Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN REFERAT PATOLOGI ANATOMI

PNEUMOTHORAKS
BLOK SISTEM RESPIRASI

Oleh: Daniel Pramandana L. Ridhan Habibie Hussein H. Aulia Tri Puspitasari Widodo G1A011081 G1A011083 G1A011085

Asisten Dosen: xxxx

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2013

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN REFERAT PATOLOGI ANATOMI

PNEUMOTHORAKS
BLOK SISTEM RESPIRASI

Oleh : Daniel Pramandana L. Ridhan Habibie Hussein H. Aulia Tri Puspitasari Widodo G1A011081 G1A011083 G1A011085

Menyetujui :

Asisten Dosen:

xxxxx

DAFTAR ISI

Halaman Judul Kata Pengantar............................................................................................. i Daftar Isi...................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Data Epidemiologi..................................................................... 1 B. Bahaya atau Komplikasi.......................................................... 2 C. Teori Baru Penatalaksanaan..................................................... BAB II ISI A. Tanda dan Gejala Klinis............................................................ 5 B. Pemeriksaan Penunjang............................................................. 7 C. Penegakan Diagnosis................................................................. 7 D. Rencana Terapi.......................................................................... 7 E. Prognosis.................................................................................... 8 F. Komplikasi................................................................................. 8 BAB III PEMBAHASAN A. Teori Baru................................................................................. 10 B. Kelebihan dan Kekurangan...................................................... C. Harapan Penatalaksanaan....................................................... 11 11 3

Kesimpulan................................................................................................. 13 Dafar Pustaka.............................................................................................. 14

BAB I PENDAHULUAN Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya udara atau gas dalam rongga pleura, yaitu di ruang potensial antara pleura viseral dan parietal paru-paru. Hasilnya adalah kolaps dari paru-paru pada sisi yang terkena. Udara bisa masuk ruang intrapleural melalui komunikasi dari dinding dada (yaitu, trauma) atau melalui parenkim paru-paru di pleura viceralis, (Rebecca B, 2011). Hasil dari terapi pada 480 penderita dengan fraktur multiple costa dan dihubungkan pada trauma dada yang telah dianalisa. Berdasarkan dari trauma, 55(25,5%) pasien pneumotoraks yang berkembang menjadi 71(32,8%) - hemathorax, 90(41,7%) - hemopneumotoraks. Terapi konservatif dari pneumo dan hemotoraks dalam beberapa kasus kebanyakan (biasanya dilakukan tusukan pada rongga pleura, jarang dilakukan drainage). Pada 47 penderita yang berkaitan dengan trauma yang dengan forced position (posisi setengah duduk) bertujuan untuk kateterisasi pada cavum pleura dengan menggunakan stiletto trocar melengkung dibawah sudut 60 derajat. Pada terapi clotting hematothoraks digunakan streptokinase yang tercatat berefek positif pada 6 dari 7 pasien. Indikasi untuk torakotomi dibatasi pada pasien dengan trauma dada yang berhubungan dengan shock dan kehilangan darah akut, (Rebecca B, 2011).

BAB II ISI A. Definisi Pneumotoraks adalah penumpukan udara yang bebas dalam dada diluar paru yang menyebabkan paru kolaps. Pneumotoraks merupakan suatu kondisi dimana terdapat udara pada kavum pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara sehingga paru-paru dapat leluasa mengembang terhadap rongga dada. Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan oleh : 1. Robeknya pleura viseralis, sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumotoraks jenis ini disebut sebagai closed pneumotoraks. Apabila kebocoran pleura viseralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya, udara semakin lama semakin banyak sehingga mendorong mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension pneumotoraks, (Berck, 2010). 2. Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea, maka udara cenderung lebih melewati lubang tersebut dibanding traktus respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral. Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara

dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagai open pneumotoraks, (Berck, 2010). B. Epidemiologi Pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi pneumotoraks spontan dan traumatik. Pneumotoraks spontan merupakan pneumotoraks yang terjadi tiba-tiba tanpa atau dengan adanya penyakit paru yang mendasari. Pneumotoraks jenis ini dibagi lagi menjadi pneumotoraks primer (tanpa adanya riwayat penyakit paru yang mendasari) maupun sekunder (terdapat riwayat penyakit paru sebelumnya), (Alsagaff, 2009). Insidensinya sama antara pneumotoraks primer dan sekunder, namun pria lebih banyak terkena dibanding wanita dengan perbandingan 6:1. Pada pria, resiko pneumotoraks spontan akan meningkat pada perokok berat dibanding non perokok. Pneumotoraks spontan sering terjadi pada usia muda, dengan insidensi puncak pada dekade ketiga kehidupan (20-40 tahun), (Alsagaff, 2009). Sementara itu, pneumotoraks traumatik dapat disebabkan oleh trauma langsung maupun tidak langsung pada dinding dada, dan diklasifikasikan menjadi iatrogenik maupun non-iatrogenik. Pneumotoraks iatrogenik merupakan tipe pneumotoraks yang sangat sering terjadi, (Alsagaff, 2009). 1. Pneumotoraks spontan primer, (McCool FD, 2008). Biasanya terjadi pada anak laki-laki yang tinggi, kurus dan usia 10-30 tahun

Incidens pada usia tertentu: 7,4-18 kasus per 100.000 orang per tahun pada laki-laki 1,2-6 kasus per 100.000 orang per tahun pada perempuan. 2. Pneumotoraks spontan sekunder, (McCool FD, 2008) Umur : Puncak kejadian di usia 60-65 tahun insidensi 6,3 kasus per 100.000 orang per tahun pada laki-laki 2,0 kasus per 100.000 orang per tahun pada perempuan 26 per 100.000 pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik per tahun. Prevalensi Kejadian pneumothoraks pada umumnya sulit ditentukan karena banyak kasus-kasus yang tidak didiagnosis sebagai pneumothoraks karena berbagai sebab. Diperkirakan kejadian pneumothoraks berkisar antara 2,4-17,8/100.000 per tahun. Beberapa karakteristik pada pneumonia antara lain, laki-laki lebih sering terkena daripada wanita (4:1), paling sering pada usia 20-30 tahun. Pneumothoraks spontan timbul pada umur lebih dari 40tahun, sering disebabkan oleh adanya bronchitis dan emfisema, lebih sering pada orang-orang dengan bentuk tubuh kurus dan tinggi (astenikus), terutama pada mereka yang sering mempunyai kebiasaan merokok, (Hisyam, 2004)

Dapus Hisyam, Barmawi, Hery Agoestono. Pneumotoraks Spontan. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2004. 877, 939-945. McCool FD, Rochester DF, et al. 2008. Pneumothorax. http://www.harrisonspractice.com/practice/ub/view/Harrisons%20Practice/141278/all /Pneumothorax. Diakses tanggal 25 September 2011. Alsagaff H, Mukty HA. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga University Press Bascom, R. 2011. Peumothorax. http://www.pulmo-ui.com/tesis/PratamaAD.pdf.. Diakses tanggal 23 September 2011. Berck, M. 2010. Pneumothorax. Diakses

http://nefrologyners.wordpress.com/2010/11/03/pneumothorax-2/. tanggal 25 September 2011.