Anda di halaman 1dari 23

TUGAS MAKALAH AL_ISLAM

Oleh : Nama : Etrinaldi Valent Nim : 100 204 016

Dosen pengasuh : Drs. H. Qamaruzzaman khatab

FAKULTAS MAMEMATIKA DaN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS MUMAMMADIYAH RIAU ( UMRI ) 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah al_Islam ini. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas dan ujian semester bidang studi al_Isalm di Fakultas M.I.P.A Universitas Muhammasiyah Riau. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga, dosen bidang studi, beserta teman-teman yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan makalah yang sederhana ini. Kritik dan saran sangat penulis harapkan guna kesempurnaan makalah ini, dan juga menjadi factor koreksi bagi penulis guna menyusun makalah-makalah yang akan dating. Akhir kata penulis ucapkan syukur dan terima kasih, semoga bermanfaat. Amin.

Padang, Februari 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KONSEP TAJDIH DALAM ISLAM PEMIKIRAN IBNU TAMIYAH PEMIKIRAN IBNU ABDUL WAHAB PEMIKIRAN JAMALUDIN al AFGHANI PERBEDAAN PEMIKIRAN MHD. ABDUL dengan RASYID RIDHO

KONSEP TAJDIH DALAM ISLAM

Sudah menjadi satu keniscayaan bahwa manusia tidak akan baik dan teratur kehidupannya tanpa agama yang benar, sebab itulah timbangan yang benar dan ukuran standar dalam mengenal kebenaran dan keadilan dalam seluruh urusannya. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menyatakan kaidah penting dalam kewajiban berpegang teguh (komitmen) kepada ajaran Rasul dan penjelasan bahwa kebahagian dan petunjuk hanyalah pada ittiba Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan kesesatan dan kesengsaraan pada menyelisihinya. Seluruh kebaikan yang ada, baik yang umum ataupun yang khusus bersumber dari sisi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan seluruh keburukan di alam ini yang khusus berhubungan dengan hamba disebabkan karena menyelisihi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atau ketidaktahuan terhadap ajaran beliau. (Lihat Majmu Al-Fatawa, 19/93). Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah menjelaskan kebutuhan hamba kepada para rasul utusan Allah dalam ungkapan beliau, Tidak ada jalan menggapai kebahagian dan kesuksesan di dunia dan akhirat, kecuali ada di tangan mereka. Tidak ada juga cara mengenal yang baik dan buruk secara terperinci kecuali dari sisi mereka. Demikian juga tidak dapat diraih keridhaan Allah Subhanahu wa Taala sama sekali kecuali di tangan mereka. Yang baik dari perilaku, perkataan dan akhlak hanyalah ada pada petunjuk dan ajaran mereka. Merekalah timbangan yang pas untuk menimbang seluruh perkataan dan perbuatan, serta akhlak manusia dengan perkataan dan perbuatan serta akhlak mereka. Dengan mengikuti mereka terpisahlah orang yang mendapat petunjuk dengan yang sesat. Kebutuhan mendesak kepada para rasul lebih besar dari pada kebutuhan badan kepada ruhnya dan mata kepada cahayanya, serta ruh kepada kehidupannya. Semua kebutuhan yang harus ditunaikan segera, maka kebutuhan mendesak kepada para rasul di atas itu semua. (Lihat Zaad Al-Maad, 1/79).

Beliaupun menambahkan, Apabila kebahagian hamba di dunia dan akhirat bergantung kepada petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka wajib pada setiap orang yang ingin kebaikan untuk dirinya dan ingin kesuksesan dan kebahagian untuk mengetahui ajaran, sejarah hidup dan semua urusan Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang dapat mengeluarkannya dari lingkungan orang-orang bodoh dan memasukkannya ke dalam hitungan pengikut, pendukung dan golongan beliau shallallahu alaihi wa sallam. (Lihat Zaad Al-Maad, 1/79). Dengan demikian, agama yang benar sangat dibutuhkan dalam memperbaiki manusia di dunia dan akhiratnya. Sebagaimana tidak ada kebahagian seseorang di akhirat kecuali dengan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Juga tidak akan baik dalam dunia dan kehidupannya kecuali dengan mengikuti ajaran agama yang benar. Seluruh manusia sangat membutuhkan ajaran agama dalam seluruh keadaannya, karena manusia memiliki dua gerakan; gerakan untuk mendapatkan kemanfaatan dan gerakan untuk menolak dan mencegah ke-mudharat-an. Agama inilah yang menjadi cahaya yang menjelaskan kemanfaatan dan ke-mudharat-an (Lihat Majmu Al-Fatawa, 19/99). Karena itu, Allah Subhanahu wa Taala mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan rasul membawa ajaran Islam yang universal kepada seluruh umat manusia. Allah Subhanahu wa Taala berfirman, Katakanlah, Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimAt-kalimAt-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Araf: 158). Di samping itu juga menjaga agama ini dengan menjaga Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari seluruh upaya pengurangan dan

penambahan. Sehingga, Islam akan menjadi ajaran yang terjaga dan kekal sampai hari kiamat nanti. Ke-bidah-an Semarak Tidak dipungkiri lagi Islam terjaga, namun terkadang pengamalan Islam itu melemah dan terjadi pengurangan dan pertambahan yang dimasukkan ke dalam ajaran yang mulia ini. Karena itu, nampak bermunculan ke-bidah-an dan perkara yang menyelisihi syariat, serta hilangnya beberapa sunnah dengan sebab itu. Kerena lemahnya pengamalan atau bahkan hilangnya pengamalan ajaran Islam pada sebagian besar kaum muslimin, maka umat Islam membutuhkan orang yang memperbarui agama ini dengan mengembalikannya kepada keaslian dan kemurnian ajaran suci ini. Lalu Allah Subhanahu wa Taala yang Maha Pemurah dan Penyayang memberikan anugerah-Nya kepada umat ini dengan dimunculkannya para mujaddid yang mengikuti jejak langkah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar menghidupkan kembali ajaran Islam dan mematikan ke-bidah-an, serta mengembalikan umat ini untuk komitmen terhadap ajaran agamanya yang benar. Tajdid Satu Istilah Syari Istilah At-Tajdid adalah istilah syari yang bersumber kepada hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala mengutus untuk umat ini setiap awal seratus tahun orang yang memperbarui agamanya. (HR. Abu Daud no. 3740 dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah, no. 599). Istilah ini berasal dari bahasa Arab dari kata ( ) dan ( (. ) . Kata Al-Jadid banyak digunakan dalam Alquran dan As-Sunnah atau dalam penggunaan para ulama. Bila kita melihat pengertian etimologi bahasa Arab tentang kata At-Tajdid dan kata turunannya ternyata kembali kepada pengertian menghidupkan ( ) , membangkitkan (

) dan mengembalikan ( ) . Sehingga ada tiga unsur makna yang terkandung dalam kata tersebut yaitu keberadaan sesuatu ( ) kemudian hancur atau hilang ( ) kemudian dihidupkan dan dikembalikan ( ) . (Mafhum Tajdid AdDien, Bisthami Muhammad Said, hal. 18). Karena istilah ini bersumber kepada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka hanya sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sajalah yang dapat menentukan pengertian yang benar terhadap istilah At-Tajdid dan ketentuanketentuannya. Kata At-Tajdid dalam hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam sama dengan pengertian bahasa di atas yaitu menunjukkan pengertian kebangkitan, menghidupkan dan mengembalikan. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu anhu yang berbunyi, Sesungguhnya iman akan rusak di hati salah seorang kalian sebagaimana rusaknya baju, maka mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Taala untuk mengembalikan iman dalam kalbu kalian. Sebuah Pengertian yang Benar Sebuah realita kalau pengertian istilah At-Tajdid banyak diperselisihkan orang dan disimpangkan dari pengertian yang benar. Berapa banyak orang mendefinisikannya dengan beragam definisi yang menyimpang dari islam. Padahal semua mengerti kalau istilah ini bersumber dari hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sehingga pasti pengertian yang benar tentang istilah ini adalah yang dimaksudkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan disampaikan kepada para sahabat. Kemudian Sahabat telah menyampaikannya kepada generasi setelahnya secara bersambung dan estafet. Oleh karena orang yang berhak menjelaskan pengertian istilah syari ini adalah para ulama salaf dari kalangan sahabat, tabiin dan tabiit tabiin serta para imam besar yang sudah terkenal dan masyhur serta diterima kaum muslimin generasi demi generasi.

Berikut ini pernyataan mereka tentang pengertian istilah At-Tajdid secara global (Semua pernyataan dalam masalah ini penulis nukilkan dari kitab Tajdid ad-Din, Mafhum wa Dhawaabith wa Atsaarahu, Prof. DR. Muhammad bin Abdulaziz al-Ali secara ringkas dari hlm. 40-49) : 1. Pengajaran agama dan menghidupkan sunnah-sunnah serta menolak kedustaan atas nama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini dijelaskan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam pengertian tajdid. Beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata, Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk manusia dalam setiap seratus tahunnya orang yang mengajarkan sunah-sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menolak dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam kedustaan. (Lihat Taarikh al-Baghdadi, 2/62). 2. Memurnikan agama, membela akidah yang benar dan menjelaskan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam serta membela ahlinya dan menghancurkan ke-bidah-an. Al-Munaawi rahimahullah ketika menjelaskan tentang tajdid dalam agama menyatakan, Maksudnya adalah menjelaskan sunnah dari bidah, memperbanyak ilmu, membela ahli ilmu dan menghancurkan kebidahan dan merendahkannya. (Lihat Faidh Al-Qadir,2/281). Oleh karena itu, imam Ahmad bin Hambal rahimahullah menyatakan, Diriwayatkan dalam satu hadits bahwa Allah Subhanahu wa Taala mengutus setiap seratus tahun orang yang memurnikan agamanya. (Lihat Shofwat ash-Shofwah, 2/13). 3. Menghidupkan semua yang telah melemah dan menghilang dari maalim (syiar) agama. Juga menghidupkan semua perkara sunnah yang telah hilang dan semua ilmu akidah dan ibadah yang telah samar. Abu Sahli Ash-Shuluuki (wafat tahun 369 H.) pernah berkata tentang tajdid, Allah telah mengembalikan agama ini setelah hilang mayoritasnya dengan Ahmad bin Hambal. (Lihat Tabyiin Kadzib al-Muftari, hal. 53).

4. Menghidupkan ilmu (Ihyaa Al-Ilmi) sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, : Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi: mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, tawil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan. (HR. Ibnu Adi, Al-Baihaqi, Ibnu Asakir, Ibnu Hibban, dll,; dinyatakan berderajat hasan oleh Syeikh Salim bin Ied al-Hilali dalam Hilyatul Alim Al-Muallim, hal. 77, juga oleh Syeikh Ali bin Hasan di dalam At-Tashfiyah wat Tarbiyah). 5. Membangkitkan kembali upaya mengamalkan Alquran dan sunnah Nabi shallallahu alahi wa sallam dalam seluruh sisi kehidupan manusia dan mengembalikan peristiwa dan hal yang baru kepada isi kandungannya. Imam Muhammad bin Sulaiman Al-Alqami (wafat tahun 969 H) menyatakan, Pengertian Tajdid adalah menghidupkan kembali pengamalan Al-Qur`an dan Sunnah serta perintah mengamalkan kandungan keduanya. (Lihat Aunul Mabud, 4/178 dan Faidhul-Qadir 2/281). Sedangkan imam Al-Munaawi menjelaskan sebab perlunya tajdid dalam ungkapan beliau, Hal ini karena Allah Taala menjadikan Nabi shallallahu alahi wa sallam sebagai penutup para nabi dan rasul (Khatamul anbiyawar rusul), padahal peristiwa dan kejadian tak terhitung jumlahnya dan mengenal hukum agama sudah menjadi kelaziman hingga hari kiamat. Disamping itu zhahir nash-nash syariat belum bisa menjelaskannya secara sempurna, bahkan harus ada cara yang sempurna dalam masalah ini, maka hikmah Allah menuntut munculnya satu kaun dari para ulama di awal setiap abad yang menanggung beban menjelaskan kejadian-kejadian tersebut untuk memperlakukan umat ini bersama ulama mereka sebagaimana perlakuan pada bani israil bersama nabi-nabi mereka. (Lihat Faidhul Qadir, 1/10).

6. Tashil Al-Ilmi (membuat kaidah-kaidah dasar ilmu yang benar) dan mengajak orang untuk mengambil agamanya dari sumbernya yang asli melalui para ulama disertai dengan tarbiyah (pendidikan) manusia diatas pemahaman agama yang benar. Demikianlah beberapa pernyataan ulama terdahulu seputar tajdid yang nampaknya berbeda namun memiliki satu kesamaan dalam memahami istilah tajdid ini. Hal ini dapat diungkapkan dalam ungkapan berikut ini:

At Tajdid (pembaharuan agama) adalah menghidupkan kembali yang

telah hilang atau lemah dari pokok-pokok agama (Ushuluddin) dan cabangnya, baik berupa ucapan atau perbuatan dan mengembalikanbnya kepada keadaannya yang benar yang telah diajarkan Al-Qur`an dan sunnah serta menghilangkan semua yang berhubungan dengan agma pada akal manusia dan amalannya berupa kebidahan dan khurafat. (Lihat Tajdidud Dien Mafhumuhu wa Dhawaabituhu wa Atsaaruhu, hal. 46).

At-Tajdid adalah mengembalikan kecemerlangan, keindahan islam dan

menghidupkan yang telah hilang dari sunnah dan syiar-syiar-nya serta mensucikan islam dari ke-bidah-an dan khurafat, juga membersihkannya dari tambahan-tambahan manusia yang masuk padanya dan menebarkan agama ini diantara manusia pada keadaannya yang asli, murni dan suci. (Lihat Asbaabul Akhthaa fit Tafsir DR. Thaahir Mahmud Muhammad Yaqub, 2/786).

At-Tajdid adalah menghidupkan dan menebar syiar-syiar agama

(maaalimuddin) baik yang bersifat ilmiyah maupun amaliyah yang telah dijelaskan nash-nash Alquran dan sunnah serta pemahaman salaf. (Lihat Mafhum Tajdidid Din, hal. 30). Dari tiga kesimpulan ini dapat diambil satu pengertian singkat untuk istilah AtTajdid yang dalam istilah kita adalah pembaharuan agama sebagai upaya mengembalikan umat kepada islam yang tegak diatas Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman salaf umat dari kalangan para sahabat, tabiin dan orang yang mengikuti jejak langkah mereka dalam beragama. Wallahu alam.

PEMIKIRAN IBNU TAMIYAH Ibnu Taimiyah terlahir, dengan nama Ahmad Taqiyuddin Abu al-Abbas ibn alSyeikh Syihab al-Din Abi al-Mahasin Abd al-Halim ibn al-Syeikh Majd al-Din Abi alBarakat Abd al-Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi al-Qasim al-Khidir bin Ali bin Abdullah. tepatnya di Harran 10 Rabiul Awal 661 H./22 Januari 1263 M . Harran adalah sebuah negeri dekat dataran Eropa, terletak antara Dajlah (Tigris) dan Furat (Euphrat). Keluarga baik ini dikenal dengan sebutan (Bani Taimiyah). Ibnu Taimiyah sebuah nama yang sudah masyhur sejak lama, awal mula penamaan Ibnu Taimiyah adalah berawal dari sebuah nama ibu dari Muhammad bin al-Khidir. Disebutkan juga bahwa kakeknya yang bernama Muhammad bin al-Khidir pergi ke gerbang padang sahara (Taiyma), lalu di sana ia melihat seorang anak perempuan kecil bernama Taimiyah, kemudian ketika kembali ke rumahnya, ia mendapatkan istrinya melahirkan seorang anak perempuan, maka ia langsung menamakan anak perempuan yang baru lahir itu dengan nama Taimiyah. Maka seluruh anggota keluarga ini dinisbatkan kepadanya yang kemudian dikenal dengan nama ini. Di dalam metode pemikiran Ibnu Taimiyah, kita akan dihadapkan dengan sebuah istilah 'Salafiah' yang telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap 'salafiah'. Orang-orang yang pro salafiah, baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah, telah membatasinya dalam bingkai formalitas dan kontroversial, seperti masalah-masalah tertentu dalam ilmu Kalam, ilmu Fiqh atau ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalahmasalah kecil dan tidak prinsipil. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa Manhaj Salaf adalah metoda 'debat' dan 'polemik', bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan 'Salafiah' ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan

khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa. Sedangkan pihak yang kontra Salafiah, menuduh faham ini 'terbelakang', senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan fleksibel. Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra Salafiah yang hakiki dari penyerupenyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan 'Salafiah' dan membelanya mati-matian pada masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim dan yang lainnya. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan 'Pembaruan Islam' pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam. Mereka telah menumpas faham 'taqlid', 'fanatisme madzhab fiqh' dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, disamping kegarangan mereka dalam membasmi 'ashobiyah madzhabiyah' ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah "Raf'i Ma lam 'an al-A'immat al-A'lam" karya Ibnu Taimiyah. Demikian gencar serangan mereka terhadap 'tasawuf' karena penyimpanganpenyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab 'al-Hulul Wal-Ittihad' (penyatuan diri dengan tuhan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan 'tasawuf' untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam 'Majmu' Fatawa' karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu Qoyyim. Yang termasyhur ialah 'Madarijus Salikin Syarah Manazil asSairin ila Maqomaat Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in'. Manhaj 'nalar' dan 'mengikuti

dalil', melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya, itulah yang telah ditempuh oleh Ibnu Taimiyah. Metodologi yang diusung Ibnu Taimiyah dalam pemikiran dan tulisannya mengenai Tafsir, Akidah, Fiqh dan Tasawuf selalu dikuatkan dengan bukti atau dalil dari al-Quran dan sunnah, kemudian mendekatkan sunnah dengan nalar, menggunakan dan menentukan nalar hanya sekedar untuk nasihat bukan untuk gubahan, dan pendekatan bukan untuk petunjuk. Oleh karena itu, kita akan menemukan dan menentukan sebuah kesatuan sifat, tanda dan kepribadian yaitu kesatuan dalam satu metodologi saja. Metodologi yang ditempuh Ibnu Taimiyah Metodologi yang ditempuh Ibnu Taimiyah terdiri dari empat unsur; 1. Ibnu Taimiyah tidaklah menggunakan nalar sebagai sumber yang mutlak dalam menentukan hukum. 2. Ibnu Taimiyah tidaklah berpihak hanya pada satu pendapat saja, bagi Ibnu Taimiyah tidak seorangpun memiliki kedudukan kecuali baginya bersumber dari alQur'an, as-Sunnah dan Atsar para ulama salaf yang mengikuti Nabi saw. tentang madzhab empat, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa jika pendapat-pendapat ulama Salaf sesuai dengan al-Qur'an, Sunah dan Atsar, mereka perlu kita ikuti, dan begitu juga sebaliknya. Ibnu Taimiyah berkata bahwa Abu Hanifah mengatakan; ini adalah argumenku maka jika ada sebuah kebenaran dari argumenku ini maka itu dari hati yang paling dalam, Imam Malik mengatakan; Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan, maka periksalah pendapatku melalui al-Qur'an dan Sunnah, Imam Syafii mengatakan; Apabila terdapat kebenaran hadits maka tentukanlah pendapatku dengan teliti, dan Imam Ahmad mengatakan; Janganlah kamu mengikuti aku, Malik, Syafii juga al-Tsauri, dan belajarlah kamu sebagaimana kami mengajarkanmu, janganlah kamu mengikuti (taqlid) kepada seseorang dalam agamamu, karena sesungguhnya seseorang itu tidak terlepas dari kesalahan. 3. Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa Syariah itu bersumber dari al-Quran, nabi Muhammadlah yang menjelaskan dan memperaktekkannya kepada umat terlebih kepada para shahabat pada masa Nabi saw. Sehingga bagi orang yang mengikuti Nabi saw. lewat tafsir, penjelasan, dan penyampaian para shahabat berarti merekalah sejatinya orang-

orang yang mengikuti syari'at Allah dari nabi Muhammad saw. merekalah (para Sahabat) yang menjaga ajaran Nabi saw. karena mereka yang langsung mendengar dan memahami Syariat Allah langsung dari Nabi saw. begitupun para Tabiin yang mendapatkan penyampaian dan pemahaman langsung dari para sahabat. Sebagaimana Ibnu Taimiyah menyatakan dalam kitab al-Risalah al-Wasathiyah, terkadang aku menangguhkan dari apa yang ada di tahun tiga, sehingga apabila telah datang satu pendapat dari periode ketiga yang tidak sesuai dengan di atas maka aku mengembalikannya kepada al-Qur'an dan Sunnah, jika sesuai dengan apa yang telah di bawa Nabi, Sahabat dan Tabiin maka aku menetapkannya. Yang dimaksud dengan periode tiga itu adalah periode setelah Nabi, Sahabat dan Tabiin. 4. Ibnu Taimiyah tidaklah orang yang fanatik terhadap pemikirannya saja, Ibnu Taimiyah selalu melepas dirinya dari segala apa yang mengikatnya, kecuali yang sesuai dengan al-Qur'an, Sunnah dan Atsar Salaf. Ibnu Taimiyah tumbuh pada dirinya lewat madzhab Hambali, akan tetapi Ibnu Taimiyah dapat mengontrol diri, sehingga Ibnu Taimiyahpun mempelajari dan memperdalam madzhab-madzhab secara keseluruhan, kemudian menghubungkan semua dalam satu sumber.

PEMIKIRAN IBNU ABDUL WAHAB Muhammad bin Abd al-Wahhb (1115 - 1206 H/1701 - 1793 M) (bahasa Arab: ) adalah seorang ahli teologi agama Islam dan seorang tokoh pemimpin gerakan keagamaan yang pernah menjabat sebagai mufti Daulah Su'udiyyah yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi. Para pendukung pergerakan ini sering disebut Wahabbi, namun mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun yang berarti "satu Tuhan". Sejak dari itu, Syeikh Muhammad tidak lagi terikat. Dia bebas mengemukakan akidah-akidahnya sekehendak hatinya, menolak dan mengesampingkan amalan-amalan agama yang dilakukan umat islam saat itu dengan sikap toleransi dan saling menghargai perbedaan pendapat . Melihat keadaan umat islam yang sudah melanggar akidah, ia mulai merencanakan untuk menyusun sebuah barisan ahli tauhid (muwahhidin) yang

diyakininya sebagai gerakan memurnikan dan mengembalikan akidah Islam. Oleh lawanlawannya, gerakan ini kemudian disebut dengan nama gerakan Wahabiyah. Muhammad bin Abdul Wahab memulai pergerakan di kampungnya sendiri, Uyainah. Ketika itu, Uyainah diperintah oleh seorang Amir (penguasa) bernama Usman bin Muammar. Amir Usman menyambut baik ide dan gagasan Syeikh Muhammad, bahkan beliau berjanji akan menolong dan mendukung perjuangan tersebut. Suatu ketika, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab meminta izin pada Amir Uthman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Membuat bangunan di atas kubur menurut pendapatnya dapat menjurus kepada kemusyrikan. Amir menjawab "Silakan... tidak ada seorang pun yang boleh menghalang rancangan yang mulia ini." Tetapi Sbeliau khuatir masalah itu kelak akan dihalanghalangi oleh penduduk yang tinggal berdekatan maqam tersebut. Lalu Amir menyediakan 600 orang tentara untuk tujuan tersebut bersama-sama Syeikh Muhammad merobohkan maqam yang dikeramatkan itu. Sebenarnya apa yang mereka sebut sebagai makam Zaid bin al-Khattab ra. yang gugur sebagai syuhada Yamamah ketika menumpaskan gerakan Nabi Palsu (Musailamah al-Kazzab) di negeri Yamamah suatu waktu dulu, hanyalah berdasarkan prasangka belaka. Karena di sana terdapat puluhan syuhada (pahlawan) Yamamah yang dikebumikan tanpa jelas lagi pengenalan mereka. Bisa saja yang mereka anggap makam Zaid bin al-Khattab itu adalah makam orang lain. Tetapi oleh karena masyarakat setempat di situ telah terlanjur beranggapan bahwa itulah makam beliau, mereka pun mengkeramatkannya dan membina sebuah masjid di dekatnya. Makam itu kemudian dihancurkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab atas bantuan Amir Uyainah, Uthman bin Muammar. Pergerakan Syeikh Muhammad tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian menghancurkan beberapa makam yang dipandangnya berbahaya bagi ketauhidan. Hal ini menurutnya adalah untuk mencegah agar makam tersebut tidak dijadikan objek

peribadatan oleh masyarakat Islam setempat. Berita tentang pergerakan ini akhirnya tersebar luas di kalangan masyarakat Uyainah mahupun di luar Uyainah. Ketika pemerintah al-Ahsa' mendapat berita bahwa Muhammad bin'Abd alWahhab mendakwahkan pendapat, dan pemerintah 'Uyainah pula menyokongnya, maka kemudian memberikan peringatan dan ancaman kepada pemerintah'Uyainah. Hal ini rupanya berhasil mengubah pikiran Amir Uyainah. Ia kemudian memanggil Syeikh Muhammad untuk membicarakan tentang cara tekanan yang diberikan oleh Amir alAhsa'. Amir Uyainah berada dalam posisi serba salah saat itu, di satu sisi dia ingin mendukung perjuangan syeikh tapi di sisi lain ia tak berdaya menghadapi tekanan Amir al-Ihsa. Akhirnya, setelah terjadi perdebatan antara syeikh dengan Amir Uyainah, di capailah suatu keputusan: Syeikh Muhammad harus meninggalkan daerah Uyainah dan mengungsi ke daerah lain. Dalam bukunya yang berjudul Al-Imam Muhammad bin Abdul

Wahab,Da'watuhu Wasiratuhu, Syeikh Muhammad bin `Abdul `Aziz bin `Abdullah bin Baz, beliau berkata: "Demi menghindari pertumpahan darah, dan karena tidak ada lagi pilihan lain, di samping beberapa pertimbangan lainnya maka terpaksalah Syeikh meninggalkan negeri Uyainah menuju negeri Dariyah dengan menempuh perjalanan secara berjalan kaki seorang diri tanpa ditemani oleh seorangpun. Ia meninggalkan negeri Uyainah pada waktu dini hari, dan sampai ke negeri Dariyah pada waktu malam hari." (Ibnu Baz, Syeikh `Abdul `Aziz bin `Abdullah, m.s 22). Tetapi ada juga tulisan lainnya yang mengatakan bahwa: Pada mulanya Syeikh Muhammad mendapat dukungan penuh dari pemerintah negeri Uyainah Amir Uthman bin Muammar, namun setelah api pergerakan dinyalakan, pemerintah setempat mengundurkan diri dari percaturan pergerakan karena alasan politik (besar kemungkinan takut dipecat dari kedudukannya sebagai Amir Uyainah oleh pihak atasannya). Dengan demikian, tinggallah Syeikh Muhammad dengan beberapa orang sahabatnya yang setia untuk meneruskan dakwahnya. Dan beberapa hari kemudian, Syeikh Muhammad diusir keluar dari negeri itu oleh pemerintahnya.

PEMIKIRAN JAMALUDIN al AFGHANI Jamaludin Al-Afghani As-Sayid Muhammad bin Shaftar Al-Husain lahir di Asadabad, Konar, Distrik Kabul, Afghanistan tahun 1838 M. Ia adalah tokoh terkemuka yang menjadi sentral figure umat Islam pada abad XIX. Keluarganya adalah keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib yang selanjutnya silsilahnya bertemu dengan keturunan ahli sunnah yang termasyhur Ali At-Tirmidzi. Al-Afghani menghabiskan masa kecil dan remajanya di Afghanistan, namun banyak berjuang di Mesir, India bahkan sampai ke Paris. Pada usia 18 tahun di Kabul, Ia tidak hanya menguasai ilmu keagamaan seperti bahasa Arab, balaghah, tasawuf, manteq, tetapi juga mendalami falsafah, hukum, sejarah, matematika, ilmu hitung, ilmu obat anatomi, metafisika, kedokteran, sains, astronomi, dan astrologi. Bidang Politik Jamaludin dikenal sebagai pelopor Pan Islamisme yang mengajarkan bahwa semua umat Islam harus bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah untuk membebaskan mereka dari penjajahan Barat. Ada pendapat bahwa Jamaludin hanya sedikit mempersoalkan masalah agama, ia lebih berkecimpung dalam lapangan politik. Jalan yang ditempuhnya di bidang ini, ialah : a. Perbaikan jiwa dan cara berfikir b. Perbaikan pemerintah atau Negara, Bidang Agama, Meski Al-Afghani menjadi pemimpin politik, ia juga berjasa dalam meninggikan kedudukan agama dengan menjadi mujahid, pembaharu akal umat Islam yang sangat dipengaruhi tradisi-tradisi dan kurafat-kurafat yang membawa kejumudan umat Islam waktu itu. Al-Afghani berpendapat bahwa agama adalah suatu yang fital adanya suatu bangsa. Dan agama merupakan sumber yang nyata yang membawa kebahagiaan bagi manusia. Peradaban yang sesungguhnya adalah peradaban yang berdasarkan pendidikan moral dan agama, bukan peradaban yang berdasarkan karena kemajuan materi dan pembangunan kota-kota besar atau penciptaan mesin-mesin modern yang justru digunakan untuk menghancurkan peradaban dan pembinasaan umat manusia dengan bentuk penjajahan. Banyak usaha yang telah dilakukannya dalam melawan penjajah , antara lain: a. Membangun kembali jiwa Islam yang terkandung dalam ajaran Al-Quran

b. Menghilangkan sifat kesukuan atau golongan c. Mrngikis taqlid dan fanatisme d. Melaksanakan ijtihad dalam memahami A-Quran Ia juga mengutarakan bahwa kesejahteraan umat manusia itu tergantung pada : a. Akal manusia yang disinari dengan tauhid b. Kemuliaan budi pekerti c. Akidah (iman) yang dijadikan sebagai prinsip yang pertama d. Loyalitas orang yang berilmu dalam membagikan ilmunya pada orang lain Dengan demikian, diharapkan umat Islam dapat kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang murni, yang membawa kepada kekuatan yang positif dalam langkah dan sasaran yang akan dituju. Ajaran tentang Qada dan Qadar Kesalahan umat Islam dalam memahami qadha dan qadar menurut Al-Afghani, menjadi factor yang ikut memundurkan umat Islam. kesalahpahaman tersebut membuat umat Islam tidak mau berusaha dengan sungguhsungguh. Jamaludin menyebutkan, qadha dan qadar mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang terjadi menurut sebab musabab (kausalitas). Lemahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan umat tentang dasar-dasar ajaran agama, lemahnya persaudaraan, perpecahan umat Islam yang diikut pemerintahan yang absolut, memercayakan kepemimpinan kepada yang tidak dipercaya, dan kurangnya pertahanan militer, juga merupakan factor-faktor yang membawa kemunduran umat Islam. Faktorfaktor ini yang menjadikan umat Islam statis dan fatalis. Maka dari itu, ia menuntut kepada semua aliran untuk menjadikan akal sebagai dasar utama untuk mencapai keagungan Islam, karena akal menempati kedudukan yang istimewa dalam agama Islam. Dengan akal percaya pada qadha dan qadar bagi orang Islam akan membawa kekuatan moral dan mendorong usaha tawakal dan sabar untuk mencapai tujuannya. Penolakan terhadap Aliran Naturalisme dan MaterialismePerjalanan hidup Jamaludin sesuai dengan jalan pikirannya. Teori dan prakteknya selalu berjalin rapat dengan tindakannya. Kedudukan dan pikirannya ditandai oleh tiga macam keadaan : a. Kenikmatan jiwa atau rohani b. Perasaan agama yang mendalam c. Moral yang tinggi

Gambaran ini jelas dapat dilihat dalam penolakannya terhadap aliran naturalisme dan materialisme. Aliran ini merupakan senjata berbahaya bagi umat Islam. satu-satunya kekuatan yang dapat melawannya ialah Islam itu sendiri. Inilah peringatan yang dicanangkan oleh Jamaludin pada orang-orang Islam, bila ingin mempertahankan agama itu, maka harus bertindak sesuai dengan ajaran agama itu. Jamaludin terkenal dalam dunia Islam sebagai propagandaris karena penolakannya terhadap materialisme. Dengan pandangannya terhadap tabiat alam, ia tidak bisa menerima corak ajaran materialisme. Untuk itu ia menerbitkan sebuah buku dengan judul The Refutation Of Materialistis. PAN-ISLAMISME Sebagaimana yang diungkapkan L. Stoddard, dasar pergerakan yang diusung oleh Al-Afghani lebih pada usaha pembendungan dominasi Barat yang mulai menjelajahi dunia Islam. Setidaknya ada lima poin penting yang menjadi pemicu utama munculnya pemikiran pan-islamisme, yaitu : a) Dunia kristen, walaupun terpisah secara geografis, budaya dan nasab namun akan selalu menggalang pemersatuan kekuatan untuk menghadapi umat Islam. b) Meskipun secara gamblang perang salib telah tuntas, namun semangat dan ideologi untuk selalu mengobarkan lagi, tetap hidup di kalangan umat Kristen. Hal ini bisa dibuktikan melalui perlakuan diskriminatif umat Kristen kepada umat Islam di beberapa tempat. c) Perbedaan pemahaman tentang agama yang sangat berbeda antara agama Islam dan agama lainnya. d) Al-Afghani menyimpulkan bahwa kebencian umat Kristen terhadap umat Islam bukan hanya datang darui sebagian umat kristen namun berasal dari semua lapisan masyarakat. e) Kurangnya apresiasi dunia kepada umat Islam, khususnya umat Kristen pada beberapa ideologi fital agama Islam. Dengan berbagai pertimbangan yang diantaranya telah disebutkan di atas, maka Al-Afghani menggulirkan pemikiran tentang perlunya pemersatuan umat Islam yang selanjutnya dikenal dengan nama pan-Islamisme. Tujuan pasti al-Afghani adalah melakukan filter dini kepada gejala perpecahan yang telah kelihatan pada zaman itu. Di beberapa keadaan, pan-Islamisme sering dikaitkan dengan usaha modernisasi Islam

yang juga diusung oleh al-Afghani dan murid-muridnya seperti Muhammad Abduh, dkk. Pada dasarnya dua paham ini bukanlah sinonim, lebih tepatnya modernisasi adalah gejala atau sarana dari pan-Islamisme. Munculnya kegiatan pembaharuan dalam agama Islam adalah aplikasi nyata dari program pan-Islamisme yang ditawarkan oleh al-Afghani. Secara individu Afghani adalah penolak keras adanya paham kolonial yang menghantui hampir di semua dunia Islam di kala itu. Sebagai seorang filsuf dan agamis sikap dan pemikiran Afghani selalu berbenturan dengan paham fatalisme (berhubungan dengan takdir). Untuk mengetengahi masalah fatalism dalam agama Islam, Afghani mengajak umat Islam untuk melakukan usaha perebutan peradaban, kebudayaan dan pengetahuan dari barat. Salah satu caranya adalah dengan mempelajari semua itu dari barat. Diharapkan dari semua sikap ini maka umat Islam lebih bersifat dinamis dan mampu melakukan kritik sosial dalam menghadapi perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan. Melalui propaganda yang rapi apalagi didukung oleh Sultan Abdul Hamid dari Turki Utsmani yang mendirikan organisasi seruan pan-Islamisme dan pengiriman delegasi ke Negara-negara Islam selama 30 tahun. Hubungan paling kongkrit antara pan-Islamisme dengan modernisasi Islam terlihat pada pandangan kenegaraan yang diusulkan oleh Afghani dan murid-muridnya. Memang harus diakui, pemerintahan Negara atau kerajaan Islam yang dimulai dari masa Kekhalifaan Utsmani memiliki konsen yang sangat besar kepada bentuk negara atau kerajaan dengan system monarki absolut. Sehingga Afghani menawarkan system demokrasi sebagai jalan keluar yang tepat sebagai bentuk ideal negara Islam. Lebih kongkritnya Afghani bahkan memberikan pertimbangan untuk memakai sistem pemerintahan republik. Bahkan lebih jauh Afghani menyatakan bahawa sebenarnya Islam menghendaki penggunaan sistem pemerintahan republik bagi umat Muslim. Dasar pendapat yang dikeluarkan oleh Afghani ini terbentuk oleh berbagai stigma yang terkumpul dari lawatan panjang Afghani ke beberapa negara Eropa sebelumnya. Menurut Afghani keunggulan sistem republik adalah kebebasan dalam mengedepankan pendapat dan kesamaan status dalam hukum dan pemerintahan. Ditambah lagi republik sangat menjaga hubungan kepala negara dengan Undang-undang negara. Lebih jelasnya, sistem republik sangat memperhatikan kepatuhan antara kepala pemerintahan dengan

undang-undang yang dibuat oleh sebuah Negara. Pendapat yang diusulkan oleh Afghani ini tentu merupakan hal baru dalam perkembangan agama Islam. Sebelum munculnya gagasan Afghani ini Islam dan lingkungan hanya mengenal sistem pemerintahan kerajaan atau kesultanan. Secara mudah bisa dijelaskan hubungan antara pan-Islamisme dan modernisasi Islam ini dengan wacana bahwa Pan-Islamisme Al-Afghani adalah sebuah gerakan pemersatu antar Negara-negara Islam termasuk umat Islam di wilayah jajahan untuk menentang kezaliman para pengusa (penjajah ekstern atau intern) yang lalim, termasuk menentang kolonialisme dan imperialisme Barat sebagai bentuk usaha untuk mewujudkan keadilan. PERBEDAAN PEMIKIRAN MHD. ABDUL dengan RASYID RIDHO Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah atau Muhammad Abduh. lahir didesa Mahallat Nashr Kota Al-Buhairah, Mesir pada tahun 1849 M dan wafat padatahun 1905 M. Beliau merupakan putra dari seorang petani berkebangsaan Turki yaituAbduh bin Hasan Khairullah, sedangkan ibunya masih mempunyai silsilah keturunandengan tokoh besar Islam, Umar bin Khattab. Islam adalah agama yang terdiri dari beber apa aspek yang saling berhubungan,satu dengan yang lainnya. Yaitu Aqidah (Teologi), Syariah (Hukum Islam), danAkhlak (tasawuf) bahkan untuk bertatanegara sekalipun hal ini kita kenal denganS h i y a s a h pemikiran Muhammad Abduh secara dapat atrau singkat menjadi politik. tentang suatu Namun kee m p a t rujukan dalam hal kita k e s e m p a t a n i n i , p e n u l i s m e m i l i h h a n y a membahas beberapa manhaj tersebutmudah-mudahan

d a l a m mengemukakan pendapat dan bertindak Muhamrnad Rasyid bin Al Ridha bin Syamsuddin bin Bahauddin al-Qalmuni, alHusaini. Dari namananya jelas bahwa beliau merupakan salah satu keturunan Alul-Bayt . Beliau dilahi rkan pada tanggal 27-5-1282 H di sebuah desa bernama Qalmun,di sebelah selatan kota Tharablas (Tripoli) atau Syam, ia mulai menuntut ilmu denganmenghafal al-Quran, mempelajari khat dan ilmu berhitung.

Setelah banyak berguru kepada Muhammad Abduh, Rasyid Ridla berpendapat bahwa madzhab dalam pengertian Muhammad Abduh adalah lebih ditekankan padacara pengambilan hukum dari nash yang ditempuh oleh seorang mujtahid tertentu.Jadi bukan dalam artian mengikuti dan tunduk pada hasil mujtahid tertentu, tetapi bermadzhab adalah dengan mengikuti cara-cara atau metode yang mereka tempuhdalam beristinbath hukum . Dengan demikian bermadzhab bukan bagi mereka yang awam, seperti umum dipahami, tetapi bagi mereka yang berijtihad dalam lingkunganmadzhab tertentu. Mereka ini dalam istilah Ushul Fiqh adalah Mujtahid Bil-Madzhab. Maka fanatisme madzhab yang biasanya terjadi di kalangan awam dapat dihindaridan sikap taklid bisa diatasi. Akan tetapi, menurut Abduh, yang terjadi di masyarakata dalah sebaliknya. Generasi sesudah mujtahid mengikuti cara hasil ijtihad yang oleh merekad a p a t k a n , bukan mengambil yang ditempuh

p a r a i m a m . A k i b a t n y a , terjadinya perselisihan pendapat yang membawa perpecahan di kalangan muslimin sendiri. Fanatisme madzhab pun mucul dan taklid tidak bisa dihindarkan.

DAFTAR PUSTAKA El Fadl, Khaled Abou, And God Knows The Solders, The Authoritative and TheAuthoritarian in Islamic Discourses, (Maryland:University Press of America, rev.ed.,1997:2).

Deliar Noor. "Gerakan Modernis Islam di Indonesia". Jakarta. Pustaka LP3ES Indonesia,1996

Sukidi Mulyadi, artikel Defisit Demokrasi di Dunia Islam, dalam Islam Negara dan CivilSociety, Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer, (Jakarta: Paramadina, 2005: 229).

Jalaluddin

Rahmad.

"Jejak

Pemimpin

Pembaharuan

Sampai

Guru

Bangsa".

Yogyakarta.Pustaka Pelajar, 2001