Anda di halaman 1dari 20

UNIVERSITAS INDONESIA

IMPLEMENTASI E-GOVERNMENT DI AUSTRALIA


Studi Kasus Pada Layanan Pendaftaran Bisnis Secara Online di Australia

E-GOVERNMENT

Kelompok 2 Candra Murti Utami (0806347006) Disa Vania (0806317546) Fajar Putra P. (0806347044)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM SARJANA REGULER PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI DEPOK SEPTEMBER, 2010

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Dalam teknologi upaya mendukung dalam upaya terlaksananya meningkatkan reformasi kinerja sektor serta publik,

keberadaan teknologi informasi menjadi salah satu faktor penting. Penerapan informasi pelayanan pemerintah kepada masyarakat salah satunya terimplementasi dengan adanya e-government dalam praktek pemerintahan. Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi memegang peranan penting hampir pada seluruh aspek kehidupan manusia saat ini. Salah satu aspek yang cukup krusial yang membutuhkan adanya teknologi informasi di dalamnya adalah aspek ekonomi. Kehidupan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh berbagai macam hal, meliputi kondisi politik, sosial, hukum, dan sebagainya. Namun iklim investasi adalah salah satu faktor yang cukup berpengaruh langsung pada kehidupan ekonomi suatu negara. Iklim investasi di suatu negara bergantung pada bagaimana pengurusan bisnis di negara tersebut. Apabila pengurusan bisnis di suatu negara memakan waktu yang lama, maka hal ini akan berimbas pada iklim investasi yang tidak berkembang. Sebaliknya, bila pengurusan bisnis baik, maka iklim investasi di negara tersebut akan berkembang dengan baik pula. Pemerintah Australia menyadari betul akan hal ini sehingga pemerintah Australia sedang gencar menerapkan teknologi informasi dan komunikasi di seluruh aspek pemerintahannya. Begitu pula di dalam dunia bisnis yang ada di Australia. Pemerintah Australia mewujudkan penerapan tersebut salah satunya melalui pengadaan Australian Business Register (ABR) sebagai rumah layanan pendaftaran bisnis secara online di Australia. Oleh karena itu, kami akan membahas mengenai bagaimana implementasi e-government di australia dengan mengambil studi kasus pada layanan pendaftaran bisnis secara online di Australia serta menganalisis hal apa saja yang mungkin dilakukan pemerintah Indonesia untuk dapat mengadopsi sistem e-government Australia yang dikenal sudah cukup baik.

I.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana gambaran umum E-Government di Australia? 2

b. Bagaimana implementasi Australian Business Register (ABR) sebagai rumah layanan bisnis online di Australia? c. Apa saja yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk dapat

mengadopsi E-Government yang berhasil diterapkan di Australia?

I.3 Tujuan a. mengetahui gambaran umum E-Government di Australia b. mengetahui bagaimana implementasi Australian Business Register (ABR) sebagai rumah layanan bisnis online di Australia c. mengetahui hal apa saja yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk dapat mengadopsi E-Government yang berhasil diterapkan di Australia

BAB II KERANGKA TEORI


II.1 Konsep E-Government II.1.1 Pengertian E-Government E-gov didefinisikan sebagai upaya pemanfaatan dan pendayagunaan telematika untuk meningkatkan berbagai efisiensi jasa dan pelayanan costkepada effective pemerintahan,memberikan

masyarakat secara lebih baik, menyediakan akses informasi kepada publik secara lebih luas, dan menjadikan penyelenggaraan pemerintahan lebih bertanggung jawab (accountable) serta transparan kepada masyarakat. Bank Dunia memberikan definisi E-Government refers to the use of information and communications technologies to improve the efficiency, effectiveness, transparency and accountability of government.

II.1.2 Prinsip-Prinsip E-Government 1. Build services around citizens choices 2. Make government and its services more accessible 3. Facilitate social inclusion 4. Provide information responsibly 5. Use government resources effectively and efficiently

II.1.3 Tahapan E-Government

Emerging

: a government web presence is established through a few independent official sites. Information is limited, basic, and static.

Enhanced Interactive

: content and information is updated with greater regularity. : users can download forms, contact official, and make

appointments and requests. Transactional : users can actually pay for services or conduct financial

transactions online. Seamless : total integration of e-function and services across administrative and departmental boundaries.

II.1.4 Peran E-Government E-government internet, untuk adalah penggunaan pelayanan teknologi publik informasi, lebih khususnya dan

memberikan

yang

nyaman

berorientasi pelanggan, biaya yang efektif, dan sama sekali berbeda dan cara yang lebih baik. Ini mempengaruhi hubungan pemeritah dengan warga negara, pebisnis, dan lembaga-lembaga publik lainnya serta proses internal bisnis dan karyawan. Gerakan e-government didorong oleh kebutuhan pemerintah untuk memotong biaya dan meningkatkan efisiensi, memenuhi harapan warga negara dan meningkatkan hubungan warga, memfasilitasi pembangunan ekonomi, menyediakan sebuah alat yang ampuh untuk menciptakan kembali pemerintah daerah. Hal ini mendorong transformasi dari paradigma birokrasi tradisional, yang menekankan standardisasi, departmentalization, dan efisiensi biaya operasional, dengan paradigma "e-government", yang menekankan membangun jaringan terkoordinasi, kolaborasi eksternal, dan layanan pelanggan. Peran E-Government dalam Pengembangan Network Society Komunikasi elektronik antara sektor publik dan masyarakat menawarkan bentuk baru partisipasi dan interaksi waktu menjadi lebih pendek, tingkatan kenyamanan pelayanan 5 menjadi lebih meningkat

menyebabkan tingkat pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap tindakan pemerintah menjadi lebih tinggi Memungkinkan penghapusan struktur birokrasi dan proses klasik

pelayanan yang mempersulit menyebabkan efisiensi pelayanan dan penghematan keuangan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai proses dan kondisi dari pelayanan publik E-government menyajikan informasi lokal memungkinkan peningkatan kapasitas masyarakat lokal untuk berkompetisi

II.1.5 Tantangan E-Government

institutional / operational
technology and infrastructure costs / factors lack of resources to support 24/7 operations Lack of innovative incentives in the public sector . particularly regarding IT Organizational / cultural dichotomies Lack of institutional support Information mismanagement Reluctance to share among depts. Misuse of sensitive data Absence of Policy

managerial
lack of capacity to manage large scale IT projects Lack of conviction of top or middle mangers Management Expectations vs. Management Realities Doubts and resistance by leadership Opposition by professional or union interests

policy / planning

lack of coordination and or strategic planning Lack of comprehensiveness and continuity of policies / programmes Absence of Policy guidelines Organizational / cultural dichotomies Local governments and municipalities if left far behind become bottlenecks Lack of comprehensiveness and continuity of policies and programmes Opposition by

Obsolete legal frameworks to innovate and incorporate private sector Information 6

guidelines

mismanagement Reluctance to share among depts. Misuse of sensitive data

professional or union interests

BAB III PEMBAHASAN


III.1 Gambaran umum E-Government di Australia Pemerintah Australia pada semua tingkatan secara konsisten telah

menerapkan e-government yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi informasi modern. Pada awal pertengahan tahun 1990-an sebagian besar pemerintah di penyediaan Australia pelayanan memiliki kebijakan secara formal yaitu mempromosikan masing-masing informasi online oleh

lembaga. Dalam semua yurisdiksi, hal ini telah sesuai dengan rencana umum pembangunan yang kita lihat di negara-negara yang sebanding di tempat lain: dari tahap awal pemberian informasi statis mewakili sebagian besar material yang telah diformat ulang yang biasanya didistribusikan dalam bentuk cetakan, website pemerintah jauh lebih dinamis, tidak hanya menawarkan informasi yang selalu berubah serta terkonfigurasi, tetapi juga layanan interaktif dimana warga dapat melakukan transaksi bisnis dengan pemerintah. Australia merupakan negara yang pertama kali mengadopsi teknologi dalam segala bentuk, tidak terkecuali internet. Studi selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan kenaikan kuatitas orang yang mampu menggunakan internet serta aktif menggunakannya untuk melakukan transaksi bisnis dengan pemerintah. Pada tahun 2001 hasil sensus nasional menunjukkan bahwa hanya 37% dari seluruh warga Australia yang tidak menggunakan internet. Survei tahun 2005 menunjukkan bahwa 52% rumah tangga memiliki akses terhadap internet. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Kantor Manajemen Informasi Pemerintah Australia di tahun 2003 mengenai manfaat e-government, hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% pengguna internet melakukan transaksi dengan pemerintah menggunakan layanan online. Sebanyak 57% dari bisnis dan 7

46%

dari

non-bisnis responden

merupakan

pengguna

layanan

e-

government. Pada saat yang sama, beberapa survei perbandingan tingkat kematangan e-government menempatkan pemerintah Australia di 5 besar dibandingkan dengan negara lain dengan tingkat ekonomi yang sebanding. Pada awal 1990-an lembaga-lembaga pemerintah belum menerapkan sistem online pada pelayanannya, namun saat ini pelayanan telah disediakan secara interaktif di semua tingkat pemerintahan. Misalnya, Departemen Imigrasi dan Multikultural bertanggung jawab untuk mengontrol orang-orang yang masuk ke Australia, saat ini penerbitan ratusan ribu visa setiap tahun sepenuhnya dilakukan melalui layanan online. Departemen Luar Negeri & Perdagangan melalui website mereka menerbitkan peringatan tujuan perjalanan yang tidak aman dan menawarkan layanan berlangganan di mana para traveler dapat berlangganan untuk update laporan tersebut. Ini hanya beberapa contoh di tingkat federal pemerintah. Manfaat yang bertambah dari perkembangan yang signifikan baik bagi pemerintah, dalam hal efisiensi dan jangkauan, dan bagi para pengguna layanan pemerintah, konsistensi, kecepatan transaksi dan dalam penghematan waktu. hal Upaya untuk

menyederhanakan segala hal yang berhubungan dengan pelayanan bagi warga negara dengan menyediakan kemampuan transaksi yang terintegrasi antar organisasi telah sukses dilakukan. Sebagai contoh, Kantor Pajak Australia telah mampu menyelesaikan perjanjian dengan Medicare Australia sehingga warga Australia melaporkan SPT mereka menggunakan layanan online kantor. Secara serentak mereka dapat memiliki data Medicare termasuk mengakses kembali sistem Medicare melalui satu interface. Prioritas Strategi Pengembangan E-Government Untuk mengimplementasikan rencana pengembangan e-government

secara menyeluruh, Pemerintah Australia menetapkan delapan prioritas strategis yang harus dilaksanakan baik oleh pemerintah pusat, departemen, maupun pemerintah negara bagian. Delapan prioritas itu adalah: 1. Menganjurkan badan-badan pemerintahan untuk memanfaatkan dan mengembangkan sepenuhnya layanan melalui internet. Karena departemen dan badan-badan pemerintahlah yang bertanggung jawab secara langsung terhadap penyediaan layanan pemerintah, maka inisiatif 8

dan dukungan mereka sangatlah diperlukan. Badan-badan Pemerintah diminta untuk menyusun online action plan, rencana aksi kapan mereka bisa menyediakan layanan secara online, dan menyesuaikannya dengan strategi eGovernment di seluruh Australia. 2. Memastikan bahwa aplikasi dan sistem yang mendukung penerapan eGovernment sudah disusun dan dijalankan. Beberapa hal penting di antaranya: Otentifikasi, menyangkut bagaimana identitas setiap orang

mendapatkan otorisasi dan otentifikasi secara benar. Otentifikasi diperlukan untuk proses identifikasi apakah benar orang yang menggunakan sebuah layanan sesuai dengan identitas yang benar. Otentifikasi menyangkut teknologi yang dipakai dan sistem serta prosedur yang harus digunakan masyarakat ketika ingin mendapatkan suatu layanan tertentu. Privacy, yang merupakan salah satu prinsip paling penting karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap data-data dan informasi yang mereka berikan. Adanya privacy yang terlindungi akan memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam mendapatkan layanan online sekaligus mendorong partisipasi yang lebih besar dari mereka. Security. Aspek keamanan berhubungan erat bagaimana dokumen, file, dan berbagai informasi hanya bisa diakses oleh orang-orang yang berhak. Aspek keamanan data menjadi salah satu faktor yang paling penting karena sedikit saja informasi atau data disalahgunakan bisa menimbulkan gejolak negatif yang tidak diinginkan. Standardisasi data dan platform. Agar setiap aplikasi bisa

berkomunikasi dan saling bertukar data, standardisasi data dan platform mutlak diperlukan. Standard ini disusun oleh Pemerintah Pusat yang harus diikuti oleh setiap departemen dan negara bagian. 3. Meningkatkan kapasitas dan fasilitas akses terhadap layanan online pemerintah di seluruh regional Australia. Tidak bisa dipungkiri, masalah kesenjangan digital tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga 9

terjadi

hampir

di

semua

negara,

termasuk

Australia.

Pemerintah

mengambil inisiatif dengan mendirikan berbagai kios informasi layanan pemerintah di berbagai tempat umum dan counter-counter bagi orang yang tidak punya akses internet. Dengan demikian, diharapkan kesenjangan digital ini secara perlahan bisa mulai dijembatani. 4. Meningkatkan pengembangan industri Teknologi Informasi (TI) yang memberi dampak pada percepatan pada pelaksanaan adalah eGovernment. bagaimana Pelaksanaan eGovernment dasarnya

memanfaatkan teknologi informasi secara lebih ekstensif pada layanan pemerintahan. Karena itu, pengembangan industri teknologi informasi penting artinya karena akan menjadi tulang punggung pelaksanaannya di lapangan. Industri Teknologi Informasi bisa dibagi menjadi beberapa komponen, di antaranya adalah industri pendidikan yang menyediakan sumber daya manusia dan profesional di bidang TI, industri penyedia perangkat keras (hardware), dan industri penyedia perangkat lunak dan aplikasi (software). Perkembangan yang baik dari ketiga elemen industri ini akan menjamin tersedianya profesional dan tenaga kerja yang terampil dalam bidang TI, dan aplikasi serta perangkat keras yang mendukung. 5. Mulai memindahkan proses bisnis secara online. Secara bertahap, apa yang bisa dilayani secara online mulai dijalankan. eGovernment merupakan proses panjang yang tidak bisa jadi dalam waktu dekat. Karena itu, pentahapan proses apa saja yang bisa dilayani secara online akan sangat membantu kesiapan dari berbagai sisi mulai dari SDM, teknologi dan juga persiapan masyarakat itu sendiri sebagai pengguna. 6. Melakukan studi banding dan mengawasi perkembangan pelaksanaan eGovernment secara reguler. Studi banding adalah hal yang paling mudah dijalankan dalam upaya mempelajari sistem apa yang cocok diterapkan dalam eGovernment. Studi banding eGovernment adalah bagaimana mempelajari sistem, aplikasi, dan manajemen pada suatu pemerintahan dalam menerapkan inisiatif eGovernment dan apa yang mungkin diterapkan oleh pemerintah masing-masing. Tentu saja studi banding ini dilakukan kepada pemerintahan yang lebih maju dan lebih baik dalam pelaksanaan eGovernment agar bisa mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Selain itu, pelaksanaan eGovernment juga memerlukan review yang dilakukan secara reguler. Review menyangkut kesiapan dari 10

sisi pemerintah dan juga kesiapan dari sisi masyarakat, persepsi mereka dan apa yang mereka harapkan dari eGovernment. 7. Memfasilitasi layanan yang bisa dilakukan antar badan pemerintah. Banyak sekali layanan yang berhubungan antara satu badan pemerintah dengan badan lain. Layanan informasi kependudukan misalnya, akan berhubungan dengan layanan pajak, kepolisian, dan semua layanan yang membutuhkan menjadikan data dan dan informasi layanan pribadi yang seseorang. saling Untuk bisa dan aplikasi terhubung

berkomunikasi satu dengan yang lain, dibutuhkan berbagai aplikasi yang punya standar interoperabilitas yang sama. Dibutuhkan tidak hanya kerjasama operasional antar badan pemerintah, tetapi juga aplikasi dan teknologi yang memadai. 8. Komunikasi dengan stakeholders. Sebagus apapun layanan eGovernment yang disediakan pemerintah, tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Stakeholders pemerintah terbentang luas mulai dari pegawai pemerintah, masyarakat, kalangan bisnis, hingga pemerintah di negara-negara tetangga.

III.2 Australian Business Register (ABR) sebagai rumah layanan bisnis online di Australia Australian Business Register (ABR) adalah sebuah basis data informasi identitas yang ekstensif yang diberikan oleh perusahaan ketika mereka mendaftar untuk sebuah Australian Bisnis Number (ABN). ABR membuat proses bisnis menjadi lebih mudah dan membuat semua tingkat pemerintahan dapat saling berinteraksi dengan mudahnya melalui pengenal yang unik yaitu ABN. Hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan tidak lagi harus mendaftarkan nama bisnis mereka di setiap negara bagian dan wilayah di mana mereka ingin masuk. Pengajuan permohonan nama bisnis dapat didaftarkan secara online 24/7 dan akan mendapatkan konfirmasi pendaftaran sesegera mungkin. 11

ABR online yang menyediakan akses cepat ke rincian ABN dan transaksi, yang memungkinkan para pengguna untuk : a. Melakukan bisnis dengan perusahaan lain dengan cara yang lebih ramping. Memeriksa dan memverifikasi informasi seperti goods and service tax (GST). Mendaftar ABN dan kewajiban pajak lain seperti GST dan Pay As You Go (PAYG). Mengirimkan segala detail bisnis yang diperbarui untuk badan-badan pemerintah yang mengakses ABR. Pihak-Pihak yang Dapat Mengakses ABR Informasi-informasi yang terkait dengan publik memberikan peluang pada siapapun untuk dapat mengaksesnya. Hal ini tersedia dalam Australian Business Register melalui situs www.business.gov.au. Informasi-informasi yang sifatnya non-publik dapat diakses oleh : Perusahaan bisnis itu sendiri. Bisnis dapat melihat rincian yang dimilikinya di www.abr.gov.au jika mereka memiliki administrator AUSkey atau sertifikat digital Australia Tax Office (ATO) primer. Instansi pemerintah yang menandatangani nota kesepahaman dan memiliki hak hukum untuk informasi ABN. Pihak ini dapat melihat detail klien ABN, memberitahukan klien tentang perbaruan ABR menerima pemberitahuan klien baru dari ABR, dan menerima pemberitahuan atas perubahan klien dari ABR. Panitera. Perundang-undangan ABN memungkinkan Panitera untuk mengungkapkan informasi ABR untuk memenuhi persyaratan federal, negara bagian, teritori dan pemerintah lokal yang memiliki hak hukum untuk informasi sebagaimana ditentukan oleh Sistem Perpajakan Baru (Australia Business Number) Undang-Undang 1999. Hal ini membuat panitera dapat melihat dan memperbarui informasi tentang ABR. b. Mitra ABR Mitra ABR merupakan badan pemerintah yang mengadakan perjanjian dengan Panitera Australia Business Register untuk : Mengakses rincian ABN dari ABR (sesuai dengan hukum) Mengadopsi AUSkey sebagai kunci keamanan bisnis online yang dapat

digunakan untuk bertransaksi secara online Melakukan transaksi pendaftaran online yang tersedia untuk bisnis melalui ABR itu Mitra ABR juga dapat menggunakan informasi-informasi yang ada di ABR untuk berbagai hal seperti : 12

Menyederhanakan interaksi mereka dengan klien mereka Mengidentifikasi dan memverifikasi bisnis yang memiliki ABN Memeriksa informasi penting seperti status GST suatu bisnis Mengidentifikasi bisnis untuk pendaftaran, penelitian dan tujuan analisis (penggunaan kode industri) Memastikan jika nama, alamat dan rincian rekan klien bisnis sudah benar. Pihak-pihak yang menjadi mitra ABR terbagi ke dalam dua jenis pihak yang memiliki akses informasi yang berbeda, yaitu :

Para mitra yang terdaftar di bawah akses publik. Mereka adalah pihak yang memiliki akses ke informasi yang tersedia untuk umum untuk melihat dan mencari melalui ABN Lookup.

Para mitra terdaftar di bawah akses non-publik. Selain memiliki akses ke informasi publik, pihak ini juga memiliki akses ke informasi yang bersifat rahasia. Data item dapat diakses oleh badan-badan pemerintah yang memenuhi syarat.

c.

Layanan yang Tersedia di ABR 1) Pendaftaran AUSkey AUSkey adalah mandat keamanan online berupa kunci tunggal untuk mengakses berbagai layanan online pemerintah. Terdir dari 2 jenis : Administrator AUSkey Jenis AUSkey ini dapat melihat dan memperbarui rincian untuk semua pemegang AUSkey terkait dengan bisnis dan pendaftaran baru Administrator pemegang AUSkey untuk bisnis mereka. Pemegang Administrator AUSkey memiliki : Otomatis akses ke portal Australian Tax Office (ATO) Kemampuan terbatas untuk mengajukan atas nama ABN mereka melalui antarmuka perdagangan elektronik Kemampuan untuk melihat dan memperbarui rincian ABN bisnis di www.abr.gov.au Mereka juga dapat mengakses layanan online dari instansi pemerintah lain yang telah mengadopsi AUSkey sebagai mandat keamanan mereka Standard AUSkey Pemegang jenis AUSkey dapat login dan melihat atau memperbarui rincian AUSkey mereka sendiri. Standar AUSkey pemegang memiliki: 13

Kemampuan untuk melihat informasi bisnis dan bertindak atas nama bisnis di portal ATO, terbatas sesuai dengan hak akses diatur dalam Manajer Akses Online Kemampuan untuk mengajukan otomatis deklarasi Tax File Number (TFN) dan ringkasan Pay As You Go Witholding (PAYGW) pembayaran melalui SBR-enabled software Pemondokan tak terbatas melalui antarmuka perdagangan elektronik Tidak memiliki kemampuan untuk melihat dan memperbarui rincian ABN bisnis di www.abr.gov.au

2) Australia Business Number (ABN) ABN adalah sebuah identifikasi unik yang terdiri dari 11 digit. Hal ini memudahkan untuk kegiatan bisnis dan semua tingkat pemerintahan untuk berinteraksi. ABN akan digunakan saat : Berurusan dengan kantor pajak Berhadapan dengan instansi pemerintah lain Memasok barang dan jasa untuk bisnis lain Untuk memperhitungkan atau offset kewajiban perpajakan Anda pada laporan aktivitas Dalam Australian Business Register, para penggunanya dapat melakukan halhal yang terkait dengan ABN. Mulai dari pendafataran, pembaruan, akses kepada rekaman ABN yang dimilikinya, hingga melakukan pembatalan terhadap ABN. Semua itu dapat dilakukan secara online dengan aplikasi dan form yang tersedia secara online pula di www.abr.gov.au. Informasi ABN tidak hanya dapat diakses oleh pemiliknya saja. Para agen pajak dan pemerintah pun dapat mengakses rekaman ABN yang ada melalui halaman profesional. Namun harus memiliki administrator AUSkey. 3) Pendaftaran Tax File Number (TFN) TFN adalah sebuah nomor unik yang dikeluarkan oleh kantor pajak bagi individu dan organisasi untuk meningkatkan efisiensi dalam administrasi pajak dan sistem pemerintah lainnya seperti pembayaran bantuan pendapatan. Hal ini juga digunakan sebagai pengidentifikasi untuk peran pajak penghasilan. 4) Pendaftaran Goods and Service Tax (GST) Goods and Service Tax adalah sebuah pengenaan pajak kepada sebagian besar barang, jasa, dan apa pun juga yang dikonsumsi di Australia.

14

Pada saat melakukan pendaftaran GST, maka pendaftar akan diberikan sebuah nomor referensi. Pendaftar akan membutuhkan nomor ini dan password yang dimilikinya untuk melanjutkan aplikasi yang disimpan. 5) Pendaftaran Pay As You Go (PAYG) Sebuah sistem terpadu tunggal untuk pelaporan dan pembayaran dari : Pajak pada bisnis dan investasi penghasilan (PAYG instalments) Sistem untuk bisnis dan individu untuk membayar cicilan kewajiban pajak yang diharapkan pada bisnis mereka dan pendapatan investasi untuk tahun pendapatan sekarang. Jumlah yang dipotong dari pembayaran kepada karyawan dan lain-lain (PAYG witholding). Sistem dimana bisnis dan individu diwajibkan untuk memotong jumlah tertentu untuk jenis-jenis tertentu atau untuk transaksi pembayaran, seperti pembayaran kepada karyawan atau dibuat untuk pembayaran bisnis yang tidak dikutip Australian Business Number (ABN), dan untuk mengirim umlah yang dipotong ke Kantor Pajak. PAYG instalments dan PAYG witholding akan dilaporkan pada laporan aktivitas penggunanya. Para pendaftar akan diberikan pemberitahuan jika aplikasi telah dikirim untuk diproses maupun saat pendaftaran telah sukses. Seluruh layanan yang disediakan oleh Australian Business Register (ABR) dapat digunakan selama 24 jam dalam 1 minggu karena diadakan secara online. Hal ini diterapkan dengan tujuan untuk mempermudah hubungan antara pemerintah dan masyarakat (khususnya terkait dengan bisnis). Di sisi yang lain, layanan online ini juga dapat mempercepat dan mengefisienkan proses pengurusan administrasi (terkait dengan bisnis dan pajak) yang akan berdampak pada menurunnya beban kerja pemerintah.

III.3 Analisis hal-hal yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk dapat mengadopsi E-Government yang berhasil diterapkan di Australia Dalam hal pengembangan serta penerapan e-government, Indonesia tentunya dapat berkaca pada kesuksesan Australia yang telah berhasil mengembangkan serta menerapkan e-government di dalam berbagai aspek pelayanan publiknya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai sisi diantaranya dari sisi strategi penerapan dan pengembangan, sisi kesiapan masyarakat, serta sisi kesiapan pemerintah baik dalam hal infrastruktur maupun suprastruktur 15

teknologi

yang

akan

menunjang

keberhasilan

penerapan

e-government

nantinya, tentu saja di dalamnya termasuk aspek kesiapan sumber daya manusia. Aspek-aspek prakondisi inilah yang tidak kalah penting dan harus mulai direncanakan dan dibangun secara serius oleh pemerintah Indonesia untuk dapat menciptakan sistem e-government yang baik. Hal yang pertama kali harus dibangun oleh pemerintah Indonesia adalah menyusun government online strategy sebagai kerangka kerja antardepartemen dan berbagai pihak untuk mencocokan komitmen mengenai layanan apa saja yang akan ditempatkan secara online. Survey dapat dilakukan pada tahap awal untuk membantu menentukan target yang akan dicapai sehingga didapat data semua referensi pengembangan e-government. Hal yang tidak boleh dilupakan oleh pemerintah indonesia dalam strategi pengembangan e-government adalah masalah akses internet bagi masyarakat. Keberhasilan e-government tidak hanya ditentukan oleh sebaik apa strategi pemerintah tetapi juga sejauh mana keterlibatan masyarakat di dalamnya. Pada tahun 1997 pemerintah Australia mengeluarkan kebijakan investing for growth sebagai upaya membangun kesiapan infrastruktur, sarana dan berbagai media teknologi yang menunjang penerapan e-government. Pembangunan untuk mengintegrasikan layanan pemerintahan tersebut tentunya membutuhkan standardisasi dan interoperabilitas. Kebutuhan tersebut membuat seluruh pihak perlu mempertimbangkan kembali mengenai investasi teknologi informasi untuk memastikan investasi yang dikeluarkan dapat dialamatkan untuk memenuhi kebutuhan layanan yang dimaksud. Dalam hal ini faktor investasi untuk membangun sistem dan perangkat teknologi informasi menjadi hal yang mutlak dilakukan karena merupakan faktor utama terciptanya egovernment. Salah satu faktor keberhasilan Australia dalam menerapkan e-government ini adalah karena masyarakatnya yang menurut United Nations E-Government Survey tahun 2010 menduduki peringkat ke 3 dalam EParticipation Index Top 20 Countries1. Artinya, dapat dikatakan bahwa lebih dari 50% masyarakat Australia sudah terhubung dengan internet. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dengan melihat data bahwa pengguna Internet di Indonesia diperkirakan

United Nations E-Government Survey 2010. http://www2.unpan.org diunduh pada tanggal 17 September 2010 16

mencapai 57,8 juta pada 20102, dan perkiraan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 ini adalah sebanyak 235 juta jiwa 3, Artinya jika saja setengah dari penduduk Indonesia itu dewasa (dalam artian sudah mulai aktif dan dilibatkan dalam pemanfaatan layanan publik secara online) maka angka 57,8 juta jiwa yang sudah terhubung dengan internet itu adalah 48 % dari total penduduk Indonesia dewasa yang sudah bisa dilibatkan dalam pemanfaatan e-government. Melihat fakta tersebut, bukan tidak mungkin bagi Indonesia untuk membangun dan menerapkan e-government secara penuh dalam berbagai layanan publik karena dengan data diatas dapat diasumsikan setengah dari masyarakat telah siap. Adapun untuk mengatasi kesenjangan digital yang ada, baik berupa masyarakat yang belum melek teknologi, masyarakat golongan cacat fisik, masyarakat pelosok yang belum tersedia akses internet atau juga kelompok masyarakat dengan koneksi internet super lambat, maka sebaiknya pemerintah menyiapkan alternatif solusi berupa portal khusus atau pegawai pendamping khusus untuk memenuhi kebutuhan layanan yang dimaksud yang mampu mengakomodasi semua lapisan masyarakat. Contohnya seperti yang dilakukan oleh pemerintah Australia. Saat ini Pemerintah Australia telah menerapkan layanan portal khusus yang mampu mengakomodir kebutuhan semua lapisan masyarakat tersebut. Salah satunya melalui Australian Business Register. Website ini diperuntukkan bagi para pihak yang ingin membuat dan mendaftarkan bisnisnya di Australia. Para pengguna tidak perlu untuk mendaftar berbagai keperluan pendaftaran bisnis mereka pada berbagai website yang berbeda karena ABR menyediakan itu semua di dalam websitenya. Semua layanan tersedia secara online sehingga dapat diakses 24 jam selama seminggu penuh. Semua hal-hal yang berkaitan dengan pengurusan bisnis di Australia dapat diakses melalui website ini. Hal terpenting dari semuanya, kunci keberhasilan penerapan e-

government di Australia yang perlu pemerintah Indonesia tanamkan adalah komitmen pemerintah yang tinggi. Tanpa adanya komitmen pemerintah segala

Pengguna Internet Indonesia 57,8 Juta di 2010. http://www.detikinet.com diunduh pada tanggal 18 September 2010
2

Terbesar ke-4 di Dunis, Penduduk RI Diperkirakan Capai 235 Juta. http://www.indonesia.go.id diunduh pada 18 September 2010 17

kendala akan selalu menjadi alasan untukyang dapat membuat langkah penerapan E-Government ini tidak optimal bahkan terhenti.

BAB 1V PENUTUP
IV.1 Kesimpulan Implementasi e-government di Australia, khususnya dengan pengadaan Australian Business Register (ABR) sebagai rumah layanan online pengurusan bisnis di australia membuahkan hasil yang menggembirakan. Pada tahun 2006, Australia dinobatkan sebagai negara dengan pengurusan bisnis tercepat di dunia dengan lama waktu pengurusan bisnis 2 hari. Layanan online terpadu dalam hal bisnis ini tentunya memberi dampak positif tidak hanya bagi para pelaku bisnis, tetapi juga bagi pemerintah dan masyarakat Australia secara umum. Bagi para pelaku bisnis, website ABR dapat mempermudah dan mempercepat proses pengurusan bisnis mereka di Australia. Sedangkan bagi pemerintah, hal ini tentu saja dapat mengurangi beban kerja pemerintah dibanding pengurusan bisnis yang dilakukan secara manual. Hal ini dikarenakan peng-entry-an data dilakukan oleh para pendaftar sendiri ditambah dengan berkurangnya frekuensi tatap muka antara para pendaftar dengan pemerintah. Selain itu instansi terkait juga dimudahkan dalam hal mengakses data mengenai para pendaftar. Dengan adanya kemudahan bisnis ini, ,masyarakat pun dapat merasakan iklim ekonomi yang baik seiring dengan membaiknya iklim investasi di Australia. Indonesia dengan keadaan penduduk yang memungkinkan untuk diterapkannya e-government secara optimal di Indonesia perlu berkaca pada keberhasilan yang telah dicapai oleh Australia dalam penerapan e-government secara efektif salah satunya dengan membangun komitmen yang tinggi antara

18

pemerintah maupun masyarakat secara luas. Hal ini tentu saja harus didukung dengan pengadaan teknologi informasi yang memadai. Tidak ada e-government tanpa good government. Teknologi informasi memang merupakan instrumen fundamental bagi reformasi kebijakan, namun hanya kebijakan dan upaya reformasi struktural yang terencana yang dapat menjamin sukses strategi e-government. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus berupaya keras untuk dapat menciptakan suatu sistem e-government yang benar-benar mampu mengakomodir seluruh kepentingan masyarakat.

IV.2 Saran Pemerintah Indonesia hendaknya berkaca dari pemerintah Australia dalam mengembangkan e-government yang benar-benar mampu mengakomodir kepentingan seluruh masyarakatnya. Pemerintah Australia hendaknya lebih menyederhanakan sistem aplikasi yang digunakan saat ini dalam pendaftaran online sehingga cakupan masyarakat yang dilayaninya dapat lebih luas lagi. Indonesia seharusnya menerapkan sebuah identitas unik yang dimiliki masyarakat sehingga membuatnya dapat terhubung dengan seluruh layanan online pemerintah seperti yang diterapkan di Australia yaitu AUSkey. Indonesia sebaiknya membuat sebuah website atau portal khusus yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan layanan pemerintah secara online. Website atau portal ini harus dibuat secara terpadu sehingga dapat meningkatkan efisiensi. Layanan online yang diberikan oleh pemerintah Indonesia hendaknya memperhatikan Australian kebutuhan masyarakatnya (ABR). Hal yang ini memilikikebutuhan dilakukan oleh khusus seperti para kaum tunanetra, seperti yang terdapat dalam website Business Register dapat pemerintah dengan memberikan software maupun aplikasi khusus bagi masyarakat golongan ini. Indonesia harus menyiapkan kesiapan tidak hanya dari segi sistem tetapi juga dari segi sumber daya manusianya. Para pengguna layanan online 19

baik masyarakat sebagai penikmat layanan maupun pemerintah sebagai penyedia layanan harus siap secara kompetensi. Selain itu, pemerintah harus berkomitmen penuh dalam pelaksanaan e-government.

DAFTAR PUSTAKA

www.abr.gov.au www.nationmaster.com/graph/gov_tim_req_to_sta_a_bus_day-time-requiredstart-business-days http://www2.unpan.org/egovkb/global_reports/10report.htm http://unpan1.un.org/intradoc/groups/public/documents/un/unpan021547.pdf http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/25/time/ 174121/idnews/884242/idkanal/398 http://www.indonesia.go.id/id/index.php? option=com_content&task=view&id=12587&%20=701 Dr Stephen Ellis. E-Governance, an Australian View (dlmforum.typepad.com/Paper_StephenEllis_ Australianview.pdf )

20