Anda di halaman 1dari 18

ILMU

Ushuluddin merupakan ilmu pengetahuan pokok dalam Islam. Karena ilmu ini menyangkut kepercayaan dan keyakinan seorang muslim yang tercakup dalam rukun iman ialah kepercayaan tentang adanya Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Hari Kiamat dan Takdir. Dasar pembahasan dalam bidang ini berdasarkan ajaran al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan ratio yang sehat. Syamsuddin Syarakhsyi dalam bukunya Al-Mabsuth, menerangkan bahwa dasar ilmu ushuluddin (tauhid) ialah berpegang kepada ajaran al-Quran dan Sunnah, serta menjauhi mengikuti hawa nafsu dan perbuatan bidah. Katuhanan dan kepercayaan dalam Islam bukan hanya berdasarkan dogmatis yang harus ditelan bulat tetapi manusia disuruh berpikir dan memikirkan segala sesuatu untuk memperkokoh kepercayaan kepada yang wajib dipercayai dan diyakini dalam agama. Di samping ilmu ushuluddin timbul ilmu fikih ialah ilmu untuk mengetahui cara memahami syariat, baik yang berhubungan dengan perintah larangan, yang wajib dan yang sunat, yang haram dan yang makruh dan yang mubah.

Ushuluddin merupakan ilmu pengetahuan pokok dalam Islam. Karena ilmu ini menyangkut kepercayaan dan keyakinan seorang muslim yang tercakup dalam rukun iman ialah kepercayaan tentang adanya Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Hari Kiamat dan Takdir. Dasar pembahasan dalam bidang ini berdasarkan ajaran al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan ratio yang sehat. Syamsuddin Syarakhsyi dalam bukunya Al-Mabsuth, menerangkan bahwa dasar ilmu ushuluddin (tauhid) ialah berpegang kepada ajaran al-Quran dan Sunnah, serta menjauhi mengikuti hawa nafsu dan perbuatan bidah. Katuhanan dan kepercayaan dalam Islam bukan hanya berdasarkan dogmatis yang harus ditelan bulat tetapi manusia disuruh berpikir dan memikirkan segala sesuatu untuk memperkokoh kepercayaan kepada yang wajib dipercayai dan diyakini dalam agama. Di samping ilmu ushuluddin timbul ilmu fikih ialah ilmu untuk mengetahui cara memahami syariat, baik yang berhubungan dengan perintah larangan, yang wajib dan yang sunat, yang haram dan yang makruh dan yang mubah. Ilmu fikih ini terbagi menjadi dua kategori besar: a. Ibadah ialah kumpulan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal). Bidang ibadah hanya meliputi muqadimah ibadah (thaharah) dan maqashid ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji. b. Muamalat ialah kumpulan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hubungan horizontal). Bidang ini sangat luas karena mencakup semua aspek pergaulan hidup manusia sesama manusia, baik dalam lingkungan keluarga, kebendaan, maupun dengan masyarakat dan negara. Kedua ilmu dia atas mengenai amalan (perbuatan) lahiriyah, karena itu dinamakan juga dengan ilmu zahir, yang disesuaikan dengan yang diaturnya ialah gerak dan diam anggota tubuh manusia. Di samping itu dengan sendirinya lahir pula ilmu batin atau ilmu tasawuf yang mengatur sikap batin atau jiwa manusia. Ilmu tasawuf atau ilmu batin bertujuan agar manusia terdorong untuk menghindar diri dari semua sifat yang tercela. Kemudian tertarik kepada kebeikan dan berbudi pekerti luhur dan dalam ilmu ini adalah

berlandaskan ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi. Abul Ala al-Maududi dalam bukunya Toward Understanding Islam, mengatakan fikih adalah yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan yang dapat dilihat, memenuhi tugas dan kewajiban seperti yang telah ditetapkan. Dan apa yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan jiwa (batin) dinakan tasawuf. Kemudian katanya contohnya ketika kita berbicara tentang shalat fikih mendorong kita untuk memenuhi kewajiban dan tugas seperti bersuci, menghadap kiblat, memelihara waktu shalat dan jumlah rakaat, sedang tasawuf akan membawa kita dalam shalat selalu khusyu, ingat kepada Allah, membersihkan dan mengikhlaskan jiwa, sehingga shalat kita akan memberi pengaruh dalam membentuk tingkah laku. Oleh karena itu, kaum fikih (fukaha) hanya mengutamakan pikiran, berusaha melaksanakan tugas dan kewajiban dalam bentuk formalitas, sedang orang shufi selalu mengutamakan rasa, berusaha untuk mencapai hikmah (tujuan) ibadah itu, kadang kala mereka tidak bertemu lagi, kerapkali terjadi pertentangan sebagai akibat berbeda sudut pandang. Para fukaha menganggap shalat yang dikerjakan sesuai dengan syarat dan rukun seperti yang tercantum di dalam fikih sudah dianggap sah sekalipun hati orang yang mengerjakan shalat itu lupa kepada Allah dan tergerak di dalam jiwanya ingin minta dipuji. Tetapi orang shufi menganggap shalat yang seperti itu tidak sah karena tujuan dan sasaran shalat belum tercapai ialah menjadi manusia selalu ingat kepada Allah dan terhindar dari kejahatan dan kemaksiatan. Namun orang shufi yang besar dan juga merupakan fakih yang besar, seperti imam malik dan imam Syafii memandang penggabungan ilmu batin dengan ibadah yang lahir merupakan kulmunasi kebahagiaan dalam tasawuf. Abul Ala al-Maududi dalam bukunya Toward Understanding Islam mengatakan justeru itu, tasawuf Islam yang benar ialah merupakan ukuran jiwa dalam mentaati dan menghormati Allah, sedang fikih mengatur pelaksanaan perintah kepada pelaksanaannya secara rinci. Demikian tasawuf merupakan pakaian hati di dalam melaksanakan amal ibadah rukun dan syarat. Sebagai seorang shufi sejati menjunjung tinggi akan syariat dan mentaatinya dengan penuh kesadaran tanpa banyak tanya demikian pula halnya ulama fikih yang benar. HAMKA menulis dalam bukunya Perkembangan Tasari dari Abad ke Abad menerangkan bahwa salah seorang mantan muridnya di Bagdad ialah Ahmad bin Hanbal. Pada malam itu Ahmad bin Hanbal memperingatkan anaknya agar tidak mengadakan kegaduhan ketika melintasi kamar di mana Imam Syafii tidur. Pada tengah malam ketika Ahmad bin Hanbal pergi melintasi kamar Imam Syafii untuk mengambil wudhu ia masih melihat Imam Syafii duduk mengerjakan zikir dan membaca wirid, ia kerjakan sampai menjelang shalat subuh. Begitulah kehidupan seorang fakih besar tidak memisahkan antara kehidupan fakih dan kehidupan shufi. Najamuddin Amin Kurdi menulis dalam bukunya Tanwiru al-Qulub berkata: Artinya: setiap shufi adalah fakih. Ibnu Ubad menulis dalam bukunya Syarah Hikam Ibnu Athaillah berkata: Junaidi al-Bagdadi pernah ditanya tentang orang yang telah mencapai marifah (pengenalan) yang tinggi dan luas wawasannya dalam ilmu tasawuf yang selalu mengabaikan dan tidak menjalankan syariat (ibadah). Junaidi berkata: bagiku orang yang berbuat zina dan mencuri, lebih baik dari orang yang berbuat demikian. Imam Gazali menulis dalam bukunya Raudatu al-Thalibin bahwa tidak benar keyakinan seorang murid (penuntut) sehingga Allah dan Rasul selalu menjadi buah ingatannya, sepanjang harinya diisinya dengan puasa, sehingga lidahnya dapat ditahan dari berkata yang sia-sia, karena terlalu banyak berbicara, makan dan

tidur akan menyebabkan hati menjadi beku..... dan pada malam hari diisi dengan mengerjakan shalat, ruku dan sujud sehingga hatinya selalu bersih dan lidahnya selalu menyebut nama Allah. Kemurnian hati dan kesempurnaan cinta, dalam ajaran Islam adalah dalam penggabungan tasawuf dan fikih, gabungan rasa dan akal. Dengan fikih menentukan batas hukum halal dan haram dan dengan tasawuf memberi pelita dalam jiwa sehingga tidak lagi merasa berat melakukan segala perintah agama. Kalau kembali kepada arti islam, Iman dan Ihsan nampak ketiga ilmu itu yaitu ushuluddin, fikih dan tasawuf telah dapat menyempurnakan ketiga kesimpulan agama Islam. Untuk mengetahui Rukun Iman orang mempelajari ushuluddin, untuk mengetahui hukum Islam orang harus belajar fikih, dan untuk mengetahui kesempurnaan Ihsan orang masuh kedalam tasawuf. Ilmu yang terpilih tiga; Iman, Islam, dan Ihsan dapat dicapai melalui tiga macam ilmu itu.

Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk diulang kembali, sebab masalah ini amat penting untuk menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara orang-orang yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara menyeluruh. Dengan penjelasan yang lebih luas ini, sekiranya dapat membuka tabir yang menyelimuti bagian yang cerah ini, sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu, misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah. Di zaman para sahabat Nabi saw, kaum Muslimin serta pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali. Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan dunia maupun akhirat; masalah pribadi maupun kemasyarakatan, bahkan masalah yang ada hubungannya dengan penggunaan akal, perkembangan jiwa dan jasmani, mendapat perhatian pula. Timbulnya perubahan dan adanya kesulitan dalam kehidupan baru yang dihadapinya adalah akibat pengaruh yang ditimbulkan dari dalam dan luar. Dan juga adanya bangsa-bangsa yang berbeda paham dan alirannya dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar. Dalam hal ini, terdapat orang-orang yang perhatiannya dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada bagian lahirnya (luarnya) atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqih. Ada pula orang-orang yang perhatiannya pada materi dan foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya. Maka, pada saat itu, timbullah orang-orang sufi yang perhatiannya terbatas pada bagian ubudiah saja, terutama pada bagian peningkatan dan penghayatan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari kemurkaan-Nya. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana dan mengurangi hawa nafsu. Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah. Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta kepada Allah (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut: "Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat dengan-Nya."

Dalam syairnya, Siti Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata: "Semua orang yang menyembah Allah karena takut akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya." Kemudian pandangan mereka itu berubah, dari pendidikan akhlak dan latihan jiwa, berubah menjadi paham-paham baru atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang paling menonjol ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham bersatunya hamba dengan Allah). Paham ini juga yang dianut oleh Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata, "Saya adalah Tuhan." Paham Hulul berarti Allah bersemayam di dalam makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih. Banyak di kalangan para sufi sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang menyebabkan kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya. Filsafat ini sangat berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab dan beranggapan bahwa semua manusia sama, baik yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli (kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah. Dalam keadaan yang demikian, tentu timbul asumsi yang bermacam-macam, ada yang menilai masalah tasawuf tersebut secara amat fanatik dengan memuji mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula yang mencelanya, menganggap semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi, agama Budha, dan lain-lainnya. Secara obyektif berikut: bahwa tasawuf itu dapat dikatakan sebagai

"Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan, dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur'an, Sunnah Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda', Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya." Banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan agar mawas diri dari godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia. Tetapi hendaknya selalu bergerak menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon ampunan Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka.

Dalam Al-Qur,an dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan mengenai cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya dan cinta hambaNya kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur,an: "Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat besar kepada Allah ..." (Q.s. Al-Baqarah: 165). "... Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya ..." (Q.s. Al-Maidah: 54). "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur (tidak tercerai-berai) ..." (Q.s. Ash-Shaff: 4). Diterangkan pula dalam Al-Qur'an dan hadis mengenai masalah zuhud, tawakal, tobat, syukur, sabar, yakin, takwa, muraqabah (mawas diri), dan lain-lainnya dari maqam-maqam yang suci dalam agama. Tidak ada golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta membagi segi-segi utamanya maqam ini selain para sufi. Merekalah yang paling mahir dan mengetahui akan penyakit jiwa, sifat-sifatnya dan kekurangan yang ada pada manusia, mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk. Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga di sini saja dalam peranannya di masa permulaan, yaitu adanya kemauan dalam melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat yang murni semata untuk Allah swt. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi, yaitu: "Ilmu tasawuf itu, kemudian akan meningkat ke bidang makrifat perkenalan, setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia Allah. Hal ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani. Akhirnya, dengan ditingkatkannya hal-hal ini, timbullah penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi." Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai berikut: 1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikan ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh hati dari Tuhanku (Allah)." Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si kepada Rasulullah saw. bahwa apabila Fulan sampai

2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya. 3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat

mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif. Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah menyatakan: "... dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia ..." (Q.s. Al-Qashash: 77). Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktekkan dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian, terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya. Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan hukum-hukumnya. Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H.), berkata, 'Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'" Al-Junaid pun berkata: "Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan As-Sunnah." Abu Khafs berkata: "Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf." Abu Yazid Al-Basthami berkata: "Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya." Kiranya keterangan yang paling tepat mengenai tasawuf dan para sufi adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam menjawab atas pertanyaan, "Bagaimana pandangan ahli agama mengenai tasawuf?" Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut,

"Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua, yaitu: Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid'ah dan di luar Sunnah Nabi saw. Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam memberikan pujian dan menganggap mereka paling baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam kondisi yang prima di antara mereka, ada yang cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya; ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara kedua sikap tadi)." Di antara golongan itu ada yang salah, ada yang berdosa, melakukan tobat, ada pula yang tetap tidak bertobat. Yang lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi. Masih banyak lagi dari ahli bid'ah dan golongan fasik yang menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan tidak diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal. Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya.

FIQIH DAN POLITIK Dilihat dari sudut bahasa Fiqih berasal dari kata Fuqaha yang berarti Memahami dan mengerti, sedangkan menurut terminologi (istilah), fiqih yaitu Ilmu yang berbicara tentang hukum-hukum syari amali yang penetapannya di upayakan melalui pemahaman yang mendalam terhadap dalil-dalilnya yang terperinci dalam nash (Al-Quran dan Hadits).[1] Sedangkan Politik menurut Burhani MS dan Hasbi Lawrens dalam kamus ilmiahnya Politik adalah Ilmu kenegaraan/tata Negara, sebagai kata kolektif yang menunjukkan pemikiran yang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan. Adapun Politik dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Siyasah yang berasal dari kata Saasa, Yasuusu, Siyasatan yang berarti: mengatur, mengendalikan, mengurus, atau membuat keputusan. Adapun pengertian Al-Siyasah secara istilah menurut Ibnu Aqil sebagaimana dikutip oleh Ibnu Qoyyim, mentarifkan Al-Siyasah adalah suatu perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh kepada kemafsadatan. Sekalipun Rasulullah Saw tidak menetapkan dan (Bahkan) Allah Swt tidak menetapkannya. Berkenaan dengan kehidupan bernegara, Al-Quran dalam batas-batas tertentu, tidak memberikan perintah, Al-Quran hanya memaktubkan tata nilai. Demikian pula Sunnah. Sebagai contoh Nabi tidak menetapkan peraturan secara rinci mengenai prosedur pergantian kepemimpinan umat dalam kualifikasi pemimpin umat, berkenaan dengan Fiqih Siyasah Syariah yaitu dasar Al-Quran : Artinya: Janganlah bercerai berai (bertengkar) kamu akan gagal dan hilang kekuatan. Sedangkan dasar Haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra : Telah bersabda Nabi Saw ; setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas pimpinannya. Seorang imam yang menjadi pemimpin rakyat bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Kebanyakan Para Ulama sepakat mengenai kemestian menyelenggarakan siyasah, dalam pada itu merekapun sependapat tentang keharusan menyelenggarakan siyasah (Politik) berdasarkan syara. Kesepakatan tersebut terangkum dalam pernyataan Ibnu Al-Qoyyim: Tidak ada siyasah kecuali dengan syara Pernyataan bahwa penyelenggaraan siyasah syariah harus sesuai dengan apa yang termaktub secara tersurat dalam syara saja, meskipun merupakan kebutuhan fundamental, namun nyatanya tidak realistik, seperti dalam perkembangan pelaksanaan siyasah syariah itu sendiri, seperti pada

masa Khulafaur-Rasyidin sering membuat kebijakan yang berbeda dengan dalil-dalil syara yang bersifat juziah dan tersurat secara mantuk. Bertolak dari pemahaman bahwa Dunia merupakan ladang bagi akhirat (Mazroatul akhirat). Al-Ghozali menyatakan Agama tidak sempurna kecuali dengan dunia, kekuasaan dan agama bersaudara kembar. Agama merupakan asal tujuan, sedangkan sulthan merupakan penjaga, yang tidak beragama akan hancur, dan yang tidak berpenjaga atau bersulthan akan hilang. Oleh sebab itu Al-ghozali menempatkan ilmu siyasah sebagai alat sebagaimana dikatakan, Tidak sempurna agama, kecuali dengan siyasah khalaq. Al-ghozali berpendapat; baginya hukum mempelajari ilmu siyasah itu adalah Fardu Kifayah. Sebab seorang Faqih harus berpengetahuan tentang siyasah, karena ia tidak hanya berperan sebagai guru sulthan , tetapi juga membimbing kepada siyasah Al-Khalaq. 5 Berkenaan dengan pada hubungan antara manusia pengaturan siyasah dibedakan menjadi: 1. Fiqih Siyasah Dusturiyyah : yang mengatur hubungan antara warga Negara dengan lembaga Negara yang satu dengan warga Negara dan lembaga Negara yang lain dalam batas-batas administratif suatu Negara. 2. Fiqih Siyasah Dawliyyah : yang mengatur antara warga Negara dan lembaga Negara dari Negara yang satu dengan warga Negara dan lembaga Negara dari Negara lain. 3. Fiqh Siyasah Maliyyah : yang mengatur tentang pemasukan, pengelolaan, dan pengeluaranuang milik Negara. Sekalipun Jumhur Ulama menerima pelaksanaaan Siyasah Syariah, namun ada Ulama yang menolak dan bahkan menganggapnya sebagai suatu pembicaraan diluar bidang agama. Abu Bakar Al-Arkam dan golongan mutazilah dan sebagian golongan Khawarij merupakan ulama yang berpandangan seperti itu. Menurut Ibnu Khaldun, penyebab penolakan mereka karena cebderung menghindari Siyasah karena sebagai upaya untuk menghindaridari gaya hidup raja yang terlena oleh kemewahan duniawi. Dan dalam pandangan mereka, hal itu bertentangan dengan ajaran islam.

Tasawuf di Mata Tokoh Politik dan Fuqaha

Tinggalkan Komentar

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Jafar as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn Abideen said, Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Maruf al-Karkhi, dari Dawad at-Tai, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi. Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Numan, Jika tidak karena dua tahun, Numan (saya) telah celaka. Itulah dua tahun bersama Jafar as-Sadiq. Imam Malik (94-179 H./716-795 CE) Imam Malik (r): man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran). (dalam buku Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195 Imam Shafii (150-205 H./767-820 CE) Imam Shafii : Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu: 1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara. 2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut. 3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf [Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.] Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 : Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE) Imam Ahmad (r) : Ya walladee alayka bi-jallassati haulai as-Sufiyya. Fa innahum zaadu alayna bikathuratil ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi, Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka ( Ghiza alAlbab, vol. 1, p. 120) Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab alWasiya p. 27-32. Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE) Imam al-Qushayri tentang Tasauf: Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya . [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2] Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE) Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131]. Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE) Dalam suratnya al-Maqasid : Ciri jalan sufi ada 5 : menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20] Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE) Imam Fakhr ad-Din ar-Razi : Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku . [Ictiqadat Furaq alMusliman, p. 72, 73] Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE) Ibn Khaldun : Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabieen, and Tabi at-Tabieen. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]

Tajuddin as-Subki Mueed an-Naeem, p. 190, dalam tasauf: Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah Dia berkata: Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.

Jalaluddin as-Suyuti Dalam Tayad al-haqiqat al-Aliyya, p. 57: tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bidah

Ibn Taimiya (661-728 H./1263-1328 CE) Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi. Juga dalam hal 499: Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad arRafai, and Shaikh Bayazid al- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume 10: Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia: Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?. Dan Allah menjawab: Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku. Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul Saw.

Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasawuf

Berikut adalah pendapat Ibn Taimiah tentang definisi Tasauf dari strained, Whether you are gold or gold-plated copper. Sanai. Following is what Ibn Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmua Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar arRahmah, Cairo: Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan). Tasauf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nimat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69) Dia melanjutkan mengenai Sufi,mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).

Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE) Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya) dalam diri (Manazil as-Saireen) Lanjut Ibn Qayyim:Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh

Abdullah ibn Muhammad ibn Abdul Wahhab (1115-1201 H./1703-1787 CE) Dari Mu ammad Man ar Numanis book (p. 85), Ad- iaat al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn cAbdul Wahhab: Shaikh Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasauf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasauf diperlukan. Dalam volume 5 dari Muhammad ibn Abdul Wahhab entitled ar-Rasail ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, and 64 dia menyatakan: Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn Arabi atau Ibn al-Farid karena interpretasi sufinya

Ibn Abidin

Ulama besar, Ibn Abidin dalam Rasail Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan RahmatNya. Semoga Allah merahmati mereka. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].

Shaikh Rashid Rida Dia berkata,tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].

Maulana Abul Hasan Ali an-Nadwi Maulana Abul Hasan Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap masiat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam

Abul Ala Mawdudi Dalam Mabadi al-Islam (p. 17), Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya. Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

Social Masyarakat
Fiqh memang tumbuh dan berkembang begitu cepat serta memberikan pengaruh yang sangat dominan dalam kehidupan umat Islam. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah, pada fase Madinah, Islam lahir bukan hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai negara. Karena lahir sebagai negara, sudah barang tentu ia memerlukan perangkat-perangkat sosial seperti politik dan hukum. Karena itulah kita dapatkan hampir keseluruhan ayat ahkam turun paska Hijrah atau pada periode Madinah. Meskipun dalam banyak perkara ayat-ayat Al-Quran tidak menjelaskannya secara detail, saat Nabi masih hidup, mayarakat Islam tidak banyak mendapatkan kesulitan dalam menentukan status hukum yang terkait dengan masalah-masalah praktis kehidupan. Sebagai penerima wahyu, sangat logis jika Nabi diyakini sebagi orang yang perilaku serta ucapannya (sunnahnya) bersifat otoritatif. Karena logika inilah, wajar jika sunnah Nabi dianggap sebagai penjelas (tabyin) terahadap Al-Quran. Secara sederhana dapat diungkapkan Al-Quran turun, Nabi berbuat sesuai dengan kehendak Al-Quran kemudian masyarakat menirukannya. Namun, setelah Nabi wafat, tafsir hidup itu tidak ada lagi, sementara permasalahan sosial terus berkembang. Dengan demikian, keperluan yang paling mendesak adalah bagaimana permasalahan baru yang muncul dari daerah taklukan baru mendapatkan legalitas keagamaan. Karena Islam lahir sebagai agama dan negara, penyebaran Islam pada masa-masa Nabi pun masih diwarnai dengan watak politik. Akibatnya, sangat wajar jika lebih banyak permasalahan sosial keagamaan yang bersifat praktis muncul ke permukaan daripada permasalahan sosial keagamaan yang bersifat teologis. Atas dasar alasan inilah mengapa keperluan terhadap hukum terlihat begitu dominan. Gambaran di atas merupakan penyederhanaan argumen mengapa Fiqh berkembang begitu cepat. Namun sayang, pada akhirnya Fiqh berkembang menjadi salah satu cabang ilmu ke-Islam-an yang formalistik. Dalam proses pengembangan kerangka teoritiknya, Fiqh menjadi terpisah dari etika. Inilah yang kemudian dikritik oleh Imam al-Ghazali bahwa Fiqh telah berkembang menjadi Ilmu Dunia. Karena pandangan Fiqh yang sangat formalistik itulah dalam konteks sosial yang ada, ajaran syariat yang tertuang dalam Fiqh terkadang terlihat tidak searah dengan bentuk kehidupan praktis sehari-hari. Zakat misalnya, sebenarnya merupakan ajaran Islam yang semangatnya adalah menciptakan keadilan sosial ekonomi. Namun dalam Fiqh, zakat sering dipahami sebagai ibadah formal yang hanya menjelaskan kewajiban orang yang wajib berzakat untuk mengeluarkan zakat dalam nishab tertentu. Watak Fiqh yang formalistik memang sering mengundang orang untuk melakukan manipulasi (hilah) terhadapnya. Al-Ghazali menceritakan bahwa suatu ketika Abu Yusuf memberikan seluruh harta kekayaanya kepada isterinya sendiri pada akhir khaul untuk maksud menggugurkan

kewajiban zakat. Ketika Abu Hanifah menerima cerita itu beliau berkomentar, Itu adalah pemahaman Fiqhnya, penglihatan Fiqh dunia akan membenarkan tindakan itu. Namun dia berkomentar lebih jauh, Perbuatan itu akan mendatangkan petaka yang lebih berat dari tindakan kriminal apapun di akhirat kelak. Pengembalian Fiqh agar tetap berjalan sesuai dengan prinsip etika dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan maqasid al-Syariah ke dalam proses pengembangan kerangka teoritik Fiqh. Dalah konteks ini, berarti hikmah hukum harus diintegrasikan ke dalam illat hukum sehingga diperoleh suatu produk hukum yang bermuara pada kemaslahatan umum. Dengan gambaran di atas, jelas upaya apa pun yang dilakukan untuk tujuan pengembangan Fiqh menurut kita (para pengembang) memiliki wawasan tentang dimensi etika dan formal legalistik Fiqh. Penempatan kedua dimensi ini harus dilakukan secara proporsional agar pengembangan Fiqh benar-benar sejalan dengan fungsinya, yakni sebagai pembimbing sekaligus pemberi solusi atas permasalahan kehidupan praktis, baik bersifat individual maupun sosial. Dengan perkataan lain, Fiqh harus dihadirkan sebagai etika sosial, bukan hukum positif negara. Inilah yang selama ini telah mendorong saya untuk mengembangkan Fiqh yang bernuansa sosial, tidak hanya bicara halal-haram yang kental dengan nuansa individual atau pun menghadirkan Fiqh sebagai hukum positif negara. Fiqh sosial bertolak dari pandangan bahwa mengatasi masalah sosial yang kompleks dipandang sebagai perhatian utama syariat Islam. Pemecahan problem sosial berarti merupakan upaya untuk memenuhi tanggungjawab kaum muslimin yang konsekuen atas kewajiban mewujudkan kesejahteraan atau kemaslahatan umum (al-maslahah al-ammah). Kemaslahatan umum secara sederhana dapat dirumuskan sebagai kebutuhan nyata masyarakat dalam suatu kawasan tertentu untuk menunjang kesejahteraan lahiriyahnya. Keperluan itu boleh berdimensi dlauriyah atau keperluan dasar (basic need) yang menjadi sarana pokok untuk mencapai keselamatan agama, akal pikiran, jiwa, raga, nasab (keturunan) dan harta benda, maupun keperluan hajiyah (sekunder) dan keperluan yang berdimensi takmiliyah atau pelengkap (supplementary). Untuk tujuan pengembangan Fiqh, para mujtahid masa lalu sebenarnya sudah cukup menyediakan landasan kukuh sebagaimana tergambar dalam kaidah-kaidah ushuliyah maupun fiqhiyah. Hingga kini, nampaknya belum ada suatu metodologi (manhaj) memahami Syariat yang sudah teruji (mujarrab) keberhasilannya dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial selain apa yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu. Bahkan Fiqh dalam pengertian kompendium yurisprudensi pun banyak yang masih relevan untuk dijadikan rujukan dalam mengatasi berbagai permasalahan aktual. Terdorong oleh keyakinan inilah, dalam upaya mengembangkan Fiqh, penulis akan berangkat dari hasil rumusan para ulama terdahulu baik dalam konteks metodologis (manhaji) maupun kumpulan hukum yang dihasilkan (qauli). Secara qauli pengembangan Fiqh bisa diwujudkan dengan melakukan kontekstualisasi kitab kuning atau dengan cara pengembangan contoh-contoh aplikasi kaidah-kaidah Ushul al-Fiqh maupun Qawaid al-Fiqhiyah. Sedangkan secara manhaji, bisa dilakukan dengan cara pengembangan teori masalik al-illat agar Fiqh yang dihasilkan sesuai dengan maslahat alamanah.

Agar gerakan sosial tasawuf dapat merambah dalam kehidupan masyarakat, maka harus dimahami kultur lokal yang ada. Kesan bahwa tasawuf yang elitis dan egois dengan mengedepankan atau menunjukkan simbol-simbol seperti memakai jubah, berjanggut panjang kiranya harus didekonstruksi. Tasawuf perlu mengakomodasi budaya lokal yang ada, terutama didaerah yang sangat kental budaya lokalnya. Jika tasawuf tidak didukung oleh budaya lokal karena dianggap tidak berbanding lurus dengan budaya yang telah ada, maka tasawuf akan terasa kering. Namun jujur harus diakui bahwa ada budaya yang baik dan juga ada budaya yang rusak, dalam hal ini perlu dilakukan filterisasi budaya lokal. Yang masuk dalam kategori budaya rusak harus diperbaiki sedikit-demi sedikit dan diarahkan kepada yang lebih baik. Toleransi terhadap budaya lokal menjadi salah satu kunci keberhasilan dari tasawuf dalam melakukan gerakan-gerakan sosial dimasyarakat yang memiliki budaya lokal sangat kuat. Mewujudkan serangkaian cita-cita tersebut diatas, oleh Budhy Munawar Rachman bukanlah hal yang berlebihan. Apalagi dewasa ini tampak perkembangan yang menyeluruh dalam ilmu tasawuf dalam hubungan inter-disipliner. Beberapa contoh bisa disebut di sini; seperti pertemuan tasawuf dengan fisika dan sains modern yang holistik, yang membawa kepada kesadaran arti kehadiran manusia dan tugas-tugas utamanya di muka bumi; pertemuan tasawuf dengan ekologi yang menyadarkan mengenai pentingnya kesinambungan alam ini dengan keanekaragaman hayatinya, didasarkan pada paham kesucian alam; pertemuan tasawuf dengan penyembuhan alternatif yang memberikan kesadaran bahwa masalah kesehatan bukan hanya bersifat fisikal tetapi lebih-lebih ruhani, disini tasawuf memberikan visi keruhanian untuk kedokteran; pertemuan tasawuf dengan psikologi baru yang menekankan segi transpersonal; dan lain-lain pertemuan interdisipliner yang intinya sama. Semua menyumbang kesadaran bahwa arti tasawuf dewasa ini bukan hanya pada kesalehan formal yang individualistis, tetapi juga merambah dalam ranah etika global. Untuk itu maka tasawuf perlu diwujudkan dalam cara hidup. Cara hidup tasawuf bukan terutama benar dari formalnya, tetapi bagaimana nilai-nilai tasawuf itu dapat menjadi way of life. Dengan demikian maka tasawuf bukan hanya dalam ranah transenden, namun juga masuk dalam wilayah sosial. Hal ini selaras dengan gagasan Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA yang menawarkan tasawuf sosial. Yang dimaksud dengan Tasawuf Sosial di sini ialah tasawuf yang tidak memisahkan antara hakikat dan syari'at (fikh) dan pula bekecimpung dalam hidup dan kehidupan duniawi, tidak memisahkan antara dunia dan akhirat. Tasawuf sosial bukan tasawuf isolatif, tetapi aktif ditengahtengah pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara sebagai tuntutan tangggung jawab sosial tasawuf pada awal abad XXI ini. Tasawuf sosial bukan lagi bersifat uzlah dari keramaian, namun sebaliknya, harus aktif mengarungi kehidupan ini secara total, baik dalam aspek sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Oleh Karena itu, peran sufi seharusnya lebih empirik dan fungsional dalam menyikapi dan memandang kehidupan ini secara nyata.