Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN PERILAKU KEKERASAN / AMUK

A. Masalah Utama Perilaku kekerasan B. Proses Terjadinya Masalah 1. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk

mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Keliat, 2006) Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang menunjukkan perilaku yang actual melakukan kekerasan yang ditunjukan pada diri sendiri/oarng lain secara verbal maupun non verbal dan pada lingkungan (Stuart, 2006). Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Carpenito, 2001). Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang di rasakan sebagai ancaman. Amuk adalah keadan gaduh gelisah yang timbul mendadak dan di pengaruhi oleh factorfaktor social budaya (Depkes, 2000).

2. Etiologi Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan. Factor-faktor yang menyebabkan PK

LAPORAN PENDAHULUAN

a. Faktor Predisposisi Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan, sosiokultural 1) Teori Biologik Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang menurut teori biologik, teori psikologi, dan teori

berpengaruh terhadap perilaku: a) Neurobiologik Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls agresif: sistem limbik, lobus frontal dan hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses impuls agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan memori. Apabila ada gangguan pada sistem ini maka akan

meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku kekerasan. Adanya gangguan pada lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif. Beragam komponen dari sistem neurologis mempunyai implikasi memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem limbik terlambat dalam menstimulasi timbulnya perilaku agresif. Pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif. b) Biokimia Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine, asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan fight atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap stress. c) Genetik Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif dengan genetik karyotype XYY.

LAPORAN PENDAHULUAN

d) Gangguan Otak Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor otak, khususnya yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal; trauma otak, yang menimbulkan perubahan serebral; dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsy, khususnya lobus temporal, terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan. 2) Teori Psikologik a) Teori Psikoanalitik Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi dan tindak kekerasan memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan arti dalam kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri. b) Teori Pembelajaran Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka, biasanya orang tua mereka sendiri. Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh, atau jika perilaku tersebut diikuti dengan pujian yang positif. Anak memiliki persepsi ideal tentang orang tua mereka selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan yang dialaminya, mereka mulai meniru pola perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah dewasa.

LAPORAN PENDAHULUAN

c) Teori Sosiokultural Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial terhadap perilaku agresif. Ada kelompok sosial yang secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan, apabila individu menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara konstruktif. Penduduk yang ramai /padat dan lingkungan yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan sosial dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu. b. Faktor Presipitasi Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan 1) Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya. 2) Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi. 3) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik. 4) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan

ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa. 5) Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi. 6) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap

perkembangan keluarga.

LAPORAN PENDAHULUAN

c. Ancaman yang menyebabkan di bagi menjadi dua,yaitu : 1) Internal stressor : Kelemahan fisik (kehilanagan anggota kehilangan

fisik,keputusasaan,ketidak keluarga,kurangnya percaya diri.

berdayaan

2) Eksternal stressor : Situasi lingkungan yang ribut,kritikan yang mengarah pada penghinaan,kehilangan orang yang di

cintai/kehilangan 3) pekerjaan,konflik di lingkungan. 3. Akibat dari Perilaku kekerasan Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan. 4. Patofisiologi Factor-faktor dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan merupakan factor penyebab yang lain. Interaksi social yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan 5. Manifestasi Klinik Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut: 1) Fisik a) Muka merah dan tegang b) Mata melotot/ pandangan tajam c) Tangan mengepal d) Rahang mengatup e) Postur tubuh kaku

LAPORAN PENDAHULUAN

f) Jalan mondar-mandi 2) Verbal a) Bicara kasar b) Suara tinggi, membentak atau berteriak c) Mengancam secara verbal atau fisik d) Mengumpat dengan kata-kata kotor e) Suara keras f) Ketus 3) Perilaku a) Melempar atau memukul benda/orang lain b) Menyerang orang lain c) Melukai diri sendiri/orang lain d) Merusak lingkungan e) Amuk/agresif 4) Emosi a) Tidak adekuat b) Tidak aman dan nyaman c) Rasa terganggu, dendam dan jengkel d) Tidak berdaya e) Bermusuhan f) Mengamuk, ingin berkelahi g) Menyalahkan dan menuntut 5) Intelektual Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme. 6) Spiritual Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar. 7) Sosial Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran. 8) Perhatian Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

LAPORAN PENDAHULUAN

6. Rentang Respon Emosi Respon adaptif Respon maladaptif

Asertif

Frustasi

Pasif

Agresif

Amuk

a. Asertif adalah marah yang terus terang,mampu menyatakan perasaan yidak setuju dan dapat mengemukakan alasan dengan komunikasi yang baik tanpa mengkritik orang lain. b. Frustasi :Respon yang terjadi akibat individu gagal mencapai tujuan, kepuasan, rasa aman yang biasanya dalam keadaan tersebut individu tidak menemukan alternative lain. c. Pasif : Adalah perilaku seseorang yang marah tetapi tidak mampu mengungkapkan perasaan marahnya karena sikapnya yang introvert atau tertutup. d. Agresif : Adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan individu untuk menuntut sesuatu yang dianggap benar dalam bentuk destruktif, tapi masih dapat dikontrol. e. Amuk adalah perasaan marah dan permusuhan yang kuat,disertai hilang control,dimana individu dappat merusak diri sendiri,orang lain maupun lingkungannya.

C. Pohon masalah Efek : Resiko Perilaku Kekerasan

Core Problem

Perilaku Kekerasan/amuk

Etiologi

Harga Diri Rendah

1. Sebab : Harga diri rendah Mekanisme : Harga diri klien yang rendah menyebabkan klien merasa malu, dianggap tidak berharga dan berguna. Klien kesal kemudian marah dan kemarahan tersebut diekspresikan secara tak konstruktif, seperti

LAPORAN PENDAHULUAN

memukul orang lain, membanting-banting barang atau mencederai diri sendiri. 2. Factor akibat : Menciderai diri sendiri dan orang lain Mekanisme terjadinya : klien dengan perilaku kekerasan biasanya mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan sehingga menimbulkan rasa kecewa,jengkel,marah,harga diri rendah,tidak berguna di sertai kehilangan kontras yang dapat mengakibatkan marah yang menciderai diri sendiri atau orang lain. Klien dengan perilaku kekerasan menyebabkan klien berorientasi pada tindaakan untuk memenuhi secara listrik tuntutan situasi stress, klien akan berperilaku menyerang, lingkungar sekitar. D. Masalah keperawatan dan Data yang perlu dikaji: 1. Resiko Perilaku Kekerasan Data subjektif Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya. Data objektif Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya. 2. Perilaku kekerasan / amuk Data Subjektif : Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang, Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah, Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya. Data Objektif Mata merah, wajah agak merah, Nada suara tinggi dan keras, bicara, menguasai, Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam, Merusak dan melempar barang barang. merusak diri sendiri, orang lain maupun

LAPORAN PENDAHULUAN

3. harga diri rendah Data subyektif: Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri. Data objektif: Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup. E. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko Perilaku Kekerasan 2. Perilaku kekerasan 3. Harga diri rendah F. Rencana Tindakan a. Tujuan Umum: Klien tidak mencederai dengan melakukan manajemen kekerasan b. Tujuan Khusus: 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Tindakan: 1.1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi. 1.2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai. 1.3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.

2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. Tindakan: 2.1. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan. 2.2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel/kesal. 2.3. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.

LAPORAN PENDAHULUAN

3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan. Tindakan : 3.1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal. 3.2. Observasi tanda perilaku kekerasan. 3.3. Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/kesal yang dialami klien. 4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Tindakan: 4.1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. 4.2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. 4.3. Tanyakan "Apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai ?" 5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. Tindakan: 5.1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan. 5.2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan. 5.3. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat. 6. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon thd kemarahan. Tindakan : 6.1. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat. 6.2. Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal/kasur. 6.3. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal/tersinggung. 6.4. Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.

LAPORAN PENDAHULUAN

7. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan. Tindakan: 7.1. Bantu memilih cara yang paling tepat. 7.2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih. 7.3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih. 7.4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi. 7.5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat

jengkel/marah 8. Klien mendapat dukungan dari keluarga. Tindakan : 8.1. Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melaluit pertemuan keluarga. 8.2. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. 9. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program). Tindakan: 9.1. Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping). 9.2. Bantu klien mengpnakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu). 9.3. Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

LAPORAN PENDAHULUAN

DAFTAR PUSTAKA Keliat. Budi Anna. 2006. Proses keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC. Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005-2006. Jakarta: Prima Medika. Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku keperawatan Jiwa edisi 5. Jakarta: EGC Carpenito, Lynda Juall. 2005. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC. Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.Kaplan Sadoch. 1998. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jakarta : EGC Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC Nurjanah, Intansari S.Kep. 2005. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC Rasmun S. Kep. M 2005. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005 2006. Jakarta : Prima Medika. Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC. Tarwoto dan Wartonah. 2005. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN