Anda di halaman 1dari 2

Transplantasi kornea Transplatasi kornea (keratoplasti) di indikasikanpada sejumlah kondisi kornea yang serius, misalnya parut, edema, penipisan

dan distorsi. Istilah keratoplasti penetrans (PK) berarti penggantian kornea setuhnya, full thickness. Kerastoplasti lamellar berarti prosedur penggantian sebagian dari ketebalan kornea untuk mengganti kornea anterior dengan tebal stroma yang bervariasi, yang diperluas menjadi keratoplasti lamellar dalam (DLK) hamper seluruh bagian kornea, kecuali endotel, diganti. Prosedir kebalikannya adalah keratoplastii endothelial lamellar dalam (DLEK), transplantasi endotel dengan hanya selembar tipis stroma. Donor lebih muda lebih disukai untuk keratoplasti penetrans dan keratoplasti endothelial lamellar dalam karena terdapat hubungan langsung antara umur dan kesehatan dan jumlah sel endotel, tetapi kornea yang lebih tua (5065 tahun) dapat diterima bila hitung sel endotelnya memadai. Karena sel endotel sangat cepat mati, mata hendaknya segera dienukleasi setelah donor meninggal dan segera dibekukan. Mata yang utuh harus dimanfaatkan dalam 48 jam, sebaiknya dalam 24 jam. Media penyimpanan modern memungkinkan penyimpanan lebih lama. Tudung koreosklera yang disimpan dalam media nutrient boleh dipakai sampai 6 hari setelah donor meninggal, dan pengawetan dalam media biakan jaringan dapat disimpan sampai 6 minggu. Untuk keratoplasti lamellar dan keratoplasti lamelar dalam, kornea dalam lemari es selama beberapa minggu; sel-sel endotel tidak penting untuk prosedur penggantian sebagan yang melibatkan kornea bagian anterior ini. Penyakit-penyakit , seperti vedera akibat bahan kimia(lihat Bab 19), dengan kerusakan sel induk limbus yang menyebabkan kegagalan epitelisasi kornea dapat mengambil manfaat dari transplantasi sel induk limbus, dari mata satunya atau mata donor, atau transplantasi membrane amnion, terutama dalam masa persiapan transplantasi kornea. Pada penyakit kornea, telah dicoba berbagai kornea buatan (keratoprostesis), tetapi dengan keberhasilan jangka panjang yang tidak banyak. Teknik Pada keratoplasti penetrans atau keratoplasti lamellar, mata resipien disiapkan dengan menghilangkan sebagian ketebalan kornea pada sekeliling kornea yang rusak, mis.,dengan trephine-pengisap (cookycutter action), dan seluruh ketebalan kornea dengan gunting atau sebagian ketebalan dengan diseksi. Pada keratoplasti endothelial lamellar dalam, endotel mata resipien diangkat degan menggunakan alat yang dimasukkan ke dalam stroma posterior dan biik mata depan. Untuk keratoplasti penetrans, tudung korneosklera diletakkan di atas blok Teflon penghisap dengan endotel menghadap ke atas; trephine ( Gambar 6-16) ditekankan ke kornea, dan dipencet tombol full-thickness. Pada keratoplasti lamellar, lamellar dalam, dan keratoplasti endothelial lamellar dalam, proses di atas diadaptasi, yaitu mjenggunakan alat pemotong mekanis atau mungkin alat pemotong laser, untuk mengambil bagian kornea yang dibutuhkan dari tudung korneosklera atau dari bola mata utuh.

Perkembangan jahitan ( Gambar 6-17), peralatan, dan mikroskop, serta teknik-teknik bedah nyata-nyata memperbaiki prognosis semua pasien yang memerukan transplantasi kornea. Upaya mengurangi dan menangani astigmatisme pascaoperasi dan penolakan tandur kornea tetap menjadi masalah utama, khususnya setelah keratoplasti penetrans (lihat Bab 16). Berlawanan dengan transplantasi bentuk lain,seperti transplantasi ginjal dan jantung, masih belum jelas apakah kecocokan jenis HLA-jaringan atau kecocokan golongan darah ABO mampu menurunkan insidens penolakan pascaoperasi transplantasi kornea.