Anda di halaman 1dari 12

TITRASI ARGENTOMETRI

Hari, tanggal : Kamis, 8 November 2012 dan 22 November 2012 Tempat : Laboratorium Bakteriologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Denpasar

A. Tujuan
1. Mahasiswa dapat membuat larutan baku AgNO3 0,01 N yang diperlukan untuk titrasi 2. Mahasiswa dapat membuat larutan baku NaCl 0,01 N 3. Mahasiswa dapat melakukan pembakuan AgNO3 dengan NaCl 4. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan contoh dengan metoda argentometri

B. Dasar Teori Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri (Keenan, 1998). Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady, 1999). Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan pembentukan endapan dengan ion Ag+. Argentometri merupakan metode umum untuk menetapkan kadar halogenida dan senyawa lain yang membentuk endapan dengan perak nitrat (AgNO3) pada suasana tertentu. Metode argentometri disebut juga metode pengendapan karena pada argentometri memerlukan pembentukan senyawa yang relatif tidak larut atau endapan. (Gandjar,2007) Untuk menentukan berakhirnya suatu reaksi pengendapan dipergunakan indikator yang baru menghasilkan suatu endapan bila reaksi dipergunakan dengan berhasil baik untuk titrasi pengendapan ini. Dalam titrasi yang melibatkan garam-garam perak ada tiga indikator yang telah sukses dikembangkan selama ini yaitu metode Mohr menggunakan ion kromat, CrO42-,
1

untuk mengendapkan Ag2CrO4 coklat. Metode Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk sebuah kompleks yang berwarna dengan ion tiosianat, SCN. Dan metode Fajans menggunakan indikator adsorpsi. (Underwood.2004) Ada beberapa metode dalam titrasi argentometri yaitu metode Mohr, metode Volhard, Metode Fajans, dan metode Leibig. 1. Metode Mohr Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral atau sedikit basa dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator. Pada permulaan titrasi akan terjadi endapan perak klorida dan setelah tercapai titik ekuivalen, maka penambahan sedikit perak nitrat akan bereaksi dengan kromat dengan membentuk endapan perak kromat yang berwarna merah. (Gandjar,2007) 2. Metode Volhard Perak dapat ditetapkan secara teliti dengan suasana asam dengan larutan baku kalium dan ammonium tiosianat. Kelebihan tiosianat dapat ditetapkan secara jelas dengan garam besi (III) nitrat atau besi (III) ammonium sulfat sebagai indikator yang membentuk warna merah dari kompleks besi (III)-tiosianat dalam lingkungan asam nitrat 0,5-1,5N. Titrasi ini harus dilakukan dalam suasana asam, sebab ion besi (III) akan diendapkan menjadi Fe(OH)3 jika suasana basa sehingga titik akhir tidak dapat ditunjukan. pH larutan dibawah 3, Pada titrasi terjadi perubahan warna 0,7 1 % sebelum titik ekuaivalen. Untuk mendapatkan hasil yang teliti pada waktu akan mencapai titik akhir, titrasi digojog kuat-kuat supaya ion perak yang diarbsorbsi oleh endapan perak tiosianat dapat bereksi dengan tiosianat. Metode volhard dapat digunakan untuk menetapkan asam klorida, bromida, dan iodida dalam suasana asam. (Gandjar,2007) 3. Metode Fajans Pada metode ini digunakan indikator arbsorbsi, yang mana pada titik ekuivalen, indikator terarbsorbsi oleh endapan. Indikator ini tidak memberikan warna pada larutan, tetapi pada permukaan endapan. (Gandjar,2007) 4. Metode Leibig Pada metode ini, titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan indikator, akan tetapi ditunjukan dengan terjadi kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat ditambahkan kepada
2

larutan akali sianida akan terbentuk endapan putih, tetapi pada penggojogan akan larut kembali karena akan terbentuk kompleks sianida yang stabil dan larut. (Gandjar,2007. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengendapan antara lain: 1. Temperatur, Kelarutan semakin meningkat dengan naiknya suhu, jadi dengan meningkatnya suhu maka pembentukan endapan akan berkurang disebabkan banyak endapan yang berada pada larutannya. 2. Sifat alami pelarut, Garam anorganik mudah larut dalam air dibandingkan dengan pelarut organik seperti alkohol atau asam asetat. Perbedaan kelarutan suatu zat dalam pelarut organik dapat dipergunakan untuk memisahkan campuran antara dua zat 3. Pengaruh ion sejenis, Kelarutan endapan akan berkurang jika dilarutkan dalam larutan yang mengandung ion sejenis dibandingkan dalam air saja. 4. Pengaruh Ph, Kelarutan endapan garam yang mengandung anion dari asam lemah dipengaruhi oleh pH, hal ini disebabkan karena penggabungan proton dengan anion endapannya. Misalnya endapan AgI akan semakin larut dengan adanya kenaikan pH disebabkan H+ akan bergabung dengan I- membentuk HI. 5. Pengaruh hidrolisis, Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air maka akan dihasilkan perubahan konsentrasi H+ dimana hal ini akan menyebabkan kation garam tersebut mengalami hidrolisis dan hal ini akan meningkatkan kelarutan garam tersebut. 6. Pengaruh ion kompleks, Kelarutan garam yang tidak mudah larut akan semakin meningkat dengan adanya pembentukan kompleks antara ligan dengan kation garam tersebut. Sebagai contoh AgCl akan naik kelarutannya jika ditambahkan larutan NH3, ini disebabkan karena terbentuknya kompleks Ag(NH3)2Cl (Bharmanto, 2012).

Dalam aplikasi titrasi pengendapan dapat dilihat pada proses desinfeksi air yang sering menggunakan klor, karena harganya terjangkau dan mempunyai daya desinfektan selama beberapa jam setelah pembubuhan (residu klor). Selam proses tersebut, klor direduksi salama hingga menjadi klorida (Cl-) yang tidak mempunyai daya desinfektan, disampinh itu klor juga bereaksi dengan ammonia. Klor aktif dalam larutan dapat tersedia dalam keadaan bebas (Cl2, OCl-, HOCl) dan keadaan terikat (NH2Cl, NHCl2, NCl3). Klor terikat mempunyai daya desinfektan yang tidak seefisien klor bebas (Hadiyanti, 2011).

C. Prinsip
Metode Mohr Ion Cl- yang ada dalam larutan akan mengendap dengan penambahan AgNO3 menghasilkan endapan putih AgCl. Setelah ion Cl- mengendap, kelebihan Ag+ akan berikatan dengan indikator K2CrO4 dan menghasilkan endapan merah bata. Warna tersebut menunjukkan titik akhir titrasi. Reaksi harus berjalan dalam suasana netral atau basa lemah.

D. Reaksi
Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi: Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s) putih Sedang pada titik akhir, titran juga bereaksi menurut reaksi: 2Ag+(aq) + CrO42-(aq) Ag2CrO4(s) merah

E. Alat dan Bahan


Alat 1. Labu ukur 2. Pipet volume 3. Neraca analitik 4. Gelas beaker 5. Buret 6. Erlenmeyer Bahan 1. AgNO3 kristal 2. Larutan baku AgNO3 0,01 N 3. Kristal NaCl murni 4. Larutan K2CrO4 5% 5. Aquadest

F. Cara Kerja
1. Pembakuan larutan baku AgNO3 0,01 N dan NaCl 0,01 N
0,85 g AgNO3 dilarutkan dengan 50 mL aquadest dalam gelas beaker 0,146 g NaCl ditimbang dalam gelas arloji yang sudah dikeringkan dalam oven pada suhu 140 C selama 2 jam

Larutan diaduk hingga homogen

NaCl didinginkan dalam eksikator hingga suhu sama dengan udara luar

Larutan dipindahkan ke dalam labu ukur 500 mL

NaCl dilarutkan dalam aquadest hingga volume larutan 250 mL, lalu dikocok hingga homogen

Aquadest ditambahkan hingga batas garis etsa Larutan dipindahkan dalam botol dan diberi etiket Larutan disimpan dalam botol dan diberi etiket

Prosedur pembakuan Larutan baku AgNO3 dimasukkan ke buret

10 mL larutan NaCl dimasukkan ke erlenmeyer NaCl dengan AgNO3 dititrasikan hingga terjadi perubahan warna dari kuning menjadi coklat kemerahan Titrasi dilakukan tiga kali, kemudian hasilnya dirata-ratakan

Ditambah 0,51mL larutan K2CrO4 5%

2. Titrasi larutan blanko


Larutan baku AgNO3 0,0094 N dimasukkan ke buret Ditambah 2-3 tetes indikator K2CrO4 5%

50 mL aquadest dimasukkan ke Erlenmeyer pastikan pHnya 7 Aquadest dengan AgNO3 dititrasikan hingga terbentuk endapan merah bata Titrasi dilakukan tiga kali.

3. Penentuan kadar klorida sampel


Larutan baku AgNO3 0,0094 N dimasukkan ke buret Apabila kurang basa, ditambah NaOH. Apabila kurang asam ditambah HCl

50 mL sampel air dimasukkan ke Erlenmeyer. pHnya harus netral atau sedikit basa. Sampel air dengan AgNO3 dititrasikan hingga terbentuk endapan merah bata. Titrasi dilakukan dua kali. Kemudian, Kadar klorida dalam sampel dihitung.

Ditambah 2-3 tetes larutan K2CrO4 5%

G.

Data Pengamatan
Praktikum dimulai pada prosedur pembakuan NaCl. Sebelumnya telah dibuat larutan standar baku AgNO3 0.01 N. Larutan baku AgNO3 dimasukkan ke dalam buret sedangkan larutan NaCl dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
AgNO3

dengan menambahkan indikator K2CrO4. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari kuning menjadi coklat merah.

NaCl + K2CrO4

menjadi

Hasil titrasi dijelaskan pada tabel.

Titrasi ke Volume

Warna titik akhir titrasi


6

1 2 3

11,10 mL 11,00 mL 11,10 mL

Endapan coklat merah Endapan coklat merah Endapan coklat merah

Sebelum beranjak ke penentuan kadar klorida, titrasi yang dilakukan adalah titrasi larutan blanko dimana larutan baku AgNO3 dimasukkan dalam buret sedang aquades dimasukkan dalam Erlenmeyer. pH aquadest harus netral atau sedikit basa untuk mendapatkan hasil titrasi sesuai. Indikator yang digunakan adalah K2CrO4. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari kuning menjadi endapan merah bata Data pengamatan pada titrasi larutan blanko: Titrasi ke Volume Warna titik akhir titrasi Titik akhir titrasi larutan 1 1,50 mL Merah blanko 2 1,50 mL Merah 3 1,50 mL Merah Titrasi selanjutnya adalah titrasi penentuan kadar klorida dalam sampel air, dimana larutan baku AgNO3 dimasukkan dalam buret sedang sampel air dimasukkan dalam Erlenmeyer. Ph sampel air adalah 7 atau sedikit basa. Pada percobaan, pH adalah 6 dan harus ditambah NaOH agar menjadi 7. Indikator yang digunakan adalah K2CrO4. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari kuning menjadi endapan merah bata Data pengamatan pada titrasi penentuan klorida sampel: Titrasi ke Volume 1 18,50 mL 2 18,50 mL Warna titik akhir titrasi Endapan merah Endapan merah

Titik Akhir Titrasi

Titik Akhir Titrasi lewat

H.

Perhitungan

1. Perhitungan kadar klorida


7

Diketahui : V titrasi I V titrasi II V titrasi III

= 11,10 mL = 11,00 mL = 11,10 mL

V rata-rata = V2 = 11,067 mL V1(AgNO3) = 10 mL N1(AgNO3) = 0,01 N Ditanya Jawaban : N2(NaCl) = .. : V1 x N1 = V2 x N2 10 mL x 0,01 N = 11,067 mL x N2 N2 =
10 mL x 0,01 N 11,067 mL

= 0,009 N

Jadi, kadar klorida dari hasil titrasi ini adalah 0,009 N.

2. Perhitungan volume titrasi larutan blanko V titrasi I V titrasi II V titrasi III V rata-rata = 1,50 mL = 1,50 mL = 1,50 mL = 1,50 mL

3. Penentuan kadar klorida sampel Diketahui: V titrasi I V titrasi II V rata-rata V sampel = 18,50 mL = 18,50 mL = 18,50 mL = 50 mL

V titrasi larutan blanko =1,50 mL N AgNO3 BE Cl Ditanya : mg/L Cl = ..?


1000 Jawab : mg/L Cl = 1000
V Sampel

= 0,0094N dimana N AgNO3 = N1 x V1 = 0,01 x 10 = 0.0094N


V2 10,6

= 35,5 x (V titrasi V titrasi blanko) x N AgNO3 x BE Cl x 1 mg/L


8

Mg/L Cl =

1000
50 mL

x (18,50mL 1,50mL) x 0,0094 N x 35,5 x 1 mg/L

= 113, 458 mg/L Jadi, kadar klorida sampelnya adalah 113, 458 mg/L.

I. Pembahasan
Titrasi argentometri diawali dengan cara pembakuan NaCl dimana dilakukan titrasi antara larutan pada buret yaitu AgNO3 dengan NaCl pada erlenmeyer. Pada percobaan ini digunakan indikator K2CrO4 sebagai indikator visual yang menandakan terjadinya reaksi sempurna. Yaitu ketika warna larutan yang semula kuning menjadi coklat agak kemerahan dan terdapat endapan. Sebelum melakukan penentuan kadar klorida sampel, melakukan titrasi larutan blanko terlebih dahulu. Titrasi larutan blanko digunakan sebagai faktor koreksi pada titrasi, Tujuan dari titrasi larutan blanko adalah mengurangi kesalahan pada titrasi yang disebabkan adanya pereaksi yang ditambahkan pada saat pelaksanaan titrasi yang kemungkinan pereaksi tersebut ikut bereaksi dengan larutan baku AgNO3. Kondisi yang kita lakukan pada titrasi larutan blanko harus sama dengan kondisi pada titrasi sampel uji, kecuali pada blanko tidak dimasukkan zat ujinya. Dengan dilakukannya titrasi larutan blanko maka volume yang bereaksi dengan zat sampel uji harus dikurangi dengan volume yang digunakan pada titrasi larutan blanko. Nilai pH pada larutan sampel dan aquadest harus netral atau sedikit basa. Pengaturan pH sangat perlu, agar tidak terlalu asam ataupun terlalu basa. Bila terlalu basa, dapat terbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O sehingga titran terlalu banyak terpakai. 2Ag+(aq) + 2OH-(aq) 2AgOH(s) Ag2O(s) + H2O(l) Bila pH terlalu asam, ion CrO4- sebagian akan berubah menjadi Cr2O72- karena reaksi 2H+(aq) + 2CrO42-(aq) Cr2O72- +H2O(l) Apabila pH terlalu asam yaitu dibawah 7 maka harus ditambah NaOH setetes demi setetes hingga mendapatkan pH yang sesuai sebaliknya apabila pH terlalu basa yaitu diatas 7

maka harus ditambah HCl hingga mendapatkan pH yang sesuai. Pada praktikum, pH aquadest adalah 6 maka harus ditambah NaOH. NaOH yang ditambahkan kurang lebih 5 tetes. Kendala yang dialami selama praktikum adalah sulitnya menepatkan pH dari aquadest karena harus benar-benar diukur setelah meneteskan setetes NaOH diukur pH-nya dengan pH stik. Jadi harus benar-benar sabar dalam melakukan titrasi ini. Kendala yang kedua adalah sulitnya menentukan titik akhir titrasi karena warna merahnya tipis sekali sehingga agak sulit untuk diamati. Namun, dengan pengalaman titrasi pertama dan arahan dari dosen pembimbing, titrasi kedua dan ketiga tidak menemui hambatan.

J. Kesimpulan
1. Argentometri merupakan metode untuk menetapkan kadar halogenida dan senyawa lain yang membentuk endapan dengan perak nitrat (AgNO3) pada suasana tertentu. Ada empat metode dalam argentometri yaitu mohr, volhard, vajans, dan liebig. 2. Praktikum kali menggunakan metode mohr. Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral atau sedikit basa dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator. Titik akhir titrasinya akan membentuk endapan kemerahan. 3. Praktikum kali ini melalui tiga tahap titrasi yang pertama pembakuan NaCl, titrasi larutan blanko, dan penentuan kadar klorida sampel. 4. pH sangat berpengaruh dalam titrasi argentometri. pH yang sesuai untuk titrasi kali ini adalah netral (7) atau sedikit basa. 5. Kadar klorida sampel yang didapat dari hasil titrasi adalah 113,458 mg/L. Air sampel yang diambil dari air keran ini tidak layak untuk dikonsumsi karena kadar klorida dalam air yang diperbolehkan oleh SNI(Standar Nasional Indonesia) adalah 1,5 mg/L sampai dengan 100 mg/L.

K. Daftar Pustaka
Anonim, 2011, Parameter yang Diuji Dalam Analisa Air Tanah, online, http://kapalkimia.blogspot.com/2011/04/parameter-yang-diuji-dalam-analisa-air.html, diakses pada 28-11-2012.
10

Bharmanto,

Susilo

Yudi,

2011,

Argentometri,

online,

http://susiloyudibharmanto.wordpress.com/2011/12/14/argentometri/, diakses pada 2811-2012. Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta: Binarupa Aksara. Gandjar, G. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka pelajar. Yogyakarta. Hadiyanti, Meiliana Rizky, 2011, Titrasi pengendapan serta aplikasinya, online, http://melrizky.blogspot.com/2011/12/titrasi-pengendapan-serta-aplikasinya.html, diakses pada 25-11-2012. Handayani, Meuthia, 2011, Analisa Volumetri, online,

http://tothelastbreath.wordpress.com/2011/05/24/analisa-volumetri/, diakses pada 2511-2012. Latif, Arul, 2012, Laporan Argentometri, online,

http://arullatif.wordpress.com/2012/05/25/laporan-argentometri/, diakses pada 25-112012. Keenan, C. W, dkk. 1998. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga. Kurnadi, 2012, Argentometri Laporan, online,

http://acepqurnadi.wordpress.com/2012/01/13/argentometri-laporan/, diakses pada 2711-2012. Mala Khanza Umniatie, 2011, Argentometri, online,

http://malapharmacheticalword.blogspot.com/, diakses pada 27-11-2012. Mpamprene, Carolina, 2012, Argentometri, online,

http://carlyn26.blogspot.com/2012/06/argentometri.html, diakses pada 27-11-2012. S Susanti, 2003. Analisis Kimia Farmasi Kuantitatif. Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Underwood, A.L. dan R.A. Day, Jr. 2004. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Erlangga: Jakarta. L. Pengesahan Mengetahui, Pembimbing Denpasar, 28 November 2012 Praktikan

11

A. A. Ngr. Putra Riana P., S.Farm. Apt

Mahasiswa Analis Kesehatan

12