Anda di halaman 1dari 36

KOMPLIKASI & KECELAKAAN DALAM ANESTESI

dr. Soemartanto, SpAn, KIC

PENDAHULUAN
Penyulit (komplikasi) periode perioperatif dapat dicetuskan oleh karena anestesi sendiri atau kondisi pasien. Penyulit dapat timbul segera pada waktu pembedahan atau belakangan setelah pembedahan ( lebih 12 jam ). Penyulit anestesi dapt berakhir dengan kematian atau cacat menetap jika tidak dideteksi dan ditolong segera dengan tepat.

KOMPLIKASI KARDIOVASKULER
1. HIPOTENSI
Etiologi

a. b. c. d. e. f. g. h.

Hipovolemia Obat Induksi Anestetika Obat pelumpuh obat Analgesia spinal Penyakit kardiovaskuler Penyakit pernafasan Reaksi hipersensitivitas

2. HIPERTENSI
Etiologi a. Anestesia ringan b. Penyakit hipertensi c. Hiperkapnia d. Obat obatan e. Pre eklampsia

3. ARITMIA JANTUNG Etiologi a. Tindakan bedah b. Pengaruh metabolisme c. Penyakit tertentu


4. PAYAH JANTUNG Payah jantung mungkin terjadi pada pasien yang mendapat cairan IV berlebihan. Gejala yang terlihat mungkin hipotensi, sesak napas dan ronkhi basah pada kedua paru. Dalam pipa endotrakea tampak cairan berbusa berwarna merah muda. Pengobatan dilakukan dengan restriksi cairan, diuretika, digitalis, pernapasan dengan tekanan positif dalam dengan O2.

PENYULIT RESPIRASI
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Obstruksi jalan nafas Intubasi endotrakeal Batuk Cegukan Apneu Atelektase Pneumotoraks Muntah dan regurgitasi

ETIOLOGI MUNTAH & REGURGITASI


1. Sisa makanan dalam lambung atau oesopagus oleh karena : a. Puasa terlalu singkat b. Obstruksi pilorus c. Rangsangan peritonium : peritonitis d. Bekuan darah dalam lambung e. Ileus obstruktif 2. Pengosongan lambung terlambat a. Wanita hamil b. Trauma kepala c. Pasien ketakutan / kesakitan d. Narkotika

FAKTOR PREDISPOSISI TERJADI MUNTAH & REGURGITASI


1. Volume isi yg cukup banyak dgn pH < 3, sering terjadi pada pasien untuk operasi emergensi, pasien yg ketakutan . 2. Kardia yg inkompeten 3. Peningkatan tekanan intraabdominal, karena: a. Posisi litotomi b. Fasikulasi karena suksinilikolin c. Obesitas 4. Penurunan tekanan intra thorax yg berlebihan pada anestesi dalam dgn nafas spontan.

BAHAYA MUNTAH & REGURGITASI


1. Isi lambung padat dapat menyumbat jalan nafas. 2. Asam lambung yang masuk ke bronkus dapat menyebabkan refleks depresi jantung. 3. Asam lambung akan merusak jaringan paru dan menyebabkan pneumonia aspirasi.

TINDAKAN PENCEGAHAN
1.

2.

3.
4.

5.

Persiapan puasa yang adekuat - Dewasa : 6-8 jam - Bayi & anak-anak : 4-6 jam Pengosongan lambung secara aktif melalui pipa lambung. Pemberian antasid untuk menetralisir asam lambung. Cemitidin 300mg / tagament 400 mg 2 jam sebelum induksi dapat meninggalkan pH isi lambung. Pada operasi akut harus dilakukan induksi kilat.

TINDAKAN PENGOBATAN KOMPLIKASI MUNTAH & REGURTASI


1. 2.

3.
4.

5.
6. 7.

Posisi miring, kepala / seluruh badan Posisi trendelenberg Intubasi segera dilakukan pengisapan pipa endotrakea. Berikan O2 100% Suntikan hidrokortison 5001000 mg IV Antibiotika Kalau perlu dilakukan bronkoskopi

PENCEGAHAN MUNTAH PASCA BEDAH


1. Obat antikolenergik 2. Antihistamin

3. Golongan fenotiasin
4. Lain lain seperti primperan

KOMPLIKASI MATA
1. Selama anestesi, umumnya mata pasien tak tertutup rapat jika menggunakan obat pelumpuh otot. 2. Laserasi kornea menyebabkan penderita mengeluh nyeri pada mata pasca bedah 3. Penekanan bola mata, dapat menyebabkan kebutaan yg kadang kadang terjadi pada tindakan anestesia dgn hipotensi kendali & menimbulkan refleks okukardiak pada anestesia yg ringan.

PERUBAHAN CAIRAN TUBUH


1. HIPOVOLEMIA
Etiologi a. Kelainan pra bedah - Perdarahan - Gastroentestinal - Sebab lain b. Perubahan fisiologis c. Kehilangan cairan selama operasi

PERDARAHAN Pada anak dengan perdarahan lebih dari 10% volume darah ( vol. darah 80 cc/ kg BB) harus digantikan dengan transfusi darah. Pada dewasa, transfusi diberikan jika perdarahan yang terjadi lebih dari 20% dari volume darah. EVAPORASI Kehilangan cairan tubuh melalui kulit dan paru dalam keadaan normal antara - 1lt dalam satu hari, diikuti kehilangan elektrolit. Penguapan akan bertambah jika gas anestesi yang diberikan kering.

2. HIPERVOLEMIA

Faktor faktor penyebab a. Gagal jantung b. Cairan infus berlebihan selama pembedahan c. Ginjal tidak mampu melakukan ekskresi cairan d. Kesalahan memantau dengan CVP e. Intoksikasi air karena tindakan bedah Tujuan Terapi : a. Restriksi pemberian cairan b. Diuretika c. Obat inotropik

KOMPLIKASI NEUROLOGI
1. KONVULSI
Jenis kontraksi abnormal otot selama anestesi a. Klonus pada anestesi ringan b. Konvulsi karena hipoksia c. Konvulsi karena obat analgetika loka d. Beberapa obat anestetika tertentu Terapi a. Hentikan pemberian eter/enfluran & O2 b. Berikan obat antikonvulsi c. Jika suhu naik, kompres es / alkohol

2. TERLAMBAT SADAR
Penyulit dapat disebabkan : 1. Kelebihan dosis premedikasi / obat lain. 2. Gangguan fisiologi. 3. Gangguan akibat pembedahan. 4. Akibat manifestasi penyakit tertentu.

3. CIDERA SARAF TEPI (PERIFER)


Etiologi : 1. Pemakaian tourniquet terlalu kuat & lama 2. Penyuntikan obat tertentu di sekitar saraf 3. Hipotensi yg lama 4. Reaksi toksis 5. Kesalahan posisi yg lama

KOMPLIKASI LAIN-LAIN
1. Menggigil Terapi : 1. Pasang selimut tebal 2. Petidin 15-25 mg IV 2. Gelisah setelah anestesi Terapi : analgetik / narkotik (petidin 15-25 mg IV) 3. Mimpi buruk Dapat dicegah dgn premedikasi : diazepam, dehidrobenz peridol

4. Sadar selama operasi Penyulit ini kadang terjadi pada anestesia N2O + O2 + obat pelumpuh otot 5. Kenaikan suhu tubuh a. Demam (fever) Kenaikan suhu tubuh diatas 380 C Dapat diturunkan dgn pemberian salisilat b. Hipertemia (hiperpireksia) Kenaikan suhu tubuh diatas 400 C Tidak dapat diturunkan dgn hanya pemberian salisilat

Penyebab kenaikan suhu tubuh


1. 2. 3. 4. Puasa terlalu lama Suhu kamar operasi terlalu panas Penutup kain operasi terlalu tebal Dosis premedikasi s. atropin terlalu besar 5. Infeksi 6. Kelainan heriditer

HIPERTEMIA MALIGNA
Merupakan keadaan krisis hipermetabolik dimana suhu tubuh naik > 20 C dalam waktu 1 jam. Cara menanggulangi komplikasi : 1.Hentikan pemberian obat anestetika & berikan O2. 2.Seluruh tubuh dikompres es / alkohol. 3.Pemeriksaan gas darah segera dilakukan. 4.Koreksi asidosis dgn natrium bikarbonat. 5.Koreksi hiperkalemia dgn glukose & insulin. 6.Ora dekson dosis tinggi diberikan IV. 7.Dantrolen IV. 1-2 mg/kg BB.

6. Hipersensitif
Reaksi abnormal terhadap obat karena terbentuknya mediator kimia endogen Gejala klinis reaksi hipersensitif 1.Kulit kemerahan dan timbul utikaria. 2.Muka menjadi sembab. 3.Vasodilatasi. 4.Bronkospasme. 5.Sakit perut, mual dan muntah kadang diare.

PENGOBATAN
1. Hentikan pemberian obat anestetika. 2. Dilakukan napas buatan dan kompresi jantung luar kalau terjadi henti jantung 3. Adrenalin 0,3-0,5 cc (1:1000) IV / Intratrakea 4. Steroid, aminofilin / vasopresor 5. Operasi dihentikan dulu sampai gejala gejala hilang.

KOMPLIKASI OBAT ANALGETIK LOKAL


Obat analgetik lokal melebihi dosis tertentu merupakan zat toksik, sehingga unt setiap jenis obat analgetik lokal dicantumkan dosis maksimumnya. Komplikasi dapat bersifat lokal atau sistemik. Contoh dosis maksimum yg dianjurkan (dewasa 70 kg) :
Bupivakain tanpa adrenalin Bupivakain dgn adrenalin Lignokain tanpa adrenalin Lignokain dgn adrenalin Prilokain (Citanest) tanpa adrenalin Prilokain dgn adrenalin 150 mg 150 mg 200 mg 500 mg 400 mg 600 mg

KOMPLIKASI LOKAL
1. Terjadi pada tempat suntikan berupa edema, abses, nekrosis & gangren. 2. Komplikasi infeksi hampir selalu disebabkan kelalaian tindakan asepsis dan antisepsis. 3. Iskemia jaringan & nekrosis karena penambahan vasokonstriktor yg disuntikkan pada daerah dgn arteri buntu.

KOMPLIKASI SISTEMIK
1. Manifestasi klinis umumnya berupa reaksi neurologis & kardiovaskular. 2. Pengaruh pada korteks serebri & pusat yg lebih tinggi adl berupa perangsangan, sedangkan pengaruh pada pons & pada batang otak (medula oblongata) berupa depresi. 3. Pengaruh kardiovaskular adl berupa penurunan tekanan darah & depresi miokardium serta gangguan hantaran listrik jantung.

Penanggulangan Reaksi Toksik Obat Analgetik Lokal


1. Hal yg paling utama adl menjamin O2 adekwat dgn pernafasan buatan dng O2. Tremor atau kejang diatasi dgn dosis kecil short acting barbiturate seperti penthotal (50-150 mg), atau dgn diazepam (valium) 5-10 mg intravena. Depresi sirkulasi diatasi dgn pemberian vasopresor bolus drip dlm infus (efedrin, aramin, nor-adrenalin, dopamin, dll). Bila dicurigai adanya henti jantung (cardiac arrest ) resusitasi jantung paru segera dikerjakan !!!

2.

3.

4.

Komplikasi Analgesia Spinal


Komplikasi analgesia spinal : 1. Komplikasi dini gangguan pada sirkulasi, respirasi & gastrointestinal. 2. Komplikasi delayed (terjadi kemudian)

KOMPLIKASI SIRKULASI

Hipotensi terjadi karena vasodilatasi, akibat blok simpatis, makin tinggi blok makin berat hipotensi. Pencegahan hipotensi infus kristaloid (NaCl, Ringer laktat, dsb) cepat 10-15 ml/kg BB dlm 10 menit setelah penyuntikan analgesia spinal. Bila masih terjadi hipotensivasopresor (efedrin) intravena 10 mt ulang tiap 3-4 menit hingga tercapai tekanan darah yang dikehendaki (sebaiknya penurunan tdk > 10-15 mmHg dari tekanan awal) Bradikardi terjadi krn aliran darah balik berkurang/blok simpatis T1-4, atasi dengan sulfas atropin 1/8-1/4 mg intravena.

KOMPLIKASI RESPIRASI
1. Penderita PPOM/COPD (penyakit paru-paru obstruktif menahun), merupakan kontraindikasi blok spinal tinggi. 2. Apnea : dapat disebabkan karena blok spinal yg terlalu tinggi/hipotensi berat & iskemia medulla. 3. Kesulitan bicara, batuk kering persisten, sesak napas merupakan tanda-tanda tdk adekuatnya pernapasan beri oksigen & napas buatan

KOMPLIKASI GASTRO INTESTINAL


Nausea

& muntah karena hipotensi, hipoksia, tonus parasimpatis berlebihan, pemakaian obat narkotik, reflek karena traksi pada gastrointestinal serta komplikasi delayed, pusing kepala pasca pungsi lumbal merupakan nyeri kepala dgn ciri khas terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi tegak/duduk. 24-48 jam pasca pungsi lumbal dng kekerapan bervariasi (>10% dng jarum no. 22). usia tua lebih jarang dan pada kehamilan meningkat.

Terasa

Pada

Pencegahan :
1. 2. Pakai jarum lumbal yg lebih halus (no. 23/25). Posisi jarum lumbal dng bevel sejajar serat duramater. Hidrasi adekwat, minum/infus sampai 3L sehari selama 3 hari.

3.

Pengobatan :
1. 2. 3. 4. 5. Posisi berbaring terlentang min 24 jam. Hidrasi adekuat Hindari mengejan. Bila cara diatas gagal pertimbangkan pemberian epidural blood patch (penyuntikan darah pasine sendiri 5-10 ml kedalam ruang epidural). Cara ini memberi hasil yg nyata/segera (dalam waktu beberapa jam) pada > 90% kasus)

RETENTIO URINAE
Fungsi kandung kencing merupakan bagian yg fungsinya kembali paling akhir pada analgesia spinal berlangsung selama 24 jam. Kerusakan saraf permanen (chronic adhesive arachnoiditis, dll) merupakan komplikasi yg sangat jarang terjadi.