Anda di halaman 1dari 7

1

Analisis prospek: Peramalan


Sebagian besar tugas analisis laporan keuangan dilakukan dengan basis keputusan yang diproyeksikan ke masa depan. Manajer memerlukan peramalan untuk merumuskan rencana bisnis dan target kinerja; para analis memerlukan peramalan yang membantu mengkomunikasikan visinya tentang prospek perusahaan kepada pemegang saham (investor); para pelaku pasar modal dan perbankan memerlukan peramalan untuk menilai kemungkinan pelunasan pinjaman. Lagipula, dalam berbagai kontek (termasuk analisis sekuritas, walaupun tidak hanya terbatas pada masalah ini), dalam hal ini peramalan diwujudkan dalam bentuk ringkasan nilai perusahaan( firms value). Estimasi ini dipandang sebagai cerminan yang realistis atas suatu statistic ringkas dari manajer atau analis mengenai pendapatnya tentang prospek perusahaannya. Analisis prospek meliputi 2 aspekperamalan dan penilaianyang secara bersama sama mencerminkan pendekatan atas dasar visi si analis. Pada bab ini kita memfokuskan peramalan; penilaian merupakan topic yang akan dibahas pada 2 bab berikutnya. Peramalan bukanlah suatu analisis yang terpisah. Peramalan atas kenerja masa depan perusaahan harusnya menyeluruh (comprehensive) karena hal ini merupakan ringkasan atas apa yang telah dipelajari sebelumnya melalui analisis strategi bisnis, analisis akuntansi, dan analisis keuangan. Namun demikian , ada beberapa teknik dan pengetahuan yang dapat membantu manajer atau analis untuk menyusun peramalan yang paling akurat. Atas dasar apa yang telah dipelajari pada tahap-tahap sebelumnya. Berikut ini disajikan ringkasan pendekatan untuk menyusun peramalan, memberikan informasi yang bermanfaat untuk langkah awalnya, mencari keterkaitan antar langkah-langkah analitis lainnya dan forecasting (peramalan), dan langkah terperinci untuk memproyeksikan penghasilan (earning), data laporan keuangan/neraca, dan aliran kas (cashflows). Konsep utama yang dibahas pada bab ini diilustrasikan dengan metode a forecast for Loewe, pabrikan audio dan video system yang dibahas pada bab5. THE OVERALL STRUCTURE OF THE FORECAST ( struktur menyeluruh atas ramalan). Cara terbaik untuk meramalkan kinerja perusahaan adalah dengan melakukanya secara menyeluruh(comprehensive)bukan hanya pembuatan ramalan penghasilan perusahaan, tetapi juga termasuk peramalan atas aliran kas (cash flow) dan neraca. Pendekatan peramalan yang comprehensive sangat bermanfaat, sekalipun dalam kasus hanya bertujuan mendapatkan data kinerja pada satu aspek saja, karena ini untuk melindungi terhadap kemungkinan asumsi-saumsi yang tidak realistis. Sebagai contoh, jika seorang analis meramalkan pertumbuhan penjualan (sales) dan penghasilan (earning) untuk beberapa tahun kedepan, seharusnya mempertimbangkan pula peningkatan modal kerja (working capital) yang diperlukan, asset-aset pabrik, dan pembiayaan yang terkait. Peramalan mungkin terjebak pada asumsi yang tidak realistis tentang hutang, atau penambahan modal. Pendekatan yang coprehesive meliputi banyak peramalan. Namun demikian dalam sebagian besar kasus , semuanya berkaitan dengan perilaku factor pendorong (key driver). Factor-faktor tersebut berbeda tergantung jenis usaha yang terkait. Tetapi untuk sector bisnis diluar jasa keuangan , ramalan penjualan hamper selalu menjadi salah satu kunci/factor pendorong; yang lainya diantaranya adalah margin keuntungan (profit margin). Jika perputran aktiva (asset turnover) diramalkan tetap stabilsering

Analisis prospek: Peramalan


asumsi yang realistisperkiraan modal kerja dan investasi di pabrik seharusnya sejalan dengan pertumbuhan penjualan. Sebagian besar biaya (expenses) juga sejalan dengan penjualan(semakin besar biaya yang dikeluarkan berdampak peningkatan penjualan), semuanya sejalan dengan perubahan yang diharapkan terhadap margin keuntungan(profit margin). Dengan mengaitkan ramalan dari semua perkiraan (rekening) terhadap ramalan penjualan, kita bias terhindar dari ketidak konsistennya dan asumsi-asumsi yang tidak realistis. Dalam beberpa kasus seorang manajer atau analis pada dasarnya akan tertarik pada peramalan aliran kas (cash flows), bukan per se pendapatan. Namun demikian, bahkan aliran kas pun dalam prakteknya cenderung didasarkan pada sejumlah rekening akuntasi, termasuk penjualan, pendapatan, aktiva, dan hutang. Tentu kemungkinan pada prinsipnya untuk mengubah menjadi peramalan aliran masuk-keluar kas (inflow-casflow) dari customer, kas keluar untuk para supplier dan buruh, dan seterusnyadan dalam bisnis ini adalah caramudah untuk dilakukan. Dalam banyak kasus, namun demikian, prospek pertumbuhan, tingkat keuntungan, dan kebutuhan investasi dan pembiayaan perusahaan lebih tepat dikemas sebagai penjualan atas dasar akrual (accrual based sales), pendapatan operasional, aktiva, dan hutang. Jumlah ini kemudian dikonversikan pada pengukuran aliran kas (cash flow) dan disesuaikan dengan dampak pengeluran tidak tunai serta biaya modal kerja dan pabrik. A PRACTICAL FRAMEWORK FOR FORECASTING ( kerangka kerja yang praktis untuk peramalan). Pendekatan paling praktis dalam peramalan laporan keuangan perusahaan adalah dengan memfokuskan pada proyeksi laporan keuangan ringkas ( condensed financial statement), seperti yang digunakan dalam rasio analisis pada bab 5, daripada usaha untuk memproyeksikan laporan keuangan secara rinci yang laporkan perusahaan. Ada beberapa alas an atas rekomendasi ini. Pertama, pendekatan ini meliputi pembuatan sejumlah kecil asumsi-asumsi masa depan perusahaan, sehingga analis akan mempunya kemampuan lebih untuk memikirkan setiap asumsi secara lebih hati-hati. Permalan yang terinci dan panjang nampaknya akan sangat membosankan, dan seorang analis mungkin akan tidak mempunyai dasar yang kuat untuk membuat asumsi yang diperlukan untun peramalannya tersebut. Lagipula, untuk sebagian tujuan, ringkasan laporan keuangan cukup memadai bagi kebutuhan analis untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu kita menggunakan pendekatan ini untuk peramalan financial. Ingat bahwa laporan laba-rugi yang kita gunakan pada bab 5 terdiri unsure-unsur berikut ini: penjualan (sales), laba operasional bersih sesudah pajak (NOPAT), biaya bunga bersih sesudah pajak, pajak, dan laba bersih. Laporan keuangan ringkas terdiri dari: modal kerja operasi bersih (Net operating working capital), aktitiva tidak lancer bersih (net non-current assets), hutang bersih (net debt), dan modal. Kita juga ingat bahwa kita mulai dengan laporan neraca (balance sheet) pada awal periode peramalan. Asumsi tentang bagaimana kita menggunakan neraca awal dan menjalankan operasi perusahaan akan menghasilkan laporan laba rugi untuk periode peramalan.: asumsi tentang investasi modal kerja dan aktiva tidak lancar, dan bagaimana kita membiayai asset-aset ini, neraca pada akhir periode.

Analisis prospek: Peramalan


Untuk meramalkan laporan ringkas laba-rugi, kita harus mulai dengan asumsi tentang penjualan pada periode berikutnya. Diluar itu, asumsi tentang NOPAT margin, tingkat bunga pada hutang awal, dan tariff pajak adalah semua yang kita perlukan untuk menyiapkan laporan ringkas laba-rugi pada periode tersebut. Untuk meramalkan ringkasan neraca awal untuk akhir suatu periode ( atau awal periode berikutnya), kita perlu membuat asumsi tambahan seperti berikut: 1. Rasio antara modal kerja operasi terhadap penjualan untuk mengestimasi tingkat kebutuhan modal kerja untuk mendukung penjualan. 2. Rasio antara aktiva tidak lancar operasi bersih (net operating non-current asset) terhadapan penjualan tahun berikutnya untuk menghitung tingkat aktiva tidak lancer operasi bersih yang diharapkan. 3. Rasio antara hutang bersih terhadap modal untuk mengestimasi tingkat modal dan hutang yang diperlukan untuk membiayai perkiraan sejumlah aktiva yang terdapat di neraca. Bila kita mempunya ringkasan laporan laba-rugi dan neraca, secara langsung kita bias menghitung laporan ringkas aliran kas, termasuk aliran kas operasi sebelum investasi modal kerja, aliran kas bebas yang tersedia untuk hutang dan modal, dan aliran kas bebas yang tersedia untuk modal. Berikut ini kita bahas cara yang terbaik untuk membuat asumsi yang diperlukan untuk meramalkan laporan ringkas laba-rugi, neraca, dan laporan aliran kas .

PERFORMANCE BEHAVIOR ( perilaku kinerja ): A STARTING POINT (titik pangkal) Setiap peramalan mempunyai, setidaknya secara tersirat, patokan awal atau titik pangkalbeberapa konsep tentang bagaimana mengenai sejumlah (nilai) tertentu seperti penjualan atau pendapatan, diharapkan dapat ditentukan tanpa adanya informasi rinci. Sebagai contoh, untuk mengkayalkan tingkat keuntungan perusahaan Loeweuntuk tahun fiscal 2009, kita harusnya punya patokan. Salah satu yang mungkin kita bisa berpatokan pada kinerja tahun 2008. Kemungkinan titik pangkal lainnya adalah kinerja tahun 2008 yang disesuaikan dengan perkembangan (trend) terbaru. Kemungkinan titik pangkalnya yang juga masuk akal , walaupun terbukti kurang bermanfaat, adalah kinerja rata-rata selama beberapa tahun sebelumnya. Pada saat kita menyelesaikan analisis strategi bisnis, analisis akuntasi, dan analisis keaungan secara rinci, ramalan yang dihasilakan mungkin berbeda secara significant dari titik pangkal/acuannya. Namun demikian karena hanya sebagai titik pangkal, hal tersebut tetap dapat membantu menetapkan analisis

Analisis prospek: Peramalan


yang rinci. Ini berguna untuk mengetahui bagaimana data statistik kunci tersebut berlaku untuk secara umum perusahaan. Dalam kaitannya dengan data statistic kunci tersebut, misalnya pendapatan, titik pangkal yang didasarkan pada kinerja sebelumnya tersebut lebih akurat daripada hanya semata mata apa yang diharapkan. Riset menunjukkan bahwa titik pangkal yang demikian untuk estimasi penghasilan (earning) hamper seakurat ramalan dari seorang analis sekuritas yang professional, yang mempunya akses informasi yang lengkap. Titik pangkal yang masuk akal untuk meramalkan angka2 kunci akuntansi dapat didasarkan atas bukti ringkas berikut. Bukti yang demikian juga berguna untuk mengecek masuk akalnya ramalan yang telah selesai dibuat. SALES GROWTH BEHAVIOR ( perilaku pertmbuhan penjualan). Tingkat pertumbuhan penjualan cenderung menjadi mean-reverting(kembali ke normal), perusahaan yang diatas rata-rata atau dibawah rata pertumbuhan penjualannya dari waktu ke watu cenderung kembali ke tingkat normal (menurut sejarahnya berkisar antara 6 sampai 10 persen bagi persahaan eropa) dalam kurun waktu 3 sampai 10 tahun. Gambar 6.1 menunjukkan pengaruh ini untuk tahun 1992 sampai 2008 untuk semua perusahaan public Eropa (bukan jasa keuangan) yang dikumpulkan oleh Thomson Financials World scope data base. Semua perusahaan diperingkat berdasarkan tingkat pertumbuhan penjualan (tahun1) dan dibentuk menjadi 5 portofolio berdasarkan peringkat relative atas pertumbuhan penjualannya mereka dalam tahun tersebut. Perusahaan yang berada pada portofolio 1adalah perusaah yang termasuk 20% peringkat teratas berdasarkan pertumbuhan penjualannya pada tahun 1992. Persahaan-perusahaan yang berada di portofilo 2 turun pada 20% berikutnya. Sedangkan mereka yang berada di portofolio5 berada di dasar 20% terakhir bila diperingkat berdasarkan pertumbuhan penjualannya. Tingkat pertumbuhan penjualan dari perusahaan pada setiap 5 portofolio ini ditelusuri datanya tahun1992 selama 9 tahun berturut-turut (tahun ke 2 10). Ekperimen yang sama diulang setiap tahun antara tahun 19931999 sebagai tahun dasar (tahun 1). Hasinya dirata-rata dari 8 ekperimen dan tingkat pertumbuhan penjualan yang dihasilkan pada setiap dari 5 portofolio selama tahun 1 sampai 10 diplot pada grafik.

Grafik 6.1 Grafik menunjukkan bahwa kelompok perusahaan yang awalnya mempunyai pertumbuhan paling tinggipertumbuhan penjualanya dari hanya 65%--mengalami penurunan sekitar 23 percent tingkat pertumbuhan dalam 2 tahun dan tak pernah melebihi 23% pada sepuluh tahun berikutnya. Meraka yang dengan tingkat pertumbuhan penjualan awalnya paling rendah, minus 15 %, mengalami peningkatan

Analisis prospek: Peramalan


sekitar 13 % tingkat pertumbuhan pada tahun ke 3, dan rata2 sekitar 9% pertumbuhan tahunan pada tahun ke 4 sampai 10. Penjelasa dari pola pertumbuhan penjualan terlihat pada gambar 6.1 adalah bahwa ketika industry dan perusahaan matang, pertumbuhannya menurun disebabkan kejenuhan pasar dan kompetisi didalam industry itu sendiri. Oleh karena itu, sekalipun saat ini perusahaan sedang tumbuh pesat, umumnya tidaklah realistis untuk meramalkan pertumbuan yang tinggi saat ini tanpa batas. Tentu saja, seberapa cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan akan kembali pada posisi ratarata tergantung pada sifat industrinya dan posisinya dalam persaingan di industry tersebut.

EARNING BEHAVIOR ( perilaku pendapatan) Jumlah laba tahun sebelumnya merupakan titik pangkal untuk mengestimasi potensi laba masa mendatang. Seperti akan dijelaskan berikut, sangat beralasan untuk menyesuaikan tolok ukur sederhana ini untuk perubahan laba pada kuartal terakhir (yaitu. Perubahan relative terhadap quartal pembanding dari tahun sebelumnya setelah menyesuiakan dengan trend jangka panjang dalam seri). Sekalipun estimasi sederhana untuk tahun yang sedang berjalan prediksi laba tahun yang akan dating akan sama dengan laba tahun terakhirternyata sangatlah berguna. Implikasi dari bukti ini adalah bahwa , pada awal estimasi kemungkinan perolehan laba di masa mendatang , angka yang berarti untuk memulainya adalah perolehan laba tahun terakhir.; tingkat ratarata laba selama beberapa tahun sebelumnya tidaklah bermanfaat. Trend jangka panjang dalam perolehan laba cenderung bertahan pada tingkat rata-rata, dan itu sangat bermanfaat untuk diperhitungkan. Jika kuartal atau data semi-tahunan juga diperhitungkan/dipertimbangkan , sehingga beberapa pertimbangan perlu diberikan terhadap apapun titik pangkal yang digunakan dari tren jangka panjang yang terjadi pada akhir kwartal atau semester. Bagi sebagian perusahaan, prubahan-perubahan terbaru ini cenderung berulang pada kwartal berikutnta.

RETURN ON EQUITY BEHAVIOR (perilaku laba usaha) Diketahui bahwa laba laba sebelumnya berfungsi sebagai tolok ukur bagi laba laba tahun mendatang. Mungkin akan benar bahwa tingkat keuntungan yang sama akan terjadi pada tahun mendatang. Namun demikian bisa terjadi lain karena 2 alasan. Pertama, walaupun rata2 perusahaan cenderung bertahan pada tingkat laba terakhir, hal ini tidak benar untuk perussahaan yang tingkat ROE-nya tidak wajar. Perusahaan yang tingkat ROE-nya sangat tinggi/rendah cenderung mengalami penurunan/kenaikan. Kedua, perusahaan-perusahaan dengan ROE yang tinggi cenderung meningkatkandasar investasinya lebih cepat disbanding perusahaan yang lain. Yang menyebabkan bilangan penyebut dari ROE tersebut tinggi. Tentu saja, jika perusahaan dapat memperolah laba atas investasi barunya tersebut sesuai dengan yang telah dicapai sebelumnya, maka tingkat ROE-nya akan bisa dipertahankan. Namun

Analisis prospek: Peramalan


demikian, perusahaan biasanya mengalami kesulitan untuk melakukan itu. Perusahaan dengan tingkat ROE yang tinggi cenderung mengalami hal itu, sesuai dengan berlalunya waktu, pertumbuhan labanya selaras dengan tingkat investasinya, dan ROE akhirnya turun. Perilaku yang dihasilkan atas ROE dan alat pengukuran keuntungan lainnya bercirikan mean-reverting (kembali ke posisi normal) : perusahaan yang tingkar labanya diatas atau dibawah rata-rata akan kembali ke tingkat normal ( karena ROE, menurut sejarahnya berkisar antara 8 sampai 12 persen bagi perusahaan2 Eropa) dalam jangka waktu tidak lebih dari 10 tahun. Grafik 6.2 menunjukkan pengaruh ini bagi perusahaan-perusahaan Eropa dari tahun 1992 sampai tahun 2008. Semua perusahaan diperingkat atas dasar tingkat ROE yang dicapai pada tahun 1992 ( tahun1)dan dibentuk menjadi 5 portofolio. Perusahaan yang berada pada portofolio 1 mempunyai peringkat 20% ROE tertinggi pada tahun 1992. Mereka yang berada pada portofolio 2 turun pada 20% berikutnya, dan mereka yang berada pada portofolio 5 memiliki 20% terbawah. Rata-rata ROE perusahaan pada masing-masing 5 portofolio ini kemudian ditelusuri selama 9 tahun berturut-turut (tahun ke-2 sampai 10). Experiment yang sama diulang setiap tahun antara 1993 dan 1999 sebagai tahun dasar (tanun 1), dan tahun-tahun berikunya seperti tahun tahun +2 sampai +10. Grafik 6.2 meringkas rata-rata ROE masing2 pada 5 portofolio pda tahun 1 sampai 10 dirata-ratakan selama delapan experiment ini. Walaupun 5 portofolio ini dimulai pada tahun1 dengan luas jangkauan ROE-nya (-29 persen ke +48 persen). Pada tahun ke-10 pola mean eversion (kembali normal) sangat nyata. Kelom*pok perusahaan yang tingkat ROE awaknya tertinggi dengan rata-rata ROE 48%--mengalami penurunan sampai 18 persen selama tiga tahun. Pada tahun ke 10 kelompok perusahaan ini memiliki ROE 13 persen. Mereka yang memiliki ROE awal terendah (--24 persen) mengalami peningkatan yang dramatis dalam ROE-nya kemudian menurun 2 persen pada tahun ke-10. Pola yang ditunjukkan pada grafik 6.2 bukanlah kebetulan; ini tepat seperti prediksi persaingan dalam ilmu ekonomi. Kecenderungan ROE yang tinggi untuk jatuh merupakan cerminan bahwa tingkat keuntungan yang tinggi menarik para pesaing: kecenderungan bahwa ROE yang rendah untuk terangkat mencerminkan mobilitas modal berpindah dari usaha yang tidak produktif ke usaha yang lebih produktif. Walaupun kecenderungan yang ditunjukkan pada grafik 6.2 ada beberapa perusahaan yang ROE-nya tetap diatas atau dibawah tingkat normal selama periode yang lama. Dalam beberapa kasus fenomena ini mencerminkan kuatnya keunggulan kompetisi yang berkelanjutan (mis. Wal-mart), tetapi dalam kasus lain, ini murini hasi dari metode akuntasi yang menganut prinsip kehati hatian. Contoh yang baik atas fenomena terakhir ini adalah perusahaan farmasi, yang sebagian besar aktivanya, aktiva takberujud yaitu litbang, tidak dicatat dalam neraca dan oleh karena itu dikeluarkan dari penilaian ROE. Karena perusahaan tersebut , dapat diharapka mempunya ROE yang tinggimelebihi 20 persendalam jangka panjang, bahkan dalam situasi persaingan yang tinggi/sulit.

Analisis prospek: Peramalan


THE BEHAVIOR OF COMPONENTS OF ROE(perilaku komponen ROE) Perilaku tingkat pengembalian modal dapat dianalisi lebih lanjut dengan melihat komponen utamanya. Ingat bab 5 bahwa ROE dan margin keuntungan berkaitan sepert berikut: ROE = operating ROA + (operating ROA Net interest rate after tax) X Net Financial leverage = (NOPAT margin X operating asset turnover) + (Spread X Net financial leverage) Perilaku urur waktu terhadap komponen ROE bagi perusahaan2 Eropa dari 1992 sampai 2008 ditunjukkan dalam serangkaian angka-angka pada halaman lampiran bab ini. Beberapa kesimpulan utama dapat ditarik dari angka-angka ini: 1. Perputaran modal usaha (operating asset turnover) cenderung agak stabil, ini sebagian disebabkan oleh tehnologi industry. Satu2nya perkecualian adalah perputran modal yang tinggi, yang cenderung menurun sepanjang waktu sebelum stabil. 2. Hutang bersih juga cenderung stabil, karena kebijakan manajemen terhadap struktur modal tidak sering berubah. 3. NOPAT margin dan soread menonjol karena sebagian besar komponen ROE; jika kekuatan kompetisi mendorong abnormal ROE menuju tingkat yang normal, perubahannya mungkin sampai ke bentuk perubahan margin keuntungan dan spread. Perubahan spread itu sendiri didorong oleh perubahan NOPAT margin, karena biaya pinjaman tetap stabil bila leverage tetap stabil. Secara ringkas, margin keuntungan, seperti ROEs, cenderung terdorong oleh persaingan menuju tngkat normal dari waktu ke waktu.