P. 1
Undang-Undang-2011

Undang-Undang-2011

|Views: 38|Likes:
Dipublikasikan oleh Anggit NjEtz
undang undang perumahan
undang undang perumahan

More info:

Published by: Anggit NjEtz on Jun 03, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2013

pdf

text

original

PERMUKIMAN – PERUMAHAN UU NO.

1 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN ABSTRAK : Bahwa pemerintah perlu lebih berperan dalam menyediakan dan memberikan kemudahan dan bantuan perumahan dan kawasan permukiman bagi masyarakat melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang berbasis kawasan serta keswadayaan masyarakat sehingga merupakan satu kesatuan fungsional dalam wujud tata ruang fisik, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya yang mampu menjamin kelestarian lingkungan hidup sejalan dengan semangat demokrasi, otonomi daerah, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; bahwa Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur sehingga perlu diganti. Dasar hukum : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28C ayat (1), Pasal 28H ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), Pasal 33 ayat (3), serta Pasal 34 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang ini mengatur tentang : Perumahan dan Kawasan Permukiman, dengan sistematika sebagai berikut: 1. Ketentuan Umum; 2. Asas, Tujuan, dan Ruang Lingkup; 3. Pembinaan; 4. Tugas dan Wewenang; 5. Penyelenggaraan Perumahan; 6. Penyelenggaraan Kawasan Permukiman; 7. Pemeliharaan dan Perbaikan; 8. Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh; 9. Penyediaan Tanah; 10. Pendanaan dan Sistem Pembiayaan; 11. Hak dan Kewajiban; 12. Peran Masyarakat; 13. Larangan; 14. Penyelesaian Sengketa; 15. Sanksi Administratif; 16. Ketentuan Pidana; 17. Ketentuan Peralihan; 18. Ketentuan Penutup.

STATUS

:

- Mulai berlaku pada tanggal diundangkan; - Diundangkan pada tanggal 12 Januari 2011.

PARTAI POLITIK – PERUBAHAN UU NO. 2 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK ABSTRAK : Bahwa dalam rangka menguatkan pelaksanaan demokrasi dan sistem kepartaian yang efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, diperlukan penguatan kelembagaan serta peningkatan fungsi dan peran Partai Politik; bahwa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik perlu diubah sesuai dengan tuntutan dan dinamika perkembangan masyarakat. Dasar hukum : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22E ayat (3), Pasal 24C ayat (1), Pasal 28, Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28J UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang ini mengatur tentang : Perubahan beberapa ketentuan dalam UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, yaitu sebagai berikut: 1. Ketentuan Pasal 1 angka 7 diubah; 2. Ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan ayat (5) diubah, di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 2 (dua) ayat yakni ayat (1a) dan ayat (1b) serta pada ayat (4) ditambahkan 4 (empat) huruf yakni huruf g, huruf h, huruf i, dan huruf m; 3. Ketentuan Pasal 3 ayat (1) dan ayat (2) huruf c, huruf d, dan huruf e diubah; 4. Ketentuan Pasal 4 ayat (1) diubah; 5. Ketentuan Pasal 5 diubah; 6. Ketentuan Pasal 16 ayat (2) diubah; 7. Di antara ayat (3) dan ayat (4) Pasal 19 disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (3a); 8. Ketentuan Pasal 23 ayat (2) diubah; 9. Ketentuan Pasal 29 ayat (1) huruf c dan huruf d serta ayat (2) diubah, dan di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (1a); 10. Ketentuan Pasal 32 diubah; 11. Ketentuan Pasal 33 ayat (1) diubah; 12. Di antara ayat (3) dan ayat (4) Pasal 34 disisipkan 2 (dua) ayat yakni ayat (3a) dan ayat (3b) serta ayat (4) diubah; 13. Di antara Pasal 34 dan Pasal 35 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 34A; 14. Ketentuan Pasal 35 ayat (1) huruf c diubah; 15. Ketentuan Pasal 39 diubah; 16. Ketentuan Pasal 45 diubah; 17. Ketentuan Pasal 47 ayat (1) diubah; dan 18. Ketentuan Pasal 51 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4) diubah, ayat (3) dihapus, di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 3 (tiga) ayat yakni ayat (1a), ayat (1b), dan ayat (1c).

STATUS

:

- Mulai berlaku pada tanggal diundangkan; - Diundangkan pada tanggal 15 Januari 2011.

Faktor utama dalam Transfer Dana yaitu faktor kelancaran dan kenyamanan dalam pelaksanaan Transfer Dana. Dasar hukum: Pasal 5 ayat (1). Ketentuan Umum 2. Alat Bukti dan Beban Pembuktian 12. UU No. UU No. Ditetapkan pada tanggal 23 Maret 2011. Keterlambatan Dan Kekeliruan Transfer Dana Serta Tanggung Jawab Penyelenggara Penerima 6. Pasal 20. UU No. jumlah nilai nominal transaksi. Ketentuan Penutup Mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 7 Tahun 1992. 23 Tahun 1999. ‐ ‐ STATUS : ‐ CATATAN : Meningkatnya arus transaksi perpindahan Dana yang terus menunjukkan peningkatan tidak saja dari sisi jumlah transaksi. seiring dengan peningkatan transaksi transfer tersebut timbul permasalahan yang terjadi. Pengembalian Dana 5. 11 Tahun 2008. baik dari jumlah transaksi. Pengaturan Kompensasi Berdasarkan Prinsip Syariah 10. Perizinan Penyelenggara Transfer Dana 9. sehingga diperlukan pengaturan yang menjamin keamanan dan kelancaran transaksi transfer dana serta memberikan kepastian bagi pihak yang terkait dalam penyelenggaraan kegiatan transfer dana agar penyelenggaraan transfer dana yang aman. Pelaksanaan Transfer Dana 3. Pelaksanaan Transfer Debit 7. maupun jenis media transfer dana yang digunakan. Pemantauan 11. . lancar. dan faktor kepastian dan pelindungan hukum bagi para pihak terkait. Ketentuan Peralihan 14. Pembatalan Dan Perubahan Transfer Dana 4. dan Pasal 23D UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang ini mengatur tentang: Transfer Dana. dan memberikan kepastian bagi pihak terkait diharapkan dapat mewujudkan kelancaran sistem pembayaran nasional. Untuk mewujudkan upaya tersebut dan dalam rangka mencapai tujuan akhir untuk menjaga keamanan dan kelancaran sistem pembayaran. 3 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG TRANSFER DANA ABSTRAK : bahwa kegiatan transfer dana di Indonesia telah menunjukkan peningkatan. Ketentuan Pidana 13. UU No. Biaya Transfer Dana 8. tetapi juga dari sisi nilai nominal transaksinya merupakan cerminan kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian nasional dan iklim usaha di Indonesia. 8 Tahun 2010. perlu adanya peraturan yang komprehensif tentang kegiatan Transfer Dana.TRANSFER DANA UU NO. dengan sistematika sebagai berikut: 1.

terpadu. maka perlu pengaturan mengenai penyelenggaraan informasi geospasial. Dasar Hukum : Pasal 5 ayat (1). Pasal 20. Diundangkan pada tanggal 21 April 2011. CATATAN : . • Dalam undang-undang ini diatur mengenai apa itu data geospasial. Dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya lainnya serta penanggulangan bencana dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wilayah yurisdiksinya diperlukan informasi geospasial. dan Pasal 33 ayat (3) dan ayat (4) UUD Tahun 1945. berhasil guna. STATUS : Mulai berlaku pada tanggal diundangkan. • Lahirnya Undang-Undang Geospasial juga turut mendukung pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. baik di masa kini maupun di masa mendatang. Pasal 28F. dan kepastian hukum. distribusi.INFORMASI GEOSPASIAL UU NO. 4 TAHUN 2011 2011 UNDANG – UNDANG TENTANG INFORMASI GEOSPASIAL ABSTRAK : Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan segala kekayaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dikelola dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab untuk menjadi sumber kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Agar informasi geospasial dapat terselenggara dengan tertib. bagaimana perlindungan dari penyalah gunaan data ini. sebagaimana diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. dan berdaya guna sehingga terjamin keakuratan. kemutakhiran. Undang-Undang ini mengatur tentang : Informasi Geospasial. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dipandang perlu untuk membentuk Undang-Undang tentang Informasi Geospasial. di masa kini dan masa yang akan datang. Pasal 25A. • Hadirnya UU Informasi Geospasial merupakan satu jaminan yang melengkapi hak dalam memperoleh informasi untuk meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas lingkungan sosial. serta jaminan bagi Masyarakat untuk mendapatkan data ini secara terbuka dan validitas yang teruji.

Tanda Masuk. dan pengawasan di bidang Keimigrasian sehingga perlu dicabut dan diganti dengan undang-undang baru yang lebih komprehensif serta mampu menjawab tantangan yang ada. Ketentuan Umum 2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian sudah tidak memadai lagi untuk memenuhi berbagai perkembangan kebutuhan pengaturan. Ketentuan Lain-lain 13. Ketentuan Penutup STATUS : Mencabut dan menyatakan tidak berlaku UU No. Seiring meningkatnya mobilitas penduduk dunia yang dapat menimbulkan berbagai dampak. 9 Tahun 1992 Mulai berlaku pada tanggal diundangkan Diundangkan pada tanggal 5 Mei 2011 . Ketentuan Peralihan 14. Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia 4. Pengawasan Keimigrasian 7. Dasar Hukum : Pasal 5 ayat (1). Tindakan Administratif Keimigrasian 8. Visa. 6 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN ABSTRAK : Bahwa Keimigrasian merupakan bagian dari perwujudan pelaksanaan penegakan kedaulatan atas Wilayah Indonesia. pelindungan. dan pemajuan hak asasi manusia. Ketentuan Pidana 11. Pelaksanaan Fungsi Keimigrasian 3. Pasal 26 ayat (2). dan Izin Tinggal 6. pelayanan. Pasal 20. Biaya 12. Penyidikan 10.KEIMIGRASIAN UU NO. dan Pasal 28 E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. baik yang menguntungkan maupun yang merugikan bangsa maka diperlukan suatu peraturan perundang-undangan yang menjamin kepastian hukum yang sejalan dengan penghormatan. Rumah Detensi Imigrasi dan Ruang Detensi Imigrasi Pencegahan dan Penangkalan 9. Dokumen Perjalanan Republik Indonesia 5. Undang-Undang ini mengatur tentang : 1.

dan ayat (5) diubah 3. defisit anggaran. di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (satu) ayat. Ketentuan Pasal 15 ayat (1) diubah 14. ayat (3). ayat (4) tetap. Ketentuan Pasal 13 diubah 12. yakni ayat (1a). yakni ayat (1a) 10. Pasal 1 angka 18. Pasal 20 ayat (2). Dasar Hukum : Pasal 5 ayat (1). dan ayat (9) diubah. Ketentuan Pasal 3 ayat (2) dan ayat (3) diubah. UU Nomor 27 Tahun 2009.APBN 2011 . ayat (4). yakni ayat (1a).PEMBENTUKAN UU NO. ayat (3). 11 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANGUNDANG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2011 ABSTRAK : Bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2011 disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara. dan penjelasan ayat (10) diubah 5. dan sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011. ayat (4). ayat (2) tetap.ayat (2). 2. Ketentuan Pasal 6 ayat (2). di antara angka 29 dan angka 30 disisipkan 1 (satu) angka yakni angka 29a. UU Nomor 17 Tahun 2003. angka 21. dan penjelasan ayat (2) diubah 9. ayat (8). ayat (3). dipandang perlu dilakukan penyesuaian atas berbagai sasaran pendapatan negara. Ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan ayat (4) diubah. angka 31 dan angka 41 diubah. angka 28. Ketentuan Pasal 18 ayat (1) diubah . ayat (2) tetap. dan UU Nomor 10 Tahun 2010 Undang-Undang ini mengatur tentang : 1. dan ayat (6) diubah 7. ayat (5). telah terjadi berbagai perkembangan dan perubahan yang berdampak pada berbagai indikator ekonomi yang berpengaruh pada pokok-pokok kebijakan fiskal dan pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2011. belanja negara. Pasal 31 ayat (4) dan Pasal 33 ayat (1). dan penjelasan ayat (2) diubah 8. Ketentuan Pasal 5 ayat (2). Untuk mengatasi hal tersebut dan dalam rangka mengamankan pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2011. ayat (2) huruf a angka 3 dihapus. dan ayat (4). dan ayat (2) huruf b diubah. Ketentuan Pasal 14 diubah 13. ayat (10) tetap. di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (satu) ayat. ayat (4). serta kebutuhan dan sumber-sumber pembiayaan anggaran. Ketentuan Pasal 4 ayat (2). Ketentuan Pasal 10 ayat (1) diubah. Ketentuan Pasal 12 diubah 11. Ketentuan Pasal 2 ayat (2). dan ayat (4) diubah 6. dan penjelasan ayat (4) diubah 4. di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (satu) ayat. Ketentuan Pasal 8 ayat (1) diubah. Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011 dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Pemerintah dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPD Nomor 52/DPDRI/IV/2010-2011 tanggal 15 Juli 2011. ayat (3) dan ayat (4) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

yakni Pasal 29A 22. di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 2 (dua) ayat. Di antara Pasal 29 dan Pasal 30 disisipkan 1 (satu) Pasal. ayat (3) tetap. Ketentuan Pasal 25 ayat (2) dan ayat (3) diubah 17. yakni ayat (6) 16. ayat (13) tetap. dan ayat (3) diubah 20. ayat (2). Ketentuan Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) diubah. penjelasan ayat (4). dan ayat (6) diubah. dan ditambahkan 1 (satu) ayat. Di antara Pasal 36 dan Pasal 37 disisipkan 1 (satu) Pasal. dan penjelasan ayat (13) diubah 18. Ketentuan Pasal 27 ayat (1) huruf b ditambah 1 (satu) angka yakni angka 7.15. Ketentuan Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) diubah 23. setelah ayat (10) ditambah 2 (dua) ayat yakni ayat 11 dan ayat 12 19. ayat (4). dan penjelasan ayat (3) diubah 21. Ketentuan Pasal 20 ayat (1) diubah. ayat (3). dan ayat (6) diubah. yakni Pasal 36A STATUS : Mulai berlaku pada tanggal diundangkan Diundangkan pada tanggal 10 Agustus 2011 . dan ayat (3) diubah. Ketentuan Pasal 28 ayat (1). yakni ayat (1a) dan ayat (1b). ayat (5) dihapus. Ketentuan Pasal 26 ayat (2).

dan Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan 4. Ketentuan Lain-lain 13. Ketentuan Penutup STATUS : Mencabut dan menyatakan tidak berlaku UU No. negara berkewajiban melaksanakan pembangunan hukum yang dilakukan secara terencana. Penyebarluasan 11. dan berkelanjutan dalam sistem hukum nasional berdasarkan UUD Tahun 1945. perlu dibuat peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti. Pembentukan peraturan perundang-undangan sendiri sebelumnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 yang dipandang masih terdapat kekurangan dan belum dapat menampung perkembangan kebutuhan masyarakat mengenai aturan pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sehingga perlu diganti. Ketentuan Umum 2. Dasar Hukum : Pasal 20. Pembahasan dan Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dan Daerah Peraturan Kabupaten/Kota 9. Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 3. Pengundangan 10. terpadu. Jenis. Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Undang-undang 8. sehingga dipandang perlu untuk membuat suatu peraturan perundang-undangan yang baru. Perencanaan Peraturan Perundang-undangan 5. dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas peraturan perundang-undangan yang baik. pasal 21 dan pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang ini mengatur tentang : 1. 12 TAHUN 2010 2010 UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ABSTRAK : Bahwa sebagai negara hukum.PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN – PEMBENTUKAN UU NO. baku. Hierarki. 10 Tahun 2004 Mulai berlaku pada tanggal diundangkan Diundangkan pada tanggal 12 Agustus 2011 . dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundang-undangan. Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan 7. Penyusunan Peraturan Perundang-undangan 6. Partisipasi Masyarakat 12.

PENANGANAN FAKIR MISKIN UU NO. dan berkelanjutan. Sumber Daya 6. Pasal 33 ayat (3) dan ayat (4) dan pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hak dan Tanggung Jawab 3. Peran Serta Masyarakat 8. Tugas dan Wewenang 5. Ketentuan Penutup STATUS : Mulai berlaku pada tanggal diundangkan Diundangkan pada tanggal 18 Agustus 2011 . terarah. serta UU No. 11 Tahun 2009 Undang-Undang ini mengatur tentang : 1. Dimana pengaturan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar bagi fakir miskin masih tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2). negara bertanggung jawab untuk memelihara fakir miskin guna memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kemanusiaan. Sehingga diperlukan kebijakan pembangunan nasional yang berpihak pada fakir miskin secara terencana. 13 TAHUN 2010 2010 UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN ABSTRAK : Bahwa sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketentuan pidana 9. Penanganan Fakir Miskin 4. Ketentuan Umum 2. pasal 21. sehingga diperlukan suatu pengaturan penanganan fakir miskin yang terintegrasi dan terkoordinasi Dasar Hukum : Pasal 20. Koordinasi dan Pengawasan 7.

dan akuntabilitas. 7. 9. Peraturan dan Keputusan Penyelenggara Pemilu. 5. 6. Dasar hukum : Pasal 1 ayat (2). Mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Asas Penyelenggara Pemilu. Ketentuan Penutup. Ketentuan Umum. 2. Ketentuan Lain-lain. kapabilitas.PEMILU – PENYELENGGARA UU NO. dengan sistematika sebagai berikut: 1. 3. Ketentuan Peralihan. DKPP. 10. dan Pasal 22E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Diundangkan pada tanggal 16 Oktober 2011. KPU. 8. Pengawas Pemilu. 15 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM ABSTRAK : Bahwa untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum yang dapat menjamin pelaksanaan hak politik masyarakat dibutuhkan penyelenggara pemilihan umum yang profesional serta mempunyai integritas. 4. Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 22C ayat (1). Undang-Undang ini mengatur tentang : Perumahan dan Kawasan Permukiman. Pasal 20. Pasal 6A. – – STATUS : - - . Pasal 19 ayat (1). bahwa dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum sebagaimana dimaksud pada huruf b Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Pasal 21. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 18 ayat (3) dan ayat (4). perlu diganti. Keuangan.

mewujudkan  hak  konstitusional  segala  warga  negara  sesuai  dengan  prinsip  persamaan kedudukan di dalam hukum.  Pasal  28D  ayat  (1). jaminan.  Pasal  21. Dasar hukum:   Pasal  20.  b. dan pengaturan mengenai bantuan hukum yang diselenggarakan oleh negara harus berorientasi pada terwujudnya perubahan sosial yang berkeadilan.BANTUAN HUKUM – BANTUAN HUKUM UU NO. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum sebagai sarana perlindungan hak asasi manusia. dan  . untuk memperoleh hal tersebut negara bertanggung jawab terhadap pemberian bantuan hukum bagi orang miskin sebagai perwujudan akses terhadap keadilan.  Undang‐undang ini mengatur tentang:  Bantuan Hukum  ‐ ‐ STATUS : ‐ Mulai berlaku sejak tanggal diundangkan Ditetapkan pada tanggal 2 November 2011  CATATAN : Penyelenggaraan pemberian Bantuan Hukum kepada warga negara merupakan upaya untuk memenuhi dan sekaligus sebagai implementasi negara hukum yang mengakui dan melindungi serta menjamin hak asasi warga negara akan kebutuhan akses terhadap keadilan (access to justice) dan kesamaan di hadapan hukum (equality before the law).  c. Penyelenggaraan Bantuan Hukum bertujuan untuk: a.  dan  Pasal  34  ayat  (2)  dan  ayat  (4)  Undang‐ Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.  Pasal  28H  ayat  (2). menjamin  dan  memenuhi  hak  bagi  Penerima  Bantuan  Hukum  untuk  mendapatkan akses keadilan. dan pemberi bantuan hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan Bantuan Hukum. menjamin  kepastian  penyelenggaraan  Bantuan  Hukum  dilaksanakan  secara  merata di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.  Pasal  28I  ayat  (4)  dan  ayat  (5). Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara cuma-cuma kepada Penerima Bantuan Hukum yang menghadapi masalah hukum. 16 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG BANTUAN HUKUM ABSTRAK : bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang untuk mendapatkan pengakuan. Penerima bantuan hukum merupakan orang atau kelompok orang miskin.  Pasal  27  ayat  (1). perlindungan.

  yang  efektif.  dan  dapat  . mewujudkan  peradilan  dipertanggungjawabkan.d.  efisien.

dan untuk melakukan deteksi dini dan peringatan dini untuk mencegah terjadinya pendadakan dari berbagai ancaman. Dalam penyelenggaraan Intelijen Negara sebagai lini pertama dari sistem keamanan nasional perlu adanya suatu kepastian hukum dan sesuai dengan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga perlu dibentuk Undang-Undang tentang Intelijen Negara. Dasar hukum:   Pasal  20.  Undang‐undang ini mengatur tentang:  Intelijen Negara  ‐ ‐ STATUS : ‐ Mulai berlaku sejak tanggal diundangkan Ditetapkan pada tanggal 7 November 2011  CATATAN : Keamanan nasional merupakan kondisi dinamis bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk menjamin keselamatan. dan kondisi lingkungan strategis.  Pasal  21. dan bangsa. perkembangan situasi.  dan  Pasal  28J  Undang‐Undang  Dasar  Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 17 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG INTELIJEN NEGARA ABSTRAK : bahwa sejalan dengan perubahan. baik dari aspek sumber. dan hak asasi manusia. nilai-nilai demokrasi. terlindunginya kedaulatan dan keutuhan wilayah negara. baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang bersifat kompleks serta memiliki spektrum yang sangat luas. serta keberlangsungan pembangunan nasional dari segala ancaman. demi terwujudnya tujuan nasional negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia.  Pasal  28I. Identifikasi dan analisis terhadap ancaman harus dilakukan secara komprehensif. kecenderungan. masyarakat. sifat dan bentuk. kedamaian. dan kesejahteraan warga negara. sehingga penting untuk melakukan deteksi dini dan peringatan dini yang mampu mendukung upaya menangkal segala bentuk ancaman yang membahayakan eksistensi dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. maupun yang sesuai dengan dinamika kondisi . serta penguatan kerja sama dan koordinasi Intelijen Negara dengan menghormati hukum. perlu melakukan deteksi dini dan peringatan dini terhadap berbagai bentuk dan sifat ancaman.INTELIJEN – INTELIJEN NEGARA UU NO. diperlukan Intelijen Negara yang tangguh dan profesional.

. Guna menunjang aktivitas Intelijen bertindak cepat. dan sabotase yang mengancam keamanan. pencegahan dan penangkalan dini. penyelenggaraan Intelijen Negara dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Negara. penyadapan. dan penggalangan menggunakan metode kerja. Rahasia Intelijen merupakan bagian dari rahasia negara yang memiliki Masa Retensi. serta propaganda dan perang urat syaraf. serta penyelenggara Intelijen kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian. Dalam Undang-Undang ini.lingkungan strategis. dan penggalian informasi terhadap Setiap Orang yang berkaitan dengan kegiatan terorisme. seperti pengintaian. Penyelenggara Intelijen Negara terdiri atas penyelenggara Intelijen Negara yang bersifat nasional (Badan Intelijen Negara). Badan Intelijen Negara diberikan wewenang untuk melakukan penyadapan. pemeriksaan aliran dana. spionase. pengamanan. dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. penjejakan. dan akurat. Intelijen Negara bagian integral dari sistem keamanan nasional yang memiliki wewenang untuk menyelenggarakan fungsi dan melakukan aktivitas Intelijen berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. penyurupan (surreptitious entry). Keberadaan dan aktivitas Intelijen Negara tidak terlepas dari persoalan kerahasiaan. kedaulatan. Upaya untuk melakukan penilaian terhadap ancaman tersebut dapat terwujud dengan baik apabila Intelijen Negara sebagai bagian dari sistem keamanan nasional yang merupakan lini pertama mampu melakukan deteksi dini dan peringatan dini terhadap berbagai bentuk dan sifat ancaman. baik yang potensial maupun aktual. Penyelenggaraan fungsi dan kegiatan Intelijen meliputi penyelidikan. pengawasan. Untuk mewujudkan sinergi terhadap seluruh penyelenggara Intelijen Negara dan menyajikan Intelijen yang integral dan komprehensif. tepat. penyelenggara Intelijen alat negara. separatisme.

Ketentuan Pasal 11 ditambah 1 (satu) ayat. Ketentuan Pasal 18 diubah. yakni Pasal 20A. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 15. Ketentuan Pasal 29 diubah. 10. 4. Pasal 24A. Ketentuan Bagian Pertama Pengangkatan diubah. Ketentuan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) diubah. 23. Ketentuan Pasal 26 diubah. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. Pasal 22C. 3.KOMISI YUDISIAL – PERUBAHAN UU NO. Ketentuan Pasal 37 diubah. Ketentuan Pasal 28 diubah. Di antara Pasal 20 dan Pasal 21 disisipkan 1 (satu) pasal. Di antara Pasal 40 dan Pasal 41 disisipkan 2 (dua) pasal. Pasal 24. 16. 21. Pasal 22E. yakni ayat (3). Ketentuan mengenai Komisi Yudisial sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebagian sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat dan kehidupan ketatanegaraan. Pasal 22D. Pasal 23 dihapus. Ketentuan Pasal 38 ayat (3) diubah. 20. ABSTRAK : Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum yang menjamin kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menjalankan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. serta perilaku Hakim demi tegaknya hukum dan keadilan sesuai dengan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 9. 13. 17. 14. dan Pasal 24B Undang-UUD Tahun 1945. Ketentuan Pasal 22 diubah. dengan sistimatika sebagai berikut : 1. 5. 22. Di antara Pasal 22 dan Pasal 23 disisipkan 7 (tujuh) pasal. Ketentuan Pasal 3 diubah. Ketentuan Pasal 20 diubah. . 18 TAHUN 2011 2011 UNDANG – UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL. Pasal 22B. Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka melalui pengusulan pengangkatan hakim agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Berdasarkan pertimbangan tersebut dipandang perlu membentuk Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 8. Ketentuan Pasal 13 diubah. Pasal 24 dihapus. Ketentuan Pasal 6 ayat (3) diubah. 7. 2. Undang-Undang ini mengatur tentang : Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. yakni Pasal 40A dan Pasal 40B. Ketentuan Pasal 1 diubah. 12. Dasar Hukum : Pasal 20. 19. yakni Pasal 19A. Ketentuan Pasal 12 ayat (1) diubah. Pasal 22F. yakni Pasal 22A. 11. 6. keluhuran martabat. 18. Di antara Pasal 19 dan Pasal 20 disisipkan 1 (satu) pasal. Pasal 21 dihapus. dan Pasal 22G.

Diundangkan pada tanggal 9 November 2011. .STATUS : Mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

melindungi.  37  Tahun 1999. Resolusi tersebut memuat hak-hak penyandang disabilitas dan menyatakan akan diambil langkah-langkah untuk menjamin pelaksanaan konvensi ini. sebagai upaya menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. memajukan. Tujuan konvensi ini adalah untuk memajukan. UU No. memenuhi. .  Pasal  11. penandatanganan tersebut menunjukan kesungguhan Negara Indonesia untuk menghormati. dan menjamin kesamaan hak dan kebebasan yang mendasar bagi semua penyandang disabilitas.  Undang‐undang ini mengatur tentang:  Pengesahan  Convention  on  The  Rights  of  Persons  With  Disabilities  (Konvensi  Mengenai Hak‐hak Penyandang Disabilitas)  ‐ ‐ STATUS : ‐ Mulai berlaku sejak tanggal diundangkan Ditetapkan pada tanggal 10 November 2011  CATATAN : Pada tanggal 13 Desember 2006 Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa telah mengeluarkan Resolusi Nomor A/61/106 mengenai Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas). menghormati. serta penghormatan terhadap martabat penyandang disabilitas sebagai bagian yang tidak terpisahkan (inherent dignity). sehingga perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia terhadap kelompok rentan khususnya penyandang disabilitas perlu ditingkatkan. 24 Tahun 2000.  dan  Pasal  28  I  ayat  (2)  Undang‐Undang  Dasar  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  1945. yang pada akhirnya diharapkan dapat memenuhi kesejahteraan para penyandang disabilitas. dan memenuhi hakhak penyandang disabilitas. Pemerintah Indonesia telah menandatangani Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas). Dasar  hukum:  Pasal  5  ayat  (1). dalam upaya melindungi. 19 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN CONVENTION ON THE RIGHTS OF PERSONS WITH DISABILITIES (KONVENSI MENGENAI HAK-HAK PENYANDANG DISABILITAS) ABSTRAK : bahwa Pemerintah Republik Indonesia telah menandatangani Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) pada tanggal 30 Maret 2007 di New York. dan memajukan hak-hak penyandang disabilitas. melindungi. UU No.KONVENSI – PENGESAHAN UU NO.  UU  No.  Pasal  20. 17 Tahun 2003.

16. dan partisipasi masyarakat serta tanggung jawab dan kewajiban negara dalam penyelenggaraan rumah susun sehingga perlu diganti. 5. Tujuan. Pendanaan dan Sistem Pembiayaan. 20 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG RUMAH SUSUN ABSTRAK : Bahwa negara bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan perumahan melalui rumah susun yang layak bagi kehidupan yang sehat. Hak dan Kewajiban. Ketentuan Penutup. Ketentuan Umum. Asas. 13. 2. 15. harmonis. 6. Kelembagaan. 14. Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. kebutuhan setiap orang. bahwa Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum. 7. dan Ruang Lingkup. Pengelolaan. ayat (2). 17. Mulai berlaku pada tanggal diundangkan. UU No. Pemilikan. Peningkatan Kualitas. Penyelesaian Sengketa. Sanksi Administratif. dan Pemanfaatan. 9. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75. serta negara berkewajiban memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 19. Tugas dan Wewenang. 18. Undang-Undang ini mengatur tentang : Perumahan dan Kawasan Permukiman. Pembangunan. Perencanaan. Penguasaan. Dasar hukum :Pasal 20. Peran Masyarakat.RUMAH SUSUN UU NO. 10. dan ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-Undang ini. 11. 12. Pembinaan. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3318) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ketentuan Pidana. Pengendalian. – – STATUS : - - . Larangan. Pasal 21. 8. 4. dengan sistematika sebagai berikut: 1. dan Pasal 28H ayat (1). dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. aman. 1 Tahun 2011.

Ditetapkan pada tanggal 22 November 2011. fungsi. 11. 23 Tahun 1999. Tujuan. Ketentuan Penutup. dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya. diperlukan otoritas jasa keuangan yang memiliki fungsi. OTORITAS JASA KEUANGAN – UNDANG-UNDANG UU NO. transparan. . Pelaporan dan Akuntabilitas. dan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. tugas dan wewenang pengaturan. adil. dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya beralih dari Menteri keuangan dan Badan Badan pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan ke OJK. Dana Pensiun. Organisasi Kepegawaian. 2. 7. fungsi. serta mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil. dan Tempat Kedudukan. Ketentuan Peralihan. 10. 14. tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan beralih dari Bank Indonesia ke OJK. 5. UU No. dan Pasal 33UUD 1945. Lembaga Pembiayaan. . 9. Perasuransian. dan Peransuransian. dan wewenang pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan di dalam sektor jasa keuangan secara terpadu. diperlukan kegiatan di dalam sector jasa keuangan yang terselenggara secara teratur. dan Wewenang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain. Lembaga Jasa Keuangan adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan di sektor Perbankan. Sejak tanggal 31 Desember 2012. pengawasan. . Ketentuan Umum. Dana Pensiun. OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan. Ketentuan Pidana. STATUS : KETERANGAN : - - - - . Fungsi. Hubungan Kelembagaan. Tugas. Pimpinan tertinggi OJK adalah Dewan Komisioner yang bersifat kolektif dan kolegial. tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal. Pasal 20. 3.Bahwa untuk mewujudkan perekonomian nasional yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil. Pembentukan. 21 TAHUN 2011 2011 UNDANG-UNDANG TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN ABSTRAK : .Dasar hukum: Pasal 5 ayat (1). Kode Etik dan Kerahasiaan Informasi. independen dan akuntabel.Undang-undang ini mengatur: 1. dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya. . Lembaga Pembiayaan. 13.Mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. . Perlindungan Konsumen dan Masyarakat. Pasar Modal. Status . Pasar Modal. Dana Pensiun. 12.Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud diatas. Penyidikan. tugas. Lembaga Pembiayaan. Sejak tanggal 31 Desember 2013. pemeriksaan dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam UU OJK. 4. Perasuransian . Rencana Kerja dan Anggaran. 8. dan akuntabel. Dewan Komisioner. 6.- Diundangkan pada tanggal 10 November 2011. yang mempunyai fungsi.

nirlaba. dana amanat. CATATAN : . kepada Presiden dengan tmbusan kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) paling lambat tanggal 30 Juni tahun berikutnya. Pengawasan. 2. 15. Ketentuan Lain-Lain. Pada Bab IX tentang Pengawasan Pasal 39 ayat (1). Tugas. Undang-Undang ini mengatur tentang : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Pasal 28H ayat (1). Pembentukan dan Ruang Lingkup. 14. dan hasil pengelolaan dana jaminan sosial seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta. 16. 10. 7. STATUS : Mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pertanggungjawaban. 17. Penyelesaian Sengketa. kepesertaan bersifat wajib. Pendaftaran Peserta dan Pembayaran Iuran. dan ayat (3) diatur bahwa Pengawasan terhadap BPJS dilakukan secara ekternal dan internal. harus dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dengan Undang-Undang yang merupakan transformasi keempat Badan Usaha Milik Negara untuk mempercepat terselenggaranya sistem jaminan sosial nasional bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketentuan Peralihan. keterbukaan. 12. Pada Bab VIII tentang Pertanggungjawaban Pasal 37 ayat (1) diatur bahwa BPJS wajib menyampaikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya dalam bentuk laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahuan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik. Dan Pemberhentian Anggota Dewan Pengawas Dan Anggota Direksi. 5. Hubungan Dengan Lembaga Lain. ayat (2). Dasar Hukum : Pasal 20. 24 TAHUN 2011 2011 UNDANG – UNDANG TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL ABSTRAK : Bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional yang merupakan program Negara yang bertujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. Wewenang. Pembubaran BPJS. 6. Pasal 23A. Pasal 21. Larangan. Berdasarkan pertimbangan tersebut dipandang perlu membentuk Undang-Undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL UU NO. dan 18. Untuk mewujudkan Sistem Jaminan Sosial Nasional perlu dibentuk badan penyelenggara yang berbentuk badan hukum dengan prinsip kegotongroyongan. UU Nomor 40 Tahun 2004. 3. 9. 11. Hak. ayat (2) dan ayat (3). Dan Kewajiban. 4. Persyaratan. Diundangkan pada tanggal 25 November 2011. Aset. Organ BPJS. Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) UUD Tahun 1945. kehati-hatian. Fungsi. 8. Ketentuan Umum. portabilitas. dengan sistimatika sebagai berikut : 1. 13. akuntabilitas. Tata Cara Pemilihan Dan Penetapan. Ketentuan Penutup. Status Dan Tempat Kedudukan. Ketentuan Pidana.

Sumber lain yang sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Modal awal dari Pemerintah. Dewan Pengawas. Satuan pengawas internal. dilakukan oleh : 1. Pasal 42 diatur bahwa modal awal untuk BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan ditetapkan masing-masing dua triliun yang bersumber dari APBN. dan dalam hal tertentu sesuai dengan kewenangannya Badan Pemeriksa Keuangan dapat melakukan pemeriksaan. yang terdiri atas : 1. Dalam penjelasan Pasal 39 ayat (3) dijelaskan bahwa Yang dimaksud dengan Lembaga Pengawas Independen adalah Otoritas Jasa Keuangan.Pengawasan Internal BPJS dilakukan oleh organ pengawas BPJS. dan 4. Biaya untuk peningkatan kapasitas pelayanan. Pada Bab X tentang Aset Pasal 41 ayat (1) disebutkan bahwa Aset BPJS bersumber dari : 1. Lembaga pengawas independen. 2. DJSN. dan 2. 3. Biaya pengadaan barang dan jasa yang digunakan untuk mendukung operasional penyelenggaraan Jaminan Sosial. 3. Biaya operasional penyelenggaraan Program Jaminan Sosial. Dana operasional yang diambil dari Dana Jaminan Sosial. 2. Pengawasan Eksternal BPJS . Hasil pengalihan asset Badan Usaha Milik Negara yang menyelenggarakan program jaminan sosial. . Hasil pengembangan asset BPJS. dan 2. Investasi dalam instrument investasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau 5. 4. Aset BPJS dapat digunakan untuk : 1. yang merupakan kekayaan Negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->