Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

Asupan Garam Pada Pasien Gagal Jantung

Disusun oleh: Yonatha Novara Pretysta 082011101025

Dokter Pembimbing: dr. Dandy , Sp.JP.FIHA

Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya Lab/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK UNEJ - RSD dr.Soebandi Jember

SMF ILMU PENYAKIT DALAM RSD dr. SOEBANDI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

2012

BAB I. PENDAHULUAN I. Latar Belakang Gagal jantung merupakan kelainan multisitem dimana terjadi gangguan pada jantung, otot skelet dan fungsi ginjal, stimulasi sistem saraf simpatis serta perubahan neurohormonal yang kompleks. Kematian akibat penyakit kardiovaskuler khususnya gagal jantung adalah 27 %. Sekitar 3 - 20 per 1000 orang mengalami gagal jantung, angka kejadian gagal jantung meningkat seiring pertambahan usia (100 per 1000 orang pada usia di atas 60 tahun. Dari hasil penelitian Framingham pada tahun 2000 menunjukkan angka kematian dalam 5 tahun terakhir sebesar 62% pada pria dan 42% wanita, berdasarkan data dari di Amerika terdapat 3 juta penderita gagal jantung dan setiap tahunnya bertambah dengan 400.000 orang, sedangkan untuk di Indonesia angka kejadian gagal jantung menyebab kematian nomor satu, padahal sebelumnya menduduki peringkat ketiga. Gagal jantung dapat disebabkan oleh beberapa factor yang dapat dihindari dan yang tidak dapat dihindari. Faktor - faktor penyebab gagal jantung diantaranya adalah kebiasaan merokok, diabetes, hipertensi, kolestrol, kelebihan berat badan hingga stress. Ada tiga faktor lainnya yang tidak bisa dihindari oleh manusia yakni faktor keturunan dan latar belakang keluarga, faktor usia dan jenis kelamin yang banyak ditemui pada kasus kegagalan jantung (Brunner & Suddart, 2002). Selain hipertensi, penyebab gagal jantung adalah kelainan otot jantung, ateriosklerosis dan peradangan pada miokardium. Hal ini didukung oleh pendapat Gray (2003), bahwa penyebab lainnya adalah aritmia, mengkonsumsi Obat-obatan yang berlebihan, mengkonsumsi alkohol, sepsis, hipertiroid, gagal ginjal, dan emboli paru. Pembatasan jumlah Natrium yang dikonsumsi merupakan andalan terapi nonfarmakologi untuk gagal jantung kongestif, meskipun tidak ada bukti pasti

yang membuktikan bahwa pembatasan natrium saja dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Akan tetapi menurut beberapa penelitian pembatasan konsumsi Natrium dapat mengurangi terjadinya hipertensi dan hipertrofi ventrikel kiri, serta gagal jantung kongestif. Asupan garam telah menurun, namun dengan peningkatan yang besar baru-baru ini dalam konsumsi makanan olahan yang sangat asin, asupan garam kini meningkat lagi. Asupan garam saat ini di banyak negara adalah antara 9 dan 12 g / hari. Hal ini menimbulkan suatu tantangan besar bagi sistem fisiologis tubuh kita untuk mengeluarkan jumlah ini besar garam melalui ginjal. Konsekuensinya adalah terjadinya kenaikan tekanan darah (Blood preasure) yang bertahap sehingga dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit ginjal. Selain itu, asupan garam yang tinggi memiliki efek langsung pada stroke, ventrikel kiri hipertrofi (LVH), perkembangan penyakit ginjal dan proteinuria, independen namun aditif untuk efek garam pada tekanan darah. Ada juga bukti bahwa asupan garam yang tinggi secara tidak langsung berhubungan dengan obesitas melalui peningkatan konsumsi minuman ringan I.2 Tujuan Tujuan penyusunan referat ini adalah: Memberikan informasi tentang pengaruh asupan garam pada pasien gagal jantung. I.3 Manfaat Manfaat referat ini antara lain adalah: 1. Memberikan informasi tentang pengaruh asupan garam pada pasien gagal jantung. 2. Memberikan informasi tentang definisi, etiologi, macam, patogenesis, diagnosis, pencegahan, dan pengobatan pada Gagal Jantung.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gagal Jantung Jantung merupakan suatu organ otot berongga yang terletak di pusat dada. Bagian kanan dan kiri jantung masing-masing memiliki ruang sebelah atas (atrium yang mengumpulkan darah dan ruang sebelah bawah (ventrikel) yang mengeluarkan darah. Agar darah hanya mengalir dalam satu arah, maka ventrikel memiliki satu katup pada jalan masuk dan satu katup pada jalan keluar. Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida). Jantung melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida. Jantung kemudian mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh.

Definisi

Gagal jantung merupakan suatu keadaan dimana jantung tidak dapat lagi memompa darah ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme

tubuh, walaupun darah balik masih dalam keadaan normal. Dengan kata lain, gagal jantung merupakan suatu ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh (forward failure) atau kemampuan tersebut hanya dapat terjadi dengan tekanan pengisian jantung yang tinggi (backward failure) atau keduanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gagal jantung adalah kontraktilitas miokard, denyut jantung (irama dan kecepatan/ menit) beban awal dan beban akhir. 2.2. Etiologi Gagal Jantung Menurut beberapa penelitian penyakit jantung disebabkan oleh beberapa hal yaitu usia, jenis kelamin, konsumsi garam berlebihan, keturunan, hiperaktivitas system syaraf simpatis, stress, obesitas, olahraga tidak teratur, merokok, konsumsi alcohol dan kopi berlebihan. Selain itu, hipertensi, ischaemic heart disease, konsumsi alkohol, Hypothyroidsm, penyakit jantung kongenital (defek septum, atrial septal defek, ventrical septal defek), Kardiomiopati (dilatasi, hipertropik, restriktif), dan infeksi juga dapat memicu timbulnya gagal jantung. 2.3. Macam Gagal Jantung Gagal jantung akut didefinisikan sebagai serangan cepat dari gejalagejala atau tanda-tanda akibat fungsi jantung yang abnormal. Dapat terjadi dengan atau tanpa adanya sakit jantung sebelumnya. Disfungsi jantung bisa berupa disfungsi sistolik atau disfungsi diastolik . Diagnosis gagal jantung akut ditegakkan berdasarkan gejala dan penilaian klinis, didukung oleh pemeriksaan penunjang seperti EKG, foto thoraks, biomarker dan ekokardiografi Doppler. Pasien segera diklasifikasikan apakah disfungsi sistolik atau disfungsi diastolik. 2.3.2 Gagal Jantung Kronik

2.3.1 Gagal Jantung Akut

Gagal jantung adalah suatu kondisi patofisiologi, dimana terdapat kegagalan jantung memompa darah yang sesuai dengan kebutuhan jaringan. Gagal jantung kronis juga didefinisikan sebagai sindroma klinik yang komplek yang disertai keluhan gagal jantung berupa sesak, fatique baik dalam keadaan istirahat maupun beraktifitas. 2.4 Patogenesis Gagal Jantung Pada gagal jantung terjadi suatu kelainan multisistem dimana terjadi gangguan pada jantung, otot skelet dan fungsi ginjal, stimulasi sistem saraf simpatis serta perubahan neurohormonal yang kompleks. Pada disfungsi sistolik terjadi gangguan pada ventrikel kiri yang menyebabkan terjadinya penurunan cardiac output. Hal ini menyebabkan aktivasi mekanisme kompensasi neurohormonal, sistem Renin Angiotensin Aldosteron (system RAA) serta kadar vasopresin dan natriuretic peptide yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan jantung sehingga aktivitas jantung dapat terjaga. Aktivasi sistem simpatis melalui tekanan pada baroreseptor menjaga cardiac output dengan meningkatkan denyut jantung, meningkatkan kontraktilitas serta vasokons-triksi perifer (peningkatan katekolamin). Apabila hal ini timbul berkelanjutan dapat menyeababkan gangguan pada fungsi jantung. Aktivasi simpatis yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya apoptosis miosit, hipertofi dan nekrosis miokard fokal. Stimulasi sistem RAA menyebabkan penigkatan konsentrasi renin, angiotensin II plasma dan aldosteron. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor renal yang poten (arteriol eferen) dan sirkulasi sistemik yang merangsang pelepasan noradrenalin dari pusat saraf simpatis, menghambat tonus vagal dan merangsang pelepasan aldosteron. Aldosteron akan menyebabkan retensi natrium dan air serta meningkatkan sekresi kalium. Angiotensin II juga memiliki efek pada miosit serta berperan pada disfungsi endotel pada gagal jantung

Terdapat tiga bentuk natriuretic peptide yang berstruktur hampir sama yang memiliki efek yang luas terhadap jantung, ginjal dan susunan saraf pusat. Atrial Natriuretic Peptide (ANP) dihasilkan di atrium sebagai respon terhadap peregangan menyebabkan natriuresis dan vasodilatsi. Pada manusia Brain Natriuretic Peptide (BNO) juga dihasilkan di jantung, khususnya pada ventrikel, kerjanya mirip dengan ANP. C-type natriuretic peptide terbatas pada endotel pembuluh darah dan susunan saraf pusat, efek terhadap natriuresis dan vasodilatasi minimal. Atrial dan brain natriuretic peptide meningkat sebagai respon terhadap ekspansi volume dan kelebihan tekanan dan bekerja antagonis terhadap angiotensin II pada tonus vaskuler, sekresi aldosteron dan reabsorbsi natrium di tubulus renal. Karena peningkatan natriuretic peptide pada gagal jantung, maka banyak penelitian yang menunjukkan perannya sebagai marker diagnostik dan prognosis, bahkan telah digunakan sebagai terapi pada penderita gagal jantung. Vasopressin merupakan hormon antidiuretik yang meningkat kadarnya pada gagal jantung kronik yang berat. Kadar yang tinggi juga didpatkan pada pemberian diuretik yang akan menyebabkan hiponatremia Endotelin disekresikan oleh sel endotel pembuluh darah dan merupakan peptide vasokonstriktor yang poten menyebabkan efek vasokonstriksi pada pembuluh darah ginjal, yang bertanggung jawab atas retensi natrium. Konsentrasi endotelin-1 plasma akan semakin meningkat sesuai dengan derajat gagal jantung. Disfungsi diastolik merupakan akibat gangguan relaksasi miokard, dengan kekakuan dinding ventrikel dan berkurangnya compliance ventrikel kiri menyebabkan gangguan pada pengisian ventrikel saat diastolik. Penyebab tersering adalah penyakit jantung koroner, hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri dan kardiomiopati hipertrofik, selain penyebab lain seperti infiltrasi pada penyakit jantung amiloid. Walaupun masih kontroversial, dikatakan 30 40 % penderita gagal jantung memiliki kontraksi ventrikel yang masih normal. Pada penderita gagal jantung sering ditemukan disfungsi sistolik dan diastolic yang timbul bersamaan meski dapat timbul sendiri.

2.5. Diagnosis Gagal Jantung Diagnosis gagal jantung dapat dilakukan dengan dengan pemeriksaan fisik dan penunjang. Gejala yang didapatkan pada pasien dengan gagal jantung antara lain sesak nafas, Edema paru, peningkatan JVP , hepatomegali , edema tungkai. Pada pemeriksaan foto toraks seringkali menunjukkan kardiomegali (rasio kardiotorasik (CTR) > 50%), terutama bila gagal jantung sudah kronis. Kardiomegali dapat disebabkan oleh dilatasi ventrikel kiri atau kanan, LVH, atau kadang oleh efusi perikard. Derajat kardiomegali tidak berhubungan dengan fungsi ventrikel kiri. Elektrokardiografi memperlihatkan beberapa abnormalitas pada sebaigian besar pasien (80-90%), termasuk gelombang Q, perubahan ST-T, hipertropi LV, gangguan konduksi, aritmia. Ekokardiografi harus dilakukan pada semua pasien dengan dugaan klinis gagal jantung. Dimensi ruang jantung, fungsi ventrikel (sistolik dan diastolik), dan abnormalitas gerakan dinding dapat dinilai dan penyakit katub jantung dapat disinggirkan. Tes darah dirkomendasikan untuk menyinggirkan anemia dan menilai fungsi ginjal sebelum terapi di mulai. Disfungsi tiroid dapat menyebabkan gagal jantung sehingga pemeriksaan fungsi tiroid harus selalu dilakukan. Pencitraan radionuklida menyediakan metode lain untuk menilai fungsi ventrikel dan sangat berguna ketika citra yang memadai dari ekokardiografi sulit diperoleh. Pemindahan perfusi dapat membantu dalam menilai fungsional penyakit jantung koroner. 2.6. Penanganan Tujuan umum penanganan gagal jantung adalah: meniadakan tanda klinik seperti batuk dan dispne, memperbaiki kinerja jantung sebagai pompa, menurunkan beban kerja jantung, dan mengontrol kelebihan garam dan air. Obat yang digunakan untuk penanganan gagal jantung bervariasi tergantung pada etiologi, keparahan gagal jantung, spesies penderita, dan faktor lainnya. Untuk mencapai tujuan dalam penanganan gagal jantung dapat dilakukan dengan cara:

Membatasi aktivitas fisik. Latihan/aktivitas akan meningkatkan beban jantung dan juga meningkatkan kebutuhan jaringan terhadap oksigen. Pada pasien yang fungsi jantungnya mengalami tekanan, latihan dapat menimbulkan kongesti. Karena itu maka kerja jantung harus diturunkan dengan istirahat atau membatasi aktivitas..

Membatasi masukan garam. Pada pasien yang mengalami CHF, aktivitas renin-angiotensi-aldosteron mengalami peningkatan. Hal tersebut akan merangsang ginjal untuk menahan natrium dan air sehingga ekskresi natrium dan air akan berkurang. Bila ditambah pakan yang mengandung natrium tinggi maka retensi air dan peningkatan volume darah akan semakin parah, dan pada gilirannya akan menimbulkan kongesti dan edema.

Menghilangkan

penyebab

atau

faktor

pemicu

gagal

jantung.

Menghilangkan penyebab gagal jantung merupakan tindakan yang paling baik. Malformasi kongenital seperti patent ductus arteriosus dapat diperbaiki dengan cara operasi dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Ballon valvuloplasti telah berhasil digunakan untuk menangani stenosis katup pulmonik. CHF yang disebabkan oleh penyakit perikardium dapat ditangani sementara atau permanen dengan perikardiosentesis atau perikardektomi. Tetapi sayangnya hal tersebut sering tidak mungkin dilakukan dengan berbagai alasan. Menurunkan preload. Karena adanya retensi garam dan air oleh ginjal pada pasien CHF, maka preload jantung pada umumnya tinggi. Hal tersebut akan mengakibatkan kongesti pada sistem sirkulasi. Oleh karena itu, penurunan preload akan menurunkan kongesti dan edema pulmoner, yang akan memperbaiki pertukaran gas pada paru-paru pada kasus CHF jantung kiri, dan menurunkan kongesti vena sistemik dan asites pada CHF jantung kanan. Preload ditentukan oleh volume cairan intravaskular dan tonus vena sistemik.

2.7. Pengobatan Gagal Jantung Pengobatan dilakukan agar penderita merasa lebih nyaman dalam melakukan berbagai aktivitas fisik, dan bisa memperbaiki kualitas hidup serta meningkatkan harapan hidupnya. Pendekatannya dilakukan melalui 3 segi, yaitu mengobati penyakit penyebab gagal jantung, menghilangkan faktor-faktor yang bisa memperburuk gagal jantung dan mengobati gagal jantung. Tujuan pengobatan gagal jantung adalah untuk mengurangi gejala-gejala gagal jantung sehingga memperbaiki kualitas hidup penderita. Cara dan golongan obat yang dapat diberikan antara lain mengurangi penumpukan cairan (dengan pemberian diuretik), menurunkan resistensi perifer (pemberian vasodilator), memperkuat daya kontraksi miokard (pemberian inotropik). 2.8. Hubungan Antara Garam dengan hipertensi Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik yaitu 140 atau diastolik 90 mmHg. Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa, pasien dengan hipertensi memiliki kemungkinan untuk menderita stroke (sebesar 62%) dan jantung koroner ( sebesar 49%). Namun, risiko tidak terbatas hanya pada orang-orang dengan hipertensi namun seluruh kisaran tekanan darah, mulai dari 115/75 mmHg. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asupan tinggi garam, konsumsi rendah buah dan sayuran (misalnya asupan kalium rendah), obesitas, konsumsi alkohol berlebihan, dan kurangnya latihan fisik semua berkontribusi pada pengembangan tekanan darah tinggi. Namun, keragaman dan kekuatan bukti yang jauh lebih besar untuk garam daripada faktor-faktor lainnya. Bukti garam berasal dari studi pada hewan, genetika manusia, epidemiologi, migrasi, intervensi berdasarkan populasi, dan uji coba pengobatan. Penelitian-penelitian telah secara konsisten menunjukkan bahwa asupan diet garam adalah penyebab utama tekanan darah meningkat. Studi terbaru menunjukkan bahwa pengurangan konsumsi garam memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan tekanan darah. Selain itu,

penurunan tekanan darah adalah sebesar atau lebih besar untuk asupan garam pada atau di bawah tingkat yang direkomendasikan 5-6 g / hari. Garam merupakan sumber sodium yang utama dan faktor utama penyebab meningkatnya tekanan darah atau hipertensi yang dapat berkembang menjadi penyakit-penyakit kardiovaskuler. Hipertensi terjadi jika ada peningkatan volume darah dan penyemputan pembuluh darah yang memaksa kerja jantung untuk memompa darah dan nutrisi. Garam menyebabkan tubuh menhan air dengan tingkat melebihi ambang batas normal tubuh sehingga dapat meningkatkan volume darah dan tekanan darah tinggi. Angka kematian ini bisa dicegah dengan merubah pola makan misalnya mengurangi asupan sodium. Meskipun sodium terkandung dalam garam namun 80% kandungan sodium terdapat pada makanan yang diproses atau makanan kemasan.Mengurangi konsumsi garam menjadi 6 gr per hari dapat menurunkan resiko stroke hingga 24%. Dengan begitu pengurangan asupan garam secara nasional adalah cara paling cepat dan murah untuk mencegah penyakit kardiovaskuler, imbuhnya. Dalam hal ini peran aktif masyarakat sangat diperlukan untuk menurunkan angka kematian akibat kardiovaskuler. Selain pada garam sumber sodium yang perlu diwaspadai berasal dari penyedap masakan (MSG). Budaya masyarakat Indonesia dalam menggunakan MSG di setiap masakan sangat megkhawatirkan. Belum lagi jajanan bebas seperti bakso, soto atau makanan kemasan. Tanpa disadari, asupan garam per hari sangat tinggi yang dapat memicu tekanan darah semakin meningkat 2.9. Asupan Garam pada Gagal Jantung Banyak bukti yang menunjukan adanya hubungan kausal antara asupan garam dan tekanan darah (Blood Preasure). Saat ini asupan garam di banyak negara adalah antara 9 dan 12 g / hari. Penurunan asupan garam ke tingkat yang direkomendasikan dari 5-6 g / hari dapat menurunkan tekanan darah pada individu dengan hipertensi maupun pada penderita dengan tekanan darah normal. Penurunan lebih lanjut untuk g 3-4 / hari memiliki efek yang jauh lebih besar. Beberapa studi menunjukkan bahwa asupan garam yang lebih rendah dapat

dikaitkan dengan penurunan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Selain itu, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa asupan garam yang tinggi berhubungan secara langsung dengan terjadinya hipertrofi ventrikel kiri (LVH) independen. Tingginya tekanan darah dan hipertrofi ventrikel kiri merupakan faktor risiko penting untuk gagal jantung. Oleh karena itu asupan garam yang lebih rendah dapat mencegah perkembangan gagal jantung. Pada pasien yang sudah mengalami gagal jantung, asupan garam yang tinggi dapat memperburuk retensi garam dan air, sehingga dapat memperburuk gejala gagal jantung dan perkembangan penyakit yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa asupan garam yang rendah dapat memainkan peran penting dalam pengelolaan gagal jantung. Meskipun demikian, saat ini belum ada bukti yang jelas mengenai sejauh mana asupan garam harus dikurangi pada gagal jantung. Menurut beberapa penelitian, pasien harus mengurangi asupan garam mereka untuk <5 g / hari, yaitu asupan maksimum yang disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia untuk semua orang dewasa. Jika asupan garam berhasil dikurangi, mungkin ada kebutuhan untuk pengurangan dosis diuretik. 2.10. Diet Pada Pasien Gagal Jantung Di Indonesia menurut data dari Indonesian Society of Hypertension asupan garam harian mencapai 15 gr hingga dua kali liat yang direkomendasikan WHO yaitu 5 sampai 6 gr per hari. Ada tiga tahap diet rendah garam yakni terdiri dari diet ringan (konsumsi garam 3,75-7,5 gram per hari), menengah (1,25-3,75 gram per hari) dan berat (kurang dari 1,25 gram per hari). 1. Diet Rendah Garam Yang dimaksud disini adalah diet tanpa penggunaan garam dapur baik dalam proses pengolahan makanan maupun saat makanan tersebut akan dikonsumsi. Selain itu, konsumsi makanan dengan kandungan Natrium yang tinggi juga dikurangi. Bahan makanan yang diolah dengan menggunakan garam seperti kecap, margarin, mentega, keju, terasi, petis,dan sebagainya tidak boleh dikonsumsi. Demikian juga dengan bahan maknan awetan yang menggunakan garam seperti ikan asin, sardines, corned beef, sosis dan sebagainya. Konsumsi

bahan makanan yang kandungan natriumnya tinggi baik bahan makanan hewani maupun nabati harus dibatasi jumlahnya karena kandungan natrium didalamnya cukup tinggi. 2. Diet Rendah Natrium Dalam diet rendah garam, kandungan Natrium dalam makanan masih dalam jumlah tinggi, yaitu sekitar 2500mg. Pada diet rendah natrium, kandungan Na adalah antara 600 mg hinga 1200 mg. Akan tetapi dengan hanya mengunakan bahan makanan tertentu dalam diet, kandungan Na dalam makanan dapat ditekan sampai batas minimal. Diet rendah natrium hanya diberikan kepada penderita yang dirawat di rumah sakit. Salah satu diet rendah natrium yang paling sering digunakan adalah disebut diet kempner. Diet terdiri atas beras dan buah-buahan kandungan natrium sebanyak 200 mg, protein nabati 20 gram, dan hidrat arang 460 gram sehari. Jumlah cairan yang diberikan antara 700 ml sampai 1000 ml sehari. Penderita diberi makanan yang terdiri atas 200 300 gr beras sehari yang dimasak sebagai nasi. Nasi tidak boleh dimasak dengan garam. Jumlah kalori yang didapat dari nasi adalah antara 700 100 kalori. Tambahan kalori diperoleh dengan menambahkan gula atau buah-buahan segar. Semua buah-buahan dapat diberikan kecuali advokad, kurma, dan buah-buahan yang sudah diawetkan/ buah-buahan kaleng. Sari tomat dan sari sayuran tidak boleh diberikan. Diet rendah garam atau rendah natrium tidak hanya diberikan kepada penderita penyakit jantung, tetapi juga diberikan kepada penderita penyakit ginjal, penyakit sirosis hati, dan keracunan kehamilan. Penderita bukan saja harus membatasi makanan yang mengandung natrium tinggi dan pantang garam, tetapi juga obat-obatan ataupun bahan lainnya yang kadar natriumnya tinggi seperti Nasiklamat (gula tiruan), bumbu masak (monosodium glutamat), dan sebagainya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjalani diet rendah garam, antara lain: Apabila fungsi ginjal tidak sempurna, penderita akan mengalami defisiensi natrium karena kemampuan ginjal menyerap kembali Na menurun.

Defisiensi Na juga dapat terjadi jika penderita diberi obat diuretik. Sindrom kurang garam dapat timbul pada penderita, yaitu tubuh menjadi lemah, nafsu makan hilang, mual, dan muntah. Selain itu tekanan darah akan turun, denyut nadi menjadi cepat. Keadaan ini disebut juga intoksikasi air.

Pasien populasi dengan gagal jantung kongestif Lama dewasa Dengan retensi cairan atau hipertensi Beresiko atau dengan gagal jantung asimtomatik Lama dewasa penghuni panti jompo Mengambil diuretik

Pembatasan Natrium 1,6 g Na Sedang natrium reduksi Prudent garam diet pengurangan Rendah garam 2 g Na

Dalam keadaan akut, kepada penderita dengan gagal jantung dapat diberikan Diet Cair Karell (Karell Liquid Diet) yang terdiri dari 800 ml susu segar yang diberikan sebanyak 4 kali 200 mg yang masing-masing diberikan pada jam 8.00, jam 12.00, jam 16.00, dan jam 20.00. Dari diet ini penderita akan memperoleh kalori sebanyak 550 kal, protein 28 gram, sedangkan kandungan Natrium dalam diet itu adalah 450 mg Na. Diet Cair Karell ini biasanya hanya diberikan untuk satu atau dua hari saja. Apabila keadaan penderita berangsur baik, diet cair dapat diganti dengan Diet Lunak Rendah Natrium. Garam dapur tetap tidak boleh diberikan. Demikian juga bahan makanan atau makanan yang kandungan natriumnya tinggi. Beberapa jenis makanan yang banyak mengandung sodium, antara lain seperti soda kue, bubuk soda sebagal pengawet, obat pencahar, makanan yang dipanggang, keju, makanan kaleng dan laut, serta sereal. Sementara beberapa jenis makanan yang memiliki kadar rendah sodium antara lain seperti buah dan sayurmayur segar, daging dan unggas segar. Penting diketahui, kekurangan garam sama berbahayanya dengan berlebihan garam. Kekurangan sodium dan chlor secara drastis bisa menjadi beban lain bagi ginjal. Diiringi gejala pembengkakan (oedema), kaki bengkak yang disebabkan penyakit jantung.

Adapun pembatasan konsumsi terbagi menjadi 3 kategori:


Diet ketat Diet Sedang Diet Ringan

: cukup 500 gr sodium atau setara 1,5 gr garam dapur. : cukup 800 gr sodium atau setara 2 gr garam dapur. : cukup 2000 gr sodium atau setara 5 gr garam dapur.

Berikut penjabaran kandungan mineral yang terdapat dalam garam yang biasa kita konsumsi sehari-hari dari makanan maupun minuman. Yodium

Zat mineral yodium biasanya terdapat pada garam dapur yang tersedia bebas di pasaran, namun pastikan garam yang anda beli memiliki kandungan yodium. Karena zat ini berperan penting untuk membantu perkembangan kecerdasan atau kepandaian pada anak pada masa pertumbuhannya.

Phospor

Phosfor berfungsi untuk pembentukan tulang dan membentuk gigi. Cobalt

Cobalt memiliki fungsi untuk membentuk pembuluh darah. Kalsium

Kalsium atau zat kapur merupakan zat mineral yang memiliki fungsi dalam pembentukan tulang dan gigi disamping perannya dalam vitalitas otot pada tubuh. Kalium

Kalium berfungsi sebagai pembentuk aktivitas otot jantung. Zinc atau Seng

Diperlukan untuk pembentuk enzim dan hormon penting. Sulfur atau Belerang

Berfungsi dalam proses pembentuk protein di dalam tubuh. Chlor

Chlor digunakan tubuh kita untuk membentuk HCl atau asam klorida pada lambung. HCl sendiri berfungsi membunuh kuman bibit penyakit dalam lambung serta mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Magnesium

Magnesium berfungsi sebagai zat yang pembentuk sel darah merah berupa zat pengikat oksigen dan hemoglobin. Mangaan

Mangaan berfungsi untuk mengatur pertumbuhan tubuh kita dan sistem reproduksi. Tembaga

Tembaga pada tubuh manusia berguna sebagai pembentuk hemo globin pada sel darah merah. Natrium / Na

Natrium adalah zat mineral yang kita andalkan sebagai pembentuk faram di dalam tubuh dan sebagai penghantar impuls dalam serabut syaraf dan tekana osmosis

pada sel yang menjaga keseimbangan cairan sel dengan cairan yang ada di sekitarnya. Flour

Memiliki peran dalam pembentukan lapisan email gigi yang melindungi dari segala macam gangguan pada gigi.

DAFTAR PUSTAKA MacGregor GA, Garam, Diet dan Kesehatan Cambridge: Cambridge University Press, 1998.. Beard TC. Pedoman diet dengan potensi terapeutik yang besar. Australia Jurnal KesehatanPrimer: 2008, 14 (3). 120-131 Taylor En, Fung TT, Curhan GC. DASH diet gaya asosiasi dengan penurunan resiko batu ginjal. J Am Soc Nephrol. 2009. 20 (10). 2253-9 Craig R, Mindell J. Survei Kesehatan untuk Inggris, 2006. Volume 1 , Penyakit kardiovaskular dan faktor risiko pada orang dewasa. Tersedia di http://www.ic.nhs.uk/pubs/hse06cvdandriskfactors [diakses 14/07/2010]. Panggabean. M. Buku Ilmu Penyakit Dalam: Gagal Jantung. Volume 2. Jakarta: 2009 Aru W.Sudoyo,dkk. (2006) Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Arikunto. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Sacco RL, Adams R, Albers G, et al; American Heart Association/American Stroke Cook NR, Cutler JA, Obarazanek E, et al. Long term effects of dietary sodium reduction on cardiovascular disease outcomes. BMJ. 2007;334(7599):885888.Association Council on Stroke; Council on Cardiovascular Radiology and Intervention; American Academy of Neurology. Guidelines for prevention of stroke in patients with ischemic stroke or transient ischemic attack. Circulation. 2006;113(10):e409-e449. Strazzullo P, DElia L, Kandala N, Cappuccio FP. Salt intake, stroke, and cardiovascular disease. BMJ. 2009;339:b4567. doi:10.1136/bmj.b4567 Dickstein K, Cohen-Solal A, Filippatos G, et al. ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 2008: the Task Force for the Diagnosis and Treatment of Acute and Chronic Heart Failure 2008 of the European Society of Cardiology. Eur Heart J. 2008;29:23882442. Hsich EM, Pina IL. Heart failure in women. J Am Coll Cardiol. 2009;54:491498. Jessup M, Abraham WT, Casey DE, et al. 2009 Focused update: ACCF/AHA guidelines for the diagnosis and management of heart failure in adults: a report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines. Circulation. 2009;119:19772016. Maeder MT, Kaye DM. Heart failure with normal left ventricular ejection fraction. J Am Coll Cardiol. 2009;53:905918. Ramani GV, Uber PA, Mehra MR. Chronic heart fail-ure: contemporary diagnosis and management. Mayo Clin. Proc. 2010;85:180195. Schocken DD, Benjamin EJ, Fonarow GC, et al. Prevention of heart failure: a scientifi c statement from the American Heart Association councils on epidemiology and prevention, clinical cardiology, cardiovascular nursing, and high blood pressure research; quality of care and outcomes research interdisciplinary working group; and functional genomics and translational

biology interdisciplinary working group. Circulation. 2008;117:2544 2565. Neal Anjan Chatterjee and Michael A. Fifer, terj. D Lyrawati, 2012 12 Wang J, Nagueh SF. Current perspectives on cardiac function in patients with diastolic heart failure. Circulation. 2009;119:11461157. Ware LB, M Wang J, Nagueh SF. Current perspectives on cardiac function in patients with diastolic heart failure. Circulation. 2009;119:11461157.