Anda di halaman 1dari 7

Karakteristik Virus Virus adalah mikroorganisme yang sedemikian kecilnya sehingga hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop

elektron. Virus bahkan dapat lolos melewati pori-pori saringan yang tidak memungkinkan lewatnya bakteri. Ukuran virus diketahui berkisar antara 20-14.000 nm. Virus juga hanya dapat memperbanyak diri di dalam sel-sel organisme lain, baik itu mikroorganisme, protozoa, hewan, maupun tumbuhan. Karena alasan inilah mereka kemudian disebut parasit intraseluler obligat. Virus sangat bergantung kepada sel-sel inangnya untuk bereproduksi. Terutama karena tidak mempunyai perlengkapan metabolik sendiri, sehingga virus tidak mampu membangkitkan energy atau mensintesis protein. Kisaran inang virus sangat luas, meliputi bakteri, fungi, protista, hewan, dan tumbuhan. Satu hal yang membuat virus dianggap sebagai makhluk hidup adalah karena virus memiliki informasi genetis untuk bereproduksi dan mengambil alih sistem pembangkit energy inangnya. Bahan genetic virus adalah DNA atau RNA, namun sejauh ini belum ada ditemukan virus yang memiliki DNA dan RNA sekaligus. Materi genetik ini dikemas di dalam selubung protein yang dikenal sebagai kapsid. Selubung ini berfungsi melindungi materi genetic virus ketika berada di luar sel (Pelczar, et al. 2005). Struktur Virus Struktur dasar yang dimiliki virus adalah materi genetiknya berupa asam nukleat DNA atau RNA, serta selubung protein atau yang lebih dikenal dengan kapsid. Kadang-kadang virus tertutup oleh envelope, yaitu suatu struktur yang tersusun atas lipid, protein, dan karbohidrat yang mengelilingi asam nukleat virus. Asam nukleat virus berupa DNA atau RNA, beruntai tunggal / single strain (ss) ataupun beruntai ganda / double strain (ds). Asam nukleat virus dapat berbentuk linear ataupun sirkuler. Pada beberapa virus, contohnya virus influenza., asam nukleatnya berupa segmen-segmen yang terpisah. (cariin gambar asam nukleat virus yang sirkuler, linear, bersegmen) Kapsid adalah susunan protein yang mengelilingi asam nukleat virus. Struktur kapsid sangat ditentukan oleh asam nukleat virus. Kapsid tersusun atas subunit-subunit morfologis yang disebut kapsomer. Kapsomer sendiri terdiri dari sejumlah subunit protein yang disebut protomer.

Pada beberap virus, kapsid ditutupi oleh sampul atau envelope. Sampul umumnya terdiri dari kombinasi antara lipid (mayoritas), protein, dan karbohidrat. Karena komposisi penyusunnya ini, virus berenvelope bersifat sensitive terhadap zat yang dapat melarutkan membran lipid, misalnya eter. Sampul dapat ditutupi oleh struktur serupa paku (spike) yang merupakan kompleks karbohidrat dan protein. Spike dapat berperan pada proses perlekatan virus pada sel inang. Virus dengan kapsid yang tidak tertutupi oleh sampul disebut virus telanjang (non-enveloped virus). Pada virus ini, kapsid melindungi asam nukleat virus dari enzim nuklease sel inang dan mendukung perlekatan virus pada ssel inang yang peka (Pratiwi, 2008).

Morvologi Umum Virus Virus memiliki beberapa bentuk morfologi Berdasarkan hal itu, morfologi virus dibedakan menjadi: a. Virus Heliks Kapsid menyerupai bentuk batang yang memanjang, ada yang menyambung pada bagian ujung-ujungnya, dan ada pula yang terputus atau terbuka pada bagian ujung-ujungnya. Kapsid dapat bersifat kaku ataupun fleksibel. Asam nukleat virus ditemukan di dalam lekuk kapsid silindris. Contoh dari virus yang memiliki morvologi ini adalah Virus Rabies dan Virus Ebola. b. Virus Polihedral Kapsid berbentuk ikosahedron, yaitu polihedron regular dengan 20 permukaan triangular dan 20 sudut. Kapsomer di setiap permukaan berbentuk segitiga sama sisi. Contoh dari vierus bermorvologi ini adalah Adenovirus dan Poliovirus. c. Virus Bersampul (enveloped) Morvologi virus ini sebenarnya didasarkan pada keberadaan sampul atau envelope nya. Sementara arsitektur kapsidnya sendiri tetap hanya dua tipe diatas, yaitu polihedral dan heliks. Bila virus heliks memiliki sampul, maka disebut virus heliks bersampul (enveloped helical virus). Sementara bila virus polihedral memiliki sampul, disebut virus polihedral bersampul (enveloped polyhedral virus). Contoh dari virus ini masing-masing adalah: Virus Influenza (heliks bersampul), Virus Herpes Simpleks (polihedral bersampul). d. Virus Kompleks berdasarkan arsitektur kapsidnya.

Morvologi virus dikatakan kompleks apabila dia memiliki bentuk struktur yang tidak jelas, atau susah dikategorikan berbentuk heliks atau polihedral. Contohnya adalah Bakteriofag, kapsidnya berbentuk polihedral, dengan ekor berbentuk heliks. Contoh lain adalah Poxvirus, kapsidnya tidak terlihat dengan jelas, namun diketahui terdapat selubung protein yang mengelilingi asam nukleat virus tersebut. (Pratiwi, 2008) Bakteriofag Bakteriofage yaitu virus yang menginfeksi bakteri, ditemukan secara terpisah oleh Frederick W. Twort di Inggris pada tahun 1915 dan oleh Felix dHerelle di Institut Pasteur Paris tahun 1917. Twort mengamati bahwa koloni-koloni bakteri kadang-kadang mengalami lisis (pecah) dan bahwa efek litik ini dapat ditularkan ke koloni bakteri yang lain. Bahkan isolat suatu bakteri yang telah mengalami lisis, yang kemudian disaring menggunakan penyaring bakteri pun dapat menularkan efek litik ini. Dari serangkaian pengamatan-pengamatan itu, Twort kemudian dengan hati-hati mengusulkan bahwa unsur yang menyebabkan litik itu mungkin virus. dHerelle pun kembali menemukan fenomena ini dua tahun kemudian dan mengajukan kata bakteriofage yang berarti pemakan bakteri. Ia menganggap unsur yang lolos saringan tersebut sebagai mikroba yang tak tampak, yang bersifat parasitik bagi bakteri (Pelczar, et al. 2005). Struktur dan Morfologi Bakteriofage Dengan adanya teknologi mikroskop elektron, telah memungkinkan ditentukannya cirri-ciri structural dari bakteriofage. Bakteriofage seperti halnya semua virus, minimal terdiri dari sebuah inti asam nukleat yang dikelilingi oleh selubung protein atau kapsid. Kapsid pada bakteriofage juga sama, tersusun dari subunit-subunit morfologis bernama kapsomer. Kapsomer juga tersusun oleh molekul protein bernama protomer. Kebanyakan bakteriofage memiliki struktur berupa kepala dan ekor. Bagian kepala bakteriofage biasanya berbentuk ikosahedral, yaitu kapsidnya bersegi 20, masing-masing merupakan segitiga sama sisi. Keduapuluh segi ini bersatu membentuk 12 puncak. Pada kapsid yang paling sederhana, ada satu kapsomer pada setiap puncak, kapsomer ini dikelilingi oleh lima kapsomer lainnya. Di bagian dalam kapsid yang berbentuk ikosahedral ini terdapat asam nukleat virus. Bagian ekor bakteriofage juga merupakan modifikasi dari kapsid. Hanya bedanya, bagian ekor bakteriofage tersusun atas kapsid yang berbentuk heliks atau batang. Di dalam

kapsid berbentuk batang ini juga terdapat asam nukleat virus. Selain kedua struktur diatas, bakteriofage juga biasanya memiliki bagian leher, yaitu bagian yang menghubungkan bagian kepala virus dengan bagian ekor virus. Di bagian ujung ekor bakteriofage juga biasanya terdapat serabut ekor dan lempengan dasar yang berisi duri ekor. Struktur di bagian ekor ini kelak akan berfungsi saat virus melakukan penetrasi terhadap sel bakteri inangnya. Cariin gamabr struktur bakteriofage yang isi sampe leher dan lempengan dasar.. Bakteriofage dapat dikelompokkam ke dalam enam tipe morfologis, diantaranya adalah: a. Tipe A: tipe yang paling rumit ini mempunyai kepala heksagonal, ekor yang kaku dengan seludang kontraktil dan serabut ekor. b. Tipe B: serupa dengan tipe A, tipe ini memiliki kepala heksagonal , tetapi tidak mempunyai seludang kontraktil. Ekornya kaku, dan mengenai serabut ekor, ada yang mempunyai dan ada yang tidak. c. Tipe C: tipe ini dicirikan oleh sebuah kepala heksagonal dan sebuah ekor yang lebih pendek daripada kepalanya. Ekornya tidak mempunyai seludang kontraktil, dan mengenai serabut ekor, ada yang mempunyai dan ada yang tidak. d. Tipe D: tipe ini mempunyai sebuah kepala tanpa ekor, dan kepalanya tersusun dari kapsomer-kapsomer besar. e. Tipe E: tipe ini mempunyai sebuah kepal tanpa ekor, dan kepalanya tersusun dari kapsomer-kapsomer kecil. f. Tipe F: tipe ini berbentuk filamen. Tipe A, B, dan C menujukkan morfologi yang unik bagi bakteriofage. Tipe-tipe morfologis D dan E dijumpai pula pada virus tumbuhan dan virus hewan. Bentuk yang seperti filament pada tipe F, dijumpai juga pada beberapa virus tumbuhan (Pelczar, et al. 2005). cariin gambar enam morfologi bakteriofage, klo gk ada scan ajah..

Isolasi dan Kultivasi Bakteriofage Virus bakterial tersebar luas di alam. Kebanyakan bakteri, meskipun tidak semuanya, memiliki bakteriofage sebagai parasitnya. Dengan tehnik yang sesuai, bakteriofage ini dapat diisolasi dengan mudah di laboratorium. Bakteriofage mudah diisolasi dan dan dikultivasi pada biakan bakteri yang muda dan sedang tumbuh aktif dalam kaldu atau cawan agar. Pada

biakan yang cair, adanya bakteriofage yang melisis bakteri dapat dibuktikan dengan perubahan biakan dari keruh menjadi jernih. Sedangkan pada biakan agar cawan, hadirnya bakteriofage yang melisis bakteri ditunjukkan dengan adanya daerah-daerah yang jernih yang sering disebut plak (plaque). Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi bakteriofage adalah harus adanya kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya. Sumber bakteriofage yang paling baik dan paling umum adalah habitat asli inangnya. Sebagai contoh, fagekoli atau fage-fage lain yang patogenik bagi bakteri lain yang dijumpai di dalam saluran pencernaan dapat diisolasi paling baik dari limbah toilet atau kotoran hewan langsung. Kultivasinya sendiri dilakukan dengan sentrifugasi atau filtrasi bahan sumbernya, kemudian penambahan kloroform untuk membunuh sel-sel bakterinya. Sejumlah kecil (sekitar 0,1 ml) bahan ini kemudian dicampurkan dengan organisme inang dan disebarkan pada medium agar. Multiplikasi bakteriofage ditunjukkan dengan munculnya plak-plak pada lapisan bakteri inang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Setiap plak dianggap sebagai satu virus, sehingga konsentrasi suspense virus yang dihitung dari jumlah plak yang terbentuk disebut plaque forming unit (pelczar, et al. 2005).

Reproduksi bakteriofage Virus tidak memiliki kelengkapan metabolik sendiri untuk perkembangbiakannya. Agar dapat berkembangbiak, virus harus menginfeksi sel inang terlebih dahulu. Jika berdasarkan cara perkembangbiakannya, secara garis besar ada dua tipe utama bakteriofage: litik atau virulen, dan lisogenik atau avirulen. Bila fage litik menginfeksi suatu sel bakteri, sel tersebut memberikan tanggapan dengan cara menghasilkan virus-virus baru dalam jumlah banyak, kemudian pada akhir masa inkubasinya, sel inang itu pecah atau mengalami lisis, melepaskan bakteriofage-bakteriofage baru yang bisa menginfeksi sel inang yang lainnya. Daurnya ini disebut daur litik. Adapun penjelasan spesifik dari daur litik dan lisogenik adalah sebagai berikut. a. Daur litik Secara garis besar, daur litik memiliki beberapa tahapan yang dapat dibedakan dengan jelas. Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah adsorpsi, penetrasi, replikasi, prakitan dan

pematangan, serta lisis atau pembebasan. Penjelasan masing-masing tahap adalah sebagai berikut: 1) Adsorpsi Adsorpsi merupakan interaksi spesifik antara virus dan bakteri inang. Pada sat ini, ujung ekor virus melekat pada dinding sel. Terdapat reseptor khusus yang memperantarai pengenalan virus oleh sel inang. Ligan pada virus yang kemudian menempel pada reseptor sel inang dapat berupa fili, flagella, komponen membrane, ataupun protein pengikat pada bakteriofage. 2) Penetrasi Penetrasi yang sesungguhnya oleh fage ke dalam sel inang bersifat mekanis, tetapi kadang-kadang dipermudah dengan bantuan enzim lisozim, yang dibawa pada ekor bakteriofage, yang fungsinya mencernakan dinding sel bakteri inang. Penetrasi terjadi apabila: (a) serabut ekor virus melekat pada sel dan ekor terikat erat pada dinding sel; (b) seludang sel .berkontraksi, mendorong inti ekor ke dalam sel melalui dinding sel dan membran sel; (c) bakteriofage menyuntikkan asam nukleatnya, seludang proteinnya membentuk kepala fage sementara struktur ekor virus tetap tertinggal di luar sel inang. 3) Replikasi Segera setelah injeksi asam nukleat virus ke dalam sel inang, asam nukleat itu mengambil alih fungsi dna bakteri dalam melakukan sintesis protein. Menyebabkan sintesis protein itu menghasilkan asam nukleat virus ketimbang asam nukleat bakteri. Asam nukleat virus mengadakan replikasi dengan menggunakan bahan-bahan dari sitoplasma sel inang. 4) Perakitan dan Pematangan Setiap untai asam nukleat hasil replikasi, akan membentuk bagian-bagian tubuh bakteriofage baru, yang jumlahnya dapat mencapai ratusan pada setiap sel inangnya. Pada virus DNA, perakitan berlangsung di dalam nukleus. Sedangkan pada virus RNA, perakitan berlangsung di dalam sitoplasma sel inang. 5) Lisis

Setelah membentuk bakteriofage baru, sel bakteri akan pecah melepaskan bakteriofage-bakteriofage baru untuk menginfeksi bakteri-bakteri lain dan memulai lagi daur litik. (Pelczar, et al. 2005) b. Daur Lisogenik Tidak semua infeksi sel bakteri oleh virus berakhir dengan lisis. Tahapan daur lisogenik pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan daur litik. Pada daur lisogenik, DNA bakteriofage tidak mengambil alih fungsi DNA bakteri inang, tetapi menjadi tergabung ke dalam kromosom bakteri. DNA bakteriofage di dalam kromosom ini disebut profage. DNA bakteriofage tersebut bersifat laten atau tidak aktif membelah. Pada daur lisogenik ini, bakteri inang bermetabolisme dan berkembangbiak secara normal, dengan DNA virus tetap diteruskan ke setiap sel anak pada generasi berikutnya. Infeksi suatu bakteri oleh bakteriofage lisogenik dapat dikenali oleh fakta bahwa bakteri itu resisten terhadap infeksi oleh virus yang sama atau minimal sekerabat, atau bila bakteri itu sengaja diinduksi untuk menghasilkan bakteriofage. Suatu perubahan dari keadaan lisogenik menjadi keadaan litik kadang-kadang dapat diinduksi oleh iradiasi sinar uv atau zat-zat kimia tertentu. DNA bakteriofage yang mulanya tenang dapat menjadi aktif dan meninggalkan kromosom bakteri, kemudian membentuk komponen-komponen tubuh bakteriofage seperti pada daur litik. Dengan terbentuknya bakteriofage di dalam sel bakteri, sel bakteri inang ini dapat menjadi lisis dan daur litik mulai terjadi lagi (Pelczar, et al. 2005).

Pelczar, M.J., dan Chan E.C.S. 2005. Dasar- Dasar Mikrobiologi Jilid 1. Jakarta: UI Press Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta; Erlangga