Patologi penyakit ginjal

Riva Auda, dr,SpA,MKes

Kelainan ginjal
• • • • Kelainan bawaan Kelainan mengenai glomerulus Kelainan mengenai tubulus Neoplasma/ tumor

Kelainan bawaan
• Kelainan jumlah jaringan ginjal – Defisiensi ginjal unilateral/bilateral, hipolasia ginjal – Jaringan ginjal berlebihan(supernumary kidney) • Kelainan letak/posisi, bentuk dan orientasi – Ektopik, fusion, rotasi • Kelainan differensiasi – Displasia ginjal, penyakit ginjal polikistik, penyakit kista pada medulla

Kelainan bawaan
• Agenis ginjal unilateal: 1:1000 orang, sebelah kiri, pada pria • Agenesis ginjal bilateral: facies potterbayi lahir mati • Hipolasia ginjal: lebih banyak unilateral, sering disertai infeksi dan pembentukan batu • Polikistik ginjalbayi lahir mati, atau beberapa bulan, terdapat kelainan bawan lain, hematuria

Penyakit ginjal dapat dikelompokkan sbb. :
1. Penyakit ginjal pre renal 2. Penyakit vaskuler ginjal 3. Penyakit glomeruler 4. Penyakit Tubulo-Intersisial 5. Penyakit ginjal obstruktif

Berdasarkan waktu dapat dibagi atas :
1. Penyakit ginjal akut Peningkatan kreatinin atau urinalisis abnormal dalam beberapa hari atau minggu. 2. Penyakit ginjal kronik Penyakit ginjal berlangsung lebih dari 3 bulan.

1. Penyakit ginjal prerenal -. Akibat berkurangnya perfusi ke ginjal oleh karena deplesi volume cairan atau hipotensi relatif. a. Pendarahan b. Kehilangan cairan melalui gastro intestinal, saluran kemih, kulit. c. Deplesi volume intravaskuler pada gagal jantung, syok, sirosis hati.  Kejadian prerenal biasanya akut. 2. Penyakit vaskuler ginjal. Penyakit vaskuler akut antara lain vaskulitis, penyakit tromboembolik, sindrom uremik hemolitik, trombotik trombositopenik purpura, hipertensi maligna, skleroderma. Penyakit vaskuler kronik, seperti nefrosklerosis, stenosis arteri renalis

Nefritik. . Inflamasi glomerulus dengan disertai adanya sedimen aktif dalam urin yaitu eritrosit.5 gram/24 jam tanpa sedimen aktif dalam urin.Nefrotik. Penyakit Glomeruler Secara etiologi dibagi atas idiopatik dan sekunder.3. . Proteinuri lebih dari 3. silinder eritrosit dan proteinuri lebih dari 1 gram/24 jam. Memiliki 2 pola yaitu : .

Nefropati refluks pada anak. Penyakit Tubulo intersisial -. Nefritis Intersisial Akut. Penurunan fungsi ginjal murni akibat obstruksi terjadi bila dua ureter mengalami hambatan (hiperplasia atau kanker prostat) -. Bisa akut atau kronik. 5. Mulai dari pelvis renalis sampai uretra. . Akut seperti pada Nekrosis Tubular Akut (ATN). -. Sarkoidosis. Kronik seperti pada Ginjal Polikistik. Uropati Obstruktif -.4. Nefropati silinder pada Mieloma Multipel -. Sindrom Syogren.

edema. • Kejadian yang insidentil diketahui misalnya tumor ginjal. • Gejala gagal ginjal seperti anoreksia. perubahan mental • Gejala sistemik misalnya vaskulitis (berupa demam. lesi pada paru).Manifestasi Klinik : • Gejala yang timbul akibat langsung kerusakan ginjal seperti oliguria/anuria. edema. • Kenaikan kreatinin dan kelainan urinalisis asimtomatik. muntah. hipertensi. perubahan warna urin. artralgia. sakit pinggang. . kista ginjal.

Pyelonephritis • Renal disorder affecting the tubules. vesicoureteral reflux and obstruction • Lower UTI :carries the potential of spread to the kidney . interstitium and renal pelvis • One of the most common disease of the kidney • ACUTE : bacterial infection associated with UTI • CHRONIC : bacterial infection.

.

• Etiologi : – Gram –negative bacilli (85%) : E. Proteus. Klebsiella. Enterobacter. cytomegalovirus. Coli. Streptococcus faecalis etc – Virus : Polyoma virus.less common – Lower urinary tract (ascending infection) . adenovirus • Route – bacteria can reach the kidneys : – Blood stream (hematogenous infection).

• Step for renal infection (ascending infection) : – Colonization of the distal urethrae and introitus(female) by coliform bacteria – Urethra to the bladder • Urethral catheterization – Multiplication in the bladder • Outflow obstruction or bladder dysfunction result in incomplete emptying and increased residual urin – bacteria introduce into the bladder can multiply unhindered without being flush out or destroyed in the bladder wall • UTI frequent occur in lower urinary tract obstruction such as BPH . neurogenic bladder dysfunction – Vesicoureteral reflux • Incompetent of the vesicoureteral valve • Normal : one-way valve – prevent retrograde flow of urin. especially during micturition • Incompetent : reflux of bladder urine into ureters . calculi. tumor.

• Step for renal infection (ascending infection) : (cont) – Intrarenal reflux • Most common in upper and lower poles of the kidney. where papillae tend to have flattened or concave tips .

• Morphology : – Patchy interstitial suppurative inflammation. but large area of severe necrosis. – Early stage: neutrophils infiltration is limited in the interstitial tissue. Fungal pyelonephritis often affect glomeruli . eventually destroy the glomeruli.Acute pyelonephritis • Acute suppurative inflammation of the kidney caused by bacteria or virus. and then reaction involve tubules and produce abscess with destruction of the engulfed tubules – Glomeruli resistant to infection. intratubular aggregates of neutrophils and tubular necrosis.

Acute pyelonephritis • Complication : – Papillary necrosis : mainly in diabetics. ureter – Perinephric abscess • Extension of suppurative inflammation through the renal capsule into the perinephric tissue • Pyelonephritis scar is almost always associated with inflammation. urinary tract obstruction • Bilateral (usually)/unilateral • One or all pyramids • On cut section : the tips or distal two-thirds of the pyramids have areas of gray-white to yellow necrosis • Microscopically : coagulative necrosis – Pyonephrosis • Total or almost complete obstruction • The suppurative exudate fills the renal pelvis. deformation of the underlying calyx and pelvis . fibrosis. calyses.

Chronic pyelonephritis • Chronic tubulointerstitial renal disorder in which chronic tubulointerstitial inflammation and renal scarring are associated with pathologic involvement of the calyces and pelvis • Divide 2 forms : Chronic reflux –associated and chronic obstructive • Reflux nephropathy : – More common – Renal involvement in reflux nephropathy occurs in childhood as a result of superimposed of a urinary infection on congenital vesicoureteral reflux and intrarenal reflux • Chronic obstructive pyelonephritis – The effect of obstruction contribute to parenchymal atrophy .

discrete. cortico medullary scar overlying a dilated. blunted or deformed calyx – Microscopic : • Tubules show atrophy in some area and hyperthropy or dilation in others • Dilated tubulus with flattened epithelium filled with coloid casts (thyroidization) .• Morphology : – The kidney usually irregular scarred – The hallmark of chronic pyelonephritis is the coarse.

.

. 60 ml/menit/1.Petanda kerusakan ginjal dalam darah atau urin atau kelainan radiologik/imejing. LFG .Definisi Penyakit Ginjal Kronik (Chronic Kidney Disease – CKD) 1. yaitu gangguan struktur atau fungsi dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG = GFR) ditandai dengan : . Kerusakan ginjal ≥ 3 bulan. 2.73 m2 ≥ 3 bulan. dengan atau tanpa kerusakan ginjal.Kelainan Patologi ginjal .

CHRONIC RENAL FAILURE DEFINITION • The stage of irreversible renal dysfunction  result in renal damage and inability of the kidney to regulate homeostasis • Severity of renal function impairment  various .

CLASSIFICATION 1. End – stage renal failure . Chronic renal insufficiency 3. Early renal failure 2. Chronic renal failure 4.

renal dysplasia. hereditary • nephritis. Alport’s syndrome .Hereditary : Juvenile nephronophthisis.Congenital : Renal hypoplasia. • Obstructive uropathy .ETIOLOGY CRF .Acquired : membranous glomerulopathy • metabolic disorder .

PATHOPHYSIOLOGY • Factors  Immune process Hemodynamic hyperfiltration Dietary phosphorus protein Persistent proteinuria Systemic hypertension .

Clinical Manifestations CRF are from : 1. anorexia. polydipsi. D) 4. Abnormal response organ to androgen hormone • Symptoms may be non specific : • headache. Toxic metabolite accumulation 3. polyuria . fatigue. lethargy. Inability of the kidney to regulate fluid and electrolyte homeostasis 2. vomiting. Renal hormone  (erythropoietin and active form of vit.

Metabolic acidosis .Sodium .Electrolyte imbalance .Fluid imbalance .Potasium : Excretie  and retension : Hyper or hypokalemia .Urine concentrate impairment .

Carbohidrate  glucose intolerance .Fat  hyperlipidermia • Anemia Hemorrhage impairment Impaired cardiovascular function  Hypertension .Metabolic Impairment .

Hypertensive encephalopathy Renal Osteodystrophy Growth retardation Sexual development .Uremic cardiomyopathy Neurologic impairment . especially severe uremia .Heart Impairment .Peripheral neuropathy .Pericarditis.

Bone age. urine routine. GFR.Clinical manifestation .Supportive examination • laboratory blood routine. . creatinine blood gas analysis • Radiologic Renogram : X-ray. • renal function : ureum.Diagnosis .

Evaluasi pada Penyakit Ginjal Kronik (PGK): • • • • Jenis penyakit ginjal (diagnosis) Penyakit komorbid Derajat fungsi ginjal Komplikasi yang berkaitan dengan fungsi ginja • Risiko penurunan fungsi ginjal • Risiko penyakit kardiovaskuler .

Pengobatan pada PGK : • Pengobatan sesuai dengan diagnosis (peny.dasar) • Evaluasi dan penanggulangan penyakit komorbid • Menghambat progresi penurunan fungsi • Mencegah dan pengobatan penyakit kardiovaskuler • Mencegah dan pengobatan komplikasi akibat penurunan fungsi ginjal. . • Persiapan untuk gagal ginjal dan terapi pengganti. • Dialisis dan transplantasi bila timbul gejala uremi.

. penyekat beta.Hipertensi • Target tekanan darah kurang dari 130/80 mmHg. Verapamil.Menghambat progresi 1. Penghambat reseptor angiotensin-II (ARB). sistolik tidak kurang dari 110 mmHg. • Penghambat-ACE (ACEI). Diltiazem.

anemia.2. . penyakit tubulointersisial. Diit rendah protein. fosfat. nitrit oksida. asidosis metabolik. Faktor sekunder. 60% berupa protein dengan nilai biologi tinggi. hiperlipidemi. Kinin dan efek intrarenal/tubuloglomerular feedback) • 0.6 – 0.7 gram/KgBB/hari. Proteinuri. 3. • Protein menginduksi terjadinya hiperfiltrasi (efek hormon glukagon. IGF-I.

Terapi pengganti : 1. Tes Klirens Kreatinin (TKK = CCT) • kurang dari 15 ml/menit. Inisiasi bila : • Cenderung malnutrisi • Kesadaran menurun • Hiperkalemi • Kelebihan cairan/Edema paru • Asidosis metabolik berat • Perikarditis/Efusi Perikardial 2. b. Dialisis • Indikasi : a. Transplantasi .

ACUTE RENAL FAILURE • ARF  SUDDEN DECREASE IN RENAL FUNCTION TO REGULATE  WATER AND ELECTROLITE BALANCE  ACID .BASE BALANCE  WASTE PRODUCT ELIMINATION .

Scleroderma.ACUTE RENAL FAILURE 1. Tubular and Interstitial disease  ATN. PRE-RENAL (Reduced Glomerular Perfusion)  Bleeding. Cirrhosis). Thromboembolic disease b. Malignant hypertension. Vascular disease  Vasculitis. Effective Volume Depletion (CHF. POST-RENAL  Bilateral Obstruction of the Ureter . Multiple Myeloma 3. 2. Glomerular disease  Nephritic pattern. Drug induced. Nephrotic pattern c. RENAL a. Shock. urinary or gastrointestinal or cutaneous losses.

< 1cc/m2/24 hr AZOTEMIA : HIGH ACULUMULATION OF NITROGENOUS PRODUCT IN BLOOD . or < 400 cc/m2/24 hr.NO URINE /24 hr.OLIGURIA : REDUCTION IN URINE OUTPUT < 240 cc/m2/24 hr. . or < 300 cc/m2/24 hr. ANURIA : .EXCRETION < 75 cc/24 hr .

PATHOGENESIS • PRE . GLOMERULUS. INTERSTITIAL TUBULUS. CONGENITAL ANOMALY DISTURBANCE : ISCHAEMIA OR NEPHROTOXIC DRUG • POST RENAL CONGENITAL / ACQUIRED IN URINE FLOW OBSTRUCTION PARENCHYMAL DAMAGE .RENAL CIRCULATORY VOLUME   RBF TO THE CORTEX & GFR  • RENAL VASCULAR DISTURBANCE.

HYPERKALEMIA. GASTROINTESTINAL BLEEDING. OLIGURIA. PULMONARY EDEMA. CONVULSION. CONSCIOUSNESS • NON OLIGURIC ARF : DETECTION IS DIFICULT .CLINICAL MANIFESTATION • COMMONLY SUPER IMPOSED WITH PRIMARY DISEASE • ANEMIA.

CLINICAL EPISOD OF ARF  OLIGURIA PHASE  POLYURIA PHASE  RESOLUTION PHASE DIAGNOSIS A. LABORATORY .URINE ANALYSIS . ANAMNESIS B.ANEMIA . RADIOLOGIC .SERUM CREATININ & UREUM HYPO NATREMIA. PHYSICAL EXAMINATION C. HYPER KALEMIA BLOOD GAS ANALYSIS D.

PREVENTIVE FOR PROGRESSIVE FLUID .RENAL ARF TREATMENT FOR OBSTRUCTION C.RENAL ARF ~ ETIOLOGY B.UREUM > 200 mg % . POST . CONSERVATIVE . DIALYSIS . RENAL ARF 1.MANAGEMENT A.FLUID OVER LOAD 2. PRE .PERSISTETN HYPERKALEMIA .

Hemodialisis 2.Pengobatan Gagal Ginjal Akut • Konserfatif • Dialisis Akut 1. Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT) – Kesadaran menurun – Anuri berkepanjangan – Hiperkalemi – Asidosis metabolik berat – Kelebihan cairan/Edema paru . Dialisis peritoneal 3.

PROGNOSIS MORTALITY DEPEND ON ETIOLOGY. AGE AND PARENCHYMAL DAMAGE OF THE KIDNEY .

Penyakit tubulus • Akut – Nefrosis toksik • Nefrosis kimia • Nefrosis cholemik • Nefrosis osmotik – Nefrosis hipoksik • Kronik – Nefrosis myeloma .

Pathogenesis of ATN • • • Tubular injury Intratubular obstruction Immunologic factors -. Complement activation -. Immune cells . Intercellular adhesion molecules -.

Reversibel – destruction of epithelial cells of tubules – Acute decrease renal function – cause acute renal failure .ACUTE TUBULAR NECROSIS • Acute tubular necrosis ( ATN) – Severe.

.

• Pathogenesis : – Ischemic ATN • Result from reduced renal perfusion – hypotension • Tubular epithelial cells – high rate of energyconsuming metabolic activity and numerous organelles – sensitive to hypoxia and anoxia – cause rapid depletion of intracellular adenosine triphosphate (ATP) in tubular epithelium • Tubular epithelium –simplified (flattened). some time not necrotic .

• Nephrotoxic ATN : – Chemically induce injury of epithelial cells – Tubular epithelial cells are preferred targets for certain toxins because they absorb and concentrate toxins. – Myoglobin and hemoglobin – endogenous nephrotoxin .

with increased hydrostatic pressure – Backleakage of glomerular filtrate into interstisium through damaged tubular epithelium .various combinations of which result in a reduced glomerular filtration rate and tubular epithelial dysfunction : – Intrarenal vasoconstriction – Alteration of arteriolar tone by tubuloglomerular feedback – Decreased glomerular hydrostatic pressure – Decreased glomerular capillary permeability – Tubular obstruction by cellular debris.• The pathophysiology of ATN .

Pathology
• Ischemic ATN : – Swollen kidney, pale cortex, congested medulla – Glomeruli and blood vessel – normal – Tubular injury – focal , proximal tubules, thick limbs of the loop of henle in the outer medulla – Proximal tubules : • Flattening of the epithelium • Dilation of the lumins • Loss of the brush border

• Ischemic ATN (cont): – A characteristic feature of ischemic ATN is absence of widespread necrosis of tubular epithelial cells – “necrosis” is reflected in individual necrotic cells within some proximal or distal tubules – The single necrotic cells are shed into the the tubular lumen- resulting focal denudation of tubular basement membrane – Interstisial edema

– The most common site – proximal tubules .• Toxic ATN : – More – extensive necrosis of tubular epithelium – The necrosis is limited to certain tubular segments that are most sensitive to the particular toxin.

.

• Recovery phase of ATN : – Tubular epithelium regenerates – Mitosis – Increased size of cells and nuclei – cell crowding • Clinical features : – Cause acute renal failure – Rapidly rising serum creatinin level – Oliguria – Urinalysis : degenerating epithelial cells and dirty brown granular casts – Duration of renal failure with ATN depends on many factors : nature and reversibility of the cause .

.

M Kes .SINDROM NEFRITIS AKUT dr Riva Auda. SpA.

DEFINISI Suatu sindroma yang ditandai dengan gejala hematuria. hipertensi. edema dan berbagai derajat insufisiensi ginjal nefritis atau glomerulonefritis terjadi proliferasi dan inflamasi sel dalam glomerulus mekanisme imunologis .

klebsiela. meningococcos dll . pneumococus.Sindroma nefritis akut post streptococal • Glomerulonefritis yang terjadi setelah infeksi kuman Streptococcus B hemolitikus grup A • Penyebab lain glomerulonefritis berhubungan dengan infeksi bakteri dan virus lain: stafilokokus.

EPIDEMIOLOGI • • • • Insidens tidak diketahui dengan tepat Tertinggi pada usia 2-10 tahun Laki-laki : perempuan= 2:1 Kejadian Acute Post Streptococcal Glomerulonephritis (APSGN) pada penderita infeksi Streptokokus nefrogenik: 10-15% • APSGN dapat timbul secara sporadik atau epidemi .

4.PATOGENESIS • Pencetus APSGN: faringitis atau pyoderma • Strain nefritogenik pada infeksi tenggorok: tipe 12. dan 49 • Pada infeksi kulit: strain 49. 6.1. 56. dan 57 • Patogenesis APSGN belum diketahui secara pasti. 53. teori yang diterima: karena reaksi imunologis . 55.

Patogenesa • GNA pasca infeksi tenggorok: musim dingin dan semi • GNA pasca pyoderma: musim semi dan gugur • Teori terjadinya GNA post sterptococus – Respon imun penjamu yang berlebihan terhadap stimulasi antigen—antibodi berlebihan—kompleks antigen antibodi – Kompleks mengendap di membran basalis glomerulus dan mengaktifkan komplemen – Menimbulkan pelepasan berbagai substansi – Meningkatnya porositas kapiler dan terjadi kebocoran protein dan eritrosit .

PATOGENESIS • Peranan sistem imunitas humoral dan sistem komplemen pada APSGN ditandai dengan adanya C3 dan IgG pada membran basalis glomerulus (Smith. 2003) • C3 mengaktifkan monosit & netrofil infiltrasi sel-sel radang sitokin kerusakan glomerulus .

nyeri perut. atau > 3 minggu pasca infeksi kulit • Gejala umum: panas badan. sakit kepala . lemah badan.d. berat • Periode laten: 1-3 minggu (rata-rata 10 hari) pasca ISPA Streptokokus. anoreksia.MANIFESTASI KLINIS • Gejala ringan s.

hipertensi berat. penurunan kesadaran .• Gejala pertama kali – Bengkak pada wajah – Bengkak pada kaki – Asites—penuh perut – Air kencing berwarna gelap seperti the atau karat – Frekuensi BAK berkurang – Gejala hipertensi: nyeri kepala.

MANIFESTASI KLINIS • Gejala khas: hematuria. edema. hipertensi. dyspneu akibat edema paru atau efusi pleura . gejala insufisiensi ginjal (oligouri sampai anuri) • Gejala akibat overload: takipneu.

PEMERIKSAAN PENUNJANG • Analisis urin: .eritrosit kast pada 60-85% kasus  Fungsi ginjal LFG menurun sejalan dengan derajat berat penyakit  Darah: .Hematuria mikroskopis/makroskopis .dapat terjadi anemia normositer.Proteinuria (biasanya < +2) .albumin & protein total menurun sedikit . trombositopenia .

Titer Anti Streptolisin-O (ASO) .PEMERIKSAAN PENUNJANG • Bakteriologi: apus tenggorok atau kulit isolasi & identifikasi kuman penyebab • Serologi: .Titer DNase-B  Pem. Imunologi: Kadar C3 dalam 2 minggu pertama (normal 80-170 mg/dl)  Radiologi: foto toraks  EKG .

DIAGNOSIS BANDING • • • • • • Glomerulonefritis kronis eksaserbasi akut Purpura Henoch-Schonlein Hematuria idiopatik Nefropati IgA Sindroma Alport’s Lupus eritematosus sistemik .

TERAPI • Terapi suportif dan simtomatis • Perawatan bila: .edema berat .penurunan fungsi ginjal yang berat .hipertensi .gejala uremia .

Hipertensi: furosemid > efektif Antihipertensi lain: vasodilator (Hidralazin).diet rendah garam  Terapi khusus: .istirahat: hipertensi. Kalsium antagonis (nifedipin).TERAPI • Terapi umum: . edema berat . ACE inhibitor . gross hematuria.

I. p.000 U/kg bb/kali.M 2 kali/hari atau Penisilin V 50 mg/kg bb/hari.o atau Eritromisin 50/kg bb/hari selama 10 hari .Terapi khusus • Edema & bendungan sirkulasi: retriksi natrium dan air  Oligouria persisten atau anuria: terapi sesuai gagal ginjal akut  Antibiotik untuk eradikasi kuman: Penisilin Prokain 50.

Monitoring Gejala Oligouria & azotemia Hipertensi Gross hematuria Resolusi 2 minggu 3-4 minggu 3 minggu Hematuria mikroskopik Penurunan C3 12 bulan 4-8 minggu .

Monitoring • Fase akut 2-3 minggu • Kontrol tiap 4-6 minggu selama 6 bulan. dilakukan monitoring tekanan darah dan urinalisa • Setelah 6 bulan: kontrol 1 tahun sekali .

d.PROGNOSIS • 90% anak dengan APSGN sembuh tanpa perubahan fungsi ginjal yang bermakna • 0.5-2% pasien APSGN yang dirawat di RS mengalami glomerulonefritis progresif cepat s. stadium terminal .

Mkes .Sindrom Nefrotik dr Riva Auda. SpA.

BATASAN Sindroma Nefrotik (SN) adalah penyakit yang mengenai glomerulus dan ditandai dengan adanya • edema • proteinuria masif (terdapatnya proteinuria +2 atau lebih yang diperiksa secara semikuantitatif/Bang) • hipoalbuminemia (kurang dari 2.5 g/dl) • dengan atau tanpa disertai hiperlipidemia (Haycock. . 1994).

KLASIFIKASI • Etiologi – Sindroma nefrotik primer: kelainan terbatas hanya dalam ginjal atau glomerulus • Kongenital • Responsif steroid • Resisten steroid – Sindroma nefrotik sekunder: penyakit tidak terbatas hanya dalam ginjal .

Klasifikasi (2) • Respon terhadap steroid – Responsif steroid – Tidak responsif steroid • Histopatologi – Sindroma nefrotik minimal – Sindroma nefrotik non minimal • Fokal dan segmental glomerulosklerosis • Membranoproliferatif glomerulonefritis • Proliferasi mesangial diffusa .

• 10 – 15% tipe non minimal • Sindroma nefrotik < 1 thn: jarang kongenital dan infantil Banyak pada usia 2-6 tahun Anak laki-laki : perempuan =1.EPIDEMIOLOGI • Morbiditas > 50% • Dirawat dalam jangka waktu lama ok – Edema – Ulserasi dan infeksi kulit – Gagal ginjal kronik • 60 – 90% SN tipe minimal.5-2: 1 Berhubungan dengan HLA tertentu .

3% Tanpa Relaps 44.7% Resisten Steroid 3.NS SERANGAN PERTAMA Prednison 60 mg/m2/hr Max : 80 mg/hr 40 mg/m2/hr max: : 60 mg/hr Alternate.4% Relaps Frekuen 30.6% . 4 minggu Respon Steroid 96.3% Relaps Infrekuen 21.8% Relaps 52.

PATOFISIOLOGI • Peningkatan permeabilitas glomerulus terhadap protein—proteinuria • Proteinuria: yang keluar paling banyak adalah albumin. faktor koagulasi. protein lain juga keluar seperti imunoglobulin. transferin dan lain-lain .

Jenis proteinuria dan akibatnya Protein albumin HDL-protein dan lesitin Anti trombin G Ig G Transferin Vit D transkortin Akibat Hipoalbumin dan edema Hiperlipidemia Trombosis Infeksi Anemia defisiensi Fe Gangguan metabolisme tulang Gangguan metabolisme kortisol .

Mekanisme terjadinya proteinuria • Hilangnya muatan polihidramnion pada dinding kapiler glomerulus(charge selectivity) – Sialoglikoprotein dan proteoglikan – Penurunan fungsi sel T • Adanya perubahan pori-pori dinding kapiler glomerulus (size selectivity) • Adanya perubahan hemodinamik yang mengatur aliran kapiler .

Patofisiologi edema TEORI UNDERFILLED Kelainan glomerulus Albuminuria Hipoalbuminemia Tekanan Onkotik plasma  EDEMA Volume plasma  Retensi Na renal sekunder ↑ .

Hipoalbuminemia • Peningkatan filtrasi albumin melalui membrana basalis kapiler---kerusakan • Bila kadar albumin plasma < 3 gr% .

low density dan very low density lipoprotein • Adanya peningkatan sintesis protein yang dirangsang adanya hipoalbuminemia atau penurunan tekanan onkotik • Penurunan klirens lipid dari sirkulasi .Hiperlipidemia • Peninggian konsentrasi total kolesterol.

Patofisiologi TEORI OVERFILLED Hipoalbuminemia Albuminuria EDEMA Kelainan glomerulus Retensi Na renal primer Volume plasma ↑ .

refilling kapiler lambat • Diuresis berkurang . ekstramitas pucat.MANIFESTASI KLINIK • Edema – Edema periorbital – Edema ekstremitas – Edema anasarka • Tekanan darah dapat N.  atau paradoks  • KU terlihat kurang baik • Pada hipovolemik suhu ekstremitas 20C dari suhu badan.

2 selektif rendah / non selektif • Lipiduria .5 • Perbandingan protein urin dan plasma < 0.2 selektif sedang.1-0.LABORATORIUM • Hematuria (-) atau mikroskopis: sindroma nefrotik non minimal • Albuminuria > 50mg/kb BB/hari atau > 40mg/m2 • Rasio protein /keratinin urin > 2. 0.1 selektif tinggi. > 0.

IgM biasanya naik – LDL dan VLDL meningkat. HDL biasanya normal – ureum dan kreatinin meningkat – Na dan Ca menurun – Hb dan hematokrit meningkat .Laboratorium (2) • kadar natrium (< 10 mmol/ltr) • perbandingan urea-kreatinin urin dan plasma (hipovolemik jika < 0.01) • Darah : – Hipoalbuminemia (<30 gr/ltr) – IgG turun.

KOMPLIKASI • • • • • • • • • Kelainan koagulasi dan timbulnya trombosis Perubahan hormon dan mineral Pertumbuhan abnormal Infeksi Peritonitis Infeksi kulit Anemia Gangguan tubulus renal Gagal ginjal akut .

Pemberian albumin tidak rutin. .5-1 gr albumin / BBkg).PENATALAKSANAAN 1. dan tidak boleh diberikan pada pasien tanpa gejala kekurangan cairan. – Cairan koloid / plasma atau – Albumin rendah garam (0. Hypovolemia.

diikuti oleh pemberian furosemid 1-2 mg/kgBB/iv .5-1 gr/kgBB iv.Albumin hanya diberikan pada keadaan: • Ada penurunan volume darah hebat (hipovolemia berat) dengan gejala postural hipotensi. muntah dan diare. • Sesak dan edema hebat disertai edema pada skrotum/labia. sakit perut. diberikan dalam beberapa jam (2-4 jam). • Dosis albumin adalah 0.

diberikan cefalosporin generasi ketiga sambil menunggu hasil pemeriksaan sensitivitas dan resistensi. 3.2.Sebelum pemberian kortikosteroid perlu dilakukan skrining untuk menentukan ada tidaknya TBC. Prednison / prednisolon . Panas Jika terdapat tanda-tanda Peritonitis atau septikemia. .

tanpa memperhitungkan adanya remisi atau tidak (maksimum 80 mg/hari) 4 minggu kedua: • prednisone 40 mg/m2/hari.Standar ISKDC (international study of kidney Disease of Children) 4 minggu pertama: • prednisone 60 mg/m2/hari atau +2mg/kg BB/hari dibagi dalam 3-4 dosis sehari. diberikan dengan cara: – intermittent: 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu dengan dosis tunggal setelah makan pagi – alternate: selang sehari dengan dosis tunggal setelah makan pagi tapering off: berangsur-angsur diturunkan. 20 mg. diberikan secara intermittent atau alternate . tiap minggu: prednison 30 mg. 10 mg/m2/hari.

> 2x serangan dlm 6 bln atau >4x serangan kapan saja dalam waktu 12 bln. . FREQUENTLY RELAPSING NS WITHOUT STEROID DEPENDENCY • Relaps setelah serangan I. tetapi <2x serangan dalam 6 bulan atau < 4x serangan kapan saja dalam waktu 12 bulan.REMISI • Bila terjadi proteinuri (-) 3 hari berturut-turut disertai hilangnya edema INFREQUENTLY RELAPSING NS • Relaps setelah serangan I.

partial/complete.Urinary tract obstruction • Urinary obstruction – increased susceptibility to infection and to stone formation • Obstruction : sudden/insidious. unilateral/ bilateral. it may occur any level of the urinary tract • Common cause : – Congenital anomalies : ureteral strictures – Urinary calculi – BPH – Tumor – Inflammation – Slough .

Hydronephrosis • Dilation of the renal pelvis and calyces associated with progressive athropy the kidney due to obstruction to the outflow of urine • Gross examination : kidney have slight to massive enlargement .

.

o • Types of calculi : – Stone (70%) : calcium containing – calcium oxalat. 20 – 30 y.Urolithiasis • Most arise in kidney • Man > woman. calcium oxalat mix with calcium phosphat – Triple stone or struvite stones.10%) – Cystein (1% -2 %) . consist of magnesium amonium phosphat – Uric acid stone (5%.

.

.

SpA.Mkes .dr.TUMOR WILMS Riva Auda.

Pendahuluan • Tumor solid ginjal yang tersering ditemukan • Peak insidensi usia 2-4thn • Urutan ke 5 dari seluruh keganasan: leukemia. limfoma non hodkin • Risiko terjadi 1:10. hemihipermetrop.000 kelahiran • Dapat disertai kelainan lain: aniridia. neuroblastoma. kelainan genitourinaria . astrositoma.

persisten. hilangnya gen supressor tumor.pestisida Terjadi pada saat pembentukan ginjal Terjadi kegaglan metanephric blastema.regresi spontan atau tumbuh menjadi massa besar .nephrogenic rest setelah usia kehamilan 36 minggu • Nephrogenic rest 30-40% anak tumor wilms.Etiologi • • • • Sampai saat ini belum diketahui Penelitian : radiasi prenatal.

makroglosi. organomegali11p15(beckwitch wiedelman sindrom) . yaitu hilangnya lengan pendek kromosom 11  Berhubungan dengan wilms tumor supressor gene (WT1)  Biasanya berhubungan dengan aniridia. retardasi mentalhilangnya lokus pada 11p13  Berhubungan dengan hemihipertrofi. genitourinaria malformasi. Berhubungan dengan chromosom.

Patologi • • • • • • Soliter Dapat terjadi pada kedua ginjal atau salah satu Unisentris Batas jelas dan berkapsul Gambaran lobuler berwarna putih abu-abu Berasal dari sel-sel mesenkim pluripotent metanefrogenik blastema .

dapat direseksi lengkap – Stadium 2:tumor menembus kapsul dan meluas ke dalam jaringan ginjal dan sekitar ginjal – Stadium 3: menyebar ke rongga abdomen – Stadium 4: menyebar secara hematogen – Stadium 5: mengenai kedua ginjal . tanpa menembus kapsul.Stadium • Berdasarkan national wilms tumor study group staging – Stadium 1: tumor terbatas pada ginjal.

demam.Manifestasi klinik • • • • Massa dalam perut (tumor abdomen) Hematuria Hipertensi Anemia. malaise • Kelainan kongenital . infeksi saluran kencing. penurunan berat badan.

Penegakan diagnosis • Berdasarkan gejala klinis • Pemeriksaan radiologis (IVP.Penanganan • Operatif • Radiasi • Kemoterapi . USG.CT scan abdomen) • Laboratorium • Pemeriksaan histopalogik jaringan tumor .

Prognosis • 2 faktor yang mempengaruhi – Stadium – Gambaran histopatologis • Prognosis baik – Stadium 1 dan 2 – Nodus para aorta tidak ada – Gambaran histopatologi tidak menunjukkan gambaran anaplastik atau sarcoma – Tidak adanya ruptur tumor .

. Adenocarcinoma . 80-85% of all malignant tumor of kidney.Renal cell carcinoma • • • • • • • • Derived from renal tubular epithelium cortex. 30 times > in polycystic disease as a complication of chronic dialysis. 6 – 7 th decade. 2-3% of all cancer in adult. Male > female . Grawitz tumor. ratio = 2:1 Higher in smokers and exposure to cadmium.

. • Chromophobe  5 % • Collecting duct Ca  1% • Medullary Ca. • Carcinoma associated with Xp 11 chromosomal abberation. • Papillary RCC  10-15 %.Renal cell carcinoma • Clear cell RCC ( classical/convensional) 7080%. • Mucinous tubular and spindle cell Ca. • RCC unclassified.

fever and paraneoplastic syndrome : + polycythemia. hypercalcemia. eosinophilia. hypertension. .hematuria. . feminization/masculinization. only 10 % of cases. . hepatic dysfunction.costovertebral pain . cushing syndrome. leukomoid reaction and amyloidosis.palpable mass.Renal cell carcinoma • Clinical course: .

regional lymphnode . .liver and adrenal. • The common site of metastasis are: . .bones (33%). .Renal cell carcinoma • Tendency to metastasize widely before giving rise to any local symptoms or signs.brain. .lungs (> 50%).

Renal cell carcinoma.with renal vein invasion or axtension to perirenal fat  reduced approx : 15 – 20 %. • Prognosis: . .5-year survival rate : 45 – up to 70 %  in the absence of distant metastases. • Nephrectomy .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful