Anda di halaman 1dari 16

ABU YAZID AL-BISTAMI

ABU Yazid Taifur Ibn Isa Ibn Sorushan Al-Bistami lahir di Persia Timur Laut. Ia adalah cucu dari
seorang pemeluk agama Zoroaster. Di situ pula ia meninggal dunia pada tahun 261 H [876 M]
atau ada juga yang mengatakan tahun 264 H [877 M] dan makamnya masih dapat ditemukan
hingga sekarang.

Ia adalah pendiri aliran sufisme ekstatik. Ia juga dikenal dengan ungkapan-ungkapan


sufistiknya yang abstrak tentang Tuhan. Terutama pengutaraannya tentang pengembaraan ke
surga [mencontoh mi’raj Nabi Muhammad] memperoleh perhatian yang sangat besar dari para
penulis yang hendak meneliti dan mengkajinya. Ajaran itu juga memberikan pengaruh yang
besar bagi sufi-sufi yang hidup sesudahnya.

Awal Tahun Kelahirannya

Kakek Abu Yazid Al-Bistami adalah seorang pemeluk agama Zoroaster, sedangkan
bapaknya adalah salah seorang pemuka masyarakat Bistam. Karir Abu Yazid yang luar biasa
sebenarnya telah bermula sejak ia masih berada dalam kandungan ibunya.

“Setiap kali aku memasukkan sesuap makanan yang syubhat,” begitu sang ibu
menuturkan kisahnya, “engkau selalu berpolah dalam kandunganku dan tidak hendak berhenti
dengan polahmu kecuali bila aku batalkan suapan itu.”

Pernyataan itu juga dikuatkan dengan penjelasan Abu Yazid sendiri.


“Apakah yang terbaik bagi manusia dikala ia meniti jalan hidupnya?” seseorang bertanya
kepada Abu Yazid.
“Kebahagiaan semenjak lahir,” jawab Abu Yazid.
“Bila hal itu tidak dialaminya?”
“Memiliki badan yang kuat.”
“Jika ia tak mempunyainya?”
“Memiliki pendengaran yang peka.”
“Andai ia tak memilikinya?”
“Memiliki hati yang arif.”
“Jikalau ia tak memilikinya?”
“Mempunyai penglihatan yang tajam.”
“Apabila ia tak mempunyainya?”
“Lebih baik mati saja.”

Menginjak masa kanak-kanak, sang ibu memasukkannya ke sekolah. Di situ ia mengkaji


Alqur’an. Suatu hari, ketika sang guru menerangkan makna sebuah ayat dalam surat Lukman,
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu,” hati Abu Yazid bergetar.

“Pak guru,” katanya seraya memberi isyarat,


“ijinkan aku untuk pulang ke rumah dan menyampaikan sesuatu pada ibuku.”
Sang guru memberinya ijin untuk pulang.
“Taifur, mengapa engkau pulang sepagi ini? Apakah gurumu mengijinkan untuk pulang
atau ada sesuatu yang istimewa?” tanya sang ibu.
“Tidak,” jawab Abu Yazid.
“Di kelas aku mendengar ayat yang mengharuskanku untuk mengabdi kepada Allah dan
ibu. Aku tak sanggup melayani keduanya dalam sekali waktu yang bersamaan. Oleh karena ibu
berdoa meminta anak dari Allah sehingga aku menjadi milik ibu sepenuhnya atau ibu
melepaskan diriku untuk dimiliki-Nya sehingga aku dapat sepenuhnya mengabdikan diriku
kepada-Nya.”

12
“Anakku, aku relakan kau menjadi milik-Nya dan aku bebaskan kau dari tugas mengabdi
padaku,” tukas sang ibu.
“Pergi dan jadilah kau milik Allah.”

Di kemudian hari, Abu Yazid mengulangi kisahnya demikian, “Kewajiban yang semula aku
sangka paling tidak penting namun menjadi paling penting adalah membahagiakan ibuku.
Untuk membahagiakan ibuku, aku curahkan segenap perlakuan dan disiplin diri demi
mengabdi padanya. Kisahnya sebagai berikut.

Suatu malam ibu meminta air. Aku hendak mengambil air di kendi, namun habis.
Kemudian aku hendak mencarinya di tempayan, tetapi airnya telah habis juga. Maka aku
segera pergi ke sungai dan mengambil air dengan tempayan itu. Ketika kembali ke rumah, aku
dapatkan ibuku tertidur pulas.

“Malam itu udara teramat dingin. Aku dekap kendi itu di tanganku. Tatkala ibu terjaga, ia
minum seteguk air dan menatapku bahagia. Lalu ia melihat kendi yang terdekap di tanganku
dan bertanya, ‘mengapa kau tidak letakkan kendi itu di sampingku?’ Aku pun menyahut,’Aku
kuatir bila ibu terbangun, aku tidak berada di sisi ibu.’ Ibu berkata kepadaku, ‘Coba pintu itu
dibuka setengah saja.’

“Aku jaga sampai fajar menjelang agar pintu itu tetap setengah terbuka sehingga aku
tidak mengabaikan perintahnya. Kala pagi menjelang, aku pun terbebas dari kewajiban
mengabdi pada ibuku.”

Setelah sang ibu merelakannya menjadi milik Allah, Abu Yazid meninggalkan Bistam dan
melakukan pengembaraan dari satu daerah ke daerah lain untuk melatih diri dengan
keprihatinan dan derita lapar. Ia menimba ilmu dan memperoleh manfaat dari 113 guru ruhani.
Salah satu di antara mereka bernama Shadiq.

Abu Yazid tengah terduduk khusyu’ tatkala sang guru mengatakan,”Abu Yazid, ambilkan
buku itu dari jendela.”
“Jendela? Jendela yang mana?” tanya Abu Yazid.
“Engkau sudah cukup lama berada di sini, namun belum melihat jendela?” kata Shadiq.
“Belum,” jawab Abu Yazid. Apa yang mesti kulakukan terhadap jendela itu? Ketika aku di
depanmu, aku menutup mata terhadap apa pun. Aku tak sempat lagi membuka mata selain
untuk memandangmu.”
“Jika demikian, ujar sang guru, “pulanglah ke Bistam. Tugasmu di sini telah usai.”

Ucapan itu merupakan suatu isyarat bagi Abu Yazid bahwa di suatu tempat ada seorang
guru besar yang dapat ditemuinya. Ia datang dari tempat yang jauh untuk menjumpainya.
Ketika jarak itu kian dekat, ia melihat jejak ludah sang guru yang menuju Mekah. Karena itu, ia
telusuri jejak itu.

“Andaikata ia tidak mendapatkan apa pun di tengah jalan, begitu gumamnya, “maka ia tak
akan pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.”

Dalam kisah ini diceritakan bahwa jarak antara rumah sang guru dengan Masjid adalah 40
langkah. Ia tidak pernah mengenakan sepatu ketika pergi ke Masjid.

Untuk mencapai Ka’bah di Mekah, Abu Yazid memerlukan waktu 12 tahun. Demikian,
karena di setiap mushalla yang dijumpai, ia senantiasa menggelar sajadahnya dan melakukan
shalat dua rakaat. Ia akan mengatakan bahwa Ka’bah bukanlah serambi raja bumi yang dapat
digapai seseorang dalam sekali waktu.

13
Akhirnya, ia sampai juga ke Ka’bah walau pada tahun itu ia tidak dapat singgah ke
Madinah. Katanya, “Aku takkan menambah kunjunganku kali ini. Aku akan mengenakan
pakaian haji ke Madinah di lain waktu.”

Tahun berikutnya, kembali Abu Yazid mengenakan pakaian haji dan melangkahkan kakinya
di padang pasir. Di suatu kota ia berjumpa dengan sekelompok orang yang menjadi
pengikutnya. Mereka berjalan mengiringi langkah di belakangnya.

“Siapa mereka?” ia bertanya sambil menengok ke arah belakang.


“Mereka hendak bergabung denganmu,” datang sebuah jawaban.
“Ya Allah,” desis Abu Yazid, “aku membutuhkan-Mu, janganlah mereka menjadi
penghalang antara aku dengan-Mu!”

Lalu, karena hendak mengusir rasa cinta dari pikatan hati mereka serta memisahkan jalan
yang ia tempuh dengan jalan mereka, ia menatap rombongan itu dan berkata seusai
menunaikan shalat fajar, “Ketahuilah bahwa akulah tuhanmu, tidak ada tuhan selain aku, maka
sembahlah aku.”

“Orang itu telah gila,” seru mereka seraya meninggalkannya.

Abu Yazid pun kembali meniti jalannya sendiri. Di tengah jalan, ia mendapatkan sebuah
tengkorak yang di atasnya tertulis kata-kata: Tuli, bisu, buta… mereka tidak mengetahui.
Setelah mengangkat tengkorak itu dengan dibarengi tetes air mata, ia menciumnya.

Gumamnya, “Agaknya tengkorak ini milik seorang sufi yang diwafatkan Allah. Ia tidak
memiliki telinga untuk mendengarkan suara abadi, tidak mempunyai mata untuk melihat
keindahan abadi, tidak mempunyai lidah untuk memuji keagungan Allah dan tidak memiliki
akal untuk memahami sepercik hakikat pengetahuan-Nya. Kalimat ini ditujukan kepadanya.”

Suatu kali, Abu Yazid merambah jalan ditemani seekor unta yang membawa segenap
perbekalan dan pelananya.
“Sungguh kejam, unta yang sangat kecil itu mesti dibebani dengan muatan yang terlalu
berat,” seru seseorang.
“Usai mendengar kata-kata itu berulang kali, Abu Yazid memberikan sahutan,
“Anak muda, ini bukan unta kecil yang mengangkat muatan sarat.”

Anak muda itu mencoba mengamati dan meneliti muatan yang ada di atas punggung
unta. Dan, yang terlihat adalah sehelai pelana terentang di atas punggung unta tersebut
sehingga ia tidak merasa keberatan sedikit pun.

“Segala kebesaran milik Allah, sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan!”


pemuda itu berteriak kaget.
“Jika saja aku mengutarakan siapa diriku sebenarnya, maka engkau akan menyerapah
penuh sesal,” kata Abu Yazid.
“Namun, jika aku singkap segala rahasia itu, niscaya engkau takkan mengerti maknanya.
Apa gunanya melakukan sesuatu kepada dirimu?”

Setelah tiba dari kunjungannya ke Madinah, datang sebuah pesan agar ia kembali ke
rumah untuk merawat ibunya. Maka, segera saja ia pergi menuju Bistam dikawani
serombongan orang. Berita kedatangannya didengar oleh warga Bistam. Mereka lalu
menyambutnya dengan sambutan yang marak di sepanjang jalan.

Namun, sambutan yang meriah itu dianggap Abu Yazid sebagai penghalang hubungannya
dengan Allah. Ketika mereka semakin dekat, Abu Yazid mengeluarkan sepotong roti dari lengan
bajunya, padahal saat itu adalah bulan Ramadhan. Ia memakan roti itu dengan lahap. Melihat
kejadian itu, segera saja warga Bistam pergi menyingkir darinya.

14
“Tidakkah kau lihat?” ujar Abu Yazid kepada rekan-rekan yang mengiringinya, “Aku
mematuhi hukum Allah yang suci, tetapi orang-orang Bistam menolakku.”

Dengan sabar ia menunggu hingga malam menjelang. Lalu, di tengah malam ia memasuki
kota itu dan tiba di rumah ibunya. Sejenak ia berdiri tertegun sambil mendengar sesuatu. Saat
itu ia mendengar sang ibu tengah mengambil air wudhu kemudian shalat. Ia berdoa,

“Ya Allah, tolong jaga anakku yang terbuang dalam pengasingannya. Tebarkan rasa cinta
dan kasih di hati para Syaik dan berilah ia kekuatan untuk menunaikan segala sesuatu dengan
baik.”

Mendengar kata-kata itu, Abu Yazid menitikkan air mata haru. Lalu, ia mengetuk pintu.
“Siapa di luar?” sang ibu bertanya.
“Anakmu yang di pengasingan,” jawab Abu Yazid.
Dengan meneteskan air mata, sang ibu membuka pintu. Pandangannya telah nanar.
“Taifur,” ujarnya pada sang anak, “tahukah engkau mengapa pandanganku nanar? Mataku
bengkak dan nanar karena banyak menangis lantaran berpisah denganmu dan punggungku
juga sedikit memar karena menanggung derita yang kukenyam selama kau di rantau.”

Mi’raj Abu Yazid

Kisah berikut disampaikan oleh Abu Yazid sendiri. Aku dapat melihat Allah dengan mataku
sendiri [ainul yaqin] setelah Dia mengangkatku pada derajat kebebasan dari segala makhluk,
memancarkan dengan cahaya-Nya, menyingkap aneka rahasia yang menakjubkan kepadaku
dan mewujudkan keagungan-Nya dalam diriku.

Kemudian, berpijak dari Allah, aku menatap diriku sendiri dan memahami beragam rahasia
dan sifat diriku. Cahayaku teramat gelap bila berada di sisi cahaya Allah, kebesaranku amat
kerdil jika dibanding dengan kebesaran-Nya. Dan, keagunganku terlalu kecil jika berada di
samping keagungan-Nya. Hanya ada kesucian di sisi Allah, sedang di sisi kita hanya menebar
kotoran.

Kala aku lihat kembali diriku, ia tercipta dari cahaya Allah. Aku sadar bahwa keagunganku
adalah kebesaran dan keagunga-Nya. Apa pun yang terlihat oleh mata ragaku terlihat melalui-
Nya. Aku menayangkan pandang dengan mata keadilan dan kebenaran. Segala peribadatanku
lahir dari Allah, bukan dariku dan aku menyangka bahwa Aku-lah yang menyembah-Nya.

Aku berkata, “Ya Allah, apakah yang terjadi?”


Dan jawaban-Nya, Semua itu adalah Aku dan tidak ada apa pun kecuali Aku.”

Lalu, Dia menjahit mataku agar aku tidak dapat melihat, sebab, mataku tidak memiliki
perangkat untuk melihat. Dia memerintahkan mataku untuk melihat akar segala persoalan,
yakni ke-Dia-an Diri-Nya sendiri. Dia meniadakan diriku dengan diriku sendiri dengan
menciptakan kekekalan dalam diriku melalui kekekalan-Nya. Dia menciptakan keagunganku.
Dia menyingkap tabir kedirian-Nya padaku atas kehendak-Nya, bukan karena desakanku.
Karena itu, Allah, kebenaran Yang Maha Tunggal [Esa] kian merasuk dalam kenyataanku.
Melalui Allah aku melihat-Nya dan aku memandang-Nya dengan sebenar-benarnya.

Di sana, aku singgah sejenak dan beristirahat. Aku tutup rapat telingaku, aku cabut lidah
ini untuk tidak mencuatkan desah penyesalan. Aku menghindar dari pengetahuanku dan
menjauhi campur tangan jiwa yang mengundang kejahatan. Aku singgah di ruang hampa
tanpa satu alat pun. Aku singgah di sana dengan kekuasaan Allah [rahmat]-Nya. Aku bersihkan
segenap kemubaziran dari prisnsip-prinsip yang mendasar.

15
Allah mencurahkan belas kasih-Nya untukku. Ia menjaminku dengan pengetahuan abadi
dan mengalirkan kebajikan-Nya di lidahku. Dia memberiku mata untuk memandang cahaya-
Nya. Aku melihat segala makhluk melalui Allah. Dengan lidah kebajikan-Nya aku berbincang
dengan-Nya, dari pengetahuan-Nya aku memperoleh pengetahuan serta dengan cahaya-Nya
aku melihat-Nya.

Allah berfirman, “Wahai engkau sekalian, tanpa dan dengan segalanya, tanpa alat dan
dengan alat!”
Aku berkata, “Ya Allah, jangan Engkau kelabui aku dengan ini semua. Jangan biarkan aku
berpuas diri dengan kejadianku sendiri dan jangan hambat diriku untuk menabur kerinduan
terhadap-Mu. Akan lebih baik jika Engkau menjadi milikku tanpa aku, daripada aku menjadi
diriku sendiri tanpa Engkau. Dan, lebih baik juga andaikata aku mesti berbincang denagn-Mu
melalui Engkau daripada aku berbicara kepada diriku sendiri tanpa Engkau.”

Allah berfirman, “Sekarang pasang telingamu untuk mendengar hukum-Ku dan jangan
langgar segala perintah dan larangan-Ku agar engkau memperoleh syukur-Ku.”
Aku berkata, “Sepanjang aku memeluk agama-Mu dan hatiku begitu penuh yakin
terhadap-Mu, jikalau Engkau memberiku rasa syukur, akan lebih baik bila Engkau mensyukuri
diri-Mu sendiri daripada menyukuri hamba-Mu. Bila Engkau bercelah, maka karya-Mu tak
memiliki celah sedikit pun.”

Allah berfirman, “Dari siapa engkau belajar?”


Aku berkata, “Dia yang menyampaikan pertanyaan itu lebih mengetahui daripada orang
yang ditanya karena Dia adalah Zat yang dikehendaki dan menghendaki, Zat yang diberi dan
memberi jawaban.”

Tatkala Dia telah mengenal kesucian jiwaku yang paling dalam, maka jiwaku mendengar
letupan suara tentang kepuasan-Nya; Dia membubuhkan kebahagian-Nya dalam diriku. Dia
mengangkat derajatku ke puncak dan membebaskanku dari kegulitaan jiwa jasadiahku serta
memerdekakan diriku dari kebejatan alam ragawi. Aku mengerti bahwa aku hidup melalui-Nya
dan lantaran karunia dan rahmat-Nya aku sanggup menggelar tikar kebahagiaan dalam hatiku.

Allah berfirman, “Mintalah apa pun yang kau kehendaki.”


Aku berkata, “Aku menghendaki-Mu karena karya-Mu lebih mulia daripada kedermawanan-
Mu serta lebih agung daripada kemurahan hati-Mu. Karena Engkau telah mendapatkan
kerelaan dalam diri-Mu. Karena Engkau milikku, maka telah kugulung lipatan kedermawanan
dan kemurahan hati-Mu. Jagalah aku bukan dari-Mu dan shalatlah bukan di depanku yang
derajatnya lebih rendah daripada Engkau.”

Sejenak Dia tidak memberiku jawaban. Lalu, seraya mengenakan mahkota kemurahan hati
di atas kepalaku, Dia menyampaikan firman,
“Kebenaran yang kau bicarakan dan kenyataan yang kau cari karena kau telah
menyaksikan kebenaran dan mendengarnya.”

Aku berkata, “Jika aku telah menyaksikan melalui Engkau, maka aku mendengar pun
melalui Engkau. Pertama, Engkau yang mendengar, baru kemudian aku.”

Aku pun menyanjungkan segala puja kepada-Nya. Dan, Dia memberiku jubah sayap-sayap
keagungan sehingga aku sanggup terbang di sekitar arena keagungan-Nya dan menyaksikan
berbagai keajaiban karya-karya-Nya. Karena mengetahui kelemahan dan kebutuhanku, Dia
memperkuat diriku dengan kekuatan-Nya sendiri dan menghiasiku dengan perhiasan-Nya
sendiri pula.

Dia mengenakan mahkota kebesaran di kepalaku dan membukakan untukku pintu istana
keesaan-Nya. Ketika Dia mengetahui bahwa sifat-sifatku lenyap tertelan sifat-sifat-Nya, Dia

16
menganugerahiku nama-Nya sendiri dan memberiku kedirian-Nya sendiri. Maka, lenyaplah
keduaan [dualisme] dan muncul ketunggalan [singleness].

Allah berfirman, “Kebahagiaan Kami terletak pada kebahagiaanmu dan kebahagianmu


adalah juga kebahagian Kami. Ucapanmu tak berbaur dengan kecemaran dan tak ada yang
mewajibkanmu untuk bergabung dengan ke-Aku-an-Ku.”

Kemudian Dia menciptakan rasa dalam diriku untuk bertaut dengan kecemburuan [stab of
jealousy] dan Dia menghidupkanku kembali. Aku lahir kembali dalam kesucianku setelah Dia
membakarku. Lalu, Dia berfirman,

“Milik siapa Kerajaan ini?”


“Milik-Mu.”
Firman-Nya, “Milik siapa Perintah itu?”
Aku menjawab, “Milik-Mu.”
Tanya-Nya lagi, “Milik siapa Pilihan ini?”
Jawabku, “Milik-Mu.”

Karena kata-kata itu sangat mirip dengan kata-kata yang Dia dengar pada awal negosiasi,
maka Dia ingin menunjukkan kepadaku bahwa rahmat-Nya tidak terdahulukan, kreasi-Nya
tidak akan pernah berhenti. Semua itu tidak lain karena dan demi cinta, dan kemahakuasaan-
Nya akan melebur segala sesuatu. Dia menatapku dengan pandangan menusuk melalui media
paksaan dan sekali lagi, tidak satu pun jejak yang terlihat oleh-Nya.

Dalam mabukku, aku ceburkan diriku ke setiap lembah, aku leburkan diriku dalam setiap
papan peleburan, di dalam api kecemburuan. Aku lari pontang-panting laksana seekor kuda
yang berlari kencang menembus rimba belantara. Tak ada permainan yang lebih baik yang aku
lihat kecuali kemiskinan yang sangat dan tak kutemukan apa pun kecuali ketidakberdayaan
yang amat.

Tak kulihat sinar lampu apa pun kecuali keheningan dan tak satu suara pun yang aku
dengar kecuali kebisuan. Aku menjadi seorang penghuni istana keheningan. Aku lapisi diriku
dengan sikap keteguhan sehingga materi-materi pun mencapai hakikatnya. Dia melihat sisi
lahir dan batinku retak. Dia singkap celah kelegaan dalam dadaku yang gelap dan memberiku
lidah kelepasan dan kesatuan.

Kini, aku mempunyai lidah rahmat yang abadi, hati cahaya ketuhanan dan mata karya
Tuhan. Dengan pertolongan-Nya aku berbicara dan dengan kekuatan-Nya aku mengetahui.
Karena aku hidup melalui-Nya, maka aku takkan pernah mati. Karena aku telah menggapai
tingkatan ini, maka keadaan dan ungkapanku abadi, lidahku adalah lidah kesatuan dan jiwaku
adalah jiwa yang bebas.

Bukan dariku jikalau aku berbicara, sebab aku hanyalah penyambung belaka. Aku juga
bukan berbicara melalui diriku, sebab aku hanya sekadar pengingat. Dia menggerakkan
lidahku menurut kehendak-Nya, dan aku bukan apa pun kecuali seorang musafir. Sebenarnya,
yang berbicara adalah Dia, bukan aku.

Setelah mengagungkanku, kini Dia berfirman lagi,


“Makhluk-makhluk yang lain ingin melihatmu.”
Aku menyahut, “Aku tak berkehendak untuk melihat mereka. Bila Engaku hendak
membawaku ke hadapan mereka, maka aku takkan menentang-Mu dan aku sendiri sama
sekali tak berada di sana.”

Allah memberi jaminan kepada kehendakku itu. Dia kenakan mahkota kebesaran di
kepalaku sehingga aku melampaui hakikat ragaku. Lalu, Dia berfirman, “Tampillah di depan
makhluk-makhluk-Ku.”

17
Aku pun melangkahkan kaki di hadapan mereka. Akan tetapi, pada langkah kedua aku
terjatuh dan kepalaku membentur tanah. Aku mendengar seruan,
“Bawa kembali kekasih-Ku itu karena ia tak dapat melakukan perbuatan tanpa Aku dan ia
tak mengetahui jalan kecuali dengan bimbingan-Ku.”

Abu Yazid juga mengisahkan kisah berikut. Ketika aku mencapai ketunggalan, saat itu kala
pertama kali aku melihat Zat Yang Esa, sebab selama bertahun-tahun aku telah mengembara
di bebukitan untuk mencapai ma’rifat sampai-sampai aku menjadi seekor burung yang
raganya adalah ketunggalan [Oneness] dan sayap-sayapnya adalah kekekalan
[Everlastingness]. Aku terbang di cakrawala yang tak terkondisikan. Tatkala aku lenyap dari
tatapan segala makhluk, aku berkata,
“Aku telah mencapai Sang Pencipta.”

Kemudian aku angkat kepalaku dari lembah ketuhanan. Aku menenggak segelas minuman
untuk melepas dahaga yang tak pernah memuaskannku dalam kekekalan. Lalu, selama 30 ribu
tahun aku terbang [menjelajah] di kawasan ketunggalan-Nya yang luas dan selama 30 ribu
tahun lagi aku melayang di atas ketuhanan serta selama 30 ribu tahun lagi aku terbang dalam
ketunggalan. Ketika masa 90 ribu tahun itu nyaris berakhir, aku melihat Abu Yazid, dan segala
yang aku lihat adalah Aku.

Lantas, aku menjelajah 4000 rimba belantara hingga mencapai ujung [akhir]-nya. Kala
kutatap diriku, ia berada pada tingkat kenabian [sejajar dengan tingkat para Nabi]. Sejenak
aku lanjutkan pengembaraanku di alam tak terbatas itu seraya berkata, ‘Tak seorang pun
pernah mencapai tingkatan lebih tinggi dari tingkatan ini. Tak ada derajat lebih mulia dari
derajat ini.”

Ketika kuperhatikan dengan sangat dan cermat, aku melihat diriku tengah menapakkan
kaki di atas jejak seorang Nabi. Lalu, aku pun menyadari bahwa akhir tingkatan para sufi tidak
lain adalah awal tingkatan para Nabi. Sedang ujung tingkatan para Nabi tidak diketemukan
istilahnya.

Lalu, jiwaku mentransenden ke seluruh kawasan Allah, sementara Surga dan Neraka
nampak dari tempat itu, namun jiwaku tak memperdulikannya. Apa pun yang nampak di
hadapannya, ia tak akan dapat menderita. Tanpa salam, ia takkan dapat mencapai jiwa Nabi.
Ketika ia mencapai Ruh Allah yang terpilih, dan kepada-Nya ia mengucapkan salam, ia melihat
100 ribu lautan api tanpa ujung serta 1000 tabir cahaya. Jika aku celupkan kaki ini ke dalam
lautan api yang pertama, maka aku tentu telah dilahapnya dan itu berarti aku pasrahkan diriku
untuk hancur dan lebur.

Oleh karena itu, aku menjadi bingung diikuti rasa segan dan kacau karena serasa hampa.
Kendati aku telah berusaha dan berkehendak untuk melihat pasak perkemahan Muhammad
Rasulullah sekalipun, namun aku tak berani melakukannya. Sungguh pun aku telah mencapai
dan melihat Allah, namun aku tidak berani untuk melihat [mencapai] Muhammad.

Kemudian Abu Yazid mengatakan, “Ya Allah, apa pun yang telah aku lihat, segalanya
adalah Aku. Selama Aku tetap dalam keadaan begini, maka aku tidak memiliki jalan untuk
menuju-Mu. Tidak ada transendensi jiwa bagiku. Apakah yang harus aku lakukan?”

Lalu datang perintah, “Agar kau melepaskan diri dari kedirianmu, maka ikutilah hamba-Ku
yang terkasih, Muhammad. Gosok matamu dengan debu yang diinjaknya dan susuri terus
langkahnya.”

Abu Yazid dan Yahya Ibn Muadh

Yahya Ibn Muadh mengirim surat kepada Abu Yazid sebagai berikut:

18
“Apa yang engkau katakan tentang seseorang yang menenggak secangkir anggur lalu
mabuk dan merasa dirinya diombang-ambingkan dari satu kekelaan ke kekekalan lain?”
Abu Yazid menjawab, “Aku tidak tahu. Yang aku ketahui adalah demikian, ada seseorang
yang semalaman suntuk dan sehari penuh mengarungi samudera kekekalan ke kekekalan,
kemudian menginginkan kekekalan itu kembali.”

Yahya mengirim surat kembali, “Aku ingin menyingkap suatu rahasia kepadamu, namun,
aku ingin pertemuan kita di Palestina. Di bawah bayang-bayang pohon tuba aku akan
menceritakan rahasia itu padamu.” Dalam suratnya yang lain ia mengatakan, “Tuan harus
memakan roti itu sendiri karena aku mengadonnya dengan air sumur Zamzam.” Bersama
surat itu ia memang mengirimkan sepotong roti.

Menanggapi surat dan ajakan itu, Abu Yazid mengatakan, “Karena engkau telah
menyebutkan tempat pertemuan kita, maka dengan seijin-Nya, sekarang pun aku telah berada
di Surga dan dan berada di bawah naungan pohon Tuba. Namun demikian, aku tidak dapat
memenuhi permintaanmu berkaitan dengan roti itu. Engkau memang menyebutkan dengan
apa roti itu diadon, tetapi engkau tidak menerangkan benih apa yang engkau taburkan.”

Lalu, Yahya Ibn Muadh merasa amat rindu untuk berkunjung menjumpai Abu Yazid. Ia
sampai ke tempat yang dituju tepat ketika Abu Yazid sedang menunaikan shalat sebelum tidur.

“Aku tak mungkin mengganggunya saat itu,” ujar Yahya. “Namun aku juga tak kuasa
menunggunya sampai pagi. Kemudian aku keluar menuju suatu tempat di padang pasir yang
kata orang digunakan Abu Yazid untuk menunaikan shalat. Di situ aku melihat Abu Yazid
tengah melaksanakan shalat sebelum tidur. Sampai hari berikutnya ia tetap tegak di atas
ujung kakinya. Dengan kagum dan ta’jub aku terduduk dan mendengar desah bacaannya
dalam shalat sepanjang malam. Saat fajar menjelang, ia memanjatkan doa, “Aku memohon
akan perlindungan-Mu, meminta-Mu di tempat peribadatan ini.”

Lalu, Yahya menghaturkan salam kepada Abu Yazid dan bertanya kepada-Nya tentang apa
saja yang ia alami sepanjang malam.
“Lebih dari 20 tempat peribadatan yang telah aku singgahi,” ujar Abu Yazid. “Akan tetapi,
tak satu pun dari mereka yang aku kehendaki karena semuanya merupakan tempat yang
menghijab hubunganku dengan-Nya.”

“Tuan, mengapa tuan tidak memohon untuk dapat mencapai ma’rifat dengan mengatakan
bahwa Dia adalah Raja dari sekalian raja yang menyampaikan firman, “Mintalah apa saja yang
engkau kehendaki?” tanya Yahya.

“Diam!” bentak Abu Yazid. “Aku mencemburui diriku sendiri untuk mengenal-Nya karena
aku tak menginginkan sesuatu kecuali Dia mengenal diri-Nya. Di manakah pengetahuan-Nya,
dan apa yang harus aku lakukan untuk mengantarkannya [menjadi perantaranya]? Yahya,
sungguh Dia yang menghendaki, sungguh hanya Dia yang berkehendak, bukan yang lain.
Hanya Dia yang mesti mengetahui-Nya.”

“Demi keagungan Allah,” Yahya merajuk, “beri aku jaminan beberapa bagian dari karunia
yang engkau peroleh semalam.”
“Jika engkau diberi pilihan sebagaimana Adam, kesucian Jibril, kekariban Ibrahim,
kerinduan Musa, kesucian Isa, dan kecintaan Muhammad,” demikian timpal Abu Yazid, “maka
engkau belum juga merasa puas. Engkau pasti akan meminta lebih dari itu yang mengatasi
segala sesuatu. Arahkan pandanganmu ke atas dan bukan ke bawah, sebab andaikata engkau
menatap ke bawah, engkau pasti menemukan tabir.”

Abu Yazid dan Muridnya

19
Di Bistam, ada seorang sufi yang tergabung dengan para sufi terkemuka di kota itu. Ia
mempunyai banyak pengikut dan pengagum. Ia juga tak pernah absen dari lingkungan Abu
Yazid. Bersama rekan-rekannya, dengan khusyu’ ia mendengarkan ceramah-ceramahnya.

Pada suatu hari, ia berujar pada sang guru,


“Guru, hari ini genap 30 tahun aku menjalankan puasa. Setiap malam di sepanjang waktu
itu juga aku tidak pernah tidur karena menunaikan shalat. Namun demikian, aku belum
menemukan jejak diriku untuk mencapai ma’rifat yang engkau sampaikan itu. Untuk mencapai
ma’rifat itulah aku menyukai pengetahuan dan ceramah yang kau sampaikan.”

“Kendati selama 300 ribu tahun engkau menjalankan puasa di sepanjang hari dan
menunaikan shalat di sepanjang malam, namun engkau tidak akan pernah memahami sedikit
pun dari pelajaran ini,” Abu Yazid menyahut.

“Mengapa?” sang murid bertanya.


“Karena engkau tertutup oleh dirimu sendiri,” kata Abu Yazid.
“Obat apa yang dapat menyembuhkannya?” tanya sang murid.
“Kau tidak akan pernah mendapatkannya,” jawab Abu Yazid.
“Aku bisa mendapatkannya,” kata murid itu. “Tolong katakan padaku agar aku dapat
melacak dan mencarinya.”

“Baik,” sang guru menyahut.


“Sekarang juga pergi dan potong rambut dan jenggotmu. Lepas pakaian yang kau
kenakan dan kenakan pakaian dari bulu domba sebatas pinggangmu. Gantungkan sebuah tas
yang berisi buah pala di sekeliling lehermu, lalu pergilah ke pasar. Kumpulkan anak-anak
sebanyak mungkin dan katakan pada mereka, ‘Aku akan memberi sebuah pala kepada siapa
pun yang menamparku.’ Putarilah seluruh sudut kota pada jalan yang sama, terutama pergilah
ke tempat di mana orang mengenalmu. Itulah obat penyembuhmu.”

“Segala kebesaran hanya milik Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia,” murid itu berkata usai
mendengar kata-kata yang dilontarkan Abu Yazid.
“Bila seorang kafir mengucapkan kata-kata itu, ia pasti menjadi seorang yang beriman,”
Abu Yazid menimpali. “Namun, dengan menyebutkan kata-kata itu, engkau telah menjadi
seorang pemuja banyak Tuhan [politheis].”
“Mengapa begitu?” tanya sang murid.
“Karena kau anggap dirimu sendiri terlalu mulia untuk sanggup melaksanakan kata-
kataku,” timpal Abu Yazid. “Karena itu, engkau telah menjadi seorang politheis. Engkau
ungkapkan kata-kata tadi untuk menyingkap kepentinganmu sendiri, bukan untuk dan demi
mengagungkan Allah.”

“Aku tidak bisa melakukan hal itu,” sang murid mengajukan protes. “Beri aku syarat yang
lain.”
“Bukankah aku telah katakan bahwa kau pasti tidak akan melakukannya, sebab engkau
memang tidak pernah mematuhiku?” Abu Yazid mengakhiri pembicaraannya.

Beberapa Anekdot Abu Yazid

Abu Yazid mengatakan, “Selama 12 tahun aku menempa jiwaku. Aku libatkan jiwaku
dalam disiplin yang ketat sehingga ia merah membara lantaran tempaan yang berat. Lalu, aku
tempatkan ia di jurang penyesalan dan aku bebani ia dengan cerca dan celaku sehingga aku
dapat melihatnya di depan cermin. Selama lima tahun aku menjadi milik cermin itu dan
kupoles ia dengan segenap perilaku baik dan taat. Setelah itu, aku menatap pantulanku
selama satu tahun dan kulihat di pinggangku lilitan khayal kekufuran, gaya dan penghormatan
diri karena aku menumpukkan kepercayaanku pada segenap kepatuhanku serta tindakanku
yang benar.

20
Lima tahun berikutnya, aku cucurkan keringatku sampai lilitan itu terputus dan aku
menjadi seorang Muslim yang baru. Aku memandangi semua makhluk yang terkubur. Aku
mengucapkan Allahu Akbar, kuulang sampai empat kali untuk mereka, lalu kembali dari
pemakaman tanpa desakan mereka. Namun, dengan bantuan Allah aku menggapai-Nya.”

Kapan saja Abu Yazid sampai di pintu Masjid, ia pasti berdiri tegak sejenak dan menangis.
Dan, pada suatu ketika ia ditanya seseorang,
“Mengapa engkau menangis?”
“Karena aku merasa diriku ini seperti seorang wanita yang tengah menstruasi. Ia malu
untuk masuk ke Masjid dan meramaikannya,” Abu Yazid memberikan jawaban.

Dalam suatu peristiwa, Abu Yazid membatalkan kepergiannya ke Hijaz, namun sebentar
kemudian ia melanjutkan kembali perjalanan itu, kendati lalu pulang kembali.
“Sebelum ini engkau tidak pernah membatalkan maksud dan tujuanmu. Mengapa
sekarang engkau membatalkannya?” tanya seseorang.

Jawabnya, “Baru saja aku melangkahkan kaki dan menghadapkan wajah ke jalan raya,
seseorang berkulit hitam berdiri tegak menghadangku dengan pedang terhunus. Ia
membentak, ‘Bila kau kembali, maka kau akan selamat. Namun, jika kau teruskan
perjalananmu, maka tentu kupenggal kepala dan kubelah badanmu. Engkau telah
meninggalkan Allah di Bistam. Engkau telah mencampakkan Rumah Suci-Nya.”

“Seseorang menghadangku di tengah jalan,” kisah Abu Yazid.


“Akan ke mana engkau pergi?” ia bertanya.
“Aku akan pergi haji,” jawabku.
“Berapa banyak bekal dirham yang kau punyai?”
“200 dirham,” jawabku.
“Berikan semua padaku,” perintahnya. “Aku seorang laki-laki yang telah berkeluarga.
Putari aku tujuh kali, maka berarti kau telah menunaikan ibadah haji.”
“Aku pun melaksanakan perintahnya kemudian pulang.”

Pir Omar menceritakan kisah berikut. Ketika Abu Yazid bermaksud untuk pergi ke tempat
pengasingannya, yakni untuk menjalankan peribadatan dan i’tikaf [meditasi], ia memasuki
pondokannya, dan menutup setiap celah dengan seksama.
“Aku kuatir,” demikian katanya, “bila ada suara atau kegaduhan yang dapat
menggangguku.”
Tentu saja dalih itu adalah alasan yang dicari-cari belaka.

Isa dan Bistami mengisahkan sebagai berikut. “Aku bergabung dengan Syeikh [Abu Yazid]
selama tiga belas tahun, namun aku tidak pernah mendengar ia mengucapkan kata tunggal.
Kebiasaannya adalah meletakkan kepalanya di lututnya. Lalu, ia pasti menegakkan kembali
kepalanya, menghirup napas panjang dan kembali ke tempat meditasinya.”

Sahlagi mengisahkan keadaan Abu Yazid tatkala ia tengah berada pada tingkat kontraksi
[state of contraction]. Pada hari-hari tertentu dikala ia mencapai tingkat ekspansi [state of
expansion], orang-orang mengerumuninya dan memanfaatkan apa pun yang keluar dari
percakapannya.

“Suatu ketika,” demikian lanjut Sahlagi, “Abu Yazid mengucapkan kata-kata berikut dikala
ia dalam pengasingannya. ‘Segala keagungan hanya milikku! Betapa besar keagunganku itu!’
Tatkala ia sendirian, murid-muridnya mengatakan kepadanya bahwa ia mengucapkan kata-
kata,

‘Allah adalah musuhmu dan Abu Yazid juga musuhmu,’ seusai ia mengucapkan kata-kata
tersebut di atas, sambung Abu Yazid, ‘Jika aku mengucapkan kalimat yang sama, maka

21
potonglah aku sampai berkeping-keping.’ Kemudian ia menyerahkan pisau kepada murid-
muridnya sambil mengatakan, ‘Bila kalimat itu keluar lagi dari mulutku, maka potonglah aku
dengan pisau-pisau ini.”

“Untuk kedua kalinya, Abu Yazid mengucapkan kata-kata serupa sembari meneteskan
keringat yang mengucur deras. Dan seluruh sisi dan dinding apartemen itu dipenuhi dengan
jasad Abu Yazid. Murid-muridnya pun segera memukul dan menghantam bata-bata itu dengan
pisau. Akan tetapi, pisau-pisau itu tidak mengenai sasaran kecuali seperti terantuk dan
tertancap pada air. Tak ada satu pukulan pun yang berarti.

Beberapa saat kemudian rupa yang memenuhi dinding itu mengerut sementara Abu Yazid
muncul hanya sebesar burung gereja yang tengah duduk di tempat shalat. Lalu, sahabat-
sahabatnya memasuki ruangan itu dan mengisahkan kejadian yang baru saja berlalu. Abu
Yazid sendiri memberikan sahutan, “Abu Yazid yang sekarang ini kalian lihat bukanlah Abu
Yazid.”

Suatu waktu, Abu Yazid mengambil sebuah apel merah dan mengamat-amatinya.
“Apel ini sungguh bagus,” begitu komentarnya.
Tiba-tiba ada sahutan yang membisikinya,
“Abu Yazid, tidak malukah engkau untuk menyamakan nama-Ku dengan sifat sebuah
apel?”
Sejak saat itu, selama 40 hari ia kehilangan ingatan tentang nama Allah. Karena itu, ia
berrsumpah,
“Sepanjang hidupku aku tidak akan pernah lagi memakan buah Bistam.”

“Suatu hari,” demikian Abu Yazid menuturkan kisahnya, “aku sedang asyik duduk dan
merenung. ‘Aku sufi terbesar abad ini.’ Lantas aku berfikir bahwa aku telah melakukan
kesalahan besar dan fatal. Kemudian aku bangkit dan berjalan menuju Khurasan. Di
penginapan, aku bersumpah bahwa aku tidak akan meninggalkan tempat ini kecuali jika Allah
telah mengutus seseorang untuk menyingkap diriku yang sebenarnya.

“Selama tiga malam aku berada di tempat itu. Pada hari keempat, nampak seseorang
bermata satu datang mendekatiku dengan menumpang seekor unta. Usai melihatnya dalam
jarak yang dekat, aku melihat tanda-tanda perhatian Allah. Aku isyaratkan agar unta itu pun
turut berteduh. Dan tiba-tiba saja unta itu segera bersimpuh di tanah.

“Pemiliknya menatapku dan berkata, ‘Engkau mengundangku untuk datang kemari agar
dapat membukakan mata yang telah tertutup, membuka pintu yang terkunci, serta bergabung
dengan warga Bistam untuk mengiringi Abu Yazid?”

“Aku jatuh pingsan, ‘Dari mana engkau datang?’ tanyaku pada orang itu. ‘Sebab, ketika
engkau mengucapkan sumpah, aku telah mendatangi 3000 perkumpulan.’ Lalu, pengunjungku
bertambah, ‘Abu Yazid, koreksilah hatimu!’ Setelah mengucapkan demikian, ia memalingkan
muka dariku dan berlalu.”

Zu Nun Al-Misri mengirimkan sajadah kepada Abu Yazid, namun Abu Yazid
mengembalikannya.
“Apa gunanya sajadah itu untukku?” bantahnya. “Kirimi aku bantal untuk menyandarkan
kepala dan punggungku!” [Bantahan disampaikan sebagai peringatan bahwa ia telah
menyusur jalan di atas tingkat shalat dan telah mencapai tujuannya].

Maka, Zu Nun mengirimkan sebuah bantal yang baik. Namun, Abu Yazid juga menampik
dan mengembalikannya sebab kala itu ia telah mencair dan tak ada lagi yang tersisa padanya
kecuali kulit dan tulang.
Katanya, “Seseorang yang telah memiliki sandaran kebajikan dan cinta kasih Allah tidak
memerlukan bantal dari hamba-Nya.”

22
Abu Yazid mengisahkan, “Pada suatu malam aku merentas padang pasir dan singgah
[bermalam] ditengah perjalanan dengan menutup kepalaku sebagaimana biasa. Tiba-tiba ada
bisikkan dari seseorang yang memintaku untuk bersuci. Padahal, cuaca kala itu teramat dingin
sehingga aku malas dan enggan untuk memenuhi ajakan itu. ‘Tunggu sampai mentari
memancarkan cahayanya,’ demikian kata jiwaku.

“Mengetahui jiwaku yang tak mau mematuhi perintah agama, aku pun bangkit dan
memecahkan es dengan jubahku lantas mensucikan diriku. Jubah itu menjadi basah kuyup.
Namun, ketika aku mendekat pada jubah itu, ia telah kering kembali.”

Abu Yazid tidak jarang mengunjungi berbagai makam. Suatu malam, ketika pulang dari
suatu makam, ia berjumpa dengan seorang pemuda gagah perkasa tengah memainkan suling
[kecapi]. “Semoga Allah menyelamatkan kita,” begitu Abu Yazid berkata. Anak muda itu segera
melemparkan kecapi itu ke kepala Abu Yazid sehingga kepala dan kecapi sama-sama terantuk.
Anak muda itu sebenarnya dalam keadaan mabuk karena itu, ia tidak tahu siapa yang
dilempar dengan kecapi itu.

Abu Yazid lalu kembali ke tempat kediamannya dan menanti fajar pagi. Lantas, ia berkata
kepada salah seorang kawannya,
“Apa yang dilakukan seseorang pada sebuah kecapi?”
Kawan itu menyarankan agar Abu Yazid membungkus dengan kain, sejumlah uang, dan
sepotong manisan, untuk dikirimkan kepada anak muda tersebut.

Lalu, ia menambahkan, “Sampaikan pada pemuda gagah itu bahwa Abu Yazid meminta
maafnya. Katakan padanya, “Tadi malam engkau memukulku dengan kecapi itu hingga
kecapimu pecah. Terimalah uang ini sebagai ganti rugi dan belilah kecapi lain dengan sisa
uang yang ada. Sedangkan manisan ini sebagai pelipur duka lantaran kecapimu yang pecah.”

Tatkala anak muda itu mengetahui apa yang telah dilakukannya, maka segera ia pergui ke
kediaman Abu Yazid dan memohon ampunan. Ia pun bertobat diikuti banyak rekan muda
lainnya.

Suatu hari, Abu Yazid berjalan disertai sekelompok muridnya. Di jalan sempit yang mereka
lintasi ada seekor anjing yang muncul dari arah yang berlawanan. Abu Yazid surut ke belakang
untuk memberi jalan pada anjing itu.

Salah seorang muridnya menganggap tindakan itu sebagai suatu cela, katanya, “Allah
Yang Maha Agung memuliakan manusia di atas makhluk-makhluk lain. Abu Yazid adalah sufi
terbesar, namun, dengan segenap kebesaran dan diiringi murid-muridnya, ia memberi jalan
pada seekor anjing. Mengapa demikian?”

“Anak muda,” timpal Abu Yazid, “dengan tak terduga, anjing itu muncul di depanku,
kekurangan atau kerugian apa yang aku peroleh saat itu dan keuntuntungan apa yang kau
dapat pada saat yang sama jikalau aku mengenakan kulit anjing, sedang engkau sendiri
menganggapku sebagai raja sekalian sufi” Pikiran itulah yang ada dalam benakku sehingga
aku memberikan jalan pada seekor anjing.”

Tatkala Abu Yazid tengah menyusur jalan, seekor anjing tiba-tiba berlari dan mendekat di
sisinya. Abu Yazid pun segera menarik pakaian yang dikenakannya.

“Jika aku kering,” demikian anjing itu berbisik, “maka tak ada bahaya apa pun yang lahir
dariku. Bila aku basah, maka engkau harus basuh bekas sentuhanku dengan tujuh kali air dan
tanah. Namun, jika engkau menarik pakaianmu seperti orang Pharisee, maka engkau takkan
menjadi orang yang bersih kendati telah mandi dengan tujuh lautan.”

23
“Engkau kotor di segi lahir, sedang aku kotor di segi batiniahku. Mari kita jalan sama-sama
agar dengan penyatuan ini kita dapat menjadi makhluk yang bersih,” begitu kata Abu Yazid.

Namun anjing itu menyahut, “Engkau tidak layak untuk menjadi kawan yang berjalan di
sisiku, karena aku ditolak oleh seluruh manusia, sementara engkau memeperoleh sambutan
baik dari mereka. Siapa pun yang menjumpaiku pasti melempariku dengan batu, sedang siapa
pun yang berjumpa denganmu pasti menganggapmu sebagai raja para sufi. Aku tak pernah
menyimpan sebatang tulang pun untuk esok, sedang engkau meiliki sekarung gandum untuk
hari esokmu.”

Abu Yazid berkata, “Aku memang tidak pantas untuk berjalan dengan seekor anjing,
sebab, bagaimana mungkin aku bersanding dengan Zat Yang Maha Kuasa dan Abadi jika aku
disertai oleh salah satu makhluk-Nya? Segala kebesaran hanya milik Allah yang telah mendidik
makhluk terbaik-Nya dengan perantaraan makhluk-Nya yang terjelek!”

Lanjutnya, “Aku dirundung duka hingga nyaris putus harapan menjadi hamba-Nya yang
taat. Aku berkata pada diri sendiri, ‘Aku akan pergi ke pasar untuk membeli korset [sesuatu
yang dipakai oleh bukan Muslim] untuk mengikat pinggangku sehingga reputasiku akan lenyap
dari tatapan manusia.’ Sampai di pasar, aku melihat seutas korset tergantung pada sebuah
toko. ‘Mereka akan memberikan korset itu padaku jika aku membayar satu dirham,’ begitu
bisikku pada diri sendiri.

Lalu, aku bertanya, “Berapa harga korset ini?” Dan penjaga toko itu menjawab, ‘Seribu
dinar’. Aku pun terkejut seraya menundukkan kepala hingga mendengar sebuah suara
menyahut dari langit, “Tidakkah kau menyadari bahwa mereka tidak akan memberikan korset
itu dengan ganti ongkos kurang dari seribu dinar untuk kau kenakan sebagai pelilit [pengikat]
pinggangmu?” Hatiku berbunga sebab aku menyadari bahwa Allah menjaga dan
memperhatikan hamba-Nya.”

Suatu malam, Abu Yazid bermimpi bahwa para malaikat penghuni langit turun ke bumi.
“Bangunlah,” begitu kata mereka, “marilah kita memberi ucapan selamat kepada Allah.”
“Aku tak punya lidah untuk memberi selamat kepada-Nya,” jawab Abu Yazid.
Para malaikat penghuni langit kedua juga turun ke bumi dan mengatakan hal yang sama.
Namun, Abu Yazid juga memberikan jawaban serupa. Demikian seterusnya sampai para
malaikat penghuni langit ke tujuh. Akan tetapi, jawaban Abu Yazid tak berubah.
“Baik,” kata mereka, “kapan engkau mempunyai lidah untuk menyampaikan ucapan
selamat itu?”
Jawab Abu Yazid, “Jika para penghuni Neraka tetap di Neraka, para penghuni Surga tetap
di Surga, serta Hari Penghabisan telah berlalu, maka Abu Yazid akan mengelilingi singgasana
Allah dan berseru, Allah, Allah!”

Salah seorang tetangga Abu Yazid adalah pemeluk agama Zoroaster. Anak lelakinya yang
masih kecil menangis karena di rumahnya tak ada lampu. Abu Yazid membawa lampu ke
rumah itu sehingga sang anak berhenti menangis.
“Karena Abu Yazid telah datang,” begitu kata keluarga itu, “dan sinarnya telah menerangi
kita, maka tak layak kita tetap terjebak dalam kegelapan kita.” Sejak saat itu, mereka menjadi
pengikut Islam.

Suatu malam, Abu Yazid tidak menemukan kenikmatan dalam beribadah.


“Coba lihat dan cari jikalau ada suatu nilai dalam rumah ini,” kata Abu Yazid pada
muridnya.
Usai mencari-cari, murid-muridnya menemukan separuh ikat anggur.
Abu Yazid pun segera memberi perintah, “Ambil dan buang saja buah itu. Rumahku bukan
toko buah-buahan.” Abu Yazid pun memperoleh ketenangannya kembali.

24
Pada suatu hari, datanglah seorang lelaki yang melapor kepada Abu Yazid, “Ada seorang
lelaki yang telah melintas Tabarestan. Di sana aku melihatmu bersama Khidir, semoga Allah
melimpahkan keselamatan kepadanya. Dia meletakkan tangannya di lehermu, sementara
engkau menaruh tanganmu di punggungnya. Ketika orang-orang yang berduka cita telah
kembali dari makam, aku melihatmu membumbung tinggi ke udara.”
“Ya,” kata Abu Yazid. “Benar apa yang kau katakan.”

Ada seseorang yang tidak percaya kepada Abu Yazid. Suatu hari, ia berkunjung kepadanya
untuk mengujinya.
“Tolong berikan aku cara penyelesaian terhadap masalah ini,” begitu katanya.
Abu Yazid menangkap adanya keraguan pada diri orang itu. Maka ia segera berkata,
“Salah seorang kawanku tinggal di gua itu. Mintalah jawaban yang kau perlukan kepadanya.”

Dengan bergegas orang itu pergi ke gua. Di dalam gua itu, ia melihat seekor naga yang
amat besar dan mengerikan. Ia pun menjadi takut hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, ia
dapatkan dirinya telah berada di luar gua. Lalu, ia mendatangi kediaman Abu Yazid, bersimpuh
di hadapannya dan memohon ampunnya.

“Segala keagungan hanya milik Allah!” Abu Yazid memberi sahutan. Engkau tak dapat
menemukan sepatumu lantaran takut kepada makhluk. Bila engkau merasa segan terhadap
Allah, maka bagaimana mungkin engkau dapat memperoleh atau menemukan sesuatu dari
seseorang yang tak kau percayai?”

Di hari lain, seseorang memasuki rumah Abu Yazid dan menanyakan tentang masalah
noda atau malu. Setelah memperoleh jawaban dari Abu Yazid, ia menuju kolam yang berisi air.
Namun, air yang ditemuinya pucat.
“Tuan, apa ini?” tanyanya.
“Ada seseorang yang datang kepadaku dan bertanya tentang malu,” kata Abu Yazid. “Usai
kuberi jawaban, ia tak tahan mendengar apa yang saya ucapkan, lalu berpaling dan
melangkah menuju air lantaran malu.”

Hatim “si Tuli” berkata kepada murid-muridnya, “Siapa pun di antara kalian yang tidak
menjadi perantara para ahli [penghuni] Neraka di Hari Kebangkitan, maka ia bukanlah
muridku.”

Pernyataan itu disampaikan kepada Abu Yazid, yang memberi tanggapan demikian,
“Muridku adalah orang yang tegak berdiri di tepi Neraka dan mengangkat para penghuninya
untuk dipindahkan ke Surga, kemudian ia sendiri terjun ke Neraka menggantikan
kedudukannya.”

Ketika tentara Islam terlibat peperangan dengan Bizantium, mereka nyaris terkalahkan,
namun, tiba-tiba ada suara yang berseru, “Abu Yazid, beri kami pertolongan. Saat itu juga
datang seonggok api dari arah Khurasan sehingga bala tentara kafir tunggang-langgang
ketakutan. Orang-orang Islam pun meraih kemenangan.

Abu Yazid ditanya seseorang demikian, “Cara apa yang kau lakukan untuk meraih derajat
dan mencapai tingkat itu?”
“Suatu malam, ketika aku masih kanak-kanak,” jawab Abu Yazid, “Aku keluar dari Bistam.
Bulan bersinar terang, sementara bumi tenang tenteram. Aku berjumpa dengan Allah. Di sisi-
Nya 18 ribu bumi nampak seperti sepercik embun. Aku dilanda emosi dan kerasukan yang
sangat [ekstase berat].

“Ya Allah,” kataku, ‘begitu besar istana-Mu, namun hampa, tanpa isi! Demikian
menakjubkan karya-Mu, namun betapa sunyi!’ Aku lantas mendengar sahutan dari langit,
‘Istana-Ku hampa bukan karena tak seorang pun mendatanginya. Istana-Ku kosong karena

25
Kami tidak menghendaki semuanya, kendati mereka suka memasukinya. Setiap manusia yang
tak suci tidak berhak menghuni istana-Ku.”

“Aku meneguhkan diri memanjatkan doa untuk seluruh makhluk. Lalu ada pikiran dalam
benakku yang membisikkan,
“Derajat perantaraan hanya dimiliki Muhammad Saw.”

Tatkala aku meneliti sikap dan tingkahku, sebuah suara terdengar membisikkan demikian,
“Karena kritik dariku kepada diriku sendiri dengan memuja namamu [Muhammad], maka
hingga akhir zaman [Hari Kebangkitan] orang akan tetap menyebutmu sebagai Raja kaum.”

“Pertama kali aku memasuki Rumah Suci,” kata Abu Yazid, “aku melihat rumah suci itu.
Kedua kali aku memasukinya, aku berjumpa dengan Allah, Pemilik Rumah itu. Namun, ketika
aku datang ke rumah itu untuk yang ketiga kali, aku tak melihat Rumah maupun
Penghuninya.”

Dengan ungkapan itu, Abu Yazid menghendaki demikian, “Aku kehilangan Tuhan sehingga
aku tak mengetahui apa pun. Kala aku melihat Allah, aku pun menyaksikan semuanya.”

Anekdot berikut membuktikan ungkapan di atas. Seseorang berada di ambang pintu


rumah Abu Yazid.
“Abu Yazid,” terdengar teriakan dari luar.
“Goblok!” bentak Abu Yazid, “Aku sendiri telah mencari Abu Yazid selama 30 tahun, namun
belum juga menemukan jejaknya.”

Jawaban itu disampaikan kepada Zu Nun Al-Misri yang kemudian memberikan komentar,
“Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Abu Yazid. Ia hilang dan larut bersama
dengan orang-orang yang hilang dalam diri Allah.”
Begitu sempurna kehanyutan (fana’) Abu Yazid dalam diri Allah sehingga setiap hari ia
selalu lupa nama muridnya yang telah bergabung dengannya selama 20 tahun. Jika ditanya
tentang nama murid itu, Abu Yazid selalu memberikan jawaban, “Anakku, siapa namamu?”

“Guru,” demikian sang murid pada suatu hari berkata, , “Engkau mengejekku. Selama 20
tahun aku mengabdimu, namun, setiap hari engkau selalu menanyakan namaku.”
“Anakku,” jawab Abu Yazid, “aku tidak mentertawakanmu. Namun, nama Allah telah
merasuk dalam hatiku sehingga menyingkirkan nama yang lain. Manakala aku mendengar
sebuah nama, maka segera saja aku melupakannya.”

Abu Yazid berkata, “Allah Yang Maha Agung memberi ijin kepadaku untuk hadir kepada-
Nya dalam 2000 tingkatan. Dalam setiap tingkatan, Dia menganugerahiku sebuah kerajaan
namun aku menolaknya. Allah pun bertanya kepadaku, “Abu Yazid, apa yang kau kehendaki?
Jawabku, ‘Aku menghendaki untuk tidak berkehendak.”

Orang-orang menegur Abu Yazid,


“Engkau berjalan di atas air!”
“Demikian juga sepotong kayu,” timpal Abu Yazid.
“Engkau terbang di udara!”
“Begitu juga seekor burung.”
“Engkau rambah perjalanan ke Ka’bah dalam semalam.”
“Seorang tukang mantra dapat merentas jarak dari India ke Demavand juga dalam satu
malam.”

“Lalu, tugas apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang benar?’ tanya mereka.
“Orang yang benar hanya mengisi hatinya dengan Allah, tidak yang lain,” jawab Abu
Yazid.

26
Abu Yazid menuturkan kisah berikut.
“Aku benar-benar telah menceraikan dunia dan sendirian pula melangkah menuju ke Zat
Yang Maha Sendiri. Aku berdiri di hadapan-Nya dan berkata, “Ya Allah, aku tidak menghendaki
apa pun kecuali Engkau. Jika aku memiliki-Mu, maka aku telah mempunyai semuanya.”

‘Tatkala Allah mengetahui kejujuranku, keikhlasanku, rahmat pertama yang dicurahkan-


Nya untukku adalah bahwa Dia telah melenyapkan sekam dari diriku.”

Abu Yazid ditanya seseorang,


“Apakah tahta itu?”
“Tahta adalah aku,” jawabnya.
“Apakah tanda peringatan itu?’
“Aku.”
“Allah mempunyai hamba seperti Ibrahim dan Musa serta Isa.”
“Semuanya adalah Aku.”
“Allah memiliki pengabdi seperti Jibril, Mikail, dan Israfil.”
“Semuanya adalah Aku.”

Sang penanya itu terdiam.


“Siapa pun yang telah larut dalam diri Allah,” sahut Abu Yazid, “serta telah mencapai
Realitas Absolut, maka semuanya adalah Tuhan [Allah].”

Dikisahkan bahwa Abu Yazid hadir kepada Allah Yang Maha Agung sebanyak 70 kali. Setiap
kembali dari menghadiri-Nya, ia selalu melilitkan sebuah korset [a girdle] di tubuhnya
kemudian menghancurkannya.

Ketika saat kematiannya telah mendekat, ia duduk di sajadah shalatnya dan mengikatkan
seutas korset di tubuhnya. Ia naik turunkan jaket bulu dan sorbannya. Kemudian ia
mengatakan, “Ya Allah, Ya Allah, aku tidak menunaikan disiplin selama hidupku. Aku tidak
mengerjakan shalat malam sepanjang hidupku. Aku juga tidak melakukan ibadah puasa
maupun membaca Alqur’an selama hidupku.

“Aku pun tidak mengungkapkan suasana hati [jiwa] dan juga tidak memanjatkan doa.
Engkau lebih mengetahui bahwa aku tidak menengok kembali apa yang telah berlalu dan
terjadi., sedangkan apa pun yang telah aku ucapkan bukanlah untuk menyombongkan diri atau
lantaran percaya kepada-Mu. Aku sampaikan semua itu karena aku malu terhadap segala yang
telah aku lakukan.

“Engkau telah memberiku rahmat untuk menatap diriku sendiri. Tidak ada apa pun yang
aku lakukan, dan anggap saja tidak pernah ada. Aku adalah sesepuh Turkoman yang telah
menginjak usia ke 70 diiringi dengan rambut yang memutih.

“Kini aku datang dari padang pasir dengan menyerukan Tangri, Tangri. Hanya pada saat ini
saja aku belajar untuk mengatakan, Allah, Allah. Hanya saat ini aku melebur korsetku. Pada
saat ini saja aku injakkan kaki di atas lahan Islam dan hanya kali ini aku paksa lidahku untuk
mengucapkan bukti kepercayaan atau iman. Apa pun yang Engkau lakukan tak didahului
sebab, sedang apa saja yang Engaku terima tidaklah karena kepatuhan-Mu dan bila Engkau
menolak sesuatu, maka penolakan-Mu bukanlah lantaran keingkaran-Mu.

“Semua yang telah aku kerjakan hanya aku anggap sebagai debu. Segala yang Engkau
lihat padaku tidak memperoleh perkenan di sisi-Mu, bahkan Engkau menarik kata maaf melalui
kehadiran-Mu. Namun, Engkau bersihkan debu keingkaran dari diriku karena aku sendiri telah
membuang debu juga bahwa aku telah mematuhi-Mu. []

27