Anda di halaman 1dari 23

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lanjut Usia Menurut Ernawati lansia adalah orang yang berusia 50 tahun atau lebih.4 Lansia merupakan kelompok orang lanjut usia yang mengalami proses penuaan yang terjadi secara bertahap dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindarkan. 6 Menurut BKKBN 1998, penduduk lansia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, ditandai dengan penurunan daya tahan fisik dan rentan terhadap penyakit yang mengakibatkan kematian. Secara ekonomi lansia dianggap sebagai beban sumber daya. Saparinah (1983) berpendapat bahwa lansia merupakan kelompok umur yang mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lansia adalah kelompok orang yang berumur lebih dari 50 tahun yang secara fisiologis mengalami kemunduran baik dari segi biologis, ekonomi maupun sosial secara bertahap hingga akhirnya sampai pada kematian. Proses menua merupakan proses yang normal terjadi pada setiap manusia dan bukan merupakan suatu penyakit.15 Penuaan juga dapat didefenisikan sebagai suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga lebih rentan terhadap infeksi dan tidak dapat memperbaiki kerusakan yang dideritanya. Penuaan merupakan proses ilmiah yang terjadi secara terus-menerus dalam kehidupan yang

Universitas Sumatera Utara

ditandai dengan adanya perubahan-perubahan anatomik, fisiologik dan biomekanis dalam sel tubuh, sehingga mempengaruhi fungsi sel, jaringan dan organ tubuh.4 Berdasarkan kelompok usia, lanjut usia menurut DEPKES RI dibagi menjadi 3 yaitu: 4,16 1. Kelompok usia dalam masa virilitas (45-54 tahun), merupakan kelompok yang berada dalam keluarga dan masyarakat luas. 2. Kelompok usia dalam masa prasenium (55-64 tahun), merupakan kelompok yang berada dalam keluarga, organisasi usia lanjut dan masyarakat pada umumnya. 3. Kelompok usia masa senecrus ( >65 tahun), merupakan kelompok yang umumnya hidup sendiri, terpencil, hidup dalam panti, penderita penyakit berat. Menurut WHO Lansia dapat dibagi atas Middle aged antara 45-59 tahun, Elderly antara 60-74 tahun, Aged 75 tahun atau lebih. Sementara itu, menurut Pathy (1985) Lansia dapat dikelompokkan atas Young elderly antara 65-75 tahun dan Old elderly 75 tahun keatas.17

2.2 Teori-Teori Proses Menua Proses menua melibatkan berbagai sistem di dalam tubuh yang akan mengakibatkan berkurangnya fungsi sistem-sistem tersebut. Hal ini dapat dijelaskan melalui teori-teori meliputi: 17,18

Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Teori Nutritional Component Teori ini menjelaskan bahwa makanan memegang peranan penting dalam proses penuaan. Kekurangan makanan menyebabkan kerusakan dan terbatasnya regenerasi sel. Diet memegang peranan penting dari beberapa penyakit degenerasi yang menyertai proses penuaan. 2.2.2 Teori Sintesa Protein Proses penuaan disebabkan karena gangguan mekanisme sintesa protein. Tahapan sintesa protein dipengaruhi oleh aktivitas enzim . Perubahan aktivitas enzim menyebabkan gangguan sintesa protein sehingga terbentuk protein abnormal. 2.2.3 Teori Molekul Radikal Bebas Adanya fragmen molekul yang disebut radikal bebas yang bereaksi dengan asam lemak tidak jenuh pada membran sel untuk membentuk produk peroksidasi. Keadaan tersebut akan menghalangi keluar masuknya zat makanan melalui membran sel sehingga mempercepat kematian sel. 2.2.4 Teori Imunologi Proses penuaan disebabkan kerusakan secara perlahan pada proses imunologis. Hal ini dibuktikan dengan menurunnya sintesa antibodi dalam tubuh dan pembentukan antibodi. 2.2.5 Teori Genetika Kegagalan regulasi genetik menyebabkan menurunnya fungsi genetika pada usia lanjut. Hal tersebut sebagai akibat dari tidak cukupnya perbaikan DNA yang rusak

Universitas Sumatera Utara

secara spontan, mutasi dalam sel somatik dan besarnya kesalahan dari DNA sendiri error catasthrope. 2.2.6 Teori Stochastik Teori ini merumuskan penuaan disebabkan oleh penimbunan sisa-sisa dari lingkungan. Sebagai contoh paling spesifik dari teori ini adalah mutasi somatik dan kesalahan (error). Mutasi somatik, disebabkan oleh radiasi dan kemungkinan bahanbahan radioaktif yang tertimbun. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan mensintesis protein, kegagalan fungsi dan berakhir dengan kematian. Perubahan molekul protein selama penuaan tidak langsung jelas pada umur, tergantung dari kesalahan sintesis protein, adanya akumulasi perubahan molekul protein fungsional (akibat kesalahan mensintesis protein karena terjadinya mutasi tersebut). Inilah yang mungkin dapat merusak kapasitas fisiologi dari jaringan atau sel yang menua. 2.2.7 Teori Cross Linking Colagen-Elastin Teori ini didasari pada adanya saling silang dalam makromolekul, terutama kolagen dan elastin. Matrik molekul ini menyusun tubuh sebanyak 20% dari berat badan manusia. Peristiwa saling silang ini akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Yang mendasari teori ini adalah adanya saling silang kolagen, menjadi elastin sehingga terjadi kemungkinan simplistik yang berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan proses fisiologis vital pada matrik kolagen. Saling silang merupakan suatu proses pematangan, dimana bertambahnya jumlah elastin pada beberapa tempat tertentu akan berperan untuk memperbaiki fungsi, sementara di tempat lain dapat mengurangi fungsi.

Universitas Sumatera Utara

Penyebab penuaan yang dikaitkan dengan fungsi kolagen menjelaskan bahwa kolagen mengalami degenerasi, berubah setiap waktu. Serabut kolagen menjadi kurang lentur, lebih rapuh dan mudah terkoyak

2.3 Keadaan Mukosa Lidah pada Lansia Didalam rongga mulut, lidah dianggap sebagai salah satu petunjuk atau cermin kesehatan umum seseorang. Hal ini disebabkan lidah merupakan organ tubuh yang paling peka terhadap perubahan yang terjadi di dalam tubuh. Dalam

perkembangannya permukaan lidah secara normal dilapisi papilla lidah yaitu papilla filiformis, papilla fungiformis, papilla foliate dan papilla sirkumvalata. 2.3.1 Anatomi Lidah 19 Lidah merupakan organ muskular yang kompleks yang melekat pada tulang hyoid, processus styloideus dan tuberkel genial mandibula pada daerah insersio tiga otot ekstrinsik, hyoglossus, styloglosus dan genyoglosus. Lidah melekat longgar pada palatoglossus dan glosopharyngeus serta ekstensi membrane mukosa mulut dan membrane mukosa pharyngeal yang menutupi lidah. Permukaan superior dan posterior lidah ditutupi membran mukosa khusus, dimana pada membran tersebut terdapat berbagai macam tonjolan papila yang berbeda. Sebagian dari papila-papila ini membawa beberapa reseptor khusus untuk pengecapan maupun ujung syaraf halus yang penting untuk perkembangan fungsi persepsual. Otot intrinsik diatur oleh berbagai gerakan kompleks yang menjadikan ukuran lidah dalam 3 dimensi.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Lidah normal 20

Mukosa permukaan dorsal anterior lidah ditandai dengan dua jenis papila dengan fungsi tertentu yaitu papila filiformis dan papila fungiformis dan sejumlah tonjolantonjolan lainnya dengan fungsi yang tidak jelas. Papila filiformis merupakan papila terkecil dan terbanyak yang dapat dijumpai pada permukaan dorsal lidah dalam arah antero-posterior. Bentuknya panjang dan runcing (konus), menyerupai rambut dan diliputi oleh lapisan keratin. Panjang papila filiformis kira-kira 2-3 mm. Papila ini tidak mengandung papila pengecap. Epitel keratin yang melapisi permukaannya memberikan warna abu-abu pada lidah dan pada dasarnya berfungsi dalam menjilat dan menggiring makanan ke distal. Pada keadaan infeksi pada papila ini terdapat timbunan bakteri dan sel-sel epitel mati sehingga warna abu-abu akan tampak lebih jelas meliputi permukaan dorsum. Papila fungiformis hanya dijumpai pada dua pertiga anterior lidah dan jumlahnya kira-kira 29/cm2 pada daerah ujung dan 7-8/cm2 di bagian tengah-tengah lidah. Struktur yang berbentuk seperti jamur ini mempunyai kapiler darah yang banyak sehingga dengan ukurannya yang besar dan kapiler darah yang banyak menyebabkan

Universitas Sumatera Utara

papila ini terlihat seperti bintik-bintik merah pada hamparan papila filiformis. Setiap papila fungiformis mengandung 0-20 kuncup pengecap yaitu rata-rata 2-4 kuncup pengecap tiap satu papila. Secara umum individu yang memiliki kuncup pengecap yang banyak akan menghantarkan rangsangan yang lebih kuat dibandingkan dengan individu yang memiliki kuncup pengecap sedikit. Pada pertemuan dua pertiga anterior dan sepertiga posterior lidah, terdapat barisan papila sircumvalata yang berbentuk V atau Y yang berbatasan dengan sekelompok papila foliata yang tersebar pada tepi lateral lidah. Papila sircumvalata dan papila foliata dikelilingi oleh parit. Papila vallata berbentuk bundar dan besar dengan diameter 2 mm. Dua belas papila diantaranya tersusun dalam barisan berbentuk V di bagian anterior dan sejajar dengan sulcus terminalis. Tiap barisan dikelilingi oleh lapisan bundar. Sedangkan papila foliata terletak pada tepi lateral lidah, berupa tiga atau empat lipatan vertikal pendek.

Gambar 2. Permukaan lidah normal 18

Universitas Sumatera Utara

2.3.2 Perubahan dan Kelainan Lidah pada Lansia Dengan bertambah usia, lapisan epitel yang menutupi mukosa mulut cenderung mengalami penipisan, berkurangnya keratinisasi, berkurangnya pembuluh darah kapiler dan suplai darah, serabut kolagen yang terdapat pada lamina propria mengalami penebalan. Akibat dari perubahan-perubahan tersebut, secara klinis terlihat mukosa mulut menjadi lebih pucat, tipis dan kering, proses penyembuhan menjadi lebih lambat, mukosa mulut lebih mudah mengalami iritasi terhadap tekanan dan gesekan. Keadaan ini dapat diperberat oleh berkurangnya aliran saliva.1,11 Pada populasi lansia prevalensi penyakit mukosa oral mencapai 40% hingga 59%. Prevalensi penyakit mukosa oral pada lansia 47% lebih besar daripada dewasa muda.5 Kelainan lidah pada lansia yang sering ditemui meliputi fissured tongue, coated tongue, geographic tongue, sublingual varikositis, atropi papilla lidah, kandidiasis dan keganasan. 7-9,12,20

2.4 Coated Tongue dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Lesi mukosa yang paling sering ditemui pada Lansia yang tidak berkaitan dengan gigi tiruan adalah coated tongue atau lidah berselaput, sublingual varikositis dan angular cheilitis.
7-9,12,20

Coated tongue merupakan lesi pada lidah yang paling

banyak ditemui pada lansia.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 3. Coated Tongue10

Coated tongue adalah suatu keadaan dimana permukaan lidah terlihat berwarna putih atau berwarna lain yang merupakan tumpukan dari debris, sisa-sisa makanan dan mikroorganisme yang terdapat pada permukaan dorsal lidah.7,10 Lidah merupakan habitat bagi mikroorganisme rongga mulut yang banyak berkolonisasi di dorsum lidah.10 Bakteri yang berkolonisasi pada lidah memainkan peranan penting pada pembentukan volatile sulvur compounds yang dapat menyebabkan bau mulut.12 Beberapa metode yang telah digunakan untuk menggolongkan coated tongue untuk mengetahui etiologi dan tingkat keparahannya, meliputi: 12 1. Boys, dkk menggolongkan coated tongue pada estimasi ketebalan selaput pada bagian dorsal lidah melalui pemeriksaan visual yaitu : berat, sedang, ringan atau tidak ada. 2. Miyazaki, dkk menggolongkan coated tongue berdasarkan distribusi daerah yang tertutupi selaput, meliputi : skor 0, tidak terlihat; 1, kurang

Universitas Sumatera Utara

dari sepertiga permukaan dorsum lidah; 2,

kurang dari dua pertiga

permukaan dorsum lidah; 3, Lebih dari dua pertiga permukaan dorsal lidah.

Gambar 4. Derajat coated tongue: skor 0, tidak terlihat; skor 1, kurang dari sepertiga permukaan dorsal lidah; skor 2, kurang dari dua pertiga permukaan dorsal lidah; skor 3, lebih dari dua pertiga dorsal lidah 3. Chen menggolongkan coated tongue berdasarkan warna, yaitu: putih, kuning, abu-abu dan hitam

Universitas Sumatera Utara

Gambar 5. Diskolorasi pada lidah : skor 0, pink ; score 1, putih ; skor 2 , kuning / coklat muda ; skor 3 : coklat ; skor 4: hitam12 Iritasi lokal pada lidah secara terus menerus akan mengakibatkan tubuh untuk melakukan pertahanan terhadap iritan tersebut dengan cara memanjangkan papilla terutama papilla filiformosis pada bagian dorsal lidah, sehingga lidah tampak seperti berambut. Kondisi lidah seperti ini akan sangat menguntungkan bagi bakteri dan jamur untuk berkolonisasi. Perpanjangan papilla juga akan mengurangi sensitivitas rasa pada lansia. 10 Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya coated tongue antara lain: 2.4.1 Candida sp. Candida sp. Merupakan flora yang secara normal terdapat pada permukaan rongga mulut setiap orang, akan tetapi di dalam mulut yang sehat Candida tersebut

Universitas Sumatera Utara

terdapat dalam konsentrasi yang rendah sehingga tidak menyebabkan kelainan ataupun penyakit. Jumlah koloni Candida sp. normal dalam rongga mulut adalah kurang dari 200 CFU/ml.7,21 Candida sp. biasanya disebut sebagai agen infeksius oportunistik yang jika ada kesempatan dapat berkembang biak dengan cepat sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan. 22 Candida sp. Banyak diisolasi dari rongga mulut pada bermacam pasien, seperti lansia, pengguna gigi tiruan, pasien immunocompromised dan pasien sehat. 23 Lesi akibat Candida sering ditemui pada lidah, mukosa pipi dan palatum.
26

Penyakit

pada mukosa mulut yang diakibatkan oleh jamur berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh. Pada host yang immunocompromised, keberadaan jamur meningkat drastis.20 Coated tongue akibat jamur dapat terjadi karena berbagai faktor seperti pada pasien dengan kelainan sistemik yang harus mengkonsumsi antibiotik dalam jangka waktu lama, infeksi, terapi radiasi, perokok berat, kebersihan mulut yang buruk, dan genetik .22 Obat-obatan seperti turunan sulfa, kemoterapi, kortikosteroid, antibiotik, antihipertensi, analgesik, antasida berkontribusi dalam perkembangan jamur yang berlebihan. Obat turunan sulfa dan kemoterapi dapat mematikan mikroflora normal dalam rongga mulut karena sifatnya yang toksik, dan hal ini dapat memicu perkembangan jamur. Obat-obatan kortikosteroid akan mempengaruhi sistem imun yang akan menimbulkan infeksi opurtunistik seperti jamur. Antasida berkontribusi pada pertumbuhan jamur karena asam hidroklorik pada lambung membantu

Universitas Sumatera Utara

mengontrol pertumbuhan jamur dan mikroba berbahaya lainnya pada saluran pencernaan.13 Derajat coated tongue juga memainkan peranan penting pada infeksi mulut akibat Candida sp. Selaput pada lidah tersebut terdiri dari komponen darah, nutrient dan sel epitel yang telah berdeskuamasi yang dapat menimbulkan penyakit infeksi pada rongga mulut akibat jamur dan berkembangnya halitosis. Namun, memiliki coated tongue belum tentu terinfeksi oleh jamur.23 Agen yang menjadi etiologi pada oral candidiasis adalah C.albicans, C.tropicalis, C.glabrata, C.krusei dan C.parapsilosis.24

Gambar 6. Candida sp. secara mikroskopis: 1, Candida albicans, 2, Candida tropicalis,3, Candida parapsilosis

Coated tongue biasanya tidak menimbulkan keluhan bagi penderitanya, tetapi bila sudah terinvasi Candida sp. kelainan ini dapat menimbulkan beberapa gejala klinis yang mengurangi kenyamanan penderitanya seperti sensasi rasa kecap yang terganggu, rasa pedih, rasa sakit dan rasa seperti terbakar pada lidah yang akan mengakibatkan

Universitas Sumatera Utara

kekurangan nutrisi, penyembuhan yang lambat dan waktu perawatan yang lebih panjang pada lansia.11 Hal ini dapat dicegah ataupun dihilangkan dengan memakai obat
kumur dan tindakan pembersihan lidah dengan baik. 22

Gambar 7. Oral thrush yang disebabkan oleh jamur 25

2.4.2 Kebiasaan Membersihkan Lidah Membersihkan mulut secara rutin telah dilaporkan menjadi metode pencegahan yang paling utama dalam mencegah timbulnya lesi pada mukosa. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Heloe 1973, Richie 1973, Langer Michman dan Librach 1975 ditemukan kebiasaan membersihkan mulut yang buruk pada lansia. Dalam penelitian mereka terhadap 303 subjek diatas 60 tahun di Melbourne, Australia mereka menemukan 91-96% subjek yang masih bergigi membutuhkan perbaikan kebiasaan membersihkan mulut. 20 Oral hygiene tidak hanya dilakukan pada gigi atau jaringan keras rongga mulut namun juga jaringan lunak mulut, salah satunya lidah. Pembersihan lidah telah dilakukan sejak beratas-ratus tahun lalu dengan berbagai metode. Namun, sekarang

Universitas Sumatera Utara

lidah seperti diabaikan, karena terkonsentrasi pada pencegahan dan perawatan jaringan keras mulut. Berbagai penelitian menunjukkan terjadi penurunan jumlah kolonisasi bakteri pada dorsum lidah pada subjek yang membersihkan mulut sekaligus lidahnya secara rutin.

Gambar 8. Pasien dengan coated tongue yang diinstruksikan untuk membersihkan sebagian lidahnya dengan tongue scraper 10

2.4.3 Merokok Merokok atau penggunaan tembakau sebagai iritan lokal dapat menyebabkan timbulnya dan memperparah coated tongue.25 Temperatur yang tinggi pada saat merokok dan berbagai jenis toksin yang terdapat dalam kandungan rokok dapat memberikan efek yang berbahaya pada jaringan lunak mulut. Merokok juga dapat membuat proses perbaikan jaringan dan luka menjadi berkurang dan pertahanan jaringan terhadap infeksi dan akumulasi plak juga mengalami kemunduran.26

Universitas Sumatera Utara

Penggunaan tembakau dapat secara cepat mempengaruhi aliran saliva, pH saliva meningkat selama merokok dan hal ini mengakibatkan jumlah lactobacillus dan Streptococcus mutans meningkat dalam rongga mulut. Meningkatnya jumlah bakteri yang berkoloni pada dorsum lidah terutama yang dapat menghasilkan VSC dapat menyebabkan halitosis.12,26 Merokok juga dapat mengganggu indera pengecapan, dimana terdapat penurunan sensasi rasa asin (NaCl) pada perokok.26 Dalam banyak kasus, ditemukan adanya hubungan antara keberadaan jamur dengan kebiasaan merokok. Merokok merupakan salah satu faktor predisposisi infeksi jamur. 27

Gambar 9. Coated tongue pada perokok27

2.4.4 Teh dan kopi Coated tongue banyak ditemui pada peminum teh dan kopi secara rutin. Walaupun belum terdapat korelasi yang jelas antara meminum teh dan kopi dengan timbulnya coated tongue, namun jumlah peminum teh dan kopi yang memiliki coated

Universitas Sumatera Utara

tongue cukup tinggi.7 Temperatur minuman yang tinggi saat dikonsumsi merupakan salah satu faktor yang menjadikannya iritan lokal kronis pada lidah yang dapat menimbulkan coated tongue 10

2.4.5 Obat-obatan Lesi pada mukosa sangat berkaitan dengan penggunaan obat-obatan setiap harinya. Penggunaan bermacam obat mengakibatkan menurunnya laju aliran saliva diikuti dengan penyakit yang timbul akibat hal tersebut.20 Obat-obatan tersebut meliputi obat-obatan yang dapat mengakibatkan xerostomia yaitu, antibiotik, antihipertensi, analgetik, dan antasida yang berkontribusi pada pertumbuhan jamur karena asam hidroklorik pada lambung membantu mengontrol pertumbuhan jamur dan mikroba berbahaya lainnya pada saluran pencernaan yang pada akhirnya menimbulkan oral thrush. 28

2.5 Pemeriksaan Candida sp. pada coated tongue 29,30 Mikroorganisme dibiakkan di laboratorium pada media yang terdiri dari bahan nutrient. Pemilihan medium yang dipakai tergantung pada mikroorganisme apa yang akan ditumbuhkan. Perbenihan untuk pertumbuhan jamur agar dapat dipertahankan harus mengandung semua zat makanan yang dibutuhkan oleh organisme tersebut. Faktor lain seperti pH, suhu, dan pendinginan harus dikendalikan dengan baik.

Universitas Sumatera Utara

Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptik ke dalam media steril baik pada media padat maupun media cair. Inokula merupakan bahan yang mengandung mikroba atau biakan mikroba baik dalam keadaan cair maupun padat. Pemeriksaan terhadap Candida dapat dibagi menjadi pemeriksaan langsung dan pemeriksaan biakan. Pemeriksaan langsung: kerokan mukosa lidah dengan pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu. Pemeriksaan biakan: bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. 2.5.1 Pemilihan Media Pemilihan media berdasarkan mikrooganisme apa yang akan dikembangkan dalam hal ini adalah jamur. Media yang digunakan adalah media spesifik dan khusus untuk isolasi jamur yaitu agar dekstrosa glukosa Sabouraud. Medium ini terdiri dari nutrien agar dan antibiotik (Chloramphenicol dan Gentamicin).

Gambar 10. Saboraud Dextrose Agar34

Universitas Sumatera Utara

Sebelum ditanam dalam media, inokulan disimpan dalam tabung berisi larutan Phosphate Buffer Saline dengan tujuan agar mikroorganisme tidak rusak jika disimpan dalam waktu yang cukup lama dan sifatnya yang menyerupai saliva ini membantu dalam menyimpan mikroorganisme tanpa menambah atau mengurangi pertumbuhan Candida.

Gambar 11. Tabung berisi Phosphate Buffer Saline beserta bahan inokulan dari swab

2.5.2 Alat-Alat yang Digunakan Alat- alat yang digunakan untuk pemeriksaan Candida pada coated tongue antara lain senter, lampu spiritus, spatel kayu steril, kapas lidi steril dan label stiker.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 12.Alat-alat pemeriksaan Candida pada coated tongue:1.Senter, 2. Lampu spiritus, 3. Spatel kayu, 4. Kapas lidi, 5. Label stiker 31-34 2.5.3 Kultur Jamur 34,35 Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptik kedalam media steril baik pada media padat maupun media cair. Inokula merupakan bahan yang mengandung mikroba atau biakan mikroba baik dalam keadaan cair maupun padat. Biakan murni diperlukan untuk keperluan diagnostik, karakterisasi

mikroorganisme, industri farmasi dan kegiatan mikroorganisme lainnya. Untuk mendapatkan kultur yang murni selain nutrisi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan mikroorganisme tersebut juga perlu dicegah adanya kontaminan dalam biakan. Oleh karena itu diperlukan suatu teknik kerja aseptis. Teknik aseptis sangat diperlukan untuk memindahkan biakan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Dengan teknik aseptis kontaminasi dengan biakan yang mungkin bersifat patogen dapat dihindari.

Universitas Sumatera Utara

Jamur dibiakan dilaboratorium pada bahan nutrien yang disebut medium. Banyak sekali medium yang tersedia macamnya yang dipakai bergantung kepada beberapa faktor, salah satunya adalah macam jamur yang akan ditumbuhkan. Bahan yang diinokulasikan pada medium ini disebut inokulum. Dengan menginokulasi medium agar nutrient dengan metode cawan gores atau cawan tuang, sel-sel itu akan terpisah sendiri, setelah inkubasi, sel-sel jamur akan memperbanyak diri dalam waktu 18 sampai 24 jam hingga terbentuk massa sel yang dapat dilihat dan dinamakan koloni.

Universitas Sumatera Utara

KERANGKA TEORI

Lansia

Perubahan aspek biologis, fisiologis, degeneratif

Perubahan pola makan

Penyakit sistemik

Teknik pembersihan gigi dan mulut berkurang

Penurunan laju alir saliva

Manifestasi oral

Kerusakan jaringan lunak rongga mulut

Kerusakan jaringan keras rongga mulut

Mukosa pipi

Mukosa lidah

Mukosa palatum

Gingiva

Gigi

Tulang

Candida

Coated tongue

Faktor resiko lain

Sublingual varikositis Fissured tongue


Kandidiasis

Merokok

Kebiasaan menyikat lidah

Kebiasaan minum teh dan kopi

Penggunaan obatobatan

Traumatic ulcer
Keganasan

Universitas Sumatera Utara

KERANGKA KONSEP

Candida

Lansia

Coated tongue

Faktor resiko lain

Universitas Sumatera Utara