Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Peternakan sarang burung walet adalah industri yang istimewa dan sangat penting untuk beberapa orang seluruh Indonesia terutama Hulu Sungai Utara. Sarang burung walet terbuat dari air liur burung walet yang dianggap mempunyai bermanfaat untuk kesehatan. Sarang tersebut biasanya digunakan untuk membuat sop dan sebagian besar sarang yang menghasilkan di Indonesia diekspor ke negara China terutama Hong kong. Burung walet mula-mula membuat sarangnya di atap gua, sehingga untuk mengambil sarang burung walet sangatlah sulit dan berbahaya. Burung walet juga membuat sarang di dalam rumah-rumah yang kosong. Karena budidaya burung walet di dalam rumah-rumah kosong adalah metode yang sangat efektif untuk menghasilkan sarang tersebut, orang-orang mulai membuat gedung khusus untuk budidaya sarang burung wallet. Memiliki rumah / gedung walet ibarat punya harta karun yang tak akan pernah habis. Namun pemilikan itu tak akan berhasil kalau pemilik tidak menetapkan 5 prinsip persyaratan ilmu perwaletan dalam pengelolaannya. Masing-masing adalah biologi, ekologi, geografi, meteorology, dan ekonomi perwaletan. Kelima itu harus sejalan, saling mendukung, dan salingmelengkapi pengelolaan. Upaya mengelola walet gua dan walet rumah telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu di daerah jawa. Tujuannya agar populasi dan produksi sarang walet terjaga lestari. Ini penting demi kelanjutan bisnis para pengusaha itu sendiri. Bisnis sarang walet dengan pasaran langsung ke Cina telah berlangsung secara tradisional dan turun temurun tempo dulu.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sejarah dari peternakan burung walet ? 2. Berapa jenis dari burung walet ? 3. Apa saja syarat dan ketentuan untuk membuat gedung walet ? 4. Masalah apa yang dihadapi para peternak burung walet ? 5. Bagaimana solusi menghadapi masalah para peternak burung walet ?

C. Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui sejarah singkat dari peternakan burung walet. 2. Memberikan pengetahuan pada masyarakat serta pembaca tentang seberapa besar potensi bisnis dari peternakan burung walet. 3. Disamping itu pula makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu peternkan fakultas kedokteran hewan universitas udayana. Adapun tujuan kami membuat makalah Budidaya Burung Walet ini karena, kami merasa budidaya burung walet sangat potensial untuk di kembangkan, dalam makalah ini kami mengupas seluk beluk budidaya burung walet yang meliputi, sejarah burung walet, karakteristik dan jenis burung walet, potensi produksi, perkembangbiakan, penyakit serta pakan

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Peternakan Burung Walet

Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak. Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut: Superorder Order Family Sub Family Tribes Genera Species : Apomorphae : Apodiformes : Apodidae : Apodenae : Collacaliini : Collacaliafuciphaga

B. Jenis Jenis Burung Walet Ada tiga jenis burung walet yang umum dikenal antara lain: 1. Collocalia fuciphaga, 2. Collocalias maxima dan 3. Collocalia esculenta Ada satu jenis burung walet lagi yaitu Collocalia germani, tetapi menurut pendapat Chantler dan Driessens (1995), Collocalia germani termasuk dalam spesies Collacalia fuciphaga sehingga bukan merupakan spesies tersendiri. Collocalia germani tidak ditemukan di Indonesia, namun burung tersebut ditemukan di negara lain di Asia seperti Vietnam. Collocalia fuciphaga adalah jenis burung yang banyak dicari karena burung tersebut bersarang putih. Collocalia fuciphaga ditemukan di Cina selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Di Sumatra dan Kalimantan burung tersebut bisa hidup sampai ketinggian 2800 meter di atas permukan laut, tetapi di Jawa dan Bali burung ini biasanya hidup dekat pantai di dalam gua yang gelap dan dalam. Burung tersebut kira-kira berukuran 12 sentimeter, dadanya berwarna hitam kecoklatan dan warna punggung lebih kelabu. Ekor burung ini bercabang, paruhnya berwana hitam dan kakinya juga berwarna hitam. Collocalia fuciphaga dan Collocalia maxima tidak dapat dibedakan dari Collocalia esculenta kecuali dari sarangnya Collocalia maxima membuat sarang dengan air liur seperti fuciphaga tetapi sarangnya bercampur dengan bulu burung sehingga harga sarangnya lebih rendah. Namun demikian, karena keduanya membuat sarang dengan air liur dan sarangnya hanya sedikit berbeda, orang Indonesia menyebut Collocalia fuciphaga dan Collocalia maxima dengan nama burung walet.

Karakteristik Burung Walet 1. ) Perkembangbiakan a. Burung walet mempunyai fase berkembangbiak(musim kawin) sepanjang tahun. Musim ini ditandai dengan banyaknya kawanan walet yang saling berkejaran dan mengeluarkan suara tertentu untuk menarik hati lawan jenisnya. Musim kawin biasanya terjadi pada musim penghujan, hal ini dikarenakan populasi pakan yang melimpah pada musim penghujan. b. Normalnya, burung walet mengalami masa kawin dua kali setahun. Selain itu, proses perkawinannya terjadi pada malam hari ketika burung walet telah kembali ke sarangnya. Namun sekarang banyak orang yang membudidaya burung walet di dalam gedung gedung kusus. c. Keberhasilan memancing walet juga didukung oleh faktor musim.Musim berkembangbiak adalah waktu yg tepat untuk memancing walet.Normalnya walet berkembangbiak sebanyak dua kali dalam setahun. >> Awal pebruari dan awal september walet mulai bertelur >> Awal-akhir maret dan oktober sebagian walet masih bertelur >> Mei-juli dan desember-pebruari walet muda mulai terbang >> Desember-pebruari dan juli-agustus walet muda memasuki fase reproduksi dan walet muda mulai mencari pasangan dan kemungkinan menghuni tempat baru.

Dengan demikian waktu yang tempat untuk memancing walet adalah musim hujan sekitar bulan desember-pebruari dan musim kemarau pd bulan juni-agustus.

2.) Jenis-jenis burung Walet ( Spesies ) a. Walet Sarang Putih ( Aerodramus fuchipagus) b. Walet Sarang Hitam ( Aerodramus maximus )

c. Walet Sarang Lumut ( Aerodramus vanikorensi ) d. Walet Gunung ( Aerodramus brevirostris )

e. Walet Sapi (Collocalia esculenta ) f. Walet Besar ( Hydrochous gigas )

3.) Habitat Burung Walet a. Walet mempunyai habitat di daerah gelap (dark zone), daerah yang tidak terjangkau paparan sinar matahari dengan suhu yang relatif stabil(24C 27C). b. Umumnya, burung walet banyak dijumpai di dalam gua-gua alam yang dikelilingi

hutan lebat. 4.) Ekolasi a. Ini adalah karakter burung walet yang sangat unik. Ekolokasi adalah kemampuan

untuk mengeluarkan suara berfrekuensi tertentu (biasanya frekuensi tinggi) secara terputus-putus dan kemudian menangkap kembali pantulan suara tersebut untuk menentukan jarak dan letak sebuah benda. Hal ini memungkinkan walet untuk terbang dimalam hari atau ditempat yang gelap. b. Selain untuk menentukan keberadaan sarang walet, burung walet juga

menggunakan ekolokasi untuk berkomunikasi seperti memberikan peringatan bahaya kepada burung walet lainnya Harga sarang burung walet antara tujuh juta sampai empat belas juta rupiah per kilogram tergantung kualitasnya. Ada empat kelas sarang burung walet yang dihasilkan di Indonesia. 1. Kelas keempat adalah sarang yang paling kotor sehingga harganya paling murah. Sarangnya sangat kotor karena telur walet sudah ditetaskan atau terbuat dari air kotor Harga sarang kelas empat kira-kira tujuh sampai delapan juta rupiah per kilogram. 2. Kelas ketiga agak kotor tetapi terbuat dari air liur dan bulu burung. Sarang kelas tiga berharga kira-kira delapan sampai sembilan juta rupiah per kilogram.

3. Sarang walet kelas dua tidak terbuat dari bulu burung tetapi sarangnya masih sedikit kotor. Kotornya bisa dikarenakan burung tersebut bertelur tetapi telurnya kemudian diambil setelah menetas. Harga sarang kelas dua kira-kira sepuluh sampai dua belas juta rupiah per kilogram. 4. Kelas yang tertinggi adalah sarang yang paling bersih, warnanya sangat putih dan tidak ada bulu burung. Sarang seperti ini adalah sarang yang paling banyak diminta dari pemilik gedung walet karena harga sarang ini paling tinggi, kira-kira dua belas sampai empat belas juta rupiah per kilogram. Disamping kelas-kelas sarang berwarna putih ada juga sarang burung walet yang berwarna merah. Sarang merah asli adalah sarang yang jarang didapat karena

sarangnya terbuat dengan campuran air liur dan darah, tetapi sarang ini sangat jarang sehingga harganya merupakan yang tertinggi, kira-kira empat belas juta rupiah atau lebih per kilogram. Sarang burung walet juga bisa dibuat agar berwarna merah tetapi warnanya sedikit berbeda dengan sarang merah asli. Untuk membuat sarang berwarna merah didalam gedung walet harus mempunyai banyak air dan diberi campuran amoniak kedalam airnya. Amoniak membantu sarang menjadi warna merah tetapi harga sarang ini tidak setinggi sarang merah asli. Harga sarang yang dibuat merah masih tergantung dengan kualitas sarang tetapi sedikit lebih mahal dari pada sarang putih biasa. Ada beberapa faktor yang sangat penting untuk budidaya sarang burung walet, yaitu: lokasi, iklim, kondisi lingkungan, bentuk bangunan, faktor makanan serta teknik memancing walet. Semua faktor ini sangat penting untuk keberhasilan peternakan burung walet. Di samping itu, gedung burung walet harus seperti gua liar karena itulah habitat asli burung walet.

C. Persyaratan Lokasi Sarang Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah: 1. Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl. 2. Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat. 3. Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging. 4. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.

D. Pedoman Teknis a) Penyiapan Sarana Dan Peralatan Suhu, Kelembaban dan Penerangan Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan a. Melapisi plafon dengan sekam setebal 2 Cm b. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung. c. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk L yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm. d. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet. Bentuk dan Konstruksi Gedung Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 1015 m 2 sampai 1020 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 2020 atau 2035 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.
7

b)

Penyiapan Bibit Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet. Berbicara ekolokasi aatau suara walet ada juga peternak yang menggunakan suara buatan yang menyerupai suara burung walet, namun jangan salah terkadang walet jga rish dan kabur dari sarangnya akibat suara itu. Untuk menghindari hal itu bsa d cegah dengan mengganti suara setiap bulanya,

a.

Pemilihan bibit calon induk, Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang

diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.0018.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.

b.

Perawatan bibit dan calon induk. Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan

telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan panen cara buang telur. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti. i. Memilih Telur Burung Walet - Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 05 hari - Putih kemerahan, berumur 610 hari - Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 1015 hari - Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,0141,353 cm dengan berat 1,97 gram. ii. Membawa Telur Walet Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh, sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas. Telur disusun dalam spon yang
8

berlubang dengan diameter 1 cm. Spon dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup. Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hamper 80% sedangkan telur tua lebih rendah. c. Penetasan Telur Walet i. ii. Ciri Cara menetaskan telur walet pada siang sriti Menetaskan telur walet pada mesin penetas telur yang ekbaik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali

dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai : kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.

Hama dan Penyakit:

a.

Tikus Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus

mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman. Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus. b. Semut Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet

yang sedang bertelur. Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas. c. Kecoa Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak

sempurna. Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian d. Cicak dan Tokek Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan

anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet. Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.
9

e.

Salah satu metode lain yang sangat efektif untuk menghentikan tikus dan tokek atau

serangga lainya masuk gedung walet adalah dengan menambahkan pecahan kaca di seluruh lubang keluar-masuk burung walet sehingga hama-hama tersebut tidak bisa masuk. pecahan kaca juga termasuk mencegah Kelelawar dan burung hantu di dalam gedung walet sangat mengganggu kenyamanan burung walet sehingga menyebabkan walet menjadi takut dan kemudian pergi dari gedung.

E. Panen Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu: 1. Panen rampasan Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walet karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.

2. Panen Buang Telur Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
10

3. Panen Penetasan Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat. Adapun waktu panen adalah: a. Panen 4 kali setahun Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur. b. Panen 3 kali setahun Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur. c. Panen 2 kali setahun Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung wallet.

F. Pascapanen Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor. Gambaran Peluang Agribisnis Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Peternakan burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif. Pemberian Pakan Setiap hari walet dapat mengkonsumsi pakan sekitar 500 jenis serangga yang berukuran 0,2-2,5 mm. Pakan tersebut di dapat dari areal persawahan, kebun, dan lahan yang di tumbuhi tanaman. Kandungan zat pakan yang di butuhkan walet antara lain Protein 5511

60%, Energi 4.100 kkal, Lemak 14%, Kalsium 0,15-0,25%, Fosfor 0,4-0,6%, dan serat Kasar 5-8%. Persentase kalsium yang berfungsi sebagai unsur pembentuk tulang lebih sedikit dari pada fosfor menyebabkan kaki walet lemah sehingga hanya bisa menggantung. G. Manfaat Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.

H. Permasalahan Dalam Peternekan Burung Walet Permasalahan permasalahan yang sering terjadi dalam peternakan burung wallet adalah : 1. Sangat kesulitan dalam memperoleh modal, sebab peternakan burung wallet

membutuhkan waktu bertahun tahun untuk dapat dipanen, jadi modal sangat sulit didapat. Maka dari itu kebanyakan dari peternakan burung wallet adalah orang orang yang tarap ekonominya tinggi. 2. Kurangnya keahlian, dimana peternakan burung wallet tidak seperti peternakan

peternakan lainnya, sebab peternakan burung wallet lebih khusus sebab untuk membuat burung wallet tertarik dan membuat sarang tidak lah mudah, oleh karna itu tidak semua orang dapat menjalankan bisnis ini.

I. Pemecahan Masalah Dalam Peternekan Burung Walet

1.

Dalam persoalan modal, butuh waktu lama untuk mengembalikan modal tersebut, jadi

hendaknya modal peternakan burung wallet merupakan hasil dari usaha yang lain artinya, modal tidak merupakan pinjaman tapi dari hasil perputaran modal usaha yang lain yang lebih cepat perputarannya. 2. Sekarang ini dapat kita lihat bersama bahwa, peternakan burung wallet sudah mulai

merebak khususnya untuk daerah Hulu Sungai Utara, jadi untuk menyikapi hal ini, pemerintah hendaknya memiliki inisiatif agar, setiap peternak butung wallet yang sudah berhasil dapat memberikan pengalamannya kepada masyarakat yang lain. 3. Cara yang sangat ampuh untuk membebaskan gedung walet dari serangga/ semut adalah dengan menggunakan racun kapur ajaib. Racun ini harus ditempatkan di seluruh gedung
12

terutama di tempat serangga bisa masuk gedung seperti lubang ventalasi. Racun tikus juga harus diletakkan di dalam gedung karena tikus sangat suka memakan sarang burung walet, sehingga menyebabkan burung walet menjadi stress dan mencari tempat lain yang lebih aman untuk bersarang. Racun tikus juga efektif untuk tokek karena tokek juga suka memakan sarang burung wallet

Salah satu metode lain yang sangat efektif untuk menghentikan tikus dan tokek masuk gedung walet adalah dengan menambahkan pecahan kaca di seluruh lubang keluarmasuk . Metode yang sangat efektif untuk menghentikan hama masuk gedung walet adalah dengan membuat kolam di seluruh fundamen. Serangga-serangga, tokek dan tikus tidak suka masuk air sehingga kolam di seluruh gedung akan menghalangi hama tersebut untuk memasuki gedung.

13

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan dari makalah kami yaitu, dalam membudidayakan burung walet tidak lah sulit, kita hanya perlu menyediakan tempat yang tidak terjangkau paparan sinar matahari dengan suhu yang relatif stabil(24C 27C). Kemudian Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya(saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapatbermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan Paru paru panas dalam melancarkan peredaran darah dan penambah stamina Hama yang menyerang walet yaitu, Tikus, Kecoa, Semut, Cicak dan Tokek. Pakan alami berupa burung dan berbagai serangga yang ad di alam bebas, namun perlu pakan tambahan seperti Protein 55-60%, Energi 4.100 kkal, Lemak 14%, Kalsium 0,15-0,25%, Fosfor 0,40,6%, dan serat Kasar 5-8%. Persentase kalsium yang berfungsi sebagai unsur pembentuk tulang lebih sedikit dari pada fosfor menyebabkan kaki walet lemah sehingga hanya bisa menggantung Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak. Memiliki rumah / gedung walet ibarat punya harta karun yang tak akan pernah habis. Namun pemilikan itu tak akan berhasil kalau pemilik tidak menetapkan 5 prinsip persyaratan ilmu perwaletan dalam pengelolaannya. Masing-masing adalah biologi, ekologi, geografi, meteorology, dan ekonomi perwaletan. Kelima itu harus sejalan, saling mendukung, dan salingmelengkapi pengelolaan. Gambaran Peluang Agribisnis Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari

14

sarang-sarang alami. Peternakan burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif. B. Saran Mengingat bahwa petrnakan burung wallet merupakan peluang bisnis yang cukup menjanjikan maka tidak heran, bawa banyak orang yang ingin dan berbisnis ini, namun dalam kesempatan ini kami ingin memberikan saran bahwa burung wallet juga merupakan makhluk hidup di bumi ini jadi untuk itu kita sebagai manusia harus bias menjaga kelestarian mereka bukan hanya ingin mendapatkan keuntungan semata. Kita harus dapat berfikir ke masa depan, kepada para penerus kita nantinya. Apabila usaha ini dikelola dengan baik dan kelestarian burung wallet dapat dijaga maka untuk tempo puluhan tahun kedepan kita masih bias menggunakan burung wallet sebagai sarana bisnis.

15

DAFTAR PUSTAKA www.kingwalet.com www.multi-walet.com http://ngraho.wordpress.com http://infoindonesia.wordpress.com http://bumipertiwiextrem.blogspot.com www.duniawalet.com www.omkicau.com www.scribd.com www.andrapriyadi.com Susilorini,Tri Eko, 2010. Budidaya 22 Ternak Potensial, Jakarta: Penebar Swadaya

16