: D16 : TUMOR JINAK TULANG : 1. Keluhan : tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang 2.

Fisik : tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas, atau ada patah tulang patologis 3. Radiologi : X-foto tulang; tampak densitas tulang bertambah (osteoblastik) atau berkurang (ostolitic) atau campuran. 4. Alkali fosfatase naik 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang 3. Osteomyelitis 5. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radiologi : X-foto tulang, CT-scan 2. Biopsi : FNA, biopsi tulang, pemeriksaan spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Bedah : 1. Reseksi tulang 2. Kuretage 3. Cryosurgery b. Non Bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Penyulit : 1. Penyakit 2. Terapi 11. Informed Consent : Perlu 12. tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Dokter Spesialis Bedah Onkologi 13. Lama Perawatan : ± 1 minggu 14. Masa Pemulihan : ± 4 – 12 minggu 15. Hasil : Bebas tumor, sembuh 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak tulang 1). Osteoma, 2). Osteobastoma 3). Kondroma 4). Kondroblastoma 5). Adamantinoma 6). Fibroma 7). Hemangioma 8). Limfangioma 9). Giant cell tumor 2. Tumor non neoplasma 1). Kiste tulang 2). Fibrous displasia 17. Otopsi : 18. Prognosis : Baik, tumor hilang / sembuh 19. Tindak lanjut : -

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

1

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D23 : TUMOR JINAK KULIT TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT : Neoplasma jinak kulit, D24 Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis 1. Papiloma 1). Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit, permukaan kasar 2). Berwarna seperti kulit normal disekitarnya 2. Epithelioma 1). Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit 2). Berwarna seperti kulit normal 3. Nevus pigmentosus Plaque atau nodus berwarna hitam 4. Kiste dermoid 1). Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau brachial cleft 2). Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak, dinding 5. Dermatofibroma 1). Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkutis 2). Berwarna coklat, menyerupai keloid Tumor non neoplasma kulit 1. Verruca vulgaris (B07) 1). Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan yang besar 2). Warnanya seperti kulit normal disekitarnya 2. Keratosis (L82-L86) 1). Keratosis seborrhoicum (L82) a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna coklat atau kehitaman, sering multipel b. Lokasi trutama pada kulit muka atau leher dan tubuh 2). Keratosis solaris = keratosis senilis (L57.0) a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoicum b. Umumnya terdapat pada orang tua c. Lokasi terutama pada muka, leher dan bagian kulit yang terbuka 3). Keratoacanthoma (L85.8) a. Tumor papiler dengan sentralnekrose, b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami regresi spontan c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma kulit keganasan rendah 4). Kiste epidermoid (L72.0) a. Tumor kistus subkutan, berisi sebum, berdinding epidermis b. Lokasi umumnya di tangan atau kaki

2

4. Diagnosis banding : 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Terapi a. Bedah b. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi

17. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut

: : : : 1. Eksisi tumor, 2. elektrokoagulasi, 3. desikasi, 4. kuretage, 5. dermobrasion : 1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate, 2. salep FU, salep keratotlitik : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. : 1. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Terapi : perdarahan, infeksi, timbul keloid : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : Poliklinik : ± 1 minggu : Benas tumor, sembuh : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak kulit 1). Nevus intradermal 2). Nevus junctional nevus 3). Compound nevus 4). Papiloma 5). Epithelioma 6). Adenoma 7). Keratoacanthoma 8). Syringoma 9). Hydradenoma 10). Trichoepithelioma 11). Demoid cyst 2. Tumor non neoplastik kulit 1). Seborrhoic keratosis 2). Verruca vulgaris 3). Molluscum contagiosum : : baik : 3 bulan, 6 bulan kemudian lepas

5). Kiste sebaceus = Atheroma (L72.1) a. Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum b. Pada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang buntu oleh sebum yang mengeras c. Tumor mobil dari jaringan subkutan dibawahnya 6). Molluscum contagiosum (B08.1) a. Nodus kecil di kulit, berwarna keputihan b. Bila dipencet keluar inti yang keras 7). Granuloma (L92.3) a. Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi lunak, mudah berdarah (L92.3) b. Dapat berupa reaksi benda asing dibawahnya berupa benang (T81.8) Tumor ganas kulit Diagnosis : Pemeriksaan patologi spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

3

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D17 s/d D21 : TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK & TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK : Tumor jinak jaringan lunak 1. Lipoma, D17 Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan, konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan 2. Hemangioma, D18 1). Hemangioma kapilare Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu anak-anak 2). Hemangioma cavernosum a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons, berwarna kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan, umumnya sebelum umur 5-7 tahun 3). Hemangioma arteriale (hemangioma racemosum, cirrsoid hemangioma) a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok, berdenyut, karena ada shunt antara arteri dan vena, sejak bayi atau kecil b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala 3. Limfangioma, D18 1). Limfangioma kapilare (limfangioma simpleks) Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, berisi cairan limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul sejak lahir atau waktu kecil 2). Limfangioma cavernosum Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, seperti bibir (makrocheili) lidah (makroglosi), dsb, dengan kulit diatas tumor berwarna normal, konsistensi seperti spons 3). Limfangioma kistikum (Higroma) a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit diatas tumor warnanya normal, timbul sejak lahir atau waktu bayi b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) atau di axilla (higroma axillare). 4. Fibroma, D21 1). Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsistensi ada yang beras (fibroma durum), ada yang lunak (fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan ikat pada tumor. 2). Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare 3). Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia musculus rektus atau obliquus abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas, tetapi patologis sebagai tumor jinak

4

sering multipel sepanjang jalan syaraf perifir. subkutis atau subfascial. Neurofibroma. Tenaga standar 13. biopsi. Radiologis : X-foto. Hemangioma : radioterapi. Dapat timbul nyeri atau paraestehia Tumor non neoplasma 1. Non bedah 9.1 1). Tumor ganas jaringan lunak 1. kortikosteroid. Pemeriksaan penunjang : 6. D36. suatu plaque berwarna coklat susu pada kulit 4). Patologis : FNA.S. Ganglion. tatouage 2.0 1). MRI pada tempat tumor 2. 2.S. CT-scan. Abrasi / dermobrasi : 1. Konsultasi 7. Yang khas ialah terdapat cafe aux lait. Masa pemulihan 15. Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion karpi). yang tumbuh progresif dengan pelan 2). : 1. M67. Penyakit : umumnya tidak ada 2. multipel diseluruh tubuh. Terapi : perdarahan. Hasil : : : : 1. Terapi a.5. Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi. Neurofibromatosis von Recklinghausen. Bedah b. pemeriksaan spesimen operasi Staging : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait Ruang inap untuk diagnosis dan tindakan 4. Tempat pelayanan 10. sembuh 5 . Diagnosis banding : 5. infeksi : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : ± 3 hari : ± 1 minggu : Bebas tumor.4 1). Perawatan RS 8. konsistensi lunak 3). tumor atau polipoid. Eksisi tumor 2. menjadi neurogenic sarcoma. Berbentuk tumor bulat panjang. Elektro cauter 4. yang berisi cairan seperti gudir. Lama perawatan 14. kelas C R. Q85. dikulit. Informed Consent 12. harus dicurigai mengalami transformasi ganas. Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea (ganglion poplitea) 1). 2). Suatu penyakit kongenital herediter. konsistensi berubah menjadi padat. Penyulit 11. Cryosurgery 3. yang terdapat sejak lahir atau baru manifest setelah dewasa. Berbentuk nodus. 2). dengan ukuran bervariasi. Ganglion : kortikosteroid intra kistik : Minimal R. berasal dari bungkus syaraf.

24 minggu. Benign fibrous histiocytoma 5.16. Rhabdomyoma 7. Fibroma 4. Leiomyoma 9. Gangion aponeutikum 10. 52 minggu. Neurofibroma 6. Otopsi 18. kemudian lepas 6 . Synovioma 8. Neurofibromatosis : : Baik : 12 minggu. Hemangioma 2. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Lipoma 3. Prognosis 19. Patologi 17.

Tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Urologi 13. FNA. umumnya < 2 cm. Tindak lanjut : - 1. spermatookel.: D29 : TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI 3. Masa pemulihan : ± 1 minggu 15. Testis & epididimis : granuloma. Penyakit : 2. Informed Consent : Perlu 12. sertoli sel tumor. Prognosis : Baik 19. Fisik : tumor kecil. Diagnosis banding : 1. Patologi : biopsi eksisi. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. myoma 2). biopsi testis. Bedah : Eksisi tumor. berbatas tegas. epididimis. Penis & skrotum : kiste epidermis. Keluhan : testis. Tumor ganas 2. ICD 2.S. Prostat : adenoma. ICD : Teratoma Ganas In situ Jinak Tidak tentu 7 . tumor Brenner 2. Non bedah : 9. Otopsi : 18. Hidrokel testis 3. Perawatan RS : Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. pemeriksaan spesimen operasi 6. Tumor non neoplasma 1). Terapi : perdarahan. penis atau skrotum 4. Penyulit : 1. Terapi : a. Lama perawatan : ± 3 hari 14. pemeriksaan spesimen operasi 2. Hasil : Bebas tumor / sembuh 16. Tempat pelayanan : Minimal R. di prostat (colok dubur) testis. fibroma. Diagnosis 1. kelas C R. Kriteria diagnosis : 1. padat atau kisteus. Testis & epididimis : teratoma matur. Prostat : hiperplasia 2). TUR b. penis atau kulit genetalia 2. Spematokel 5.S. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait ] 7. hidrokel funikuli 3). atheroma 17. Neoplasma 1). infeksi 11. karsinoid.

Berbentuk tumor ada yang padat. imaging. Sacoccocygeal C76. Tenaga standar 13. Testis C62 D07. usus.0 D48. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak 2.2 D43. testis.S.9 D33. mengandung kulit.7 D48. seperti di sacrococcygeal. Terapi 1). Tumor jinak atau ganas organ yang bersangkutan Diagnosis 1. Diagnosis banding : 5. Teratoma ganas : eksisi luas atau organtektomi : Radioterapi : Minimal R. Penyulit 11. Perawatan RS 8. Terapi a. Supraseller C71. Penyakit : erosi atau destruksi tulang disekitarnya 2. patologi N : Klinis. Mediastinum C38.9 D07. Konsultasi 7. biopsi. dsb 1.7 2.2 D40. Radioterapi : radionekrose : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 7 hari : ± 1 bulan : 1. kelas-C. hanya untuk tumor ganas T : Klinis. ada yang kistik yang terdapat pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi suatu teratoma 2). Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15.0 D20. Manifest sejak lahir. MRI pada tempat tumor 2.1 6. tulang. gigi. Eksplorasi operasi : Tumor berkapsul yang tegas (ganas). Tempat pelayanan 10. infeksi 2). Bedah b. Eksplorasi operasi : untuk melihat keadaan tumor Staging. Retroperitoneum C48. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Teratoma jinak : eksisi tumor 2. CT-scan. Hasil : : : : 1. Makin dewasa manifestnya. pemeriksaan spesimen operasi 3.1 5.3 D27 D39.3 D09.2. Ovarium C56. Patologis : FNA. ovarium. rambut.2 D38. Informed Consent 12.3 D15. FNA M : Klinis. MRI : nampak ada klasifikasi atau bentuknya seperti tulang. R. Stadium dini : bebas kanker 1. Non bedah 9. 2. patologi Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8 . Diagnosis 3. atau setelah dewasa.3 3. dsb. Operasi : perdarahan. Radiologis : X-foto. imaging.2 TERATOMA 1.3 4. 4. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi teratoma. makin besar kemungkinan keganasan 3. Radiologi : X-foto polos/CT-scan. dsb.6 D29. Pemeriksaan penunjang : 6.7 D36. imaging. Kriteria diagnosis : : 4.S. Fisik : 1).

Teratoma ganas 2. Patologi 17. Tindak lanjut 2. Stadium lanjut : dubius 3.2 9 . Otopsi 18. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. ICD : C64-C79. Stadium dini : baik 2. Prognosis 19.16.0-C22. Teratoma jinak 3. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3.4-C22. Teratoma sifat tidak jelas : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Stadium sangat lanjjut : jelek : 0 – 3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 – 5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 1. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh.

ikterus 4. ovarium. Neuroblastoma adrenal. hipertensi atau panas 3). C76. pada USG abdomen terlihat tumor dari ginjal 4). 2. anoreksi. dapat mengalami regresi spontan pada bayi kurang dari 1 tahun 2). yang terdiri dari campuran derivat jaringan epithelial. panas. gigi. in situ. Terdapat leukocoria. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 10 . retroperitoneum. mungkin pula disertai anemi. TUMOR WILMS. kulit. NEUROBLASTOMA 3. CT-scan atau MRI nampak ada tulang atau macam-macam komponen jaringan dalam tumor : 1). dsb) 2). tetapi umumnya di kelenjar adrenal.2. dapat di leher. dsb. FlexnerWintersteiner rosette pada retina 3). RETINOBLASTOMA 5. pada IMP terlihat pyelum normal 3). mual muntah. rambut. Laboratorium : dalam urine terdapat kenaikan katekolamine. Tumor mata pada anak-anak. Keluhan : sakit perut. abdomen. umumnya pada umur 1-3 tahun 2). Tumor dapat uni atau bilateral 5. Diagnosis banding : KANKER PEDIATRI 1. anemia 2. pada USG. nyeri dan hematuri. strabismus. umumnya dibawah 12 tahun 3). C79.4 1). Laboratorium : AFP naik. C69. Diagnosis 3.2 1).2 1). pada umur dibawah 5 tahun. berat badan meurun 2). TERATOMA : 1. usus. VMA = vanyl mandelic acid. hati. releks papil putih. Terdapat tumor di mediastinum. ada filling defek di pyelum. sifat tidak tentu atau jinak 3). Tumor ginjal pada anak-anak. Tumor Willem (nephroblastoma). C64 1). umumnya pada umur dibawah 5 tahun 2). Pada penyinaran : X-foto polos. Tumor ganas syaraf atau ganglion perifir. Ada trias gejala : tumor abdomen. testis. HEPATOBLASTOMA 4. Tumor pada hati pada anak. Limfoma maligna 5. Tumor dapat bersifat ganas. Tumor berasal dari ginjal. Tumor jinak. 2). gangguan fungsi hati. C22. Teratoma. Retinoblastoma. Laboratorium : hematuria. HVA = homo vandelic acid 3. Hepatoblastoma. tampak ada tulang atau kalsifikasi dalam tumor pada USG. Radiologi : pada IVP. endothelial dan mesenchymal (tulang. toraks. Radiologi : USG abdomen / CT-scan : nampaktumor pada hati 4). terlihat ada klasifikasi dalam tumor. Kriteria diagnosis 4. Radiologi : Pada X-foto polos.2 1).

hepatocelular carcinoma 4. 2. Bedah : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : 1. Hepar : hepatoblastoma. : 1. infeksi. patologi 6. infeksi. benign teratoma. dsb. derajat Staging : T : Klinis. USG abdomen. ganglioneuroma 3. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Adrenal : neuroblastoma. Organtektomi : Pada tumor Willen : nefrektomi. gangguan fungsi organ : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Anak Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 10 – 14 hari : ± 12 minggu : 1. imaging. fungsi ginjal. Teratoma : malignant teratoma. terato carcinoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan ksus kematian yang sebabnya tidak jelas b. atau radioterapi primer bila tumor inoperabel. jenis histologi. imaging. pada mata : eksentrasio bulbi. Patologi 17. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Eksisi luas tumor.1. urine. Masa pemulihan 15. Tenaga standar 13. 2. Mata : retinoblastoma 5. Tempat pelayanan 10. Penyakit : perdarahan. MRI 2. Terapi : perdarahan. patologi N : Klinis. Sitologi : FNA. fungsi hati. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. doxorubicin. Non bedah 9. Ginjal : nephroblastoma 2. kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. patologi M : Klinis. imaging. Kemoterapi : dengan vincristine. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna dalam 1-3 bulan. Terapi a. Radiologi : IMP.S. : Minimal R. pada ovarium : ovariektomi. Stadium dini : bebas kanker 2. sitologi 4. seroma. Radioterapi pre atau pasca bedah. Penyulit 11. Lama perawatan 14. actinomycin-D. Patologi. pada testis : orchidektomi. Otopsi 11 . Informed Consent 12. cyclophospha-mide. katekolamine 3. paraneoplastik sindrom 2. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Laboratorium : darah. CT-scan. AFP. Hasil 16.

Stadium sangat lanjut : jelek : 0 . Stadium dini : baik 2. Prognosis 19.5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 12 .3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 . Stadium lanjut : dubius 3.18. Tindak lanjut : 1.

Pada laparotomi karena ileus ditemukan adanya agregat jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan obstruksi ileus itu Diagnosis banding : 1. Fisik : limfadenopati singel atau multiple. penurunan berat badan atau berkeringat malam yang tidak jelas sebabnya 2. faktor resiko 2. 4. Patologis : jenis histologi. C84 4. X-foto tulang. 5. Immunohistokimia : Sel-T atau sel-B Staging 1. tulang. Patologi : pS = pathological staging Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. MRI 3. SGPT. torakoskopi 6. C82 2). jika timbul ileus atau peritonitis b. inguinal. : C81 s/d C85 : LIMFOMA MALIGNA 1. alkali fosfatase.1. Radiologi : X-foto toraks. bila limfoma masih lokal pada satu regio 2). LDH. ketiak. albumin. atau keluhan karena ada benjolan di perut 2). di salah satu atau lebih regio kelenjar limfe superficial. Tumor jinak kelenjar limfe 2. atau benjolan di tonsil atau faring. Limphadenitis tuberkulosa 3. 8. Panas badan. fungsi hati. sumsum tulang 4. C83 3. ditemukan sel Reed Sternberg. globulin. Bedah : Laparotomi. Non bedah : 1. pada HD = Hodgkin Disease. ketiak. Diagnosis 3. MRI untuk terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe 4. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma. USG abdomen. Patologi : biopsi kelenjar limfe. Follicular (nodular) NHL. CT-scan abdomen. ICD 2. fungsi ginjal. 7. Limphadenitis non spesifik Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. laparotomi. 6. C85 Kriteria diagnosis : 1. Non Hodgkin Lymphoma = NHL 1). 40 Gy. Peripherial and cutaneous T-cell lymphoma. Klinis : cS = clinical staging 2. inguinal. pada NHL = Nn Hodgkin Limfoma tidak 7. tonsil atau lingkaran Waldeyer 3. Pembesaran kelenjar limfesuperficial seperti di leher. seperti leher. Epidemiologi : umur. sumsum tulang terbuka. Radioterapi : 1). atau dengan VC 5. Radiologi : USG abdomen. Pada sindroma vena cava superior 13 . Diffuse NHL. Laboratorium : darah lengkap. Keluhan : 1). CTscan. Hodgkin Disease = HD C81 2. Eksplorasi : laparoskopi.

vinblastine dan dacarbazine 2). Reticulosarcoma perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas 1. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 14 . Lama perawatan 14. Lymphocytic predominace 2). Mycosis fungoides 3. Kemoterapi : Netropenia. lemas 3). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tindak lanjut : : : 2. Hasil 16. alopecia Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis onkologi medik ± 24 minggu ± 4-8 minggu 1. Stadium lanjut : dubius 3. Tempat pelayanan 10. Tenaga standar 13.9. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Hodgkin Disease 1). bleomycin. Radioterapi : Radiodermatitis. MOPP = mechorethamine. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1.Other Hodgkin’s disease 6). Otopsi 18. AVBD = adriamycin. Lymphocytic depletion 5). infeksi 2). Prognosis 19. Follicular (Nodular) 2). Penyakit : ileus obstruksi. mual / muntah. Operasi : Perdarahan. Penyulit : : 11. Diffuse 2. Mixed cellularity 4). sindrom vena cava superior 2. Kemoterapi dengan : 1). anemia. Nodular sclerosis 3). Masa pemulihan 15. Patologi : : : : : : 17. Non Hodgkin Lymphoma 1). Hodgkin’s unspecified 7). peritonitis. Informed Consent 12. oncovin. radionekrose. Terapi : 1). prednison dan procarbazine Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 1. Stadium dini : bebas kanker 2. Stadium dini : baik 2. Plasmacytoma 4.

Reaktif hyperplasia : sembuh 3. Bedah : Tergantung dari penyebabnya b. Sekunder : bila ditemukan ada tumor primernya 4. Terapi : a.: R59 : LIMFADENOPATI : Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio leher. Limphadenitis khronika. Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk konglomerat 3. ketiak. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Penyulit : 1. baik spesifik maupun non spesifik 2. Masa pemulihan : ± tegantung dari sebabnya 15. Pemeriksaan pennunjang : Diagnosis : 1. untuk diagnosis dan tindakan 8. Hasil : Tergantung dari sebabnya : 1. 5. Terapi : 11. Reaktif hiperplasia kelenjar lilmfe 3. Radiologi : tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk mencari tumor primernya 2. Laboratorium : test immunologis (TBC. inguinal yang dapat : 1. Kriteria diagnosis 15 . Perawatan RS : Rawat inap bila perlu. hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker T : cari letak tumor primernya. Penyakit : 2. Informed Consent : Perlu 12. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin) 3. padat. atau tidak sembuh dengan antibiotika atau obat anti TBC 2). Tuberkulosa : sembuh 2. Metastasis kanker dari tempat lain. Non bedah : Tergantung dari penyebabnya 9. Primer : apabila kelenjar membesar progresif. terfiksasi. Limfadenitis tuberkulosa 2. klinis dan imaging N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase jauhnya M : cari lokasi metastase jauhnya. klinis dan imaging 6. toksoplasma) Staging. ICD. Singel atau multipel 2. Diagnosis banding : 1. tanpa ada radang. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Diagnosis 3.C77 atau C80. Dicurigai ganas : 1). ICD 2. Patologi : FNA. biopsi eksisi 3. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Reaktif hiperplasia 4. Metastase kanker : sukar sembuh 16. Limfoma maligna 1. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi 1. Limfoma maligna : bebas kanker 4. Lama perawatan : ± tegantung dari sebabnya 14.

Neoplasma : tergantung dari stadiumnya : Tergantung dari penyebabnya 16 . Tindak lanjut 4. C77 atau ICD topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis menjadi MUO = Metastase of Unknown Origin atau CUP = Cancer of Unknown Primary. Otopsi 18. Metastase kanker Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat ditemukan tumor primernya (ICD. C80) : : 1. Non neoplasma : baik 2.17. ICD. Prognosis 19.

Chemoterapi : a). Amputasi / disartikulasi 2. faktura patologis 4. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait 7. Reseksi tulang + transplantasi tulang atau prosthese tulang (limb preserving operation) 2). Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. fungsi hati. doxorubicin. CT-scan. Perdarahan b). Fibrosis 3). patologi 6. imaging. Radioterapi pra atau pasca bedah. Radionekrose c). Penyakit : fraktur. Terapi : a. scintigrafi tulang). Penyulit : 1. Netropenia b). Bedah : 1. MRI. Patologi : Biopsi : FNA. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Infeksi d). Diagnosis banding : 1. timbul patah tulang. ada invasi tumor keluar tulang. ada “sunrays phenomen” pada osteogenic sarcoma. patah tulang patologis. CT-scan. tubuh : Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks / rekonstruksi b. Radiologi : X-foto tulang. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. fosfatase alkali 4. Kemoterapi : dengan kombinasi cyclophosphamide. Radiologi : X-foto tulang. Hematoma c). Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah ortopaedi 13. Radioterapi : a). Lemas d). derajat diferensiasi sel) Staging T : Klinis. imaging (X-foto toraks. Alopecia 11. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. leher. biopsi tulang. atau phenomena “union peel = kulit bawanng” pada Ewing sarcoma. Laboratorium : darah. Ekstemitas : 1). Diagnosis 3. Kepala. Informed Consent : Perlu 12. urine. paraplegia 2. Keluhan : tumor. MRI : ada pembentukan tulang baru (Codman’s trangle). Kiste tulang 3. nyeri tulang. patologi spesimen operasi N : Klinis. Radiodermatitis b). lokasi tumor 2. Masa pemulihan : ± 4-12 minggu 1. cisplatin. USG abdomen. Terapi 1). fungsi ginjal. atau radioterapi primer 2. CT-scan. paraplegia 3. methotrexare 9. paraplegia 2. Kriteria diagnosis 17 . Non bedah : 1. MRI. ICD 2. Cacat 2). Fisik : tumor pada tulang dengan invasi keluar tulang. Operasi : a). Epidemiologi : umur. cyclophosphamide. imaging M : Klinis.: C40-C41 : KANKER TULANG : 1. Mual/muntah c). Scintigrafi tulang 3. Osteomyelitis 5. Tumor jinak tulang 2.

Lain-lain 1). Lisis tulang 1). Chordoma 9). Juxtacortical osteosarcoma 3). paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Mesenchymal chondrosarcoma 2. Ewing sarcoma 3. Stadium lanjut : dubius 3. Hasil 16. Membentuk tulang atau kartilago 1). Tindak lanjut : 1. Osteogenic sarcoma 2). Stadium dini : baik 2. Angiosarcoma 4).15. Juxtra chondrosarcoma 5). Fibrosarcoma 5). Undifferentiated sarcoma 8). Chondrosarcoma 4). Adamantinoma dari tulang panjang : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Giant cell tumor 2). Malignant mesenchymoma 7). Stadium dini : bebas kanker 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Liposarcoma 6). Hemangioepithelioma 2). Prognosis 19. Hemangiopericytoma 3). Patologi 17. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 18 . Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Otopsi 18.

Bedah : Untuk non seminoma 1. Laboratorium : darah. AFP. Orchidektomi radikal 2. infeksi 2). Keluhan : Testis membesar. Radioterapi : 25-30 Gy 2. tumor testis. Nodus regional : diseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. Radiol : X-foto toraks. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. urine. HCG naik > 5 mIU/ml. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. lokal atau difuse. Patologi : FNA. USG : testis bentuk irreguler. Radiologi : 1). kanan dan kiri tidak sama 3. MRI) 6. nafsu makan turun leukopeni. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. LDH > 1-1. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tumor jinak 2. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Chemoterapi : mual. alopesia. Diagnosis banding : 1. badan lemas. Hasil : 1. Orchitis 5. Penyulit : 1. Kemoterapi : etoposide. USG abdomen. Lokal : 1). dsb 11. diarhoea. BUN. Terapi : a. terasa berat 2. Kriteria dignosis 19 . nafsu makan turun 3). imaging. Non bedah : Untuk seminoma atau non seminoma 1. CT-scan abdomen 2. HCG 3. Diagnosis 3. muntah. Informed Consent : Perlu 12. Terapi : 1). Orchidektomi total 2). Operasi : perdarahan. imaging M : klinis. keras. Penyakit : invasi ke kulit skrotum. badan lemas. nyeri. Radioterapi : mual. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Hidrokel testis 3. CT-scan.: C62 : KANKER TESTIS : 1. vas deferen 2. konsistensi padat. biopsi testis. cisplatin 9. diarhoea. muntah. USG abdomen. Lab : AFT naik > 15 ng/ml.5 xN (normal) 4. pertanda tumor N : klinis. (USG testis). Stadium dini : bebas kanker 2. Masa pemulihan : ± 12-24 minggu 15. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Fisik : tumor membesar. ICD 2. densitas heterogen 2). imaging (X-foto toraks. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. paliasi 1.

York sac tumor 6). Seminoma 2. Otopsi 18. Embryonal rhabdomyosarc 5).16. Granulosa cell tumor : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Stadium dini : baik 2. Prognosis 19. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Stadium lanjut : baik 3. Stadium sangat lanjut : dubius : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 20 . Choriocarcinoma 3). Leydig cell tumor 7). Patologi 17. Embryonal carcinoma 2). Non seminoma 1). Teratoma maligna 4).

MRI 2. Pangkal lidah C01. Reseksi palatum / mandibula / pipi + rekonstruksi b. Operasi Commando dan rekonstruksi. Non bedah : 1. Lidah C02. kelaianan gigi. Radiologi : X-foto rahang. Patologi : FNA. CT-scan) 6. Penyulit : 1. nginang. higiene mulut 3. Palatum C05. defek mukosa ditutup dengan Thiersch pada tumor T1S atau T1 3). sering nyeri di mulut 2. panoramik. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Rongga mulut lainnya C06 3. Fisik : 1). Tunggal : a. tumor atau ulkus. Diagnosis banding : 1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Sukar nafas 1. Eksisi luas lesi trans-oral.C06 : KANKER RONGGA MULUT Bibir C00. Diagnosis 21 . biopsi (insisi / eksisi / cakot). Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. Dasar mulut C04. mudah berdarah. Ada faktor predisposisi seperti merokok. Kriteria diagnosis : 1. tidak menghilang degan pengobatan konservatif selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrasi 2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau leher 3). Terapi : a. USG abdomen. derajat diferensiasi sel) Staging T : klinis. pada T2 keatas Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan diberikan perawatan higiena mulut yang baik b. eritroplasia Querat 4). Kemoterapi : dengan obat 1). Adriamycin. Stomatistik 5. Mitomycin-C 9. Cisplatin b. mulut berbau. peminum alkohol. Sukar makan & minim 4). Ulkus kronik benigna 3. Nyeri 2). Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir 2).: C00 . ICD 2. Keluhan : ada tumor atau ulkus. imaging (X-foto toraks. spesimen operasi (jenis histologi. Trismus 3). Bedah : 1. Ada lesi di mulut dapat berupa indurasi. Endoxan 2). sering nyeri. Ada lesi pra kanker : seperti leukoplakia. Tumor primer 1). imaging. Penyakit 1). imaging. Bleomycin. Methotrexate b. patologi N : klinis. nodus. mungkin terlihat ada destruksi tulang 4. Gusi C03. Radiologi : pada X-foto maksila / mandibula atau panoramik. Operasi khusus : a. Glosektomi total c. yang mudah berdarah. Flourouracil c. CT-scan. patologi M : klinis. Tumor jinak mulut 2. VBM : Vincristin. Multifarma : a. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel 2. Granuloma 4. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. FAM : Flouroutacil.

Operasi : Perdarahan. Hemangiopericytoma : Perlu unuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Karsinoma in situ 2). Rhabdomyosarcoma 3). Radioterapi : Mukositis. infeksi. Adenoid cystic carcinoma 5) Pleomorphic carcinoma 6). kiloma. Chemoterapi : neutropenia. Patologi : : : : : : 2. Stadium dini : baik 2. Hasil 16. fitula oro-kutan. Fibrosarcoma 2). sinus dari implant. Prognosis 19. Stadium dini : bebas kanker 2. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. infeksi. kawat/plat skrup. Epithelial 1). Tenaga standar 13. mulut kering. Lama perawatan 14.11. Tindak lanjut 2. Syadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 22 . Informed Consent 12. Malignant melanoma 17. fibrosis 3). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Terapi : 1). mukositis infeksi. Leiomyosarcoma 4). Mesenchymal 1). Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Adenocarcinoma 4). Mal. Masa pemulihan 15. Nekrose flap 2). Squamous cell carcinoma 3). Otopsi 18. toksis Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1.

Conyloma 5. Diagnosis banding : 1. paliasi 16. Non bedah : 1. tumor eksofitik. Lama pemulihan : ± 4-8 minggu 15. cysplatin 9. Stadium dini : baik 2. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Otopsi 18. infeksi 11. erosi atau ulkus terutama di glans atau preputium 2). Radioterapi 40 Gy. Keluhan : benjolan di penis 2.1. Kemoterapi : bleomycin. Penyulit : 1. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 17. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Bedah : 1. jenis histologi. Laboratorium : darah. Penyakit : kehilangan penis 2. CT-abdomen 3. Hasil : 1. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. urine 6. Terapi : perdarahan. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Terapi : a. Pembesaran kelenjar limfe inguinal 4. Diseksi kelenjar limfe b. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Non SCC : Sarkoma. Informed Consent : Perlu 12. Squamous cell carcinoma 2. ICD 2. methotrexate. Fisik 1). brachiterapi dengan implantasi irridium 2. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Prognosis 19. Lesi berupa plaque merah. Radiologi : X-foto toraks. Panektomi parsial atau total 2. Tindak lanjut 23 . BCC melanoma lymphoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yag sebabnya tidak jelas : 1. USG abdomen. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Stadium lanjut : dubius 3. Tumor jinak 2. Biopsi lesi. derajat deferensiasi sel 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis : C60 : KANKER PENIS : 1. Stadium dini : bebas kanker 2. pemeriksaan spesimen operasi. nodus. struktur uretra.

Mastektomi Radical Standard Radical (Halstedt) 2). CT-scan. Keluhan : tumor atau borok yag mudah berdarah pada payudara. 8. peau d’orange. imaging (X-foto toraks. FNA Juga VC / PC dan pemreiksaan patologi spesimen operasi Staging : T : Klinis. Radiologi : a. ICD 2. Tumor jinak mamma 2. Tumor phillodes 3. USG abdomen. stellate. batas tidak jelas. eritema kulit diatas tumor. biopsi sentinal node M : Klinis. hiper-echoic Diagnosis banding : 1. 7. Bedah : 1. imaging. Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau kanker insitu diseksi axilla tergantung dari keadaan kelenjar axilla atau dari biopsi sentinal node 3. derajat diferensiasi) N : Klinis. Kriteria diagnosis 4. bentuk tidak teratur. : C50 : KANKER PAYUDARA : 1. bentuk irreguler. Diagnosis 3. Klinis 2. ulserasi Tanda metastase : regional. tumbuh progresif. Displasia mamma 4. Standar : Mastektomi Radical Modifikasi (Patey / Madden) 2. klasifikasi mikro yang tidak teratur b. Fisik : pada payudara terdapat tumor padat keras. BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery) : a. ± Reskonstruksi mamma (myokutaneus latisimus dorsi flap) 3). melekat kulit / muskulus pektoralis / dinding dada. satelit nodule. 5. Sarcoma jaringan lunak 6. imaging. bone scan. USG mamma : ada tumor berbatas tidak tegas. patologi (jenis histologi. Limfoma maligna Pemeriksaan penunjang : Diagnosis : Triple diagnostik : 1. 6. MRI) Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. umumnya pada permulaan tidak nyeri. Mammografi atau USG mamma 3. Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi ± diseksi axilla + radioterapi pasca bedah b. dan ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant 24 . ada pembesaran kelenjar limfe ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh 3. Alternatif : 1). Mastitis Khronika 5. Mammografi ada tumor batas tidak tegas. erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal puting susu 2.1.

Squamous cell carcinoma 8). Tindak lanjut : 1. Stadium dini : baik 2. Otopsi 18. GnRH analogue 4. infeksi. Adriamycin. Papillary carcinoma 3). nekrose kulit tempat infusi. Radioterapi : radiodermatitis. Terapi : 1). plebitis. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan ovariektomi. Penyulit 11. oedema lengan. Mal. Masa pemulihan 15. Kemoterapi : mual. Tumor phyllodes 2. dsb : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 7-14 hari : ± 24-36 minggu : 1. sendi bahu kaku 2). Campuran 1. Penyakit : perdarahan. leukopenia. oedema lengan. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma 3. Aromatase inhibitor. Hasil 16. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnose Epithelial 1. Cribriform carcinoma 4). nekrose kulit. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 25 . Kemoterapi : Adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan : CMF : Cyclophosphamide. Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma 2. efusi pleura. muntah.b. oedema lengan. Fibrosarcoma 2. Fibrous histiocytoma 4. Stadium dini : bebas kanker 2. Variant khusus : 1). Tamoxifen. Tempat pelayanan 10. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Undifferentiated carcinoma Mesemchymal 1. infeksi. Lama perawatan 14. Terapi paliatif dan bantuan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Operasi : perdarahan. alopesia. Pagets disease 7). Informed Consent 12. infeksi. Methotrexate. faktura patologis. Non bedah 9. Medullary carcinoma 2). fibrosis. paraplegia 2. seroma. Liposarcoma 3. Mal. dll. nekrose flap. Carcinosarcoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Mucinous carcinoma 5). Tenaga standar 13. sendi bahu kaku 3). Flourouracil CAF : Cyclophosphamide. Patologi 17. Flourouracil 3. Scirrhus 6). Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer 2.

Vries Coup 6. Tumbuuh pelan dalam waktu tahunan c). Radiologi : USG mamma / mammografi 3). Papillima intra duktal (1). Tumor pada mamma yang besar. Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu (2). Penyulit : Operasi : 1). Infeksi 11. Kanker payudara 2. Sangat mobil dalam korpus mamma h). ICD 2. Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel 3). Fibroadenoma mamma : eksisi tumor mamma 2). Ada bagian yang padat dan kisteus d).1. Bentuk bulat atau oval e). Fibroadenosis 5. Diagnosis banding : 1. Vena subkutan membesar dan berbelok-belok (venaektasi) (4). Informed Consent : Perlu ada informed consent 26 . Perdarahan 2). Tumor filloides mamma (1). Hematoma 3). Fiboadenoma mamma (1). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Kriteria diagnosis klinis : D24 : TUMOR JINAK PAYUDARA : 1). Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma 9. Diagnosis 3. Konsistensi padat elastis g). dibawah umur 30 tahun b). Patologi : Biopsi. Terapi : 1). Permukaan halus f). Perawatan RS : 1). Pemeriksaan diagnostik klinis : 1). Tumor di mamma pada wanita a). Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase 3). Epidemiologi : umur. Permukaan berbenjol-benjol c). Konsultasi : Dokter spesialis Bedah Umum Dokter spesialis Bedah Onkologi 7. kalau perlu MRS untuk tumor yang multipel 2). faktor resiko 2). Muda. Diameter umumnya besar diatas b). Kiste payudara 3. > 5 cm dan dapat lebih dari 30 cm a). Tumor dapat singel atau multipel (2). Batas tegas d). Fibroadenoma mamma : Poliklinik. Tumor filloides dan papiloma intraduktal : MRS 8. Sangat mobil dari dinding dada (2). Tumor kecil di subareoler 4. Sitologi : FNA 4). Kulit diatas tumor mengkilat (3). Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada tanda metastase jauh 2). Papiloma intraduktal : duktektomi 4).

12. Prognosis 19. Tumor phyllodes 3). 0-1 tahun : tiap 3 bulan 2). Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 0-7 hari : ± 1-2 minggu : Sembuh : 1). > 1 tahun : lepas 27 . Lipoma : : Tumor jinak : baik : 1). Otopsi 18. Hasil 16. Patologi 17. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Fibroadenoma 2). Tenaga standar 13.

1) pada satu atau kedua mamma b). Mamma pria membesar. siklis sesuai dengan siklus menstruasi atau non siklis b). 6. 5. Mastitis puerperalis (O91) a). Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sediaan beku atau parafin Konsultasi : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi 28 .1. Mastitis (1). Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda radang (dolor. Neoplasma jinak payudara Pemeriksaan penunjang : 1).9) Diagnosis banding : 1). Fibroadenosis mamma (ICD. Nyeri pada mamma. Kista mamma Pada aspirasi keluar cairan serous. Ukuran besar mamma melebihi ukuran normal b). Jaringan mamma subareoler paling sedikit terba sebesar 1½ cm 4). (O92. batas tidak tegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau menghilang secara spontan Tumor sering multipel atau bilateral 2). lokal atau difuse c). Dapat uni atau bilateral (2). keruh atau seperti nanah dalam kista Kista dapat tunggal (N60. Hipertrophi mamma (1).8) (2). fungsio lesa) b). Kelainan dapat menghilang dan timbul dengan spontan sesuai dengan siklus menstruasi (2). Ginekomasti = hipertrophi pada laki a). seperti mamma wanita b). konsistensi padat. N60. Galaktokel non puerperalis. tumor.2) Tumor umumnya tidak besar. Sitologi : FNA 3). ICD 2. 4. (N64. rubor. Displasia mamma N60 (1). calor. noduler. Galaktokel puerperalis. Tanpa tumor yang dominat a). Mamma padat.0) atau jamak (N60. Hipertrofi pada wanita a). Mastitis chronika Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan areola atau ditempat lain disertai atau tidak disertai dengan tanda-tanda radang 3). N61 (2). Mastitis non puerperalis. Kanker payudara 2). Galaktokel Terdapat kiste pada mamma yang berisi air susu (1). Dengan tumor a). Diagnosis 3. : N60 – N64 : DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LANNYA Kriteria diagnostik klinis : 1). Radiologi : mammografi / USG mamma 2).

Poliklinik 2). Gynecomasti Baik 3 bulan sampai 1 tahun 9. Displasia mamma (1). Konservatif : aspirasi kista. tamoxifen (2). Adolesesent : reduction mammoplasti (2). Mastitis (1). Galatokel : (1). Konservatif : dengan testosteron. Perawatan RS 8.7. bila konservatif gagal 2). Operatif : eksisi ginekomasti 4). Informed Consent 12. Hasil 16. Ginekomasti a). danocrine. EPO. Penyulit 11. Lama perawatan 14. Patologi : : : : : : : : 17. Prognosis 19. Non purulent : antibiotika (2). Perdarahan 2). Tindak lanjut : : : 29 . Infeksi Perlu ada informed consent Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Pasca bedah 2-3 hari Tergantung pada jenis tumornya Sembuh Perlu 1). Aspirasi (2). Purulent / abses : insisi & drainage 3). Operasi : eksisi tumor. antiestrogen b). MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara : 1). Masa pemulihan 15. Tempat pelayanan 10. Otopsi 18. Papillary cyst (3). Tenaga standar 13. antioksidan. Tumor displasia mamma (1). Adenosis (4). Terapi : 1). Simple cyst (2). Duct ectasia (5). Hematoma 3). Hypertrofi mamma (1). Bila gagal : eksisi tumor Minimal RS Kelas-C Operasi : 1).

5). derajat deferensiasi sel. : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 6. Polip anus. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Endoskopi : rektoskopi. Hasil 16. imaging. nutrisi : Minimal RS kelas-C : 1. gemzar. 6). Penyakit : obstruksi ileus. patologi M : klinis. pemeriksaan histologis spesimen operasi Staging : T : klinis. 2). tumor mobil atau melekat dengan struktur disekitarnya.1. Lama perawatan 14. Squamous cell carc. Mucoepidermoid carc. Kriteria diagnosis : C21 : KANKER ANUS : Keluhan : nyeri kalau berak. berak berdarah atau lendir Fisik : Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau polipod di anus. USG abdomen. muuntah. Tenaga standar 13. Undifferentiated carc. Basaloid carcinoma. Diagnosis banding : Tumor jinak anus. Otopsi 30 . MRI) : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : Operabel : eksisi anus untuk menyelamatkan sphinter reseksi abdominoperineal (operasi Moles) Inoperabel : Sigmoidostomi Elektrokoagulasi : Radioterapi : 40-50 Gy Chemoterapi : dengan FUFA. anemi 2. toksis : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah digestif : ± 10-14 hari : ± 24 hari : 1. proktitis. pada toucher rektum. Masa pemulihan 15. imaging. Stadium dini : bebas kanker 2. Perawatan RS 8. jenis histologis. 3). spincter ani terba tegang. doubel kontrast Patologis : biopsi. leukopeni. Basal cell carc. (X-foto toraks. ICD 2. Konsultasi 7. Melanoma maligna. Informed Consent 12. Adenocarcinoma. Paget’s disease 8). infeksi Radioterapi : radiodermatitis. Diagnosis 3. EUS. paliasi : Epithelial 1). Terapi Operasi : perdarahan. Non Bedah 9. patologi N : klinis. Terapi a. kolonoskopi Radiologi : foto kolon. camptothecin. Patologi 17. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Bedah b. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. 4). Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Kelenjar llimfe iguinal atau pararektal teraba besar Anuskopi / proktoskopi : terdapat tumor di anus 4. cisplatin Paliatif : analgetika. infeksi. kistitis Kemoterapi : mual. Hemorroid 5. CT-scan. 7).

Stadium lanjut : dubius 3. Tindak lanjut : 1. Stadium dini : baik 2. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 31 . Prognosis 19.18.

ICD 2. Kriteria diagnosis 4. tumbuh infiltratif. Keratosis seborrhoicum 3. 6. Terapi : 1). derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. : C43 – C44 : KANKER KULIT : Melanoma maligna (C43) 1. Radiologi : X-foto. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Penyakit : perdarahan. Penyulit 32 . Keratoakantoma 4. dan melanoma maligna 2-3 cm mengelilingi tumor). mudah berdarah 2. kasus inoperabel atau pada basalioma yang kalau dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi sukar. Operasi : perdarahan. nodus. Non bedah : Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi. methotrexate. infeksi. destruktif atau progresif Ada pembesaran kelenjar limfe regional Diagnosis banding : 1. X-foto toraks. USG abdomen. bila ada metastase b. seroma. Eksisi luas (pada BCC : tepi irisan ½ -1 cm. patologi M : klinis. imaging. patologi N : klinis. SCC 1-2 cm. Leukoplakia 5. cisplatin. Diseksi kelenjar limfe regional. BCC dan SCC : 5-Flourouracil. CT-scan Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Diagnosis 3. imaging. nekrose kulit. MRI lokal pada lesi 2. 8.1. Posisi : ada lesi di kulit berbentuk plaque. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang menginfiltrasi kulit 3. indurasi. operasi tidak dapat radikal. (C44) BCC = Kanker sel basal SCC = Kanker sel skwarnosa 1. melphalan 2. Fisik : ada lesi di kulit berbentuk plague. CT-scan. Bedah : 1. Patologi : biopsi insisi atau eksisi. Tempat pelayanan 10. cisplatin. Melanoma maligna : Dacarbazine. Thiersch gagal 9. anemi. memborok atau mudah berdarah 2. Eritroplasia Querat Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. nodus. indurasi. defek yang luas di muka 2. 7. 5. Kemoterapi : 1. tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman 3. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional Kanker kulit lainnya. Tumor jinak kulit 2. gatel. Keluhan : andeng-andeng membesar. infeksi. Keluhan : benjolan atau borok dikulit. bleomycin : Minimal RS kelas-C : 1. Defek kulit ditutup dengan flap lokal atau transplantasi kulit Thierch 2. tumor eksofitik atau ulkus yang berbau.

Chemoterapi : mual. diarhoea. Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 33 . badan lemas. Stadium lanjut : dubius 3. Masa pemulihan 15. Tindak lanjut : : : 2). Basal cell carcinoma 2. Hasil 16. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Stadium dini : baik 2. Adenocarcinoma 4.11. Patologi : : : : : : 17. muntah. dsb. Prognosis 19. Stadium dini : bebas kanker 2. nafsu makan turun 3). Otopsi 18. Malignant melanoma Mesenchymal 1. badan lemas. Metatypical carcinoma Melanosit 1. diarhoea. Radioterapi : mual. paliatif Epithelial 1. Lama perawatan 14. Squamous cell carcinoma 3. Dermatofibrosarcoma protuberan Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 1. nafsu makan turun leukopeni. Stadium sangat lanjut : Tidah sembuh. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. muntah. alopesia.

1. Penyulit 11. Eksisi luas 2. Lama perawatan 14. 8. imaging (X-foto toraks. retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat bervariasi tergantung dari lokasinya. derajat diferensiasi sel) N : klinis. Bedah : Tumor di ekstrimitas 1. Diagnosis banding : Tumor jinak jaringan lunak. umumnya besar > 5 cm. imaging M : klinis. CT-scan. CT-scan. invasi / penekanan struktur vital. hematom. Tumor tumbuh progresif. Amputasi 4. dinding tubuh. Masa pemulihan : : : : : : : 34 . imaging. 5. Eksisi dinding abdomen Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor Radioterapi : 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primer Kemoterapi. Kriteria diagnosis 4. leher. CT-scan. tumor abdomen Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Radiologi : X-foto polos. Informed Consent 12. ada bagian tumor yang nekrosis. menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya. dapat superfisial atau dalam. Disartikulasi Tumor di kepala. USG abdomen. Tempat pelayanan 10. : C49 : SARKOMA JARINGAN LUNAK : Keluhan : tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh progresif Fisik : Tumor subkutan di ekstrimitas. Diagnosis 3. kulit). anemi. Radiologi : X-foto lokal. Non bedah 9. Reseksi dindig toraks 3. pemeriksaan spesimen operasi Staging T : klinis. patologi Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Eksisi luas 2. ICD 2. patologi dari biopsi / spesimen operasi (jenishistologi. mengivasi jaringan disekitarnya (tulang. 7. dan pada arteriografi tampak tumor hiper-vaskuler. misalnya dengan CyVADIC Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyakit : perdarahan. Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan suatu tumor ganas. Eksisi kompartment 3. MRI). MRI Patologi : biopsi. sesak nafas Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-12 minggu atau cacat seumur hidup b. ada neovaskularisasi. Tenaga standar 13. MRI tampak tumor berbatas tidak tegas. di kepala-leher. dinding tubuh 1. 6.

paliasi : 1. Stadium dini : baik 2. Lain-lain : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Otopsi 18. Epitheloid sarcoma 9. Patologi 17. Mesenchymoma 11. Stadium lanjut : dubius 3. Tindak lanjut : 1. Neurofibrosarkoma 3. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 35 . Fibrosarcoma 4.15. Angiosarcoma 10. Stadium dini : bebas kanker 2. Rhabdomyosarcoma 7. Malignant fibrous histiocytoma 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Leiomyosarcoma 8. Synovial sarcoma 6. Prognosis 19. Liposarcoma 5. Mesothelioma 12. Stadium lanut : DFS atau OS diperpanjang 3. Hasil 16.

badan lemas. ± keluhan paraneoplastik seperti : anemia. Terapi : a. MRI angiografi. doxorubucin. badan lemas. diarhoea. tumor ginjal USG. diarhoea. Kriteria diagnosis 36 . MRI : tumor ginjal 4). Bedah : Nefrektomi radikal ± thrombo-embolektomi ± Deseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. nafsu makan turun 3). Penyakit : gagal ginjal. CTscan. imaging. BUN. CT-scan. Explorasi laparotomi : tumor dari ginjal Kanker ginjal pada orang dewasa 1). Penyulit : 1. cisplatin 9. creatinin. Patologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. muntah. Fisik : terdapat tumor di daerah ginjal 3). Keluhan : hamaturia. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. nyeri di pinggang. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Radiologi : a). hipercalcemia. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi 1). Kiste ginjal 5. Non bedah : Radioterapi : pre atau pasca bedah atau radioterapi primer Kemoterapi : dengan FU. Operasi : perdarahan infeksi 2). tumor di pinggang 2). Chusingsindrom. Keluhan : hematuria. MRI : ada tumor di ginjal. hiperpireksi 2). eksplorasi laparotomi. Laboratorium : hamatoria 4). Diagnosis 3. berat badan menurun. terbatas atau meluas keluar ginjal c). Fisik : Tumor di pinggang. Angiografi : tumor hyopervasuler 4. Retrograde pyelografi : ada ekstensi tumor ke pelvis d). infeksi 2. patologi M : klinis. Radiologi : IVP. derajat diferensiasi del) Staging T : klinis. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. venacavografi 2. Diagnosis banding : Batu pyelum. dsb. imaging. uric acid. alopesia. mitomycin. imaging.: C64 : KANKER GINJAL : Kanker ginjal pada anak-anak 1). muntah. eksplorasi laparotomi. Chemoterapi : mual. Informed Consent : Perlu 1. IVP : ada filling defek dari calices atau pyelum b). Tumor jinak ginjal. Laboratorium : darah. Radiologi : IMP : deformitas dari calices. Radioterapi : mual. 11. USG / CT-scan. nafsu makan turun leukopeni. retrograde pyelografi. urine. USG abdomen. SGPT 3. SGOT. patologi 6. eksplorasi laparotomi. patologi N : klinis. uni atau bilateral 3). ICD 2. hipertensi erythro-cytosis.

Teratoma : Perlu untuk :konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Papillary carc e). Clear cell carc (hypernephroma) f). Leiomyosarcoma d). Otopsi 18. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Renal cell carc d). Prognosis 19. Lama perawatan 14. Patologi 17. paliasi : Epithelial / Adenocarcinoma a). Masa pemulihan 15. Fibrosarcoma b). Rhabdomomyosarcoma e). Nephroblastoma (Wilm tumor) b). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Carcinoid tumor Mesenchymal cell a). Granular cell carc c).12. Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak : ± 7-14 hari : ± 12-24 minggu : 1. Stadium dini : bebas kanker 2. Fibroushistiocytoma c). Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 37 . Tubular carc b). Tenaga standar 13. Hasil 16. Mal. Stadium lanjut : dubius 3. Stadium dini : baik 2. Hemangiosarcoma Complex mixed cells a).

Ginjal : USG. Informed Consent : Perlu 12. urine. disuria 2. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1.: D30 : TUMOR JINAK UROLOGI & TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI 3. kistografi. Diagnosis banding : 1. mioma 2). Lama perawatan : ± 2-5 hari 14. ICD 2. USG. Hasil : Keluhan dan tumor hilang 16. terlihat tumor kecil di ginjal. glandular metaplasia. Penyulit : 1. Ginjal : kiste ginjal. biopsi 3). Ginjal : IVP. Urolithiasis 3. Buli-buli : transitional cell papilloma. Prognosis : Baik 19. TUR. Terapi : a. Pielum : transitional cell papilloma. squamous cell metaplasia 3). kistoskopi 3. Patologi : FNA. Tumor ganas 2. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Pielum : transitional cell metaplasia. Keluhan : hematuria. Tumor non neopplasma 1). Tumor jinak 1). pieloskopi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Pyelum : IVP terlihat filling defek di pyelum 4. BUN. hamartoma 2). endometriosis. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. untuk diagnosis dan tindakan 8. Otopsi : 18. padat atau kisteus 3. FNA. Diagnosis 38 . Buli-buli : transitional cell metaplasia. Ginjal : adenoma. adenoma 3). fibroma. Kriteria diagnosis : 1. Eksisi tumor 2. TUR b. kreatinine 2. Perawatan RS : Rawat inap kalau perlu. Buli-buli : IVP. kiste 17. Non bedah : 9. squamous cell metaplasia. retrograde pyelografy 2). Laboratorium : darah. fibous polip. Infeksi 5. infeksi 2. Bedah : 1. sitologi. Penyakit : hematuria. Radiologi : 1). Buli-buli : kistografi atau kistokopi terlihat tumor kecil di buli-buli 4.(hanya untuk tumor ganas) 6. squamous cell papilloma 2. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. spesimen operasi Staging : . hematoma. Sitologi : urine 4. Pyelum : IVP. infeksi 11. Terapi : perdarahan. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi 13. Tindak lanjut : - 1.

ICD 2.: C 73 : KARSINOMA TIROID : Benjolan di leher bagian depan. Prognosis : Tergantung faktor prognostik Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm. Diagnosis banding : Tiroiditis kronis. FNAB keganasan (+) 4. tidak ada ekstensi 1. mobilitas terbatas. Penyulit : Sesak nafas. Informed Consent : Perlu 12. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. trakheomalaise. tipe diferensiasi baik. ikut bergerak waktu menelan disertai tanda pembesaran yang cepat. Hasil : Tumor terangkat secara onkologi / radikal 16. struma adenomatosa 5. suara parau. suara serak karena lesi rekuren. Terapi : Total tiroidektomi / near / total tiroidektomi + FND bila metastase ke kgb leher / radiasi ekstera / interna (J-131). kejang karena hipo-paratiroid. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. kemoterapi bila ada indikasi. pembesaran kelenjar getah bening leher. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. Diagnosis 3. Pemeriksaan penunjang : FNAB X-foto leher (kalau perlu) Untuk staging : X-foto toraks. Lama perawatan : ± 5 hari 14. USG abdomen. Substitusiterapi levotiroksin 9. Otopsi : Tidak perlu 18. Perawatan RS : Rawat inap 8. sesak nafas. perdarahan 11. Kriteria diagnosis 39 . alkalifosfatase 6. konsistensi keras. gangguan menelan. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi FND dilakukan oleh dokter spesialis bedah 13. Patologi : Perlu 17.

: E 04. Curiga ganas bila tumbuhnya cepat. ada pembesaran kgb leher. Hipoparatiroidi. uninoduler atau multi noduler. T4. Diagnosis 3. fixed. jantung berdebar. Diagnosis banding : 5. ICD 2. benjolan keras. tambah gemuk. mata sembab). diare) atau gejala hipotiroidi (malas. Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. Patologi : Perlu 17. Informed Consent : Perlu 12. E 06 : STRUMA : Benjolan / massa di trigonum koli di anterior sebelah bawah.Basedow ). 4. Kriteria diagnosis 40 . Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. sesak (+). Terapi : Operasi.Basedow : tiroidektomi subtotal Struma uninodosa : lobektomi subtotal Struma multinodosa : lobektomi / tiroidektomi subtotal (tergantung jumlah lobus yang terkena) Tiroiditis kronis : ismektomi 9. gelisah. Lama perawatan : ± 2 hari 14. mudah capek. Prognosis : Baik. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. sulit tidur. disfagi (+). Rekuren. kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut 1. Hematoma Krisis tiroid (untuk M. Pemeriksaan penunjang : Faal tiroid : T3. TSH Biopsi aspirsai jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga ganas BMR (pada saat rawat inap) 6. obstipasi. Perawatan RS : Rawat inap bila ada indikasi operasi : Keganasan Hipertiroidi yang sudah teregulasi Gejala penekanan Keluhan kosmetik 8. ngantuk. Hasil : Struma (-) 16. Penyulit : Lesi N. E 05. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. suara parau. Hipotiroidi 11. sering keringatan. macamnya tergantung proses patologis tiroid : M. ikut bergerak ke atas bila penderita melakukan gerakan menelan. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah kurus. Bentuk bisa difus. Otopsi : Tidak perlu 18.

Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Lama perawatan : Tergantung penyebab 14. Informed Consent : Perlu 12. kemoterapi. Hasil : Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi 16. Penyulit : Tergantung penyebab 11. pembedahan. Prognosis : tergantung penyebab 1. Pemeriksaan penunjang : FNAB. Diagnosis banding : Limfadenitis spesifik / non spesifik Limfoma maligna Metastase dari tempat lain 5. Patologi : Perlu 17. Kriteria diagnosis 41 .0 : PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & L : Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila : Pembesaran progresif Tanpa ada radang Ada tumor primer di tempat lain Tidak sembuh dengan antibiotika Benjolan teraba agak keras 4. ICD 2. Masa pemulihan : Tergantung penyebab 15. biopsi eksisional.: C 77. antibiotika) 9. atau biopsi insisional Pemeriksaan darah lengkap Tumor marker bila ada fasilitas Pemeriksaan serologis (TB-DOT. Diagnosa 3. toksoplasma) CT-scan bila ada indikasi 6. Terapi : Sesuai penyebab (radioterapi. Otopsi : Tidak perlu 18. Perawatan RS : Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose 8. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13.

Otopsi 18. 3. Pemeriksaan penunjang : 6. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding : : : : 5.1. Prognosis : : : C 07 TUMOR PAROTIS Benjolan di regio parotis pre/infra/postaurikuler Adenoma parotis Karsinoma parotis Metastase kelenjar getah bening parotis Metastase karsinoma nasofaring Untuk keperluan staging karsinoma parotis : Bila tumor fixed : X-foto mandibula. Penyulit : : 11. Tenaga standar : : 13. Informed Consent 12. Perawatan RS 8. Masa pemulihan 15. CT-scan bila ada fasilitas X-foto toraks USG hepar Bone survey bila ada indikasi Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan Rawat inap Tumor operable : paratidektomi superticial periksa → potong beku Jinak : parotidektomi superficial Ganas : parotidektomi total Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Lesi N. Terapi : : : 9.baik Tumor ganas . Konsultasi 7. 4. Hasil : : : 16. makin dini makin besar kemungkinan hidup 5 tahun Perlu Tidak perlu Tumor jinak . Patologi 17.stadium dini : baik stadium lanjut : jelek 42 . Lama perawatan 14. 2.VII Fistel liur Sindroma Frey Hematoma Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Bila tumor fixed atau ada metastase kelenjar getah bening leher Dokter spesialis bedah onkologi ± 4-5 hari 2 minggu Tumor terangkat radikal Tumor ganas : daya tahan hidup 5 tahun tergantung stadiumnya. Tempat pelayanan 10.

Lingualis 11. Prognosis : Baik 1. gigi yang bersangkutan biasanya tak teratur 4.5 : AMELOBLASTOMA : Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang) tak nyeri. konsistensi keras. Penyulit : Perdarahan. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. tumbuh pelan (bertahun-tahun). Hasil : Tumor terangkat radikal 16. lesi n. fistel orokutan.hipoglosus & n. Informed Consent : Perlu 12. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.: D 16. Pemeriksaan penunjang : Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik Maksila : X-foto Waters + Hap Adanya gambaran kista multiple / single 6. kadang ada fenomena bola pingpong. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Otopsi : Tidak perlu 18. ICD 2. Diagnosis banding : Ossifying fibroma Kista odontogenik Giant cell tumor 5. Terapi : Reseksi mengikutsertakan tulang sehat 1-2 cm dari batas lesi + rekonstruksi 9. Patologi : Perlu 17. Kriteria diagnosis 43 . Lama perawatan : ± 12-14 hari 14. Diagnosis 3. Perawatan RS : Rawat inap 8. hematom.

Penyulit : Lesi struktur vital (pemb. Lama perawatan : ± 5-7 hari 14. bisa meluas ke wajah. ketiak atau mediastinum. saraf. konsistensi kistik. dinding tipis. Patologi : Perlu 17. rongga mulut. Hasil : Benjolan terangkat sebersih mungkin 16. Diagnosis 3. Diagnosis banding : Lipoma. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. fimfangioma simpleks. sebagian berbatas jelas. Kriteria diagnosis 44 .1 : HIGROMA KOLI : Benjolan di leher sejak lahhir / bayi. ICD 2. tak nyeri tekan. kecuali bila sangat ekstensif 1. kista brankhiogenik 5. Perawatan RS : Rawat inap 8. Darah. Informed Consent : Perlu 12. saluran nafas dan phagus) hematoma. Prognosis : Baik. transiluminasi (+) 4.: D 18. infeksi. Terapi : ekstirpasi 9. hemangioma. Pemeriksaan penunjang : 6. membesar sesuai pertumbuhan anak. Otopsi : Tidak perlu 18. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. edema laring 11. sering berlobi. Tanaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak 13.

6 : RANULA : Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara lenjar liur sublingual 4. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Perawatan RS : Rawat inap untuk operasi 8. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Hasil : Muara kelenjar liur terbuka.: K 11. ICD 2. Penyulit : Perdarahan Infeksi 11. Patologi : Tidak perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. kiste terdrainase 16. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 45 . Terapi : Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste 9. Pemeriksaan penunjang : 6. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Diagnosis banding : 5. Prognosis : Baik 1. Informed Consent : Perlu 12.

3 TUMOR JINAK RONGGA MULUT Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma. 3. 5. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Otopsi 18. Prognosis D 10. Masa pemulihan 15. Lama perawatan 14. 8. Tanaga standar 13. Informed Consent 12. epulis Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 46 . papiloma. 4. Hasil 16. 6. 7. Penyulit 11. 2. Patologi 17.1. 9.

3. Masa pemulihan 15. Prognosis TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA & LEHER Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau dileher Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu dilakukan Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Kalau lokal anestesi bisa poliklinis Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 47 . 2. 9. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Otopsi 18.1. Lama perawatan 14. 7. Tenaga standar 13. 4. Penyulit 11. 8. 5. Patologi 17. Informed Consent 12. 6. Hasil 16.

Penyulit : Hematom Infeksi Fistel 11. Hasil : Tumor terangkat 16. Diagnosis banding : Higroma Tiroid aberan 5. ICD 2. Pemeriksaan penunjang : 6. Informed Consent : Perlu 12.: Q 18. Terapi : Eksisi 9.0 : KISTA BRANCHIOGENIK : Benjolan kistik didepan 1/3 atas m sternokleido mastrideus dileher akibat kelainan kongenital 4. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Otopsi : Tidak perlu 18. Konsultasi : Dokter spesialis terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Kriteria diagnosis 48 . Diagnosis 3. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Prognosis : Baik 1. Patologi : Perlu 17.

malnutrisi. nasograstrik feeding 7 hari. Diagnosis 3. gigi runcing. USG hepar dan bone survey bila ada indikasi 6. Hasil : Sembuh total untuk stadium I 16. Diagnosis banding : Ulkus kronis benigna. bila tumor sangat dekat dengan tulang : X-foto mandibula AP + Eisler / panoramic serta X-foto maksila Waters + Hap Mengetahui metastase jauh : X-foto toraks. Lama perawatan : ± 10 hari 14. flap. Kriteria diagnosis 49 . Prognosis : Stadium dini. Terapi : Eksisi luas sampai 1 . biopsi eksisional 9dengan batas 1 cm keliling tumor) pada lokasi tertentu Tumor > 1 cm. Informed Consent : Perlu 12. hygiene mulut jelek. ICD 2. dehisensi luka. Pemeriksaan penunjang : Biopsi Tumor < = 1 cm.Penyulit : Infeksi. seroma 11. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. peminum alkohol. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. k/p rekonstruksi 9. jelek 1.1. 4. cenderung tumbuh cepat. Perawatan RS : Rawat inap 8. eritroplakia. fistula orokutan. Patologi : Perlu 17. biopsi insisional Untuk keperluan staging : Untuk mengetahui infiltrasi.: C 00 – C 06 : KANKER RONGGA MULUT : Lesi di rongga mulut berbentuk bungan kol/ulserasi/peninggian yang tak hilang setelah 4 minggu. chyloma. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. nekrosis. nginang.5 cm diluar jaringan patologis. Granuloma 5. baik Stadium lanjut. biopsi positif. bisa disertai rasa tebal atau nyeri. lesi prakanker berupa leukoplakia. Bisa disertai metastase pada kelenjar getah bening leher. Kemungkinan ada faktor predisposisi seperti merokok. Otopsi : Tidak perlu 18.

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnostik 4. Diagnosis banding 5. Pemeriksan penunjang 6. 7. 8. 9. Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan

10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. Otopsi 18. Prognosis

: K 09.0 : KISTA ODONTOGENIK : Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, adanya ganggren radiks atau gigi yang tidak sembuh : Kista radikuler : X-foto mandibula AP / Eisler, atau panoramik X-foto maksila Waters / Hap : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi) : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai : Infeksi Hematoma : Perlu : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah gigi & mulut : ± 5 hari : ± 2 minggu : Kista terangkat bersih : Perlu : Tidak perlu : Baik

50

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: Q 89.2 : KISTA DUKTUS TIROGLOSUS : Benjolan di leher daerah midline setinggi kartilago hioid, batas jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita menelan dan menjulurkan lidah 4. Diagnosis banding : Struma pada istmus Limfadenopati Kista dermoid 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Operasi prosedur Sistrunk 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Fistel Residif 11. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ±3 hari 14. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Hasil : Benjolan terangkat bersih bersama salurannya 16. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik

Kepustakaan : 1. Sukardja IDG, Purnomo B, Tahalele P, Marnadi M, Murtejo U, (EDS) : STANDAR PELAYANAN PROFESI DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA. Edisi I. Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, 2002, Hal. 42-106. 2. Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW, (EDS) : SURGERY, Basic Science and Clinical Evidence. Springer-Berlag New York Inc. 2001, pp 1565-1881. 3. Feig BW, Berger DH, Fuhrman GM, (EDS) : THE M.D. ANDERSON SURGICAL ONCOLOGY HANDBOOK. Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Houston Texas, 2003. 4. Devita PT, Hellman S, Rosenberg SA, (EDS) : CANCER, Principles & Practice of Oncology. 6 Ed. Lippincott – William & Wilkins, 2001. 5. Ramli M, dkk. PROTOKOL PERABOI. BANDUNG 2003

51

KELAINAN BAWAAN (CONGENITAL ANOMALY) KELAINAN BAWAAN WAJAH NAMA PENYAKIT/DIAGNOSE SUMBING/SKISIS, FACIAL CLEFT, ANOMALI KRANIOFACIAL, ANOMALI DENTOFACIAL ICD Q 35, Q 36, Q37, Q75, K07 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan lahir berupa : 1. Celah pada bibir atas 2. Celah pada bibir dan gnatum atas 3. Celah pada bibir, gnatum dan langitan 4. Celah pada langitan saja. 5. Celah pada muka/wajah ( facial cleft), dibagi menurut klasifikasi Tessier 6. Disproporsi kranio-facial atau dento-facial dengan atau tanpa kraniosinostosis Klasifikasi: 1. Syndromic anomaly 2. Non-syndromic anomaly Diagnose banding Tidak ada Pemeriksaan penunjang Foto kepala AP & lateral, CT scan (3 dimensi) untuk sumbing muka Konsultasi Bila perlu : 1. Dokter Gigi : untuk kebersihan mulut dan pembuatan obturator 2. Dokter THT : - bila ada radang telinga tengah, - bila ada defisit pendengaran 3. Speech Therapist : untuk belajar bicara 4. Psikoloog Anak : - untuk pemeriksaan IQ, - untuk defisit kepribadian 5. Orthodontist : untuk perbaikan pertumbuhan gigi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk keperluan operasi berencana. Terapi Bedah Penutupan bibir/labioplasti pada usia 3 bulan keatas. Penutupan langitan/palatoplasti pada usia 15-24 bulan Perbaikan parut bibir operasi pertama pada usia 4-5 tahun Penyempitan faring/faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun keatas. Penambahan tulang(bone grafting) rahang pada usia 8 tahun keatas Perbaikan bentuk muka/maxillary advancement, kalau perlu, pada usia 15 tahun keatas. Bedah kraniofasial atau distraksi osteogenesis untuk anomali kraniofasial dan dentofacial

52

Nonbedah Speech therapy oleh Speech Therapist pada usia 4 tahun ke atas Perbaikan gigi oleh Ortodontist pada usia 9 tahun setelah penambahan tulang. Standar RS Tipe C untuk penutupan bibir/labioplasti, penutupan langitan/palatoplasti Tipe B dan A untuk: - Perbaikan parut bibir - penyempitan faring/faringoplasti - penambahan tulang (bone grafting) rahang - perbaikan bentuk muka/maxillary advancement - bedah kraniofasial Penyulit Untuk labiognatopalatoskisis dan palatoskisis : Karena penyakit : OMP Pendengaran kurang Maloklusi gigi Suara sengau, kata-kata tidak jelas Karena operasi : Parut tidak baik Fistula oronasal Untuk bedah kraniofasial: Gangguan penghiduan karena cedera lamina cribriformis Relaps pada distraksi osteogenesis Informed consent Diperlukan untuk tindakan operasi, operasi dilakukan bertahap, ketepatan waktu operasi sangat mempengaruhi hasil akhir penanganan Masa pemulihan Lama perawatan 2-3 hari : labioplasti (tidak selalu diperlukan rawat inap) 2-5 hari : palatoplasti 5 hari : faringoplasti 5 hari : bone grafting rahang 7 hari : maxillary advancement 10 hari : bedah kraniofasial Tenaga yang berkompeten Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua tindakan operatif. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk sumbing bibir atau unilateral komplit bila tidak ada tenaga Bedah Plastik. Speech therapist untuk terapi bicara Ortodontist untuk perbaikan gigi.

53

WB Saunders Company. Aston (Edit).Toronto. 5. hasil operasi memuaskan. St Louis. Hughlett L. McCarthy. . Joseph G. . suara sengau. Januz Bardach. 1990. Atas of Craniomaxillofacial Surgery. Multidisciplinary Management of Cleft Lip and Palate . Perbaikan proporsi estetik kepala. Profit WR. London. Philaadelphia. Toronto.Hasil Normal Bentuk bibir dan hidung simetris. 3.D. gigi geligi tumbuh bagus. bentuk muka normal. suara normal. . M. Whitaker LA. 54 . Sherrell J. 1991. White RP. Sydney. 1990 4.D. Philadelphia. 1982. W. PA Tak perlu Autopsi/risalah rapat Tak perlu.B. Salyer KE. Munro IR. London Toronto. Grabb and Smith's Plastic Surgery.Saunders Company. Mosby Company. Morris. M. Montreal. bentuk muka bagian tengah lebih ke dalam. Little. Tokyo.. Montreal. 1980.Surgical Correction of Dentofacial Deformities. gigi tak beraturan. Smith.D. London. Brwon and Company. Plastic Surgery (8 vol) . oklusi baik Kurang normal Parut kasar. Tokyo.Saunders Company Hacourt Brace Jovaanovich Inc. Pasien kontrol teratur Kepustakaan : 1. Toronto. Ph. Fourth Edition. Bell WH. Jackson IT. Boston/Toronto/London 2. Sydney.. Prognosis Baik Tindak lanjut Penderita keluar dengan keadaan klinis baik. Philadelphia. London. parut operasi halus. James W. W. asimetri bibir dan lubang hidung.wajah.B.

Standar RS Tipe B ke atas. kematian flap. Perawatan RS Rawat jalan kecuali operasi. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 4-7 hari untuk tahap I 7 hari untuk tahap II Bergantung pada tindakan untuk tahap III Masa pemulihan Berkisar antara 2-3 rninggu untuk tahap I 2 minggu untuk tahap II 55 . 3.0.1. Menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada operasi sebelumnya. Q17 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan pada daun telinga berupa telinga kurang terbentuk/kecil Diagnosis banding . Operasi pemasangan tissue expander. dilanjutkan operasi berikutnya penanaman rangka tulang rawan.Ro foto untuk melihat pembentukan organ telinga tengah bila perlu.Microtia ICD Q16. Terapi Rekonstruksi telinga dapat berupa: 1. Pananaman rangka tulang rawan. Konsultasi Spesialis THT bila ada defisit pendengaran. Q16. Operasi satu tahap (sandwich technique) 4. 2. Tiga-empat bulan setelah operasi I dibentuk telinga dengan pengangkatan tulang rawan yang sudah ditanam pada operasi I. Penyulit Infeksi.tak ada Pemeriksaau penunjang .

Montreal. McCarthy.. Aston (Edit).S. F. Tokyo. 2. James W. PA . Plastic Surgery (8 vol) .C.D. Edinburgh london and New York. Smith.B.(Eng. Boston/Toronto/London.A. 56 . Ian A.R.Saunders Company. Kepustakaan : 1.).C. Philaadelphia. (Glasg.. M. Brwon and Company.B.). Boston/Toronto/London. 1991.S.tak diperlukan Autopsi/ risalah rapat .tak diperlukan. .S. London Toronto. Joseph G. Emergency Plastic Surgery . 3. M. Hon. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.Luaran Sembuh dengan telinga bentuknya mendekati normal. Brown and Company.R. 1980. Little. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Richard J. Fourth Edition. Sherrell J. F. F. Little. Greco (Edit) . Churchill Livingstone. McGregor M. 4.C. Ch. 1991. Sydney. 1990.. W.

tergantung metoda operasinya. Kriteria diagnosis Cacat bawaan berupa muara urethra terletak lebih proksimal dari biasanya. Pemeriksaan fisik Meatus urethra eksterna terletak lebih proksimal dari letak normal : bisa dibatang penis. daerah skrotum. Standar RS Tipe B keatas Penyulit Fistula urethra Divertikel urethra Stenosis meatus Informed consent Perlu untuk opcrasi Standar tenaga I)okter Spesialis Bedah Plastik Dokter spesialis Bedah Urologi Dokter Spesialis Bedah Anak Lama Perawatan Masing-masing tahap memerlukan perawatan 7 hari. rekonstruksi urethra. Penis bengkok kearah ventral karena ada korde. daerah perineum.KELAINAN BAWAAN GENETALIA Nama Penyakit/Diagnosis Hipospadi ICD Q54 Difinisi Kelainan bawaan berupa meatus uretra eksterna terdapat di bagian ventral dan letaknya lebih proksimal dari letak yang normal. ada atau tidak ada korde. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk tindakan operasi Terapi Tahap I eksisi korde Tahap II berjarak paling sedikit 6 bulan setelah tahap I. bilq perlu. Pemeriksaan penunjang Kromosum seks bila ada kesulitan identifikasi jenis kelamin. Konsultasi Bagian Kesehatan Anak untuk pemeriksaan kromosum seks. Masa pemulihan Batu urethra Striktura urethra Sisa korde Untuk masing-masing tahap selama 2 minggu 57 .

B.S. M.. Fourth Edition. Sherrell J. PA tak perlu Autopsi/risalah rapat tak perlu Kepustakaan : 1. Greco (Edit) . F.C. Little. Ian A. 1980.R.(Eng. Sydney.Luaran Sembuh dengan penis lurus dengan meatus uretra eksterna letaknya di ujung penis.).R. 1991. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Ch.S. W. Philaadelphia. 1991. 3.. London Toronto. Joseph G. M. Aston (Edit). F. Brown and Company. Tokyo.S. . McCarthy. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. F. Smith. Churchill Livingstone. Brwon and Company. Boston/Toronto/London 58 .A. Plastic Surgery (8 vol) . Montreal.D. Emergency Plastic Surgery . 4. Richard J. (Glasg. Little.C. Edinburgh london and New York. 1990..C. Hon. Boston/Toronto/London 2. James W.).B. McGregor M.Saunders Company.

Teraba diskontinuitas tulang Diagnose banding .Adanya deformitas wajah. Fraktur hidung 5. Fraktur mandibula 2.Untuk tiga jenis yang pertama bisa ditemukan maloklusi . Fraktur zigoma 4. Water`s photo/Reverse Water`s. hematome atau edema pada tempat benturan . sprain & strain ligament dan sendi) Patah tulang muka. dibagi menjadi beberapa jenis fraktur : 1. Dokter Spesialis Saraf (untuk cedera kepala). atap orbita 9. asimetri . Dislokasi sendi TMJ. fraktur Processus alveolaris 7. Fraktur maksila 3. Prosedur lengkap Kriteria diagnosis Anamnesis Terdapat riwayat trauma pada tulang muka. septum nasi.Gangguan membuka dan menutup rahang bawah .Perdarahan lewat lubang hidung dan mulut.TRAUMA Trauma Kranio-maksilo-facial (Fraktur tulang wajah) ICD SO2 (Fracture of skull and facial bone) ICD SO3 ( Dislokasi. diplopia.Deviasi hidung atau septum nasi . salah satu hidung terasa tersumbat. foto TM joint) Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Saraf. Fraktur regio sendi temporomandibula 8. 59 . distopia . Fraktur sinus frontalis /nasofrontal 6. Perawatan RS Rawat inap: Bila memberikan gangguan saluran napas. Fraktur dasar orbita. Persiapan operasi. Foto panoramic.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen jenis dan proyeksi bergantung pada keperluan (Foto tulang muka AP & lateral. Dokter Spesialis Mata bila dengan cedera bola mata.Gangguan pergerakan bola mata. Pemeriksaan .

Pertimbangan estetik dan fungsional harus diberikan dan dijelaskan sebaik-baiknya kepada pasien. Untuk fraktur lainnya 2 rninggu. London Toronto. Sembuh dengan deformitas/cacat fungsi. Brwon and Company. M. Fourth Edition. Joseph G.Terapi Konservatif Bila tidak memberikan gangguan fungsi maupun bentuk dan fraktur dianggap cukup stabil. Plastic Surgery (8 vol) . Montreal. Standar RS Tipe A.D. Informed consent Diperlukan tertulis Standar tenaga Personil unit gawat darurat pada pertolongan pertama Dokter Spesialis Bedah Umum untuk fraktur mandibula simple dengan luka terbuka menggunakan fiksasi non rigid Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 2 sampai 20 hari. 1990. Infeksi 3. Kematian bila ada cedera kepala berat. Aston (Edit). Gangguan bentuk atau fungsi 2. James W. Kepustakaan : 1. W. 60 . Operatif Dilakukan apabila keadaan intrakranial sudah stabil. Philaadelphia. 1991. C Penyulit 1. bervariasi bergantung pada jenis berat fraktur Masa pemulihan Untuk 3 fraktur pertama 8 minggu atau lebih. Sydney.Saunders Company. Luaran Sembuh. Little. Sherrell J. Grabb and Smith's Plastic Surgery. dan trauma berat lainnya sudah diatasi. Smith. Boston/Toronto/London 2. Tokyo. McCarthy. B. normal. PA Tidak ada Autopsi/ risalah rapat Tidak ada.B. .

Craig A. Toronto.S.Saunders Company.S. Keith. Milan. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 1989. New york. 1980. 1992. 1990. Hon. F.C. M.C. Bernd Spiessl .D. Masson publishing USA. David & D.D. . deB. M. D. Whitaker. Ian A.. Robert C. 1982. Jacques Rougier. F. Kaban. The C.C. Inc.C.B. F. David A. Sydney.. Tokyo. Francois Hervouet.A. London.(Edit) . Atlas of Oral and Maxillofacial Surgery . New York and Tokyo. M. Wolfe Medical Publications Ltd.S.C. Barcelona. D.. 1987.. 1981 9.C. A Textbook and Colour Atlas of The Temporomandibular Joint .A. Greco (Edit) . M.D. Tokyo. Leonard B.3. Hong Kong. Della Rocca. Philadelphis.S. Ian T... M. London. M. Churchill Livingstone. Foster. 13.D.R.D. Ch. New York. Sydney. MD. Bradley N. Rio de Janeiro. Madrid..C. W. W.. Churchill Livingstone. F.C. Salyer. F. Marcel Woillez. 1990..S. F.D.D. London. John E.R.A. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery . 12. D.. London. Paul Tessier. Munro. 1995 10.. Plastic Surgery of the Orbit and Eyelids . Tokyo.. Toronto. Melbourne.. F. Mexico City. Linton A. 6.. London.S. Edinbergh. Montreal. Edinburgh london and New York 4.(Eng.S..R. M. John E.V.R. Patrick Derome .FACS. London.B. FACS. 1990 61 . Melbourne. Toronto. F. Springer-Verlag Berlin. Montreal. Michel Lekieffre.Saunders Company.. 7. Mosby Company. M. Philadelphia. Brown and Company. Paris..D. Paris. 8. Kenneth E. D. Prentice-Hall International Inc.A. Boston/Toronto/London 5.S.. Little.).S. 11. Lemke.D. Paul Bramley (Edit) . A Manual of AO/ASIF Principles . Edinburgh. ..J.S.M. . Emergency Plastic Surgery .B. St.A.S. (Glasg. Internal Fixation of the Mandible. Heidelberg. Jackson.S.. Louis. Norman.. Ian R.B.). 1991. London. Richard J.C.©. McGregor M.R. Churchill Livingstone. Sherman.D. F. Surgery of the Eyelids & Orbit an Anatomical Approach .D. Craniomaxillofacial Trauma . New York. Atlas of Craniomaxillofacial Surgery . B. M.. Simpson . .M. Surgery of Facial Bone Fractures .B.

S61) Avulsi kulit Kritcria diagnosis terlepasnya kulit dari dasar/kulit sekitarnya.Tipe A atau B.S57.Cedera kulit dan jaringan lunak Cedera superfisial dan luka terbuka daerah kepala dan wajah (ICD SO0. Penjahitan situasi tanpa tegangan sisa kulit yang masih vital. S60.bisa tanpa luka (closed avulsion /degloving ).tak diperlukan 62 .S50. Skin graft (tandur kulit) pada luka terbuka yang tersisa.bisa dengan luka (open avulsion /degloving) Diagnosis banding .tak ada Pemeriksaan penunjang .S51. sebagian besar atau total. Luaran PA Sembuh baik Sembuh dengan cacat. S41. .tak ada Perawatan RS .delayed STSG Drain untuk closed avulsion /degloving Kematian sebagian atau seluruh kulit yang terangkat Infeksi Parut yang jelek. Terapi Penyulit Penilaian vitalitas kulit yang terlepas dan pembuangan kulit yang ternyata mati. SO1. Informed consent Diperlukan tertulis Lama perawatan 2 rninggu atau lebih Lama pemulihan 4 rninggu sampai 1-2 tahun tergantung faktor-faktor yang menyertainya.SO9) Crush injury kepala dan muka (SO7) Cedera kulit dan jaringan lunak ekstremitas (S40. Hanya pencucian luka tidak dijahit.tak ada Konsultasi .

1991. (Glasg.R.C. M. Toronto.V.. Philaadelphia.D. Montreal. Edinburgh london and New York. McGregor M.(Eng. Boston/Toronto/London Stephen J. Richard J. Boston/Toronto/London. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Plastic Surgery (8 vol) . Little. Greco (Edit) . The C. Joseph G.. F. F.tak diperlukan Kepustakaan : o James W.C. louis.B.). M. St. . McCarthy. Hon. Emergency Plastic Surgery . London Toronto. Ch. Foad Nahai . Mosby Company. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Smith.B. 1991. Clinical Atlas Of Muscle And Musculocutaneous Flaps . London.Autopsi/risalah rapat .S. Aston (Edit).R. Sydney. Ian A. 1979 o o o o 63 .C. Sherrell J. 1990. Little.. 1980. Tokyo.S. Brwon and Company. F. Mathes. Churchill Livingstone.A.Saunders Company. Brown and Company.S.). Fourth Edition. W.

Bedah mikro dan bedah tangan Diagnosis Amputasi Organ (Avulsi kulit kepala.amputasi partial. Pemeriksaan penunjang .Radiologis Konsultasi .2 ICD S48.Laboratorium . Terapi Amputasi dirawat sebagal berikut: Masukkan kedalarn kantong plastik bersih (tanpa cairan) Kantong tersebut ditutup rapat lalu dirnasukkan ke kantong kedua berisi air biasa (2/3 bagian) + potongan es (1/3 bagian). S58 ICD S67. Sebaiknya tindakan ini dilakukan segera di tempat kejadian. Telinga. 64 . penis.tak diperlukan Perawatan RS Rawat inap segera untuk persiapan operasi. Operasi replantasi dengan rnikroskop + instrurnen Bedah mikro. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik. Standar RS: Tipe A Penyulit Perdarahan Trombus Infeksi Kegagalan replantasi akibat thrombus. hidung. Diagnosis banding . S68 Kriteria diagnosis Terpisahnya sama sekali bagian atau ekstremitas dari tubuh tersebut Clean cut (amputasi secara tajam) atau bukan. Vulva) dan ekstremitas ICD S08 ICD S38.

Richard J.C. PA ..Toronto. Fourth Edition. Hon. McGregor M. 1991.A. 2. Luaran Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik. Edinburgh london and New York. Sydney. Brwon and Company.S.B.B.C. Atlas of Hand Surgery volume 2 1984 W.(Eng.Chase . James W.Tokyo.). Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Philaadelphia.). Little. 1990.C. Plastic Surgery (8 vol) . Emergency Plastic Surgery . Churchill Livingstone.S.tak diperlukan Kepustakaan : 1. F. Greco (Edit) .S.. 1991.R. Montreal. Robert A. Little. Tokyo. London Toronto.B.Lama perawatan 10 hari sampai 1 bulan Masa pemulihan 6 minggu sampai setahun. Grabb and Smith's Plastic Surgery. (Glasg.tak diperlukan Autopsi/risalab rapat . Boston/Toronto/London 5. Sembuh kurang sempurna Gagal. Smith. F. .. W. Ian A. Boston/Toronto/London. 1980. 3. Aston (Edit). Sherrell J. Joseph G. 4. Ch.Mexico City.Philaxdelphia.D. Brown and Company.Saunders Company. M.London.R.Saunders Company. 65 . F. McCarthy. M.

panas. Luka bakar disertai trauma berat lain: inhalasi dan sebagainya.tak ada Pemeriksaan penunjang tak ada Konsultasi Disiplin ilmu lain sesuai dengan penyakit yang menyertai atau komplikasi yang timbul. kimia. listrik. Pemeriksaan 1. Luka bakar listrik. bila dalam kerusakan pada seluruh dermis III: kerusakan lebih dalarn dari dermis (sudah mengenai subkutis) Dalam penilaian derajat I tidak diperhitungkan. Hari berikutnya pemberian cairan hipertonik.perineal/genital Disertai trauma penyerta lain atau penyakit sistemik berat lain.tangan .kaki. Lokasi luka bakar. T26-T35 Kriteria diagnosis Anamnesis Ada riwayat trauma bakar karena api. Komplikasi penyerta seperti syok hipovolemik. 4. Luka bakar daerah wajah. cedera inhalasi dan cedera penyerta 6. Terapi Didahulukan penanggulangan terhadap gangguan jalan nafas dan sirkulasi Perawatan Intensif Luka Bakar Perkiraan jumlah dan pemberian cairan dengan menggunakan rumus Baxter: Hari I diperkirakan memerlukan: berat badan dalam kg x % luas luka bakar x 4 cc ringer laktat. Escharotomy untuk daerah dada dan extrimitas pada eskar yang konstriktif 66 . Perawatan RS Rawat inap untuk : Luka bakar derajat II / III lebih dan 10 % pada anak-anak.Combustio /Burn Injury/ Luka Bakar ICD T20-T25.retardasi mental Penderita tidak mampu merawat dirinya sendiri. Derajat kedalaman: I: hanya eritem II: bila superficial kerusakan sampai sebagian dermis. radiasi. Penyakit premorbid Diagnosis banding . untuk kemudahan menggunakan rumus 9. 3. Derajat III > 2%. Luas luka bakar dalam %. 5. 15% pada dewasa.

9. Derajat II. Dirawat sampai luka lebih kecil dari indikasi perawatan. saluran napas. Paramedis yang berkecimpung pada perawatan luka bakar Lama perawatan Sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan luas luka. Infeksi pada kulit. Toksoid 1 cc untuk tiap 2 mg. Diet kalori dan protein tinggi. Parut hipertrofi dan kontraktur. 7. superfisial obat topikal untuk luka 2. ATS diberikan pada semua yang belum pemah mendapat toksoid. Fisioterapi 8. Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Eksisi tangential dini dan skin grafting setelah pasien stabil. Masa pemulihan Sangat bervariasi. selanjutnya berdasarkan hasil kultur 4. Dokter Spesialis Bedah yang berkecimpung pada luka bakar ( Burn Surgeon) Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua luka bakar. tidak dapat menggerakkan sendi-sendi. Ulkus stres. 3 x berturut-turut. saluran kemih. mungkin 2 tahun atau lebih bergantung pada parut yang terjadi. 3. 6. dengan cedera inhalasi. Antibiotika (bila luka kotor) ada infeksi sistemik. Kelebihan atau kekurangan cairan maupun elektrolit. obat topikal yang dapat menembus skar (silversulfadiazin) 3. Informed Consent: Diperlukan Standar tenaga Dokter Umum untuk luka bakar rigan. untuk jangka panjang Deformitas penampakan yang hebat. Perawatan seluruh pasien di Burn Unit bila fasilitasnya sudah tersedia Penyulit 1. Dokter Spesialis Anestesi. Sukrafat untuk protekor mukosa lambung. 5. 67 . 6. 4. 5.nutrisi enteral dini 7. 2. Kematian.Terapi pada luka: 1. Standar RS Tipe B dan A untuk yang berat. Gangguan saluran napas Gangguan sirkulasi bila berlanjut dapat rnenyebabkan kegagalan organ multipel. Bila penyebab adalah bahan kimia. Luaran Sembuh dengan kecacatan warna kulit saja sampai kecacatan berat. Derajat II dalam Derajat III. perlu dibilas secara tuntas dengan air segera pada jam-jam permulaan.

BURN A Team Approach . Wellington. Mphil. London. John A..C. Greco (Edit) . Richard J.. Burn and Their Treatment . Toronto. Settle.C.R.. M. M. OBE. Tokyo.. MB.Artz MD. MS. Little. McCarthy. FRCS(Ed) and John A. ChM..PA tak diperlukan Autopsi/risalah rapat mungkin diperlukan bila terjadi kematian. Singapore. McGregor M. 1991. Barclay.Moncrief. Ch.. 6. Sydney. MD. FACS. Durban. FRCS. F. 68 .L. James W. Aston (Edit). Grabb and Smith's Plastic Surgery. 5. MBE.Saunders Company. .C. Plastic Surgery (8 vol) .). Sydney. DA . Churchill Livingstone. Curtis P. Butterworths. Edinburgh london and New York. FACS.. W. Fourth Edition. Ian A. Smith. 1979. Joseph G.B.).B. Philaadelphia. LRCP.F.. FACS.. MRCS. Boston. I.. 1987. Philadelphia. 1980.(Eng. 1991. T.A.D. London Toronto.Saunders Company. Hon. M.B. Boston/Toronto/London 4. FRCS. Basil A. Kepustakaan : 1.R. Montreal.JR. Little. F. (Glasg.S. Muir. 2. Emergency Plastic Surgery . Brown and Company. FRCS(Ed). Third Edition . Boston/Toronto/London. F. Brwon and Company. VRD.S. Sherrell J. W. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 1990 3. Toronto.D.D.S.K.Pruitt. London. MB.

Kriteria diagnosis Semua keluhan yang menyangkut masalah penampilan. Sernua keluhan yang pada dasarnya ingin mengubah penampilan kearah yang lebih baik/ harmonis. Perawatan RS Pasca operasi. misalnya : Rhinoplasti Blepharoplasti Mentoplasti Mammoplasti Lipodistrofi. Estetika lain yang tidak bisa dipisahkan dari bedah plastik rekonstruksi. Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Penyulit Seperti halnya pembedahan umumnya dan hal khusus misal parut berlebih Masa pernulihan: bervariasi 69 . Diagnosis banding . Y98 Semua masalah mengenai estetika yang bisa ditolong dengan pembedahan termasuk diantaranya : Estetika untuk cacat bawaan Estetika untuk cacat yang didapat Estetika untuk proses ketuaan Estetika untuk masalah psikososial . Z44. dll.tidak ada Pemeriksaan penunjang bila diperlukan: Laboratorium Radiologi dan lain-lain KonsuItasi Dokter Spesialis yang dianggap perlu.BEDAH PLASTIK ESTETIK/KOSMETIK ICD Z41. Z42. tidak selalu perlu rawat inap. Terapi Operatif Mengubah penampilan pasien dengan menambah-mengurangi-menggeser jaringan yang diperlukan.

Aesthetic Facial Surgery .D. Kepustakaan : 1. Georg Thieme Verlag. New York. London. Wintroub : Atlas of Cutaneous Surgery .. Carson M. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Fernando Ortiz-Monasterio.S.B. 70 . 6. U. 1992. Thaller. Sydney. Philaadelphia. 1996. 1992.. W.D.R.C. New York.D. Tokyo. 9. Luiz S. Boston/Toronto/London. Aston (Edit). M. BURN A Team Approach . Fourth Edition. 13. Adelaide. John Conley Carl Patow .. Brown and Company.JR. 1994. McGregor M. Luaran Penampilan pasien setelah operasi plastik tambah baik dan terdapat peningkatan kepercayaan dirinya. Philadelphia. Saunders Company. 1991. Thieme Medical Publishers. Cutaneous Facial Surgery .. Curtis P. 11. London.Saunders Company. Hon. Guide to Dental Problems for Physicians and Surgeons . Lipoplasty The Theory and Practice of Blunt Suction Lipectomy .. 5. Montgomery . London. M. London. 4.D. Montreal.R. Inc. 1990. Boston/Toronto/London. Edinburgh london and New York. Basil A. ainc. James W. Paris. Inc.C. Lewis. Toledo . Flaps in Head and Neck Surgery . Regan Thomas. Plastic Surgery 1992 . Rhinoplasty . Rafael de la Plaza . FACS.S. 1994. F.Saunders Company.Informed consent Perlu benar dijelaskan sebelum dilakukan operasi bahwa hasil yang dicapai adalah sejauh kemampuan-pengalaman dokter. Amsterdam-London-New YorkTokyo. Philadelphia.. W. An Introductory Guide . 1990.. 1993. 1988. Toronto. Tokyo. 7. Hong Kong.A. Little. Thieme Medical Publisher. Volume 1 : Lectures and Panels .). 8. M. Toronto. London.. Erdulfo Appiani. Le Boit.D. . 17. Inc. J.Artz MD. R. Ch. 1992. F.. 16. Berlin. New York. Inc. Montreal. 1980. London. 1991. Psillakis. 18. New York.. Boston/Toronto/London. Thieme Medical Publishers.J.B. Little. Sydney. FACS. Baltimore. Charles M.B. Plastic Surgery (8 vol) . Brown and Company. M. 1987. Hetter. Sherrell J. Excerpta Medica. 12. Ian A. Deep Face-Lifting Techniques . F..). Second Edition .C. Karen H. Montreal.S.S. 2. Jorge M. International Congress Series 935. . Springer-Verlag. Color Atlas of Aesthetic Surgery of The Abdomen : Thieme Medical Publishers. T.Moncrief.T. New York. Sydney. Churchill Livingstone. John Q Owsley. Barcelona. Surgery Of The Lip . 14. Superficial Liposculpture. 15. Sydney. Seth R. M. Australian Cranio-Maxillo-Facial Foundation. Marco Gasparotti. Toronto. Joseph G. Psillakis (Edit) . Robinson. 1979. . Hong Kong. 1994. David. Brwon and Company. Grabb and Smith's Plastic Surgery. London Toronto.. M. Tokyo.G. Sydney. Gregory P. Henriksson.C. Toronto. Thieme Medical Publishers. John A. Philadelphia. F. W. Tokyo. MD. D. W.D. New York. New York. Cooter . (Edit).Pruitt. W. 3.. Smith. FACS. Greco (Edit) . Manual of Technique . 1989. Little. Saunders Company. Hinderer (Edit) . Emergency Plastic Surgery . Heidelberg. William W. Montreal. Arndt. Tokyo.B.A. Budapest. Stiernberg . (Glasg. Stuttgart. Richard J. Jorge M. 10.B. McCarthy. Saunders Company. Philadelphia. Calhoun.. James Roller . 1991.(Eng. Williams & Wilkins. Cranio-Facial Deformities.B.

. Green. Skin Surgery .A. 1985. 20. St. 71 . Marwali Harahap. Louis. New York. Warren H. Missouri. Berlin. M. 1996.. (Edit) .D. Heidelberg.19.S. U. New Concepts in Maxillofacial Bone Surgery : Springer-Verlag. Bernd Spiessl (Edit) . Inc.

tak diperlukan 72 . Masa pemulihan 3 minggu atau lebih tergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya. Diagnosis banding . Standar RS TipeA . Informed consent Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedali Plastik Lama perawatan 7-10 hari.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi.GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA Kontraktur ICD N 940 S/D N 949 Kriteria diagnosis Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses kontraksi pada penyembuhan luka. Masih tersisa sedikit akibat kontraktur. Luaran Sembuh normal. tak ada gangguan gerakan.tak ada Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Release kontraktur dan graf/flap.B Penyulit Nekrosis flap/graft. Konsultasi . PA .

S. McCarthy. 73 . James W. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.D. Boston/Toronto/London. Brwon and Company. Smith.C.. M.). 1980. Aston (Edit). Little. Joseph G.A. Montreal. (Glasg. Little.C. Grabb and Smith's Plastic Surgery.B.S.. 1991. Sydney. Richard J. Brown and Company. F. Greco (Edit) . 4.S.R. 1991. Tokyo. Fourth Edition. Edinburgh london and New York. Ch.). Churchill Livingstone. F. 3. F.tak diperlukan. Plastic Surgery (8 vol) . 2. W.C.Autopsi/ risalah rapat . Philaadelphia. Ian A. Sherrell J.Saunders Company.(Eng. London Toronto.R. 1990.. Kepustakaan : 1. McGregor M. . Hon.B. Boston/Toronto/London. M. Emergency Plastic Surgery .

74 .5. Standar RS Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid. Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi. Penyulit Karena penyakit Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian. Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang. Dokter Umum untuk suntikan kortikosteroid. Dokter Spesialis Radioterapi untuk radiasi. L91 Kriteria diagnosis Keloid: parut yang menonjol menyebuk ke kuilt yang sehat jauh diluar trauma dengan tanda-tanda inflamasi (tambah besar gatal. Balut penekan Bedah Eksisi kalau perlu full thickness skin graft. sakit) berkepanjangan. Parut hipertrofik: bila parut yang menonjol tidak melebihi batas luka awal Diagnosis banding Fibrosarkoma Pemeriksaan penunj ang Tidak ada Konsultasi Dokter Spesialis Patalogi Anatomi bila perlu. dilanjutkan dengan Radiasi atau suntikan kostikosteroid pascaeksisi.Keloid dan parut hipertrofik ICD L90. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Farmakologis Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal. Karena operasi Residif Informed consent Diper1ukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik.

Boston/Toronto/London. Churchill Livingstone.D. M. McCarthy. 75 .. James W. 1990. Greco (Edit) . Philaadelphia. Tokyo. Hon. Montreal..C. Masa pemulihan Sangat bervariasi. London Toronto. Little.). Ian A.S.). F. F. 4. Kepustakaan : 1. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Sherrell J. Boston/Toronto/London.R. Brwon and Company.(Eng. Brown and Company.. M. 1991.B.Saunders Company. 1991. McGregor M. 3. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.Lama perawatan 1 hari – 2 minggu. F. W.R. Fourth Edition. (Glasg. Richard J. Emergency Plastic Surgery .B. Little.A. Edinburgh london and New York. 2. Plastic Surgery (8 vol) .S. 1980. Luaran Sembuh dengan estetika baik Residif Depigmentasi akibat radiasi PA .C. Smith.Bila ada keraguan dengan sarkoma Autopsi/risalah rapat Tidak diperlukan. Joseph G.S.C. Sydney. Ch. Aston (Edit). .

3. sedikit menimbul.2. tak sakit 2. ada sejak lahir atau timbul dekat-dekat kelahiran. bila perlu Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi Terapi Farmakologis Suntikan obat-obat sklerosing untuk 1. Hemangioma kapiler simpleks/jenis strawberry Hemangioma kapiler jenis "port wine stain" atau nevus flamus Hemangioma kavernosa Hemangioma campuran l dan 3 Kriteria diagnosis 1. dapat ditekan kempes. Benjolan pada kulit atau subkutis. kortikosteroid. Tattoage untuk 2. 3 dan 4. timbul setelah lahir. eksisi dan perban penekan. Laser untuk 1. 2. 2. 4.4. 3 dan 4. 3.TUMOR KULIT DAN JARINGAN LUNAK Hemangioma ICD D18 Dibagi menjadi: 1. tumbuh progresit. Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi. Tipe C untuk suntikan sklerosing. rata (bisa menimbul setelah dewasa). tidak sakit. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir. kebiruan. Campuran 1 dan 3 Diagnosis banding Fistula A-V Pemeriksaan penunjang kalau perlu arteriografi. Standar RS. Nonbedah Observasi atau ditambah perban penekan untuk 1. 3 dan 4. 4. Tipe A untuk embolisasi dan laser. stasioner. Cacat berupa bercak merah pada kulit. Bedah Eksisi. kalau perlu skin graft untuk 1. Kortikosteroid untuk 1. 76 . Embolisasi (kalau perlu) baru eksisi untuk 3 dan 4.

PA . e. warna kurang gelap. irregular. Informed consent Diperlukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Radiologi untuk embolisasi Dokter umum untuk perban penekan. Junctional naevi: sifatnya rata/tidak menimbul. distribusi mengikuti pola nervus V.1 bulan atau lebih Luaran Sembuh dengan estetika bagus. Masih tersisa. lebih banyak dijumpai pada anak dan remaja. Nevus Ota: lesi berwarna biru kehijauan. lokasi tersering daerah terpapar sinar matahari. di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. dapat tumbuh rambut. Compound naevi: tumbuh perlahan. warna campuran yang bervariasi. umumnya mengenai wanita 77 . perlahan menebal atau melebar.Penyulit Karena penyakit Perdarahan pada 1 . d. lebih gelap/mengkilat dari kedua jenis lainnya. lokasi tumor dari epidermis hingga dermis. Karena operasi Perdarahan Residif Kelainanjantung pada 3 dan 4. 3 dan 4. Dysplastic Naevi:lesi berpigmen. Lama perawatan 1 rninggu atan lebih Masa pemulihan 1 minggu . pigmen menyebar ke jaringan kulit sekitarnya. Estetik jelek.tak perlu Autopsi/risalah rapat - tak perlu. Intradermal naevi: berbentuk datar atau meninggi. Pigmented lesion/Melanocytic naevi ICD D22 a. lebih tebal. umumnya dengan multiple nevi. lokasi tumor pada perbatasan dermis dan epidermis c. tepi irregular. Cacat berat pada daerah yang terkena 3 dan 4. lokasi tumor pada dermis b.

berambut. tengkorak bahkan meningen Diagnosis banding: Melanoma Maligna Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: Bidang terkait (bila diperlukan) Terapi : eksisi bedah. dengan pungtat di atasnya. Boston 1991. mengenai daerah punggung atau muka. Spira M. Zarem HA. Congenital pigmented Naevi/Giant pigmented naevi: lesi berpigmen. Mihm MC. Little Brown. In: Smith Jw. In: Smith Jw. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 1998 78 . lunak. 4th ed. Boston 1991. rekonstruksi dengan skin graft atau tissue expansion Lipoma ICD D 17. sedikit mobile. Jackson T. 4th ed. Kista Atherome ICD D21. Kista Dermoid. luas > 4 inch. Stal S. lokasi pada daerah –daerah fusi embrional Kista atherome: lesi subkutis. Sober AJ. 4. Basal and Squamous Cell Carcinoma of the Skin. Little Brown. In: Smith Jw.0. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Boston 1991. berisi produk sebaseus Diagnosis banding: Konsultasi: Terapi: Eksisi. esi berupa nodul subkutis. mobile dan tak melekat ke kulit di atasnya. malar eminence. Benign Growth and Generalized Skin Disorder. Bents ML. Pediatric Plastic Surgery. Melanoma Maligna. D23 Kista Epidermoid. Kista Epidermoid. In: Smith Jw. Ekstirpasi Kepustakaan : 1. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. ekstensinya dapat sampai otot. Little Brown. Aston SJ. 4th ed. 4th ed. D17. Stamford. Intraoral tumor and Radical Neck Dissection for Oral Cancer. Little Brown. distribusi cenderung mengikuti dermatome. Aston SJ. mobile tetapi sedikit melekat ke kulit di atasnya.3 Tumor yang terdiri dari sel-sel lemak.1. Appleton & Lange.f. D17. Aston SJ. Connecticut. 2. Kibbi AG. Lowe NJ. D17. tidak nyeri kecuali bila mengalami peradangan. Boston 1991. 5.2. scalp. 3. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. lokasi subkutis. Kista Dermoid: lesi subkutis. umumnya mengenai muka. terfiksasi ke dasar. Aston SJ.

Phylloides tumor . N64 Diagnosis Ectopic breast tissue (Polythelia/accessory nipple. bisanya soliter. tidak nyeri.Virginal hypertrophy. Macromastia: pertumbuhan berlebih jaringan payudara akibat physiologi normal atau juga karena kurangnya kepekaan reseptor kelenjaar payudara terhadap hormon yang mengaturnya. Hipomastia: kurang bertumbuhnya jaringan payudara ditandai oleh payudara yang kecil Amastia. Polymastia/ectopic glandular tissue): jaringan payudara yang tumbuh di sepanjang mammary ridge umumnya di axilla dan lipatan inframammary.BREAST DISORDER Gangguan perkembangan kelenjar payudara ICD N62. Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: bidang terkait bila diperlukan Terapi: . dengan dilatasi vena di atasnya. Reduksi mammoplasty dan mastopexy untuk macromastia. N60 Diagnosis: Giant fibroadenoma mamma Kriteria diagnosis: lesi berdiameter > 5 – 10 cm. N63. muncul saat /segera setelah pubertas. bentuk tuberous Breast ptosis: jatuh dan tergantungnya posisi payudar yang berlebih sehingga nipple areola berada di bawah lipatan inframmamary. ditandai dengan pertumbuhan cepat dan tiba-tiba.Enukleasi . Augmentasi mammoplasty untuk untuk hipo/amastia Lesi jinak payudara ICD D24.athelia: tidak terbentuknya jaringan payudara. Inverted nipple: terbaliknya putting susu akibat tarikan duktus di bawahnya. tuberous deformity dan breast ptosis. Tuberous breast deformity: payudara kecil. Diagnosis banding: .Reduksi mammoplasti McKissock 79 . asimetris dengan nipple areola yang lebar. firm. unilateral. Diagnosis Banding: Pemeriksaan penunjang: Konsultasi: Standar tenaga: Bedah Plastik Terapi: Eksisi ektopik breast. dengan atau tanpa terbentuknya nipple.

Benign Tumor of Teenage Breast. McGrath MH. Boston 1991. Little Brown. Marks MW. WB Saunders. USA. Gynecomastia In: Smith Jw. Jan 2000 3.No1. 4th ed. Lewis PL. 2. McKinney P. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Aston SJ. Plastic & Reconstructive SurgeryVol 105. Marks C. Fundamentals of Plastic Surgery. 1997 80 .Kepustakaan : 1.

Sepsis Informed Consent : Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan: ± 3 ..C. London Toronto. Boston/Toronto/London.5 hari Masa pemulihan : ± 1-2 minggu Hasil : Infeksi (-) Setelah infeksi reda. Little. M.B. Ian A.S. Ch. Smith. 1991. F. Richard J. W. Aston (Edit). 1. Edinburgh london and New York. James W.Saunders Company. Greco (Edit) . segera Terapi : Insisi-drainase → kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas . 2.D.S. Tokyo.R. M. Plastic Surgery (8 vol) . Sherrell J. Brown and Company. Brwon and Company. Sydney. F. Philaadelphia. 81 . . Churchill Livingstone. F.. Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi sebelumnya Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap.2 Kriteria diagnosis : Pembengkakan submandibuler dengan rasa nyeri dan panas badan. Grabb and Smith's Plastic Surgery.C. McGregor M. Joseph G. McCarthy.(Eng.B. Boston/Toronto/London. Emergency Plastic Surgery . konsul dokter gigi bila sumber infeksinya dari gigi Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis: Baik Kepustakaan : 1. 2. 1991..). Little. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. rasa hangat dan nyeri tekan.A.INFEKSI Flegmon dasar mulut ICD : K 12. 1980.S.C. (Glasg. Montreal.). Hon. Fourth Edition.R. 1990. kulit diatasnya kemerahan.

Brwon and Company. 1991.S. (Glasg. Brown and Company. Plastic Surgery (8 vol) .Abses Maksilofasial ICD : L 02.C.. 1980. London Toronto. Sydney. Philaadelphia.S.S.R. F. W.0 Kriteria diagnosis : Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisis. Boston/Toronto/London.).Sepsis .Thrombosis sinus kavernosus Informed Consent: Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan : ± 3 – 5 hari Masa pemulihan : ± 10 – 14 hari Hasil: Abses (-).R. 2. nyeri tekan (+) Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap segera bila :Lokasi didasar mulut. infeksi reda Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis : Baik Kepustakaan : 1. Ian A. Boston/Toronto/London. Emergency Plastic Surgery .Saunders Company. diserta rasa nyeri dan kadang disertai panas badan. nasofrontal.(Eng. Montreal. McGregor M. Ch. fluktuasi (+). Joseph G. .. M. Little.B. McCarthy. Hon. F. periorbital. Greco (Edit) . Churchill Livingstone. M. 82 .C. Diameter > 6 cm Terapi : Insisi drainase – kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan: Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas .). 4. Edinburgh london and New York. Little. F. Richard J. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. 3.A. 1991. kulit diatasnya kemerahan.D.C. 1990.B.. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Tokyo. Fourth Edition.

MASA PEMULIHAN : 12 minggu 13. perdarahan. PENGOBATAN : A. pemendekan tulang panjang) Ada perlukaan di daerah fraktur yang berhubungan dengan fragment fractur 4.B. NOMOR ICD : S 82 2. 2nd Ed. emboli lemak) F. 2. deformitas.G. pergerakan normal. perdarahan. Terapi komplikasi pengobatan : . Kualifikasi operator : . Cara pengobatan : Debridement dan fiksasi sesuai dengan grade & displasement Fiksasi interna elektif untuk grade I Fiksasi internal immediate untuk grade II Fiksasi eksterna untuk grade III C. & Solomon. TEMPAT PELAYANAN RS Perjan Denpasar 10. DIAGNOSIS : PATAH TULANG TERBUKA 3. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. AP /Lat 6.PENYULIT : Infeksi .HASIL : Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal 14.INFORMED CONSENT : Perlu 12. kompartment syndrome. Williams & Wilkins Baltimore/London.TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. kompartment syndrome. R. gangguan fungsi. KONSULTASI : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Edition. A. L. 7th.OTOPSI : 16.1. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. DIAGNOSIS BANDING : 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Radiologi : Foto Ro. Macam pengobatan : D. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 83 . Tujuan terapi : Kuratif B.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9.Sesuai dengan komplikasi yang timbul (Infeksi . 1983. 1993. KEPUSTAKAAN : 1. emboli lemak) 11. nyeri kalau gerak. Butterworth-Heinemann. Apley.PATOLOGI : 15. Salter. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap untuk observasi dan tindakan 8. KRITERIA DIAGNOSIS : Ada trauma Ada tanda patah tulang (krepitasi.PROGNOSIS : Dubius ad bonam 17.

NOMOR ICD : S 82 2. R.G. Tujuan terapi : kuratif B. PENGOBATAN : A. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat trauma Tanda pasti patah tulang tibia/ fibula Foto Ro.1. 2. Apley. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10. INFORMED CONSENT : Perlu 12. L. PEMERIKSAAN PENUNJANG : foto polos cruris AP/ Lat 6. DIAGNOSIS BANDING : 5. 1993. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan untuk non bedah : Rawat inap untuk pembedahan 8. Cara pengobatan : Reposisi C. & Solomon. Williams & Wilkins Baltimore/London. HASIL : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal 14. TEMPAT PELAYANAN: RS. Edition. 1983. PENYULIT: Malunion/ delayed union 11. 2nd Ed. Salter. PROGNOSIS : Baik 17. KEPUSTAKAAN : 1. Terapi komplikasi pengobatan : Reposisi ulang/ bone graft ( malunion/delayed Union F. Reposisi terbuka : Pemasangan implant/ plate screw D. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.: Long leg cast. DIAGNOSIS : FRAKTUR CRURIS 3. OTOPSI : 16. MASA PEMULIHAN : 4-8 minggu 13. KONSULTASI : Dokter spesialis terkait {bila diperlukan) 7.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.Kualifikasi operator : . Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9.fraktur pada tibia da fraktur pada fibula 4. Perjan Denpasar RS. Macam pengobatan : Reposisi tertutup. 84 . PATOLOGI :15. 7th. Butterworth-Heinemann. A.

6. DIAGNOSIS : RUPTUR TENDON ACHILES 3. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi achiles Trauma tangan Clean cut injury Fungsilaesia 4. Perjan Denpasar 10 PENYULIT : Infeksi. Butterworth-Heinemann. DIAGNOSIS BANDING : PEMERIKSAAN PENUNJANG : KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.G. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. OTOPSI : 16. kontraktur ankle 11. 85 . Kualifikasi operator : .Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tujuan terapi : Kuratif B. PROGNOSIS : Baik 17. PATOLOGI : 15.B. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit pada yang clean cut E. Terapi komplikasi pengobatan dan bias dipersiapkan secepatnya pada yang Tertutup. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 5. 1993. 7. 2. Apley. MASA PEMULIHAN : 6 minggu sudah buka gip 13. L. TEMPAT PELAYANAN : RS. F. Cara pengobatan: Repair tendon C. Edition. 1983.0 2. A. R.1. Macam pengobatan : Operasi dengan tehnik Bunnel atau Kesler Immobilisasi dengan fore slab D. sambungan putus. NOMOR ICD : S 86. INFORMED CONSENT : Perlu 12. PENGOBATAN : A. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. KEPUSTAKAAN : 1. & Solomon. HASIL : Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal 14. Salter.

A. 7th. HASIL : Kedua fragmen patela tereposisi & rigid Fragmen terangkat 14. TEMPAT PELAYANAN : RS. Salter. DIAGNOSIS BANDING : 5. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. PENGOBATAN A Tujuan pengobatan : Kuratif B. defect antar fragmen. PEMERIKSAAN PENUJANG : Foto polos genu AP/ Lat 6. PATOLOGI : 15.1. PENYULIT: Haemathros Infeksi. Williams & Wilkins Baltimore/London.Foto genu AP/ Lat . KEPUSTAKAAN : 1.B. infeksi. Terapi komplikasi : Sesuai dengan komplikasi yang timbul (non union malunion. DIAGNOSIS : FRAKTUR PATELA 3. OTOPSI : 16. 2. & Solomon. separasi fragmen Kelemahan otot-otot quadrisep. KRITERIA DIAGNOSIS : Klinis : .Cara pengobatan : Reposisi tertutup dan reposisi terbuka. NOMOR ICD : S 82. C Macam pengobatan : Reposisi tertutp : Pasang Kocher gips untuk permukaan yang intact dan fragmen tidak bergeser Reposisi terbuka: ORIF : gangguan permukaan artikuler . haemathros . Butterworth-Heinemann. Apley. 1993. INFORMED CONSENT : Perlu 12. haemathros) F. L.Bila perlu sunrise/ tangensial (untuk fraktur vertikal& fragmen osteochondral) 4. 2nd Ed.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Perjan Denpasar RS.Partial/ total patelectomy D.0 2. 1983. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. 86 . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.G.kekakuan lutut 11. R.Gangguan extensor mekanisme lutut Radiologi : . TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. MASA PEMULIHAN : 8-12 minggu 13.TBW . PROGNOSIS : Baik/ cacat 17. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Edition.bengkak. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan dan rawat inap 8. crepitasi. Kualifikasi operator : .Nyeri. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10.

Fraktur kolum femur . . metal fatique. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. F. 7th. A. MASA PEMULIHAN : 1 minggu 12. Tujuan terapi : Kuratif B. NOMOR ICD : S. TEMPAT PELAYANAN : RS. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8.Terapi komplikasi pengobatan : .G. PROGNOSIS : Baik 16. 1993.1.Fraktur shaft femur . 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos Femur AP/ Lat 6. DIAGNOSIS : FRAKTUR FEMUR 3. emboli lemak. mlunion. 1983. lesi nervus. Edition. Williams & Wilkins Baltimore/London. & Solomon. 72 2. trauma vaskulaer. Komplikasi lambat Refraktur. Komplikasi Awal Syok. trombo emboli. L. delayed union.Waktu pengobatan : segera saat penderita datanmg ke rumah sakit E. R. PENGOBATAN : A. infeksi. OTOPSI : 15. HASIL : Posisi anatomis optimal Fungsional baik 13. atrofi otot.Kualifikasi operator/ pemberi pelayanan : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. 9. malunion Joint stiffnes. Butterworth-Heinemann.Fraktur kondilus femur 5.1.Fraktur trokanter . Salter. INFORMED CONSENT : Perlu 11. KEPUSTAKAAN : 1. infeksi. Cara pengobatan : Non operative dan operative C Macam pengobatan : a. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 17. 2. Non operative Traksi skeletal Traksi kulit pada anak b. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma mayor pada paha Tanda pasti patah tulang (+) 4. Perjan Denpasar PENYULIT : Non union. Operative D. 87 . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Infeksi. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Apley. PATOLOGI : 14. dan cidera neurovaskuler 10. 2nd Ed.B. DIAGNOSIS BANDING : Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara klinis .

Terapi komplikasi pengobatan : F. Tujuan pengobatan : kuratif B. KRITERIA DIAGNOSIS : A. DIAGNOSIS BANDING : 5.Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal . Dislokasi anterior 10 % insiden dislokasi panggul 4 % mengalami avaskuler nekrosis Identasi fraktur caput femur : identasi 4 mm atau lebih Dengan prognosis buruk Type : Superior (pubis atau iliac) : panggul abduksi.0 2. Dislokasi posterior Merupakan jenis tersering Tungkai memendek.1.Type IV :fraktur tepi acetabulum dan besar . Allis 2. Bigelow 3.ischidikus.Type V : Fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain B. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E.pyriformis menghalang reposisi Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi D. Macam pengobatan : Reposisi tertutup dengan anastesi umum : 1. Stimson Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 minggu. Perjan Denpasar 10. Cara pengobatan : Reposisi segera C. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos panggul AP/ Lat 6. 9.Type III : fraktur comminutive tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . PENGOBATAN : A. Inferior (obturator) : panggul abduksi. KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) 7. Klasifikasi : . NOMOR ICD : S 73. DIAGNOSIS : DISLOKASI PANGGUL 3. kapsul sendi atau m. ischiadicus 88 .Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar . > 15 % avaskuler nekrosis kaput femoris. fleksi eksternal rotasi. PENYULIT : Fraktur intra artikuler Cidera N. TEMPAT PELAYANAN : RS. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. endorotasi dan adduksi 10 % komplikasi n. Kualifikasi operator : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. ekstensi Eksternal rotasi 4.

A. MASA PEMULIHAN : 8 minggu 13. Edition. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. KEPUSTAKAAN : 1. PATOLOGI :15. 1993. 2nd Ed. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. PROGNOSIS : Baik 17.G. 1983. Williams & Wilkins Baltimore/London. Butterworth-Heinemann. OTOPSI :16. HASIL : Tereposisi dengan baik 14. Salter.B.11. Apley. R. & Solomon. L. 89 . INFORMED CONSENT : Perlu 12. 7th. 2. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.

8. 5. Cara pengobatan : Dislokasi acromio-klavikular : Dokter spesialis terkait. 6. Waktu pengobatan : segera saat penderita dating ke rumah sakit E.Patologi 15. Kualifikasi operator : 90 .5 bulan : Tereposisi dengan baik F. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk perawatan bedah : Kuratif : Konservatif Operatip : pasang ransel verband : Plate & Screw atau ada lesi vaskuler/ saraf Pemeriksaan penunjang : X-foto klavikula AP C.Penyulit 11. saraf. 2. Otopsi 16. 3. Hasil 14.Informed consent 12. pembengkakan dan krepitasi pada daerah klavikula.Tempat pelayanan 10. Tujuan terapi B. Nomor ICD Diagnosis Kriteria diagnosis : S 42. 7. Diagnosa banding Konsultasi Perawatan RS Pengobatan: A. Terapi komplikasi : 9. Macam pengobatan : D.0 : FRAKTUR KLAVIKULA :Terputusnya kontinyuitas tulang klavikula akibat trauma Klinins : Penderita : nyeri.1.Masa Pemulihan 13.thorak) Foto Ro adanya fraktur di klavikula 4.Prognosis : Perlu uintuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS Perjan Denpasar : Lesi vaskuler Lesi saraf : Perlu : 1-1. Adakah gejala dan tanda trauma penyerta (trauma vaskuler.

G. 7th. 2. Edition. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. & Solomon. 2nd Ed. L.B. Williams & Wilkins Baltimore/London. ButterworthHeinemann. 1993. 1983. Salter. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. R. 91 . KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinis : 1. Apley. A.17 Tindak lanjut 18.

2.Otopsi 16. Tindak lanjut 18. Kualifikasi operator 9. Radialis . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 2nd Ed. 7th. Kriteria diagnosis : S 42.Konsultasi 7. A. Apley. - 92 . ButterworthHeinemann. Patologi 15.Tempat pelayanan 10. Tujuan terapi B. Macam pengobatan D. gangguan fungsi) Foto Rontgen adanya fraktur humerus 4.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Terapi kompliksai F. Salter. Diagnosa banding 5. Diagnosis 3. L. Axillary view :Dokter spesialis yang terkait. Masa pemulihan 13. krepitasi. R.Penyulit 11. Cara pengobatan : : X Foto humerus AP/ lateral. bengkak diformitas.Pengobatan : A.1. Waktu pengobatan E. angulasi / pemendekan. 1983. Pemeriksaan Penunjang 6. Hasil 14. Perjan Denpasar : Lesi N. 1993.3 : FRAKTUR HUMERUS : Ada riwayat trauma Tanda pasti fraktur humerus (nyeri.G. Prognosis 17. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.B. Williams & Wilkins Baltimore/London. ICD 2. bila diperlukan :Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : Kuratif : Non Bedah :Reposisi dengan pembiusan pasang Gips U – slab / Hanging cast Bedah: Pemasangan implant plate screw C. KEPUSTAKAAN : : : saat penderita dating ke rumah sakit : Lesi N. Perawatan RS 8. Radialis : Perlu : 12-24 minggu : Terreposisi dengan baik : : : Baik : perawatan poliklinis : 1.Informed consent 12. Edition. & Solomon.

Kualifikasi operator 9. C.1.Pengobatan A. Cara pengobatan : : X Foto bahu AP : Dokter spesialis yang terkait. deformitas. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : : kuratif : Non Bedah : Reposisi menurut Kocher atau Hipokrates Bedah Reduksi operatif untuk kasus-kasus neglected. Waktu pengobatan E. dengan persiapan. Hasil 14. Nomor ICD 2.Penyulit : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perawatan RS 8. Terapi komplikasi F.0 : DISLOKASI BAHU : Ada riwayat trauma Nyeri. Prognosis : Perlu : + 4 – 6 minggu : Terreposisi dengan baik : :: Baik : Segera direposisi saat penderita dating ke rumah sakit untuk yang baru. Pemeriksaan Penunjang 6. Tujuan terapi B. Lama Pemulihan 13.Tempat pelayanan 10.Konsultasi 7. Otopsi 16. Diagnosa banding 5. 93 . Kriteria diagnosis : S 43. asimetri Gangguan gerakan bahu 4. Perjan Denpasar : Cedera N Axilaris / plexus brachialis Gangguan sirkulasi Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama Dislokasi sendi berulang 11. Patologi 15. Diagnosis 3. Macam pengobatan D.Informed consent 12.

17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

94

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan

: S 42.4 : FRAKTUR SUPRA CONDILER SIKU : Riwayat Trauma Tanda –tanda pasti patah tulang di atas siku : : X Foto siku AP / lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : a. Non bedah : - Reposisi dengan pembiusan - Traksi b. Bedah : Bila non bedah gagal – operasi Plate & Screw atau CCW

C. Macam pengobatan : D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : segera saat penderita dating ke rumah sakit : Kaku sendi siku (Fisioterapi) Kompresi pembuluh darah : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Kompresi pembuluh darah Kaku sendi siku : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik: : : : Dubius / kaku sendi siku : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

95

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.0 : FRAKTUR OLEKRANON : Riwayat Trauma Tanda pasti patah tulang pada siku Teraba gep pada olecranon X Foto Olekranon patah

4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan C. Macam pengobatan D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator :

: Fraktur lain di daerah siku : X Foto siku AP lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan :Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : Operasi dengan pemasangan tension band wire : saat penderita datang ke rumah sakit pada yang terbuka : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12. Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS. Perjan Denpasar : Kaku sendi siku Lesi N.Ulnaris : Perlu : + 4 – 6 minggu : Fragmen terfiksasi dengan baik : : : Dubius / cacat : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

96

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S3.1 : DISLOKASI SIKU : Riwayat trauma, sakit sendi siku Deformitas / asimetri Limitasi gerakan sendi

4. Diagnosis banding 5. Pemeriksaan penunjang 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 9. Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan a. Non bedah b. Bedah C. Macam pengobataqn D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis : : : :

: : X Foto siku AP/ lateral : Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap

: Reposisi dengan pembiusan Imobilisasi dengan posisi fleksi pada siku : Operasi bila reposisi gagal : segera saat penderita dating ke rumah sakit

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Lesi N.Ulnaris, N.Medianus Lesi vaskuler : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik : : Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Kaku sendi bisa terjadi

97

Salter.B. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinik : 1. 2nd Ed. 1993. 1983 98 . Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. & Solomon. 7th. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Tindak lanjut 18. 2. Williams & Wilkins Baltimore/London. L. Edition.G. ButterworthHeinemann. Apley.17. R. A.

4. Masa pemulihan : RS. Pengobatan a. Radiologi : anteroposterior dan lateral. Diagnosis 3. Dilakukan reposisi tertutup dengan anestesi umum c. Konsultasi 8. deformitas. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1. 2. 5. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. krepitasi dan nyeri. Penyulit 11. 7. 3. Tempat pelayanan 10. Kriteria Diagnosis : FRAKTUR GALEAZI : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi interna. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Perjan Denpasar : Non union. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang radius disertai dislokasi sendi radioulnar distal .2. Macam pengobatan : 1. Diagnosis Banding 6. Bedah : operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal d. bila tidak stabil diimobilisasi dengan gips pada posisi supinasi selama 3 minggu. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Ro. malunion. Non bedah : reposisi (gips sampai di atas siku) 2. “false movement”. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : : kuratif kemudian imobilisasi dengan gips (long arm cast) pada posisi supinasi selama 4-6 minggu. post operasi diperiksa stabilitas sendi radioulnar. Informed consent 12. Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. : Perlu : ± 6 minggu 99 . Cara pengobatan : 1. Perawatan Rumah Sakit : Rawat inap untuk observasi atau tindakan b. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. lengan bawah AP/lat. gangguan gerak.

R. Salter. 2nd Ed. Williams & Wilkins Baltimore/London. KEPUSTAKAAN : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. Tindak lanjut 18. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 1983 100 . Patologi 15. Edition. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. L. Prognosis 17. Apley. Hasil 14.B. 2. & Solomon. 7th.13. ButterworthHeinemann.G. Otopsi 16. 1993. A.

4.0 : FRAKTUR MONTEGIA : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. 2. nyeri terutama pada tempat fraktur dan sendi radioulnar proksimal. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. deformitas. Kriteria diagnosis : S 52. Pengobatan a. Waktu pengobatan : : 1. Non bedah 2. Konsultasi 7. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. dislokasi ka[ut radius diseratai Fraktur radius dan ulna. “false movement” dan krepitasi. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi internal 3. lengan bawah AP / lat b. dislokasi kaput radius ke anterior Bado 2. dislokasi kaput radius ke lateral Bado 4. Dilakukan reposisi tertutup kemudian imobilisasi c. dislokasi kaput radius ke posterior Bado 3. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi atau tindakan : : kuratif dengan posisi lengan supinasi. Macam pengobatan d. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan Dokter Spesialis Bedah Ortopaedi 9. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang ulna dan dislokasi caput radii Klasifikasi : Bado 1. Cara pengobatan : 1. Tempat pelayanan : RS. Radiologi : anteroposterior dan lateral . Nomor ICD 2. Terapi komplikasi pengobatan : f. 5.1. Perjan Denpasar 101 . Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. Diagnosis 3. Imobilisasi selama 4-6 minggu. Diagnosis banding 6. Bedah : : Pembedahan e. Perawatan rumah sakit 8.

1993. L. 2. Masa pemulihan 13. Apley. Hasil : Non union. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. A.G. malunion. gangguan gerak. Tindak lanjut 18. Penyulit 11. Edition. Informed consent 12.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. ButterworthHeinemann. Prognosis 17. R. KEPUSTAKAAN : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. Otopsi 16. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. & Solomon.10. Patologi 15. infeksi. : Perlu : ± 6 minggu : Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik Caput radii tereposisi atau dibuang 14. Salter. 7th. 1983 102 .

Macam pengobatan : Fiksasi dalam posisi pronasi. Kriteria diagnosis : S 52. Cara pengobatan : 1. Emergensi : .5 : FRAKTUR COLLES : Tanda-tanda pasti patah tulang Trauma lengan karena menahan dengan “out strecht hand” 4. Gips sampai di bawah siku a. Bedah : Bila non bedah gagal 103 . Non bedah : Reposisi dengaqn pembiusan b. Pengobatan a. Diagnosis banding 6. Definitif orang muda immobilisasi dengan gips sirkuler butuh anesthesia regional atau general : .1. Perawatan rumah sakit 8. Pemeriksaan penunjang : Radiologi .Macam : • • • • • reduksi tertutup dan splint reduksi tetutup dan pinning perkutan fiksasi externa reduksi terbuka dan fiksasi interna fiksasi externa dan interna stabilisasi fraktur besarnya displacement kwalitas tulang usia dan aktifitas penderita ketersediaan peralatan c.pada anak dan orang tua blok) 2. Diagnosis 3. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : : local anesthesia (hematome 5.Faktor yang menpengaruhi optimalisasi : • • • • • . Nomor ICD 2. foto polos radius-distal AP / lat b. Konsultasi 7. semi fleksi dan ulnar Deviasi pada pergelangan tangan.

9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Massa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS Perjan Denpasar : Kompartment syndrome Suddec atropi : Perlu : ± 4 – 6 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posisi optimal Fungsional baik : : : baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

104

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.4 : FRAKTUR RADIUS-ULNA : Klinis : didapatkan adanya tanda-tanda fraktur seperti edema, deformitas, “false movement”, krepitasi dan nyeri. Radiologis : anteroposterior dan lateral, akan didapat kan adanya diskontinuitas tulang.

4. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pengobatan a. Tujuan terapi

: : Dokter spesialis yang terlait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : :

5. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. antebrachii AP/lat

b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup dengan anesthesia umum, kemudian immobilisasi dengan gips (long arm cast). Posisi antebrachii tergantung letak fraktur, pada fraktur antebrachii 1/3 proksimal diletakkan dalam posisi supinasi, 1/3 tengah dalam posisi netral, dan 1/3 distal dalam posisi pronasi. Gips dipertahankan 4 – 6 minggu 2. Bila reposisi tertutup tidak berhasil (angulasi lebih dari 10º pada semua arah) maka dilakukan internal fiksasi. 3. Pada fraktur terbuka terlebih dahulu dilakukan “debridement” kemudian dilakukan tindakan seperti diatas. Sedangkan pada fraktur terbuka derajat III dilakukan eksternal fiksasi. c. Macam pengobatan : Gips sampai diatas siku b. Bedah : Bila non bedah gagal plate and screw d. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit : RS. Perjan Denpasar : Kompartment syndrome a. Non Bedah : Reposisi dengan pembiusan

105

11. Informent consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perlu : ± 6 – 8 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

106

1. Nomor ICD 2. Diagnosis

: C22.0 : Hepatoma

3. Kriteria Diagnosis - Pemeriksaan Klinis : - Anamnesa : - berat badan menurun - nyeri hipokondrium kanan - alkoholisme - riwayat sirosis hepatis atau hepatitis kronis - Inspeksi : tampak tumor pada hipokondrium kanan (tumor besar) - Palpasi : massa pada hipokondrium kanan - Perkusi : untuk mencari batas-batas tumor - Auskultasi : suara usus normal Pemeriksaan Laboratorium : - AFP - LFT - CEA Pemeriksaan Imaging : - USG - CT Scan

-

Pemeriksaan Radiologi : - angiografi - Ba- enema (bila curiga primer berasal dari kolon) Pemeriksaan Jarum Halus Pemeriksaan Kolosnokopi : bila curiga primer dari kolon

-

4. Diagnosis Banding - Tumor jinak hepar (Hemangioma, Adenoma) - Kolangiokarsinoma 5. Pemeriksaan Penunjang : 6. Konsultasi : Penyakit dalam bila ada riwayat sirosis hepatis dan hepatitis khronis. 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan - Pembedahan / Terapi 1. Tumor metastase dari kolon / rektum dan primer terkontrol : dilakukan reseksi hepar. 2. Tumor metastase dan tumor primer in operabel tindakan suportif. 3. Tumor hepar primer : karsinoma hepatoseluler - inresektabel : suportif. - resektabel : reseksi hepar. 4. Tumor jinak : - bila ada gejala : dilakukan reseksi. - bila tak ada gejala : observasi. 5. Sebelum reseksi sebaiknya dilakukan embolisasi untuk mengecilkan tumor dan mengurangi perdarahan.

107

1561-1590 108 . Seiji Kawasaki : Hepatocellular Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operations. Penyulit : Perdarahan (Spontan atau akibat tindakan) 10.Maratoshi Maknuchi.Rumah Sakit tipe A/B yang sudah memiliki Ahli Bedah Digestif. 1327-1376 . p. Mc Graw Hill.Tergantung jenis tumor (jinak atau ganas) dan apakah resektabel atau tidak 13. Kepustakaan : . Prentice Hall International. Prognosis : . 10th ed. Patologi : .Perlu 11.Tumor Ganas : Baik : Resektabel → Dubois Ad Bo anam : Inresektabel → Dubois Ad Malam 16. 5th ed. 1989. Masa Pemulihan : . Laboratorium dan Imaging 17. 8. Prentice Hall Inc.Perlu 14. Tempat Pelayanan : . Pada kasus resiko tinggi untuk operasi dan tumor kecil dapat dicoba penyuntikan perkutan alkohol 90% dalam tumor dengan tuntunan USG. Hasil : . p.Tumor Jinak . 1997. Informed Consent : .Schwartz SI : Principles of Surgery.6. 9.Follow up secara klinis. Otopsi : 15. 10th ed.Tergantung jenis tumor 12. Tindak Lanjut : .Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 1994 .

Nomor ICD 2.Auskultasi : benjolan di pelipatan paha. Masa Pemulihan : 3-5 hari 12. Prognosis : Baik 109 .Lipoma pada pelipatan paha .Inkarserata / strangulasi dengan segala akibatnya 10. DL. bila inkarserata terasa nyeri. Penyulit : .Inspeksi .Pemeriksaan fisik : . 8.Anamnesa . Tempat Pelayanan : .thumb test. Diagnosis : K40 : Hernia 3. Konsultasi : .Lab. 4.Penilaian isi kantong bila nekrosis dilakukan reseksi .zieman test (tri finger test) : : ( diatas benjolan) terdengar suara bising usus (bila isi kantong usus). .Pembesaran kelenjar limfe . Kriteria Diagnosis .Kalau ada penyakit penyerta (liver. . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Pemeriksaan Penunjang : .1.Pemeriksaan Klinis : . : .Herniotomi .Palpasi . Hasil : Baik 13. Patologi : Tidak perlu 14.Hidrokel 5. Otopsi : 15.Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Hernioplasty : . Diagnosis Banding . . UL 6.Pembedahan / Terapi .finger test. : benjolan di pelipatan paha yang dapat keluar masuk (hernia reponibilis) tak dapat keluar masuk (irreponibilis dan inkarserata).tehnik Bassini. jantung) 7.Perkusi . Informed Consent : Perlu 11.tehnik Halsted.

Bristol.Devlin HB : Management of Abdominal Hernia. Butterworth & Co.Dudley. 215-218 . HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. 10th ed. 1986. Ist ed. 375-381 . 1984. 1988 110 . Ist ed.Skandalakis JE : Hernia Surgical Anatomy and Technique. USA. 11th ed. p. 712724 . John Wright & Sons. p. 1994.16. p.Way LW : Hernia other lesion of the abdominal wall In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Kepustakaan : . Prentice Hall International Inc. Mc Graw Hill Inc. Litle Brown and Co Boston. London 1988 .Dodson TF : Hernia In : Manual of Clinical Problem in Surgery. Tindak Lanjut : Follow up apakah terjadi residif / tidak 17.

Ba inloop double kontras 6. perforasi karsinoma kolon.saat flexi dan endo rotasi tungkai kanan (Obturator Sign). Diagnosis : K35 : Radang Usus Buntu 3. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 111 .Pemeriksaan laboratorium : DL : leukosit UL : sedimen urin .pembiakan kuman dan test kepekaan antibiotik. Kelainan-kelainan lain didalam abdomen ulcus pepticum.nyeri epigastrium kemudian disusul nyeri perut kanan bawah yang menetap. 8.Anamnesa : . . entero-kolitis. .Palpasi : * nyeri daerah Mc Burney / kanan bawah : .anoreksia mual.bila perut kiri ditekan (Rovsing Sign). Golongan gastro-enteritis : lim fadenitis mesenterik.Bila saat operasi didapatkan apendik yang mengalami perforasi maka dilakukan : .Pemeriksaan USG (bila ragu-ragu) 4.Colok dubur : nyeri perut kanan bawah (jam 10 – 11) .saat testis kanan ditarik (Tenhorn Sign) . Pemeriksaan Penunjang . Kriteria Diagnosis .saat mengangkat tungkai kanan (Psos Sign).Apendektomi . . . pankreatitis divertikulitis.1. febris (bila ada komplikasi) .dipasang drain sub fasial. . . Diagnosis Banding 3.Perkusi : Nyeri ketok ⊕ (kadang-kadang dilakukan) .saat tekanan perut kiri dilepas (Blumberg Sign).Pemeriksaan Klinis : . 4. Nomor ICD 2. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Konsultasi : Obstetri Ginekologi 7. Kelainan genitalia interna pada wanita 5. kolesistitis.kulit dijahit situasi. . .sub febris.Inspeksi : gerakan perut kanan bawah berkurang waktu bernafas . .Auskultasi : Suara usus menurun . ileitis terminalis.lapangan operasi dibersihkan dari pus dan bahan kontaminasi.tidak melakukan penjahitan lemak. 5. .Pembedahan / Terapi .USG .

LW : Appendix In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Prentice Hall Int. 610-614 112 . Hasil : Baik 13. P. Appleton Century Crofts.p. 1994. Bristol. Kepustakaan : . 5. Otopsi : 15.Way.Dudley HAF : Hamilton Biley’s Emergency Surgery. 336-345 . Appendisitis perforasi Periappendicular infiltrat Periappendicular abscess Peritonitis umum Foic appendiculare 10. 953-978 . Patologi : Perlu 14. Tindak Lanjut Jahitan diangkat hari ke-7 pasca bedah.. bila luka mengalami infeksi perlu dipertimbangkan kondisi luka 17.p. 10th ed. 11th ed.9.2 9th ed. Informed Consent : Perlu 11. Prognosis : Baik 16. 2.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. Penyulit 1. John Wright & Sons Ltd. Inc. Norwalk Connecticut. 1990. 3. 4. 1986. Masa Pemulihan : 5-7 hari 12. Vol.

Morbus Crohn 5.Auskultasi : .Irigasi saluran : untuk mengetahui saluran dan lubang interna dengan garam fisiologis. . Penyulit : Kadang-kadang residif 10. nanah. proktits tbc 5.untuk mengetahui adanya penyakit lain (karsinoma. Diagnosis : K60.3 : Perianal Fistula 3. faeces dari lubang dekat anus.Fistulektomi .Sondasi : untuk mengetahui saluran dari fistula.Fistulotomi.Proktoskopi : .Pemeriksaan Klinis : .Pemeriksaan radiologis : fistulografi.Palpasi : nyeri tekan dan teraba massa sebagai tali memanjang .untuk mengetahui lubang fistel sebelah dalam. 8. Informed Consent : Perlu 113 . .penggunan seton (pada fistula yang banyak melibatkan sfingter ani) .1. Konsultasi : 7. Pemeriksaan Penunjang : Fistulografi 6.bahan yang dieksisi dilakukan pemeriksaan histo PA.Perkusi :. morbus Crohn). . Karsinoma rekti 4.Inspeksi : adanya perianal fistel. Nomor ICD 2. amoeba.Anamnesa : mengeluarkan lendir. hidrogen peroksida datu metilen biru. . Amoeba 6. proktitis tbc. Kriteria Diagnosis .Colok dubur : dengan bidigital yaitu antara jari telunjuk pada anus dan ibu jari pada perineum akan teraba jaringan yang mengeras seperti tali. . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan Pembedahan / Terapi . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Diagnosis Banding 3. . 4. . .

701-703 . Otopsi : 15. Patologi : Perlu 14. 418-466 114 . 1993. Mc Graw Hill. 1303-1306 . In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 10th ed Prentice Hall International Inc. Philadelphia. In : Principles of Surgery 5th ed. Prognosis : Baik 16. Kepustakaan : . MRB : Anorectal Fistula in Surgery of the Anus. London. 1994. Tindak Lanjut : Follow up berkala 17.11. Rectum and Colon.Keighley. WB. Anorectal Fistulas.Way LW. Rectum and Anus. 1988 p. p. Saunders Co.Golberg. Hasil : Baik 13. SM. Masa Pemulihan : Tergantung derajat fistula (melibatkan banyak sfingter ani atau tidak) 12. et al : Colon. Ltd. p.

Inspeksi : adanya sentinel pile . Prognosis : Baik 115 . . Tempat Pelayanan : .Pembedahan / Terapi .rendam duduk (Krim 04) .Operasi : . . Diagnosis Banding : 5.0 : Fissura Ani 3. 4.prosedur : lateral internal sfingterotomi. Penyulit : 10. Masa Pemulihan : 2-3 hari 12.Medikamentosa : . . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Otopsi : 15. Hasil : Baik 13. Pemeriksaan Penunjang : 6. Informed Consent : Perlu 11.Perkusi : . Diagnosis : K60.bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. hidrokortison 1%.Palpasi : bila anus dilakukan everasi tampak fissura .salep lokal Ichtamol 10%.diet membuat faeces lunak.1.Auskultasi : .minum banyak.Proktoskopi : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan hipertropi papilla dan fissura.Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Anamnesa : . Nomor ICD 2.Pemeriksaan Klinis : . Konsultasi : 7. Patologi : 14. Kriteria Diagnosis . 8.nyeri waktu berak . .berak darah segar (tanpa bercampur berak) . .Colok dubur : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan lokasi fissura dan stenosis.

In : Principles of Surgery 5th ed. 1994. In : Surgery of the Anus. Ltd. 698-699 . WB. p. Rectum and Colon. 369-386 116 . Mc Graw Hill. MRB :Fissure in Ano. London. Saunders Co. Philadelphia. 1988 p. 10th ed Prentice Hall International Inc. SM.Keighley. Kepustakaan : .16. 1303-1306 .Golberg. Rectum and Anus. 1993. et al : Colon.Way LW. p. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Anal Fissure. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi (Poliklinis) 17.

Perkusi : nyeri ketok pada perut kanan atas . ERCP 6.ada batu di saluran utama : koledokotomi + scope pasang T-drain. Untuk batu empedu dengan kolangitis .ERCP .1.Murphy’s sign .Courvoissier Law . Diagnosis Banding . kulit berwarna kuning .1 : Ikterus Obstruksi 3.Lab .bila hasil kolangiografi : .ERCP 4. . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Batu kandung empedu .BOF.FNAB Bila : .panas badan .ERCP .Lithotripsi Untuk tumor pankreas .USG . .Pemeriksaan imaging : .Pemeriksaan laboratorium : .Auskultasi : suara usus normal .kanker tanpa metastase : reseksi pankreas 117 .Inspeksi : ikterus .foto polos abdomen . Konsultasi .test faal hati.Gatal-gatal. USG. Pemeriksaan Penunjang .Palpasi : .Interne .kolesistektomi dan kolangiografi intra operatif.Tumor hati .CT Scan. .Pediatri pada anak 7.ERCP .Anamnesa : .nyeri hipokondrium kanan . Nomor ICD 2.Pembedahan / Terapi Untuk batu empedu tanpa kolangitis .sfingterotomi Untuk batu residual .tanpa batu di saluran utama : tindakan selesai . CT Scan. Diagnosis : K83. Kriteria Diagnosis .Tumor pada papila vateri 5.Pemeriksaan Klinis : .penurunan berat badan .

R. 10th ed Prentice Hall International Inc.stent (ERCP) Untuk tumor Klatskin : .Medikamentosa : . Little Brown & Coy. 1988.salep lokal Ichtamol 10%.Condon RE. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi dan advis makanan 17. . hidrokortison 1%. Otopsi : 15. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic.353-374 .K. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.by pass . .Operasi : . 8. . 10th ed. mencegah kolangitis & kerusakan sel-sel hepar 13. Joel J. Boston.p. 1994.stent Untuk striktura saluran bilier : . Patologi : Perlu 14. 1986. 315-336 118 .by pass . Hasil : Ikterus hilang. Prognosis : Tergantung kausa 16. Kepustakaan : . Masa Pemulihan : 1-2 minggu 12.prosedur : lateral internal sfingterotomi.kanker dengan metastase : . .rendam duduk (Krim 04) .reseksi .. Bristol.diet membuat faeces lunak. 7th ed. p. p.Kim U.minum banyak. Prentice Hall inc. Penyulit Cholangitis Sepsis 10. . Informed Consent : Perlu 11.by pass .bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. : Jaundice in Maingot’s Abdominal Operations.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 11th ed.ERCP pro dilatasi . 273-290 .Dudley HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. Wright. 1991.

sodium morbuat / tetradesil sulfat 0.tonjolan terasa nyeri (untuk hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis).Hemorrhoid asimptomatik tidak perlu pembedahan. .berak darah segar tanpa nyeri . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Anamnesa : .Proktoskopi : untuk mengetahui derajat dan lokalisasi hemorrhoid.Hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis : eksisi dan evakuasi trombus. . Konsultasi : 7.Hemorrhoid interna derajat III/IV : hemoroidektomi. .disuntik bahan sklerotan : . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Colok dubur : untuk mengetahui apakah ada kelainan lain. . Diagnosis : I84. Diagnosis Banding .1.Perkusi : .Pemeriksaan Klinis : .Pembedahan / Terapi .diet yang mengandung serat (buah-buahan segar) .25-0.prolaps yang berasal dari tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya. 8. Penyulit : Anemia 10.fenol oli 5% atau krim uretan 5% dosis 3-5 ml/tonjolan maksimum 15ml.Palpasi : .1 : Hemorrhoid 3. . .Auskultasi : .Prolaps rekti . . Kriteria Diagnosis . .50 ml.dengan obat lokal (suppositoria atau salep) yang mengandung kortikosteroid dan anestesia . Informed Consent : Perlu 119 . Pemeriksaan Penunjang : 6. . Nomor ICD 2.Karsinoma rekti 5. 4.Hemorrhoid interna derajat I/II.Inspeksi : prolaps tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.

Williams NS : Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus.Condon RE. p. 1994.Golinger. : Hemorrhod or Piler – Surgery of the Anus. London. 695-698 . 1984. Rectum Colon. Hasil : Baik 13. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. Masa Pemulihan : 7 hari 12. 1988. p. 10th ed Appleton & Langes. Kepustakaan : . p. Patologi : 14. Saunders Co. Bailiere Tindall. JC. p.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Philadelphia. Rectum and Colon. Prognosis : Baik 16. 1993. 7th ed. Otopsi : 15. WB. Boston. Little Brown & Coy. London. 295-363 120 .11. 317-322 . 5th ed. Tindak Lanjut :Follow up poliklinis 17. 98-149 . Ltd.

Patologi : 14. Pemeriksaan Imaging : .Pembedahan / Terapi . 8.ERCP .bila peradangan dan sudah ada massa dilakukan terapi konservatif.Perkusi . Diagnosis : K80 : Batu Empedu 3. PTCD 6. Kriteria Diagnosis . Hasil : Tergantung apakah ada penyulit / tidak 13. Otopsi : - 121 .USG. . alkali fosfatase. Informed Consent : Perlu 11. gamma glucorinyl transferase. SGPT. Konsultasi : Interne 7.Inspeksi . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.nyeri. SGOT.kadar gula darah. tes faal hepar.Pemeriksaan Klinis : .Anamnesa - - . Masa Pemulihan : 7 hari 12. reasi Heyman v/d Berg. .kolesistektomi laparoskopi.kolesistektomi terbuka . ERCP.BOF .PTCD : . . : ikterus : Murphy’s sign : : 4.Palpasi . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .CT Scan . Penyulit : Kolangitis 10. triggliserid.1. kolestreol. Nomor ICD 2. Diagnosis Banding : Malignancy 5. setelah stadium tenang baru dilakukan kolesistektomi.Auskultasi Pemeriksaan darah : . tegang perut kanan atas.ikterus. CT Scan. Pemeriksaan Penunjang : USG.

Prentice Hall International Inc.Dames SS : Disease of the Liver and Billiary System. 1337-1479 . Joel Rslyn : Cholelithiasis and Cholecystectomy in Maingot’s Abdominal Operation.p. 6th ed. 1990. 527-557 . Karan. 222-224.p. 10th ed. 1997. Prentice Hall International Inc. 476-498 . Prognosis : Baik 16. 10th ed. Kepustakaan : . Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17.Joseph A. 1981.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. p. Prentice Hall Inc. p. 1991.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation. Oxford. 1717-1738 122 .15. Blackwell Scientific Publication. 9th ed.

Reseksi kolon transversum : untuk tumor di kolon transversum. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .USG .untuk mendeteksi kelainan-kelainan didaerah rektosigmoid. kelenjar para aorta Pemeriksaan pertanda tumor CEA untuk monitoring kekambuhan tumor.Pembedahan / Terapi .perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah defekasi.Penyakit dalam .berak campur darah / lendir .Hemikolektomi kiri : untuk tumor di fleksura lienalis dan kolon descendens 123 .Ba-enema . Pemeriksaan Radiologis : .Inspeksi : . Konsultasi . .darm contour / darm steifung (bila ada obstruksi) .massa di perut kanan bawah / kiri .dilanjutkan proktoskopi . Pemeriksaan Penunjang .anemia / kelemahan umum .Anasthesi 7. .Palpasi : . Diagnosis : C18. Kriteria Diagnosis .0 : Karsinoma Kolorektal 3. .Perkusi : mencari chest board phenomena .pemeriksaan Ba-enema dengan kontrast ganda . Pemeriksaan Imaging : .perubahan pola defekasi . Diagnosis Banding : Kelainan-kelainan intralumen pada daerah kolorektal 5.Kolonoskopi . . Nomor ICD 2.USG kalau perlu CT Scan untuk mengetahui penyebaran ke hati.pemeriksaan IVP untuk mendeteksi infiltrasi tumor terhadap sistem saluran kemih.CT Scan 6.Hemikolektomi kanan : untuk tumor di sekum.1.Anamnesa - - : .Auskultasi : tanda-tanda obstruksi (pada keganasan kolon kiri) .Colok dubur : .pemeriksaan foto polos dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru.Pemeriksaan Klinis : . fleksura hepatika. kolon ascenden. 4.IVP .

Hasil : Tergantung stadium tumor 13. 1st ed. . : Surgery of the Anus.Golinger. Prentice Hall. . 1990. Rectum Colon. p.Spiessl B. 1984.Michael R.Reseksi anterior : untuk tumor di rektum lebih dari 12 cm dari anus . Rectum and Colon. Williams : Surgery of the Anus. Bailiere Tindall. p. 1033-1172 . p. Otopsi : 15.metronidasol atau . Informed Consent : Perlu 11. Prognosis : Tergantung stadium tumor jenis patologi 16.B. Penyulit Anemia Hipo albuminemia 10. Springer Verlag. 1281-1308. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Schebe O. 78-99 . Kirby I.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation.metronidasol 8. London. 830-1091. Keighley. Norman S.aminoglikosida.Reseksi sigmoid : untuk tumor sigmoid . Masa Pemulihan : 7-14 hari 12. 10th ed.Helena R.Corman ML : Colon and Rectal Surgery. 5th ed. JC. 124 . Bland : Tumors of the Colon in Maingot’s Abdominal Operation. 1984. p. Prentice Hall International Inc. 9th ed. Saunders Co. 1993 p.B. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis sampai 5 tahun atau 10 tahun 17. Chang. Patologi : Harus 14. Kepustakaan : . And Wagner G. 1997. p.sefalosporin generasi III . : UICC-TNM Atlas. 267-412 . Englewood Cliffs. 426-793 . W.. 1982.

Untuk kasus metastase : terapi paliatif 8. Penyulit Gangguan faal pembekuan darah Hipo albumin Kolangitis 10. Nomor ICD 2.diabetes mellitus . 4. Masa Pemulihan : - 125 .dilanjutkan eksplorasi untuk reseksi atau by pass . 19.6 : Karsinoma Pankreas 3.1.USG .Inspeksi : ikterus .Anasthesi 7.alkoholisme .Laboratorium : LFT.9 . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Ikterus obstruktif ok batu empedu . CA. CA 19.Ikterus obstruktif ok Stenosi saluran empedu . Kriteria Diagnosis .Perkusi : . Pemeriksaan Penunjang .pankreatitis kronis .Penyakit Dalam .Palpasi : Courvoisier Sign . Diagnosis Banding .Ikterus obstruktif ok keganasan saluran empedu 5.ERCP atau PTCD .tanpa ikterus : eksplorasi untuk reseksi atau by pass . Informed Consent : Perlu 11. Konsultasi .Untuk kasus tidak ada metastase : .Anamnesa - : .9 Pemeriksaan aspirasi jarum halus.CT Scan 6.Pemeriksaan Klinis : . Diagnosis : D13.Pembedahan / Terapi .Auskultasi : Pemeriksaan Laboratorium : LFT. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.dengan ikterus : .

Howard A. Reber : Operation on the Pancreas in Maingot’s Abdominal Operation.Keith D. Prentice Hall International Inc . 9th ed. prentice Hall Inc. 1997. Hasil : Tergantung apakah tumornya resetabel / tidak 13. 1429-1437 . Kepustakaan : . Patologi : Perlu 14.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Schwartz SI : Principles of Surgery. p. Mc Graw Hill. Otopsi : 15. p. 10th ed. John L. Prentice Hall Inc. p. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. Lilleane. Cameron : Pancreatic and Periampullary Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operation. 5th ed. 2003-2030 126 . 1977-2002 .12. Prognosis : Tergantung kepada stadium tumor dan tindakan yang dilakukan 16. 1989. 1997. 10th ed.

Pemeriksaan fisik : a. KONSULTASI : a. Dokter Spesialis Anak untuk toleransi operasi b. Pada Neonatus : herniotomi dengan tehnik Michael Banks tanpa membuka fascia muskulus obliqus abdominalis 127 .I.9 2. Untuk pasien neonatus dan bayi usia < 1 tahun perlu rawat inap pra dan pascabedah b. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk tindakan pembedahan : a. Dokter Spesialis Anestesi untuk toleransi pembiusan 7. DIAGNOSIS BANDING : 1. Seringkali terdapat gangguan pasase usus jika terjadi jepitan pada usus dalam kantong hernia 2. Terdapat riwayat adanya benjolan yang timbul hilang didaerah inguinal b. KRITERIA DIAGNOSIS : I. Untuk pasien anak usia >1 tahun dapat rawat jalan pra dan pascabedah 8. Hidrokel funikuli 2. Pemeriksaan fisik umum: Kondisi pasien baik b. Tujuan terapi : Untuk pembedahan herniotomi secara berencana dengan persiapan b. Benjolan didaerah inguinal dapat menetap dan memberikan gejala/keluhan nyeri atau menyebabkan anak/bayi rewel dan menangis c. Macam pengobatan : Tehnik Pembedahan : 1. Pemeriksaan Penunjang : tidak diperlukan untuk diagnosis 4. Pemeriksaan fisik di daerah inguinal dapat terlihat atau teraba benjolan yang timbul hilang atau menetap II. PENGOBATAN : a. Abses inguinal 5. DIAGNOSIS : Hernia Inguinalis Lateralis. PERAWATAN RUMAH SAKIT : a. Pemeriksaan radiologi torak b. Pemeriksaan laboratorium : darah rutin 6.40. Limfadenofati inguinal 3. NOMOR ICD : K. HERNIA INGUINALIS LATERALIS UNILATERAL 1. Cara pengobatan : Dilakukan herniotomi dengan berbagai tehnik c. unilateral 3. Pemeriksaan Klinis : 1. Anamnesis : a.

Dokter Spesialis Bedah Umum dan Chief Residen Ilmu Bedah Umum untuk hernia inguinalis lateralis reponibilis pada anak-anak 9. Hernia Inguinalis Lateralis pada neonatus : RS. Jangka panjang : Kekambuhan dan munculnya hernia sisi lain 128 . Pada bayi dan anak-anak : dikerjakan herniotomi dengan tehnik Pott’s. Hernia Inguinalis Lateralis pada bayi dan anak-anak : RS kelas C 10. Hematome luka operasi b. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : 1. Dokter Umum d. PROGNOSIS : Baik 17. Dokter Spesialis Bedah c. HASIL : Tidak terjadi kekambuhan hernia inguinalis 14. OTOPSI : Tidak diperlukan 16. PENYULIT : a. Kelas B b. Residif 11. Terapi komplikasi pengobatan : a. TEMPAT PELAYANAN : a. TINDAK LANJUT : Setelah pasien pulang dari rumah sakit dilakukan evaluasi : 1. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Residif hernia : dilakukan pembedahan ulang f. Hematom : dilakukan evakuasi b. dengan tehnik membuka fascia muskulus obliqus abdominalis d. Perawat senior 13. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Paskabedah : penilaian penyembuhan luka dan kekambuhan 2.2. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Dokter Spesialis Bedah Anak untuk operasi Hernia Inguinalis Lateralis reponibilis pada neonatus dan bayi usia kurang dari 1 tahun 2. MASA PEMULIHAN : Perawatan luka operasi dapat dilakukan oleh : a.

Muntah hijau menunjukkan lokasi obstruksi dibawah muara ampulla vater sebagai manifestasi peningkatan empedu yang keluar. Darah rutin b. NOMOR ICD : K. KRITERIA DIAGNOSIS : Pemeriksaan Klinis : Anamnesis : 1. Analisa gas darah 129 .Gangguan evakuasi mekonium dalam kwalitas dan kwantitas dapat merupakan gejala obstruksi intestinalis pada neonatus. OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN PADA NEONATUS 1.56. d. DIAGNOSIS : Obstruksi saluran pencernaan pada neonatus 3. Muntah tidak berwarna tidak berwarna hijau namun jumlahnya lebih dari 25 cc menunjukkan sumbatan / obstruksi pada pintu kaluar lambung ( gastric outlet obstruction ). Pada obtruksi intestinalis segmen tengah dari saluran pencernaan umumnya mekonium dapat keluar namun jumlahnya sedikit. sepsis sampai peritonitis Pemeriksaan penunjang : 1. Jika terlihat dua gambaran gelembung udara ( double bubble ) berarti ada sumbatan didaerah duodenum. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilihat kaliber kolon mulai dari bagian distal sampai proksimal tempat obstruksi kolon dan melihat posisi sekum pada kasus malrotasi. 2.6 2. artinya obstruksi daerah yeyunum atau illeum. 2. b. Radiologi : a. Jika pada usus bagian distalnya terlihat gambaran udara itu berarti obstruksinya perineal. 2. c. Jika terlihat satu gambaran gelembung udara ( single bubble ) berarti ada sumbatan didaerah pilorus. Pemeriksaan Fisik : 1. Pada kasus obstruksi intestinal lanjut dapat ditemukan gejala dehidrasi.II. Terlihat distensi abdomen yang massive pada obtruksi intestinal distal sedangkan pada obstruksi intestinal tinggi distensi hanya terlihat didaerah epigastrium dan biasanya hilang setelah dipasang pipa lambung. Gejala muntah pada neonatus harus dianggap sebagai manifestasi obstruksi intestinalis sampai dapat dibuktikan secara klinis dan penunjang diagnosis tidak ditemukan.Foto polos abdomen posisi tegak merupakan penunjang diagnosis paling bermanfaat : a. 3. Obstruksi usus distal akan memperlihatkan gambaran distensi usus halus maupun kolon secara segmental atau keseluruhan. Jika gambaran gelembung udara terlihat kecil-kecil dengan jumlah 3 gelembung atau lebih. syok hipovolumik. Laboratorium : a. Muntah dan distensi abdomen merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada semua jenis obstruksi intestinalis. b. Elektrolit darah c.

Dengan komplikasi di rawat di Ruang Perawatn Intensif 130 . Macam pengobatan : Tergantung jenis penyebab obstruksi saluran pencernaan d. TEMPAT PELAYANAN : a. anorektum. MASA PEMULIHAN : a. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Kelas B 8. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Laboratorium 6. RS. 2. Tanpa komplikasi dapat di rawat di ruang biasa b. Dokter Spesialis Anastesi : untuk toleransi pembiusan 7.4. Cara pengobatan : 1) Intestinal dekompresi pada obstruksi non mekanis 2) Laparotomi eksplorasi untuk mengatasi obstruksi mekanis c. duodenum. DIAGNOSIS BANDING : 1. PENGOBATAN : a. Kelas C untuk penatalaksanaan awal 10. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perforasi dan peritonitis dilakukan laparotomi eksplorasi 2) Sepsis dilakukan perawatan intensif f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dokter Spessialis Bedah jika tanpa komplikasi 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk penatalaksanaan awal 9. Radiologi b. Kelas B untuk pelayanan pembedahan b. Mekonium ileus 5. Atresia intestinalis : Gastric outlet. Small left colon syndrome 5. Waktu pengobatan : Segera setelah dignosis ditegakkan e. kolon dan rektum. Tujuan terapi : Mengatasi obstruksi saluran pencernaan b. RS. jejunoileal. Mekonium Plug Syndrome 4. PENYULIT : Sepsis 11. Penyakit Hirshsprung’s 3. Dokter Spesialis Anak : untuk toleransi pembedahan b. KONSULTASI : Tidak diperlukan untuk diagnosis Konsultasi sebelum pembedahan : a.

OTOPSI : Diperlukan 16. TINDAK LANJUT : Setelah pasien di pulangkan pasien kontrol untuk evaluasi pascabedah dan pasca perawatan 131 .13. PATOLOGI : Diperlukan 15. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. HASIL : Tergantung kondisi awal saat pasien datang 14.

laboratorium 6. Intussusepsi lanjut dapat juga terlihat prolaps intussuseptum melalui anus sehingga seringkali sulit dibedakan dengan prolaps mukosa rektum. Pemeriksaan Penunjang Medis : Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium akan didapatkan gambaran leukositosis (>20.1 2. 2.III. Dapat terlihat pada saat serangan bayi menangis sambil kakinya ditarik. Dengan pemeriksaan rektum dapat dibrdakan. wajahnya pucat seperti dalam keadaan sakit berat dan keadaan ini dapat berlangsung sekitar 20 detik selanjutnya bayi terlihat normal kembali. demikian juga pada intussusepsi pascabedah umumnya terjadi setelah 2-5 hari kemudian dengan meningkatnya produksi NGT disertai dengan memburuknya kedaan pasien tanpa penyebab yang jelas. Distensi abdomen kadangkala terlihat pada kasus intussusepsi lanjut atau telah terdapat komplikasi seperti perforasi usus 2. 3.56. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. Intussusepsi khas didapatkan pada bayi sehat dengan gizi baik. NOMOR ICD : K. Intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan secara klinis dengan obstruksi usus mekanis oleh penyebab lainnya sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang medis seperti radiologi. Keluhan defekasi berdarah yang khas “ Current jelly stool” didapatkan pada 50% kasus intussusepsi Pemeriksaan fisik : 1. Pemeriksaan rectum kadang-kadang dapat diraba pseudoportio dari ujung distal intussuseptum dan pada sarung tangan terdapat darah dan atau lendir 4. terdapat riwayat gastroenteritis dan atau infeksi saluran nafas sebelumnya 4. yang terlihat adanya peningkatan produksi cairan lambung yang berwarna seperti empedu. Nyeri sistemik intermitten merupakan gejala paling sering menyebabkan bayi dibawa ke dokter 5. Intussusepsi pasca bedah abdomen dan toraks umumnya terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5 setelah pembedahan. Gejala intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan dengan gejala obstruksi intestinalis lain. Pada perabaan dinding abdomen yang masih lembut umumnya dapat diraba massa berbentuk sosis pada kwadran kanan atas dan ditemukan pada hampir sebagian besar pasien intussusepsi yang datang lebih awal 3. Sedangkan intussusepsi dengan lead point dapat terjadi pada semua usia. Intussusepsi idiopatis merupakan kelainan paling sering ditemukan pada bayi usia 6-8 bulan (sekitar 50-85% kasus). Umumnya tanpa keluhan nyeri. DIAGNOSIS : Intussusepsi 3. Serangan dan gambaran seperti ini dapat terulang lagi dengan interval waktu 1 sampai 2 jam 6. Muntah ditemukan pada 90% bayi dengan intussusepsi dan kadangkala juga terlihat dehidrasi 7.000 mm3) dan pergeseran sel ke kiri(shift to the left). Kondisi pasien secara umum lebih memburuk. 132 . INTUSSUSEPSI 1. pada prolaps karena intussusepsi teraba ada celah diantara bagian usus yang prolaps dengan mukosa anorektum 5.

PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk persiapan pembedahan : a. Laboratorium: hemoglobin darah. Radiologi. Kelas C 8. Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen posisi AP tegak dianjurkan jika gejala klinis belum mendukung karena fase awal akan terlihat gambaran distribusi udara dalam usus lebih banyak pada sisi kiri abdomen sedangkan gambaran udara usus sisi abdomen kanan menghilang. Enteritis hemorrhagika d. 2. bila tanpa kontraindikasi 2) Reduksi manual dengan operasi d. DIAGNOSIS BANDING : a. KONSULTASI : a. analisa gas darah 6. Sepsis : dengan laparotomi eksplorasi dan perawatan intensif f. laju endap darah. udara 2) dengan operasi : laparotomi eksplorasi c. Spesialis Bedah b. Obstruksi saluran pencernaan b. Divertikulitis c. Untuk diagnosis dan terapi non operatif konsultasi Dokter Spesialis Radiologi b. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Harus dirawat di RS Kelas B atau RS. Untuk pembedahan konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Gambaran kontras akan memperlihatkan adanya “cupping” seperti gambaran huruf “U” terbalik didaerah intussusepsi dan intussuseptum dari kolon. 4. Perforasi : dengan laparotomi eksplorasi b. reduksi dengan tekanan hidrostatis : enema barium. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : a. leukosit darah. Fissura anus 5.Radiologi : 1. Terapi komplikasi pengobatan : a. Tujuan terapi : 1) melakukan reduksi segmen usus yang mengalami intussusepsi 2) mengatasi komplikasi b. Macam pengobatan : 1) Reduksi intussusepsi tanpa operasi. Dengan enema barium akan terlihat lokasi intussusepsi terutama jika terdapat ileosekokolokolikal intussusepsi sedangkan intussusepsi ileoileal sulit ditegakkan diagnosis dengan cara ini. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilakukan pada kasus tanpa komplikasi atau gejala klinis belum jelas. Cara pengobatan : 1) tanpa operasi. PENGOBATAN : a. foto torak b. Spesialis Bedah Anak 133 .

rawat inap 7 – 10 hari dilakukan oleh i. HASIL : Pasien pulang dengan kondisi baik dalam fungsi usus dan defekasi 14. Kelas B: intussusepsi dengan komplikasi b. TINDAK LANJUT : Pasien harus dilakukan evaluasi setelah pulang dari rumah sakit untuk follow up 134 . Reduksi non operatif. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah iv. diperlukan rawat inap untuk observasi selama 2-3 hari dirawat oleh : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah b. PATOLOGI : Jika ditemukan leadpoint diperiksakan patologi anatomi 15. PENYULIT : a. RS. Kelas C : intussusepsi tanpa komplikasi 10. Dokter Spesialis Bedah iii. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa penyebab yang jelas 16. RS. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN : a. MASA PEMULIHAN : a. Dokter Spesialis Bedah Anak ii. Perawat senior 13.9. PROGNOSIS : 1) Baik jika tanpa komplikasi 2) Jelek jika terdapat komplikasi 17. Pascabedah : 1) Infeksi pascabedah 2) Sepsis 3) Ileus berkepanjangan 11. Dengan reseksi usus halus dan atau usus besar. Pascabedah reduksi manual tanpa komplikasi rawat inap 5 – 7 hari dilakukan oleh : 1) Dirawat Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dirawat Dokter Spesialis Bedah 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 4) Perawat Senior c. Prabedah : 1)Perforasi 2)Sepsis b.

DIAGNOSIS BANDING : Tidak diperlukan 5. Gejala obstruksi intestinalis rendah seperti abdomen kembung. Terdapat keluhan mekonium keluar bersama-sama saat pasien kencing atau keluar didaerah perineum dan atau vagina karena adanya fistula. Laboratorium : 1) Hemoglobin darah 2) Laju endap darah 3) Leukosit darah 4) Faal hemostasis 5) Albumin darah dan total protein ii. Radiologi : 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan penunjang prabedah : i. Untuk pembedahan konsultasi : 1) Dokter Spesialis Anak 2) Dokter Spesialis Anestesi 7. Foto toraks 2. Laboratorium : pemeriksaan urine lengkap 2. ANUS IMPERFORASI : 1.3 2. vestibulun vagina sehingga mekonium tampak keluar melalui tempat tersebut. Bayi usia lebih dari 24 jam secara klinis akan memperlihatkan gambaran obstruksi intestinalis rendah 3. Foto tulang belakang 6. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengetahui kelainan congenital lain yang menyertai anus imperforasi Pemeriksaan penunjang : 1. muntah hijau Pemeriksaan fisik : 1. 2. sering ditemukan fistule rektum ke perineum. 2. posisi prone 4. anus tidak ditemukan pada tempat yang seharusnya. Pada pemeriksan fisik daerah perineum.IV. DIAGNOSIS : Anus Imperforasi 3. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Perlu rawat inap 135 . 3. Tidak mempunyai lubang anus pada bayi baru lahir sehingga tidak terdapat evakuasi mekonium. NOMOR ICD : Q. KONSULTASI : a. Radiologi : Foto Cross table abdominal foto. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. Distal colostogram 3. Untuk diagnosis tidak diperlukan konsultasi b. 42.

Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan pada saat kolostomi atau anoplasti dilakukan reoperasi 2) Retraksi anus atau kolostomi dilakukan reparasi ulang 3) Prolaps anus atau kolostomi dilakuakn reparasi 4) Skinrash karena iritasi kulit diberikan local proteksi dengan zinksalf f. dilakukan kolostomi atau anoplasti 2) Setelah usia. berat badan. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN : 1) Pascabedah kolostomi dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS. Inkontinensi anus 11. Macam pengobatan : 1) Pembuatan kolostomi terpisah (divided colostomy) jika diperlukan 2) Pembuatan anus dengan tehnik Postero sagittal anorectoplasy (PSA) d. Cara pengobatan : 1) Pengobatan sementara dengan kolostomi 2) Pengobatan definitive dengan anoplasti c. PENYULIT : a. TEMPAT PELAYANAN : a. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. RS. dan hemoglobin pasien memenuhi syarat untuk pembedahan definitive berencana e. Perdarahan tempat operasi b Retraksi anus c. Perawat Senior 2) Pascabedah Anoplasti dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Anak. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13.8. Kelas B untuk Anoplasti b. Tujuan terapi : 1) Terapi awal untuk pengalihan sementara saluran pembuangan melalui kolostomi jika diperlukan 2) Terapi definitive untuk pembuatan lubang anus dengan tehnik anoplasti b. PENGOBATAN : a. Prolaps anus d. Dokter Spesialis Bedah. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk kolostomi 2) Dokter Spesialis Bedah Anak untuk Anoplasti 9. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa sebab yang jelas 136 . RS Kelas C untuk kolostomi 10. HASIL : Diharapkan pasien dapat defekasi kontinens. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan. tanpa komplikasi pascabedah 14.

16. PROGNOSIS : Baik jika pengelolaan awal dan lanjut sesuai prosedur 17. TINDAK LANJUT : 1)Setelah pasien pulang dilanjutkan dengan businasi dan dilatasi anus sampai kaliber sesuai usia pasien dilakukan kontrol dan evaluasi secara rawat jalan 2) Penutupan kolostomi dilanjutkan dengan dilatasi dan businasi anus sampai kaliber sesuai dengan usia dengan frekwensi sesuai skedul 3) Toilet training sampai pasien defekasi kontinens melalui evaluasi sesuai sistim skoringnya 137 .

Gangguan defekasi berlanjut. PENYAKIT HIRSCHSPRUNG’S 1. Enterokolitis akut atau khronis : a. Diare berulang 3. Distensi abdomen d. Konstipasi sebagai gejala pokok 2. Terdapat tanda-tanda obstruksi Intestinalis akut: a. Sepsis Pada anak lebih besar : 1.Gambaran obstruksi usus akut / khronis . Tanda dan gejala sepsis dan septik syok Pemeriksaan penunjang : A.Radiologi : 1. Terdapat obstruksi intestinalis parsial berulang b. Diare khronis atau akut b. lateral dan tengkurap akan memperlihatkan : . Demam e.V. Perut buncit 3. Perut kembung c. Konstipasi khronis : a.Foto polos abdomen 3 posisi anterior-posterior (AP). Tidak bisa mengedan 4. Tanda dan gejala dehidrasi 3. Dehidrasi sampai syok 2. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : Pada bayi baru lahir dan usia beberapa minggu : 1. Perut kembung c. Evakuasi mekonium terlambat lebih dari 24 jam b. Malnutrisi 5. Tanda dan gejala enterokolitis akut 4. NOMOR ICD : Q. Muntah-muntah c. Foto polos abdomen : gambaran obstruksi usus rendah .Udara tidak mencapai cavum pelvis 138 .1 2. DIAGNOSIS : Penyakit Hirschprung’s 3. Fekaloma Pemeriksaan fisik : 1. Muntah hijau d.43. konstipasi e. Distensi abdomen 2.

KONSULTASI : a. Biopsi daerah anorektum untuk pemeriksaan patologi anatomi diperlukan jika diagnosis klinis dan penunjang radiologi belum memberikan diagnosis definitif 4. Untuk diagnosis : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi 2) Konsultasi Dokter Spesialis Patologi Anatomi b. Stenosis anus c. daerah proksimal yang dilatasi dibatasi daerah transisi. Konstipasi oleh karena berbagai penyebab seperti : hipotiroid. Mekonium plug syndrome b. Fissura anus e. Fisura anus f. Cara pengobatan : 1) Tindakan awal dikerjakan kolostomi untuk diversi feses sementara 2) Tindakan definitive tarik terobos retrorektal prosedur Duhamel modifikasi dengan stapler 139 . DIAGNOSIS BANDING : 1. Tujuan terapi : Membuat fungsi defekasi pasien kembali mendekati normal b. Bayi baru lahir dan usia beberapa minggu . . a. a. Manometri rectum 6. Anak lebih besar . retardasi mental b. Anterior anus 5. Enterokolitis netrotikans e. Stenosis anus c. Foto dengan kontras : Enema barium memperlihatkan : . Untuk Tindakan dan perawatan : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Anak 2) Konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Dilakukan jika diagnosis klinis dan radiologi belum memberikan kepastian diagnosis : a.3. Biopsi rectum b. Hipotiroid 2. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8.Gambaran daerah rektum yang menyempit. PENGOBATAN : a. Laboratorium untuk diagnosis tidak diperlukan C.Gambaran lipatan mukosa kolon ( transversal fold ) B. Prematuritas d. Tumor anorektum d.

laboratorium dan toleransi operasi d. Untuk diagnosis b. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan dilakukan kolostomi 2) Setelah persyaratan operasi definitive terpenuhi dilakukan Prosedur Duhamel e. MASA PEMULIHAN : Dilakukan perawatan pascabedah oleh : a. RS. untuk perawatan awal dan kolostomi 9. Obstivasi khronis c.c. dilakukan reoperasi untuk menghentikan perdarahan 2) Enterokolitis. TEMPAT PELAYANAN : a. PENYULIT : a. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Spesialis Bedah Anak. Kelas B untuk tindakan defnitif b. OTOPSI : Diperlukan pada kematian pasien Penyakit Hirschsprung’s yang tidak disebabkan langsung oleh tindakan maupun komplikasi dalam pengelolaannya 140 . Kelas C untuk tindakan dan perawatan awal 10. RS. untuk diagnosis. Inkontinensi alvi 11. dengan regulasi defekasi melalui pengaturan diet dan obat pencahar f. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. Macam pengobatan : 1) Kolostomi sigmoid jika memungkinkan 2) Leveling kolostomi pada kasus yang tidak tegas segmen kolon yang aganglioner 3) Laparotomi pada Penyakit Hirschsprung’s neonatus dengan gejala obstruksi total 4) Prosedur Duhamel setelah memenuhi syarat dalam usia. berat badan. PATOLOGI : Diperlukan untuk : a. Dokter Spesialis Bedah Anak b. Dokter Spesialis Bedah c. Enterokolitis b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Menentukan demarkasi usus yang aganglioner dan yang berganglion 15. fisik. pemberian antibiotika dan kolonrektal washing 3) Gangguan defekasi. HASIL : Pasien dapat defekasi spontan dan kontinen 14. Perawat senior 13. kolostomi dan perawatan awal 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan.tindakan kolostomi dan terapi definitive 2) Spesialis Bedah untuk diagnosis.

TINDAK LANJUT : Pasien kontrol rawat jalan untuk follow-up fungsi defekasi.16. adanya penyulit dan perlunya tindakan revisi pembedahan 141 . jika pengelolaan sesuai dengan prosedur. PROGNOSIS : Baik. dan pasien datang pada saat belum terdapat komplikasi 17.

Nyeri perut daerah periumbilikus 2. Pemeriksaan fisik : 1. sedangkan jika hasil pemeriksaan leukosit mencapai 20.Obturator dan psoas sign sebagai petunjuk lain terdapat proses keradangan didaerah posterior lokasi apendiks namun jarang ditemukan pada anak-anak.35. anak mengalami demam dengan suhu axilla diatas 38 derajat celcius 2. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium : 1.Tanda peritonitis umum yang lebih menonjol pada pemeriksaan abdomen terdapat nyeri perut yang menyeluruh dan seluruh dinding abdomen mengalami rigiditas. Wajah nampak pucat. pada pemeriksaan ini akan ditemukan tenderness kearah kanan dinding rectum. abdomen distensi dan tegang.Agak sulit berjalan dan tungkai kanan terlihat fleksi pada saat tiduran 3. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. DIAGNOSIS : Appendisitis Akut 3. 8.000-15. NOMOR ICD : K. 5. Foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran mass effect akibat hilangnya gambaran gas di daerah abdomen kanan bawah.000 mm3 dengan gejala klinis minimal untuk apendisitis kemungkinan disebabkan keadaan lain.VI. Urinalisis Perlu diperiksa jika terdapat gejala klinis yang sulit dibedakan dengan infeksi saluran kencing. Umumnya hasil pemeriksaan urine normal pada apendisitis pada beberapa kasus apendisitis dapat ditemukan sel darah merah dan atau sel darah putih pada sidemen urine Pemeriksaan radiology atau ultrasound : Untuk gejala apendisitis tertentu membutuhkan pemeriksaan radiology dan atau ultrasound ( USG ) seperti : 1.9 2. ditemukan pada 10% kasus dapat 142 .Mual dan muntah terjadi setelah timbul gejala nyeri perut. 7. pipi kemerahan. 2.Pemeriksaan rectum dilakukan jika penemuan gejala seperti diatas masih belum dapat membantu diagnosis apendisitis. 6. kadang-kadang anak lebih besar terdapat gejala anoreksia sehingga semakin menyulitkan diagnosis. kadangkala dapat diraba adanya massa atau pembentukan abses.Pada pemeriksaan abdomen.Selanjutnya nyeri perut berpindah kedaerah kwadran kanan bawah abdomen (daerah Mc Burney) 3. seringkali sulit dibedakan dengan gejala gastroenteritis.000 mm3) dengan pergeseran sel kekiri namun demikian hasil pemeriksaan leukosit normal dapat ditemukan pada anak dengan apendisitis. APPENDISITIS AKUT 1.Tanda-tanda “rebound tenderness rigiditas” dinding abdomen muncul jika telah terjadi perforasi apendiks.Pemeriksaan palpasi abdomen ditemukan titik nyeri daerah “Mc Burney’s 4. jika abses terlokalisir dalam rongga peritoneum teraba massa dengan palpasi bimanual dari dinding abdomen dan pemeriksaan rectum. Darah Umumnya ditemukan leukositosis (11. bibir terlihat kering.

b. d. namun dapat dibedakan dari proses nyeri perut yang tidak didahului oleh nyeri perut klasik didaerah umbilicus. Ultrasound/USG dapat terlihat ukuran apendiks lebih besar dari normal disertai gambaran abses periapendikuler atau tumpukan abses di daerah rongga pelvis. Laboratorium : 1) Darah rutin : Leukosit darah dan Laju endap darah (LED). Macam pengobatan : a. 4. 5. regional enteritis. Untuk diagnosis : konsultasi Dokter Spesialis Anak b. Gastroenteritis : Gejala muntah dan diare mendahului gejala sakit perut pada umumnya tidak ditemukan nyeri perut terlokalisir di daerah abdomen bagian bawah. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan rutin pada anak dengan gejala klinis minimal atau anak yang gemuk. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. Tanda-tanda apendisitis akut akan terlihat gambaran barium yang menunjukkan penyempitan lumen apendiks dan tiba-tiba terhenti (cut off) akibat adanya obstruksi. Untuk pembedahan: konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Cara pengobatan : Melalui tindakan pembedahan. Apendiktomi retrograde d. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan dan pasien memenuhi sayarat untuk pembedahan 143 . faal hemostasis 2) Urine : sedimen urin b. c. sickle cell crisis. Radiologi : 1) Foto toraks 2) Sonografi appendiks vermiformis 3) Apendikograpi jika diperlukan 6. intususepsi. KONSULTASI : a. Penyakit radang panggul : terutama anak dan wanita dapat menyerupai gejala apendisitis. Enema barium perlu dikerjakan pada anak dengan nyeri perut berulang tanpa gejala penyerta yang jelas. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Prabedah : a. DIAGNOSIS BANDING : a. apendiktomi c. PENGOBATAN : a. 3. Beberapa kasus lain seperti infeksi saluran kencing dan infeksi Mackle’s divertikulum. Konstipasi : Massa feses yang teraba pada pemeriksaan palpasi abdomen dan pemeriksaan rectum dapat membedakannya dengan apendisitis. kolesistis kadangkala gejala klinis menyerupai apendisitis. pnemonia paru kanan lobus bawah.terlihat gambaran fekolit (feses yang mengeras sebagai penyebab sumbatan obstruksi lumen apendiks) 2. Tujuan terapi : Menganggkat apendiks vermiformis b. Apendiktomi anterograde b.

HASIL : Pascabedah pasien pulih baik 14. TINDAK LANJUT : Pasien rawat jalan untuk kontrol dan follow-up pascabedah 144 . Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 9. Terapi komplikasi pengobatan : a. PATOLOGI : Diperlukan untuk konfirmasi 15. Infeksi luka operasi c. RS kelas C bila tanpa komplikasi 10. Kelas B bila terdapat komplikasi b. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dapat dilakukan oleh : a. dengan perawatan luka c. OTOPSI : Diperlukan jika kematian pasien tidak jelas penyebabnya 16. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. TEMPAT PELAYANAN : a. Sepsis prabedah dan pascabedah 11. PENYULIT : a. Dokter Spesialis Bedah c. Spesialis Bedah Anak b. dilakukan reoperasi b. Dokter Spesialias Bedah Anak b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Perforasi appendicitis akut b. dengan relaparotomi f. Perdarahan. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. Abses peri apendikulare d. Infeksi luka operasi. RS. Spesialis Bedah c. Perawat senior 13.e. Abses intraperitoneal.

setelah usia. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a.beratbadan dan kondisi pasien memenuhi syarat untuk pembedahan berencana 145 . Tujuan terapi : Untuk mengembalikan organ rongga abdomen yang berada diluar. Untuk diagnosis tidak diperlukan b. Terlihat dinding abdomen mengalami kelain 4. Cara pengobatan : Pasien dilakukan pembedahan dengan persiapan minimal untuk penutupan defek dinding abdomen dan pascabedah mendapat perawatan intensif dengan alat bantu pernafasan c. Dinding abdomen dan tali pusar yang tidak normal Pemeriksaan fisik : a.silastik. DIAGNOSIS : Omphaloce pecah dan Gastroschisis 3. KONSULTASI : a. Keadaan umum bayi buruk b. Macam pengobatan : 1. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan perawatan di rumah sakit prabedah maupun pascabedah 8. Untuk diagnosis tidak dibutuhkan pemeriksaan penunjang b. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : a.Faal hemostasis. Pembedahan primer dan sekunder dilakukan sebelum usia bayi 12 jam 2.79. Penutupan definitif d. Analisa gas darah 6.3 2. OMPHALOCELE PECAH DAN GASTROSCHISIS 1. Riwayat kehamilan dan persalinan dengan distocia b.VII. sekaligus menutup dinding abdomen langsung maupun ditutup sementara dengan alat (mesh. Penutupan sekunder dengan alat bantu seperti mesh 3. DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada 5. NOMOR ICD :Q. Waktu pengobatan : 1. PENGOBATAN : a. Penutupan primer dinding abomen 2. Untuk tindakan pembedahan dibutuhkan pemeriksaan penunjang : 1)Radiologi : foto torak dan abdomen 2)Laboratorium: Hb.79. Untuk tindakan pembedahan konsultasi: Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anestesi 7.kasa steril dll) b.2 dan Q. Pembedahan definitif.

MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dilakukan oleh : c. Distres pernafasan dengan alat bantu pernafasan b. Kelainan bawaan pada organ lainnya yang terjadi bersamaan h. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. PROGNOSIS : Du-Boab ad malam 17. Dokter Spesialis Bedah f. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. OTOPSI : Diperlukan pemeriksaan otopsi jika pasien meninggal untuk menentukan causa mortis 16. Dokter Spesialis Bedah Anak e. Kelas B 10. pasase usus berfungsi baik 14. Distress pernafasan pascabedah i. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a.e. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. TINDAK LANJUT : Pasca perawatan di rumah sakit pasien rawat jalan untuk evaluasi dan follow-up perlunya tindakan lebih lanjut 146 . Spesialis Bedah Anak b. Terapi komplikasi pengobatan : a. Gangguan pasase usus dengan relaparotomi dan intestinal dekompresi f. PENYULIT : g. TEMPAT PELAYANAN : RS. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk perawatan awal 9. Gangguan pasase usus 11. Sepsis j. Syok hipovolumik k. Spesialis Bedah c. HASIL : Pasien bisa survive. Intensifis di Ruang Perawatan Intensif d.

Misouri Copyright 1995 147 .M.B.M..D. Eric W. Fondkallsrud.D. Mosby-Year Book. W. Inc. Essential of Pediatric Surgery Mare I.: Jay L. Pediatric Surgery Keith W. Arnold G.M. Saunders Company Philadelphia. Aschraft. Coran.D.. James A. M.Grosfeld. St Louis.Holder.D..D.Kepustakaan : 1.. Second Edition.M.MD.Thomas M..O’Neil Jr.Rowe. Copyright 2000 2.D.M.

Tempat Pelayanan : .Simtomatis . Diagnosis Banding : .Epidural hematum . 8. .Riwayat cidera kepala. muntah. Nama Penyakit/Diagnosis/ICD : .Vulnus apertum dikepala panjang > 5cm . Pemeriksaan Penunjang : . Konsultasi : . DM.Perdarahan Intra kranial . mual muntah.Derajat kesadaran. . mesti dengan pemberian obat-obatan. .ICD 850 2. .GCS< 15 .Neurologi .Keluhan : .Cairan infus selama penderita minumnya tidak adekuat.mual. .Kardio. 5. Cedera kepala 1.Analgetik .Kalau ada kelainan: Hipertensi.Pernah tidak sadar/saat ini tidak sadar.dengan obat-obatan → indikasi CT-Scan kepala.CT-Scan kepala : Penderita CKR dengan : . .Anti Emetik . . nyeri kepala.Gelisah. kecuali ada penyulit dan perlu operasi (tertulis).Cidera kepala ringan (CKR) / Commotio Cerebri .CVA hemoragik dan non hemoragik. Penyulit : .Lateralisasi 7. Terapi : .Subdural hematum .Lateralisasi.Keluhan bertambah berat.Foto polos kepala AP & lateral : Penderita CKR dengan : .Vertigo. nyeri kepala.IRD kemudian untuk observasi di IRD lantai 2 atau Instansi Rawat Inap 9.Penurunan kesadaran.Observasi terhadap penyulit yang timbul yaitu: . gelisah bila memberat walaupun . .Orthopedi) 6.Intra cerebral hematum 10.Sefal hematoma diameter >5cm. Perawatan RS : .Anti Vertigo . 4. Informed Consent : Tidak perlu. Kriteria Diagnosis : . 148 . Patah tulang (Interne. .GCS 3.I.

American Association of Neurological Surgeons: Guidelines for the Management of Severe Head Injury. Standar Tenaga : . 1995. Chestnut RM. Otopsi/Risalah : . Carlier PM : Problems with initial Glasgow Coma Scale assessment caused by prehospital treatment of patients with head injuries . Output : . 2. 3. Kepustakaan: 1.hill.Bila ada penyulit: . et al : The role of secondary brain injury in determining outcome from severe head injury. 1996.Ahli Bedah Umum .Residen bedah umum . 4. 36 (1) : 89-95. 149 . Povlishock JT (eds) : Neurotrauma. Lama Perawatan : .11.Tidak perlu 16. Masa Pemulihan : . Narayan RK. McGraw. Journal of Trauma 1994 . Willberger JE.1-2 minggu 14. Head trauma : Chicago Six edition 1997. Klauber MR.Pulang dengan sembuh total. Marion DW. Journal of Trauma 1993 . American college of Surgeon ATLS . 5.Residen senior bedah .Bila tidak ada penyulit : .Perawat yang terlatih . 34 : 216-222.Ahli Bedah Saraf 12. Marshall LF.Penyulit 5-7 hari 13. results of a national survey. 15.Dokter umum/Residen .Tanpa penyulit 2-5 hari . PA : . New York.Penderita CKR meninggal tanpa kausa yang jelas.

Youmans.Bedah Plastik (pada penderita dewasa) 6. Forth edition . Lama perawatan: .Foto Ro : Kepala atau Lumbosakral.II. Informed Consent (tertulis): .Neurologi . United state of America 1996.MRI 5. Pemeriksaan Penunjang : .Eksisi meningoensefalokel & duraplasti 8. Terapi: .Rawat inap 7.Benjolan pada pangkal hidung.ICD 5. kebocoran cairan serebrospinal 10. Neurological Surgery. 150 . CT Scan .Ya 11. Tempat pelayanan : .. teratoma. .3 hari Kepustakaan: 1. Penyulit: . Perawatan RS: .IBS 9.Spesialis Bedah Saraf 12.infeksi.MENINGOENSEFALOKEL . Julian R. nyeri tekan 3. Meningoensefalokel 1. Konsultasi : .021 2. Tenaga standar: .tengkuk atau pinggang bawah sejak lahir.Kista Dermoid. Diagnosis Banding : . lipoma 4. WB Saunder Company. Kriteria Diagnosis: . Nama penyakit / diagnosis: .

III. Perawatan RS: . sejak lahir. 3. Neurological Surgery. Nama penyakit / diagnosis: . Tempat pelayanan : . Hidrosefalus 1. Julian R.Makrosefal 4.Ya 11. Penyulit: . Sun set phenomena. Diagnosis Banding: .Rawat inap 7.Kepala besar.HIDROSEFALUS INFANTIL . Kriteria Diagnosis: . vasa kepala prominen.Spesialis Bedah Saraf 12. Konsultasi : . CT Scan 5.Neurology 6. Tenaga standar: . Lama perawatan: . WB Saunder Company. United state of America 1996.Ro Kepala. psikomotor terhambat. Terapi: .hematoma intracranial 10. Pemeriksaan Penunjang: .V-P shunt 8. Forth edition .IBS 9.023 2. Tumor otak 151 ..7 Hari Kepustakaan: 1. Youmans. IV. Informed Consent (tertulis): .ICD 5.

infeksi 10.Trepanasi + reseksi tumor 8.Nyeri kepala. muntah. United state of America 1996.1. William and Wuilkins co.Migrain. Kriteria Diagnosis : .Ro Kepala. Ohta Tomio .: . defisit Neurologi fokal ( TIK meningkat kronis Progresif) 3.029 2. Tenaga standar: . Youmans. tension headache. 2.Ya 11. MRI 5. Japan 1995.TUMOR OTAK . Penyulit: . Terapi: . 152 . The Practice of Neurosurgery. tuberkuloma 4. P. WB Saunder Company. Tempat pelayanan : .Rawat Inap 7. 3.Ya Kepustakaan: 1. Kinpodo Publising Company. Nama penyakit / diagnosis: . United state of America 1996. Konsultasi : . Forth edition . George T. Abses. Perawatan RS: . Neurological Surgery. Masa pemulihan: .Spesialis Bedah Saraf 12. Julian R. Diagnosis Banding: . Lama perawatan: .Perdarahan.3 bulan 14. Informed Consent (tertulis): . penglihatan kabur. Pemeriksaan Penunjang: .10 hari 13. Tindall.IBS 9.A.Neurologi 6..: Illustrated Neurosurgery. CT Scan.ICD 5. SDH kronik. edema serebri.

fisioth/. Penyulit: .: Illustrated Neurosurgery. Pemeriksaan Penunjang: . WB Saunder Company..HNP (Hernia Nukleus Pulposus) ICD 5.Robekan duramater. Japan 1995. Informed Consent (tertulis): . Cedera saraf dan medula Spinalis 10.Kaudografi .Spesialis Bedah Saraf 12. United state of America 1996.Konservatif 2 minggu : bed rest. Tenaga standar: .Rawat inap 7. Diagnosis Banding: . Bila 1) gagal (laminektomi + eksisi HNP) 8. Ohta Tomio . Perawatan RS: . Youmans. The Practice of Neurosurgery. Julian R.IBS 9. Forth edition . United state of America 1996.Nyeri salah satu tungkai yang menjalar dari pinggang kepaha dan betis. Lama perawatan: . HNP 1.Neurologi 6. William and Wuilkins co. Kinpodo Publising Company. Neurological Surgery. 153 .Ya 11. 3.MRI 5.7 hari Kepustakaan: 1. Nama penyakit / diagnosis: . George T.803 2. analgesik 2. Kriteria Diagnosis: .V. tes laseque positif 3.Tumor Kauda Equina 4. Tindall. Terapi: . 2. Tempat pelayanan: . Konsultasi : .

infeksi. William and Wuilkins co.ICD 5.Ya 11. United state of America 1996.Spesialis Bedah Saraf 12.10 hari Kepustakaan: 1. Terapi: . WB Saunder Company.. kebocoran cairan serebrospinal 10.Laminektomi + reseksi tumor 8.Perdarahan. Youmans. Tindall.eksisi biopsi 9.Trauma. CT Scan 5. The Practice of Neurosurgery. Spondilitis 4. Tumor medulla spinalis 1.Neurologi . Perawatan RS: .Rawat Inap 7. Tenaga standar: . Penyulit: . Pemeriksaan Penunjang: . paresis tipe UMN 3. Konsultasi : .Myelografi. Diagnosis Banding: . Informed Consent (tertulis): .TUMOR MEDULA SPINALIS . MRI. George T. Tempat pelayanan : . United state of America 1996. 2. Lama perawatan: .Lumpuh anggota gerak bilateral secara progresif. 154 . Julian R.039 2. Kriteria Diagnosis: .Bedah Onkologi (pada tumor ganas) 6. Neurological Surgery. Forth edition .VI. Nama penyakit / diagnosis: .

Sedang.BATU PIELUM . Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. SC > 2mg% tanpa kontras. Tekanan darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Asam Urat darah.BATU STAGHORN 1. DIAGNOSIS 3.BATU PIELUM . nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/penderita kurus) 4. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis berat/penderita kurus) Teraba tumor kistik.BATU STAGHORN : . NOMOR ICD 2. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.USG kurang/tidak informatif. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF. UL. BATU GINJAL : . SC <2mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 155 .N 20. BUN/SC.BATU KALIKS . Nadi.I.BATU KALIKS . : . DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu ureter 5.

TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Phyellolithotomy Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy) Phyellolithotomy Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy atas pertimbangan khusus 9. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy jika ada fasilitas) Simple/Extended Phyellolithotomy Nephrolithotomy. Bivalve Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy. Nephrostomy atas indikasi khusus 156 . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.6.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14 -90 hari pascabedah) • Lain-lainnya atas intruksi operator 13. • IDI . 2001. Stone Desease. Standar Pelayanan Medis. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15.. 17. Conort P. Eddition 2003. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. Batu Saluran Kemih. Heath Care Office. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 1998. Paris. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Treatment of Renal Stone. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 18. Buck C. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. First International Consultation on Stone desease. Alken P. July 4-5. Gallucci M. 2003. Vol. European Association of Urology.-G.(3). Guidelines on Urolithiasis. infeksi. March 2004. Resnick MI.10. Cambell’s Urology. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. Urinary Lithiasis: Etiology. infeksi. KEPUSTAKAAN • Alken P. • Tiselius H. 8th . Urological Guidelines. • Menon M. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Kambuh (residif) • Contracted kidney (ginjal mengecil) 11. Depkes RI-IDI. 157 . Diagnosis and Medical Management. Ackermann D.

SC > 2mg% tanpa kontras. Sedang. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu pielum/kaliks 5. UL. NOMOR ICD 2. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.N 20. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Nadi.II. Asam Urat darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 158 . Tekanan darah. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis berat/pada penderita kurus) Teraba tumor kistik. BATU URETER 1.1 : . Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/pada penderita kurus) 4. BUN/SC. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif.BATU URETER 3. SC <2 mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6.

TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Kombinasi Nephrectomy. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Contracted kidney (ginjal mengecil) • Kambuh (residif) 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. Nephrectomy atas indikasi khusus 10. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Ureterolithotomy 1/3 tengah dan 1/3 atas Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. B dan RS. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Ureterolithotomy Kombinasi Nephrostomy. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14-90 hari pascabedah) • Lain-lainnya tergantung instruksi operator 159 .8. Nefrostomy atas indikasi khusus 9.

2001. Ackermann D. Paris. American Urological Assosiation. Preminger GM. Resnick MI. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. 1998. Eddition 2003. Depkes RI-IDI. First International Consultation on Stone desease. KEPUSTAKAAN • Alken P.-G. 1997. Conort P. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. 17. infeksi. Gallucci M. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. Heath Care Office. Buck C. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. European Association of Urology. 160 . The Management of Ureteral Calculi. 8th . Treatment of Renal Stone. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Diagnosis and Medical Management. Urological Guidelines. • Segura JW. Urinary Lithiasis: Etiology. Assimos DG et al.(3). Stone Desease. 2003. Alken P. • IDI . Standar Pelayanan Medis. Cambell’s Urology. Guidelines on Urolithiasis. Vol. • Menon M.13. Batu Saluran Kemih. March 2004. infeksi. • Tiselius H. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik.. July 4-5.

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS : .III. BUN/SC.0 : .N 21. 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Laboratorium DL. Kultur urin dan BS acak untuk umur > 40 tahun • Radiologi BNO/BOF. Asam Urat darah. • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor.BATU KANDUNG KENCING . DIAGNOSIS BANDING : • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • PID untuk wanita dewasa 5. PERAWATAN RUMAH SAKIT : • Prabedah • Pascabedah 161 . Tekanan darah. SC < 2mg dengan kontras). • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan. Nadi. SC > 2mg% tanpa kontras. Sedang. IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. BATU KANDUNG KENCING DAN BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 1. Kurus) Lokal Teraba batu (apabila batu cukup besar/penderita kurus) 4. USG ginjal dan kandung kencing. UL.BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 3. NOMOR ICD 2. • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis. KONSULTASI : • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun). 6.

INFORMED CONSENT : • Diperlukan 12. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 162 . TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu/devertikel kandung kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Lithotripsy Vesicolithotomy Diverticulecthomy dan ambil batu Kombinasi 9. PENYULIT : • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1 hari pascabedah • Pelepasan kateter uretra setelah 7 hari pascabedah (pada vesicolithotomy) • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13.8. kombinasi cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. TEMPAT PELAYANAN : • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Vesicolithotomy. kombinasi dengan cystostomy atas pertimbangan khusus Diverticulecthomy dan ambil batu. kombinasi dengan cystostomy atas pertinmangan khusus • RS Kelas A dan B (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Vesicolithotomy.

1998. Stone Desease. 8th . fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Paris. 163 . infeksi. Ackermann D. Urological Guidelines. Guidelines on Urolithiasis. 18. • Tiselius H. Resnick MI.(3). • Menon M.14. Standar Pelayanan Medis. Conort P. PROGNOSIS • Baik 17.-G. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Cambell’s Urology. KEPUSTAKAAN • Alken P. Batu Saluran Kemih. 2001.. Eddition 2003. March 2004. First International Consultation on Stone desease. Vol. Heath Care Office. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu. Buck C. Treatment of Renal Stone. Urinary Lithiasis: Etiology. Alken P. Diagnosis and Medical Management. July 4-5. 2003. Gallucci M. infeksi. • IDI . Depkes RI-IDI. PATOLOGI • Batu analisa 15. European Association of Urology.

Kultur urin dan BS acak(untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. NOMOR ICD 2. Tekanan darah. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6. DIAGNOSIS BANDING • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • Batu kandung kencing 5.N 21. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS : .IV. BATU URETRA 1. UL. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. BUN/SC. Sedang. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Nadi. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 164 . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Kurus) Lokal Teraba batu pada uretra Teraba kandung kencing (apabila sisa urin/retensio urin/penderita kurus) 4.1 : .BATU URETRA 3. Asam Urat darah.

B dan RS. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Lubrikasi.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. vesicolithotomy Cystostomy atas indikasi retensio urin • RS Kelas A. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Cystostomy atas pertimbangan khusus Lithotripsy Kombinasi 9. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1 hari pasca-Lithotripsy • Pelepasan cystostomy catheter sesuai operator 13.8. drong batu kedalam/keluar kandung kencing dan pemasangan kateter uretra (dower catheter). PATOLOGI • Batu analisa 165 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 14.

TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 2001. July 4-5. Treatment of Renal Stone. European Association of Urology. Stone Desease. Guidelines on Urolithiasis. First International Consultation on Stone desease. Diagnosis and Medical Management.15. • Tiselius H. Depkes RI-IDI. Cambell’s Urology.. 8th .(3). 166 . March 2004. Eddition 2003. 1998. Batu Saluran Kemih. KEPUSTAKAAN • Alken P. Ackermann D. • Menon M. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Buck C. • IDI . Vol. PROGNOSIS • Baik 17. Alken P. Resnick MI. Urinary Lithiasis: Etiology. Standar Pelayanan Medis. Conort P. Gallucci M. Paris. Heath Care Office. 2003. Urological Guidelines. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. infeksi. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. infeksi.-G.

Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) : a. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 1. Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) e.V. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak 167 . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan IPSS (International Prostate Symptom Score). Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: i. Tekanan darah. UL. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) ii. NOMOR ICD 2. SC.7 gejala ringan Jumlah score 8-19 gejala sedang Jumlah score 20-35 gejala berat Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan memiliki nilai dari 0 sampai 5 sehingga total score maksimal 35 Jumlah score 0. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Perabaan prostat 1. Nadi. Melihat sekitar anus b. Pole atas (Mudah dicapai/Susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) c. Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4.N 40 : -BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 3. BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) d. DIAGNOSIS BANDING • Batu uretra • Sistitis • Batu kandung kencing 5. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. DIAGNOSIS : .

• • Radiologi atas indikasi medis Hematuria ISK Insufisiensi renal Riwayat batu saluran kencing Irwayat pembedahan saluran U-G BNO/BOF.5 ng/ml o Usia 50-60 tahun: 0-3. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.5 ng/ml Trans-Rectal Ultra-Sonography (TRUS) (optional) Urodynamic Study (Pressure. rentang kadar PSA dianggap normal berdasar usia o Usia 40-50 tahun: 0-2.5 ng/ml o Usia 60-70 tahun: 0-4. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) Pemeriksaan tambahan Uroflometri(optional) o Uroflo > 15 ml/detik kecil kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo < 10 ml/detik besar kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo 10-15 ml/detik sulit utuk mendeteksi obstruksi infravesical Postvoid residual urin (PVD) Prostate Specific Antigen (PSA). TERAPI • Tujuan Pola kencing normal/mendekati normal Mencegah komplikasi infeksi. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Dokter Spesialis Bedah) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka 168 . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.5 ng/ml o Usia 70-80 tahun: 0-6.Flow Studies) (optional) 6. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal • Medikamentosa Alpa-Blocker 5 Alpa-Reductase Inhibitor Fitofarmaka • Pembedahan TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) Prostatectomy 9.

PATOLOGI • Prostat 15. B dan RS. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka Pembedahan o TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) o TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) o Prostatectomy 10. Disfungsi ereksi 8. Water intoxication. Inkontinensia urin 4. Ejakulasi retrograde 11. PENYULIT 1. Kambuh (residif) 6. HASIL • Kencing normal/mendekati pola kencing normal 14.• Pembedahan o Prostatectomy RS Kelas A. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan kandung kencing baik 169 . Infeksi saluran kencing dan luka operasi 3. perforasi (khusus untuk TURP) 5. Pendarahan 2. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pascabedah • Pelepasan kateter uretra 3-5 hari pasca TURP • Pelepasan kateter uretra 5 hari pasca Prostatectomy • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. Striktura uretra 7.

Standar Pelayanan Medis. • IDI . Urological Guidelines. infeksi saluran kencing. 1998. 170 . Madersbacher S. Cambell’s Urology. 18. inkontinensia urin. Evaluation and Non-Surgical Management of Benign Prostatic Hyperplasea. • Sunaryo Hardjowijoto. Alivisator G. European Association of Urology. Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia BPH) di Indonesia.untuk mengetahui karsinoma prostat. Lowe FC . Vol. Basuki Bambang Poernomo.. 8th . Depkes RI-IDI. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. • Lepor H. March 2004. Akmal Taher. dkk. striktura uretra dan rectal toucher. et al . 2003. Guidelines on Benign Prostatic Hyperlasea. Pembesaran Prostat Jinak. 2003. tidak normal/inkontinensia • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. infeksi dan pola kencing untuk mengetahui kencing normal.17. disfungsi ereksi. Heath Care Office.(3). KEPUSTAKAAN • De la Rosseta J.

kekerasan dan nodul pada prostat yang mengarah pada karsinoma prostat: o Melihat sekitar anus o Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: iii. DIAGNOSIS : . Batu uretra b.KARSINOMA PROSTAT (ADENOCARCINOMA PROSTATE) 3. Nodul (Soliter/Multiple) 4. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) untuk mencari irigularitas.C 61 : . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan adanya keluhan karena pembesaran prostat dan metastase ke tulang pelvis. Fraktur patologis b. Pole atas (Mudah dicapai/susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2.VI. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) iv. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Perabaan prostat 1. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Nadi. NOMOR ICD 2. KARSINOMA PROSTAT (ADENO CARCINOMA PROSTATE) 1. Kandung kencing neurogenik 171 . Batu kandung kencing • Metastase tulang a. Sistitis c. Tekanan darah. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) o BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) o Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) o Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. collumna vetebra dan lain-lain Riwayat penyakit/keluarga adanya tumor saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. DIAGNOSIS BANDING • Pembesaran Prostat a.

Hematuria b. BNO/BOF dan USG Ginjal dan Kandung kencing b. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak PSA (kalau perlu Free PSA) • Radiologi a. Bone survey d. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. UL. Rh antagonis c) Subcapsuler Orchidectomy d) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) • Pembedahan atas indikasi obstruksi karena pembesaran Prostate Disobstruksi Prostat a) TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) b) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) 172 . Riwayat batu saluran kencing e. USG Transrectal(Optional) c. SC. SC > 2mg% tanpa kontras. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Metastase tulang IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan Ambomen(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif . TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Pola kencing normal/mendekati normal d) Mencegah komplikasi infeksi. SC <2 mg% dengan kontras) • Biopsi prostat dan pemeriksaan PA 6. Bone scanning (optional) • Radiologi lain atas indikasi medis a. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pengobatan dengan Hormonal a) Flutamid b) LH. Riwayat pembedahan saluran U-G f. Insufisiensi renal d.5. ISK c. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.

Obstruksi saluran kencing (hydronephrosis. Water intoxication dan perforasi (khusus untuk TURP) 7. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. Inkontinensia urin 3. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Striktura uretra 5. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 6. dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pasca TURP • Pelepasan kateter 3-5 hari pasca TURP • Lain-lain atas instruksi operator 13. 14. retensio urin) 11. Pendarahan 2.• • Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PATOLOGI • Prostat 173 . TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Pengobatan dengan Pemasangan kateter uretra (Dower catheter) apabila retensio urin Hormonal • RS Kelas A. Disfungsi ereksi 4. PENYULIT 1. B dan RS. HASIL • Kuratif Bebas tumor Dapat kencing normal/mendekati pola kencing normal Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pengobatan dengan Hormonal Pembedahan a) Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) b) Disobstruksi Prostat Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 10.

OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Standar Pelayanan Medis.15.(3). 19. infeksi saluran kencing. Heath Care Office.Abbou CC. 8th . Vol. 174 . Karsinoma Prostat. • Carter HB. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. European Association of Urology. Heidenreich A. Diagnosis and Staging of Prostate Cancer. Cambell’s Urology. infeksi dan pola kencing • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. fungsi ginjal dan rectal toucher. 2003. Depkes RI-IDI. Partin AW . Guidelines on Prostate Carcer. • Tumor residif/recurent dan metastase. Urological Guidelines. disfungsi ereksi Striktura uretra. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 1998. March 2004. KEPUSTAKAAN • Aus G. • IDI .

Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas satu sisi Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.VII. TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 1. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. Tekanan darah. BUN/SC. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 3. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. DIAGNOSIS : -C 64 : . NOMOR ICD 2. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. KONSULTASI • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup 175 . Nadi. UL.

TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. 14. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 176 . PATOLOGI • Tumor ginjal 15. B dan RS.• • • • Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. OTOPSI Tidak diperlukan 16. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13.

Depkes RI-IDI. Cambell’s Urology. Guidelines on Renal Cell Carcer. Urological Guidelines.Renal Tumor.17. Hillsten S. Cambell SC .(3). 2003. March 2004. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. European Association of Urology. KEPUSTAKAAN • IDI . • Mickisch G. Carballido J. 177 . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. infeksi. Standar Pelayanan Medis. 1998. Tumor Ganas Ginjal (Wilm’s). • Novick AC. 8th . et al .N. Vol.M) dengan CT Scan 18. Heath Care Office.

DIAGNOSIS : . UL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 3. Nadi. Tekanan darah. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. BUN/SC. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. • Radiologi BNO/BOF. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal 178 . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.VIII.C 64 : . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. NOMOR ICD 2. TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 1.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. B dan RS. OTOPSI Tidak diperlukan 16. 14. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10.• • • • Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 179 .

TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Hillsten S. 8th . March 2004. European Association of Urology. • Mickisch G. Cambell’s Urology. 180 . Depkes RI-IDI. • Novick AC. et al .M) dengan CT Scan 18. Carballido J. Vol. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.17. Tumor Ganas Ginjal (Grawitz). Cambell SC .(3).N. Standar Pelayanan Medis. 2003. Guidelines on Renal Cell Carcer. 1998. Heath Care Office. Urological Guidelines. KEPUSTAKAAN • IDI .Renal Tumor. infeksi.

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tampa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran kencing. Nadi. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. UL. BUN/SC. DIAGNOSIS BANDING • Hematuria oleh berbagai sebab • Blood clot retension oleh berbagai sebab 5. DIAGNOSIS : . NOMOR ICD 2.C 67 : .IX. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor 181 . Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. TUMOR KANDUNG KENCING(TRANSISIONAL CELL CARCINOMA) 1.TRANSISIONAL CELL CARCINOMA BULI-BULI 3.

HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dan pola kencing dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI Tidak diperlukan 182 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PATOLOGI • Tumor buli-buli 15. 14. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.B dan RS.• • • • b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan proses miksi dan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13.

2003. Tumor Ganas Buli. March 2004. KEPUSTAKAAN • IDI . efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. European Association of Urology. Heath Care Office. Depkes RI-IDI. infeksi. et al . Guidelines on Badder Carcer. 183 . • Jiminez VK. Surgery of Bladder Cancer.(3).16.N. Standar Pelayanan Medis. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Vol. Lobel B. Marshall FF . Urological Guidelines. 1998. Jakse G. 8th . • OosterlinckW. Cambell’s Urology.

UL. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tanpa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat gangguan fungsi usus/ileus Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran cerna dan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Nadi. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 184 . Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. NOMOR ICD 2.ADEO-CARCINOMA BULI-BULI 3. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.X. TUMOR KANDUNG KENCING(ADENO-CARCINOMA) 1. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. BUN/SC.C 67 : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS : . DIAGNOSIS BANDING • Masa solid abdomen bawah • Hematuria oleh berbagai sebab • Streng ileus dengan masa abomen bawah 5.

HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. 14. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tumor buli-buli 185 . PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13.8. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguang fungsi ginjal dan saluran cerna Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy partial Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. B dan RS. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.

Urological Guidelines. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. 8th . 2003. Lobel B. Depkes RI-IDI. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. 1998. Surgery of Bladder Cancer. • Jiminez VK. KEPUSTAKAAN • IDI . infeksi. et al . 186 . • OosterlinckW.15. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Marshall FF . Guidelines on Badder Carcer. Standar Pelayanan Medis. OTOPSI Tidak diperlukan 16.(3). March 2004. European Association of Urology. Tumor Ganas Buli. Heath Care Office. Jakse G.N. Vol. Cambell’s Urology.

PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.XI.C 60 : .EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA PENIS 3. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 187 . Sedang Kurus) Lokal Luka kronis/tumor cowly flower pada penis Teraba tumor solid mobil/fixed inguinal Pimosis 4. DIAGNOSIS BANDING • Veruca Vulgaris • Limfadenitis inguinalis • Limfadenitis veneralis (STD) 5. BUN/SC Biopsi luka/tumor pada penis • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS : . Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Luka kronis/tumor seperti bunga kol pada penis Pimosis pada orang dewasa/tua Pimosis dengan benjolan pada pelipatan paha Luka kronis dengan benjolan pada pelipatan paha Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. USG abdomen atas dan bawah 6. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. UL. Nadi. TUMOR PENIS (EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA) 1. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Thorax. NOMOR ICD 2.

kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator dilakukan deseksi kelenjar limfe 188 . TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node • RS Kelas A.8. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi kencing d) Mengusahakan mempertahan aktifitas sexual Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node Total penectomy dengan biopsi sentinal node Radical penectomy Deseksi kelenjar limfe inguinalis kanan dan atau kiri (atas indikasi khusus) • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Stenosis miatus uretra eksternus • Odema ekstremitas inferior (apabila inguinalis/radiotherapy) • Ruptura vasa femoralis • Kambuh (residif) 11. B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotherapy Radiotherapy Kombinasi 10. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.

Heath Care Office. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. HASIL • Kuratif Bebas tumor Pola kencing normal/mendekati normal Aktifitas sexual mendekati/tidak normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. 8th . • Lynch DF. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.N. 2003. 189 .13. Guidelines on Penile Carcer. Tumor of Penile.M) dengan CT Scan 18. • Solona E. Vol. 14.(3). OTOPSI Tidak diperlukan 16. 1998. Cambell’s Urology. Horenblas S. KEPUSTAKAAN • IDI . Pettaway CA . Urological Guidelines. Depkes RI-IDI. et al . Standar Pelayanan Medis. infeksi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. March 2004. PATOLOGI • Tumor penis prabedah (biopsi) • Tumor penis pasca bedah (radikalitas pembedahan) • Kelenjar limfe inguinalis 15. Karsinoma Penis. Algaba F. European Association of Urology.

UL. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase 190 . BUN/SC Beta HCG(Human Chorionic Gonadotropin). AFP(Alfa Feto Protein) • Radiologi BNO/BOF. Nadi. DIAGNOSIS BANDING • Orchitis • Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi • Torsiotestis 5.SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED TESTIS 3. DIAGNOSIS : . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Testis mengeras/ada benjolan Cryptorchism dengan masa abdominalis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Sedang Kurus) Lokal Teraba tumor solid pada testis Teraba tumor solid pada abdominalis pada penderita cryptorchism Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi 4. Tekanan darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. Thorax. TUMOR TESTIS (SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED) 1. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. USG abdomen atas dan bawah 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.C 62 : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.XII. NOMOR ICD 2.

14. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Radical orchidectomy inguinal approach • RS Kelas A.• • • • c) Mencegah gangguan fertilitas Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical orchidectomy inguinal approach RPLND(Retro-Peritonial Lymp Node Desectie) (atas pertimbangan khusus) Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) Radiotheraphy(PA Seminoma) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. PATOLOGI • Tumor testis • Kelenjar limfe retroperitonial 191 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. B RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fertilitas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. PENYULIT • Pendarahan • Gangguan fertilitas • Disfungsi ereksi • Infeksi luka operasi • Odema ekstremitas imferior (apabila dilakukan RPLND) • Kambuh (residif) 11.

PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Heath Care Office. 1998. Urological Guidelines.M) dengan CT Scan 18. Vol. OTOPSI Tidak diperlukan 16. March 2004. Standar Pelayanan Medis. • Laguna MP. KEPUSTAKAAN • IDI . infeksi. 2003. Cambell’s Urology. Mc Kiernan J Bosl G J . Guidelines on Testicular Carcer. Horwich A. 8th .(3). et al . 192 . • Sheinfeld J.15. European Association of Urology. Tumor Ganas Testis.N. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Klepp O. Surgery of Testicular Tumor. Depkes RI-IDI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis • Epididimitis kronis 5. INFERTILITAS PRIA (MALE INFERTILITY) 1.XIII. UL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. NOMOR ICD 2. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Belum punya anak setelah kawin > 1 tahun Nyeri testis bersangkutan Ada bentukan seperti cacing pada skrotum bersangkutan Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. Thorax.C 46 : . PENGOBATAN • Tujuan Perbaikan fertilitas Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Kadang-kadang 193 .VARICOCELE 3. Sedang Kurus) Lokal Kadang-kadang terlihat masa seperti cacing pada skrotum saat berdiri/tidur Teraba tumor kistik seperti cacing pada funikulus spermatikus Kadang-kadang testis bersangkutan lebih kecil dibanding testis yang normal 4. DIAGNOSIS : . Analisa sperma (atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. Nadi. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi pembedahan (untuk umur >40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.

C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. 194 . Heath Care Office. Male Infertility. PROGNOSIS • Tergantung Gangguan kwantitas dan atau kwalitas sperma suami Azoospermia Gangguan fertilitas istri Kombinasi 17. 8th . Guidelines on Male Infertility. Cambell’s Urology. Depkes RI-IDI. Urological Guidelines. et al . 1998.• a) Mengurangi/menghilangkan nyeri testis b) Mengecilkan/menghilangkan varicocele Pembedahan “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 9. Vol. Jungwirth A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. • IDI . • Sigman M Jarow JP .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 10. March 2004. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. HASIL • Kwantitas dan kwalitas sperma membaik/normal • Istri bisa hamil 14. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 2003.(3). Infertilitas. European Association of Urology. Wiedner W. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. Standar Pelayanan Medis. KEPUSTAKAAN • Dahle GR. analisa sperma dan kehamilan pada istri 18.B. PENYULIT • Infeksi luka operasi 11.

Sedang Kurus) Lokal a) Penis Miatus uretra ekternus subgladuler/ventral penis/penoscrotal/perinal b) Testis Kadang-kadang disertai cryptorhism/kelainan bawaan lainnya 4. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. NOMOR ICD 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. Thorax.Q 54 : . Nadi. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.HYPOSPADIA 3. DIAGNOSIS BANDING • Micropenis • Ambiguitas 5. DIAGNOSIS : . Tekanan darah.XIV. HYPOSPADIA 1. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Air kencing tidak keluar dari ujung penis (seperti pada umumnya) sejak lahir Penis bengkok/sembunyi pada skrotum Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. BUN/SC Tes “XY chromosom”(atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. PENGOBATAN • Tujuan Memperbaiki anatomi dan fungsi penis dan uretra Estetika/kosmetika penis Mencegah gangguan fertilitas pria 195 . UL.

fungsi. PENYULIT • Fistel “Urethrocutan” • Nekrosis kulit penis/tube plap • Infeksi luka operasi 11. HASIL • Anatomi. fungsi. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Buka bebat hari ke-5 • Buka splint uretra dan klem kateter sistotomi hari ke-10-12 • Buka kateter sistostomi satu hari setelah buka kateter sistostomi/bisa kencing lancar • Lain-lain atas intruksi operator 13. OTOPSI • Tidak diperlukan 16.B dan RS. adanya urethrocutan fistel • Anatomi. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. estetika/kosmetika penis dan uretra • Fertilitas (Analisa sperma. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan 10. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. estetika/kosmetika penis dan uretra baik/normal • Fertilitas baik/normal 14.Kehamilan istri) 196 . TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi.• Pembedahan MAGPY Procedure Chodectomy-Urethroplasty (satu tahap) dengan/tanpa Nesbit Procedure Ducket’s Procedure (Prepotiale tube flap urethroplasty) 9. PROGNOSIS • Tergantung Lokasi miatus uretra eksternus Berat-ringannya chordae Status gizi pasien Ada/tidaknya kelainan bawaan lainnya 17.

Standar Pelayanan Medis. Pediatric Urology : Hypospadias. KEPUSTAKAAN • IDI .18. European Association of Urology. Depkes RI-IDI. 197 . • Retik AB. 1998. Urological Guidelines. March 2004.(3). et al . Androulakakis P. 8th . Heath Care Office. Hypospadias. Hypospadia. Vol. Beurton D. 2003. Cambell’s Urology. • Reidmiller H. Borer JG.

NOMOR ICD 2. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasi/diaphonoscopy positif pada skrotum Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis 5. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.5 : . BT. Thorax. HYDROCELE ANAK-ANAK (CONGINITAL) 1. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy inguinal approach 198 .HYDROCELE CONGINITAL 3. DIAGNOSIS : . USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/membesar sejak lahir kadang-kadang bisa mengecil saat tiduran Skrotumnya ada air didalamnya sejak lahir Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.CT • Radiologi BNO/BOF. Tekanan darah. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8.P 83.XV.

2003.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain atas intruksi operator 13. 199 . Hidrokel Testis. Cambell’s Urology. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. 8th . PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi 11. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Fertititas setelah dewasa/kawin 18. PROGNOSIS Baik 17. Bellinger MF. Vol. KEPUSTAKAAN • IDI . OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. • Schneck FX. Depkes RI-IDI.B.9. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14.(3).Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. 1998. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. Standar Pelayanan Medis.

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. UL. BUN/SC • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/mebesar setelah dewasa Skrotumnya ada air didalamnya setelah dewasa Riwayat infeksi/imflamasi/trauma daerah skrotum/testis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasidiaphonoscopy positif pada skrotum. NOMOR ICD 2. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. Thorax. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy/Marsupialisasi 200 .HYDROCELE AQUARED 3. Nadi.N 43 : . DIAGNOSIS : . kadang-kadang transiluminasi negatif apabila sudah terjadi inlamasi/infeksi pada hydrocele Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. KONSULTASI • Dokter Spesialis Kardiologi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Tumor testis 5. HYDROCELE DEWASA (AQUARED) 1. Tekanan darah.XVI. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.

Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management.(3). KEPUSTAKAAN • IDI . Bellinger MF. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Melihat kekambuhan 18. Depkes RI-IDI. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. Vol. Standar Pelayanan Medis.9. 201 .B. PATOLOGI • Tidak diperlukan • Diperlukan (atas pertimbangan khusus) 15. 2003. 8th . PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi • Kambuh(residif) 11. Hydrokel Testis. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. • Schneck FX. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PROGNOSIS Baik 17. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. Cambell’s Urology. 1998.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi.

dll. 4. suara serak. EKG 202 .1. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. Pemeriksaan Penunjang : a. Torakoskopi.FH. USG abdomen. identasi pleura. efusi pleura. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. RFT. pembesaran KGB supraclavicula. f. efusi fleura. Fungus Ball. batuk darah. tumor satelit.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. Tumor Mediastinum. b. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. Diagnosis Banding : a. Pemeriksaan Laboratorium. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. (Bila ada indikasi) Brain CT. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. core biopsi. lymphangitis spreeding. penekanan bronkus. benjolan di pangkal leher. sulit/sakit menelan. iii. menyisihkan kelainan lain. invasi tumor kedinding dada. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. adanya fraktur patologi. Kriteria Diagnosis : a. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. sembab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. dll. untuk metastasis ke tulang. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. washing lavage. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. 5. penekanan vena kava superior. trombosis vena. sesak nafas. iv.9 2. dll. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. atelectasis. b. DL. sakit dada. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. ICD : C 34. e. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. Diagnosis : Kanker Paru 3.faal paru. Sitologi Sputum ii. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. b. pembesaran hepar. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. AGD. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. atelektasis. TBLNB. d. bila tumornya besar. vi. pembesaran KGB mediastinum. c. dengan stadium lanjut bisa lebih imformatif seperti . nafsu makan hilang demam hilang timbul. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. Pemeriksaan Lain i. neuropati. LFT. CT .

Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. Supportif therapy sama 9. Atelektasis b. Ruang perawat ii. :: Free & Post Op : Operasi 203 . Lab Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Imiunoterapi e. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Konsultasi : a. ICU/ICCU iii. Kompresi esopagus f. hemoptisis. Fleural efusi e. Kemoterapi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. Respiratory failure 11. Inform Concern : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. Hormonoterapi f. Tempat pelayanan : a. Terapi Gen g. Hemoptisis d. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Dokter Spesialis Paru b. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. 8. Pembedahan Indikasi pembedahan i. Obstuksi jalan nafas c. Penyulit : a. RS tipe A i.6. Dokter Spesialis Anasthesi d. d. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Upper Airway obstruction. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. ii. RS tipe B Plus b. b. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). treparasi oleh SOL. OK 10. 5 hari per minggu c.

Dokter Spesialis Paru b. Lama Perawatan 14. Masa Pemulihan 15. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR Stage II Stage III Stage IV 57 – 67 % 22 – 34 % 3 – 21 % 1 %. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) 13. Autopsi 18. Tenaga Standar : a. 204 . Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c.12. Patologi 17. Hasil 16.

core biopsi. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. efusi Pleura. f.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. b. Diagnosis Banding : a. tumor satelit. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. atelektasis. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. menyisihkan kelainan lain. b. b. sembab muka dan leher. sakit dada. nafsu makan hilang demam hilang timbul. TBLNB. Torakoskopi. Tumor metastase (Kanker Paru Sekundair) 5. penekanan vena kava superior. Pemeriksaan Laboratorium. penekanan bronkus. 4. dll. benjolan di pangkal leher. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. Bila tumornya besar. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. adanya fraktur patologi. d. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. iv. atelectasis.faal paru. AGD. c. batuk darah. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. untuk metastasis ke tulang. Pemeriksaan Lain i. suara serak. c. Pemeriksaan Penunjang : a. dengan stadium lanjut tanda-tanda bisa lebih informatif seperti . Diagnosis : Kanker Paru 3. 205 . washing lavage. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. LFT. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. Kriteria Diagnosis : a. dll. pembesaran KGB mediastinum. trombosis vena.FH.1. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. untuk mengetahui metastase di hepar dan tempat atau organ lain.9 2. lymphangitis spreeding. pembesaran hepar. sesak nafas. iii. sulit/sakit menelan. ICD : C 34. DL. neuropati. e. (Bila ada indikasi) Brain CT. Tumor Mediastinum. identasi pleura. dll. USG abdomen. Sitologi Sputum ii. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. CT . Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. RFT. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. invasi tumor kedinding dada. efusi pleura. pembesaran Kelenjar Getah Bening (KGB) supraclavicula. Fungus Ball.

Tempat pelayanan : a. hemoptisis. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Dokter Spesialis Paru b. Biopsi kelenjar lymphe supraclavicula atas biopsi paru terbuka (thoracotomy). • Untuk tindakan pembedahan pengangkatan tumor. Ruang perawatan : Pre operative ii. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. Upper Airway obstruction.vi. Immunoterapi e. Kemoterapi bekerja sama dengan pulmonologi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. EKG 6. Konsultasi / bekerja sama dengan : a. Supportif therapy 9. 5 hari per minggu atau bekerja sama dengan spesialis Radiotherapi. Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Karnovsky index rendah (<50%). 8. RS tipe A i. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. iii. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Terapi Gen g. thoracoscopy (VATs). Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Pembedahan Indikasi pembedahan i. mediostinoskopi. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. ICCU : Post Op iii. ii. OK : Operasi 206 . Perawatan RS : • Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. c. Bag. trepanasi oleh karena SOL dengan deteorasi neurology. Dokter Spesialis Anasthesi d. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. b. RS tipe B Plus b. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. Hormonterapi f. d.

Tenaga Standar : a. Atelektasis b. Masa Pemulihan 15. Weisen Burger TH : Definitive Radiotherapy and Combined Modality Therapy for In operable NSCLC : In …………………Hal 164 – 180 5. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) d. Obstuksi jalan nafas c. Binsburg R. Penyulit : a. Ruck deschel. P : Preoperative and Postoperative Therapy for NS CLC in ………………… Hal : 147 -146 4. Water PF : Surgery for Non Small Cell Lung Cancer in …………………. Penurunan kesadaran i. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR 57 – 67 % Stage II Stage III Stage IV 22 – 34 % 3 – 21 % 1% Kepustakaan : 1. Dokter Spesialis Paru b. Bonomi. Fraktur patologis h. Martin N. Informed Consent : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Prentice Hall International. Dokter Spesialis Rehab Medik 13. 1996 : 421 – 444. Lama Perawatan 14. Dokter Spesialis Anesthesi e. 1995. WB Saunders Company. 26 – 48. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c.al. Wagner H.J Goldber. By Roth. Weisenburger. Gangguan hepar 11. Phyladelphia.10. 207 . 12. by Arthur E Bauc et. Jr . Hasil 16. 2. Hal : 124 – 146 3. Hemoptisis d. London. Doyle LA Aisner J : Clinical Presentation of Lung Cancer in Thoracic Oncology II ed. Burt. Patologi 17. Pleural efusi e. M. in Glenn’s Thoracic and Cardiovascular Surgery sixth ed. Autopsi 18. Ginsberg RJ : Surgical Treatment Of Lung Carcinoma. Respiratory failure g. Kompresi esopagus f.

Laboratorium . Debridement. mutilasi. Konsultasi : a. Buerger Disease. Perlu untuk tindakan debridement dan pembedahan lain serta pemberian insulin regulasi cepat. iii. LFT. UL. Kriteria Diagnosis : Ulkus/Gangren DM adalah kematian jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (nekrosis iskemia) akibat penyakit arteri prifir oklusi (micro dan macroangiopaty) yang menyertai penderita DM. c. Revaskularisasi arteri tungkai (bypass) b.Toe Pressure. ICD : E 14. Amputasi (digiti –TMA – BKA & AKA) iv. Dokter Spesialis terkait dengan komplikasi DM 7. 208 . Pengendalian gula darah. Diet & exercise. ii. d. Diagnosis Banding : a.5 2. Incisi Drainage iii. Pemeriksaan adanya neuropati : (Bila ada) Dengan Semmes Weinstein Monofilament Wire/Biothessiometer c. ABI < 0. Pemeriksaan integritas vaskuler Terdapat claudicasio intermitten dan restpain. Antibiotika sesuai dengan kultur. Ulkus Varikosum. Wound toilet. BUN / SC 6. Ulkus/Gangren ini dapat diikuti invasi bakteri sehingga terjadi infeksi. b. 4. b. 8. e. Diagnosis : Ulkus/Gangren Diabetikum 3. Terapi : a. iv. Rontgen foto : Melihat adanya Osteomyelitis dan soft tissue swelling + gas subcutan f. Perawatan RS : a. Pemeriksaan Penunjang : a.8 (ankle brachial index). Repair deformitas kaki v. DL. Ulkus Tropikum.1. FH. c. tekanan darah kedua tungkai. necrotomy ii. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan endokrin. Dokter Spesialis Anesthesi. DM menurut WHO GD Acak > 200 mg/dl GD Puasa > 140 mg/dl b. d. Pemeriksaan kultur / sensitivitas kuman. PAPO (penyakit arteri perifer oklusive) 5. Derajat dan luas infeksi memakai klasifikasi Wagner. Pembedahan i. Non Bedah i.

10. Tenaga Standar : a. in Vascular Surgery theory and practice ed by Allan D Callow. c. berbagai manifestasi klinis akibat DM. Marcaccio.Tindakan pembedahan dapat mempercepat masa perawatan. Masa Pemulihan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus serta jenis tindakan. Sepsis d. 2. b. Patologi : Tidak perlu. Kelainan organ lain akibat angiopaty diffuse + neuropaty diffuse. b. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk debridemen. 11. OK untuk tindakan operasi. 18. Mueller MP. Sembuh tanpa cacat b. Lama Perawatan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus/infeksi (Wagner Classification) semakin besar semakin lama perawatannya.9. 17.. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Klein SR : Diabetes and Peripheral vase dissore in Vascular Sergery dst ……. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Konsultan endokrin d. Gibbons. Kepustakaan : 1. c. Hal 514 – 522 209 . Hasil : a. b. Wright J. 15. Mengancam jiwa jika terjadi gas gangren dan sepsis. Reamputasi > 20% c. 16. Ruang perawat biasa. Sepsis prognosenya jelek. Penyulit : a. 14. 12. Tempat pelayanan RS Type A.B dan RS yang ada ICU : a. Gas gangren c. Resiko amputasi 85% bila ada infeksi serius. Wagner III ke atas. Prognosa : a. Habershaw : Management of the Diabetic Foot. Sembuh dengan cacat tetap akibat amputasi. Informed Consent : Perlu lebih-lebih bila dilakukan amputasi. Dokter Spesialis Anasthesi 13. Prentice Hall International. Osteomielitis b. Autopsi : Tidak perlu. London. ICU bila ada komplikasi. 1995 : 167 – 180.

3 ix. Torakosentesis e. Leukosit > 50% linfosit > 15 000 sel/mm3 viii. Pemeriksaan Fisik Takipnea.perkusi dullness. LDH > 200IU vi. 3.6 vii. d. Konsultasi : a. pH < 7. UL. Dokter Spesialis Anesthesi 7. Dengan pemeriksaan cairan pleura menunjukan eksudat yaitu : i. Chilo thorax e. DL. Rasio dg LDH plasma > 0. Pemeriksaan Penunjang : a.9 2. USG d. c. ICD : J.5 iv. Diagnosis : Empiema Toraks. Gejala Klinis Nyeri dada. FH. Tes Rivalta (+ ) ii. berat badan menurun. 86. Protein > 3 g/dl iii. Abses paru d. Foto polos toraks AP/lateral b. Anamnesis Empiema Toraks atau Pyothorax adalah pengumpulan nanah atau pus didalam rongga pleura. CT Scan toraks c. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru c. malaize. temperatur tubuh meningkat. BUN / SC 6. Diagnosis Banding : a. Multiple thoracosintesis dan pemberian AB intra vena 210 .penurunan suara nafas sisi sakit. Berat jenis >1016 v.1. Perawatan RS : a. panas. LFT. Malignant pleural effusion 5.empiema necessitans (erosi dinding dada akibat abses dinding toraks). b.kadangkadang sputum purulent bila ada fistel bronchopleura. pergerakan dada terbatas. Perlu bila akan dilakukan pemasangan Chest tube dan WSD dan dekortikasi. 4. Glukosa < 40 mg/dl e. Dokter Spesialis Paru b. Dapat terjadi sebagai akibat komplikasi pneumonie (parapneumonic empyema) tindakan pembedahan. sesak nafas. Pleural effusi c. batuk. Kriteria Diagnosis : a. Laboratorium pemeriksaan cairan pleura. Rasio dengan protein plasma > 0. cultur dan sensitivitas test. Pnemonia b. Pemeriksaan Bakteriologi Menunjukan hasil (+ ) kuman pada cairan pleura. b. trauma dll.

OK pemasangan Chest Tube dan tindakan. Tempat pelayanan : a. Terapi : Dasar terapi empiema toraks adalah a. Ruang rawat biasa b. Penyulit : a. Dokter Anesthesi 13. Pemberian antibiotika untuk eradikasi kuman sesuai dengan kultur sesitivitas. Lama Perawatan : 7 – 14 hari 14. Baltimore. Mengeluarkan nanah b. 9. 16. Shields. Autopsi : Tidak perlu. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. TW : Para Pneumonic empyema in ……………. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. 674 – 683 2. Tenaga Standar : a. Informed Consen t : Perlu 12. 18. 17. Obliterasi rongga empiema c. Deformitas diding dada dan scoliosis 11. Fibrotoraks d. Prognosa : Tergantung fase penyakitnya saat ditemukan pertama kali. Hasil : Sembuh bila diterapi cepat dan tepat.. Light RW : The Physiology of Pleural Fluid Production and Benign Peural effusion in General Thoracic Surgery ed by W Shields T.hal 684 . Dokter Spesialis Paru d. Patologi : Tidak perlu.W. Empiema necessitan c.693 211 . Kepustakaan : 1. Broncopleural fistel b. 10.8. Fourth ed Vol 1 William & Wilkins. Sepsis e. 1994.

Diagnosis : Pleural Efusi Maligna 3. pleuro abdominal shunting. Foto polos toraks PA/lateral. dengan hasil eksudat. Empiema toraks b. Apabila tumor primer ditemukan diluar paru. Gejala Klinis Sesak nafas. f. 90 2. Pengobatan kausal disesuaikan dengan tumor primernya. maka efusi pleural maligna termasuk stage IV. 212 . b. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru d. gejala ini sangat tergantung dari jumlah cairan dalam rongga pleura. pemasangan chest tube. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura. Efusi pleura karena sebab lain d. 8. Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui tumor primer. Terapi : Efusi pleural maligna mempunyai 2 aspek penting dalam penatalaksanaannya yaitu : a. c. Konsultasi : a. e. pleurodesis. CT Scan toraks . Bronkoskopi. b. Pemeriksaan Fisik Gerakan diapragma berkurang . Pemeriksaan Penunjang : a. Tumor solid intra pleura 5. Pengobatan lokal. 6. Sebaiknya dilakukan setelah cairan dikeluarkan maksimal. batuk. maka efusi pleura maligna itu di anggap berasal dari paru. nyeri dada. perkusi redup dan suara nafas melemah pada sisi toraks yang sakit. Abses paru c. 4.dada terasa penuh. efusi ini termasuk gejala sistemik metastatik tumor tersebut dan pengobatan disesuaikan dengan tumor primernya. Kriteria Diagnosis : a.deviasi trakea dan atau jantung kearah kontra lateral. biopsi transtorakal. Dokter Anasthesi untuk operasi 7. Kemungkinan ditemukan keganasan organ lain di luar paru. USG toraks dan torakotomi explorasi perlu dilakukan untuk menegakan diagnosis.1. Namun bila tumor primer diluar paru tidak ditemukan. Diagnosis Banding : a. Dokter Spesilis terkait dengan tumor primernya c. Berupa punksi. b. fremitus suara melemah. Sitologi cairan pleura/biopsi pleura : dengan hasil positif sel ganas. Pengobatan kausal. Anamnesis Adanya cairan kemerahan/darah atau serosanguinus didalam cavum pleura secara berlebihan > 50 ml dengan didapatkannya sel ganas didalam cairan pleura atau biopsi pleura. c. d. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tujuan terapi dan mencari sumber keganasan. Dokter Spesialis Paru b. Bila tumor primernya berasal dari tumor paru. ICD : J.

Penyulit : a. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Dokter Spesialis anesthesi 13. Bila berasal dari paru maka dianggap kanker paru stadium III keatas Kepustakaan : 1. b. Informed Consent : Perlu 12. 17. Hasil : tergantung respon terapi dari tumor primernya 16. b. Tempat pelayanan : a. 18. Sahn. Prognosa : a. OK : pemasangan chest tube dan WSD 10. Masa Pemulihan : 3 – 7 hari 15. Patologi : Perlu.9. 1995. Efusi berulang. c. Respiratory distres 11. Tergantung respon terapi dari tumor primernya. New York. Empiema toraks. Rusch. Autopsi : Perlu bila diagnosa tidak jelas. SA : Malignant pleural effusion in General Thoracic hal 757 – 797 2. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru e. 1003 . VW : Pleural Effusion : Benign and malignant in Thoracic Surgery ed by F Griffith Pearson. Ruang perawatan (normal). Tenaga Standar : a. Churchill Living Stone. Dokter Spesialis Paru d. Lama Perawatan : 3 – 7 hari 14.1016 213 . b.

Foto polos toraks (PA/lateral). batas tak jelas. Biopsi (PA). gambaran dan globulin 6. 9. 214 . c. b. tulang rawan. Test fungsi paru g. fixed dengan dasar ikut pergerakan respirasi.1 2. Dokter Spesialis Paru b. CT Scan toraks c. e. Rhabdomiosarkoma dan Ewing sarcoma. soft tissue lainnya. Pembedahan (Reseksi diding dada dan rekonstuksi) merupakan first line treatment dikombinasikan dengan kemoradioterapi (bila ada tumor ganas berasal dari tulang).1. c. Lab lengkap i. Diagnosis Banding : a. Defornitas dinding dada oleh kelainan congenital. colon. ICD : C. tulang. Bone merrow aspirasi k. 8. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan Hematology / Onkology Medik c. Tumor jinak : reseksi dan bila perlu rekonstruksi. f. Untuk kasus-kasus unresectable dipertimbangkan pemberian radioterapi. 4. j. Diagnosis : Tumor Dinding Dada. Tumor bisa primer dan metastatik. OK : bila perlu operasi. bila tumor < 4 cm langsung di Excisi dan Frozen Section. 3. kemoradioterapi merupakan pilihan pertama. syaraf. Massa : Berbentuk. Ruangan biasa. b. Pemeriksaan Penunjang : a. adanya massa di dinding dada disertai dengan reffered pain atau nyeri lokal. bila kecurigaan dari tulang. tiroid. dapat berasal dari beberapa elemen-elemen histologis dari dinding toraks yaitu otot. Kriteria Diagnosis : Tumor yang muncul di dinding dada. 5. MRI d. Bone Scaning. Bunce Jones protein. Analisa gas darah h. b. b. ada riwayat trauma ringan dengan fraktur fatologis. bila > 4 cm dilakukan FNAB/Incisional Biopsi. mamma. Konsultasi : a. Terapi : a. Keluhan dan gejala : Sering tanpa keluhan (asimptomatik). Defornitas dinding dada oleh inflamsi. Perawatan RS : Perlu untuk persiapan pembedahan. Yang paling sering menimbulkan tumor metastatik kedinding dada adalah urogenital. Tumor primer sebagian kecil jinak. d. Dokter Spesilis Anasthesi 7. ICU post operasi. 76. Selektif angiografi bila tumor dekat/berada di axila. Tempat pelayanan : a. bila ada residual tumor dilakukan reseksi.

durante operasi dapat dikerjakan FS. 17. 1996 : 593 608 215 . London. Autopsi : Tidak perlu dengan excisi luas. Rekonstruksi dinding dada dan keterbtasan respirasi.14 hari 14. Sixth ed Vol II ed by Athur E Baue Prentice-Hall International Inc.10. Penyulit : a. MC Carmack PM : Chest Wall Tumors in Glemis Thoracic and Cardio Vascular Sergery . b.. Lama Perawatan : 7 . Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler b. 12. Dokter Spesialis Anasthesi (untuk perawatan post operasi) 13. Patologi : Perlu. 3. Informed Consent : Tertulis bila dilakukan operasi.hal 589 – 597. Dokter Spesialis Paru (bila invasi ke paru) c. Dokter Spesialis Jantung (bila invasi kejantung & pembuluh darah) d. 11.. Idem : Chest Wall Reconstruktion : In General Thoracic Surgery …. Hasil : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren 16. Tenaga Standar : a. 18. Pailorelo PC : Chest Wall Tumors : In General Thoracic Surgery …. Prognosa : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren Kepustakaan : 1.hal 579 – 588. 2. Invasi keorgan-organ intra toraks. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. c. Depormitas dengan kecacatan.

DVT d. Duplex Scan. ICD : 183. thrombophlebitis. Ligasi dan stripping. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi dan untuk operasi. Babcock extractie/stab avulsi. Compression therapy. Ulkus yang tak sembuh-sembuh. Ruang rawat biasa. Bedah i. High Ligasi ii. b. OK untuk tindakan operasi. iv. sakuler atau silindris vena-vena superfisial menyeluruh atau segmental termasuk teleangiektasis pada tungkai. Kriteria Diagnosis : Pelebaran abnormal. Penyulit : a. Aneurysma vena 11. Konsultasi : Dokter Spesilis Anasthesi untuk operasi. Terapi : a. Symptomatis pasta lasar. Excisi ulcus + skingraft 9. Informed Consent : Perlu bila operasi. b. chronic venous insuffi ciency (CVI) 4.1. Tempat pelayanan : a. c. b. iv. Medikamentosa flavunoid. berat. Doppler USG. Diagnosis Banding :- 5. hisperidine diosmin. ii. Diagnosis : Varices Tungkai. cepat lelah. iii. Sclerotherapy. Perdarahan c. 10. iii. 7. Bi pedal phlebografi 6. Gejala dan tanda tergantung stadium Stadium I pegel. b. Pemeriksaan Penunjang : (bila ada alat) a. d. Non Bedah i. Stadium IV Ulkus varikosum. Stadium II Venaectasis Stadium III Gejala & tanda varises tampak jelas. 216 . 3.9 2. Airplathysmography. 8.

Bisa berulang bila masih ada pengisian vena yang inkompeten. Baik bila belum ada komplikasi. Hasil : Sembuh 16. Masa Pemulihan : 4 – 5 hari 15. c. Patologi : Tidak Perlu. 217 . second ed by Frank J Veith. in Vascular Surgery Principles and pratice. 1994 : 841 – 851 2. William RA : Vasicose Vein. New York. GH : Chronic Venous Insufficiency : in Vascular Surgery Principles and pratice. White. Autopsi : Tidak perlu. 1994 : 865 – 888. 17. Mc Graw – Hill Inc. Prognosa : a.12. Nordestgaard AG. b. second ed by Frank J Veith. Tenaga Standar a. New York. 18. : Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler Dokter Spesialis Bedah Vaskuler 13. Kepustakaan : 1. Mc Graw – Hill Inc. Lama Perawatan : 2 – 3 hari 14. b.

Arteriografi d. Dokter Spesialis Bedah Plastik bila perlu Rekonstruksi. Radiasi Tempat pelayanan : a. Cryo surgery iii. Diagnosis Banding : a. makula/papula merah. Medikamentosa i. c. KGB (kelenjar getah bening). Konsistensi padat./merah tua dengan halo. Kriteria Diagnosis : a. Pemeriksaan Penunjang : a. Excisi . AVM c. 7. a. MRI c. 4. Dokter Spesilis Anak bila ada ganguan hemostasis koagulapati.0 2. Ruang radiologi untuk radiotherapy 9. d. tumor atau kombinasi. teleangiektasis.1. Embolisasi / Scleroterapi d. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi (life threatening) dan pembedahan 8. b. biasanya dengan klinis saja sudah cukup. 3. OK bila perlu operasi / tindakan bedah c. Pembedahan i. Dokter Spesialis Anasthesi bila akan dioperasi. Dokter Spesialis Radioterapi bila perlu Raditherapy. ICD : D. 218 . 6. lembek. Diagnosis : Hemangioma. Bentuk kubah plaque. CT dengan contras b. Lesi dibawah kulit lymphangiomacystika. 5. Konsultasi /team : a. b. Fase Proliferasi (sejak lahir – 12 bulan) Kulit pucat. Interferon c. Laser surgery ii. Kelainan Vena seperti kista. meluas dan lebih merah seperti buah strowberry saat menangis. Fase involusi (sampai dengan umur 7 – 12 th) Menipis secara sentrifugal mulai dari sentral. Ruang rawat biasa b. Katiko steroid ii. Terapi : Biasanya sebagian besar regresi spontan pada usia 5 – 8 tahun. b. Histo Patologis Atas indikasi kuat. seperti spon. dikerjakan pada fase involusi untuk mengurangi resiko perdarahan dan kerusakan struktur vital. b. kosistensi lebih compressable. 18.

HH.324 219 . Perdarahan. Feinberg RL : Vascular Anomalies & Acquired Akteriovenons Fistulas . CHF dan trombositopenia e. Penyulit : a. d. Prognosa : a. Angka rekurensi masih tinggi setelah pembedahan. 1995. Patologi : Perlu. Facial distrorsi b. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. visus. b. Prentice –Hall International Inc London. Regresi spontan sebelum umur 12 tahun. 15. 11. Dean et al. 309 . pernafasan. 18. Tront III. Ed by : Richard H. 12. Mengalami keganasan Informed Consent : Perlu bila ada tindakan. 14. Dokter Spesialis Bedah Umum ( excisi ) b. Dokter Spesialis Bedah Vaskuler d. Kepustakaan : 1. Autopsi : Tidak perlu. Ist ed. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Anasthesi Lama Perawatan : 2 – 7 hari Masa Pemulihan : 2 – 7 hari Hasil : Mudah timbul residif bila excisi tidak komplit. c. Mengganggu fungsi menelan. 17. infeksi. 16.10. 13. in Current Diagnosis & Treatment in Vascular Surgery. mendengar dsb. ulkus.

Bronkopleural Fistel b. ii. ICD : J. b. 9. Anannesis Adanya udara bebas dalam rongga pleura yang bukan disebabkan oleh faktor trauma. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat Paru c. Perawatan RS : Perlu bila akan diambil tindakan. 5. 3. hipotensi dan pucat bila tension pneumothorax. Ruang dengan observasi fungsi respirasi pra bedah b. 4. hipersonor. Kriteria Diagnosis : a. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu tindakan operasi. : Foto polos toraks. 220 . d. berkeringat. 93. Konsultasi / team : a. Empyema thoraks Informed Consent : Perlu bila diambil tindakan 7.Tahikardi. Diagnosis Banding Pemeriksaan Penunjang : Emphysema bulosa paru. OK (bila dilakukan tindakan bedah) Penyulit : a. 8. Foto thoraks tidak dibenarkan pada tension pneumothorax. Open thoracostomy dengan WSD ii. Neonatal c. 10. Skunder : Akibat penyakit paru yang mendasari serta kelainan diluar paru iii. Faktor penyebab i.1. Diagnosis pasti dengan foto toraks AP adanya paru kolap dan bayangan udara (radiolusen) pada rongga dada. i. Observasi ii. 9 Diagnosis : Pneumothorax spontan. CT Scan Toraks. Terapi : a. ICU/RTI c. Non Bedah . Closed thoracostomy (WSD) b. 6. 11. Bila ada alat VATS maka dikerjakan VATS Tempat Pelayanan : a. Needle aspiration iii. Dokter Spesilis Paru b. Primer : Ruptur subpleura bleb. Bedah .Tanda lain penurunan suara nafas. Keluhan dan tanda-tanda Terjadi mendadak berupa nyeri dada. sesak nafas dan batuk dari ringan sampai berat. i. Bila Recurrent (≥ 3 kali berulang)→ thoracotomy repair fistule iv. Tension pneumothorax c. 2. Bila persisten (menetap ≥ 4 hari)→ thoracotomy repair fistule iii. tanpa adanya Penyakit paru yang mendasari.

Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. Tenaga Standar : a.673 221 . 14. 662 . Paape K : Pneumothorax in General Thoracic Surgery Fourth ed Vol 1 ed by Thomas W Shields. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat paru e. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu thoracotomy Lama Perawatan Masa Pemulihan Hasil Patologi Autopsi Prognosis : 2 – 7 hari : 2 – 7 hari : sembuh bila tidak ada penyakit paru yang mendasari : Perlu bila perlu operasi thoracotomy : Perlu bila meninggal tak wajar : Baik Ada resiko berulang pada penderita yang mengalami pneumothoraks secunder. Dokter Spesialis Paru d. ed by F Griffith Pearson. Kepustakaan : 1. 13. 15. Beauchamp. 1037 – 1054 2. New York 1995. Dokter Spesialis Bedah Umum pemesangan Chest Tube b. 16. 17. Fry WA. 1994. Churchill Livingstone. Williams & Wilkins Baltimore. 18.12. G : Spontaneous Pneumothorax and Pneumoneediastinum in Thoracic Surgery.

Kardiomegali dengan kelainan jantung intra kardial. Terapi causal lainnya 222 . Infeksi terutama TBC/imflamasi lain vi. terasa berat didada sakit tidak spesifik seperti suara jantung menjauh. Diagnosis Banding : a. SLE dan kelainan sistemik lainnya c. 5. Sitologi / Histopatologi 6. Uremia ii. gagal jantung kanan akut. Ekokardiografi : melihat cairan intra pericardium dan kelainan jantung. bila belum tamponade perawatan konservatip diruang biasa (observasi) 8. Kateterisasi jantung : perlu pada kelainan jantung. Pemeriksaan Penunjang : a. Perikardiosentesis b. COPD. Keluhan dan tanda-tanda : Sesak. EKG : Low voltage. Foto Toraks : i. Post operasi jantung v. Neoplasma iii. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah b. Foto toraks : melihat adanya pelebaran mediastinum atau CT ratio > 50% b. Water bottle ii. PR depresi f. perikarditis konstriktiva/sicca.1. Kortiko Steroid kalau perlu c. Tamponade akut : Tension pneumothorak. b. Perawatan RS : Perlu bila menunjukkan tanda-tanda tamponade. 3 2. a. Globular shape e. Antiinflamasi (NSAID) b. b. Lab : DL. Kriteria Diagnosis : a. pulsus paradoxus. 4. Dokter Spesialis Anasthesi c. d. Post infark miokard (Dressler’s syndrome) iv. Bila gagal. Ekokardiografi : Echo free space dan dapat dihitung jumlah cairan. area pekak jantung melebar pada tamponade maka Trias Beck’s lebih jelas yaitu suara jantung menjauh. Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung 7. c. Definisi : Akumulasi abnormal cairan di rongga perikardium. Penyebab : i. a. hipotensi dan distensi vena leher (CVP ↑). ST elevasi difus. ICD : I 31. d. Diagnosis : Efusi Perikardium 3. nadi meningkat. Konsultasi : a. e. Cardiac Enzym : pada kelainan jantung. Terapi : • Terapi Bedah . open perikardiostomi (subxiphoid atau window) dengan artero lateral thoracotomy kiri • Medikamentosa . emboli paru akut.

Autopsi : Perlu bila tak jelas penyebab kematiannya. Tempat Pelayanan : a. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. UPIJ/ICU b. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 13. Informed Consent : Perlu apabila ada tindakan. Tenaga Standar : a. Cardiac failure 11. c. Le Winter MM : Pericardiac disease. Hasil : Sembuh/kambuh 16. Prentice Hall International Inc London 1995. Lama Pemulihan: 2 – 7 hari 15. Naitkus PT. Cardiogenic Shock. Tamponade jantung. b. 17. 18. Prognosa : Tergantung Penyebabnya. Penyulit : a. 12. Kepustakaan : 1. OK bila perlu tindakan bedah 10.9. Patologi : Perlu untuk mencari penyebab sitologys dan kultur. Dokter Spesialis Bedah Umum ( perikardiosentesis ) b. Lama Perawatan : 2 – 7 hari 14. in Current Diagnosis & Treatment in Cardiology ed by Michael H Crawford. 192 -203 223 .

224 .

225

226

227

228

229 .