Anda di halaman 1dari 3

Metode pelaksanaan Fraksinasi adalah pengelompokkan berdasarkan sifat-sifat kimia.

Setelah dipekatkan, ekstrak pekat ditambahkan larutan eter untuk memisahkan senyawa polar, semi polar dan non polar. Prinsip dari pemisahan adalah adanya perbedaan sifat fisik dan kimia dari senyawa yaitu kecenderungan dari molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan), kecenderungan molekul untuk menguap (keatsiriaan) kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk labus (adsorpsi, penyerapan). Salah satu pemisahan adalah kromatografi cair vakum, kromatografi vakum adalah kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3, sumbat karet, penghisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta wadah penampung fraksi. Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair, dan komponen kimia akan terpisah. Jika suatu cairan ditambahkan kedalam ekstrak cairan lain yang tidak dapat bercampur dengan yang pertama akan terbentuk 2 lapisan , satu komponen dari campuran aka memiliki kelarutan kedalam dua lapisan tersebut (biasanya disebut fase) dan setelah beberapa waktu dicapai kesetimbangan konsentrasi dalam kedua lapisan.waktu diperlukan untuk tercapainya keseimbangan biasanya dipersingkat dengan pencampuran kedua fase tersebut dalam corong pisah. Kedalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.

Sebanyak 10 gr ekstrak kental dilarutkan dalam fase air sebanyak 150 ml. Karena ekstrak tidak larut air maka dilarutkan lebih dulu dalam etanol

secukupnya,sesedikit mungkin. Jumlah air yang ditambahkan dikurangi jumlah etanol yang digunakan. Lalu ditambahkan n-heksan sebanyak 150 ml. Lalu dikocok sebentar. Pengocokan harus dilakukan dengan perlahan agar tidak terbentuk emulsi. Kemudian dipisahkan fase air dan n-heksan. Fase air dimasukkan kembali dalam corong pisah dan ditambahkan n-heksan sebanyak air. Dilakukan ECC lagi seperti sebelumnya. Setelah n-heksan tidak menarik zat lagi, maka diganti dengan etil asetat dan dilakukan ECC lagi sampai etil asetat tidak menarik zat lagiyang ditan dai dengan etil asetat yang sudah berwarna bening. Proses ini dialkuakan sampai ekstrak habis. Untuk mengetahui zat yang diinginkan berada pada fraksi yang mana, maka dilakukan KLT dengan pengembang kloroform: etanol (8,5:1,5) Pembahasan hasil dan kendala. Dihasilkan fase heksan yang berwarna bening, fase etil asetat yang berwarna hijau muda,dan fase air sebanyak air yang berwarna hijau tua. Fase etil asetat didapatkan dalam jumlah banyak menunjukkan banyak zat yang yang bersifat semipolar dan tertarik oleh etil asetat. Tetapi hasil fraksi yang didapatkan pada fraksinasi tidak terlalu banyak karena terdapat beberapa kendala. Kendala tersebut diantaranya adalah terbentuknya emulsi saat proses ECC. Hal ini diakibatkan oleh pengocokan yang terlalu cepat dan terlalu lama sehingga dihasilkan emulsi. Emulsi tersebut mungkin saja mengandung senyawa yang dicari,tetapi emulsi tersebut harus dibuang karena tidak dapat diproses lebih lanjut. Selain itu sebanyak 10 gram ekstrak tumpah saat akan dilakukan proses ECC . Dan juga terjadi kesalahan dalam penggunaan n-heksan pada salah satu proses ECC sehingga ECC tidak dapat dilanjutkan dan 10 gr ekstrak terbuang percuma. Dan setelah dilakuakan KLT dengan pengembang kloroform: etanol (8,5:1,5). Hasilnya hanya fraksi etil asetat yang tertarik dan memberikan spot dengan Rf 0,4 pada panjang gel. 254 nm dan 0,825 pada panjang gel. 366 nm. Karena hasil yang didapat kurang memuaskan. Kemudian dilakuakan lagi KLT dengan pengembang kloroform : methanol 9:1. Dan pada fase etil asetat didapat Rf 0,5. Menurut Farmakope Herbal Indonesia senyawa andrografolida akan menghasilkan Rf

0,566 jika dilakukan KLT dengan pengembang kloroform :methanol 9:1. Diduga fraksi yang mengandung andrografolide adalah fraksi etil asetat karena Rf mendekati Rf dari andrografolide menurut Farmakope Herbal Indonesia. Sebenarnya

kendalanya adalah pada saat KLT yang memberikan spot hanya fase etil asetat sedangkan paa fase n-heksan dan air tidak memberikan spot. Dan tidak dilakukan penyemptotan penampak bercak pada pelat KLT.

Anda mungkin juga menyukai