Anda di halaman 1dari 4

TERAPI CAIRAN PERIOPERATIF LOBEKTOMI PADA STRUMA NODOSA NON TOKSIK

Abstrak Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor preoperatif, perioperatif dan postoperative. Pada setiap pembedahan selalu terjadi kehilangan cairan yang lebih menonjol dibandingkan perdarahan sebagai akibat adanya evaporasi dan translokasi cairan internal. Kehilangan cairan akibat penguapan (evaporasi) akan lebih banyak pada pembedahan dengan luka pembedahan yang luas dan lama. Sedangkan perpindahan cairan atau lebih dikenal istilah perpindahan ke ruang ketiga atau sequestrasi secara masif dapat berakibat terjadi defisit cairan intravaskuler.

Kata kunci: Terapi cairan, Lobektomi, Struma nodosa non toksik Kasus Seorang pasien, wanita, dengan struma nodusa non toksik dilakukan lobektomi. Pasien menyangkal mempunyai riwayat asma, hipertensi, diabetes mellitus, gangguan jantung maupun pernah menjalani pembedahan sebelumnya. Pada tanggal 20 Maret 2012 pasien menjalani tindakan operasi lobektomi dengan general anestesi. Tensi dan nadi awal sebelum di induksi adalah 136/86 mmHg dan 72x/menit. Mulai pembiusan jam 13.15 menggunakan recofol 130mg dan tramus 25mg. Diagnosis Struma nodosa non toksik Terapi Anestesi diberikan dengan teknik general anestesia, dengan teknik semi closed balance anesthesia, respirasi terkontrol dengan endotracheal tube nomor 4. Induksi dengan propofol 100mg i.v, tramus 25mg. Pemeliharaan dengan N2O dan O2. Pada pasien ini dilakukan monitoring melalui monitor elektronik dan inspeksi keadaan umum pasien, meliputi tekanan darah, respirasi, nadi, dan saturasi oksigen. Pemberian pengganti cairan (RL) hanya sekali selama di dalam ruang operasi. Setelah operasi pasien diposisikan supine, pengawasan keadaan umum dan vital sign, kepala diekstensikan, oksigenasi sampai pasien sadar, setelah sadar dan bising usus positif normal, tidak ada mual dan muntah, boleh makan minum bertahap. Untuk antibiotika, disesuaikan dengan instruksi dokter spesialis bedah. Diskusi Kehilangan cairan saat pembedahan

a. Perdarahan Secara teoritis perdarahan dapat diukur dari : 1) Botol penampung darah yang disambung dengan pipa penghisap darah (suction pump); 2)Kasa yang digunakan sebelum dan setelah pembedahan. Kasa yang penuh darah (ukuran 4x4 cm) mengandung 10 ml darah, sedangkan tampon besar (laparatomy pads) dapat menyerap darah 10-100 ml. Dalam prakteknya jumlah perdarahan selama pembedahan hanya bias ditentukan berdasarkan kepada taksiran (perlu pengalaman banyak) dan keadaan klinis penderita yang kadang-kadang dibantu dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit berulang-ulang (serial). Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit lebih menunjukkan rasio plasma terhadap eritrosit daripada jumlah perdarahan. Kesulitan penaksiran akan bertambah bila pada luka operasi digunakan cairan pembilas (irigasi) dan banyaknya darah yang mengenai kain penutup, meja operasi dan lantai kamar bedah. b. Kehilangan cairan lainnya Pada setiap pembedahan selalu terjadi kehilangan cairan yang lebih menonjol dibandingkan perdarahan sebagai akibat adanya evaporasi dan translokasi cairan internal. Kehilangan cairan akibat penguapan (evaporasi) akan lebih banyak pada pembedahan dengan luka pembedahan yang luas dan lama. Sedangkan perpindahan cairan atau lebih dikenal istilah perpindahan ke ruang ketiga atau sequestrasi secara masif dapat berakibat terjadi defisit cairan intravaskuler. Jaringan yang mengalami trauma, inflamasi atau infeksi dapat mengakibatkan sequestrasi sejumlah cairan interstitial dan perpindahan cairan ke ruangan serosa (ascites) atau ke lumen usus. Akibatnya jumlah cairan ion fungsional dalam ruang ekstraseluler meningkat. Pergeseran cairan yang terjadi tidak dapat dicegah dengan cara membatasi cairan dan dapat merugikan secara fungsional cairan dalam kompartemen ekstraseluler dan juga dapat merugikan fungsional cairan dalam ruang ekstraseluler. Terapi cairan selama pembedahan Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan (perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). Jenis cairan yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah yang hilang. Perkiraan Jumlah Cairan Berdasarkan Jenis Operasi. Jenis Operasi Kebutuhan Cairan (sampai dengan) Minor (Tendon repair, Tympanoplasty Moderate (Histrektomi, Inguinal Hernia 3 mL/KgBB/Jam 6 mL/KgBB/Jam

Major (Total hips replacement, 9 mL/KgBB/Jam peritonitis) Terapi Penggantian Darah Kehilangan darah sampai sekitar 20% EBV (EBV = Estimated Blood Volume = taksiran volume darah), akan menimbulkan gejala hipotensi, takikardi dan penurunan

tekanan vena sentral. Kompensasi tubuh ini akan menurun pada seseorang yang akan mengalami pembiusan (anestesi) sehingga gejala-gejala tersebut seringkali tidak begitu tampak karena depresi komponen vasoaktif. Perkiraan Volum Darah Usia Volume Darah Prematur Neonatus Fullterm Neonatus Bayi Laki-laki Wanita 90 Kg/BB 85 Kg/BB 80 Kg/BB 70-75 Kg/BB 60-65 Kg/BB

Walaupun volume cairan intravaskuler dapat dipertahankan dengan larutan kristaloid, pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan: 1) Keadaan umum penderita ( kadar Hb dan hematokrit) sebelum pembedahan; 2) Jumlah/penaksiran perdarahan yang terjadi; 3) Sumber perdarahan yang telah teratasi atau belum; 4) Keadaan hemodinamik (tensi dan nadi); 5) Jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan; 6) Kalau mungkin hasil serial pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit; 7) Usia penderita. Sebagai patokan kasar dalam pemberian transfusi darah: 1 unit sel darah merah (PRC = Packed Red Cell) dapat menaikkan kadar hemoglobin sebesar 1gr% dan hematokrit 2-3% pada dewasa. Transfusi 10 cc/kgBB sel darah merah dapat menaikkan kadar hemoglobin 3gr% Monitor organ-organ vital dan diuresis, berikan cairan secukupnya sehingga diuresis 1 ml/kgBB/jam Kesimpulan Beberapa faktor yang harus diperhatikan dan menjadi pegangan dalam pemberian cairan perioperatif yaitu kebutuhan normal cairan dan elektrolit harian, defisit cairan dan elektrolit pra bedah, kehilangan cairan saat pembedahan, serta gangguan fungsi ginjal. Daftar pustaka 1. Dachlan, R dkk. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta : bagian Anestesiologi dan terapi Intensif. FK UI 2. Muhiman, M. 2000. Anastesiologi. Jakarta : bagian Anestesiologi dan terapi Intensif. FK UI.

3. Stier, Gary R; Preoperative Evaluation and Testing; in Adult Perioperative Anesthesia: the requisite in anesthesiology; 1st ed.; Elsevier-Mosby; Philadelphia; 2004; pp. 65-68. 4. Wirjoatmodjo, K. 2000. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar untuk Pendidikan S1 Kedokteran. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.