Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Lingkungan kerja atau tempat kerja dikatakan baik apabila dalam kondisi tertentu manusia dapat melakukan kegiatannya dengan optimal. Ketidaksesuaian lingkungan kerja dengan manusia yang bekerja pada lingkungan tersebut dapat terlihat akibatnya dalam jangka waktu tertentu, seperti turunnya produktivitas kerja, efisiensi dan ketilitian. Keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan fisik tempat kerja sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Seorang pekerja akan mampu bekerja dengan baik apabila ditunjang oleh lingkungan yang baik pula sehingga dicapai hasil yang optimal. Keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan fisik tempat bekerja sangat berpengaruh dalam peningkatan produktivitas suatu perusahaan. Seorang pekerja akan mampu bekerja dengan baik apabila ditunjang oleh lingkungan kerja yang baik sehingga didapatkan hasil yang optimal. Lingkungan kerja adalah tempat kerja dikatakan baik apabila dalam kondisi tertentu manusia dapat melakukan kegiatannya dengan optimal. Ketidaksesuaian lingkungan kerja dengan manusia yang bekerja pada lingkungan tersebut dapat terlihat akibatnya dalam jangka waktu tertentu, seperti turunnya produktivitas kerja, efisiensi dan ketelitian. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS), populasi pekerja di Indonesia saat ini terus meningkat. Diketahui pada tahun 1997 jumlah tenaga kerja di Indonesia masih sekitar 89 juta jiwa, sedangkan pada tahun 2000 jumlah ini sudah meningkat mencapai 95 juta jiwa. Dalam rangka membentuk industri yang tangguh, pembinaan sumber daya manusia, khususnya dalam meningkatkan dan memelihara angkatan kerja yang sehat, terampil, dan produktif menjadi sangat penting, karena keberhasilan sektor industri sangat tergantung dari efektivitas dan efisiensi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja. Untuk itu, agar sektor industri menjadi lebih maju dan berjalan dengan baik, tenaga kerja perlu dikembangkan menjadi sumber daya yang sehat dan produktif. Untuk menunjang terbentuknya sumber daya yang sehat dan produktif, kesehatan dan keselamatan pekerja juga harus mendapat perhatian. Pada kenyataannya, ratusan tenaga kerja di seluruh dunia saat ini bekerja pada kondisi yang tidak aman dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Menurut International

Labor Organization (ILO), setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan akibat hubungan kerja. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan, sedangkan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat hubungan kerja, dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan kerja baru setiap tahunnya. Namun, besarnya angka di atas tidak ditunjang oleh pelayanan kesehatan yang memadai dari sektor industri. Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan hanya 5-10% pekerja di negara berkembang dan 20-50% pekerja di negara industri yang mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan kerja yang memadai. Menurut UU no. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja bahwa, setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas K3-nya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional; bahwa setiap orang yang berada di tempat kerja perlu terjamin keselamatannya; bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien. Disamping itu sesuai dengan UU No. 13 tahun 2003, K3 merupakan hak dari tenaga kerja. Selain kecelakaan kerja, pekerja juga berisiko mendapat Penyakit Akibat Kerja (PAK). Di Indonesia insidens penyakit akibat kerja belum diketahui. Beberapa faktor yang menyebabkannya antara lain kesulitan menghubungkan penyakit dengan penyebab, penegakkan diagnosis masih menjadi masalah, dan kurangnya perhatian terhadap PAK. Fakta tersebut mengkhawatirkan. Kegagalan mengenal PAK dapat menyebabkan berbagai kerugian antara lain tenaga kerja dirugikan karena tidak mendapat penggantian dari Jaminan Sosial Tenaga Kerja serta terjadi kecacatan dan kematian akibat kerja karena tidak dilakukan antisipasi. Mengingat pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja, dokter seharusnya memahami penanganan dan pencegahan kecelakaan kerja dan PAK. Salah satu mekanisme pencegahan adalah dengan mengenali bahaya potensial di tempat kerja. Ada beberapa bahaya potensial di tempat kerja yaitu fisik, biologis, kimia, ergonomi, dan psikologis. Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun (desain) ataupun rancang ulang (re-desain). Hal mi dapat meliputi perangkat keras seperti misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja (benches), platform, kursi, pegangan alat kerja (workhoLder), sistem pengendali (controls), alat peraga (display), jalan/lorong (access way), pintu (doors), jendela (windows), dan lainlain.

Ergonomi juga meberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya: desain suatu sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia. Pada plant survey ini dilakukan kunjungan ke sebuah pabrik meubel Gudang Mustika Jati. Kunjungan dimaksudkan untuk melatih kemampuan peserta pelatihan hiperkes untuk mengenali adanya bahaya potensial dan faktor risiko terjadinya kecelakaan dan PAK. Gudang Mustika Jati adalah salah satu home industri yang memproduksi meubel. Industri ini memerlukan beberapa tenaga kerja untuk melaksanakan proses produksi. Demi mencapai kualitas yang sesuai dengan standar, keamanan dan keselamatan dalam alur produksi, diperlukan ketekunan dan disiplin yang tinggi. 1.2. Permasalahan Gudang Mustika Jati merupakan industri yang memproduksi berbagai meubel dari kayu seperti: lemari, meja, kursi, dll. Selain menggunakan tenaga manusia, proses produksi berjalan dengan bantuan: mesin-mesin (mesin amplas, gergaji mesin, mesin serut kayu) dan alat-alat(amplas, alat pahat/ukir, kuas, troli, palu), sehingga terdapat bahaya pajanan ergonomi, fisika, dan kimia. Apabila posisi mesin dan alat tidak sesuai dengan pekerja maka dapat terjadi posisi yang tidak ergonomis. Pada akhirnya menimbulkan masalah kesehatan dan penurunan produktivitas pekerja. Semua hal tersebut akan berdampak pada profit perusahaan. 1.3. Tujuan 1.3.1. Tujuan Umum Diketahui dan dipahaminya bahaya potensial dan risiko kecelakaan kerja serta program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Gudang Mustika Jati. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Teridentifikasinya bahaya potensial dan risiko kecelakaan kerja terutama yang berhubungan dengan ergonomi. 2. Teridentifikasinya gangguan kesehatan yang mungkin timbul dengan adanya bahaya potensial ergonomi. 3. Diketahuinya upaya perlindungan atau pencegahan yang telah dilakukan oleh perusahaan/tempat kerja.

4. Didapatkannya rekomendasi bagi perusahaan untuk peningkatan upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir. 1.4. Manfaat 1.4.1. Bagi Peserta Pelatihan 1. Memahami pelaksanaan walk through survey dengan melakukan identifikasi bahaya potensial serta upaya pencegahan gangguan kesehatan yang diakibatkannya. 2. Mengetahui masalah yang berhubungan dengan ergonomi di lingkungan kerja dan akibat yang ditimbulkannya. 1.4.2. Bagi Perusahaan Memperoleh masukan yang berguna bagi pengusaha sehingga dapat meningkatkan produktivitas pekerja yang nantinya dapat meningkatkan profit. 1.4.3. Bagi Tenaga Kerja Teridentifikasinya bahaya potensial kesehatan dan keselamatan kerja yang ditemukan di lingkungan kerja karyawan Gudang Mustika Jati. 1.5. Metode Data yang didapat merupakan data primer dan data sekunder yang diperoleh saat kunjungan ke perusahaan. Data primer didapat dari wawancara dengan staf dan pekerja serta pengamatan lingkungan kerja secara langsung. Data sekunder didapat dari data kecelakaan akibat kerja dan data dari booklet Company Profile Gudang Mustika Jati.

BAB II HASIL KUNJUNGAN

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Definisi Ergonomi Ringkasnya Ergonomi adalah suatu aturan /norma dalam sistem kerja, diSkandinavia disebut Bioteknologi, di AS disebut human engineering/human factors engineering. Namun, semuanya membahas hal yang sama yaitu optimalisasi fungsi manusia terhadap aktifitas yang dilakukan. Menurut IEA (International Ergonomics Assosiation) safety (aman) comfort (nyaman) easy of use (mudah digunakan) procdutivity (produktif) aesthetic (berseni) Disimpulkan bahwa ergonomic adalah ilmu, seni, penerapan teknologi yang menyerasikan/menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas dengan kemampuan/keterbatasan manusia baik secara fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik. Aktifitas / pekerjaan apabila tidak dilakukan secara ergonomics akan mengakibatkan ketidak nyamanan, biaya tinggi, kecelakaan, dan penyakit akibat kerja meningkat, performansi, penenurunan efisiensi dan daya kerja. dengan demikian penerapan ergonomic disegala bidang kegiatan adalah suatu keharusan. Konsep dasar ergonomi: 1. Kemampuan Kerja (Work Chapacity) ditentukan oleh: a) karakteristik pribadi: usia, jenis kelamin, antropometri (ukuran tubuh

manusia), pendidikan, pengalaman, status social, agama, kesehatan. b) kemampuan fisiologis: kardiovaskuler, syaraf otot, pancaindra.

c) kemampuan psikologis: mental, adaptasi d) kemampuan biomekanik: sendi, jalinan tulang 2. Tuntutan Tugas (task demonds) tergantung pada: a) karakteristik material dan tugas : peralatan dan mesin, kecepatan dan irama kerja. b) karakteristik organisasi : jam kerja, manag4enen, libur, cuti c) karakteristik lingkungan : suhu, kelembaban, bising, getaran, penerangan d) kinerja (unjuk kerja/performance) optimal, perlu : keseimbangan dinamis antara tuntutan tugas dengan kemampuan dimana sehingga tercapai kondisi dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, dan produktif. 3.2 Sejarah dan Perkembangan Ergonomi Pada zaman dahulu ketika masih hidup dalam lingkungan alam asli, kehidupan manusia sangat tergantung pada kegiatan tangannya. Alat-alat, perlengkapanperlengkapan, atau rumah-rumah sederhana, dibuat hanya sekedar untuk tempat serta alat untuk berlindung dari ganasnya alam pada saat itu serta bertahan dari serangan makhluk lain yang lebih kuat (hukum alam). Perubahan waktupun terjadi walaupun secara perlahan-lahan, yang menuntut untuk perubahan manusia dari keadaan primitif menjadi manusia yang berbudaya. Kejadian ini antara lain terlihat pada perubahan rancangan peralatan-peralatan yang dipakai, yaitu mulai dari batu yang tidak berbentuk menjadi batu yang mulai berbentuk dengan meruncingkan beberapa bagian dari batu tersebut yang digunakan untuk bertahan hidup. Perubahan pada alat sederhana ini, menunjukan bahwa telah terjadi perubahan yang signifikan terhadap kebudayaannya yang ditandai dengan berusahanya mereka dalam memperbaiki alatalat yang dipakainya untuk memudahkan pemakaiannya. Hal ini terlihat lagi pada alat-alat batu runcing yang bagian atasnya dipahat bulat tepat sebesar genggaman sehingga lebih memudahkan dan menggerakan pemakaiannya. Banyak lagi perbuatan-perbuatan manusia yang serupa dengan hal tersebut dari abad ke abad. Namun hal tersebut berlangsung secara apa adanya, tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang hanya secara kebetulan. Barulah di abad ke-20 ini orang mulai mensistemasikan cara-cara perbaikan tersebut dan secara khusus mengembangkannya.

Usaha-usaha ini berkembang terus dan sekarang dikenal sebagai salah satu cabang ilmu yang disebut Ergonomi. Pada dasarnya, Ergonomi ialah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenal sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman dan nyaman. Manusia dengan segala sifat dan tingkah lakunya merupakan makhluk yang sangat kompleks. Untuk mempelajari manusia, tidak cukup ditinjau dari segi ilmu saja. Oleh sebab itulah untuk mengembangkan Ergonomi diperlukan dukungan dari berbagai disiplin, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Psikologi, Antropologi, Faal Kerja, Bioloigi, Sosiologi, Perencanaan kerja, Fisika, dan lain-lain. Masing-masing disiplin tersebut berfungsi sebagai pemberi informasi. Pada mulanya, Ergonomi banyak dikuasai oleh para akhli psikokogi, dimana pada saat itu pemilihan operator merupakan hal yang paling diutamakan. Tetapi ternyata walaupun kita mendapatkan para operator yang berprestasi dan mempunyai keahlian tinggi, lambat laun terbukti hasil akhir secara keseluruhan ternyata kurang memuaskan. Hal tersebut terbukti dengan nyata pada saat perang dunia II. Pesawat terbang, senjata dan peralatan lainnya, yang dibuat serba otomatis, menjadi tidak begitu ampuh kegunaannya disebabkan tidak lain adalah karena operator/prajurit tidak mampu menguasai operasi yang kompleks dari alat dan senjata tersebut. Sejarah perang banyak menunjukan bahwa selama perang berlangsung banyak dijumpai bom-bom dan peluru-peluru yang tidak mengenai sasaran, hancurnya pesawat-pesawat terbang, kapal-kapal dan persenjataan persenjataan lainnya. 3.3 Ruang Lingkup Ergonomi Ruang lingkup ergonomi sangat luas, ergonomi membahas segala faktor yang

menjadi pengaruh terhadap performansi dan pencapaian tujuan keergonomian. Wickens (2004) menuturkan bahwa salah satu cara menjabarkan ruang lingkup ergonomi adalah mengidentifikasikan komponen-komponen manusia yang sering menjadi permasalahan yang antara lain adalah visibilitas, sensasi, persepsi, kognisi komunikasi dan keputusan, kontrol motorik, kekuatan sistem otot dan faktor-faktor biologis lainnya. Ergonomi memiliki lingkungan kontekstual yang terbagi atas individual adalah pada manufaktur, komputer dan informasi, perawatan kesehatan, produk konsumen dan transportasi, sedangkan untuk objek ergonomi kelompok adalah pada tim kerja dan organisasi. Cara lain menjabarkan ilmu ergonomi adalah dengan melihat hubungan

disiplindisiplin ilmu dengan domain lain dari ilmu sains dan rekayasa. Sutalaksana (1996) menyatakan bahwa ada lima macam bidang kajian ergonomi, antara lain adalah sebagai berikut: 1. Faal Kerja yaitu bidang keilmuan yang mempelajari tentang energi manusia yang dihasilkan pada saat mengerjakan suatu pekerjaan. Adapun tujuannya adalah untuk merancangn sistem kerja yang memiliki konsumsi energy yang terminimasi saat melakukan pekerjaan. 2. Antropometri yaitu bidang keilmuan yang mempelajari dimensi tubuh manusia. Tujuannya adalah sebagai dasar perancangan peralatan dan fasilitas yang cocok dengan penggunanya. 3. Biomekanika yaitu bidang keilmuan yang mempelajari tentang mekanisme kerja berbagai organ fisik dari tubuh manusia, seperti otot rangka, saat melakukan suatu pekerjaan fisik. 4. Penginderaan yaitu keilmuan yang mempelajari tentang mekanisme dan permasalahan penginderaan manusia, mulai dari indera penglihatan, penciuman, pendengaran dan lain-lain. 5. Psikologi Kerja yaitu bidang kajian ergonomi yang berkaitan dengan efek psikologis suatu pekerjaan terhadap pekerjanya, misalnya terjadi stress dan lain sebagainya. 3.4 ANTROPOMETRI Displin ilmu ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia adalah antropometri. Data antropometri diperlukan untuk perancangan sistem kerja yang baik. Lingkungan fisik juga dapat mempengaruhi para pekerja baik secara

langsung maupun tidak langsung. Lingkungan fisik adalah semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja. Secara umum lingkungan fisik terbagi dalam dua kategori, yaitu : - Lingkungan yang langsung berhubungan dengan pekerja tersebut. Contoh: stasiun kerja, kursi, meja dan sebagainya. - Lingkungan perantara atau lingkungan umum. Contoh: temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna, dan lain-lain. Untuk bisa meminimumkan pengaruh lingkungan fisik terhadap para pekerja, maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari manusia baik mengenai sifat dan tingkah lakunya serta keadaan fisiknya. Antropometri merupakan kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia (ukuran, volume, dan berat) serta penerapan dari data tersebut untuk perancangan fasilitas atau produk. Penelitian awal tentang dimensi tubuh manusia dimulai sejak awal abad ke-14 dan sampai pada abad ke-19 barulah dapat dihasilkan data anthropometri yang lengkap. Metode pengukuran ini distandarisasikan selama periode awal sampai pertengahan abad ke-20. Dan belakangan ini adalah yang dilakukan pada tahun 1980an oleh International Organization For Standarisation. Antropometri terbagi atas dua cara pengukuran yaitu antropometri statis dan anthropometri dinamis. 1. Antropometri Statis Antropometri statis disebut juga dengan pengukuran dimensi struktur tubuh. Anthropometri statis berhubungan dengan pengukuran dengan keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan diam atau dalam posisi standar. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain berat badan, tinggi tubuh, ukuran kepala, panjang lengan dan sebagainya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia diantaranya : - Umur - Jenis kelamin - Suku bangsa

- Pekerjaan

2. Antropometri dinamis Antropometri dinamis berhubungan dengan pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerjaan tersebut melaksanakan kegiataannya. Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis yaitu: Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk mengerti

keadaanmekanis dari suatu aktivitas - Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat kerja - Pengukuran variabilitas kerja Pengukuran Anthropometri bertujuan untuk mengetahui bentuk dimensi tubuh manusia, agar peralatan yang dirancang lebih sesuai dan dapat memberikan rasa nyaman serta menyenangkan. Sementara itu ruang lingkup utama dari data anthropometri antara lain adalah : - Desain pakaian - Desain tempat kerja - Desain dari lingkungan - Desain peralatan, perkakas dan mesin-mesin - Desain produk consumer Data Anthropometri Secara garis besar pedoman pengukuran pada data anthropometri antara lain, yaitu : 1. Posisi Duduk Samping - Tinggi Duduk Tegak (TDT), cara pengukuran yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung atas kepala. Subjek duduk tegak dengan mata memandang lurus ke depan dan lutut membentuk sudut siku-siku. - Tinggi Bahu Duduk (TDT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung tulang bahu yang menonjol pada saat subjek duduk tegak.

- Tinggi Mata Duduk (TMD), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung mata bagian dalam. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan. - Tinggi Siku Duduk (TSD), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung bawah siku kanan. Subjek duduk tegak dengan lengan atas vertikal di sisi badan dan lengan bawah membentuk sudut siku-siku dengan lengan bawah. - Tebal Paha (TP), cara pengukuran yaitu mengukur sybjek duduk tegak, ukur jarak dari permukaan alas duduk samping ke permukaan atas paha. - Tinggi Popliteal(TPO), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal dari lantai sampai bagian bawah paha. - Pantat Popliteal (PP), cara pengukuran yaitu mengukur subjek duduk tegak dan ukur jarak horizontal dari bagian terluar pantat sampai lekukan lutut sebelah dalam (popliteal). Paha dan kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku. - Pantat Ke Lutut (PKL), cara pengukuran yaitu mengukur subjek duduk dan ukur horisontal dari bagian terluar pantat sampai ke lutut. Paha dan kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku 2. Posisi Berdiri. - Tinggi Siku Berdiri (TSB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal dari lantai ke titik pertemuan antara lengan atas dan lengan bawah. Subjek berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung secara wajar. - Panjang Lengan Bawah (PLB), cara pengukuran yaitu mengukur subjek berdiri tegak dan tangan di samping, ukur jarak dari siku sampai pergelangan tangan. - Tinggi Mata Berdiri (TMB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal dari lantai sampai ujung mata bagian dalam (dekat pangkal hidung). Subjek berdiri tegak dan memandang lurus ke depan. - Tinggi Badan Tegak (TBT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal telapak kaki sampai ujung kepala yang paling atas, sementara subjek berdiri tegak dengan mata memandang lurus ke depan. - Tinggi Bahu Berdiri (TBB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal dari lantai sampai bahu yang menonjol pada saat subjek berdiri tegak. - Tebal Badan (TB), cara pengukuran yaitu mengukur berdiri tegak dan ukur jarak dari dada (bagian ulu hati) sampai punggung secara horisontal. 3. Posisi Berdiri Dengan Tangan Kedepan.

- Jangkauan Tangan (JT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak horisontal dari punggung samping ujung jari tengah dan subjek berdiri tegak dengan betis, pantat dan punggung merapat ke dinding, tangan direntangkan secara horisontal ke depan. 4. Posisi Duduk Menghadap Kedepan. - Lebar Pinggul (LP), cara pengukuran yaitu mengukur subjek duduk tegak dan ukur jarakhorisontal dari bagaian terluar pinggul sisi kiri samping bagian terluar pinggul sisi kanan. - Lebar Bahu (LB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak horisontal antara kedua lengan atas dan subjek duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah direntangkan ke depan. 5. Posisi Berdiri Dengan Kedua Lengan Direntangkan. - Rentangan Tangan (RT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak horisontal dari ujung jari terpanjang tangan kiri samping ujung jari terpanjang tangan kanan. Subjek berdiri tegak dan kedua tangan direntangkan horisontal ke samping sejauh mungkin. 6. Pengukuran Jari Tangan - Panjang Jari 1,2,3,4,5 (PJ-12345), cara pengukuran yaitu mengukur masing-masing pangkal ruas jari sampai ujung jari. Jari-jari subjek merentang lurus dan sejajar. - Pangkal Ke Lengan (PPT), cara pengukuran yaitu mengukur pangkal pergelangan tangan sampai pangkal ruas jari. Lengan bawah sampai telapak tangan subjek lurus. - Lebar Jari 2345 (LJ-2345), cara pengukuran yaitu mengukur dari sisi luar jari telunjuk sampai sisi luar jari kelingking dan jari-jari subjek lurus merapat satu sama lain. - Lebar Tangan (LT), cara pengukuran yaitu mengukur sisi luar ibu jari sampai sisi luar jari kelingking 3.5 BIOMEKANIKA

BAB IV PEMBAHASAN PT. Krama Yudha Ratu Motor merupakan perusahaan assembling kendaraan niaga yang mempekerjakan 967 karyawan. Dari kunjungan kami, kami menemukan bahwa pekerja PT. Krama Yudha Ratu Motor terpajan beberapa bahaya potensial, namun yang akan dibahas di bawah akan difokuskan pada bahaya potensial bising. Bising merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan karena angka kejadian gangguan pendengaran di poliklinik perusahaan merupakan salah satu gangguan kesehatan yang sering timbul di perusahaan.Kejadian yang persisten ini perlu dikaji apakah berhubungan dengan faktor bising di tempat kerja. PT. Krama Yudha Ratu Motor berusaha menyelenggarakan kegiatan K3 dengan menyediakan satu poliklinik yang dijalankan oleh dokter yang bersertifikat Hiperkes.Namun, jam kerja dokter yang hanya terbatas dari pukul 14.00 sampai 16.00 dapat menjadi halangan bagi karyawan yang ingin memeriksakan diri di luar jam tersebut. Bahaya potensial bising dapat ditemukan di hampir seluruh departemen di PT. Krama Yudha Ratu Motor. Dari kunjungan kami ke bagian welding, painting, trimming, dan quality control kami menemukan bahaya potensial bising, sebagai berikut : a. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang pegawai K3 diketahui bahwa secara rata-rata tingkat bising di dalam pabrik berkisar kurang dari 85 dB. Hasil ini diketahui dari serangkaian pemeriksaan rutin yang biasanya dilakukan setiap satu minggu sekali. b. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang pegawai K3 diketahui bahwa ada beberapa tempat yang memiliki tingkat kebisingan diatas 85 dB, yang tertinggi adalah ruangan Countinic Electric Dionized sebesar 98 dB. c. Berdasarkan hasil pengamatan langsung didapatkan sebaran intensitas bunyi yang tidak seragam. Banyak didapatkan bising impulsif. d. Pegawai yang bekerja di dalam ruangan Countinic Electric Dionized berjumlah dua orang dengan rolling setiap bulan. e. Pekerja terpajan bising dengan berbagai intensitas rata-rata sehari selama sembilan jam yaitu dari jam 7.20 sampai dengan jam 16.20, dipotong oleh

waktu istirahat kira-kira selama satu jam 20 menit, 5 hari dalam seminggu. f. Pegawai perusahaan dibekali dengan ear plug sebagai alat pelindung diri terutama bagi pegawai yang bekerja di ruangan Countinic Electric Dionized. g. Dari hasil pengamatan langsung di area pabrik didapatkan tidak semua pegawai memakai alat pelindung diri terhadap bising, dengan berbagai alasan, alasan terbanyak adalah perasaan tidaknyaman saat menggunakan alat pelindung diri. h. Banyak pekerja yang menggantikan ear plug dengan kapas yang disumbatkan di telinga. i. Perusahaan telah melakukan upaya untuk menumbuhkan kesadaran pemakaian alat pelindung diri, dengan berbagai cara antara lain: dengan memasang papan peringatan di beberapa tempat, menugaskan petugas K3 yang berjumlah 7 orang untuk memperingatkan pekerja guna menggunakan alat pelindung diri. Perusahaan juga melakukan penyuluhan secara berkala pada pertemuanpertemuan pabrik. j. Belum adanya ketegasan program reward and punishment terhadap pegawai yang tidak menggunakan alat pelindung diri. k. Setiap satu tahun sekali dilakukan pemeriksaan berkala yang meliputi pemeriksaan klinis dan laboratorium tetapi tidak pernah melakukan pemeriksaan audiometri, sehingga kasus penurunan pendengaran akibat kerja tidak pernah dilaporkan.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan 1. Telah diketahui bahaya potensial dan risiko kecelakaan kerja pada alur produksi PT. Krama Yudha Ratu Motor. 2. Pabrik memiliki derajat bising yang cukup tinggi untuk menimbulkan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh bising. 3. Pekerja terpapar dengan bising dalam waktu yang cukup untuk menimbulkan penyakit akibat kerja. 4. Pabrik telah melakukan upaya guna pencegahan terhadap penyakit akibat kerja yang diakibatkan oleh bising salah satunya dengan menganjurkan pekerja untuk menggunakan ear plug sebagai alat pelindung diri. 5. Belum semua pekerja menggunakan alat pelindung diri yang semestinya. 6. Belum adanya ketegasan program reward and punishment terhadap pegawai yang tidak menggunakan alat pelindung diri. 7. Sejak pabrik berdiri belum pernah ditemukan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh bising. 8. Selama ini proses untuk menemukan kasus penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh bising belum memadai karena tidak adanya pemeriksaan audiometri dalam pemeriksaan berkala. 5.2 Saran 5.2.1. Saran bagi Pekerja 1. Perlu untuk melakukan pemeriksaan audiometri sesegera mungkin untuk mendeteksi secara dini adanya penurunan pendengaran akibat kerja. 2. Perlu menggunakan APD secara baik dan benar untuk mengurangi risiko bising, serta menjelaskan bahwa ketidaknyamanan penggunaan APD hanya bersifat sementara.

3. Pekerja mengikuti standar operasional yang sudah ditentukan oleh perusahaan. 5.2.2. Saran bagi Perusahaan 1. Perlu untuk melakukan pemeriksaan audiometri berkala minimal setiap satu tahun sekali bersama dengan pemeriksaan berkala bila setiap 6 bulan sekali tidak memungkinkan. Hal ini berguna untuk menemukan kasus baru adanya penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh bising, karena ada kemungkinan kasus penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh bising tidak terdeteksi. 2. Mengingat rendahnya kesadaran penggunaan alat pelindung diri maka dapat dilakukan beberapa upaya yang lebih efektif guna meningkatkan angka penggunaan alat pelindung diri seperti penerapan program reward and punishment seperti: Penghargaan tahunan kepada karyawan yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap keselamatan kerja, salah satunya dalam penggunaaan alat pelindung diri. Sanksi berupa peringatan secara lisan dan tulisan masing-masing sebanyak 3 kali dalam waktu 6 bulan, harus ditegaskan kembali tanpa kompromi. Selain itu, perusahaan juga dapat memperbanyak box ear plugs dan meletakkannya di tempat yang lebih strategis, serta menerapkan buddy system dimana karyawan berpasangan untuk saling mengingatkan dalam penggunaan APD. Hal ini perlu dilakukan karena selain dapat mengurangi angka kecelakaan kerja, mengurangi paparan bising, juga dapat meningkatkan

konsentrasi

pekerja

yang

pada

akhirnya

dapat

meningkatkan

produktivitas perusahaan.

3. Perusahaan diharapkan dapat melakukan pemeriksaan peralatan kerja secara berkala, sehingga dengan meningkatnya kondisi alat kerja diharapkan dapat mengurangi bising dan dapat meningkatkan efisiensi kerja. 4. Manajemen pertukaran kerja juga perlu diperbaiki mengingat ada dua orang yang terpapar sekitar 8 jam sehari dengan intensitas 98 dB pada ruangan Countinic Electric Dionized yang harus bertugas di tempat yang sama selama satu bulan sebelum akhirnya dilakukan rolling. 5. Perusahaan dapat mencari produk-produk alat pelindung diri yang lain yang lebih nyaman di telinga pekerja.

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim. Occupational (Work-related) Safety and Health. Diunduh dari http://www.freewebs.com/stb_tambunan/OSH.htm. Desember 2006. 2. 3. 4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Standar Pelayanan Kesehatan Kerja Dasar. 2003. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kebijakan Teknis Program Kesehatan Kerja. 2003. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Sulistomo A. Diagnosis penyakit akibat kerja dan sistem rujukan. Cermin dunia kedokteran 2002; 136: 5. pada tanggal 14