: D16 : TUMOR JINAK TULANG : 1. Keluhan : tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang 2.

Fisik : tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas, atau ada patah tulang patologis 3. Radiologi : X-foto tulang; tampak densitas tulang bertambah (osteoblastik) atau berkurang (ostolitic) atau campuran. 4. Alkali fosfatase naik 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang 3. Osteomyelitis 5. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radiologi : X-foto tulang, CT-scan 2. Biopsi : FNA, biopsi tulang, pemeriksaan spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Bedah : 1. Reseksi tulang 2. Kuretage 3. Cryosurgery b. Non Bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Penyulit : 1. Penyakit 2. Terapi 11. Informed Consent : Perlu 12. tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Dokter Spesialis Bedah Onkologi 13. Lama Perawatan : ± 1 minggu 14. Masa Pemulihan : ± 4 – 12 minggu 15. Hasil : Bebas tumor, sembuh 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak tulang 1). Osteoma, 2). Osteobastoma 3). Kondroma 4). Kondroblastoma 5). Adamantinoma 6). Fibroma 7). Hemangioma 8). Limfangioma 9). Giant cell tumor 2. Tumor non neoplasma 1). Kiste tulang 2). Fibrous displasia 17. Otopsi : 18. Prognosis : Baik, tumor hilang / sembuh 19. Tindak lanjut : -

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

1

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D23 : TUMOR JINAK KULIT TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT : Neoplasma jinak kulit, D24 Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis 1. Papiloma 1). Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit, permukaan kasar 2). Berwarna seperti kulit normal disekitarnya 2. Epithelioma 1). Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit 2). Berwarna seperti kulit normal 3. Nevus pigmentosus Plaque atau nodus berwarna hitam 4. Kiste dermoid 1). Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau brachial cleft 2). Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak, dinding 5. Dermatofibroma 1). Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkutis 2). Berwarna coklat, menyerupai keloid Tumor non neoplasma kulit 1. Verruca vulgaris (B07) 1). Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan yang besar 2). Warnanya seperti kulit normal disekitarnya 2. Keratosis (L82-L86) 1). Keratosis seborrhoicum (L82) a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna coklat atau kehitaman, sering multipel b. Lokasi trutama pada kulit muka atau leher dan tubuh 2). Keratosis solaris = keratosis senilis (L57.0) a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoicum b. Umumnya terdapat pada orang tua c. Lokasi terutama pada muka, leher dan bagian kulit yang terbuka 3). Keratoacanthoma (L85.8) a. Tumor papiler dengan sentralnekrose, b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami regresi spontan c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma kulit keganasan rendah 4). Kiste epidermoid (L72.0) a. Tumor kistus subkutan, berisi sebum, berdinding epidermis b. Lokasi umumnya di tangan atau kaki

2

4. Diagnosis banding : 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Terapi a. Bedah b. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi

17. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut

: : : : 1. Eksisi tumor, 2. elektrokoagulasi, 3. desikasi, 4. kuretage, 5. dermobrasion : 1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate, 2. salep FU, salep keratotlitik : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. : 1. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Terapi : perdarahan, infeksi, timbul keloid : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : Poliklinik : ± 1 minggu : Benas tumor, sembuh : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak kulit 1). Nevus intradermal 2). Nevus junctional nevus 3). Compound nevus 4). Papiloma 5). Epithelioma 6). Adenoma 7). Keratoacanthoma 8). Syringoma 9). Hydradenoma 10). Trichoepithelioma 11). Demoid cyst 2. Tumor non neoplastik kulit 1). Seborrhoic keratosis 2). Verruca vulgaris 3). Molluscum contagiosum : : baik : 3 bulan, 6 bulan kemudian lepas

5). Kiste sebaceus = Atheroma (L72.1) a. Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum b. Pada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang buntu oleh sebum yang mengeras c. Tumor mobil dari jaringan subkutan dibawahnya 6). Molluscum contagiosum (B08.1) a. Nodus kecil di kulit, berwarna keputihan b. Bila dipencet keluar inti yang keras 7). Granuloma (L92.3) a. Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi lunak, mudah berdarah (L92.3) b. Dapat berupa reaksi benda asing dibawahnya berupa benang (T81.8) Tumor ganas kulit Diagnosis : Pemeriksaan patologi spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

3

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D17 s/d D21 : TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK & TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK : Tumor jinak jaringan lunak 1. Lipoma, D17 Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan, konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan 2. Hemangioma, D18 1). Hemangioma kapilare Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu anak-anak 2). Hemangioma cavernosum a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons, berwarna kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan, umumnya sebelum umur 5-7 tahun 3). Hemangioma arteriale (hemangioma racemosum, cirrsoid hemangioma) a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok, berdenyut, karena ada shunt antara arteri dan vena, sejak bayi atau kecil b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala 3. Limfangioma, D18 1). Limfangioma kapilare (limfangioma simpleks) Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, berisi cairan limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul sejak lahir atau waktu kecil 2). Limfangioma cavernosum Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, seperti bibir (makrocheili) lidah (makroglosi), dsb, dengan kulit diatas tumor berwarna normal, konsistensi seperti spons 3). Limfangioma kistikum (Higroma) a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit diatas tumor warnanya normal, timbul sejak lahir atau waktu bayi b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) atau di axilla (higroma axillare). 4. Fibroma, D21 1). Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsistensi ada yang beras (fibroma durum), ada yang lunak (fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan ikat pada tumor. 2). Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare 3). Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia musculus rektus atau obliquus abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas, tetapi patologis sebagai tumor jinak

4

Q85. Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi. Non bedah 9. M67. tatouage 2. menjadi neurogenic sarcoma. kelas C R. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Abrasi / dermobrasi : 1. Tempat pelayanan 10. Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat. Penyulit 11. Elektro cauter 4. pemeriksaan spesimen operasi Staging : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait Ruang inap untuk diagnosis dan tindakan 4. Neurofibroma. Cryosurgery 3.S. berasal dari bungkus syaraf. Perawatan RS 8. Hemangioma : radioterapi. Patologis : FNA. 2). lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. Pemeriksaan penunjang : 6. dikulit. Berbentuk nodus. konsistensi berubah menjadi padat. D36. yang berisi cairan seperti gudir. biopsi. : 1. Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion karpi).1 1). Terapi a. subkutis atau subfascial. Tenaga standar 13. CT-scan. dengan ukuran bervariasi. Diagnosis banding : 5. Informed Consent 12. 2. yang tumbuh progresif dengan pelan 2). Hasil : : : : 1. Konsultasi 7. Terapi : perdarahan. Bedah b. Eksisi tumor 2. Yang khas ialah terdapat cafe aux lait. konsistensi lunak 3). yang terdapat sejak lahir atau baru manifest setelah dewasa. Ganglion. kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea (ganglion poplitea) 1).0 1). sembuh 5 . Neurofibromatosis von Recklinghausen.5. multipel diseluruh tubuh. kortikosteroid. suatu plaque berwarna coklat susu pada kulit 4). Radiologis : X-foto. Ganglion : kortikosteroid intra kistik : Minimal R. Berbentuk tumor bulat panjang. sering multipel sepanjang jalan syaraf perifir. 2). tumor atau polipoid. Masa pemulihan 15. MRI pada tempat tumor 2.4 1). harus dicurigai mengalami transformasi ganas.S. Lama perawatan 14. Suatu penyakit kongenital herediter. Dapat timbul nyeri atau paraestehia Tumor non neoplasma 1. infeksi : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : ± 3 hari : ± 1 minggu : Bebas tumor. Tumor ganas jaringan lunak 1.

16. Hemangioma 2. Rhabdomyoma 7. 24 minggu. Lipoma 3. 52 minggu. Neurofibromatosis : : Baik : 12 minggu. Gangion aponeutikum 10. Patologi 17. Prognosis 19. Otopsi 18. Leiomyoma 9. Synovioma 8. kemudian lepas 6 . Fibroma 4. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Benign fibrous histiocytoma 5. Neurofibroma 6.

Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait ] 7. Lama perawatan : ± 3 hari 14. sertoli sel tumor. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Prognosis : Baik 19. Prostat : adenoma. Tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Urologi 13. penis atau skrotum 4.S. berbatas tegas. Hidrokel testis 3. penis atau kulit genetalia 2. epididimis. myoma 2). ICD : Teratoma Ganas In situ Jinak Tidak tentu 7 . Hasil : Bebas tumor / sembuh 16. atheroma 17. Keluhan : testis. Kriteria diagnosis : 1. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Prostat : hiperplasia 2). Neoplasma 1). Diagnosis 1. umumnya < 2 cm. padat atau kisteus. Spematokel 5. Otopsi : 18. Informed Consent : Perlu 12. fibroma. ICD 2. Perawatan RS : Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Penyakit : 2. di prostat (colok dubur) testis. pemeriksaan spesimen operasi 6. Diagnosis banding : 1. karsinoid. Fisik : tumor kecil.S. Tindak lanjut : - 1. Testis & epididimis : teratoma matur. Penyulit : 1. Terapi : a. Patologi : biopsi eksisi.: D29 : TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI 3. spermatookel. infeksi 11. kelas C R. biopsi testis. pemeriksaan spesimen operasi 2. tumor Brenner 2. Masa pemulihan : ± 1 minggu 15. Penis & skrotum : kiste epidermis. Tumor non neoplasma 1). Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Non bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R. TUR b. Testis & epididimis : granuloma. hidrokel funikuli 3). Terapi : perdarahan. Bedah : Eksisi tumor. FNA. Tumor ganas 2.

patologi Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8 . Tenaga standar 13. Terapi a. Manifest sejak lahir. Tumor jinak atau ganas organ yang bersangkutan Diagnosis 1. gigi. ovarium. Supraseller C71.2.3 4. Penyakit : erosi atau destruksi tulang disekitarnya 2. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak 2.1 5.3 3. Ovarium C56. Stadium dini : bebas kanker 1. pemeriksaan spesimen operasi 3. MRI : nampak ada klasifikasi atau bentuknya seperti tulang.S. Sacoccocygeal C76.3 D27 D39. Perawatan RS 8. Makin dewasa manifestnya.7 D48. kelas-C. dsb. tulang. R. Teratoma ganas : eksisi luas atau organtektomi : Radioterapi : Minimal R. Hasil : : : : 1. dsb.2 D40.3 D15. imaging. infeksi 2). Radiologi : X-foto polos/CT-scan. seperti di sacrococcygeal. Fisik : 1). Penyulit 11.6 D29.9 D33. Mediastinum C38. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi teratoma. Diagnosis 3. Non bedah 9. Eksplorasi operasi : Tumor berkapsul yang tegas (ganas).0 D20. Testis C62 D07. Radiologis : X-foto. Tempat pelayanan 10. Operasi : perdarahan.7 2.0 D48. atau setelah dewasa. MRI pada tempat tumor 2. Bedah b. makin besar kemungkinan keganasan 3. mengandung kulit. CT-scan. Retroperitoneum C48. Patologis : FNA. Kriteria diagnosis : : 4. Lama perawatan 14. FNA M : Klinis. Eksplorasi operasi : untuk melihat keadaan tumor Staging.3 D09. Berbentuk tumor ada yang padat. imaging. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. ada yang kistik yang terdapat pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi suatu teratoma 2). 2. hanya untuk tumor ganas T : Klinis.2 D43. biopsi. rambut. imaging. Masa pemulihan 15.2 D38.7 D36.1 6. Konsultasi 7.2 TERATOMA 1. testis. usus. 4. Diagnosis banding : 5. patologi N : Klinis.S.9 D07. dsb 1. Radioterapi : radionekrose : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 7 hari : ± 1 bulan : 1. Teratoma jinak : eksisi tumor 2. Informed Consent 12. Terapi 1). Pemeriksaan penunjang : 6.

Otopsi 18. Stadium sangat lanjjut : jelek : 0 – 3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 – 5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 1.16. Patologi 17.2 9 .0-C22. Teratoma ganas 2. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Teratoma jinak 3. ICD : C64-C79.4-C22. Teratoma sifat tidak jelas : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Tindak lanjut 2. Prognosis 19. Stadium dini : baik 2.

anemia 2. pada IMP terlihat pyelum normal 3). Teratoma. strabismus. Radiologi : USG abdomen / CT-scan : nampaktumor pada hati 4). tetapi umumnya di kelenjar adrenal. Keluhan : sakit perut. CT-scan atau MRI nampak ada tulang atau macam-macam komponen jaringan dalam tumor : 1). Tumor dapat bersifat ganas. Tumor pada hati pada anak. Hepatoblastoma. rambut. abdomen. umumnya dibawah 12 tahun 3). hati. mungkin pula disertai anemi. C69. sifat tidak tentu atau jinak 3). C64 1). anoreksi. Terdapat tumor di mediastinum. VMA = vanyl mandelic acid. in situ. HEPATOBLASTOMA 4.2 1). dsb) 2). pada USG. berat badan meurun 2). Neuroblastoma adrenal. gigi. endothelial dan mesenchymal (tulang. HVA = homo vandelic acid 3. hipertensi atau panas 3). Laboratorium : dalam urine terdapat kenaikan katekolamine. Retinoblastoma. tampak ada tulang atau kalsifikasi dalam tumor pada USG. Radiologi : pada IVP. Limfoma maligna 5. dsb. Tumor berasal dari ginjal. C76. panas.2 1).2 1). TUMOR WILMS. NEUROBLASTOMA 3. ovarium. kulit. Tumor jinak. ikterus 4. Radiologi : Pada X-foto polos. toraks. nyeri dan hematuri. Tumor ganas syaraf atau ganglion perifir. TERATOMA : 1. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 10 . pada umur dibawah 5 tahun. FlexnerWintersteiner rosette pada retina 3). Kriteria diagnosis 4. Tumor dapat uni atau bilateral 5. yang terdiri dari campuran derivat jaringan epithelial. 2. pada USG abdomen terlihat tumor dari ginjal 4). Tumor Willem (nephroblastoma). RETINOBLASTOMA 5. retroperitoneum. 2). Diagnosis banding : KANKER PEDIATRI 1. mual muntah. Laboratorium : AFP naik. ada filling defek di pyelum. Pada penyinaran : X-foto polos. gangguan fungsi hati. releks papil putih. Diagnosis 3. dapat di leher. usus. terlihat ada klasifikasi dalam tumor. testis.4 1). Laboratorium : hematuria. C22. umumnya pada umur 1-3 tahun 2). umumnya pada umur dibawah 5 tahun 2).2. Ada trias gejala : tumor abdomen. C79. Terdapat leukocoria. Tumor mata pada anak-anak. dapat mengalami regresi spontan pada bayi kurang dari 1 tahun 2). Tumor ginjal pada anak-anak.

Tempat pelayanan 10. : 1. Non bedah 9. infeksi. Otopsi 11 . Hasil 16. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna dalam 1-3 bulan. hepatocelular carcinoma 4. Sitologi : FNA. katekolamine 3. dsb. seroma. pada mata : eksentrasio bulbi. Konsultasi 7. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. benign teratoma. Mata : retinoblastoma 5. Informed Consent 12. infeksi. Adrenal : neuroblastoma. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. 2. AFP.1. patologi M : Klinis. atau radioterapi primer bila tumor inoperabel. : Minimal R. CT-scan. fungsi hati. derajat Staging : T : Klinis. fungsi ginjal. Penyakit : perdarahan. Bedah : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : 1. Masa pemulihan 15. jenis histologi. kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. doxorubicin. USG abdomen. pada testis : orchidektomi. imaging. Stadium dini : bebas kanker 2. imaging. Teratoma : malignant teratoma. ganglioneuroma 3. Tenaga standar 13. Organtektomi : Pada tumor Willen : nefrektomi. gangguan fungsi organ : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Anak Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 10 – 14 hari : ± 12 minggu : 1. Radiologi : IMP. Hepar : hepatoblastoma. actinomycin-D. Patologi. Terapi a. Kemoterapi : dengan vincristine. Ginjal : nephroblastoma 2. Laboratorium : darah. urine. Lama perawatan 14. 2. MRI 2. cyclophospha-mide. pada ovarium : ovariektomi. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Perawatan RS 8. patologi N : Klinis. Radioterapi pre atau pasca bedah.S. patologi 6. Eksisi luas tumor. paraneoplastik sindrom 2. sitologi 4. Penyulit 11. imaging. Patologi 17. terato carcinoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan ksus kematian yang sebabnya tidak jelas b. Terapi : perdarahan.

Stadium dini : baik 2.18.3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 . Tindak lanjut : 1. Prognosis 19. Stadium sangat lanjut : jelek : 0 . Stadium lanjut : dubius 3.5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 12 .

8. C82 2). Patologi : biopsi kelenjar limfe. bila limfoma masih lokal pada satu regio 2). ditemukan sel Reed Sternberg. Non Hodgkin Lymphoma = NHL 1). 6. ICD 2. CT-scan abdomen. Hodgkin Disease = HD C81 2. penurunan berat badan atau berkeringat malam yang tidak jelas sebabnya 2. pada HD = Hodgkin Disease. CTscan. pada NHL = Nn Hodgkin Limfoma tidak 7. Eksplorasi : laparoskopi. inguinal. alkali fosfatase. Patologi : pS = pathological staging Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. tonsil atau lingkaran Waldeyer 3. Tumor jinak kelenjar limfe 2. seperti leher. Radioterapi : 1). 40 Gy. sumsum tulang terbuka. sumsum tulang 4. Follicular (nodular) NHL. fungsi hati. Epidemiologi : umur. LDH. tulang. 7. X-foto tulang. torakoskopi 6. Peripherial and cutaneous T-cell lymphoma. Non bedah : 1. C85 Kriteria diagnosis : 1. inguinal. Limphadenitis non spesifik Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. di salah satu atau lebih regio kelenjar limfe superficial. Immunohistokimia : Sel-T atau sel-B Staging 1.1. Panas badan. atau dengan VC 5. Diagnosis 3. fungsi ginjal. globulin. Diffuse NHL. atau benjolan di tonsil atau faring. ketiak. SGPT. Pada sindroma vena cava superior 13 . atau keluhan karena ada benjolan di perut 2). albumin. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma. C84 4. Bedah : Laparotomi. laparotomi. Radiologi : USG abdomen. Patologis : jenis histologi. 5. faktor resiko 2. ketiak. Pada laparotomi karena ileus ditemukan adanya agregat jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan obstruksi ileus itu Diagnosis banding : 1. C83 3. 4. Klinis : cS = clinical staging 2. Keluhan : 1). jika timbul ileus atau peritonitis b. Laboratorium : darah lengkap. Radiologi : X-foto toraks. : C81 s/d C85 : LIMFOMA MALIGNA 1. Pembesaran kelenjar limfesuperficial seperti di leher. Limphadenitis tuberkulosa 3. USG abdomen. Fisik : limfadenopati singel atau multiple. MRI untuk terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe 4. MRI 3.

Penyakit : ileus obstruksi. Masa pemulihan 15. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Penyulit : : 11. Kemoterapi : Netropenia. Diffuse 2. anemia. Prognosis 19. mual / muntah. Hodgkin Disease 1). Terapi : 1). Mycosis fungoides 3. Non Hodgkin Lymphoma 1). alopecia Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis onkologi medik ± 24 minggu ± 4-8 minggu 1. Kemoterapi dengan : 1). Follicular (Nodular) 2). MOPP = mechorethamine. Mixed cellularity 4). Reticulosarcoma perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas 1. AVBD = adriamycin. Tindak lanjut : : : 2. radionekrose. sindrom vena cava superior 2. Hasil 16. infeksi 2). Lymphocytic depletion 5). Stadium lanjut : dubius 3. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Lymphocytic predominace 2). Patologi : : : : : : 17. oncovin. vinblastine dan dacarbazine 2). Nodular sclerosis 3). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Plasmacytoma 4.9. Hodgkin’s unspecified 7). Informed Consent 12. Radioterapi : Radiodermatitis. Stadium dini : bebas kanker 2. prednison dan procarbazine Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 1. lemas 3). bleomycin.Other Hodgkin’s disease 6). peritonitis. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 14 . Operasi : Perdarahan. Lama perawatan 14. Tenaga standar 13. Otopsi 18. Stadium dini : baik 2. Tempat pelayanan 10.

toksoplasma) Staging. Reaktif hiperplasia kelenjar lilmfe 3. Bedah : Tergantung dari penyebabnya b. Diagnosis 3. Limfadenitis tuberkulosa 2. Limphadenitis khronika. Singel atau multipel 2. Radiologi : tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk mencari tumor primernya 2. ketiak. 5. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Terapi : 11. terfiksasi. Kriteria diagnosis 15 . Perawatan RS : Rawat inap bila perlu. Lama perawatan : ± tegantung dari sebabnya 14. atau tidak sembuh dengan antibiotika atau obat anti TBC 2). Limfoma maligna 1.C77 atau C80. hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker T : cari letak tumor primernya. Dicurigai ganas : 1). padat. klinis dan imaging 6. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin) 3.: R59 : LIMFADENOPATI : Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio leher. Penyulit : 1. Metastase kanker : sukar sembuh 16. klinis dan imaging N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase jauhnya M : cari lokasi metastase jauhnya. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi 1. Diagnosis banding : 1. Masa pemulihan : ± tegantung dari sebabnya 15. Reaktif hyperplasia : sembuh 3. Tuberkulosa : sembuh 2. Metastasis kanker dari tempat lain. Primer : apabila kelenjar membesar progresif. Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk konglomerat 3. Informed Consent : Perlu 12. ICD. untuk diagnosis dan tindakan 8. Laboratorium : test immunologis (TBC. inguinal yang dapat : 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Terapi : a. Pemeriksaan pennunjang : Diagnosis : 1. Non bedah : Tergantung dari penyebabnya 9. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Hasil : Tergantung dari sebabnya : 1. ICD 2. Patologi : FNA. Limfoma maligna : bebas kanker 4. biopsi eksisi 3. tanpa ada radang. Sekunder : bila ditemukan ada tumor primernya 4. Penyakit : 2. Reaktif hiperplasia 4. baik spesifik maupun non spesifik 2.

Metastase kanker Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat ditemukan tumor primernya (ICD. Otopsi 18.17. C80) : : 1. Non neoplasma : baik 2. C77 atau ICD topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis menjadi MUO = Metastase of Unknown Origin atau CUP = Cancer of Unknown Primary. Neoplasma : tergantung dari stadiumnya : Tergantung dari penyebabnya 16 . Prognosis 19. Tindak lanjut 4. ICD.

MRI. Fisik : tumor pada tulang dengan invasi keluar tulang. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. Kepala. urine. Radionekrose c). timbul patah tulang. Lemas d). MRI : ada pembentukan tulang baru (Codman’s trangle). derajat diferensiasi sel) Staging T : Klinis. Diagnosis banding : 1. imaging M : Klinis. Mual/muntah c). Diagnosis 3. paraplegia 2. paraplegia 3. paraplegia 2. Tumor jinak tulang 2. Radiologi : X-foto tulang.: C40-C41 : KANKER TULANG : 1. doxorubicin. ada invasi tumor keluar tulang. Penyakit : fraktur. cisplatin. Chemoterapi : a). Patologi : Biopsi : FNA. CT-scan. Terapi 1). Penyulit : 1. leher. Scintigrafi tulang 3. Alopecia 11. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Fibrosis 3). Radiologi : X-foto tulang. MRI. patologi spesimen operasi N : Klinis. ada “sunrays phenomen” pada osteogenic sarcoma. Infeksi d). USG abdomen. Netropenia b). Informed Consent : Perlu 12. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait 7. scintigrafi tulang). methotrexare 9. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah ortopaedi 13. Ekstemitas : 1). ICD 2. Keluhan : tumor. Radioterapi : a). pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Cacat 2). Reseksi tulang + transplantasi tulang atau prosthese tulang (limb preserving operation) 2). imaging (X-foto toraks. Masa pemulihan : ± 4-12 minggu 1. cyclophosphamide. Perdarahan b). patologi 6. Laboratorium : darah. Epidemiologi : umur. Osteomyelitis 5. imaging. Operasi : a). CT-scan. nyeri tulang. faktura patologis 4. Radioterapi pra atau pasca bedah. Kemoterapi : dengan kombinasi cyclophosphamide. lokasi tumor 2. Non bedah : 1. Radiodermatitis b). Terapi : a. patah tulang patologis. biopsi tulang. tubuh : Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks / rekonstruksi b. atau phenomena “union peel = kulit bawanng” pada Ewing sarcoma. Amputasi / disartikulasi 2. Kiste tulang 3. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. fosfatase alkali 4. fungsi ginjal. CT-scan. Hematoma c). Kriteria diagnosis 17 . Bedah : 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. fungsi hati. atau radioterapi primer 2.

Malignant mesenchymoma 7). Stadium dini : baik 2. Hemangioepithelioma 2). Lain-lain 1). Osteogenic sarcoma 2). Liposarcoma 6). Hemangiopericytoma 3). Ewing sarcoma 3. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 18 . paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Juxtra chondrosarcoma 5). Mesenchymal chondrosarcoma 2. Giant cell tumor 2). Lisis tulang 1). Otopsi 18. Membentuk tulang atau kartilago 1). Adamantinoma dari tulang panjang : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Tindak lanjut : 1. Stadium dini : bebas kanker 2. Juxtacortical osteosarcoma 3). Chondrosarcoma 4).15. Patologi 17. Angiosarcoma 4). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Undifferentiated sarcoma 8). Hasil 16. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Chordoma 9). Fibrosarcoma 5). Prognosis 19.

infeksi 2). dsb 11. keras. paliasi 1. CT-scan. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. BUN. HCG 3. Stadium dini : bebas kanker 2. CT-scan abdomen 2. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radioterapi : 25-30 Gy 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Hidrokel testis 3. alopesia. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. (USG testis). Patologi : FNA. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Terapi : 1). imaging. Nodus regional : diseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. Kriteria dignosis 19 . tumor testis. Bedah : Untuk non seminoma 1. Orchitis 5. lokal atau difuse. Keluhan : Testis membesar. nafsu makan turun 3). Terapi : a. Penyulit : 1. nyeri. Radiol : X-foto toraks. urine. ICD 2. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Tumor jinak 2. MRI) 6. Orchidektomi radikal 2. Hasil : 1. vas deferen 2. Informed Consent : Perlu 12. Non bedah : Untuk seminoma atau non seminoma 1. USG : testis bentuk irreguler. Operasi : perdarahan. biopsi testis. diarhoea. Penyakit : invasi ke kulit skrotum. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. LDH > 1-1. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Lab : AFT naik > 15 ng/ml. Masa pemulihan : ± 12-24 minggu 15. kanan dan kiri tidak sama 3. Fisik : tumor membesar. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. konsistensi padat. Chemoterapi : mual. Laboratorium : darah. USG abdomen. Diagnosis 3. terasa berat 2. Kemoterapi : etoposide. muntah. muntah. Lokal : 1). imaging M : klinis. badan lemas. densitas heterogen 2). Diagnosis banding : 1. badan lemas. cisplatin 9.: C62 : KANKER TESTIS : 1. nafsu makan turun leukopeni. imaging (X-foto toraks. USG abdomen. AFP. pertanda tumor N : klinis. HCG naik > 5 mIU/ml. Orchidektomi total 2).5 xN (normal) 4. diarhoea. Radioterapi : mual. Radiologi : 1).

Embryonal rhabdomyosarc 5). Stadium lanjut : baik 3. Granulosa cell tumor : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Prognosis 19. Non seminoma 1).16. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Stadium sangat lanjut : dubius : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 20 . Seminoma 2. Choriocarcinoma 3). York sac tumor 6). Stadium dini : baik 2. Teratoma maligna 4). Leydig cell tumor 7). Otopsi 18. Embryonal carcinoma 2). Patologi 17.

Penyulit : 1. patologi N : klinis. Trismus 3). Reseksi palatum / mandibula / pipi + rekonstruksi b. peminum alkohol. mulut berbau. Sukar nafas 1. Fisik : 1). Operasi Commando dan rekonstruksi. Flourouracil c. mungkin terlihat ada destruksi tulang 4. tidak menghilang degan pengobatan konservatif selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrasi 2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau leher 3). MRI 2. Ulkus kronik benigna 3.: C00 . imaging. Sukar makan & minim 4). imaging (X-foto toraks. Cisplatin b. Bleomycin. patologi M : klinis. Nyeri 2). CT-scan) 6. higiene mulut 3. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Gusi C03. panoramik. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel 2. Radiologi : pada X-foto maksila / mandibula atau panoramik. pada T2 keatas Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan diberikan perawatan higiena mulut yang baik b. Penyakit 1). Tunggal : a. Dasar mulut C04. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. FAM : Flouroutacil. Diagnosis 21 . ICD 2. spesimen operasi (jenis histologi. Multifarma : a. Stomatistik 5. Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir 2). Terapi : a. CT-scan. Patologi : FNA. Lidah C02. Ada lesi pra kanker : seperti leukoplakia. Operasi khusus : a. sering nyeri di mulut 2. USG abdomen. Adriamycin. yang mudah berdarah.C06 : KANKER RONGGA MULUT Bibir C00. Diagnosis banding : 1. derajat diferensiasi sel) Staging T : klinis. eritroplasia Querat 4). VBM : Vincristin. Kriteria diagnosis : 1. Non bedah : 1. Kemoterapi : dengan obat 1). Pangkal lidah C01. Ada faktor predisposisi seperti merokok. Glosektomi total c. nginang. Eksisi luas lesi trans-oral. Granuloma 4. Ada lesi di mulut dapat berupa indurasi. sering nyeri. kelaianan gigi. Rongga mulut lainnya C06 3. Palatum C05. Endoxan 2). Bedah : 1. mudah berdarah. defek mukosa ditutup dengan Thiersch pada tumor T1S atau T1 3). Tumor primer 1). Keluhan : ada tumor atau ulkus. Tumor jinak mulut 2. imaging. nodus. tumor atau ulkus. Radiologi : X-foto rahang. Methotrexate b. Mitomycin-C 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. biopsi (insisi / eksisi / cakot).

sinus dari implant. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium dini : bebas kanker 2. Mal. Otopsi 18. Chemoterapi : neutropenia. Hemangiopericytoma : Perlu unuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Operasi : Perdarahan. mukositis infeksi. Karsinoma in situ 2). Mesenchymal 1). infeksi. Rhabdomyosarcoma 3). fitula oro-kutan. Radioterapi : Mukositis. Lama perawatan 14. Patologi : : : : : : 2. Prognosis 19. Syadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 22 . Stadium dini : baik 2. Leiomyosarcoma 4). mulut kering. Epithelial 1).11. Squamous cell carcinoma 3). toksis Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. kiloma. Masa pemulihan 15. Informed Consent 12. Fibrosarcoma 2). Stadium lanjut : dubius 3. Adenoid cystic carcinoma 5) Pleomorphic carcinoma 6). Tindak lanjut 2. Tenaga standar 13. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Hasil 16. Adenocarcinoma 4). infeksi. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Malignant melanoma 17. kawat/plat skrup. fibrosis 3). Nekrose flap 2). Terapi : 1).

pemeriksaan spesimen operasi. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13.1. struktur uretra. urine 6. Non SCC : Sarkoma. nodus. derajat deferensiasi sel 2. Tindak lanjut 23 . Penyakit : kehilangan penis 2. erosi atau ulkus terutama di glans atau preputium 2). Terapi : a. BCC melanoma lymphoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yag sebabnya tidak jelas : 1. Radioterapi 40 Gy. cysplatin 9. Stadium dini : bebas kanker 2. Lama pemulihan : ± 4-8 minggu 15. Terapi : perdarahan. Conyloma 5. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Squamous cell carcinoma 2. methotrexate. infeksi 11. jenis histologi. Radiologi : X-foto toraks. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. paliasi 16. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Panektomi parsial atau total 2. ICD 2. Prognosis 19. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Otopsi 18. CT-abdomen 3. Keluhan : benjolan di penis 2. Laboratorium : darah. Pembesaran kelenjar limfe inguinal 4. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Penyulit : 1. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Informed Consent : Perlu 12. Lesi berupa plaque merah. Stadium dini : baik 2. Hasil : 1. Tumor jinak 2. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 17. tumor eksofitik. Kemoterapi : bleomycin. Biopsi lesi. Bedah : 1. Stadium lanjut : dubius 3. Non bedah : 1. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis : C60 : KANKER PENIS : 1. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. brachiterapi dengan implantasi irridium 2. Fisik 1). USG abdomen. Diagnosis banding : 1. Diseksi kelenjar limfe b.

imaging (X-foto toraks. Alternatif : 1). 7. ada pembesaran kelenjar limfe ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh 3. stellate. 8. Standar : Mastektomi Radical Modifikasi (Patey / Madden) 2. eritema kulit diatas tumor. peau d’orange. melekat kulit / muskulus pektoralis / dinding dada. : C50 : KANKER PAYUDARA : 1. Kriteria diagnosis 4. Bedah : 1. ± Reskonstruksi mamma (myokutaneus latisimus dorsi flap) 3). Diagnosis 3. tumbuh progresif. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant 24 . Mastitis Khronika 5. dan ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas. 6. derajat diferensiasi) N : Klinis. Klinis 2. Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi ± diseksi axilla + radioterapi pasca bedah b.1. Sarcoma jaringan lunak 6. Fisik : pada payudara terdapat tumor padat keras. USG mamma : ada tumor berbatas tidak tegas. batas tidak jelas. erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal puting susu 2. Displasia mamma 4. imaging. 5. ICD 2. FNA Juga VC / PC dan pemreiksaan patologi spesimen operasi Staging : T : Klinis. biopsi sentinal node M : Klinis. bone scan. ulserasi Tanda metastase : regional. Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau kanker insitu diseksi axilla tergantung dari keadaan kelenjar axilla atau dari biopsi sentinal node 3. USG abdomen. Tumor jinak mamma 2. imaging. patologi (jenis histologi. MRI) Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. umumnya pada permulaan tidak nyeri. hiper-echoic Diagnosis banding : 1. Limfoma maligna Pemeriksaan penunjang : Diagnosis : Triple diagnostik : 1. Mammografi ada tumor batas tidak tegas. klasifikasi mikro yang tidak teratur b. bentuk tidak teratur. Mammografi atau USG mamma 3. satelit nodule. Keluhan : tumor atau borok yag mudah berdarah pada payudara. Radiologi : a. Tumor phillodes 3. bentuk irreguler. CT-scan. Mastektomi Radical Standard Radical (Halstedt) 2). BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery) : a.

Adriamycin. efusi pleura. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma 3. sendi bahu kaku 2).b. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Informed Consent 12. Tamoxifen. nekrose kulit. Liposarcoma 3. Operasi : perdarahan. Kemoterapi : mual. Otopsi 18. dll. infeksi. Mal. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. paraplegia 2. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan ovariektomi. Aromatase inhibitor. Tumor phyllodes 2. faktura patologis. Mucinous carcinoma 5). Masa pemulihan 15. Kemoterapi : Adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan : CMF : Cyclophosphamide. Patologi 17. Terapi paliatif dan bantuan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. oedema lengan. Medullary carcinoma 2). paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnose Epithelial 1. Penyakit : perdarahan. Flourouracil 3. oedema lengan. infeksi. Tindak lanjut : 1. muntah. Flourouracil CAF : Cyclophosphamide. nekrose flap. alopesia. Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma 2. GnRH analogue 4. Pagets disease 7). Prognosis 19. Stadium dini : baik 2. Radioterapi : radiodermatitis. Penyulit 11. plebitis. Mal. Cribriform carcinoma 4). Fibrous histiocytoma 4. Non bedah 9. Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer 2. sendi bahu kaku 3). seroma. Stadium dini : bebas kanker 2. Tenaga standar 13. Terapi : 1). Methotrexate. Carcinosarcoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Hasil 16. Scirrhus 6). Variant khusus : 1). Fibrosarcoma 2. Squamous cell carcinoma 8). dsb : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 7-14 hari : ± 24-36 minggu : 1. Papillary carcinoma 3). Undifferentiated carcinoma Mesemchymal 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 25 . Tempat pelayanan 10. infeksi. nekrose kulit tempat infusi. Campuran 1. oedema lengan. Lama perawatan 14. Stadium lanjut : dubius 3. fibrosis. leukopenia.

Batas tegas d). Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma 9. Kiste payudara 3. Terapi : 1). Infeksi 11. Permukaan berbenjol-benjol c). > 5 cm dan dapat lebih dari 30 cm a). Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase 3). Radiologi : USG mamma / mammografi 3). Perdarahan 2). Diagnosis banding : 1. ICD 2. Kulit diatas tumor mengkilat (3). Fibroadenoma mamma : eksisi tumor mamma 2). dibawah umur 30 tahun b). Hematoma 3). Ada bagian yang padat dan kisteus d). Epidemiologi : umur. Papillima intra duktal (1). Vries Coup 6. Perawatan RS : 1). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Patologi : Biopsi. Fiboadenoma mamma (1). Bentuk bulat atau oval e). Informed Consent : Perlu ada informed consent 26 . Tumor di mamma pada wanita a). Pemeriksaan diagnostik klinis : 1). Sangat mobil dalam korpus mamma h). Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel 3). Tumbuuh pelan dalam waktu tahunan c). Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada tanda metastase jauh 2). Tumor kecil di subareoler 4. Penyulit : Operasi : 1). Diameter umumnya besar diatas b). Konsultasi : Dokter spesialis Bedah Umum Dokter spesialis Bedah Onkologi 7. Konsistensi padat elastis g). Diagnosis 3. Fibroadenosis 5. Sangat mobil dari dinding dada (2). Kanker payudara 2. faktor resiko 2). Sitologi : FNA 4). Papiloma intraduktal : duktektomi 4). Tumor filloides dan papiloma intraduktal : MRS 8. Tumor pada mamma yang besar. Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu (2). Tumor dapat singel atau multipel (2). Tumor filloides mamma (1).1. Muda. Fibroadenoma mamma : Poliklinik. Vena subkutan membesar dan berbelok-belok (venaektasi) (4). kalau perlu MRS untuk tumor yang multipel 2). Permukaan halus f). Kriteria diagnosis klinis : D24 : TUMOR JINAK PAYUDARA : 1).

Prognosis 19. Tumor phyllodes 3). Lipoma : : Tumor jinak : baik : 1). Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 0-7 hari : ± 1-2 minggu : Sembuh : 1). 0-1 tahun : tiap 3 bulan 2). Fibroadenoma 2). Lama perawatan 14.12. Tenaga standar 13. Otopsi 18. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. > 1 tahun : lepas 27 .

ICD 2. Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sediaan beku atau parafin Konsultasi : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi 28 .2) Tumor umumnya tidak besar. Dengan tumor a). fungsio lesa) b). Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda radang (dolor. rubor. (N64. Galaktokel non puerperalis. keruh atau seperti nanah dalam kista Kista dapat tunggal (N60. batas tidak tegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau menghilang secara spontan Tumor sering multipel atau bilateral 2). noduler. 6. lokal atau difuse c).1) pada satu atau kedua mamma b). seperti mamma wanita b). Mastitis puerperalis (O91) a). Mamma pria membesar. 5. Hipertrofi pada wanita a). : N60 – N64 : DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LANNYA Kriteria diagnostik klinis : 1). Fibroadenosis mamma (ICD. Kelainan dapat menghilang dan timbul dengan spontan sesuai dengan siklus menstruasi (2). Ginekomasti = hipertrophi pada laki a).0) atau jamak (N60. (O92. Tanpa tumor yang dominat a). Mamma padat. Mastitis (1).9) Diagnosis banding : 1).8) (2). Sitologi : FNA 3). Mastitis non puerperalis. 4. tumor. N60. Radiologi : mammografi / USG mamma 2). Mastitis chronika Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan areola atau ditempat lain disertai atau tidak disertai dengan tanda-tanda radang 3). Displasia mamma N60 (1). Kista mamma Pada aspirasi keluar cairan serous. Neoplasma jinak payudara Pemeriksaan penunjang : 1). Galaktokel puerperalis. Dapat uni atau bilateral (2). calor. Diagnosis 3. Nyeri pada mamma. Galaktokel Terdapat kiste pada mamma yang berisi air susu (1).1. N61 (2). Jaringan mamma subareoler paling sedikit terba sebesar 1½ cm 4). Kanker payudara 2). Ukuran besar mamma melebihi ukuran normal b). konsistensi padat. siklis sesuai dengan siklus menstruasi atau non siklis b). Hipertrophi mamma (1).

Konservatif : aspirasi kista. Perdarahan 2). Informed Consent 12. Penyulit 11. Operatif : eksisi ginekomasti 4). Purulent / abses : insisi & drainage 3). Papillary cyst (3). Tindak lanjut : : : 29 . Perawatan RS 8. Displasia mamma (1). Otopsi 18. Adenosis (4).7. Lama perawatan 14. MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara : 1). Duct ectasia (5). Tumor displasia mamma (1). Tenaga standar 13. antioksidan. Ginekomasti a). Prognosis 19. EPO. Galatokel : (1). Hematoma 3). Simple cyst (2). Poliklinik 2). Infeksi Perlu ada informed consent Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Pasca bedah 2-3 hari Tergantung pada jenis tumornya Sembuh Perlu 1). Operasi : eksisi tumor. Adolesesent : reduction mammoplasti (2). Konservatif : dengan testosteron. antiestrogen b). Patologi : : : : : : : : 17. Gynecomasti Baik 3 bulan sampai 1 tahun 9. tamoxifen (2). Hypertrofi mamma (1). danocrine. Masa pemulihan 15. Terapi : 1). Non purulent : antibiotika (2). Aspirasi (2). Mastitis (1). Bila gagal : eksisi tumor Minimal RS Kelas-C Operasi : 1). Tempat pelayanan 10. Hasil 16. bila konservatif gagal 2).

Patologi 17. pemeriksaan histologis spesimen operasi Staging : T : klinis. muuntah. pada toucher rektum. leukopeni. Squamous cell carc. EUS. tumor mobil atau melekat dengan struktur disekitarnya. : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 6. 3). infeksi. imaging. imaging. gemzar. (X-foto toraks. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. infeksi Radioterapi : radiodermatitis. Basal cell carc. cisplatin Paliatif : analgetika. Basaloid carcinoma. Terapi Operasi : perdarahan. patologi M : klinis. Bedah b. doubel kontrast Patologis : biopsi. Tempat pelayanan 10. proktitis. Penyakit : obstruksi ileus. anemi 2. kistitis Kemoterapi : mual. jenis histologis. nutrisi : Minimal RS kelas-C : 1. Masa pemulihan 15. 4). USG abdomen. patologi N : klinis.1. Kelenjar llimfe iguinal atau pararektal teraba besar Anuskopi / proktoskopi : terdapat tumor di anus 4. Paget’s disease 8). Tenaga standar 13. Mucoepidermoid carc. Penyulit 11. MRI) : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : Operabel : eksisi anus untuk menyelamatkan sphinter reseksi abdominoperineal (operasi Moles) Inoperabel : Sigmoidostomi Elektrokoagulasi : Radioterapi : 40-50 Gy Chemoterapi : dengan FUFA. Hasil 16. 5). Diagnosis 3. Konsultasi 7. Otopsi 30 . Kriteria diagnosis : C21 : KANKER ANUS : Keluhan : nyeri kalau berak. Lama perawatan 14. Undifferentiated carc. kolonoskopi Radiologi : foto kolon. camptothecin. Stadium dini : bebas kanker 2. ICD 2. 7). toksis : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah digestif : ± 10-14 hari : ± 24 hari : 1. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. 2). Adenocarcinoma. Non Bedah 9. Informed Consent 12. berak berdarah atau lendir Fisik : Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau polipod di anus. Polip anus. 6). Diagnosis banding : Tumor jinak anus. Terapi a. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Endoskopi : rektoskopi. Perawatan RS 8. derajat deferensiasi sel. spincter ani terba tegang. Hemorroid 5. CT-scan. Melanoma maligna. paliasi : Epithelial 1).

Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 31 .18. Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3. Tindak lanjut : 1. Stadium dini : baik 2.

indurasi. Diseksi kelenjar limfe regional. Tempat pelayanan 10. Thiersch gagal 9. 7. Operasi : perdarahan. operasi tidak dapat radikal. (C44) BCC = Kanker sel basal SCC = Kanker sel skwarnosa 1. defek yang luas di muka 2. Melanoma maligna : Dacarbazine. Diagnosis 3. indurasi. imaging. Keratosis seborrhoicum 3. melphalan 2. Kemoterapi : 1. anemi. Penyakit : perdarahan. bleomycin : Minimal RS kelas-C : 1. nodus. mudah berdarah 2. Non bedah : Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi. nekrose kulit. tumbuh infiltratif. infeksi. cisplatin. tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman 3. Eksisi luas (pada BCC : tepi irisan ½ -1 cm.1. SCC 1-2 cm. cisplatin. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. kasus inoperabel atau pada basalioma yang kalau dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi sukar. methotrexate. Eritroplasia Querat Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. patologi M : klinis. Radiologi : X-foto. BCC dan SCC : 5-Flourouracil. Bedah : 1. Fisik : ada lesi di kulit berbentuk plague. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. Terapi : 1). Keluhan : andeng-andeng membesar. imaging. USG abdomen. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional Kanker kulit lainnya. 8. MRI lokal pada lesi 2. seroma. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang menginfiltrasi kulit 3. Kriteria diagnosis 4. destruktif atau progresif Ada pembesaran kelenjar limfe regional Diagnosis banding : 1. Patologi : biopsi insisi atau eksisi. Tumor jinak kulit 2. : C43 – C44 : KANKER KULIT : Melanoma maligna (C43) 1. infeksi. Keratoakantoma 4. tumor eksofitik atau ulkus yang berbau. patologi N : klinis. CT-scan. Leukoplakia 5. Posisi : ada lesi di kulit berbentuk plaque. memborok atau mudah berdarah 2. 6. Defek kulit ditutup dengan flap lokal atau transplantasi kulit Thierch 2. Keluhan : benjolan atau borok dikulit. gatel. CT-scan Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. X-foto toraks. ICD 2. 5. dan melanoma maligna 2-3 cm mengelilingi tumor). nodus. bila ada metastase b. Penyulit 32 .

alopesia. badan lemas. paliatif Epithelial 1. dsb. Radioterapi : mual. diarhoea. Masa pemulihan 15. nafsu makan turun 3). muntah. Metatypical carcinoma Melanosit 1. Patologi : : : : : : 17. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. badan lemas. Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. nafsu makan turun leukopeni. Otopsi 18. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 33 . Basal cell carcinoma 2. Stadium dini : baik 2. Adenocarcinoma 4. Stadium dini : bebas kanker 2. Dermatofibrosarcoma protuberan Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 1. diarhoea. Prognosis 19. Chemoterapi : mual. Tindak lanjut : : : 2).11. Hasil 16. Tenaga standar 13. Malignant melanoma Mesenchymal 1. Squamous cell carcinoma 3. Informed Consent 12. Stadium lanjut : dubius 3. muntah. Stadium sangat lanjut : Tidah sembuh. Lama perawatan 14.

pemeriksaan spesimen operasi Staging T : klinis. misalnya dengan CyVADIC Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyakit : perdarahan. kulit). Radiologi : X-foto lokal. ICD 2. sesak nafas Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-12 minggu atau cacat seumur hidup b. Tumor tumbuh progresif. Tenaga standar 13. Penyulit 11. 5. hematom. retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat bervariasi tergantung dari lokasinya. dinding tubuh. Non bedah 9. umumnya besar > 5 cm. Informed Consent 12. di kepala-leher. 7. menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya. Eksisi luas 2. dinding tubuh 1. tumor abdomen Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Radiologi : X-foto polos. Reseksi dindig toraks 3. USG abdomen. MRI Patologi : biopsi. imaging. imaging M : klinis. Bedah : Tumor di ekstrimitas 1. derajat diferensiasi sel) N : klinis. Eksisi dinding abdomen Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor Radioterapi : 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primer Kemoterapi. Amputasi 4. Tempat pelayanan 10. Disartikulasi Tumor di kepala. Lama perawatan 14. invasi / penekanan struktur vital. Eksisi kompartment 3. dapat superfisial atau dalam. Kriteria diagnosis 4. MRI). ada neovaskularisasi. CT-scan. CT-scan. 6. dan pada arteriografi tampak tumor hiper-vaskuler. : C49 : SARKOMA JARINGAN LUNAK : Keluhan : tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh progresif Fisik : Tumor subkutan di ekstrimitas. mengivasi jaringan disekitarnya (tulang. MRI tampak tumor berbatas tidak tegas. imaging (X-foto toraks. anemi. CT-scan. Diagnosis banding : Tumor jinak jaringan lunak.1. Diagnosis 3. leher. patologi Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan suatu tumor ganas. ada bagian tumor yang nekrosis. 8. patologi dari biopsi / spesimen operasi (jenishistologi. Masa pemulihan : : : : : : : 34 . Eksisi luas 2.

15. Otopsi 18. Fibrosarcoma 4. Rhabdomyosarcoma 7. Epitheloid sarcoma 9. Liposarcoma 5. Stadium dini : baik 2. Prognosis 19. Mesenchymoma 11. Stadium dini : bebas kanker 2. Hasil 16. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 35 . Leiomyosarcoma 8. Neurofibrosarkoma 3. paliasi : 1. Stadium lanut : DFS atau OS diperpanjang 3. Angiosarcoma 10. Tindak lanjut : 1. Synovial sarcoma 6. Malignant fibrous histiocytoma 2. Mesothelioma 12. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Patologi 17. Stadium lanjut : dubius 3. Lain-lain : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1.

cisplatin 9. CTscan. berat badan menurun. Keluhan : hematuria. Operasi : perdarahan infeksi 2). Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Penyakit : gagal ginjal. Kiste ginjal 5. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. hiperpireksi 2). imaging. imaging. hipercalcemia. Diagnosis banding : Batu pyelum. hipertensi erythro-cytosis. tumor di pinggang 2). patologi N : klinis. ± keluhan paraneoplastik seperti : anemia. alopesia. MRI angiografi. venacavografi 2. IVP : ada filling defek dari calices atau pyelum b). Radiologi : a). uric acid. BUN. eksplorasi laparotomi. patologi M : klinis. Non bedah : Radioterapi : pre atau pasca bedah atau radioterapi primer Kemoterapi : dengan FU. infeksi 2. Retrograde pyelografi : ada ekstensi tumor ke pelvis d). Chemoterapi : mual. Radiologi : IMP : deformitas dari calices. MRI : tumor ginjal 4). SGOT. 11. USG abdomen. terbatas atau meluas keluar ginjal c). badan lemas. retrograde pyelografi. Diagnosis 3. diarhoea. patologi 6.: C64 : KANKER GINJAL : Kanker ginjal pada anak-anak 1). nyeri di pinggang. Kriteria diagnosis 36 . eksplorasi laparotomi. Explorasi laparotomi : tumor dari ginjal Kanker ginjal pada orang dewasa 1). Tumor jinak ginjal. Terapi 1). eksplorasi laparotomi. Terapi : a. Radiologi : IVP. MRI : ada tumor di ginjal. muntah. diarhoea. tumor ginjal USG. Fisik : terdapat tumor di daerah ginjal 3). Fisik : Tumor di pinggang. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Laboratorium : darah. uni atau bilateral 3). CT-scan. Keluhan : hamaturia. Patologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. nafsu makan turun 3). ICD 2. USG / CT-scan. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Penyulit : 1. creatinin. imaging. derajat diferensiasi del) Staging T : klinis. badan lemas. urine. Laboratorium : hamatoria 4). SGPT 3. mitomycin. Radioterapi : mual. dsb. Bedah : Nefrektomi radikal ± thrombo-embolektomi ± Deseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. muntah. Informed Consent : Perlu 1. Angiografi : tumor hyopervasuler 4. doxorubucin. nafsu makan turun leukopeni. Chusingsindrom.

Stadium dini : bebas kanker 2. Stadium dini : baik 2. paliasi : Epithelial / Adenocarcinoma a). Teratoma : Perlu untuk :konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Prognosis 19. Papillary carc e). Tubular carc b). Granular cell carc c). Fibrosarcoma b). Leiomyosarcoma d). Hemangiosarcoma Complex mixed cells a). Hasil 16. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Clear cell carc (hypernephroma) f). Nephroblastoma (Wilm tumor) b). Patologi 17. Otopsi 18. Fibroushistiocytoma c).12. Renal cell carc d). Rhabdomomyosarcoma e). Mal. Carcinoid tumor Mesenchymal cell a). Masa pemulihan 15. Tenaga standar 13. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 37 . Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak : ± 7-14 hari : ± 12-24 minggu : 1. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Lama perawatan 14.

(hanya untuk tumor ganas) 6. Tumor ganas 2. Kriteria diagnosis : 1. Ginjal : kiste ginjal. Radiologi : 1). Buli-buli : kistografi atau kistokopi terlihat tumor kecil di buli-buli 4. Diagnosis 38 . ICD 2. terlihat tumor kecil di ginjal. Prognosis : Baik 19. Penyulit : 1. infeksi 2. Sitologi : urine 4. Keluhan : hematuria. Pyelum : IVP. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. endometriosis. Bedah : 1. BUN. Hasil : Keluhan dan tumor hilang 16. fibous polip. Otopsi : 18. glandular metaplasia. Laboratorium : darah. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi 13. Ginjal : USG. kistografi. kreatinine 2. Patologi : FNA. Diagnosis banding : 1. USG. squamous cell metaplasia. squamous cell papilloma 2. disuria 2. kistoskopi 3. squamous cell metaplasia 3). Non bedah : 9. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Tindak lanjut : - 1. Tumor jinak 1). adenoma 3). Pyelum : IVP terlihat filling defek di pyelum 4. TUR. infeksi 11. Ginjal : adenoma. Eksisi tumor 2. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Pielum : transitional cell metaplasia. biopsi 3). pieloskopi. Buli-buli : transitional cell metaplasia. spesimen operasi Staging : . Informed Consent : Perlu 12. Tumor non neopplasma 1). TUR b. Terapi : perdarahan. Terapi : a. mioma 2). fibroma. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Buli-buli : IVP. Ginjal : IVP. padat atau kisteus 3. Perawatan RS : Rawat inap kalau perlu. untuk diagnosis dan tindakan 8. Urolithiasis 3. Lama perawatan : ± 2-5 hari 14. urine. retrograde pyelografy 2).: D30 : TUMOR JINAK UROLOGI & TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI 3. Pielum : transitional cell papilloma. kiste 17. hamartoma 2). Penyakit : hematuria. sitologi. FNA. Infeksi 5. Buli-buli : transitional cell papilloma. hematoma.

struma adenomatosa 5. Patologi : Perlu 17. konsistensi keras.: C 73 : KARSINOMA TIROID : Benjolan di leher bagian depan. ICD 2. Pemeriksaan penunjang : FNAB X-foto leher (kalau perlu) Untuk staging : X-foto toraks. pembesaran kelenjar getah bening leher. gangguan menelan. trakheomalaise. Diagnosis banding : Tiroiditis kronis. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi FND dilakukan oleh dokter spesialis bedah 13. suara parau. Prognosis : Tergantung faktor prognostik Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm. ikut bergerak waktu menelan disertai tanda pembesaran yang cepat. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Kriteria diagnosis 39 . mobilitas terbatas. Informed Consent : Perlu 12. FNAB keganasan (+) 4. Substitusiterapi levotiroksin 9. kejang karena hipo-paratiroid. Penyulit : Sesak nafas. perdarahan 11. Perawatan RS : Rawat inap 8. kemoterapi bila ada indikasi. Hasil : Tumor terangkat secara onkologi / radikal 16. tipe diferensiasi baik. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. sesak nafas. Terapi : Total tiroidektomi / near / total tiroidektomi + FND bila metastase ke kgb leher / radiasi ekstera / interna (J-131). tidak ada ekstensi 1. Otopsi : Tidak perlu 18. Diagnosis 3. alkalifosfatase 6. Lama perawatan : ± 5 hari 14. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. USG abdomen. suara serak karena lesi rekuren.

4. obstipasi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. suara parau. Curiga ganas bila tumbuhnya cepat. Hasil : Struma (-) 16. Perawatan RS : Rawat inap bila ada indikasi operasi : Keganasan Hipertiroidi yang sudah teregulasi Gejala penekanan Keluhan kosmetik 8.: E 04. Hipotiroidi 11. E 06 : STRUMA : Benjolan / massa di trigonum koli di anterior sebelah bawah.Basedow ). macamnya tergantung proses patologis tiroid : M. Diagnosis banding : 5.Basedow : tiroidektomi subtotal Struma uninodosa : lobektomi subtotal Struma multinodosa : lobektomi / tiroidektomi subtotal (tergantung jumlah lobus yang terkena) Tiroiditis kronis : ismektomi 9. Hematoma Krisis tiroid (untuk M. sulit tidur. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik. tambah gemuk. sesak (+). disfagi (+). Pemeriksaan penunjang : Faal tiroid : T3. Bentuk bisa difus. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah kurus. benjolan keras. Rekuren. E 05. ICD 2. gelisah. Diagnosis 3. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. ikut bergerak ke atas bila penderita melakukan gerakan menelan. kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut 1. T4. mata sembab). Hipoparatiroidi. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. Kriteria diagnosis 40 . mudah capek. fixed. ngantuk. Lama perawatan : ± 2 hari 14. TSH Biopsi aspirsai jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga ganas BMR (pada saat rawat inap) 6. sering keringatan. Penyulit : Lesi N. jantung berdebar. Informed Consent : Perlu 12. Patologi : Perlu 17. Terapi : Operasi. ada pembesaran kgb leher. diare) atau gejala hipotiroidi (malas. uninoduler atau multi noduler. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13.

Terapi : Sesuai penyebab (radioterapi. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Prognosis : tergantung penyebab 1. kemoterapi. ICD 2. biopsi eksisional. Kriteria diagnosis 41 . Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. toksoplasma) CT-scan bila ada indikasi 6. Hasil : Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi 16. Penyulit : Tergantung penyebab 11. Patologi : Perlu 17. Perawatan RS : Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose 8. Diagnosis banding : Limfadenitis spesifik / non spesifik Limfoma maligna Metastase dari tempat lain 5.0 : PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & L : Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila : Pembesaran progresif Tanpa ada radang Ada tumor primer di tempat lain Tidak sembuh dengan antibiotika Benjolan teraba agak keras 4. Masa pemulihan : Tergantung penyebab 15. Pemeriksaan penunjang : FNAB. Lama perawatan : Tergantung penyebab 14. atau biopsi insisional Pemeriksaan darah lengkap Tumor marker bila ada fasilitas Pemeriksaan serologis (TB-DOT. Informed Consent : Perlu 12. pembedahan. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Diagnosa 3.: C 77. Otopsi : Tidak perlu 18. antibiotika) 9.

VII Fistel liur Sindroma Frey Hematoma Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Bila tumor fixed atau ada metastase kelenjar getah bening leher Dokter spesialis bedah onkologi ± 4-5 hari 2 minggu Tumor terangkat radikal Tumor ganas : daya tahan hidup 5 tahun tergantung stadiumnya. Pemeriksaan penunjang : 6. 3. CT-scan bila ada fasilitas X-foto toraks USG hepar Bone survey bila ada indikasi Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan Rawat inap Tumor operable : paratidektomi superticial periksa → potong beku Jinak : parotidektomi superficial Ganas : parotidektomi total Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Lesi N.stadium dini : baik stadium lanjut : jelek 42 . Prognosis : : : C 07 TUMOR PAROTIS Benjolan di regio parotis pre/infra/postaurikuler Adenoma parotis Karsinoma parotis Metastase kelenjar getah bening parotis Metastase karsinoma nasofaring Untuk keperluan staging karsinoma parotis : Bila tumor fixed : X-foto mandibula. Konsultasi 7. Tenaga standar : : 13.1. Lama perawatan 14.baik Tumor ganas . Otopsi 18. Tempat pelayanan 10. 2. Patologi 17. Penyulit : : 11. Terapi : : : 9. Perawatan RS 8. makin dini makin besar kemungkinan hidup 5 tahun Perlu Tidak perlu Tumor jinak . ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding : : : : 5. Hasil : : : 16. Informed Consent 12. Masa pemulihan 15. 4.

Informed Consent : Perlu 12. kadang ada fenomena bola pingpong. Kriteria diagnosis 43 . konsistensi keras. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. hematom. Lama perawatan : ± 12-14 hari 14. Penyulit : Perdarahan. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Diagnosis banding : Ossifying fibroma Kista odontogenik Giant cell tumor 5. gigi yang bersangkutan biasanya tak teratur 4. ICD 2. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. lesi n. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13.: D 16. tumbuh pelan (bertahun-tahun).hipoglosus & n. Pemeriksaan penunjang : Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik Maksila : X-foto Waters + Hap Adanya gambaran kista multiple / single 6. Prognosis : Baik 1. Lingualis 11. Perawatan RS : Rawat inap 8. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Diagnosis 3.5 : AMELOBLASTOMA : Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang) tak nyeri. Hasil : Tumor terangkat radikal 16. Terapi : Reseksi mengikutsertakan tulang sehat 1-2 cm dari batas lesi + rekonstruksi 9. fistel orokutan.

edema laring 11. rongga mulut. sering berlobi. Tanaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak 13. Informed Consent : Perlu 12. Otopsi : Tidak perlu 18. Diagnosis banding : Lipoma. Terapi : ekstirpasi 9. saluran nafas dan phagus) hematoma. Prognosis : Baik. bisa meluas ke wajah. tak nyeri tekan. Masa pemulihan : ± 14 hari 15.1 : HIGROMA KOLI : Benjolan di leher sejak lahhir / bayi. transiluminasi (+) 4. fimfangioma simpleks. Kriteria diagnosis 44 . kecuali bila sangat ekstensif 1. dinding tipis. Pemeriksaan penunjang : 6. membesar sesuai pertumbuhan anak. infeksi. Lama perawatan : ± 5-7 hari 14. ketiak atau mediastinum. Perawatan RS : Rawat inap 8. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. hemangioma. Penyulit : Lesi struktur vital (pemb. ICD 2. Diagnosis 3.: D 18. konsistensi kistik. Patologi : Perlu 17. Darah. Hasil : Benjolan terangkat sebersih mungkin 16. saraf. sebagian berbatas jelas. kista brankhiogenik 5. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.

: K 11.6 : RANULA : Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara lenjar liur sublingual 4. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Perdarahan Infeksi 11. Kriteria diagnosis 45 . Patologi : Tidak perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Terapi : Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste 9. Perawatan RS : Rawat inap untuk operasi 8. Diagnosis 3. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. ICD 2. Diagnosis banding : 5. Prognosis : Baik 1. Informed Consent : Perlu 12. kiste terdrainase 16. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Hasil : Muara kelenjar liur terbuka. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15.

8. Prognosis D 10. Informed Consent 12. 3. epulis Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 46 . Penyulit 11. 5.1. 6. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10.3 TUMOR JINAK RONGGA MULUT Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma. Patologi 17. Lama perawatan 14. 4. Masa pemulihan 15. Hasil 16. 9. Tanaga standar 13. Otopsi 18. 2. 7. papiloma.

7. 2. Penyulit 11. 9. Otopsi 18. Masa pemulihan 15. 4. 3. Informed Consent 12. 6. Hasil 16. Prognosis TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA & LEHER Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau dileher Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu dilakukan Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Kalau lokal anestesi bisa poliklinis Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 47 . 8.1. 5. Lama perawatan 14. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Tenaga standar 13. Patologi 17.

Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Terapi : Eksisi 9. Informed Consent : Perlu 12. Otopsi : Tidak perlu 18.: Q 18. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Penyulit : Hematom Infeksi Fistel 11. Kriteria diagnosis 48 . Patologi : Perlu 17. Prognosis : Baik 1. Hasil : Tumor terangkat 16. Diagnosis 3. Pemeriksaan penunjang : 6. Perawatan RS : Rawat inap 8. ICD 2. Diagnosis banding : Higroma Tiroid aberan 5.0 : KISTA BRANCHIOGENIK : Benjolan kistik didepan 1/3 atas m sternokleido mastrideus dileher akibat kelainan kongenital 4. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Konsultasi : Dokter spesialis terkait (bila diperlukan) 7.

hygiene mulut jelek. Diagnosis banding : Ulkus kronis benigna. k/p rekonstruksi 9. jelek 1. Prognosis : Stadium dini. chyloma. nekrosis. Terapi : Eksisi luas sampai 1 . fistula orokutan. seroma 11. Diagnosis 3. biopsi positif. Pemeriksaan penunjang : Biopsi Tumor < = 1 cm. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15.Penyulit : Infeksi. Hasil : Sembuh total untuk stadium I 16. biopsi insisional Untuk keperluan staging : Untuk mengetahui infiltrasi. 4. malnutrisi. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. gigi runcing.1. peminum alkohol. cenderung tumbuh cepat. dehisensi luka. Informed Consent : Perlu 12. Granuloma 5. Bisa disertai metastase pada kelenjar getah bening leher.: C 00 – C 06 : KANKER RONGGA MULUT : Lesi di rongga mulut berbentuk bungan kol/ulserasi/peninggian yang tak hilang setelah 4 minggu. ICD 2. bila tumor sangat dekat dengan tulang : X-foto mandibula AP + Eisler / panoramic serta X-foto maksila Waters + Hap Mengetahui metastase jauh : X-foto toraks. Perawatan RS : Rawat inap 8. baik Stadium lanjut. nasograstrik feeding 7 hari. Kriteria diagnosis 49 . eritroplakia. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. nginang. Kemungkinan ada faktor predisposisi seperti merokok. Otopsi : Tidak perlu 18. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. bisa disertai rasa tebal atau nyeri. Patologi : Perlu 17. biopsi eksisional 9dengan batas 1 cm keliling tumor) pada lokasi tertentu Tumor > 1 cm.5 cm diluar jaringan patologis. lesi prakanker berupa leukoplakia. flap. USG hepar dan bone survey bila ada indikasi 6. Lama perawatan : ± 10 hari 14.

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnostik 4. Diagnosis banding 5. Pemeriksan penunjang 6. 7. 8. 9. Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan

10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. Otopsi 18. Prognosis

: K 09.0 : KISTA ODONTOGENIK : Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, adanya ganggren radiks atau gigi yang tidak sembuh : Kista radikuler : X-foto mandibula AP / Eisler, atau panoramik X-foto maksila Waters / Hap : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi) : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai : Infeksi Hematoma : Perlu : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah gigi & mulut : ± 5 hari : ± 2 minggu : Kista terangkat bersih : Perlu : Tidak perlu : Baik

50

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: Q 89.2 : KISTA DUKTUS TIROGLOSUS : Benjolan di leher daerah midline setinggi kartilago hioid, batas jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita menelan dan menjulurkan lidah 4. Diagnosis banding : Struma pada istmus Limfadenopati Kista dermoid 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Operasi prosedur Sistrunk 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Fistel Residif 11. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ±3 hari 14. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Hasil : Benjolan terangkat bersih bersama salurannya 16. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik

Kepustakaan : 1. Sukardja IDG, Purnomo B, Tahalele P, Marnadi M, Murtejo U, (EDS) : STANDAR PELAYANAN PROFESI DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA. Edisi I. Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, 2002, Hal. 42-106. 2. Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW, (EDS) : SURGERY, Basic Science and Clinical Evidence. Springer-Berlag New York Inc. 2001, pp 1565-1881. 3. Feig BW, Berger DH, Fuhrman GM, (EDS) : THE M.D. ANDERSON SURGICAL ONCOLOGY HANDBOOK. Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Houston Texas, 2003. 4. Devita PT, Hellman S, Rosenberg SA, (EDS) : CANCER, Principles & Practice of Oncology. 6 Ed. Lippincott – William & Wilkins, 2001. 5. Ramli M, dkk. PROTOKOL PERABOI. BANDUNG 2003

51

KELAINAN BAWAAN (CONGENITAL ANOMALY) KELAINAN BAWAAN WAJAH NAMA PENYAKIT/DIAGNOSE SUMBING/SKISIS, FACIAL CLEFT, ANOMALI KRANIOFACIAL, ANOMALI DENTOFACIAL ICD Q 35, Q 36, Q37, Q75, K07 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan lahir berupa : 1. Celah pada bibir atas 2. Celah pada bibir dan gnatum atas 3. Celah pada bibir, gnatum dan langitan 4. Celah pada langitan saja. 5. Celah pada muka/wajah ( facial cleft), dibagi menurut klasifikasi Tessier 6. Disproporsi kranio-facial atau dento-facial dengan atau tanpa kraniosinostosis Klasifikasi: 1. Syndromic anomaly 2. Non-syndromic anomaly Diagnose banding Tidak ada Pemeriksaan penunjang Foto kepala AP & lateral, CT scan (3 dimensi) untuk sumbing muka Konsultasi Bila perlu : 1. Dokter Gigi : untuk kebersihan mulut dan pembuatan obturator 2. Dokter THT : - bila ada radang telinga tengah, - bila ada defisit pendengaran 3. Speech Therapist : untuk belajar bicara 4. Psikoloog Anak : - untuk pemeriksaan IQ, - untuk defisit kepribadian 5. Orthodontist : untuk perbaikan pertumbuhan gigi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk keperluan operasi berencana. Terapi Bedah Penutupan bibir/labioplasti pada usia 3 bulan keatas. Penutupan langitan/palatoplasti pada usia 15-24 bulan Perbaikan parut bibir operasi pertama pada usia 4-5 tahun Penyempitan faring/faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun keatas. Penambahan tulang(bone grafting) rahang pada usia 8 tahun keatas Perbaikan bentuk muka/maxillary advancement, kalau perlu, pada usia 15 tahun keatas. Bedah kraniofasial atau distraksi osteogenesis untuk anomali kraniofasial dan dentofacial

52

Nonbedah Speech therapy oleh Speech Therapist pada usia 4 tahun ke atas Perbaikan gigi oleh Ortodontist pada usia 9 tahun setelah penambahan tulang. Standar RS Tipe C untuk penutupan bibir/labioplasti, penutupan langitan/palatoplasti Tipe B dan A untuk: - Perbaikan parut bibir - penyempitan faring/faringoplasti - penambahan tulang (bone grafting) rahang - perbaikan bentuk muka/maxillary advancement - bedah kraniofasial Penyulit Untuk labiognatopalatoskisis dan palatoskisis : Karena penyakit : OMP Pendengaran kurang Maloklusi gigi Suara sengau, kata-kata tidak jelas Karena operasi : Parut tidak baik Fistula oronasal Untuk bedah kraniofasial: Gangguan penghiduan karena cedera lamina cribriformis Relaps pada distraksi osteogenesis Informed consent Diperlukan untuk tindakan operasi, operasi dilakukan bertahap, ketepatan waktu operasi sangat mempengaruhi hasil akhir penanganan Masa pemulihan Lama perawatan 2-3 hari : labioplasti (tidak selalu diperlukan rawat inap) 2-5 hari : palatoplasti 5 hari : faringoplasti 5 hari : bone grafting rahang 7 hari : maxillary advancement 10 hari : bedah kraniofasial Tenaga yang berkompeten Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua tindakan operatif. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk sumbing bibir atau unilateral komplit bila tidak ada tenaga Bedah Plastik. Speech therapist untuk terapi bicara Ortodontist untuk perbaikan gigi.

53

Plastic Surgery (8 vol) . Philadelphia. St Louis. W. Perbaikan proporsi estetik kepala. Hughlett L. Aston (Edit). Smith. Montreal. Tokyo. gigi geligi tumbuh bagus.Surgical Correction of Dentofacial Deformities. Fourth Edition.Saunders Company Hacourt Brace Jovaanovich Inc. Tokyo. 54 . Sherrell J. Toronto. 3.B. Philadelphia. Grabb and Smith's Plastic Surgery. M. suara sengau. PA Tak perlu Autopsi/risalah rapat Tak perlu. London.D. bentuk muka normal. Toronto. London. suara normal. 1980.D.. Atas of Craniomaxillofacial Surgery. London Toronto. W. Pasien kontrol teratur Kepustakaan : 1.Hasil Normal Bentuk bibir dan hidung simetris. Jackson IT. Januz Bardach. Sydney. oklusi baik Kurang normal Parut kasar. Boston/Toronto/London 2. Mosby Company. 5. hasil operasi memuaskan. McCarthy. 1990 4. 1990. asimetri bibir dan lubang hidung. WB Saunders Company.Saunders Company. Salyer KE. Brwon and Company. Whitaker LA.wajah. Prognosis Baik Tindak lanjut Penderita keluar dengan keadaan klinis baik. . Little. 1991.B.D. Sydney. Multidisciplinary Management of Cleft Lip and Palate . gigi tak beraturan. Montreal. Bell WH. Joseph G. bentuk muka bagian tengah lebih ke dalam. London. . White RP. Munro IR. Ph. James W. M. 1982.. Morris. parut operasi halus. Philaadelphia. . Profit WR.Toronto.

0.1. Konsultasi Spesialis THT bila ada defisit pendengaran. Pananaman rangka tulang rawan. Standar RS Tipe B ke atas. Penyulit Infeksi. Q16.tak ada Pemeriksaau penunjang . Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 4-7 hari untuk tahap I 7 hari untuk tahap II Bergantung pada tindakan untuk tahap III Masa pemulihan Berkisar antara 2-3 rninggu untuk tahap I 2 minggu untuk tahap II 55 . Terapi Rekonstruksi telinga dapat berupa: 1. Operasi pemasangan tissue expander.Microtia ICD Q16. Q17 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan pada daun telinga berupa telinga kurang terbentuk/kecil Diagnosis banding . Menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada operasi sebelumnya. Operasi satu tahap (sandwich technique) 4.Ro foto untuk melihat pembentukan organ telinga tengah bila perlu. dilanjutkan operasi berikutnya penanaman rangka tulang rawan. kematian flap. 3. Perawatan RS Rawat jalan kecuali operasi. Tiga-empat bulan setelah operasi I dibentuk telinga dengan pengangkatan tulang rawan yang sudah ditanam pada operasi I. 2.

).C.S.R.S. Aston (Edit). Hon.D. F.. Joseph G. PA . Churchill Livingstone. McCarthy. . 56 . Philaadelphia. 1991. Smith. Emergency Plastic Surgery .Luaran Sembuh dengan telinga bentuknya mendekati normal.tak diperlukan.R. 1980. London Toronto. F. Little.C. Tokyo. James W. M.B. 1990. Grabb and Smith's Plastic Surgery.). Brwon and Company. Fourth Edition. Brown and Company. F..Saunders Company. Ch. W. 4. 1991. Plastic Surgery (8 vol) . Ian A.B. Kepustakaan : 1. McGregor M. Montreal. M. Sherrell J. Boston/Toronto/London. Little.C. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.S. Edinburgh london and New York.A.(Eng. 2. (Glasg. 3. Boston/Toronto/London.. Richard J. Greco (Edit) . Sydney.tak diperlukan Autopsi/ risalah rapat .

Masa pemulihan Batu urethra Striktura urethra Sisa korde Untuk masing-masing tahap selama 2 minggu 57 . daerah perineum. Kriteria diagnosis Cacat bawaan berupa muara urethra terletak lebih proksimal dari biasanya. ada atau tidak ada korde. Konsultasi Bagian Kesehatan Anak untuk pemeriksaan kromosum seks. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk tindakan operasi Terapi Tahap I eksisi korde Tahap II berjarak paling sedikit 6 bulan setelah tahap I. Standar RS Tipe B keatas Penyulit Fistula urethra Divertikel urethra Stenosis meatus Informed consent Perlu untuk opcrasi Standar tenaga I)okter Spesialis Bedah Plastik Dokter spesialis Bedah Urologi Dokter Spesialis Bedah Anak Lama Perawatan Masing-masing tahap memerlukan perawatan 7 hari. Penis bengkok kearah ventral karena ada korde. Pemeriksaan penunjang Kromosum seks bila ada kesulitan identifikasi jenis kelamin. tergantung metoda operasinya. rekonstruksi urethra. Pemeriksaan fisik Meatus urethra eksterna terletak lebih proksimal dari letak normal : bisa dibatang penis.KELAINAN BAWAAN GENETALIA Nama Penyakit/Diagnosis Hipospadi ICD Q54 Difinisi Kelainan bawaan berupa meatus uretra eksterna terdapat di bagian ventral dan letaknya lebih proksimal dari letak yang normal. bilq perlu. daerah skrotum.

McGregor M.C. Aston (Edit). Boston/Toronto/London 2. M. Little. London Toronto. F.D. PA tak perlu Autopsi/risalah rapat tak perlu Kepustakaan : 1. Churchill Livingstone.S. 4. Ian A. (Glasg. Emergency Plastic Surgery . Brown and Company...A.R. Greco (Edit) . 1990.Saunders Company.S. Tokyo. W. 1980.C. Brwon and Company. Boston/Toronto/London 58 .). James W.B.). Hon. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Little. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Sherrell J. Edinburgh london and New York. Fourth Edition. Ch. F. M. Montreal..S.(Eng. 1991. Smith. 1991. Philaadelphia.Luaran Sembuh dengan penis lurus dengan meatus uretra eksterna letaknya di ujung penis. Joseph G. F. 3. McCarthy. Plastic Surgery (8 vol) . .B.C. Sydney. Richard J.R.

Fraktur regio sendi temporomandibula 8. septum nasi. Fraktur maksila 3.Teraba diskontinuitas tulang Diagnose banding .Perdarahan lewat lubang hidung dan mulut. Dislokasi sendi TMJ. Fraktur hidung 5.Adanya deformitas wajah. Dokter Spesialis Saraf (untuk cedera kepala). 59 . fraktur Processus alveolaris 7.TRAUMA Trauma Kranio-maksilo-facial (Fraktur tulang wajah) ICD SO2 (Fracture of skull and facial bone) ICD SO3 ( Dislokasi. atap orbita 9. Fraktur sinus frontalis /nasofrontal 6. Persiapan operasi. asimetri . distopia .Gangguan pergerakan bola mata. Water`s photo/Reverse Water`s. Foto panoramic. Fraktur dasar orbita. diplopia. Fraktur zigoma 4. sprain & strain ligament dan sendi) Patah tulang muka.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen jenis dan proyeksi bergantung pada keperluan (Foto tulang muka AP & lateral.Untuk tiga jenis yang pertama bisa ditemukan maloklusi . Dokter Spesialis Mata bila dengan cedera bola mata. Prosedur lengkap Kriteria diagnosis Anamnesis Terdapat riwayat trauma pada tulang muka. hematome atau edema pada tempat benturan .Deviasi hidung atau septum nasi . foto TM joint) Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Saraf. Fraktur mandibula 2. Perawatan RS Rawat inap: Bila memberikan gangguan saluran napas.Gangguan membuka dan menutup rahang bawah . Pemeriksaan . dibagi menjadi beberapa jenis fraktur : 1. salah satu hidung terasa tersumbat.

B. McCarthy. Sydney. Sherrell J. C Penyulit 1. 1991. normal. . Luaran Sembuh. Smith. PA Tidak ada Autopsi/ risalah rapat Tidak ada. Little. 60 . Joseph G. Infeksi 3. B. Kepustakaan : 1. Tokyo. Gangguan bentuk atau fungsi 2. Aston (Edit). Montreal. Informed consent Diperlukan tertulis Standar tenaga Personil unit gawat darurat pada pertolongan pertama Dokter Spesialis Bedah Umum untuk fraktur mandibula simple dengan luka terbuka menggunakan fiksasi non rigid Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 2 sampai 20 hari. Operatif Dilakukan apabila keadaan intrakranial sudah stabil. 1990. Philaadelphia. Boston/Toronto/London 2. London Toronto. Fourth Edition. Untuk fraktur lainnya 2 rninggu. Standar RS Tipe A. Sembuh dengan deformitas/cacat fungsi. M.Terapi Konservatif Bila tidak memberikan gangguan fungsi maupun bentuk dan fraktur dianggap cukup stabil. dan trauma berat lainnya sudah diatasi. Plastic Surgery (8 vol) . James W. Brwon and Company. Pertimbangan estetik dan fungsional harus diberikan dan dijelaskan sebaik-baiknya kepada pasien. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Kematian bila ada cedera kepala berat.Saunders Company.D. W. bervariasi bergantung pada jenis berat fraktur Masa pemulihan Untuk 3 fraktur pertama 8 minggu atau lebih.

. M.3. .D. Milan.A.D. Philadelphia. Atlas of Craniomaxillofacial Surgery . Montreal. Boston/Toronto/London 5. 1987. 13. Hon. London.). Della Rocca. Bradley N. Paul Bramley (Edit) . D.. London. London.B. 1990 61 . Kaban.(Eng.S..C.R. Norman. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery . Churchill Livingstone.S. Ian T. Sydney. D. Montreal. Melbourne. Tokyo.J. Edinburgh.C.C.. Churchill Livingstone..C. Masson publishing USA. Greco (Edit) .D.B.A.R. Patrick Derome .. 1990. Sydney. Paul Tessier.B. London.C.M.. Francois Hervouet. London. The C. Salyer. Whitaker. B. New York. Munro. W. F. Craniomaxillofacial Trauma .. Richard J. F. M. Madrid. Michel Lekieffre. Jackson. Sherman. Wolfe Medical Publications Ltd. F.R. Ch.S. Tokyo.. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.. Rio de Janeiro.S.. Ian A.FACS. London.©. London. Toronto. John E.D. Edinburgh london and New York 4. New York and Tokyo. 1990.. Paris.D. Hong Kong. Simpson . Brown and Company.A. Leonard B. F. New York.. 1980. Edinbergh.D.. Surgery of Facial Bone Fractures .S. W. 12.(Edit) .S. . M. Barcelona. Linton A. F. Little. Prentice-Hall International Inc.Saunders Company. Plastic Surgery of the Orbit and Eyelids . McGregor M.B. Heidelberg.D.. F. Kenneth E. David & D..V. Philadelphis.Saunders Company. 7. Inc. Foster.A. Melbourne. 1995 10.). Ian R.. 1982. 1991. Robert C. Toronto.D. M. M. .S.S. M.S. F. New york. Lemke.R. Marcel Woillez.D.D. Craig A. A Textbook and Colour Atlas of The Temporomandibular Joint . Emergency Plastic Surgery . 1992. Louis. Paris. Mexico City. John E. 8. M. Springer-Verlag Berlin. Bernd Spiessl .A. M.C. FACS. 1981 9.S.S. F.R.. Mosby Company.B. Jacques Rougier.. David A. D. D.C. Tokyo. F. Atlas of Oral and Maxillofacial Surgery . 6. A Manual of AO/ASIF Principles .. 1989. Toronto. Surgery of the Eyelids & Orbit an Anatomical Approach . 11. Keith.C. deB.D.S... Internal Fixation of the Mandible. MD. . Churchill Livingstone. M.M.C. (Glasg. St.

tak ada Pemeriksaan penunjang .S61) Avulsi kulit Kritcria diagnosis terlepasnya kulit dari dasar/kulit sekitarnya. SO1.Tipe A atau B.tak ada Konsultasi . Informed consent Diperlukan tertulis Lama perawatan 2 rninggu atau lebih Lama pemulihan 4 rninggu sampai 1-2 tahun tergantung faktor-faktor yang menyertainya.tak diperlukan 62 . Penjahitan situasi tanpa tegangan sisa kulit yang masih vital. .S57.tak ada Perawatan RS . Terapi Penyulit Penilaian vitalitas kulit yang terlepas dan pembuangan kulit yang ternyata mati. Hanya pencucian luka tidak dijahit.S50. Luaran PA Sembuh baik Sembuh dengan cacat. S60. Skin graft (tandur kulit) pada luka terbuka yang tersisa. S41. sebagian besar atau total.SO9) Crush injury kepala dan muka (SO7) Cedera kulit dan jaringan lunak ekstremitas (S40.Cedera kulit dan jaringan lunak Cedera superfisial dan luka terbuka daerah kepala dan wajah (ICD SO0.delayed STSG Drain untuk closed avulsion /degloving Kematian sebagian atau seluruh kulit yang terangkat Infeksi Parut yang jelek.bisa tanpa luka (closed avulsion /degloving ).bisa dengan luka (open avulsion /degloving) Diagnosis banding .S51.

Saunders Company. Brwon and Company. Fourth Edition.. Ian A. 1991. 1980. Ch. Sydney.S.A. McCarthy. Sherrell J.S. (Glasg. 1991. F. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Emergency Plastic Surgery . W. . Philaadelphia. Richard J. Greco (Edit) . Joseph G. Hon. Aston (Edit). London. Churchill Livingstone. 1979 o o o o 63 . Little.S.V.B.). louis. M. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.C.. Toronto. London Toronto. Plastic Surgery (8 vol) .B.R.C. Boston/Toronto/London Stephen J.Autopsi/risalah rapat .. The C. Tokyo.).tak diperlukan Kepustakaan : o James W. McGregor M. Smith. F.D. 1990. F. Mathes.R.(Eng. Mosby Company.C. Brown and Company. St. Little. Boston/Toronto/London. M. Clinical Atlas Of Muscle And Musculocutaneous Flaps . Edinburgh london and New York. Foad Nahai . Montreal.

Operasi replantasi dengan rnikroskop + instrurnen Bedah mikro. Telinga. Diagnosis banding .2 ICD S48. hidung.amputasi partial. Terapi Amputasi dirawat sebagal berikut: Masukkan kedalarn kantong plastik bersih (tanpa cairan) Kantong tersebut ditutup rapat lalu dirnasukkan ke kantong kedua berisi air biasa (2/3 bagian) + potongan es (1/3 bagian).tak diperlukan Perawatan RS Rawat inap segera untuk persiapan operasi. 64 . Sebaiknya tindakan ini dilakukan segera di tempat kejadian.Laboratorium . S58 ICD S67. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik. Vulva) dan ekstremitas ICD S08 ICD S38.Radiologis Konsultasi . Standar RS: Tipe A Penyulit Perdarahan Trombus Infeksi Kegagalan replantasi akibat thrombus. Pemeriksaan penunjang .Bedah mikro dan bedah tangan Diagnosis Amputasi Organ (Avulsi kulit kepala. penis. S68 Kriteria diagnosis Terpisahnya sama sekali bagian atau ekstremitas dari tubuh tersebut Clean cut (amputasi secara tajam) atau bukan.

. Smith. F.R. 4.).Mexico City. 1990. 65 . (Glasg. Edinburgh london and New York. 1991. Sherrell J. M. London Toronto.London. Little. F. M.A.B.tak diperlukan Kepustakaan : 1. Boston/Toronto/London 5.C.(Eng. Grabb and Smith's Plastic Surgery.C.S. Hon.Toronto..Philaxdelphia. Ch. Fourth Edition.Lama perawatan 10 hari sampai 1 bulan Masa pemulihan 6 minggu sampai setahun. Boston/Toronto/London.. Atlas of Hand Surgery volume 2 1984 W. Philaadelphia. James W. Little. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. McCarthy. Sembuh kurang sempurna Gagal. Brwon and Company. 3.D. Ian A.S. PA . F.Saunders Company. Joseph G. McGregor M. Plastic Surgery (8 vol) . W.tak diperlukan Autopsi/risalab rapat .B. Richard J. Tokyo. Aston (Edit). Montreal.B.R.).Tokyo. 1991. Robert A. 2.C.Saunders Company.Chase .. Greco (Edit) . Brown and Company.S. 1980. Luaran Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik. Sydney. Churchill Livingstone. Emergency Plastic Surgery .

Luka bakar listrik.kaki. panas. Luka bakar daerah wajah. bila dalam kerusakan pada seluruh dermis III: kerusakan lebih dalarn dari dermis (sudah mengenai subkutis) Dalam penilaian derajat I tidak diperhitungkan. 3. T26-T35 Kriteria diagnosis Anamnesis Ada riwayat trauma bakar karena api. Luas luka bakar dalam %.Combustio /Burn Injury/ Luka Bakar ICD T20-T25. cedera inhalasi dan cedera penyerta 6. untuk kemudahan menggunakan rumus 9. 15% pada dewasa. Escharotomy untuk daerah dada dan extrimitas pada eskar yang konstriktif 66 .tak ada Pemeriksaan penunjang tak ada Konsultasi Disiplin ilmu lain sesuai dengan penyakit yang menyertai atau komplikasi yang timbul. Penyakit premorbid Diagnosis banding . 5. Luka bakar disertai trauma berat lain: inhalasi dan sebagainya.retardasi mental Penderita tidak mampu merawat dirinya sendiri. Terapi Didahulukan penanggulangan terhadap gangguan jalan nafas dan sirkulasi Perawatan Intensif Luka Bakar Perkiraan jumlah dan pemberian cairan dengan menggunakan rumus Baxter: Hari I diperkirakan memerlukan: berat badan dalam kg x % luas luka bakar x 4 cc ringer laktat. radiasi. Pemeriksaan 1.tangan . Derajat III > 2%. 4.perineal/genital Disertai trauma penyerta lain atau penyakit sistemik berat lain. Derajat kedalaman: I: hanya eritem II: bila superficial kerusakan sampai sebagian dermis. listrik. Komplikasi penyerta seperti syok hipovolemik. Hari berikutnya pemberian cairan hipertonik. kimia. Lokasi luka bakar. Perawatan RS Rawat inap untuk : Luka bakar derajat II / III lebih dan 10 % pada anak-anak.

Kematian. dengan cedera inhalasi. 67 . Infeksi pada kulit. Kelebihan atau kekurangan cairan maupun elektrolit. Bila penyebab adalah bahan kimia. Standar RS Tipe B dan A untuk yang berat. perlu dibilas secara tuntas dengan air segera pada jam-jam permulaan. saluran kemih. 9. Gangguan saluran napas Gangguan sirkulasi bila berlanjut dapat rnenyebabkan kegagalan organ multipel. Ulkus stres. Derajat II. tidak dapat menggerakkan sendi-sendi. 7. mungkin 2 tahun atau lebih bergantung pada parut yang terjadi. 4. Informed Consent: Diperlukan Standar tenaga Dokter Umum untuk luka bakar rigan. Fisioterapi 8. untuk jangka panjang Deformitas penampakan yang hebat. Perawatan seluruh pasien di Burn Unit bila fasilitasnya sudah tersedia Penyulit 1. saluran napas. 5. Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Parut hipertrofi dan kontraktur. Diet kalori dan protein tinggi. Dokter Spesialis Bedah yang berkecimpung pada luka bakar ( Burn Surgeon) Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua luka bakar. Eksisi tangential dini dan skin grafting setelah pasien stabil. Sukrafat untuk protekor mukosa lambung. Masa pemulihan Sangat bervariasi. superfisial obat topikal untuk luka 2. 6. Dokter Spesialis Anestesi. Dirawat sampai luka lebih kecil dari indikasi perawatan. obat topikal yang dapat menembus skar (silversulfadiazin) 3. 3.Terapi pada luka: 1. selanjutnya berdasarkan hasil kultur 4. 5. 2. Paramedis yang berkecimpung pada perawatan luka bakar Lama perawatan Sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan luas luka. Antibiotika (bila luka kotor) ada infeksi sistemik.nutrisi enteral dini 7. 6. 3 x berturut-turut. Toksoid 1 cc untuk tiap 2 mg. Luaran Sembuh dengan kecacatan warna kulit saja sampai kecacatan berat. Derajat II dalam Derajat III. ATS diberikan pada semua yang belum pemah mendapat toksoid.

. Philadelphia.Moncrief. . Wellington. DA . Kepustakaan : 1.R. OBE.C. Fourth Edition. FACS. W. ChM. 1979. London. FACS. MB. London Toronto. LRCP. FRCS.. 1987.).. Sydney. Little. VRD. 1980. MS.B.B..A. 2. Ch. Curtis P. MD. Edinburgh london and New York. Aston (Edit). Churchill Livingstone. Toronto. Boston/Toronto/London 4.R.Saunders Company. F. Barclay. Little. Richard J.. FRCS. Ian A. 1991. FRCS(Ed) and John A. Joseph G..Artz MD. FACS.PA tak diperlukan Autopsi/risalah rapat mungkin diperlukan bila terjadi kematian. McCarthy.D.JR. F. Muir. Burn and Their Treatment .D. Settle.S.Saunders Company.Pruitt. Singapore. Third Edition . MB. W. 68 . T.. M. Smith. McGregor M. I. MRCS. John A. (Glasg. MBE. 5. Mphil. Brown and Company.D. Toronto. Butterworths. Sherrell J. BURN A Team Approach . Durban. Hon. Montreal. Brwon and Company.S. Philaadelphia. M. 6.C.C. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. F..S. Sydney. FRCS(Ed).. Greco (Edit) .F. 1991.(Eng. Tokyo.L.. Plastic Surgery (8 vol) . James W. London. Boston. Emergency Plastic Surgery .K.B.). 1990 3. Grabb and Smith's Plastic Surgery. M. Basil A. Boston/Toronto/London.

tidak ada Pemeriksaan penunjang bila diperlukan: Laboratorium Radiologi dan lain-lain KonsuItasi Dokter Spesialis yang dianggap perlu. Perawatan RS Pasca operasi. Sernua keluhan yang pada dasarnya ingin mengubah penampilan kearah yang lebih baik/ harmonis. Diagnosis banding . Y98 Semua masalah mengenai estetika yang bisa ditolong dengan pembedahan termasuk diantaranya : Estetika untuk cacat bawaan Estetika untuk cacat yang didapat Estetika untuk proses ketuaan Estetika untuk masalah psikososial . tidak selalu perlu rawat inap. dll. Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Penyulit Seperti halnya pembedahan umumnya dan hal khusus misal parut berlebih Masa pernulihan: bervariasi 69 . Z42.BEDAH PLASTIK ESTETIK/KOSMETIK ICD Z41. Kriteria diagnosis Semua keluhan yang menyangkut masalah penampilan. Terapi Operatif Mengubah penampilan pasien dengan menambah-mengurangi-menggeser jaringan yang diperlukan. Estetika lain yang tidak bisa dipisahkan dari bedah plastik rekonstruksi. Z44. misalnya : Rhinoplasti Blepharoplasti Mentoplasti Mammoplasti Lipodistrofi.

Guide to Dental Problems for Physicians and Surgeons . 15. (Glasg. Color Atlas of Aesthetic Surgery of The Abdomen : Thieme Medical Publishers. London. Montreal. Aston (Edit). 8.Informed consent Perlu benar dijelaskan sebelum dilakukan operasi bahwa hasil yang dicapai adalah sejauh kemampuan-pengalaman dokter. Basil A. 3. Sydney. M. 2. 9. New York.. London.. Philadelphia. Second Edition . 17. Montreal. Philadelphia.R. Charles M.B. Little.. Curtis P. W. Sherrell J. Cranio-Facial Deformities. Saunders Company. Australian Cranio-Maxillo-Facial Foundation.B.T. 16. Smith.).S. Sydney. Calhoun..A. Paris. McGregor M. James Roller . Tokyo. 1994. Brown and Company. Karen H. T. Brown and Company. Williams & Wilkins. Tokyo. Sydney. David. Inc. Luiz S. U. Hong Kong.C. Manual of Technique . Fernando Ortiz-Monasterio. Surgery Of The Lip . Greco (Edit) . 1994.C.A. 1988. Plastic Surgery 1992 . 1994. W. Deep Face-Lifting Techniques . 1996. Montgomery . Kepustakaan : 1..G. FACS. W. Brwon and Company. Toronto. Tokyo. Psillakis. 1992. Boston/Toronto/London. New York.J. London. Ian A. Inc. F. Barcelona. New York. International Congress Series 935. Springer-Verlag. John Q Owsley. Adelaide. Tokyo. Cooter . Georg Thieme Verlag. Tokyo. M. W. Stiernberg ..D.. Hon.D. Philadelphia.. 4. Boston/Toronto/London. Hinderer (Edit) . 7. London Toronto. Plastic Surgery (8 vol) . Saunders Company. Thieme Medical Publishers. Toronto. Erdulfo Appiani. Gregory P. John Conley Carl Patow . Boston/Toronto/London.Moncrief. BURN A Team Approach . McCarthy.).B. 1990. 1987. Philadelphia. Hetter. Lewis. 1991. Regan Thomas. FACS. Richard J. Saunders Company. Lipoplasty The Theory and Practice of Blunt Suction Lipectomy . Grabb and Smith's Plastic Surgery. Hong Kong.. Arndt. London. London. M. M.. Volume 1 : Lectures and Panels . Sydney. Budapest.. J. 70 . Berlin. 1980. Marco Gasparotti. . Edinburgh london and New York.B. Joseph G. Sydney. Churchill Livingstone. James W..Saunders Company. . Aesthetic Facial Surgery .S. Philaadelphia. Jorge M. Baltimore. Le Boit. Rhinoplasty . F.D. New York. Superficial Liposculpture. 11. Fourth Edition.C. Little. 1992. 1989. W.S. Thaller. 6. 13. 18. Toronto. Cutaneous Facial Surgery .D.C. Montreal. 1990. Toronto. New York. Ch. Rafael de la Plaza . William W. F. Thieme Medical Publishers.B. Stuttgart. 12.S. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. R. Wintroub : Atlas of Cutaneous Surgery . An Introductory Guide . Thieme Medical Publishers.JR.R. Thieme Medical Publisher. Psillakis (Edit) . Seth R.D.B. 1993. 1992. F. Inc.. Toledo . M. New York. Jorge M. Carson M. 1979.. 1991. D. Henriksson. 14. . Montreal. (Edit). FACS. 5. Excerpta Medica. Robinson. 10. ainc. Emergency Plastic Surgery .(Eng. 1991. Inc.Pruitt. MD. London.Saunders Company. Flaps in Head and Neck Surgery . M. Little. Amsterdam-London-New YorkTokyo. New York. Luaran Penampilan pasien setelah operasi plastik tambah baik dan terdapat peningkatan kepercayaan dirinya.Artz MD. John A. Heidelberg.D.

Warren H. Berlin.S. 1996. Inc. 20. St. Louis. New Concepts in Maxillofacial Bone Surgery : Springer-Verlag. Green. Bernd Spiessl (Edit) . Marwali Harahap.. U.19. Missouri.. Heidelberg. New York.D. (Edit) . M. 71 . 1985.A. Skin Surgery .

Luaran Sembuh normal. tak ada gangguan gerakan. PA .B Penyulit Nekrosis flap/graft.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi. Masa pemulihan 3 minggu atau lebih tergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya. Masih tersisa sedikit akibat kontraktur. Diagnosis banding . Informed consent Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedali Plastik Lama perawatan 7-10 hari.GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA Kontraktur ICD N 940 S/D N 949 Kriteria diagnosis Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses kontraksi pada penyembuhan luka.tak diperlukan 72 .tak ada Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Release kontraktur dan graf/flap. Konsultasi . Standar RS TipeA .

R. . Brown and Company. Joseph G. Emergency Plastic Surgery .S. Boston/Toronto/London. Plastic Surgery (8 vol) .S. Smith. Churchill Livingstone.D.B.Saunders Company. Philaadelphia.. McCarthy.C.. M. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Fourth Edition.S. Boston/Toronto/London. Greco (Edit) . Edinburgh london and New York. Hon. Tokyo. 4.C. (Glasg. F. 1991.. Grabb and Smith's Plastic Surgery.A. Little. Little. 1990. McGregor M. Montreal. Kepustakaan : 1. Brwon and Company. Ch.). W. Richard J. F. Sydney.tak diperlukan. 2. London Toronto. Aston (Edit). Sherrell J. M. 3. F. James W. Ian A. 1991.Autopsi/ risalah rapat .B. 1980. 73 .).C.R.(Eng.

Dokter Spesialis Radioterapi untuk radiasi. Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang. 74 .Keloid dan parut hipertrofik ICD L90. Dokter Umum untuk suntikan kortikosteroid. sakit) berkepanjangan. Penyulit Karena penyakit Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian. Standar RS Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid. Balut penekan Bedah Eksisi kalau perlu full thickness skin graft. dilanjutkan dengan Radiasi atau suntikan kostikosteroid pascaeksisi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Farmakologis Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal. Karena operasi Residif Informed consent Diper1ukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik.5. L91 Kriteria diagnosis Keloid: parut yang menonjol menyebuk ke kuilt yang sehat jauh diluar trauma dengan tanda-tanda inflamasi (tambah besar gatal. Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi. Parut hipertrofik: bila parut yang menonjol tidak melebihi batas luka awal Diagnosis banding Fibrosarkoma Pemeriksaan penunj ang Tidak ada Konsultasi Dokter Spesialis Patalogi Anatomi bila perlu.

Ch. Greco (Edit) .S. 1980. Churchill Livingstone.C. F. 1991.Bila ada keraguan dengan sarkoma Autopsi/risalah rapat Tidak diperlukan.C.R.. 1991. Emergency Plastic Surgery . M.Lama perawatan 1 hari – 2 minggu.B. Brwon and Company. Joseph G. 2.).Saunders Company. Sydney. W. F. Smith. London Toronto. 3. McGregor M. F. 1990. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Little..(Eng.R.B.S.D. Ian A. Sherrell J. Tokyo. Kepustakaan : 1. Montreal. Boston/Toronto/London. Philaadelphia. Plastic Surgery (8 vol) .S. 75 . Masa pemulihan Sangat bervariasi. Little. Richard J.A. Hon. (Glasg. Edinburgh london and New York. Fourth Edition. Luaran Sembuh dengan estetika baik Residif Depigmentasi akibat radiasi PA . 4. Brown and Company. McCarthy. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.C.. M. Boston/Toronto/London. . Aston (Edit).). James W.

Bedah Eksisi. 3 dan 4. Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi. 3 dan 4. 4. 2. Campuran 1 dan 3 Diagnosis banding Fistula A-V Pemeriksaan penunjang kalau perlu arteriografi. ada sejak lahir atau timbul dekat-dekat kelahiran. stasioner. kalau perlu skin graft untuk 1. timbul setelah lahir. rata (bisa menimbul setelah dewasa). Hemangioma kapiler simpleks/jenis strawberry Hemangioma kapiler jenis "port wine stain" atau nevus flamus Hemangioma kavernosa Hemangioma campuran l dan 3 Kriteria diagnosis 1. Laser untuk 1. bila perlu Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi Terapi Farmakologis Suntikan obat-obat sklerosing untuk 1. 2. Nonbedah Observasi atau ditambah perban penekan untuk 1. 3. tak sakit 2. Kortikosteroid untuk 1.4. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir.TUMOR KULIT DAN JARINGAN LUNAK Hemangioma ICD D18 Dibagi menjadi: 1. Tattoage untuk 2. Cacat berupa bercak merah pada kulit. tidak sakit. Embolisasi (kalau perlu) baru eksisi untuk 3 dan 4. 76 .2. tumbuh progresit. Standar RS. 3. 3 dan 4. Tipe A untuk embolisasi dan laser. kebiruan. Benjolan pada kulit atau subkutis. eksisi dan perban penekan. sedikit menimbul. Tipe C untuk suntikan sklerosing. kortikosteroid. dapat ditekan kempes. 4.

Dysplastic Naevi:lesi berpigmen.Penyulit Karena penyakit Perdarahan pada 1 . Masih tersisa. Nevus Ota: lesi berwarna biru kehijauan. Junctional naevi: sifatnya rata/tidak menimbul. perlahan menebal atau melebar. Estetik jelek. Compound naevi: tumbuh perlahan. Karena operasi Perdarahan Residif Kelainanjantung pada 3 dan 4. Cacat berat pada daerah yang terkena 3 dan 4. Pigmented lesion/Melanocytic naevi ICD D22 a. umumnya dengan multiple nevi. irregular. lebih tebal. lokasi tumor pada dermis b. warna kurang gelap. lokasi tumor dari epidermis hingga dermis. warna campuran yang bervariasi. d. lebih gelap/mengkilat dari kedua jenis lainnya. lebih banyak dijumpai pada anak dan remaja. tepi irregular. umumnya mengenai wanita 77 . 3 dan 4. distribusi mengikuti pola nervus V. di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. Informed consent Diperlukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Radiologi untuk embolisasi Dokter umum untuk perban penekan. pigmen menyebar ke jaringan kulit sekitarnya. e.tak perlu Autopsi/risalah rapat - tak perlu.1 bulan atau lebih Luaran Sembuh dengan estetika bagus. dapat tumbuh rambut. Lama perawatan 1 rninggu atan lebih Masa pemulihan 1 minggu . lokasi tumor pada perbatasan dermis dan epidermis c. Intradermal naevi: berbentuk datar atau meninggi. lokasi tersering daerah terpapar sinar matahari. PA .

Little Brown.f. Congenital pigmented Naevi/Giant pigmented naevi: lesi berpigmen. Benign Growth and Generalized Skin Disorder. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. luas > 4 inch. malar eminence. Connecticut. D17. Pediatric Plastic Surgery. Intraoral tumor and Radical Neck Dissection for Oral Cancer. 4th ed.3 Tumor yang terdiri dari sel-sel lemak. Boston 1991. Appleton & Lange. Mihm MC. distribusi cenderung mengikuti dermatome. Little Brown. scalp. tidak nyeri kecuali bila mengalami peradangan. In: Smith Jw. rekonstruksi dengan skin graft atau tissue expansion Lipoma ICD D 17. lunak. Boston 1991. Zarem HA. Boston 1991. Little Brown. Aston SJ. 4th ed. berambut. In: Smith Jw.1. D17. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. lokasi pada daerah –daerah fusi embrional Kista atherome: lesi subkutis. Kista Atherome ICD D21. dengan pungtat di atasnya. 4. Bents ML. Aston SJ. 2. mengenai daerah punggung atau muka. Kista Epidermoid. sedikit mobile. Kista Dermoid: lesi subkutis. Kista Dermoid. In: Smith Jw. In: Smith Jw. ekstensinya dapat sampai otot. Aston SJ. Lowe NJ. Little Brown. tengkorak bahkan meningen Diagnosis banding: Melanoma Maligna Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: Bidang terkait (bila diperlukan) Terapi : eksisi bedah. Sober AJ. mobile dan tak melekat ke kulit di atasnya. esi berupa nodul subkutis. terfiksasi ke dasar. Jackson T. 1998 78 . Spira M. Aston SJ. Boston 1991. Basal and Squamous Cell Carcinoma of the Skin. 4th ed. D23 Kista Epidermoid. Ekstirpasi Kepustakaan : 1. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. D17. mobile tetapi sedikit melekat ke kulit di atasnya. Melanoma Maligna. 4th ed. 3.2. Stal S. Stamford. Kibbi AG. umumnya mengenai muka.0. berisi produk sebaseus Diagnosis banding: Konsultasi: Terapi: Eksisi. 5. lokasi subkutis. Grabb and Smith`s Plastic Surgery.

Enukleasi . firm. Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: bidang terkait bila diperlukan Terapi: . Tuberous breast deformity: payudara kecil. bentuk tuberous Breast ptosis: jatuh dan tergantungnya posisi payudar yang berlebih sehingga nipple areola berada di bawah lipatan inframmamary. Macromastia: pertumbuhan berlebih jaringan payudara akibat physiologi normal atau juga karena kurangnya kepekaan reseptor kelenjaar payudara terhadap hormon yang mengaturnya. Diagnosis banding: . Reduksi mammoplasty dan mastopexy untuk macromastia. Inverted nipple: terbaliknya putting susu akibat tarikan duktus di bawahnya. unilateral. tuberous deformity dan breast ptosis. N63. N60 Diagnosis: Giant fibroadenoma mamma Kriteria diagnosis: lesi berdiameter > 5 – 10 cm. dengan atau tanpa terbentuknya nipple. ditandai dengan pertumbuhan cepat dan tiba-tiba. bisanya soliter.Phylloides tumor . Polymastia/ectopic glandular tissue): jaringan payudara yang tumbuh di sepanjang mammary ridge umumnya di axilla dan lipatan inframammary.BREAST DISORDER Gangguan perkembangan kelenjar payudara ICD N62. tidak nyeri. Hipomastia: kurang bertumbuhnya jaringan payudara ditandai oleh payudara yang kecil Amastia. dengan dilatasi vena di atasnya.Reduksi mammoplasti McKissock 79 .Virginal hypertrophy. muncul saat /segera setelah pubertas. N64 Diagnosis Ectopic breast tissue (Polythelia/accessory nipple. Diagnosis Banding: Pemeriksaan penunjang: Konsultasi: Standar tenaga: Bedah Plastik Terapi: Eksisi ektopik breast.athelia: tidak terbentuknya jaringan payudara. Augmentasi mammoplasty untuk untuk hipo/amastia Lesi jinak payudara ICD D24. asimetris dengan nipple areola yang lebar.

4th ed. McGrath MH. Lewis PL. Plastic & Reconstructive SurgeryVol 105. 2. Marks C. Jan 2000 3.No1. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 1997 80 . Benign Tumor of Teenage Breast. McKinney P. Aston SJ. Gynecomastia In: Smith Jw. Marks MW. Little Brown. Boston 1991. WB Saunders. Fundamentals of Plastic Surgery.Kepustakaan : 1. USA.

Emergency Plastic Surgery . McGregor M. Philaadelphia..B. F. M. Aston (Edit). 1991. Joseph G.Saunders Company. Richard J. segera Terapi : Insisi-drainase → kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas . (Glasg. Boston/Toronto/London. 81 .C. 2. Fourth Edition. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.Sepsis Informed Consent : Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan: ± 3 . McCarthy. 1. F.B.). Edinburgh london and New York.INFEKSI Flegmon dasar mulut ICD : K 12. . Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi sebelumnya Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap.(Eng. Boston/Toronto/London.A. 1990. Little.S.. Montreal. W.R. James W.5 hari Masa pemulihan : ± 1-2 minggu Hasil : Infeksi (-) Setelah infeksi reda.D.C. Little. 1980. 2. 1991. London Toronto.S.). Greco (Edit) .S. F. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Brwon and Company. rasa hangat dan nyeri tekan. Ian A. M.R. konsul dokter gigi bila sumber infeksinya dari gigi Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis: Baik Kepustakaan : 1. kulit diatasnya kemerahan. Hon.C. Sherrell J.. Ch. Brown and Company.2 Kriteria diagnosis : Pembengkakan submandibuler dengan rasa nyeri dan panas badan. Smith. Sydney. Plastic Surgery (8 vol) . Tokyo. Churchill Livingstone.

Plastic Surgery (8 vol) . M. nasofrontal. diserta rasa nyeri dan kadang disertai panas badan.D. F.C. . Emergency Plastic Surgery . Churchill Livingstone.R.S.C. Brwon and Company. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 4. Richard J. Brown and Company. (Glasg. 1980.B. Philaadelphia. Montreal. Ch. 1991.Thrombosis sinus kavernosus Informed Consent: Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan : ± 3 – 5 hari Masa pemulihan : ± 10 – 14 hari Hasil: Abses (-). Grabb and Smith's Plastic Surgery. nyeri tekan (+) Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap segera bila :Lokasi didasar mulut. F.Abses Maksilofasial ICD : L 02. Hon. Sydney. London Toronto. Edinburgh london and New York. Ian A.B. Joseph G.(Eng. Little. infeksi reda Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis : Baik Kepustakaan : 1.C.Saunders Company.S. M. 3. 82 .).. Boston/Toronto/London.S. F. Diameter > 6 cm Terapi : Insisi drainase – kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan: Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas . kulit diatasnya kemerahan. fluktuasi (+).A. Fourth Edition.). McCarthy. Little. 1991. 1990.Sepsis .. Boston/Toronto/London. periorbital. McGregor M. Tokyo. 2. W.R.0 Kriteria diagnosis : Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisis.. Greco (Edit) .

TEMPAT PELAYANAN RS Perjan Denpasar 10. nyeri kalau gerak. kompartment syndrome. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap untuk observasi dan tindakan 8. KEPUSTAKAAN : 1. 2. emboli lemak) F. L. pemendekan tulang panjang) Ada perlukaan di daerah fraktur yang berhubungan dengan fragment fractur 4. Cara pengobatan : Debridement dan fiksasi sesuai dengan grade & displasement Fiksasi interna elektif untuk grade I Fiksasi internal immediate untuk grade II Fiksasi eksterna untuk grade III C. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. gangguan fungsi. PENGOBATAN : A. 1983.Sesuai dengan komplikasi yang timbul (Infeksi . KONSULTASI : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. perdarahan.INFORMED CONSENT : Perlu 12. DIAGNOSIS : PATAH TULANG TERBUKA 3. Kualifikasi operator : . deformitas. Edition. AP /Lat 6. 2nd Ed. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. DIAGNOSIS BANDING : 5.TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. 7th. A. Apley.PENYULIT : Infeksi .MASA PEMULIHAN : 12 minggu 13.OTOPSI : 16. emboli lemak) 11. Macam pengobatan : D. Terapi komplikasi pengobatan : . & Solomon. kompartment syndrome.G. Butterworth-Heinemann. 1993.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. KRITERIA DIAGNOSIS : Ada trauma Ada tanda patah tulang (krepitasi. 83 . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.B.1.HASIL : Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal 14. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Radiologi : Foto Ro. perdarahan. pergerakan normal.PATOLOGI : 15. R.PROGNOSIS : Dubius ad bonam 17. Salter. NOMOR ICD : S 82 2. Tujuan terapi : Kuratif B. Williams & Wilkins Baltimore/London.

Reposisi terbuka : Pemasangan implant/ plate screw D. & Solomon. MASA PEMULIHAN : 4-8 minggu 13. KEPUSTAKAAN : 1. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. KONSULTASI : Dokter spesialis terkait {bila diperlukan) 7. Williams & Wilkins Baltimore/London.Kualifikasi operator : . Salter. Tujuan terapi : kuratif B. Apley. 2. 1993. 1983. Perjan Denpasar RS. DIAGNOSIS : FRAKTUR CRURIS 3. PENYULIT: Malunion/ delayed union 11. Edition.: Long leg cast.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Cara pengobatan : Reposisi C. TEMPAT PELAYANAN: RS. 7th. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10.B. KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat trauma Tanda pasti patah tulang tibia/ fibula Foto Ro. PROGNOSIS : Baik 17. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. NOMOR ICD : S 82 2. 84 . PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan untuk non bedah : Rawat inap untuk pembedahan 8. DIAGNOSIS BANDING : 5. Butterworth-Heinemann.1. A. L. INFORMED CONSENT : Perlu 12. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18.G. R.fraktur pada tibia da fraktur pada fibula 4. Terapi komplikasi pengobatan : Reposisi ulang/ bone graft ( malunion/delayed Union F. OTOPSI : 16. PATOLOGI :15. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 2nd Ed. HASIL : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal 14. Macam pengobatan : Reposisi tertutup. PEMERIKSAAN PENUNJANG : foto polos cruris AP/ Lat 6. PENGOBATAN : A.

7th. Cara pengobatan: Repair tendon C. HASIL : Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal 14. 2. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Terapi komplikasi pengobatan dan bias dipersiapkan secepatnya pada yang Tertutup. sambungan putus. Perjan Denpasar 10 PENYULIT : Infeksi. A. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi achiles Trauma tangan Clean cut injury Fungsilaesia 4. 7.G. Apley. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. 1993. NOMOR ICD : S 86. 1983. Kualifikasi operator : . Tujuan terapi : Kuratif B. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit pada yang clean cut E. Edition. Salter. PATOLOGI : 15. Williams & Wilkins Baltimore/London. PENGOBATAN : A. PROGNOSIS : Baik 17. & Solomon. TEMPAT PELAYANAN : RS. L. DIAGNOSIS : RUPTUR TENDON ACHILES 3. OTOPSI : 16. 2nd Ed. 85 . Butterworth-Heinemann. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.B. Macam pengobatan : Operasi dengan tehnik Bunnel atau Kesler Immobilisasi dengan fore slab D. kontraktur ankle 11. 5. MASA PEMULIHAN : 6 minggu sudah buka gip 13.1. F. 6. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.0 2. R. KEPUSTAKAAN : 1. DIAGNOSIS BANDING : PEMERIKSAAN PENUNJANG : KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9.

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. NOMOR ICD : S 82. OTOPSI : 16. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Terapi komplikasi : Sesuai dengan komplikasi yang timbul (non union malunion. PENYULIT: Haemathros Infeksi. crepitasi. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. PENGOBATAN A Tujuan pengobatan : Kuratif B. PROGNOSIS : Baik/ cacat 17.kekakuan lutut 11.Bila perlu sunrise/ tangensial (untuk fraktur vertikal& fragmen osteochondral) 4. & Solomon. infeksi. haemathros .Gangguan extensor mekanisme lutut Radiologi : . KRITERIA DIAGNOSIS : Klinis : . PATOLOGI : 15. 2. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10.TBW .Partial/ total patelectomy D. 86 .bengkak. L.G. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan dan rawat inap 8. MASA PEMULIHAN : 8-12 minggu 13. haemathros) F.Foto genu AP/ Lat .Nyeri. Salter. Apley. C Macam pengobatan : Reposisi tertutp : Pasang Kocher gips untuk permukaan yang intact dan fragmen tidak bergeser Reposisi terbuka: ORIF : gangguan permukaan artikuler . 7th.1. 2nd Ed.Cara pengobatan : Reposisi tertutup dan reposisi terbuka. Kualifikasi operator : . Butterworth-Heinemann. R. HASIL : Kedua fragmen patela tereposisi & rigid Fragmen terangkat 14. 1993. KEPUSTAKAAN : 1.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. Perjan Denpasar RS. defect antar fragmen. 1983. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. TEMPAT PELAYANAN : RS. Edition. DIAGNOSIS : FRAKTUR PATELA 3.0 2. A. separasi fragmen Kelemahan otot-otot quadrisep. DIAGNOSIS BANDING : 5. PEMERIKSAAN PENUJANG : Foto polos genu AP/ Lat 6.

trauma vaskulaer. PATOLOGI : 14. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Komplikasi Awal Syok. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Apley.Fraktur shaft femur . DIAGNOSIS BANDING : Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara klinis . delayed union. metal fatique. dan cidera neurovaskuler 10. PENGOBATAN : A. L. F. infeksi. Tujuan terapi : Kuratif B. . KEPUSTAKAAN : 1. infeksi. Salter. HASIL : Posisi anatomis optimal Fungsional baik 13. Infeksi. OTOPSI : 15. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.G. R. A. malunion Joint stiffnes. PROGNOSIS : Baik 16.Fraktur kondilus femur 5. 1993. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 17. 1983. DIAGNOSIS : FRAKTUR FEMUR 3. lesi nervus. 9. Operative D. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma mayor pada paha Tanda pasti patah tulang (+) 4.1. atrofi otot. Cara pengobatan : Non operative dan operative C Macam pengobatan : a. NOMOR ICD : S.Terapi komplikasi pengobatan : . MASA PEMULIHAN : 1 minggu 12. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos Femur AP/ Lat 6.Kualifikasi operator/ pemberi pelayanan : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi.Waktu pengobatan : segera saat penderita datanmg ke rumah sakit E. 7th. Edition. Non operative Traksi skeletal Traksi kulit pada anak b. INFORMED CONSENT : Perlu 11. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. Butterworth-Heinemann. Komplikasi lambat Refraktur. emboli lemak.Fraktur trokanter . trombo emboli. 2. mlunion. 72 2.B. Perjan Denpasar PENYULIT : Non union. TEMPAT PELAYANAN : RS.Fraktur kolum femur .1. & Solomon. 87 . 2nd Ed.

Type V : Fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain B. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. TEMPAT PELAYANAN : RS. ischiadicus 88 .ischidikus. Terapi komplikasi pengobatan : F. Inferior (obturator) : panggul abduksi.1. kapsul sendi atau m. DIAGNOSIS BANDING : 5. Dislokasi anterior 10 % insiden dislokasi panggul 4 % mengalami avaskuler nekrosis Identasi fraktur caput femur : identasi 4 mm atau lebih Dengan prognosis buruk Type : Superior (pubis atau iliac) : panggul abduksi. Tujuan pengobatan : kuratif B. PENYULIT : Fraktur intra artikuler Cidera N. endorotasi dan adduksi 10 % komplikasi n. PENGOBATAN : A. DIAGNOSIS : DISLOKASI PANGGUL 3.0 2.Type IV :fraktur tepi acetabulum dan besar . KRITERIA DIAGNOSIS : A. Kualifikasi operator : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi.Type III : fraktur comminutive tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos panggul AP/ Lat 6. Klasifikasi : . Allis 2. NOMOR ICD : S 73.Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar . 9.pyriformis menghalang reposisi Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi D. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. Bigelow 3. Cara pengobatan : Reposisi segera C. ekstensi Eksternal rotasi 4. Dislokasi posterior Merupakan jenis tersering Tungkai memendek.Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal . KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) 7. fleksi eksternal rotasi. Macam pengobatan : Reposisi tertutup dengan anastesi umum : 1. Stimson Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 minggu. Perjan Denpasar 10. > 15 % avaskuler nekrosis kaput femoris.

& Solomon. 2. 1993. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Salter. MASA PEMULIHAN : 8 minggu 13. Butterworth-Heinemann.11. OTOPSI :16. Apley. Williams & Wilkins Baltimore/London.B. 2nd Ed. KEPUSTAKAAN : 1. INFORMED CONSENT : Perlu 12. 89 . Edition. PROGNOSIS : Baik 17. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 1983. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. PATOLOGI :15. HASIL : Tereposisi dengan baik 14. L. A. 7th. R.G.

7.thorak) Foto Ro adanya fraktur di klavikula 4.1.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Terapi komplikasi : 9. Kualifikasi operator : 90 . Cara pengobatan : Dislokasi acromio-klavikular : Dokter spesialis terkait. 2. 5. saraf. Diagnosa banding Konsultasi Perawatan RS Pengobatan: A.0 : FRAKTUR KLAVIKULA :Terputusnya kontinyuitas tulang klavikula akibat trauma Klinins : Penderita : nyeri.Prognosis : Perlu uintuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS Perjan Denpasar : Lesi vaskuler Lesi saraf : Perlu : 1-1. 8. Waktu pengobatan : segera saat penderita dating ke rumah sakit E. Nomor ICD Diagnosis Kriteria diagnosis : S 42.5 bulan : Tereposisi dengan baik F.Penyulit 11. 3. 6. Adakah gejala dan tanda trauma penyerta (trauma vaskuler. pembengkakan dan krepitasi pada daerah klavikula. Macam pengobatan : D. Tujuan terapi B.Tempat pelayanan 10. Otopsi 16.Informed consent 12. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk perawatan bedah : Kuratif : Konservatif Operatip : pasang ransel verband : Plate & Screw atau ada lesi vaskuler/ saraf Pemeriksaan penunjang : X-foto klavikula AP C.Patologi 15.

1993. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. L. 91 . A. Williams & Wilkins Baltimore/London. & Solomon. 7th. 2.G. Apley. Edition.B. 1983. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinis : 1. ButterworthHeinemann. Salter. R. 2nd Ed.17 Tindak lanjut 18.

& Solomon.Konsultasi 7. krepitasi. angulasi / pemendekan. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Axillary view :Dokter spesialis yang terkait. Macam pengobatan D. Hasil 14.Pengobatan : A. ICD 2. Pemeriksaan Penunjang 6.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. L. Terapi kompliksai F. Patologi 15. 2nd Ed. KEPUSTAKAAN : : : saat penderita dating ke rumah sakit : Lesi N. bila diperlukan :Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : Kuratif : Non Bedah :Reposisi dengan pembiusan pasang Gips U – slab / Hanging cast Bedah: Pemasangan implant plate screw C. Williams & Wilkins Baltimore/London. A. Perawatan RS 8. 1993. Prognosis 17. Perjan Denpasar : Lesi N. 2. gangguan fungsi) Foto Rontgen adanya fraktur humerus 4. - 92 . 1983. Diagnosis 3. Waktu pengobatan E.Otopsi 16. Tindak lanjut 18.1.Informed consent 12.B. 7th. bengkak diformitas.3 : FRAKTUR HUMERUS : Ada riwayat trauma Tanda pasti fraktur humerus (nyeri. Kriteria diagnosis : S 42. Edition. Diagnosa banding 5. Radialis .Penyulit 11. R. Tujuan terapi B.Tempat pelayanan 10.G. Cara pengobatan : : X Foto humerus AP/ lateral. ButterworthHeinemann. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Radialis : Perlu : 12-24 minggu : Terreposisi dengan baik : : : Baik : perawatan poliklinis : 1. Kualifikasi operator 9. Masa pemulihan 13. Salter. Apley.

Tujuan terapi B.Informed consent 12. Terapi komplikasi F. Diagnosa banding 5. Hasil 14. deformitas. Pemeriksaan Penunjang 6. asimetri Gangguan gerakan bahu 4. Lama Pemulihan 13. Perjan Denpasar : Cedera N Axilaris / plexus brachialis Gangguan sirkulasi Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama Dislokasi sendi berulang 11.1.Konsultasi 7. Waktu pengobatan E.Pengobatan A. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : : kuratif : Non Bedah : Reposisi menurut Kocher atau Hipokrates Bedah Reduksi operatif untuk kasus-kasus neglected. Diagnosis 3.0 : DISLOKASI BAHU : Ada riwayat trauma Nyeri. Patologi 15. Nomor ICD 2. C. Kualifikasi operator 9. dengan persiapan.Tempat pelayanan 10. 93 .Penyulit : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Macam pengobatan D. Otopsi 16. Kriteria diagnosis : S 43. Cara pengobatan : : X Foto bahu AP : Dokter spesialis yang terkait. Prognosis : Perlu : + 4 – 6 minggu : Terreposisi dengan baik : :: Baik : Segera direposisi saat penderita dating ke rumah sakit untuk yang baru. Perawatan RS 8.

17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

94

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan

: S 42.4 : FRAKTUR SUPRA CONDILER SIKU : Riwayat Trauma Tanda –tanda pasti patah tulang di atas siku : : X Foto siku AP / lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : a. Non bedah : - Reposisi dengan pembiusan - Traksi b. Bedah : Bila non bedah gagal – operasi Plate & Screw atau CCW

C. Macam pengobatan : D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : segera saat penderita dating ke rumah sakit : Kaku sendi siku (Fisioterapi) Kompresi pembuluh darah : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Kompresi pembuluh darah Kaku sendi siku : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik: : : : Dubius / kaku sendi siku : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

95

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.0 : FRAKTUR OLEKRANON : Riwayat Trauma Tanda pasti patah tulang pada siku Teraba gep pada olecranon X Foto Olekranon patah

4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan C. Macam pengobatan D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator :

: Fraktur lain di daerah siku : X Foto siku AP lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan :Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : Operasi dengan pemasangan tension band wire : saat penderita datang ke rumah sakit pada yang terbuka : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12. Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS. Perjan Denpasar : Kaku sendi siku Lesi N.Ulnaris : Perlu : + 4 – 6 minggu : Fragmen terfiksasi dengan baik : : : Dubius / cacat : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

96

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S3.1 : DISLOKASI SIKU : Riwayat trauma, sakit sendi siku Deformitas / asimetri Limitasi gerakan sendi

4. Diagnosis banding 5. Pemeriksaan penunjang 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 9. Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan a. Non bedah b. Bedah C. Macam pengobataqn D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis : : : :

: : X Foto siku AP/ lateral : Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap

: Reposisi dengan pembiusan Imobilisasi dengan posisi fleksi pada siku : Operasi bila reposisi gagal : segera saat penderita dating ke rumah sakit

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Lesi N.Ulnaris, N.Medianus Lesi vaskuler : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik : : Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Kaku sendi bisa terjadi

97

Williams & Wilkins Baltimore/London. 2. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. R. L.17. 1993. 1983 98 . Edition. 2nd Ed. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. A. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinik : 1. ButterworthHeinemann. Apley.B. & Solomon. Tindak lanjut 18. Salter.G.

Kriteria Diagnosis : FRAKTUR GALEAZI : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. 4. : Perlu : ± 6 minggu 99 . “false movement”. Non bedah : reposisi (gips sampai di atas siku) 2. Dilakukan reposisi tertutup dengan anestesi umum c. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Ro. Macam pengobatan : 1. Bedah : operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal d. Terapi komplikasi pengobatan : f. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi interna. Masa pemulihan : RS. Perjan Denpasar : Non union. lengan bawah AP/lat. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang radius disertai dislokasi sendi radioulnar distal . Konsultasi 8. Waktu pengobatan : e. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1. Cara pengobatan : 1. 7. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : : kuratif kemudian imobilisasi dengan gips (long arm cast) pada posisi supinasi selama 4-6 minggu.2. 3. krepitasi dan nyeri. Diagnosis Banding 6. 2. gangguan gerak. post operasi diperiksa stabilitas sendi radioulnar. 5. Diagnosis 3. Penyulit 11. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. malunion. deformitas. bila tidak stabil diimobilisasi dengan gips pada posisi supinasi selama 3 minggu. Pengobatan a. Informed consent 12. Tempat pelayanan 10. Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Radiologi : anteroposterior dan lateral. Perawatan Rumah Sakit : Rawat inap untuk observasi atau tindakan b.

Prognosis 17. Tindak lanjut 18.G. Patologi 15. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. & Solomon. Hasil 14. 2nd Ed. Otopsi 16. 7th. R. Apley. ButterworthHeinemann. Williams & Wilkins Baltimore/London.B.13. A. L. 2. Salter. 1993. KEPUSTAKAAN : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. 1983 100 . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Edition.

Terapi komplikasi pengobatan : f.0 : FRAKTUR MONTEGIA : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Bedah : : Pembedahan e. Perjan Denpasar 101 . Dilakukan reposisi tertutup kemudian imobilisasi c. dislokasi kaput radius ke lateral Bado 4. Imobilisasi selama 4-6 minggu. Radiologi : anteroposterior dan lateral . Diagnosis 3. Non bedah 2. Perawatan rumah sakit 8. Cara pengobatan : 1. dislokasi ka[ut radius diseratai Fraktur radius dan ulna. Nomor ICD 2. Macam pengobatan d. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang ulna dan dislokasi caput radii Klasifikasi : Bado 1. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan Dokter Spesialis Bedah Ortopaedi 9. dislokasi kaput radius ke anterior Bado 2. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. 2. Kriteria diagnosis : S 52. 4. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. “false movement” dan krepitasi. nyeri terutama pada tempat fraktur dan sendi radioulnar proksimal. Konsultasi 7. lengan bawah AP / lat b. Diagnosis banding 6. Pengobatan a.1. Tempat pelayanan : RS. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi internal 3. Waktu pengobatan : : 1. deformitas. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi atau tindakan : : kuratif dengan posisi lengan supinasi. 5. dislokasi kaput radius ke posterior Bado 3.

1983 102 . Otopsi 16. 2nd Ed. gangguan gerak. 2. Prognosis 17. malunion. Edition. R.10. L. infeksi. Apley. Informed consent 12. : Perlu : ± 6 minggu : Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik Caput radii tereposisi atau dibuang 14. Patologi 15. Tindak lanjut 18.G. & Solomon. Salter. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Penyulit 11.B. Masa pemulihan 13. KEPUSTAKAAN : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. Williams & Wilkins Baltimore/London. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. A. 1993. 7th. Hasil : Non union. ButterworthHeinemann.

Cara pengobatan : 1. Bedah : Bila non bedah gagal 103 .5 : FRAKTUR COLLES : Tanda-tanda pasti patah tulang Trauma lengan karena menahan dengan “out strecht hand” 4. Definitif orang muda immobilisasi dengan gips sirkuler butuh anesthesia regional atau general : . Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : : local anesthesia (hematome 5. Kriteria diagnosis : S 52.Faktor yang menpengaruhi optimalisasi : • • • • • .Macam : • • • • • reduksi tertutup dan splint reduksi tetutup dan pinning perkutan fiksasi externa reduksi terbuka dan fiksasi interna fiksasi externa dan interna stabilisasi fraktur besarnya displacement kwalitas tulang usia dan aktifitas penderita ketersediaan peralatan c. Pengobatan a. Diagnosis banding 6. Gips sampai di bawah siku a. semi fleksi dan ulnar Deviasi pada pergelangan tangan. Macam pengobatan : Fiksasi dalam posisi pronasi. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pemeriksaan penunjang : Radiologi .pada anak dan orang tua blok) 2. Emergensi : . Nomor ICD 2. foto polos radius-distal AP / lat b. Non bedah : Reposisi dengaqn pembiusan b.1. Diagnosis 3.

9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Massa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS Perjan Denpasar : Kompartment syndrome Suddec atropi : Perlu : ± 4 – 6 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posisi optimal Fungsional baik : : : baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

104

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.4 : FRAKTUR RADIUS-ULNA : Klinis : didapatkan adanya tanda-tanda fraktur seperti edema, deformitas, “false movement”, krepitasi dan nyeri. Radiologis : anteroposterior dan lateral, akan didapat kan adanya diskontinuitas tulang.

4. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pengobatan a. Tujuan terapi

: : Dokter spesialis yang terlait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : :

5. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. antebrachii AP/lat

b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup dengan anesthesia umum, kemudian immobilisasi dengan gips (long arm cast). Posisi antebrachii tergantung letak fraktur, pada fraktur antebrachii 1/3 proksimal diletakkan dalam posisi supinasi, 1/3 tengah dalam posisi netral, dan 1/3 distal dalam posisi pronasi. Gips dipertahankan 4 – 6 minggu 2. Bila reposisi tertutup tidak berhasil (angulasi lebih dari 10º pada semua arah) maka dilakukan internal fiksasi. 3. Pada fraktur terbuka terlebih dahulu dilakukan “debridement” kemudian dilakukan tindakan seperti diatas. Sedangkan pada fraktur terbuka derajat III dilakukan eksternal fiksasi. c. Macam pengobatan : Gips sampai diatas siku b. Bedah : Bila non bedah gagal plate and screw d. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit : RS. Perjan Denpasar : Kompartment syndrome a. Non Bedah : Reposisi dengan pembiusan

105

11. Informent consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perlu : ± 6 – 8 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

106

1. Nomor ICD 2. Diagnosis

: C22.0 : Hepatoma

3. Kriteria Diagnosis - Pemeriksaan Klinis : - Anamnesa : - berat badan menurun - nyeri hipokondrium kanan - alkoholisme - riwayat sirosis hepatis atau hepatitis kronis - Inspeksi : tampak tumor pada hipokondrium kanan (tumor besar) - Palpasi : massa pada hipokondrium kanan - Perkusi : untuk mencari batas-batas tumor - Auskultasi : suara usus normal Pemeriksaan Laboratorium : - AFP - LFT - CEA Pemeriksaan Imaging : - USG - CT Scan

-

Pemeriksaan Radiologi : - angiografi - Ba- enema (bila curiga primer berasal dari kolon) Pemeriksaan Jarum Halus Pemeriksaan Kolosnokopi : bila curiga primer dari kolon

-

4. Diagnosis Banding - Tumor jinak hepar (Hemangioma, Adenoma) - Kolangiokarsinoma 5. Pemeriksaan Penunjang : 6. Konsultasi : Penyakit dalam bila ada riwayat sirosis hepatis dan hepatitis khronis. 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan - Pembedahan / Terapi 1. Tumor metastase dari kolon / rektum dan primer terkontrol : dilakukan reseksi hepar. 2. Tumor metastase dan tumor primer in operabel tindakan suportif. 3. Tumor hepar primer : karsinoma hepatoseluler - inresektabel : suportif. - resektabel : reseksi hepar. 4. Tumor jinak : - bila ada gejala : dilakukan reseksi. - bila tak ada gejala : observasi. 5. Sebelum reseksi sebaiknya dilakukan embolisasi untuk mengecilkan tumor dan mengurangi perdarahan.

107

Patologi : . 1561-1590 108 . Otopsi : 15. Masa Pemulihan : . Prentice Hall Inc. Tempat Pelayanan : .Perlu 14. Prentice Hall International.Follow up secara klinis. Seiji Kawasaki : Hepatocellular Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operations. Prognosis : . Informed Consent : . Penyulit : Perdarahan (Spontan atau akibat tindakan) 10. Kepustakaan : . Mc Graw Hill.6. 1327-1376 . p.Tumor Ganas : Baik : Resektabel → Dubois Ad Bo anam : Inresektabel → Dubois Ad Malam 16.Maratoshi Maknuchi.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Perlu 11. Pada kasus resiko tinggi untuk operasi dan tumor kecil dapat dicoba penyuntikan perkutan alkohol 90% dalam tumor dengan tuntunan USG. 10th ed. 8. 9. p.Tumor Jinak .Schwartz SI : Principles of Surgery. Laboratorium dan Imaging 17.Rumah Sakit tipe A/B yang sudah memiliki Ahli Bedah Digestif. 10th ed. Tindak Lanjut : . 5th ed. Hasil : .Tergantung jenis tumor 12.Tergantung jenis tumor (jinak atau ganas) dan apakah resektabel atau tidak 13. 1989. 1997. 1994 .

Patologi : Tidak perlu 14. Hasil : Baik 13.Inspeksi . Informed Consent : Perlu 11.tehnik Halsted. DL. Masa Pemulihan : 3-5 hari 12.1.Herniotomi . Prognosis : Baik 109 . jantung) 7.Pembesaran kelenjar limfe .Lab.thumb test.tehnik Bassini. Pemeriksaan Penunjang : . Tempat Pelayanan : . Kriteria Diagnosis . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Pemeriksaan Klinis : . 8. Diagnosis : K40 : Hernia 3.zieman test (tri finger test) : : ( diatas benjolan) terdengar suara bising usus (bila isi kantong usus).Perkusi .Anamnesa .Pembedahan / Terapi .finger test. Nomor ICD 2. bila inkarserata terasa nyeri.Hidrokel 5.Hernioplasty : .Palpasi .Kalau ada penyakit penyerta (liver. . UL 6.Auskultasi : benjolan di pelipatan paha.Lipoma pada pelipatan paha .Inkarserata / strangulasi dengan segala akibatnya 10. Penyulit : . : .Penilaian isi kantong bila nekrosis dilakukan reseksi . Otopsi : 15. : benjolan di pelipatan paha yang dapat keluar masuk (hernia reponibilis) tak dapat keluar masuk (irreponibilis dan inkarserata). .Rumah Sakit tipe C/B/A 9. . Konsultasi : . 4.Pemeriksaan fisik : . Diagnosis Banding .

1988 110 . p.Devlin HB : Management of Abdominal Hernia. USA. 11th ed. HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. Ist ed. Tindak Lanjut : Follow up apakah terjadi residif / tidak 17. p. 375-381 .Way LW : Hernia other lesion of the abdominal wall In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Ist ed. p. Butterworth & Co. 215-218 . 712724 . London 1988 . Bristol.16. 1986. Mc Graw Hill Inc. 1984.Skandalakis JE : Hernia Surgical Anatomy and Technique. 10th ed. Kepustakaan : . Litle Brown and Co Boston. John Wright & Sons. Prentice Hall International Inc.Dodson TF : Hernia In : Manual of Clinical Problem in Surgery. 1994.Dudley.

Anamnesa : . Kriteria Diagnosis . Kelainan-kelainan lain didalam abdomen ulcus pepticum.sub febris. febris (bila ada komplikasi) . Nomor ICD 2. . pankreatitis divertikulitis.nyeri epigastrium kemudian disusul nyeri perut kanan bawah yang menetap.pembiakan kuman dan test kepekaan antibiotik.Auskultasi : Suara usus menurun . kolesistitis.Ba inloop double kontras 6. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . 5. .lapangan operasi dibersihkan dari pus dan bahan kontaminasi. ileitis terminalis.tidak melakukan penjahitan lemak.Pemeriksaan USG (bila ragu-ragu) 4. .bila perut kiri ditekan (Rovsing Sign). .dipasang drain sub fasial. . Golongan gastro-enteritis : lim fadenitis mesenterik. . entero-kolitis.USG .Pemeriksaan Klinis : . perforasi karsinoma kolon. . Pemeriksaan Penunjang . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 111 . .Perkusi : Nyeri ketok ⊕ (kadang-kadang dilakukan) .Inspeksi : gerakan perut kanan bawah berkurang waktu bernafas .saat testis kanan ditarik (Tenhorn Sign) .1.Pemeriksaan laboratorium : DL : leukosit UL : sedimen urin . Konsultasi : Obstetri Ginekologi 7.Bila saat operasi didapatkan apendik yang mengalami perforasi maka dilakukan : . Diagnosis Banding 3. 4.kulit dijahit situasi. Diagnosis : K35 : Radang Usus Buntu 3.saat flexi dan endo rotasi tungkai kanan (Obturator Sign).anoreksia mual. .saat tekanan perut kiri dilepas (Blumberg Sign). .Colok dubur : nyeri perut kanan bawah (jam 10 – 11) .Apendektomi .Pembedahan / Terapi .saat mengangkat tungkai kanan (Psos Sign).Palpasi : * nyeri daerah Mc Burney / kanan bawah : . 8. Kelainan genitalia interna pada wanita 5.

610-614 112 . 1994. Prentice Hall Int. Penyulit 1. Appleton Century Crofts.Dudley HAF : Hamilton Biley’s Emergency Surgery. 1990. 5. 953-978 . Informed Consent : Perlu 11.p. 11th ed. John Wright & Sons Ltd. Hasil : Baik 13. Appendisitis perforasi Periappendicular infiltrat Periappendicular abscess Peritonitis umum Foic appendiculare 10. 3. Patologi : Perlu 14. Prognosis : Baik 16. Bristol.Way. 10th ed.. bila luka mengalami infeksi perlu dipertimbangkan kondisi luka 17.9. Inc.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. 336-345 . 4.2 9th ed.p. P. 2. Norwalk Connecticut. Otopsi : 15. 1986. Tindak Lanjut Jahitan diangkat hari ke-7 pasca bedah. Kepustakaan : . LW : Appendix In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Vol. Masa Pemulihan : 5-7 hari 12.

Fistulektomi . Pemeriksaan Penunjang : Fistulografi 6.Irigasi saluran : untuk mengetahui saluran dan lubang interna dengan garam fisiologis. . Konsultasi : 7.Inspeksi : adanya perianal fistel.Perkusi :. Kriteria Diagnosis . . Amoeba 6.Palpasi : nyeri tekan dan teraba massa sebagai tali memanjang . amoeba.penggunan seton (pada fistula yang banyak melibatkan sfingter ani) . proktitis tbc. 4. .Colok dubur : dengan bidigital yaitu antara jari telunjuk pada anus dan ibu jari pada perineum akan teraba jaringan yang mengeras seperti tali. proktits tbc 5. Diagnosis : K60. faeces dari lubang dekat anus.Sondasi : untuk mengetahui saluran dari fistula.Pemeriksaan radiologis : fistulografi. Morbus Crohn 5. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan Pembedahan / Terapi .bahan yang dieksisi dilakukan pemeriksaan histo PA.3 : Perianal Fistula 3. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Diagnosis Banding 3. Penyulit : Kadang-kadang residif 10. Karsinoma rekti 4.Pemeriksaan Klinis : . hidrogen peroksida datu metilen biru.untuk mengetahui adanya penyakit lain (karsinoma.Fistulotomi. nanah. Informed Consent : Perlu 113 .untuk mengetahui lubang fistel sebelah dalam. 8. . .Proktoskopi : .1.Auskultasi : . . morbus Crohn).Anamnesa : mengeluarkan lendir. . . Nomor ICD 2.

p. Otopsi : 15. 701-703 .Golberg. 1993. Anorectal Fistulas. 10th ed Prentice Hall International Inc. Philadelphia. Kepustakaan : .Keighley. SM. London. et al : Colon. WB. Ltd. In : Principles of Surgery 5th ed. Saunders Co. Rectum and Anus. Prognosis : Baik 16. 1303-1306 . Masa Pemulihan : Tergantung derajat fistula (melibatkan banyak sfingter ani atau tidak) 12.Way LW. Mc Graw Hill. MRB : Anorectal Fistula in Surgery of the Anus. Tindak Lanjut : Follow up berkala 17. 1988 p.11. Hasil : Baik 13. p. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 418-466 114 . 1994. Patologi : Perlu 14. Rectum and Colon.

salep lokal Ichtamol 10%. .Operasi : .Pembedahan / Terapi . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Patologi : 14. Otopsi : 15. Penyulit : 10.0 : Fissura Ani 3.Inspeksi : adanya sentinel pile .Pemeriksaan Klinis : .minum banyak. Masa Pemulihan : 2-3 hari 12. Pemeriksaan Penunjang : 6. Hasil : Baik 13.Auskultasi : . Nomor ICD 2.Palpasi : bila anus dilakukan everasi tampak fissura . Diagnosis Banding : 5. 8. .Proktoskopi : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan hipertropi papilla dan fissura. hidrokortison 1%.1. Tempat Pelayanan : .nyeri waktu berak .Perkusi : . Konsultasi : 7.diet membuat faeces lunak. Informed Consent : Perlu 11.rendam duduk (Krim 04) . 4. . .prosedur : lateral internal sfingterotomi.Medikamentosa : .berak darah segar (tanpa bercampur berak) . Diagnosis : K60.Anamnesa : .Colok dubur : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan lokasi fissura dan stenosis.Rumah Sakit tipe C/B/A 9. . Prognosis : Baik 115 . Kriteria Diagnosis .bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat.

1303-1306 . 10th ed Prentice Hall International Inc. Rectum and Anus. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi (Poliklinis) 17. In : Principles of Surgery 5th ed. 698-699 . Mc Graw Hill. et al : Colon.16.Way LW.Keighley. p. Rectum and Colon. Kepustakaan : . Ltd. Philadelphia. Anal Fissure.Golberg. SM. London. In : Surgery of the Anus. MRB :Fissure in Ano. WB. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 1994. p. 369-386 116 . 1988 p. Saunders Co. 1993.

1 : Ikterus Obstruksi 3.bila hasil kolangiografi : .tanpa batu di saluran utama : tindakan selesai .foto polos abdomen .kanker tanpa metastase : reseksi pankreas 117 .Pediatri pada anak 7.Anamnesa : .Palpasi : . .ERCP . Nomor ICD 2.Lab .Tumor hati . USG.Tumor pada papila vateri 5. Diagnosis : K83.Gatal-gatal.Pemeriksaan Klinis : . Diagnosis Banding .Inspeksi : ikterus . Pemeriksaan Penunjang .nyeri hipokondrium kanan .1. kulit berwarna kuning .Pemeriksaan imaging : .CT Scan.ada batu di saluran utama : koledokotomi + scope pasang T-drain.Lithotripsi Untuk tumor pankreas .sfingterotomi Untuk batu residual . .kolesistektomi dan kolangiografi intra operatif.Batu kandung empedu .BOF. Konsultasi .FNAB Bila : . Kriteria Diagnosis .USG .ERCP .Pembedahan / Terapi Untuk batu empedu tanpa kolangitis .penurunan berat badan . CT Scan. .Courvoissier Law .ERCP . Untuk batu empedu dengan kolangitis .Interne .Perkusi : nyeri ketok pada perut kanan atas .Murphy’s sign .test faal hati.panas badan . ERCP 6.Auskultasi : suara usus normal .ERCP 4.Pemeriksaan laboratorium : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .

Kepustakaan : .R. : Jaundice in Maingot’s Abdominal Operations. hidrokortison 1%.Dudley HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. Prognosis : Tergantung kausa 16.diet membuat faeces lunak. mencegah kolangitis & kerusakan sel-sel hepar 13. . Boston. Bristol. Prentice Hall inc..Condon RE.stent Untuk striktura saluran bilier : . 8. 11th ed.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. .prosedur : lateral internal sfingterotomi.K.by pass .bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi dan advis makanan 17. Penyulit Cholangitis Sepsis 10. 1988. 10th ed. 1994. 273-290 .rendam duduk (Krim 04) . 1986. Otopsi : 15. Hasil : Ikterus hilang. 10th ed Prentice Hall International Inc. Joel J. Little Brown & Coy. Informed Consent : Perlu 11.by pass . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9. p.reseksi . 7th ed.Operasi : .by pass . 315-336 118 . .p. p.ERCP pro dilatasi . .stent (ERCP) Untuk tumor Klatskin : . Masa Pemulihan : 1-2 minggu 12.kanker dengan metastase : . Patologi : Perlu 14. 1991.353-374 .minum banyak. .Medikamentosa : .salep lokal Ichtamol 10%. Wright.Kim U.

berak darah segar tanpa nyeri .Colok dubur : untuk mengetahui apakah ada kelainan lain. Kriteria Diagnosis .Inspeksi : prolaps tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.25-0.1.sodium morbuat / tetradesil sulfat 0. .50 ml. Diagnosis Banding .Prolaps rekti . Penyulit : Anemia 10. . .Palpasi : . Pemeriksaan Penunjang : 6.1 : Hemorrhoid 3. .Pemeriksaan Klinis : . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Anamnesa : . 8. . 4. Nomor ICD 2.Hemorrhoid asimptomatik tidak perlu pembedahan.fenol oli 5% atau krim uretan 5% dosis 3-5 ml/tonjolan maksimum 15ml.Perkusi : .disuntik bahan sklerotan : .Hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis : eksisi dan evakuasi trombus.diet yang mengandung serat (buah-buahan segar) .prolaps yang berasal dari tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.Hemorrhoid interna derajat III/IV : hemoroidektomi. Diagnosis : I84. .tonjolan terasa nyeri (untuk hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis). . Informed Consent : Perlu 119 .Pembedahan / Terapi .Auskultasi : .dengan obat lokal (suppositoria atau salep) yang mengandung kortikosteroid dan anestesia . .Proktoskopi : untuk mengetahui derajat dan lokalisasi hemorrhoid. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Hemorrhoid interna derajat I/II.Karsinoma rekti 5. . Konsultasi : 7.

1988. p. London. p. Otopsi : 15. Little Brown & Coy. p. : Hemorrhod or Piler – Surgery of the Anus. 317-322 . Patologi : 14.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Hasil : Baik 13. 1994.Williams NS : Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus. 1993. 10th ed Appleton & Langes. WB. JC.Golinger. 7th ed. Bailiere Tindall. 98-149 . Philadelphia. p. Saunders Co. Ltd. Boston. 5th ed. London. Masa Pemulihan : 7 hari 12. Rectum Colon.Condon RE. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. 695-698 . Prognosis : Baik 16. Tindak Lanjut :Follow up poliklinis 17. Rectum and Colon.11. Kepustakaan : . 1984. 295-363 120 .

.kadar gula darah. Pemeriksaan Imaging : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . setelah stadium tenang baru dilakukan kolesistektomi. . gamma glucorinyl transferase. SGPT.BOF . ERCP. SGOT. Informed Consent : Perlu 11. Diagnosis : K80 : Batu Empedu 3.ikterus.CT Scan .Inspeksi . Kriteria Diagnosis .kolesistektomi laparoskopi. CT Scan. Patologi : 14. Diagnosis Banding : Malignancy 5. tegang perut kanan atas. . Nomor ICD 2. Pemeriksaan Penunjang : USG. reasi Heyman v/d Berg.kolesistektomi terbuka . alkali fosfatase.ERCP .Auskultasi Pemeriksaan darah : . Penyulit : Kolangitis 10. 8.Perkusi . kolestreol.Pemeriksaan Klinis : .Pembedahan / Terapi .USG.nyeri. Konsultasi : Interne 7. Hasil : Tergantung apakah ada penyulit / tidak 13. : ikterus : Murphy’s sign : : 4. PTCD 6. triggliserid.bila peradangan dan sudah ada massa dilakukan terapi konservatif.Anamnesa - - . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Palpasi .PTCD : . Otopsi : - 121 . Masa Pemulihan : 7 hari 12. tes faal hepar.1.

p. Prentice Hall International Inc.15. Joel Rslyn : Cholelithiasis and Cholecystectomy in Maingot’s Abdominal Operation. 1981. 1717-1738 122 . Prentice Hall International Inc.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 1990. 1337-1479 . Kepustakaan : . 9th ed. 527-557 .Dames SS : Disease of the Liver and Billiary System. 1997. 10th ed. Prentice Hall Inc.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. Karan. 6th ed. 10th ed. p. 222-224.p. p.Joseph A. 476-498 . Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. Blackwell Scientific Publication. Oxford. 1991. Prognosis : Baik 16.

4.Pemeriksaan Klinis : .Palpasi : . Pemeriksaan Radiologis : . Konsultasi .anemia / kelemahan umum . Diagnosis : C18.Perkusi : mencari chest board phenomena .Anasthesi 7. .perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah defekasi. . .pemeriksaan foto polos dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru. Kriteria Diagnosis .0 : Karsinoma Kolorektal 3.1.Auskultasi : tanda-tanda obstruksi (pada keganasan kolon kiri) .USG .Ba-enema .IVP .Pembedahan / Terapi . Pemeriksaan Penunjang .Inspeksi : . Nomor ICD 2.pemeriksaan Ba-enema dengan kontrast ganda .untuk mendeteksi kelainan-kelainan didaerah rektosigmoid.perubahan pola defekasi . Diagnosis Banding : Kelainan-kelainan intralumen pada daerah kolorektal 5.Kolonoskopi .berak campur darah / lendir .darm contour / darm steifung (bila ada obstruksi) . .Colok dubur : .Hemikolektomi kanan : untuk tumor di sekum. fleksura hepatika. kelenjar para aorta Pemeriksaan pertanda tumor CEA untuk monitoring kekambuhan tumor.Hemikolektomi kiri : untuk tumor di fleksura lienalis dan kolon descendens 123 . Pemeriksaan Imaging : .dilanjutkan proktoskopi .CT Scan 6.pemeriksaan IVP untuk mendeteksi infiltrasi tumor terhadap sistem saluran kemih. kolon ascenden.USG kalau perlu CT Scan untuk mengetahui penyebaran ke hati.massa di perut kanan bawah / kiri .Anamnesa - - : .Penyakit dalam . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Reseksi kolon transversum : untuk tumor di kolon transversum.

And Wagner G. Chang.Golinger. Norman S. Masa Pemulihan : 7-14 hari 12. .B. Otopsi : 15. : UICC-TNM Atlas. p. 10th ed. Informed Consent : Perlu 11. Schebe O.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. p. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis sampai 5 tahun atau 10 tahun 17. 426-793 . 1984. 1984. Penyulit Anemia Hipo albuminemia 10. Williams : Surgery of the Anus.aminoglikosida.Helena R. p. London.sefalosporin generasi III . Rectum Colon.Reseksi anterior : untuk tumor di rektum lebih dari 12 cm dari anus . 1990.. Springer Verlag. Rectum and Colon. p. Prentice Hall International Inc. 1033-1172 . 78-99 . p. JC. : Surgery of the Anus.metronidasol 8. 267-412 . 1997. 1993 p. Patologi : Harus 14. Bland : Tumors of the Colon in Maingot’s Abdominal Operation. Saunders Co. Bailiere Tindall. Keighley. Prognosis : Tergantung stadium tumor jenis patologi 16. 1st ed. 124 .B. 1982.metronidasol atau . Hasil : Tergantung stadium tumor 13.Reseksi sigmoid : untuk tumor sigmoid .Michael R.Spiessl B. 1281-1308. Prentice Hall. Kepustakaan : . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. W. Englewood Cliffs. 9th ed. 830-1091.Corman ML : Colon and Rectal Surgery. Kirby I. . 5th ed.

alkoholisme .dilanjutkan eksplorasi untuk reseksi atau by pass .Perkusi : . 4.Untuk kasus metastase : terapi paliatif 8.Anamnesa - : . Diagnosis Banding . Pemeriksaan Penunjang .6 : Karsinoma Pankreas 3.pankreatitis kronis .Ikterus obstruktif ok Stenosi saluran empedu .ERCP atau PTCD .Laboratorium : LFT.CT Scan 6. Informed Consent : Perlu 11.Penyakit Dalam .Palpasi : Courvoisier Sign .9 .Inspeksi : ikterus .Ikterus obstruktif ok batu empedu .1.Pemeriksaan Klinis : .diabetes mellitus . 19. CA. Konsultasi . Kriteria Diagnosis .tanpa ikterus : eksplorasi untuk reseksi atau by pass . Nomor ICD 2.Pembedahan / Terapi .Untuk kasus tidak ada metastase : . CA 19.dengan ikterus : . Masa Pemulihan : - 125 . Penyulit Gangguan faal pembekuan darah Hipo albumin Kolangitis 10. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Anasthesi 7.USG .Auskultasi : Pemeriksaan Laboratorium : LFT.Ikterus obstruktif ok keganasan saluran empedu 5.9 Pemeriksaan aspirasi jarum halus. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9. Diagnosis : D13.

Keith D. 10th ed. p. Patologi : Perlu 14. Hasil : Tergantung apakah tumornya resetabel / tidak 13. Lilleane. Prognosis : Tergantung kepada stadium tumor dan tindakan yang dilakukan 16.12. p. 1997.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Howard A. 9th ed. Prentice Hall Inc. 5th ed. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. 1989. 1977-2002 . Mc Graw Hill. Prentice Hall International Inc . p. John L. 2003-2030 126 . 1429-1437 . 10th ed. 1997.Schwartz SI : Principles of Surgery. Otopsi : 15. Kepustakaan : . Reber : Operation on the Pancreas in Maingot’s Abdominal Operation. Cameron : Pancreatic and Periampullary Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operation. prentice Hall Inc.

9 2. Terdapat riwayat adanya benjolan yang timbul hilang didaerah inguinal b. Untuk pasien neonatus dan bayi usia < 1 tahun perlu rawat inap pra dan pascabedah b. Dokter Spesialis Anak untuk toleransi operasi b. Cara pengobatan : Dilakukan herniotomi dengan berbagai tehnik c. Pada Neonatus : herniotomi dengan tehnik Michael Banks tanpa membuka fascia muskulus obliqus abdominalis 127 . DIAGNOSIS : Hernia Inguinalis Lateralis. Pemeriksaan Klinis : 1. Seringkali terdapat gangguan pasase usus jika terjadi jepitan pada usus dalam kantong hernia 2. NOMOR ICD : K. Benjolan didaerah inguinal dapat menetap dan memberikan gejala/keluhan nyeri atau menyebabkan anak/bayi rewel dan menangis c. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk tindakan pembedahan : a. Macam pengobatan : Tehnik Pembedahan : 1.40. HERNIA INGUINALIS LATERALIS UNILATERAL 1. Pemeriksaan fisik umum: Kondisi pasien baik b. DIAGNOSIS BANDING : 1. Pemeriksaan laboratorium : darah rutin 6. Pemeriksaan Penunjang : tidak diperlukan untuk diagnosis 4. Untuk pasien anak usia >1 tahun dapat rawat jalan pra dan pascabedah 8. Dokter Spesialis Anestesi untuk toleransi pembiusan 7. PERAWATAN RUMAH SAKIT : a. Tujuan terapi : Untuk pembedahan herniotomi secara berencana dengan persiapan b. KRITERIA DIAGNOSIS : I. Abses inguinal 5. Hidrokel funikuli 2. KONSULTASI : a. PENGOBATAN : a. Pemeriksaan radiologi torak b. Limfadenofati inguinal 3. Pemeriksaan fisik : a. unilateral 3. Anamnesis : a.I. Pemeriksaan fisik di daerah inguinal dapat terlihat atau teraba benjolan yang timbul hilang atau menetap II.

dengan tehnik membuka fascia muskulus obliqus abdominalis d. PROGNOSIS : Baik 17. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. PENYULIT : a. MASA PEMULIHAN : Perawatan luka operasi dapat dilakukan oleh : a. Dokter Spesialis Bedah Anak b. TEMPAT PELAYANAN : a. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. OTOPSI : Tidak diperlukan 16. Hernia Inguinalis Lateralis pada neonatus : RS. Residif 11. Hematome luka operasi b. Dokter Spesialis Bedah c. Hematom : dilakukan evakuasi b. Terapi komplikasi pengobatan : a. Kelas B b. HASIL : Tidak terjadi kekambuhan hernia inguinalis 14. Dokter Spesialis Bedah Anak untuk operasi Hernia Inguinalis Lateralis reponibilis pada neonatus dan bayi usia kurang dari 1 tahun 2. Dokter Umum d. Dokter Spesialis Bedah Umum dan Chief Residen Ilmu Bedah Umum untuk hernia inguinalis lateralis reponibilis pada anak-anak 9. Hernia Inguinalis Lateralis pada bayi dan anak-anak : RS kelas C 10. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Perawat senior 13. Pada bayi dan anak-anak : dikerjakan herniotomi dengan tehnik Pott’s. Paskabedah : penilaian penyembuhan luka dan kekambuhan 2. Residif hernia : dilakukan pembedahan ulang f.2. Jangka panjang : Kekambuhan dan munculnya hernia sisi lain 128 . TINDAK LANJUT : Setelah pasien pulang dari rumah sakit dilakukan evaluasi : 1. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : 1.

Terlihat distensi abdomen yang massive pada obtruksi intestinal distal sedangkan pada obstruksi intestinal tinggi distensi hanya terlihat didaerah epigastrium dan biasanya hilang setelah dipasang pipa lambung. Jika gambaran gelembung udara terlihat kecil-kecil dengan jumlah 3 gelembung atau lebih. 2. Pada kasus obstruksi intestinal lanjut dapat ditemukan gejala dehidrasi. Pada obtruksi intestinalis segmen tengah dari saluran pencernaan umumnya mekonium dapat keluar namun jumlahnya sedikit. Jika pada usus bagian distalnya terlihat gambaran udara itu berarti obstruksinya perineal. b. Radiologi : a.II. Laboratorium : a. b. Elektrolit darah c. Gejala muntah pada neonatus harus dianggap sebagai manifestasi obstruksi intestinalis sampai dapat dibuktikan secara klinis dan penunjang diagnosis tidak ditemukan. DIAGNOSIS : Obstruksi saluran pencernaan pada neonatus 3. Darah rutin b. Analisa gas darah 129 . 3. c. d. Muntah tidak berwarna tidak berwarna hijau namun jumlahnya lebih dari 25 cc menunjukkan sumbatan / obstruksi pada pintu kaluar lambung ( gastric outlet obstruction ). Muntah hijau menunjukkan lokasi obstruksi dibawah muara ampulla vater sebagai manifestasi peningkatan empedu yang keluar. KRITERIA DIAGNOSIS : Pemeriksaan Klinis : Anamnesis : 1. artinya obstruksi daerah yeyunum atau illeum. Jika terlihat dua gambaran gelembung udara ( double bubble ) berarti ada sumbatan didaerah duodenum.56. 2. OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN PADA NEONATUS 1.Foto polos abdomen posisi tegak merupakan penunjang diagnosis paling bermanfaat : a. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilihat kaliber kolon mulai dari bagian distal sampai proksimal tempat obstruksi kolon dan melihat posisi sekum pada kasus malrotasi. Jika terlihat satu gambaran gelembung udara ( single bubble ) berarti ada sumbatan didaerah pilorus. Pemeriksaan Fisik : 1. 2.Gangguan evakuasi mekonium dalam kwalitas dan kwantitas dapat merupakan gejala obstruksi intestinalis pada neonatus. sepsis sampai peritonitis Pemeriksaan penunjang : 1. syok hipovolumik. Obstruksi usus distal akan memperlihatkan gambaran distensi usus halus maupun kolon secara segmental atau keseluruhan.6 2. Muntah dan distensi abdomen merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada semua jenis obstruksi intestinalis. NOMOR ICD : K.

4. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Kelas B 8. Penyakit Hirshsprung’s 3. Cara pengobatan : 1) Intestinal dekompresi pada obstruksi non mekanis 2) Laparotomi eksplorasi untuk mengatasi obstruksi mekanis c. kolon dan rektum. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dokter Spessialis Bedah jika tanpa komplikasi 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk penatalaksanaan awal 9. Waktu pengobatan : Segera setelah dignosis ditegakkan e. Radiologi b. Dokter Spesialis Anastesi : untuk toleransi pembiusan 7. MASA PEMULIHAN : a. RS. Laboratorium 6. TEMPAT PELAYANAN : a. RS. DIAGNOSIS BANDING : 1. 2. Dokter Spesialis Anak : untuk toleransi pembedahan b. Dengan komplikasi di rawat di Ruang Perawatn Intensif 130 . Tujuan terapi : Mengatasi obstruksi saluran pencernaan b. KONSULTASI : Tidak diperlukan untuk diagnosis Konsultasi sebelum pembedahan : a. PENGOBATAN : a. Atresia intestinalis : Gastric outlet. Tanpa komplikasi dapat di rawat di ruang biasa b. Kelas B untuk pelayanan pembedahan b. anorektum. Mekonium ileus 5. PENYULIT : Sepsis 11. jejunoileal. Small left colon syndrome 5. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Macam pengobatan : Tergantung jenis penyebab obstruksi saluran pencernaan d. Kelas C untuk penatalaksanaan awal 10. duodenum. Mekonium Plug Syndrome 4. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perforasi dan peritonitis dilakukan laparotomi eksplorasi 2) Sepsis dilakukan perawatan intensif f. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a.

HASIL : Tergantung kondisi awal saat pasien datang 14. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17.13. TINDAK LANJUT : Setelah pasien di pulangkan pasien kontrol untuk evaluasi pascabedah dan pasca perawatan 131 . OTOPSI : Diperlukan 16. PATOLOGI : Diperlukan 15.

Dengan pemeriksaan rektum dapat dibrdakan. yang terlihat adanya peningkatan produksi cairan lambung yang berwarna seperti empedu. NOMOR ICD : K. Sedangkan intussusepsi dengan lead point dapat terjadi pada semua usia. pada prolaps karena intussusepsi teraba ada celah diantara bagian usus yang prolaps dengan mukosa anorektum 5.56. Pada perabaan dinding abdomen yang masih lembut umumnya dapat diraba massa berbentuk sosis pada kwadran kanan atas dan ditemukan pada hampir sebagian besar pasien intussusepsi yang datang lebih awal 3. terdapat riwayat gastroenteritis dan atau infeksi saluran nafas sebelumnya 4. Pemeriksaan Penunjang Medis : Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium akan didapatkan gambaran leukositosis (>20. Nyeri sistemik intermitten merupakan gejala paling sering menyebabkan bayi dibawa ke dokter 5. demikian juga pada intussusepsi pascabedah umumnya terjadi setelah 2-5 hari kemudian dengan meningkatnya produksi NGT disertai dengan memburuknya kedaan pasien tanpa penyebab yang jelas. Intussusepsi khas didapatkan pada bayi sehat dengan gizi baik. Intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan secara klinis dengan obstruksi usus mekanis oleh penyebab lainnya sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang medis seperti radiologi. DIAGNOSIS : Intussusepsi 3. 3.000 mm3) dan pergeseran sel ke kiri(shift to the left). Intussusepsi idiopatis merupakan kelainan paling sering ditemukan pada bayi usia 6-8 bulan (sekitar 50-85% kasus). laboratorium 6. INTUSSUSEPSI 1. 2. Pemeriksaan rectum kadang-kadang dapat diraba pseudoportio dari ujung distal intussuseptum dan pada sarung tangan terdapat darah dan atau lendir 4.III. Umumnya tanpa keluhan nyeri. 132 . KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. Intussusepsi pasca bedah abdomen dan toraks umumnya terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5 setelah pembedahan. wajahnya pucat seperti dalam keadaan sakit berat dan keadaan ini dapat berlangsung sekitar 20 detik selanjutnya bayi terlihat normal kembali. Gejala intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan dengan gejala obstruksi intestinalis lain. Muntah ditemukan pada 90% bayi dengan intussusepsi dan kadangkala juga terlihat dehidrasi 7. Keluhan defekasi berdarah yang khas “ Current jelly stool” didapatkan pada 50% kasus intussusepsi Pemeriksaan fisik : 1. Distensi abdomen kadangkala terlihat pada kasus intussusepsi lanjut atau telah terdapat komplikasi seperti perforasi usus 2. Serangan dan gambaran seperti ini dapat terulang lagi dengan interval waktu 1 sampai 2 jam 6. Intussusepsi lanjut dapat juga terlihat prolaps intussuseptum melalui anus sehingga seringkali sulit dibedakan dengan prolaps mukosa rektum. Kondisi pasien secara umum lebih memburuk. Dapat terlihat pada saat serangan bayi menangis sambil kakinya ditarik.1 2.

KONSULTASI : a. foto torak b. Tujuan terapi : 1) melakukan reduksi segmen usus yang mengalami intussusepsi 2) mengatasi komplikasi b. Untuk pembedahan konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Harus dirawat di RS Kelas B atau RS. leukosit darah. Enteritis hemorrhagika d. Fissura anus 5. DIAGNOSIS BANDING : a. laju endap darah. Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen posisi AP tegak dianjurkan jika gejala klinis belum mendukung karena fase awal akan terlihat gambaran distribusi udara dalam usus lebih banyak pada sisi kiri abdomen sedangkan gambaran udara usus sisi abdomen kanan menghilang. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilakukan pada kasus tanpa komplikasi atau gejala klinis belum jelas. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk persiapan pembedahan : a. Obstruksi saluran pencernaan b. Macam pengobatan : 1) Reduksi intussusepsi tanpa operasi. PENGOBATAN : a. 2. Sepsis : dengan laparotomi eksplorasi dan perawatan intensif f. Spesialis Bedah b. bila tanpa kontraindikasi 2) Reduksi manual dengan operasi d. Radiologi. Untuk diagnosis dan terapi non operatif konsultasi Dokter Spesialis Radiologi b. Kelas C 8. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Dengan enema barium akan terlihat lokasi intussusepsi terutama jika terdapat ileosekokolokolikal intussusepsi sedangkan intussusepsi ileoileal sulit ditegakkan diagnosis dengan cara ini. Laboratorium: hemoglobin darah. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : a. Divertikulitis c. reduksi dengan tekanan hidrostatis : enema barium. Perforasi : dengan laparotomi eksplorasi b. analisa gas darah 6. Gambaran kontras akan memperlihatkan adanya “cupping” seperti gambaran huruf “U” terbalik didaerah intussusepsi dan intussuseptum dari kolon.Radiologi : 1. udara 2) dengan operasi : laparotomi eksplorasi c. Terapi komplikasi pengobatan : a. 4. Spesialis Bedah Anak 133 . Cara pengobatan : 1) tanpa operasi.

diperlukan rawat inap untuk observasi selama 2-3 hari dirawat oleh : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah b. Dokter Spesialis Bedah iii. rawat inap 7 – 10 hari dilakukan oleh i.9. RS. Pascabedah reduksi manual tanpa komplikasi rawat inap 5 – 7 hari dilakukan oleh : 1) Dirawat Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dirawat Dokter Spesialis Bedah 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 4) Perawat Senior c. HASIL : Pasien pulang dengan kondisi baik dalam fungsi usus dan defekasi 14. PROGNOSIS : 1) Baik jika tanpa komplikasi 2) Jelek jika terdapat komplikasi 17. Pascabedah : 1) Infeksi pascabedah 2) Sepsis 3) Ileus berkepanjangan 11. Kelas C : intussusepsi tanpa komplikasi 10. PATOLOGI : Jika ditemukan leadpoint diperiksakan patologi anatomi 15. Perawat senior 13. Reduksi non operatif. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah iv. Kelas B: intussusepsi dengan komplikasi b. RS. Dengan reseksi usus halus dan atau usus besar. Dokter Spesialis Bedah Anak ii. MASA PEMULIHAN : a. TEMPAT PELAYANAN : a. PENYULIT : a. Prabedah : 1)Perforasi 2)Sepsis b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. TINDAK LANJUT : Pasien harus dilakukan evaluasi setelah pulang dari rumah sakit untuk follow up 134 . OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa penyebab yang jelas 16.

PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan penunjang prabedah : i. vestibulun vagina sehingga mekonium tampak keluar melalui tempat tersebut. Pada pemeriksan fisik daerah perineum. Bayi usia lebih dari 24 jam secara klinis akan memperlihatkan gambaran obstruksi intestinalis rendah 3. Radiologi : Foto Cross table abdominal foto. 2. muntah hijau Pemeriksaan fisik : 1.IV. Radiologi : 1. 42. Laboratorium : pemeriksaan urine lengkap 2. DIAGNOSIS : Anus Imperforasi 3. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Perlu rawat inap 135 . Tidak mempunyai lubang anus pada bayi baru lahir sehingga tidak terdapat evakuasi mekonium. Laboratorium : 1) Hemoglobin darah 2) Laju endap darah 3) Leukosit darah 4) Faal hemostasis 5) Albumin darah dan total protein ii. posisi prone 4. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. Untuk diagnosis tidak diperlukan konsultasi b. Distal colostogram 3. sering ditemukan fistule rektum ke perineum. ANUS IMPERFORASI : 1. Foto toraks 2. 3. DIAGNOSIS BANDING : Tidak diperlukan 5. Gejala obstruksi intestinalis rendah seperti abdomen kembung. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengetahui kelainan congenital lain yang menyertai anus imperforasi Pemeriksaan penunjang : 1. 2. NOMOR ICD : Q. KONSULTASI : a. Untuk pembedahan konsultasi : 1) Dokter Spesialis Anak 2) Dokter Spesialis Anestesi 7.3 2. anus tidak ditemukan pada tempat yang seharusnya. Foto tulang belakang 6. Terdapat keluhan mekonium keluar bersama-sama saat pasien kencing atau keluar didaerah perineum dan atau vagina karena adanya fistula.

Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan pada saat kolostomi atau anoplasti dilakukan reoperasi 2) Retraksi anus atau kolostomi dilakukan reparasi ulang 3) Prolaps anus atau kolostomi dilakuakn reparasi 4) Skinrash karena iritasi kulit diberikan local proteksi dengan zinksalf f. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. tanpa komplikasi pascabedah 14. dilakukan kolostomi atau anoplasti 2) Setelah usia. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. HASIL : Diharapkan pasien dapat defekasi kontinens. Cara pengobatan : 1) Pengobatan sementara dengan kolostomi 2) Pengobatan definitive dengan anoplasti c. berat badan. MASA PEMULIHAN : 1) Pascabedah kolostomi dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS. PENGOBATAN : a. Inkontinensi anus 11. Perawat Senior 2) Pascabedah Anoplasti dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Anak. Tujuan terapi : 1) Terapi awal untuk pengalihan sementara saluran pembuangan melalui kolostomi jika diperlukan 2) Terapi definitive untuk pembuatan lubang anus dengan tehnik anoplasti b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. RS Kelas C untuk kolostomi 10. Dokter Spesialis Bedah. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa sebab yang jelas 136 . PENYULIT : a. dan hemoglobin pasien memenuhi syarat untuk pembedahan definitive berencana e. Kelas B untuk Anoplasti b.8. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk kolostomi 2) Dokter Spesialis Bedah Anak untuk Anoplasti 9. RS. TEMPAT PELAYANAN : a. Prolaps anus d. Perdarahan tempat operasi b Retraksi anus c. Macam pengobatan : 1) Pembuatan kolostomi terpisah (divided colostomy) jika diperlukan 2) Pembuatan anus dengan tehnik Postero sagittal anorectoplasy (PSA) d.

16. TINDAK LANJUT : 1)Setelah pasien pulang dilanjutkan dengan businasi dan dilatasi anus sampai kaliber sesuai usia pasien dilakukan kontrol dan evaluasi secara rawat jalan 2) Penutupan kolostomi dilanjutkan dengan dilatasi dan businasi anus sampai kaliber sesuai dengan usia dengan frekwensi sesuai skedul 3) Toilet training sampai pasien defekasi kontinens melalui evaluasi sesuai sistim skoringnya 137 . PROGNOSIS : Baik jika pengelolaan awal dan lanjut sesuai prosedur 17.

Distensi abdomen d. konstipasi e.Radiologi : 1. Konstipasi khronis : a. Distensi abdomen 2. Demam e. Evakuasi mekonium terlambat lebih dari 24 jam b. Tidak bisa mengedan 4. Perut kembung c.Gambaran obstruksi usus akut / khronis . Diare khronis atau akut b.Foto polos abdomen 3 posisi anterior-posterior (AP). Gangguan defekasi berlanjut. Konstipasi sebagai gejala pokok 2. DIAGNOSIS : Penyakit Hirschprung’s 3. Tanda dan gejala sepsis dan septik syok Pemeriksaan penunjang : A. PENYAKIT HIRSCHSPRUNG’S 1. Dehidrasi sampai syok 2. lateral dan tengkurap akan memperlihatkan : . Tanda dan gejala enterokolitis akut 4. Foto polos abdomen : gambaran obstruksi usus rendah . Terdapat tanda-tanda obstruksi Intestinalis akut: a. Terdapat obstruksi intestinalis parsial berulang b. Muntah-muntah c. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : Pada bayi baru lahir dan usia beberapa minggu : 1. Perut buncit 3. Fekaloma Pemeriksaan fisik : 1. Diare berulang 3. Perut kembung c.Udara tidak mencapai cavum pelvis 138 . Malnutrisi 5. Enterokolitis akut atau khronis : a.43. NOMOR ICD : Q. Tanda dan gejala dehidrasi 3. Muntah hijau d.V.1 2. Sepsis Pada anak lebih besar : 1.

Hipotiroid 2. Anak lebih besar . Fissura anus e. a. Mekonium plug syndrome b. Konstipasi oleh karena berbagai penyebab seperti : hipotiroid. Bayi baru lahir dan usia beberapa minggu . Tumor anorektum d. Biopsi daerah anorektum untuk pemeriksaan patologi anatomi diperlukan jika diagnosis klinis dan penunjang radiologi belum memberikan diagnosis definitif 4. . Cara pengobatan : 1) Tindakan awal dikerjakan kolostomi untuk diversi feses sementara 2) Tindakan definitive tarik terobos retrorektal prosedur Duhamel modifikasi dengan stapler 139 . Tujuan terapi : Membuat fungsi defekasi pasien kembali mendekati normal b. KONSULTASI : a. Untuk diagnosis : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi 2) Konsultasi Dokter Spesialis Patologi Anatomi b. Foto dengan kontras : Enema barium memperlihatkan : . Enterokolitis netrotikans e. Untuk Tindakan dan perawatan : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Anak 2) Konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. retardasi mental b. DIAGNOSIS BANDING : 1. Anterior anus 5. daerah proksimal yang dilatasi dibatasi daerah transisi.Gambaran lipatan mukosa kolon ( transversal fold ) B. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Dilakukan jika diagnosis klinis dan radiologi belum memberikan kepastian diagnosis : a. PENGOBATAN : a. Fisura anus f. Stenosis anus c.Gambaran daerah rektum yang menyempit. Manometri rectum 6. Laboratorium untuk diagnosis tidak diperlukan C. a. Prematuritas d. Biopsi rectum b.3. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. Stenosis anus c.

TEMPAT PELAYANAN : a. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Kelas B untuk tindakan defnitif b. RS. dengan regulasi defekasi melalui pengaturan diet dan obat pencahar f. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan dilakukan kolostomi 2) Setelah persyaratan operasi definitive terpenuhi dilakukan Prosedur Duhamel e. kolostomi dan perawatan awal 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah. Perawat senior 13.tindakan kolostomi dan terapi definitive 2) Spesialis Bedah untuk diagnosis. PENYULIT : a. MASA PEMULIHAN : Dilakukan perawatan pascabedah oleh : a. berat badan. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Spesialis Bedah Anak. OTOPSI : Diperlukan pada kematian pasien Penyakit Hirschsprung’s yang tidak disebabkan langsung oleh tindakan maupun komplikasi dalam pengelolaannya 140 . untuk perawatan awal dan kolostomi 9. Obstivasi khronis c. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. Macam pengobatan : 1) Kolostomi sigmoid jika memungkinkan 2) Leveling kolostomi pada kasus yang tidak tegas segmen kolon yang aganglioner 3) Laparotomi pada Penyakit Hirschsprung’s neonatus dengan gejala obstruksi total 4) Prosedur Duhamel setelah memenuhi syarat dalam usia. Dokter Spesialis Bedah c. Menentukan demarkasi usus yang aganglioner dan yang berganglion 15. Untuk diagnosis b. HASIL : Pasien dapat defekasi spontan dan kontinen 14. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan. Enterokolitis b. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Kelas C untuk tindakan dan perawatan awal 10. laboratorium dan toleransi operasi d.c. Inkontinensi alvi 11. pemberian antibiotika dan kolonrektal washing 3) Gangguan defekasi. untuk diagnosis. dilakukan reoperasi untuk menghentikan perdarahan 2) Enterokolitis. PATOLOGI : Diperlukan untuk : a. fisik. RS.

PROGNOSIS : Baik. adanya penyulit dan perlunya tindakan revisi pembedahan 141 .16. TINDAK LANJUT : Pasien kontrol rawat jalan untuk follow-up fungsi defekasi. dan pasien datang pada saat belum terdapat komplikasi 17. jika pengelolaan sesuai dengan prosedur.

bibir terlihat kering. sedangkan jika hasil pemeriksaan leukosit mencapai 20. 8. Urinalisis Perlu diperiksa jika terdapat gejala klinis yang sulit dibedakan dengan infeksi saluran kencing. Darah Umumnya ditemukan leukositosis (11.Pemeriksaan rectum dilakukan jika penemuan gejala seperti diatas masih belum dapat membantu diagnosis apendisitis. APPENDISITIS AKUT 1.Tanda-tanda “rebound tenderness rigiditas” dinding abdomen muncul jika telah terjadi perforasi apendiks.Mual dan muntah terjadi setelah timbul gejala nyeri perut. Pemeriksaan fisik : 1. Foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran mass effect akibat hilangnya gambaran gas di daerah abdomen kanan bawah. NOMOR ICD : K. abdomen distensi dan tegang. anak mengalami demam dengan suhu axilla diatas 38 derajat celcius 2.9 2. kadang-kadang anak lebih besar terdapat gejala anoreksia sehingga semakin menyulitkan diagnosis. 5.Agak sulit berjalan dan tungkai kanan terlihat fleksi pada saat tiduran 3.Tanda peritonitis umum yang lebih menonjol pada pemeriksaan abdomen terdapat nyeri perut yang menyeluruh dan seluruh dinding abdomen mengalami rigiditas. pada pemeriksaan ini akan ditemukan tenderness kearah kanan dinding rectum.000 mm3) dengan pergeseran sel kekiri namun demikian hasil pemeriksaan leukosit normal dapat ditemukan pada anak dengan apendisitis.Selanjutnya nyeri perut berpindah kedaerah kwadran kanan bawah abdomen (daerah Mc Burney) 3. 2.Nyeri perut daerah periumbilikus 2.Pemeriksaan palpasi abdomen ditemukan titik nyeri daerah “Mc Burney’s 4. kadangkala dapat diraba adanya massa atau pembentukan abses. seringkali sulit dibedakan dengan gejala gastroenteritis. 6. jika abses terlokalisir dalam rongga peritoneum teraba massa dengan palpasi bimanual dari dinding abdomen dan pemeriksaan rectum. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1.000 mm3 dengan gejala klinis minimal untuk apendisitis kemungkinan disebabkan keadaan lain. Umumnya hasil pemeriksaan urine normal pada apendisitis pada beberapa kasus apendisitis dapat ditemukan sel darah merah dan atau sel darah putih pada sidemen urine Pemeriksaan radiology atau ultrasound : Untuk gejala apendisitis tertentu membutuhkan pemeriksaan radiology dan atau ultrasound ( USG ) seperti : 1.Pada pemeriksaan abdomen. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium : 1. pipi kemerahan. Wajah nampak pucat.35. 7.VI. DIAGNOSIS : Appendisitis Akut 3. ditemukan pada 10% kasus dapat 142 .000-15.Obturator dan psoas sign sebagai petunjuk lain terdapat proses keradangan didaerah posterior lokasi apendiks namun jarang ditemukan pada anak-anak.

Macam pengobatan : a. Tanda-tanda apendisitis akut akan terlihat gambaran barium yang menunjukkan penyempitan lumen apendiks dan tiba-tiba terhenti (cut off) akibat adanya obstruksi. faal hemostasis 2) Urine : sedimen urin b. Untuk diagnosis : konsultasi Dokter Spesialis Anak b. regional enteritis. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Prabedah : a. DIAGNOSIS BANDING : a. 3. PENGOBATAN : a. d. apendiktomi c. Apendiktomi anterograde b. pnemonia paru kanan lobus bawah. Konstipasi : Massa feses yang teraba pada pemeriksaan palpasi abdomen dan pemeriksaan rectum dapat membedakannya dengan apendisitis. Radiologi : 1) Foto toraks 2) Sonografi appendiks vermiformis 3) Apendikograpi jika diperlukan 6. Enema barium perlu dikerjakan pada anak dengan nyeri perut berulang tanpa gejala penyerta yang jelas. Laboratorium : 1) Darah rutin : Leukosit darah dan Laju endap darah (LED). c. sickle cell crisis. kolesistis kadangkala gejala klinis menyerupai apendisitis. Gastroenteritis : Gejala muntah dan diare mendahului gejala sakit perut pada umumnya tidak ditemukan nyeri perut terlokalisir di daerah abdomen bagian bawah. b. KONSULTASI : a. 4. intususepsi. 5. Penyakit radang panggul : terutama anak dan wanita dapat menyerupai gejala apendisitis. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan rutin pada anak dengan gejala klinis minimal atau anak yang gemuk. Tujuan terapi : Menganggkat apendiks vermiformis b.terlihat gambaran fekolit (feses yang mengeras sebagai penyebab sumbatan obstruksi lumen apendiks) 2. Untuk pembedahan: konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Apendiktomi retrograde d. Cara pengobatan : Melalui tindakan pembedahan. Beberapa kasus lain seperti infeksi saluran kencing dan infeksi Mackle’s divertikulum. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan dan pasien memenuhi sayarat untuk pembedahan 143 . namun dapat dibedakan dari proses nyeri perut yang tidak didahului oleh nyeri perut klasik didaerah umbilicus. Ultrasound/USG dapat terlihat ukuran apendiks lebih besar dari normal disertai gambaran abses periapendikuler atau tumpukan abses di daerah rongga pelvis.

dengan perawatan luka c. Dokter Spesialis Bedah c. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Perforasi appendicitis akut b. Perdarahan. Kelas B bila terdapat komplikasi b. Abses peri apendikulare d.e. Terapi komplikasi pengobatan : a. PENYULIT : a. Infeksi luka operasi. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. Perawat senior 13. RS. Spesialis Bedah c. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 9. TEMPAT PELAYANAN : a. Spesialis Bedah Anak b. Dokter Spesialias Bedah Anak b. dilakukan reoperasi b. RS kelas C bila tanpa komplikasi 10. Infeksi luka operasi c. dengan relaparotomi f. TINDAK LANJUT : Pasien rawat jalan untuk kontrol dan follow-up pascabedah 144 . Sepsis prabedah dan pascabedah 11. HASIL : Pascabedah pasien pulih baik 14. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. OTOPSI : Diperlukan jika kematian pasien tidak jelas penyebabnya 16. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dapat dilakukan oleh : a. PATOLOGI : Diperlukan untuk konfirmasi 15. Abses intraperitoneal.

Cara pengobatan : Pasien dilakukan pembedahan dengan persiapan minimal untuk penutupan defek dinding abdomen dan pascabedah mendapat perawatan intensif dengan alat bantu pernafasan c. Keadaan umum bayi buruk b. Analisa gas darah 6. setelah usia. Tujuan terapi : Untuk mengembalikan organ rongga abdomen yang berada diluar.79. NOMOR ICD :Q. DIAGNOSIS : Omphaloce pecah dan Gastroschisis 3. Riwayat kehamilan dan persalinan dengan distocia b. OMPHALOCELE PECAH DAN GASTROSCHISIS 1.2 dan Q. Terlihat dinding abdomen mengalami kelain 4.beratbadan dan kondisi pasien memenuhi syarat untuk pembedahan berencana 145 . Untuk tindakan pembedahan dibutuhkan pemeriksaan penunjang : 1)Radiologi : foto torak dan abdomen 2)Laboratorium: Hb. Penutupan primer dinding abomen 2. Pembedahan primer dan sekunder dilakukan sebelum usia bayi 12 jam 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Penutupan sekunder dengan alat bantu seperti mesh 3.silastik.kasa steril dll) b. Penutupan definitif d. sekaligus menutup dinding abdomen langsung maupun ditutup sementara dengan alat (mesh. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : a. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan perawatan di rumah sakit prabedah maupun pascabedah 8. PENGOBATAN : a. Pembedahan definitif.VII.3 2. Macam pengobatan : 1. Untuk diagnosis tidak dibutuhkan pemeriksaan penunjang b. Dinding abdomen dan tali pusar yang tidak normal Pemeriksaan fisik : a. Untuk diagnosis tidak diperlukan b. KONSULTASI : a. DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada 5. Untuk tindakan pembedahan konsultasi: Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anestesi 7. Waktu pengobatan : 1.Faal hemostasis.79.

Kelas B 10. Distres pernafasan dengan alat bantu pernafasan b. PROGNOSIS : Du-Boab ad malam 17. Syok hipovolumik k. Terapi komplikasi pengobatan : a. Dokter Spesialis Bedah f. Spesialis Bedah c. Sepsis j. Spesialis Bedah Anak b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. OTOPSI : Diperlukan pemeriksaan otopsi jika pasien meninggal untuk menentukan causa mortis 16. Distress pernafasan pascabedah i. Intensifis di Ruang Perawatan Intensif d. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dilakukan oleh : c. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. PENYULIT : g. Gangguan pasase usus 11. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk perawatan awal 9. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Gangguan pasase usus dengan relaparotomi dan intestinal dekompresi f. TEMPAT PELAYANAN : RS. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. TINDAK LANJUT : Pasca perawatan di rumah sakit pasien rawat jalan untuk evaluasi dan follow-up perlunya tindakan lebih lanjut 146 . Kelainan bawaan pada organ lainnya yang terjadi bersamaan h. pasase usus berfungsi baik 14.e. HASIL : Pasien bisa survive. Dokter Spesialis Bedah Anak e.

St Louis.M.. Eric W. Coran.D.. Essential of Pediatric Surgery Mare I. W. Pediatric Surgery Keith W.Rowe. Fondkallsrud..B.D.D.D. M. Arnold G..Grosfeld.M. Second Edition..O’Neil Jr. Mosby-Year Book.: Jay L. James A. Copyright 2000 2.Thomas M. Saunders Company Philadelphia. Misouri Copyright 1995 147 .Kepustakaan : 1. Inc.Holder.D.MD.M.M.D.M. Aschraft.

I. 4.dengan obat-obatan → indikasi CT-Scan kepala. .Foto polos kepala AP & lateral : Penderita CKR dengan : . . muntah.CVA hemoragik dan non hemoragik. Diagnosis Banding : .GCS< 15 . nyeri kepala.IRD kemudian untuk observasi di IRD lantai 2 atau Instansi Rawat Inap 9. gelisah bila memberat walaupun .GCS 3.Riwayat cidera kepala. 8.Subdural hematum . kecuali ada penyulit dan perlu operasi (tertulis).mual.Orthopedi) 6.Observasi terhadap penyulit yang timbul yaitu: .Lateralisasi 7.Kardio.Pernah tidak sadar/saat ini tidak sadar.Epidural hematum .Penurunan kesadaran.ICD 850 2.Anti Vertigo . .Lateralisasi.CT-Scan kepala : Penderita CKR dengan : .Vulnus apertum dikepala panjang > 5cm . Terapi : .Cairan infus selama penderita minumnya tidak adekuat.Neurologi .Intra cerebral hematum 10.Anti Emetik . .Keluhan bertambah berat. nyeri kepala. Konsultasi : .Analgetik . . Perawatan RS : .Cidera kepala ringan (CKR) / Commotio Cerebri . Patah tulang (Interne. Tempat Pelayanan : . . Kriteria Diagnosis : . mesti dengan pemberian obat-obatan. DM.Derajat kesadaran.Perdarahan Intra kranial .Sefal hematoma diameter >5cm. Cedera kepala 1.Kalau ada kelainan: Hipertensi. Pemeriksaan Penunjang : . .Vertigo. Nama Penyakit/Diagnosis/ICD : . .Gelisah. Penyulit : . mual muntah. 5. .Keluhan : . 148 .Simtomatis . Informed Consent : Tidak perlu.

et al : The role of secondary brain injury in determining outcome from severe head injury. Journal of Trauma 1993 .Pulang dengan sembuh total. Standar Tenaga : . 36 (1) : 89-95. Output : .Bila ada penyulit: . 3.1-2 minggu 14. 1995. Journal of Trauma 1994 . 15. McGraw. 4. Chestnut RM. Klauber MR.Ahli Bedah Umum . 149 .Residen bedah umum . 34 : 216-222. 2. New York. PA : .Tanpa penyulit 2-5 hari . Marshall LF.Penyulit 5-7 hari 13. Willberger JE. American college of Surgeon ATLS .Bila tidak ada penyulit : . Kepustakaan: 1. American Association of Neurological Surgeons: Guidelines for the Management of Severe Head Injury.11.Ahli Bedah Saraf 12.Residen senior bedah .hill. Povlishock JT (eds) : Neurotrauma. Carlier PM : Problems with initial Glasgow Coma Scale assessment caused by prehospital treatment of patients with head injuries . Narayan RK.Penderita CKR meninggal tanpa kausa yang jelas. 1996. results of a national survey.Perawat yang terlatih .Dokter umum/Residen . 5. Head trauma : Chicago Six edition 1997.Tidak perlu 16. Lama Perawatan : . Otopsi/Risalah : . Masa Pemulihan : . Marion DW.

Lama perawatan: . Perawatan RS: .Benjolan pada pangkal hidung. Diagnosis Banding : .IBS 9. CT Scan . Informed Consent (tertulis): . .II.Foto Ro : Kepala atau Lumbosakral.Spesialis Bedah Saraf 12. WB Saunder Company.MRI 5. Konsultasi : .Eksisi meningoensefalokel & duraplasti 8. Tenaga standar: . Neurological Surgery. United state of America 1996. Pemeriksaan Penunjang : .3 hari Kepustakaan: 1. Julian R. Kriteria Diagnosis: . nyeri tekan 3. Nama penyakit / diagnosis: .infeksi.MENINGOENSEFALOKEL . Meningoensefalokel 1.ICD 5.. Youmans.Neurologi . kebocoran cairan serebrospinal 10.Rawat inap 7. lipoma 4.Bedah Plastik (pada penderita dewasa) 6.021 2.Ya 11.tengkuk atau pinggang bawah sejak lahir. Penyulit: .Kista Dermoid. Tempat pelayanan : . Forth edition . 150 . Terapi: . teratoma.

Ya 11. IV.Makrosefal 4. WB Saunder Company.V-P shunt 8. 3. Tumor otak 151 . Konsultasi : . sejak lahir. Youmans. Hidrosefalus 1. Penyulit: . Nama penyakit / diagnosis: ..Neurology 6. United state of America 1996.hematoma intracranial 10. vasa kepala prominen. Forth edition .III. Tempat pelayanan : . Perawatan RS: .IBS 9.Kepala besar.HIDROSEFALUS INFANTIL . psikomotor terhambat. Kriteria Diagnosis: . Julian R. Pemeriksaan Penunjang: .Rawat inap 7.Ro Kepala. CT Scan 5. Informed Consent (tertulis): . Sun set phenomena. Terapi: . Tenaga standar: . Neurological Surgery.7 Hari Kepustakaan: 1.ICD 5.023 2. Lama perawatan: . Diagnosis Banding: .Spesialis Bedah Saraf 12.

Penyulit: . edema serebri.. Ohta Tomio . Forth edition .1. Julian R. Kinpodo Publising Company. Pemeriksaan Penunjang: . Masa pemulihan: .Perdarahan.Spesialis Bedah Saraf 12.Nyeri kepala. defisit Neurologi fokal ( TIK meningkat kronis Progresif) 3. Nama penyakit / diagnosis: .: .: Illustrated Neurosurgery. Lama perawatan: .IBS 9. Tenaga standar: .TUMOR OTAK . tension headache. William and Wuilkins co. Terapi: . infeksi 10.10 hari 13. Youmans.Migrain. Tindall. WB Saunder Company. United state of America 1996. P.Neurologi 6.029 2.Ya Kepustakaan: 1. Tempat pelayanan : .Ya 11. Diagnosis Banding: . CT Scan. 3. muntah. 2. The Practice of Neurosurgery. George T. Perawatan RS: . SDH kronik. Abses. Kriteria Diagnosis : . Neurological Surgery. United state of America 1996. MRI 5.Ro Kepala.3 bulan 14.Rawat Inap 7. Japan 1995.Trepanasi + reseksi tumor 8. Konsultasi : . tuberkuloma 4. Informed Consent (tertulis): . penglihatan kabur.ICD 5. 152 .A.

.Tumor Kauda Equina 4. Julian R. 3. Kinpodo Publising Company. United state of America 1996. Terapi: . Bila 1) gagal (laminektomi + eksisi HNP) 8. Japan 1995.V.MRI 5. Ohta Tomio .Spesialis Bedah Saraf 12.Ya 11. Nama penyakit / diagnosis: . The Practice of Neurosurgery. Perawatan RS: . 153 .: Illustrated Neurosurgery. Tempat pelayanan: . analgesik 2. Youmans. George T. Tindall.IBS 9. Neurological Surgery.803 2.Kaudografi . Informed Consent (tertulis): . Forth edition .Rawat inap 7.Nyeri salah satu tungkai yang menjalar dari pinggang kepaha dan betis. WB Saunder Company. Pemeriksaan Penunjang: . Penyulit: .HNP (Hernia Nukleus Pulposus) ICD 5. Konsultasi : . United state of America 1996.Neurologi 6. Diagnosis Banding: . Kriteria Diagnosis: . 2. Lama perawatan: . William and Wuilkins co. Cedera saraf dan medula Spinalis 10. Tenaga standar: . tes laseque positif 3. HNP 1.7 hari Kepustakaan: 1. fisioth/.Robekan duramater.Konservatif 2 minggu : bed rest.

Tenaga standar: .Laminektomi + reseksi tumor 8. Forth edition . Youmans. Tindall. 2. CT Scan 5.Trauma. Tumor medulla spinalis 1. William and Wuilkins co. George T.ICD 5.10 hari Kepustakaan: 1. Perawatan RS: . United state of America 1996. Neurological Surgery. Pemeriksaan Penunjang: . Tempat pelayanan : .Neurologi . 154 .Rawat Inap 7.eksisi biopsi 9. infeksi. Informed Consent (tertulis): .Lumpuh anggota gerak bilateral secara progresif.Myelografi.Bedah Onkologi (pada tumor ganas) 6.TUMOR MEDULA SPINALIS . Penyulit: .Perdarahan. MRI. Julian R. Kriteria Diagnosis: . kebocoran cairan serebrospinal 10. United state of America 1996. Terapi: ..Ya 11.Spesialis Bedah Saraf 12. Konsultasi : . WB Saunder Company. paresis tipe UMN 3. Spondilitis 4. Lama perawatan: . Diagnosis Banding: . Nama penyakit / diagnosis: .VI. The Practice of Neurosurgery.039 2.

N 20. Sedang. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu ureter 5. SC > 2mg% tanpa kontras. Nadi.BATU PIELUM . UL. NOMOR ICD 2. Asam Urat darah. BATU GINJAL : . Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis berat/penderita kurus) Teraba tumor kistik. SC <2mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 155 . Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.BATU PIELUM .I. BUN/SC.BATU KALIKS .BATU STAGHORN : . : . nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/penderita kurus) 4.USG kurang/tidak informatif.BATU KALIKS . USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF. DIAGNOSIS 3.BATU STAGHORN 1.

TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy) Phyellolithotomy Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy atas pertimbangan khusus 9.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy jika ada fasilitas) Simple/Extended Phyellolithotomy Nephrolithotomy. Bivalve Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Nephrostomy atas indikasi khusus 156 . B dan RS. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Phyellolithotomy Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A.6. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.

Vol. KEPUSTAKAAN • Alken P. Guidelines on Urolithiasis. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Cambell’s Urology. Treatment of Renal Stone. 1998. Urological Guidelines. July 4-5. infeksi. Stone Desease. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. 157 . Batu Saluran Kemih. • Tiselius H. Standar Pelayanan Medis. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Gallucci M.(3). MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. • Menon M.. Alken P. • IDI . European Association of Urology.10. Resnick MI. First International Consultation on Stone desease. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. 17. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. Heath Care Office. Ackermann D. Paris. Urinary Lithiasis: Etiology. 2003. Eddition 2003. Conort P. 2001. Buck C. infeksi. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Kambuh (residif) • Contracted kidney (ginjal mengecil) 11.-G. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14 -90 hari pascabedah) • Lain-lainnya atas intruksi operator 13. 8th . PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. Diagnosis and Medical Management. Depkes RI-IDI. March 2004. 18.

N 20. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis berat/pada penderita kurus) Teraba tumor kistik. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/pada penderita kurus) 4. Asam Urat darah. SC <2 mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 158 . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Tekanan darah. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. DIAGNOSIS : . DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu pielum/kaliks 5. Nadi. UL. SC > 2mg% tanpa kontras.II.1 : . BATU URETER 1. BUN/SC.BATU URETER 3. NOMOR ICD 2. Sedang. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.

INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Ureterolithotomy 1/3 tengah dan 1/3 atas Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. Nefrostomy atas indikasi khusus 9. Nephrectomy atas indikasi khusus 10.8. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Contracted kidney (ginjal mengecil) • Kambuh (residif) 11. B dan RS. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Kombinasi Nephrectomy. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14-90 hari pascabedah) • Lain-lainnya tergantung instruksi operator 159 . Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Ureterolithotomy Kombinasi Nephrostomy.

13. 1998. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Depkes RI-IDI. Guidelines on Urolithiasis. Alken P.. Heath Care Office. • IDI . • Segura JW. 2003. European Association of Urology. July 4-5. Ackermann D. American Urological Assosiation. 17. Diagnosis and Medical Management. Vol. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. infeksi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Treatment of Renal Stone. Resnick MI. Batu Saluran Kemih. KEPUSTAKAAN • Alken P. First International Consultation on Stone desease. Preminger GM. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18.-G. 8th . infeksi. Paris. • Menon M. Conort P. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.(3). Cambell’s Urology. 1997. Standar Pelayanan Medis. Gallucci M. 2001. • Tiselius H. The Management of Ureteral Calculi. Eddition 2003. Buck C. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. Assimos DG et al. Urinary Lithiasis: Etiology. Stone Desease. Urological Guidelines. March 2004. 160 .

Kurus) Lokal Teraba batu (apabila batu cukup besar/penderita kurus) 4. UL. DIAGNOSIS : .0 : . IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. Kultur urin dan BS acak untuk umur > 40 tahun • Radiologi BNO/BOF.BATU KANDUNG KENCING . PERAWATAN RUMAH SAKIT : • Prabedah • Pascabedah 161 . NOMOR ICD 2. DIAGNOSIS BANDING : • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • PID untuk wanita dewasa 5. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan. BATU KANDUNG KENCING DAN BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 1. Tekanan darah. Asam Urat darah. USG ginjal dan kandung kencing. 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Laboratorium DL.N 21. • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis. 7. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. SC < 2mg dengan kontras). SC > 2mg% tanpa kontras.III. BUN/SC.BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 3. • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor. Nadi. KONSULTASI : • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun). Sedang.

PENYULIT : • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 162 . TEMPAT PELAYANAN : • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Vesicolithotomy.8. kombinasi dengan cystostomy atas pertimbangan khusus Diverticulecthomy dan ambil batu. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1 hari pascabedah • Pelepasan kateter uretra setelah 7 hari pascabedah (pada vesicolithotomy) • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu/devertikel kandung kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Lithotripsy Vesicolithotomy Diverticulecthomy dan ambil batu Kombinasi 9. INFORMED CONSENT : • Diperlukan 12. kombinasi cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. kombinasi dengan cystostomy atas pertinmangan khusus • RS Kelas A dan B (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Vesicolithotomy.

2001.(3). fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. Urinary Lithiasis: Etiology. March 2004. infeksi. Diagnosis and Medical Management. Buck C.14. • Tiselius H. Stone Desease. Paris. Ackermann D. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 163 . Eddition 2003. Gallucci M. Treatment of Renal Stone. 18. 8th . Conort P. Guidelines on Urolithiasis. July 4-5. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. First International Consultation on Stone desease.-G. Vol. KEPUSTAKAAN • Alken P. infeksi. PATOLOGI • Batu analisa 15. Batu Saluran Kemih. PROGNOSIS • Baik 17. Cambell’s Urology. Resnick MI. • IDI . 1998. Standar Pelayanan Medis.. European Association of Urology. • Menon M. Heath Care Office. Urological Guidelines. Depkes RI-IDI. 2003. Alken P. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan.

Nadi.BATU URETRA 3. BUN/SC. Asam Urat darah. Tekanan darah. Kultur urin dan BS acak(untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF.IV. Kurus) Lokal Teraba batu pada uretra Teraba kandung kencing (apabila sisa urin/retensio urin/penderita kurus) 4.1 : . Sedang. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 164 . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS BANDING • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • Batu kandung kencing 5. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6. NOMOR ICD 2. BATU URETRA 1.N 21. UL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS : . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1 hari pasca-Lithotripsy • Pelepasan cystostomy catheter sesuai operator 13. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Cystostomy atas pertimbangan khusus Lithotripsy Kombinasi 9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. drong batu kedalam/keluar kandung kencing dan pemasangan kateter uretra (dower catheter). PATOLOGI • Batu analisa 165 . HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 14.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. B dan RS. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Lubrikasi.8. vesicolithotomy Cystostomy atas indikasi retensio urin • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.

Batu Saluran Kemih.-G. Conort P. Resnick MI. Depkes RI-IDI. PROGNOSIS • Baik 17. Paris. Urinary Lithiasis: Etiology. Vol.(3). infeksi.15. Ackermann D. Treatment of Renal Stone. infeksi. • Tiselius H. Guidelines on Urolithiasis. Diagnosis and Medical Management. 2001. Alken P. 166 . Buck C.. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Eddition 2003. Urological Guidelines. European Association of Urology. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Gallucci M. 1998. First International Consultation on Stone desease. • IDI . fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. KEPUSTAKAAN • Alken P. July 4-5. Cambell’s Urology. March 2004. 8th . Standar Pelayanan Medis. Stone Desease. Heath Care Office. • Menon M. 2003.

DIAGNOSIS BANDING • Batu uretra • Sistitis • Batu kandung kencing 5. DIAGNOSIS : . BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) d. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. NOMOR ICD 2. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan memiliki nilai dari 0 sampai 5 sehingga total score maksimal 35 Jumlah score 0. Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: i. BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 1. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) c. Melihat sekitar anus b.N 40 : -BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 3. UL. Perabaan prostat 1. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. SC.V. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.7 gejala ringan Jumlah score 8-19 gejala sedang Jumlah score 20-35 gejala berat Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. Tekanan darah. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) ii. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak 167 . Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) : a. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan IPSS (International Prostate Symptom Score). Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Pole atas (Mudah dicapai/Susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) e. Nadi.

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal • Medikamentosa Alpa-Blocker 5 Alpa-Reductase Inhibitor Fitofarmaka • Pembedahan TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) Prostatectomy 9.5 ng/ml o Usia 50-60 tahun: 0-3. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.5 ng/ml o Usia 60-70 tahun: 0-4. rentang kadar PSA dianggap normal berdasar usia o Usia 40-50 tahun: 0-2.• • Radiologi atas indikasi medis Hematuria ISK Insufisiensi renal Riwayat batu saluran kencing Irwayat pembedahan saluran U-G BNO/BOF. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) Pemeriksaan tambahan Uroflometri(optional) o Uroflo > 15 ml/detik kecil kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo < 10 ml/detik besar kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo 10-15 ml/detik sulit utuk mendeteksi obstruksi infravesical Postvoid residual urin (PVD) Prostate Specific Antigen (PSA).Flow Studies) (optional) 6. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Dokter Spesialis Bedah) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka 168 .5 ng/ml o Usia 70-80 tahun: 0-6. TERAPI • Tujuan Pola kencing normal/mendekati normal Mencegah komplikasi infeksi.5 ng/ml Trans-Rectal Ultra-Sonography (TRUS) (optional) Urodynamic Study (Pressure.

Striktura uretra 7. Disfungsi ereksi 8. Inkontinensia urin 4. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka Pembedahan o TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) o TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) o Prostatectomy 10. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan kandung kencing baik 169 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. HASIL • Kencing normal/mendekati pola kencing normal 14. Water intoxication.• Pembedahan o Prostatectomy RS Kelas A. Pendarahan 2. Ejakulasi retrograde 11. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Kambuh (residif) 6. PATOLOGI • Prostat 15. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pascabedah • Pelepasan kateter uretra 3-5 hari pasca TURP • Pelepasan kateter uretra 5 hari pasca Prostatectomy • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 3. PENYULIT 1. perforasi (khusus untuk TURP) 5.

Basuki Bambang Poernomo. 8th . European Association of Urology. Evaluation and Non-Surgical Management of Benign Prostatic Hyperplasea. 1998. • IDI .. Pembesaran Prostat Jinak. March 2004. Vol. tidak normal/inkontinensia • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. infeksi dan pola kencing untuk mengetahui kencing normal. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2003. Cambell’s Urology. Lowe FC . inkontinensia urin. • Sunaryo Hardjowijoto. Depkes RI-IDI.17. Urological Guidelines. striktura uretra dan rectal toucher. 18. Alivisator G. Madersbacher S. KEPUSTAKAAN • De la Rosseta J. Akmal Taher. et al . disfungsi ereksi.(3). • Lepor H. Heath Care Office. Standar Pelayanan Medis. Guidelines on Benign Prostatic Hyperlasea.untuk mengetahui karsinoma prostat. 2003. 170 . Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia BPH) di Indonesia. dkk. infeksi saluran kencing.

Sistitis c.C 61 : . Nadi. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) o BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) o Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) o Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Tekanan darah. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) iv. Pole atas (Mudah dicapai/susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. KARSINOMA PROSTAT (ADENO CARCINOMA PROSTATE) 1. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. NOMOR ICD 2. Perabaan prostat 1. DIAGNOSIS : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.VI. Batu kandung kencing • Metastase tulang a. DIAGNOSIS BANDING • Pembesaran Prostat a. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan adanya keluhan karena pembesaran prostat dan metastase ke tulang pelvis. kekerasan dan nodul pada prostat yang mengarah pada karsinoma prostat: o Melihat sekitar anus o Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: iii. Batu uretra b. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) untuk mencari irigularitas. collumna vetebra dan lain-lain Riwayat penyakit/keluarga adanya tumor saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Fraktur patologis b. Kandung kencing neurogenik 171 . Nodul (Soliter/Multiple) 4.KARSINOMA PROSTAT (ADENOCARCINOMA PROSTATE) 3. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2.

SC > 2mg% tanpa kontras. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. Riwayat pembedahan saluran U-G f. Metastase tulang IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan Ambomen(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif . UL. Hematuria b. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Pola kencing normal/mendekati normal d) Mencegah komplikasi infeksi. Bone scanning (optional) • Radiologi lain atas indikasi medis a. SC. Riwayat batu saluran kencing e. SC <2 mg% dengan kontras) • Biopsi prostat dan pemeriksaan PA 6. Insufisiensi renal d. ISK c. USG Transrectal(Optional) c. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.5. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak PSA (kalau perlu Free PSA) • Radiologi a. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pengobatan dengan Hormonal a) Flutamid b) LH. Rh antagonis c) Subcapsuler Orchidectomy d) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) • Pembedahan atas indikasi obstruksi karena pembesaran Prostate Disobstruksi Prostat a) TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) b) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) 172 . Bone survey d. BNO/BOF dan USG Ginjal dan Kandung kencing b.

14. HASIL • Kuratif Bebas tumor Dapat kencing normal/mendekati pola kencing normal Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PENYULIT 1. Water intoxication dan perforasi (khusus untuk TURP) 7. Striktura uretra 5. dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pasca TURP • Pelepasan kateter 3-5 hari pasca TURP • Lain-lain atas instruksi operator 13. Inkontinensia urin 3. retensio urin) 11.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pengobatan dengan Hormonal Pembedahan a) Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) b) Disobstruksi Prostat Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 10. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 6. Pendarahan 2. B dan RS. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Prostat 173 . Obstruksi saluran kencing (hydronephrosis. Disfungsi ereksi 4. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Pengobatan dengan Pemasangan kateter uretra (Dower catheter) apabila retensio urin Hormonal • RS Kelas A.• • Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.

infeksi dan pola kencing • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 174 . Cambell’s Urology. Heidenreich A. Heath Care Office. 19. • IDI . European Association of Urology. Vol. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 1998.(3). PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan.Abbou CC. Depkes RI-IDI. fungsi ginjal dan rectal toucher. KEPUSTAKAAN • Aus G. • Carter HB. Standar Pelayanan Medis. disfungsi ereksi Striktura uretra. Diagnosis and Staging of Prostate Cancer. infeksi saluran kencing. Karsinoma Prostat. 2003. Urological Guidelines. 8th .15. Guidelines on Prostate Carcer. Partin AW . March 2004. • Tumor residif/recurent dan metastase.

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas satu sisi Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. UL. Tekanan darah. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. NOMOR ICD 2. TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 1. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup 175 . USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. DIAGNOSIS : -C 64 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 3. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. BUN/SC. KONSULTASI • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.VII. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. • Radiologi BNO/BOF. Nadi.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.• • • • Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 176 . 14. OTOPSI Tidak diperlukan 16. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.

KEPUSTAKAAN • IDI . efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.M) dengan CT Scan 18. 1998.N. infeksi. 2003. European Association of Urology. Tumor Ganas Ginjal (Wilm’s). 8th . Urological Guidelines. Heath Care Office. Cambell’s Urology. • Mickisch G. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. et al . Hillsten S. 177 . Vol. March 2004. Depkes RI-IDI.(3).17. Guidelines on Renal Cell Carcer. Cambell SC . Carballido J. Standar Pelayanan Medis. • Novick AC.Renal Tumor.

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. NOMOR ICD 2. Nadi. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal 178 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. UL. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS : .TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 3. BUN/SC.C 64 : . • Radiologi BNO/BOF. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. Tekanan darah. TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 1.VIII. SC> 2mg% tanpa kontras) 6.

HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. OTOPSI Tidak diperlukan 16. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 179 . 14.• • • • Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. B dan RS.

Urological Guidelines. Depkes RI-IDI. • Mickisch G. • Novick AC. 8th . Standar Pelayanan Medis. 2003. Cambell’s Urology. Hillsten S. Cambell SC .17. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Vol. Guidelines on Renal Cell Carcer. 180 . Heath Care Office.N. Tumor Ganas Ginjal (Grawitz). infeksi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.M) dengan CT Scan 18.(3). Carballido J. European Association of Urology. 1998.Renal Tumor. March 2004. et al . KEPUSTAKAAN • IDI .

IX. DIAGNOSIS : . PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor 181 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. TUMOR KANDUNG KENCING(TRANSISIONAL CELL CARCINOMA) 1. DIAGNOSIS BANDING • Hematuria oleh berbagai sebab • Blood clot retension oleh berbagai sebab 5. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. UL. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. BUN/SC. Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tampa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran kencing. batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4.TRANSISIONAL CELL CARCINOMA BULI-BULI 3. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. Nadi.C 67 : . NOMOR ICD 2. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.

B dan RS. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PATOLOGI • Tumor buli-buli 15.• • • • b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan proses miksi dan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. 14.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dan pola kencing dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. OTOPSI Tidak diperlukan 182 . PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.

Marshall FF . infeksi. Tumor Ganas Buli. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Lobel B.(3). Heath Care Office. • Jiminez VK. 1998. • OosterlinckW. March 2004. et al .N.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • IDI . PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Urological Guidelines. Vol. 8th . 183 . Guidelines on Badder Carcer. Depkes RI-IDI. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 2003. Surgery of Bladder Cancer. Standar Pelayanan Medis.16. Jakse G. Cambell’s Urology.

Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS : .C 67 : . TUMOR KANDUNG KENCING(ADENO-CARCINOMA) 1.X. Nadi. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. UL. BUN/SC. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. NOMOR ICD 2.ADEO-CARCINOMA BULI-BULI 3. DIAGNOSIS BANDING • Masa solid abdomen bawah • Hematuria oleh berbagai sebab • Streng ileus dengan masa abomen bawah 5. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 184 . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tanpa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat gangguan fungsi usus/ileus Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran cerna dan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. 14. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. B dan RS. PATOLOGI • Tumor buli-buli 185 . TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10.8. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguang fungsi ginjal dan saluran cerna Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy partial Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9.

Tumor Ganas Buli. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. 2003. • OosterlinckW. Heath Care Office. Lobel B. 186 . Cambell’s Urology. Urological Guidelines. OTOPSI Tidak diperlukan 16. Jakse G. Vol. • Jiminez VK. Surgery of Bladder Cancer. 1998.(3). TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Depkes RI-IDI. Guidelines on Badder Carcer. European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • IDI . Marshall FF . infeksi. March 2004.15. et al . Standar Pelayanan Medis.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17.N. 8th .

Tekanan darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. Thorax. Nadi. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.C 60 : . USG abdomen atas dan bawah 6.EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA PENIS 3. UL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Sedang Kurus) Lokal Luka kronis/tumor cowly flower pada penis Teraba tumor solid mobil/fixed inguinal Pimosis 4. DIAGNOSIS BANDING • Veruca Vulgaris • Limfadenitis inguinalis • Limfadenitis veneralis (STD) 5. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 187 . BUN/SC Biopsi luka/tumor pada penis • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Luka kronis/tumor seperti bunga kol pada penis Pimosis pada orang dewasa/tua Pimosis dengan benjolan pada pelipatan paha Luka kronis dengan benjolan pada pelipatan paha Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS : . TUMOR PENIS (EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA) 1.XI.

PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi kencing d) Mengusahakan mempertahan aktifitas sexual Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node Total penectomy dengan biopsi sentinal node Radical penectomy Deseksi kelenjar limfe inguinalis kanan dan atau kiri (atas indikasi khusus) • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Stenosis miatus uretra eksternus • Odema ekstremitas inferior (apabila inguinalis/radiotherapy) • Ruptura vasa femoralis • Kambuh (residif) 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator dilakukan deseksi kelenjar limfe 188 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.8.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotherapy Radiotherapy Kombinasi 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node • RS Kelas A. B dan RS.

Urological Guidelines. Pettaway CA . et al . 1998.13.N. • Lynch DF.(3). Heath Care Office. infeksi. 8th . Standar Pelayanan Medis. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. March 2004. Horenblas S. 14. Algaba F. Vol. • Solona E. 189 . OTOPSI Tidak diperlukan 16. Karsinoma Penis. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Depkes RI-IDI. Tumor of Penile. HASIL • Kuratif Bebas tumor Pola kencing normal/mendekati normal Aktifitas sexual mendekati/tidak normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. European Association of Urology.M) dengan CT Scan 18. KEPUSTAKAAN • IDI . Cambell’s Urology. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. PATOLOGI • Tumor penis prabedah (biopsi) • Tumor penis pasca bedah (radikalitas pembedahan) • Kelenjar limfe inguinalis 15. 2003. Guidelines on Penile Carcer.

DIAGNOSIS : . UL. Sedang Kurus) Lokal Teraba tumor solid pada testis Teraba tumor solid pada abdominalis pada penderita cryptorchism Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi 4. BUN/SC Beta HCG(Human Chorionic Gonadotropin). PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.XII. NOMOR ICD 2. USG abdomen atas dan bawah 6. DIAGNOSIS BANDING • Orchitis • Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi • Torsiotestis 5. Tekanan darah. TUMOR TESTIS (SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED) 1.SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED TESTIS 3. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase 190 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. Nadi.C 62 : . Thorax. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Testis mengeras/ada benjolan Cryptorchism dengan masa abdominalis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. AFP(Alfa Feto Protein) • Radiologi BNO/BOF. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. PENYULIT • Pendarahan • Gangguan fertilitas • Disfungsi ereksi • Infeksi luka operasi • Odema ekstremitas imferior (apabila dilakukan RPLND) • Kambuh (residif) 11. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.• • • • c) Mencegah gangguan fertilitas Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical orchidectomy inguinal approach RPLND(Retro-Peritonial Lymp Node Desectie) (atas pertimbangan khusus) Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) Radiotheraphy(PA Seminoma) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. 14.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PATOLOGI • Tumor testis • Kelenjar limfe retroperitonial 191 . B RS. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fertilitas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Radical orchidectomy inguinal approach • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.

8th .M) dengan CT Scan 18. OTOPSI Tidak diperlukan 16. • Sheinfeld J. Vol. 192 . KEPUSTAKAAN • IDI . Standar Pelayanan Medis. Klepp O. 1998. Urological Guidelines. 2003. infeksi.(3). efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Cambell’s Urology. March 2004. European Association of Urology. Mc Kiernan J Bosl G J . Tumor Ganas Testis. Depkes RI-IDI. et al . • Laguna MP. Surgery of Testicular Tumor. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.15.N. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Heath Care Office. Horwich A. Guidelines on Testicular Carcer.

DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis • Epididimitis kronis 5. INFERTILITAS PRIA (MALE INFERTILITY) 1. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Belum punya anak setelah kawin > 1 tahun Nyeri testis bersangkutan Ada bentukan seperti cacing pada skrotum bersangkutan Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Thorax. Sedang Kurus) Lokal Kadang-kadang terlihat masa seperti cacing pada skrotum saat berdiri/tidur Teraba tumor kistik seperti cacing pada funikulus spermatikus Kadang-kadang testis bersangkutan lebih kecil dibanding testis yang normal 4. Tekanan darah. DIAGNOSIS : . Nadi. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi pembedahan (untuk umur >40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Analisa sperma (atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PENGOBATAN • Tujuan Perbaikan fertilitas Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Kadang-kadang 193 .XIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.VARICOCELE 3. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.C 46 : . NOMOR ICD 2. UL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8.

B.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. 194 . 8th . analisa sperma dan kehamilan pada istri 18. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.(3). • Sigman M Jarow JP . et al . Wiedner W. Urological Guidelines. 2003. March 2004. Male Infertility. Infertilitas. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. Vol. PENYULIT • Infeksi luka operasi 11.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 10. Standar Pelayanan Medis. Cambell’s Urology. HASIL • Kwantitas dan kwalitas sperma membaik/normal • Istri bisa hamil 14. 1998. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. European Association of Urology. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.• a) Mengurangi/menghilangkan nyeri testis b) Mengecilkan/menghilangkan varicocele Pembedahan “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 9. Depkes RI-IDI. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. Heath Care Office. • IDI . KEPUSTAKAAN • Dahle GR. Jungwirth A. Guidelines on Male Infertility. PROGNOSIS • Tergantung Gangguan kwantitas dan atau kwalitas sperma suami Azoospermia Gangguan fertilitas istri Kombinasi 17. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.

UL. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. NOMOR ICD 2. Nadi. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Thorax.Q 54 : . BUN/SC Tes “XY chromosom”(atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tekanan darah.HYPOSPADIA 3. DIAGNOSIS BANDING • Micropenis • Ambiguitas 5. PENGOBATAN • Tujuan Memperbaiki anatomi dan fungsi penis dan uretra Estetika/kosmetika penis Mencegah gangguan fertilitas pria 195 . DIAGNOSIS : . HYPOSPADIA 1. Sedang Kurus) Lokal a) Penis Miatus uretra ekternus subgladuler/ventral penis/penoscrotal/perinal b) Testis Kadang-kadang disertai cryptorhism/kelainan bawaan lainnya 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Air kencing tidak keluar dari ujung penis (seperti pada umumnya) sejak lahir Penis bengkok/sembunyi pada skrotum Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.XIV. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.

estetika/kosmetika penis dan uretra baik/normal • Fertilitas baik/normal 14. PENYULIT • Fistel “Urethrocutan” • Nekrosis kulit penis/tube plap • Infeksi luka operasi 11.• Pembedahan MAGPY Procedure Chodectomy-Urethroplasty (satu tahap) dengan/tanpa Nesbit Procedure Ducket’s Procedure (Prepotiale tube flap urethroplasty) 9.Kehamilan istri) 196 . fungsi. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. estetika/kosmetika penis dan uretra • Fertilitas (Analisa sperma. fungsi. HASIL • Anatomi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. PROGNOSIS • Tergantung Lokasi miatus uretra eksternus Berat-ringannya chordae Status gizi pasien Ada/tidaknya kelainan bawaan lainnya 17. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan 10. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. adanya urethrocutan fistel • Anatomi. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Buka bebat hari ke-5 • Buka splint uretra dan klem kateter sistotomi hari ke-10-12 • Buka kateter sistostomi satu hari setelah buka kateter sistostomi/bisa kencing lancar • Lain-lain atas intruksi operator 13.B dan RS.

Urological Guidelines. KEPUSTAKAAN • IDI . 197 . et al . 2003. European Association of Urology. Depkes RI-IDI.18.(3). 1998. March 2004. Hypospadia. Borer JG. • Reidmiller H. Cambell’s Urology. 8th . Vol. • Retik AB. Hypospadias. Standar Pelayanan Medis. Beurton D. Heath Care Office. Androulakakis P. Pediatric Urology : Hypospadias.

USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis 5. HYDROCELE ANAK-ANAK (CONGINITAL) 1.XV. Nadi. BT.5 : . Tekanan darah. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasi/diaphonoscopy positif pada skrotum Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : .CT • Radiologi BNO/BOF.HYDROCELE CONGINITAL 3.P 83. Thorax. NOMOR ICD 2. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy inguinal approach 198 . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/membesar sejak lahir kadang-kadang bisa mengecil saat tiduran Skrotumnya ada air didalamnya sejak lahir Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.

KEPUSTAKAAN • IDI . 199 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain atas intruksi operator 13. Standar Pelayanan Medis. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. Bellinger MF. 1998.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10.9. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Fertititas setelah dewasa/kawin 18. • Schneck FX.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.B. 8th . Vol. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14.(3). PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi 11. PROGNOSIS Baik 17. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. Depkes RI-IDI. Hidrokel Testis. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. Cambell’s Urology. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. 2003.

Tekanan darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. Nadi. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy/Marsupialisasi 200 . Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasidiaphonoscopy positif pada skrotum. DIAGNOSIS BANDING • Tumor testis 5. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. BUN/SC • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/mebesar setelah dewasa Skrotumnya ada air didalamnya setelah dewasa Riwayat infeksi/imflamasi/trauma daerah skrotum/testis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. HYDROCELE DEWASA (AQUARED) 1. kadang-kadang transiluminasi negatif apabila sudah terjadi inlamasi/infeksi pada hydrocele Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. NOMOR ICD 2.N 43 : . DIAGNOSIS : . USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.HYDROCELE AQUARED 3. Thorax. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.XVI. KONSULTASI • Dokter Spesialis Kardiologi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. UL.

8th . Bellinger MF. 201 . 2003.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10.B. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Melihat kekambuhan 18. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.(3).9. 1998.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. KEPUSTAKAAN • IDI . PROGNOSIS Baik 17. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tidak diperlukan • Diperlukan (atas pertimbangan khusus) 15. • Schneck FX. Standar Pelayanan Medis. Vol. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi • Kambuh(residif) 11. Hydrokel Testis. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. Depkes RI-IDI. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. Cambell’s Urology.

Fungus Ball. pembesaran KGB mediastinum. dengan stadium lanjut bisa lebih imformatif seperti . efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. dll. Tumor Mediastinum. dll. c. e. tumor satelit. b. Pemeriksaan Penunjang : a. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. batuk darah. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. sakit dada. USG abdomen. identasi pleura. 4. atelectasis. AGD. d. sulit/sakit menelan. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. 5. iv. atelektasis. LFT. f.faal paru. Sitologi Sputum ii. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm.9 2. pembesaran KGB supraclavicula. washing lavage. Diagnosis : Kanker Paru 3. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. RFT. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. b. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. efusi fleura. bila tumornya besar. penekanan vena kava superior. Pemeriksaan Laboratorium.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. Torakoskopi. CT .FH. invasi tumor kedinding dada. EKG 202 . efusi pleura. dll. sesak nafas. menyisihkan kelainan lain. Pemeriksaan Lain i. core biopsi. Diagnosis Banding : a. Kriteria Diagnosis : a. lymphangitis spreeding. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. benjolan di pangkal leher. TBLNB. b. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. iii. trombosis vena. untuk metastasis ke tulang. ICD : C 34. nafsu makan hilang demam hilang timbul.1. neuropati. adanya fraktur patologi. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. penekanan bronkus. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. sembab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. DL. vi. suara serak. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. pembesaran hepar. (Bila ada indikasi) Brain CT.

Penyulit : a. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Ruang perawat ii. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. ii. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Upper Airway obstruction. Dokter Spesialis Anasthesi d. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. Supportif therapy sama 9. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. RS tipe A i. Atelektasis b. Lab Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. RS tipe B Plus b. :: Free & Post Op : Operasi 203 . Konsultasi : a. Obstuksi jalan nafas c. Fleural efusi e. b. Terapi Gen g. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Tempat pelayanan : a. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. OK 10. ICU/ICCU iii. Hormonoterapi f. Hemoptisis d. hemoptisis. Kompresi esopagus f. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Pembedahan Indikasi pembedahan i. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. Imiunoterapi e. Respiratory failure 11.6. Kemoterapi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. treparasi oleh SOL. 5 hari per minggu c. d. 8. Dokter Spesialis Paru b. Inform Concern : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy.

Tenaga Standar : a. Autopsi 18. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR Stage II Stage III Stage IV 57 – 67 % 22 – 34 % 3 – 21 % 1 %. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) 13. Patologi 17. 204 .12. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Hasil 16. Lama Perawatan 14. Dokter Spesialis Paru b. Masa Pemulihan 15.

Tumor Mediastinum. CT . Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. f. b. sakit dada. pembesaran Kelenjar Getah Bening (KGB) supraclavicula. Pemeriksaan Penunjang : a. untuk mengetahui metastase di hepar dan tempat atau organ lain. DL.faal paru. penekanan bronkus. invasi tumor kedinding dada. sesak nafas. TBLNB. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. washing lavage. lymphangitis spreeding. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. c. ICD : C 34. Bila tumornya besar. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. 4. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. dll. Kriteria Diagnosis : a. Pemeriksaan Lain i. d. 205 . efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. Diagnosis : Kanker Paru 3. core biopsi. suara serak. nafsu makan hilang demam hilang timbul. (Bila ada indikasi) Brain CT. USG abdomen. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. sembab muka dan leher. dll. pembesaran KGB mediastinum.9 2. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka.FH. Pemeriksaan Laboratorium. b. dengan stadium lanjut tanda-tanda bisa lebih informatif seperti . Tumor metastase (Kanker Paru Sekundair) 5. trombosis vena. tumor satelit. neuropati. menyisihkan kelainan lain. iv. kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. efusi pleura. sulit/sakit menelan. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. benjolan di pangkal leher. atelektasis. LFT. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. adanya fraktur patologi. c. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. identasi pleura. Fungus Ball. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. pembesaran hepar.1. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. RFT. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. untuk metastasis ke tulang. e. penekanan vena kava superior. atelectasis. AGD. iii. Sitologi Sputum ii. Torakoskopi. batuk darah. efusi Pleura. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. b. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. dll. Diagnosis Banding : a.

b. mediostinoskopi. 5 hari per minggu atau bekerja sama dengan spesialis Radiotherapi. • Untuk tindakan pembedahan pengangkatan tumor. Dokter Spesialis Paru b. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Biopsi kelenjar lymphe supraclavicula atas biopsi paru terbuka (thoracotomy). OK : Operasi 206 . Tempat pelayanan : a. Konsultasi / bekerja sama dengan : a. c.vi. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. Bag. RS tipe A i. Pembedahan Indikasi pembedahan i. 8. ii. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. Terapi Gen g. Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. Upper Airway obstruction. thoracoscopy (VATs). RS tipe B Plus b. EKG 6. Ruang perawatan : Pre operative ii. Supportif therapy 9. Dokter Spesialis Anasthesi d. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Perawatan RS : • Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Immunoterapi e. iii. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. d. trepanasi oleh karena SOL dengan deteorasi neurology. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Kemoterapi bekerja sama dengan pulmonologi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. Hormonterapi f. ICCU : Post Op iii. hemoptisis. Karnovsky index rendah (<50%). Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e.

2.J Goldber. Dokter Spesialis Rehab Medik 13. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Ruck deschel. Masa Pemulihan 15. Binsburg R. Respiratory failure g. Penurunan kesadaran i. Prentice Hall International. Wagner H. Patologi 17. Ginsberg RJ : Surgical Treatment Of Lung Carcinoma. Kompresi esopagus f.10. Dokter Spesialis Paru b. 1996 : 421 – 444. Hemoptisis d. M. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR 57 – 67 % Stage II Stage III Stage IV 22 – 34 % 3 – 21 % 1% Kepustakaan : 1. Hal : 124 – 146 3. Doyle LA Aisner J : Clinical Presentation of Lung Cancer in Thoracic Oncology II ed. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) d.al. Obstuksi jalan nafas c. Phyladelphia. Informed Consent : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Autopsi 18. Lama Perawatan 14. 12. Pleural efusi e. by Arthur E Bauc et. Penyulit : a. By Roth. Weisen Burger TH : Definitive Radiotherapy and Combined Modality Therapy for In operable NSCLC : In …………………Hal 164 – 180 5. 1995. Tenaga Standar : a. WB Saunders Company. Hasil 16. London. Weisenburger. 26 – 48. 207 . Water PF : Surgery for Non Small Cell Lung Cancer in …………………. Jr . Bonomi. P : Preoperative and Postoperative Therapy for NS CLC in ………………… Hal : 147 -146 4. Atelektasis b. Dokter Spesialis Anesthesi e. Burt. Gangguan hepar 11. Fraktur patologis h. in Glenn’s Thoracic and Cardiovascular Surgery sixth ed. Martin N.

Buerger Disease. tekanan darah kedua tungkai. ICD : E 14. c.8 (ankle brachial index). Kriteria Diagnosis : Ulkus/Gangren DM adalah kematian jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (nekrosis iskemia) akibat penyakit arteri prifir oklusi (micro dan macroangiopaty) yang menyertai penderita DM. Wound toilet. Antibiotika sesuai dengan kultur. b. Non Bedah i. Pemeriksaan Penunjang : a. PAPO (penyakit arteri perifer oklusive) 5. ii. BUN / SC 6. Ulkus Varikosum. Debridement. iii. mutilasi. LFT.1.5 2. d. d. Pengendalian gula darah. 208 . Dokter Spesialis terkait dengan komplikasi DM 7. Dokter Spesialis Anesthesi. Amputasi (digiti –TMA – BKA & AKA) iv. Pembedahan i. Terapi : a. ABI < 0. Ulkus Tropikum. c. Perlu untuk tindakan debridement dan pembedahan lain serta pemberian insulin regulasi cepat.Toe Pressure. Pemeriksaan kultur / sensitivitas kuman. Perawatan RS : a. b. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan endokrin. Konsultasi : a. Diagnosis Banding : a. Derajat dan luas infeksi memakai klasifikasi Wagner. Incisi Drainage iii. e. UL. Rontgen foto : Melihat adanya Osteomyelitis dan soft tissue swelling + gas subcutan f. Pemeriksaan adanya neuropati : (Bila ada) Dengan Semmes Weinstein Monofilament Wire/Biothessiometer c. Repair deformitas kaki v. 4. FH. DM menurut WHO GD Acak > 200 mg/dl GD Puasa > 140 mg/dl b. Diet & exercise. iv. 8. Revaskularisasi arteri tungkai (bypass) b. Diagnosis : Ulkus/Gangren Diabetikum 3. Ulkus/Gangren ini dapat diikuti invasi bakteri sehingga terjadi infeksi. Pemeriksaan integritas vaskuler Terdapat claudicasio intermitten dan restpain. Laboratorium . necrotomy ii. DL.

Tindakan pembedahan dapat mempercepat masa perawatan. Mueller MP. Dokter Spesialis Anasthesi 13. Sepsis d. Kepustakaan : 1. 1995 : 167 – 180. 17. 11. Marcaccio. berbagai manifestasi klinis akibat DM. Ruang perawat biasa. Prentice Hall International. 14.B dan RS yang ada ICU : a. Klein SR : Diabetes and Peripheral vase dissore in Vascular Sergery dst ……. London. OK untuk tindakan operasi. Autopsi : Tidak perlu.9. Penyulit : a. Gibbons. Informed Consent : Perlu lebih-lebih bila dilakukan amputasi. Hasil : a. 16. 12. 2. 15. Mengancam jiwa jika terjadi gas gangren dan sepsis. Sepsis prognosenya jelek. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk debridemen. c. Gas gangren c. Lama Perawatan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus/infeksi (Wagner Classification) semakin besar semakin lama perawatannya. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Konsultan endokrin d. Sembuh tanpa cacat b. Reamputasi > 20% c. in Vascular Surgery theory and practice ed by Allan D Callow. Tenaga Standar : a. 10.. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. b. ICU bila ada komplikasi. c. Prognosa : a. Habershaw : Management of the Diabetic Foot. Patologi : Tidak perlu. Wagner III ke atas. Resiko amputasi 85% bila ada infeksi serius. Sembuh dengan cacat tetap akibat amputasi. Masa Pemulihan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus serta jenis tindakan. b. b. Hal 514 – 522 209 . Tempat pelayanan RS Type A. Osteomielitis b. 18. Wright J. Kelainan organ lain akibat angiopaty diffuse + neuropaty diffuse.

UL. Tes Rivalta (+ ) ii. b. Foto polos toraks AP/lateral b. Chilo thorax e. panas. Dapat terjadi sebagai akibat komplikasi pneumonie (parapneumonic empyema) tindakan pembedahan.kadangkadang sputum purulent bila ada fistel bronchopleura. ICD : J. Laboratorium pemeriksaan cairan pleura. pergerakan dada terbatas. USG d. BUN / SC 6. DL. Perlu bila akan dilakukan pemasangan Chest tube dan WSD dan dekortikasi. Berat jenis >1016 v. Gejala Klinis Nyeri dada. Abses paru d. 4. Rasio dengan protein plasma > 0. Torakosentesis e. Leukosit > 50% linfosit > 15 000 sel/mm3 viii.perkusi dullness. Kriteria Diagnosis : a. b. pH < 7.1.6 vii. berat badan menurun. LFT. Protein > 3 g/dl iii. cultur dan sensitivitas test. Glukosa < 40 mg/dl e.empiema necessitans (erosi dinding dada akibat abses dinding toraks). Pleural effusi c. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru c. sesak nafas. c. Perawatan RS : a. Rasio dg LDH plasma > 0. Anamnesis Empiema Toraks atau Pyothorax adalah pengumpulan nanah atau pus didalam rongga pleura.5 iv.3 ix.9 2. Multiple thoracosintesis dan pemberian AB intra vena 210 . malaize. 86. 3. trauma dll. batuk. temperatur tubuh meningkat. LDH > 200IU vi. Konsultasi : a. Dokter Spesialis Paru b. CT Scan toraks c.penurunan suara nafas sisi sakit. Dokter Spesialis Anesthesi 7. Pemeriksaan Fisik Takipnea. Malignant pleural effusion 5. Diagnosis Banding : a. Dengan pemeriksaan cairan pleura menunjukan eksudat yaitu : i. Pemeriksaan Bakteriologi Menunjukan hasil (+ ) kuman pada cairan pleura. d. FH. Diagnosis : Empiema Toraks. Pnemonia b. Pemeriksaan Penunjang : a.

TW : Para Pneumonic empyema in ……………. Dokter Anesthesi 13. Terapi : Dasar terapi empiema toraks adalah a. Fibrotoraks d. Light RW : The Physiology of Pleural Fluid Production and Benign Peural effusion in General Thoracic Surgery ed by W Shields T. Broncopleural fistel b. Pemberian antibiotika untuk eradikasi kuman sesuai dengan kultur sesitivitas. Penyulit : a. Dokter Spesialis Paru d. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Shields.hal 684 .W. Ruang rawat biasa b. Tenaga Standar : a. Hasil : Sembuh bila diterapi cepat dan tepat. Baltimore.. 1994. Kepustakaan : 1. Tempat pelayanan : a. Mengeluarkan nanah b. Prognosa : Tergantung fase penyakitnya saat ditemukan pertama kali. Lama Perawatan : 7 – 14 hari 14. Patologi : Tidak perlu. Autopsi : Tidak perlu. Deformitas diding dada dan scoliosis 11. 674 – 683 2. 18. Informed Consen t : Perlu 12. 16.8. Empiema necessitan c. 10. Fourth ed Vol 1 William & Wilkins. 17. 9. Obliterasi rongga empiema c. Sepsis e. OK pemasangan Chest Tube dan tindakan. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b.693 211 .

Dokter Spesilis terkait dengan tumor primernya c. biopsi transtorakal. Berupa punksi. Namun bila tumor primer diluar paru tidak ditemukan. Anamnesis Adanya cairan kemerahan/darah atau serosanguinus didalam cavum pleura secara berlebihan > 50 ml dengan didapatkannya sel ganas didalam cairan pleura atau biopsi pleura. Kriteria Diagnosis : a. 90 2. Gejala Klinis Sesak nafas. fremitus suara melemah. Bila tumor primernya berasal dari tumor paru. 212 . Diagnosis : Pleural Efusi Maligna 3. 6. Pemeriksaan Fisik Gerakan diapragma berkurang . pleurodesis. batuk. dengan hasil eksudat. f. Foto polos toraks PA/lateral.deviasi trakea dan atau jantung kearah kontra lateral. maka efusi pleural maligna termasuk stage IV. Abses paru c.dada terasa penuh. CT Scan toraks . Sitologi cairan pleura/biopsi pleura : dengan hasil positif sel ganas. Terapi : Efusi pleural maligna mempunyai 2 aspek penting dalam penatalaksanaannya yaitu : a. Apabila tumor primer ditemukan diluar paru. efusi ini termasuk gejala sistemik metastatik tumor tersebut dan pengobatan disesuaikan dengan tumor primernya. b. b.1. gejala ini sangat tergantung dari jumlah cairan dalam rongga pleura. Pengobatan kausal disesuaikan dengan tumor primernya. pleuro abdominal shunting. Pengobatan kausal. Diagnosis Banding : a. USG toraks dan torakotomi explorasi perlu dilakukan untuk menegakan diagnosis. Dokter Spesialis Paru b. pemasangan chest tube. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tujuan terapi dan mencari sumber keganasan. Sebaiknya dilakukan setelah cairan dikeluarkan maksimal. c. Bronkoskopi. c. 8. Pengobatan lokal. b. Konsultasi : a. maka efusi pleura maligna itu di anggap berasal dari paru. Kemungkinan ditemukan keganasan organ lain di luar paru. e. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru d. perkusi redup dan suara nafas melemah pada sisi toraks yang sakit. Efusi pleura karena sebab lain d. Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui tumor primer. nyeri dada. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura. Pemeriksaan Penunjang : a. Tumor solid intra pleura 5. ICD : J. 4. Empiema toraks b. Dokter Anasthesi untuk operasi 7. d.

c. New York. VW : Pleural Effusion : Benign and malignant in Thoracic Surgery ed by F Griffith Pearson. Patologi : Perlu. Tergantung respon terapi dari tumor primernya.9. b. Efusi berulang. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Dokter Spesialis Paru d. Bila berasal dari paru maka dianggap kanker paru stadium III keatas Kepustakaan : 1. Tempat pelayanan : a. OK : pemasangan chest tube dan WSD 10. Rusch. Sahn. Prognosa : a. 17. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. 1995. 1003 . Masa Pemulihan : 3 – 7 hari 15. Lama Perawatan : 3 – 7 hari 14. Autopsi : Perlu bila diagnosa tidak jelas. b. Hasil : tergantung respon terapi dari tumor primernya 16. b. SA : Malignant pleural effusion in General Thoracic hal 757 – 797 2. Penyulit : a. Ruang perawatan (normal). 18. Respiratory distres 11. Dokter Spesialis anesthesi 13. Empiema toraks. Churchill Living Stone. Informed Consent : Perlu 12.1016 213 . Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru e.

syaraf. tulang. Rhabdomiosarkoma dan Ewing sarcoma. b. Keluhan dan gejala : Sering tanpa keluhan (asimptomatik). Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan Hematology / Onkology Medik c. Yang paling sering menimbulkan tumor metastatik kedinding dada adalah urogenital. b. Bone Scaning. 5. d. c. Konsultasi : a. Diagnosis Banding : a. gambaran dan globulin 6. soft tissue lainnya. Analisa gas darah h. Defornitas dinding dada oleh inflamsi. c. e.1. 214 . Lab lengkap i. 76. bila tumor < 4 cm langsung di Excisi dan Frozen Section. Untuk kasus-kasus unresectable dipertimbangkan pemberian radioterapi. bila kecurigaan dari tulang. bila ada residual tumor dilakukan reseksi. tiroid. Pemeriksaan Penunjang : a. OK : bila perlu operasi. Selektif angiografi bila tumor dekat/berada di axila. 9. f. colon. tulang rawan. adanya massa di dinding dada disertai dengan reffered pain atau nyeri lokal. Foto polos toraks (PA/lateral). b. b. ada riwayat trauma ringan dengan fraktur fatologis. 8. Diagnosis : Tumor Dinding Dada. Defornitas dinding dada oleh kelainan congenital. bila > 4 cm dilakukan FNAB/Incisional Biopsi. ICU post operasi. dapat berasal dari beberapa elemen-elemen histologis dari dinding toraks yaitu otot. 3. Tumor jinak : reseksi dan bila perlu rekonstruksi. Tumor primer sebagian kecil jinak. mamma. Tumor bisa primer dan metastatik. Perawatan RS : Perlu untuk persiapan pembedahan. Bunce Jones protein. Massa : Berbentuk.1 2. Ruangan biasa. Bone merrow aspirasi k. Dokter Spesilis Anasthesi 7. CT Scan toraks c. Kriteria Diagnosis : Tumor yang muncul di dinding dada. Pembedahan (Reseksi diding dada dan rekonstuksi) merupakan first line treatment dikombinasikan dengan kemoradioterapi (bila ada tumor ganas berasal dari tulang). batas tak jelas. 4. Tempat pelayanan : a. ICD : C. MRI d. Dokter Spesialis Paru b. fixed dengan dasar ikut pergerakan respirasi. Terapi : a. Test fungsi paru g. Biopsi (PA). kemoradioterapi merupakan pilihan pertama. j.

Informed Consent : Tertulis bila dilakukan operasi. 1996 : 593 608 215 . Invasi keorgan-organ intra toraks. Dokter Spesialis Anasthesi (untuk perawatan post operasi) 13. Sixth ed Vol II ed by Athur E Baue Prentice-Hall International Inc. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler b.hal 579 – 588. 3. MC Carmack PM : Chest Wall Tumors in Glemis Thoracic and Cardio Vascular Sergery . Autopsi : Tidak perlu dengan excisi luas. Pailorelo PC : Chest Wall Tumors : In General Thoracic Surgery ….hal 589 – 597. Dokter Spesialis Jantung (bila invasi kejantung & pembuluh darah) d. Penyulit : a.10. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Paru (bila invasi ke paru) c. Depormitas dengan kecacatan. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. Prognosa : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren Kepustakaan : 1.14 hari 14. b. 18. 17. 2. Idem : Chest Wall Reconstruktion : In General Thoracic Surgery …. 12.. Hasil : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren 16. Lama Perawatan : 7 .. Rekonstruksi dinding dada dan keterbtasan respirasi. c. 11. London. Patologi : Perlu. durante operasi dapat dikerjakan FS.

DVT d. Pemeriksaan Penunjang : (bila ada alat) a. Informed Consent : Perlu bila operasi. Terapi : a. sakuler atau silindris vena-vena superfisial menyeluruh atau segmental termasuk teleangiektasis pada tungkai. Perdarahan c. c. Kriteria Diagnosis : Pelebaran abnormal. chronic venous insuffi ciency (CVI) 4. Sclerotherapy. iv. Gejala dan tanda tergantung stadium Stadium I pegel. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi dan untuk operasi. iv. Stadium IV Ulkus varikosum. b. Aneurysma vena 11. 3. 7. Diagnosis : Varices Tungkai. thrombophlebitis. High Ligasi ii. Compression therapy. Medikamentosa flavunoid. d. ICD : 183. Bedah i. Doppler USG. 216 . Duplex Scan.9 2. Ruang rawat biasa. berat. Ulkus yang tak sembuh-sembuh. Tempat pelayanan : a. b. Penyulit : a. 10. Babcock extractie/stab avulsi. Non Bedah i. b. iii. Bi pedal phlebografi 6. iii. Airplathysmography. cepat lelah. 8. ii. OK untuk tindakan operasi. Konsultasi : Dokter Spesilis Anasthesi untuk operasi. b. Ligasi dan stripping. hisperidine diosmin. Diagnosis Banding :- 5. Stadium II Venaectasis Stadium III Gejala & tanda varises tampak jelas. Symptomatis pasta lasar. Excisi ulcus + skingraft 9.1.

White.12. : Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler Dokter Spesialis Bedah Vaskuler 13. 1994 : 865 – 888. b. in Vascular Surgery Principles and pratice. Mc Graw – Hill Inc. New York. 17. New York. Nordestgaard AG. 217 . GH : Chronic Venous Insufficiency : in Vascular Surgery Principles and pratice. 18. Kepustakaan : 1. second ed by Frank J Veith. c. Masa Pemulihan : 4 – 5 hari 15. b. William RA : Vasicose Vein. Bisa berulang bila masih ada pengisian vena yang inkompeten. 1994 : 841 – 851 2. Hasil : Sembuh 16. Autopsi : Tidak perlu. Tenaga Standar a. Baik bila belum ada komplikasi. Mc Graw – Hill Inc. second ed by Frank J Veith. Patologi : Tidak Perlu. Lama Perawatan : 2 – 3 hari 14. Prognosa : a.

Katiko steroid ii. 7. KGB (kelenjar getah bening).0 2. 6. 4. Lesi dibawah kulit lymphangiomacystika.1. meluas dan lebih merah seperti buah strowberry saat menangis./merah tua dengan halo. Fase Proliferasi (sejak lahir – 12 bulan) Kulit pucat. AVM c. seperti spon. Ruang radiologi untuk radiotherapy 9. Ruang rawat biasa b. 3. Diagnosis Banding : a. Pemeriksaan Penunjang : a. Embolisasi / Scleroterapi d. kosistensi lebih compressable. b. Laser surgery ii. Bentuk kubah plaque. b. Konsistensi padat. Histo Patologis Atas indikasi kuat. Medikamentosa i. Arteriografi d. Fase involusi (sampai dengan umur 7 – 12 th) Menipis secara sentrifugal mulai dari sentral. d. 18. Cryo surgery iii. teleangiektasis. Dokter Spesilis Anak bila ada ganguan hemostasis koagulapati. Kriteria Diagnosis : a. dikerjakan pada fase involusi untuk mengurangi resiko perdarahan dan kerusakan struktur vital. Kelainan Vena seperti kista. makula/papula merah. Radiasi Tempat pelayanan : a. biasanya dengan klinis saja sudah cukup. Diagnosis : Hemangioma. Dokter Spesialis Bedah Plastik bila perlu Rekonstruksi. Dokter Spesialis Radioterapi bila perlu Raditherapy. Excisi . lembek. b. a. 5. Interferon c. Pembedahan i. 218 . OK bila perlu operasi / tindakan bedah c. c. MRI c. Terapi : Biasanya sebagian besar regresi spontan pada usia 5 – 8 tahun. tumor atau kombinasi. Konsultasi /team : a. b. ICD : D. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi (life threatening) dan pembedahan 8. CT dengan contras b. Dokter Spesialis Anasthesi bila akan dioperasi.

16. 309 . Dean et al. Penyulit : a. Regresi spontan sebelum umur 12 tahun. 1995. Dokter Spesialis Anasthesi Lama Perawatan : 2 – 7 hari Masa Pemulihan : 2 – 7 hari Hasil : Mudah timbul residif bila excisi tidak komplit. Autopsi : Tidak perlu. 17. infeksi. Tront III. ulkus. Feinberg RL : Vascular Anomalies & Acquired Akteriovenons Fistulas . Ed by : Richard H. pernafasan. CHF dan trombositopenia e. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. 18. Angka rekurensi masih tinggi setelah pembedahan.10. mendengar dsb. Perdarahan. d. Dokter Spesialis Bedah Umum ( excisi ) b. visus. in Current Diagnosis & Treatment in Vascular Surgery. b. Kepustakaan : 1. 11. 14. Prognosa : a.324 219 . Mengganggu fungsi menelan. Ist ed. Dokter Spesialis Bedah Vaskuler d. 12. HH. c. 13. Mengalami keganasan Informed Consent : Perlu bila ada tindakan. Facial distrorsi b. 15. Tenaga Standar : a. Patologi : Perlu. Prentice –Hall International Inc London.

Ruang dengan observasi fungsi respirasi pra bedah b. Bila ada alat VATS maka dikerjakan VATS Tempat Pelayanan : a. 220 . Terapi : a. Keluhan dan tanda-tanda Terjadi mendadak berupa nyeri dada. Anannesis Adanya udara bebas dalam rongga pleura yang bukan disebabkan oleh faktor trauma. ICD : J. 9 Diagnosis : Pneumothorax spontan. Konsultasi / team : a. 5. tanpa adanya Penyakit paru yang mendasari. Bila persisten (menetap ≥ 4 hari)→ thoracotomy repair fistule iii. Skunder : Akibat penyakit paru yang mendasari serta kelainan diluar paru iii. berkeringat. i. ICU/RTI c. Non Bedah . Dokter Spesilis Paru b.Tanda lain penurunan suara nafas. Faktor penyebab i. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu tindakan operasi. Foto thoraks tidak dibenarkan pada tension pneumothorax. 11. 8. i. d. Tension pneumothorax c. 10.1. hipersonor. 2. 9. Open thoracostomy dengan WSD ii. sesak nafas dan batuk dari ringan sampai berat. 4. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat Paru c. Diagnosis Banding Pemeriksaan Penunjang : Emphysema bulosa paru. 93. : Foto polos toraks. 6. Bila Recurrent (≥ 3 kali berulang)→ thoracotomy repair fistule iv. Closed thoracostomy (WSD) b. Bedah . Bronkopleural Fistel b. 3. Primer : Ruptur subpleura bleb. Diagnosis pasti dengan foto toraks AP adanya paru kolap dan bayangan udara (radiolusen) pada rongga dada. Kriteria Diagnosis : a. hipotensi dan pucat bila tension pneumothorax. Empyema thoraks Informed Consent : Perlu bila diambil tindakan 7. Needle aspiration iii. b. CT Scan Toraks. Neonatal c. Observasi ii.Tahikardi. Perawatan RS : Perlu bila akan diambil tindakan. ii. OK (bila dilakukan tindakan bedah) Penyulit : a.

New York 1995. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat paru e. Dokter Spesialis Paru d. Fry WA. Paape K : Pneumothorax in General Thoracic Surgery Fourth ed Vol 1 ed by Thomas W Shields. G : Spontaneous Pneumothorax and Pneumoneediastinum in Thoracic Surgery. 1037 – 1054 2. Kepustakaan : 1. 13.12. Churchill Livingstone. 18. 14. Williams & Wilkins Baltimore. Beauchamp. 15. Dokter Spesialis Bedah Umum pemesangan Chest Tube b. ed by F Griffith Pearson.673 221 . Tenaga Standar : a. 17. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu thoracotomy Lama Perawatan Masa Pemulihan Hasil Patologi Autopsi Prognosis : 2 – 7 hari : 2 – 7 hari : sembuh bila tidak ada penyakit paru yang mendasari : Perlu bila perlu operasi thoracotomy : Perlu bila meninggal tak wajar : Baik Ada resiko berulang pada penderita yang mengalami pneumothoraks secunder. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. 16. 662 . 1994.

gagal jantung kanan akut. Globular shape e. Dokter Spesialis Anasthesi c. nadi meningkat. Neoplasma iii. Penyebab : i. Post operasi jantung v. hipotensi dan distensi vena leher (CVP ↑). Terapi causal lainnya 222 . Uremia ii. Ekokardiografi : melihat cairan intra pericardium dan kelainan jantung. ST elevasi difus. Antiinflamasi (NSAID) b. COPD. Diagnosis : Efusi Perikardium 3. e. Foto toraks : melihat adanya pelebaran mediastinum atau CT ratio > 50% b. 3 2. d. Kardiomegali dengan kelainan jantung intra kardial. Water bottle ii. Ekokardiografi : Echo free space dan dapat dihitung jumlah cairan. Definisi : Akumulasi abnormal cairan di rongga perikardium. Keluhan dan tanda-tanda : Sesak. Terapi : • Terapi Bedah . Sitologi / Histopatologi 6. EKG : Low voltage. Tamponade akut : Tension pneumothorak. Foto Toraks : i. terasa berat didada sakit tidak spesifik seperti suara jantung menjauh.1. Perikardiosentesis b. perikarditis konstriktiva/sicca. b. d. bila belum tamponade perawatan konservatip diruang biasa (observasi) 8. Kortiko Steroid kalau perlu c. b. Post infark miokard (Dressler’s syndrome) iv. Diagnosis Banding : a. Konsultasi : a. pulsus paradoxus. c. Bila gagal. area pekak jantung melebar pada tamponade maka Trias Beck’s lebih jelas yaitu suara jantung menjauh. emboli paru akut. 5. 4. PR depresi f. Cardiac Enzym : pada kelainan jantung. Kateterisasi jantung : perlu pada kelainan jantung. a. Pemeriksaan Penunjang : a. Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung 7. Kriteria Diagnosis : a. ICD : I 31. Infeksi terutama TBC/imflamasi lain vi. SLE dan kelainan sistemik lainnya c. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah b. a. Lab : DL. Perawatan RS : Perlu bila menunjukkan tanda-tanda tamponade. open perikardiostomi (subxiphoid atau window) dengan artero lateral thoracotomy kiri • Medikamentosa .

Tempat Pelayanan : a. 17. UPIJ/ICU b. Lama Perawatan : 2 – 7 hari 14. OK bila perlu tindakan bedah 10. Tamponade jantung. Lama Pemulihan: 2 – 7 hari 15. 192 -203 223 . Informed Consent : Perlu apabila ada tindakan.9. Tenaga Standar : a. b. Le Winter MM : Pericardiac disease. Kepustakaan : 1. Hasil : Sembuh/kambuh 16. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. Cardiac failure 11. 18. Patologi : Perlu untuk mencari penyebab sitologys dan kultur. c. Prognosa : Tergantung Penyebabnya. Cardiogenic Shock. Prentice Hall International Inc London 1995. Autopsi : Perlu bila tak jelas penyebab kematiannya. in Current Diagnosis & Treatment in Cardiology ed by Michael H Crawford. Dokter Spesialis Bedah Umum ( perikardiosentesis ) b. Penyulit : a. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 13. Naitkus PT. 12.

224 .

225

226

227

228

229 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful