Anda di halaman 1dari 5

IDOLA SEPANJANG ZAMAN Sesungguhnya telah ada dala diri Rasululloh itu suri tauladan yang baik bagimu.

(QS. Al-Ahzab:21) Dialog Antara Kaisar Heraklius Dengan Abu Sufyan Diriwayatkan oleh Al Bukhari dengan sanadnya dari Ubaidillah bin Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin Abbas telah memberitahukannya. Abu Sofyan bin Harb telah memberitahukan kepadanya bahwa Heraklius telah memanggiinya pada waktu ia sedang mernimpin khalifah dagang Quraisy di Syarn, bertepatan dengan perjanjian Hudaibiyah yang baru saja diadakan antara Rasulullah saw. dengan kaurn musyrikin Quraisy. Ketika itu Heraklius sedang berziarah ke Al Quds. la mengundang beberapa tokoh untuk menghadiri pertemuan yang diadakan tokoh-tokoh Romawi di sana dan dihadiri juga oleh seorang penerjernah. Inilah dialog tersebut: Heraklius: Siapa di antara tuan-tuan yang paling dekat kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku nabi itu? Abu Sufyan: Saya orang yang paling dekat kekeluargaannya. Heraklius: Dekatkan dia kepadaku. Biarkan rekan-rekannya berdiri di belakangnya. (Lalu Heraklius berkata kepada penerjemahnya) Katakan kepadanya bahwa saya inginbertanya tentang nabi itu, dan jangan sekali-kali iaberbohong. Abu Sufyan: Demi Allah, kalau tidak karena malu dicap sebagai pembohong, tentu saya akan berbohong. Heralklius : Bagaimana nasab keturunannya di antara kalian? Abu Sufyan : Nasabnya tergolong bangsawan. Heralklius : Apa ada seorang yang mengaku seperti itu sebelumnya? Abu Sufyan : Tidak. Heraklius : Apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja? Abu Sofyan : Tidak. Heraklius : Pengikutnya terdiri dari para bangsawan atau para mustadh'afin (kaum lemah)? Abu Sufyan : Terdiri dari para mustadhafin. Heraklius : Apakah mereka makin bertambah atau makin berkurang? Abu Sufyan : Makin bertambah. Heralklius : Apakah ada di antara mereka yang murtad kerena membenci agamanya? Abu Sufyan : Tidak ada. Heralklius : Apakah kalian pernah mencurigainya berbohong sebelum ia mengaku sebagai nabi? Abu Sufyan : Tidak pernah. Heraklius : Apakah ia pernah melakukan kecurangan? Abu Sufyan : Tidak pernah. Heraklius : Apakah kalian memeranginya? Abu Sufyan : Ya, benar. Heraklius : Bagaimana peperangan yang kalian lakukan terhadapnya? Abu Sufyan : Peperangan itu silih berganti, sekali dia yang menang, dan lain kali kami yang menang. Heraklius : Apa yang dia perintahkan kepada kalian? Abu Sufyan : Dia memerintahkan kepada kami supaya menyernbah Allah saja, dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun, memerintahkan kami untuk meninggalkan tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang kami,

memerintahkan kami untuk mengerjakan shalat, berlaku dan berbicara jujur, memelihara kemuliaan diri dan bersilaturahmi. Heraklius (Berkata melalui penerjemahnya untuk menyimpulkan dialog yang terjadi), "Saya bertanya tentang nasab keturunan orang yang mengaku nabi itu, lalu Anda mengatakan bahwa dia keturunan bangsawan. Begitulah pada umumnya para rasul Allah dilahirkan dari kalangan bangsawan. Lalu saya tanyakan, apakah ada di antara kalian yang mengaku sebagai nabi sebelumnya? Anda menjawab, tidak. Kalau ada yang mengaku demikian, mungkin dia hanya ikut-ikutan dengan orang sebelumnya. Saya bertanya pula, apakah di antara nenek moyangnya yang menjabat raja? Anda mengatakan, tidak. Kalau ada di antara mereka yang menjadi raja, mungkin dia menuntut haknya. Saya tanyakan pula, apakah kalian pernah mencurigainya sebagai pernbohong sebelum mengaku nabi? Anda mengatakan, tidak. Memang tidak mungkin kalau dia tidak berbohong kepada manusia lalu berani berbohong kapada Allah. Saya tanyakan, apakah pengikutnya terdiri dari para bagsawan atau orang-orang lemah? Anda mengatakan para pengikutnya terdiri dari orang-orang lemah. Memang, begitulah pengikut para rasul Allah. Saya tanyakan, apakah pengikutnya makin bertambah atau berkurang? Anda mengatakan makin bertambah. Memang, demikianlah cara kerja keimanan, hingga sempurna. Saya juga bertanya, apakah ada di antara pengikutnya yang murtad dan meninggalkan agamanya? Anda berkata, tidak. Begitulah kerja iman apabila sudah meresap ke dalam kalbu. Saya bertanya juga, apakah ia pernah berbuat curang? Anda menjawab, tidak. Begitulah para rosul Allah. Mereka tidak ada yang bersikap curang. Saya bertanya, apa yang diperintahkannya pada kalian? Anda mengatakan bahwa dia memerintahkan kalian supaya menyernbah Allah dan tidak menyekutukannya dengan apa pun, melarang menyembah berhala, menyuruh kalian shalat, berbuat dan berkata jujur, serta memelihara kehormatan diri. Kalau apa yang kamu katakan itu benar, maka dia akan menguasai kedua kakiku berpijak. Aku tahu bahwa ia akan muncul, tetapi aku tidak menduga kalau dia dari golongan kalian. Kalau aku meyakini diriku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan segera pergi menemuinya, dan kalau aku berada di sisinya, aku akan mencuci kakinya. Abu Sufyan dan rekan-rekannya yang menghadiri pertemuan tersebut berkata, "Aku heran dengan hal-ikhwal Ibnu Abi Kabsyah (ungkapan penghinaan mereka kepada Rasulullah saw.). Dia ditakuti oleh Raja Banil Ashfar (bangsa kulit kuning, yakni orang Barat)." Selanjutnya Abu Sufyan berkata, "Aku senantiasa yakin bahwa dia (Muhammad saw.) akan berjaya sehingga Allah berkenan memasukkan saya ke dalam Islam." Salah satu kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat mengamalkan Islam secara sempurna adalah marifat (mengenal) rasul. Tanpa rasul kita tidak akan dapat melaksanakan Islam dengan baik. Kehadiran rasul memberikan panduan kepada kita bagaimana cara mengamalkan Islam. Rasul merupakan model bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengenal rasul tidak sekadar fisik atau penampilannya, tetapi segala aspek syari berupa sunnah dalam tingkah laku, perkataan, sikap, bahkan termasuk peranan nabi dari segi politik, kepemimpinan, wirausaha dan juga sebagai suami atau ayah. Upaya mengenal rasul dapat dilakukan dengan mempelajari/membaca Sirah Nabawiyah (sejarah kenabian) yang menggambarkan kehidupan serta latar belakang rasul; dapat juga dilihat melalui sunnah dan dakwah rasul, yang akan dapat memberikan penjelasan siapa rasul sebenarnya. 1. Pengertian Rasul Rasul adalah lelaki terpilih yang diutus oleh Allah dengan risalah kepada manusia. Definisi ini menggambarkan kepada kita kualitas seorang rasul (18:110, 6:9, 33:40). Apa yang dibawa, diucapkan, dan dilakukan adalah sesuatu yang terpilih. Kedudukan rasul paling

mulia dibandingkan dengan manusia lainnya, beliau adalah teladan untuk mengaplikasikan islam dalam kehidupan. Rasul akan menyampaikan seluruh wahyu Allah yang diturunkan padanya kepada manusia. Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. 5:67) Rasul dan orang yang menyampaikan risalah Islam tidak akan takut dengan segala bentuk ancaman. karena ia yakin bahwa yang dibawa dan disampaikannya adalah milik Allah, sang pemilik alam semesta dan seisinya. Dengan demikian apabila kita menyampaikan pesan sang pencipta maka pencipta (Allah) akan melindungi dan menolong kita (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (QS. 33:39). 2. Memahami ciri-ciri Rosul Untuk mengenal rasul lebih dekat, kita perlu memahami ciri-ciri rasul, yaitu: 1. Sifatul Asasiyah Sifat asas Rasul berupa akhlak mulia yang terdiri dari shidiq, tabligh, amanah, dan fathanah (68:4). Sifat-sifat ini bersifat universal, dan pasti dimiliki oleh setiap rasul dan orang yang beriman. Tanpa sifat-sifat ini maka seorang mukmin dapat dikatakan kurang mengikuti Islam yang sebenarnya, bahkan dapat gugur keislamannya. 2. Mukjizat Setiap Rasul membawa mukjizat yang berbeda-beda. Nabi Ibrahim yang tidak terbakar api, Nabi Musa dapat membelah lautan, Nabi Sulaiman dapat berbicara dengan segala makhluk, Nabi Daud yang mempunyai kekuasaan, dan lainnya. Nabi Muhammad sendiri banyak diberi mukjizat oleh Allah SWT, misalnya dapat membelah bulan (54:1), diberitakan beberapa hal tentang masa depan, dan diturunkan Al Quran yang dipelihara oleh Allah orisinalitasnya sepanjang masa (15:9). Dengan mukjizat ini maka manusia semakin yakin dengan apa yang disampaikan oleh para Rasul kepada manusia. 3. Al-Mubasyarat Mubasyarat (Informasi) kerasulan telah diketahui oleh manusia sebelum kedatangannya. Nabi Muhammad SAW sudah dimaklumkan ketika zaman Nabi Isa AS, bahwa akan datang seorang Rasul yang bernama Ahmad (terpuji) (61:6). 4. An-Nubuwah Ciri-ciri rasul lainnya adalah adanya berita kenabian, misalnya membawa perintah dari Allah untuk manusia secara keseluruhan, seperti perintah haji (pada zaman Nabi Ibrahim) dan perintah-perintah Allah di dalam Al Quran (pada zaman Nabi Muhammad) (22:26-27, 6:19, 25:30). 5. Ats-Tsamarat Ciri Rasul adalah ada hasil dari perbuatan dakwah dan harakahnya. Tidak ada hasil maka berarti tidak melakukan. Dengan melakukan maka akan diperoleh hasil walaupun sedikit. Nabi dan Rasul telah membuktikan kepada kita bagaimana hasil dari usaha dakwah mereka. Bukti dakwah nabi Muhammad SAW adalah perubahan masyarakat dari jahiliyah kepada Islamiyah, dari kemusyrikan kepada keimanan. Islam pun tersebar ke seluruh dunia dengan meninggalkan banyak bukti-bukti sejarah yang dapat dilihat dan dibuktikan hingga

saat ini. Kader-kader Nabi yaitu para sahabat adalah bukti nyata yang turut mrngubah jazirah Arab dan seluruh dunia (48:29). 3. Manfaat Marifatur Rasul Manusia tidak akan merasa butuh akan keberadaan rasul hingga ia memahami manfaat akan keberadaan rasul. Setiap manusia diciptakan Allah SWT dengan fitrah; bersih, suci, dan mempunyai kecenderungan ke arah positif, yaitu ke arah Islam. Fitrah tersebut mengakui Allah sebagai pencipta, keinginan untuk beribadah, dan menghendaki kehidupan yang teratur. Fitrah demikian perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui petunjuk Al Quran (firman-firman dan panduan dari Allah SWT) dan dipandu dengan Sunnah (Sabda Nabi dan perbuatannya). Semua panduan ini memerlukan petunjuk dari Rasul, khususnya dalam mengenal pencipta sebagai panduan kehidupan manusia. Perjanjian manusia ketika di dalam rahim ibunya juga menyatakan bahwa alastu birobbikum qolu bala syahidna (7:172). Manusia menerima Allah sebagai Tuhan (Rabb). Begitupun ketika orang kafir quraisy ditanya berkaitan dengan pencipta langit, bulan, bintang dan sebagainya maka dijawab Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah sebagai Rabb diakui oleh manusia tetapi tidak semua manusia mengakui Allah sebagai Ilah (23:83-90, 7:172). Keberadaan rasul adalah untuk menjelaskan cara melaksanakan perjanjian besar ini. Jika kita hendak mengikuti perintah Allah kita mesti mengikuti perintah Rasul. Apabila kita ingin mengasihi Allah, kita perlu mengikuti petunjuk Rasul. Oleh karena itu syahadatain terdiri dari pengakuan atas dua hal, yaitu Allah dan RasulNya. Mengikuti petunjuk rasul berarti kita mengikuti jalan agama Allah, mengetahui tatacara ber-Islam yang benar dan diridhai oleh Allah SWT. Rasul adalah idola kita, teladan yang baik untuk diikuti (33:21). 4. Karakteristik Risalah nabi Muhammad `Nabi Muhammad SAW mempunyai ciri-ciri yang khusus dibandingkan dengan para rasul lainnya. Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut. 1. Khotamu Al Anbiya Allah SWT telah menurunkan Nabi sebanyak 124.000 dan Rasul sebanyak 313 orang. Namun demikian, di dalam Al Quran yang disebutkan hanya sebanyak 25 orang saja (40:78, 4:163-164, 6:84-86). Nabi Muhammad SAW adalah penutup dati semua rasul da nabi. Beliau bukanlah bapak salah seorang di antara kita, tetapi ia adalah Rasul Allah dan penutup rasulrasul Allah (33:40). 2. Nasikhu Ar Risalah (penghapus risalah) Tobat yang dilakukan pada zaman Nabi Musa AS adalah dengan bunuh diri (2:54). Berkurban pada zaman Nabi Ibrahim AS adalah dengan menyembelih anak kandung lakilaki (37:102-108). Hal ini tidak berlaku lagi pada risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (22:67). Meskipun begitu, risalah mereka senantiasa harus kita jadikan sebagai pelajaran (12:11). 3. Musoddiqu Al Anbiya(membenarkan para nabi) Banyak hambatan dan gangguan yang bertujuan menghapuskan agama Allah. Namun demikian Allah SWT senantiasa menjaga dan memeliharanya dari serangan kaum kafir. Salah satu cara adalah dengan memenangkan Islam atas agama lainnya, dan dengan menurunkan para Nabi dan Rasul (61:8-9).

4. Mukammilu Ar Risalah (penyempurna risalah) Selain untuk membenarkan Rasul dan Nabi sebelumnya yang membawa risalah Islam, kehadiran nabi Muhammad SAW juga untuk menyempurnakan risalah sebelumnya. Risalah sebelumnya cenderung ditujukan bagi suatu kaum tertentu saja dan untuk saat tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk semua manusia dan berlaku hingga kiamat. 5. Kaafatilinnaas (untuk seluruh manusia) Rasulullah Muhammad SAW diutus untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan dengan tidak membedakan suku, bangsa, warna kulit, bahasa, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan Islam pada masa ini yang telah tersebar di seluruh dunia (34:28). 6. Rahmatum Lil Alamin (rahmat bagi alam semesta) Kehadiran Nabi Muhammad SAW di muka bumi ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam (21:107); yang tidak saja bagi manusia tetapi juga alam, hewan, tumbuhan dan makhluk Allah seluruhnya. Dengan kehadiran Nabi Muhammad, manusia mendapat rahmat dan kebaikan. Manusia kafir dan jahiliyah pun mendapatkan rahmat dari kedatangan Islam karena Islam dan Nabi Muhammad tidak hanya ditujukan bagi umat Islam. Kebaikannya juga dirasakan oleh umat manusia lainnya. 7. Risalatul Islam Risalah Nabi Muhammad SAW adalah risalah Islam. Risalah yang dibawanya adalah sesuatu yang benar. Hal ini tercermin dari akhlak, kepribadian, dan sifat-sifat Nabi yang mulia. Inti dari risalah Nabi Muhammad SAW adalah petunjuk dan dien yang benar (48:28). 8. Ad dakwah Allah SWT menegaskan bahwa Rasul bertindak sebagai daI, yang menyeru manusia agar kembali kepada Allah, dengan menjadi saksi, membawa berita gembira, dan memberi peringatan. Beliau seakan sebagai pelita, yang senantiasa menerangi dan menjadi rujukan bagi manusia (33:46). Maroji:
Buku Mentoring XXV UAKI UNIVERSITAS BRAWIJAYA