Anda di halaman 1dari 2

Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. 6, No. 3, Desember 2008 : Hal.

193 - 195

I S S N . 1 6 9 3 - 2 5 8 7

Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. 6, No. 3, Desember 2008

194

Jurnal Oftalmologi Indonesia

JOI

Be Alert on The Post Traumatic

JOI

BE ALERT ON THE POST TRAUMATIC OCULAR-BULBAR DISPLACEMENT


Penanganan dan penatalaksanaan yang cepat dan terpadu pada penderita yang mengalami trauma yang tidak jelas pada bola mata, dapat mencegah penyulit atau komplikasi yang timbul akibat trauma tersebut. LAPORAN KASUS Seorang anak laki-laki berumur 12 tahun dirujuk ke Poli Mata RSU Dr. Soetomo dengan keluhan mata kanan kabur sejak sepuluh hari yang lalu. Dua hari yang lalu didapatkan mata kiri lebih kabur, merah, bengkak, cekot-cekot, dan ngganjel. Mata kiri tidak ada keluhan. Menurut orang tuanya penderita ditusuk teman dengan benda yang tidak diketahui dan tidak tampak lubang masuk maupun adanya benda tersebut dimata sehingga tidak dianggap serius. Kemudian dibawa ke spesialis mata, dikatakan adanya infeksi ringan dan diberi antibiotika tetes mata. Orang tua tidak menceritakan awal kejadian. Penderita kemudian dirujuk ke RS Dr. Soetomo. RIWAYAT PEMERIKSAAN Didapatkan VOD : 6/20 pinhole 6/10, TOD : 17,3 mmHg , VOS : 6/6, TOS : 17,3 mmHg. Pada pemeriksaan segmen anterior dekstra didapatkan spasme palpebra, hiperemi konjungtiva, dan terdapat hambatan pergerakan mata kearah nasal. Pada pemeriksaan funduskopi didapatkan refleks fundus positif. PEMERIKSAAN MRI Adanya corpus alienum lurus memanjang sepanjang 5,5 cm dengan diameter 0,5 cm di rongga orbita kanan tepatnya medial globe menembus masuk sinus ethmoidalis kanan. Didapatkan chronic sinusitis ethmoidalis-maxillaris-sphenoidalis bilateral dan chronic mastoiditis bilateral. Tidak ada kelainan brain parenchyma / intracranial. PENATALAKSANAAN Tindakan operasi ektraksi corpus alienum dilakukan dengan pembiusan total, bersama dengan bagian telinga hidung tenggorokan. Corpus alienum berhasil diekstraksi berupa patahan pulpen yang terbuat dari plastik / PMMA yang isi pulpennya tidak ada (kosong). HASIL Satu hari setelah tindakan operasi didapatkan: VOD : 6/7,5 pinhole 6/6,6, TOD: 17,3 mmHg. Pada segmen anterior mata kanan didapatkan hiperemi konjungtiva dan subkonjungtiva bleeding. Lain-lain dalam batas normal. PEMBAHASAN Kasus ini secara anatomis adalah panuveitis, secara klinik termasuk kronik uveitis, secara etiologi masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Etiologinya panuveitis 27-92% idiopatik, tidak didapatkan hubungan secara sistemik, pemeriksaan mata, laboratorium atau pemeriksaan radiologi. Penegakan diagnosa panuveitis pada kasus ini berdasarkan tanda dan gejala yang ada yaitu pandangan kabur, mata merah, fotofobi, nyeri dan sinekia posterior serta adanya vitreous echogenic lesion < 30% RCS complex didepan retina pada hasil USG. A

Ratna Doemilah*, Bakti Surarso**, Evelyn Komaratih*, Erna Emilijah* *) Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya **)Bagian Telinga Hidung Tenggorokan Fakultas Kedokteran Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

ABSTRACT Introduction: To report corpus alienum finding in the right retrobulber region after penetrating trauma with unknown trauma mechanism. Method: A case report, 12 years old boy with lateral displacement of ocular bulbar in right eye. History revealed right eye became blurred gradually since 10 days ago, and 2 days ago it became pain and hyperemia. The left eye was normal. Examination on the right eye showed visual acuity 6/20 pinhole 6/10, IOP 17,3 mmHg, lid spasm, lid hematom, and conjunctival hyperemia. There was positive fundal examination on the right eye. MRI of skull examination showed straight corpus alienum 5,5 cm with diameter 0,5 cm in the right retrobulber region penetrated to ethmoidalis sinus, maxillaries sinus and sphenoidalis sinus. Brain parenchymal was normal. We decided to perform exploration and extraction of the corpus alienum joint operation with ear, nose and throat department . Durante operation we identified corpus alienum as a piece of broken PMMA/plastic pen and we extracted it successfully. Result: One day later right eye examination revealed no displacement of ocular bulbar, visual acuity on the right eye was 6/8,5 pinhole 6/6, conjunctiva still hyperemia, cornea was clear. Fundal examination revealed normal fundus. Conclusion: By an early awareness of the ocular bulbar displacement with unknown trauma we can prevent further complication, and give a good result with adequate management. Key word : ocular bulbar displacement, unknown trauma. Correspondence: Erna Emilijah, c/o: Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSU Dr. Soetomo. Jl. Mayjend. Prof. Dr. Moestopo 6-8 Surabaya 60286. E-mail:

PENDAHULUAN Sebagai organ terpenting, mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik yaitu rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar, disamping refleks memejam atau mengedip. Pada mata dapat terjadi trauma tumpul, trauma tembus bola mata, trauma kimia dan trauma radiasi yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak, saraf mata dan rongga orbita.Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit lebih berat yang dapat mengganggu fungsi penglihatan

maupun kebutaan. Trauma tumpul mata dapat merupakan penyebab kebutaan unilateral pada anak dan dewasa muda. Berdasarkan studi Schein pada the Massachusetts eye and ear infirmary, 8% dari populasi yang mengalami trauma tumpul mata cukup berat adalah anak dibawah usia 15 tahun. Studi Israel menerangkan bahwa 47% dari 2500 kejadian trauma mata terjadi pada usia dibawah 17 tahun. Laporan kasus kali ini menunjukkan bahwa para ahli mata harus lebih waspada terhadap trauma yang tidak jelas dan adanya pergeseran bolamata.

Gambar 1. Hasil pemeriksaan MRI kepala : a. tampak corpus alienum posisi memanjang, b. corpus alienum posisi melintang.

1 193

Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. 6, No. 3, Desember 2008

195

Be Alert on The Post Traumatic

JOI

Gambar 3. Sebelum operasi mata kanan tampak terdorong ke lateral.

Gambar 2. A. Durante o perasi e kstraksi c orpus alienum,

Gambar 4. Sesudah operasi posisi mata kanan di tengah (normal)

DAFTAR PUSTAKA 1. MacCumber. W. Mathew. Management of Ocular Injuries and Emergencies, Lippincot- Raven, Philadelphia, 1998, p 227-34; 285-308. 2. Pavan D, Langston. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy, Fifth Edition. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2002, p31-46; 187. 3. Kanski J.J, Clinical Ophthalmology, Fourth Edition, Butterworth-Heinmann, Great Britain,1999, p 652-59. 4. American Academy of Ophthalmology, The Eye M.D Association section 12: Retina and Vitreous,

AAO, San Francisco, 2003-2004, p 233-5. 5. Rapuano. CJ., Luchs. JI., Kim Terry, Anterior Segment The Requisites In Opthalmology, Series Editor, Mosby, 2000, p 286; 288. 6. American Academy of Ophthalmology, The Eye M.D Association section 8; external disease and cornea, AAO, San Francisco, 2003-4, p 382-93. 7. Hersh. S. P, Ophthalmic Surgical Procedures, First Edition, Little, Brown and Company, Boston/Toronto, 1988, p 294.