Anda di halaman 1dari 123

Obyektif Perkuliahan

Dapat memahami blok diagram sistem komunikasi analog


Dapat memahami blok diagram sistem komunikasi digital
Dapat memahami propagasi dan sifat ionosfir
Referensi :
MS Iqbal, 2001, Diktat dasar Telkom. Jurusan Teknik
Elektro FT, Unram,
Kennedy & Davis, 1993, Electronic Comm. System,
Fourth Ed, Mc Graw Hill.
Dennis Roddy & John Coolen, 1995, Electronic
Comm. System, Fourth Ed, Prentice Hall Inc.
PENDAHULUAN
Blok diagram sistem komunikasi analog
Blok diagram sistem komunikasi digital
Propagasi dan sifat ionosfir

Dasar Sistem Komunikasi
Maksud Telekomunikasi
Telekomunikasi adalah suatu kegiatan menyalurkan
informasi dari suatu titik (sumber informasi / source)
ke titik lain (penerima informasi / sink)

Informasi harus dikonversikan ke dalam wujud fisis
yang dapat ditangani oleh peralatan yang ada
Definisi dasar
Komunikasi adalah saling menyampaikan
informasi kepada tujuan yang diinginkan
Informasi bisa berupa suara percakapan
(voice), musik (audio), gambar diam (photo),
gambar bergerak (video), atau data digital
Komunikasi bisa dilakukan diantara 2 atau
lebih tempat yang berdekatan atau pun
berjauhan
Macam Informasi
Suara percakapan (voice / speech)
Voice analog menempati band frekuensi 300 ~3400Hz
Musik (audio)
Musik analog menempati band frekuensi 50Hz ~ 15kHz
Gambar Diam (photo)
Band frekuensi yang ditempati tergantung kecepatan
scanning
Gambar Bergerak (video)
Video analog menempati band frekuensi 0 ~ 4MHz
Data Digital: teks, suara, gambar, atau data yang lain-lain
Data Digital
Voice standard PCM:
64 kbps
Voice ADPCM: 32 kbps
Voice LPC: 13 kbps
Musik /audio standard
PCM 44kHz, 16 bit:
700kbps
Format baru:wav,
mp3, awm, dll.
Video standard PCM:
64Mbps
MPEG4: 1.8Mbps
Video streaming:
<1Mbps
dll format
Voice dan Audio Video
dalam Pengirim
Rekayasa membentuk sinyal yang cocok
untuk bisa melalui saluran/kanal komunikasi
agar informasi sampai di tujuan dengan error
yang minimal
Disini bisa terjadi proses source coding,
compression, scrambling, modulation, line
coding, spreading, dan/atau lain-lain yang
dirasa perlu agar komunikasi berhasil dengan
baik dan efisien
didalam penerima
Rekayasa bagaimana cara mendapatkan
kembali informasi dari sinyal yang diterima
meskipun sinyal yang diterima cacat
Disini bisa terjadi proses de-coding,
decompression, demodulation, despreading,
descrambling, dan / atau rekayasa lain
(misalnya error detection & error correction)
yang diperlukan agar informasi yang utuh
bisa diperoleh
Blok Diagram Sist. Komunikasi Analog
Sumber
Informasi
Transducer
Input
Modulator
Analog
Penerima
Informasi
Transducer
Output
Demodulator
Analog
Media Transmisi
Lihat Digital ?
Fungsi Tiap komponen blok analog
Sumber informasi : memberikan informasi
masukan
Transduser input : mengubah informasi masukan
menjadi isyarat elektris
Modulator analog : menyesuaikan isyarat elektris
dengan media transmisi
misalnya gelombang radio
Media Transmisi : kabel maupun non-kabel
Proses di penerima simetris pada media dengan
fungsi yang berlawanan dengan bagian pengirim
Sifat media transmisi yang merugikan
Peredaman : biasanya sangat kecil, tetapi dapat
pula besar
Distorsi : respon terhadap isyarat tidak sempurna,
sifat distorsi adalah jika isyarat tidak ada
maka distorsi hilang.
Interferensi : gangguan oleh isyarat lain terhadap
media transmisi, walaupun isyarat
ditiadakan interferensi tetap ada.
Derau : gangguan dari dalam maupun luar media
transmisi yang tidak dapat diramalkan
Fungsi Blok Diagram Sist. Analog
Sumber
Informasi
Transducer
Input
Modulator
Analog
Penerima
Informasi
Transducer
Output
Demodulator
Analog
Media Transmisi
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
-1
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
detik
A
m
p
l i t u
d
o
( v
o
l t )
Gelombang pemodulasi
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
detik
A
m
p
l i t u
d
o
( v
o
l t )
Gelombang termodulasi Amplitudo Modulasi Full Carier
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
detik
A
m
p
l i t u
d
o
( v
o
l t )
Gelombang termodulasi Amplitudo Modulasi plus noise
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
-1
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
detik
A
m
p
l i t u
d
o
( v
o
l t )
Gelombang pemodulasi plus noise

Blok Diagram Sist. Komunikasi Digital
Sumber
Informasi
Transducer
Input
Modulator
Digital
Media
Transmisi
Source
Encoder
Kanal
Encoder
Penerima
Informasi
Transducer
Output
Demodulator
Digital
Source
Decoder
Kanal
Decoder
Lihat Analog ?
Fungsi Tiap komponen blok Digital
Blok diagram yang sama dengan analog mempunyai
fungsi yang sama dengan digital
Source encoder : mengubah isyarat elektris
menjadi urutan kode biner
Kanal encoder : menambahkan bit-bit khusus
untuk mengurangi bit error pada
penerima
Proses di penerima simetris pada media dengan
fungsi yang berlawanan dengan bagian pengirim
Fungsi Blok Diagram Sist. Digital
Sumber
Informasi
Transducer
Input
Modulator
Digital
Media
Transmisi
Source
Encoder
Kanal
Encoder
Penerima
Informasi
Transducer
Output
Demodulator
Digital
Source
Decoder
Kanal
Decoder

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
-1
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
detik
A
m
p
l i t u
d
o
( v
o
l t )
Gelombang pemodulasi
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
-1
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
detik
A
m
p
l i t u
d
o
( v
o
l t )
Gelombang pemodulasi plus noise
Kode
biner
Kode
biner
Kode
biner
Kode
biner
Permasalahan Telekomunikasi
Luas daerah pelayanan
Aneka ragam fasilitas (feature)
Efisiensi dan efektifitas
Kecepatan penyampaian informasi
Keselamatan / keamanan informasi

Propagasi
Propagasi menyentuh pengetahuan yang
berhubungan dengan pancaran gelombang
radio
Transmit proses memancarkan gelombang
radio yang ditumpangi oleh masukan audio.
Gelombang radio diterima oleh receiver lawan
bicara kita dan oleh receiver gelombang
radionya dihilangkan dan masukan audio
ditampung lewat speaker.
PROPAGASI DAN SIFAT IONOSFIR
Propagasi
Gelombang radio mempunyai sifat seperti
cahaya, ia dapat dipantulkan, dibiaskan,
direfraksi dan dipolarisasikan. Kecepatan
rambatanya sama dengan kecepatan sinar
ialah 300.000 km tiap detik
Gelombang radio high frequency dari
Indonesia bisa sampai di Amerika Serikat yang
terletak dibalik bumi, WHY ?

Propagasi
Di angkasa luar, ialah di luar lapisan atmosfir
bumi terdapat lapisan yang dinamakan
ionosfir, yaitu suatu lapisan gas yang
terionisasi sehingga mempunyai muatan listrik
Lapisan ionosfir berbentuk kulit bola raksasa
yang menyelimuti bumi, lapisan ini dapat
berpengaruh kepada jalannya gelombang
radio.
Propagasi
Pengaruh-pengaruh penting dari ionosfir
terhadap gelombang radio adalah bahwa
lapisan ini mempunyai kemampuan untuk
membiaskan dan memantulkan gelombang
radio.
Kapan gelombang radio itu dipantulkan dan
kapan gelombang radio dibiaskan atau
dibelokkan tergantung kepada frekuensinya
dan sudut datang gelombang radio terhadap
ionosfir.
Propagasi
Frekuensi gelombang radio yang mungkin dapat
dipantulkan kembali adalah frekuensi yang berada
pada range Medium Frequency (MF) dan High
Frequency (HF).
Gelombang radio pada Very High Frequency (VHF)
dan Ultra High Frequency (UHF) atau yang lebih
tinggi, secara praktis dapat dikatakan tidak
dipantulkan oleh ionosfir akan tetapi hanya sedikit
dibiaskan dan terus laju menghilang ke angkasa luar
Gelombang radio yang menghilang ke angkasa luar
dalam istilah propagasi dikatakan SKIP.
Propagasi
Gelombang radio pada range MF dan HF dapat
dipantulkan oleh ionosfir, maka gelombang yang
dipancarkan ke udara dapat balik lagi ke bumi di
tempat yang cukup jauh. Oleh bumi gelombang tadi
dapat dipantulkan lagi balik ke angkasa dan oleh
ionosphere dipantulkan ulang balik ke bumi.
Dengan pantulan bolak balik ini, maka gelombang
radio dapat mencapai jarak sangat jauh dan dengan
demikian dapat mencapai belahan bumi di balik
sana.
Model Propagasi Gelombang Radio MF dan HF
HUBUNGAN FREKUENSI DAN PANTULAN
Makin tinggi frekuensi gelombang radio, dapat
dikatakan secara praktis makin sulit dipantulkan oleh
ionosfir
Makin tinggi frekuensi gelombang radio, agar dapat
dipantulkan oleh ionosfir diperlukan sudut yang
makin kecil. Dengan sudut pantul yang kecil tersebut
jarak capai pantulannya ke bumi makin jauh.
Pada Very High Frequency sudut pantul yang
diperlukan sangat kecil sehingga secara praktis tidak
mungkin dilakukan.
HUBUNGAN FREKUENSI DAN PANTULAN
MUF (maximum useable frequency)
frekuensi tertinggi yang dapat digunakan
untuk komunikasi antara dua buah titik di
permukaan bumi
OWF (optimum working frequency)
frekuensi optimal untuk komunikasi antara
dua buah titik di permukaan bumi dengan
sudut datang |
I
,frek 15 % dibawah MUF
HUBUNGAN FREKUENSI DAN PANTULAN
|
i
f = MUF
f < MUF
f > MUF
Ket : sudut elevasi dijaga konstan, frekuensi dibuat bervariasi
Frekuensi dibawah MUF , gelombang dipantulkan oleh lapisan
ionosfir pada titik yang lebih rendah dari titik pantul lapisan
ionosfir untuk frekuensi MUF
Frekuensi diatas MUF , pembiasan gelombang tidak cukup kuat
untuk membawa kembali gelombang ke bumi
Sudut elevasi kurang dari sudut kritis , gelombang dipantulkan
oleh lapisan ionosfir pada titik yang lebih rendah dari titik
pantul untuk frekuensi MUF
Sudut elevasi lebih dari sudut kritis, pembiasan gelombang
tidak cukup kuat untuk membawa kembali gelombang ke bumi
|
Ket : frekuensi dijaga konstan, sudut elevasi dibuat bervariasi
f = MUF
IONOSFIR
Ionosfir yang menyelimuti bumi kita ini dapat
terdiri atas beberapa lapis, antara lain yang
disebut lapisan D, E dan lapisan F. Lapisan D
adalah lapisan yang paling rendah, sedangkan
E adalah lapisan di atasnya dan disusul dengan
lapisan F yang merupakan lapisan teratas.
Tinggi lapisan F adalah sekitar 280 kilometer
sedangkan lapisan E sekitar 100 kilometer
diatas permukaan bumi
IONOSFIR
Pada siang hari lapisan F terpecah menjadi dua ialah
F1 dan F2 masing-masing mempunyai ketinggian
sekitar 225 kilometer dan 320 kilometer. Sedangkan
pada malam hari kedua lapisan tersebut bergabung
lagi menjadi satu lapisan tunggal ialah lapisan F.
Lapisan F inilah yang mempunyai arti penting dalam
pancaran gelombang radio teresterial, dimana
komunikasi jarak jauh bersandar kepada kondisi
lapisan ini.
IONOSFIR
Kesempurnaan pemantulan yang dilakukan oleh lapisan
ionosfir cenderang tergantung kepada kesempurnaan ionisasi
dari lapisan tersebut.
Lapisan ionosfir yang terion secara sempurna merupakan
lapisan yang masif dan mempunyai daya pantul cukup baik
pada gelombang radio.
Kondisi propagasi pada malam hari dalam keadaan normal
sehari-hari pada umumnya cenderung lebih baik daripada
siang hari.
Siang hari terjadi lapisan ionosfir tambahan (lapisan D) yang
terionisasi kurang sempurna sehingga menghambat pantulan
gelombang radio kembali ke bumi.
IONOSFIR
Horizon Radio
a a
h
t
h
r
Horison optik

Gel radio

a
a
a
h
t
h
r
d
1
d
2
d
max
Horizon Radio (analisa)
Atmosfir standart : a = 4 a / 3
Hk Pythagoras : ( a )
2
+ d
1
2
= ( a + h
t
)
2
: d
1
2
= 2 a h
t
+ h
t

2
Dengan a >> h
t
d
1
2
2 a h
t

Dengan cara sama d
2
2
2 a h
r

d
max
= d
1
+ d
2
d
max
= \(2 a h
t
) + \(2 a hr )

Obyektif Perkuliahan
Dapat memahami teknik modulasi DSBFC ( AM )
Dapat memahami teknik modulasi DSBSC ( DSB )
Dapat memahami indeks modulasi dan efisiensi daya
Dapat memahami spektrum magnitudo dan bandwidth
Referensi :
MS Iqbal, 2001, Diktat dasar Telkom. Jurusan Teknik
Elektro FT, Unram,
Kennedy & Davis, 1993, Electronic Comm. System,
Fourth Ed, Mc Graw Hill.
Dennis Roddy & John Coolen, 1995, Electronic
Comm. System, Fourth Ed, Prentice Hall Inc.
Double Side Band Full Carrier ( AM )
Double Side Band Supressed Carrier (DSB)
MODULASI ANALOG
Proses Pengiriman Informasi
Suatu sinyal carrier murni dibangkitkan pada sisi
pengirim / pemancar
Sinyal carrier dimodulasi / dimodifikasi oleh
sinyal informasi agar dapat dipancarkan. Terjadi
perubahan karakteristik sinyal carrier yang
memuat informasi
Pada bagian penerima sinyal informasi harus
dapat dideteksi dan didemodulasi kembali.
Parameter Sinyal yang dapat dimodifikasi
Hanya ada tiga parameter sinyal yang dapat diubah
pada kawasan waktu : amplitudo, fase, atau frekuensi.
Pada AM, amplitude dari sinyal pembawa frekuensi
tinggi diubah secara proporsional terhadap perubahan
amplitudo sinyal informasi / pemodulasi, sementara
frekuensinya dijaga konstan.
Pada FM, frekuensi dari sinyal pembawa frekuensi tinggi
diubah secara proporsional terhadap perubahan
amplitudo sinyal informasi / pemodulasi, sementara
amplitudonya dijaga konstan.
Pada PM, frekuensi sudut sinyal pembawa diubah
proporsional terhadap perubahan amplitudo sinyal
informasi / pemodulasi, sementara amplitudonya
dijaga konstan.
mengingat sudut phase pemodulasi ( |m ) tidak mempengaruhi sudut
phase carrier ( |c ), untuk kesederhanaan sudut phase tidak ikut dianalisa,
shg gelombang termodulasi AM menjadi ( frekuensi carrier tetap,
amplitudo carrier fluktuasi mengikuti pemodulasi ) :

( ) ( )
m m m m
t f E t e | t + = 2 cos
max
( ) ( )
c c c c
t f E t e | t + = 2 cos
max
Double Side Band Full Carrier ( AM )
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) t f t f m E
t f t f E E t e
c m c
c m m c
t t
t t
2 cos 2 cos 1
2 cos 2 cos
max
max max
+ =
+ =
dengan :
max
max
min max
min max
c
m
E
E
E E
E E
m =
+

=
Asumsi :
Spektrum komponen frekuensi
Formula yang diperlukan :
cos (o+|) = cos o cos | - sin o sin |
cos (o-|) = cos o cos | + sin o sin |
+
cos o cos | = ( cos (o+|) + cos (o-|) )
cos (o+|) = cos o cos | - sin o sin |
cos (o-|) = cos o cos | + sin o sin |
-
sin o sin | = ( cos (o-|) - cos (o+|) )
Spektrum Frekuensi AM
Spektrum frekuensi terlihat dg menjabarkan sinyal AM :
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )t f f E
m
t f f E
m
t f E
t f t f E m t f E
t f t f m E t e
m c c m c c c c
c m c c c
c m c
+ + + =
+ =
+ =
t t t
t t t
t t
2 cos
2
2 cos
2
2 cos
2 cos 2 cos 2 cos
2 cos 2 cos 1
max max max
max max
max
Carrier Lower Side Band Upper Side Band
E
c max
m E
c max
/ 2 m E
c max
/ 2
f
c
- f
m
f
c
+ f
m

f
c

Gelombang termodulasi DSB diperoleh dengan mengalikan
gelombang pemodulasi dan sinyal carrier maka :

( ) ( ) t f E t e
m m m
t 2 cos
max
= ( ) ( ) t f E t e
c c c
t 2 cos
max
=
Double Side Band Supressed Carrier ( DSB )
( ) ( ) ( )
( ) ( )t f f E
m
t f f E
m
t f E t f E t e
m c c m c c
c c m m
+ + =
=
t t
t t
2 cos
2
2 cos
2
2 cos 2 cos
max max
max max
Asumsi :
Lower Side Band Upper Side Band
f
c
- f
m
f
c
+ f
m

f
c

m E
c max
/ 2 m E
c max
/ 2
% Contoh grafik sinyal AM dan DSB
Fs = 1440 ;
t = 0 : 1/Fs : 2 ;
x = 0.8*sin ( 2* pi * 1 *t ); % sinyal pemodulasi dengan fm = 1 Hz
x1 = x + 1 ;
x2 = - x1 ;
car = sin ( 2 * pi * 15 * t); % sinyal pembawa dengan fc = 15 Hz
AM = x1 .* car ;
%
figure, plot( t, AM , t, x1 , 'r-- , t , x2 , 'r-- );
Xlabel ( ' detik )
Ylabel ( ' Amplitudo ( volt ) )
Title ( ' Gelombang termodulasi Amplitudo Modulasi Full Carier )
grid on;
x3 = 0.8 * sin ( 2 * pi * 1 * t );
x4 = - x3 ;
DSB = x3 .* car ;
%
figure, plot ( t , DSB , t , x3 , 'r-- , t , x4 , 'r-- );
Xlabel ( ' detik )
Ylabel ( ' Amplitudo ( volt ) )
Title ( ' Gelombang termodulasi Double Side Band )
grid on;
% end
emax
emin
fm = 1Hz
fc = 15 Hz
fm = 1Hz
fc = 15 Hz
% Contoh grafik sinyal AM dan DSB
Fs = 1440;
t = 0 : 1/Fs :2 ;
x = 0.4*sin (2*pi*1*t) + 0.5*sin (2*pi*2*t); % sinyal pemodulasi dg fm = 1 Hz dan 2 Hz
x1 = x + 1 ;
x2 = - x1 ;
car = sin (2*pi*15*t); % sinyal pembawa dengan fc = 15 Hz
AM = x1 .* car ;
%
figure, plot(t,AM,t,x1,'r--',t,x2,'r--');
xlabel(' detik ')
ylabel(' Amplitudo ( volt ) ')
title(' Gelombang termodulasi Amplitudo Modulasi Full Carier ')
grid on;
x3 = 0.4*sin (2*pi*1*t) + 0.5*sin (2*pi*2*t);
x4 = - x3 ;
DSB = x3 .* car ;
%
figure, plot(t,DSB,t,x3,'r--',t,x4,'r--');
xlabel(' detik ')
ylabel(' Amplitudo ( volt ) ')
title(' Gelombang termodulasi Double Side Band ')
grid on;
% end
Sinyal pemodulasi
Sinyal AM
Sinyal pemodulasi
Sinyal DSB
Pemodulasi
E
c max
Gambar Sinyal AM dengan masukan diskrit
Pemodulasi
Gambar Sinyal DSB dengan masukan diskrit
% Grafik SPEKTRUM AMPLITUDO sinyal AM dan DSB
Fs = 1600;
t = 0 : 1/Fs : 2 ;
x = 0.8*sin (2*pi*100*t)- 0.5*sin (2*pi*150*t)+ 0.3*sin (2*pi*200*t) ;
% Sinyal masukan dengan fm = 100 Hz, 150 Hz, 200 Hz
x1 = x + 1 ;
x2 = - x1 ;
car = sin (2*pi*400*t) ; % Sinyal carrier dengan fc = 400 Hz
AM = x1 .* car ;
%
x3 = 0.8*sin (2*pi*100*t) - 0.5*sin (2*pi*150*t) + 0.3*sin (2*pi*200*t);
x4 = - x3 ;
DSB = x3 .* car ;
%
% untuk fft AM
dataAM = fft(AM,512);
Pyy_AM = abs(data_AM)/256;
f_AM = Fs*(0:256)/512;
figure, plot(f_AM,Pyy_AM(1:257))
title(Spektrum Frequency dari gelombang AM')
xlabel(Frequency (Hz)')
Ylabel( Magnitudo (Volt) )
Grid on ;
Ec
m1Ec/2
m2Ec/2
m3Ec/2
m1Ec/2
m2Ec/2
m3Ec/2
m1Ec/2 m1Ec/2
m2Ec/2
m3Ec/2 m2Ec/2
m3Ec/2
Rata-rata Daya AM
Daya rata-rata gelombang sinusoidal melewati hambatan R adalah :
R
E
2
2
max
Maka berdasar spektrum frekuensi diperoleh :
R
E
P
c
c
2
2
max
=
Dan untuk LSB dan USB masing-masing :
c
c
USB LSB
P
m
R
E m
P
4 2
2
2
2
max
/
=
|
.
|

\
|
=
Maka total Daya rata-rata adalah :
|
|
.
|

\
|
+ =
+ + =
+ + =
2
1
4 4
2
2 2
m
P
P
m
P
m
P
P P P P
c
c c c
USB LSB c Total
Tegangan atau Arus Efektif sinyal AM
Daya efektif sinusoidal melewati hambatan R adalah :
Daya efektif pada komponen carrier :
R
E
P
c
c
2
2
max
=
Maka diperoleh hubungan :
Maka diperoleh tegangan, arus, dan indek modulasi :
R
E
P
T
2
2
=
|
|
.
|

\
|
+ =
|
|
.
|

\
|
+ =
2
1
2
2
1
2
2
2
2 2
m
R
E
m
P
R
E
c
c
2
1
2
m
E E
c
+ =
2
1
2
m
I I
c
+ =
(
(

|
|
.
|

\
|
= 1 2
2
c
I
I
m
Modulasi AM non sinusoidal
Sinyal Pemodulasi merupakan jumlahan dari beberapa komponen
frekuensi :
Maka diperoleh hubungan :
Maka diperoleh tegangan, arus, dan indek modulasi :
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) .........
4 3 2 1
+ + + + = t e t e t e t e t e
m m m m m
|
|
.
|

\
|
+ + + + + = ......
2 2 2 2
1
2
4
2
3
2
2
2
1
m m m m
P P
c T
.......
2
4
2
3
2
2
2
1
+ + + + = m m m m m
eff
2
1
2
eff
c
m
E E + =
2
1
2
eff
c
m
I I + =
Spektrum AM masukan suara / musik
E
c max
m
1
E
c max
/2 m
1
E
c max
/2
m
2
E
c max
/2 m
2
E
c max
/2
m
3
E
c max
/2 m
3
E
c max
/2
f
c
f
1
f
c
+ f
1
f
c
+ f
2
f
c
f
2
f
c
f
3
f
c
+ f
3
f
c


f
c


f
c
f
m max
f
c
+ f
m maax
LSB

USB

Bandwidth = 2 f
m max
Spektrum DSB masukan suara / musik
m
1
E
c max
/2 m
1
E
c max
/2
m
2
E
c max
/2 m
2
E
c max
/2
m
3
E
c max
/2 m
3
E
c max
/2
f
c
f
1
f
c
+ f
1
f
c
+ f
2
f
c
f
2
f
c
f
3
f
c
+ f
3
f
c


f
c


f
c
f
m max
f
c
+ f
m max
LSB

USB

Bandwidth = 2 f
m max
Contoh Soal 1:
Suatu gelombang pembawa dengan frekuensi 10 MHz dan tegangan puncak 10
volt, dimodulasi amplitudo oleh sinyal sinus frekuensi 5 kHz dan amplitudo 6
Volt. Tentukan indeks modulasi dan gambarkan sketsa spektrum amplitudonya.
Jawab :
m = E
m

max
/ E
c max
= 6 / 10 = 0,6
f
LSB
= f
c
- f
m
= 10 0,005 = 9,995 MHz
f
USB
= f
c
+ f
m
= 10 + 0,005 = 10,005 MHz
Amplitudo pada LSB dan USB = 0,6 x 10 / 2 = 3 volt
Lanjutan sketsa Contoh Soal 1 :
10 volt
3 volt
3 volt
10
10,005 9,995
f MHz
Contoh Soal 2 :
Arus antena rata-rata dari pemancar radio AM adalah 10 A bila tidak
dimodulasi, dan menjadi 12 A bila dimodulasi oleh sinyal sinusoidal. Hitunglah
indeks modulasinya.
Jawab :
(
(

|
|
.
|

\
|
= 1 2
2
c
I
I
m
(
(

|
.
|

\
|
= 1
10
12
2
2
m
94 , 0 = m
Problem :
Suatu sinyal carrier dimodulasi amplitudo oleh sinyal masukan sebuah sinus murni, dan
gelombang sinyal termodulasinya sebagaimana berikut ini :
a. Bila sinyal masukan awal ditambahkan dengan gelombang sinusoidal lain
sebesar , dan dimodulasi
bersamaan, berapakah lebar bandwidth gelombang AM tersebut?
b. Gambarkan sketsa spektrum frekuensinya.
c. Berapakah efisiensinya ( persentase daya yang memuat informasi ) ?
( ) ( ) volt t Cos t Sin Vs t t 80 9 , 0 50 6 , 0 + =
Problem in class :
Suatu sinyal carrier kotak dimodulasi amplitudo oleh sinyal masukan sebuah sinus
murni, dan gelombang sinyal termodulasinya sebagaimana berikut ini :
a. Tentukan pers sinyal informasinya, berapakah lebar bandwidth gelombang AM
tersebut?
b. Gambarkan sketsa spektrum frekuensinya.
c. Berapakah efisiensinya ( persentase daya yang memuat informasi ) ?
Obyektif Perkuliahan
Dapat memahami teknik modulasi frekuensi ( FM )
Dapat memahami teknik modulasi phase ( PM )
Dapat memahami indeks modulasi
Dapat memahami spektrum magnitudo dan bandwidth
Referensi :
MS Iqbal, 2001, Diktat dasar Telkom. Jurusan Teknik
Elektro FT, Unram,
Kennedy & Davis, 1993, Electronic Comm. System,
Fourth Ed, Mc Graw Hill.
Dennis Roddy & John Coolen, 1995, Electronic
Comm. System, Fourth Ed, Prentice Hall Inc.
Frequency Modulation ( FM )
Phase Modulation (PM)
MODULASI ANALOG
Skema Modulasi Frekuensi
Sinyal pemodulasi e
m
(t) digunakan untuk mengontrol
frekuensi carrier f
c
Deviasi frekuensi sebanding dg tegangan pemodulasi
Notasi konstanta deviasi frekuensi adalah k
Satuan k adalah hertz / volt atau Hz / v
Frekuensi sesaat sinyal FM :
f
i
(t) = f
c
+ k e
m
(t)
e
i
(t) = 2 t f
i
(t)
Notasi umum Gelombang FM :
( ) ( ) t f E t e
m m m
t 2 cos
max
= ( ) ( ) t f E t e
c c c
t 2 cos
max
=
Frequency Modulation ( FM )
Asumsi :
( ) ( ) t E t e
c
u cos
max
=
dengan
( ) t u
dapat diperoleh dari hubungan :
( )
( ) t
t d
t d
i
e
u
=
dengan
( ) t
i
e
adalah kecepatan sudut sesaat.
mengingat fungsi modulator FM untuk mengubah parameter frekuensi
sesaat osilator, maka :
( ) ( ) t e k f t f
m c i
+ =
sehingga
( ) ( )
( ) ( )
( ) dt t e k t f
dt t e k f
dt t t
t
m c
t
m c
t
i
}
}
}
+ =
+ =
=
0
0
0
2 2
2
t t
t
e u
( ) ( ) t f E t e
m m m
t 2 cos
max
=
Frequency Modulation ( FM )
Asumsi :
frekuensi osilasi sesaat FM adalah :
( ) ( )
t f f f
t f E k f
t e k f t f
m c
m m c
m c i
t
t
2 cos
2 cos
max
A + =
+ =
+ =
diperoleh gelombang FM :
( ) ( )
( ) t f t f E
t f
f
f
t f E
dt t f f t f E
t E t e
m c c
m
m
c c
t
m c c
c
t | t
t t
t t t
u
2 sin 2 cos
2 sin 2 cos
) 2 ( cos 2 2 cos
cos
max
max
0
max
max
+ =
|
|
.
|

\
| A
+ =
|
.
|

\
|
A + =
=
}
Spektrum gelombang FM tergantung pada nilai index modulasi | dan
tabel Bessel dengan jarak antar komponen sebesar f
m .
Skema Modulasi Phase
Sinyal pemodulasi e
m
(t) digunakan untuk mengontrol
fase carrier |(t)

Deviasi fase sebanding dg tegangan pemodulasi
Notasi konstanta deviasi fase adalah K
Satuan K adalah rad / volt
Fase sesaat sinyal FM :
|(t) = |
c
+ K e
m
(t)
|
c
tidak mempengaruhi proses modulasi
Phase Modulation ( PM )
Asumsi :
Perubahan fase sesaat PM adalah :
berikutnya akan diperoleh gelombang PM :
( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ) 2 ( cos 2 cos
2 cos
2 cos
max max
max
max
t f E k t f E
t E k t f E
t t f E t e
m m c c
m c c
c c
t t
t
| t
+ =
+ =
+ =
( ) ( ) t f E t e
m m m
t 2 cos
max
=
( ) ( )
c c c c
t f E t e | t + = 2 cos
max
( ) ( ) t e k t
m c
+ = | |
dengan membuat uc = 0 diperoleh :
( ) ( ) t e k t
m
= |
Contoh soal 1
Sinyal pemodulasi e
m
(t) = 3 cos ( 2 t 10
3
t 90
o
) v
digunakan untuk modulasi phase pada gelombang
pembawa cosinus dengan E
c max
= 10 volt dan f
c
= 20 kHz.
Konstanta perubahan fase K = 2 rad / volt.
Tentukan pers gelombang termodulasinya.

Jawab
Fungsi fase gelombang termodulasinya :

|
m
(t) = k e
m
(t)
= 2 x 3 cos ( 2 t 10
3
t 90
o
) rad
= 6 sin ( 2 t 10
3
t ) rad
Fungsi gelombang termodulasinya :
e(t) = 10 cos ( 4 t 10
4
t + 6 sin ( 2 t 10
3
t ))
Contoh soal 2
Sinyal pemodulasi e
m
(t) = 3 cos ( 2 t 10
3
t ) volt
digunakan untuk modulasi frekuensi pada gelombang
pembawa cosinus dengan E
c max
= 10 volt dan f
c
= 20 kHz.
Konstanta perubahan frekuensi k = 2000 Hz / volt.
Tentukan pers gelombang termodulasinya.

Jawab
Deviasi maks Af = 2000 x 3 = 6000 Hz
Indeks modulasi | = Af / f
m
= 6000 / 1000 = 6
Pers FM :
e(t) = E
c max
cos ( 2 t f
c
t + | sin ( 2 t f
m
t ))
e(t) = 10 cos ( 4 t 10
4
t + 6 sin ( 2 t 10
3
t ))
Prinsip Dasar Rangkaian Modulator FM
+ Vcc
RFC
FM Output
RFC
C
3
C
2
C
1
C
d
L
1
Tuning
adj.
+
-
V
mod
C
by
C
c
Kapasitansi C
d
berubah
tergantung V
mod
Amplitudo FM
tetap, tetapi
Frekuensi osc
berubah sebesar


Total
C L
f
1
2
1
t
=
% Contoh grafik sinyal FM
%
Fs = 1440;
t = 0 : 1/Fs :2 ;
x = 0.4*sin (2*pi*1*t);
%
%
car = cos (2*pi*15*t);
FM = cos (2*pi*15*t - 10*cos(2*pi*1*t));
%
figure, plot(t,FM,t,x,'r--');
xlabel(' detik ')
ylabel(' Amplitudo ( volt ) ')
title(' Gelombang termodulasi Frekuensi Modulasi ')
grid on;
% hold on;
% end
Frek maks pada teg maks
Frek min pada teg min
% Contoh grafik sinyal FM
%
Fs = 1440;
t = 0 : 1/Fs :2 ;
x = 0.4*sin (2*pi*1*t) + 0.5*sin (2*pi*2*t);
%
%
car = cos (2*pi*15*t);
FM = cos (2*pi*15*t - 4*cos(2*pi*1*t) - 3*cos(2*pi*2*t));
%
figure, plot(t,FM,t,x,'r--');
xlabel(' detik ')
ylabel(' Amplitudo ( volt ) ')
title(' Gelombang termodulasi Frekuensi Modulasi ')
grid on;
% hold on;
% end
% Contoh grafik sinyal FM untuk masukan diskrit
clear all
Fs = 1000; Fc = 20;
t = *0 : Fs + / Fs ; % Sampling times
x(1:100) = -10*ones(100,1) ; x(101:200) = zeros(100,1) ;
x(201:500) = 30*ones(300,1); x(501:700) = -10*ones(200,1); x(701:800) =
zeros(100,1); x(801:900) = 30*ones(100,1);
x(901:1001) = -10*ones(101,1);
dev = 1; % Frequency deviation in modulated signal
%
y = fmmod(x,Fc,Fs,dev); % Modulate.
figure, subplot(3,1,1); plot(t,x);
title(' Gelombang Termodulasi FM dengan masukan diskrit ' )
grid on ;
subplot(3,1,[2:3]); plot(t,y)
axis([0 1 -1.2 1.2])
grid on ;
% end
% Contoh grafik sinyal FM untuk masukan biner bipolar
clear all
Fs = 1000; Fc = 20;
t = *0 : Fs+ / Fs; % Sampling times
x1(1:200) = -10*ones(200,1); x1(201:500) = 10*ones(300,1);
x1(501:700) = -10*ones(200,1); x1(701:800) = 10*ones(100,1); x1(801:900)
= -10*ones(100,1); x1(901:1001) = 10*ones(101,1);
dev = 1; % Frequency deviation in modulated signal
%
y1 = fmmod(x1,Fc,Fs,dev); % Modulate
figure, subplot(3,1,1); plot(t,x1); axis([0 1 -12 12])
title(' Gelombang Termodulasi FM dengan masukan biner
bipolar ' )
grid on ;
subplot(3,1,[2:3]); plot(t,y1)
axis([0 1 -1.2 1.2])
grid on ;
% end
Spektrum Frekuensi FM & PM
Spektrum amplitudo sinyal FM dan PM
tergantung pada indeks modulasi |
Amplitudo kurang dari 1 % diabaikan
Komponen j
n
fungsi bessel menyatakan
amplitudo untuk harga | yang ditinjau
J
0
bersesuaian dengan amplitudo carrier
J
k
bersesuaian dengan amplitudo pada frek f
c

k f
m

x n atau order
( ) J 0 J 1 J 2 J 3 J 4 J 5 J 6 J 7 J 8 J 9 J 10 J 11
0.00 1.00 - - - - - - - - - - -
0.25 0.98 0.12 - - - - - - - - - -
0.50 0.94 0.24 0.03 - - - - - - - - -
1.00 0.77 0.44 0.11 0.02 - - - - - - - -
1.50 0.51 0.56 0.23 0.06 0.01 - - - - - - -
2.00 0.22 0.58 0.35 0.13 0.03 - - - - - - -
2.50 - 0.05 0.50 0.45 0.22 0.07 0.02 - - - - - -
3.00 - 0.26 0.34 0.49 0.31 0.13 0.04 0.01 - - - - -
4.00 - 0.40 - 0.07 0.36 0.43 0.28 0.13 0.05 0.02 - - - -
5.00 - 0.18 - 0.33 0.05 0.36 0.39 0.26 0.13 0.05 0.02 - - -
6.00 0.15 - 0.28 - 0.24 0.11 0.36 0.36 0.25 0.13 0.06 0.02 - -
7.00 0.30 0.00 - 0.30 - 0.17 0.16 0.35 0.34 0.23 0.13 0.06 0.02 -
8.00 0.17 0.23 - 0.11 - 0.29 - 0.10 0.19 0.34 0.32 0.22 0.13 0.06 0.03
Tabel fungsi Bessel dengan amplitudo ternormalisasi 1 Volt
Contoh penggunaan tabel Bessel
Misalnya nilai | = 0,5 maka komponen
spektrum amplitudonya :
Carrier ( f
c
) J
0
(0,5) = 0,94
Side band 1 ( f
c
f
m
) J
1
(0,5) = 0,24
Side band 2 ( f
c
2 f
m
) J
2
(0,5) = 0,03

Dari komponen terlihat lebar bandwidth

B
FM
= 2 n f
m
= 4 f
m

Spektrum untuk | = 0,5
0,94
0,24
0,24
0,03
0,03
f
c
f
c
+ f
m
f
c
+ 2 f
m
f
c
- f
m
f
c
- 2 f
m
Bandwidth = 4 f
m
Contoh penggunaan tabel Bessel
Misalnya nilai | = 3 maka komponen spektrum amplitudonya :
Carrier ( f
c
) J
0
(3) = 0,26
Side band 1 ( f
c
f
m
) J
1
(3) = 0,34
Side band 2 ( f
c
2 f
m
) J
2
(3) = 0,49
Side band 3 ( f
c
3 f
m
) J
3
(3) = 0,31
Side band 4 ( f
c
4 f
m
) J
4
(3) = 0,13
Side band 5 ( f
c
5 f
m
) J
5
(3) = 0,04
Side band 6 ( f
c
6 f
m
) J
6
(3) = 0,01
Dari komponen terlihat lebar bandwidth

B
FM
= 2 n f
m
= 12 f
m

Spektrum untuk | = 3
Bandwidth = 12 f
m
0,49
0,13
0,13
0,01
0,01
f
c
f
c
+ 3f
m
f
c
+ 6 f
m
f
c
3f
m
f
c
- 6 f
m
0,04 0,04
0,31 0,31
0,49
0,34
0,34
0,26
% Contoh grafik SPEKTRUM AMPLITUDO sinyal FM
%
Fs = 1600*2 ;
t = 0 : 1/Fs :2 ;
x = 0.4*sin (2*pi*100*t); % frekuensi pemodulasi 100 Hz
car = cos (2*pi*800*t); % frekuensi carrier 800 Hz
FM = cos (2*pi*800*t - 3*cos(2*pi*100*t)); % | = 3
%
% untuk fft gelombang FM
dataFM = fft(FM,512) ;

% The power spectrum, a measurement of the power at various frequencies, is
Pyy_FM = abs(dataFM) / 256 ;

% Graph the first 257 points
f_FM = Fs*(0:256)/512 ;
figure, plot(f_FM,Pyy_FM(1:257))
title( Spektrum Frequency dari sinyal FM dengan beta = 3 ')
xlabel( Frequency (Hz) ')
grid on:
% end
f
c
% Contoh grafik SPEKTRUM AMPLITUDO sinyal FM
%
Fs = 1600*2 ;
t = 0 : 1/Fs :2 ;
x = 0.4*sin (2*pi*100*t)+0.5*sin (2*pi*200*t);
car = cos (2*pi*800*t);
FM = cos (2*pi*800*t - 3*cos(2*pi*100*t) - 1*cos(2*pi*200*t));
%
% untuk fft gelombang FM
dataFM = fft(FM,512) ;

Pyy_FM = abs(dataFM) / 256 ;

% Graph the first 257 points
f_FM = Fs*(0:256)/512;
figure, plot(f_FM,Pyy_FM(1:257))
title( Spektrum Frequency dari sinyal FM dengan beta 3 & 1 ')
ylabel( Amplitudo ternormalisasi pada 1 Volt )
xlabel( Frequency (Hz) ')
% end
f
c
Bandwidth Aturan Carson
Amplitudo kurang dari 5 % diabaikan
Komponen j
n
fungsi bessel (berdasarkan
tabel) maks bersesuaian dengan n = | +1
J
0
bersesuaian dengan amplitudo carrier
J
k
bersesuaian dengan amplitudo pada
frek f
c
k f
m
Maka : B
FM
= 2 (| + 1) f
m
Contoh soal 3
Regulasi untuk siaran FM menyatakan deviasi frekuensi
maksimum yang diijinkan 75 kHz, dan frek pemodulasi
maksimum yang diijinkan adalah 15 kHz. Hitunglah
bandwidth maksimum yang diperlukan.

Jawab
Deviasi maks Af = 75 kHz
Indeks modulasi | = Af / f
m
= 75 / 15 = 5
maka :
B
maks
= 2 (|+1) f
m
= 2 (5+1) 15 kHz
= 180 kHz
Problem
Suatu sinyal pemodulasi diberikan oleh
e
m
(t) = 9 cos (6 t 10
3
t + 27
o
) volt
digunakan untuk memodulasi phase dari
sinyal carrier yang mempunyai e
c max
= 12
Volt, dan frekuensi carrier 40 kHz. Bila
konstanta perubahan phase adalah 0,7
rad / volt, tentukan lebar bandwidthnya.
MODULASI ANALOG
Single Side Band ( SSB )
Frequency Division Multiplexing (FDM)
Jawab spektrum problem pert 3
Obyektif Perkuliahan
Dapat memahami teknik modulasi SSB
Dapat memahami side band atas / bawah ( USB & LSB )
Dapat memahami spektrum magnitudo dan bandwidth
Dapat memahami teknik pembagian frekuensi FDM
Referensi :
MS Iqbal, 2001, Diktat dasar Telkom. Jurusan Teknik
Elektro FT, Unram,
Kennedy & Davis, 1993, Electronic Comm. System,
Fourth Ed, Mc Graw Hill.
Dennis Roddy & John Coolen, 1995, Electronic
Comm. System, Fourth Ed, Prentice Hall Inc.
Skema Modulasi SSB
Merupakan side band bawah atau side band atas dari
gelombang termodulasi DSB

Dapat diperoleh dengan memfilter keluaran modulator
balans
Bandwidth setengah dari bandwidth DSB
Efisiensi daya sama dengan DSB
Komponen dasar sinyal SSB :
LSB ( Lower Side Band )
USB ( Upper Side Band )
Daya Pancar dan Bandwidth
Daya yang dipancarkan AM / DSBFC untuk indeks
modulasi 100 % hanya 1/3 mengandung informasi

Daya yang dipancarkan DSB / DSBSC semuanya
mengandung informasi cukup 1/3 daya AM
Daya yang dipancarkan SSB semuanya
mengandung informasi cukup 1/6 daya AM

BW sinyal AM / DSBFC = 2 x fm max
BW sinyal DSB / DSBSC = 2 x fm max
BW sinyal SSB = fm max
Spektrum AM masukan suara / musik
E
c max
m
1
E
c max
/2 m
1
E
c max
/2
m
2
E
c max
/2 m
2
E
c max
/2
m
3
E
c max
/2 m
3
E
c max
/2
f
c
f
1
f
c
+ f
1
f
c
+ f
2
f
c
f
2
f
c
f
3
f
c
+ f
3
f
c


f
c


f
c
f
m max
f
c
+ f
m maax
LSB

USB

Bandwidth = 2 f
m max
Spektrum DSB masukan suara / musik
m
1
E
c max
/2 m
1
E
c max
/2
m
2
E
c max
/2 m
2
E
c max
/2
m
3
E
c max
/2 m
3
E
c max
/2
f
c
f
1
f
c
+ f
1
f
c
+ f
2
f
c
f
2
f
c
f
3
f
c
+ f
3
f
c


f
c


f
c
f
m max
f
c
+ f
m max
LSB

USB

Bandwidth = 2 f
m max
Spektrum USB masukan suara / musik
m
1
E
c max
/2
m
2
E
c max
/2
m
3
E
c max
/2
f
c
+ f
1
f
c
+ f
2
f
c
+ f
3
f
c


f
c


f
c
+ f
m max
USB

Bandwidth = f
m max
Spektrum LSB masukan suara / musik
m
1
E
c max
/2
m
2
E
c max
/2
m
3
E
c max
/2
f
c
f
1
f
c
f
2
f
c
f
3
f
c


f
c


f
c
f
m max
LSB

Bandwidth = f
m max
Spektrum komponen frekuensi
Formula yang diperlukan :
cos (o+|) = cos o cos | - sin o sin |
cos (o-|) = cos o cos | + sin o sin |
+
cos o cos | = ( cos (o+|) + cos (o-|) )
cos (o+|) = cos o cos | - sin o sin |
cos (o-|) = cos o cos | + sin o sin |
-
sin o sin | = ( cos (o-|) - cos (o+|) )
Pembangkitan SSB : Metode Penapisan
X
X
LPF
HPF
fm
100 kHz
100 + fm
100 - fm
100 - fm
100 + fm
Osc RF
Low Pass Filter melewatkan frek rendah, meredam frek tinggi
High Pass Filter melewatkan frek tinggi, meredam frek rendah
Pembangkitan SSB : Metode geser fase
X
X
+ 90 + 90
fm
fc + 90
fm + 90
( fc + fm ) t + 90
Osc
+
~
fc
[ ( fc + fm ) t + 90 ] + [ ( fc - fm ) t + 90 ]
[ ( fc + fm ) t + 90 ] + [
( fc - fm ) t - 90 ]
Pembangkitan SSB : Metode geser fase
X
X
+ 90
+ 90
fm
fc + 90
fm + 90
( fc - fm ) t
Osc
+
~
fc
( fc + fm ) t + ( fc - fm ) t
[ ( fc + fm ) t + 180 ] +
( fc - fm ) t
Pembangkitan SSB : Metode ketiga
X
X
+ 90
+ 90
fm
fo + 90
fc + 90 ( fo - fm ) t
Osc
+
~
fc
( fo + fm ) t + ( fo - fm ) t
( fc + fo - fm) t + 90
X LPF
LPF
X
~
fo
(( fo + fm )t +90 ) + (( fo - fm )t+90)
( fo - fm ) t + 90
%
% Contoh sinyal dan spektrum SSB
%
Fs = 1000;
t = [0:2*Fs+1]'/Fs ;
Fc = 100; % Frek Carrier 100 Hz
x = sin(2*pi*20*t); % Sinyal Sinus frek 20 Hz

% Modulasi sinyal x dengan SSB.
ysingle_low = ssbmod(x,Fc,Fs);
ysingle_high = ssbmod(x,Fc,Fs,pi,'upper');

% Spektrum Sinyal termodulasi SSB.
zsingle_low = fft(ysingle_low);
zsingle_low = abs(zsingle_low(1:length(zsingle_low)/5+1));
frq_low = [0:length(zsingle_low)-1]*Fs/length(zsingle_low)/5;
zsingle_high = fft(ysingle_high);
zsingle_high = abs(zsingle_high(1:length(zsingle_high)/5+1));
frq_high = [0:length(zsingle_high)-1]*Fs/length(zsingle_high)/5;

% Plot spektrum kedua sinyal SSB.
figure;
subplot(2,1,1); plot(frq_low,zsingle_low);
title('Spectrum of LSB');
grid on;
subplot(2,1,2); plot(frq_high,zsingle_high);
title('Spectrum of USB');
grid on;
%
% Plot grafik kedua sinyal SSB.
figure;
subplot(2,1,1); plot(t(1:(length(t)/20)+1),ysingle_low(1:(length(ysingle_low)/20)+1));
title('Signal of LSB dengan frek 80 Hz');
grid on;
subplot(2,1,2); plot(t(1:(length(t)/20)+1),ysingle_high(1:(length(ysingle_high)/20)+1));
title('Signal of USB dengan frek 120 Hz');
grid on;

%
% Contoh sinyal dan spektrum SSB
%
Fs = 1000;
t = [0:2*Fs+1]'/Fs ;
Fc = 100; % Frek Carrier 100 Hz
x = 0.8*sin(2*pi*20*t) + 0.5*sin(2*pi*40*t) - 0.6*sin(2*pi*70*t) ;
% Modulasi sinyal x dengan SSB.
ysingle_low = ssbmod(x,Fc,Fs);
ysingle_high = ssbmod(x,Fc,Fs,pi,'upper');

% Spektrum Sinyal termodulasi SSB.
zsingle_low = fft(ysingle_low);
zsingle_low = abs(zsingle_low(1:length(zsingle_low)/5+1));
frq_low = [0:length(zsingle_low)-1]*Fs/length(zsingle_low)/5;
zsingle_high = fft(ysingle_high);
zsingle_high = abs(zsingle_high(1:length(zsingle_high)/5+1));
frq_high = [0:length(zsingle_high)-1]*Fs/length(zsingle_high)/5;

% Plot spektrum kedua sinyal SSB.
figure;
subplot(2,1,1); plot(frq_low,zsingle_low);
title('Spectrum of LSB');
grid on;
subplot(2,1,2); plot(frq_high,zsingle_high);
title('Spectrum of USB');
grid on;
%
% Plot grafik kedua sinyal SSB.
figure;
subplot(2,1,1); plot(t(1:(length(t)/20)+1),ysingle_low(1:(length(ysingle_low)/20)+1));
title('Signal of LSB dengan frek 30,60,80 Hz');
grid on;
subplot(2,1,2); plot(t(1:(length(t)/20)+1),ysingle_high(1:(length(ysingle_high)/20)+1));
title('Signal of USB dengan frek 120,140,170 Hz');
grid on;

FDM ( Frequency Division Multiplexing )
Tujuan Menggabungkan beberapa saluran / kanal
utk ditransmisikan serentak pada satu saluran bersama

frekuensi suara ( 300 Hz s/d 3400 Hz )
misalnya dianggap 4 kHz

Kabel koaxial bisa digunakan hingga lebih dari 4 MHz
shg bisa digunakan utk 960 saluran, ( sesuai standart
CCITT dg bandwidth 3948 kHz )

Teknik FDM standart CCITT sbb :
12 16 kHz
X
USB
0 4 kHz
fc = 12 kHz
Sal 1
16 20 kHz
X
USB
0 4 kHz
fc = 16 kHz
Sal 2
20 24 kHz
X
USB
0 4 kHz
fc = 20 kHz
Sal 3
3 saluran digabung menjadi pra-kelompok dg BW 12 kHz
( lebar frek 12 kHz s/d 24 kHz )
Teknik FDM standart CCITT sbb :
Pra-kelompok 3 saluran
3 saluran digabung menjadi pra-kelompok dg BW 12 kHz
( lebar frek 12 kHz s/d 24 kHz )
Sal 1
12 kHz
kHz
C 1
16 kHz
20 kHz 24 kHz
C 2
C 3
Sal 2 Sal 3
Teknik FDM standart CCITT sbb :
108 96
X
LSB
12 24
fc = 120 kHz
Pra 1
96 84
X
LSB
12 24
fc = 108 kHz
Pra 2
72 60
X
LSB
12 24
fc = 84 kHz
Pra 4
4 pra-kelompok digabung menjadi kelompok dg BW 48 kHz
( lebar frek 60 kHz s/d 108 kHz )
Teknik FDM standart CCITT sbb :
Kelompok 12 saluran
4 pra-kelompok digabung menjadi kelompok dg BW 48 kHz
( lebar frek 60 kHz s/d 108 kHz )
1
60 kHz
kHz
C 4
72 kHz 84 kHz 96 kHz
C 2 C 3
2 3 6 5 4 9 7 8 10 11 12
108 kHz
Teknik FDM standart CCITT sbb :
Proses berlanjut dengan cara yang sama
( dengan frekuensi carrier yang berbeda-beda )

Lima kelompok bergabung menjadi super group
( 60 saluran dengan lebar 312 kHz s/d 552 kHz )

16 super group bergabung menjadi master group
( 960 saluran dengan lebar BW 3948 )

Lebar BW total 4 MHz, bisa lewat koaxial