Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan batubara yang besar, yaitu sekitar 38,8 milyar ton dimana 70 persen merupakan batubara muda dan 30 persen sisanya adalah batubara kualitas tinggi dan diperkirakan akan habis dalam 150 tahun kedepan. Perlu diketahui cadangan minyak dan gas bumi Indonesia makin menipis dan diperkirakan dalam beberapa dasa warsa mendatang habis. Hal ini hendaknya disadari oleh segenap lapisan masyarakat sehingga penggunaan bahan bakar unrenewable untuk kepentingan bangsa dapat terus dipantau dan diperhatikan bersama-sama. (Imam Budi Raharjo, 2006). Konsumsi bahan bakar di Indonesia sejak tahun 1995 telah melebihi produksi dalam negeri. Dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan akan habis. Perkiraan ini terbukti dengan seringnya terjadi kelangkaan BBM di beberapa daerah di Indonesia (Hambali, E., dkk, 2006). Isu kenaikan harga BBM (khususnya minyak tanah) dan BBG (elpiji) menyadarkan kita bahwa konsumsi energi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun tidak seimbang dengan ketersediaan sumber energi tersebut. Kelangkaan dan kenaikan harga minyak akan terus terjadi karena sifatnya yang nonrenewable. Hal ini harus segera diimbangi dengan penyediaan sumber energi alternatif yang renewable, melimpah jumlahnya, dan murah harganya sehingga terjangkau oleh masyarakat luas (Hermawan, 2006). Di samping itu kesadaran manusia akan lingkungan semakin tinggi sehingga muncul kekhawatiran meningkatnya laju pencemaran lingkungan terutama polusi udara yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar tersebut, sehingga muncul sebuah pemikiran penggunaan energi alternatif yang bersih. Disamping untuk mendapatkan sumber energi baru, usaha yang terus menerus dilakukan dalam rangka mengurangi emisi SO2 dan H2S guna mencegah

terjadinya pencemaran udara telah mendorong penggunaan energi biomasa sebagai pengganti energi bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara. Bahan bakar biomassa merupakan energi paling awal yang dimanfaatkan manusia dan dewasa ini menempati urutan keempat sebagai sumber energi yang menyediakan sekitar 14% kebutuhan energi dunia. Energi biomassa merupakan sumber energi alternatif yang perlu mendapat prioritas dalam pengembangannya dibandingkan dengan sumber energi yang lain. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara agraris banyak menghasilkan limbah pertanian yang kurang termanfaatkan. Limbah pertanian yang merupakan biomassa tersebut merupakan sumber energi alternatif yang melimpah, dengan kandungan energi yang relatif besar. Selain itu, energi biomassa mempunyai keuntungan pemanfaatan (Syafii, 2003) antara lain : 1. Sumber energi ini dapat dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang renewable resources. 2. Sumber energi ini relatif tidak mengandung unsur sulfur sehingga tidak menyebabkan polusi udara sebagaimana yang terjadi pada bahan bakar fosil. 3. Pemanfaatan energi biomassa juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah pertanian. Biobriket merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari campuran biomassa, bahan bakar padat ini merupakan bahan bakar alternatif atau merupakan pengganti minyak tanah yang paling murah dan dapat dikembangkan secara massal dalam waktu yang relatif singkat mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana. Dengan adanya kuantitas yang banyak dari limbah pertanian ( tempurung kelapa, dan jerami padi), maka peneliti berinisitaif untuk memanfaatkan limbah pertanian tersebut menjadi biobriket. Dari kajian yang dilakukan oleh PUSARPEDAL (PUSARPEDAL, 2011) mengenai pemakaian briket batubara dan batubara curah sebagai bahan bakar di daerah peternakan ayam Cibentang- Bogor, pabrik abon- Malang dan kawasan Industri-Demak dinyatakan bahwa, seluruh

jenis bahan bakar ( briket batubara karbonasi dan non karbonasi serta minyak tanah) melebihi baku mutu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 47 tahun 2006. Dengan adanya hal tersebut, peneliti berusaha untuk mencari energi alternatif yang ramah dan aman terhadap lingkungan sehingga tidak menimbulkan polusi udara yang membahayakan masyarakat. Salah satu variabel yang menentukan kualitas biobriket adalah kadar polutan yang dihasilkan pada proses pembakaran. Polutan yang lebih di fokuskan pada kadar H2S dan SO2 hasil pembakaran. Peneliti ingin mengetahui kadar gas buang H2S dan SO2 pada pembakaran biobriket yang dihasilkan menggunakan perbandingan ( rasio) persen berat antara bahan baku, yaitu jerami padi dan tempurung kelapa yang memiliki nilai kalor yang paling tinggi.

1.2 Tujuan Penelitian 1. Meningkatkan nilai manfaat tanaman jerami padi dan tempurung kelapa yang dianggap sebagai limbah organik yang kurang dimanfaatkan dengan menjadikannya sebagai biobriket ( bioarang) sebagai energi alternatif dan energi terbarukan (renewable) yang ramah lingkungan. 2. Mengetahui komposisi dan ukuran mesh yang optimal dari campuran jerami padi dan dihasilkan . 3. Mengetahui besarnya nilai kalor dari variasi perbandingan massa dan mesh jerami padi dan tempurung kelapa. 4. Mengetahui emisi gas H2S dan SO2 dari variasi perbandingan jerami padi dan tempurung kelapa yang memiliki nilai kalor optimal. tempurung kelapa terhadap kualitas biobriket yang

1.3 Manfaat Penelitian adapun manfaat dari mengetahui emisi gas buang H2S dan SO2 pada

pembakaran biobriket dengan memanfaatkan jerami padi dan tempurung kelapa 1. Merupakan referensi yang dapat digunakan sebagai referensi untuk pembelajaran bagi mahasiswa politeknik negeri sriwijaya.

2.

Merupakan informasi yang dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

3.

Dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah bagi penulis.

1.4 Rumusan Masalah Pada proses pembuatan biobriket arang dari campuran jerami padi dan tempurung kelapa, dilakukan proses karbonisasi terlebih dahulu. Dalam penelitian pembuatan biobriket arang dari campuran jerami padi dan tempurung kelapa, ingin mengetahui berapa kadar emisi gas SOx dan H2S pada pembakaran biobriket yang memiliki nilai kalor tertinggi dengan perbandingan jerami padi dan tempurung kelapa.