriksaan Penunjang : a. penekanan vena kava superior. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. Torakoskopi. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. atelectasis. benjolan di pangkal leher. d. pembesaran Kelenjar Getah Bening (KGB) supraclavicula. 205 . suara serak. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. USG abdomen. atelektasis. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v.

5 hari per minggu atau bekerja sama dengan spesialis Radiotherapi. thoracoscopy (VATs). Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. iii. RS tipe B Plus b. Pembedahan Indikasi pembedahan i. OK : Operasi 206 . perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. mediostinoskopi. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. trepanasi oleh karena SOL dengan deteorasi neurology. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Kemoterapi bekerja sama dengan pulmonologi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. b. • Untuk tindakan pembedahan pengangkatan tumor. Ruang perawatan : Pre operative ii. d. RS tipe A i. Karnovsky index rendah (<50%). c. Konsultasi / bekerja sama dengan : a. Tempat pelayanan : a. Upper Airway obstruction. hemoptisis. Bag. Dokter Spesialis Paru b. Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Supportif therapy 9. EKG 6. Immunoterapi e. ICCU : Post Op iii. Dokter Spesialis Anasthesi d. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. Hormonterapi f. Terapi Gen g. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi.vi. Biopsi kelenjar lymphe supraclavicula atas biopsi paru terbuka (thoracotomy). ii. 8. Perawatan RS : • Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress).

by Arthur E Bauc et. Hal : 124 – 146 3. in Glenn’s Thoracic and Cardiovascular Surgery sixth ed. Dokter Spesialis Rehab Medik 13. Burt. M. By Roth. Tenaga Standar : a. 1996 : 421 – 444. Respiratory failure g. Dokter Spesialis Anesthesi e. London. 2. Weisenburger. 1995. Ginsberg RJ : Surgical Treatment Of Lung Carcinoma. 26 – 48. Prentice Hall International. Atelektasis b. Binsburg R. Hasil 16. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Hemoptisis d. Patologi 17. Jr . Water PF : Surgery for Non Small Cell Lung Cancer in …………………. 207 . Weisen Burger TH : Definitive Radiotherapy and Combined Modality Therapy for In operable NSCLC : In …………………Hal 164 – 180 5. Masa Pemulihan 15. P : Preoperative and Postoperative Therapy for NS CLC in ………………… Hal : 147 -146 4.10.J Goldber. Autopsi 18. Informed Consent : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Martin N. Penyulit : a.al. Ruck deschel. Phyladelphia. Bonomi. Doyle LA Aisner J : Clinical Presentation of Lung Cancer in Thoracic Oncology II ed. Lama Perawatan 14. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR 57 – 67 % Stage II Stage III Stage IV 22 – 34 % 3 – 21 % 1% Kepustakaan : 1. Fraktur patologis h. Pleural efusi e. Penurunan kesadaran i. Gangguan hepar 11. Obstuksi jalan nafas c. Kompresi esopagus f. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) d. 12. Wagner H. WB Saunders Company. Dokter Spesialis Paru b.

Debridement. Pemeriksaan adanya neuropati : (Bila ada) Dengan Semmes Weinstein Monofilament Wire/Biothessiometer c. Laboratorium . Non Bedah i. mutilasi. b. ii.1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan endokrin. Pemeriksaan Penunjang : a. iii.8 (ankle brachial index). tekanan darah kedua tungkai. UL. necrotomy ii. Perlu untuk tindakan debridement dan pembedahan lain serta pemberian insulin regulasi cepat. Kriteria Diagnosis : Ulkus/Gangren DM adalah kematian jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (nekrosis iskemia) akibat penyakit arteri prifir oklusi (micro dan macroangiopaty) yang menyertai penderita DM. Buerger Disease. Diagnosis Banding : a. d. 208 . Wound toilet. ABI < 0. Pemeriksaan kultur / sensitivitas kuman. Pengendalian gula darah. b. Amputasi (digiti –TMA – BKA & AKA) iv. iv. Derajat dan luas infeksi memakai klasifikasi Wagner. DM menurut WHO GD Acak > 200 mg/dl GD Puasa > 140 mg/dl b. Perawatan RS : a. 8. Ulkus Varikosum. c. Konsultasi : a. Diet & exercise.Toe Pressure. Ulkus Tropikum. Pembedahan i. ICD : E 14.5 2. PAPO (penyakit arteri perifer oklusive) 5. Repair deformitas kaki v. c. FH. Diagnosis : Ulkus/Gangren Diabetikum 3. e. DL. Dokter Spesialis Anesthesi. d. BUN / SC 6. 4. Antibiotika sesuai dengan kultur. Terapi : a. Pemeriksaan integritas vaskuler Terdapat claudicasio intermitten dan restpain. Ulkus/Gangren ini dapat diikuti invasi bakteri sehingga terjadi infeksi. Rontgen foto : Melihat adanya Osteomyelitis dan soft tissue swelling + gas subcutan f. LFT. Revaskularisasi arteri tungkai (bypass) b. Incisi Drainage iii. Dokter Spesialis terkait dengan komplikasi DM 7.

Resiko amputasi 85% bila ada infeksi serius. Sembuh tanpa cacat b. Prognosa : a. Lama Perawatan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus/infeksi (Wagner Classification) semakin besar semakin lama perawatannya. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. b. Sepsis d. 17. Ruang perawat biasa. Mueller MP. in Vascular Surgery theory and practice ed by Allan D Callow. Sembuh dengan cacat tetap akibat amputasi. Wagner III ke atas. Tenaga Standar : a. berbagai manifestasi klinis akibat DM. 16. Informed Consent : Perlu lebih-lebih bila dilakukan amputasi.Tindakan pembedahan dapat mempercepat masa perawatan. Prentice Hall International. 1995 : 167 – 180. Osteomielitis b.B dan RS yang ada ICU : a. Kepustakaan : 1. 12. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Konsultan endokrin d. 11. Dokter Spesialis Anasthesi 13. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk debridemen.. Reamputasi > 20% c. Hasil : a. Mengancam jiwa jika terjadi gas gangren dan sepsis. c. Wright J. Hal 514 – 522 209 . 2. 10.9. Gibbons. Patologi : Tidak perlu. 14. Tempat pelayanan RS Type A. 18. b. Kelainan organ lain akibat angiopaty diffuse + neuropaty diffuse. c. b. Sepsis prognosenya jelek. 15. Marcaccio. ICU bila ada komplikasi. Masa Pemulihan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus serta jenis tindakan. OK untuk tindakan operasi. Klein SR : Diabetes and Peripheral vase dissore in Vascular Sergery dst ……. Autopsi : Tidak perlu. Penyulit : a. Habershaw : Management of the Diabetic Foot. London. Gas gangren c.

batuk. Rasio dg LDH plasma > 0.5 iv. Laboratorium pemeriksaan cairan pleura.perkusi dullness. Dengan pemeriksaan cairan pleura menunjukan eksudat yaitu : i. pH < 7. Pemeriksaan Fisik Takipnea. Pemeriksaan Bakteriologi Menunjukan hasil (+ ) kuman pada cairan pleura. Kriteria Diagnosis : a. Konsultasi : a.9 2. Gejala Klinis Nyeri dada. Rasio dengan protein plasma > 0. Anamnesis Empiema Toraks atau Pyothorax adalah pengumpulan nanah atau pus didalam rongga pleura. LDH > 200IU vi. Tes Rivalta (+ ) ii. Chilo thorax e.empiema necessitans (erosi dinding dada akibat abses dinding toraks). Diagnosis : Empiema Toraks. Pleural effusi c. Dokter Spesialis Paru b. FH. Malignant pleural effusion 5. Foto polos toraks AP/lateral b. Perlu bila akan dilakukan pemasangan Chest tube dan WSD dan dekortikasi. cultur dan sensitivitas test. Perawatan RS : a. BUN / SC 6.6 vii.1. b. Pemeriksaan Penunjang : a. malaize.kadangkadang sputum purulent bila ada fistel bronchopleura. panas. DL. USG d. pergerakan dada terbatas. ICD : J. Dapat terjadi sebagai akibat komplikasi pneumonie (parapneumonic empyema) tindakan pembedahan. sesak nafas. UL. LFT. temperatur tubuh meningkat. 4. Protein > 3 g/dl iii. Glukosa < 40 mg/dl e. 3. trauma dll. d. Torakosentesis e.3 ix. Leukosit > 50% linfosit > 15 000 sel/mm3 viii. CT Scan toraks c. 86. Multiple thoracosintesis dan pemberian AB intra vena 210 . Berat jenis >1016 v. Dokter Spesialis Anesthesi 7. Diagnosis Banding : a.penurunan suara nafas sisi sakit. Abses paru d. c. Pnemonia b. berat badan menurun. b. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru c.

Patologi : Tidak perlu. Autopsi : Tidak perlu. Tenaga Standar : a. Informed Consen t : Perlu 12.W. 10. Tempat pelayanan : a. Shields. Sepsis e. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Mengeluarkan nanah b. Lama Perawatan : 7 – 14 hari 14. Dokter Spesialis Paru d.8. TW : Para Pneumonic empyema in ……………. Obliterasi rongga empiema c. Deformitas diding dada dan scoliosis 11. Ruang rawat biasa b. Light RW : The Physiology of Pleural Fluid Production and Benign Peural effusion in General Thoracic Surgery ed by W Shields T. 1994. Kepustakaan : 1. 9. Fibrotoraks d. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. Terapi : Dasar terapi empiema toraks adalah a. Pemberian antibiotika untuk eradikasi kuman sesuai dengan kultur sesitivitas. Broncopleural fistel b. 18. Dokter Anesthesi 13. 17. Empiema necessitan c. Fourth ed Vol 1 William & Wilkins. Hasil : Sembuh bila diterapi cepat dan tepat.. 674 – 683 2.693 211 . Prognosa : Tergantung fase penyakitnya saat ditemukan pertama kali.hal 684 . Baltimore. OK pemasangan Chest Tube dan tindakan. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. 16. Penyulit : a.

Efusi pleura karena sebab lain d. ICD : J. pleurodesis. Namun bila tumor primer diluar paru tidak ditemukan. Diagnosis : Pleural Efusi Maligna 3. batuk. Diagnosis Banding : a. c. Pemeriksaan Penunjang : a. Bila tumor primernya berasal dari tumor paru. biopsi transtorakal. efusi ini termasuk gejala sistemik metastatik tumor tersebut dan pengobatan disesuaikan dengan tumor primernya. c. dengan hasil eksudat. 90 2. Pengobatan kausal. Kemungkinan ditemukan keganasan organ lain di luar paru. b. Berupa punksi. Empiema toraks b. Foto polos toraks PA/lateral. f. Konsultasi : a. Abses paru c. Pengobatan kausal disesuaikan dengan tumor primernya. Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui tumor primer. Anamnesis Adanya cairan kemerahan/darah atau serosanguinus didalam cavum pleura secara berlebihan > 50 ml dengan didapatkannya sel ganas didalam cairan pleura atau biopsi pleura. Apabila tumor primer ditemukan diluar paru. Pengobatan lokal. 6. Terapi : Efusi pleural maligna mempunyai 2 aspek penting dalam penatalaksanaannya yaitu : a. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tujuan terapi dan mencari sumber keganasan. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru d. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura. Dokter Spesilis terkait dengan tumor primernya c. e. Dokter Spesialis Paru b. Pemeriksaan Fisik Gerakan diapragma berkurang . USG toraks dan torakotomi explorasi perlu dilakukan untuk menegakan diagnosis.dada terasa penuh. b. 4. perkusi redup dan suara nafas melemah pada sisi toraks yang sakit. maka efusi pleura maligna itu di anggap berasal dari paru. CT Scan toraks . fremitus suara melemah. gejala ini sangat tergantung dari jumlah cairan dalam rongga pleura. b. Tumor solid intra pleura 5. Sebaiknya dilakukan setelah cairan dikeluarkan maksimal. maka efusi pleural maligna termasuk stage IV. nyeri dada.1. 8. Kriteria Diagnosis : a. pemasangan chest tube. Dokter Anasthesi untuk operasi 7. Sitologi cairan pleura/biopsi pleura : dengan hasil positif sel ganas. d. Bronkoskopi. Gejala Klinis Sesak nafas. pleuro abdominal shunting. 212 .deviasi trakea dan atau jantung kearah kontra lateral.

Informed Consent : Perlu 12. Efusi berulang. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. VW : Pleural Effusion : Benign and malignant in Thoracic Surgery ed by F Griffith Pearson. New York. Sahn. Tergantung respon terapi dari tumor primernya. SA : Malignant pleural effusion in General Thoracic hal 757 – 797 2. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Paru d. Masa Pemulihan : 3 – 7 hari 15. Ruang perawatan (normal). 1003 . Hasil : tergantung respon terapi dari tumor primernya 16. Penyulit : a. Respiratory distres 11. Prognosa : a. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru e. 1995. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c.9. Tempat pelayanan : a. Bila berasal dari paru maka dianggap kanker paru stadium III keatas Kepustakaan : 1. b. Churchill Living Stone. Autopsi : Perlu bila diagnosa tidak jelas. Empiema toraks. Rusch. b. Dokter Spesialis anesthesi 13. c.1016 213 . OK : pemasangan chest tube dan WSD 10. 17. Lama Perawatan : 3 – 7 hari 14. 18. Patologi : Perlu. b.

colon. adanya massa di dinding dada disertai dengan reffered pain atau nyeri lokal. Bone merrow aspirasi k. Pembedahan (Reseksi diding dada dan rekonstuksi) merupakan first line treatment dikombinasikan dengan kemoradioterapi (bila ada tumor ganas berasal dari tulang). c. b. MRI d. gambaran dan globulin 6. bila kecurigaan dari tulang. e. b. j. Yang paling sering menimbulkan tumor metastatik kedinding dada adalah urogenital. Test fungsi paru g. Tumor jinak : reseksi dan bila perlu rekonstruksi. Selektif angiografi bila tumor dekat/berada di axila. b. Biopsi (PA). Bunce Jones protein. Diagnosis Banding : a. tulang rawan. d. Tumor bisa primer dan metastatik. bila tumor < 4 cm langsung di Excisi dan Frozen Section. Foto polos toraks (PA/lateral). syaraf. batas tak jelas. mamma. Konsultasi : a. 76. Bone Scaning. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan Hematology / Onkology Medik c. b. CT Scan toraks c. Rhabdomiosarkoma dan Ewing sarcoma. 3.1. Untuk kasus-kasus unresectable dipertimbangkan pemberian radioterapi. Lab lengkap i. 214 . Terapi : a. Tempat pelayanan : a. 9.1 2. bila > 4 cm dilakukan FNAB/Incisional Biopsi. Massa : Berbentuk. 5. Dokter Spesialis Paru b. ada riwayat trauma ringan dengan fraktur fatologis. Perawatan RS : Perlu untuk persiapan pembedahan. fixed dengan dasar ikut pergerakan respirasi. Analisa gas darah h. soft tissue lainnya. dapat berasal dari beberapa elemen-elemen histologis dari dinding toraks yaitu otot. c. Ruangan biasa. OK : bila perlu operasi. Dokter Spesilis Anasthesi 7. Diagnosis : Tumor Dinding Dada. bila ada residual tumor dilakukan reseksi. Defornitas dinding dada oleh inflamsi. tiroid. Kriteria Diagnosis : Tumor yang muncul di dinding dada. tulang. ICD : C. Pemeriksaan Penunjang : a. Tumor primer sebagian kecil jinak. kemoradioterapi merupakan pilihan pertama. 4. 8. Keluhan dan gejala : Sering tanpa keluhan (asimptomatik). ICU post operasi. Defornitas dinding dada oleh kelainan congenital. f.

hal 589 – 597. Dokter Spesialis Paru (bila invasi ke paru) c. 12. Invasi keorgan-organ intra toraks. Penyulit : a. Tenaga Standar : a.14 hari 14. Depormitas dengan kecacatan. 3. Informed Consent : Tertulis bila dilakukan operasi. Hasil : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren 16. 11. durante operasi dapat dikerjakan FS. Sixth ed Vol II ed by Athur E Baue Prentice-Hall International Inc. Idem : Chest Wall Reconstruktion : In General Thoracic Surgery …. 2.hal 579 – 588. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler b.. London. Autopsi : Tidak perlu dengan excisi luas. Dokter Spesialis Anasthesi (untuk perawatan post operasi) 13. MC Carmack PM : Chest Wall Tumors in Glemis Thoracic and Cardio Vascular Sergery . Patologi : Perlu. 17. Prognosa : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren Kepustakaan : 1. Lama Perawatan : 7 .. Rekonstruksi dinding dada dan keterbtasan respirasi. c. b. Dokter Spesialis Jantung (bila invasi kejantung & pembuluh darah) d. Pailorelo PC : Chest Wall Tumors : In General Thoracic Surgery …. 1996 : 593 608 215 .10. 18. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15.

8. b. Diagnosis Banding :- 5. Konsultasi : Dokter Spesilis Anasthesi untuk operasi. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi dan untuk operasi. Sclerotherapy. 3. Informed Consent : Perlu bila operasi. thrombophlebitis. sakuler atau silindris vena-vena superfisial menyeluruh atau segmental termasuk teleangiektasis pada tungkai. Ruang rawat biasa. iv. Doppler USG. iv. Bi pedal phlebografi 6. Stadium II Venaectasis Stadium III Gejala & tanda varises tampak jelas. Tempat pelayanan : a. High Ligasi ii. ii. c. Gejala dan tanda tergantung stadium Stadium I pegel. d. b. Ulkus yang tak sembuh-sembuh. Compression therapy. b. berat. chronic venous insuffi ciency (CVI) 4. iii. iii. Airplathysmography. DVT d. Penyulit : a. Duplex Scan. Bedah i. Non Bedah i. OK untuk tindakan operasi. Stadium IV Ulkus varikosum. Babcock extractie/stab avulsi. Perdarahan c. b.1. Symptomatis pasta lasar. hisperidine diosmin. Kriteria Diagnosis : Pelebaran abnormal. Pemeriksaan Penunjang : (bila ada alat) a. cepat lelah. Excisi ulcus + skingraft 9. Medikamentosa flavunoid. Ligasi dan stripping. Terapi : a.9 2. Aneurysma vena 11. 10. Diagnosis : Varices Tungkai. 7. ICD : 183. 216 .

Bisa berulang bila masih ada pengisian vena yang inkompeten. Lama Perawatan : 2 – 3 hari 14. 18. Mc Graw – Hill Inc. Autopsi : Tidak perlu. GH : Chronic Venous Insufficiency : in Vascular Surgery Principles and pratice. New York. 1994 : 841 – 851 2. Nordestgaard AG.12. in Vascular Surgery Principles and pratice. White. Mc Graw – Hill Inc. : Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler Dokter Spesialis Bedah Vaskuler 13. 1994 : 865 – 888. Baik bila belum ada komplikasi. second ed by Frank J Veith. second ed by Frank J Veith. Kepustakaan : 1. Hasil : Sembuh 16. William RA : Vasicose Vein. Prognosa : a. c. 17. b. New York. Tenaga Standar a. 217 . Patologi : Tidak Perlu. b. Masa Pemulihan : 4 – 5 hari 15.

Dokter Spesilis Anak bila ada ganguan hemostasis koagulapati. Medikamentosa i. Fase Proliferasi (sejak lahir – 12 bulan) Kulit pucat. Diagnosis Banding : a. b. 7. Konsultasi /team : a. seperti spon. c.0 2. Excisi . Arteriografi d. a. Dokter Spesialis Bedah Plastik bila perlu Rekonstruksi. Konsistensi padat. ICD : D. Lesi dibawah kulit lymphangiomacystika. 218 . d. biasanya dengan klinis saja sudah cukup. MRI c. KGB (kelenjar getah bening). Katiko steroid ii. Embolisasi / Scleroterapi d. 18. Histo Patologis Atas indikasi kuat. Ruang rawat biasa b. OK bila perlu operasi / tindakan bedah c. Cryo surgery iii. Interferon c. Diagnosis : Hemangioma./merah tua dengan halo.1. Bentuk kubah plaque. 5. Dokter Spesialis Radioterapi bila perlu Raditherapy. Pemeriksaan Penunjang : a. 6. 3. Fase involusi (sampai dengan umur 7 – 12 th) Menipis secara sentrifugal mulai dari sentral. teleangiektasis. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi (life threatening) dan pembedahan 8. Radiasi Tempat pelayanan : a. kosistensi lebih compressable. Pembedahan i. Kelainan Vena seperti kista. Ruang radiologi untuk radiotherapy 9. meluas dan lebih merah seperti buah strowberry saat menangis. makula/papula merah. Kriteria Diagnosis : a. b. Terapi : Biasanya sebagian besar regresi spontan pada usia 5 – 8 tahun. AVM c. b. 4. Laser surgery ii. Dokter Spesialis Anasthesi bila akan dioperasi. tumor atau kombinasi. lembek. b. dikerjakan pada fase involusi untuk mengurangi resiko perdarahan dan kerusakan struktur vital. CT dengan contras b.

Dokter Spesialis Anasthesi Lama Perawatan : 2 – 7 hari Masa Pemulihan : 2 – 7 hari Hasil : Mudah timbul residif bila excisi tidak komplit. Tenaga Standar : a. HH. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Facial distrorsi b. 1995. Dean et al. Kepustakaan : 1. c. 15. 13. Perdarahan. Prentice –Hall International Inc London. visus. Ed by : Richard H. 309 . pernafasan. Angka rekurensi masih tinggi setelah pembedahan. 16. Dokter Spesialis Bedah Umum ( excisi ) b. Dokter Spesialis Bedah Vaskuler d. Patologi : Perlu. mendengar dsb. 17. in Current Diagnosis & Treatment in Vascular Surgery. 18. infeksi. Penyulit : a. Regresi spontan sebelum umur 12 tahun.324 219 . d. 14. Autopsi : Tidak perlu. Tront III. CHF dan trombositopenia e. Prognosa : a. 12. ulkus. Mengalami keganasan Informed Consent : Perlu bila ada tindakan.10. Mengganggu fungsi menelan. Feinberg RL : Vascular Anomalies & Acquired Akteriovenons Fistulas . Ist ed. b. 11.

i. Primer : Ruptur subpleura bleb. Bronkopleural Fistel b. Anannesis Adanya udara bebas dalam rongga pleura yang bukan disebabkan oleh faktor trauma. Diagnosis Banding Pemeriksaan Penunjang : Emphysema bulosa paru. Tension pneumothorax c. tanpa adanya Penyakit paru yang mendasari. Foto thoraks tidak dibenarkan pada tension pneumothorax. : Foto polos toraks.Tahikardi. Non Bedah .Tanda lain penurunan suara nafas. 93. 9 Diagnosis : Pneumothorax spontan. Dokter Spesilis Paru b. sesak nafas dan batuk dari ringan sampai berat. ICD : J. 11. OK (bila dilakukan tindakan bedah) Penyulit : a. 3. berkeringat. hipotensi dan pucat bila tension pneumothorax. ii. Bila Recurrent (≥ 3 kali berulang)→ thoracotomy repair fistule iv. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat Paru c. Keluhan dan tanda-tanda Terjadi mendadak berupa nyeri dada. Kriteria Diagnosis : a. 6. Empyema thoraks Informed Consent : Perlu bila diambil tindakan 7. Open thoracostomy dengan WSD ii. 4. Neonatal c. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu tindakan operasi. 9. Bila persisten (menetap ≥ 4 hari)→ thoracotomy repair fistule iii. Needle aspiration iii. Diagnosis pasti dengan foto toraks AP adanya paru kolap dan bayangan udara (radiolusen) pada rongga dada. Bedah .1. Terapi : a. Faktor penyebab i. Ruang dengan observasi fungsi respirasi pra bedah b. Perawatan RS : Perlu bila akan diambil tindakan. ICU/RTI c. Konsultasi / team : a. b. 8. 10. CT Scan Toraks. Closed thoracostomy (WSD) b. 2. Bila ada alat VATS maka dikerjakan VATS Tempat Pelayanan : a. i. 220 . hipersonor. 5. d. Observasi ii. Skunder : Akibat penyakit paru yang mendasari serta kelainan diluar paru iii.

Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. ed by F Griffith Pearson. Paape K : Pneumothorax in General Thoracic Surgery Fourth ed Vol 1 ed by Thomas W Shields. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu thoracotomy Lama Perawatan Masa Pemulihan Hasil Patologi Autopsi Prognosis : 2 – 7 hari : 2 – 7 hari : sembuh bila tidak ada penyakit paru yang mendasari : Perlu bila perlu operasi thoracotomy : Perlu bila meninggal tak wajar : Baik Ada resiko berulang pada penderita yang mengalami pneumothoraks secunder. 18. 662 . Churchill Livingstone. Dokter Spesialis Bedah Umum pemesangan Chest Tube b. Kepustakaan : 1. Fry WA.12. 1037 – 1054 2. 17. 16. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat paru e. New York 1995. 13. G : Spontaneous Pneumothorax and Pneumoneediastinum in Thoracic Surgery.673 221 . Beauchamp. 14. Dokter Spesialis Paru d. 1994. Williams & Wilkins Baltimore. 15. Tenaga Standar : a.

Sitologi / Histopatologi 6. ST elevasi difus. ICD : I 31. Diagnosis : Efusi Perikardium 3. terasa berat didada sakit tidak spesifik seperti suara jantung menjauh. 4. Konsultasi : a. Neoplasma iii. Definisi : Akumulasi abnormal cairan di rongga perikardium. Penyebab : i. PR depresi f. bila belum tamponade perawatan konservatip diruang biasa (observasi) 8. open perikardiostomi (subxiphoid atau window) dengan artero lateral thoracotomy kiri • Medikamentosa . a. SLE dan kelainan sistemik lainnya c. area pekak jantung melebar pada tamponade maka Trias Beck’s lebih jelas yaitu suara jantung menjauh. hipotensi dan distensi vena leher (CVP ↑). perikarditis konstriktiva/sicca. Tamponade akut : Tension pneumothorak. a. Globular shape e. Foto toraks : melihat adanya pelebaran mediastinum atau CT ratio > 50% b. Perikardiosentesis b. d. Kateterisasi jantung : perlu pada kelainan jantung. Pemeriksaan Penunjang : a. Cardiac Enzym : pada kelainan jantung. Perawatan RS : Perlu bila menunjukkan tanda-tanda tamponade. Kortiko Steroid kalau perlu c. c. Water bottle ii. gagal jantung kanan akut. Ekokardiografi : Echo free space dan dapat dihitung jumlah cairan. emboli paru akut. Infeksi terutama TBC/imflamasi lain vi. 3 2. Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung 7. Terapi : • Terapi Bedah . Bila gagal. EKG : Low voltage. Terapi causal lainnya 222 . COPD. 5. Kriteria Diagnosis : a. Ekokardiografi : melihat cairan intra pericardium dan kelainan jantung. Uremia ii. b. Lab : DL.1. d. Antiinflamasi (NSAID) b. Post operasi jantung v. Foto Toraks : i. Kardiomegali dengan kelainan jantung intra kardial. b. nadi meningkat. e. Diagnosis Banding : a. pulsus paradoxus. Dokter Spesialis Anasthesi c. Post infark miokard (Dressler’s syndrome) iv. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah b. Keluhan dan tanda-tanda : Sesak.

Lama Perawatan : 2 – 7 hari 14. UPIJ/ICU b. Patologi : Perlu untuk mencari penyebab sitologys dan kultur. Penyulit : a. in Current Diagnosis & Treatment in Cardiology ed by Michael H Crawford. 12. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. c. Hasil : Sembuh/kambuh 16. 17. Le Winter MM : Pericardiac disease. Naitkus PT. Tenaga Standar : a. Prognosa : Tergantung Penyebabnya. 192 -203 223 . Cardiogenic Shock. Dokter Spesialis Bedah Umum ( perikardiosentesis ) b. Informed Consent : Perlu apabila ada tindakan. 18. Tamponade jantung. Autopsi : Perlu bila tak jelas penyebab kematiannya.9. Lama Pemulihan: 2 – 7 hari 15. Cardiac failure 11. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 13. Prentice Hall International Inc London 1995. b. Tempat Pelayanan : a. Kepustakaan : 1. OK bila perlu tindakan bedah 10.

224 .

225

226

227

228

229 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful