Anda di halaman 1dari 5

Batu Menangis (Kalimantan Barat)

(by: Noel)

Di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang gadis dan ibunya. Gadis itu cantik. Sayang, dia sangat malas. Ia sama sekali tak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap hari gadis itu hanya berdandan. Setiap hari, ia mengagumi kecantikannya di cermin. Selain malas, gadis itu juga manja. Apa pun yang dimintanya, harus dikabulkan. Tentu saja keadaan ini membuat ibunya sangat sedih. Suatu hari Ibunya meminta anak gadisnya menemaninya ke pasar. Boleh saja, tapi aku tak mau berjalan bersama-sama dengan Ibu. Ibu harus berjalan di belakangku, katanya. Walaupun sedih, ibunya mengiyakan. Maka berjalanlah mereka berdua menuruni bukit beriringan. Sang gadis berjalan di depan, sang ibu berjalan di belakang sambil membawa keranjang. Walaupun mereka ibu dan anak, mereka kelihatan berbeda. Seolah-olah mereka bukan berasal dari keluarga yang sama. Bagaimana tidak? Anaknya yang cantik berpakaian sangat bagus. Sedang ibunya kelihatan tua dan berpakaian sangat sederhana. Di perjalanan, ada orang menyapa mereka. Hai gadis cantik, apakah orang yang di belakangmu ibumu? tanya orang itu. Tentu saja bukan. Dia adalah pembantuku, kata gadis itu. Betapa sedihnya ibunya mendengarnya. Tapi dia hanya diam. Hatinya menangis. Begitulah terus menerus. Setiap ada orang yang menyapa dan menanyakan siapa wanita tua yang bersamanya, si gadis selalu menjawab itu pembantunya. Lama-lama sang ibu sakit hatinya. Ia pun berdoa . Ya, Tuhan, hukumlah anak yang tak tahu berterima kasih ini, katanya. Doa ibu itu pun didengarnya. Pelan-pelan, kaki gadis itu berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki ke atas. Ibu, ibu! Ampuni saya. Ampuni saya! serunya panik. Gadis itu terus menangis dan menangis. Namun semuanya terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya menjadi batu. Walaupun begitu, orang masih bisa melihatnya menitikkan air mata. Karenanya batu itu diberi nama Batu Menangis

Article Directory: http://www.sumbercerita.com

Raja yang Pikun

(by: cerita@kanak-kanak.com)

Di suatu desa yang rakyatnya hidup tidak makmur akibat adanya pajak yang begitu besar. Dengan adanya pajak mereka para masyarakat merasa dianiaya, barang siapa tidak membayar pajak akan hukum tiga tahun kurungan penjara dan barang siapa ketahuan tidak membayar pajak akan dihukum mati, begitu isi pemberitahuannya. Setiap bulan semua orang membayar pajak, walaupun uang mereka hanya untuk makan selama satu bulan, karena takut dihukum penjara mereka memutuskan untuk membayar pajak dari pada dihukum penjara, tetapi ada beberapa orang yang cara berpikirnya lain mereka lebih suka dipenjara dari pada hidup sengsara karena di penjara setiap pagi, siang, dan sore di beri makan, sedangkan kalau membayar pajak, perut lapar, kerja banyak, capek, dan akhirnya jatuh sakit. Raja tambah lama tambah kaya dia selalu menguburkan uangnya di suatu tempat di luar istana. Lamakelamaan dia lupa di mana menguburkan uangnya tersebut, tetapi dia tidak perlu kuatir karena dia akan mendapatkan uang lagi dari rakyatnya. Di luar istana ada seorang anak yang suka sekali membantu orang tuanya di sawah Ayahnya yang letaknya jauh dari desa. Anak ini bernama Heri anak seorang petani yang miskin. Setiap pulang dari sawahnya dia selalu bermain ke sungai untuk mencari ikan. Ikan yang dia dapat tidak di makan, melainkan dipeliharanya, karena dia tidak mengetahui cara memelihara ikan. Jadi ikannya mati terus tetapi tidak dimakannya melainkan di kuburnya pada suatu tempat. Heri yang sangat suka memelihara ikan tetapi sayangnya ikannya mati terus. Karena dia sedih maka dikuburnya ikannya pada suatu tempat. Di galinya lubang yang dalam, ketika dia lagi mencangkul, cangkulnya menumbur benda yang keras, Heri kaget dia terus menggali lubang tersebut, ternyata benda yang keras tersebut adalah sebuah peti. Setelah dibukanya ternyata isinya uang yang banyak sekali. Heri langsung membawanya pulang dia tidak lupa menguburkan ikannya di dalam lubang yang digalinya tadi. Heri memberitahukan peti yang didapatkannya itu kepada orang tuanya yaitu Ayah dan ibunya, Ayahnya bertanya Dari mana kamu dapatkan uang sebanyak ini, Heri menjawab aku mandapatkannya pada saat aku menggali lubang untuk menguburkan ikanku yang telah mati. Ayah dan Ibunya Heri sangat senang kepada Heri, karena di saat kesusahan karena pajak yang begitu besar keluarga Heri dapat hidup dengan tenang. Walau mereka menjadi orang yang kaya tetapi mereka tidak sombong, dan selalu menolong orang yang kesusahan. Heri sangat senang sekali dapat menolong orang yang sedang kesusahan. Raja kembali mengingat-ingat kembali dimana dia mengubur uangnya, ia ingat dia menguburnya di antara lima pohon yang berbaris yang mengarah ke sungai dan disebelahnya ada batu besar. Setelah ingat sang Raja langsung pergi dan menggali tempat tersebut setelah digalinya didapatnya buntang ikan yang telah membusuk. Walaupun petinya hilang tetapi Raja tetap tidak kapok dia masih saja terus menyimpan uangnya di dalam tanah karena kalau dia menyimpan di Istana bakal ketahuan selirnya.

Kanjeng Ratu Kidul


(by: Ratna Suwinda)

Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian. Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.

Lutung Kasarung
Agustus 22, 2008 pada 8:05 am (Cerita Rakyat)

Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung. Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari. Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta, kata Prabu Tapa. Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya, gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu ! ujar Purbararang. Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri. Terima kasih paman, ujar Purbasari. Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya. Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum. Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. Apa manfaatnya bagiku ?, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut. Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. Siapa yang paling panjang

rambutnya dialah yang menang !, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang. Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, Jadi monyet itu tunanganmu ?. Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana. Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

Beri Nilai