Anda di halaman 1dari 3

Pada pasien dengan diabetes tipe II mempunyai pola familial yang kuat.

Penyakit ini ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun cara keja insulin. Pada awalnya tampaknya terdapat resistensi insulin dari sel-sel sasaran terhadap keja insulin. Insulin mulamula mengikat dirinya di reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraseluler yang meningkatkan transpor glukosa menembus membran sel. Pada pasien-pasien dengan DM tipe II terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya, terjadi penggabungan abnormal antara kompleks reseptor insulin dengan sistem transpor glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dengan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin menurun, dan jumlah insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia. Sekitar 80% pasien DM tipe II mengalami obesitas, karena obesitas berkaitan dengan resistensi insulin. Pengurangan berat badan seringkali dikaitkan dengan perbaikan dalam sensitivitas insulin dan pemulihan toleransi glukosa. Price, Sylvia A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit jilid 2. 4 th ed. Jakarta: EGC. 1995. P.1112 Hereditas dalam diabetes mellitus tipe 2 Meskipun gaya hidup dan makan berlebihan tampaknya menjadi faktor patogenik yang memicu, unsur-unsur genetik juga terlibat dalam patogenesis diabetes tipe 2. Riwayat keluarga yang positif menyebabkan peningkatan 2-4 kali lipat risiko diabetes tipe 2. 15-25% dari tingkat pertama keluarga pasien dengan diabetes tipe 2 terdapat toleransi glukosa terganggu atau diabetes. Jika kedua orang tua yang terkena, prevalensi diabetes tipe 2 pada keturunan diperkirakan mendekati 60% pada usia 60 tahun. Patofisiologi hiperglikemia Insulin adalah hormon kunci untuk pengaturan glukosa darah. Pada umumnya, normoglycaemia dipertahankan oleh interaksi yang seimbang antara kerja insulin dan sekresi insulin. Sel pankreas normalnya dapat beradaptasi dengan perubahan dalam kerja insulin yaitu, penurunan kerja insulin disertai oleh peningkatan sekresi insulin (dan sebaliknya). Gambar 2 mengilustrasikan kurva linear hubungan antara fungsi sel normal dan sensitivitas insulin. Deviasi dari hiperbola ini, seperti pada pasien dengan gangguan toleransi glukosa dan diabetes tipe 2, terjadi ketika fungsi sel yang tidak cukup rendah terhadap tingkat spesifik sensitivitas insulin. Jadi, disfungsi -sel adalah komponen penting dalam patogenesis diabetes tipe 2. Konsep ini telah diverifikasi tidak hanya dalam studi cross-sectional tetapi juga longitudinal di Indian Pima perkembangan dari normal ke gangguan toleransi glukosa kemudian menjadi tipe 2 diabetes. Pada orang dengan toleransi glukosa normal quasi-hiperbolik terdapat hubungan antara fungsi sel dan sensitivitas insulin. Dengan deviasi dari hiperbola ini, terjadi penurunan toleransi glukosa (gangguan toleransi glukosa), dan tipe 2 diabetes.

Namun, bukan hanya dari deviasi tetapi juga perkembangan sepanjang hiperbola mempengaruhi glycaemia. Ketika kerja insulin berkurang (seperti pada obesitas) biasanya tubuh mengimbanginya dengan meningkatkan fungsi sel . Namun, pada saat yang sama, konsentrasi glukosa darah puasa dan 2 jam setelah beban glukosa akan meningkat sedikit. Peningkatan ini mungkin kecil, tetapi seiring waktu akan merusak karena toksisitas glukosa, dan menjadi penyebab disfungsi sel . Dengan demikian, bahkan dengan (secara teoritis) terbatasnya cadangan sel , resistensi insulin membuka jalan bagi hiperglikemia dan diabetes tipe 2. Resistensi insulin Resistensi insulin terjadi ketika efek biologis insulin kurang dari yang diharapkan baik untuk pemmakaian glukosa oleh otot rangka dan menekan produksi glukosa endogen terutama di hati. Dalam keadaan berpuasa, walaupun otot hanya sebagian kecil memakai glukosa (kurang dari 20%), tetapi produksi glukosa endogen bertanggung jawab atas semua glukosa masuk ke dalam plasma. Produksi glukosa endogen dipercepat pada pasien dengan diabetes tipe 2. Karena terjadi kenaikan ini maka terjadi hiperinsulinemia, setidaknya pada awal dan intermediate tahap penyakit, resistensi insulin hepatik adalah pencetus terjadinya hiperglikemia pada diabetes tipe 2. (gambar 3).

Sekresi insulin dari pankreas biasanya mengurangi output glukosa oleh hati, meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot rangka, dan menekan pelepasan asam lemak dari jaringan lemak. Berbagai faktor menunjukkan kontribusi terhadap patogenesis diabetes tipe 2 dengan mempengaruhi sekresi insulin dan kerja insulin. Penurunan sekresi insulin akan mengurangi sinyal insulin dalam jaringan target. Jalur resistensi insulin mempengaruhi kerja insulin dalam masing-masing jaringan target utama, mengakibatkan peningkatan asam lemak yang beredar dan hiperglikemia. Pada gilirannya, konsentrasi glukosa dan asam lemak yang tinggi dalam aliran darah akan memberikan umpan balik yang memperburuk baik sekresi insulin dan resistensi insulin. Obesitas Resistensi insulin sangat terkait dengan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik, dan beberapa mekanisme mediasi interaksi ini telah diidentifikasi. Sejumlah hormon, sitokin, dan bahan bakar metabolisme beredar, seperti asam lemak bebas yang berasal dari adiposit dan mengatur kerja insulin. Peningkatan trigliserida, terutama di visceral atau lemak subkutan, mengarah banyaknya adiposit yang sendirinya juga resisten terhadap kerja insulin untuk menekan lipolisis. Hal ini mengakibatkan peningkatan asam lemak bebas dan gliserol di dalam sirkulasi, yang memperburuk resistansi insulin pada otot rangka dan hati (gambar 3). Penyimpanan lemak yang berlebihan tidak hanya di adiposit tetapi "ectopically" di sel non-adiposa juga memiliki peran penting. Sebagai contoh, peningkatan lipid intramioselular berhubungan dengan resistensi insulin otot rangka. Hubungan antara lemak intrahepatik dan resistensi insulin hepatik tampaknya sangat kuat. Michael Stumvoll, Barry J Goldstein, Timon W van Haeften. Type 2 diabetes: principles of pathogenesis and therapy. Lancet, April 9 2005; 365: 1333-46