: D16 : TUMOR JINAK TULANG : 1. Keluhan : tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang 2.

Fisik : tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas, atau ada patah tulang patologis 3. Radiologi : X-foto tulang; tampak densitas tulang bertambah (osteoblastik) atau berkurang (ostolitic) atau campuran. 4. Alkali fosfatase naik 4. Diagnosis banding : 1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang 3. Osteomyelitis 5. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Radiologi : X-foto tulang, CT-scan 2. Biopsi : FNA, biopsi tulang, pemeriksaan spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) 6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Bedah : 1. Reseksi tulang 2. Kuretage 3. Cryosurgery b. Non Bedah : 9. Tempat pelayanan : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Penyulit : 1. Penyakit 2. Terapi 11. Informed Consent : Perlu 12. tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Dokter Spesialis Bedah Onkologi 13. Lama Perawatan : ± 1 minggu 14. Masa Pemulihan : ± 4 – 12 minggu 15. Hasil : Bebas tumor, sembuh 16. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak tulang 1). Osteoma, 2). Osteobastoma 3). Kondroma 4). Kondroblastoma 5). Adamantinoma 6). Fibroma 7). Hemangioma 8). Limfangioma 9). Giant cell tumor 2. Tumor non neoplasma 1). Kiste tulang 2). Fibrous displasia 17. Otopsi : 18. Prognosis : Baik, tumor hilang / sembuh 19. Tindak lanjut : -

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

1

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D23 : TUMOR JINAK KULIT TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT : Neoplasma jinak kulit, D24 Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis 1. Papiloma 1). Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit, permukaan kasar 2). Berwarna seperti kulit normal disekitarnya 2. Epithelioma 1). Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit 2). Berwarna seperti kulit normal 3. Nevus pigmentosus Plaque atau nodus berwarna hitam 4. Kiste dermoid 1). Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau brachial cleft 2). Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak, dinding 5. Dermatofibroma 1). Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkutis 2). Berwarna coklat, menyerupai keloid Tumor non neoplasma kulit 1. Verruca vulgaris (B07) 1). Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan yang besar 2). Warnanya seperti kulit normal disekitarnya 2. Keratosis (L82-L86) 1). Keratosis seborrhoicum (L82) a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna coklat atau kehitaman, sering multipel b. Lokasi trutama pada kulit muka atau leher dan tubuh 2). Keratosis solaris = keratosis senilis (L57.0) a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoicum b. Umumnya terdapat pada orang tua c. Lokasi terutama pada muka, leher dan bagian kulit yang terbuka 3). Keratoacanthoma (L85.8) a. Tumor papiler dengan sentralnekrose, b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami regresi spontan c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma kulit keganasan rendah 4). Kiste epidermoid (L72.0) a. Tumor kistus subkutan, berisi sebum, berdinding epidermis b. Lokasi umumnya di tangan atau kaki

2

4. Diagnosis banding : 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 8. Terapi a. Bedah b. Non bedah 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi

17. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut

: : : : 1. Eksisi tumor, 2. elektrokoagulasi, 3. desikasi, 4. kuretage, 5. dermobrasion : 1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate, 2. salep FU, salep keratotlitik : Minimal R.S. kelas-C. R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. : 1. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Terapi : perdarahan, infeksi, timbul keloid : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : Poliklinik : ± 1 minggu : Benas tumor, sembuh : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tumor jinak kulit 1). Nevus intradermal 2). Nevus junctional nevus 3). Compound nevus 4). Papiloma 5). Epithelioma 6). Adenoma 7). Keratoacanthoma 8). Syringoma 9). Hydradenoma 10). Trichoepithelioma 11). Demoid cyst 2. Tumor non neoplastik kulit 1). Seborrhoic keratosis 2). Verruca vulgaris 3). Molluscum contagiosum : : baik : 3 bulan, 6 bulan kemudian lepas

5). Kiste sebaceus = Atheroma (L72.1) a. Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum b. Pada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang buntu oleh sebum yang mengeras c. Tumor mobil dari jaringan subkutan dibawahnya 6). Molluscum contagiosum (B08.1) a. Nodus kecil di kulit, berwarna keputihan b. Bila dipencet keluar inti yang keras 7). Granuloma (L92.3) a. Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi lunak, mudah berdarah (L92.3) b. Dapat berupa reaksi benda asing dibawahnya berupa benang (T81.8) Tumor ganas kulit Diagnosis : Pemeriksaan patologi spesimen operasi Staging : - (hanya untuk tumor ganas) Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

3

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: D17 s/d D21 : TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK & TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK : Tumor jinak jaringan lunak 1. Lipoma, D17 Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan, konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan 2. Hemangioma, D18 1). Hemangioma kapilare Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu anak-anak 2). Hemangioma cavernosum a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons, berwarna kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan, umumnya sebelum umur 5-7 tahun 3). Hemangioma arteriale (hemangioma racemosum, cirrsoid hemangioma) a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok, berdenyut, karena ada shunt antara arteri dan vena, sejak bayi atau kecil b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala 3. Limfangioma, D18 1). Limfangioma kapilare (limfangioma simpleks) Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, berisi cairan limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul sejak lahir atau waktu kecil 2). Limfangioma cavernosum Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, seperti bibir (makrocheili) lidah (makroglosi), dsb, dengan kulit diatas tumor berwarna normal, konsistensi seperti spons 3). Limfangioma kistikum (Higroma) a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit diatas tumor warnanya normal, timbul sejak lahir atau waktu bayi b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) atau di axilla (higroma axillare). 4. Fibroma, D21 1). Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsistensi ada yang beras (fibroma durum), ada yang lunak (fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan ikat pada tumor. 2). Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare 3). Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia musculus rektus atau obliquus abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas, tetapi patologis sebagai tumor jinak

4

Terapi : perdarahan. Penyulit 11.4 1). Non bedah 9. : 1. Informed Consent 12. Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion karpi). Masa pemulihan 15. Radiologis : X-foto. Patologis : FNA. 2). kortikosteroid. Neurofibromatosis von Recklinghausen. harus dicurigai mengalami transformasi ganas. biopsi. Tempat pelayanan 10. Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi. Konsultasi 7. Diagnosis banding : 5. kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea (ganglion poplitea) 1). dengan ukuran bervariasi. M67.S. Berbentuk tumor bulat panjang. Abrasi / dermobrasi : 1. pemeriksaan spesimen operasi Staging : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait Ruang inap untuk diagnosis dan tindakan 4. yang tumbuh progresif dengan pelan 2). Eksisi tumor 2. Q85. D36. berasal dari bungkus syaraf.0 1). kelas C R. dikulit. Yang khas ialah terdapat cafe aux lait. Tenaga standar 13. konsistensi lunak 3). Perawatan RS 8. Tumor ganas jaringan lunak 1.1 1). yang berisi cairan seperti gudir. Ganglion : kortikosteroid intra kistik : Minimal R. Hasil : : : : 1. konsistensi berubah menjadi padat. Ganglion. subkutis atau subfascial. Berbentuk nodus. Neurofibroma. CT-scan. Hemangioma : radioterapi. menjadi neurogenic sarcoma. Pemeriksaan penunjang : 6. Terapi a. Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat. 2.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai. Dapat timbul nyeri atau paraestehia Tumor non neoplasma 1. suatu plaque berwarna coklat susu pada kulit 4). MRI pada tempat tumor 2. Lama perawatan 14. Suatu penyakit kongenital herediter. infeksi : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi : ± 3 hari : ± 1 minggu : Bebas tumor. sembuh 5 . Elektro cauter 4. multipel diseluruh tubuh. tatouage 2. 2). tumor atau polipoid. Cryosurgery 3. yang terdapat sejak lahir atau baru manifest setelah dewasa.5. Penyakit : umumnya tidak ada 2. Bedah b. sering multipel sepanjang jalan syaraf perifir.

Gangion aponeutikum 10. Synovioma 8. Patologi 17. Neurofibroma 6. Leiomyoma 9.16. Rhabdomyoma 7. Neurofibromatosis : : Baik : 12 minggu. kemudian lepas 6 . 24 minggu. Otopsi 18. Prognosis 19. Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Fibroma 4. Hemangioma 2. Lipoma 3. 52 minggu. Benign fibrous histiocytoma 5.

Perawatan RS : Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Terapi : a. Diagnosis 1. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Masa pemulihan : ± 1 minggu 15. Non bedah : 9. Terapi : perdarahan. spermatookel. Testis & epididimis : granuloma. Prostat : hiperplasia 2). TUR b. Tumor ganas 2.S. epididimis. tumor Brenner 2. Penyakit : 2. pemeriksaan spesimen operasi 6. padat atau kisteus. Tenaga standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Urologi 13. Otopsi : 18. kelas C R. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Prostat : adenoma. Hasil : Bebas tumor / sembuh 16. sertoli sel tumor. hidrokel funikuli 3). myoma 2). Prognosis : Baik 19. Keluhan : testis. umumnya < 2 cm. Penis & skrotum : kiste epidermis. Lama perawatan : ± 3 hari 14. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Tindak lanjut : - 1. Bedah : Eksisi tumor. berbatas tegas. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait ] 7. ICD : Teratoma Ganas In situ Jinak Tidak tentu 7 . Tumor non neoplasma 1). Fisik : tumor kecil. di prostat (colok dubur) testis. Informed Consent : Perlu 12.S. Testis & epididimis : teratoma matur. penis atau kulit genetalia 2. ICD 2. penis atau skrotum 4. Diagnosis banding : 1. Patologi : biopsi eksisi. karsinoid. fibroma. Neoplasma 1). atheroma 17. pemeriksaan spesimen operasi 2. Penyulit : 1. biopsi testis. Spematokel 5. Hidrokel testis 3. Kriteria diagnosis : 1. Tempat pelayanan : Minimal R. infeksi 11.: D29 : TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI 3. FNA.

2 TERATOMA 1. Kriteria diagnosis : : 4. usus.S. seperti di sacrococcygeal. Penyakit : erosi atau destruksi tulang disekitarnya 2.3 D09.3 3.3 D15. Teratoma jinak : eksisi tumor 2. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. gigi. mengandung kulit.2 D40.6 D29. Diagnosis 3. ada yang kistik yang terdapat pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi suatu teratoma 2). MRI : nampak ada klasifikasi atau bentuknya seperti tulang. Radiologis : X-foto.1 5. 4.9 D33. biopsi. Testis C62 D07. Radiologi : X-foto polos/CT-scan. Terapi 1). Masa pemulihan 15. ovarium. imaging.3 4. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi teratoma. rambut. Patologis : FNA.1 6.2 D38. Bedah b.0 D48. Ovarium C56.7 2. 2.7 D48. Tempat pelayanan 10. Konsultasi 7. FNA M : Klinis. Sacoccocygeal C76. Teratoma ganas : eksisi luas atau organtektomi : Radioterapi : Minimal R. Operasi : perdarahan. Mediastinum C38. tulang.S. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak 2. Hasil : : : : 1. dsb. Diagnosis banding : 5. patologi N : Klinis.7 D36. testis. Pemeriksaan penunjang : 6. Supraseller C71. Berbentuk tumor ada yang padat. Non bedah 9. kelas-C. atau setelah dewasa. infeksi 2). dsb 1. Manifest sejak lahir. Eksplorasi operasi : Tumor berkapsul yang tegas (ganas). imaging. Penyulit 11. patologi Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8 .9 D07. Fisik : 1).2. Tenaga standar 13. makin besar kemungkinan keganasan 3. MRI pada tempat tumor 2. dsb. Informed Consent 12. Stadium dini : bebas kanker 1. hanya untuk tumor ganas T : Klinis.0 D20. Retroperitoneum C48. R. Makin dewasa manifestnya. Lama perawatan 14. imaging. Radioterapi : radionekrose : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 7 hari : ± 1 bulan : 1.3 D27 D39. Perawatan RS 8. pemeriksaan spesimen operasi 3. Terapi a. Tumor jinak atau ganas organ yang bersangkutan Diagnosis 1. Eksplorasi operasi : untuk melihat keadaan tumor Staging.2 D43. CT-scan.

Teratoma ganas 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Prognosis 19. Teratoma sifat tidak jelas : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Stadium lanjut : dubius 3.2 9 . paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1.16. Otopsi 18. Teratoma jinak 3. ICD : C64-C79. Stadium dini : baik 2. Patologi 17.4-C22.0-C22. Tindak lanjut 2. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Stadium sangat lanjjut : jelek : 0 – 3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 – 5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 1.

Limfoma maligna 5. Kriteria diagnosis 4. dsb. mual muntah. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 10 . umumnya pada umur dibawah 5 tahun 2). strabismus. Tumor Willem (nephroblastoma). Terdapat leukocoria. dapat di leher. hati. Tumor jinak.2 1). releks papil putih. TUMOR WILMS. endothelial dan mesenchymal (tulang. C79. ada filling defek di pyelum. Retinoblastoma. Tumor dapat uni atau bilateral 5. gangguan fungsi hati. retroperitoneum. FlexnerWintersteiner rosette pada retina 3). Tumor dapat bersifat ganas. anoreksi. VMA = vanyl mandelic acid. panas. TERATOMA : 1. Terdapat tumor di mediastinum. 2. C64 1). Tumor pada hati pada anak. umumnya dibawah 12 tahun 3).4 1). CT-scan atau MRI nampak ada tulang atau macam-macam komponen jaringan dalam tumor : 1). berat badan meurun 2). Tumor mata pada anak-anak. NEUROBLASTOMA 3. pada USG. HEPATOBLASTOMA 4. ovarium.2 1). pada IMP terlihat pyelum normal 3). nyeri dan hematuri. dapat mengalami regresi spontan pada bayi kurang dari 1 tahun 2). kulit. Teratoma. C69. Radiologi : Pada X-foto polos. pada USG abdomen terlihat tumor dari ginjal 4). umumnya pada umur 1-3 tahun 2). Laboratorium : AFP naik. anemia 2. tampak ada tulang atau kalsifikasi dalam tumor pada USG. Radiologi : USG abdomen / CT-scan : nampaktumor pada hati 4). Pada penyinaran : X-foto polos. usus. Tumor ganas syaraf atau ganglion perifir. toraks. C76. Hepatoblastoma. hipertensi atau panas 3). yang terdiri dari campuran derivat jaringan epithelial. Keluhan : sakit perut. pada umur dibawah 5 tahun. Radiologi : pada IVP. RETINOBLASTOMA 5. terlihat ada klasifikasi dalam tumor. 2).2 1). abdomen.2. Tumor ginjal pada anak-anak. Laboratorium : hematuria. testis. ikterus 4. Diagnosis 3. in situ. HVA = homo vandelic acid 3. gigi. tetapi umumnya di kelenjar adrenal. Diagnosis banding : KANKER PEDIATRI 1. sifat tidak tentu atau jinak 3). dsb) 2). Neuroblastoma adrenal. mungkin pula disertai anemi. C22. Tumor berasal dari ginjal. Laboratorium : dalam urine terdapat kenaikan katekolamine. rambut. Ada trias gejala : tumor abdomen.

imaging. Patologi. MRI 2. : Minimal R. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. seroma. Masa pemulihan 15. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. imaging. jenis histologi. Perawatan RS 8. Konsultasi 7. fungsi ginjal.S. Sitologi : FNA.1. patologi M : Klinis. actinomycin-D. cyclophospha-mide. 2. imaging. Tenaga standar 13. katekolamine 3. 2. fungsi hati. patologi 6. Patologi 17. : 1. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna dalam 1-3 bulan. dsb. Mata : retinoblastoma 5. Teratoma : malignant teratoma. AFP. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. gangguan fungsi organ : Perlu : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi Dokter Spesialis Bedah Anak Dokter Spesialis Bedah Urologi : ± 10 – 14 hari : ± 12 minggu : 1. infeksi. Non bedah 9. Informed Consent 12. Kemoterapi : dengan vincristine. Terapi : perdarahan. Adrenal : neuroblastoma. Radiologi : IMP. Otopsi 11 . Tempat pelayanan 10. ganglioneuroma 3. Hasil 16. USG abdomen. Eksisi luas tumor. atau radioterapi primer bila tumor inoperabel. doxorubicin. patologi N : Klinis. Lama perawatan 14. Organtektomi : Pada tumor Willen : nefrektomi. pada testis : orchidektomi. Laboratorium : darah. hepatocelular carcinoma 4. Radioterapi pre atau pasca bedah. Terapi a. derajat Staging : T : Klinis. Bedah : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : 1. Penyulit 11. CT-scan. paraneoplastik sindrom 2. Penyakit : perdarahan. pada ovarium : ovariektomi. urine. Stadium dini : bebas kanker 2. sitologi 4. kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Ginjal : nephroblastoma 2. benign teratoma. terato carcinoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan ksus kematian yang sebabnya tidak jelas b. pada mata : eksentrasio bulbi. infeksi. Hepar : hepatoblastoma.

Stadium dini : baik 2.5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 12 . Stadium sangat lanjut : jelek : 0 . Stadium lanjut : dubius 3.3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3 . Tindak lanjut : 1. Prognosis 19.18.

ketiak. Patologis : jenis histologi. Radiologi : USG abdomen. fungsi hati. Fisik : limfadenopati singel atau multiple. pada NHL = Nn Hodgkin Limfoma tidak 7. Follicular (nodular) NHL. C83 3. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma. C85 Kriteria diagnosis : 1. 4. Bedah : Laparotomi. Pada laparotomi karena ileus ditemukan adanya agregat jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan obstruksi ileus itu Diagnosis banding : 1. Epidemiologi : umur. 7. inguinal. : C81 s/d C85 : LIMFOMA MALIGNA 1. faktor resiko 2. 40 Gy. seperti leher. ketiak. Limphadenitis tuberkulosa 3. inguinal. Limphadenitis non spesifik Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Non bedah : 1. CTscan. fungsi ginjal. MRI 3. sumsum tulang terbuka. tonsil atau lingkaran Waldeyer 3. MRI untuk terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe 4. atau keluhan karena ada benjolan di perut 2). Klinis : cS = clinical staging 2. jika timbul ileus atau peritonitis b. alkali fosfatase. 6. ditemukan sel Reed Sternberg. 5. Pada sindroma vena cava superior 13 . Diagnosis 3. Diffuse NHL. albumin. Peripherial and cutaneous T-cell lymphoma. USG abdomen. Patologi : pS = pathological staging Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. LDH. atau benjolan di tonsil atau faring. di salah satu atau lebih regio kelenjar limfe superficial. penurunan berat badan atau berkeringat malam yang tidak jelas sebabnya 2. 8. SGPT. bila limfoma masih lokal pada satu regio 2).1. Immunohistokimia : Sel-T atau sel-B Staging 1. laparotomi. atau dengan VC 5. Panas badan. C84 4. Patologi : biopsi kelenjar limfe. torakoskopi 6. Radiologi : X-foto toraks. Laboratorium : darah lengkap. tulang. Eksplorasi : laparoskopi. Non Hodgkin Lymphoma = NHL 1). pada HD = Hodgkin Disease. ICD 2. Keluhan : 1). Pembesaran kelenjar limfesuperficial seperti di leher. sumsum tulang 4. CT-scan abdomen. Tumor jinak kelenjar limfe 2. X-foto tulang. Hodgkin Disease = HD C81 2. C82 2). globulin. Radioterapi : 1).

Masa pemulihan 15. Otopsi 18. Lymphocytic predominace 2). Radioterapi : Radiodermatitis. Mycosis fungoides 3. alopecia Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis onkologi medik ± 24 minggu ± 4-8 minggu 1. Nodular sclerosis 3). Tenaga standar 13. Hodgkin’s unspecified 7). Reticulosarcoma perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas 1. infeksi 2). paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. radionekrose. Penyakit : ileus obstruksi. Stadium dini : bebas kanker 2. Diffuse 2. Tindak lanjut : : : 2. anemia. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Hasil 16. peritonitis. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 14 . Non Hodgkin Lymphoma 1). Kemoterapi : Netropenia. Follicular (Nodular) 2). oncovin.Other Hodgkin’s disease 6). vinblastine dan dacarbazine 2). Lama perawatan 14. Penyulit : : 11.9. Terapi : 1). Operasi : Perdarahan. prednison dan procarbazine Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 1. mual / muntah. sindrom vena cava superior 2. lemas 3). Kemoterapi dengan : 1). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Stadium dini : baik 2. Hodgkin Disease 1). Tempat pelayanan 10. AVBD = adriamycin. Lymphocytic depletion 5). Mixed cellularity 4). Prognosis 19. Patologi : : : : : : 17. Informed Consent 12. Plasmacytoma 4. Stadium lanjut : dubius 3. MOPP = mechorethamine. bleomycin.

Reaktif hiperplasia 4. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. biopsi eksisi 3. Tuberkulosa : sembuh 2. Primer : apabila kelenjar membesar progresif. untuk diagnosis dan tindakan 8. Penyakit : 2. ICD 2. Informed Consent : Perlu 12. Bedah : Tergantung dari penyebabnya b. baik spesifik maupun non spesifik 2.: R59 : LIMFADENOPATI : Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio leher. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin) 3. Laboratorium : test immunologis (TBC. Radiologi : tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk mencari tumor primernya 2. 5. Patologi : FNA. Limfoma maligna 1. klinis dan imaging 6. Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk konglomerat 3.C77 atau C80. Non bedah : Tergantung dari penyebabnya 9. Dicurigai ganas : 1). Limphadenitis khronika. toksoplasma) Staging. Penyulit : 1. tanpa ada radang. Masa pemulihan : ± tegantung dari sebabnya 15. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 15 . inguinal yang dapat : 1. Reaktif hiperplasia kelenjar lilmfe 3. Perawatan RS : Rawat inap bila perlu. Reaktif hyperplasia : sembuh 3. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. klinis dan imaging N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase jauhnya M : cari lokasi metastase jauhnya. Hasil : Tergantung dari sebabnya : 1. Limfoma maligna : bebas kanker 4. Terapi : a. Limfadenitis tuberkulosa 2. Metastase kanker : sukar sembuh 16. ICD. Lama perawatan : ± tegantung dari sebabnya 14. terfiksasi. ketiak. padat. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi 1. atau tidak sembuh dengan antibiotika atau obat anti TBC 2). hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker T : cari letak tumor primernya. Pemeriksaan pennunjang : Diagnosis : 1. Diagnosis banding : 1. Metastasis kanker dari tempat lain. Terapi : 11. Sekunder : bila ditemukan ada tumor primernya 4. Singel atau multipel 2.

Neoplasma : tergantung dari stadiumnya : Tergantung dari penyebabnya 16 . Metastase kanker Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat ditemukan tumor primernya (ICD.17. C80) : : 1. Prognosis 19. C77 atau ICD topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis menjadi MUO = Metastase of Unknown Origin atau CUP = Cancer of Unknown Primary. Tindak lanjut 4. ICD. Otopsi 18. Non neoplasma : baik 2.

Fisik : tumor pada tulang dengan invasi keluar tulang. imaging. fungsi hati. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. Operasi : a). fungsi ginjal. Osteomyelitis 5. Informed Consent : Perlu 12. urine.: C40-C41 : KANKER TULANG : 1. USG abdomen. Netropenia b). ada invasi tumor keluar tulang. Non bedah : 1. doxorubicin. imaging M : Klinis. Diagnosis banding : 1. nyeri tulang. Radioterapi pra atau pasca bedah. Bedah : 1. Hematoma c). MRI : ada pembentukan tulang baru (Codman’s trangle). Kiste tulang 3. Cacat 2). Penyakit : fraktur. Penyulit : 1. patah tulang patologis. leher. biopsi tulang. Terapi : a. Patologi : Biopsi : FNA. Scintigrafi tulang 3. Lemas d). patologi 6. Mual/muntah c). faktura patologis 4. cyclophosphamide. Amputasi / disartikulasi 2. CT-scan. Chemoterapi : a). CT-scan. cisplatin. MRI. lokasi tumor 2. Infeksi d). paraplegia 2. ada “sunrays phenomen” pada osteogenic sarcoma. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Radiodermatitis b). atau radioterapi primer 2. Epidemiologi : umur. paraplegia 2. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis terkait 7. Radiologi : X-foto tulang. Reseksi tulang + transplantasi tulang atau prosthese tulang (limb preserving operation) 2). timbul patah tulang. imaging (X-foto toraks. MRI. Perdarahan b). Radiologi : X-foto tulang. Ekstemitas : 1). Terapi 1). Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Tumor jinak tulang 2. tubuh : Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks / rekonstruksi b. Fibrosis 3). methotrexare 9. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah ortopaedi 13. Radionekrose c). Keluhan : tumor. Kemoterapi : dengan kombinasi cyclophosphamide. atau phenomena “union peel = kulit bawanng” pada Ewing sarcoma. Alopecia 11. derajat diferensiasi sel) Staging T : Klinis. Radioterapi : a). fosfatase alkali 4. Laboratorium : darah. CT-scan. Masa pemulihan : ± 4-12 minggu 1. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. ICD 2. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Kepala. Diagnosis 3. patologi spesimen operasi N : Klinis. Kriteria diagnosis 17 . scintigrafi tulang). paraplegia 3.

Undifferentiated sarcoma 8). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Otopsi 18. Lisis tulang 1).15. Hasil 16. Patologi 17. Juxtacortical osteosarcoma 3). Osteogenic sarcoma 2). Mesenchymal chondrosarcoma 2. Ewing sarcoma 3. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Chordoma 9). Hemangiopericytoma 3). Chondrosarcoma 4). Stadium lanjut : dubius 3. Lain-lain 1). Juxtra chondrosarcoma 5). Giant cell tumor 2). Hemangioepithelioma 2). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Stadium dini : bebas kanker 2. Fibrosarcoma 5). Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 18 . Liposarcoma 6). Membentuk tulang atau kartilago 1). Tindak lanjut : 1. Prognosis 19. Adamantinoma dari tulang panjang : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Angiosarcoma 4). Malignant mesenchymoma 7). Stadium dini : baik 2.

Penyulit : 1. Diagnosis banding : 1. densitas heterogen 2).5 xN (normal) 4. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. BUN. Hasil : 1. pertanda tumor N : klinis. derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. Keluhan : Testis membesar. Lokal : 1). Diagnosis 3. Penyakit : invasi ke kulit skrotum. HCG naik > 5 mIU/ml. urine. nyeri. Lama perawatan : ± 7-14 hari 14. tumor testis. lokal atau difuse. badan lemas. imaging (X-foto toraks. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. CT-scan. CT-scan abdomen 2. Nodus regional : diseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. badan lemas. Fisik : tumor membesar. USG : testis bentuk irreguler. imaging M : klinis. AFP. paliasi 1. Radioterapi : 25-30 Gy 2. cisplatin 9. Bedah : Untuk non seminoma 1. kanan dan kiri tidak sama 3. Hidrokel testis 3. imaging. Non bedah : Untuk seminoma atau non seminoma 1. LDH > 1-1. Radiol : X-foto toraks. Orchitis 5. biopsi testis. diarhoea. nafsu makan turun leukopeni. muntah. Patologi : FNA. vas deferen 2. Radiologi : 1). Informed Consent : Perlu 12. (USG testis). muntah. Stadium dini : bebas kanker 2. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. dsb 11. ICD 2. MRI) 6. Orchidektomi total 2). USG abdomen. Kemoterapi : etoposide. keras. Lab : AFT naik > 15 ng/ml. Masa pemulihan : ± 12-24 minggu 15. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Laboratorium : darah. terasa berat 2.: C62 : KANKER TESTIS : 1. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. alopesia. Orchidektomi radikal 2. Kriteria dignosis 19 . infeksi 2). HCG 3. diarhoea. Operasi : perdarahan. nafsu makan turun 3). Tumor jinak 2. Terapi : 1). Terapi : a. Chemoterapi : mual. USG abdomen. konsistensi padat. Radioterapi : mual.

York sac tumor 6).16. Prognosis 19. Leydig cell tumor 7). Tindak lanjut : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Embryonal rhabdomyosarc 5). Stadium lanjut : baik 3. Otopsi 18. Patologi 17. Choriocarcinoma 3). Non seminoma 1). Stadium dini : baik 2. Embryonal carcinoma 2). Granulosa cell tumor : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Seminoma 2. Teratoma maligna 4). Stadium sangat lanjut : dubius : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 20 .

nodus. Gusi C03. Penyulit : 1. Tumor primer 1). CT-scan) 6. kelaianan gigi. Operasi khusus : a. derajat diferensiasi sel) Staging T : klinis. peminum alkohol.C06 : KANKER RONGGA MULUT Bibir C00. USG abdomen. Ulkus kronik benigna 3. Penyakit 1). nginang. Kemoterapi : dengan obat 1). Patologi : FNA. VBM : Vincristin. Dasar mulut C04. Bedah : 1. defek mukosa ditutup dengan Thiersch pada tumor T1S atau T1 3). Mitomycin-C 9. Ada lesi pra kanker : seperti leukoplakia. yang mudah berdarah. biopsi (insisi / eksisi / cakot). Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir 2). imaging (X-foto toraks. spesimen operasi (jenis histologi. pada T2 keatas Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan diberikan perawatan higiena mulut yang baik b. Granuloma 4. Ada lesi di mulut dapat berupa indurasi. Adriamycin. Reseksi palatum / mandibula / pipi + rekonstruksi b. higiene mulut 3. Cisplatin b. Rongga mulut lainnya C06 3. panoramik. Sukar nafas 1. sering nyeri di mulut 2. Sukar makan & minim 4). Pangkal lidah C01. Radiologi : pada X-foto maksila / mandibula atau panoramik. patologi N : klinis. sering nyeri. Fisik : 1). Kriteria diagnosis : 1. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. tidak menghilang degan pengobatan konservatif selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrasi 2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau leher 3). Radiologi : X-foto rahang. Palatum C05. Non bedah : 1. tumor atau ulkus. imaging. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel 2. Bleomycin. Flourouracil c. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. Keluhan : ada tumor atau ulkus. Glosektomi total c. Operasi Commando dan rekonstruksi. mulut berbau. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. ICD 2. Terapi : a. Nyeri 2). patologi M : klinis. Tunggal : a. Tumor jinak mulut 2. imaging. Ada faktor predisposisi seperti merokok. Diagnosis 21 . FAM : Flouroutacil. Trismus 3). eritroplasia Querat 4). mungkin terlihat ada destruksi tulang 4. mudah berdarah. Stomatistik 5. Eksisi luas lesi trans-oral. MRI 2. Endoxan 2). Diagnosis banding : 1.: C00 . Methotrexate b. Multifarma : a. CT-scan. Lidah C02. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7.

Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Mesenchymal 1). fibrosis 3). Stadium dini : bebas kanker 2. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Operasi : Perdarahan. mulut kering. Patologi : : : : : : 2. Fibrosarcoma 2). Adenocarcinoma 4). fitula oro-kutan. Masa pemulihan 15. Nekrose flap 2). Epithelial 1). Stadium lanjut : dubius 3. kawat/plat skrup. Prognosis 19. Mal. Stadium dini : baik 2. Squamous cell carcinoma 3).11. paliasi Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Radioterapi : Mukositis. Leiomyosarcoma 4). kiloma. Adenoid cystic carcinoma 5) Pleomorphic carcinoma 6). Karsinoma in situ 2). sinus dari implant. Rhabdomyosarcoma 3). infeksi. toksis Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. Hemangiopericytoma : Perlu unuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Tindak lanjut 2. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Otopsi 18. Malignant melanoma 17. Terapi : 1). Informed Consent 12. Hasil 16. mukositis infeksi. Syadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 22 . infeksi. Chemoterapi : neutropenia.

urine 6. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. Kriteria diagnosis : C60 : KANKER PENIS : 1. Otopsi 18. Pemeriksaan penunjanng : Diagnosis 1. methotrexate. Informed Consent : Perlu 12. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 17. Laboratorium : darah. cysplatin 9. paliasi 16. Lesi berupa plaque merah. Panektomi parsial atau total 2.1. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Tumor jinak 2. Lama pemulihan : ± 4-8 minggu 15. brachiterapi dengan implantasi irridium 2. jenis histologi. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium dini : bebas kanker 2. Hasil : 1. Diagnosis banding : 1. erosi atau ulkus terutama di glans atau preputium 2). Bedah : 1. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. infeksi 11. Kemoterapi : bleomycin. CT-abdomen 3. Pembesaran kelenjar limfe inguinal 4. Fisik 1). ICD 2. tumor eksofitik. Diseksi kelenjar limfe b. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Terapi : a. nodus. Prognosis 19. Conyloma 5. struktur uretra. Radioterapi 40 Gy. derajat deferensiasi sel 2. BCC melanoma lymphoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yag sebabnya tidak jelas : 1. USG abdomen. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Stadium dini : baik 2. Keluhan : benjolan di penis 2. Terapi : perdarahan. Diagnosis 3. pemeriksaan spesimen operasi. Non SCC : Sarkoma. Penyulit : 1. Tindak lanjut 23 . Radiologi : X-foto toraks. Penyakit : kehilangan penis 2. Stadium lanjut : dubius 3. Biopsi lesi. Squamous cell carcinoma 2. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Non bedah : 1. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah urologi 13.

Mastitis Khronika 5. Keluhan : tumor atau borok yag mudah berdarah pada payudara. Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi ± diseksi axilla + radioterapi pasca bedah b. eritema kulit diatas tumor. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant 24 . derajat diferensiasi) N : Klinis. 6. imaging (X-foto toraks. 8. satelit nodule. dan ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas. USG mamma : ada tumor berbatas tidak tegas. ada pembesaran kelenjar limfe ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh 3. 7. Limfoma maligna Pemeriksaan penunjang : Diagnosis : Triple diagnostik : 1. Sarcoma jaringan lunak 6. CT-scan. Mastektomi Radical Standard Radical (Halstedt) 2). bone scan. umumnya pada permulaan tidak nyeri. Displasia mamma 4. USG abdomen. ± Reskonstruksi mamma (myokutaneus latisimus dorsi flap) 3). 5. Mammografi ada tumor batas tidak tegas. bentuk tidak teratur. BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery) : a. Bedah : 1. bentuk irreguler. : C50 : KANKER PAYUDARA : 1. Diagnosis 3.1. ICD 2. Standar : Mastektomi Radical Modifikasi (Patey / Madden) 2. stellate. imaging. imaging. klasifikasi mikro yang tidak teratur b. Kriteria diagnosis 4. peau d’orange. MRI) Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Fisik : pada payudara terdapat tumor padat keras. Tumor phillodes 3. hiper-echoic Diagnosis banding : 1. biopsi sentinal node M : Klinis. Alternatif : 1). batas tidak jelas. FNA Juga VC / PC dan pemreiksaan patologi spesimen operasi Staging : T : Klinis. patologi (jenis histologi. Tumor jinak mamma 2. melekat kulit / muskulus pektoralis / dinding dada. Mammografi atau USG mamma 3. tumbuh progresif. Radiologi : a. Klinis 2. Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau kanker insitu diseksi axilla tergantung dari keadaan kelenjar axilla atau dari biopsi sentinal node 3. ulserasi Tanda metastase : regional. erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal puting susu 2.

Penyulit 11. Hasil 16. dsb : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 7-14 hari : ± 24-36 minggu : 1. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan ovariektomi. Tenaga standar 13. paraplegia 2. Radioterapi : radiodermatitis. Stadium dini : bebas kanker 2. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma 3. infeksi. Mucinous carcinoma 5). sendi bahu kaku 3). Mal. Masa pemulihan 15. Medullary carcinoma 2). oedema lengan. Campuran 1. Mal. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tindak lanjut : 1. Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer 2. Tempat pelayanan 10. Terapi : 1). Lama perawatan 14. infeksi. plebitis. fibrosis. Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma 2. paliasi : Perlu untuk konfirmasi diagnose Epithelial 1. Stadium dini : baik 2. Patologi 17. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. nekrose flap. Scirrhus 6). nekrose kulit. Aromatase inhibitor. Fibrous histiocytoma 4. oedema lengan. Otopsi 18. dll. Informed Consent 12. seroma. Liposarcoma 3. Variant khusus : 1). Methotrexate.b. faktura patologis. Tumor phyllodes 2. GnRH analogue 4. Flourouracil CAF : Cyclophosphamide. Papillary carcinoma 3). Flourouracil 3. infeksi. Operasi : perdarahan. leukopenia. Undifferentiated carcinoma Mesemchymal 1. muntah. Cribriform carcinoma 4). sendi bahu kaku 2). nekrose kulit tempat infusi. Non bedah 9. alopesia. Squamous cell carcinoma 8). Fibrosarcoma 2. Penyakit : perdarahan. Pagets disease 7). Kemoterapi : mual. oedema lengan. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 25 . Terapi paliatif dan bantuan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai : 1. Stadium lanjut : dubius 3. Carcinosarcoma : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak jelas : 1. Prognosis 19. Kemoterapi : Adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan : CMF : Cyclophosphamide. efusi pleura. Tamoxifen. Adriamycin.

Diameter umumnya besar diatas b). Terapi : 1). Kulit diatas tumor mengkilat (3). Batas tegas d). Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma 9. Tumbuuh pelan dalam waktu tahunan c). Ada bagian yang padat dan kisteus d). Vena subkutan membesar dan berbelok-belok (venaektasi) (4). Sitologi : FNA 4). Patologi : Biopsi. Tumor kecil di subareoler 4. Tumor filloides mamma (1). Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada tanda metastase jauh 2). Konsultasi : Dokter spesialis Bedah Umum Dokter spesialis Bedah Onkologi 7. Permukaan halus f). faktor resiko 2). Kriteria diagnosis klinis : D24 : TUMOR JINAK PAYUDARA : 1). Sangat mobil dari dinding dada (2). Hematoma 3). Vries Coup 6. Kiste payudara 3. Tumor dapat singel atau multipel (2).1. Tumor pada mamma yang besar. Kanker payudara 2. Epidemiologi : umur. Sangat mobil dalam korpus mamma h). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C 10. > 5 cm dan dapat lebih dari 30 cm a). Fibroadenosis 5. Fiboadenoma mamma (1). Muda. Infeksi 11. Fibroadenoma mamma : eksisi tumor mamma 2). Bentuk bulat atau oval e). Radiologi : USG mamma / mammografi 3). Pemeriksaan diagnostik klinis : 1). Tumor di mamma pada wanita a). Permukaan berbenjol-benjol c). Perawatan RS : 1). Papiloma intraduktal : duktektomi 4). Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase 3). Diagnosis banding : 1. Diagnosis 3. Tumor filloides dan papiloma intraduktal : MRS 8. ICD 2. Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu (2). Informed Consent : Perlu ada informed consent 26 . Papillima intra duktal (1). Perdarahan 2). Penyulit : Operasi : 1). Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel 3). dibawah umur 30 tahun b). Konsistensi padat elastis g). kalau perlu MRS untuk tumor yang multipel 2). Fibroadenoma mamma : Poliklinik.

0-1 tahun : tiap 3 bulan 2). Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi : ± 0-7 hari : ± 1-2 minggu : Sembuh : 1). Otopsi 18. Fibroadenoma 2).12. Prognosis 19. Tumor phyllodes 3). Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. > 1 tahun : lepas 27 . Hasil 16. Lipoma : : Tumor jinak : baik : 1). Masa pemulihan 15. Patologi 17.

N60. Kanker payudara 2). : N60 – N64 : DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LANNYA Kriteria diagnostik klinis : 1). Hipertrofi pada wanita a). Hipertrophi mamma (1). Galaktokel non puerperalis. Jaringan mamma subareoler paling sedikit terba sebesar 1½ cm 4). batas tidak tegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau menghilang secara spontan Tumor sering multipel atau bilateral 2). keruh atau seperti nanah dalam kista Kista dapat tunggal (N60. siklis sesuai dengan siklus menstruasi atau non siklis b). Ginekomasti = hipertrophi pada laki a).0) atau jamak (N60. Radiologi : mammografi / USG mamma 2). Tanpa tumor yang dominat a). 6. lokal atau difuse c). Mastitis chronika Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan areola atau ditempat lain disertai atau tidak disertai dengan tanda-tanda radang 3). tumor. Displasia mamma N60 (1). Mastitis (1). (O92. Ukuran besar mamma melebihi ukuran normal b). Galaktokel Terdapat kiste pada mamma yang berisi air susu (1). Dapat uni atau bilateral (2). rubor. calor. Galaktokel puerperalis.8) (2). Diagnosis 3. seperti mamma wanita b). Neoplasma jinak payudara Pemeriksaan penunjang : 1). 5. 4.1. Nyeri pada mamma.9) Diagnosis banding : 1). Fibroadenosis mamma (ICD.1) pada satu atau kedua mamma b). fungsio lesa) b). Mastitis puerperalis (O91) a). (N64. Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sediaan beku atau parafin Konsultasi : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah Onkologi 28 . ICD 2. N61 (2).2) Tumor umumnya tidak besar. Mamma padat. Kelainan dapat menghilang dan timbul dengan spontan sesuai dengan siklus menstruasi (2). Mastitis non puerperalis. konsistensi padat. Kista mamma Pada aspirasi keluar cairan serous. Dengan tumor a). Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda radang (dolor. noduler. Mamma pria membesar. Sitologi : FNA 3).

Perawatan RS 8. EPO. Infeksi Perlu ada informed consent Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Pasca bedah 2-3 hari Tergantung pada jenis tumornya Sembuh Perlu 1). antioksidan. Papillary cyst (3). Terapi : 1). Simple cyst (2). antiestrogen b). bila konservatif gagal 2). Prognosis 19. Hematoma 3). Poliklinik 2). MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara : 1). Tumor displasia mamma (1). Operatif : eksisi ginekomasti 4). Penyulit 11. Adenosis (4). Lama perawatan 14. Konservatif : aspirasi kista. Perdarahan 2). Adolesesent : reduction mammoplasti (2). Tenaga standar 13. Bila gagal : eksisi tumor Minimal RS Kelas-C Operasi : 1). tamoxifen (2). Displasia mamma (1). Ginekomasti a). Konservatif : dengan testosteron. Purulent / abses : insisi & drainage 3). Patologi : : : : : : : : 17. Hasil 16. Otopsi 18. Informed Consent 12. Tindak lanjut : : : 29 . Gynecomasti Baik 3 bulan sampai 1 tahun 9. Aspirasi (2). Duct ectasia (5). Hypertrofi mamma (1). Non purulent : antibiotika (2). Operasi : eksisi tumor.7. Galatokel : (1). Masa pemulihan 15. Mastitis (1). danocrine. Tempat pelayanan 10.

Terapi a. tumor mobil atau melekat dengan struktur disekitarnya. Kelenjar llimfe iguinal atau pararektal teraba besar Anuskopi / proktoskopi : terdapat tumor di anus 4. muuntah. infeksi Radioterapi : radiodermatitis. proktitis. (X-foto toraks. MRI) : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan : : Operabel : eksisi anus untuk menyelamatkan sphinter reseksi abdominoperineal (operasi Moles) Inoperabel : Sigmoidostomi Elektrokoagulasi : Radioterapi : 40-50 Gy Chemoterapi : dengan FUFA. : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 6. berak berdarah atau lendir Fisik : Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau polipod di anus. 2). jenis histologis. Masa pemulihan 15. derajat deferensiasi sel. leukopeni.1. paliasi : Epithelial 1). 3). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. 5). Adenocarcinoma. Patologi 17. toksis : Perlu : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah digestif : ± 10-14 hari : ± 24 hari : 1. 6). Lama perawatan 14. Perawatan RS 8. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Endoskopi : rektoskopi. patologi M : klinis. 7). Non Bedah 9. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Tempat pelayanan 10. ICD 2. Kriteria diagnosis : C21 : KANKER ANUS : Keluhan : nyeri kalau berak. pada toucher rektum. Basal cell carc. 4). patologi N : klinis. Penyakit : obstruksi ileus. cisplatin Paliatif : analgetika. Mucoepidermoid carc. Hemorroid 5. Tenaga standar 13. EUS. doubel kontrast Patologis : biopsi. kistitis Kemoterapi : mual. Melanoma maligna. Undifferentiated carc. Penyulit 11. Polip anus. imaging. nutrisi : Minimal RS kelas-C : 1. kolonoskopi Radiologi : foto kolon. spincter ani terba tegang. Otopsi 30 . CT-scan. Konsultasi 7. Diagnosis 3. camptothecin. Bedah b. imaging. Diagnosis banding : Tumor jinak anus. anemi 2. Squamous cell carc. gemzar. Informed Consent 12. USG abdomen. Hasil 16. Stadium dini : bebas kanker 2. Paget’s disease 8). infeksi. pemeriksaan histologis spesimen operasi Staging : T : klinis. Terapi Operasi : perdarahan. Basaloid carcinoma.

Stadium lanjut : dubius 3. Stadium dini : baik 2. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 31 . Prognosis 19. Tindak lanjut : 1.18.

tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman 3. Kriteria diagnosis 4. infeksi. cisplatin. Eksisi luas (pada BCC : tepi irisan ½ -1 cm. tumbuh infiltratif. Keratosis seborrhoicum 3. CT-scan Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a. Bedah : 1. Penyulit 32 . Operasi : perdarahan. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang menginfiltrasi kulit 3. melphalan 2. kasus inoperabel atau pada basalioma yang kalau dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi sukar. Tempat pelayanan 10. imaging. Keluhan : benjolan atau borok dikulit.1. gatel. defek yang luas di muka 2. Diseksi kelenjar limfe regional. pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Diagnosis 3. infeksi. bila ada metastase b. memborok atau mudah berdarah 2. bleomycin : Minimal RS kelas-C : 1. Melanoma maligna : Dacarbazine. mudah berdarah 2. destruktif atau progresif Ada pembesaran kelenjar limfe regional Diagnosis banding : 1. USG abdomen. seroma. Eritroplasia Querat Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Kemoterapi : 1. BCC dan SCC : 5-Flourouracil. Tumor jinak kulit 2. Leukoplakia 5. Patologi : biopsi insisi atau eksisi. Defek kulit ditutup dengan flap lokal atau transplantasi kulit Thierch 2. Non bedah : Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi. Terapi : 1). Posisi : ada lesi di kulit berbentuk plaque. Keratoakantoma 4. Radiologi : X-foto. : C43 – C44 : KANKER KULIT : Melanoma maligna (C43) 1. ICD 2. dan melanoma maligna 2-3 cm mengelilingi tumor). derajat diferensiasi) Staging : T : klinis. anemi. operasi tidak dapat radikal. nodus. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional Kanker kulit lainnya. imaging. X-foto toraks. 6. Keluhan : andeng-andeng membesar. patologi M : klinis. indurasi. indurasi. methotrexate. 5. SCC 1-2 cm. nodus. CT-scan. (C44) BCC = Kanker sel basal SCC = Kanker sel skwarnosa 1. tumor eksofitik atau ulkus yang berbau. cisplatin. nekrose kulit. 7. Penyakit : perdarahan. Thiersch gagal 9. patologi N : klinis. Fisik : ada lesi di kulit berbentuk plague. 8. MRI lokal pada lesi 2.

Tenaga standar 13. Patologi : : : : : : 17. Stadium sangat lanjut : jelek 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 33 . Dermatofibrosarcoma protuberan Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas 1. nafsu makan turun 3). Hasil 16. nafsu makan turun leukopeni. alopesia. Stadium sangat lanjut : Tidah sembuh. diarhoea. badan lemas. Malignant melanoma Mesenchymal 1. Masa pemulihan 15. muntah. Stadium dini : bebas kanker 2. Lama perawatan 14. Tindak lanjut : : : 2). Stadium dini : baik 2.11. Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-8 minggu 1. badan lemas. Basal cell carcinoma 2. Stadium lanjut : dubius 3. muntah. Chemoterapi : mual. Prognosis 19. Informed Consent 12. Squamous cell carcinoma 3. Otopsi 18. dsb. diarhoea. Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Adenocarcinoma 4. Metatypical carcinoma Melanosit 1. Radioterapi : mual. paliatif Epithelial 1.

ICD 2. Amputasi 4. ada neovaskularisasi. Informed Consent 12. CT-scan. di kepala-leher. ada bagian tumor yang nekrosis. patologi Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan Terapi : a.1. 5. MRI Patologi : biopsi. MRI tampak tumor berbatas tidak tegas. dinding tubuh. misalnya dengan CyVADIC Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyakit : perdarahan. Bedah : Tumor di ekstrimitas 1. Radiologi : X-foto lokal. Disartikulasi Tumor di kepala. Eksisi dinding abdomen Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor Radioterapi : 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primer Kemoterapi. Non bedah 9. menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya. Tenaga standar 13. CT-scan. dinding tubuh 1. leher. Penyulit 11. derajat diferensiasi sel) N : klinis. Masa pemulihan : : : : : : : 34 . dan pada arteriografi tampak tumor hiper-vaskuler. Eksisi luas 2. hematom. sesak nafas Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7-14 hari ± 4-12 minggu atau cacat seumur hidup b. Kriteria diagnosis 4. 6. mengivasi jaringan disekitarnya (tulang. Eksisi kompartment 3. Reseksi dindig toraks 3. umumnya besar > 5 cm. USG abdomen. imaging (X-foto toraks. pemeriksaan spesimen operasi Staging T : klinis. 8. : C49 : SARKOMA JARINGAN LUNAK : Keluhan : tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh progresif Fisik : Tumor subkutan di ekstrimitas. dapat superfisial atau dalam. MRI). Tumor tumbuh progresif. Diagnosis banding : Tumor jinak jaringan lunak. CT-scan. Diagnosis 3. 7. Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan suatu tumor ganas. kulit). invasi / penekanan struktur vital. Tempat pelayanan 10. imaging M : klinis. tumor abdomen Pemeriksaan penunjang : Diagnosis Radiologi : X-foto polos. retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat bervariasi tergantung dari lokasinya. imaging. Eksisi luas 2. Lama perawatan 14. anemi. patologi dari biopsi / spesimen operasi (jenishistologi.

Tindak lanjut : 1. paliasi : 1. Liposarcoma 5. Otopsi 18. Mesothelioma 12. Angiosarcoma 10. Stadium dini : baik 2. Mesenchymoma 11. Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium lanut : DFS atau OS diperpanjang 3. Malignant fibrous histiocytoma 2. Lain-lain : Perlu untuk : konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Synovial sarcoma 6. Rhabdomyosarcoma 7. Prognosis 19. Stadium lanjut : dubius 3. Fibrosarcoma 4. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 35 . Leiomyosarcoma 8.15. Hasil 16. Neurofibrosarkoma 3. Stadium dini : bebas kanker 2. Patologi 17. Epitheloid sarcoma 9.

Diagnosis 3. mitomycin.: C64 : KANKER GINJAL : Kanker ginjal pada anak-anak 1). SGOT. IVP : ada filling defek dari calices atau pyelum b). patologi M : klinis. Penyulit : 1. SGPT 3. Radiologi : a). USG / CT-scan. Laboratorium : hamatoria 4). dsb. USG abdomen. eksplorasi laparotomi. imaging. doxorubucin. badan lemas. eksplorasi laparotomi. badan lemas. ± keluhan paraneoplastik seperti : anemia. Explorasi laparotomi : tumor dari ginjal Kanker ginjal pada orang dewasa 1). nyeri di pinggang. hiperpireksi 2). Fisik : Tumor di pinggang. berat badan menurun. MRI : tumor ginjal 4). terbatas atau meluas keluar ginjal c). 11. MRI : ada tumor di ginjal. diarhoea. Patologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis histologi. Perawatan RS : Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan 8. patologi N : klinis. Keluhan : hamaturia. tumor di pinggang 2). imaging. Non bedah : Radioterapi : pre atau pasca bedah atau radioterapi primer Kemoterapi : dengan FU. Keluhan : hematuria. Chemoterapi : mual. diarhoea. Diagnosis banding : Batu pyelum. Radiologi : IMP : deformitas dari calices. ICD 2. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Terapi 1). creatinin. MRI angiografi. patologi 6. CT-scan. Retrograde pyelografi : ada ekstensi tumor ke pelvis d). nafsu makan turun leukopeni. Laboratorium : darah. derajat diferensiasi del) Staging T : klinis. nafsu makan turun 3). urine. retrograde pyelografi. muntah. cisplatin 9. infeksi 2. BUN. uric acid. tumor ginjal USG. Radioterapi : mual. Fisik : terdapat tumor di daerah ginjal 3). CTscan. alopesia. muntah. Tumor jinak ginjal. hipercalcemia. eksplorasi laparotomi. Chusingsindrom. uni atau bilateral 3). Penyakit : gagal ginjal. Informed Consent : Perlu 1. Bedah : Nefrektomi radikal ± thrombo-embolektomi ± Deseksi kelenjar limfe retroperitoneal b. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. hipertensi erythro-cytosis. Radiologi : IVP. Terapi : a. imaging. Kiste ginjal 5. Kriteria diagnosis 36 . Operasi : perdarahan infeksi 2). venacavografi 2. Angiografi : tumor hyopervasuler 4. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1.

Tenaga standar 13. Nephroblastoma (Wilm tumor) b). Renal cell carc d). Granular cell carc c). Stadium sangat lanjut : tidak sembuh. Stadium dini : bebas kanker 2. Tubular carc b). Hasil 16. Lama perawatan 14. Leiomyosarcoma d). Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang 3. Masa pemulihan 15. Stadium lanjut : dubius 3. Fibrosarcoma b). Papillary carc e).12. Teratoma : Perlu untuk :konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang tidak jelas : 1. Clear cell carc (hypernephroma) f). Mal. Patologi 17. Stadium dini : baik 2. Prognosis 19. Rhabdomomyosarcoma e). Hemangiosarcoma Complex mixed cells a). Carcinoid tumor Mesenchymal cell a). Tindak lanjut : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak : ± 7-14 hari : ± 12-24 minggu : 1. Fibroushistiocytoma c). paliasi : Epithelial / Adenocarcinoma a). Otopsi 18. Stadium sangat lanjut : jelek : 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali 3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali > 5 tahun : setiap 1 tahun sekali 37 .

Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait 7. Hasil : Keluhan dan tumor hilang 16. Pyelum : IVP terlihat filling defek di pyelum 4. Diagnosis banding : 1. kiste 17. Tumor ganas 2. sitologi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Pemeriksaan penunjang : Diagnosis 1. Laboratorium : darah. Perawatan RS : Rawat inap kalau perlu. BUN. infeksi 2. glandular metaplasia. Bedah : 1. ICD 2. kistoskopi 3. TUR b. squamous cell metaplasia. squamous cell metaplasia 3). Terapi : a. FNA. mioma 2). terlihat tumor kecil di ginjal. Prognosis : Baik 19. Ginjal : USG. Pielum : transitional cell papilloma.: D30 : TUMOR JINAK UROLOGI & TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI 3. kistografi. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah urologi Dokter spesialis bedah onkologi 13. infeksi 11. Penyulit : 1. Terapi : perdarahan. fibroma. hematoma. Ginjal : kiste ginjal. Patologi : Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi : 1. endometriosis. TUR. Buli-buli : transitional cell metaplasia. Penyakit : hematuria. Sitologi : urine 4. Radiologi : 1). hamartoma 2). Lama perawatan : ± 2-5 hari 14. urine. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Urolithiasis 3. USG. spesimen operasi Staging : . biopsi 3). untuk diagnosis dan tindakan 8. Pielum : transitional cell metaplasia. disuria 2. Ginjal : adenoma. pieloskopi. Tumor jinak 1). padat atau kisteus 3. Eksisi tumor 2.(hanya untuk tumor ganas) 6. squamous cell papilloma 2. Infeksi 5. Kriteria diagnosis : 1. fibous polip. retrograde pyelografy 2). Keluhan : hematuria. Patologi : FNA. adenoma 3). kreatinine 2. Pyelum : IVP. Tumor non neopplasma 1). Diagnosis 38 . Buli-buli : kistografi atau kistokopi terlihat tumor kecil di buli-buli 4. Buli-buli : transitional cell papilloma. Non bedah : 9. Tindak lanjut : - 1. Otopsi : 18. Ginjal : IVP. Buli-buli : IVP. Informed Consent : Perlu 12.

Masa pemulihan : ± 2 minggu 15.: C 73 : KARSINOMA TIROID : Benjolan di leher bagian depan. Substitusiterapi levotiroksin 9. Pemeriksaan penunjang : FNAB X-foto leher (kalau perlu) Untuk staging : X-foto toraks. Informed Consent : Perlu 12. konsistensi keras. USG abdomen. ikut bergerak waktu menelan disertai tanda pembesaran yang cepat. struma adenomatosa 5. sesak nafas. trakheomalaise. Terapi : Total tiroidektomi / near / total tiroidektomi + FND bila metastase ke kgb leher / radiasi ekstera / interna (J-131). ICD 2. suara parau. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi FND dilakukan oleh dokter spesialis bedah 13. Hasil : Tumor terangkat secara onkologi / radikal 16. pembesaran kelenjar getah bening leher. Kriteria diagnosis 39 . Lama perawatan : ± 5 hari 14. Perawatan RS : Rawat inap 8. gangguan menelan. tidak ada ekstensi 1. suara serak karena lesi rekuren. alkalifosfatase 6. Penyulit : Sesak nafas. Diagnosis banding : Tiroiditis kronis. Patologi : Perlu 17. FNAB keganasan (+) 4. perdarahan 11. kemoterapi bila ada indikasi. Diagnosis 3. kejang karena hipo-paratiroid. Otopsi : Tidak perlu 18. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Prognosis : Tergantung faktor prognostik Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. tipe diferensiasi baik. mobilitas terbatas.

sering keringatan. gelisah. mudah capek. kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut 1. Otopsi : Tidak perlu 18. disfagi (+). Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10.Basedow ). diare) atau gejala hipotiroidi (malas. T4. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. Perawatan RS : Rawat inap bila ada indikasi operasi : Keganasan Hipertiroidi yang sudah teregulasi Gejala penekanan Keluhan kosmetik 8. Hipotiroidi 11. E 06 : STRUMA : Benjolan / massa di trigonum koli di anterior sebelah bawah. Diagnosis 3. uninoduler atau multi noduler. obstipasi. Diagnosis banding : 5.Basedow : tiroidektomi subtotal Struma uninodosa : lobektomi subtotal Struma multinodosa : lobektomi / tiroidektomi subtotal (tergantung jumlah lobus yang terkena) Tiroiditis kronis : ismektomi 9. Informed Consent : Perlu 12. Penyulit : Lesi N. E 05. Hasil : Struma (-) 16. Pemeriksaan penunjang : Faal tiroid : T3. Terapi : Operasi. Rekuren. Prognosis : Baik. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Kriteria diagnosis 40 . 4. Hipoparatiroidi. macamnya tergantung proses patologis tiroid : M. suara parau. Patologi : Perlu 17. jantung berdebar. ada pembesaran kgb leher. ngantuk. sesak (+). Masa pemulihan : ± 2 minggu 15. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah kurus. TSH Biopsi aspirsai jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga ganas BMR (pada saat rawat inap) 6. fixed. Lama perawatan : ± 2 hari 14. Bentuk bisa difus. ICD 2.: E 04. mata sembab). benjolan keras. sulit tidur. tambah gemuk. ikut bergerak ke atas bila penderita melakukan gerakan menelan. Hematoma Krisis tiroid (untuk M. Curiga ganas bila tumbuhnya cepat.

: C 77. Pemeriksaan penunjang : FNAB. Diagnosis banding : Limfadenitis spesifik / non spesifik Limfoma maligna Metastase dari tempat lain 5. Terapi : Sesuai penyebab (radioterapi. atau biopsi insisional Pemeriksaan darah lengkap Tumor marker bila ada fasilitas Pemeriksaan serologis (TB-DOT. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13. ICD 2. Diagnosa 3. biopsi eksisional. Lama perawatan : Tergantung penyebab 14. Prognosis : tergantung penyebab 1. Penyulit : Tergantung penyebab 11. Informed Consent : Perlu 12. toksoplasma) CT-scan bila ada indikasi 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. kemoterapi. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai 10. Hasil : Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi 16. Masa pemulihan : Tergantung penyebab 15. Patologi : Perlu 17. Kriteria diagnosis 41 . antibiotika) 9. Otopsi : Tidak perlu 18.0 : PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & L : Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila : Pembesaran progresif Tanpa ada radang Ada tumor primer di tempat lain Tidak sembuh dengan antibiotika Benjolan teraba agak keras 4. Perawatan RS : Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose 8. pembedahan.

Masa pemulihan 15. Tenaga standar : : 13.VII Fistel liur Sindroma Frey Hematoma Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Bila tumor fixed atau ada metastase kelenjar getah bening leher Dokter spesialis bedah onkologi ± 4-5 hari 2 minggu Tumor terangkat radikal Tumor ganas : daya tahan hidup 5 tahun tergantung stadiumnya.1. Perawatan RS 8. Otopsi 18. Pemeriksaan penunjang : 6. 4. 2.stadium dini : baik stadium lanjut : jelek 42 . Prognosis : : : C 07 TUMOR PAROTIS Benjolan di regio parotis pre/infra/postaurikuler Adenoma parotis Karsinoma parotis Metastase kelenjar getah bening parotis Metastase karsinoma nasofaring Untuk keperluan staging karsinoma parotis : Bila tumor fixed : X-foto mandibula. Informed Consent 12. Penyulit : : 11. Tempat pelayanan 10. Hasil : : : 16. Konsultasi 7. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding : : : : 5. makin dini makin besar kemungkinan hidup 5 tahun Perlu Tidak perlu Tumor jinak . Terapi : : : 9.baik Tumor ganas . 3. Lama perawatan 14. Patologi 17. CT-scan bila ada fasilitas X-foto toraks USG hepar Bone survey bila ada indikasi Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan Rawat inap Tumor operable : paratidektomi superticial periksa → potong beku Jinak : parotidektomi superficial Ganas : parotidektomi total Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Lesi N.

Informed Consent : Perlu 12. Prognosis : Baik 1. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13.hipoglosus & n. Patologi : Perlu 17.5 : AMELOBLASTOMA : Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang) tak nyeri. Lingualis 11. ICD 2. Diagnosis 3. Penyulit : Perdarahan. Kriteria diagnosis 43 . Pemeriksaan penunjang : Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik Maksila : X-foto Waters + Hap Adanya gambaran kista multiple / single 6. gigi yang bersangkutan biasanya tak teratur 4. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. Diagnosis banding : Ossifying fibroma Kista odontogenik Giant cell tumor 5. Perawatan RS : Rawat inap 8. hematom. Hasil : Tumor terangkat radikal 16. Otopsi : Tidak perlu 18. Lama perawatan : ± 12-14 hari 14. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. konsistensi keras. kadang ada fenomena bola pingpong. Terapi : Reseksi mengikutsertakan tulang sehat 1-2 cm dari batas lesi + rekonstruksi 9. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. lesi n. tumbuh pelan (bertahun-tahun). fistel orokutan.: D 16.

Patologi : Perlu 17. Penyulit : Lesi struktur vital (pemb. fimfangioma simpleks. Diagnosis 3. rongga mulut. Kriteria diagnosis 44 . Lama perawatan : ± 5-7 hari 14. Informed Consent : Perlu 12. saluran nafas dan phagus) hematoma. kecuali bila sangat ekstensif 1. bisa meluas ke wajah. Hasil : Benjolan terangkat sebersih mungkin 16. transiluminasi (+) 4.: D 18. Tanaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah anak 13. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. membesar sesuai pertumbuhan anak.1 : HIGROMA KOLI : Benjolan di leher sejak lahhir / bayi. sering berlobi. Darah. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. hemangioma. Prognosis : Baik. Otopsi : Tidak perlu 18. sebagian berbatas jelas. Diagnosis banding : Lipoma. Pemeriksaan penunjang : 6. ketiak atau mediastinum. dinding tipis. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. saraf. infeksi. Perawatan RS : Rawat inap 8. kista brankhiogenik 5. ICD 2. Terapi : ekstirpasi 9. edema laring 11. tak nyeri tekan. konsistensi kistik.

Otopsi : Tidak perlu 18. Patologi : Tidak perlu 17. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi 13.6 : RANULA : Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara lenjar liur sublingual 4. Diagnosis banding : 5. Informed Consent : Perlu 12. Diagnosis 3. Prognosis : Baik 1. kiste terdrainase 16. Pemeriksaan penunjang : 6. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. ICD 2. Penyulit : Perdarahan Infeksi 11. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Kriteria diagnosis 45 . Hasil : Muara kelenjar liur terbuka.: K 11. Perawatan RS : Rawat inap untuk operasi 8. Terapi : Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste 9. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10.

ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. Informed Consent 12. 3. 2. 8. 5. 9. 7. Masa pemulihan 15. Hasil 16.1. 4. Lama perawatan 14. 6. Penyulit 11.3 TUMOR JINAK RONGGA MULUT Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma. Otopsi 18. Tanaga standar 13. papiloma. Patologi 17. epulis Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi ± 7 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 46 . Prognosis D 10.

Tenaga standar 13. 4. 6. 3. ICD Diagnosis Kriteria diagnosis Diagnosis banding Pemeriksaan penunjang Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan : : : : : : : : : : : : : : : : : : 10. 7. Patologi 17. Masa pemulihan 15. 9. 2. 5.1. Penyulit 11. Informed Consent 12. 8. Hasil 16. Otopsi 18. Prognosis TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA & LEHER Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau dileher Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Rawat inap Eksisi Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Perdarahan Infeksi Perlu dilakukan Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah onkologi Kalau lokal anestesi bisa poliklinis Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari ± 4 minggu Tumor terangkat Perlu Tidak perlu Baik 47 . Lama perawatan 14.

Hasil : Tumor terangkat 16. Penyulit : Hematom Infeksi Fistel 11. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15.: Q 18. Perawatan RS : Rawat inap 8. ICD 2. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ± 7 hari 14. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis terkait (bila diperlukan) 7. Patologi : Perlu 17. Terapi : Eksisi 9. Otopsi : Tidak perlu 18.0 : KISTA BRANCHIOGENIK : Benjolan kistik didepan 1/3 atas m sternokleido mastrideus dileher akibat kelainan kongenital 4. Diagnosis banding : Higroma Tiroid aberan 5. Kriteria diagnosis 48 . Diagnosis 3. Prognosis : Baik 1.

eritroplakia. fistula orokutan. jelek 1. hygiene mulut jelek. cenderung tumbuh cepat. ICD 2. Diagnosis 3. seroma 11. k/p rekonstruksi 9. Bisa disertai metastase pada kelenjar getah bening leher. USG hepar dan bone survey bila ada indikasi 6. Kriteria diagnosis 49 . Hasil : Sembuh total untuk stadium I 16. Prognosis : Stadium dini. Granuloma 5. gigi runcing. flap.Penyulit : Infeksi. biopsi eksisional 9dengan batas 1 cm keliling tumor) pada lokasi tertentu Tumor > 1 cm. chyloma. biopsi insisional Untuk keperluan staging : Untuk mengetahui infiltrasi. bisa disertai rasa tebal atau nyeri. 4. Lama perawatan : ± 10 hari 14. Patologi : Perlu 17. biopsi positif. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Kemungkinan ada faktor predisposisi seperti merokok. malnutrisi. nginang. Masa pemulihan : ± 4 minggu 15. nekrosis. Diagnosis banding : Ulkus kronis benigna. Pemeriksaan penunjang : Biopsi Tumor < = 1 cm. Perawatan RS : Rawat inap 8. bila tumor sangat dekat dengan tulang : X-foto mandibula AP + Eisler / panoramic serta X-foto maksila Waters + Hap Mengetahui metastase jauh : X-foto toraks. lesi prakanker berupa leukoplakia. Terapi : Eksisi luas sampai 1 . baik Stadium lanjut. peminum alkohol. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Informed Consent : Perlu 12. nasograstrik feeding 7 hari.: C 00 – C 06 : KANKER RONGGA MULUT : Lesi di rongga mulut berbentuk bungan kol/ulserasi/peninggian yang tak hilang setelah 4 minggu. dehisensi luka.5 cm diluar jaringan patologis. Otopsi : Tidak perlu 18.1. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10.

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnostik 4. Diagnosis banding 5. Pemeriksan penunjang 6. 7. 8. 9. Konsultasi Perawatan RS Terapi Tempat pelayanan

10. Penyulit 11. Informed Consent 12. Tenaga standar 13. Lama perawatan 14. Masa pemulihan 15. Hasil 16. Patologi 17. Otopsi 18. Prognosis

: K 09.0 : KISTA ODONTOGENIK : Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, adanya ganggren radiks atau gigi yang tidak sembuh : Kista radikuler : X-foto mandibula AP / Eisler, atau panoramik X-foto maksila Waters / Hap : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi) : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai : Infeksi Hematoma : Perlu : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi Dokter spesialis bedah gigi & mulut : ± 5 hari : ± 2 minggu : Kista terangkat bersih : Perlu : Tidak perlu : Baik

50

1. ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: Q 89.2 : KISTA DUKTUS TIROGLOSUS : Benjolan di leher daerah midline setinggi kartilago hioid, batas jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita menelan dan menjulurkan lidah 4. Diagnosis banding : Struma pada istmus Limfadenopati Kista dermoid 5. Pemeriksaan penunjang : 6. Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. Perawatan RS : Rawat inap 8. Terapi : Operasi prosedur Sistrunk 9. Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai 10. Penyulit : Fistel Residif 11. Informed Consent : Perlu 12. Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Dokter spesialis bedah onkologi 13. Lama perawatan : ±3 hari 14. Masa pemulihan : ± 14 hari 15. Hasil : Benjolan terangkat bersih bersama salurannya 16. Patologi : Perlu 17. Otopsi : Tidak perlu 18. Prognosis : Baik

Kepustakaan : 1. Sukardja IDG, Purnomo B, Tahalele P, Marnadi M, Murtejo U, (EDS) : STANDAR PELAYANAN PROFESI DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA. Edisi I. Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, 2002, Hal. 42-106. 2. Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW, (EDS) : SURGERY, Basic Science and Clinical Evidence. Springer-Berlag New York Inc. 2001, pp 1565-1881. 3. Feig BW, Berger DH, Fuhrman GM, (EDS) : THE M.D. ANDERSON SURGICAL ONCOLOGY HANDBOOK. Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Houston Texas, 2003. 4. Devita PT, Hellman S, Rosenberg SA, (EDS) : CANCER, Principles & Practice of Oncology. 6 Ed. Lippincott – William & Wilkins, 2001. 5. Ramli M, dkk. PROTOKOL PERABOI. BANDUNG 2003

51

KELAINAN BAWAAN (CONGENITAL ANOMALY) KELAINAN BAWAAN WAJAH NAMA PENYAKIT/DIAGNOSE SUMBING/SKISIS, FACIAL CLEFT, ANOMALI KRANIOFACIAL, ANOMALI DENTOFACIAL ICD Q 35, Q 36, Q37, Q75, K07 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan lahir berupa : 1. Celah pada bibir atas 2. Celah pada bibir dan gnatum atas 3. Celah pada bibir, gnatum dan langitan 4. Celah pada langitan saja. 5. Celah pada muka/wajah ( facial cleft), dibagi menurut klasifikasi Tessier 6. Disproporsi kranio-facial atau dento-facial dengan atau tanpa kraniosinostosis Klasifikasi: 1. Syndromic anomaly 2. Non-syndromic anomaly Diagnose banding Tidak ada Pemeriksaan penunjang Foto kepala AP & lateral, CT scan (3 dimensi) untuk sumbing muka Konsultasi Bila perlu : 1. Dokter Gigi : untuk kebersihan mulut dan pembuatan obturator 2. Dokter THT : - bila ada radang telinga tengah, - bila ada defisit pendengaran 3. Speech Therapist : untuk belajar bicara 4. Psikoloog Anak : - untuk pemeriksaan IQ, - untuk defisit kepribadian 5. Orthodontist : untuk perbaikan pertumbuhan gigi. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk keperluan operasi berencana. Terapi Bedah Penutupan bibir/labioplasti pada usia 3 bulan keatas. Penutupan langitan/palatoplasti pada usia 15-24 bulan Perbaikan parut bibir operasi pertama pada usia 4-5 tahun Penyempitan faring/faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun keatas. Penambahan tulang(bone grafting) rahang pada usia 8 tahun keatas Perbaikan bentuk muka/maxillary advancement, kalau perlu, pada usia 15 tahun keatas. Bedah kraniofasial atau distraksi osteogenesis untuk anomali kraniofasial dan dentofacial

52

Nonbedah Speech therapy oleh Speech Therapist pada usia 4 tahun ke atas Perbaikan gigi oleh Ortodontist pada usia 9 tahun setelah penambahan tulang. Standar RS Tipe C untuk penutupan bibir/labioplasti, penutupan langitan/palatoplasti Tipe B dan A untuk: - Perbaikan parut bibir - penyempitan faring/faringoplasti - penambahan tulang (bone grafting) rahang - perbaikan bentuk muka/maxillary advancement - bedah kraniofasial Penyulit Untuk labiognatopalatoskisis dan palatoskisis : Karena penyakit : OMP Pendengaran kurang Maloklusi gigi Suara sengau, kata-kata tidak jelas Karena operasi : Parut tidak baik Fistula oronasal Untuk bedah kraniofasial: Gangguan penghiduan karena cedera lamina cribriformis Relaps pada distraksi osteogenesis Informed consent Diperlukan untuk tindakan operasi, operasi dilakukan bertahap, ketepatan waktu operasi sangat mempengaruhi hasil akhir penanganan Masa pemulihan Lama perawatan 2-3 hari : labioplasti (tidak selalu diperlukan rawat inap) 2-5 hari : palatoplasti 5 hari : faringoplasti 5 hari : bone grafting rahang 7 hari : maxillary advancement 10 hari : bedah kraniofasial Tenaga yang berkompeten Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua tindakan operatif. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk sumbing bibir atau unilateral komplit bila tidak ada tenaga Bedah Plastik. Speech therapist untuk terapi bicara Ortodontist untuk perbaikan gigi.

53

.Saunders Company Hacourt Brace Jovaanovich Inc. Salyer KE. Brwon and Company. parut operasi halus.D. Prognosis Baik Tindak lanjut Penderita keluar dengan keadaan klinis baik.B. . St Louis. 54 . Aston (Edit). Morris. Mosby Company. Profit WR. Sherrell J.Toronto. Bell WH. Hughlett L.Saunders Company. Little. gigi tak beraturan.D. suara normal. M. White RP.Surgical Correction of Dentofacial Deformities. Philaadelphia. Boston/Toronto/London 2. oklusi baik Kurang normal Parut kasar. Plastic Surgery (8 vol) . Smith. Philadelphia. Montreal. James W. Sydney. Toronto. Ph. 1990. Sydney. Montreal. suara sengau. Jackson IT. Tokyo. Philadelphia. Toronto. PA Tak perlu Autopsi/risalah rapat Tak perlu. . 3. W. bentuk muka normal. bentuk muka bagian tengah lebih ke dalam.B. 1982. Multidisciplinary Management of Cleft Lip and Palate . W. 1991. Fourth Edition. 1980. Perbaikan proporsi estetik kepala.. 5. 1990 4. gigi geligi tumbuh bagus. asimetri bibir dan lubang hidung. London. Januz Bardach. hasil operasi memuaskan. Joseph G. Pasien kontrol teratur Kepustakaan : 1. London Toronto.D. London.wajah. London. Grabb and Smith's Plastic Surgery. M. Munro IR. Atas of Craniomaxillofacial Surgery. Whitaker LA. Tokyo. McCarthy.Hasil Normal Bentuk bibir dan hidung simetris.. WB Saunders Company.

dilanjutkan operasi berikutnya penanaman rangka tulang rawan. Operasi satu tahap (sandwich technique) 4. Pananaman rangka tulang rawan. Q17 Kriteria diagnosis Kelainan bawaan pada daun telinga berupa telinga kurang terbentuk/kecil Diagnosis banding .Ro foto untuk melihat pembentukan organ telinga tengah bila perlu. Standar RS Tipe B ke atas. Menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada operasi sebelumnya. Q16. Konsultasi Spesialis THT bila ada defisit pendengaran.tak ada Pemeriksaau penunjang . Operasi pemasangan tissue expander. 3. 2. Perawatan RS Rawat jalan kecuali operasi. kematian flap. Penyulit Infeksi. Tiga-empat bulan setelah operasi I dibentuk telinga dengan pengangkatan tulang rawan yang sudah ditanam pada operasi I.1.0. Terapi Rekonstruksi telinga dapat berupa: 1. Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 4-7 hari untuk tahap I 7 hari untuk tahap II Bergantung pada tindakan untuk tahap III Masa pemulihan Berkisar antara 2-3 rninggu untuk tahap I 2 minggu untuk tahap II 55 .Microtia ICD Q16.

W.tak diperlukan. James W. Richard J. Boston/Toronto/London. PA .R. Emergency Plastic Surgery . 1990. F. 4. Sherrell J.B. McGregor M. Ch.B. Tokyo. F. Churchill Livingstone. Montreal.D.S.. 1991.. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Sydney.S. M. London Toronto. Brwon and Company.C. M.A.). 2. Greco (Edit) .(Eng. F. Fourth Edition. 3. Plastic Surgery (8 vol) .C.S.. 1980.).tak diperlukan Autopsi/ risalah rapat . Grabb and Smith's Plastic Surgery. Joseph G. Hon. . Boston/Toronto/London. McCarthy. 56 . Smith. Little. Philaadelphia.Luaran Sembuh dengan telinga bentuknya mendekati normal. Brown and Company. Little. Aston (Edit). Edinburgh london and New York.R.C. (Glasg. Ian A. 1991. Kepustakaan : 1.Saunders Company.

ada atau tidak ada korde. Penis bengkok kearah ventral karena ada korde. daerah skrotum. bilq perlu. daerah perineum. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk tindakan operasi Terapi Tahap I eksisi korde Tahap II berjarak paling sedikit 6 bulan setelah tahap I.KELAINAN BAWAAN GENETALIA Nama Penyakit/Diagnosis Hipospadi ICD Q54 Difinisi Kelainan bawaan berupa meatus uretra eksterna terdapat di bagian ventral dan letaknya lebih proksimal dari letak yang normal. Konsultasi Bagian Kesehatan Anak untuk pemeriksaan kromosum seks. Kriteria diagnosis Cacat bawaan berupa muara urethra terletak lebih proksimal dari biasanya. rekonstruksi urethra. Pemeriksaan fisik Meatus urethra eksterna terletak lebih proksimal dari letak normal : bisa dibatang penis. Standar RS Tipe B keatas Penyulit Fistula urethra Divertikel urethra Stenosis meatus Informed consent Perlu untuk opcrasi Standar tenaga I)okter Spesialis Bedah Plastik Dokter spesialis Bedah Urologi Dokter Spesialis Bedah Anak Lama Perawatan Masing-masing tahap memerlukan perawatan 7 hari. Masa pemulihan Batu urethra Striktura urethra Sisa korde Untuk masing-masing tahap selama 2 minggu 57 . Pemeriksaan penunjang Kromosum seks bila ada kesulitan identifikasi jenis kelamin. tergantung metoda operasinya.

Little. W.. F. M. 1980.S. F.A. Richard J. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. McCarthy. McGregor M. 1991. Brown and Company.R.Saunders Company.D. Brwon and Company. Montreal. Plastic Surgery (8 vol) . Ian A. PA tak perlu Autopsi/risalah rapat tak perlu Kepustakaan : 1. Little. 1990. James W. Boston/Toronto/London 58 .B. Emergency Plastic Surgery .).R. Aston (Edit). Sherrell J. . Smith. Edinburgh london and New York. London Toronto. F. Ch.S. 3.Luaran Sembuh dengan penis lurus dengan meatus uretra eksterna letaknya di ujung penis. 4.. Hon. Boston/Toronto/London 2. Sydney.C.). Churchill Livingstone. 1991.B. Joseph G.S. Grabb and Smith's Plastic Surgery.(Eng. (Glasg. Tokyo. Philaadelphia.. M.C. Fourth Edition.C. Greco (Edit) .

Water`s photo/Reverse Water`s. hematome atau edema pada tempat benturan . Foto panoramic.Perdarahan lewat lubang hidung dan mulut. sprain & strain ligament dan sendi) Patah tulang muka. Fraktur regio sendi temporomandibula 8. dibagi menjadi beberapa jenis fraktur : 1. diplopia. atap orbita 9. Fraktur sinus frontalis /nasofrontal 6. salah satu hidung terasa tersumbat. distopia .Adanya deformitas wajah. Perawatan RS Rawat inap: Bila memberikan gangguan saluran napas.TRAUMA Trauma Kranio-maksilo-facial (Fraktur tulang wajah) ICD SO2 (Fracture of skull and facial bone) ICD SO3 ( Dislokasi. Fraktur hidung 5.Gangguan membuka dan menutup rahang bawah . Fraktur maksila 3. fraktur Processus alveolaris 7. Fraktur zigoma 4. Dislokasi sendi TMJ. Dokter Spesialis Mata bila dengan cedera bola mata. foto TM joint) Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Saraf.Deviasi hidung atau septum nasi . Persiapan operasi. 59 . septum nasi.Gangguan pergerakan bola mata. Fraktur mandibula 2. Dokter Spesialis Saraf (untuk cedera kepala).Untuk tiga jenis yang pertama bisa ditemukan maloklusi . asimetri . Fraktur dasar orbita. Prosedur lengkap Kriteria diagnosis Anamnesis Terdapat riwayat trauma pada tulang muka.Teraba diskontinuitas tulang Diagnose banding . Pemeriksaan .tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen jenis dan proyeksi bergantung pada keperluan (Foto tulang muka AP & lateral.

Brwon and Company. Kepustakaan : 1. Sherrell J. Montreal.B. Smith. Joseph G. 60 . Infeksi 3. Tokyo. Sydney. McCarthy. Untuk fraktur lainnya 2 rninggu. Plastic Surgery (8 vol) . PA Tidak ada Autopsi/ risalah rapat Tidak ada. Boston/Toronto/London 2. Pertimbangan estetik dan fungsional harus diberikan dan dijelaskan sebaik-baiknya kepada pasien.Terapi Konservatif Bila tidak memberikan gangguan fungsi maupun bentuk dan fraktur dianggap cukup stabil. B. Sembuh dengan deformitas/cacat fungsi. Operatif Dilakukan apabila keadaan intrakranial sudah stabil. Grabb and Smith's Plastic Surgery. W.D. M. London Toronto. Informed consent Diperlukan tertulis Standar tenaga Personil unit gawat darurat pada pertolongan pertama Dokter Spesialis Bedah Umum untuk fraktur mandibula simple dengan luka terbuka menggunakan fiksasi non rigid Dokter Spesialis Bedah Plastik Lama perawatan 2 sampai 20 hari. . bervariasi bergantung pada jenis berat fraktur Masa pemulihan Untuk 3 fraktur pertama 8 minggu atau lebih.Saunders Company. dan trauma berat lainnya sudah diatasi. normal. 1990. Philaadelphia. Gangguan bentuk atau fungsi 2. Aston (Edit). Kematian bila ada cedera kepala berat. C Penyulit 1. 1991. Luaran Sembuh. James W. Fourth Edition. Little. Standar RS Tipe A.

. London. Bradley N.S.Saunders Company. Montreal.C. Masson publishing USA. FACS. McGregor M.. Surgery of Facial Bone Fractures .D. Craig A.S. Bernd Spiessl .. D. Springer-Verlag Berlin. M. Hong Kong.S. Michel Lekieffre.. Craniomaxillofacial Trauma . Whitaker.M.S.A. F. Madrid. Tokyo. Wolfe Medical Publications Ltd. Prentice-Hall International Inc.FACS.D. 11.D. Philadelphis. F. 7. Francois Hervouet. A Manual of AO/ASIF Principles .D. Brown and Company... M. Keith. 1992. Jacques Rougier. New York and Tokyo. F. . Rio de Janeiro.. . 8. 1995 10. Tokyo. Mexico City..R.D. Paul Bramley (Edit) .R.A.D. D.3.B. Tokyo. W. deB. Churchill Livingstone. F. Barcelona. 1990. London.S.D. Ian A. Ch.C. Boston/Toronto/London 5. Sydney.C.C. Churchill Livingstone. Robert C. Toronto. Montreal. Toronto. Paris. London. Kenneth E.C.J. Atlas of Oral and Maxillofacial Surgery . 1987.. Foster. M.B. John E. Edinbergh.. Emergency Plastic Surgery . New york..B. F. St. D. B. Simpson . W.). Norman. David & D.D. M. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.A. Sherman. Internal Fixation of the Mandible. 1989.(Edit) . London. John E.S. Melbourne.V. 1990 61 . M. Richard J. New York. Atlas of Craniomaxillofacial Surgery . F. Kaban. Little.M. . M. Heidelberg.S. M. MD. Inc. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery .. M. London. David A. Mosby Company. F. A Textbook and Colour Atlas of The Temporomandibular Joint . Melbourne. Linton A. Patrick Derome .. Munro. Lemke.D. Plastic Surgery of the Orbit and Eyelids . Edinburgh.C. Leonard B. 6.B. 12. Paris.... Toronto. Edinburgh london and New York 4.). 1980.. 1990. F.S. 1981 9. Greco (Edit) .C.(Eng. Hon.Saunders Company. Jackson. Milan..A.R. Ian R.S.. Surgery of the Eyelids & Orbit an Anatomical Approach . (Glasg.S. Louis. 1982. Della Rocca.S. London.C. 13.R. Sydney. D.. 1991.B. . Marcel Woillez. Ian T.. London. Churchill Livingstone. Philadelphia. M.S.D.A. New York.D.C.R. The C. Salyer. F..©. Paul Tessier.

tak diperlukan 62 . sebagian besar atau total. S60.SO9) Crush injury kepala dan muka (SO7) Cedera kulit dan jaringan lunak ekstremitas (S40.S51. SO1.S61) Avulsi kulit Kritcria diagnosis terlepasnya kulit dari dasar/kulit sekitarnya.delayed STSG Drain untuk closed avulsion /degloving Kematian sebagian atau seluruh kulit yang terangkat Infeksi Parut yang jelek.Tipe A atau B. Luaran PA Sembuh baik Sembuh dengan cacat. .S50. Informed consent Diperlukan tertulis Lama perawatan 2 rninggu atau lebih Lama pemulihan 4 rninggu sampai 1-2 tahun tergantung faktor-faktor yang menyertainya.bisa tanpa luka (closed avulsion /degloving ).S57.tak ada Pemeriksaan penunjang . Hanya pencucian luka tidak dijahit. Skin graft (tandur kulit) pada luka terbuka yang tersisa.tak ada Konsultasi .Cedera kulit dan jaringan lunak Cedera superfisial dan luka terbuka daerah kepala dan wajah (ICD SO0.bisa dengan luka (open avulsion /degloving) Diagnosis banding . Penjahitan situasi tanpa tegangan sisa kulit yang masih vital. S41.tak ada Perawatan RS . Terapi Penyulit Penilaian vitalitas kulit yang terlepas dan pembuangan kulit yang ternyata mati.

Clinical Atlas Of Muscle And Musculocutaneous Flaps . Foad Nahai . Fourth Edition. Smith. The C. London.. 1991. Mathes. Brwon and Company. Plastic Surgery (8 vol) .(Eng.R. Tokyo.C. St. Sherrell J.B. McCarthy.Saunders Company.). Churchill Livingstone.S.. Greco (Edit) .R.tak diperlukan Kepustakaan : o James W. (Glasg. Brown and Company. 1990. M.C. Aston (Edit).S.Autopsi/risalah rapat . Edinburgh london and New York. 1979 o o o o 63 . F. M. London Toronto. Boston/Toronto/London. Boston/Toronto/London Stephen J. F.). McGregor M. Toronto. louis.B. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Little. .S. Montreal.A.C. F. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.D. Ch. Emergency Plastic Surgery . Ian A. Sydney. Mosby Company.V. Little. W. Philaadelphia. Joseph G. Richard J.. 1980. Hon. 1991.

Informed conset Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik.amputasi partial. S68 Kriteria diagnosis Terpisahnya sama sekali bagian atau ekstremitas dari tubuh tersebut Clean cut (amputasi secara tajam) atau bukan.2 ICD S48. Pemeriksaan penunjang . hidung. 64 . Telinga. Sebaiknya tindakan ini dilakukan segera di tempat kejadian.tak diperlukan Perawatan RS Rawat inap segera untuk persiapan operasi. S58 ICD S67.Radiologis Konsultasi . Diagnosis banding . Standar RS: Tipe A Penyulit Perdarahan Trombus Infeksi Kegagalan replantasi akibat thrombus. penis.Bedah mikro dan bedah tangan Diagnosis Amputasi Organ (Avulsi kulit kepala. Operasi replantasi dengan rnikroskop + instrurnen Bedah mikro.Laboratorium . Vulva) dan ekstremitas ICD S08 ICD S38. Terapi Amputasi dirawat sebagal berikut: Masukkan kedalarn kantong plastik bersih (tanpa cairan) Kantong tersebut ditutup rapat lalu dirnasukkan ke kantong kedua berisi air biasa (2/3 bagian) + potongan es (1/3 bagian).

McGregor M.London.S. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.Tokyo.B.Philaxdelphia. F. F.).Chase . Emergency Plastic Surgery . Little.A.C. 3. 4. Smith. 1991. Joseph G.B. 1991. London Toronto. Montreal.R. Greco (Edit) . M.Mexico City. Aston (Edit). Hon.. 2. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Boston/Toronto/London. Fourth Edition. Churchill Livingstone. M. Richard J. Luaran Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik. Ian A. James W.(Eng. 1980.Toronto.Saunders Company.C. . Tokyo. Little.). Plastic Surgery (8 vol) .C. 1990.tak diperlukan Autopsi/risalab rapat . F. Philaadelphia.Saunders Company..Lama perawatan 10 hari sampai 1 bulan Masa pemulihan 6 minggu sampai setahun. 65 .D. Boston/Toronto/London 5. Sembuh kurang sempurna Gagal. Edinburgh london and New York. McCarthy. W. Robert A. Sydney. Ch. Atlas of Hand Surgery volume 2 1984 W. Brown and Company.. Sherrell J.S.B. (Glasg.R. PA .S. Brwon and Company.tak diperlukan Kepustakaan : 1.

Terapi Didahulukan penanggulangan terhadap gangguan jalan nafas dan sirkulasi Perawatan Intensif Luka Bakar Perkiraan jumlah dan pemberian cairan dengan menggunakan rumus Baxter: Hari I diperkirakan memerlukan: berat badan dalam kg x % luas luka bakar x 4 cc ringer laktat. Pemeriksaan 1.kaki. T26-T35 Kriteria diagnosis Anamnesis Ada riwayat trauma bakar karena api. Komplikasi penyerta seperti syok hipovolemik. Luka bakar daerah wajah. untuk kemudahan menggunakan rumus 9. cedera inhalasi dan cedera penyerta 6. radiasi. Perawatan RS Rawat inap untuk : Luka bakar derajat II / III lebih dan 10 % pada anak-anak. panas. Derajat III > 2%. kimia. Luka bakar listrik.perineal/genital Disertai trauma penyerta lain atau penyakit sistemik berat lain. 3. listrik. 5. Escharotomy untuk daerah dada dan extrimitas pada eskar yang konstriktif 66 .Combustio /Burn Injury/ Luka Bakar ICD T20-T25. 4. Luka bakar disertai trauma berat lain: inhalasi dan sebagainya.retardasi mental Penderita tidak mampu merawat dirinya sendiri. bila dalam kerusakan pada seluruh dermis III: kerusakan lebih dalarn dari dermis (sudah mengenai subkutis) Dalam penilaian derajat I tidak diperhitungkan. 15% pada dewasa. Derajat kedalaman: I: hanya eritem II: bila superficial kerusakan sampai sebagian dermis. Lokasi luka bakar. Luas luka bakar dalam %.tangan . Penyakit premorbid Diagnosis banding .tak ada Pemeriksaan penunjang tak ada Konsultasi Disiplin ilmu lain sesuai dengan penyakit yang menyertai atau komplikasi yang timbul. Hari berikutnya pemberian cairan hipertonik.

Kematian. 5. 4. Derajat II. Paramedis yang berkecimpung pada perawatan luka bakar Lama perawatan Sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan luas luka. Eksisi tangential dini dan skin grafting setelah pasien stabil. Informed Consent: Diperlukan Standar tenaga Dokter Umum untuk luka bakar rigan. Bila penyebab adalah bahan kimia. 7. Diet kalori dan protein tinggi. Masa pemulihan Sangat bervariasi. Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 3. Fisioterapi 8. 3 x berturut-turut. 67 . Ulkus stres. dengan cedera inhalasi. Dirawat sampai luka lebih kecil dari indikasi perawatan. Perawatan seluruh pasien di Burn Unit bila fasilitasnya sudah tersedia Penyulit 1. Kelebihan atau kekurangan cairan maupun elektrolit. untuk jangka panjang Deformitas penampakan yang hebat.nutrisi enteral dini 7. Toksoid 1 cc untuk tiap 2 mg. Dokter Spesialis Bedah yang berkecimpung pada luka bakar ( Burn Surgeon) Dokter Spesialis Bedah Plastik untuk semua luka bakar. Derajat II dalam Derajat III. 9. Parut hipertrofi dan kontraktur. obat topikal yang dapat menembus skar (silversulfadiazin) 3. Luaran Sembuh dengan kecacatan warna kulit saja sampai kecacatan berat. tidak dapat menggerakkan sendi-sendi. saluran napas.Terapi pada luka: 1. 6. 5. Infeksi pada kulit. Antibiotika (bila luka kotor) ada infeksi sistemik. Dokter Spesialis Anestesi. Gangguan saluran napas Gangguan sirkulasi bila berlanjut dapat rnenyebabkan kegagalan organ multipel. Standar RS Tipe B dan A untuk yang berat. ATS diberikan pada semua yang belum pemah mendapat toksoid. selanjutnya berdasarkan hasil kultur 4. mungkin 2 tahun atau lebih bergantung pada parut yang terjadi. perlu dibilas secara tuntas dengan air segera pada jam-jam permulaan. Sukrafat untuk protekor mukosa lambung. superfisial obat topikal untuk luka 2. 6. saluran kemih. 2.

S. M. 1990 3. M. W. . 1991.D. MB.Artz MD. Churchill Livingstone. Muir... I.. MB. T. FRCS(Ed) and John A. Fourth Edition. Philadelphia.B. Little.B. Philaadelphia. Curtis P.S. Basil A. (Glasg. 2. M. Edinburgh london and New York.. MBE. FRCS. 1991. 1979. Emergency Plastic Surgery . Wellington.K. Montreal.D. Ch.Moncrief. F. 1980. Joseph G. FACS. LRCP.A. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. W. Smith.R.). Mphil.R. Boston. Burn and Their Treatment .. Brwon and Company.C. FACS. Tokyo. ChM.S. MD. Plastic Surgery (8 vol) . OBE. Settle. Toronto. James W. Third Edition . FRCS. Singapore. Barclay. Boston/Toronto/London.B. Brown and Company. Sydney. F. Boston/Toronto/London 4.L. London. FRCS(Ed).JR. F. Little.Pruitt. Sherrell J. Butterworths. Toronto. London Toronto. FACS.C.C.(Eng. Aston (Edit). McGregor M. BURN A Team Approach . 6. 1987.).. Ian A. John A. Kepustakaan : 1. VRD. MRCS.Saunders Company.. DA .PA tak diperlukan Autopsi/risalah rapat mungkin diperlukan bila terjadi kematian. 5.. McCarthy.. Richard J. London. Grabb and Smith's Plastic Surgery. MS. Durban..D. Hon.F. 68 .Saunders Company. Greco (Edit) . Sydney.

tidak selalu perlu rawat inap.tidak ada Pemeriksaan penunjang bila diperlukan: Laboratorium Radiologi dan lain-lain KonsuItasi Dokter Spesialis yang dianggap perlu. Perawatan RS Pasca operasi.BEDAH PLASTIK ESTETIK/KOSMETIK ICD Z41. Estetika lain yang tidak bisa dipisahkan dari bedah plastik rekonstruksi. Sernua keluhan yang pada dasarnya ingin mengubah penampilan kearah yang lebih baik/ harmonis. Z44. Terapi Operatif Mengubah penampilan pasien dengan menambah-mengurangi-menggeser jaringan yang diperlukan. misalnya : Rhinoplasti Blepharoplasti Mentoplasti Mammoplasti Lipodistrofi. Diagnosis banding . Z42. Y98 Semua masalah mengenai estetika yang bisa ditolong dengan pembedahan termasuk diantaranya : Estetika untuk cacat bawaan Estetika untuk cacat yang didapat Estetika untuk proses ketuaan Estetika untuk masalah psikososial . Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Penyulit Seperti halnya pembedahan umumnya dan hal khusus misal parut berlebih Masa pernulihan: bervariasi 69 . Kriteria diagnosis Semua keluhan yang menyangkut masalah penampilan. dll.

1992. 1991. 1989. Hong Kong. Le Boit. Stuttgart.J. Sydney. Seth R. Boston/Toronto/London. J. FACS.JR. 17. John A.B. London. Toronto. 1996. Emergency Plastic Surgery . Little.T.. London. Saunders Company. 3. New York. Second Edition . Superficial Liposculpture. Thieme Medical Publishers.C. 1994.. Philaadelphia.. (Edit). Churchill Livingstone. 4. 11. Erdulfo Appiani. Regan Thomas. Thieme Medical Publishers. Rafael de la Plaza . Basil A. 1991.B. Fernando Ortiz-Monasterio.).(Eng. Sydney. BURN A Team Approach . Paris. London Toronto. Little. 7.Saunders Company. Psillakis. . W. 15. Rhinoplasty . Philadelphia. ainc. Thieme Medical Publishers. Tokyo. 9.Pruitt. London.D. Boston/Toronto/London..S. Hong Kong.Moncrief. Lewis. W. Hinderer (Edit) . F. M. Gregory P.B. Luaran Penampilan pasien setelah operasi plastik tambah baik dan terdapat peningkatan kepercayaan dirinya. New York. Inc. 16. T. Jorge M. James W.. (Glasg. Montreal. Edinburgh london and New York. Brwon and Company. 1992. Curtis P. Tokyo. Robinson. Inc. M. 8. Berlin. Montreal.A. F.S.C. Philadelphia. Aston (Edit). Ian A. F. M. Budapest. Sydney. Montreal. Cooter . M. 1994.. Tokyo. F.Saunders Company. John Conley Carl Patow . Psillakis (Edit) . New York. Inc. Brown and Company. London. 1979. Montgomery . Cranio-Facial Deformities. Arndt.. John Q Owsley. An Introductory Guide . Luiz S. Amsterdam-London-New YorkTokyo.).S. William W. Aesthetic Facial Surgery . Henriksson. Joseph G.Artz MD. Brown and Company. New York. . MD. New York. James Roller . 5. Stiernberg . Philadelphia. 1980. 6. Inc.D. Hon. Australian Cranio-Maxillo-Facial Foundation.C.. McGregor M. Charles M. Kepustakaan : 1. Excerpta Medica. Guide to Dental Problems for Physicians and Surgeons .A.D. Heidelberg. Hetter. Volume 1 : Lectures and Panels . Sherrell J. Manual of Technique .. W. Ch. .R. McCarthy. 1994. Karen H. 2. Tokyo.S.B. 1992. London. 1991.B. Boston/Toronto/London. R.. 1988. Toronto. Carson M. 12. Smith. London. Grabb and Smith's Plastic Surgery. FACS. Saunders Company. 14. Deep Face-Lifting Techniques . Barcelona. Fourth Edition. Color Atlas of Aesthetic Surgery of The Abdomen : Thieme Medical Publishers. 70 . 10. Plastic Surgery (8 vol) . Sydney. Saunders Company. Georg Thieme Verlag. Flaps in Head and Neck Surgery . International Congress Series 935.C. Greco (Edit) . David. Thieme Medical Publisher. U. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Lipoplasty The Theory and Practice of Blunt Suction Lipectomy . Adelaide. M.R. Toledo . Williams & Wilkins. Toronto. New York.. Thaller. Little.. Springer-Verlag. M.D. Calhoun. 1990. Cutaneous Facial Surgery . Tokyo.D. Marco Gasparotti.. 1993. Baltimore. New York.B. W.G. FACS. Surgery Of The Lip . Montreal. D. Wintroub : Atlas of Cutaneous Surgery . 1990..D. 13. 18. Philadelphia. Sydney.Informed consent Perlu benar dijelaskan sebelum dilakukan operasi bahwa hasil yang dicapai adalah sejauh kemampuan-pengalaman dokter. Plastic Surgery 1992 . W. 1987. Jorge M. Toronto. Richard J.

. Berlin. (Edit) . Warren H. Bernd Spiessl (Edit) . New York.19. M. Green. Marwali Harahap.. 71 . 20.D. St. Inc.S. 1985. Missouri. New Concepts in Maxillofacial Bone Surgery : Springer-Verlag. Skin Surgery . Louis. Heidelberg. U.A. 1996.

Masih tersisa sedikit akibat kontraktur. PA . Standar RS TipeA . Luaran Sembuh normal. tak ada gangguan gerakan.tak ada Pemeriksaan penunjang Foto rontgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi. Konsultasi .GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA Kontraktur ICD N 940 S/D N 949 Kriteria diagnosis Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses kontraksi pada penyembuhan luka.tak diperlukan 72 .tak ada Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Release kontraktur dan graf/flap. Diagnosis banding . Informed consent Diperlukan Standar tenaga Dokter Spesialis Bedali Plastik Lama perawatan 7-10 hari.B Penyulit Nekrosis flap/graft. Masa pemulihan 3 minggu atau lebih tergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya.

Plastic Surgery (8 vol) .R. James W.). Grabb and Smith's Plastic Surgery. 4. McGregor M. Tokyo.C. Emergency Plastic Surgery .S.Saunders Company.S. F. 3. London Toronto.C. Boston/Toronto/London. 1991.B. McCarthy.Autopsi/ risalah rapat .. 1991. Kepustakaan : 1. M. 1980.. 73 .(Eng. F. Fourth Edition. Aston (Edit). Little. Philaadelphia. Sydney. Smith.B. F. Richard J. Ch. 2.tak diperlukan.C. Greco (Edit) . Montreal. (Glasg.A.S. Brwon and Company. Joseph G. Brown and Company. Boston/Toronto/London. Ian A. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Little. Churchill Livingstone. Hon. W. Edinburgh london and New York. 1990. Sherrell J. M. .)..R.D.

L91 Kriteria diagnosis Keloid: parut yang menonjol menyebuk ke kuilt yang sehat jauh diluar trauma dengan tanda-tanda inflamasi (tambah besar gatal. Dokter Umum untuk suntikan kortikosteroid.5. Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang. Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi. 74 . Penyulit Karena penyakit Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian. Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk operasi Terapi Farmakologis Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal. Balut penekan Bedah Eksisi kalau perlu full thickness skin graft. dilanjutkan dengan Radiasi atau suntikan kostikosteroid pascaeksisi.Keloid dan parut hipertrofik ICD L90. Karena operasi Residif Informed consent Diper1ukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik. sakit) berkepanjangan. Standar RS Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid. Dokter Spesialis Radioterapi untuk radiasi. Parut hipertrofik: bila parut yang menonjol tidak melebihi batas luka awal Diagnosis banding Fibrosarkoma Pemeriksaan penunj ang Tidak ada Konsultasi Dokter Spesialis Patalogi Anatomi bila perlu.

C. Emergency Plastic Surgery .D. McCarthy.C. McGregor M. Brwon and Company. 1991.Bila ada keraguan dengan sarkoma Autopsi/risalah rapat Tidak diperlukan.(Eng.). Kepustakaan : 1.S. Ch.. Smith. Boston/Toronto/London. Joseph G.S. Hon. . W. F. (Glasg. Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Fourth Edition.C.R. Richard J. Greco (Edit) .S. Sydney.A. London Toronto. 2.B. Sherrell J. Ian A. Aston (Edit). 1991. F. Montreal. Masa pemulihan Sangat bervariasi. James W. 4. Plastic Surgery (8 vol) . Brown and Company. Little. M. Luaran Sembuh dengan estetika baik Residif Depigmentasi akibat radiasi PA . Boston/Toronto/London. Grabb and Smith's Plastic Surgery.R. M. Tokyo. Edinburgh london and New York. Churchill Livingstone.B.Lama perawatan 1 hari – 2 minggu. 1990..). 1980. 3. 75 . Philaadelphia. Little.. F.Saunders Company.

TUMOR KULIT DAN JARINGAN LUNAK Hemangioma ICD D18 Dibagi menjadi: 1. 3 dan 4. tumbuh progresit. Kortikosteroid untuk 1. bila perlu Perawatan RS Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi Terapi Farmakologis Suntikan obat-obat sklerosing untuk 1. ada sejak lahir atau timbul dekat-dekat kelahiran. Tipe C untuk suntikan sklerosing. 2. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir. Benjolan pada kulit atau subkutis. 3 dan 4. 2. Bedah Eksisi. 3. 4. 76 . kebiruan. Tattoage untuk 2. Cacat berupa bercak merah pada kulit. Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi. Nonbedah Observasi atau ditambah perban penekan untuk 1.4. Hemangioma kapiler simpleks/jenis strawberry Hemangioma kapiler jenis "port wine stain" atau nevus flamus Hemangioma kavernosa Hemangioma campuran l dan 3 Kriteria diagnosis 1. rata (bisa menimbul setelah dewasa). tidak sakit. 3. 4. dapat ditekan kempes. timbul setelah lahir. Standar RS. stasioner. Embolisasi (kalau perlu) baru eksisi untuk 3 dan 4. eksisi dan perban penekan. Campuran 1 dan 3 Diagnosis banding Fistula A-V Pemeriksaan penunjang kalau perlu arteriografi. tak sakit 2. sedikit menimbul. kortikosteroid. 3 dan 4. Tipe A untuk embolisasi dan laser.2. kalau perlu skin graft untuk 1. Laser untuk 1.

tak perlu Autopsi/risalah rapat - tak perlu. lebih banyak dijumpai pada anak dan remaja. e. Masih tersisa. Intradermal naevi: berbentuk datar atau meninggi. 3 dan 4. Karena operasi Perdarahan Residif Kelainanjantung pada 3 dan 4. tepi irregular. Lama perawatan 1 rninggu atan lebih Masa pemulihan 1 minggu . dapat tumbuh rambut.Penyulit Karena penyakit Perdarahan pada 1 . Nevus Ota: lesi berwarna biru kehijauan. lebih gelap/mengkilat dari kedua jenis lainnya. PA .1 bulan atau lebih Luaran Sembuh dengan estetika bagus. warna campuran yang bervariasi. lokasi tersering daerah terpapar sinar matahari. lokasi tumor pada dermis b. Compound naevi: tumbuh perlahan. lokasi tumor dari epidermis hingga dermis. Estetik jelek. irregular. di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. d. umumnya mengenai wanita 77 . Cacat berat pada daerah yang terkena 3 dan 4. Dysplastic Naevi:lesi berpigmen. pigmen menyebar ke jaringan kulit sekitarnya. lokasi tumor pada perbatasan dermis dan epidermis c. Pigmented lesion/Melanocytic naevi ICD D22 a. perlahan menebal atau melebar. lebih tebal. Informed consent Diperlukan untuk operasi Standar tenaga Dokter Spesialis Bedah Plastik Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Radiologi untuk embolisasi Dokter umum untuk perban penekan. distribusi mengikuti pola nervus V. warna kurang gelap. Junctional naevi: sifatnya rata/tidak menimbul. umumnya dengan multiple nevi.

Aston SJ. mengenai daerah punggung atau muka. dengan pungtat di atasnya. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. esi berupa nodul subkutis. Appleton & Lange. berisi produk sebaseus Diagnosis banding: Konsultasi: Terapi: Eksisi. D17. Aston SJ. Lowe NJ. Sober AJ. Kista Dermoid: lesi subkutis. 4. mobile dan tak melekat ke kulit di atasnya. D17. Ekstirpasi Kepustakaan : 1. 4th ed. sedikit mobile. In: Smith Jw. mobile tetapi sedikit melekat ke kulit di atasnya. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Boston 1991. umumnya mengenai muka. Aston SJ. Mihm MC. tengkorak bahkan meningen Diagnosis banding: Melanoma Maligna Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: Bidang terkait (bila diperlukan) Terapi : eksisi bedah.f. Jackson T. In: Smith Jw. Kista Dermoid. 4th ed. Zarem HA. Boston 1991. Benign Growth and Generalized Skin Disorder.0. Congenital pigmented Naevi/Giant pigmented naevi: lesi berpigmen. Connecticut.1. Stal S. In: Smith Jw. 4th ed. Stamford. Spira M. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. Little Brown. D17.2.3 Tumor yang terdiri dari sel-sel lemak. Boston 1991. ekstensinya dapat sampai otot. Melanoma Maligna. D23 Kista Epidermoid. malar eminence. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. lokasi pada daerah –daerah fusi embrional Kista atherome: lesi subkutis. lunak. distribusi cenderung mengikuti dermatome. Little Brown. Intraoral tumor and Radical Neck Dissection for Oral Cancer. luas > 4 inch. Pediatric Plastic Surgery. 5. Bents ML. 2. Aston SJ. Kibbi AG. 4th ed. Boston 1991. Basal and Squamous Cell Carcinoma of the Skin. In: Smith Jw. scalp. Kista Epidermoid. Little Brown. Kista Atherome ICD D21. 1998 78 . lokasi subkutis. terfiksasi ke dasar. berambut. 3. rekonstruksi dengan skin graft atau tissue expansion Lipoma ICD D 17. Little Brown. tidak nyeri kecuali bila mengalami peradangan.

tuberous deformity dan breast ptosis. Tuberous breast deformity: payudara kecil.BREAST DISORDER Gangguan perkembangan kelenjar payudara ICD N62. bentuk tuberous Breast ptosis: jatuh dan tergantungnya posisi payudar yang berlebih sehingga nipple areola berada di bawah lipatan inframmamary. muncul saat /segera setelah pubertas. N60 Diagnosis: Giant fibroadenoma mamma Kriteria diagnosis: lesi berdiameter > 5 – 10 cm. tidak nyeri.Phylloides tumor . N64 Diagnosis Ectopic breast tissue (Polythelia/accessory nipple. Macromastia: pertumbuhan berlebih jaringan payudara akibat physiologi normal atau juga karena kurangnya kepekaan reseptor kelenjaar payudara terhadap hormon yang mengaturnya.Enukleasi . Diagnosis Banding: Pemeriksaan penunjang: Konsultasi: Standar tenaga: Bedah Plastik Terapi: Eksisi ektopik breast. Inverted nipple: terbaliknya putting susu akibat tarikan duktus di bawahnya. Hipomastia: kurang bertumbuhnya jaringan payudara ditandai oleh payudara yang kecil Amastia. unilateral. dengan dilatasi vena di atasnya.athelia: tidak terbentuknya jaringan payudara. Pemeriksaan penunjang: PA Konsultasi: bidang terkait bila diperlukan Terapi: . ditandai dengan pertumbuhan cepat dan tiba-tiba.Reduksi mammoplasti McKissock 79 . asimetris dengan nipple areola yang lebar. Polymastia/ectopic glandular tissue): jaringan payudara yang tumbuh di sepanjang mammary ridge umumnya di axilla dan lipatan inframammary. Diagnosis banding: . firm. bisanya soliter. dengan atau tanpa terbentuknya nipple. Augmentasi mammoplasty untuk untuk hipo/amastia Lesi jinak payudara ICD D24.Virginal hypertrophy. Reduksi mammoplasty dan mastopexy untuk macromastia. N63.

McGrath MH. 1997 80 . Lewis PL. Plastic & Reconstructive SurgeryVol 105. Aston SJ. WB Saunders. Marks MW. Little Brown. Benign Tumor of Teenage Breast. Gynecomastia In: Smith Jw.No1. Marks C. USA.Kepustakaan : 1. Jan 2000 3. Fundamentals of Plastic Surgery. Grabb and Smith`s Plastic Surgery. 4th ed. Boston 1991. McKinney P. 2.

C. McGregor M. McCarthy. Boston/Toronto/London.(Eng. 1991. 1980.. Little. Brown and Company. James W.A.C.B.. Brwon and Company. Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi sebelumnya Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap.). Grabb and Smith's Plastic Surgery. 2. London Toronto..5 hari Masa pemulihan : ± 1-2 minggu Hasil : Infeksi (-) Setelah infeksi reda. Hon. Ian A. Richard J. segera Terapi : Insisi-drainase → kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan : Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang Memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas . (Glasg. rasa hangat dan nyeri tekan. Plastic Surgery (8 vol) . 1991. 1. F. 1990. W. M. konsul dokter gigi bila sumber infeksinya dari gigi Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis: Baik Kepustakaan : 1. F. Emergency Plastic Surgery . Philaadelphia. Boston/Toronto/London.B. F.S. Sherrell J. Fundamental Techniques of Plastic Surgery.INFEKSI Flegmon dasar mulut ICD : K 12. Montreal. Joseph G. Churchill Livingstone.Saunders Company. 81 . Aston (Edit).C.Sepsis Informed Consent : Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan: ± 3 . Edinburgh london and New York. . Ch. kulit diatasnya kemerahan.2 Kriteria diagnosis : Pembengkakan submandibuler dengan rasa nyeri dan panas badan.R. Smith. Fourth Edition.S. Tokyo. Sydney. M.R.S.).D. Greco (Edit) . Little. 2.

C. Tokyo. London Toronto. Greco (Edit) . Brwon and Company. Richard J. nasofrontal. F.S. Plastic Surgery (8 vol) . Fundamental Techniques of Plastic Surgery. Emergency Plastic Surgery . . 1991. Sydney.. Grabb and Smith's Plastic Surgery. diserta rasa nyeri dan kadang disertai panas badan. Ian A...C. 1990. 2. Churchill Livingstone. F. periorbital. nyeri tekan (+) Diagnosis banding : Pemeriksaan penunjang : Konsultasi : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) Perawatan RS : Rawat inap segera bila :Lokasi didasar mulut.R. Fourth Edition. Joseph G. 1980. 1991. kulit diatasnya kemerahan.S.Sepsis .D. infeksi reda Patologi : Tidak perlu Otopsi : Tidak perlu Prognosis : Baik Kepustakaan : 1. W.(Eng.). McCarthy.). Montreal.R.A.Thrombosis sinus kavernosus Informed Consent: Perlu Tenaga standar : Dokter spesialis bedah umum Dokter spesialis bedah Plastik Lama perawatan : ± 3 – 5 hari Masa pemulihan : ± 10 – 14 hari Hasil: Abses (-). Philaadelphia. M. Little. Edinburgh london and New York.B.0 Kriteria diagnosis : Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisis. 82 . fluktuasi (+). Boston/Toronto/London.C. Ch. 4. 3. McGregor M.Abses Maksilofasial ICD : L 02.S. M. Brown and Company. Boston/Toronto/London. Little. F. (Glasg. Diameter > 6 cm Terapi : Insisi drainase – kultur pus bila ada fasilitas Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab Tempat pelayanan: Minimal RS kelas-C RS lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai Penyulit : Obstruksi jalan nafas .Saunders Company.B. Hon.

KEPUSTAKAAN : 1.G. R.OTOPSI : 16. pergerakan normal.Sesuai dengan komplikasi yang timbul (Infeksi . A. pemendekan tulang panjang) Ada perlukaan di daerah fraktur yang berhubungan dengan fragment fractur 4. nyeri kalau gerak. DIAGNOSIS BANDING : 5.PENYULIT : Infeksi . Butterworth-Heinemann.MASA PEMULIHAN : 12 minggu 13. gangguan fungsi. NOMOR ICD : S 82 2. perdarahan. 2. emboli lemak) F. Kualifikasi operator : . Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap untuk observasi dan tindakan 8. Edition. kompartment syndrome. Salter. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Radiologi : Foto Ro. KRITERIA DIAGNOSIS : Ada trauma Ada tanda patah tulang (krepitasi.PATOLOGI : 15. 1983.HASIL : Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal 14. Tujuan terapi : Kuratif B.1. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 1993.B. 2nd Ed. PENGOBATAN : A. Williams & Wilkins Baltimore/London. Cara pengobatan : Debridement dan fiksasi sesuai dengan grade & displasement Fiksasi interna elektif untuk grade I Fiksasi internal immediate untuk grade II Fiksasi eksterna untuk grade III C. KONSULTASI : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. TEMPAT PELAYANAN RS Perjan Denpasar 10. DIAGNOSIS : PATAH TULANG TERBUKA 3. Terapi komplikasi pengobatan : . deformitas.INFORMED CONSENT : Perlu 12. & Solomon. 83 . AP /Lat 6. kompartment syndrome. perdarahan.PROGNOSIS : Dubius ad bonam 17. 7th. Apley.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. emboli lemak) 11. L.TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. Macam pengobatan : D.

KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat trauma Tanda pasti patah tulang tibia/ fibula Foto Ro. 1993. KEPUSTAKAAN : 1. Salter. Butterworth-Heinemann. PENGOBATAN : A. & Solomon. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. PROGNOSIS : Baik 17.1. HASIL : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal 14. Reposisi terbuka : Pemasangan implant/ plate screw D. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Cara pengobatan : Reposisi C. NOMOR ICD : S 82 2. TEMPAT PELAYANAN: RS. PATOLOGI :15. 2. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10. L. DIAGNOSIS BANDING : 5. Edition. PENYULIT: Malunion/ delayed union 11.B. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. DIAGNOSIS : FRAKTUR CRURIS 3. R. Macam pengobatan : Reposisi tertutup.fraktur pada tibia da fraktur pada fibula 4.G. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. 7th. Williams & Wilkins Baltimore/London. Terapi komplikasi pengobatan : Reposisi ulang/ bone graft ( malunion/delayed Union F. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan untuk non bedah : Rawat inap untuk pembedahan 8. A. KONSULTASI : Dokter spesialis terkait {bila diperlukan) 7. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 84 .: Long leg cast. OTOPSI : 16. MASA PEMULIHAN : 4-8 minggu 13. 1983. Tujuan terapi : kuratif B. Apley. Perjan Denpasar RS. 2nd Ed.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9.Kualifikasi operator : . PEMERIKSAAN PENUNJANG : foto polos cruris AP/ Lat 6.

NOMOR ICD : S 86. HASIL : Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal 14.G. KEPUSTAKAAN : 1. INFORMED CONSENT : Perlu 12. Apley. 1983. Cara pengobatan: Repair tendon C. DIAGNOSIS BANDING : PEMERIKSAAN PENUNJANG : KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. Kualifikasi operator : .B. 7th. A. MASA PEMULIHAN : 6 minggu sudah buka gip 13.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. 5. 1993. Perjan Denpasar 10 PENYULIT : Infeksi. 6. PATOLOGI : 15. Tujuan terapi : Kuratif B. 2nd Ed. Terapi komplikasi pengobatan dan bias dipersiapkan secepatnya pada yang Tertutup. PENGOBATAN : A. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. 85 .0 2. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.1. L. TEMPAT PELAYANAN : RS. sambungan putus. F. Edition. 7. 2. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit pada yang clean cut E. Salter. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi achiles Trauma tangan Clean cut injury Fungsilaesia 4. R. OTOPSI : 16. & Solomon. kontraktur ankle 11. Williams & Wilkins Baltimore/London. DIAGNOSIS : RUPTUR TENDON ACHILES 3. PROGNOSIS : Baik 17. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Macam pengobatan : Operasi dengan tehnik Bunnel atau Kesler Immobilisasi dengan fore slab D. Butterworth-Heinemann.

0 2. DIAGNOSIS : FRAKTUR PATELA 3. PATOLOGI : 15. Apley. KEPUSTAKAAN : 1. INFORMED CONSENT : Perlu 12. defect antar fragmen. infeksi. A. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7. & Solomon. 2. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. DIAGNOSIS BANDING : 5.Partial/ total patelectomy D. TEMPAT PELAYANAN : RS.G. Terapi komplikasi : Sesuai dengan komplikasi yang timbul (non union malunion. PEMERIKSAAN PENUJANG : Foto polos genu AP/ Lat 6.Nyeri.1. HASIL : Kedua fragmen patela tereposisi & rigid Fragmen terangkat 14. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. MASA PEMULIHAN : 8-12 minggu 13. haemathros . PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat jalan dan rawat inap 8. 86 .B.Cara pengobatan : Reposisi tertutup dan reposisi terbuka. separasi fragmen Kelemahan otot-otot quadrisep.Bila perlu sunrise/ tangensial (untuk fraktur vertikal& fragmen osteochondral) 4. PENGOBATAN A Tujuan pengobatan : Kuratif B. 2nd Ed. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Edition.kekakuan lutut 11.Foto genu AP/ Lat .bengkak. PROGNOSIS : Baik/ cacat 17. L. crepitasi.Gangguan extensor mekanisme lutut Radiologi : . NOMOR ICD : S 82. PENYULIT: Haemathros Infeksi.TBW . OTOPSI : 16.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. 7th. Perjan Denpasar RS. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. R. 1983. C Macam pengobatan : Reposisi tertutp : Pasang Kocher gips untuk permukaan yang intact dan fragmen tidak bergeser Reposisi terbuka: ORIF : gangguan permukaan artikuler . haemathros) F. KRITERIA DIAGNOSIS : Klinis : . 1993. Salter. Butterworth-Heinemann. Kualifikasi operator : . Williams & Wilkins Baltimore/London. lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai 10.

Fraktur kolum femur . & Solomon.B. 72 2. trauma vaskulaer.1.G. Infeksi. emboli lemak. delayed union. Tujuan terapi : Kuratif B. PROGNOSIS : Baik 16. Apley.Fraktur shaft femur . metal fatique. mlunion. 1993. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 17. KONSULTASI : Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan) 7.Fraktur kondilus femur 5. Non operative Traksi skeletal Traksi kulit pada anak b. INFORMED CONSENT : Perlu 11. Salter. F. Komplikasi Awal Syok. dan cidera neurovaskuler 10. KEPUSTAKAAN : 1. DIAGNOSIS BANDING : Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara klinis . 7th. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos Femur AP/ Lat 6. 2nd Ed. PENGOBATAN : A. 87 . Operative D.Waktu pengobatan : segera saat penderita datanmg ke rumah sakit E. NOMOR ICD : S. 2. R. HASIL : Posisi anatomis optimal Fungsional baik 13.Terapi komplikasi pengobatan : .Kualifikasi operator/ pemberi pelayanan : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. atrofi otot. OTOPSI : 15. Edition. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. KRITERIA DIAGNOSIS : Trauma mayor pada paha Tanda pasti patah tulang (+) 4. malunion Joint stiffnes. trombo emboli. PATOLOGI : 14. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. lesi nervus. Williams & Wilkins Baltimore/London. 1983. Cara pengobatan : Non operative dan operative C Macam pengobatan : a. 2. A. . infeksi. Perjan Denpasar PENYULIT : Non union. Butterworth-Heinemann. 9.Fraktur trokanter . Komplikasi lambat Refraktur. infeksi. MASA PEMULIHAN : 1 minggu 12. L. TEMPAT PELAYANAN : RS.1. DIAGNOSIS : FRAKTUR FEMUR 3.

Bigelow 3. Perjan Denpasar 10.1. Waktu pengobatan : Segera saat penderita datang ke rumah sakit E. NOMOR ICD : S 73. kapsul sendi atau m. ischiadicus 88 . Inferior (obturator) : panggul abduksi. endorotasi dan adduksi 10 % komplikasi n. Kualifikasi operator : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi. PENGOBATAN : A. > 15 % avaskuler nekrosis kaput femoris. DIAGNOSIS : DISLOKASI PANGGUL 3.Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal .Type V : Fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain B. ekstensi Eksternal rotasi 4. PENYULIT : Fraktur intra artikuler Cidera N.Type IV :fraktur tepi acetabulum dan besar .0 2. TEMPAT PELAYANAN : RS. KONSULTASI : Dokter Spesialis terkait (bila diperlukan) 7.ischidikus. Cara pengobatan : Reposisi segera C. fleksi eksternal rotasi. Dislokasi anterior 10 % insiden dislokasi panggul 4 % mengalami avaskuler nekrosis Identasi fraktur caput femur : identasi 4 mm atau lebih Dengan prognosis buruk Type : Superior (pubis atau iliac) : panggul abduksi.pyriformis menghalang reposisi Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi D. Allis 2.Type III : fraktur comminutive tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar . KRITERIA DIAGNOSIS : A. Terapi komplikasi pengobatan : F. Tujuan pengobatan : kuratif B. Stimson Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 minggu. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rawat inap 8.Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar . Dislokasi posterior Merupakan jenis tersering Tungkai memendek. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Foto polos panggul AP/ Lat 6. Macam pengobatan : Reposisi tertutup dengan anastesi umum : 1. 9. DIAGNOSIS BANDING : 5. Klasifikasi : .

2. HASIL : Tereposisi dengan baik 14. PATOLOGI :15. 7th. 1993. Apley. Edition. 2nd Ed. INFORMED CONSENT : Perlu 12. PROGNOSIS : Baik 17. A. & Solomon. Butterworth-Heinemann. TINDAK LANJUT : Perawatan poliklinis 18. KEPUSTAKAAN : 1. OTOPSI :16. Salter.B. Williams & Wilkins Baltimore/London. R. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. 89 . MASA PEMULIHAN : 8 minggu 13. L.G.11. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 1983.

7.5 bulan : Tereposisi dengan baik F. Cara pengobatan : Dislokasi acromio-klavikular : Dokter spesialis terkait.Masa Pemulihan 13. 6. saraf. pembengkakan dan krepitasi pada daerah klavikula. Diagnosa banding Konsultasi Perawatan RS Pengobatan: A. 2. 3.Tempat pelayanan 10.thorak) Foto Ro adanya fraktur di klavikula 4. Otopsi 16.0 : FRAKTUR KLAVIKULA :Terputusnya kontinyuitas tulang klavikula akibat trauma Klinins : Penderita : nyeri.Penyulit 11. Hasil 14. Tujuan terapi B.Prognosis : Perlu uintuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS Perjan Denpasar : Lesi vaskuler Lesi saraf : Perlu : 1-1.Informed consent 12. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk perawatan bedah : Kuratif : Konservatif Operatip : pasang ransel verband : Plate & Screw atau ada lesi vaskuler/ saraf Pemeriksaan penunjang : X-foto klavikula AP C.1. Terapi komplikasi : 9. 5. Waktu pengobatan : segera saat penderita dating ke rumah sakit E. Macam pengobatan : D. Kualifikasi operator : 90 .Patologi 15. Adakah gejala dan tanda trauma penyerta (trauma vaskuler. Nomor ICD Diagnosis Kriteria diagnosis : S 42. 8.

2nd Ed. Apley. L. Salter. 1993. A. & Solomon.17 Tindak lanjut 18. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Williams & Wilkins Baltimore/London.B.G. 7th. Edition. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. R. 91 . ButterworthHeinemann. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinis : 1. 2. 1983.

Kriteria diagnosis : S 42. 1983.B.1. A. Terapi kompliksai F. 2. bengkak diformitas. Williams & Wilkins Baltimore/London.Pengobatan : A.3 : FRAKTUR HUMERUS : Ada riwayat trauma Tanda pasti fraktur humerus (nyeri. & Solomon. Edition. Macam pengobatan D.Otopsi 16. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Radialis : Perlu : 12-24 minggu : Terreposisi dengan baik : : : Baik : perawatan poliklinis : 1. gangguan fungsi) Foto Rontgen adanya fraktur humerus 4. Tujuan terapi B. Diagnosa banding 5. krepitasi. R. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Apley. Perjan Denpasar : Lesi N.Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS.Informed consent 12. Prognosis 17. Radialis . 7th. Kualifikasi operator 9. KEPUSTAKAAN : : : saat penderita dating ke rumah sakit : Lesi N. Salter. Tindak lanjut 18. 2nd Ed.G. - 92 . 1993.Tempat pelayanan 10. bila diperlukan :Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : Kuratif : Non Bedah :Reposisi dengan pembiusan pasang Gips U – slab / Hanging cast Bedah: Pemasangan implant plate screw C.Konsultasi 7. Hasil 14. Patologi 15. Diagnosis 3. Pemeriksaan Penunjang 6. ICD 2. Masa pemulihan 13. Axillary view :Dokter spesialis yang terkait. Waktu pengobatan E. ButterworthHeinemann. Cara pengobatan : : X Foto humerus AP/ lateral.Penyulit 11. L. angulasi / pemendekan. Perawatan RS 8.

Tujuan terapi B. dengan persiapan.Informed consent 12.Tempat pelayanan 10.Konsultasi 7.0 : DISLOKASI BAHU : Ada riwayat trauma Nyeri. Terapi komplikasi F. C. Patologi 15. Hasil 14. Perjan Denpasar : Cedera N Axilaris / plexus brachialis Gangguan sirkulasi Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama Dislokasi sendi berulang 11. asimetri Gangguan gerakan bahu 4. Perawatan RS 8. 93 . deformitas.Penyulit : : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Diagnosis 3. Cara pengobatan : : X Foto bahu AP : Dokter spesialis yang terkait. Pemeriksaan Penunjang 6. Otopsi 16. Kriteria diagnosis : S 43. Nomor ICD 2.Pengobatan A. Kualifikasi operator 9. Diagnosa banding 5. Macam pengobatan D. Prognosis : Perlu : + 4 – 6 minggu : Terreposisi dengan baik : :: Baik : Segera direposisi saat penderita dating ke rumah sakit untuk yang baru. bila diperlukan : Rawat jalan untuk perawatan non bedah Rawat inap untuk tindakan operasi : : kuratif : Non Bedah : Reposisi menurut Kocher atau Hipokrates Bedah Reduksi operatif untuk kasus-kasus neglected. Waktu pengobatan E.1. Lama Pemulihan 13.

17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

94

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis 4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan

: S 42.4 : FRAKTUR SUPRA CONDILER SIKU : Riwayat Trauma Tanda –tanda pasti patah tulang di atas siku : : X Foto siku AP / lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : a. Non bedah : - Reposisi dengan pembiusan - Traksi b. Bedah : Bila non bedah gagal – operasi Plate & Screw atau CCW

C. Macam pengobatan : D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12.Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : segera saat penderita dating ke rumah sakit : Kaku sendi siku (Fisioterapi) Kompresi pembuluh darah : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Kompresi pembuluh darah Kaku sendi siku : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik: : : : Dubius / kaku sendi siku : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

95

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.0 : FRAKTUR OLEKRANON : Riwayat Trauma Tanda pasti patah tulang pada siku Teraba gep pada olecranon X Foto Olekranon patah

4. Diagnosa banding 5. Pemeriksaan Penunjang 6.Konsultasi 7. Perawatan RS 8.Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan C. Macam pengobatan D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator :

: Fraktur lain di daerah siku : X Foto siku AP lateral Dokter spesialis yang terkait, bila diperlukan :Rawat inap untuk observasi dan tindakan : kuratif : Operasi dengan pemasangan tension band wire : saat penderita datang ke rumah sakit pada yang terbuka : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

9.Tempat pelayanan 10.Penyulit 11.Informed consent 12. Masa Pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS. Perjan Denpasar : Kaku sendi siku Lesi N.Ulnaris : Perlu : + 4 – 6 minggu : Fragmen terfiksasi dengan baik : : : Dubius / cacat : Perawatan poliklinis : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983 -

96

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S3.1 : DISLOKASI SIKU : Riwayat trauma, sakit sendi siku Deformitas / asimetri Limitasi gerakan sendi

4. Diagnosis banding 5. Pemeriksaan penunjang 6. Konsultasi 7. Perawatan RS 9. Pengobatan : A. Tujuan terapi B. Cara pengobatan a. Non bedah b. Bedah C. Macam pengobataqn D. Waktu pengobatan E. Terapi komplikasi F. Kualifikasi operator 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis : : : :

: : X Foto siku AP/ lateral : Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan : Rawat inap

: Reposisi dengan pembiusan Imobilisasi dengan posisi fleksi pada siku : Operasi bila reposisi gagal : segera saat penderita dating ke rumah sakit

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi : RS. Perjan Denpasar : Lesi N.Ulnaris, N.Medianus Lesi vaskuler : Perlu : + 4 – 6 minggu : Tereposisi dengan baik : : Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik Kaku sendi bisa terjadi

97

2. A.B. ButterworthHeinemann. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. R. 1983 98 . 2nd Ed. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN : Perawatan poliklinik : 1. Salter. 1993. 7th. Williams & Wilkins Baltimore/London. & Solomon.17.G. Apley. Edition. L. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres.

2.2. Tempat pelayanan 10. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Ro. Konsultasi 8. Pengobatan a. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang radius disertai dislokasi sendi radioulnar distal . Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1. “false movement”. Masa pemulihan : RS. 5. Diagnosis 3. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Terapi komplikasi pengobatan : f. Dilakukan reposisi tertutup dengan anestesi umum c. Bedah : operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal d. Perjan Denpasar : Non union. malunion. Informed consent 12. Perawatan Rumah Sakit : Rawat inap untuk observasi atau tindakan b. Waktu pengobatan : e. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : : kuratif kemudian imobilisasi dengan gips (long arm cast) pada posisi supinasi selama 4-6 minggu. lengan bawah AP/lat. Macam pengobatan : 1. 7. Kriteria Diagnosis : FRAKTUR GALEAZI : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. 4. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi interna. Non bedah : reposisi (gips sampai di atas siku) 2. gangguan gerak. Penyulit 11. post operasi diperiksa stabilitas sendi radioulnar. bila tidak stabil diimobilisasi dengan gips pada posisi supinasi selama 3 minggu. 3. krepitasi dan nyeri. : Perlu : ± 6 minggu 99 . Diagnosis Banding 6. deformitas. Cara pengobatan : 1. Radiologi : anteroposterior dan lateral.

13. Edition. 1993.B. A. Williams & Wilkins Baltimore/London. R. Patologi 15. & Solomon. L. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. Salter. Otopsi 16. Hasil 14. KEPUSTAKAAN : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. 1983 100 . 2. ButterworthHeinemann. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System.G. Apley. 2nd Ed. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. 7th.

Waktu pengobatan : : 1. Terapi komplikasi pengobatan : f. 2. Imobilisasi selama 4-6 minggu. Pengobatan a. 5. dislokasi kaput radius ke anterior Bado 2. dislokasi kaput radius ke posterior Bado 3. Pada fraktur terbuka dilakukan “debridement” kemudian reposisi imobilisasi. dislokasi kaput radius ke lateral Bado 4. Perawatan rumah sakit 8. “false movement” dan krepitasi. Diagnosis 3. Perjan Denpasar 101 . Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi atau tindakan : : kuratif dengan posisi lengan supinasi. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. 4. Tempat pelayanan : RS. Bedah : : Pembedahan e. deformitas. Macam pengobatan d.0 : FRAKTUR MONTEGIA : Klinis : adanya tanda-tanda fraktur seperti edema. Kriteria diagnosis : S 52. Non bedah 2. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan Dokter Spesialis Bedah Ortopaedi 9. lengan bawah AP / lat b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup kemudian imobilisasi c. Nomor ICD 2.1. dislokasi ka[ut radius diseratai Fraktur radius dan ulna. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. Radiologi : anteroposterior dan lateral . nyeri terutama pada tempat fraktur dan sendi radioulnar proksimal. sedangkan pada derajat III dilakukan fiksasi eksterna. Bila reposisi tertutup gagal dilakukan fiksasi internal 3. akan didapatkan adanya diskontinuitas pada tulang ulna dan dislokasi caput radii Klasifikasi : Bado 1.

Penyulit 11. 2. Otopsi 16. infeksi. Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. A. Edition. R. KEPUSTAKAAN : : : Baik / Gangguan gerak : : 1. L. Apley. 1993. & Solomon.G.B. 2nd Ed. ButterworthHeinemann. Salter. 1983 102 . Tindak lanjut 18. malunion. Williams & Wilkins Baltimore/London. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Masa pemulihan 13. gangguan gerak.10. Patologi 15. 7th. Hasil : Non union. : Perlu : ± 6 minggu : Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik Caput radii tereposisi atau dibuang 14. Prognosis 17. Informed consent 12.

Emergensi : . Gips sampai di bawah siku a. Bedah : Bila non bedah gagal 103 . Cara pengobatan : 1. Kriteria diagnosis : S 52.pada anak dan orang tua blok) 2. Konsultasi 7.1. Tujuan terapi : : Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan) : Rawat inap : : local anesthesia (hematome 5. Non bedah : Reposisi dengaqn pembiusan b.Macam : • • • • • reduksi tertutup dan splint reduksi tetutup dan pinning perkutan fiksasi externa reduksi terbuka dan fiksasi interna fiksasi externa dan interna stabilisasi fraktur besarnya displacement kwalitas tulang usia dan aktifitas penderita ketersediaan peralatan c. foto polos radius-distal AP / lat b. Pengobatan a. Pemeriksaan penunjang : Radiologi . Nomor ICD 2.5 : FRAKTUR COLLES : Tanda-tanda pasti patah tulang Trauma lengan karena menahan dengan “out strecht hand” 4. Diagnosis banding 6. Definitif orang muda immobilisasi dengan gips sirkuler butuh anesthesia regional atau general : . Perawatan rumah sakit 8. Macam pengobatan : Fiksasi dalam posisi pronasi.Faktor yang menpengaruhi optimalisasi : • • • • • . semi fleksi dan ulnar Deviasi pada pergelangan tangan. Diagnosis 3.

9. Tempat pelayanan 10. Penyulit 11. Informed consent 12. Massa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: RS Perjan Denpasar : Kompartment syndrome Suddec atropi : Perlu : ± 4 – 6 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posisi optimal Fungsional baik : : : baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

104

1. Nomor ICD 2. Diagnosis 3. Kriteria diagnosis

: S 52.4 : FRAKTUR RADIUS-ULNA : Klinis : didapatkan adanya tanda-tanda fraktur seperti edema, deformitas, “false movement”, krepitasi dan nyeri. Radiologis : anteroposterior dan lateral, akan didapat kan adanya diskontinuitas tulang.

4. Diagnosis banding 6. Konsultasi 7. Perawatan rumah sakit 8. Pengobatan a. Tujuan terapi

: : Dokter spesialis yang terlait (bila diperlukan) : Rawat inap untuk observasi dan tindakan : :

5. Pemeriksaan penunjang : Radiologi : foto Ro. antebrachii AP/lat

b. Cara pengobatan : 1. Dilakukan reposisi tertutup dengan anesthesia umum, kemudian immobilisasi dengan gips (long arm cast). Posisi antebrachii tergantung letak fraktur, pada fraktur antebrachii 1/3 proksimal diletakkan dalam posisi supinasi, 1/3 tengah dalam posisi netral, dan 1/3 distal dalam posisi pronasi. Gips dipertahankan 4 – 6 minggu 2. Bila reposisi tertutup tidak berhasil (angulasi lebih dari 10º pada semua arah) maka dilakukan internal fiksasi. 3. Pada fraktur terbuka terlebih dahulu dilakukan “debridement” kemudian dilakukan tindakan seperti diatas. Sedangkan pada fraktur terbuka derajat III dilakukan eksternal fiksasi. c. Macam pengobatan : Gips sampai diatas siku b. Bedah : Bila non bedah gagal plate and screw d. Waktu pengobatan : e. Terapi komplikasi pengobatan : f. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi 9. Tempat pelayanan 10. Penyulit : RS. Perjan Denpasar : Kompartment syndrome a. Non Bedah : Reposisi dengan pembiusan

105

11. Informent consent 12. Masa pemulihan 13. Hasil 14. Patologi 15. Otopsi 16. Prognosis 17. Tindak lanjut 18. KEPUSTAKAAN

: Perlu : ± 6 – 8 minggu : Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik : : Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau tidak jelas : Baik : : 1. Apley, A.G. & Solomon, L. 1993, Apley’s System of Orthopaedics and Fractutres. 7th. Edition. ButterworthHeinemann. 2. Salter, R.B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System. Williams & Wilkins Baltimore/London. 2nd Ed. 1983

106

1. Nomor ICD 2. Diagnosis

: C22.0 : Hepatoma

3. Kriteria Diagnosis - Pemeriksaan Klinis : - Anamnesa : - berat badan menurun - nyeri hipokondrium kanan - alkoholisme - riwayat sirosis hepatis atau hepatitis kronis - Inspeksi : tampak tumor pada hipokondrium kanan (tumor besar) - Palpasi : massa pada hipokondrium kanan - Perkusi : untuk mencari batas-batas tumor - Auskultasi : suara usus normal Pemeriksaan Laboratorium : - AFP - LFT - CEA Pemeriksaan Imaging : - USG - CT Scan

-

Pemeriksaan Radiologi : - angiografi - Ba- enema (bila curiga primer berasal dari kolon) Pemeriksaan Jarum Halus Pemeriksaan Kolosnokopi : bila curiga primer dari kolon

-

4. Diagnosis Banding - Tumor jinak hepar (Hemangioma, Adenoma) - Kolangiokarsinoma 5. Pemeriksaan Penunjang : 6. Konsultasi : Penyakit dalam bila ada riwayat sirosis hepatis dan hepatitis khronis. 7. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan - Pembedahan / Terapi 1. Tumor metastase dari kolon / rektum dan primer terkontrol : dilakukan reseksi hepar. 2. Tumor metastase dan tumor primer in operabel tindakan suportif. 3. Tumor hepar primer : karsinoma hepatoseluler - inresektabel : suportif. - resektabel : reseksi hepar. 4. Tumor jinak : - bila ada gejala : dilakukan reseksi. - bila tak ada gejala : observasi. 5. Sebelum reseksi sebaiknya dilakukan embolisasi untuk mengecilkan tumor dan mengurangi perdarahan.

107

Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Laboratorium dan Imaging 17.Tergantung jenis tumor 12. Kepustakaan : .Tumor Jinak . 10th ed. Seiji Kawasaki : Hepatocellular Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operations.6. Tempat Pelayanan : . 1989.Tumor Ganas : Baik : Resektabel → Dubois Ad Bo anam : Inresektabel → Dubois Ad Malam 16.Perlu 14. Mc Graw Hill. Hasil : . Prentice Hall Inc. Prentice Hall International. 1994 . Patologi : . Informed Consent : .Perlu 11. 8.Maratoshi Maknuchi.Schwartz SI : Principles of Surgery. Tindak Lanjut : . 1561-1590 108 . 5th ed. Penyulit : Perdarahan (Spontan atau akibat tindakan) 10. 1997. Prognosis : .Tergantung jenis tumor (jinak atau ganas) dan apakah resektabel atau tidak 13. 1327-1376 . 10th ed. 9. p. Pada kasus resiko tinggi untuk operasi dan tumor kecil dapat dicoba penyuntikan perkutan alkohol 90% dalam tumor dengan tuntunan USG. Masa Pemulihan : .Follow up secara klinis. Otopsi : 15. p.Rumah Sakit tipe A/B yang sudah memiliki Ahli Bedah Digestif.

.Hidrokel 5. Masa Pemulihan : 3-5 hari 12.Kalau ada penyakit penyerta (liver.Perkusi .Palpasi .Inkarserata / strangulasi dengan segala akibatnya 10.Hernioplasty : . Nomor ICD 2. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Otopsi : 15.Penilaian isi kantong bila nekrosis dilakukan reseksi .zieman test (tri finger test) : : ( diatas benjolan) terdengar suara bising usus (bila isi kantong usus).Pembesaran kelenjar limfe .finger test.Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Pemeriksaan Penunjang : . Diagnosis Banding . 4. bila inkarserata terasa nyeri.Herniotomi .Pembedahan / Terapi .1. Penyulit : .thumb test. DL.Pemeriksaan Klinis : . 8. jantung) 7. Hasil : Baik 13. Tempat Pelayanan : . . Patologi : Tidak perlu 14. Kriteria Diagnosis .Pemeriksaan fisik : . Informed Consent : Perlu 11.Auskultasi : benjolan di pelipatan paha.tehnik Halsted.Lipoma pada pelipatan paha . Konsultasi : .Inspeksi .tehnik Bassini.Lab. .Anamnesa . UL 6. Prognosis : Baik 109 . : benjolan di pelipatan paha yang dapat keluar masuk (hernia reponibilis) tak dapat keluar masuk (irreponibilis dan inkarserata). : . Diagnosis : K40 : Hernia 3.

Butterworth & Co.Devlin HB : Management of Abdominal Hernia. USA. 1986.16. Ist ed. Litle Brown and Co Boston. 11th ed.Dudley. 712724 .Dodson TF : Hernia In : Manual of Clinical Problem in Surgery. Prentice Hall International Inc. 1988 110 . Kepustakaan : .Skandalakis JE : Hernia Surgical Anatomy and Technique. 1984. Mc Graw Hill Inc. Tindak Lanjut : Follow up apakah terjadi residif / tidak 17. p. p. 215-218 . 375-381 . 1994. Ist ed. Bristol. p. HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery.Way LW : Hernia other lesion of the abdominal wall In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 10th ed. John Wright & Sons. London 1988 .

.pembiakan kuman dan test kepekaan antibiotik.USG . febris (bila ada komplikasi) .Pemeriksaan USG (bila ragu-ragu) 4. .lapangan operasi dibersihkan dari pus dan bahan kontaminasi.Colok dubur : nyeri perut kanan bawah (jam 10 – 11) .saat testis kanan ditarik (Tenhorn Sign) .saat mengangkat tungkai kanan (Psos Sign). . perforasi karsinoma kolon.tidak melakukan penjahitan lemak. .sub febris.nyeri epigastrium kemudian disusul nyeri perut kanan bawah yang menetap.saat flexi dan endo rotasi tungkai kanan (Obturator Sign). .Palpasi : * nyeri daerah Mc Burney / kanan bawah : . 4. .Anamnesa : . pankreatitis divertikulitis. Kelainan-kelainan lain didalam abdomen ulcus pepticum. Pemeriksaan Penunjang . ileitis terminalis.Pemeriksaan laboratorium : DL : leukosit UL : sedimen urin .kulit dijahit situasi. 5.Bila saat operasi didapatkan apendik yang mengalami perforasi maka dilakukan : . Golongan gastro-enteritis : lim fadenitis mesenterik.Pemeriksaan Klinis : .Pembedahan / Terapi .Auskultasi : Suara usus menurun . Konsultasi : Obstetri Ginekologi 7.Perkusi : Nyeri ketok ⊕ (kadang-kadang dilakukan) . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 111 . . kolesistitis.Apendektomi .anoreksia mual.saat tekanan perut kiri dilepas (Blumberg Sign). Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . 8. .dipasang drain sub fasial.bila perut kiri ditekan (Rovsing Sign).Inspeksi : gerakan perut kanan bawah berkurang waktu bernafas . Kriteria Diagnosis . . Diagnosis Banding 3.1. Kelainan genitalia interna pada wanita 5. . entero-kolitis. Diagnosis : K35 : Radang Usus Buntu 3. Nomor ICD 2.Ba inloop double kontras 6.

Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation.p. Appleton Century Crofts.2 9th ed. Prentice Hall Int.. 3.Dudley HAF : Hamilton Biley’s Emergency Surgery. LW : Appendix In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 953-978 . Penyulit 1. Inc. P. Otopsi : 15. Prognosis : Baik 16. 336-345 . bila luka mengalami infeksi perlu dipertimbangkan kondisi luka 17.9. Masa Pemulihan : 5-7 hari 12. John Wright & Sons Ltd. Hasil : Baik 13. 1986. 1990.p. Kepustakaan : . Patologi : Perlu 14. 1994. Vol. 610-614 112 . Appendisitis perforasi Periappendicular infiltrat Periappendicular abscess Peritonitis umum Foic appendiculare 10. 11th ed. 2. 4.Way. Norwalk Connecticut. 5. Informed Consent : Perlu 11. Bristol. Tindak Lanjut Jahitan diangkat hari ke-7 pasca bedah. 10th ed.

Auskultasi : . Penyulit : Kadang-kadang residif 10. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Palpasi : nyeri tekan dan teraba massa sebagai tali memanjang . . Nomor ICD 2.Irigasi saluran : untuk mengetahui saluran dan lubang interna dengan garam fisiologis. 4. hidrogen peroksida datu metilen biru. Diagnosis Banding 3. Morbus Crohn 5. . .Pemeriksaan Klinis : .Sondasi : untuk mengetahui saluran dari fistula. proktitis tbc.Perkusi :.untuk mengetahui lubang fistel sebelah dalam. . . faeces dari lubang dekat anus. .Colok dubur : dengan bidigital yaitu antara jari telunjuk pada anus dan ibu jari pada perineum akan teraba jaringan yang mengeras seperti tali.Fistulektomi .Inspeksi : adanya perianal fistel. Pemeriksaan Penunjang : Fistulografi 6. Kriteria Diagnosis .Pemeriksaan radiologis : fistulografi. Diagnosis : K60.Anamnesa : mengeluarkan lendir. Konsultasi : 7.Proktoskopi : .3 : Perianal Fistula 3. morbus Crohn). Informed Consent : Perlu 113 .penggunan seton (pada fistula yang banyak melibatkan sfingter ani) .untuk mengetahui adanya penyakit lain (karsinoma. 8. . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan Pembedahan / Terapi . Karsinoma rekti 4. amoeba. Amoeba 6. nanah.1.bahan yang dieksisi dilakukan pemeriksaan histo PA. proktits tbc 5. .Fistulotomi.

Philadelphia. Prognosis : Baik 16. Masa Pemulihan : Tergantung derajat fistula (melibatkan banyak sfingter ani atau tidak) 12. 1303-1306 . Kepustakaan : . Ltd. 1994. London. Mc Graw Hill. Saunders Co.Keighley. Patologi : Perlu 14. Otopsi : 15. 10th ed Prentice Hall International Inc. MRB : Anorectal Fistula in Surgery of the Anus.Golberg. 1993.Way LW. p.11. 701-703 . In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. et al : Colon. Rectum and Colon. Hasil : Baik 13. 418-466 114 . WB. In : Principles of Surgery 5th ed. Tindak Lanjut : Follow up berkala 17. Rectum and Anus. p. SM. Anorectal Fistulas. 1988 p.

Penyulit : 10.Perkusi : . Kriteria Diagnosis .Auskultasi : .salep lokal Ichtamol 10%.Medikamentosa : . Prognosis : Baik 115 .Pemeriksaan Klinis : . Hasil : Baik 13.diet membuat faeces lunak.bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat.1.berak darah segar (tanpa bercampur berak) . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Patologi : 14. Masa Pemulihan : 2-3 hari 12. Otopsi : 15.prosedur : lateral internal sfingterotomi.Proktoskopi : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan hipertropi papilla dan fissura.Pembedahan / Terapi . Nomor ICD 2. . Tempat Pelayanan : . . 8.Colok dubur : dengan salep lokal anestesi untuk menentukan lokasi fissura dan stenosis. Konsultasi : 7.Operasi : .Anamnesa : . Pemeriksaan Penunjang : 6. Informed Consent : Perlu 11. .0 : Fissura Ani 3. 4. Diagnosis Banding : 5.Rumah Sakit tipe C/B/A 9. Diagnosis : K60. hidrokortison 1%.rendam duduk (Krim 04) .nyeri waktu berak . .minum banyak.Palpasi : bila anus dilakukan everasi tampak fissura .Inspeksi : adanya sentinel pile . .

698-699 . 1993. Anal Fissure. 1303-1306 . 1994. Philadelphia. Kepustakaan : . 1988 p. MRB :Fissure in Ano.Keighley.Golberg. et al : Colon. Mc Graw Hill. p. In : Principles of Surgery 5th ed. Rectum and Colon. 369-386 116 . 10th ed Prentice Hall International Inc. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi (Poliklinis) 17. Ltd. WB.Way LW. Rectum and Anus. London. In : Surgery of the Anus. Saunders Co. In : Current Surgical Diagnosis and Treatment. p.16. SM.

CT Scan.Pemeriksaan imaging : . .Lithotripsi Untuk tumor pankreas . kulit berwarna kuning .Auskultasi : suara usus normal .Tumor hati .Murphy’s sign .ERCP . CT Scan.Courvoissier Law . Untuk batu empedu dengan kolangitis .ERCP 4.Pemeriksaan Klinis : .kanker tanpa metastase : reseksi pankreas 117 .sfingterotomi Untuk batu residual .Tumor pada papila vateri 5.test faal hati.Pemeriksaan laboratorium : .Pediatri pada anak 7. Nomor ICD 2.nyeri hipokondrium kanan . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Diagnosis Banding .BOF. .tanpa batu di saluran utama : tindakan selesai .Gatal-gatal.Inspeksi : ikterus . Diagnosis : K83.1 : Ikterus Obstruksi 3.Perkusi : nyeri ketok pada perut kanan atas .USG .foto polos abdomen .penurunan berat badan .1.Lab .kolesistektomi dan kolangiografi intra operatif.Pembedahan / Terapi Untuk batu empedu tanpa kolangitis . Konsultasi .Palpasi : .ERCP .ada batu di saluran utama : koledokotomi + scope pasang T-drain.FNAB Bila : . .ERCP .panas badan .Interne .Batu kandung empedu . Kriteria Diagnosis . USG.Anamnesa : . Pemeriksaan Penunjang . ERCP 6.bila hasil kolangiografi : .

. Masa Pemulihan : 1-2 minggu 12..K.353-374 . 11th ed.Operasi : . Prognosis : Tergantung kausa 16. p.by pass .diet membuat faeces lunak. Penyulit Cholangitis Sepsis 10.bila setelah 1 bulan terapi secara medikamentosa tidak berhasil atau penderita mengeluh nyeri hebat. mencegah kolangitis & kerusakan sel-sel hepar 13. hidrokortison 1%. Bristol. 1994. 7th ed. 8. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9. Wright. Little Brown & Coy.stent Untuk striktura saluran bilier : .ERCP pro dilatasi .p.R.Medikamentosa : .by pass .kanker dengan metastase : . Prentice Hall inc. Kepustakaan : . 1988.Condon RE.stent (ERCP) Untuk tumor Klatskin : . 10th ed Prentice Hall International Inc. Hasil : Ikterus hilang. . 10th ed. p.Kim U. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic.minum banyak.by pass .Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 1986. 1991. Otopsi : 15. : Jaundice in Maingot’s Abdominal Operations.rendam duduk (Krim 04) . . Patologi : Perlu 14. 315-336 118 . .salep lokal Ichtamol 10%. 273-290 .prosedur : lateral internal sfingterotomi. Boston. .reseksi . Joel J. Informed Consent : Perlu 11. Tindak Lanjut : Evaluasi luka operasi dan advis makanan 17.Dudley HAF : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery.

. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .diet yang mengandung serat (buah-buahan segar) .Colok dubur : untuk mengetahui apakah ada kelainan lain.Karsinoma rekti 5. . Diagnosis : I84.fenol oli 5% atau krim uretan 5% dosis 3-5 ml/tonjolan maksimum 15ml. Nomor ICD 2. Pemeriksaan Penunjang : 6. Penyulit : Anemia 10.Pemeriksaan Klinis : .Inspeksi : prolaps tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya.Proktoskopi : untuk mengetahui derajat dan lokalisasi hemorrhoid.sodium morbuat / tetradesil sulfat 0.Auskultasi : .Hemorrhoid asimptomatik tidak perlu pembedahan.Hemorrhoid interna derajat III/IV : hemoroidektomi.tonjolan terasa nyeri (untuk hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis).1. Kriteria Diagnosis .25-0. Informed Consent : Perlu 119 .1 : Hemorrhoid 3. .Perkusi : . 8. Konsultasi : 7.Palpasi : . . .Pembedahan / Terapi .berak darah segar tanpa nyeri . .disuntik bahan sklerotan : .50 ml.Hemorrhoid eksterna yang mengalami trombosis : eksisi dan evakuasi trombus.Hemorrhoid interna derajat I/II.dengan obat lokal (suppositoria atau salep) yang mengandung kortikosteroid dan anestesia . .Prolaps rekti .Anamnesa : . Diagnosis Banding . 4. . Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.prolaps yang berasal dari tonjolan hemorrhoid sesuai derajatnya. .

1988. Rectum Colon. 1993. Nyhus LM : Manual of Surgical Therapeutic. Boston. Hasil : Baik 13. 695-698 . p. 295-363 120 . Otopsi : 15. Bailiere Tindall. London. Saunders Co. p. 1984. Rectum and Colon. Kepustakaan : . p. Little Brown & Coy. 5th ed.Williams NS : Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus. Patologi : 14. 317-322 . Tindak Lanjut :Follow up poliklinis 17. Masa Pemulihan : 7 hari 12. p. 7th ed.Golinger.11. 1994. 98-149 . London. WB. 10th ed Appleton & Langes. Philadelphia. Ltd. Prognosis : Baik 16.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Condon RE. : Hemorrhod or Piler – Surgery of the Anus. JC.

Diagnosis Banding : Malignancy 5. Hasil : Tergantung apakah ada penyulit / tidak 13. Masa Pemulihan : 7 hari 12. tes faal hepar.ikterus. ERCP.kolesistektomi terbuka . Otopsi : - 121 .kadar gula darah. Penyulit : Kolangitis 10. Konsultasi : Interne 7. .BOF . SGOT. triggliserid.Inspeksi . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan . Pemeriksaan Imaging : .kolesistektomi laparoskopi.Palpasi .bila peradangan dan sudah ada massa dilakukan terapi konservatif. . Patologi : 14. : ikterus : Murphy’s sign : : 4. kolestreol. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9. CT Scan.PTCD : . Nomor ICD 2. PTCD 6.Anamnesa - - . reasi Heyman v/d Berg.Pembedahan / Terapi . . tegang perut kanan atas. Pemeriksaan Penunjang : USG. alkali fosfatase.Auskultasi Pemeriksaan darah : . Diagnosis : K80 : Batu Empedu 3.Pemeriksaan Klinis : .1. setelah stadium tenang baru dilakukan kolesistektomi. Informed Consent : Perlu 11.Perkusi .ERCP . Kriteria Diagnosis .USG. SGPT. 8. gamma glucorinyl transferase.CT Scan .nyeri.

p. 1337-1479 . 1717-1738 122 . 222-224.Dames SS : Disease of the Liver and Billiary System.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation.Joseph A. Joel Rslyn : Cholelithiasis and Cholecystectomy in Maingot’s Abdominal Operation. Prentice Hall International Inc.Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Kepustakaan : . p. Blackwell Scientific Publication.15.p. Prognosis : Baik 16. 527-557 . Oxford. Karan. 6th ed. p. 1981. 1997. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. 10th ed. Prentice Hall International Inc. 476-498 . 1991. Prentice Hall Inc. 1990. 9th ed. 10th ed.

Diagnosis Banding : Kelainan-kelainan intralumen pada daerah kolorektal 5. Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .Anamnesa - - : .Pembedahan / Terapi .Ba-enema .pemeriksaan IVP untuk mendeteksi infiltrasi tumor terhadap sistem saluran kemih.Colok dubur : .dilanjutkan proktoskopi .Reseksi kolon transversum : untuk tumor di kolon transversum.Perkusi : mencari chest board phenomena . 4.0 : Karsinoma Kolorektal 3.IVP .pemeriksaan Ba-enema dengan kontrast ganda .darm contour / darm steifung (bila ada obstruksi) .Anasthesi 7. Diagnosis : C18.perubahan pola defekasi . Konsultasi . fleksura hepatika. Pemeriksaan Imaging : . Pemeriksaan Penunjang . .Palpasi : . Nomor ICD 2. .Inspeksi : . kelenjar para aorta Pemeriksaan pertanda tumor CEA untuk monitoring kekambuhan tumor.pemeriksaan foto polos dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru. .berak campur darah / lendir . Pemeriksaan Radiologis : . .massa di perut kanan bawah / kiri .USG .Auskultasi : tanda-tanda obstruksi (pada keganasan kolon kiri) .anemia / kelemahan umum .1.CT Scan 6.Hemikolektomi kiri : untuk tumor di fleksura lienalis dan kolon descendens 123 .Kolonoskopi .Penyakit dalam .Pemeriksaan Klinis : .perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah defekasi.untuk mendeteksi kelainan-kelainan didaerah rektosigmoid. Kriteria Diagnosis . kolon ascenden.USG kalau perlu CT Scan untuk mengetahui penyebaran ke hati.Hemikolektomi kanan : untuk tumor di sekum.

metronidasol 8. Prentice Hall International Inc. 267-412 . Schebe O. 1281-1308.. Saunders Co.B. Informed Consent : Perlu 11. Williams : Surgery of the Anus. Bailiere Tindall.Reseksi anterior : untuk tumor di rektum lebih dari 12 cm dari anus . 1990. 426-793 . Chang. : Surgery of the Anus.Schwartz SI and Ellis H : Maingot’s Abdominal Operation.Reseksi sigmoid : untuk tumor sigmoid . 78-99 . Keighley. p. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe C/B/A 9.Michael R. Kirby I. 1st ed. W. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis sampai 5 tahun atau 10 tahun 17. : UICC-TNM Atlas. London. p. p. Bland : Tumors of the Colon in Maingot’s Abdominal Operation.sefalosporin generasi III . Hasil : Tergantung stadium tumor 13. p. 9th ed. 1993 p. Patologi : Harus 14. JC. Springer Verlag.Golinger. 1984.Corman ML : Colon and Rectal Surgery. 1997. And Wagner G. 124 . Norman S. 830-1091. p.Spiessl B.B. . Penyulit Anemia Hipo albuminemia 10.metronidasol atau . Prentice Hall. 1033-1172 . Rectum Colon. 1982. Masa Pemulihan : 7-14 hari 12. . Otopsi : 15. 1984.aminoglikosida. Englewood Cliffs.Helena R. Rectum and Colon. Kepustakaan : . 10th ed. Prognosis : Tergantung stadium tumor jenis patologi 16. 5th ed.

Untuk kasus metastase : terapi paliatif 8.Inspeksi : ikterus .9 . Nomor ICD 2.Ikterus obstruktif ok Stenosi saluran empedu .Pemeriksaan Klinis : .Ikterus obstruktif ok batu empedu . Diagnosis : D13.diabetes mellitus .Anamnesa - : . Informed Consent : Perlu 11. Pemeriksaan Penunjang . Penyulit Gangguan faal pembekuan darah Hipo albumin Kolangitis 10.Ikterus obstruktif ok keganasan saluran empedu 5. 4. CA. Tempat Pelayanan : Rumah Sakit tipe B/A 9.Palpasi : Courvoisier Sign . Konsultasi .dilanjutkan eksplorasi untuk reseksi atau by pass . Perawatan Rumah Sakit & Pengobatan .dengan ikterus : .Anasthesi 7.Auskultasi : Pemeriksaan Laboratorium : LFT.USG .tanpa ikterus : eksplorasi untuk reseksi atau by pass . CA 19.CT Scan 6.Laboratorium : LFT.Penyakit Dalam .Pembedahan / Terapi .6 : Karsinoma Pankreas 3.alkoholisme . Masa Pemulihan : - 125 .Perkusi : .Untuk kasus tidak ada metastase : .9 Pemeriksaan aspirasi jarum halus. 19.1. Diagnosis Banding . Kriteria Diagnosis .ERCP atau PTCD .pankreatitis kronis .

Way LW : Current Surgical Diagnosis and Treatment.Schwartz SI : Principles of Surgery. Prognosis : Tergantung kepada stadium tumor dan tindakan yang dilakukan 16. Hasil : Tergantung apakah tumornya resetabel / tidak 13. 10th ed. 1997.Keith D. 1989. 2003-2030 126 . 9th ed. p. 5th ed. Prentice Hall International Inc . prentice Hall Inc.12. John L. Cameron : Pancreatic and Periampullary Carcinoma in Maingot’s Abdominal Operation. 1977-2002 . Mc Graw Hill. Patologi : Perlu 14. 1429-1437 . Prentice Hall Inc. p. p. Kepustakaan : . 10th ed. Tindak Lanjut : Follow up poliklinis 17. Reber : Operation on the Pancreas in Maingot’s Abdominal Operation. Otopsi : 15.Howard A. 1997. Lilleane.

Dokter Spesialis Anak untuk toleransi operasi b. HERNIA INGUINALIS LATERALIS UNILATERAL 1. Pada Neonatus : herniotomi dengan tehnik Michael Banks tanpa membuka fascia muskulus obliqus abdominalis 127 . Untuk pasien neonatus dan bayi usia < 1 tahun perlu rawat inap pra dan pascabedah b.9 2. KRITERIA DIAGNOSIS : I. Pemeriksaan Klinis : 1.40. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk tindakan pembedahan : a. Hidrokel funikuli 2. Benjolan didaerah inguinal dapat menetap dan memberikan gejala/keluhan nyeri atau menyebabkan anak/bayi rewel dan menangis c.I. KONSULTASI : a. Pemeriksaan fisik di daerah inguinal dapat terlihat atau teraba benjolan yang timbul hilang atau menetap II. Pemeriksaan fisik umum: Kondisi pasien baik b. PERAWATAN RUMAH SAKIT : a. Pemeriksaan fisik : a. Terdapat riwayat adanya benjolan yang timbul hilang didaerah inguinal b. DIAGNOSIS : Hernia Inguinalis Lateralis. Seringkali terdapat gangguan pasase usus jika terjadi jepitan pada usus dalam kantong hernia 2. PENGOBATAN : a. Tujuan terapi : Untuk pembedahan herniotomi secara berencana dengan persiapan b. Cara pengobatan : Dilakukan herniotomi dengan berbagai tehnik c. unilateral 3. Limfadenofati inguinal 3. Pemeriksaan laboratorium : darah rutin 6. Pemeriksaan radiologi torak b. DIAGNOSIS BANDING : 1. Abses inguinal 5. Untuk pasien anak usia >1 tahun dapat rawat jalan pra dan pascabedah 8. Dokter Spesialis Anestesi untuk toleransi pembiusan 7. NOMOR ICD : K. Pemeriksaan Penunjang : tidak diperlukan untuk diagnosis 4. Anamnesis : a. Macam pengobatan : Tehnik Pembedahan : 1.

Hematome luka operasi b. Kelas B b. Residif 11. Dokter Spesialis Bedah c. HASIL : Tidak terjadi kekambuhan hernia inguinalis 14. Dokter Spesialis Bedah Anak untuk operasi Hernia Inguinalis Lateralis reponibilis pada neonatus dan bayi usia kurang dari 1 tahun 2. Dokter Spesialis Bedah Umum dan Chief Residen Ilmu Bedah Umum untuk hernia inguinalis lateralis reponibilis pada anak-anak 9. Dokter Spesialis Bedah Anak b.2. Residif hernia : dilakukan pembedahan ulang f. Perawat senior 13. Paskabedah : penilaian penyembuhan luka dan kekambuhan 2. Hernia Inguinalis Lateralis pada bayi dan anak-anak : RS kelas C 10. dengan tehnik membuka fascia muskulus obliqus abdominalis d. PENYULIT : a. TINDAK LANJUT : Setelah pasien pulang dari rumah sakit dilakukan evaluasi : 1. Pada bayi dan anak-anak : dikerjakan herniotomi dengan tehnik Pott’s. PROGNOSIS : Baik 17. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. MASA PEMULIHAN : Perawatan luka operasi dapat dilakukan oleh : a. Hematom : dilakukan evakuasi b. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Dokter Umum d. Hernia Inguinalis Lateralis pada neonatus : RS. OTOPSI : Tidak diperlukan 16. Terapi komplikasi pengobatan : a. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : 1. TEMPAT PELAYANAN : a. Jangka panjang : Kekambuhan dan munculnya hernia sisi lain 128 .

2. Terlihat distensi abdomen yang massive pada obtruksi intestinal distal sedangkan pada obstruksi intestinal tinggi distensi hanya terlihat didaerah epigastrium dan biasanya hilang setelah dipasang pipa lambung. Pemeriksaan Fisik : 1. Muntah tidak berwarna tidak berwarna hijau namun jumlahnya lebih dari 25 cc menunjukkan sumbatan / obstruksi pada pintu kaluar lambung ( gastric outlet obstruction ). Gejala muntah pada neonatus harus dianggap sebagai manifestasi obstruksi intestinalis sampai dapat dibuktikan secara klinis dan penunjang diagnosis tidak ditemukan. NOMOR ICD : K. KRITERIA DIAGNOSIS : Pemeriksaan Klinis : Anamnesis : 1. DIAGNOSIS : Obstruksi saluran pencernaan pada neonatus 3. 2. 3. sepsis sampai peritonitis Pemeriksaan penunjang : 1. Pada obtruksi intestinalis segmen tengah dari saluran pencernaan umumnya mekonium dapat keluar namun jumlahnya sedikit. OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN PADA NEONATUS 1. Muntah hijau menunjukkan lokasi obstruksi dibawah muara ampulla vater sebagai manifestasi peningkatan empedu yang keluar. syok hipovolumik. Laboratorium : a.Gangguan evakuasi mekonium dalam kwalitas dan kwantitas dapat merupakan gejala obstruksi intestinalis pada neonatus. Analisa gas darah 129 . Obstruksi usus distal akan memperlihatkan gambaran distensi usus halus maupun kolon secara segmental atau keseluruhan.Foto polos abdomen posisi tegak merupakan penunjang diagnosis paling bermanfaat : a. b.6 2. Pada kasus obstruksi intestinal lanjut dapat ditemukan gejala dehidrasi. Jika terlihat satu gambaran gelembung udara ( single bubble ) berarti ada sumbatan didaerah pilorus. Jika terlihat dua gambaran gelembung udara ( double bubble ) berarti ada sumbatan didaerah duodenum. artinya obstruksi daerah yeyunum atau illeum. c. Jika pada usus bagian distalnya terlihat gambaran udara itu berarti obstruksinya perineal. b. Jika gambaran gelembung udara terlihat kecil-kecil dengan jumlah 3 gelembung atau lebih. Radiologi : a. Darah rutin b. d. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilihat kaliber kolon mulai dari bagian distal sampai proksimal tempat obstruksi kolon dan melihat posisi sekum pada kasus malrotasi. 2. Elektrolit darah c.56.II. Muntah dan distensi abdomen merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada semua jenis obstruksi intestinalis.

Laboratorium 6. MASA PEMULIHAN : a. DIAGNOSIS BANDING : 1.4. Cara pengobatan : 1) Intestinal dekompresi pada obstruksi non mekanis 2) Laparotomi eksplorasi untuk mengatasi obstruksi mekanis c. KONSULTASI : Tidak diperlukan untuk diagnosis Konsultasi sebelum pembedahan : a. Tujuan terapi : Mengatasi obstruksi saluran pencernaan b. anorektum. Tanpa komplikasi dapat di rawat di ruang biasa b. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Macam pengobatan : Tergantung jenis penyebab obstruksi saluran pencernaan d. Dengan komplikasi di rawat di Ruang Perawatn Intensif 130 . PERAWATAN RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Kelas B 8. Dokter Spesialis Anak : untuk toleransi pembedahan b. PENYULIT : Sepsis 11. Atresia intestinalis : Gastric outlet. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perforasi dan peritonitis dilakukan laparotomi eksplorasi 2) Sepsis dilakukan perawatan intensif f. Kelas B untuk pelayanan pembedahan b. Dokter Spesialis Anastesi : untuk toleransi pembiusan 7. TEMPAT PELAYANAN : a. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dokter Spessialis Bedah jika tanpa komplikasi 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk penatalaksanaan awal 9. Radiologi b. 2. Small left colon syndrome 5. RS. PENGOBATAN : a. Mekonium Plug Syndrome 4. Waktu pengobatan : Segera setelah dignosis ditegakkan e. kolon dan rektum. duodenum. jejunoileal. RS. Mekonium ileus 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. Kelas C untuk penatalaksanaan awal 10. Penyakit Hirshsprung’s 3.

PATOLOGI : Diperlukan 15. HASIL : Tergantung kondisi awal saat pasien datang 14. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. TINDAK LANJUT : Setelah pasien di pulangkan pasien kontrol untuk evaluasi pascabedah dan pasca perawatan 131 .13. OTOPSI : Diperlukan 16.

INTUSSUSEPSI 1.000 mm3) dan pergeseran sel ke kiri(shift to the left). Distensi abdomen kadangkala terlihat pada kasus intussusepsi lanjut atau telah terdapat komplikasi seperti perforasi usus 2. terdapat riwayat gastroenteritis dan atau infeksi saluran nafas sebelumnya 4. Intussusepsi pasca bedah abdomen dan toraks umumnya terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5 setelah pembedahan. Sedangkan intussusepsi dengan lead point dapat terjadi pada semua usia. 2. Intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan secara klinis dengan obstruksi usus mekanis oleh penyebab lainnya sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang medis seperti radiologi. Dengan pemeriksaan rektum dapat dibrdakan. laboratorium 6. Pada perabaan dinding abdomen yang masih lembut umumnya dapat diraba massa berbentuk sosis pada kwadran kanan atas dan ditemukan pada hampir sebagian besar pasien intussusepsi yang datang lebih awal 3.III. Intussusepsi lanjut dapat juga terlihat prolaps intussuseptum melalui anus sehingga seringkali sulit dibedakan dengan prolaps mukosa rektum. DIAGNOSIS : Intussusepsi 3. Intussusepsi khas didapatkan pada bayi sehat dengan gizi baik. Gejala intussusepsi pada anak lebih besar sulit dibedakan dengan gejala obstruksi intestinalis lain. Nyeri sistemik intermitten merupakan gejala paling sering menyebabkan bayi dibawa ke dokter 5.1 2. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. 3. Umumnya tanpa keluhan nyeri. 132 . Kondisi pasien secara umum lebih memburuk. Intussusepsi idiopatis merupakan kelainan paling sering ditemukan pada bayi usia 6-8 bulan (sekitar 50-85% kasus). demikian juga pada intussusepsi pascabedah umumnya terjadi setelah 2-5 hari kemudian dengan meningkatnya produksi NGT disertai dengan memburuknya kedaan pasien tanpa penyebab yang jelas. Pemeriksaan Penunjang Medis : Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium akan didapatkan gambaran leukositosis (>20.56. wajahnya pucat seperti dalam keadaan sakit berat dan keadaan ini dapat berlangsung sekitar 20 detik selanjutnya bayi terlihat normal kembali. NOMOR ICD : K. Pemeriksaan rectum kadang-kadang dapat diraba pseudoportio dari ujung distal intussuseptum dan pada sarung tangan terdapat darah dan atau lendir 4. yang terlihat adanya peningkatan produksi cairan lambung yang berwarna seperti empedu. Keluhan defekasi berdarah yang khas “ Current jelly stool” didapatkan pada 50% kasus intussusepsi Pemeriksaan fisik : 1. Dapat terlihat pada saat serangan bayi menangis sambil kakinya ditarik. Muntah ditemukan pada 90% bayi dengan intussusepsi dan kadangkala juga terlihat dehidrasi 7. pada prolaps karena intussusepsi teraba ada celah diantara bagian usus yang prolaps dengan mukosa anorektum 5. Serangan dan gambaran seperti ini dapat terulang lagi dengan interval waktu 1 sampai 2 jam 6.

Terapi komplikasi pengobatan : a. Pemeriksaan dengan kontras enema barium dapat dilakukan pada kasus tanpa komplikasi atau gejala klinis belum jelas. analisa gas darah 6. Fissura anus 5. Cara pengobatan : 1) tanpa operasi. Divertikulitis c.Radiologi : 1. Macam pengobatan : 1) Reduksi intussusepsi tanpa operasi. leukosit darah. Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen posisi AP tegak dianjurkan jika gejala klinis belum mendukung karena fase awal akan terlihat gambaran distribusi udara dalam usus lebih banyak pada sisi kiri abdomen sedangkan gambaran udara usus sisi abdomen kanan menghilang. PENGOBATAN : a. Sepsis : dengan laparotomi eksplorasi dan perawatan intensif f. reduksi dengan tekanan hidrostatis : enema barium. 2. Laboratorium: hemoglobin darah. Enteritis hemorrhagika d. Perforasi : dengan laparotomi eksplorasi b. Dengan enema barium akan terlihat lokasi intussusepsi terutama jika terdapat ileosekokolokolikal intussusepsi sedangkan intussusepsi ileoileal sulit ditegakkan diagnosis dengan cara ini. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Harus dirawat di RS Kelas B atau RS. Spesialis Bedah Anak 133 . 4. DIAGNOSIS BANDING : a. Gambaran kontras akan memperlihatkan adanya “cupping” seperti gambaran huruf “U” terbalik didaerah intussusepsi dan intussuseptum dari kolon. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan e. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : Kwalifikasi Operator : a. Kelas C 8. Radiologi. Untuk pembedahan konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Spesialis Bedah b. Obstruksi saluran pencernaan b. KONSULTASI : a. bila tanpa kontraindikasi 2) Reduksi manual dengan operasi d. foto torak b. Tujuan terapi : 1) melakukan reduksi segmen usus yang mengalami intussusepsi 2) mengatasi komplikasi b. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Untuk persiapan pembedahan : a. udara 2) dengan operasi : laparotomi eksplorasi c. laju endap darah. Untuk diagnosis dan terapi non operatif konsultasi Dokter Spesialis Radiologi b.

MASA PEMULIHAN : a. PROGNOSIS : 1) Baik jika tanpa komplikasi 2) Jelek jika terdapat komplikasi 17. Pascabedah : 1) Infeksi pascabedah 2) Sepsis 3) Ileus berkepanjangan 11. TEMPAT PELAYANAN : a. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. rawat inap 7 – 10 hari dilakukan oleh i. Kelas B: intussusepsi dengan komplikasi b. PENYULIT : a. Kelas C : intussusepsi tanpa komplikasi 10.9. RS. Prabedah : 1)Perforasi 2)Sepsis b. diperlukan rawat inap untuk observasi selama 2-3 hari dirawat oleh : 1) Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah b. Dengan reseksi usus halus dan atau usus besar. RS. Dokter Spesialis Bedah Anak ii. TINDAK LANJUT : Pasien harus dilakukan evaluasi setelah pulang dari rumah sakit untuk follow up 134 . Reduksi non operatif. HASIL : Pasien pulang dengan kondisi baik dalam fungsi usus dan defekasi 14. Perawat senior 13. Dokter Spesialis Bedah iii. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah iv. Pascabedah reduksi manual tanpa komplikasi rawat inap 5 – 7 hari dilakukan oleh : 1) Dirawat Dokter Spesialis Bedah Anak 2) Dirawat Dokter Spesialis Bedah 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 4) Perawat Senior c. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa penyebab yang jelas 16. PATOLOGI : Jika ditemukan leadpoint diperiksakan patologi anatomi 15.

3. ANUS IMPERFORASI : 1. Tidak mempunyai lubang anus pada bayi baru lahir sehingga tidak terdapat evakuasi mekonium. 2. Foto toraks 2. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. sering ditemukan fistule rektum ke perineum. 2. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengetahui kelainan congenital lain yang menyertai anus imperforasi Pemeriksaan penunjang : 1. DIAGNOSIS : Anus Imperforasi 3. Gejala obstruksi intestinalis rendah seperti abdomen kembung. NOMOR ICD : Q. Radiologi : 1. posisi prone 4. Radiologi : Foto Cross table abdominal foto. Bayi usia lebih dari 24 jam secara klinis akan memperlihatkan gambaran obstruksi intestinalis rendah 3. Pada pemeriksan fisik daerah perineum. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Perlu rawat inap 135 . Distal colostogram 3. Untuk diagnosis tidak diperlukan konsultasi b. anus tidak ditemukan pada tempat yang seharusnya.3 2. muntah hijau Pemeriksaan fisik : 1. vestibulun vagina sehingga mekonium tampak keluar melalui tempat tersebut. Laboratorium : 1) Hemoglobin darah 2) Laju endap darah 3) Leukosit darah 4) Faal hemostasis 5) Albumin darah dan total protein ii. Foto tulang belakang 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan penunjang prabedah : i. KONSULTASI : a. DIAGNOSIS BANDING : Tidak diperlukan 5. 42. Untuk pembedahan konsultasi : 1) Dokter Spesialis Anak 2) Dokter Spesialis Anestesi 7. Terdapat keluhan mekonium keluar bersama-sama saat pasien kencing atau keluar didaerah perineum dan atau vagina karena adanya fistula.IV. Laboratorium : pemeriksaan urine lengkap 2.

Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan pada saat kolostomi atau anoplasti dilakukan reoperasi 2) Retraksi anus atau kolostomi dilakukan reparasi ulang 3) Prolaps anus atau kolostomi dilakuakn reparasi 4) Skinrash karena iritasi kulit diberikan local proteksi dengan zinksalf f. RS Kelas C untuk kolostomi 10.8. dilakukan kolostomi atau anoplasti 2) Setelah usia. Tujuan terapi : 1) Terapi awal untuk pengalihan sementara saluran pembuangan melalui kolostomi jika diperlukan 2) Terapi definitive untuk pembuatan lubang anus dengan tehnik anoplasti b. Perawat Senior 2) Pascabedah Anoplasti dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Anak. Dokter Spesialis Bedah. tanpa komplikasi pascabedah 14. MASA PEMULIHAN : 1) Pascabedah kolostomi dapat dirawat oleh Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS. TEMPAT PELAYANAN : a. HASIL : Diharapkan pasien dapat defekasi kontinens. berat badan. Inkontinensi anus 11. Cara pengobatan : 1) Pengobatan sementara dengan kolostomi 2) Pengobatan definitive dengan anoplasti c. OTOPSI : Diperlukan jika pasien meninggal tanpa sebab yang jelas 136 . PENGOBATAN : a. Prolaps anus d. Kelas B untuk Anoplasti b. dan hemoglobin pasien memenuhi syarat untuk pembedahan definitive berencana e. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Macam pengobatan : 1) Pembuatan kolostomi terpisah (divided colostomy) jika diperlukan 2) Pembuatan anus dengan tehnik Postero sagittal anorectoplasy (PSA) d. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13. RS. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Perdarahan tempat operasi b Retraksi anus c. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Dokter Spesialis Bedah dan Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk kolostomi 2) Dokter Spesialis Bedah Anak untuk Anoplasti 9. PENYULIT : a.

TINDAK LANJUT : 1)Setelah pasien pulang dilanjutkan dengan businasi dan dilatasi anus sampai kaliber sesuai usia pasien dilakukan kontrol dan evaluasi secara rawat jalan 2) Penutupan kolostomi dilanjutkan dengan dilatasi dan businasi anus sampai kaliber sesuai dengan usia dengan frekwensi sesuai skedul 3) Toilet training sampai pasien defekasi kontinens melalui evaluasi sesuai sistim skoringnya 137 . PROGNOSIS : Baik jika pengelolaan awal dan lanjut sesuai prosedur 17.16.

NOMOR ICD : Q. Muntah hijau d. Muntah-muntah c. Distensi abdomen 2.1 2. Tanda dan gejala sepsis dan septik syok Pemeriksaan penunjang : A. Evakuasi mekonium terlambat lebih dari 24 jam b. Distensi abdomen d. DIAGNOSIS : Penyakit Hirschprung’s 3. Foto polos abdomen : gambaran obstruksi usus rendah . Perut buncit 3. konstipasi e. Terdapat tanda-tanda obstruksi Intestinalis akut: a.V. Perut kembung c. Tidak bisa mengedan 4. Terdapat obstruksi intestinalis parsial berulang b.43.Udara tidak mencapai cavum pelvis 138 . PENYAKIT HIRSCHSPRUNG’S 1. Fekaloma Pemeriksaan fisik : 1. Konstipasi khronis : a. Konstipasi sebagai gejala pokok 2.Gambaran obstruksi usus akut / khronis . Sepsis Pada anak lebih besar : 1. Perut kembung c. Tanda dan gejala dehidrasi 3. Dehidrasi sampai syok 2. Diare khronis atau akut b.Radiologi : 1. Diare berulang 3. Demam e. Malnutrisi 5. Enterokolitis akut atau khronis : a. Tanda dan gejala enterokolitis akut 4.Foto polos abdomen 3 posisi anterior-posterior (AP). lateral dan tengkurap akan memperlihatkan : . KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : Pada bayi baru lahir dan usia beberapa minggu : 1. Gangguan defekasi berlanjut.

Anak lebih besar . Tumor anorektum d. Fisura anus f. Konstipasi oleh karena berbagai penyebab seperti : hipotiroid. Biopsi rectum b. Biopsi daerah anorektum untuk pemeriksaan patologi anatomi diperlukan jika diagnosis klinis dan penunjang radiologi belum memberikan diagnosis definitif 4.Gambaran daerah rektum yang menyempit. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. Untuk Tindakan dan perawatan : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Anak 2) Konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. PENGOBATAN : a. DIAGNOSIS BANDING : 1. Stenosis anus c. daerah proksimal yang dilatasi dibatasi daerah transisi. Prematuritas d.Gambaran lipatan mukosa kolon ( transversal fold ) B.3. Bayi baru lahir dan usia beberapa minggu . Foto dengan kontras : Enema barium memperlihatkan : . Laboratorium untuk diagnosis tidak diperlukan C. Manometri rectum 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Dilakukan jika diagnosis klinis dan radiologi belum memberikan kepastian diagnosis : a. Enterokolitis netrotikans e. Fissura anus e. KONSULTASI : a. Cara pengobatan : 1) Tindakan awal dikerjakan kolostomi untuk diversi feses sementara 2) Tindakan definitive tarik terobos retrorektal prosedur Duhamel modifikasi dengan stapler 139 . Hipotiroid 2. a. Untuk diagnosis : 1) Konsultasi Dokter Spesialis Radiologi 2) Konsultasi Dokter Spesialis Patologi Anatomi b. Anterior anus 5. Tujuan terapi : Membuat fungsi defekasi pasien kembali mendekati normal b. Mekonium plug syndrome b. . a. retardasi mental b. Stenosis anus c.

Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. dilakukan reoperasi untuk menghentikan perdarahan 2) Enterokolitis. Terapi komplikasi pengobatan : 1) Perdarahan. PENYULIT : a. Obstivasi khronis c.c. TEMPAT PELAYANAN : a. Inkontinensi alvi 11. berat badan. PATOLOGI : Diperlukan untuk : a. fisik. Waktu pengobatan : 1) Setelah diagnosis ditegakkan dilakukan kolostomi 2) Setelah persyaratan operasi definitive terpenuhi dilakukan Prosedur Duhamel e. RS. Enterokolitis b. untuk perawatan awal dan kolostomi 9. Kelas B untuk tindakan defnitif b. Untuk diagnosis b. Menentukan demarkasi usus yang aganglioner dan yang berganglion 15. Perawat senior 13. kolostomi dan perawatan awal 3) Chief Residen PPDS Ilmu Bedah.tindakan kolostomi dan terapi definitive 2) Spesialis Bedah untuk diagnosis. OTOPSI : Diperlukan pada kematian pasien Penyakit Hirschsprung’s yang tidak disebabkan langsung oleh tindakan maupun komplikasi dalam pengelolaannya 140 . INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. pemberian antibiotika dan kolonrektal washing 3) Gangguan defekasi. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : 1) Spesialis Bedah Anak. RS. Kelas C untuk tindakan dan perawatan awal 10. Dokter Spesialis Bedah Anak b. MASA PEMULIHAN : Dilakukan perawatan pascabedah oleh : a. dengan regulasi defekasi melalui pengaturan diet dan obat pencahar f. Macam pengobatan : 1) Kolostomi sigmoid jika memungkinkan 2) Leveling kolostomi pada kasus yang tidak tegas segmen kolon yang aganglioner 3) Laparotomi pada Penyakit Hirschsprung’s neonatus dengan gejala obstruksi total 4) Prosedur Duhamel setelah memenuhi syarat dalam usia. untuk diagnosis. HASIL : Pasien dapat defekasi spontan dan kontinen 14. Dokter Spesialis Bedah c. laboratorium dan toleransi operasi d.

adanya penyulit dan perlunya tindakan revisi pembedahan 141 . dan pasien datang pada saat belum terdapat komplikasi 17. PROGNOSIS : Baik. jika pengelolaan sesuai dengan prosedur. TINDAK LANJUT : Pasien kontrol rawat jalan untuk follow-up fungsi defekasi.16.

Obturator dan psoas sign sebagai petunjuk lain terdapat proses keradangan didaerah posterior lokasi apendiks namun jarang ditemukan pada anak-anak. APPENDISITIS AKUT 1. KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : 1. pada pemeriksaan ini akan ditemukan tenderness kearah kanan dinding rectum.000 mm3) dengan pergeseran sel kekiri namun demikian hasil pemeriksaan leukosit normal dapat ditemukan pada anak dengan apendisitis. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium : 1. sedangkan jika hasil pemeriksaan leukosit mencapai 20.VI.Tanda-tanda “rebound tenderness rigiditas” dinding abdomen muncul jika telah terjadi perforasi apendiks. pipi kemerahan. Wajah nampak pucat.Mual dan muntah terjadi setelah timbul gejala nyeri perut.Agak sulit berjalan dan tungkai kanan terlihat fleksi pada saat tiduran 3. ditemukan pada 10% kasus dapat 142 . 7.Pada pemeriksaan abdomen. Pemeriksaan fisik : 1. Foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran mass effect akibat hilangnya gambaran gas di daerah abdomen kanan bawah. bibir terlihat kering. 6. 5. Darah Umumnya ditemukan leukositosis (11. abdomen distensi dan tegang.Pemeriksaan palpasi abdomen ditemukan titik nyeri daerah “Mc Burney’s 4. kadang-kadang anak lebih besar terdapat gejala anoreksia sehingga semakin menyulitkan diagnosis. anak mengalami demam dengan suhu axilla diatas 38 derajat celcius 2.000 mm3 dengan gejala klinis minimal untuk apendisitis kemungkinan disebabkan keadaan lain.35.9 2. NOMOR ICD : K.Tanda peritonitis umum yang lebih menonjol pada pemeriksaan abdomen terdapat nyeri perut yang menyeluruh dan seluruh dinding abdomen mengalami rigiditas. 2. seringkali sulit dibedakan dengan gejala gastroenteritis. DIAGNOSIS : Appendisitis Akut 3.Pemeriksaan rectum dilakukan jika penemuan gejala seperti diatas masih belum dapat membantu diagnosis apendisitis. jika abses terlokalisir dalam rongga peritoneum teraba massa dengan palpasi bimanual dari dinding abdomen dan pemeriksaan rectum.Nyeri perut daerah periumbilikus 2.000-15. 8.Selanjutnya nyeri perut berpindah kedaerah kwadran kanan bawah abdomen (daerah Mc Burney) 3. Umumnya hasil pemeriksaan urine normal pada apendisitis pada beberapa kasus apendisitis dapat ditemukan sel darah merah dan atau sel darah putih pada sidemen urine Pemeriksaan radiology atau ultrasound : Untuk gejala apendisitis tertentu membutuhkan pemeriksaan radiology dan atau ultrasound ( USG ) seperti : 1. Urinalisis Perlu diperiksa jika terdapat gejala klinis yang sulit dibedakan dengan infeksi saluran kencing. kadangkala dapat diraba adanya massa atau pembentukan abses.

5. sickle cell crisis. Laboratorium : 1) Darah rutin : Leukosit darah dan Laju endap darah (LED). d. Macam pengobatan : a. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan rutin pada anak dengan gejala klinis minimal atau anak yang gemuk. Ultrasound/USG dapat terlihat ukuran apendiks lebih besar dari normal disertai gambaran abses periapendikuler atau tumpukan abses di daerah rongga pelvis. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Prabedah : a.terlihat gambaran fekolit (feses yang mengeras sebagai penyebab sumbatan obstruksi lumen apendiks) 2. Cara pengobatan : Melalui tindakan pembedahan. Tujuan terapi : Menganggkat apendiks vermiformis b. intususepsi. Apendiktomi anterograde b. KONSULTASI : a. Beberapa kasus lain seperti infeksi saluran kencing dan infeksi Mackle’s divertikulum. Konstipasi : Massa feses yang teraba pada pemeriksaan palpasi abdomen dan pemeriksaan rectum dapat membedakannya dengan apendisitis. Waktu pengobatan : Segera setelah diagnosis ditegakkan dan pasien memenuhi sayarat untuk pembedahan 143 . b. DIAGNOSIS BANDING : a. pnemonia paru kanan lobus bawah. regional enteritis. c. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan prabedah dan pascabedah 8. namun dapat dibedakan dari proses nyeri perut yang tidak didahului oleh nyeri perut klasik didaerah umbilicus. Tanda-tanda apendisitis akut akan terlihat gambaran barium yang menunjukkan penyempitan lumen apendiks dan tiba-tiba terhenti (cut off) akibat adanya obstruksi. faal hemostasis 2) Urine : sedimen urin b. PENGOBATAN : a. Penyakit radang panggul : terutama anak dan wanita dapat menyerupai gejala apendisitis. Gastroenteritis : Gejala muntah dan diare mendahului gejala sakit perut pada umumnya tidak ditemukan nyeri perut terlokalisir di daerah abdomen bagian bawah. kolesistis kadangkala gejala klinis menyerupai apendisitis. Enema barium perlu dikerjakan pada anak dengan nyeri perut berulang tanpa gejala penyerta yang jelas. Untuk pembedahan: konsultasi Dokter Spesialis Anestesi 7. Radiologi : 1) Foto toraks 2) Sonografi appendiks vermiformis 3) Apendikograpi jika diperlukan 6. 3. Apendiktomi retrograde d. Untuk diagnosis : konsultasi Dokter Spesialis Anak b. 4. apendiktomi c.

Terapi komplikasi pengobatan : a. Perawat senior 13. Dokter Spesialias Bedah Anak b. Perforasi appendicitis akut b. HASIL : Pascabedah pasien pulih baik 14. dengan relaparotomi f. Sepsis prabedah dan pascabedah 11.e. TEMPAT PELAYANAN : a. dengan perawatan luka c. Abses peri apendikulare d. PATOLOGI : Diperlukan untuk konfirmasi 15. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah d. Spesialis Bedah c. Dokter Spesialis Bedah c. PROGNOSIS : Baik jika tanpa komplikasi 17. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. Spesialis Bedah Anak b. PENYULIT : a. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 9. dilakukan reoperasi b. Abses intraperitoneal. Perdarahan. OTOPSI : Diperlukan jika kematian pasien tidak jelas penyebabnya 16. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dapat dilakukan oleh : a. Kelas B bila terdapat komplikasi b. RS kelas C bila tanpa komplikasi 10. TINDAK LANJUT : Pasien rawat jalan untuk kontrol dan follow-up pascabedah 144 . Infeksi luka operasi. RS. Infeksi luka operasi c. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12.

KRITERIA DIAGNOSIS : Anamnesis : a. Penutupan sekunder dengan alat bantu seperti mesh 3. Dinding abdomen dan tali pusar yang tidak normal Pemeriksaan fisik : a. Penutupan primer dinding abomen 2. Terlihat dinding abdomen mengalami kelain 4. Untuk tindakan pembedahan konsultasi: Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anestesi 7. Cara pengobatan : Pasien dilakukan pembedahan dengan persiapan minimal untuk penutupan defek dinding abdomen dan pascabedah mendapat perawatan intensif dengan alat bantu pernafasan c.79. PENGOBATAN : a. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Diperlukan perawatan di rumah sakit prabedah maupun pascabedah 8.3 2. NOMOR ICD :Q.Faal hemostasis. Untuk diagnosis tidak diperlukan b.2 dan Q. DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada 5. Untuk diagnosis tidak dibutuhkan pemeriksaan penunjang b. PEMERIKSAAN PENUNJANG : a.kasa steril dll) b. Analisa gas darah 6. DIAGNOSIS : Omphaloce pecah dan Gastroschisis 3. Penutupan definitif d. Keadaan umum bayi buruk b.VII. Untuk tindakan pembedahan dibutuhkan pemeriksaan penunjang : 1)Radiologi : foto torak dan abdomen 2)Laboratorium: Hb. sekaligus menutup dinding abdomen langsung maupun ditutup sementara dengan alat (mesh.silastik. Riwayat kehamilan dan persalinan dengan distocia b. Tujuan terapi : Untuk mengembalikan organ rongga abdomen yang berada diluar.beratbadan dan kondisi pasien memenuhi syarat untuk pembedahan berencana 145 . KONSULTASI : a. setelah usia. Macam pengobatan : 1. Waktu pengobatan : 1. OMPHALOCELE PECAH DAN GASTROSCHISIS 1. Pembedahan definitif. Pembedahan primer dan sekunder dilakukan sebelum usia bayi 12 jam 2.79.

Sepsis j. PROGNOSIS : Du-Boab ad malam 17. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah 13.e. TEMPAT PELAYANAN : RS. Gangguan pasase usus dengan relaparotomi dan intestinal dekompresi f. pasase usus berfungsi baik 14. OTOPSI : Diperlukan pemeriksaan otopsi jika pasien meninggal untuk menentukan causa mortis 16. PATOLOGI : Tidak diperlukan 15. Distres pernafasan dengan alat bantu pernafasan b. PENYULIT : g. TINDAK LANJUT : Pasca perawatan di rumah sakit pasien rawat jalan untuk evaluasi dan follow-up perlunya tindakan lebih lanjut 146 . Distress pernafasan pascabedah i. Gangguan pasase usus 11. Kualifikasi operator / pemberi pelayanan : a. Dokter Spesialis Bedah f. MASA PEMULIHAN : Perawatan pascabedah dilakukan oleh : c. INFORMED CONSENT : Diperlukan 12. Spesialis Bedah c. Kelas B 10. Chief Residen PPDS Ilmu Bedah untuk perawatan awal 9. Spesialis Bedah Anak b. HASIL : Pasien bisa survive. Intensifis di Ruang Perawatan Intensif d. Terapi komplikasi pengobatan : a. Syok hipovolumik k. Dokter Spesialis Bedah Anak e. Kelainan bawaan pada organ lainnya yang terjadi bersamaan h.

O’Neil Jr.MD. Pediatric Surgery Keith W.: Jay L. Arnold G.Rowe. Essential of Pediatric Surgery Mare I. Misouri Copyright 1995 147 . Aschraft.M..Grosfeld.D. Second Edition.D.D. Mosby-Year Book. Coran. Saunders Company Philadelphia.. M. Eric W.M.M. Fondkallsrud..B. Inc.D.Thomas M.M.D. W. St Louis.Holder.. James A..M. Copyright 2000 2.D.Kepustakaan : 1.

Lateralisasi.Cidera kepala ringan (CKR) / Commotio Cerebri .Riwayat cidera kepala. Tempat Pelayanan : . DM.IRD kemudian untuk observasi di IRD lantai 2 atau Instansi Rawat Inap 9.mual. 5.Lateralisasi 7.Gelisah. . . nyeri kepala. . Perawatan RS : . Patah tulang (Interne. 148 . Konsultasi : .Kardio.Sefal hematoma diameter >5cm. Cedera kepala 1.Vertigo.Perdarahan Intra kranial . muntah. Terapi : .Observasi terhadap penyulit yang timbul yaitu: .Anti Emetik .GCS 3.Simtomatis . Nama Penyakit/Diagnosis/ICD : .Keluhan : . mual muntah.Analgetik .Foto polos kepala AP & lateral : Penderita CKR dengan : . gelisah bila memberat walaupun . mesti dengan pemberian obat-obatan. nyeri kepala.Orthopedi) 6.GCS< 15 .CVA hemoragik dan non hemoragik.Epidural hematum .Neurologi . Informed Consent : Tidak perlu. Penyulit : .I. .Kalau ada kelainan: Hipertensi. 8. Kriteria Diagnosis : . kecuali ada penyulit dan perlu operasi (tertulis). Pemeriksaan Penunjang : . 4. Diagnosis Banding : .Intra cerebral hematum 10. .ICD 850 2.Pernah tidak sadar/saat ini tidak sadar. . .Vulnus apertum dikepala panjang > 5cm .Anti Vertigo .Penurunan kesadaran.dengan obat-obatan → indikasi CT-Scan kepala.CT-Scan kepala : Penderita CKR dengan : .Keluhan bertambah berat. .Derajat kesadaran.Cairan infus selama penderita minumnya tidak adekuat.Subdural hematum . .

36 (1) : 89-95. PA : . 149 . 2.Ahli Bedah Umum . Journal of Trauma 1994 . Lama Perawatan : .Penyulit 5-7 hari 13.Ahli Bedah Saraf 12. Chestnut RM. Standar Tenaga : . Willberger JE. American college of Surgeon ATLS . results of a national survey. 1995. Journal of Trauma 1993 .Residen senior bedah .Penderita CKR meninggal tanpa kausa yang jelas. Output : . Marshall LF.Bila ada penyulit: .Tanpa penyulit 2-5 hari . Masa Pemulihan : . Otopsi/Risalah : . Povlishock JT (eds) : Neurotrauma.Bila tidak ada penyulit : . New York. Marion DW. McGraw.Tidak perlu 16. 34 : 216-222.Dokter umum/Residen . Head trauma : Chicago Six edition 1997. 3.hill.Pulang dengan sembuh total.Perawat yang terlatih . Carlier PM : Problems with initial Glasgow Coma Scale assessment caused by prehospital treatment of patients with head injuries . 1996. Narayan RK.11.1-2 minggu 14. Klauber MR. Kepustakaan: 1. American Association of Neurological Surgeons: Guidelines for the Management of Severe Head Injury. et al : The role of secondary brain injury in determining outcome from severe head injury. 15.Residen bedah umum . 4. 5.

Eksisi meningoensefalokel & duraplasti 8. Diagnosis Banding : . Perawatan RS: . Julian R. lipoma 4. Kriteria Diagnosis: .MENINGOENSEFALOKEL .MRI 5. Penyulit: . .Rawat inap 7.ICD 5. Lama perawatan: . kebocoran cairan serebrospinal 10. Forth edition . Terapi: .Benjolan pada pangkal hidung.II. Informed Consent (tertulis): . Tempat pelayanan : . Nama penyakit / diagnosis: . teratoma. Neurological Surgery. Youmans.infeksi.tengkuk atau pinggang bawah sejak lahir.Foto Ro : Kepala atau Lumbosakral. Tenaga standar: .Ya 11.3 hari Kepustakaan: 1.IBS 9.Spesialis Bedah Saraf 12. 150 .021 2.Bedah Plastik (pada penderita dewasa) 6. CT Scan .. Pemeriksaan Penunjang : . WB Saunder Company. Konsultasi : .Neurologi .Kista Dermoid. nyeri tekan 3. United state of America 1996. Meningoensefalokel 1.

Ya 11. Youmans. IV. United state of America 1996.023 2. 3. Neurological Surgery.Kepala besar.III. Kriteria Diagnosis: .Ro Kepala.Neurology 6.Makrosefal 4.hematoma intracranial 10. Lama perawatan: . sejak lahir.Spesialis Bedah Saraf 12. Forth edition . vasa kepala prominen.IBS 9. Diagnosis Banding: . Tenaga standar: . Konsultasi : . Sun set phenomena. Penyulit: .ICD 5. Tumor otak 151 .. CT Scan 5. Perawatan RS: . Julian R. Nama penyakit / diagnosis: . Informed Consent (tertulis): . Terapi: .Rawat inap 7. WB Saunder Company. psikomotor terhambat.HIDROSEFALUS INFANTIL . Pemeriksaan Penunjang: .7 Hari Kepustakaan: 1.V-P shunt 8. Hidrosefalus 1. Tempat pelayanan : .

infeksi 10. Ohta Tomio . Japan 1995.Trepanasi + reseksi tumor 8.029 2. United state of America 1996. Kinpodo Publising Company. Nama penyakit / diagnosis: . Kriteria Diagnosis : .Neurologi 6.A.Ya Kepustakaan: 1.. Penyulit: . SDH kronik.IBS 9. Konsultasi : .TUMOR OTAK . defisit Neurologi fokal ( TIK meningkat kronis Progresif) 3. CT Scan. Tempat pelayanan : . Masa pemulihan: .ICD 5. Lama perawatan: . MRI 5. edema serebri. WB Saunder Company.10 hari 13. Abses.Ya 11. Neurological Surgery. tuberkuloma 4. 2. 3. Diagnosis Banding: .: Illustrated Neurosurgery. Tindall. tension headache. George T.Perdarahan. muntah.Spesialis Bedah Saraf 12.: . Terapi: . Informed Consent (tertulis): . William and Wuilkins co. Pemeriksaan Penunjang: . Tenaga standar: . Julian R. Perawatan RS: . Forth edition . 152 .Rawat Inap 7. penglihatan kabur.Ro Kepala.Nyeri kepala.1. United state of America 1996. The Practice of Neurosurgery. P.Migrain. Youmans.3 bulan 14.

Tumor Kauda Equina 4. 2. Kriteria Diagnosis: . Cedera saraf dan medula Spinalis 10. Informed Consent (tertulis): . George T. 3. Penyulit: . Japan 1995.Rawat inap 7. Konsultasi : . Perawatan RS: .Robekan duramater.7 hari Kepustakaan: 1.V. Lama perawatan: . Kinpodo Publising Company. Neurological Surgery. tes laseque positif 3. Julian R. Tempat pelayanan: . analgesik 2.Nyeri salah satu tungkai yang menjalar dari pinggang kepaha dan betis. Tindall. William and Wuilkins co. Bila 1) gagal (laminektomi + eksisi HNP) 8. United state of America 1996. Terapi: . Pemeriksaan Penunjang: . Tenaga standar: .HNP (Hernia Nukleus Pulposus) ICD 5. Ohta Tomio . Diagnosis Banding: .IBS 9. United state of America 1996.Ya 11. 153 .Konservatif 2 minggu : bed rest. HNP 1. Nama penyakit / diagnosis: .803 2.. The Practice of Neurosurgery. fisioth/. Youmans.MRI 5.Neurologi 6.Spesialis Bedah Saraf 12. WB Saunder Company. Forth edition .Kaudografi .: Illustrated Neurosurgery.

154 . Lama perawatan: .TUMOR MEDULA SPINALIS .Ya 11.Rawat Inap 7. Tempat pelayanan : . The Practice of Neurosurgery. Perawatan RS: . Nama penyakit / diagnosis: . paresis tipe UMN 3.Myelografi..VI. United state of America 1996. William and Wuilkins co. CT Scan 5. George T. WB Saunder Company. Spondilitis 4. Penyulit: .Spesialis Bedah Saraf 12.Perdarahan.Bedah Onkologi (pada tumor ganas) 6. infeksi. Tumor medulla spinalis 1. Kriteria Diagnosis: .10 hari Kepustakaan: 1. Julian R. Forth edition .Laminektomi + reseksi tumor 8. Diagnosis Banding: . Youmans.eksisi biopsi 9.Neurologi . 2.Lumpuh anggota gerak bilateral secara progresif. Neurological Surgery.ICD 5. United state of America 1996. Pemeriksaan Penunjang: . Tindall.Trauma.039 2. Konsultasi : . Terapi: . Informed Consent (tertulis): . kebocoran cairan serebrospinal 10. MRI. Tenaga standar: .

BATU KALIKS . Sedang. : . NOMOR ICD 2.BATU KALIKS .BATU STAGHORN 1. BATU GINJAL : . PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Nadi. Asam Urat darah. UL. SC > 2mg% tanpa kontras. DIAGNOSIS 3. Tekanan darah. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.I. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis berat/penderita kurus) Teraba tumor kistik. BUN/SC.BATU PIELUM . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. SC <2mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 155 . DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu ureter 5.BATU STAGHORN : .N 20. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/penderita kurus) 4.USG kurang/tidak informatif.BATU PIELUM .

B dan RS.6. Bivalve Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy. Nephrostomy atas indikasi khusus 156 . TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy) Phyellolithotomy Nephrolithotomy Calycolithotomy Lower pole resection Kombinasi Nephrectomy atas pertimbangan khusus 9. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter PNL (Percutan-Nephro-Lithotripsy) SWL (Shock Wave Lithotripsy jika ada fasilitas) Simple/Extended Phyellolithotomy Nephrolithotomy. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Phyellolithotomy Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.

MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. Ackermann D. Resnick MI.-G. Alken P. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Stone Desease. PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. 17. 18. Cambell’s Urology. • Tiselius H. 1998. First International Consultation on Stone desease. infeksi. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. Depkes RI-IDI.. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. Vol. Urological Guidelines. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Kambuh (residif) • Contracted kidney (ginjal mengecil) 11. Batu Saluran Kemih. Urinary Lithiasis: Etiology. Guidelines on Urolithiasis. Standar Pelayanan Medis. Heath Care Office. Buck C. infeksi. 157 . OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Gallucci M. • IDI . kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14 -90 hari pascabedah) • Lain-lainnya atas intruksi operator 13. Conort P. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Treatment of Renal Stone. Diagnosis and Medical Management. European Association of Urology.10. KEPUSTAKAAN • Alken P. Paris. March 2004. • Menon M. Eddition 2003.(3). 2003. July 4-5. 2001. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. 8th . fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu.

NOMOR ICD 2.BATU URETER 3. BUN/SC. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. Kultur urin dan BS acak (untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. SC > 2mg% tanpa kontras. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. UL. Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila ada hidronefrosis berat/pada penderita kurus) Teraba tumor kistik. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas/nyeri kolik Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah. DIAGNOSIS BANDING • Pielonefritis • Batu pielum/kaliks 5.II. Asam Urat darah.N 20. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS : . SC <2 mg% dengan kontras) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6. Sedang.1 : . BATU URETER 1. Nadi. nyeri (apabila ada hidronefrosis/pionefrosis/pada penderita kurus) 4. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 158 .

Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Ureterolithotomy Kombinasi Nephrostomy.8. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Pelepasan Double J Stent (ureter stent) (14-90 hari pascabedah) • Lain-lainnya tergantung instruksi operator 159 . Nefrostomy atas indikasi khusus 9. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Sisa batu • Contracted kidney (ginjal mengecil) • Kambuh (residif) 11. Nephrectomy atas indikasi khusus 10. B dan RS. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Simple Ureterolithotomy 1/3 tengah dan 1/3 atas Nephrectomy atas pertimbangan khusus • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri/kolik Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive Stenting ureter URS (Uretero-Reno-Scopy lithotripsy) Kombinasi Nephrectomy.

Eddition 2003. Gallucci M. Vol. KEPUSTAKAAN • Alken P. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan parenkhim ginjal baik. 17. • Segura JW. Batu Saluran Kemih. Paris. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. European Association of Urology. Treatment of Renal Stone. Cambell’s Urology. Alken P. 1997. • IDI . PATOLOGI • Batu analisa • Ginjal (pada nephrectomy) 15. • Menon M. July 4-5. March 2004. HASIL • Bebas obstruksi • Bebas dari batu • Bebas infeksi saluran kencing 14. infeksi. Assimos DG et al. 2001. Resnick MI.13. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Guidelines on Urolithiasis. Diagnosis and Medical Management. Ackermann D. Heath Care Office. The Management of Ureteral Calculi. 2003. Urinary Lithiasis: Etiology. 1998. 8th . 160 . Preminger GM. Urological Guidelines.(3). OTOPSI • Tidak diperlukan 16.-G. Buck C. First International Consultation on Stone desease. • Tiselius H. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. Conort P.. Standar Pelayanan Medis. infeksi. American Urological Assosiation. Stone Desease. Depkes RI-IDI.

• Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan. • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.N 21. Nadi.BATU KANDUNG KENCING . SC < 2mg dengan kontras). DIAGNOSIS BANDING : • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • PID untuk wanita dewasa 5. USG ginjal dan kandung kencing. PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Laboratorium DL. NOMOR ICD 2. • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor. 6. Asam Urat darah.0 : . BUN/SC. Tekanan darah.BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 3. Kultur urin dan BS acak untuk umur > 40 tahun • Radiologi BNO/BOF. UL. PERAWATAN RUMAH SAKIT : • Prabedah • Pascabedah 161 . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.III. IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif. BATU KANDUNG KENCING DAN BATU DIVERTIKEL KANDUNG KENCING 1. 7. KONSULTASI : • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun). Kurus) Lokal Teraba batu (apabila batu cukup besar/penderita kurus) 4. DIAGNOSIS : . Sedang. SC > 2mg% tanpa kontras.

MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1 hari pascabedah • Pelepasan kateter uretra setelah 7 hari pascabedah (pada vesicolithotomy) • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. PENYULIT : • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. TEMPAT PELAYANAN : • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Vesicolithotomy. INFORMED CONSENT : • Diperlukan 12. kombinasi dengan cystostomy atas pertinmangan khusus • RS Kelas A dan B (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Vesicolithotomy. kombinasi dengan cystostomy atas pertimbangan khusus Diverticulecthomy dan ambil batu. TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu/devertikel kandung kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Lithotripsy Vesicolithotomy Diverticulecthomy dan ambil batu Kombinasi 9. kombinasi cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 162 .8.

Urological Guidelines. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Batu Saluran Kemih. 8th . Heath Care Office. 1998. 2001. infeksi.14. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. March 2004. Guidelines on Urolithiasis. Vol. Paris. July 4-5. European Association of Urology. Depkes RI-IDI. Alken P. 163 . • Tiselius H. • IDI . Cambell’s Urology. Ackermann D. Conort P. Resnick MI. Standar Pelayanan Medis. Stone Desease. • Menon M. Diagnosis and Medical Management. Eddition 2003.(3). KEPUSTAKAAN • Alken P. PROGNOSIS • Baik 17. Urinary Lithiasis: Etiology. PATOLOGI • Batu analisa 15. infeksi. Buck C. 2003. Gallucci M.. First International Consultation on Stone desease. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu.-G. 18. Treatment of Renal Stone.

Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. UL. BUN/SC.IV. Asam Urat darah. Kurus) Lokal Teraba batu pada uretra Teraba kandung kencing (apabila sisa urin/retensio urin/penderita kurus) 4. BATU URETRA 1. Nadi.BATU URETRA 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS : .N 21. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Nyeri kencing/nyeri perut bagian bawah Riwayat nyeri pinggang/perut bagian atas Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara batu saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan dan dehidrasi • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah. Kultur urin dan BS acak(untuk umur > 40 tahun) • Radiologi BNO/BOF. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) • Laboratorium/Radiologi lainnya atas indikasi medis/pembedahan mayor 6.1 : . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. NOMOR ICD 2. DIAGNOSIS BANDING • Sistitis • BPH untuk pria umur >60 tahun • Batu kandung kencing 5. Sedang. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 164 .

TERAPI • Tujuan Menghilangkan/mengurangi nyeri Mencegah/terapi terhadap infeksi saluran kencing/urosepsis Menghilangkan/mencegah obstruksi saluran kencing Menghilangkan batu saluran kencing sebagai sumber infeksi/obstruksi saluran kencing • Medikamentosa Analgetika/spasmolitika Antibiotika profilaksis/terapiutik • Pembedahan invasive/minimally invasive/non invasive : Cystostomy atas pertimbangan khusus Lithotripsy Kombinasi 9. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11.8. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1 hari pasca-Lithotripsy • Pelepasan cystostomy catheter sesuai operator 13. PATOLOGI • Batu analisa 165 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. drong batu kedalam/keluar kandung kencing dan pemasangan kateter uretra (dower catheter). B dan RS.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Terapi medikamentosa Lithotripsy Cystostomy atas pertimbangan khusus Kombinasi 10. vesicolithotomy Cystostomy atas indikasi retensio urin • RS Kelas A. HASIL • Bebas dari batu • Bebas dari obstruksi • Bebas infeksi saluran kencing 14. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Terapi medikamentosa Lubrikasi. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.

Alken P. • Menon M. Eddition 2003. Stone Desease. Batu Saluran Kemih. fungsi ginjal dan mencegah kekambuhan/mencari penyebab batu 18. Ackermann D. Resnick MI. Cambell’s Urology.(3). Guidelines on Urolithiasis.15. • Tiselius H. 2001. infeksi. Diagnosis and Medical Management. • IDI . Treatment of Renal Stone.-G. Conort P.. Standar Pelayanan Medis. European Association of Urology. Urological Guidelines. Depkes RI-IDI. 1998. 166 . 2003. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Buck C. First International Consultation on Stone desease. Gallucci M. KEPUSTAKAAN • Alken P. fungsi ginjal dan sisa batu • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Heath Care Office. infeksi. Urinary Lithiasis: Etiology. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 8th . July 4-5. PROGNOSIS • Baik 17. Paris. March 2004. Vol.

Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) c. UL. SC. terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan memiliki nilai dari 0 sampai 5 sehingga total score maksimal 35 Jumlah score 0. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) ii. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5. Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) e. NOMOR ICD 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Tekanan darah. DIAGNOSIS : .V.N 40 : -BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 3. Nodul (Soliter/Multiple) 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan IPSS (International Prostate Symptom Score). BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) d. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak 167 . Melihat sekitar anus b.7 gejala ringan Jumlah score 8-19 gejala sedang Jumlah score 20-35 gejala berat Riwayat penyakit/keluar batu saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Pole atas (Mudah dicapai/Susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) : a. Nadi. Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: i. BPH (Binign Prostatic Hyperplasia) 1. Perabaan prostat 1. DIAGNOSIS BANDING • Batu uretra • Sistitis • Batu kandung kencing 5. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4.

TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Dokter Spesialis Bedah) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka 168 . KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. USG ginjal dan kandung kencing IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) Pemeriksaan tambahan Uroflometri(optional) o Uroflo > 15 ml/detik kecil kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo < 10 ml/detik besar kemungkinan obstruksi infravesical o Uroflo 10-15 ml/detik sulit utuk mendeteksi obstruksi infravesical Postvoid residual urin (PVD) Prostate Specific Antigen (PSA). rentang kadar PSA dianggap normal berdasar usia o Usia 40-50 tahun: 0-2. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal • Medikamentosa Alpa-Blocker 5 Alpa-Reductase Inhibitor Fitofarmaka • Pembedahan TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) Prostatectomy 9. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. TERAPI • Tujuan Pola kencing normal/mendekati normal Mencegah komplikasi infeksi.Flow Studies) (optional) 6.• • Radiologi atas indikasi medis Hematuria ISK Insufisiensi renal Riwayat batu saluran kencing Irwayat pembedahan saluran U-G BNO/BOF.5 ng/ml o Usia 70-80 tahun: 0-6.5 ng/ml o Usia 50-60 tahun: 0-3.5 ng/ml Trans-Rectal Ultra-Sonography (TRUS) (optional) Urodynamic Study (Pressure.5 ng/ml o Usia 60-70 tahun: 0-4.

Striktura uretra 7. perforasi (khusus untuk TURP) 5. PENYULIT 1. Kambuh (residif) 6.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Medikamentosa o Alpa-Blocker o 5 Alpa-Reductase Inhibitor o Fitofarmaka Pembedahan o TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) o TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) o Prostatectomy 10. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pascabedah • Pelepasan kateter uretra 3-5 hari pasca TURP • Pelepasan kateter uretra 5 hari pasca Prostatectomy • Pelepasan drain retroperitoneal 1 hari setelah pelepasan kateter uretra dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. Water intoxication. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.• Pembedahan o Prostatectomy RS Kelas A. PATOLOGI • Prostat 15. Disfungsi ereksi 8. PROGNOSIS • Baik apabila fungsi ginjal dan kandung kencing baik 169 . HASIL • Kencing normal/mendekati pola kencing normal 14. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Infeksi saluran kencing dan luka operasi 3. Ejakulasi retrograde 11. B dan RS. Pendarahan 2. Inkontinensia urin 4.

Akmal Taher. Depkes RI-IDI. 170 . Basuki Bambang Poernomo. Pembesaran Prostat Jinak. 2003. • Sunaryo Hardjowijoto.(3). Standar Pelayanan Medis. Urological Guidelines. KEPUSTAKAAN • De la Rosseta J. 2003. Madersbacher S. • Lepor H. Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia BPH) di Indonesia. inkontinensia urin. infeksi saluran kencing. et al .. Cambell’s Urology. striktura uretra dan rectal toucher. dkk. tidak normal/inkontinensia • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. European Association of Urology.untuk mengetahui karsinoma prostat. • IDI . Vol. Heath Care Office. Evaluation and Non-Surgical Management of Benign Prostatic Hyperplasea. 8th . 18. 1998. Alivisator G. Lowe FC . March 2004.17. Guidelines on Benign Prostatic Hyperlasea. disfungsi ereksi. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. infeksi dan pola kencing untuk mengetahui kencing normal.

Sedang Kurus) Lokal RT (Rectal Toucher) untuk mencari irigularitas. Lobus kanan dan kiri (Simetris/Asimetris) o BCR (Bulbo-Cavernosal Reflex) (Normal/Menurun/Tidak ada) o Ampula rectum (Normal/Spastic/Delatasi/Penuh feses) o Saat mengeluarkan jari ada (Feses/Lendir/Darah segar/Darah hitam) 4. Batu kandung kencing • Metastase tulang a. Konsistensi (Kenyal/Keras/Fluktuasi) 3. Sulkus medianus (Cekung/Datar/Cembung) 5.VI. DIAGNOSIS BANDING • Pembesaran Prostat a. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.KARSINOMA PROSTAT (ADENOCARCINOMA PROSTATE) 3. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Anamnesis yang cermat untuk menentukan adanya keluhan karena pembesaran prostat dan metastase ke tulang pelvis. Perabaan prostat 1.C 61 : . Nodul (Soliter/Multiple) 4. Batu uretra b. Nadi. NOMOR ICD 2. Ukuran (Normal/Membesar/Mengecil) 2. KARSINOMA PROSTAT (ADENO CARCINOMA PROSTATE) 1. Sistitis c. kekerasan dan nodul pada prostat yang mengarah pada karsinoma prostat: o Melihat sekitar anus o Saat memasukkan telunjuk ke lubang anus/rectum: iii. DIAGNOSIS : . Kandung kencing neurogenik 171 . Fraktur patologis b. Pole atas (Mudah dicapai/susah dicapai/Tidak dapat dicapai) 6. collumna vetebra dan lain-lain Riwayat penyakit/keluarga adanya tumor saluran kencing Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara penyakit saluran kencing Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah. Bagaimana tonus spincter ani (Normal/Menurun/Tidak ada tronus) iv.

Riwayat pembedahan saluran U-G f. Riwayat batu saluran kencing e.5. Bone survey d. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk Toleransi Operasi • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Kultur/Tes sesitifitas/Hitung kuman dari urin dan BS acak PSA (kalau perlu Free PSA) • Radiologi a. BNO/BOF dan USG Ginjal dan Kandung kencing b. SC. batu saluran kencing dan gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pengobatan dengan Hormonal a) Flutamid b) LH. UL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. Metastase tulang IVP (Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif dengan SC < 2mg%) CT Scan Ambomen(Apabila BNO/BOF dan USG kurang/tidak informatif . Hematuria b. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Pola kencing normal/mendekati normal d) Mencegah komplikasi infeksi. Insufisiensi renal d. SC > 2mg% tanpa kontras. ISK c. Bone scanning (optional) • Radiologi lain atas indikasi medis a. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. SC <2 mg% dengan kontras) • Biopsi prostat dan pemeriksaan PA 6. USG Transrectal(Optional) c. Rh antagonis c) Subcapsuler Orchidectomy d) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) • Pembedahan atas indikasi obstruksi karena pembesaran Prostate Disobstruksi Prostat a) TUIP (Trans-Urethral Incision of the Prostate) b) TURP (Trans-Urethral Resection of the Prostate) 172 .

Water intoxication dan perforasi (khusus untuk TURP) 7. 14. Obstruksi saluran kencing (hydronephrosis. PATOLOGI • Prostat 173 . Infeksi saluran kencing dan luka operasi 6. Inkontinensia urin 3. PENYULIT 1.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pengobatan dengan Hormonal Pembedahan a) Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) b) Disobstruksi Prostat Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 10. dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Kendorkan tractie kateter tidak lebih dari 24 jam pasca TURP • Pelepasan kateter 3-5 hari pasca TURP • Lain-lain atas instruksi operator 13. Pendarahan 2. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Pengobatan dengan Pemasangan kateter uretra (Dower catheter) apabila retensio urin Hormonal • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. HASIL • Kuratif Bebas tumor Dapat kencing normal/mendekati pola kencing normal Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.• • Radical Prostatectomy (atas indikasi khusus) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. retensio urin) 11. B dan RS. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. Striktura uretra 5. Disfungsi ereksi 4.

• Carter HB. March 2004.(3).Abbou CC. Diagnosis and Staging of Prostate Cancer. Heidenreich A. 2003. Depkes RI-IDI. Vol. European Association of Urology. Urological Guidelines. 174 . infeksi saluran kencing. 19. • Tumor residif/recurent dan metastase. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. 1998. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan. Heath Care Office. 8th .15. • IDI . infeksi dan pola kencing • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Cambell’s Urology. disfungsi ereksi Striktura uretra. Guidelines on Prostate Carcer. KEPUSTAKAAN • Aus G. Karsinoma Prostat. Partin AW . fungsi ginjal dan rectal toucher. Standar Pelayanan Medis.

SC> 2mg% tanpa kontras) 6. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. KONSULTASI • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 3. BUN/SC. • Radiologi BNO/BOF. Tekanan darah. NOMOR ICD 2. Nadi. TERAPI • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup 175 . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.VII. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. UL. TUMOR GINJAL NEPHROBLASTOMA (WILM’S TUMOR) 1. DIAGNOSIS : -C 64 : . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian atas satu sisi Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.

OTOPSI Tidak diperlukan 16.• • • • Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. 14. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 176 . TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. B dan RS.

8th . Hillsten S. Vol. Depkes RI-IDI. • Novick AC.Renal Tumor. 1998. European Association of Urology. Heath Care Office. KEPUSTAKAAN • IDI .N.M) dengan CT Scan 18. infeksi. Guidelines on Renal Cell Carcer. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Urological Guidelines.(3). • Mickisch G. et al . Tumor Ganas Ginjal (Wilm’s). 177 . Cambell SC .17. Cambell’s Urology. Standar Pelayanan Medis. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. March 2004. Carballido J. 2003.

Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Tekanan darah. USG abdomen CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.C 64 : . UL.VIII. DIAGNOSIS : . • Radiologi BNO/BOF. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. DIAGNOSIS BANDING • Hydronephrosis oleh berbagai sebab • Ginjal hipertropi 5. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi ginjal 178 . TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 1. Sedang Kurus) Lokal Asimetris pinggang/perut (apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Masa/tumor pinggang/nyeri perut bagian atas Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah Riwayat kencing darah/hematuria Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. BUN/SC.TUMOR GINJAL HYPERNEPHROMA (GRAWITZ’S TUMOR) 3. Nadi. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. NOMOR ICD 2.

PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 179 .• • • • Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical Nephrectomy Debalking tumor Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 9. PATOLOGI • Tumor ginjal 15. 14. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI Tidak diperlukan 16. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. B dan RS. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lainnya atas instruksi operator 13. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10.

March 2004. Carballido J. et al .N. Depkes RI-IDI. Tumor Ganas Ginjal (Grawitz). Cambell SC . 8th . Cambell’s Urology. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.M) dengan CT Scan 18. • Novick AC. Heath Care Office. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. European Association of Urology.Renal Tumor. Hillsten S. 180 . Vol. 1998. Guidelines on Renal Cell Carcer. 2003. Standar Pelayanan Medis.17. Urological Guidelines.(3). • Mickisch G. KEPUSTAKAAN • IDI . infeksi.

TUMOR KANDUNG KENCING(TRANSISIONAL CELL CARCINOMA) 1. DIAGNOSIS : . DIAGNOSIS BANDING • Hematuria oleh berbagai sebab • Blood clot retension oleh berbagai sebab 5. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. NOMOR ICD 2. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4.C 67 : . batu saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tampa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran kencing. UL. BUN/SC. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras.IX. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor 181 .TRANSISIONAL CELL CARCINOMA BULI-BULI 3. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF.

B dan RS. 14. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus.• • • • b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan proses miksi dan fungsi ginjal Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. PATOLOGI • Tumor buli-buli 15.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dan pola kencing dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. OTOPSI Tidak diperlukan 182 .

Heath Care Office.16. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Cambell’s Urology. Urological Guidelines. Marshall FF . • OosterlinckW. Vol. Tumor Ganas Buli. • Jiminez VK.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18. et al . 2003. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. 183 . infeksi. March 2004. Guidelines on Badder Carcer. Lobel B.N. KEPUSTAKAAN • IDI . Surgery of Bladder Cancer. Jakse G. 8th . European Association of Urology. 1998. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Depkes RI-IDI.(3). Standar Pelayanan Medis.

PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 184 . USG abdomen atas dan bawah Cystoscopy diagnostic dan biopsi CT Scan Abbomen (SC <2mg% dengan kontras. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Kencing darah/hematuria (terutama tanpa nyeri) Nyeri pinggang/nyeri perut bagian bawah (apabila ada obstruksi saluran kencing) Riwayat kencing darah/hematuria sebelumnya Riwayat gangguan fungsi usus/ileus Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan tumor saluran cerna dan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. DIAGNOSIS : . Urin sitologi (3 kali) • Radiologi BNO/BOF. Tekanan darah. Sedang Kurus) Lokal Asimetris perut bawah(apabila tumor cukup besar /penderita kurus) Teraba tumor solid (apabila tumor cukup besar/penderita kurus) Teraba tumor kistik(apabila retensio urin/penderita kurus) 4.X. TUMOR KANDUNG KENCING(ADENO-CARCINOMA) 1. SC> 2mg% tanpa kontras) 6. NOMOR ICD 2. BUN/SC.ADEO-CARCINOMA BULI-BULI 3. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.C 67 : . UL. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Masa solid abdomen bawah • Hematuria oleh berbagai sebab • Streng ileus dengan masa abomen bawah 5.

Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguang fungsi ginjal dan saluran cerna Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan TUR Buli-Buli Staging (Clinical Staging) TUR Buli-Buli (Debalking tumor) Cystectomy partial Cystectomy-Ileal Conduite/Bladder Augmented • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kalau tidak ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. B dan RS. PENYULIT • Pendarahan • Water intoxication dan perforasi (pada TUR Buli) • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Kambuh (residif) 11. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fungsi ginjal dalam batas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya.8. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PATOLOGI • Tumor buli-buli 185 . 14.

efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Vol. Tumor Ganas Buli. et al . European Association of Urology. Guidelines on Badder Carcer. Depkes RI-IDI. Surgery of Bladder Cancer. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan.M) dengan CT Scan • Cystoscopy 18.15. Heath Care Office. March 2004. KEPUSTAKAAN • IDI . infeksi. • Jiminez VK. Jakse G. 2003. OTOPSI Tidak diperlukan 16. Marshall FF . Standar Pelayanan Medis.N. 186 . 8th .(3). 1998. Urological Guidelines. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. Cambell’s Urology. Lobel B. • OosterlinckW.

DIAGNOSIS : . UL. USG abdomen atas dan bawah 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. Nadi. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. BUN/SC Biopsi luka/tumor pada penis • Radiologi BNO/BOF. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. NOMOR ICD 2. Thorax.EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA PENIS 3. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 187 .XI. Sedang Kurus) Lokal Luka kronis/tumor cowly flower pada penis Teraba tumor solid mobil/fixed inguinal Pimosis 4. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Luka kronis/tumor seperti bunga kol pada penis Pimosis pada orang dewasa/tua Pimosis dengan benjolan pada pelipatan paha Luka kronis dengan benjolan pada pelipatan paha Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan saluran kencing Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. TUMOR PENIS (EPIDERMOID/SQUAMOUS CELL CARCINOMA) 1. DIAGNOSIS BANDING • Veruca Vulgaris • Limfadenitis inguinalis • Limfadenitis veneralis (STD) 5.C 60 : . Tekanan darah.

MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node • RS Kelas A. PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase c) Mencegah gangguan fungsi kencing d) Mengusahakan mempertahan aktifitas sexual Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup • Pembedahan Sirkumsisi dengan biopsi sentinal node (kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri) Partiale penectomy dengan biopsi sentinal node Total penectomy dengan biopsi sentinal node Radical penectomy Deseksi kelenjar limfe inguinalis kanan dan atau kiri (atas indikasi khusus) • Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Radiotheraphy(atas pertimbangan khusus) • Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator dilakukan deseksi kelenjar limfe 188 .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotherapy Radiotherapy Kombinasi 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. PENYULIT • Pendarahan • Infeksi saluran kencing dan luka operasi • Stenosis miatus uretra eksternus • Odema ekstremitas inferior (apabila inguinalis/radiotherapy) • Ruptura vasa femoralis • Kambuh (residif) 11.8. B dan RS.

efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T.13. PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17. 1998. 14. Algaba F. Depkes RI-IDI. Vol. et al . • Solona E. Karsinoma Penis. European Association of Urology. Pettaway CA . March 2004. Guidelines on Penile Carcer. Heath Care Office. Horenblas S.N. HASIL • Kuratif Bebas tumor Pola kencing normal/mendekati normal Aktifitas sexual mendekati/tidak normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. Urological Guidelines. Tumor of Penile. KEPUSTAKAAN • IDI . 2003. 8th .M) dengan CT Scan 18. PATOLOGI • Tumor penis prabedah (biopsi) • Tumor penis pasca bedah (radikalitas pembedahan) • Kelenjar limfe inguinalis 15. OTOPSI Tidak diperlukan 16. • Lynch DF. Cambell’s Urology. 189 . infeksi.(3). Standar Pelayanan Medis.

USG abdomen atas dan bawah 6. DIAGNOSIS : . Tekanan darah. AFP(Alfa Feto Protein) • Radiologi BNO/BOF. BUN/SC Beta HCG(Human Chorionic Gonadotropin). PENGOBATAN • Tujuan Kuratif a) Menghilangkan tumor b) Mencegah metastase 190 . Nadi. NOMOR ICD 2.SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED TESTIS 3. TUMOR TESTIS (SEMINOMA/NON-SEMINOMA/MIXED) 1. Thorax. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (umur >40 tahun) • Dokter Spesialis Anastesi untuk toleransi pembiusan • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Orchitis • Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi • Torsiotestis 5.C 62 : . Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. UL. Sedang Kurus) Lokal Teraba tumor solid pada testis Teraba tumor solid pada abdominalis pada penderita cryptorchism Hydrocele dengan testis keras/tidak bisa diidentifikasi 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Testis mengeras/ada benjolan Cryptorchism dengan masa abdominalis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit tumor lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.XII.

• • • • c) Mencegah gangguan fertilitas Paliatif a) Memperbaiki kwalitas hidup Pembedahan Radical orchidectomy inguinal approach RPLND(Retro-Peritonial Lymp Node Desectie) (atas pertimbangan khusus) Khemotheraphy(atas pertimbangan khusus) Radiotheraphy(PA Seminoma) Kombinasi (atas pertimbangan khusus) 9. kateter uretra dan mobilisasi setelah 1-3 hari pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan drain retroperitoneal setelah 3 hari pascabedah dan produksi <10 cc • Lain-lain atas intruksi operator 13. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Tranfusi darah atas indikasi medis • Pelepasan infus. B RS. 14. PENYULIT • Pendarahan • Gangguan fertilitas • Disfungsi ereksi • Infeksi luka operasi • Odema ekstremitas imferior (apabila dilakukan RPLND) • Kambuh (residif) 11. HASIL • Kuratif Bebas tumor Fertilitas normal/mendekati normal • Paliatif Kwalitas hidup baik/memperbaiki kwalitas hidup/mempersiapkan pasien menerima penyakitnya. PATOLOGI • Tumor testis • Kelenjar limfe retroperitonial 191 .Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan Khemotheraphy Radiotheraphy Kombinasi 10. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas C (Standard Dokter Spesialis Bedah) untuk Radical orchidectomy inguinal approach • RS Kelas A.

PROGNOSIS • Tergantung stadium Clinical Staging Surgical Staging Pathological Staging 17.N.M) dengan CT Scan 18. KEPUSTAKAAN • IDI . 2003. Urological Guidelines. Tumor Ganas Testis. Standar Pelayanan Medis. Heath Care Office. • Laguna MP. Mc Kiernan J Bosl G J .15. • Sheinfeld J. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi pendarahan dan infeksi • Pascabedah poliklinis evaluasi pendarahan. 1998. European Association of Urology.(3). March 2004. 8th . et al . Klepp O. Cambell’s Urology. Depkes RI-IDI. Vol. Guidelines on Testicular Carcer. infeksi. 192 . OTOPSI Tidak diperlukan 16. efek samping khemoterapi/radioterapi • Kekambuhan (T. Horwich A. Surgery of Testicular Tumor.

Nadi. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis • Epididimitis kronis 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. INFERTILITAS PRIA (MALE INFERTILITY) 1. DIAGNOSIS : .XIII.VARICOCELE 3. Sedang Kurus) Lokal Kadang-kadang terlihat masa seperti cacing pada skrotum saat berdiri/tidur Teraba tumor kistik seperti cacing pada funikulus spermatikus Kadang-kadang testis bersangkutan lebih kecil dibanding testis yang normal 4.C 46 : . Analisa sperma (atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. NOMOR ICD 2. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Belum punya anak setelah kawin > 1 tahun Nyeri testis bersangkutan Ada bentukan seperti cacing pada skrotum bersangkutan Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. KONSULTASI • Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah untuk toleransi pembedahan (untuk umur >40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. Tekanan darah. Thorax. UL. PENGOBATAN • Tujuan Perbaikan fertilitas Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Kadang-kadang 193 . USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.

March 2004. • Sigman M Jarow JP . PROGNOSIS • Tergantung Gangguan kwantitas dan atau kwalitas sperma suami Azoospermia Gangguan fertilitas istri Kombinasi 17. KEPUSTAKAAN • Dahle GR. Cambell’s Urology.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.• a) Mengurangi/menghilangkan nyeri testis b) Mengecilkan/menghilangkan varicocele Pembedahan “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 9. Heath Care Office. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A.B. Vol. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. Jungwirth A. HASIL • Kwantitas dan kwalitas sperma membaik/normal • Istri bisa hamil 14. 194 . MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. Wiedner W. Standar Pelayanan Medis. 8th . PENYULIT • Infeksi luka operasi 11. 1998. Guidelines on Male Infertility. analisa sperma dan kehamilan pada istri 18. et al . Infertilitas. Urological Guidelines. • IDI .(3). TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. European Association of Urology. Male Infertility. 2003. Depkes RI-IDI.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : “Hight ligation” vena spermatica interna (Palumo’s technic) 10.

PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL. HYPOSPADIA 1. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. Thorax. DIAGNOSIS : . Nadi. Sedang Kurus) Lokal a) Penis Miatus uretra ekternus subgladuler/ventral penis/penoscrotal/perinal b) Testis Kadang-kadang disertai cryptorhism/kelainan bawaan lainnya 4. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah • Pascabedah 8. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. DIAGNOSIS BANDING • Micropenis • Ambiguitas 5.Q 54 : .XIV. PENGOBATAN • Tujuan Memperbaiki anatomi dan fungsi penis dan uretra Estetika/kosmetika penis Mencegah gangguan fertilitas pria 195 .HYPOSPADIA 3. Tekanan darah. NOMOR ICD 2. UL. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6. BUN/SC Tes “XY chromosom”(atas pertimbangan khusus) • Radiologi BNO/BOF. KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Air kencing tidak keluar dari ujung penis (seperti pada umumnya) sejak lahir Penis bengkok/sembunyi pada skrotum Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran.

estetika/kosmetika penis dan uretra • Fertilitas (Analisa sperma. PENYULIT • Fistel “Urethrocutan” • Nekrosis kulit penis/tube plap • Infeksi luka operasi 11. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Buka bebat hari ke-5 • Buka splint uretra dan klem kateter sistotomi hari ke-10-12 • Buka kateter sistostomi satu hari setelah buka kateter sistostomi/bisa kencing lancar • Lain-lain atas intruksi operator 13. adanya urethrocutan fistel • Anatomi. Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk Pembedahan 10. HASIL • Anatomi. fungsi.B dan RS.Kehamilan istri) 196 . PATOLOGI • Tidak diperlukan 15.• Pembedahan MAGPY Procedure Chodectomy-Urethroplasty (satu tahap) dengan/tanpa Nesbit Procedure Ducket’s Procedure (Prepotiale tube flap urethroplasty) 9. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. estetika/kosmetika penis dan uretra baik/normal • Fertilitas baik/normal 14. fungsi. PROGNOSIS • Tergantung Lokasi miatus uretra eksternus Berat-ringannya chordae Status gizi pasien Ada/tidaknya kelainan bawaan lainnya 17.

Standar Pelayanan Medis. Depkes RI-IDI. March 2004. Hypospadia. 2003. Urological Guidelines. Beurton D. 1998. Pediatric Urology : Hypospadias. Heath Care Office. Borer JG. Hypospadias. Cambell’s Urology. • Reidmiller H. Vol. KEPUSTAKAAN • IDI . European Association of Urology. • Retik AB. et al . Androulakakis P. 8th .18.(3). 197 .

NOMOR ICD 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.XV. HYDROCELE ANAK-ANAK (CONGINITAL) 1. Thorax. DIAGNOSIS BANDING • Hernia inguinalis lateralis 5. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.5 : . KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/membesar sejak lahir kadang-kadang bisa mengecil saat tiduran Skrotumnya ada air didalamnya sejak lahir Riwayat kehamilan/hyperemesis gravidarum/sakit-sakitan/jamu/kehamilan dikehendaki Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • tidak Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. Tekanan darah.P 83. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy inguinal approach 198 .CT • Radiologi BNO/BOF. DIAGNOSIS : . PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. Nadi. Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasi/diaphonoscopy positif pada skrotum Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4. KONSULTASI • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7.HYDROCELE CONGINITAL 3. BT. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk.

PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi 11.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10. 1998. KEPUSTAKAAN • IDI .9. INFORMED CONSENT • Diperlukan 12. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain atas intruksi operator 13. • Schneck FX. PATOLOGI • Tidak diperlukan 15.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Fertititas setelah dewasa/kawin 18. Cambell’s Urology. Hidrokel Testis. PROGNOSIS Baik 17. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14. Standar Pelayanan Medis. Bellinger MF. 2003. Depkes RI-IDI. 8th . 199 . OTOPSI • Tidak diperlukan 16.B. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi. Vol.(3).

KRITERIA DIAGNOSIS • Anamnesis Skrotum besar/mebesar setelah dewasa Skrotumnya ada air didalamnya setelah dewasa Riwayat infeksi/imflamasi/trauma daerah skrotum/testis Riwayat pengobatan/tindakan/pembedahan urogenitalis Riwayat keluarga/ayah-ibu/kakek-nenek/saudara dengan penyakit lainnya Status sosial-gizi keluarga/kebiasaan makan-minum/pekerjaan • Pemeriksaan fisis Umum Kesadaran. PENGOBATAN • Tujuan Mencegah gangguan fertilitas (gangguan kwantitas dan kwalitas sperma) Estetika/kosmetika • Pembedahan Hydrocelectomy/Marsupialisasi 200 . Sedang Kurus) Lokal Tumor kistik dengan trasiluminasidiaphonoscopy positif pada skrotum. DIAGNOSIS : . NOMOR ICD 2. kadang-kadang transiluminasi negatif apabila sudah terjadi inlamasi/infeksi pada hydrocele Kadang-kadang testis tidak dapat diraba 4.N 43 : . Tekanan darah. Nadi. PERAWATAN RUMAH SAKIT • Prabedah (atas pertimbangan khusus) • Pascabedah (atas pertimbangan khusus) • Day care surgery 8. Tempratur aksila dan status gisi (Gemuk. DIAGNOSIS BANDING • Tumor testis 5. UL. USG abdomen atas dan bawah (atas indikasi medis lainnya) 6.HYDROCELE AQUARED 3. KONSULTASI • Dokter Spesialis Kardiologi (untuk umur > 40 tahun) • Dokter Spesialis terkait atas indikasi medis 7. HYDROCELE DEWASA (AQUARED) 1. BUN/SC • Radiologi BNO/BOF. Thorax.XVI. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium DL.

201 . INFORMED CONSENT • Diperlukan 12.C (Standard Dokter Spesialis Bedah/Urologi) dan RS.(3). 8th . Hydrokel Testis. Abnormalities of The Testis and Scrotal and Their Surgical Management. HASIL • Mencegah gangguan fertilitas • Estetika/kosmetika genetalia ekternus baik 14.Sanglah (Standard Dokter Spesialis Urologi) untuk : Pembedahan 10.B. Depkes RI-IDI. 1998. PENYULIT • Hematoma • Infeksi luka operasi • Kambuh(residif) 11. OTOPSI • Tidak diperlukan 16. • Schneck FX. estetika/kosmetika genetalia ekternus • Melihat kekambuhan 18. KEPUSTAKAAN • IDI . Vol. TINDAK LANJUT • Pascabedah di RS evaluasi infeksi luka operasi.9. 2003. MASA PEMULIHAN • Makan dan minum setelah sadar kecuali ada intruksi/catatan khusus • Pelepasan infus dan mobilisasi setelah stabil pascabedah kecuali ada intruksi/catatan khusus • Lain-lain dengan intruksi khusus 13. PATOLOGI • Tidak diperlukan • Diperlukan (atas pertimbangan khusus) 15. PROGNOSIS Baik 17. Bellinger MF. TEMPAT PELAYANAN • RS Kelas A. Cambell’s Urology. Standar Pelayanan Medis.

4. dengan stadium lanjut bisa lebih imformatif seperti .1. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. iv. Tumor Mediastinum. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. sembab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. (Bila ada indikasi) Brain CT. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. Pemeriksaan Penunjang : a. Diagnosis Banding : a. TBLNB. atelektasis. untuk metastasis ke tulang. pembesaran hepar.FH. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. benjolan di pangkal leher. sakit dada. Torakoskopi. dll. suara serak. invasi tumor kedinding dada. Pemeriksaan Laboratorium. bila tumornya besar. Diagnosis : Kanker Paru 3. b. penekanan bronkus. Pemeriksaan Lain i. b. 5. vi. RFT. Fungus Ball. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. sesak nafas.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. Kriteria Diagnosis : a. batuk darah. sulit/sakit menelan. efusi pleura. washing lavage. lymphangitis spreeding. trombosis vena. nafsu makan hilang demam hilang timbul. AGD. b. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary. c.9 2. atelectasis. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. identasi pleura. efusi fleura. ICD : C 34. tumor satelit. iii. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. dll. d. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. DL. adanya fraktur patologi. e. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. EKG 202 .faal paru. core biopsi. f. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. pembesaran KGB mediastinum. neuropati. menyisihkan kelainan lain. pembesaran KGB supraclavicula. dll. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. Sitologi Sputum ii. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala. CT . Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. LFT. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. USG abdomen. penekanan vena kava superior.

8. ICU/ICCU iii. Hormonoterapi f. Kemoterapi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru.6. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Imiunoterapi e. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. Terapi Gen g. treparasi oleh SOL. Fleural efusi e. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x. Hemoptisis d. Supportif therapy sama 9. 5 hari per minggu c. Respiratory failure 11. Pembedahan Indikasi pembedahan i. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. Tempat pelayanan : a. RS tipe A i. Penyulit : a. d. Obstuksi jalan nafas c. Inform Concern : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. :: Free & Post Op : Operasi 203 . Kompresi esopagus f. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. OK 10. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). b. ii. RS tipe B Plus b. hemoptisis. Konsultasi : a. Dokter Spesialis Anasthesi d. Atelektasis b. Upper Airway obstruction. Lab Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. Ruang perawat ii. Dokter Spesialis Paru b.

Autopsi 18. Patologi 17. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) 13. Masa Pemulihan 15. 204 . Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR Stage II Stage III Stage IV 57 – 67 % 22 – 34 % 3 – 21 % 1 %. Hasil 16. Dokter Spesialis Paru b.12. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Tenaga Standar : a. Lama Perawatan 14.

menyisihkan kelainan lain. iv. 4. Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat sangat tergantung pada kelainan/stadium penyakit. RFT. Fungus Ball. Bila kasusnya rumit dan sebagai pilihan terakhir bila diagnosis PA tidak dapat ditegakkan (bila alat tersedia) v. benjolan di pangkal leher. dll. tanda-tanda keganasan tergambar lebih baik. penekanan bronkus. DL. trombosis vena. Kriteria Diagnosis : a. CT . invasi tumor kedinding dada. FNAB/eksisional biopsi KGB supraclapicula bila membesar.Scan Toraks Dapat mendeteksi tumor < 1 Cm. c. USG abdomen. AGD. core biopsi. b. Diagnosis : Kanker Paru 3. f. Anamnesis Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan atau tanpa dahak. atelektasis. untuk metastasis ke otak atau tulang kepala.faal paru. identasi pleura. dll. Bronkoskopi Tujuannya untuk diagnostik dan biopsi (brushing. sulit/sakit menelan. lymphangitis spreeding. untuk metastasis ke tulang. Tumor metastase (Kanker Paru Sekundair) 5. e. washing lavage. Biopsi Daniels bila tak jelas pembesaran KGB supraclavicula dan cara lain tidak informatif. pembesaran hepar. sembab muka dan leher. ICD : C 34. (Bila ada indikasi) Brain CT. efusi Pleura. sesak nafas. suara serak. kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. Pemeriksaan Penunjang : a. Foto Toraks PA/Lateral Dapat dilihat bila massa tumor > 1 Cm. Mediastinoskopi atau Biopsi Paru terbuka. TBLNB. Sitologi Sputum ii. tumor satelit. sindroma paraneoplastik seperti hypertrophic pulmonary.FH. Bila tumornya besar. Pemeriksaan Lain i. Tidak jarang gejala dan keluhan tidak khas seperti berat badan menurun. adanya fraktur patologi. (Bila ada indikasi) Bone Scan atau survey. Torakoskopi. b. pembesaran Kelenjar Getah Bening (KGB) supraclavicula. sakit dada. untuk mengetahui metastase di hepar dan tempat atau organ lain. Kelainan-kelainan atau penyakit paru lainnya seperti TBC paru. c. efusi pleura.9 2. pembesaran KGB mediastinum. tanda yang mendukung keganasan adalah tepi iregular. 205 . LFT. nafsu makan hilang demam hilang timbul. Tumor Mediastinum. iii. d. Bila keganasan stadium awal dapat tidak bergejala sampai gejala batuk ringan. Biopsi (TTB = Trans Torakal Biopsi) Bantuan/tuntunan CT scan toraks/USG punksi dan biopsi pleural jika ada cairan pleura. penekanan vena kava superior.1. dll. batuk darah. dengan stadium lanjut tanda-tanda bisa lebih informatif seperti . atelectasis. b. neuropati. Pemeriksaan Laboratorium. efusi pleura dan metastasis intra pulmonary. Diagnosis Banding : a.

5 hari per minggu atau bekerja sama dengan spesialis Radiotherapi. mediostinoskopi. Dokter Spesialis Paru b. perdarahan/ulcus akibat infiltrasi kedinding dada. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) stadium I dan II sedangkan untuk stadium III didahului dengan Neoadjuvan kemoradioterapi. ICCU : Post Op iii. Upper Airway obstruction. Terapi Gen g. Ruang perawatan : Pre operative ii. Bag. 8. trepanasi oleh karena SOL dengan deteorasi neurology. Hormonterapi f. hemoptisis. RS tipe A i. iii. Radioterapi Bisa bersifat kuratif atau paliatif dosis 5000 – 6000 cby dengan cara 200 cby/x.vi. c. Terapi : Pengobatan kanker paru adalah multi modalitas terapi yaitu : a. b. Faal/Pulmologi untuk tes faal paru 7. OK : Operasi 206 . Tempat pelayanan : a. diberikan berbagai regimen standar dengan basis cysplatin. Pembedahan Indikasi pembedahan i. Konsultasi / bekerja sama dengan : a. Dokter Spesialis Anasthesi d. Biopsi kelenjar lymphe supraclavicula atas biopsi paru terbuka (thoracotomy). thoracoscopy (VATs). Ada kegawatan seperti : Vena Cava Susperir Sindrom. RS tipe B Plus b. ii. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik c. Karnovsky index rendah (<50%). pada stadium IV untuk tujuan paliatif seperti fixasi fraktur patologys. • Untuk tindakan pembedahan pengangkatan tumor. Perawatan RS : • Perlu dirawat untuk tindakan tertentu seperti pemasangan chest tube dan WSD atau kalau kondisi jelek (advanced dengan respiratory distress). Kemoterapi bekerja sama dengan pulmonologi Dapat diberikan pada semua jenis kanker paru. EKG 6. d. Supportif therapy 9. Dokter Spesialis Jantung bila ada kelainan e. Immunoterapi e.

Obstuksi jalan nafas c. Jr . London. Masa Pemulihan 15. Prognosa : 7 – 14 hari : 7 – 14 hari : Tergantung stadium : Perlu : : Stage I 5 SYR 57 – 67 % Stage II Stage III Stage IV 22 – 34 % 3 – 21 % 1% Kepustakaan : 1. Respiratory failure g. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Binsburg R. Atelektasis b. 1996 : 421 – 444.10. Hasil 16. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Rehab Medik 13. Informed Consent : Perlu bila dilakukan operasi dan tindakan invasif serta pemberian Chemotherapy. Hal : 124 – 146 3. Penyulit : a. Martin N. P : Preoperative and Postoperative Therapy for NS CLC in ………………… Hal : 147 -146 4. 207 . Pleural efusi e. Penurunan kesadaran i. Doyle LA Aisner J : Clinical Presentation of Lung Cancer in Thoracic Oncology II ed. Burt. Water PF : Surgery for Non Small Cell Lung Cancer in ………………….al. 12. Lama Perawatan 14. Autopsi 18. Weisenburger. WB Saunders Company. Bonomi.J Goldber. Weisen Burger TH : Definitive Radiotherapy and Combined Modality Therapy for In operable NSCLC : In …………………Hal 164 – 180 5. 1995. Ginsberg RJ : Surgical Treatment Of Lung Carcinoma. Ruck deschel. 2. Dokter Spesialis Anesthesi e. in Glenn’s Thoracic and Cardiovascular Surgery sixth ed. Prentice Hall International. Hemoptisis d. Kompresi esopagus f. Phyladelphia. by Arthur E Bauc et. Dokter Spesialis Paru b. M. By Roth. Fraktur patologis h. Dokter Spesialis Radiologi (Radioterapi) d. 26 – 48. Gangguan hepar 11. Patologi 17. Wagner H.

Buerger Disease. Incisi Drainage iii. e. DL. Wound toilet.5 2. Laboratorium . 4. Ulkus Varikosum. mutilasi. Amputasi (digiti –TMA – BKA & AKA) iv. d. b. Non Bedah i. Perawatan RS : a. iv. Pemeriksaan integritas vaskuler Terdapat claudicasio intermitten dan restpain. 8. Rontgen foto : Melihat adanya Osteomyelitis dan soft tissue swelling + gas subcutan f. iii.1. b. Revaskularisasi arteri tungkai (bypass) b. Kriteria Diagnosis : Ulkus/Gangren DM adalah kematian jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (nekrosis iskemia) akibat penyakit arteri prifir oklusi (micro dan macroangiopaty) yang menyertai penderita DM. PAPO (penyakit arteri perifer oklusive) 5. ABI < 0. c. Konsultasi : a. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan endokrin. Diagnosis : Ulkus/Gangren Diabetikum 3. Pemeriksaan adanya neuropati : (Bila ada) Dengan Semmes Weinstein Monofilament Wire/Biothessiometer c. DM menurut WHO GD Acak > 200 mg/dl GD Puasa > 140 mg/dl b. Ulkus Tropikum. Terapi : a. UL.Toe Pressure. d. c. LFT. Diagnosis Banding : a. Pemeriksaan Penunjang : a. Diet & exercise. Ulkus/Gangren ini dapat diikuti invasi bakteri sehingga terjadi infeksi. Derajat dan luas infeksi memakai klasifikasi Wagner. Dokter Spesialis terkait dengan komplikasi DM 7. FH. ii. Antibiotika sesuai dengan kultur. BUN / SC 6. necrotomy ii. Perlu untuk tindakan debridement dan pembedahan lain serta pemberian insulin regulasi cepat. tekanan darah kedua tungkai. 208 . Pemeriksaan kultur / sensitivitas kuman. ICD : E 14. Repair deformitas kaki v. Pembedahan i. Debridement. Dokter Spesialis Anesthesi. Pengendalian gula darah.8 (ankle brachial index).

OK untuk tindakan operasi. Lama Perawatan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus/infeksi (Wagner Classification) semakin besar semakin lama perawatannya. Prentice Hall International.Tindakan pembedahan dapat mempercepat masa perawatan. 14.. c. 16. Kelainan organ lain akibat angiopaty diffuse + neuropaty diffuse. Marcaccio. ICU bila ada komplikasi. 1995 : 167 – 180. Klein SR : Diabetes and Peripheral vase dissore in Vascular Sergery dst …….9. Dokter Spesialis Anasthesi 13. 17. Tempat pelayanan RS Type A. Osteomielitis b. Tenaga Standar : a. b. Mengancam jiwa jika terjadi gas gangren dan sepsis. Sepsis prognosenya jelek. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Konsultan endokrin d. Sembuh dengan cacat tetap akibat amputasi. Habershaw : Management of the Diabetic Foot. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. Reamputasi > 20% c.B dan RS yang ada ICU : a. Informed Consent : Perlu lebih-lebih bila dilakukan amputasi. Hasil : a. Resiko amputasi 85% bila ada infeksi serius. Wright J. 11. London. c. Patologi : Tidak perlu. Wagner III ke atas. 10. Dokter Spesialis Bedah Umum untuk debridemen. Mueller MP. Sembuh tanpa cacat b. 18. Prognosa : a. Sepsis d. 12. 15. Masa Pemulihan : Tergantung derajat dan luasnya ulkus serta jenis tindakan. Ruang perawat biasa. berbagai manifestasi klinis akibat DM. Gibbons. b. Gas gangren c. in Vascular Surgery theory and practice ed by Allan D Callow. 2. Penyulit : a. Kepustakaan : 1. b. Hal 514 – 522 209 . Autopsi : Tidak perlu.

penurunan suara nafas sisi sakit. pH < 7. batuk. UL. Rasio dengan protein plasma > 0. Konsultasi : a. Pemeriksaan Fisik Takipnea. Dapat terjadi sebagai akibat komplikasi pneumonie (parapneumonic empyema) tindakan pembedahan. Perlu bila akan dilakukan pemasangan Chest tube dan WSD dan dekortikasi.9 2. temperatur tubuh meningkat. Protein > 3 g/dl iii. 86. pergerakan dada terbatas. 4. LDH > 200IU vi. Rasio dg LDH plasma > 0. Foto polos toraks AP/lateral b. Tes Rivalta (+ ) ii. d.6 vii. Pemeriksaan Penunjang : a. Abses paru d. cultur dan sensitivitas test. Pleural effusi c. DL. b. Glukosa < 40 mg/dl e. b. Gejala Klinis Nyeri dada. Leukosit > 50% linfosit > 15 000 sel/mm3 viii. Laboratorium pemeriksaan cairan pleura. Diagnosis : Empiema Toraks. panas. Dokter Spesialis Paru b. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru c. Malignant pleural effusion 5. Perawatan RS : a. BUN / SC 6. ICD : J.5 iv. Diagnosis Banding : a. Pnemonia b. CT Scan toraks c. Pemeriksaan Bakteriologi Menunjukan hasil (+ ) kuman pada cairan pleura. Dengan pemeriksaan cairan pleura menunjukan eksudat yaitu : i. USG d. trauma dll.kadangkadang sputum purulent bila ada fistel bronchopleura. Dokter Spesialis Anesthesi 7. berat badan menurun.perkusi dullness. sesak nafas. Multiple thoracosintesis dan pemberian AB intra vena 210 . FH.3 ix. Berat jenis >1016 v. c. LFT. Chilo thorax e. Anamnesis Empiema Toraks atau Pyothorax adalah pengumpulan nanah atau pus didalam rongga pleura.empiema necessitans (erosi dinding dada akibat abses dinding toraks). malaize.1. Torakosentesis e. 3. Kriteria Diagnosis : a.

Empiema necessitan c. Hasil : Sembuh bila diterapi cepat dan tepat. Tenaga Standar : a. Penyulit : a. Obliterasi rongga empiema c. Dokter Spesialis Paru d. Ruang rawat biasa b. Deformitas diding dada dan scoliosis 11. Fourth ed Vol 1 William & Wilkins. Mengeluarkan nanah b. Light RW : The Physiology of Pleural Fluid Production and Benign Peural effusion in General Thoracic Surgery ed by W Shields T. Lama Perawatan : 7 – 14 hari 14. 674 – 683 2.. Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Pemberian antibiotika untuk eradikasi kuman sesuai dengan kultur sesitivitas. OK pemasangan Chest Tube dan tindakan. 18. Baltimore. Autopsi : Tidak perlu. Shields. 16. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c.8. Informed Consen t : Perlu 12.693 211 . 1994. Dokter Anesthesi 13. Tempat pelayanan : a. 9. Kepustakaan : 1. 17. Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15.W.hal 684 . Broncopleural fistel b. Patologi : Tidak perlu. Sepsis e. TW : Para Pneumonic empyema in ……………. Terapi : Dasar terapi empiema toraks adalah a. Fibrotoraks d. 10. Prognosa : Tergantung fase penyakitnya saat ditemukan pertama kali.

Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui tumor primer. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura. 8. b. biopsi transtorakal. Diagnosis Banding : a. 6. Bronkoskopi. Terapi : Efusi pleural maligna mempunyai 2 aspek penting dalam penatalaksanaannya yaitu : a. 90 2. Dokter Anasthesi untuk operasi 7. Apabila tumor primer ditemukan diluar paru. fremitus suara melemah. USG toraks dan torakotomi explorasi perlu dilakukan untuk menegakan diagnosis. batuk. Tumor solid intra pleura 5. Gejala Klinis Sesak nafas. Pengobatan kausal disesuaikan dengan tumor primernya. Efusi pleura karena sebab lain d. maka efusi pleural maligna termasuk stage IV.1. Kemungkinan ditemukan keganasan organ lain di luar paru. gejala ini sangat tergantung dari jumlah cairan dalam rongga pleura. Bila tumor primernya berasal dari tumor paru. e. efusi ini termasuk gejala sistemik metastatik tumor tersebut dan pengobatan disesuaikan dengan tumor primernya. maka efusi pleura maligna itu di anggap berasal dari paru. Konsultasi : a. c. Pemeriksaan Penunjang : a. Dokter Spesilis terkait dengan tumor primernya c.dada terasa penuh. pemasangan chest tube. b. ICD : J. Berupa punksi. Sitologi cairan pleura/biopsi pleura : dengan hasil positif sel ganas. Anamnesis Adanya cairan kemerahan/darah atau serosanguinus didalam cavum pleura secara berlebihan > 50 ml dengan didapatkannya sel ganas didalam cairan pleura atau biopsi pleura. Abses paru c. f. c. Pemeriksaan Fisik Gerakan diapragma berkurang . Sebaiknya dilakukan setelah cairan dikeluarkan maksimal. CT Scan toraks . 212 . d. perkusi redup dan suara nafas melemah pada sisi toraks yang sakit. pleuro abdominal shunting. Namun bila tumor primer diluar paru tidak ditemukan. Kriteria Diagnosis : a. dengan hasil eksudat. Dokter Spesialis Paru b. Empiema toraks b. nyeri dada. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru d. Pengobatan lokal. pleurodesis. Pengobatan kausal. b.deviasi trakea dan atau jantung kearah kontra lateral. Foto polos toraks PA/lateral. Diagnosis : Pleural Efusi Maligna 3. Perawatan RS : Perlu dirawat untuk tujuan terapi dan mencari sumber keganasan. 4.

VW : Pleural Effusion : Benign and malignant in Thoracic Surgery ed by F Griffith Pearson. Rusch. New York. Lama Perawatan : 3 – 7 hari 14. Prognosa : a. Bila berasal dari paru maka dianggap kanker paru stadium III keatas Kepustakaan : 1. b. 1995. Efusi berulang. Churchill Living Stone. Dokter Spesialis Paru d. Masa Pemulihan : 3 – 7 hari 15.1016 213 . SA : Malignant pleural effusion in General Thoracic hal 757 – 797 2.9. Penyulit : a. Empiema toraks. Respiratory distres 11. Ruang perawatan (normal). Tempat pelayanan : a. Dokter Spesialis anesthesi 13. 1003 . Dokter Spesialis Bedah Umum (drainage) b. Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru e. Autopsi : Perlu bila diagnosa tidak jelas. Sahn. Patologi : Perlu. OK : pemasangan chest tube dan WSD 10. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. 17. Hasil : tergantung respon terapi dari tumor primernya 16. b. b. Tenaga Standar : a. Tergantung respon terapi dari tumor primernya. c. 18. Informed Consent : Perlu 12.

5. 4. kemoradioterapi merupakan pilihan pertama. bila kecurigaan dari tulang. Dokter Spesialis Penyakit Dalam / Konsultan Hematology / Onkology Medik c. b. bila tumor < 4 cm langsung di Excisi dan Frozen Section. Yang paling sering menimbulkan tumor metastatik kedinding dada adalah urogenital. adanya massa di dinding dada disertai dengan reffered pain atau nyeri lokal. Tumor jinak : reseksi dan bila perlu rekonstruksi. 214 .1. b. Test fungsi paru g. Defornitas dinding dada oleh kelainan congenital. Bunce Jones protein. ICD : C. bila > 4 cm dilakukan FNAB/Incisional Biopsi. Foto polos toraks (PA/lateral). Biopsi (PA). Terapi : a. c. fixed dengan dasar ikut pergerakan respirasi. Diagnosis : Tumor Dinding Dada. Untuk kasus-kasus unresectable dipertimbangkan pemberian radioterapi. e. j. tulang. CT Scan toraks c. Tumor primer sebagian kecil jinak. Defornitas dinding dada oleh inflamsi. Lab lengkap i. Kriteria Diagnosis : Tumor yang muncul di dinding dada. OK : bila perlu operasi. colon. 8. 3. ICU post operasi. syaraf. Dokter Spesilis Anasthesi 7. f. tulang rawan. c. b. batas tak jelas. 9. 76. ada riwayat trauma ringan dengan fraktur fatologis. b. Selektif angiografi bila tumor dekat/berada di axila. Analisa gas darah h. mamma. Tumor bisa primer dan metastatik. Bone Scaning. tiroid. Pemeriksaan Penunjang : a. bila ada residual tumor dilakukan reseksi. Pembedahan (Reseksi diding dada dan rekonstuksi) merupakan first line treatment dikombinasikan dengan kemoradioterapi (bila ada tumor ganas berasal dari tulang). Keluhan dan gejala : Sering tanpa keluhan (asimptomatik). Rhabdomiosarkoma dan Ewing sarcoma. d. Tempat pelayanan : a. Konsultasi : a. Massa : Berbentuk. Perawatan RS : Perlu untuk persiapan pembedahan. Dokter Spesialis Paru b. Ruangan biasa. Diagnosis Banding : a.1 2. soft tissue lainnya. MRI d. Bone merrow aspirasi k. dapat berasal dari beberapa elemen-elemen histologis dari dinding toraks yaitu otot. gambaran dan globulin 6.

Masa Pemulihan : 7 – 14 hari 15. c.. Tenaga Standar : a. Dokter Spesialis Paru (bila invasi ke paru) c. Idem : Chest Wall Reconstruktion : In General Thoracic Surgery ….hal 589 – 597. Sixth ed Vol II ed by Athur E Baue Prentice-Hall International Inc. Dokter Spesialis Anasthesi (untuk perawatan post operasi) 13. Autopsi : Tidak perlu dengan excisi luas. 18. Penyulit : a. Hasil : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren 16. 1996 : 593 608 215 . durante operasi dapat dikerjakan FS. Invasi keorgan-organ intra toraks. 3.hal 579 – 588. London. 11. Rekonstruksi dinding dada dan keterbtasan respirasi. 2.14 hari 14. Dokter Spesialis Jantung (bila invasi kejantung & pembuluh darah) d. Pailorelo PC : Chest Wall Tumors : In General Thoracic Surgery …. 12. Prognosa : Lesi terbatas & jinak sembuh total Lesi luas & ganas sering recuren Kepustakaan : 1. b.. Depormitas dengan kecacatan. 17. Lama Perawatan : 7 . Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler b. MC Carmack PM : Chest Wall Tumors in Glemis Thoracic and Cardio Vascular Sergery . Patologi : Perlu.10. Informed Consent : Tertulis bila dilakukan operasi.

Sclerotherapy. Non Bedah i. Babcock extractie/stab avulsi. Doppler USG. b. Kriteria Diagnosis : Pelebaran abnormal. 7. hisperidine diosmin. Stadium II Venaectasis Stadium III Gejala & tanda varises tampak jelas. Informed Consent : Perlu bila operasi. 216 . 3. Diagnosis : Varices Tungkai. Ruang rawat biasa. c. iii. Airplathysmography. 8. thrombophlebitis. Perdarahan c. Compression therapy. Symptomatis pasta lasar. iii. Aneurysma vena 11. Konsultasi : Dokter Spesilis Anasthesi untuk operasi. cepat lelah. 10. iv. DVT d. Tempat pelayanan : a. Terapi : a. sakuler atau silindris vena-vena superfisial menyeluruh atau segmental termasuk teleangiektasis pada tungkai. Medikamentosa flavunoid. Gejala dan tanda tergantung stadium Stadium I pegel. b.9 2. b. Diagnosis Banding :- 5. Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi dan untuk operasi. Stadium IV Ulkus varikosum. High Ligasi ii. Bedah i. Ligasi dan stripping. d. Penyulit : a. Excisi ulcus + skingraft 9. Pemeriksaan Penunjang : (bila ada alat) a. ICD : 183. OK untuk tindakan operasi. ii. Bi pedal phlebografi 6.1. Ulkus yang tak sembuh-sembuh. Duplex Scan. berat. iv. b. chronic venous insuffi ciency (CVI) 4.

217 . New York. in Vascular Surgery Principles and pratice. Autopsi : Tidak perlu. New York. Hasil : Sembuh 16. Lama Perawatan : 2 – 3 hari 14. second ed by Frank J Veith. Mc Graw – Hill Inc. White. William RA : Vasicose Vein. Prognosa : a. b. Masa Pemulihan : 4 – 5 hari 15. second ed by Frank J Veith. 17. Kepustakaan : 1. 1994 : 841 – 851 2. 1994 : 865 – 888. Baik bila belum ada komplikasi. b. Tenaga Standar a. 18. c. Patologi : Tidak Perlu. Mc Graw – Hill Inc. Nordestgaard AG. : Dokter Spesialis Bedah Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler Dokter Spesialis Bedah Vaskuler 13. GH : Chronic Venous Insufficiency : in Vascular Surgery Principles and pratice.12. Bisa berulang bila masih ada pengisian vena yang inkompeten.

Embolisasi / Scleroterapi d. Radiasi Tempat pelayanan : a. d. Fase Proliferasi (sejak lahir – 12 bulan) Kulit pucat. Dokter Spesialis Radioterapi bila perlu Raditherapy. b. Konsistensi padat. meluas dan lebih merah seperti buah strowberry saat menangis. 6. Lesi dibawah kulit lymphangiomacystika. CT dengan contras b. kosistensi lebih compressable. Dokter Spesialis Bedah Plastik bila perlu Rekonstruksi. Arteriografi d. Katiko steroid ii. MRI c. Histo Patologis Atas indikasi kuat. tumor atau kombinasi. 218 . Fase involusi (sampai dengan umur 7 – 12 th) Menipis secara sentrifugal mulai dari sentral. biasanya dengan klinis saja sudah cukup. Ruang radiologi untuk radiotherapy 9. KGB (kelenjar getah bening). Perawatan RS : Perlu bila ada komplikasi (life threatening) dan pembedahan 8. seperti spon. makula/papula merah. b. Interferon c. 4. 18.0 2. Laser surgery ii. Diagnosis Banding : a. ICD : D. 7. Dokter Spesialis Anasthesi bila akan dioperasi. c. Pemeriksaan Penunjang : a. Kriteria Diagnosis : a. OK bila perlu operasi / tindakan bedah c. Ruang rawat biasa b. dikerjakan pada fase involusi untuk mengurangi resiko perdarahan dan kerusakan struktur vital. Terapi : Biasanya sebagian besar regresi spontan pada usia 5 – 8 tahun. teleangiektasis. b. a. 3. lembek. 5. b./merah tua dengan halo. Konsultasi /team : a. Bentuk kubah plaque. Dokter Spesilis Anak bila ada ganguan hemostasis koagulapati. Cryo surgery iii.1. Diagnosis : Hemangioma. Excisi . Kelainan Vena seperti kista. AVM c. Medikamentosa i. Pembedahan i.

Feinberg RL : Vascular Anomalies & Acquired Akteriovenons Fistulas . 11. 15. visus. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardivaskuler c. infeksi. Facial distrorsi b. mendengar dsb. c. 14. b. 13. Dokter Spesialis Bedah Vaskuler d. Dean et al. Ed by : Richard H. 1995. Prentice –Hall International Inc London. Mengganggu fungsi menelan. CHF dan trombositopenia e. Kepustakaan : 1. Angka rekurensi masih tinggi setelah pembedahan. Regresi spontan sebelum umur 12 tahun. Penyulit : a. Mengalami keganasan Informed Consent : Perlu bila ada tindakan. Patologi : Perlu.324 219 . 18. Tenaga Standar : a. 309 . 16. in Current Diagnosis & Treatment in Vascular Surgery. 12. HH. Dokter Spesialis Bedah Umum ( excisi ) b. Autopsi : Tidak perlu.10. Ist ed. Dokter Spesialis Anasthesi Lama Perawatan : 2 – 7 hari Masa Pemulihan : 2 – 7 hari Hasil : Mudah timbul residif bila excisi tidak komplit. ulkus. Tront III. Perdarahan. pernafasan. 17. Prognosa : a. d.

Skunder : Akibat penyakit paru yang mendasari serta kelainan diluar paru iii. Diagnosis pasti dengan foto toraks AP adanya paru kolap dan bayangan udara (radiolusen) pada rongga dada.1. 93. Bila Recurrent (≥ 3 kali berulang)→ thoracotomy repair fistule iv. ii. sesak nafas dan batuk dari ringan sampai berat. Bila persisten (menetap ≥ 4 hari)→ thoracotomy repair fistule iii. 5. 3. Keluhan dan tanda-tanda Terjadi mendadak berupa nyeri dada. Tension pneumothorax c. Non Bedah . Ruang dengan observasi fungsi respirasi pra bedah b. Foto thoraks tidak dibenarkan pada tension pneumothorax. d. 4. berkeringat. Konsultasi / team : a. b. 9 Diagnosis : Pneumothorax spontan. i. i. hipersonor. Observasi ii. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu tindakan operasi. Open thoracostomy dengan WSD ii. Dokter Spesilis Paru b. Diagnosis Banding Pemeriksaan Penunjang : Emphysema bulosa paru. 10. ICU/RTI c. 8. Anannesis Adanya udara bebas dalam rongga pleura yang bukan disebabkan oleh faktor trauma. 9. Kriteria Diagnosis : a. 6. Closed thoracostomy (WSD) b. 2. hipotensi dan pucat bila tension pneumothorax. ICD : J. Neonatal c. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat Paru c. 11. tanpa adanya Penyakit paru yang mendasari.Tahikardi. Perawatan RS : Perlu bila akan diambil tindakan. Empyema thoraks Informed Consent : Perlu bila diambil tindakan 7. CT Scan Toraks. OK (bila dilakukan tindakan bedah) Penyulit : a. 220 . Primer : Ruptur subpleura bleb. Terapi : a.Tanda lain penurunan suara nafas. : Foto polos toraks. Faktor penyebab i. Bronkopleural Fistel b. Bila ada alat VATS maka dikerjakan VATS Tempat Pelayanan : a. Needle aspiration iii. Bedah .

16. 662 . Tenaga Standar : a. Kepustakaan : 1. 17. ed by F Griffith Pearson. G : Spontaneous Pneumothorax and Pneumoneediastinum in Thoracic Surgery. Paape K : Pneumothorax in General Thoracic Surgery Fourth ed Vol 1 ed by Thomas W Shields. Beauchamp. 13. Dokter Spesialis Anak Konsultan / minat paru e. Dokter Spesialis Bedah Umum pemesangan Chest Tube b. Dokter Spesialis Paru d. 1037 – 1054 2. Churchill Livingstone. Dokter Spesialis Anasthesi bila perlu thoracotomy Lama Perawatan Masa Pemulihan Hasil Patologi Autopsi Prognosis : 2 – 7 hari : 2 – 7 hari : sembuh bila tidak ada penyakit paru yang mendasari : Perlu bila perlu operasi thoracotomy : Perlu bila meninggal tak wajar : Baik Ada resiko berulang pada penderita yang mengalami pneumothoraks secunder.673 221 . 14. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. 1994. Fry WA.12. New York 1995. Williams & Wilkins Baltimore. 15. 18.

Ekokardiografi : melihat cairan intra pericardium dan kelainan jantung. Infeksi terutama TBC/imflamasi lain vi. Diagnosis : Efusi Perikardium 3. Konsultasi : a. COPD.1. Bila gagal. c. Definisi : Akumulasi abnormal cairan di rongga perikardium. Kriteria Diagnosis : a. ST elevasi difus. Water bottle ii. a. area pekak jantung melebar pada tamponade maka Trias Beck’s lebih jelas yaitu suara jantung menjauh. Neoplasma iii. 5. Terapi : • Terapi Bedah . 3 2. bila belum tamponade perawatan konservatip diruang biasa (observasi) 8. Foto Toraks : i. Dokter Spesialis Anasthesi c. d. ICD : I 31. b. Lab : DL. Ekokardiografi : Echo free space dan dapat dihitung jumlah cairan. pulsus paradoxus. Post infark miokard (Dressler’s syndrome) iv. Kateterisasi jantung : perlu pada kelainan jantung. Sitologi / Histopatologi 6. a. Penyebab : i. Perawatan RS : Perlu bila menunjukkan tanda-tanda tamponade. Kardiomegali dengan kelainan jantung intra kardial. PR depresi f. Perikardiosentesis b. Post operasi jantung v. Keluhan dan tanda-tanda : Sesak. 4. b. Diagnosis Banding : a. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah b. EKG : Low voltage. Uremia ii. Globular shape e. hipotensi dan distensi vena leher (CVP ↑). emboli paru akut. Tamponade akut : Tension pneumothorak. perikarditis konstriktiva/sicca. open perikardiostomi (subxiphoid atau window) dengan artero lateral thoracotomy kiri • Medikamentosa . terasa berat didada sakit tidak spesifik seperti suara jantung menjauh. d. SLE dan kelainan sistemik lainnya c. Foto toraks : melihat adanya pelebaran mediastinum atau CT ratio > 50% b. Antiinflamasi (NSAID) b. Terapi causal lainnya 222 . Pemeriksaan Penunjang : a. gagal jantung kanan akut. e. Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung 7. Kortiko Steroid kalau perlu c. nadi meningkat. Cardiac Enzym : pada kelainan jantung.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 13. Patologi : Perlu untuk mencari penyebab sitologys dan kultur. Lama Pemulihan: 2 – 7 hari 15. Informed Consent : Perlu apabila ada tindakan. Tamponade jantung. 12. Lama Perawatan : 2 – 7 hari 14. UPIJ/ICU b. Penyulit : a. Naitkus PT. 18. Tempat Pelayanan : a. b. Prentice Hall International Inc London 1995. Cardiac failure 11. Kepustakaan : 1. Tenaga Standar : a. Hasil : Sembuh/kambuh 16. 17. c. Dokter Spesialis Bedah Umum ( perikardiosentesis ) b. Autopsi : Perlu bila tak jelas penyebab kematiannya. OK bila perlu tindakan bedah 10. Cardiogenic Shock. Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler c. 192 -203 223 .9. Le Winter MM : Pericardiac disease. Prognosa : Tergantung Penyebabnya. in Current Diagnosis & Treatment in Cardiology ed by Michael H Crawford.

224 .

225

226

227

228

229 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful