1

Laporan Studi Lapangan

Pulau Serangan: Dampak Pembangunan pada Lingkungan dan Masyarakat
Oleh: Lisa Woinarski

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
kerja sama dengan

AUSTRALIAN CONSORTIUM FOR IN-COUNTRY INDONESIAN STUDIES 2002

2

“Nasi yang sudah menjadi bubur tidak bisa dijadikan nasi lagi, tapi buburnya bisa dikasih gula supaya menjadi lebih enak.”

Wayan Raga, Bendesa Adat Pulau Serangan

3

KATA PENGANTAR
Selama ‘magang’ di Lembaga Swadaya Masyarakat di Bali, namanya Yayasan Bahtera Nusantara, penulis menjadi tertarik dalam kasus Pulau Serangan. Oleh karena itu, penulis menjadikan topik tersebut untuk dikaji dan ditulis dalam laporan ‘Studi Lapangan’ untuk memenuhi syarat Program ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies) di Fakultas FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penelitian ini dilakukan selama bulan Agustus sampai Oktober tahun 2002 di lapangan, ketika tiba-tiba semua mahasiswa harus pulang ke Australia karena alasan keamanan. Akan tetapi, dengan materi yang dikumpulkan di lapangan, penulisan laporan berlangsung di Australia. Penulis mengucapkan terima kasih kepada penduduk Pulau Serangan yang diwawancarai, khususnya Wayan Patut. Semoga buburnya segera dikasih gula. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua karyawan di Yayasan Bahtera Nusantara untuk memperkenalkan penulis dengan topik ini, dan untuk pengalaman dan perkembangan ide-ide selama ‘magang’ di sana. Topik ini sangat mengesankan penulis, yang sangat mengharapkan perbaikan keadaan yang sedang ada di Pulau Serangan untuk menguntungkan masyarakat. Penulis mengakui bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun selalu penulis perlukan. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

Lisa Woinarski Canberra, Australia Pebruari, 2003

4

DAFTAR ISI
Halaman: KATA PENGANTAR..........................................................................................…i DAFTAR ISI........................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR............................................................................................…iv ABSTRAKSI.......................................................................................................…v BAB I: PENDAHULUAN..............................................................................….1 1.1 Latar Belakang.......................................................................……. 1 1.2 Rumusan Masalah...................................................................…… 5 1.3 Tujuan Penelitian.......................................................................…. 5 1.4 Definisi Istilah ..........................................................................…...5 1.5 Metode Penelitian....................................................................……6 BAB II: DAMPAK LINGKUNGAN................................................................….7 2.1 Pendahuluan.................................................................................. 7 2.2 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan....................................….8 2.3 Perubahan Arus Laut..................................................................…9 2.4 Kehilangan Ekosistem Penting......................................................10 2.5 Kehilangan Penyu......................................................................…12 BAB III: DAMPAK SOSIAL BUDAYA...............................................................14 3.1 Pendahuluan.................................................................................. 14 3.2 Pelanggaran HAM – Pembebasan Tanah......................................14 3.3 Gangguan Terhadap Kesucian Pura..............................................16 3.4 Kebudayaan dan Lahan.............................................................….17 3.5 Perubahan Kebudayaan.................................................................19 3.6 Konflik Masyarakat......................................................................…20 3.7 Isolisasi Masyarakat....................................................................... 22 BAB IV: DAMPAK EKONOMI........................................................................... 23 4.1 Pendahuluan.................................................................................. 23 4.2 Kerugian Masyarakat..................................................................... 24 4.3 Nelayan.......................................................................................... 24 4.4 Penambang.................................................................................... 26 4.5 Kafe dan Kiosk............................................................................... 26 4.6 Penambangan Karang...............................................................… 27 BAB V: SOLUSI UNTUK MASA DEPAN......................................................... 28 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 Pendahuluan ................................................................................ 28 Sikap Masyarakat Terhadap Proyek BTID.................................... 29 Solusi Lingkungan......................................................................... 29 Solusi Sosial Budaya.....................................................................30 Solusi Ekonomi..............................................................................31

......5 BAB VI: PENUTUP............................................................................................................. 33 DAFTAR PUSTAKA.................…...................................... 34 .............

dan dengan ganti rugi yang tidak wajar. Perubahan arus laut terjadi sekitar Pulau Serangan. BTID melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dengan adanya proyek BTID menimbulkan permasalahan bagi lingkungan dan masyarakat Pulau Serangan. 85% penduduk bekerja sebagai nelayan. yang diperparahkan karena budaya baru susah dicari untuk penduduk ini . Dampak Lingkungan Walaupun BTID melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang disetujui oleh Gubernur Bali pada tahun 1995. diakibatkan pengerukan dan penimbunan proyek. Permasalahan utama merupakan kehilangan mata pencaharian untuk masyarakat akibat kerusakan lingkungan dan penimbunan yang dilakukan BTID. Kotamadya Denpasar. Pembebasan tanah masyarakat dilaksanakan. Propinsi Bali. dan pengerukan dan penimbunan mulai untuk menambah luasan lahan Serangan hampir 4 kali lipat. proyek BTID terpaksa berhenti karena kesulitan dana akibat krisis moneter pada tahun 1998 dan sampai sekarang tidak ada investor baru. kelompok investor mau membangun resort. Desa Serangan terdiri dari enam banjar dan satu kampung. termasuk Pura Sakenan. Jumlah jiwa di Pulau Serangan mencapai 3253 orang. ‘Kain sosial’ Serangan berubah secara drastis dengan kehilangan ‘budaya nelayan’ Serangan. yang semuanya hilang atau sedang dalam keadaan buruk akibat proyek BTID. supaya lahan BTID ‘kosong’. Luasnya Pulau Serangan asli merupakan 111. Selain itu. dinilai ‘diganggu’ oleh proyek BTID. Dampak Sosial Budaya Proyek BTID berdampak pada ‘kain sosial’. terumbu karang. Akhirnya. namanya Bali Turtle Island Development (BTID). namun pada awal tahun 90-an. dan padang rumput laut. Penduduk Serangan mengalami pelanggaran Hak Asasi Manusia – tanahnya dibebaskan oleh pihak militer dengan cara intimidasi. kesucian lahan dan pura Pulau Serangan. kerusakan lingkungan masih muncul akibat proyek BTID. Namun. Pulau Serangan terletak di Kecamatan Denpasar Selatan. Di samping itu. proyek BTID berdampak pada ekosistem penting seperti hutan bakau. Sejak tahun 70-an ada industri pariwisata di Pulau Serangan.9 ha.6 ABSTRAKSI Pendahuluan Secara geografis. yang menyebabkan abrasi pantai di beberapa lokasi dan penumpukan lumpur dan sampah di sebelah barat Pulau Serangan.

dan penduduk Serangan mengalami kerugian besar. dan mata pencahariannya sebagai nelayan hilang karena penimbunan di dataran pasang surut dan kerusakan lingkungan lain.250.829. Beberapa solusi telah diajukan. Akibatnya. maka mereka sedang mengalami kesusahan dalam aspek ekonomi kehidupannya.000 per tahun. dan masyarakat harus diperankan dulu. namun pada dasarnya BTID yang harus bertanggungjawab. . sementara kerusakan lingkungan dan kesusahan penduduk dalam hidupnya berlangsung. Dampak Ekonomi Walaupun BTID menjanjikan ekonomi masyarakat Serangan akan meningkat akibat proyek. Solusi untuk permasalahan yang muncul akibat BTID harus ditemui. Juga. dengan demikian merusak persatuan masyarakat Serangan. penduduk yang terpaksa menambang untuk menghidupi keluarganya karena ikan sudah hilang. kerugian masyarakat sudah mencapai Rp8. yang terjadi adalah penurunan ekonomi Serangan. beberapa penduduk Serangan sudah mencari sumber nafkah lain. Menurut salah satu penduduk Serangan.7 yang pada umumnya kurang berpendidikan. Ada kerusakan lingkungan. proyek BTID menimbulkan lebih banyak permasalahan daripada pemanfaatan untuk masyarakat Serangan. misalnya. kebanyakan penduduk tidak dapat pekerjaan dalam proyek BTID. dan beberapa diajukan dalam bab ini. Solusi Untuk Masa Depan Sekarang proyek BTID berhenti karena kekurangan dana. yang menyebabkan kehilangan mata pencaharian untuk 85% penduduk yang merupakan nelayan pesisir. ‘kain sosial’ telah berubah. yang dulu relatif tentram. Ada pelanggaran HAM. Permasalahan ini berlangsung. proyek juga menyebabkan konflik dalam masyarakat Serangan. Penutup Sampai sekarang. Selain 150 warga Serangan yang nanti di-PHK. walaupun proyek BTID berhenti.

Kotamadya Denpasar. Pulau Serangan terletak di Kecamatan Denpasar Selatan. Peken.5 Sejak tahun 70-an industri pariwisata ada di Pulau Serangan. hal.. anak mantan Presiden Suharto. Luasnya Pulau Serangan asli merupakan 111.456 ha lahan pemukiman. Pembangunan Kartika Udayana. A. Asia Research Centre on Social. 58. Bali. Illawara Technology Corporation. Juga melihat “Keluarga Cendana Diminta Melepas Saham”. Murdoch University. yang dimiliki Komando Daerah Militer (Kodam) IX Udayana.8 Bab I: Pendahuluan 1. industri pariwisata itu berkembang ketika sekelompok investor mau membangun resort di Serangan. yang dipimpin oleh Bambang Trihatmojo. 1994. Orang Muslim ini sudah tinggal di Pulau Serangan berabad-abad. University of Wollongong. hal. Kepemilikan BTID sekarang kurang jelas. dan Suwitha. 14/9/02. dengan turis yang datang untuk melihat penyu.1 Latar Belakang Secara geografis. G. G. 6 Aditjondro. 5. Tempo. Kaja. Working Paper No.1 Desa Serangan terdiri dari enam banjar. Namun. .. serta saudaranya Tommy Suharto dan PT. Tengah. 5 Ibid. 3 Wayan Patut. Jakarta’s Colony: Social and Ecological Impacts of Jakarta-Based Conglomerates in Bali’s Tourism Industry. Monografi Kelurahan Serangan. Agustus 2002. Kawan. 11/7/00. kebanyakannya adalah keturunan orang Bugis dari Sulawesi Selatan yang datang ke pulau Bali pada abad ke-17. Perth. P. pada akhir tahun 80-an. yang tidak biasa di Bali yang mana kebanyakan orang Bali berorientasi terhadap tanah. 1992. 1995. Jumlah jiwa di Pulau Serangan mencapai 752 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa 3253 orang. sebelum BTID muncul sebagai pembangun. yaitu Banjar Ponjok. penduduk Serangan mempunyai identitas sebagai orang pesisir. Political dan Economic Change. pihak dari Kodam sudah mengajukan surat permohonan kepada Gubernur Bali untuk melakukan “Pelestarian dan Pengembangan Pariwisata di Pulau Serangan” pada 1 2 Monografi Kelurahan Serangan. namanya Bali Turtle Island Development (BTID). dan 19 ha rawa atau hutan. Propinsi Bali. “Serangan Island and Benoa Bay: A Cultural.6 Akan tetapi. dan Dukuh.3 Dengan demikian. dan Kampung Bugis. tetapi pada awalnya proyek dimiliki Grop Bimantara.2 85% penduduk bekerja sebagai nelayan pesisir (yang mencari hasil laut di dataran pasang surut atau memakai perahu tradisional tanpa mesin). 4 Vickers. 17.9 ha yang dulu terdiri dari 6. 85 ha tegalan dan perkebunan. dan yang lainnya merupakan karyawan.4 Desa Serangan terdiri dari penduduk Hindu dan Muslim. Social and Economic Description”.

fasilitas penunjang pariwisata lainnya. kiosk dan restoran. atau hampir 4 kali lipat luasan pulau asli. 9 Lembaga Penelitian Universitas Udayana (LPUU). yang diberikan kepada BTID dalam Surat Keputusan Gubernur Bali. akan tetapi.. listrik. 1-2. hal. I . Kemudian. supaya proyek BTID lebih menarik masyarakat Bali dan Serangan. Permasalahan justru menimbul untuk masyarakat setempat akibat pembangunan. wc umum dan lain-lainnya. serta perbaikan fasilitas pemukiman masyarakat seperti sarana air. tanggal 24 Desember 1992. 9 Proyek itu “memanfaatkan lahan Pulau Serangan sekitar 112 ha”. 10 Ibid. Proyek yang direncanakan BTID adalah untuk membangun lapangan golf. peningkatan sosial ekonomi penduduk. “sehingga luas lahan keseluruhan yang akan dikembangkan sehingga mencapai kurang lebih 491 Ha”.10 Dengan adanya proyek BTID menimbulkan permasalahan bagi lingkungan dan masyarakat Pulau Serangan. Selain itu. lagoon untuk sarana rekreasi air.. I – 5. “Pokok-Pokok Pikiran Proyek Pelestarian dan Pengembangan Pariwisata Pulau Serangan”. 1995. Feasibility Study untuk proyek BTID. 8 Ibid. permasalahan tersebut harus disosialisasikan terhadap masyarakat. yang sebenarnya seluruh wilayah pulau asli. Akhirnya. pembangunan Superlot yang berupa villa. pelestarian peninggalan budaya dan peningkatan apresiasi budaya”. BTID diberikan Ijin Kerja Keruk dan Reklamasi disekitar Pulau Serangan pada bulan Juli 1996 oleh Departmen Perhubungan. Permasalahan utama merupakan kerusakan lingkungan akibat pembangunan BTID yang telah mengakibatkan kehilangan mata pencaharian untuk kebanyakan masyarakat.5. yacht club. yang 7 Kodam IX Udayana. resort. dan di samping itu melakukan pengerukan dan penimbunan (reklamasi) pantai. hal. dari Juli 1990 sampai April 1991. BTID kemudian mengadakan penelitian untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).8 Mereka diberikan ijin prinsip oleh Gubernur Bali. “Analisis Dampak Lingkungan (Andal) Pengembangan Pulau Serangan”. Panitia Pembebasan Tanah melaksanakan pembebasan tanah di Pulau Serangan untuk mendapat tanah untuk pembangunan selama delapan tahapan. Setelah itu. Denpasar.7 Sasaran proyek itu adalah “menyelamatkan kondisi fisik Pulau Serangan dari kerusakan lebih parah. beach club house.9 bulan Januari 1990. Januari 1990. ijin prinsip diberikan kepada BTID guna pengajuan permohonan Hak Guna Bangunan. yang disetujui oleh Gubernur Bali pada tahun 1995. ada rencana untuk membangun pusat penelitian penyu dan bakau. Denpasar. serta marina/ferry dan jembatan penyeberangan dari daratan pulau Bali ke Pulau Serangan. . hal.

dan penduduk Serangan dijanjikan bahwa kehidupan mereka akan sejahtera dengan adanya proyek. Akan tetapi. dibentuk. atau Memorandum of Understanding (MoU). 4 September 1998.14 dengan mencapai 60% dari rencana pengerukan dan reklamasi. kebanyakan masyarakat tidak tahu rencana BTID. menegaskan bahwa “proses Amdal tidak hanya prosedur dokumentasi proyek. Kantor Bappeda Kodya Denpasar. Bali Post. 13 Wayan Patut. Pada tanggal 14 Oktober 1998 kesepakatan. Masyarakat baru tahu adanya proyek selama tahap pembebasan tanah. Perth. BTID Serangan Island Feasibility Study Internal Assessment of Concept Plan 3C”. “PT. beberapa butir dalam MoU benar-benar menempatkan masyarakat dalam posisi lemah. 1995. . misalnya pasal 9. yang mewajibkan BTID melakukan beberapa hal-hal yang akan menguntungkan penduduk Serangan. Saat pra-konstruksi memang dilakukan sosialisasi.23% setuju). Australia. Akibat sosialasi itu dengan janjian yang akan menguntungkan masyarakat Serangan. dikatakan situasi pada saat akhir Orde Baru itu tidak memungkinkan masyarakat untuk melawan. dan fasilitas desa lengkap.13 Proyek BTID terpaksa berhenti karena kondisi politik serta kesulitan dana akibat krisis moneter pada tahun 1998. hal. merubahkan atau menolak rencana itu”. dan sanksi-sanksi bagi pihak yang melanggarnya. maka akhirnya kesepakatan itu tidak menguntungkan masyarakat Serangan. op cit. tidak ada investor baru. Juga. 14 “Hendro Tak Berani Beri Kepastian”.. dan sama sekali tidak ada masukan. 13. “Presentasi di Rapat Pembahasan Pelakasanaan Amdal Pengembangan Pulau Serangan”. dan lahan BTID ‘kosong’. tapi juga proses demokratis di mana masyarakat meninjau rencana dan menyetujui. dalam kasus Serangan. sampai sekarang hanya dua pasal yang terpenuhi karena tidak dicantumkan waktu perlakuan dan pengakhiran. dengan kesempatan pekerjaan baru.11 Akan tetapi. 15 PT. Agustus 1994.73% sangat setuju dan 69. 16/9/98. 14/9/02.10 dilakukan konsultan luar negeri. hal. masyarakat Serangan membentuk Tim 18. dan juga menjaga dan mengamankan proyek. 12 LPUU. pada dasarnya mereka setuju dengan proyek (dilihat dalam hasil survei Andal yang menunjukkan bahwa 6. Namun. Bali. 12 Namun. sekarang dikatakan bahwa kalau penduduk Serangan mengetahui dampak proyek pada lingkungan dan masyarakatnya sepenuhnya pada saat sosialisasi. dan rencana reklamasi hanya muncul setelah reklamasi tersebut berjalan pada tahun 1996.16 11 LeProvost Dames and Moore. IV – 149. yang anggotanya diambil dari tokoh-tokoh masyarakat untuk mewakilinya dalam mengadakan kesepakatan dengan BTID. mungkin mereka tidak akan setuju dengan proyek. Oleh karena itu. BTID. Namun. permasalahan lingkungan dan bagi masyarakat Serangan terus terjadi dan semakin diperparah lagi.15 Sampai sekarang. yang menyebutkan bahwa masyarakat Serangan harus mendukung proyek BTID.

Bali Turtle Island Development Dengan Masyarakat Kelurahan Serangan”. tertanggal 15 Mei 2001. pakar lingkungan.17 Penduduk Serangan menunjukkan pendukungannya untuk kelajutan proyek. Bali Post. Akhirnya. dan Pemerintah Daerah Bali membentuk Panitia Khusus (Pansus) evaluasi proyek BTID untuk mengetahui sejauhmana keberadaan proyek-proyek BTID di Pulau Serangan. Setelah memperoleh informasi awal dari masyarakat. Pendekatan tersebut 16 “Perjanjian Antara PT.2 Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang di atas. 1. – proyek ‘Pelestarian dan Pengembangan Pulau Serangan’ oleh PT. tetapi bisa ‘dikasih gula’. pokok permasalahan dari studi lapangan ini dapat dirumuskan sebagai berikut: • • Bagaimana dampak proyek BTID pada baik lingkungan maupun sosial budaya dan ekonomi masyarakat Serangan? Apakah ada solusi untuk permasalahan yang diakibatkan proyek BTID? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak-dampak proyek BTID pada lingkungan dan masyarakat Serangan supaya dapat diperoleh solusi untuk masa depan Pulau Serangan. 17/5/01.4 Definisi Istilah DPRD Proyek BTID – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Nusa Tenggara. DRPD Bali Keluarkan Rekomendasi”. dan tokoh lainnya. 1. . DPRD Bali mendengar langsung masukan sekaligus keluhan dari masyarakat soal kelangsungan megaproyek bersangkutan.11 Masalah Pulau Serangan berlangsung. 13/4/00. yaitu masyarakat menunggu pemanfaatan proyek BTID. pendekatan kualitif digunakan.18 tetapi sampai sekarang proyek BTID belum dijalankan lagi. 17 “DPRD Bali Bentuk Pansus Evaluasi Proyek BTID”. 18 “Akhirnya. misalnya. Bali Turtle Island Development.5 Metodologi Penelitian Untuk mendapatkan data tentang dampak proyek BTID pada lingkungan dan masyarakat Pulau Serangan.” Pulau Serangan sudah dikembangkan yang tidak bisa dikembalikan. tapi buburnya bisa dikasih gula supaya menjadi lebih enak. Pansus mengeluarkan rekomendasi yang intinya menyetujui proyek BTID itu dilanjutkan. Nomor 046/BTID-MOU/1998. dalam wawancara Bendesa Adat mengatakan bahwa “nasi yang sudah menjadi bubur tidak bisa dijadikan nasi lagi. Sebenarnya mereka agak fatalistik. 14 Oktober 1998. 1.

untuk mencerminkan pendapat atau keadaan yang luas. Selain wawancara. Informasi umum diperoleh dari literatur tertulis dan artikel-artikel surat kabar. Selain itu. dan juga pakar dari Universitas atau Lembaga Swadaya Masyarakat. kelompok nelayan). yaitu respoden yang diwawancarai mewakili kelompok-kelompok tertentu di masyarakat (misalnya tokoh masyarakat seperti Bendesa Adat. .12 dilakukan dengan metode wawancara dengan cara sampel purposif. penelitian ini juga berdasarkan pengalaman dan observasi penulis di Pulau Serangan selama dua bulan (September sampai Oktober 2002). Wawancara berkisar antara percakapan non-formal sampai wawancara formal pada waktu yang tepat. tokoh agama seperti pemangku. tokoh pemuda. dokumen-dokumen tentang proyek BTID diperoleh dari berbagai sumber.

21 LeProvost Dames and Moore. suhu udara lebih panas. Economy and Culture”.. . Penduduk yang diwawancarai setuju bahwa sekarang lingkungan Serangan rusak akibat proyek BTID. P. 266.2 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) BTID mengadakan penelitian ke lapangan beserta konsultan lingkungan Lembaga Penelitian Universitas Udayana (Unud) dari bulan April hingga Juli 1995 untuk Amdal. 13-14.. hal. S. Sastrawan. Menurutnya. konsultan dari Australia menulis laporan Feasibility Study yang menilai proyek BTID “rumit dan ambisius”. dalam Andal BTID. dan menguraikan pembatas yang mungkin akan terjadi yang perlu diputuskan dengan kajian lebih lanjut. dan kepiting. “Bali: Balancing Environment. “sebelum reklamasi kekayaan alam di sini paling kaya”. kelihatan rekomendasi ini tidak dilakukan.. B. Knight. dan Suarnatha. rumput laut yang dulu ada banyak hampir hilang. 2. 51 Tahun 1993 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan Pedoman Pelaksanaannya. tetapi agak rusak. 22 Ibid. Dalam Martopo. “Systems Approaches for Integrated Coastal Zone Management”.1 Pendahuluan Menurut suatu warga Serangan. Feasibility Study merekomendasi bahwa rencana reklamasi yang berdampak pada terumbu karang dan padang rumput laut di bagian selatan Pulau Serangan (yang disebut luar biasa di Bali karena dalam keadaan yang relatif asli) seharusnya dipindahkan supaya habitat ini tidak hilang. 9/8/02. daerah pesisir Pulau Serangan sudah dimasukkan golongan ‘pesisir mengalami stres’ oleh tim peneliti dari Kanada. merusakkan habitat itu. udang dan cumi-cumi sama sekali tidak ada di dataran pasang surut. “sekarang mati semuanya”. sesuai PP No. Dewasa ini.19 Memang. termasuk pohon kelapa dan hutan bakau. dan Mitchell. disebut karena tidak ‘ramah BTID’. pohon-pohon yang dulu banyak. M. dan ada lebih banyak penyakit-penyakit akibat debu. penimbunan masih terjadi di tempat itu. 15.20 Cerita dari masyarakat mendukung pernyataan ini. Canada: University of Waterloo Department of Geography Publication Series.13 Bab II: Dampak Lingkungan 2. 23 Made Mangku. D. Kontrak dengan konsultan ini akhirnya diputuskan. hal. 1994.22 Namun. op cit. akan tetapi.. sekarang kurang dan kondisinya sakit. 19 20 Arya Widana. sekarang ada banyak akibat debu dan sinar terang dari tanah kapur (hasil pengerukan) itu. Ontario. di laut ikan kurang. Di daratan. 15/9/02. hal. masih ada karang.. 1995. dan jalan air berubah dekat pulau karena kedalaman yang dulu rata-rata 3m sekarang 10m. Sebelum itu. 23 Amdal Pembangunan Pulau Serangan disetujui oleh Gubernur Bali pada tahun 1995.21 Akan tetapi. Dulu jarang ada orang yang memakai kaca mata. Misalnya..

jembatan itu hanya diselesaikan pada pertengahan tahun 2001. Jakarta. dan menyebabkan abrasi pantai di beberapa tempat di sekitar kawasan proyek. 6/5/00. Bali Post. pemerintah yang bertanggungjawab.5m. 27 BTID menegaskan bahwa pihaknya akan mulai membangun jembatan itu pada bulan Maret 2000.3 Perubahan Arus Laut Pengerukan dan penimbunan Pulau Serangan sudah menyebabkan perubahan arus laut sekitarnya. Walaupun pengembangan Pulau Serangan disebut “aman terhadap 24 25 “Pembuat Amdal Harus Bertanggungjawab”. tertanggal 22 Maret 2000. dan di kasus BTID. walaupun ada jembatan. DenPost. . 26 Arsana. Tudingan ini muncul karena kerusakan lingkungan yang terjadi akibat proyek-proyek ‘raksasa’ seperti proyek BTID. jembatan belum dibangun sesuai Amdal. panjangnya minimal 100m. 25/8/98). Bali Post. “NBR dan BTID Langgar Amdal”. jadi kita tidak tahu apa saja yang dilanggar. Dalam “Arsana: Sedang Negosiasi”. 28 Surat BTID 141/BTID-1/Dirut-BG/20 kepada Gubernur Bali. walaupun pengamat lingkungan mengusulkan bahwa jembatan itu seharusnya dibuat sepanjang 200 sampai 300m sesuai dengan lebar selat asli supaya sirkulasi arus lancar.14 Pada tahun 1998 ada debat yang muncul dalam pers regional Bali.”26 Salah satu pelanggaran Amdal yang dampak lingkungannya sangat parah merupakan jembatan di jalan penyeberangan. 27 “Jembatan BTID Diusulkan 200 Meter”. sesuai dokumen Amdal Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Tokoh lingkungan di masyarakat banyak melobi pemerintah daerah. Kegiatan pemrakarsa sebenarnya wajib dipantau oleh instansi yang terkait. Wali Kota Madya Denpasar.28 dengan panjang lebar 100 x 26. Sekarang. 7/8/98. perihal realisasi pembangunan jembatan ke Pulau Serangan. Jalan tersebut merupakan tembok dari daratan Bali ke Pulau Serangan. yang akhirnya menuntut bahwa jembatan itu dibangun. selain kekurangan dana untuk melakukan pemantauan rutin dan mendalam. akibat tudingan tim Amdal Unud tidak profesional. abrasi pantai masih terjadi akibat proyek BTID. misalnya: “Proyeknya belum selesai. 6/5/00. Pada waktu keberhentian proyek. 2.24 Dosen dari Unud membantah tudingan ini dan mengatakan bahwa yang diprotes adalah kegiatan pemrakarsa daripada hasil studi. pihak pemerintah mempunyai pendapat yang bermasalah untuk pelestarian lingkungan. Amdal BTID disebut “pemanis administrasi” saja. yang Amdalnya dilakukan tim Unud. mengingatkan bahwa dalam rencana Kodam pertama salah satu tujuan pembangunan adalah menyelamatkan kondisi fisik Pulau Serangan dari abrasi. akan tetapi.25 Akan tetapi. Bali Post.

akibatnya terjadi abrasi di pantai itu. akibat pemotongan arus laut ada penumpukan lumpur dan sampah di daerah hutan bakau di sebelah barat Pulau Serangan. hanya sedikit bisa beredar (karena jalan penghubung menghambatkan peredaran air). 14. 29 30 PT. dan dataran pasang surut. 26/9/00. 1994. arus laut masuk daerah di sebelah utara pulau. seperti padang rumput laut.30 Di sebelah utara. op cit. Pasir dari Pantai Mertasari mengisi lubang dari pengerukan dan hilang. “Executive Summary”. yang merupakan sebelah yang lebih lemah karena sebelah Serangan diperkuatkan oleh reklamasi. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. maka sampah dan lumpur yang dibawanya ditempatkan di hutan bakau dan di pelabuan. Juni 2000. abrasi yang terjadi di sejumlah pantai saat ini meningkat sampai 10 kali dibandingkan beberapa tahun silam.15 pengaruh arus dan gelombang” karena telah diuji melalui Modelling Test oleh konsultan Australia.31 Selain abrasi. sudah mengancam 3 tempat ibadah. BTID. hal. 31 “Proyek BTID Perlu Dikaji Ulang”. 20/3/00. arus ini menyebabkan abrasi di sebelah Tanjung Benoa. di sebelah selatan pulau. 32 LeProvost Dames and Moore. Bali Post. mungkin melanggar undangundang ini. Nusa Tenggara. arus dari laut lepas masuk Teluk Benoa. karena sekitar Pulau Serangan sudah terjadi abrasi pantai. air laut di belakang Pulau Serangan bisa keluar lagi karena ada sirkulasi air laut. maka BTID sudah melanggar Amdal. dengan dampak parah pada lingkungan Pulau Serangan. Akibatnya. Merta dari Unud. . dan dipercepatkan dan diperkuatkan karena kegiatan reklamasi menyempitkan jarak antara Tanjung Benoa dan Pulau Serangan. alur itu hanya sempit dan kebanyakan air tidak bisa keluar. Menurut Dr. dan dengan mengurangkan pantai dari 100m sampai 50m. Kalau hasil ‘aman’ Modelling Test itu memang benar..29 kegiatan pengerukan dan penimbunan BTID belum dipantau untuk mengecek kalau sesuai Amdal. Dulu. kegiatan tersebut terjadi. terumbu karang. 7. Sekarang. “Bongkar Reklamasi atau Ganti Bupati dan DPRD”.32 Namun. pada waktu air pasang. 2. Feasibility Study menduga bahwa pengerukan dan penimbunan di beberapa tempat di Pulau Serangan. Menurut pakar lingkungan Made Mangku. walaupun ada alur untuk air laut di bawah jembatan. maka arus itu keluar lagi melewati Pantai Mertasari.4 Kehilangan Ekosistem Penting Habitat yang mendukung kehidupan manusia dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia No. yang tujuannya melindungi sistem yang mendukung kehidupan dan kesejahteraan manusia selain keanekaragaman biologis. hal. hutan bakau.

08% (sedang) hingga 63% (baik) di kedalaman 3m. yaitu ikan hias dan ikan konsumpsi. hal.34 Penambang karang di Serangan melaporkan bahwa mereka hanya mengambil karang mati. Centre for Tropical Coastal Management. dan juga mengingkatkan jumlah karang mati atau rusak. sementara di kedalaman 10 m. email pribadi. yang lebih mudah dilakukan. dan pada kedalaman 10 m berkisar antara 0. Akibat reklamasi.. Akibatnya. terjadi sedimentasi dan meningkatnya kekeruhan air. Putra. yang menimbulkan tekanan pada seluruh sistem karang.. yang terjadi adalah pengerukan yang sedekat pulau mungkin. karang mati nanti bisa dihuni organisme karang dan menjadi karang hidup sekali lagi. Penelitian di Bali sudah menunjukkan bahwa penambangan karang menyebabkan kerusakan terumbu karang yang sangat serius. 35 LeProvost Dames and Moore. Hal ini juga merupakan dampak BTID secara tidak langsung.7% (buruk) hingga 65. .16%.35 Namun. 1994. dan pemecah ombak yang melindungi pantai dari abrasi. asalkan penanaman kembali terjadi.8% (baik). dengan menurunkan persentage penutupan karang hidup.33 Terumbu karang di Pulau Serangan juga dirusak karena penambangan karang. karena penambang karang itu melaporkan bahwa mereka ‘terpaksa’ mengambil batu karang karena mata pencahariannya dulu. op cit. 20/2/03.16 Pengerukan yang dilakukan BTID menimbulkan kerusakan pada flora dan fauna laut. Perairan di Pulau Serangan dinilai masih mampu memberikan kapasitas cukup bagi pertumbuhan terumbu karang dengan baik. penutupan karang hidup berkisar antara 0. K.3% hingga 42. 1992. dan sebagai saringan untuk lumpur dari sungai. di beberapa lokasi tingkat kekeruhan perairan yang tinggi akibat sedimentasi sangat mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang. Namun. Lumpur atau ‘silt’ dari usaha pengerukan menutupi karang. Ekosistem terumbu karang sangat penting. Sekarang pentutupan karang hidup di perairan Serangan berkisar antara 38. sudah hilang akibat reklamasi. sebagai lahan hidup ikan dan fauna laut lain. sebagai tempat fauna laut untuk mencari makanan dan berlindung. Department of Marine Science and Coastal Management. yang akibatnya mati. The Impact of Coral Mining on Coral Reef Condition in the East and South Coast of Bali Indonesia. hutan bakau merupakan ekosistem yang penting sekali. Selain terumbu karang. Di Pulau Serangan.94% hingga 45. maka pengambilannya merusak. biologis marin di Yayasan Bahtera Nusantara.S. namun. University of Newcastle Upon Tyne. melihat sejarah hutan bakau di daerah 33 34 Windy. 6-7. Walaupun pengerukan BTID direncanakan dilakukan pada tempat tertentu sesuai studi pakar Amdal. terumbu karang di perairan Pulau Serangan terancam mati. Penutupan karang mati di kedalaman 3 m berkisar antara 15. kehilangan habitat hutan bakau dinilai tidak bermasalah. sebagai pelindung dari bahaya abrasi.9%.

dan mereka tidak bisa bertelur karena pantainya sudah direklamasi. Ada 125 ekor penyu hijau di kolam. yang paling 36 37 “Hutan Bakau Suwung Diserobot 26 Lembaga”. Made Sugita. 26/9/97. maka penyu mendatang karena pulau itu masih alami dan tidak diganggu orang. 38 Namun. Bali Post. Di Pulau Serangan. 8/7/00.5 Kehilangan Penyu Walaupun Pulau Serangan dikenal sebagai ‘Pulau Penyu’. 39 “Kisah Duka Dari Pulau Serangan: Pan Lobeng Kelaparan Kalau Tidak Ngebon”. pengamat lingkungan. taman penyu itu terletak di ponjok yang sekarang tanah yang dimiliki BTID. 37 Dulu. Tetapi.36 Yang diambil BTID 80. menurut penduduk. penanaman kembali sering tidak terjadi. Nama proyeknya ‘Pembangunan Pulau Penyu Bali’. setiap malam ada 10-15 ekor yang bertelur. 38 Wayan Raga. atau kompensasi hilangnya hutan bakau setengah di Karangasem dan setengah di Jembrana. Sekarang. 2. Bendesa Adat Serangan. Menurut penduduk. Misalnya. banyak penyu bertelur di pasir kuning di sebelah timur dan selatan Pulau Serangan. Dulu. ada Taman Penyu di Serangan. pada tahun 70-an hanya ada 200-an KK di Serangan dan belum ada listrik. Bapak Wayan Raga. “Kadang-kadang ada.39 Sejak tahun 70-an. antara lain. Bali Post. sekarang. “’Kan lucu. BTID juga menjanji akan melakukan rebiosasi. Sekarang ada 708. tapi tidak seperti yang dulu. akan tetapi memang belum terjadi. bahkan sebelum proyek BTID mulai jumlah penyu di perairan Bali sudah menurun karena penangkapan (untuk konsumpsi atau perjualan) dan kegangguan habitatnya. .” ujar Bapak Sugita. pada tahun 70-an.” kata Wyasa Putra. juga ada beberapa kondisi alam yang mendukung penyu-penyu bertelur yang hilang akibat reklamasi proyek BTID. jarang penyu mendatang. arus laut dan pantai yang landai. Walaupun begitu. Rebiosasi tidak ada untungan karena kehilangan fungsi hutan bakau. mengelola PT. Assisten Ketua Kelompok Nelayan Mina Cipta Karya. Cipta Taman Penyu. tetapi ini juga belum terjadi.5 ha. 24/9/02. 25/9/02. setelah selesai kok tidak ada penyu. sebagai objek wisata penyu supaya pariwisata dapat mudah melihat binatang laut ini. dengan perjanjian akan menanam kembali bakau itu. dulu di daerah Serangan (dari Sanur sampai Nusa Dua) ada mangrove seluas 1373. dan pariwisata datang dari Bali Beach Hotel di Sanur.17 Serangan. Misalnya. Penurunan ikan karang yang dilaporkan penduduk Serangan justru sebagian disebabkan oleh kehilangan ekosistem ini di Pulau Serangan. yang ada di daerah asalnya. kondisi yang disukai penyu untuk bertelur sudah berubah. dengan kerusakan yang sudah mencapai lebih dari 600 ha.14 ha. walaupun habitat penyu di Pulau Serangan sama sekali hilang akibat reklamasi pantai.33 ha.

pihak WWF Bali mengatakan bahwa taman penyu di Serangan itu merupakan “quasi conservation”. Kesepakatan antara masyarakat dan BTID termasuk pembangunan ‘Turtle Exhibition’ yang dikelola masyarakat.2/11/02.18 tua kira-kira 40 tahun. hanya modal diperlu. Penyu yang ada tidak dibesarkan di sana melainkan ditangkap dari Sulawesi. ada potensi untuk menciptakan taman penyu yang berkualitas dengan bantuan pakar biologis. 40 Walaupun begitu. Icha. “Sebetulnya itu pembantaian terselubung. . Selain itu. 40 41 Wayan Raga. karena penyu dijual untuk dimakan”. WWF Indonesia Wallacea Program. Juga ada fasilitas penetasan – telur dibawa dari Sukabumi di Jawa Barat. 41 Namun. keadaan di kolam kurang cocok untuk penyu itu – ruangnya tidak cukup dan mutu air kurang baik. Maluku dan tempat-tempat lain. 25/9/02. email pribadi . ditetaskan dan tukiknya dilepaskan ke laut setiap tahun. akan tetapi BTID belum memenuhi janjian ini.

1 Pendahuluan Proyek BTID sudah menimbulkan permaslahan untuk aspek sosial budaya masyarakat Serangan. walaupun harga lahan bisa dinilai.45 Kalau ada yang menahan menyerah tanahnya. DenPost. Manik. . Hanya ada satu jalan untuk pemilik tanah – harus dijual. walaupun pembebasan tanah masih belum selesai hingga tahun 1993. mereka mengalami intimidasi atau ‘teror mental’ dari Kodam. tanah masyarakat Serangan harus dibebaskan untuk ‘kepentingan negara’. “Kronologis Kasus Pulau Serangan”.A. mengatakan pihak Kodam yang dituduh terlibat “adalah oknumoknum yang tidak bertanggungjawab pada Kodam IX/Udayana dan bekerja tidak sesuai perintah Komando”.. 42 dinilai melanggar HAM. Edisi 4 Th. Suluh Rakyat. dan berkali-kali dipanggil ke Kodam di Denpasar atau ke Posko (rumah biasa yang dijadikan markas tentara) yang didirikan di Serangan. dan Triyanto. Dari awal. dan tanah yang dibebaskan masih dimiliki oleh Kodam sebagai pemberi ganti rugi. W. Bali. 5/1/01. Ada yang dipenjarai selama sehari. 23/9/02. sebagai buktian keterlibatan Kodam. 28 Juni 2001. proses ini dan proses perijinan cacad hukum. Pemilik tanah di Serangan didatangi oleh pihak Kodam. dan “Pengacara F-Pepermas akan Menghadap Panglima”. Katanya Kodam.43 Selain itu. ijin prinsip diberikan kepada BTID tahun 1992 untuk “Pelestarian dan Pengembangan Pariwisata di Kawasan Pulau Serangan”. dan pemilik tanah di Pulau Serangan sesungguhnya tidak ada maksud untuk menjual tanah warisannya. Sinar Bali.44 Akan tetapi.Pembebasan Tanah Pembebasan tanah di Pulau Serangan yang dilakukan Panitia Pembebasan Tanah dan diikuti Kodam IX Udayana sebagai pelaksana tugas itu. nilai sosial lahan desa yang merupakan integral untuk kehidupan orang desa tidak bisa diperhitungkan). Walaupun dampak ini susah dinilai secara materi (misalnya. tanah dibebaskan dengan ‘intimidasi’ dari Kodam. ada yang mengungsi keluar Kabupaten bersama keluarga 42 Kodam menolak tuduhan itu. Denpasar. Misalnya. 44 “Nasib Warga Serangan Makin Tak Jelas”. tanah itu dimaksudkan untuk BTID. T. Namun. walaupun pernyataan ini hanya muncul waktu reklamasi mulai pada tahun 1996.19 Bab III: Dampak Sosial Budaya 3. 3. B. 27-29 Juli 2001. 45 Wayan Losmen.I / 20-27 Juli 2000.2 Pelanggaran Hak Asasi Manusia . 43 Patut.. masalah tersebut yang muncul merupakan dampak yang sangat penting diperhatikan karena mempengaruhi inti masyarakat Serangan. Lihat “Kodam IX/Udayana tak Pernah Ikut Campur”. penduduk Serangan Wayan Patut mempunyai “Surat Pernyataan Penyerahan Hak Milik” itu untuk semua Tahap Pembebasan Tanah yang menggunakan stempel resmi Kodam IX Udayana..

ada yang ditodongkan pistol ke jidatnya. Sebabnya. yang mewakili sebelas warga Serangan. Radar Bali. yang selama Orde Baru dipahami mirip pengkhianatan. walaupun harga pasar pada waktu itu antara Rp15-20 juta/are. surat pernyataan penyerahan hak milik yang terpaksa ditandatangani warga. ada yang dipanggil ke Posko tentara di Serangan dan sempat ditempeleng. 7/4/01. 50 “Merasa Ditipu. uang ganti rugi dipaksa ditabung ke bank-bank yang sudah ditentukan. ada Berita Acara serah sertifikat hak milik atas tanah kepada enam pemilik tanah itu. DenPost. Suluh Rakyat. Akhirnya. 48 “Enam Warga Serangan Ancam Laporkan BTID ke Polisi”. Sinar Bali.50 Sertifikat hak milik juga bermasalah dalam kasus 23 KK yang dulu tinggal pada tanah yang disewakan dari penduduk lain di Banjar Kubu (sebuah kampung dekat 46 47 “Nasib Warga Serangan Makin Tak Jelas”. Selain itu. atau ‘penghambat pembangunan’. .000 dari hasil ganti ruginya kepada oknum-oknum aparat Kodam. tanah yang dibeli dilakukan secara paksa dan penuh intimidasi. warga kecewa dengan BTID karena sertifikat tersebut tidak boleh diambil dari Badan Pertanahan Nasional tanpa kuasa BTID. 7/4/01. sesudahnya mereka mengancam akan melaporkan BTID kepada polisi karena merasa tertipu. 7/4/01. walaupun menghindar dan tempelengan itu mengenai meja dan putus. digunakan sebagai bukti pembayaran pihak oleh Kodam dan panitia pembebasan tanah.46 Ada yang tidak dibayar semua ganti ruginya. Beberapa warga dipaksa untuk menyerah sejumlah uang tertentu sebesar Rp800. yaitu Rp2. Kodam membenarkan intimidasinya dengan menuduh masyarakat anggota Partai Komunis Indonesia.20 karena takut didatangi militer. ada klausal yang menyebutkan warga harus menghentikan keterlibatannya dalam kegiatan reclaiming lahan di Serangan dan mengatakan dukungannya ke BTID.I / 20-27 Juli 2000. dan satu orang sudah meninggal terkena depresi mental.47 Dalam proses ganti rugi juga ada masalah dengan sertifikat hak milik tanah. Pembebasan tanah di Pulau Serangan tidak dilakukan sesuai proses jual beli. pada bulan April 2001. dan juga ada yang tanahnya salah diukur dan mereka dibayar setengah ganti rugi saja. 49 “Warga Serangan Ancam Laporkan PT BTID ke Polisi”. Namun. 27-29 Juli 2001. “Pengacara F-Pepermas akan Menghadap Panglima”. Akhirnya. Ada beberapa pemilik tanah yang sebagian tanahnya ditukar dengan lahan. yang ada pemohonan kepada pemilik tanah. Akan tetapi. yang nanti kebankrutan dan terkena likuidasi. begitu kerasnya. Pemilik lahan dipaksa menyetujui harga Kodam. BTID Dilaporkan ke Polda”.500. Nusa Tenggara. akan tetapi tanpa sertifikat milik tanah sampai tahun 2001. Edisi 4 Th. namun hingga ini pembayaran ganti rugi belum lunas semuanya.000 per are (100m2).49 Juga.48 Warga yang buta huruf disuruh menandatangani kesepakatan itu.

. yang pentingnya kedua di seluruh Bali sebagai sebuah Pura Sad Kayangan (‘enam pura’). tetapi sampai sekarang tidak ada sertifikat hak milik tanah. Menurut pemangku.000 orang dari seluruh Bali datang ke Pura Sakenan. hal. ketika pembangunan Nirwana Bali Resor (NBR) dimulai. antara 25. tapi belum ada jawaban. dilihat dalam artikel di pers regional dan dengan adanya banyak demo yang mencapai 5. yang dikunjungi orang dari seluruh Bali yang datang untuk mengambil airnya yang dipercayai menyembuh penyakit kulit.53 Selain itu. yang dirayakan sekali enam bulan. yang dianggap membuat pulau itu aman. Pura Tirta Arum. Bapak Made Karsa. 54 Wayan Patut. 15/9/02. ada Pura Sakenan. keagamaan.. ada Pura Pat Payung. 53 Vickers et al.56 ‘Pencemaran spiritual’ sudah menjadi topik perhatinan masyarakat Bali pada tahun 1993-4. Kepala Lingkungan Banjar Dukuh.. sudah mengajukan surat permohonan hak milik kepada direktur BTID di Jakarta.21 perkebunan di bagian selatan pulau). yang ada hubungan khusus dengan penangkapan ikan. dan mereka dipindahkan ke “pemukiman penduduk” di Banjar Dukuh. 24/9/02. Masyarakat Bali banyak memprotes pembangunan ini karena dianggap menggangu kesucian Pura Tanah Lot. Pada tanggal 25 Januari 1994. Selama upacara itu.000 dan 50. Akibat protes ini.3 Gangguan Terhadap Kesucian Pura Di Pulau Serangan terdapat pura di semua jarak. 15/9/02. . yang pentingnya sama Pura Sakenan. Ada hak guna pakai tanah itu. 1992. 20. dan sampai sekarang tidak diganti sama sekali. Pura Tanjung Sari. Wayan Patut. yang digusur. dengan demikian bisa memindahkan penduduk ini sekali lagi. 56 Vickers et al.52 Ada tiga pura desa yang penting untuk perhubungan dan identitas sosial.54 Pura Encakan Tingkih. 55 Wayan Kondra.51 3. Mereka dijanjikan setelah proyek dilanjutkan.. DPRD Bali sementara menghentikan proyek itu. op cit. Selain pura-pura ini. 1992. 55 Puncak upacara di Pura Sakenan adalah Kuningan. dan kira-kira 6000 menginap di laba pura atau lahan pura. pura ini dibangun kira-kira abad ke-16. 17. rumahnya dibongkar. op cit. tapi BTID masih ada hak milik tanahnya. 25/9/02. hal.000 orang. Mereka diberikan rumah dan tanah oleh BTID. akan dikasih surat. Pemangku Pura Sakenan. yang disebut pura wong gamang yang dianggap melindungi Pulau Serangan. Parisada Hindu Darma (lembaga nasional Hindu) mengeluarkan suatu ‘Bhisama’ (pengumuman agama) yang melarang pembangunan yang akan mencemarkan ‘zona 51 52 Made Karsa. dan pura-pura lain. kebudayaan dan ekonomis.

59 3.). yang dipercayai 57 Warren. Di Pulau Serangan. Perth. ada kemungkinan bahwa proyek BTID dibolehkan sekalipun NBR tidak boleh.3 Kebudayaan dan Lahan Walaupun survei dampak sosial Dr. Di Bali ada hubungan kuat antara lahan atau ‘bumi’ serta kehidupan agama-sosial dan kewargaan. berpendapat bahwa karena pembangunan NBR diperbolehkan walaupun melanggar Bhisama. IV – 155. Ternyata. op cit. Bhisama ini tidak ditafsirkan secara harfiah dan akhirnya Gubernur Bali menyetujui kelanjutan pembangunan proyek NBR dengan menanam ‘green belt’ antara resort dan Pura Tanah Lot. hal. ada kemungkinan bahwa akan terjadi kehilangan kekuasaan keagamaan pulau karena perubahan isolasi dan ketenangan relatif. dan kehilangan nilai warisan pulau akibat perubahan bentuknya. yaitu lahan dalam radius 2km sekitar Pura Tanah Lot.. Akan tetapi.66% responden khawatir atas gangguan terhadap kesucian pura akibat proyek BTID. Secara tradisional. 1998. Vickers dalam Feasibility Study termasuk perhatinan bahwa dengan adanya proyek BTID.60 Amdal tidak termasuk perhatinan ini. C. masyarakat Bali tidak memprotes pada awal proyek karena mereka tidak tahu tentang proyek BTID. op cit. hal. ketika BTID muncul waktu penimbunan mulai. survei Andal menemukan bahwa 66. London: Routledge. . ‘lahan sakral’ di Pulau Serangan tidak diperhitungkan dalam Amdal BTID.22 kesakralan’. melihat bahwa pura ini merupakan integral untuk kehidupan keagamaan Bali (sebagai salah satu Pura Sad Kayangan) bisa dikatakan bahwa angka ini agak konservatif. P. termasuk lahan pemukiman. C. Dr.58 Namun. The Politics of Environment in SE Asia: Resources and Resistance.. violasi kesakralan Pura Sakenan. Carol Warren dari Universitas Murdoch. 58 LPUU. ada kekhawatiran di masyarakat atas gangguan kesucian Pura Sakenan. “Tanah Lot: The Cultural and Environmental Politics of Resort Development in Bali”. Dalam Hirsch. Namun. 59 Dr. 1994. jumlah 90% pembangunan BTID terletak di dalam ruang sakral itu. tidak bisa dijual karena lahan itu merupakan warisan dari nenek moyangnya. dan Warren. 12. 1995. 60 LeProvost Dames and Moore. (Eds. yang termasuk jalan penghubung yang sedekat 200m Pura Sakenan. dan akhirnya BTID berlangsung dengan rencana yang sangat berdampak pada aspek sosial-budaya ini. walaupun menanggap keterlibatan militer dan keluarga Suharto dalam kasus Serangan. 12/11/02.57 Mengenai Pura Sakenan. Carol Warren. lahan desa. selain bahwa tanah penduduk Serangan dibebaskan untuk ‘kepentingan negara’. Bahkan. maka rencana pembangunan BTID di Pulau Serangan tidak diberhentikan.

Kuala Lumpur: Oxford University Press. Adat and Dinas: Balinese Communities in the Indonesian State. dan tinggal di pohonpohon di Serangan. Barisan Tani Indonesia (BTI) mengambil lahan pura. misalnya letusan Gunung Agung pada tahun 1963 yang didampingi oleh kegagalan panen dan wabah tikus.66 Dengan proyek BTID. bisa dikatakan bahwa mereka meruntuhkan kekuasaan metafisikal Pulau Serangan. 65 Pak Made. 1995. hukum adat dan institusi desa adat mendapatkan kekuasaannya dari lahan desa adat itu. dengan adanya ‘land reform’ di Bali. 1992.. orang dari Sanur menyerang ke Serangan. Penduduk di Serangan menghubungkan hal ini dengan konflik yang dulu ada antara masyarakat Sanur dan Serangan. 21.64 Dikatakan bahwa penduduk Serangan tidak pernah sampai mati di luar pulaunya di laut atau di daratan. dan menghindar kegiatan yang akan menganggu ‘keseimbangan kosmos’. hal.63 Dengan demikian. 66 Wayan Patut. yang dianggap pelanggaran kesakralan pura oleh orang Bali. dan kekuasaan desa adat sebagai sebuah kolektip. Wong gamang dianggap mempunyai ‘desa cermin’ desa benar. 64 Vickers et al. mahluk halus yang merupakan ‘payung’ desa. ditafsirkan sebagai tanda ketidakseimbangan urutan kosmik akibat kegiatan BTI dan Partai 61 62 “Setra Diincar Investor. . 63 Warren.23 masih tinggal di sana. Katanya penduduk Serangan. dan bentuk pulaunya digantikan..61 dan juga rencana BTID untuk merelokasikan semua pura-pura yang di luar pemukiman ke satu kompleks supaya masyarakat tidak akan pergi ke lahan BTID. op cit. 15/9/02. Pada waktu itu. Wayan Patut.. C. Beberapa bencana alam yang terjadi pada waktu itu. 62 Akhirnya BTID membatalkan rencananya yang berdampak pada tempat-tempat suci ini. ketika BTID mengambil lahan desa adat secara terpaksa. 23/9/02. 11/10/97. kelihatan tentara ternyata adalah pelindung pulaunya. Kepentingan lahan di Pulau Serangan juga berdasarkan kepercayaan bahwa pulau tersebut dilindungi oleh wong gamang. 23/9/02. orang Bali sangat memperhatikan lahannya. sekitar tahun 1987. mereka takut pergi ke Serangan. dan merubah bentuk pulaunya. wong gamang itu pasti diganggu. Akibatnya. Oleh karena kepentingan hubungan antara lahan dan kehidupan agama-sosial itu.65 Juga. Warga Serangan Protes”. Misalnya. Nusa Tenggara. pada tahun 60-an di bawah perintahan Sukarno. ketika sebenarnya tidak ada apapun. Selain itu. karena dilindungi wong gamang ini. Kepentingan ini dilihat di Pulau Serangan waktu masyarakat sangat menolak penjualan lahan pura dan perpindahan setra (kuburan Hindu) oleh BTID. ada cerita bahwa orang Sanur pernah melihat banyak orang segaya tentara di Serangan. terutama menanggap bahwa banyak pohon sudah ditebang atau dalam keadaan yang sakit.

katanya. walaupun 59. IV – 10. pengetahuan nelayan Serangan tentang penangkapan ikan adalah khusus Serangan. yang berbeda untuk setiap jenis ikan. masyarakat Serangan berubah dari budaya nelayan yang makmur.26% tamat Sekolah Menengah Atas. 69 “Kisah Duka Dari Pulau Serangan: Pan Lobeng Kelaparan Kalau Tidak Ngebon”. Setiap nelayan pesisir ada peralatan yang lengkap. 26/9/97. 1995. sekarang harus ngebon beras (membeli beras memakai kredit). tetapi sekarang ada banyak waktu. akibat perubahan prilaku dari budaya petani atau nelayan ke budaya lain. Misalnya. Ithaca. Hal ini bermasalah untuk orang ini. op cit. likuidasi bank-bank yang menerima tabungan ganti rugi dari pemilik tanah di Serangan. kepada budaya yang bersifat banyak pengangguran. mereka akan berada dalam kebingungan. yang selain nelayan atau petani tidak ada ketrampilan lain. BTID dianggap menganggu ‘keseimbangan kosmos’ dengan proyeknya. Pan Lobeng. menyebabkan terganggunya kehidupan masyarakat. ketika 67 Robinson. G. USA: Cornell University Press. yang dulu jarang istirahat karena selalu pergi ke laut. Misalnya. Ada ratusan jenis penangkapan ikan di Serangan. Dia dulu adalah nelayan pesisir. dan mereka ‘tidur-tiduran’ saja. Bali Post. dan sekarang terpaksa harus ‘tidur-tiduran’ karena dataran pasang surut yang dulu tempat penangkapan hasil laut berubah menjadi daratan hasil reklamasi. yang mana kebanyakan penduduk Serangan kehilangan apa yang disebut ‘budaya primal’. waktu pekerjaannya sebagai nelayan atau petani hilang. (saya) sudah kelaparan”. tergantung ikan. Mereka membikin sendiri alat-alat itu sudah bertahun-tahun. Masyarakat di Serangan pada umumnya tidak berpendidikan. waktu bebas. melihat sekitar Desa Serangan terdapat banyak penduduk yang duduk dan bercakap-cakap saja. kerusakan lingkungan lain.69 Memang. karena budaya baru itu tidak jelas.24 Komunis Indonesia secara umum di Bali. 3... hal. Artinya. susah untuk mereka mengalih profesi. yaitu waktu ikan tertentu ‘naik’. The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali. seorang pejuang zaman kemerdekaan yang sudah berusia tua. 270-1. Sifatnya perubahan kebudayaan adalah kehilangan penetahuan lokal.67 Di Pulau Serangan. . 1995.68 Akibatnya. hanya 8. 68 LPUU.4 Perubahan Kebudayaan Penimbunan pada dataran pasang surut. dan pembebasan tanah perkebunan. dan penurunan Presiden Suharto sebagai buktiannya. yakni budaya nelayan dan petani. “kalau tidak ngebon. dan tahu alat apa yang perlu dipakai. Dengan demikian. Mereka tahu musim ikan. hal. yaitu.55% tamat Sekolah Menengah Pertama. dan 4. Menurut warga. dan ketidakpastian. dan penduduk melihat kejadian seperti kebankrutan BTID akibat krisis moneter.98% penduduk tamat dari Sekolah Dasar.

. kalau pohon tertentu ada di sana. 23/9/02. Yang mau uang itu diajak ke kantor lurah untuk menandatangankan kesepakatan. konflik dalam masyarakat Serangan adalah menurut pembelahan partai politik daripada pembelahan etnik antara orang Bugis dan Bali. masyarakat lain menanggap mereka menghambat proyek. Mereka yang paling dipengaruhi oleh proyek BTID pada waktu itu. Selain itu. warga Bugis berhidup rukun dengan warga Hindu Pulau Serangan dan dianggap “bersaudara”. dibayar untuk memberikan informasi dari pertemuan LKMD kepada BTID. yang dipikirkan akan memberikan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.500. yang mau tanahnya dikembalikan dan yang mau ganti rugi. Katanya. pada waktu konstruksi proyek banyak orang diberikan uang supaya mereka tidak memprotes lagi. tapi karena tidak ada alasan karena ikan habis. beberapa anggota Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Dengan menolak proyek. Setelah penurunan Presiden Suharto tahun 1998. maka anaknya tidak belajar pengetahuan ini dari orang tuanya karena artinya hilang dengan hilangnya ikan. waktu masyarakat Serangan menuntut 70 71 Pak Made. dan Pak Rontang. tahu ikan itu di sini.000?”. yaitu. 72 Wayan Patut. dan selama beberapa tahun terakhir ini. tapi dengan adanya proyek BTID. ada tuduhan korupsi di masyarakat Serangan. Pak Made. Caranya begini: “Kamu mau dikasih duwit Rp25.000. Dicatat bahwa pemuda tidak tahu metode-metode dari dulu tidak karena tidak mau. yang merupakan institusi pemerintah yang dibentuk dari Kepala Lingkungan setiap banjar dan tokoh-tokoh masyarakat lain.6 Konflik Masyarakat Sebelum adanya proyek BTID masyarakat hidup dengan aman dan tentram relatif dalam melaksanakan kehidupan sehari-harinya. antara yang menyetujui proyek.72 Dengan adanya proyek BTID. dengan mulainya era reformasi. 24/9/02. Konflik masyarakat ini bisa dilihat pada tahun 1998. yaitu konflik dalam masyarakat Serangan.71 3. mereka tahu tempat ikan dari pohon-pohon di daratan. Bahkan. Dulu. terjadinya penurunan jumlah ikan.25 mereka naik jukungnya ke laut. karena tanahnya dibebaskan dengan ganti rugi yang tidak sesuai. Katanya juga. 70 Dengan kerusakan lingkungan laut dan dataran pasang surut. konflik dalam masyarakat muncul antara pemilik tanah dan yang tidak memiliki tanah. dan yang menolak.000 dan diajak kerja untuk BTID dikasih gaji Rp1. 14/9/02. 23/9/02. telah menimbulkan permasalahan yang baru bagi masyarakat. pemilik tanah berani untuk menolak BTID.

FPAMS Perjuangkan Reklaiming Serangan”. hal. Kegiatannya dipersoalkan oleh warga Serangan lainnya. dan menyusulkan “bahwa BTID mencari nasehat dari pakar dan masyarakat tentang cara menggabungkan penduduk Serangan dalam proyek”. . Menurut BTID. “TANAH MILIK WARGA ADAT SERANGAN”. Maksud BTID membangun kanal itu telah dipertanyakan karena lebarnya kanal ‘wisata’ itu sebenarnya hanya kurang lebih 10m. dia disebut ikut-ikutan mengintimidasi warga. 30/1/01. dan akhirnya diminta agar pernyataan itu harus ditambah dengan 35 nama warga yang terlibat dalam aksi itu. 75 “Lagi. yang menilai kegiatan ‘reclaiming’ itu mengatasnamakan desa adat. Pada bulan Desember 2000. Konflik masyarakat ini muncul akibat adanya proyek BTID. Setelah keberhentian proyek BTID.5 Isolasi Masyarakat Rencana BTID membangun kanal wisata sudah dipertanyakan karena akan membuat masyarakat Serangan terisolasi di pulaunya sendiri. dan diperparahkan oleh kehilangan mata pencaharian dan pengangguran masyarakat yang menyebabkan ketidakpastian kehidupannya.73 Juga. Memang. “tak semua warga menginginkan hal itu”. sampai mereka tidak mau pergi ke banjar tertentu karena penduduk di sana dianggap “sangat pro BTID”. Lurah Serangan menjelaskan. 35 warga Serangan melakukan ‘reclaiming’ tanahnya. op cit. yang disebut “jelas merupakan hambatan kepada jalan masuk”. 1994. DenPost.. termasuk yang ikut ‘reclaiming’ tanah. Bali Post.75 Ada pertemuan antara semua pihak. kanal itu masih dimasukkan dalam Amdal. Feasibility Study mempertanyakan kanal wisata. Mereka mendirikan papan pada lahan yang dimiliki BTID dengan kata-kata. speedboat). “Warga Serangan Tuntut Pemprov Kembalikan Tanahnya”. konflik dalam masyarakat Serangan masih muncul.26 Lurah Serangan Ngurah Made Wijaya mundur dari jabatannya karena dinilai gagal memimpin Kelurahan Serangan dan tidak menanggap terhadap keluhan masyarakat Serangan atas soal proyek BTID. 27/8/98. kecurigaan dan tuduhan dalam masyarakat menyumbang kepada kerusakan materi sosial masyarakat Serangan.74 Pada era reformasi. ada warga yang masih dianggap menghambat proyek. kanal itu bisa dipakai oleh masyarakat Serangan untuk main atau mandi di perairan. Nusa Tenggara. ketika cap ‘KKN’ (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) merupakan sesuatu yang buruk sekali. Dari awalnya. 19/1/01. Walaupun begitu. maka tidak bisa digunakan untuk kegiatan bahari pariwisata biasa ( jet ski. dan dibangun. bentuk kanal itu begini: 73 74 “Lurah Serangan Dituntut Mundur”. 3. 77 LeProvost Dames and Moore. 10.76 Kejadian ini menunjukkan bahwa masih ada konflik dalam masyarakat Serangan. 77 Namun. 76 “Reklaiming Lahan BTID Dipersoalkan”. yaitu menuntut bahwa tanahnya dikembalikan. Nusa Tenggara. 12/1/01. yang dulu dibebaskan BTID dengan cara yang melanggar HAM.

78 78 Wayan Patut. 14/9/02. dengan demikian perjalanan masyarakat ke lahan BTID dihambati. . pada awalnya kanal itu hanya ada satu jembatan terletak dekat tempat masuk jalan penyebaran. Selain itu. kanal itu membendakan masyarakat. kanal itu merupakan batasan supaya sulit untuk masyarakat Serangan masuk ke lahan BTID. Nanti tiga jembatan dibangun tetapi hanya karena tuntutan masyarakat. yakni membuat mereka “seperti ikan dalam akuarium”.27 Lahan BTID Air kanal Lahan penduduk Serangan Dengan demikian. Akhirnya.

III – 23. 83 Patut. Walaupun harapan mendapat pekerjaan di proyek BTID masih kuat antara masyarakat Serangan. pada tanggal 4 Juni 1998 di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dengan uang pesangon yang tidak memadai (masing-masing Rp250. hal. walaupun BTID menjanjikan akan mempekerjakan 600 penduduk lokal selama masa konstruksi.1 Pendahuluan Dampak proyek BTID pada bidang ekonomi masyarakat Serangan pada umumnya kurang baik. Pulau Serangan.28 Bab IV: Dampak Ekonomi 4. 84 Angka pendapatan per kapita Pulau Serangan: LPUU.. Forum Pemulihan Pertiwi Masyarakat Serangan (F-Pepermas). Feasibility Study merekomendasikan bahwa kehilangan sumber-sumber pencaharian masyarakat harus ditenangkan oleh (antara lain) penyediaan kesempatan pekerjaan dan pelatihan pekerjaan. ada yang merasa marah 79 80 LeProvost Dames and Moore. Angka Bali (1993): Biro Pusat Statistik.80 Memang.83 Selain itu. hal.627. Pada tahapan sosialisasi BTID menjanji hal ini.49% responden survei Amdal mengharapkan kesempatan kerja pada tahap konstruksi. 1994. Juga. hal 258. kerusakan lingkungan laut dan pengalihan tanah perkebunan akibat proyek BTID menyebabkan kehilangan mata pencaharian pokok untuk penduduk Serangan.000). dengan kebanyakan respoden menyetujui kelanjutan proyek itu dengan alasan supaya mereka atau anaknya bisa bekerja di sana. 24/9/02. 1995. hal. (sisanya yang berjumlah 350 orang berasal dari luar) sedangkan sebagian besar masyarakat tidak mendapat pekerjaan. 1995.. dengan 74. 79 yang merupakan syarat penting untuk menggantirugikan penduduk Serangan. Jakarta: BPS. Masyarakat pada waktu itu melihat proyek BTID sebagai cara untuk meningkatkan taraf hidupnya dari nelayan ke bidang pariwisata. W. op cit. masyarakat yang dipekerjakan BTID. 82 Ibid. Statistik Dalam 50 Tahun Indonesia Merdeka. “Usulan Program Pemulihan Lingkungan Melalui Pengembangan Tanaman Produktif dan Tanaman Penghijauan”.. pekerjaan di proyek BTID merupakan harapan utama untuk penduduk masyarakat Serangan. . seperti yang terjadi di Nusa Dua. op cit.937/tahun).81 Akan tetapi. IV – 151-2. hal. 1995. dan jalan penyeberangan disebut akan membuka kesempatan pekerjaan di Bali untuk penduduk Serangan. 5 Januari 2001. Kehilangan mata pencaharian ini sangat parah melihat bahwa sebelum proyek BTID penduduk Serangan mempunyai pendapatan per kapita (Rp942. 81 LPUU. IV – 127.. 8-9. Made Karsa..993/tahun) yang dianggap lebih rendah 84 dibandingkan dengan pendapatan per kapita Bali (Rp1. Bali.82 yang terjadi adalah masyarakat Serangan yang bekerja di proyek BTID hanya 150 orang. op cit.

24/9/02.000. masyarakat Serangan sama sekali tidak digantirugikan untuk kehilangan mata pencaharian. Maka. Dengan kerugian sebesar ini. mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.387.000/hari x 365 hari = Rp 7.000/hari x 365 hari = Rp1. hal. Dari daerah itu. bagaimana masyarakat akan bisa ke kota. 4. setelah proyek BTID mulai. memperkirakan bahwa: a) para nelayan kecil sebanyak 350 orang dengan penghasilan perorangan Rp50. 87 Ibid. nilai produksi ini turun tajam karena kehilangan hasil petani dari hasil tanaman kelapa. 89 Wayan Patut. dan bahwa “sumber daya kelautan sulit untuk dapat diukur. Wayan Patut. jumlah kerugian materi bagian masyarakat Serangan ini mencapai sekitar Rp8.750. diakui bahwa lahan pertanian dan sumber kelautan adalah sangat penting.745. Pada waktu 85 86 Pak Rontang. 88 Wayan Patut.000.000.2 Kerugian masyarakat Dalam Andal.. dengan apa ia akan ke sana.29 dengan BTID.. Juga melihat Surat Pembaca. Tapi menurut saya. op cit.88 belum termasuk bagian petani yang kehilangan lahan perkebunannya.000/hari x 365 hari = Rp346.500. IV – 119. Bahkan.” 86 Tim Andal memperkirakan bahwa jumlah nilai produksi di Pulau Serangan adalah Rp2. dan menyekolahkan anaknya. Seorang penduduk Serangan. sebelum reklamasi. Bali Post. dan kehilangan nilai produksi ikan laut dan ikan hias akibat dampak lingkungan pengerukan dan penimbunan pada dataran pasang surut.829. 15/9/02. tanaman bahan makanan dan perternakan karena lahan perkebunannya menjadi lahan BTID.250.85 4.584.000 per tahun.87 Akan tetapi. termasuk nelayan pesisir dan nelayan laut lepas. “Ancaman Lingkungan pada Proyek BTID”. hal. bisa dipikirkan bahwa masyarakat pasti digantirugi oleh pihak BTID. .260/tahun. kalau mata pencaharian utama mereka justru dimatikan oleh jalan itu”. “[BTID] bilang dengan jalan itu kita di Serangan ini akan mudah pergi ke kota. dan c) kelompok penambang 38 orang dengan penhasilan perorangannya Rp25. pantai timur dan utara Serangan adalah sumber penghidupan dan pendapatan mereka.000. 1995. b) para pedagang cenderamata 120 orang dengan penghasilan perorangannya Rp25. 25/3/00.89 Dulu.095.3 Nelayan Di Pulau Serangan 85% penduduk bekerja sebagai nelayan. IV – 123-7. LPUU. 15/9/02.

70% dataran pasang surut hilang akibat reklamasi. Pada saat itu. dan cumi-cumi. Untuk nelayan pesisir yang tidak mampu pergi ke laut lepas. sekarang ada lagi. 95 Bapak Kari. naik jukung ke kawasan selatan Nusa Penida. Dia. 93 Pak Made. ada nelayan yang pergi ke laut lepas. Kegiatannya sudah sangat merugikan nelayan Pulau Serangan. 94 Made Sugita. proyek tidak ada dampak pada nafkah pokoknya. 4 mil dari Serangan. 25/9/02.90 Sekarang.92 Mereka menanggap “kehidupan nelayan di Serangan kini mati. dulu mereka rata-rata mendapat Rp25. dan kepiting.000/hari dari ikan-ikan kecil (5-10cm) yang masih ada di sebelah utara pulau. kepiting atau cumi-cumi kadang-kadang nelayan mendapat satu. ikan hias. Kalau dulu (sebelum proyek BTID) mereka mendapat hasil paling sedikit cukup untuk makan. pernah melaporkan kapal itu ke bea cukai dan angkatan laut. dengan keadaan di laut lepas semakin buruk. Kami tidak bisa bekerja apa-apa”. Dari hasil laut lepas. akibat penimbunan. Mereka memakai teknologi canggih.000/hari (waktu itu US$1 = Rp1800). ikan konsumpsi.95 90 91 Pak Made. 94 Menurut Bapak Kari. Untuk nelayan laut lepas ini. maka nelayan ini tidak bisa kembali ke sumber alternatif mata pencahariannya di perairan Serangan. hal ini sangat mengawatirkan. belum pernah mereka perlu bantuan dari mana-mana. 23/9/02. Pada waktu malam memakai lampu. 92 Pak dan Ibu Mini. rumput laut. dengan penurunan jumlah ikan. Jarang anaknya minta uang dari orang tuanya – kalau perlu uang. mereka menangkap ikan konsumpsi. Juga. dewasa ini juga ada masalah dengan kapal dari luar negeri (Taiwan. Rp5-10. Walaupun setelah itu kapal itu berhenti beberapa bulan. seperti alat deteksi radar bawah air. udang. Ibid. 24/9/02. dan pola ikan juga berubah. Ketua Kelompok Nelayan Mina Cipta Karya II yang anggotanya 65 orang. 25/9/02. Akan tetapi.000/hari. . arus laut sekitar Pulau Serangan berubah. Juga. 91 sekarang mendapat Rp5-10. bersama Assisten Ketua. 23/9/02. tetapi menurutnya tidak tertentu dapatnya. karena sumber daya ini sudah hilang akibat proyek. kepiting.93 Selain nelayan pesisir. untuk melihat tempat berkumpulnya ikan.000/hari (US$1=Rp1800). Cina) yang menangkap ikan di perairan Indonesian secara skala besaran dan tidak sah. akan tetapi sekarang kadang-kadang mendapat Rp50. bisa mencari udang. mereka mencari ikan saja.30 siang. Asisten Ketua Kelompok Nelayan Mina Cipta Karya II.

sering tidak ada uang sama sekali. Dalam MoU. pada tahun 70-an dulu mereka menjual cenderamata di taman penyu dan bisa mendapat kira-kira Rp50. selama kebanyakan setiap tahun pariwisata hanya sedikit. Sekarang. kebanyakannya surfers yang datang ke tempat selancar terkenal itu.”97 Soalnya. Tetapi. ada 38 KK yang bekerja sebagai penambang perahu penyebrangan dari daratan Bali ke Pulau Serangan.000). akan tetapi tidak termasuk hak pinjam yang berarti bahwa nanti. karena gelombang di pantai timur hanya baik kalau angin dari barat. pada tanah yang dimiliki BTID. Setiap hari mereka harus berjalan satu setengah jam satu jalur ke pantai timur. dan juga warung (disebut ‘kiosk’) di pantai timur. Uang dari oleh-oleh itu setiap hari dibagi antara mereka. Dalam satu hari mereka bisa mendapat uang cukup untuk biaya keluarga (Rp50. namanya “Pedagang Pantai Timur”. penambang ini bisa memperoleh Rp3 juta. 96 97 Wayan Losmen. dan mereka harus mencari mata pencaharian lain. mereka ‘bankrut’ – kadang-kadang mendapat Rp5.4 Penambang Dulu. mereka menanggap bahwa “nasib kita sesungguhnya bak menunggu di depan mulut harimau yang kelaparan. Bahkan. sebelum proyek BTID.”98 Dengan demikian.000/hari. 4. 26/9/02. Ibu Mini dan Ibu Yogi.000/hari. yang mana ada karaoke dan minuman keras).5 Kafe dan Kiosk Sebagian masyarakat Serangan sudah mencari nafkah di tempat lain. Ibu Mary. penduduk akan digusir dan perusahaannya dibongkar. BTID menyetujui pergunaan lahan ‘tidur’ BTID oleh penduduk Serangan. kalau proyek dilanjutkan. makanan dan oleh-oleh kecil kepada pendatang. tamu yang berkunjung ke pantai timur “bisa dihitung dengan jari saja. . 23/9/02. mereka menjual minuman.31 4. 38 orang ini sama sekali tidak ada pekerjaan lagi. Kiosk di pantai timur dimiliki kelompok Ibu-Ibu. 15/9/02. yang sudah berlanjut 3 tahun. dan dalam tiga hari saat upacara Kuningan di Pura Sakenan. lokasi taman wisata itu menjadi tanah proyek. setelah proyek BTID mulai. Juga. sejak serangan teroris di Amerika Serikat tahun yang lalu. dengan membangun kafe-kafe (tempat hiburan malam. Katanya. Walaupun ibu-ibu ini sangat kreatif di bidang bisnis. 98 Ibu Mini. yang jumlahnya sekarang 15 orang. 96 Setelah BTID membangun jalan penghubung. di pantai timur. pariwisata semakin sedikit. yaitu bulan Nopember sampai Maret.

” 100 Mereka juga tahu penambangan karang merusak lingkungan. Nusa Tenggara . 2/9/98. Pengambilan Batu Karang Di Pulau Serangan”. karena harganya yang relatif mahal. “tapi daripada saya tidak makan. Nusa Tenggara . Hampir semua pembeli batu karang berasal dari kalangan perhotelan dan orang-orang berduit saja. dilaporkan bahwa setelah terjadinya PHK BTID bulan Agustus 1998. dan ada yang turun setiap hari biar ada stock. 23/9/02. aku pasti mau ikut. mereka mengambil karang yang sudah mati (maka lebih keras) di sebelah timur dan utara pulau yang hasil dari pengerukan. “Tidak ada jalan lain sekarang. Kalau ada pekerjaan lain.6 Penambangan Karang Akibat kerusakan terumbu karang dan padang rumput laut alami di perairan Pulau Serangan karena pengerukan dan penimbunan proyek BTID. 101 “Marak. sebanyak 80 KK mengambil batu karang dari perairan Serangan secara massa dan terbuka. tetapi sekarang susah mencari karang karena karang sudah mengurang di sana. Mas Made. Katanya. lalu turun.99 Walaupun penambangan karang dilanggar. 100 .500 per biji kepada orang langsung.”101 Masyarakat melapor bahwa batu karang itu dibeli untuk pura dan bangunan lain. ya lebih baik mengambilnya. 99 “Marak. Pengambilan Batu Karang Di Pulau Serangan”. 2/9/98.5 cm dijual untuk Rp7. Ada yang menunggu pesanan dari tamu. Biji yang ukurannya 30 x 15 x 7. nelayan pesisir kehilangan mata pencaharian. penduduk ini merasa terpaksa melakukannya karena mata pencaharian dulu sudah hilang. Selain itu.32 4.

dan pelanggaran HAM yang terjadi di Pulau Serangan akibat proyek BTID. “Pansus BTID Gelar Dialog. sekarang ‘kosong’. “tidak ada jalan lain”. 15/7/00. Walaupun instansi yang terkait tidak mampu mensyaratkan BTID melanjutkan proyeknya. walaupun ada syarat yang BTID harus memenuhi. masyarakat Serangan tetap menginginkan agar proyek BTID dilanjutkan. Masyarakat Serangan menunggu BTID. secara logika bisa diperkirakan bahwa penduduk Serangan akan menolak kelanjutan proyek. solusi harus dicarikan supaya keadaan lingkungan dan masyarakat tidak semakin buruk. tidak ada keputusan atau sangsi benar. keuangan (ada tuduhan hutangan besar untuk pengerukan dan penimbunan. akan tetapi. agar dapat meningkatkan kesejahteraannya. tetapi mereka gagal. maka kemungkinan menemukan investor baru hanya sedikit. dengan demikian membebaskannya dari ketanggungjawaban lebih lanjut. selain pemukiman. Dalam pemutusannya. di depan Pansus BTID DPRD Bali.1 Pendahuluan Kebanyakan Pulau Serangan. 104 Wayan Raga. semua penduduk Serangan yang diwawancarai.104 Ada kekhawatiran bahwa kalau dibatalkan. 25/9/02. investor baru akan mewariskan ketanggungjawaban untuk permasalahan lingkungan. Dewan memandang perlu adanya studi dan kajian yang komprehensif dengan data dan informasi yang lengkap. kalau ada proyek. tanah BTID menjadi tanah ‘kosong’ seperti sekarang. mereka menjawab bahwa tidak mungkin dikembalikan seperti asli. Kebanyakannya tidak ada ide selain proyek dilanjutkan. termasuk yang dulu menolak BTID mengenai kasus pembebasan tanah. serta tuntutan ganti rugi). BTID bisa mempekerjakan mereka. Bali Post.33 Bab V .102 5. . Pikirannya. Pariwisata dilihat sebagai penyelesaian untuk mereka.103 Ketika penulis menanyakan apa yang mereka menginginkan untuk pulaunya. Bahkan. Pansus evaluasi BTID merupakan kesempatan pertama untuk DPRD Bali paska-Orde Baru memperbaiki situasi Pulau Serangan. supaya mereka bisa bekerja di sana. dan tentang masalah pembebasan tanah menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme hukum. untuk membuat pemutusan yang kuat. kehilangan mata pencaharian. hukum (seperti ancaman class action oleh penduduk yang dulu memiliki tanah). 17/5/01.2 Sikap Masyarakat Terhadap Proyek BTID Dengan kerusakan lingkungan. 102 103 “Akhirnya. menyetujui kelanjutan proyek. BTID menunggu investor. Denpost. termasuk melaksanakan kesepakatannya dengan masyarakat Serangan. DRPD Bali Keluarkan Rekomendasi”. Warga Ingin Proyek Dilanjutkan”.Solusi Untuk Masa Depan 5. Namun.

Mengenai proyek BTID. et al. 107 Untuk memperbaiki ekosistem penting. dan sangsi untuk pelanggaran itu harus ditetapkan. Knight. ada buruknya. dengan demikian mencegah kerusakan lebih lanjut. 1995. op cit. pakar lingkungan Made Mangku mengajukan solusi. Pada tingkat pemerintah. semua solusi ini perlu uang yang cukup besar. Pemantauan terumbu karang Serangan baru saja dilakukan oleh Yayasan Bahtera Nusantara untuk Dinas Lingkungan Hidup Denpasar. kebijakan bisa dirumuskan untuk pengelolaannya. 285. 9/8/02. Sayanglah.106 Untuk masalah abrasi. Evaluasi terhadap Amdal yang telah dikeluarkan harus dilakukan untuk mengecek kalau ada pelanggaran. Akan tetapi. Bukan jelek semuanya. hal. Dengan data itu. dengan bantuan dari pihak tertentu (seperti WWF Wallacea Bali). yang diperlukan adalah Amdal kawasan regional.105 Dengan sikap baik dalam masyarakat terhadap kelanjutan proyek. solusi lebih mudah dicarikan. masyarakat Serangan agak fatalistik. Namun.. 5. Sebuah Strategi Pengelolaan Zona Pesisir yang Terpadu direkomendasikan untuk pembangunan dan restorasi lingkungan di zona Teluk Benoa – Pulau Serangan. untuk mengecek kondisinya. tetapi yang benar-benar diselenggarakan. Ada yang bagus”. yaitu bahwa setengah reklamasi di sebelah selatan pulau dibongkar agar tidak terjadi abrasi lagi dan jembatan ditambah 100m lagi biar sirkulasi air laut lebih ‘sempurna’ seperti dulu. 23/9/02. taman penyu yang ada di Serangan dapat dikembangkan menjadi usaha pelestarian dan penetasan penyu yang lebih menurut nilai konservasi. ekosistem terumbu karang susah untuk memperbaiki karena laju pertumbuhannya pelan sekali. seperti Rencana Kawasan Bali yang dirumuskan pada tahun 1969. Akan tetapi. dan itu masyarakat Serangan yang berdampak. maka pemerintah daerah dan BTID seharusnya berdua bertanggungjawab atas permasalahan ini. Untuk penyu. hutan bakau harus ditanam kembali di beberapa lokasi.3 Solusi Lingkungan Kerusakan lingkungan yang telah dan sedang terjadi harus dikaji dan solusi harus dicarikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. yang pada saat ini dengan penurunan ekonomi Indonesia akibat krisis moneter mungkin susah ditemui untuk kebutuhan lingkungan seperti ini. 107 Made Mangku.34 dan mengurangi pengangguran. . kerusakan menjadi semakin parah.. sayanglah juga kerusakan habitatnya di Pulau Serangan susah untuk dikembalikan. menjawabkan. “ada baiknya. 105 106 Pak Made.

LSM dan pemerintah bisa membantu masyarakat Serangan. perubahan budaya. Akan tetapi. akhirnya kasus itu tidak sampai pengadilan karena hubungan antara masyarakat Serangan dan LBH diputuskan. Oleh karena itu. Di tingkat masyarakat. dan di bidang ini susah mencari solusi karena hal ini bersifat sosial daripada materi.35 5. terutama yang tinggal di Banjar Dukuh. yang merupakan “tanah untuk rakyat”. Mereka sekarang mau mengajukan class action sendiri untuk menuntut ganti rugi yang wajar. untuk memaksa BTID mengurus sertifikat untuk tanahnya. Selain itu. Bali. Namun. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali telah mulai mengumpulkan data dari penduduk Serangan yang dikenakan pembebasan tanah untuk kasus hukum melawan BTID dan Kodam. namun tidak ada bantuan dari LSM di Bali. masyarakat Serangan semuanya menyetujukan kelanjutan proyek. 30 Juni 2000.4 Solusi Sosial Budaya Untuk pelanggaran HAM dalam kasus pembebasan tanah secara terpaksa. Akan tetapi. karena kapan saja tanahnya bisa diambil lagi oleh BTID. bukan mementingkan kesejahteraan warga Serangan. Selain itu. pembelahan muncul ketika pemilik tanah meminta ganti rugi daripada tanahnya dikembalikan karena keinginan itu menentang format LBH. solusi jelas – pemilik tanah sedang meminta ganti rugi yang wajar untuk tanahnya. maka perlu bantuan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bali. Denpasar. dan hal ini dianggap oleh LSM-LSM seperti LBH sebagai masyarakat meninggalkan gerakannya. Pemerintah Daerah sudah mengucapkan bahwa instansinya tidak bisa memutuskan tuntutan ganti rugi. pada waktu Pansus BTID DPRD Bali. gerakan masyarakat Serangan harus kuat. “Laporan Kegiatan Diskusi Pengungkapan Kasus Pembebasan Tanah oleh Kodam Udayana di Pulau Serangan di LBH Bali Tanggal 27 Juni 2000”. Untuk solusi di bidang ini. kerusakan telah terjadi. . dengan nama Forum Pemulihan Pertiwi Masyarakat Serangan (F-Pepermas). Orang ini sedang dalam keadaan ketidakpastian tanpa sertifikat. Walaupun ada yang menanggap kasusnya kuat. dan kegangguan hubungan antara masyarakat dan lahannya. LBH Bali akhirnya menyadari bahwa class action pada dasar lingkungan saja bisa diajukan. penduduk ini tidak mampu melakukan hal itu sendiri. yang harus diajukan ke pengadilan. masyarakat Serangan harus dilibatkan penuh 108 Divisi Tanah dan Lingkungan Lembaga Bantuan Hukum Bali. karena hanya kelompok lingkungan mempunyai arti hukum. masyarakat Serangan menanggap LBH mementingkan dirinya dalam membantunya. untuk menghindar kerusakan lebih lanjut. Mengenai kegangguan kesucian Pura Sakenan.108 Juga. dan di tingkat LSM harus ada gerakan terpadu. kelompok pemilik tanah telah dibentuk. Mereka tidak tertarik mengajukan kasus lingkungan karena dipikirkan kasus tersebut tidak akan memanfaatkannya.

Hal ini sangat penting dalam merumuskan solusi untuk Pulau Serangan. masyarakat masih ada perasaan keadaan tak berdaya untuk memutuskan nasib pulaunya sendiri. pada tahun 1998. penduduk bisa bekerja di sana. suatu responden menjawab. 16/7/98. 16/7/98. Ketika ditanyakan mengenai sikapnya tentang proyek BTID. 25/9/02. Pemerintah Daerah Bali merumuskan program padat karya di Bali. karena ditolak oleh pihak Serangan yang sudah tahu membudidayakan rumput laut tidak berhasil di Pulau Serangan karena kondisi lingkungan kurang cocok. .112 Dengan demikian. 111 Lihat “SKPPLH Khawatirkan Pengembangan Rumput Laut di Pulau Serangan”. Semuanya terserah BTID. Bali Post. tetapi supaya berhasil harus ada masukan dari masyarakat. dengan demikian bisa menjadikan solusi untuk permasalahan lain seperti konflik masyarakat dan terisolisasi masyarakat karena akan memperkembangkan permusyawaraan antar-pihak. Dulu. supaya yang kehilangan mata pencaharian akibat proyek BTID bisa memasuki bidang pekerjaan lain. Nusa Tenggara. dan ternyata hanya tahu adanya proyek ketika tanahnya mulai dibebaskan. 5.”109 Perasaan ini harus diganti melalui pemberdayaan masyarakat seperti keterlibatannya dalam proses pemutusan. salah seorang Serangan menuntut bahwa minimal 10% dari hasil reklamasi menjadi hak pengelolaan secara penuh Desa Adat Serangan sebagai ganti rugi direklamisasinya pantai Pulau Serangan yang merupakan sumber kehidupan para nelayan pesisir. Lanjutkan. Kita akan terima saja. Saya terima. Dari awalnya proyek masyarakat tidak terlibat dalam proses perencanaan. Sekarang. 26/9/02.36 dalam pengambilan keputusan untuk pulaunya. Tidak bisa bilang apa-apa. “Tidak bisa bilang setuju atau tidak setuju. BTID harus terpaksa menyediakan sarana dan fasilitas pendidikan sesuai yang tertuang dalam kesepakatan. asalkan ada pelatihan perkerjaan dari BTID. termasuk budidaya rumput laut di Pulau Serangan. Juga. Solusi jangka panjang harus dirumuskan untuk mengurangi dampak proyek yang buruk pada ekonomi Serangan.110 Program ini akhirnya tidak ada kelanjutan. Kalau proyek dilanjutkan. 111 Program seperti ini sangat diperlukan penduduk Serangan segera untuk mengurangi pengangguran. “Arsana Dukung Gerakan Pemuda Serangan”. Kalau proyek dilanjutkan atau tidak dilanjutkan. 109 110 Bapak Mini. di jangka pendek mata pencaharian alternatif harus diciptakan untuk penduduk Serangan sambil proyek BTID tidak berjalan. 112 Wayan Patut.6 Solusi Ekonomi Di bidang ekonomi. ekonomi Serangan bisa diperbaiki. tidak lanjutkan.

‘Kain sosial’ telah berubah. dan pemimpin grop investornya merupakan anggota keluarga Suharto.37 Penyelesaian lain untuk meningkatkan ekonomi Serangan adalah untuk mengembalikan seluruh tanah kepada masyarakat Serangan supaya dapat digunakan untuk kegiatan produksi lagi. 115 Wayan Patut menyetujui ide ini. seperti: Taman Wisata. “Konsep Kemitraan Pilar Pelestarian dan Pengembangan Pulau Serangan”. dan beberapa fasilitas lainnya yang mencerminkan wujud budaya Bali. seperti keadaan Indonesia yang masih penuh ketidakpastian selama era reformasi ini. proyek juga ‘turun’ seperti Suharto dan keluarganya pada tahun 1998. 115 Made Mangku. W. sekolah kejuruan.113 Sebaliknya. Nusa Tenggara. perubahan 113 114 Wayan Darta. dan sudah menulis dokumen “Konsep Kemitraan Pilar Pelestarian dan Pengembangan Pulau Serangan” yang mengembangkan ide ini. lapangan olah raga. rumah sakit. Akhirnya. Kerusakan lingkungan sekitar Pulau Serangan yang diakibatkan pengerukan dan penimbunan BTID yang kebanyakannya tidak sesuai Amdal. menyebabkan kehilangan mata pencaharian untuk 85% penduduk yang merupakan nelayan pesisir. ide ini perlu modal dan dukungan dari Pemerintah Daerah yang keduanya belum ada. 21 Juni 2002. “masyarakat tidak bisa bekerja sendiri – perlu bantuan pihak lain”. “Warga Serangan Tuntut Pemprov Kembalikan Tanahnya”. yang lebih bermanfaat adalah kalau masyarakat diberi saham ataukah Pemerintah Daerah mengambilalih aset BTID tersebut. bukan resort karena sudah ada cukup banyak resort di Bali yang tidak bisa memenuhi kamarnya.114 Made Mangku mengajukan ide untuk membuat taman rekreasi atau kebun binatang. dan ekonomi untuk masyarakat Serangan. . keadaan untuk masyarakat Serangan juga tidak meningkat. Pemilik tanah mengalami kerugian karena tanahnya dibebaskan secara terpaksa dengan ganti rugi tidak sesuai yang nanti hilang ketika bank-bank terkena likuidasi. akuarium besar. 23/9/02. Pulau Serangan. Pusat Pasar Usaha Kecil Menengah. Taman Kebudayaan dan Spiritual. dengan kegangguan terhadap kesucian pura dan lahannya. telepon. sosial. yang merupakan wong cilik dalam skema besar Suharto. Namun. Bab VI – Penutup Proyek BTID merupakan contoh kewarisan dari era Suharto. 12/9/02.116 Walaupun ide-ide ini ada potensi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Serangan dengan mewujudkan industri pariwisata di pulaunya. Ada kasus pelanggaran HAM dan pelanggaran Amdal yang menyebabkan kerusakan lingkungan. F-PeperMas. Bali. 116 Patut. wisata bahari. Proyek ‘raksasa’ ini didukung oleh pihak militer.. Sarana Umum seperti terminal desa. Namun. 30/1/01. seperti dikatakan Lurah Serangan.

walaupun proyek BTID berhenti. dan masyarakat menunggu BTID. Masyarakat Serangan harus diperankan dulu. Sekarang. Berbagai solusi telah diajukan. dan munculnya konflik dalam masyarakat. sosial. Sebenarnya. yang tidak digantirugikan secara moneter atau oleh jalan penyeberangan yang kononnya membuka kesempatan pekerjaan di daratan Bali. Akhirnya. penduduk Serangan mengalami kerugian besar. yang dulunya menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat Serangan.38 budaya pesisir. kebanyakan lahan Pulau Serangan ‘kosong’ – BTID menunggu investor. warga Serangan masih menginginkan proyek BTID bisa dilanjutkan pada pulaunya. Solusi harus ditemui supaya Pulau Serangan. seharusnya bertanggungjawab kalau proyeknya dilanjutkan atau tidak dilanjutkan. yang sudah dijadikan ‘bubur’. akibat kehilangan mata pencaharian utama sebagai nelayan pesisir. Solusi harus ditemui supaya permasalahan lingkungan. tetapi pada dasarnya pihak BTID. dan ekonomi yang diakibatkan proyek BTID bisa dihentikan. dengan harapan proyek itu akan memberi keuntungan dan kesejahteraan. karena bagaimanapun pihak BTID yang menyebabkan masyarakat kesusahan didalam memenuhi kebutuhan hidup. bisa dikasih ‘gula’ supaya kehidupan masyarakat Serangan lebih ‘enak’. Permasalahan ini berlangsung. .

14/9/02. Cipta Taman Penyu. 24/9/02. Bapak Kari. Carol Warren. 23/9/02. 23/9/02. Made Sugita. Kepala Lingkungan Banjar Dukuh Pulau Serangan. Ibu Mary. 25/9/02. Ibu Mini dan Ibu Yogi. 23/9/02. I Wayan Darta. 24/9/02. I Made Mangku Kantor Sekretariat Kerja Penyelemat dan Pelestarian Lingkungan Hidup. Pemangku Pura Sakenan. Pulau Serangan. Pak Rontang Pulau Serangan. Wayan Losmen Pulau Serangan. Wayan Patut Pulau Serangan. I Wayan Raga. 15/9/02. 15/9/02. Lurah Serangan Kantor Kelurahan Serangan. 12/9/02. 16/10/02. Assisten Ketua Kelompok Nelayan Mina Cipta Karya II Pulau Serangan. Mas Made Pulau Serangan. 17/9/02. Bapak dan Ibu Mini Pulau Serangan. Ketua Kelompok Nelayan Mina Cipta Karya II Pulau Serangan. Bapak Bawa. Bendesa Adat Serangan PT. 25/9/02. Made Karsa. Sanur 9/8/02. 25/9/02. 23/9/02. 23/9/02.39 DAFTAR PUSTAKA Wawancara Dr. 21/8/02. Kelompok Pedagang Pantai Timur Pantai Timur. Bapak Made Pulau Serangan. Wayan Kondra. Arya Widana Pulau Serangan. 23/9/02. Mantan Wakil Bendesa Adat Pulau Serangan. Perth. Dr. 25/9/02. Pulau Serangan. 26/9/02. Murdoch University. 15/9/02. 12/11/02. Murdoch University Sanur. . 24/9/02.

Kuala Lumpur: Oxford University Press. Working Paper No. 1995. Nusa Tenggara . 16/7/98. Nusa Tenggara. 26/9/97. S.) 1998. 16/7/98. Robinson. “NBR dan BTID Langgar Amdal”. Biro Pusat Statistik. Bali: Balancing Environment. 27/8/98. Jakarta: BPS. 1995. S. Warren. Putra. “Hendro Tak Berani Beri Kepastian”. Bali Post. 1995. Pengambilan Batu Karang Di Pulau Serangan”. Bali Post. WWF Indonesia Wallacea Program Email pribadi – 2/11/02 Windy. dan Warren. The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali. Bali Post. The Politics of Environment in SE Asia: Resources and Resistance. C. Murdoch University. dan Mitchell. G. Department of Marine Science and Coastal Management. biologis marin di Yayasan Bahtera Nusantara. 25/8/98. 7/8/98 “Arsana: Sedang Negosiasi”. The Impact of Coral Mining on Coral Reef Condition in the East and South Coast of Bali Indonesia. 58. P. Perth. Canada: University of Waterloo Department of Geography Publication Series. Literatur Aditjondro. Bali. Bali Post. Bali Post. G. Economy and Culture. Ontario. B. 16/9/98 . USA: Cornell University Press. Bali Post. “Lurah Serangan Dituntut Mundur”. Centre for Tropical Coastal Management. K. Statistik Dalam 50 Tahun Indonesia Merdeka.40 Icha. Nusa Tenggara. Turtle Campaign Team. University of Newcastle Upon Tyne. “Arsana Dukung Gerakan Pemuda Serangan”. 1995. Hirsch. Warga Serangan Protes”. 1992. 1995. Martopo. Political and Economic Change. (Eds. 11/10/97. “Marak. “Setra Diincar Investor. London: Routledge. Asia Research Centre on Social. Jakarta’s Colony: Social and Ecological Impacts of JakartaBased Conglomerates in Bali’s Tourism Industry. “SKPPLH Khawatirkan Pengembangan Rumput Laut di Pulau Serangan”. Denpasar Email pribadi – 20/2/03. Artikel-Artikel Surat Kabar: “Kisah Duka Dari Pulau Serangan: Pan Lobeng Kelaparan Kalau Tidak Ngebon”. Adat and Dinas: Balinese Communities in the Indonesian State. Ithaca. C. 2/9/98.

Nusa Tenggara. Bali Post.2. 13/4/00. FPAMS Perjuangkan Reklaiming Serangan”. Bali. “Pokok-Pokok Pikiran Proyek Pelestarian dan Pengembangan Pariwisata Pulau Serangan”. Kepada: Ketua Panitia Khusus Evaluasi Proyek PT. “Nasib Warga Serangan Makin Tak Jelas”.I / 20-27 Juli 2000. 25/3/00. Warga Ingin Proyek Dilanjutkan”. Nusa Tenggara. “Pembuat Amdal Harus Bertanggungjawab”. Bali Post. 20/3/00. “Proyek BTID Perlu Dikaji Ulang”. “Kodam IX/Udayana tak Pernah Ikut Campur”. “Keluarga Cendana Diminta Melepas Saham”. Denpost. Edisi 4 Th. Surat 550. “Jangan Korbankan Bali Untuk Pariwisata”. “Jembatan BTID Diusulkan 200 Meter”. 26/6/00.41 “Bongkar Reklamasi atau Ganti Bupati dan DPRD”. 6/5/00. “Akhirnya. Divisi Tanah dan Lingkungan Lembaga Bantuan Hukum Bali. “Lagi. Denpasar. “Enam Warga Serangan Ancam Laporkan BTID ke Polisi”. DenPost. BTID di wilayah Kelurahan Serangan. DRPD Bali Keluarkan Rekomendasi”. 8/7/00. Januari 1990. 15/7/00. “Merasa Ditipu. “Pansus BTID Gelar Dialog. “Pengacara F-Pepermas akan Menghadap Panglima”. 11/7/00. Dokumen Lain Badan Pertanahan Nasional Kantor Pertanahan Kotamadya Denpasar. “Warga Serangan Ancam Laporkan PT BTID ke Polisi”. DenPost. 17/5/01. BTID. “Reklaiming Lahan BTID Dipersoalkan”. “DPRD Bali Bentuk Pansus Evaluasi Proyek BTID”. 7/4/01. 30 Juni 2000. Bali. 30/1/01. 6/5/00. Nusa Tenggara. Tempo.61-1369-DPS. 19/1/01. Nusa Tenggara. Perihal: data-data perolehan tanah oleh PT. DenPost. Denpasar. 25 Agustus 2000. 7/4/01. 26/9/00. Bali Post. BTID Dilaporkan ke Polda”. Bali. Denpasar. . Nusa Tenggara. DenPost. “Hutan Bakau Suwung Diserobot 26 Lembaga”. 5/1/01. Bali Post. Radar Bali. Komando Daerah Militer IX Udayana. DenPost. Bali Post. “Ancaman Lingkungan pada Proyek BTID” (Surat Pembaca). “Laporan Kegiatan Diskusi Pengungkapan Kasus Pembebasan Tanah oleh Kodam Udayana di Pulau Serangan di LBH Bali Tanggal 27 Juni 2000”. Suluh Rakyat. 12/1/01. Sinar Bali. 7/4/01. “Warga Serangan Tuntut Pemprov Kembalikan Tanahnya”. 27-29 Juli 2001.

Pulau Serangan. 1992. Kepada: Kantor Wilayah Departmen Kehutanan Propinsi Bali. Surat BTID 141/BTID-1/Dirut-BG/2. Kepada Gubernur Bali. W. University of Wollongong. 8 Agustus 1990. dan Suwitha. Bali. Bali. Australia. Kantor Bappeda Kodya Denpasar. “Serangan Island and Benoa Bay: A Cultural.75/Bd/1990 – “Surat Pernyataan Penyerahan Hak Milik Atas Tanah. Raga. G. Monografi Kelurahan Serangan. Nomor 046/BTID-MOU/1998. Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta. Patut. Jakarta. 28 Juni 2001. LeProvost Dames and Moore. Perihal: Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan Seluas 80. Kotamadya Denpasar”. Denpasar. Perihal: Realisasi Pembangunan Jembatan ke Pulau Serangan. Agustus 2002. Panitia Pembebasan Tanah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung. 4 September 1998.. Denpasar. Manik. Bali. P. “Proposal PT. Bali Turtle Island Development Serangan Island Feasibility Study Internal Assessment of Concept Plan 3C”. F-Pepermas.. Illawara Technology Corporation. 22 Maret 2000. B. Denpasar Selatan. A.. PT.A. “Konsep Kemitraan Pilar Pelestarian dan Pengembangan Pulau Serangan”. Patut. “Presentasi di Rapat Pembahasan Pelakasanaan Amdal Pengembangan Pulau Serangan”.. Bali. “Executive Summary”.42 Lembaga Penelitian Universitas Udayana. 12 Agustus 1997. Pulau Serangan. Bali. 14 Oktober 1998. Surat 904/MENHUT_II/97. Kecamatan Denpasar Selatan. Bali. “Analisis Dampak Lingkungan Pengembangan Pulau Serangan Kelurahan Serangan. Kabupaten Badung. “Perjanjian Antara PT.. Propinsi Bali”. Bali Turtle Island Development Dengan Masyarakat Kelurahan Serangan”.14 ha untuk Pengembangan Pariwisata atas nama PT. 1995. Citra Taman Penyu Kelurahan Serangan Kodya Denpasar Propinsi Bali”. BTID. Australia. Juni 2000. Social and Economic Description”. 21 Juli 2002. “Kronologis Kasus Pulau Serangan”. “PT. Tanaman dan Bangunan Yang Ada Diatasnya Beserta Daftar Lampiran dan Juga Merupakan Daftar Pembayaran Ganti Ruginya yang Terkena Lokasi Pengembangan Obyek Pariwisata Oleh Komando Daerah Militer IX Udayana Terletak Di Pulau Serangan. Bali Turtle Island Development. W. Triyanto. T. Perth. Surat 02/PLH/15.. Vickers. 5 Januari 2001. . Forum Pemulihan Pertiwi Masyarakat Serangan (F-Pepermas). Denpasar. W. Agustus 1994. Pebruari 2002. “Usulan Program Pemulihan Lingkungan Melalui Pengembangan Tanaman Produktif dan Tanaman Penghijauan”.

. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan Pedoman Pelaksanaannya. Undang-Undang Republik Indonesia No.43 Dokumen Pemerintah: PP No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.