Anda di halaman 1dari 16

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


KELOMPOK 3 : 1. EKA ASMI OKTAVIANI 2. HARI AZMI JUNIOR HUTAJULU 3. LUTFHI AFIFAH 4. NURUL QOMARIAH 5. REZA DESTISARI

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke khadirat Allah SWT Alhamdulilah penyusun telah diberi kesempatan untuk memberikan argumentasi yang dituangkan dalam makalah ini, tujuan penulis dalam menyusun makalah ini, penulis berasumsi bahwa pembaca harus tahu dan mengerti apa saja yang dibahasa mengenai karakteristik rasio laporan keuangan serta mengapa perlu sekali untuk dipelajari dan dipahami. Mengingat banyaknya topik yang harus dibahasa dalam Mata Kuliah Akuntansi Sektor Publik di perguruan tinggi, maka penulis memberikan pengertian secara terperinci agar pembaca bisa cepat paham dengan maksud penulis makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mengandung banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat berterima kasih apabila pembaca bersedia memberikan kritik dan saran yang membangun, sehingga dapat digunakan untuk penyempurnaan makalah berikutnya. Penulis juga mengucapkan terimakasih banyak kepada Dosen Akuntansi Sektor Publik yang telah memberikan tugas makalah ini, karena dengan adanya makalah ini penulis bisa lebih memahami materi perkuliahan mengenai Kerangka Konseptual Akuntansi Sektor Publik. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Balikpapan, 5 April 2013

Penyusun

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 2

DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Bab I : Pendahuluan 1.1 Latar belakang 1.2 Tujuan Makalah Bab II : Pembahasan 2.1 Pengertian Kerangka Konseptual 2.2 Tujuan dan Peranan Kerangka Konseptual 2.3 Ruang Lingkup Kerangka Konseptual 2.4 Lingkungan ASP 2.5 Pemakai dan Kebutuhan Informasi ASP (Pemerintahan ) 2.6 Peranan dan Tujuan Pelaporan Keuangan 2.7 Komponen Laporan Keuangan 2.8 Asumsi Dasar 2.9 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan 2.10Prinsip Akuntansi dan Laporan Keuangan 2.11Kendala Informasi yang Relevan dan Andal 2.12Pengakuan Unsur Laporan Keuangan Bab III : Penutup 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran Bab IV : Daftar Pustaka 15 15 16 5 6 6 8 9 10 11 12 12 13 13 14 4 4 2 3

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 3

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar belakang Mata kuliah akuntansi sektor publik dapat dikatakan sebagai bidang studi akuntansi mandiri. Bidang studi ini tentunya tidak dapat dilepaskan begitu saja dari bidang akuntansi lainnya. Tanpa disadari oleh kita, sebetulnya setiap orang pernah mengaplikasikan ilmu akuntansi didalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam dunia usaha. Oleh karena itu, akuntansi sering disebut sebagai bahasanya dunia usaha karena akuntansi akan menghasilkan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang menyelenggarakannya dan pihak luar yang mengambil keputusan. Akuntansi sektor publik terkait dengan tiga hal pokok, yaitu penyedia informasi, pengendalian manajemen, dan akuntabilitas. Akuntansi sektor publik merupakan alat informasi baik bagi pemerintah sebagai manajemen maupun alat informasi bagi publik.

1.2

Tujuan Makalah Memahami konsep publik, isu sentral, peran dan praktik akuntansi sektor publik di Indonesia dalam membantu terciptanya proses pertanggungjelasan publik. Memahami konsep organisasi sektor publik dan peran akuntansi dalam membantu manajemen organisasi sektor publik. Memahami penerapan proses perencanaan dan pengendalian akuntansi dalam pertanggungjawaban publik dan eksesnya di unit organisasi sektor publik. Memunculkan sikap kritis dan minat mahasiswa dalam berbagai isu akuntansi sektor publik. Menambah pengetahuan mahasiswa terhadap hal yang berhubungan dengan akuntansi sektor publik serta aplikasi dalam praktik. Mahasiswa memperoleh pamahaman tentang karakteristik akuntansi sektor publik. Memunculkan sikap mahasiswa sebagai problem seeker, problem

identifierdan problem solver terhadap praktik akuntansi sektor publik. Menambah nilai kami dalam mata kuliah Akuntansi Sektor Publik.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 4

Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian Kerangka Konseptual Kerangka konseptual mungkin dapat dipandang sebagai teori akuntansi yang terstruktur (Belkaoui, 1993). Hal ini disebabkan struktur kerangka konseptual sama dengan struktur teori akuntansi yang didasarkan pada proses penalaran logis (logical reasoning). Atas dasar penalaran ini, teori merupakan proses pemikiran menurut kerangka konseptual tertentu untuk menjelaskan kenyataan yang terjadi dan menjelaskan apa yang harus dilakukan apabila ada fakta atau fenomena baru. Kerangka konseptual dapat digambarkan dalam bentuk hirarki yang memiliki beberapa tingkatan. Pada tingkatan teori yang tinggi, kerangka konseptual menyatakan ruang lingkup dan tujuan pelaporan keuangan. Pada tingkatan selanjutnya, kerangka konseptual

mengidentifikasi dan mendefinisikan karakteristik kualitatif dari informasi keuangan dan elemen laporan keuangan. Pada tingkatan operasional yang lebih rendah, kerangka konseptual berkaitan dengan prisip-prinsip dan aturan-aturan (rules) tentang pengukuran dan pengakuan elemen laporan keuangan dan tipe informasi yang perlu disajikan. Sering dikatakan bahwa agar dapat dijadikan legitimasi, kerangka konseptual harus didukung oleh metodologi ilmiah (scientific). Hal ini berarti bahwa prinsip-prinsip dan aturan-aturan pengukuran tersebut harus dihasilkan dari tujuan dan konsep-konsep yang telah didefinisikan sebelumnya. FASB (1978) mendefinisikan kerangka konseptual sebagai suatu sistem yang saling berkaitan sebagai berikut: ......suatu sistem yang koheren tentang tujuan (objectives) dan konsep dasar yang saling berkaitan, yang diharapkan dapat menghasilkan standar-standar yang konsisten dan memberi pedoman tentang jenis, fungsi, dan keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan keuangan. Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa kata-kata seperti sistem yang koheren (coherent system) dan konsisten (consistent) menunjukkan bahwa FASB menggunakan kerangka teoritis dan non-arbitrer. Sedang kata memberi pedoman (prescribes) mendukung pemakaian pendekatan normatif.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 5

Ada beberapa pihak yang memandang kerangka konseptual sebagai Konstitusi (Undang-Undang Dasar), yang merupakan landasan dalam proses penentuan standar akuntansi. Tujuannya adalah untuk memberi pedoman bagai badan yang berwenang dalam memecahkan masalah yang muncul selama proses penentuan standar. Hal ini dilakukan dengan cara mempersempit permasalahan sehingga dapat ditentukan apakah standar tertentu sesuai dengan kerangka konseptual.

2.2 Tujuan dan Peranan Kerangka Konseptual Kerangka konseptual akuntansi sektor publik disusun dengan berbagai tujuan, yaitu acuan bagi: a. Tim penyusun standar akuntansi keuangan sektor publik dalam tugasnya. b. Penyusun laporan keunagn untuk memahami praktek akuntansi menurut prinsip akuntansi yang secara lazim dan standar akuntansi keuangan sektor publik. c. Auditor dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. d. Para pemakai laporan keuangan yang disusun sesuai standar akuntansi keuangan sektor publik. Kerangka konseptual ini bukan merupakan standar akuntansi keuangan sector publik. Revisi kerangka dasar bisa dilakukan dari waktu ke waktu, selaras dengan pengalaman komite penyusunan standar akuntansi keuangan sektor publik dalam penggunaan kerangka dasar tersebut

2.3 Ruang Lingkup Kerangka Konseptual Berikut ini merupakan lingkup kerangka konseptual akuntansi sektor publik pada organisasi sektor publik : 1. Pemerintah Pusat Perencanaan publik: musyawaroh perencanaan pembangunan(musrenbang) jangka panjang nasional, musrenbang jangka menegah nasional, musrenbang penyusunan rencana kerja pemerintah. Penganggaran publik : penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetaan anggaran.
Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan Page 6

Realisaasi anggaran publik : pelaksanaan anggran. Pelporan keuangan sektor publik : proses pelaporan keuangan. Audit sektor publik : mekanisme audit. Pertangung jawaban publik : penyampaina LPJ dan pertanggungjawabanya.

2. Pemerintah Daerah Perencanaan publik : musyawaroh perencanaan pembangunan(musrenbang) jangka panjang daerah, musrenbang jangka menegah daerah, musrenbang penyusunan rencana kerja pemerintah, musrenbang provinsi, musrenbang kabupaten,musrenbang kecamatan, usrenbang Desa. Penganggaran publik : penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetaan anggaran. Realisaasi anggaran publik : pelaksanaan anggran. Pengadaan barang dan jasa publik : proses pengadaan barang dan jasa. Pelporan keuangan sektor publik : proses pelaporan keuangan Audit sektor publik : mekanisme audit. Pertangung jawaban publik : penyampaina LPJ dan pertanggungjawabanya.

3. Partai Politik Perencanaan Publik : musyawaro kerja tingkat pusat, musyawarah kerja wilayah, musyawarah kerja derah, musyawarah kerja cabang, musyawarah kerja ranting. Penganggaran Publik : penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetaan anggaran. Pengadaan barang dan jasa publik : proses pengadaan barang dan jasa. Penganggaran publik : penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetapan anggaran. Realisaasi anggaran publik : pelaksanaan anggran. Pelporan keuangan sektor publik : proses pelaporan keuangan. Audit sektor publik : mekanisme audit. Pertangung jawaban publik : penyampaian LPJ dan pertanggungjawabanya.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 7

4. LSM Perencanaan Publik : rapat kerja untuk menyusun perencanaan LSM. Penganggaran Publik : penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetapan anggaran. Realisaasi anggaran publik : pelaksanaan anggaran. Pengadaan barang dan jasa publik : proses pengadaan barang dan jasa. Pelporan keuangan sektor publik : proses pelaporan keuangan. Audit sektor publik : mekanisme audit. Pertangung jawaban publik : penyampaian LPJ dan pertanggungjawabanya

5. Yayasan/tempat peribadatan Perencanaan Publik : rapat kerja untuk menyusun perencanaan yayasan/organisasi tempat peribadatan. Penganggaran Publik : penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetapan anggaran. Realisaasi anggaran publik : pelaksanaan anggaran. Pengadaan barang dan jasa publik : proses pengadaan barang dan jasa. Pelaporan keuangan sektor publik : proses pelaporan keuangan. Audit sektor publik : mekanisme audit. Pertangung jawaban publik : penyampaian LPJ dan pertanggungjawabanya.

2.4 Lingkungan ASP Lingkungan operasional organisasi pemerintah berpengaruh terhadap karakteristik tujuan akuntansi dan pelaporan keuangannya. Ciri-ciri penting lingkungan pemerintahan yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan tujuan akuntansi dan pelaporan keuangan adalah sebagai berikut: a. Ciri utama struktur pemerintahan dan pelayanan yang diberikan: 1. bentuk umum pemerintahan dan pemisahan kekuasaan; 2. sistem pemerintahan otonomi dan transfer pendapatan antar pemerintah; 3. adanya pengaruh proses politik; 4. hubungan antara pembayaran pajak dengan pelayanan pemerintah.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 8

b. Ciri keuangan pemerintah yang penting bagi pengendalian: 1. anggaran sebagai pernyataan kebijakan publik, target fiskal, dan sebagai alat pengendalian; 2. investasi dalam aset yang tidak langsung menghasilkan pendapatan; dan 3. kemungkinan penggunaan akuntansi dana untuk tujuan pengendalian.

2.5 Pemakai dan Kebutuhan Informasi ASP (Pemerintahan) Pemakai Informasi Terdapat beberapa kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah, namun tidak terbatas pada: a. masyarakat; b. para wakil rakyat, lembaga pengawas, dan lembaga pemeriksa; c. pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi, investasi, dan pinjaman; dan d. pemerintah. Kebutuhan Informasi Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertujuan umum untuk memenuhi kebutuhan informasi dari semua kelompok pengguna. Dengan demikian laporan keuangan pemerintah tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari masing-masing kelompok pengguna. Namun demikian, berhubung pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah, maka ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan informasi para pembayar pajak perlu mendapat perhatian. Meskipun memiliki akses terhadap detail informasi yang tercantum di dalam laporan keuangan, pemerintah wajib memperhatikan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan untuk keperluan perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan. Selanjutnya, pemerintah dapat menentukan bentuk dan jenis informasi tambahan untuk kebutuhan sendiri di luar jenis informasi yang diatur dalam kerangka konseptual ini maupun standar-standar akuntansi yang dinyatakan lebih lanjut.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 9

2.6 Peranan dan Tujuan Pelaporan Keuangan Peranan Pelaporan Keuangan Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan. Setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan: a. Akuntabilitas Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. b. Manajemen Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah untuk kepentingan masyarakat. c. Transparansi Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang21 undangan. d. Keseimbangan Antargenerasi (intergenerational equity) Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan dating diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 10

Tujuan Pelaporan Keuangan Pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan: a. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran. b. Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan. c. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai. d. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya. e. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman. f. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan. Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut, laporan keuangan menyediakan informasi mengenai pendapatan, belanja, transfer, dana cadangan, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas dana, dan arus kas suatu entitas pelaporan.

2.7 Komponen Laporan Keuangan Laporan keuangan pokok terdiri dari: a. Laporan Realisasi Anggaran; b. Neraca; c. Laporan Arus Kas; d. Catatan atas Laporan Keuangan. Selain laporan keuangan pokok seperti disebut pada paragraph di atas entitas pelaporan diperkenankan menyajikan Laporan Kinerja Keuangan dan Laporan Perubahan Ekuitas.
Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan Page 11

2.8 Asumsi Dasar Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi dapat diterapkan, yang terdiri dari: a. Asumsi kemandirian entitas;

b. Asumsi kesinambungan entitas; dan c. Asumsi keterukuran dalam satuan uang (monetary measurement). Kemandirian Entitas Asumsi kemandirian entitas, baik entitas pelaporan maupun akuntansi, berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggung jawab penuh. Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya, termasuk atas kehilangan atau kerusakan asset dan sumber daya dimaksud, utang-piutang yang terjadi akibat putusan entitas, serta terlaksana tidaknya program yang telah ditetapkan. Kesinambungan Entitas Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berlanjut keberadaannya. Dengan demikian, pemerintah diasumsikan tidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek. Keterukuran dalam Satuan Uang (Monetary Measurement) Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi.

2.9 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Keempat

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 12

karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki: a. Relevan; b. Andal; c. Dapat dibandingkan; dan d. Dapat dipahami.

2.10 Prinsip Akuntansi dan Laporan Keuangan Prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh pembuat standar dalam penyusunan standar akuntansi, oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya, serta oleh pengguna laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan. Berikut ini adalah delapan prinsip yang digunakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah: a. Basis akuntansi;

b. Prinsip nilai historis; c. Prinsip realisasi; d. Prinsip substansi mengungguli bentuk formal; e. Prinsip periodisitas; f. Prinsip konsistensi; g. Prinsip pengungkapan lengkap; dan h. Prinsip penyajian wajar.

2.11 Kendala Informasi yang Relevan dan Andal Kendala informasi akuntansi dan laporan keuangan adalah setiap keadaan yang tidak memungkinkan terwujudnya kondisi yang ideal dalam mewujudkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang relevan dan andal akibat keterbatasan (limitations) atau karena alasan-alasan kepraktisan. Tiga hal yang menimbulkan kendala dalam informasi akuntansi dan laporan keuangan pemerintah, yaitu:

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 13

a. Materialitas; b. Pertimbangan biaya dan manfaat; c. Keseimbangan antar karakteristik kualitatif.

2.12 Pengakuan Unsur Laporan Keuangan Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan, sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait. Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui yaitu: a. terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan; b. kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau dapat diestimasi dengan andal. Dalam menentukan apakah suatu kejadian/peristiwa memenuhi kriteria pengakuan, perlu dipertimbangkan aspek materialitas.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 14

Bab III Penutup


3.1 Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah kerangka konseptual menyatakan ruang lingkup dan tujuan pelaporan keuangan. Pada tingkatan selanjutnya, kerangka konseptual mengidentifikasi dan mendefinisikan karakteristik kualitatif dari informasi keuangan dan elemen laporan keuangan. Pada tingkatan operasional yang lebih rendah, kerangka konseptual berkaitan dengan prisip-prinsip dan aturan-aturan (rules) tentang pengukuran dan pengakuan elemen laporan keuangan dan tipe informasi yang perlu disajikan.

3.2 Saran Makalah ini disusun tujuannya agar kita bisa mendefiniskan kerangka konseptual sebagai suatu sistemk yang saling berkaitan.

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 15

Bab IV Daftar Pustaka


http://efsir.blogspot.com/2013/03/kerangka-konseptual-akuntansi-sektor.html http://merahkuning.wordpress.com/2012/05/20/contoh-makalah-kerangka-konseptualakuntansi-sektor-publik/ http://niia1993.blogspot.com/2013/02/kerangka-konseptual-akuntansi-sektor_28.html pp_24_2005_lampiranII

Analisis Laporan Keuangan-Rasio Laporan Keuangan

Page 16