Anda di halaman 1dari 11

PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA RADIOGRAFER

Oleh:

RAYSA ZULAIKHA HASDI (0910332018)

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2011

PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA RADIOGRAFER Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease. Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan Tahun 1992 Pasal 23). WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja: 1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis 2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma Bronkhogenik. 3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis. 4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma. Undang-Undang No 10 Tahun 1997 tentang ketenaganukliran sebagai penyempurnaaan Undang Undang No 31 Tahun 1964 tentang Ketentuan Pokok Tenaga Atom dimaksudkan agar dapat mengikuti perkembangan pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia diberbagai bidang sehingga dalam pemanfaatannya dapat menjamin keselamatan pekerja, masyarakat maupun lingkungan hidup.Dalam pemanfatan tenaga nuklir termasuk sumber radiasi pengion dibidang kesehatan khususnya dibidang pelayanan radiologi harus memiliki izin dan orang tertentu yang mempunyai kualifikasi kompetensi khusus yang telah teruji tremasuk didalamnya ahli radiografi ( Radiografer ). Hal ini disebabkan karena telah diketahui bahwa selain banyak manfaatnya, radiasi pengion memiliki potensi bahaya bila tidak dikelola oleh orang-orang yang profesional dibidang radiasi. Salah satu potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pemanfaatan radiasi pengion adalah timbulnya efek radiasi baik yang bersifat non stokastik, stokastik dan efek genetik yang mungkin timbul akibat pekerja radiasi mendapat paparan radiasi. Efek tersebut dapat berupa Radiation Sicknes, penyakit keganasan sampai timbul penyakit yang timbul pada keturunannya ( akibat timbulnya efek Genetik ) yang disebkan adanya penerimaan paparan radiasi eksterna dalam jumlah kecil namun diterima dalam jangka waktu yang lama. Oleh USEAC ( Unirted State Energy Atomic Commision ) tahun 1960 1968 dilaporkan bahwa efek yang timbul disebabkan adanya kecelakaan radiasi yang diakibatkan adanya kecelakaan radiasi dan secara rinci kecelakaan tersebut disebabkan oleh 1.Kesalahan operator 2.Kesalahan prosedur 3.Kerusakan perlengkapan : 68 % : 8% : 15 %

4.Lain Lain

: 9%

Kesalahan Operator terperinci sebagai berikut : 1.Tidak melakukan survey radiasi 2.Tidak mengikuti prosedur : 46 % : 36 %

3. Tidak menggunakan peralatan proteksi 4.Kesalahan manusiawi Kesalahan menghitung paparan radiasi

: 6% : 6%

: 6%

Dari jenis kecelakaan yang terjadi antara tahun 1960 1968 ternyata jenis pekerjaan radiografi memegang rekor. Dari 152 kejadian kecelakaan ditemukan bahwa :Jenis Kegiatan JumlahKecelakaan Radiografi 59 Laboratorium 44 Plant Operator Perbaikanalat Kedokteran Pendidikan Kontruksi Pengangkutan Tidak diketahui 28 12 3 2 2 1 1

Dari 59 kecelakaan radiografi tersebut diperoleh bahwa kesalahan diakibatkan oleh Kesalahan operator 40 Kegagalan prosedur Kerusakan perlengkapan Lain Lain 5 13 1

Dari 40 kesalahan operator diperinci sebagai berikut : Tidak melakukan survey radiasi Tidak mengikuti prosedur 29 6

Kesalahan menghitung paparan Kesalahan manusiawi Kerusakan perlengkapan

3 1 1

Dilihat dari hasil laporan tersebut ternyata bahwa tindakan atau kejadian kecelakaan radiasi yang terbesar adalah dibidang radiografi yang disebabkan oleh operator yang mengoperasikan peralatan / alat sumber radiasi dan akibat tersebut yang terbesar adalah disebabkan operator tidak melakukan survey radiasi dan tidak taat terhadap standar prosedur yang telah ditetapkan. 3.2 Tindakan Proteksi Radiasi. Tindakan proteksi radiasi yang dilakukan tentunya merupakan tindakan proteksi radiasi terhadap paparan radiasi sinar X, jadi merupakan tindakan proteksi radiasi eksterna, karena sumber radiasi berada di luar tubuh manusia. Sebelum menerangkan apa yang dimaksud dengan tindakan proteksi radiasi eksterna terlebih dahulu perlu diterangkan mengenai pengertian, filosopi / falasah dan tujuan proteksi radiasi. Proteksi radiasi atau fisika kesehatan dan keselamatan radiasi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan teknik kesehatan yang perlu diberikan kepada seseorang atau kelompok orang terhadap kemungkinan diperolehnya akibat negatif dari radiasi pengion. Adapun filosofi / falsafah proteksi radiasi adalah analisa atau perhotungan untung rugi yang harus mencakup keuntungan yang harus diperoleh oleh masyarakat bukan hanya oleh sesorang atau kelompok . Dengan demikian perlu diperhitungkan anatara resiko dan manfaat dari kegiatan yang menggunakan peralatan dan atau sumber radiasi pengion. Untuk proteksi radiasi ditentukan bahwa manfaat haruslah jauh lebih besar daripada resiko yang mungkin diperoleh oleh pekerja radiasi dan masyarakat. Untuk maksud tersebut filosofi / falsafah proteksi radiasi menyatakan bahwa setiap pemanfaatan zat radioaktif dan atau sumber radiasi pengion lainnya :Hanya didasarkan pada azas manfaat dan justifikasi. yang berarti harus ada izin pemanfaatan dari BAPETEN ( Badan Pengawas Tenaga Atom ).Semua penyinaran harus diusahakan serendah-rendahnaya ( As Low As Reasonable Achievable ALARA ) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial dan dosis equivalent yang diterima seseorang tidak boleh melampaui Nilai Batas Dosis ( NBD ) yang telah ditetapkan. Adapun tindakan proteksi radiasi eksterna adalah tindakan untuk mengupayakan agar tingkat paparan radiasi yang diterima pekerja radiasi menjadi serendah mungkin. Untuk maksud tersebut perlu diperhatikan faktor-faktor utama proteksi radiasi yaitu : Faktor Waktu Besar Dosis atau tingkat paparan radiasi yang diterima seseorang yang sedang bekerja dengan laju dosis tertentu berbanding lurus dengan lama waktu ia berada ditempat itu. Faktor Jarak. Paparan radiasi berkurang dengan bertambahnya jarak dari sumber radiasi Faktor Penahan Radiasi ( Perisai ) Proses atenuasi sinar-X terutama apabila mempunyai berkas sinar sempit dalam bahan pelindung sebagai bahan penyerap bersifat eksponensial .

3 Efek Biologi Radiasi. 1 Efek Deterministik ( Non Stokastik ) Efek Deterministik ( Non Stokastik ) dapat terjadi akibat penyinaran lokal maupun menyeluruh sehingga sejumlah cukup banyak sel mati dan tidak dapat dikompesasikan oleh pembelahan sel yang masih hidup. Di Samping efek yang mematikan sel, radiasi dapat merusak jaringan dengan cara menimbulkan reaksi peradangan yang mempengaruhi permiabilitas sel dan jaringan, mempengaruhi migrasi alamiah sel pada alat tubuh yang sedang berkembang, atau efek tak langsung melalui organ laian ( misalnya penyinaran pada hipopisis akan mempengaruhi fungsi kelenjar endokrin yang lain ) 1. 2. 3. 4. 5. Ciri-Ciri Efek Deterninistik ( Non Stokastik ) Mempunyai dosis ambang Umumnya timbul tidak begitu lama setelah terkena radiasi. Ada penyembuhan spontan ( tergantung keparahan ) Dosis radiasi mempengaruhi keparahan efek ( makin besar dosis, efek makin parah )

4. EFEK STOKASTIK Efek Stokastik akibat radiasi mempunyai ciri-ciri : ambang Timbul setelah melalui masa tenang yang lama spontan Dosis radiasi tidak mempengaruhi keparahan efek makin besar bila dosis semakin meningkat 1. Induksi Kanker Proses menuju timbulnya kanker diawali dengan gangguan regulasi pada pertumbuhan, reproduksi dan perkembangan sel somatik induk ( precurso r). Meskipun perubahan awal telah terjadi, sel yang telah berubah itu belum bersifat sebagai kanker; masih diperlukan stimulasi oleh zat-zat kimia, hormon atau faktor-faktor lingkungan yang lain.Perubahan tunggal pada kode genetik sel biasanya belum mencukupi untuk membuat suatu sel menjadi kanker; untuk itu diperlukan beberapa mutasi. Jadi proses timbulnya kanker adalah proses yang bertahap-tahap ( multi stages carcinogenesis ).Sangat boleh jadi radiasi bekerja pada tahap-tahap awal dalam proses induksi kanker yang bertahap-tahap dengan mengubah sel induk yang normal menjadi sel pra kanker. Karena itulah usia timbulnya kanker akibat radiasi tidak banyak berbeda dengan kanker sejenis yang timbul bukan akibat radiasi. Namun demikian, ada kalanya radiasi berpengaruh pada tahap lanjut dalam proses induksi kanker, sehingga masa laten diperpendek.Pada manusia, periode antara pemaparan terhadap radiasi dan timbulnya kanker, yang disebut masa laten, bertahun-tahun lamanya. Masa laten rata-rata 8 tahun dalam hal Tidak mengenal dosis Tidak ada penyembuhan Peluang timbulnya efek

leukemia akibat radiasi dan 2 3 kali lebih lama pada kebanyakan tumor mempat (solid) seperti misalnya tumor panyudara atau paru-paru ( ICRP, 1991 ). 2. Efek Pewarisan Apabila perubahan kode genetik terjadi pada sel pembawa keturunan ( sel sperma atau sel telur ) maka efek radiasi yang diterima oleh individu yang terkena radiasi akan diwariskan kepada keturunannya. Penelitian pada hewan dan tanaman menunjukkan bahwa efek itu dapat bervariasi dari yang ringan hingga kehilangan fungsi dan kelainan anatomik yang parah bahkan kematian prematur.Suatu kerusan tak mematikan pada sel pembawa keturunan pada prinsipnya akan diwariskan lebih lanjut ke generasi berikutnya. Mutasi dominan yaitu perubahan kode genetik yang berasal dari salah satu orang tua dan masih mempunyai pengaruh yang dominan pada keturunan dan dapat menimbulkan penyakit yang diwariskan pada keturunan generasi pertama. Beberapa diantara penyakit-penyakit ini sangat merugikan individu yang menderita dan mempengaruhi lama hidup dan peluangnya untuk bereproduksi. Mutasi resesif (perubhan kode genetik yang harus berasal dari kedua orang tua agar dapat menimbulkan efek pewarisan pada keturunan) menghasilakn efek yang kurang penting pada beberapa generasi pertama. Namun bila diingat bahwa populasi merupakan pool genetik maka mutasi resesif yang berlansung dalam pool terebut akan menimbulkan kerusakan pada generasi berikutnya karena peluang kedua orang tua untuk membawa mutasi itu meningkat.

5. EFEK BIOLOGI PADA SISTEM, ORGAN ATAU JARINGAN 1. Darah dan Sumsum Tulang Merah Darah putih merupakan komponen seluler darah yang tercepat mengalami perubahan akibat radiasi. Efek pada jaringan ini berupa penurunan jumlah sel. Kompenen seluler darah yang lain ( butir pembeku dan darah merah ) menyusun setelah sel darah putih.Sumsum tulang merah yang mendapat dosis tidak terlalu tinggi masih adapt memproduksi sel-sel darah merah, sedang pada dosis yang cukup tinggi akan terjadi kerusakan permanen yang berakhir dengan kematian ( dosis lethal 3 5 Sv). Akibat penekanan aktivitas sumsum tulang maka orang yang terkena radiasi akan menderita : Kecenderungan pendarahan dan infeksi Anemia dan kekurangan hemoglobinEfek stokastik pada penyinaran sumsum tulang adalah leukemia dan kanker sel darah merah. 2. Saluran Pencernaan Makanan Kerusakan pada saluran pencernaan makanan memberikan gejala mual, muntah, gangguan pencernaan dan penyerapan makanan serta diare. Kemudian dapat timbul karena dehidrasi akibat muntah dan diare yang parah.Efek stokastik yang dapat timbul berupa kanker pada epithel saluran pencernaan. 3. Organ Reproduksi

Efek somatik non stokastok pada organ reproduksi adalah sterilitas, sedangkan efek genetik (pewarisan) terjadi karena mutasi gen atau kromosom pada sel kelamin. 4. Sistem Syaraf Sistem syaraf termasuk tahan radiasi. Kematian karena kerusakan sistem syaraf terjadi pada dosis puluhan Sievert. 5. Mata Lensa mata peka terhadap radiasi. Katarak merupakan efek somatik non stokastik yang masa tenangnya lama (bisa bertahun-tahun). 6. Kulit Efek somatik non stokastik pada kulit bervariasi dengan besarnya dopsis, mulai dengan kemerahan sampai luka bakar dan kematian jaringan. Efek somatik stokastik pada kulit adalah kanker kulit.

7. Tulang Bagian tulang yang peka terhadap radiasi adalah sumsum tulang dan selaput dalam serta luar pada tulang. Kerusakan pada tulang biasanya terjadi karena penimbunan Stontium-90 atau Radium-226 dalam tulang.Efek somatik stokastik berupa kanker pada sel epithel selaput tulang. 8. Kelenjar Gondok Kelenjar gondok berfungsi mengatur metabolisme umum melalui hormon tiroxin yang dihasilkannya. Kelenjar ini relatif tahan terhadap penyinaran luar namun mudah rusak karena kontaminasi internal oleh Yodium Radioaktif. 9. Paru-paru Paru-paru pada umumnya menderita kerusakan akibat penyinaran dari gas, uap atau partikel dalam bentuk aerosol yang bersifat radioaktif yang terhirup melalui pernafasan. 10. Hati dan Ginjal Kedua organ ini relatif tahan terhadap radiasi.

6.PEMONITORAN

Pemonitoran terdiri dari : a. b. Pemonitoran Daerah Kerja Pemonitoran perorangan

Hasil pemonitoran dilaporkan secara berkala dan bila dosis yang diterima lebih besar dari NBD atau melebihi 2 kali Nilai Batas Maksimum Tahunan ( NBMT ) maka Petugas Proteksi Radiasi ( PPR ) harus menyerahkan masalah ini kepada dokter yang bertanggung jawab menaksir efeknya. 7. PENCATATAN DOSIS Dosis yang diterima Pekerja Radiasi setiap bulannya harus dicatat dalam suatu Buku Catatan Dosis Perorangan dan disimpan selama 30 Tahun. Dengan demikian setiap pekerja radiasi diwajibkan memakai monitoring perorangan setiap melakukan tugasnya. Monitoring perorangan yang biasa dipakai adalah Film Badge

8. PENGAWASAN KESEHATAN Pengawasan kesehatan ini dimaksudkan untuk menentukan apakah keadaan kesehatan pekerja radiasi sesuai dengan tugas yang akan dilakukan dan untuk mengetahui apakah ada pengaruh radiasi pada kesehatan pekerja radiasi tersebut selama bekerja dengan radiasi. Keharusan pemeriksan kesehatan ini tidak hanya bagi mereka yang bekerja di Batan atau industri lain yang menggunakan sumber radiasi pengion akan tetapi juga bagi pekerja radiasi dalam bidang medik dan telah diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 172/Men Kes/PER/III/91. Selain untuk memantau keadaan kesehatan pekerja radiasi, pemeriksaan kesehatan juga penting bagi penguasa Instalasi Atom, jika dikemudian hari ada pekerja radiasi yang menggugat bahwa sakit yang dideritanya adalah diakibatkan oleh radiasi yang diterimanya (Medico-legal), walaupun resiko sakit akibat radiasi ini sangat kecil. Peraturan mengenai pengawasan kesehatan antara lain : 1. Penguasa Instalasi Atom wajib melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap calon pekerja radiasi, sekali setahun bagi pekerja radiasi dan pekerja radiasi yang akan memutuskan hubungan kerja dengan Instalasi Atom. 2. Pemeriksaan kesehatan khusus harus dilaksanakan apabila dosis radiasi yang diterima pekerja radiasi melampaui nilai seperti yang tercantum dalam peraturan mengenai pembatasan dosis dan diterima dalam jangka waktu yang singkat. 3. seluruh hasil pemeriksaan kesehatan harus dicatat dalam kartu kesehatan dan kartu ini harus disimpan untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 30 tahun sejak bekerja dengan

radiasi. Di dalam kartu kesehatan harus ada keterangan tentang sifat pekerjaan dan alasan pemberian pemeriksaan kesehatan khusus. 4. Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan radiasi harus tersedia di daerah kerja yang isinya tergantung pada jenis kecelakaan yang mungkin terjadi, jenis radiasi, jenis kontaminasi pada tubuh manusia.

9. Upaya-upaya yang perlu di lakukan untuk terjaminnya tingkat kesehatan dan keselamatan kerja dengan radiasi pengion. A. 1. Pengurusan izin pemenfaatan pemakaian pesawat radiologi. Izin pemanfatan / pengoperasian pesawat radiologi masih berlaku sampai bulan .. tahun 2. Petugas proteksi Radiasi yang berlisensi BAPETEN telah ada dan tealah melakukan tugasnya sesuai dengan kompetensinya antara lain 3. Membuat prosedur kerja dengan radiasi

4. Membuat tanda-tanda adanya bahaya radiasi dengan jelas sehingga mudah terlihat dan menempatkan pada tempat-tempat yang semestinya 5. Memelihara peralatan proteksi radiasi agar selalu dalam keadaan yang memadai baik fisik maupun fungsi 6. Membuat Kartu Dosis perorangan yang dismpan dengan baik sehingga mudah diperiksa apabila diperlukan. 7. Menganalisa dosis perorangan dari kartu dosis untuk mengetahui apakah ada pekerja radiasi terpapar radiasi melebihi NBD untuk pekerja radiasi. 8. Merekomendasikan untuk memeriksa kesehatan bagi pekerja setiap 6 ( enem ) bualan sekali. 9. Membuat Standar Prosedur Pelayanan Radiologi

10. Membuat Standar Prosedur pemeriksaan radiologi baik dengan bahan kontars maupun tanpa bahan kontras. 11. Membuat Standar Prosedur pemeriksaan radiografi baik dengan bahan kontras maupun tanpa bahan kontras. 12. Membuat Standar Prosedur tindakan kedaruratan medik akibat penggunaan bahan kontras pada pemeriksaan radiologi.

13. Melakukan pemeliharan secara berkala terhadap sarana, fasilitas dan peralatan radiologi sesuai dengan batas kewenangan radiografer, agar keadaan baik fisik maupun fungsi sarana, fasilitas dan peralatan radiologi selalu laik pakai, khususnya pemeliharaan kebersihan pesawat rontgen, kaset dan intensifying screen, alat prosesing film otomatis. 14. Melakukan reject film analisis untuk mengetahui apakah hasil pelayanan radiografi telah mencapaikualitas yang diharapkan ( jumlah film yang ditolak ternyata masih dalam batas normal 5% setiap bulan ) 15. Mengikuti Seminar Radiografi untuk radiografer bekerja sama dengan profesi PARI Cabang profinsi Riau, untuk meningkatkan pengetahuan ilmu radiografi yang semakin berkembang. 17. Mengikuti Seminar Proteksi radiasi untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang keselamatan dan kesehatan kerja dengan radiasi. 18. Membentuk Gugus Kendali Mutu, yang diharapkan dapat mempercepat penyelesaian masalah yang dihadapi di Instalasi radiologi, terutama yang berkaitan dengan pemeliharaan sarana, fasilitas dan peralatan radiologi yang belum tertangani secara serius. 19. Mengirim radiografer secara berkala dan bergantian untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan bidang radiografi, Quality Assurance radiodiagnostik yang diselenggarakan oleh organisasi profesi tingkat cabang maupun pusat. 20. Melengkapi alat deteksi radiasi ( Survey Meter type 490 ) untuk memonitor tingkat paparan radiasi lingkungan ruang radiasi, untuk memastikan bahwa tingkat paparan radiasi masih berada dalam batas yang aman.6. Melengkapi buku-buku kepustakaan instalasi radiologi dengan buku-buku Peraturan dan perundang-undangan yang berlaku baik pada penyelenggaraan pelayanan radiologi maupun yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dengan radiasi.