Anda di halaman 1dari 38

Dasar-dasar kemisorpsi

Kompetensi
Mahasiswa dapat menjelaskan fisisorpsi dan kemisorpsi

Sub-kompetensi
Dapat menjelaskan arti fisisorpsi dan kemisorpsi Dapat membedakan fisisorpsi dan kemisorpsi. Dapat menghitung laju kemisorpsi.

Definisi Fisisorpsi
Fisisorpsi atau adsorpsi fisik adalah suatu proses adsorpsi dengan ikatan yang lemah karena adanya momen dipol dari non polar adsorbat yang berinteraksi dengan suatu padatan yang bermuatan. Pada fisisorpsi, struktur elektronik atom atau molekul terganggu oleh terjadinya adsorpsi. Fisisorpsi biasanya hanya terjadi untuk gas dibawah suhu kritisnya

Dasar gaya interaksi dari fisisorpsi disebabkan oleh gaya van der Waals. Meskipun energi interaksinya sangat lemah, fisisorpsi memainkan peranan yang sangat penting di alam. Sebagai contoh, gaya van der Waals antara suatu permukaan dan rambut-kaki cicak, sehingga cicak dapat merayap pada dinding vertikal. Gaya van der Waals berasal dari fluktuasi muatan antara dua molekul atau atom yang berikatan. Dengan kata lain terjadi suatu momen dipol.

Momen Dipol

Gaya van der Waals (atau interaksi van der Waals, nama ilmuwan Dutch, Johannes Diderik van der Waals, adalah gaya tarik atau tolak antara molekul (atau antara bagian dari molekul yang sama) yang disebabkan karena ikatan kovalen atau interaksi elektrostatik ionion atau dengan molekul netral

Physisorption

Physisorption

Physisorption

Physisorption
BET

Definisi
Kemisorpsi adalah adsorpsi yang disebabkan oleh suatu interaksi kimia yang kuat antara adsorbat dan permukaan substrat

Ciri-ciri kemisorpsi: Suhu tinggi. Jenis interaksi: kuat; ikatan kovalen antara adsorbat dan permukaan. Entalpi tinggi: -50 kJ/mol >H> -800 kJ/mol Adsorpsi terjadi hanya pada monolayer Energi aktifasi tinggi Meningkatnya densitas elektron pada antarmuka adsorben-adsorbat. Reversible hanya pada suhu tinggi. Karena sangat spesifik, sifat kemisorpsi bisa sangat berbeda dari satu sistem dengan sistem yang lain tergantung dari sifat kimia dan struktur permukaan

Kemisorpsi dapat terjadi cepat atau lambat dan mungkin terjadi diatas atau dibawah suhu kritis dari adsorbat. Energi adsorpsi dari kemisorpsi cukup besar, sehingga ikatan kimia dapat terjadi Gas yang teradsorpsi secara kimia sulit dilepaskan dan desorpsinya dapat disertai perubahan sifat kimia. Contoh, oksigen yang teradsrp pada karbon sangatlah kuat. Pada pemanasan, dapat berupa campuran gas CO dan CO2

Perbandingan antara fisisorpsi dan kemisorpsi


Adsorpsi fisik Energi adsorpsi dari fisisorpsi relatif kecil, sehingga tidak terjadi ikatan kimia Pada adsorpsi fisik, gangguan keadaan elektronik dari adsorben dan adsorbat sangat minim Adsorpsi kimia Energi adsorpsi dari kemisorpsi cukup besar, sehingga ikatan kimia dapat terjadi Pada adsorpsi kimia, perubahan keadaan elektronik dapat terdeteksi secara fisik menggunakan instrumen yang sesuai

Perbandingan antara fisisorpsi dan kemisorpsi


Adsorpsi fisik Energi ikat (binding energy) berkisar 10-100 meV. Adsorpsi kimia Biasanya membentuk ikatan dengan energi 1-10 eV.

Tahap elementer pada Adsorpsi kimia selalu adsorpsi fisik fasa gas melibatkan energi tidak melibatkan energi aktifasi. aktifasi.

Perbandingan antara fisisorpsi dan kemisorpsi


Adsorpsi fisik Adsorpsi kimia Pada kondisi yang Molekul yang teradsorp sesuai, molekul fasa gas pada permukaan dapat membentuk berikatan kovalen dan adsorpsi multilayer. hanya membentuk adsorpsi monolayer. Fisisorpsi biasanya Kemisorpsi dapat hanya terjadi untuk gas terjadi cepat atau dibawah suhu kritisnya lambat dan mungkin terjadi diatas atau dibawah suhu kritis dari adsorbat.

Table
Features
Force

Chemisorption and physisorption


Chemisorption
Chemical bond

Physisorption
van der Waals

Place
Structure H Activation energy Rate
Adsorption and desorption

Selective
Monolayer 10100cal/mol Large Slow
sometimes irreversible

nonselective
Multilayer 2~3 kcal/mol Small Rapid

reversible
BET

Typical type

Langmuir

Energi adsorpsi: Fisisorpsi dan kemisorpsi


Fisisorpsi dan kemisorpsi dapat dibedakan berdasarkan pada kekuatan energi interaksinya. Meskipun perbedaan ini tidaklah mutlak. Pada fisisorpsi, energi 20 kJ/Mol menunjukkan bahwa interaksi didominasi oleh gaya van-der-Waals. Contoh: Adsorpsi gas pada grafit, adsorpsi hidrogen pada Ru(0001)/(1x1)-H. Pada energi 50 kJ/Mol, didominasi oleh kemisorpsi dengan gaya ikatan kimia. Contoh: adsorpsi oksigen pada permukaan Rhodium (110)
Suhu desorpsi sangat rendah

TD spektra H2 dari permukaan Ru(0001) (setelah Frie et al.)

Panas adsorpsi & desorpsi berada diantara 1,6 and 2,9 kJoule/Mol !
Suhu desorpsi sangat tinggi!

Panas adsorpsi dan desorpsi berkisar antara 200 and 300 kJoule/Mol !
Desorpsi oksigen dari permukaan Rh(110)

Adsorption of aromatic molecules on transition metal surfaces: 2,6Dimethylpyridine/Cu(110)


F. Mittendorfer and J. Hafner Institut fr Materialphysik and Centre for Computational Materials Science, Universitt Wien, A-1090 Wien, Austria

Structur of 2,6-dimethylpyridine/Cu(110): (A) Physisorption on the unreconstructed Cu(110) surface. (B) Chemisorption on the reconstructed Cu(110) surface.

Fisisorpsi yang diikuti oleh kemisorpsi


Sangat dimungkinkan terjadi, suatu gas teradsorpsi secara fisik, kemudian secara perlahan-lahan mengalami reaksi dengan permukaan padatan membentuk suatu reaksi (kemisorpsi)

Fisisorpsi yang diikuti oleh kemisorpsi


Pada suhu rendah, hanya fisisorpsi yang akan terjadi dan kemisorpsi terjadi sangat lambat.

Pada suhu tinggi, hanya terjadi kemisorpsi dan fisisorpsi sangat kecil terjadi

Real-space model of a real surface with various defects (steps, kinks, holes etc.)

Selective Deposition Method

Selective Deposition Method

Selective Reductive Deposition Method

Hematite

20wt% Ni/hematite

5wt%Ni/hematite

Liquid-Phase Selective Reductive Deposition Method

Ni-Zn/TiO2 (Zn/Ni=0.1)

Liquid-Phase Selective Reductive Deposition Method

Zn addition decreased the size.


Ni Ni-Zn (Zn/Ni=0.1)

10 nm

Liquid-Phase Selective Reductive Deposition Method

45nm
10nm 10n m

Zn/Ni=0.2

Zn/Ni=1.0

Kenetika Kemisorpsi
Energi aktifasi Laju adsorpsi Laju desorpsi

Energi aktifasi

Diagram Lennard-Jones
Disosiatif Kemisorpsi
Ea : Batas aktifasi untuk transisi antara fisisorpsi dan kemisorpsi

Ed : Energi aktifasi untuk desorpsi


H p : enthalpi fisisorpsi

H c: enthalpi kemisorpsi

Fisisorpsi metana pada W(100)

Kemisorpsi hidrogen pada Cu

3. The adsorption energy: Initial heat of adsorption and a-priori heterogeneity


Table: Initial heats of adsorption for some selected adsorption systems
Adsorbate hydrogen H2 oxygen O2 carbon dioxide CO2 xenon Xe xenon Xe hydrogen H (from H2) hydrogen H (from H2) hydrogen H (from H2) carbon monoxide CO oxygen O (from O2) oxygen O (from O2) copper Cu Surface Ru(0001)(1x1)-H Ru Cu Ni Pd Pt Co, Ni, Ru, Rh, Pd Mo, W, Re Ni, Pd Ru, Pd Rh, Re Ru, W, Re E0 from...to [kJ/Mol] 2...5 10...20 10...30 15...25 20...40 60...80 30...100 125...175 100...150 200...250 200...300 250...330

Initial adsorption energy is felt by the very first particle arriving at the bare surface. This initial adsorption energy E0 is a characteristic quantity for a given adsorption system which reflects the strength of the interaction between adsorbate and substrate (cf. Table on the left-hand side). On a given surface there can inherently exist adsorption sites with different local geometry providing different chemical coordination; good examples being surfaces with regular steps. Usually, the strength of adsorbate substrate interaction increases with the coordination number. Example: H/Pd. Real-space model of a real surface with various defects (steps, kinks, holes etc.) Coverage dependence of Ead for Pd(111)/H: full circles: smooth (111) surface; open circles: periodically stepped Pd(111) surface (after

Energi aktifasi
Ref 105

Laju adsorpsi
Ref 112 Ref 114 Ref 119

Kemisorpsi-molekular
Ref 14, 20a, 21, 22, surface vibration, dissociation energy