Anda di halaman 1dari 12

Tips menulis di koran

This entry was posted on May 10, 2008, in Contemplations, Publications, Renungan. Bookmark the permalink. 12 Comments

Rate This

Banyak kasus mengindikasikan bahwa pembaca blog ini tidak memerlukan tips cara menulis di koran. Kebingungan mereka bisa jadi hanya satu: ke mana tulisan harus dikirim? Kalau Anda ingin mengirim ke Kompas, kirim tulisan Anda sekitar 700 kata ke opini@kompas.com. Kalau mau terbit di The Jakarta Post, kirim artikel maksimal 1000 kata ke opinion@thejakartapos.com. Tulisan untuk media lain bisa dikirim ke email redaksi atau opini masing-masing yang bisa diperoleh dengan mudah di websitenya. Jika informasi di atas sudah cukup, Anda tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Tidak banyak hal teknis yang akan Anda dapatkan. Percayalah! Belakangan saya sering mendapat pertanyaan langsung maupun lewat email tentang tips menulis di koran. Rasa-rasanya sih saya bukan penulis kawakan di koran dan tidak bisa dikatakan ahli, apalagi pakar. Berlatar belakang surveyor geodesi yang jauh sekali dari dunia jurnalistik, saya merasa canggung untuk memberikan tips, apalagi petunjuk. Namun begitu, pertanyaan beberapa orang ini tentu beralasan, salah satunya karena ada beberapa tulisan saya yang muncul di media massa. Kalau dihitung, mungkin tidak kurang dari 30 tulisan sudah tersebar di koran nasional dan lokal di Indonesia. Harus diakui, saya sendiri senang dan bangga dengan hal ini. Tetapi tetap saja tidak membuat saya pe-de untuk membuat petunjuk menulis di koran. Saya adalah seorang praktisi, bukan pakar, apalagi pengajar dalam hal menulis di koran. Karena saya bukan pakar, ijinkan saya berbagai perasaan saya tentang menulis. Ini murni perasaan sendiri, tidak dikutip dari pakar hebat, tidak juga hasil bacaan dari buku-buku bermutu. Karenanya, kalau perasaan ini tidak berguna bagi Anda, lupakan saja dan maafkan tentunya.

Saya memiliki orang tua yang kurang beruntung dari segi pendidikan. Ibu saya berhasil menamatkan SD, sedangkan ayah saya tidak lulus SD. Meskipun saya sudah bersekolah jauh lebih tinggi dari mereka, tetap saja saya harus berkomnikasi dengan beliau menggunakan bahasa yang sederhana. Situasi ini rupanya yang secara diam-diam membentuk kebiasaan saya menyampaikan sesuatu dengan cara yang sederhana. Awalnya tidak ada motivasi apa-apa, biar orangtua saya mengerti. itu saja. Pada mulanya, hal ini saya pandang sebagai satu bentuk kompromi. Berkompromi dengan situasi dan pendengar yang sulit ketika berkomunikasi. Saat menyampaikan tentang Global Positioning System atau Geographic Information System kepada ibu saya yang hanya lulus SD, kreativitas saya benar-benar ditantang. Menjelaskan citra satelit kepada bapak yang tidak sempat wisuda SD tentu juga tidak mudah. Meski demikian, saya tetap harus melakukannya. Bagi saya, adalah kebanggaan dan bahkan kewajiban untuk meberi tahu orang tua perihal pekerjaan dan ilmu saya. Kami orang desa, terlalu banyak orang yang bertanya kepada mereka Anaknya kerja di mana, di bidang apa? Tidak pas rasanya kalau jawabannya tidak tahu. Orang tua saya tidak pamerih apa-apa ketika menyekolahkan saya, tidak juga mengharapkan uang besar dari keberhasilan saya. Satu-satunya hal yang membuat mereka senang dan bangga ada cerita. Cerita tentang pengalaman dan perjalanan anaknya di dunia yang tidak terjangkau oleh mereka. Meski dipaksa oleh keadaan untuk menyampaikan sesuatu dengan sederhana, saya kadang lelah, terutama ketika masih remaja. Kelelahan ini seringkali saya lampiaskan dalam pergaulan seharihari dengan teman sebaya. Merasa telah terlalu banyak berkompromi, saya sering mengumbar banyak istilah teknis dan sulit dengan teman-teman ketika berkomunikasi. Kalau dipikir, hal ini bisa saja telah menjadikan seorang Andi muda terkesan sok tahu, sok ilmiah, sok teknis dan sok pintar. Tapi sudahlah, kata orang [tak] bijaksana, jangan menyesali apa yang telah terjadi, sesalilah apa yang tidak sempat terjadi. Kembali ke urusan menulis di koran, situasi keluarga secara tidak langsung menumbuhkan keinginan saya untuk menyampaikan sesuatu dengan bahasa sederhana yang populer. Belakangan, saya sadari ini adalah sebuah keberuntungan, terutama ketika mendapati bahwa saya adalah seorang guru. Kemampuan untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang sederhana menjadi tuntutan dan bahkan kewajiban. Tanpa disadari, kesederhanaan ibu dan ayah saya telah meletakkan fondasi yang kuat untuk profesi saya ini. Meskipun ini tidak direncanakan, saya percaya bukanlah satu kebetulan. Ketika memulai menulis di koran, saya selalu membayangkan ibu saya akan membacanya atau ayah saya akan secara tidak sengaja melihatnya tergeletak di atas meja di kantor desa. Sederhananya, saya selalu merasa menulis untuk mereka berdua. Setelah menulis, saya akan membacanya berulang kali sambil mencoba menjadi mereka berdua. Cara ini memaksa saya mengeluarkan kemampuan optimal untuk menghasilkan tulisan yang sarat informasi tetapi sederhana dalam penyampaian. Inilah yang akhirnya mewujud menjadi tulisan-tulisan saya di Kompas, The Jakarta Post, Bali Post, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Sinar Harapan dan sebagainya.

Satu hal yang perlu Anda tahu, meski sudah berkali-kali menulis, saya tidak pernah merasa tulisan ini pasti dimuat ketika mengirimkan tulisan saya ke media massa. Selain itu, kenyataan menunjukkan bahwa jumlah tulisan yang ditolak tidak kalah banyaknya dengan tulisan yang dimuat di media massa. Layakkah saya memberi petunjuk? Saya kira tidak. Makanya yang saya lakukan hari ini adalah berbagi perasaan dengan Anda. Percayalah bahwa apapun yang Anda bicarakan atau apapun keahlian Anda, di luar Anda ada lebih banyak orang awam daripada orang ahli. Jadilah orang awam ketika menulis, maka tulisan Anda akan dibutuhkan lebih banyak orang di dunia ini. Selamat menulis untuk orang awam.

Dari mana datangnya ide?


This entry was posted on April 28, 2008, in teknis. Bookmark the permalink. 5 Comments

Rate This

Kerap kali ada yang bertanya, dari mana datangnya ide menulis? Mengapa bisa sangat produktif mengelola beberapa blog yang selalu terupdate? Seperti halnya kelakar yang saya sampaikan kepada seorang kawan yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Melbourne, the power of love adalah jawabannya. Kecintaan pada tulis menulis adalah tulang punggung dari produktivitas. Lebih jauh, ketika ditanya dari mana datangnya ide? Saya akan menjawab dari mana saja. Yang pasti, sebagian besar ide saya sangat sederhana dan tidak penting. Ide ini sangat jauh dari kaliber memperbaiki kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, apalagi dari cita-cita luhur untuk mewujudkan masyarakat Indonesia seutuhnya. Jauh sekali! Mengapa jauh? Karena sayapun tidak pernah paham apa itu masyarakat Indonesia seutuhnya. Di saat-saat menulis, saya teringat penulis-penulis besar sepeti Gede Prama atau Antony de Mello. Kehebatan tulisannya bukan pada kebesaran temanya tetapi pada kemampuannya memberi makna suatu peristiwa, kendatipun itu hal yang sangat sederhana. Suara jangkrik, tetesan hujan, angin yang diam, malam yang berkabut, kota yang berdebu, anak kecil yang tertawa, burung yang terbang, dan banyak kejadian kecil lain yang di tangan mereka berdua menjadi keindahan luar biasa. Tidak saja indah tetapi juga sarat makna dan sesak oleh pembelajaran. Seperti itulah saya mencoba memaknai hal-hal kecil yang terjadi di sekitar saya. Mungkin orang menyebutnya dengan kepekaan. Saya setuju, walaupun istilah itu bisa terdengar menyeramkan dan menakutkan bagi sebagian orang. Sangat banyak orang yang merasa bahwa kepekaan adalah persoalan bakat dan bakat adalah pemberian. Sesuatu yang diterima tanpa

diusahakan. Yang lebih parah lagi, terlalu banyak orang yang merasa tidak berbakat dan tidak punya pemberian. Karena itu saya tidak akan menggunakan istilah kepekaan, tetapi kemauan. Kemauan mudah-mudahan bermakna lebih sederhana dan bersahabat. Pada kata kemauan nampak jelas ada usaha aktif dari dalam diri, bukan pemberian tanpa usaha. Istilah kemauan semoga lebih bisa diterima karena tidak menghakimi orang-orang secara sadis dengan dasar bakat. Kemauan adalah sesuatu yang melampaui bakat. Orang yang banyak ide adalah orang yang secara sadar memiliki kemauan. Begitu menurut pendapat saya. Satu lagi yang penting, tulisan yang hebat tidaklah selalu tentang tema yang besar. Tulisan yang bagus juga tidak selalu panjang dan menggunakan ratusan kata-kata sukar. Tulisan hebat bisa saja tentang sesuatu yang sederhana. Menulis, seperti halnya aktivitas lain, adalah persoalan kebiasaan. Ketika Einstein mengatakan bahwa kesuksesan adalah kombinasi antara 1% bakat dan 99% usaha, maka saya setuju tanpa syarat. Begitu juga menulis. Tidak ada cara yang lebih hebat dari berani bermimpi dan tidak kenal lelah mengusahakan. Satu kalimat pendek yang tuntas lebih baik dari sejuta kata yang tak bersuara dan tak berujung. Selamat menulis.

Pelatihan Menulis Selalu ada yang Pertama


This entry was posted on June 30, 2011, in Australia, Leadership, Publications, teknis, Tips. Bookmark the permalink. 12 Comments

Rate This

Peserta Pelatihan Menulis - Titian Foundation Ini seperti malam pertama bagi kita Mas celetuk saya pada Mas Gogon dan disambut derai tawa oleh peserta pelatihan lainnya. Pagi itu saya dapati diri di sebuah ruangan di lantai atas Gedung Titian Foundation di Yogyakarta, berhadapan dengan belasan orang yang bersemangat dan sangat antusias. Sebagai seorang guru, menghadapi banyak orang tentu saja bukan hal baru bagi saya tetapi pagi itu sedikit berbeda. Pasalnya, saya hadir di tengah-tengah mereka untuk memberi pelatihan cara menulis. Ini adalah kali pertama saya memberikan materi cara menulis dalam forum yang formal. Menariknya, Mas Gogon, koordinator acara, juga menyatakan bahwa itu adalah kali pertama Titian Foundation Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan serupa. Itulah alasannya mengapa saya berkelakar tentang malam pertama. Pelatih dan peserta pelatihan samasama belum berpengalaman. Adalah Dr. Neila Ramdani, biasa saya panggil Ibu Neila, yang konon merekomendasikan nama saya untuk diundang sebagai pemateri. Sungguh sebuah sanjungan, saya direkomendasikan oleh seorang dosen UGM yang hebat di mata saya. Seperti gayung bersambut, Wulan, seorang karyawan di TF adalah juga sahabat lama saya sejak tahun 2000 silam. Entah apa yang dipikirkannya saat Ibu Neila merekomendasikan nama saya sebagai pemberi pelatihan. Wulan tentu saja memiliki ingatan tersendiri tentang saya saat bertemu sebelas tahun silam. Sangat mungkin Wulan sulit menerima seorang Andi, teman KKN-nya di Dusun Jetisan, harus memberinya pelatihan menulis Namun begitulah kenyataannya, waktu cepat berlalu dan banyak hal yang bisa terjadi dalam sebelas tahun. Saya memulai presentasi dengan menyampaikan kegelisahan sekaligus rasa syukur karena mendapat kepercayaan menjadi pemateri pelatihan menulis. Benar kata ungkapan lama bahwa selalu ada kesempatan pertama dan TF telah memberikan kesempatan itu untuk saya. Jika orang bule mengatakan bahwa all the beginnings are hard, maka saya setuju itu. Meskipun telah

menulis ratusan artikel di blog, mempublikasikan puluhan tulisan di media masa dan merampungkan beberapa buku, memberi pelatihan menulis bukanlah hal yang mudah bagi saya. Oleh karena itu, saya tegaskan dari awal bahwa yang saya akan lakukan adalah berbagi pengalaman menulis, tidak mengajari apalagi menggurui. Selain itu, saya meminta calon peserta untuk membuat tulisan sebelumnya dan saya sempatkan untuk membaca. Tulisan yang bagus dan penuh pengalaman berharga dari peserta itu semakin menegaskan bahwa saya memang semestinya tidak memposisikan diri sebagai pelatih bagi mereka. Saat masuk pada materi saya berbicara tentang alasan untuk menulis. Saya bercerita tentang Marketing in Venus yang sebelumnya pernah saya posting di blog ini. Inti dari cerita saya adalah bahwa dewasa ini sesuatu menjadi laku dan diminati bukan karena fungsi utamanya tetapi karena fungsi tambahannya. Handphone dibeli orang bukan karena bisa dipakai untuk menelpon tetapi karena kameranya yang bagus atau karena bisa untuk twitter dan facebook. Demikian saya menjelaskan. Apapun profesi kita, jika kita memiliki keterampilan tambahan, cenderung lebih mudah untuk menjual diri. Bisa menulis dengan baik adalah salah satu keterampilan tambahan yang sangat membantu profesi seseorang. Saya juga bercerita pengalaman saya saat bertemu Deepak Chopra di New York tahun 2007 silam. Saya sampaikan kepada peserta tentang tiga prinsip yang disampaikan Chopra kepada saya dan ratusan orang di Gedung PBB empat tahun lalu. Bahwa dalam menjalani hidup, kata Chopra, ada tiga hal penting yaitu 1) Percaya bahwa kita bisa melakukan sesuatu untuk perubahan menuju kebaikan, 2) lakukan suatu tindakan setelah adanya kepercayaan, dan 3) ceritakanlah kepercayaan dan tindakan itu kepada orang lain agar dampaknya lebih luas. Dalam bahasa Chopra: believe, take action, and tell stories. Hal terakhir, yaitu tell stories, ternyata sangatlah penting bagi Chopra dan saya menyetujuinya. Dalam rangka itulah, menulis menjadi sangat penting. Menulis, pada dasarnya adalah menceritakan apa yang kita percaya dan telah lakukan agar lebih banyak pihak yang terpengaruh secara positif. Berbeda dengan komunikasi oral yang mudah dilakukan tetapi juga mudah dilupakan jika tidak direkam, komunikasi tulisan bersifat abadi. Ini adalah alasan lain, mengapa seseorang harus menulis. Saat berbicara tentang inspirasi menulis, saya berkisah bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja. Dalam bahasa yang dramatis, saya mengulang ucapan seorang penulis di penghujung tahun 1997 kepada saya bahwa inspirasi itu bisa datang dari daun yang jatuh, angin yang berhempus, matahari yang panas atau debu yang beterbangan. Pekerjaan menggoreng bawang di sebuah kota di Australia bisa menjadi inspirasi menulis tentang kecintaan pada tanah air. Kegemaran mengamati buncis saat masak sayur bisa menjadi inspirasi sebuah tulisan tentang tatanan sosial, misalnya. Perjalanan ke Berbagai tempat tentu juga bisa menjadi inspirasi tulisan yang baik, apalagi tempat-tempat itu sangat asing bagi kita. Inspirasi juga bisa datang dari sesuatu yang baru, meskipun istilah baru itu sendiri sangat relatif. Bagi saya, salju yang turun itu adalah hal baru, tetapi bagi kawan saya yang hidup dan besar di Manhattan, bergumul dengan lumpur di sawah di Desa Tegaljadi itu adalah sesuatu yang baru. Kalau saya bisa mencibir saat melihat orang-orang bule bersemangat berpose dengan latar belakang Pura Tanah Lot, saya mungkin juga ditertawakan saat tergopoh-gopoh sok hebat berfoto di dekat Manekin Piss di sudut kota Brussel, Belgia. Sesuatu yang hebat atau inspiratif bagi seseorang, belum tentu demikian bagi orang lainnya. Demikian saya mengingatkan.

Apakah menulis harus selalu menunggu inspirasi? Sayapun mengutip kalimat Jonathan Tragger di film Serendipity, the absence of signs is a sign. Bahwa tidak adanya inspirasi sesungguhnya bisa dijadikan inspirasi menulis. Mengapa kita tidak menulis tentang sulitnya mencari inspirasi atau perbedaan kualitas tulisan dengan inspirasi dan tanpa inspirasi? Intinya, mencari inspirasi tidaklah sulit jika memperhatikan sekeliling kita. Seperti kata Will Smith di film Hitch, Not if we pay attention. Ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Marcel Proust: the real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but in having new eyes. Bahwa inti dari penemuan sejati bukanlah dalam menemukan sesuatu yang baru, tetapi memiliki sudut pandang baru. Menulis pun demikian. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, seseorang harus memiliki mata yang baru dan berbeda dengan orang lain. Apakah sebuah tulisan harus panjang? Saya mengatakan bahwa suka atau tidak, sering kali seseorang diwajibkan menulis dengan panjang tertentu. Di luar semua itu, tulisan tentang fakta atau kejadian pada dasarnya adalah tulisan yang memenuhi kaidah klasik jurnalisme, bahwa informasi yang terkandung di dalamnya harus bisa menjawab formula pertanyaan 4W1H: what, who, where, why, dan how. Di luar itu adalah sentuhan tambahan yang akan membuat tulisan menjadi lebih indah dan bertenaga. Inilah sebabnya saya memberi judul presentasi saya menulis fakta dengan sentuhan emosi. Meski demikian, menulis sebuah fakta tentu tidak boleh berbohong atau salah. Yang boleh dilakukan adalah mendramatisir tanpa menambahkan fakta yang salah. Sebagai contoh, saya sampaikan di pelatihan itu, kita bisa saja menulis sebuah kalimat pendek siang ini sangat panas, saya merasa tidak nyaman. Untuk menambah efek dramatis dari fakta itu, kita bisa menulis matarahi yang terik menikam wajah saya yang tanpa penutup kepala. Perlahan namun pasti butir-butir keringat mulai muncul di kening dan pelipis saya, akhirnya bersatu dan mengalir deras. Debu yang beterbangan diterpa angin melatari tubuh saya yang terduduk lesu di atas sepeda motor. Tak satupun terlihat pepohonan rindang tempat berteduh. Suasana ini membuat saya ingin enyah dari sini dan tidak mau kembali. Seringkali seorang penulis, termasuk saya, terjebak untuk menggurui pembaca tanpa menyampaikan fakta yang obyektif. Sebagai contoh, kira sering terburu-buru dan ingin agar pembaca tahu bahwa situasi yang kita gambarkan tidak menyenangkan tetapi lupa menuliskan deskripsi rinci. Akan sangat menarik jika pembaca bisa sampai pada kesimpulan bahwa sebuah suasana tidak menyenangkan dengan penggambaran rinci tanpa secara eksplisit mengatakan bahwa suasana itu tidak enak. Saya juga bercerita tentang pengalaman saya menulis di blog sejak 2004 dan juga menulis di koran. Pengalaman itu, menurut saya pribadi, sangat berharga yang semoga bisa bermanfaat bagi peserta pelatihan. Secara agak rinci saya menceritakan pengalaman menulis buku saya terakhir Cincin Merah di Barat Sonne termasuk motivasinya dan proses kreatifnya. Tidak lupa saya ceritakan proses penerbitannya yang ternyata tidak mudah. Memasukkan naskah hingga diterbitkan bisa memakan waktu satu tahun. Saat bercerita tentang tips menulis, saya menyampaikan beberapa hal yang menurut saya penting. Pertama, seorang penulis populer harus berusaha menjadi orang awam dan menggunakan kacamata pembaca. Saya tegaskan, apapun bidang keahlian seseorang, selalu ada lebih banyak orang awam di sekitarnya. Maka dari itu, menulislah untuk orang awam. Secara pribadi saya merasa mendapat banyak pelajaran terkait menulis populer ini dari situasi keluarga. Bapak dan Ibu saya yang hanya sekolah SD membuat saya wajib bisa menjelaskan segala

sesuatu dengan sederhana. Rupanya ini memberi dampak positif bagi pengembangan kemampuan saya menulis populer. Tips kedua saya adalah tentang pemetaan ide. Kita tahu bahwa ide yang muncul di pikiran kita tidak selalu teratur dan berurutan dengan baik. Lebih sering idenya muncul secara acak dan tidak terstruktur. Oleh karena itulah kita memerlukan pemetaan ide atau mind mapping. Dengan pemetaan ide ini, semua ide bisa ditangkap dan didokumentasikan tanpa harus terpaku pada urutan waktu atau struktur penulisan. Dengan pemetaan ide ini, kita cukup menulis apa saja yang muncul di pikiran dan membuatnya terhubung satu sama lain, meskipun masih acak. Setelah itu saya sampaikan tips ketiga bahwa mau tidak mau kita harus membuat struktur tulisan dan mengacu pada struktur tersebut saat menulis. Saya menyampaikan pengalaman belajar menulis untuk IELTS seperti yang pernah saya posting di blog ini. Intinya, dengan membuat struktur, beban menulis akan terbagi pada bagian-bagian kecil sehingga kesannya menjadi jauh lebih ringan. Sebuah tulisan populer ataupun ilmiah bisa dimulai dengan ungkapan, pepatah, puisi, jargon, kutipan ayat suci atau puisi dan sejenisnya. Memulai dengan hal-hal yang popular membuat pembaca lebih mudah masuk dalam tema yang kita tulis. Saat menulis tentang kenaikan muka air laut dan berkembangnya atol dan karang di kawasan Pasifik, seorang kolega saya memulai paper ilmiahnya dengan mengutip puisi Mark Twain buy land, theyve stopped making it Ini dikutipnya untuk mengingatkan pembaca bahwa ada kepercayaan bahwa luasan tanah di muka bumi tidak akan bertambah. Dengan adanya kenaikan muka air laut, tidak saja tanah itu tidak bertambah tetapi malah cenderung berkurang. Meski demikian, dia juga mengungkap dalam papernya bahwa berkembangnya karang dan atol di Pasifik menghadirkan fakta yang mengejutkan bahwa karang yang berkembang itu (karena terdiri dari makhluk hidup) justru memperluas kawasan daratan. Di sinilah dia mengkritik puisi Mark Twain yang ternyata tidak selalu benar. Saya juga pernah menulis sebuah paper ilmiah tentang pentingnya menetapkan batas antarnegara dengan mengutip puisi Robert Frost good fences make good neighbors bahwa adanya batas yang baik itu justru menjamin hubungan bertetangga yang baik pula. Di kesempatan lain saya pernah mengutip lagu nenek moyangku orang pelaut ketika menulis untuk The Jakarta Post tentang makna laut bagi bangsa bahari seperti Indonesia. Tidak sedikit juga orang memulai tulisannya dengan mengutip ajaran kebajikan atau bahkan kitab suci. Dalam menulis popular, sering kali seorang penulis harus beranalogi ketika menjelaskan sesuatu yang rumit atau teknis. Saya mencontohkan, proses pemetaan laut yang pada dasarnya adalah mengukur kedalaman laut, bisa dijelaskan dengan mudah menggunakan analogi perjalanan di darat dengan sepeda motor. Dalam mengukur kedalaman laut, ada gelombang yang dipancarkan dari permukaan air menuju dasar laut dan gelombang itu kemudian dipantulkan oleh dasar laut sehingga kembali ke sumbernya. Saat gelombang dilepas, waktu dicatat. Saat gelombang tiba kembali, waktu juga dicatat. Artinya waktu tempuh gelombang itu diketahui. Karena kecepatan gelombang juga dikatahuai maka jarak tempuhnya bisa dihitung. Saya juga sempat berkelakar menanyakan rumus kecepatan (velocity) kepada peserta yang berlatar belakang pendidikan Fisika. Selanjutnya saya menjelaskan bahwa persoalan rumit dan teknis ini bisa dijelaskan dengan analogi seorang pemuda yang berangkat dari Tabanan ke Denpasar menggunakan sepeda motor dengan kecepatan tertentu. Jika dilakukan pencatatan waktu saat pemuda itu pergi dan saat tiba kembali di Tabanan maka masa tempuhnya diketahui. Selanjutnya jarak Tabahan-Denpasar

bisa dihitung dengan rumus kecepatan. Dalam cerita ini, pemuda yang mengendarai motor itu sama halnya dengan perjalanan gelombang menuju dasar laut dan dipantulkan kembali ke asalnya. Analogi semacam ini seringkali lebih efektif dalam menjelaskan persoalan teknis yang rumit. Terkait usaha menghindari kesalahan ketik dan presisi/akurasi penyampaian pesan, saya menyarankan peserta untuk bisa menjadi penyunting untuk tulisan sendiri. Meski demikian, harus dipahami bahwa tidak mudah menjadi penyunting tulisan sendiri karena saat membaca tulisan sendiri kita umumnya tidak membaca tulisannya tetapi membaca maksudnya. Tentu saja dalam hal ini kita sulit menemukan kelemahan dalam tulisan kita karena yang kita baca adalah maksud kita yang tentu saja menurut kita selalu benar. Di sinilah perlunya menyelesaikan tulisan jauh-jauh hari sebelum tenggat waktu sehingga ada waktu untuk membiarkannya selama beberapa hari. Setelah didiamkan beberapa hari, kita bisa membacanya lagi sehingga harapannya kita menjadi tidak terlalu familiar dengan topik dan terutama gaya penyampaian pesan dalam tulisan itu. Dengan cara begini, ada kemungkinan kita bisa menemukan lebih banyak kesalahan dalam tulisan sendiri karena akan seperti membaca tulisan orang lain. Mengenai gaya bahasa, kami juga berdiskusi tentang perbedaan gaya bahasa lisan dan tulisan. Tidak jarang seorang penulis pemula terjebak menggunakan gaya bahasa lisan saat menulis. Kalimat dia setiap saya selesai merapikan kursi, selalu bikin kacau lagi sesungguhnya adalah gaya bahasa lisan yang ditulis. Dalam gaya bahasa tulisan, kalimat tersebut akan bermakna lebih jelas jika ditulis setiap saya selesai merapikan kursi, dia selalu bikin kacau lagi. Seperti halnya kesalahan ketik yang diuraikan sebelumnya, gaya bahasa juga bisa diperbaiki dengan melakukan penyuntingan sendiri. Mungkin ada yang pernah mengalami, ketika membaca kembali tulisan sendiri setelah beberapa hari atau beberapa bulan diselesaikan, ada banyak kejanggalan ekspresi yang ditemukan. Salah satunya adalah karena adanya pengaruh gaya bahasa lisan pada tulisan tersebut. Setelah membaca contoh tulisan karya para peserta pelatihan, terus terang saya merasa kagum. Pada dasarnya, peserta pelatihan yang umumnya bergelar sarjana pendidikan atau psikologi itu memiliki kemampuan yang sangat bagus dalam mengekspresikan diri dalam tulisan. Saya melihat kemampuan ini di atas rata-rata pada semua peserta. Hanya saja memang ada beberapa hal yang masih bisa ditingkatkan. Yang cukup mudah dilihat adalah kesalahan gramatikal seperti ketidaklengkapan komponen kalimat (subyek, predikat, obyek, keterangan) dan penggunaan awalan dan akhiran yang kurang tepat. Gaya penulisan yang bagus tentu akan menjadi lebih baik lagi jika tidak ada kesalahan penulisan seperti disini yang seharunya di sini atau di jual yang seharusnya dijual. Dalam membahas beberapa kelemahan minor itu, tidak lupa saya sampaikan bahwa memang lebih mudah mengetahui kelemahan tulisan orang lain, sementara saya sendiri kadang melakukan kesalahan yang sama karena terburu-buru. Di bagian akhir pelatihan, saya mengutip ajaran Andrea Hirata tentang menulis. Andrea memiliki jargon riset, imajinasi, dramatisasi. Menurut pemahaman saya, Andrea mempercayai bahwa seorang penulis harus memiliki sebanyak mungkin informasi tentang obyek yang ditulisnya melalui penelitian/riset yang serius. Informasi yang berlimpah itu harus dipadu dengan imajinasi sehingga penyampaiannya menjadi tidak kering dan hanya bertabur fakta yang kaku. Dalam banyak hal, dramatisasi menjadi sangat penting karena fakta dan informasi itu menjadi hidup

oleh sentuhan emosi. Tidak lupa saya menyampaikan contoh, bagaimana sebuah fakta bisa ditulis dengan cara berbeda dengan imajinasi dan dramatisasi. Penambahan unsur fiksi tanpa menyampaikan kebohongan juga kadang efektif sehingga tulisan lebih enak dibaca. Agar tidak menjadi kebohongan, fiksi ini bisa dibungkus dalam khayalan atau mimpi. Saya meyakini bahwa peserta pelatihan cukup menikmati interaksi singkat itu. Meskipun saya bukan seorang pelatih penulis professional, berbagai pengalaman menulis dan penyampaian yang apa adanya membuat suasana pelatihan jadi menarik. Setidaknya saya merasa demikian dan itu juga terasa dari interaksi setelah pelatihan formal. Tidak lupa saya menutup presentasi saya dengan mengutip pelajaran moral nomor satu ala laskar pelangi. Saya tutup pelatihan dengan satu kalimat terbuka seorang penjaja cerita seperti saya memang boleh saja memiliki tujuan mulia. Apakah teman-teman akan menjadi rajin sholat atau belajar berenang, itu adalah soal pilihan. Jikapun pelatihan itu adalah seperti malam pertama bagi dua pihak yang tidak berpengalam, semoga itu adalah malam pertama yang berkesan.

Hikayat seorang penulis


by Made Andi Arsana (Notes) on Wednesday, May 5, 2010 at 10:04pm

Sejak menulis buku, saya kerap menerima email tentang buku saya. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang tidak. Seperti kata kakak ipar saya, semua komentar pasti ada manfaatnya. Maka dari itu saya terima dan berusaha untuk tidak cepat puas, tidak cepat kecewa dan tidak cepat terkejut. Dari sekian pesan atau email itu, tidak sedikit yang meminta dikirimi buku dengan cuma-cuma. Saya senang mendapat permintaan ini karena saya tahu ini adalah salah satu bentuk penghargaan. Tidak jarang saya memberikan buku cuma-cuma, bahkan kepada orang yang tidak saya kenal.

Persoalannya menjadi serius ketika lebih dari 20 orang meminta buku gratis. Perlu diketahui, seorang penulis hanya mendapatkan maksimal 10 buku gratis dari penerbit saat bukunya diterbitkan. Dengan kata lain, seorang penulis bisa memberikan buku gratis kepada maksimal 10 orang teman, itupun jika penulisnya tidak ingin menyimpan buku untuk dirinya sendiri. Memang ada kalanya penerbit memberikan lebih banyak buku gratis kepada penulis, misalnya dalam rangka peluncuran atau promosi lainnya. Saya mendapat 20 buku tambahan untuk dibagikan gratis pada acara peluncuran di Sydney beberapa saat lalu. Yang memperoleh buku dalam acara ini, tentu saja tidak perlu khawatir karena memang gratis segratis-gratisnya.

Yang lebih menarik lagi, menjadi penulis di Indonesia, apalagi penulis pemula seperti saya, bukanlah pekerjaan yang membuat kaya. Saya pernah membuat catatan tentang betapa

mengenaskannya nasib penulis di Indonesia yang penghasilannya tidak lebih baik dari seorang pencuci piring di Wollongong. Mengejutkan, tetapi memang nyata adanya.

Jika penulis ini baik hati, mungkin dia akan merelakan dirinya untuk membeli bukunya sendiri dengan diskon sekitar 25 persen dan memberikannya secara cuma-cuma kepada koleganya. Meskipun koleganya mendapat buku gratis, buku itu sesungguhnya tidak gratis. Jika penulisnya kebetulan adalah seorang pegawai negeri sipil golongan 3B yang gajinya tidak lebih dari dua juta rupiah per bulan, maka menggratiskan buku ini bisa berujung pada masalah yang serius. Memberikan buku gratis secara berlebihan kepada pembaca bisa jadi adalah kompromi atas jatah belanja mingguan keluarganya.

Di suatu ketika, ada juga yang dengan jujur dan polos meminta saya mengirimkan file buku saya. Saya yakin seyakin-yakinnya, permintaan ini pastilah baik maksudnya. Daripada saya membelikan buku untuknya dan mengirimkannya repot-repot, tentu memang lebih mudah jika mengirimkan file-nya saja. Hanya saja, saya merasa ada yang salah dalam permintaan ini. Jika memang saya berniat menyebarkan buku itu dalam format digital, tentu saja saya tidak perlu meminta penerbit untuk mecetaknya. Selain urusannya ribet, untungnyapun tidak seberapa. Rupanya terjadi perbedaan pandangan antara penulis dan calon pembaca dalam hal ini. Betul, mereka memang bisa mengatakan bahwa file itu hanya untuk dibaca sendiri tetapi saya yakin bahwa setiap orang memiliki teman baik. Kepada teman baik ini kita selalu berkata file ini hanya buat kamu, jangan kasih orang lain ya!

Jika urusannya hanya berhenti pada keinginan membaca dan kemudian selesai, tentu tidak jadi masalah. Bagaimana jika permintaan file ini muncul karena sebuah mentalitas yang tidak menghargai usaha penulisan buku? Bagaimana jika permintaan ini didasari ketidaksadaran akan arti penting kreativitas berpikir dan perlunya menghargai hak cipta? Saya duga, urusannya bisa jadi panjang, terutama jika ini dilakukan oleh para peneliti dan penggiat pendidikan.

Kadang saya menjadi sedikit sensitif ketika ada yang dengan mudah meminta file buku saya. Lebih sering saya merasa tidak dihargai, dibandingkan dipuji. Seakan mereka mengatakan, barang tidak berkualitas memang sebaiknya digratiskan. Tentu saja saya yakin bahwa ada kolega yang memintanya benar-benar karena menghargai karya saya dan tidak sabar ingin membacanya. Anda yang membaca tulisan ini dan pernah meminta file buku saya, semoga termasuk kelompok kedua.

Kembali kepada urusan menulis dan menerbitkan buku. Jika menulis sebuah buku tidak bisa membuat orang hidup dengan layak secara ekonomi, pekerjaan menjadi penulis selamanya akan menjadi sambilan. Akibatnya, buku-buku yang kita baca selamanya akan merupakan karya sampingan karena jika dijadikan pekerjaan utama, penulisnya akan mati perlahan-lahan.