Anda di halaman 1dari 22

MANAJEMEN KESEHATAN DOKTER GIGI KELUARGA

Disusun oleh: Kelompok 4 Meilina Nur Sahar Nenden Dwi P Asep Syaefulloh Vina Mawaddah Puspa Narendra M. Duma S. Panjaitan Adetya Ghassani N. Citra Adien A. Rizky Bayu Utomo Sawitri T. Adinda Pertiwi 10/KG/8573 10/KG/8575 10/KG/8577 10/KG/8579 10/KG/8581 10/KG/8583 10/KG/8585 10/KG/8587 10/KG/8589 10/KG/8591 10/KG/8593 Andhini Bellatrix Cornita Ayu S Annisa Khairina Nadya Cahya P Dewi Ayu Karina Farisah Atsari Rizki Amalia F Stella Advenna A Sarah Dini P Hanna Liza Utami 10/KG/8595 10/KG/8597 10/KG/8599 10/KG/8601 10/KG/8603 10/KG/8605 10/KG/8607 10/KG/8609 10/KG/8611 10/KG/8615

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2012

KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul: DOKTER GIGI KELUARGA Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya tim penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah terciptanya masyarakat Indonesia yang hidup dan berperilaku dalam lingkungan sehat dan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu. Selain itu pelayanan kesehatan yang diberikan diseluruh wilayah Indonesia harus dilakukan secara adil merata dan optimal. Terdapat 4 (empat) misi pembangunan kesehatan untuk dapat mencapai tujuan tersebut, yaitu: (1) Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan; (2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat; (3) Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau; (4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat serta lingkungannya. Indonesia merupakan sebuah negara dengan jumlah penduduk yang cukup besar. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah 237.556.363 jiwa (BPS, 2010). Permasalahan kesehatan pada negara dengan jumlah penduduk yang begitu besar, tentunya memerlukan perhatian dan manajemen pelayanan kesehatan yang baik. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Hasil studi morbiditas SKRT SURKESNAS 2001 menunjukkan bahwa dari 10 (sepuluh) kelompok penyakit terbanyak yang dikeluhkan masyarakat, penyakit gigi dan mulut menduduki urutan pertama (60% penduduk). Kondisi ini berarti mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Upaya kesehatan gigi yang dilaksanakan pemerintah selama ini masih berorientasi pada upaya kuratif dan belum terselenggara secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Namun, belakangan ini pemerintah telah melaksanakan perubahan upaya kesehatan gigi yang berorientasi pada paradigma sehat dengan lebih menekankan upaya promotif dan preventif dalam bentuk pelayanan kedokteran gigi keluarga. Pendekatan pelayanan kedokteran gigi keluarga sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut.

Pelayanan kedokteran gigi keluarga adalah suatu upaya pelayanan bidang kesehatan gigi dan mulut yang bersifat menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan berkesinambungan yang memusatkan layanannya kepada setiap individu dalam suatu keluarga binaan. Tujuan utama pelayanan kedokteran gigi keluarga adalah tercapainya keluarga yang mandiri dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut dan terpenuhinya kebutuhan keluarga untuk memperoleh pelayanan kesehatan gigi yang optimal, bermutu, terstruktur dan berkesinambungan. Dengan bantuan dan masukkan serta konstrbusi semua pihak maka pada tahun 2005 telah disusun dan dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1415/Menkes/SK/X/2005 tentang Kebijakan pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga. Agar penyelenggaraan pelayanan kedokteran gigi keluarga dapat berjalan dengan baik, perlu adanya pemahaman dari praktisi kesehatan gigi. B. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. C. Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. Memahami pengertian dokter gigi keluarga beserta tujuan dan visi misinya. Memahami konsep dasar dokter gigi keluarga. Mengetahui dan memahami kompetensi dokter gigi keluarga. Mengetahui jenis-jenis pelayanan, model pelayanan, dan cakupan dokter gigi keluarga. Mengetahui dan memahami mekanisme pembiayaan dokter gigi keluarga. Apa saja masalah kesehatan gigi dan mulut di keluarga? Apa yang dimaksud dengan dokter gigi keluarga? Bagaimana konsep dasar dokter gigi keluarga? Apa saja visi dan misi dokter gigi keluarga? Apa saja kompetensi dokter gigi keluarga? Apa saja jenis pelayanan, model pelayanan, dan ruang lingkup dokter gigi keluarga? (ikutin master) Bagaimana mekanisme pembiayaan dokter gigi keluarga?

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA Departemen Kesehatan Indonesia mengatakan bahwa, dengan mengacu pada focus pelayanan dokter gigi keluarga, maka struktur anggota yang menjadi target adalah Ibu, Bapak, Anak yang dimulai sejak janin dalam kandungan, balita, remaja, dewasa muda dan lansia. Apabila ditijau dari fase tumbuh kembang yang ada dalam suatu keluarga, maka kebutuhan pelayanan dan asuhan secara spesifik dapat diidentifikasi mealui pertanyaan: masalah kesehatan gigi apa saja yang paling sering ditemui pada suatu keluarga? Diitnjau dari fase tumbuh kembang dalam suatu keluarga, ada beberapa masalah kesehatan gigi keluarga antara lain: 1. Fase tumbuh kembang awal/janin, yaitu gizi. 2. Fase kanak-kanak yaitu gizi, kebiasaan buruk dan masalah pedodonsia. 3. Fase remaja yaitu masalah gigi dan mulut terkait hormone, ortognatik dan estetik. 4. Ibu yaitu masalah gigi dan mulut terkait hormone, sistemik dan penyakit gigi dan mulut umum. 5. Bapak yaitu masalah gigi dan mulut umum, terkait sistemin, stress dan merokok. 6. Lansia yaitu masalah gigi dan mulut terkait geriatric. 7. Komponen perilaku kesehatan yaitu kebutuhan modifikasi perilaku dan konseling.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 039/Menkes/SK/I/2007 menyatakan, pengertian dokter gigi keluarga adalah dokter gigi yang mampu menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi yang berorientasi kepada komunitas dan keluarga sebagai sasaran utama, dan memandang individu-individu baik yang sakit maupun sehat sebagai bagian dari unit keluarga serta komunitasnya. Dalan melaksanakan tugasnya, dokter gigi keluarga merupakan kontak pertama yang harus proaktif memecahkan masalah kesehatan gigi dan mulut sesuai asuhan pelayanan kedokteran gigi dasar. Layanan dokter gigi keluarga yang diberikan seharusnya terjaga

mulutnya dengan mengutamakan pendekatan promotif dan preventif serta menerapkan ilmu pengetahuan kedokteran gigi mutakhir secara rasional dengan memperhatikan sistem rujukan. Pelayanan kesehatan gigi keluarga berkonsep dasar pada usaha menuju kesehatan gigi secara holistik dan berfokus pada setiap individu yang terlibat dalam keluarga. Pendekatan pelayanan harus bersifat holistic yang meliputi pelayanan preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan memperhatikan faktor resiko dan sistem rujukan. Disamping itu, pelayanan harus diberikan secara terpadu, berkelanjutan, dan produktif serta bertanggung jawab untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan seluruh anggota dalam suatu komunitas atau lingkungan tempat tinggal keluarga (Wardani, 2008) Dokter Gigi keluarga selaku pemberi pelayanan dituntut untuk memenuhi beberapa prinsip pelayanan kedokteran gigi keluarga yang merupakan landasan berpikir dan bertindak secara professional, yaitu : 1. Dokter gigi sebagai kontak pertama (first contact) Dokter Gigi keluarga adalah pemberi layanan kesehatan (provider) yang pertama kali ditemui oleh pasien dalam menyelesaikan masalah kesehatan gigi dan mulut. Dokter Gigi keluarga berfungsi sebagai kontak pertama dan penapis rujukan ke fasilitas yang lebih mampu. 2. Layanan bersifat pribadi (personal care) Dokter gigi keluarga memberikan pelayanan kepada perorangan (pribadi) dengan memperhatikan bahwa setiap orang merupakan bagian dari keluarganya. Adanya hubungan timbal balik antara dokter gigi keluarga dengan pasien dan seluruh keluarganya member peluang bagi seorang dokter gigi keluarga untuk memahami maslah pasien secara lebih luas. Dengan demikian, keputusan medis dibuat tidak hanya dari aspek medis tetapi juga dengan mempertimbangkan aspek sosial, budaya dan ekonomi si pasien beserta keluarganya. 3. Pelayanan paripurna (comprehensive) Dokter Gigi keluarga memberikan pelayanan menyeluruh dengan pendekatan pemeliharaan, promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative sesuai dengan kebutuhan pasien. Namun, dalam memberikan layanannya, Dokter Gigi

keluarga lebih menekankan pada upaya promotif, perlindungan khusus, deteksi, dan tindakan penanganan dini. 4. Paradigma sehat Pelayanan kesehatan gigi keluarga berorientasi pada paradigm sehat. Dokter gigi keluarga mampu mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri melalui kesadaran yang tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. 5. Pelayanan berkesinambungan (continuos care) Pelayanan kedoteran gigi keluarga berpusat pada pasien (patientoriented). Prinsip ini melandasi hubungan jangka panjang antara Dokter Gigi keluarga dan pasiennya dengan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang berkesinambungan dalam beberapa tahap kehidupan manusia. 6. Koordinasi dan kolaborasi Dalam upaya mengatasi masalah pasiennya, Dokter Gigi keluarga perlu berkonsultasi dengan disiplin lain, merujuk ke spesialis dan memberikan informasi yang sejelas-jelasnya kepada pasien. Oleh karena itu, dokter gigi keluarga bertindak sebagai coordinator yang mengurusi segala hal yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut pasien. Bila pasien membutuhkan pelayanan yang berada di luar kompetensinya, Dokter gigi keluarga seharusnya bekerja dama dan mendelegasikan penanganan pasien kepada pihak lain (dokter gigi spesialis, dokter keuarga, dan dokter spesialis) yang lebih kompeten dalam menangani kebutuhan pasiennya. 7. Family and community oriented Dalam mengatasi maslah si pasiennya, pasien Dokter Gigi keluarga keluarga tanpa mempertimbangkan kondisi terhadap

mengesampingkan pengaruh lingkungan sosial dan budaya tempat pasien tinggal dan bekerja. Dokter gigi keluarga tetap memperhatikan dampak kondisi pasien terhadap komunitas dan sebaliknya. (departemen kesehatan Indonesia. 2006)

Visi dan misi dokter gigi keluarga menurut KEMENKES RI adalah sebagai berikut: Visi Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga adalah kemandirian keluarga dalam upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan tercapainya derajat kesehatan gigi dan mulut setinggi-tingginya, melalui pelayanan kedokteran gigi keluarga secara efisien, efektif, adil, merata, aman, dan bermutu. Misi Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga adalah: 1. Mendorong kemandirian keluarga dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut. 2. Mengusahakan tersedianya pelayanan dokter gigi keluarga yang merata, bermutu, dan terjangkau. 3. Memberikan pelayanan, memelihara, dan meningkatkan kesehatan gigi perseorangan serta masyarakat (keluarga binaan) sehingga tercapai derajat kesehatan gigi dan mulut yang diharapkan. 4. Meningkatkan profesionalisme dokter gigi keluarga dalam mengemban peran, tugas, fungsinya, dan, 5. Meningkatkan kemitraan dengan profesi, institusi pendidikan, dan pihak-pihak terkait. Ruang lingkup pekerjaan dokter gigi keluarga dan ruang lingkup substansi unit keluarga diberikan kompetensi yang spesifik yang berbeda dengan dokter gigi umum (Wardani, 2008). Berdasarkan sifat dan hakekat dokter gigi keluarga, serta uraian Lingkup Garapan dan Lingkup Substansi, maka peta kompetensi dokter gigi keluarga dapat digambarkan sebagai berikut:

Bidang Garapan (menurut tumbuh kembang Kompetensi yang diperlukan No fase keluarga & masalahnya) 1 Fase janin: tumbuh kembang analisis gizi dan diet, konseling diet, gizi 2 Ibu/hamil: gangguan hormonal penyakit gigi dan mulut Identifikasi faktor-faktor risiko Modifikasi perilaku dan kebiasaan

oral hygine perilaku & motivasi calon ibu Anak-anak: masalah klinis pedodontia kebiasaan buruk anak awal masalah maloklusi

Perubahan perilaku penatalaksanaan pasien anak diagnosis dini & perawatan yang tepat Identifikasi faktor-faktor risiko Orthodonti untuk diagnosis dini dan perawatan segera Intervensi klinik pasien dewasa kontrol terhadap perokok manajemen stress

Bapak: Penyakit sistemik penyakit gigi dan mulut merokok & stress pembiayaan kesehatan keluarga pengambilan

manajemen faktor risiko keputusan pengaturan dana keluarga

kesehatan

keluarga Hubungan dokter-pasien rasa takut & cemas ketidak puasan ketidak percayaan persepsi biaya mahal Manajemen:

manajemen ketakutan & cemas komunikasi & edukasi penataan klinik yang nyaman perawatan sesuai S.O.P diagnosis dan perawatan klinik manajemen data epidemiologis

data kepenyakitan pembiayaan data SDM data fasilitas dan logistik pengolahan limbah Etika dan Hukum dalam kedokteran gigi keluarga

klinis pembiayaan manajemen SDM manajemen logistik manajemen limbah

masalahnya: pelanggaran etik prinsip dasar etika malpraktik hukum kedokteran pelanggaran perjanjian oleh kaitannya dengan pihak ke3 pelanggaran hukum kedokteran, dll

UU

praktik

(Keputusan Mentri Kesehatan RI, 2007)

Menurut Herijulianti (2001), Pelayanan kedokteran gigi keluarga dilaksanakan dengan pola pelayanan berlapis melalui sistem rujukan berjenjang (Level of Care) dengan pendekatan Primary Health Care. Tujuan pelayanan berlapis adalah untuk memberikan pelayanan yang menyeluruh dengan tingkat-tingkat pelayanan yang dikaitkan dengan sumber daya yang ada dimasyarakat dan institusi pelayanan kesehatan. 1. Pelayanan pada lapis pertama adalah Basic Emergency Care, yaitu pelayanan darurat dasar yang harus dapat melayani siapa saja dan dimana saja. 2. pelayanan lapis kedua adalah Preventif Care, yaitu pelayanan bersifat pencegahan. a. Pelayanan pencegahan ditujukan kepada komunitas. Secara keseluruhan melalui (1) fluoridasi air minum, (2) pemasaran pasta gigi berfluor, dan (3) kampanye kesehatan gigi melalui media masa untuk memperbaiki kesadaran pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat. b. Pelayanan pencegahan yang tertuju kepada kelompok. Hal ini dilaksanakan melalui: (1) promosi kesehatan gigi dan mulut melalui program pendidikan pada kelompok tertentu, (2) program pemberian tablet fluor, program kumur-kumur, dan gerakan sikat gigi masal dan (3) pemberian fluoridasi secara topical, fissure sealant, pembuangan karang gigi. c. Pelayanan pencegahan yang ditujukkan kepada perorangan. Dilakukan melalui (1) pemeriksaan gigi dan mulut pada pasien perorangan, termasuk pencatatan temuan-temuan patologis dan kelainan-kelainan dan rujukan bila diperlukan, (2) memberikan nasihat dan memberikan petunjuk kepada perorangan mengenai oral hygine, konsumsi fluoride, diet, perilaku yang membahayakan kesehatan, dan pemeriksaan diri sendiri, (3) aplikasi fluoride secara topical, fissure sealant, dan pembuangan karang gigi serta deteksi dini dan penumpukkan dengan ART. 1. Ruang lingkup kerja dokter gigi: a. Pelayanan darurat/basic emergency care yang terdiri dari: 1) Basic life support/pertolongan pertama pada keadaan darurat dan gawat darurat untuk selanjutnya dilakukan rujukan bila diperlukan.

2) Mengurangi rasa sakit dan atau eliminasi infeksi/pertolongan pertama pada gigi/mulut karena penyakit/cidera 3) Reposisi dislokasi sendi rahang 4) Replantasi gigi 5) Penyesuaian oklusi (akut)

b. Pelayanan pencegahan / preventive care yang terdiri dari: 1) Pendidikan kesehatan gigi (individu/kelompok) 2) Menghilangkan kebiasaan jelek/buruk 3) Tindakan perlindungan khusus 4) Tindakan penanganan dini (early detection & prompt treatment) 5) Memberi advokasi untuk menanggulangi kelainan saliva dan masalah nutrisi gizi/diet. c. Pelayanan medic gigi dasar/simple care meliputi: 1) Tumpatan gigi (glass ionomer / komposit resin / tumpatan kombinasi (open/ closed sandwich)) 2) Ekstraksi gigi (gigi sulung persistensi / gigi tetap karena panyakit / keperluan orthodonti / pencabutan serial (gigi sulung) 3) Perawtan pulpa (pulp capping / pulpotomi / perawatan saluran akar gigi anterior) 4) Perawatan / pengobatan abses 5) Penanganan dry socket 6) Mengobati ulkus rekuren (apthosa) 7) Pengelolaan halitosis

d. Pelayanan medic gigi khusus/moderate care meliputi 1) Konservasi gigi 2) Pedodonsi 3) Periodonsia 4) Bedah mulut 5) Orthodonsi 6) Prostodonsi 7) Oral medicine Cakupan kerja untuk dokter gigi keluarga mencakup 4 aspek yag meliputi Basic Emergency Care dengan basic life support/ pertolongan pertama untuk emergensi yang dilakukan sebelum pasien dirujuk bila perlu, reduksi nyeri dan/atau eliminasi infeksi, reposisi dislokasi TMJ, replantasi dental dan penyesuaian oklusal. Aspek yang kedua adalah perawatan preventif yang meliputi edukasi kesehatan gigi, eliminasi bad habit, deteksi dini dan melakukan perawatan untuk mengatur saliva dan problem nutrisi. Aspek ketiga adalah perawatan medic dasar simpel yang meliputi penumpatan, extraksi gigi, perawatan pulpa, perawatan abses, manajemen dry socet, perawatan ulser recurrent, dan manajemen halitosis. Dan aspek yang keempat adalah perawatan medik gigi spesial / perawatan moderate yang meliputi konservasi gigi, pedondontik, periodontik, bedah mulut, orthodontik, prostodontik, dan oral medicine (Wardani, 2008) Pelayanan dokter gigi keluarga dapat berkembang dari beberapa model, yaitu: 1. Dokter gigi keluarga praktik perorangan/praktek solo Pelayanan dokter gigi keluarga yang dikembangkan atas inisiatif dokter gigi dan perawat gigi dan sesuai dengan standar perijinan yang telah ditetapkan, serta memiliki sertifikat bahwa telah mengikuti Program Pendidikan Kedokteran Gigi Keluarga (PKGK) atau melalui diklat khusus melatih dokter gigi menjadi dokter gigi keluarga sesuai kompetensi yang diharapkan.

2. Dokter gigi keluarga praktik kelompok Dokter gigi keluarga beserta tim melaksanakan praktik untuk

pelayananan keluarga binaannya sebagai mitra kerja tergabung dalam system pelayanan dokter keluarga/dokter gigi keluarga. Pada dasarnya pembiayaan pada pelayanan dokter gigi keluarga haruslah cukup, dikelola secara efisien, adil dan berkelanjutan serta transparan dan akuntabel. Kondisi ini dapat tercapai jika pelayanan dokter gigi keluarga itu diselenggarakan dimana kepesertaan yang menjadi tanggung jawabnya terlindungi dalam suatu sistem jaminan, sehingga terpenuhinya kebutuhan dasar kesehatan melalui penyelenggaraan kesehatan yang terkendali, baik mutu maupun biayanya. Sisi lain dari jaminan kesehatan ini adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memperoleh dan membiayai pemeliharaan kesehatan serta pembentukan budaya prilaku hidup sehat. Pada sistem jaminan kesehatan, dengan pembayaran pra-upaya yang diterima dari badan penyelenggara JPK, dokter gigi keluarga sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) akan menekankan pada upaya promotif dan preventif, serta pelayanan kuratif dan rehabilitatif yang diberikan sesuai dengan kebutuhan. Bentuk pokok pembiayaan UKP (Upaya Kesehatan Perorangan) itu sendiri sebagaimana tercantum dalam SKN (Sistem Kesehatan Nasional) adalah sebagai berikut: 1. Dana untuk UKP dari individu dalam kesatuan keluarga melalui JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) wajib dan JPK sukarela 2. Dana untuk UKP masyarakat rentan dan keluarga miskin dari pemerintah melalui JPK wajib 3. Dana dari masyarakat (dana sehat dan dana sosial keagamaan digunakan untuk UKM dan UKP Dalam SKN dinyatakan pula bahwa jika sistem jaminan kesehatan telah berjalan, secara bertahap UKP strata 1 akan diselenggarakan dengan penerapan konsep dokter gigi keluarga, kecuali untuk daerah sangat terpencil masih akan dilakukan oleh Puskesmas (Keputusan Mentri Kesehatan RI, 2007). Sistem dokter gigi keluarga memakai sistem pembiayaan yang diadopsi dari sistem Managed Care (MC) yaitu suatu pelayanan kesehatan yang menyeluruh, yang dilaksanakan secara berjenjang dengan pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagai

ujung tombak, serta didukung oleh pembiayaan di muka (pre payment) dan pra upaya (prospective payment). Keempat pelaku terjadi hubungan saling menguntungkan dan berlaku penerapan jurus-jurus kendali biaya, kendali mutu pelayanan dan pemenuhan kebutuhan medis bagi peserta( berbentuk pelayanan paripurna dan berjenjang)

(Hendrartini, 2001) BAB III PEMBAHASAN 1. Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut di Keluarga

Penanganan pelayanan kesehatan gigi dan mulut saat ini umumnya masih cenderung pada penyakit gigi, belum bersifat komprehensif serta holistik. Pemberi pelayanan cenderung pasif, hanya menerima dan mengobati penderita yang datang berobat. Upaya-upaya promotif-preventif masih kurang diperhatikan. Sebenarnya "paradigma sehat" yang sedang digalakkan pemerintah mengutamakan upaya pemeliharaan, peningkatan dan perlindungan kesehatan. Klien (atau pasien) diposisikan sebagai subyek utama yang berperan, tidak semata-mata sebagai obyek eliminasi penyakit dan kecacatan.

2. Pengertian Dokter Gigi Keluarga Dokter Gigi keluarga adalah dokter gigi yang mampu melakukan pelayanan kesehatan gigi & mulut yang berorientasi pada komunitas dengan keluarga sebagai sasaran utama dan memandang setiap individu baik yang sakit/sehat sebagai unit keluarga serta komunitasnya. Dokter gigi keluarga dituntut mempunyai pengetahuan, sikap, dan perilaku professional dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dari keluarga binaannya dengan menyelenggarakan upaya pemeliharaan kesehatan gigi dasar paripurna dengan pendekatan holistic dan kesisteman serta proaktif dalam antisipasi dan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi keluarga yang memilihnya sebagai mitra utama pemeliharaan kesehatan gigi.

3. Konsep Dasar Dokter Gigi Keluarga Dalam pelayanannya, Dokter Gigi keluarga memiliki beberapa konsep dasar yang harus dijalankan. a. Fist Contact yaitu yang pertama kali ditemui oleh pasien. b. Personal Care yaitu memberikan layanan perorangan dengan memperhatikan semua pasiennya sebagai bagian dari keluarganya.

c.

Pelayanan paripurna (comprehensive) yaitu memberi pelayanan menyeluruh dengan pendekatan: preventif, kuratif dan rehabilitatif yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

d. e. f. g.

Pradigma sehat. Mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatannya. Continuous Care yaitu pelayanan berpusat pada pasien, melandasi hubungan Dokter dengan pasien. Koordinasi dan Kolaborasi yaitu dalam mengatasi masalah perlu berkonsultasi dengan disiplin lain, merujuk pasien. Family and Community Oriented dengan mempertimbangkan kondisi pasien terhadap keluarga tanpa mengesampingkan pengaruh lingkungan sosial dan budaya tempat pasien tinggal dan bekerja.

4. Visi dan Misi Dokter Gigi Keluarga Visi : Kemandirian keluarga mencapai derajat kesehatan gigi dan mulut setinggi-tingginya melalui pelayanan DGK secara efisien, efektif, adil, merata dan bermutu. Misi : 1. Memberdayakan keluarga dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut. 2. Mengupayakan tersedianya pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang merata, bermutu dan terjangkau bagi keluarga. 3. Memberikan pelayanan, asuhan dan perlindungan kesehatan gigi dan mulut untuk keluarga. 4. Meningkatkan profesionalisme kedokteran gigi dalam mengemban peran, tugas dan fungsi dokter gigi. 5. Meningkatkan kemitraan dengan profesi, institusi, pendidikan dan pihak terkait. 6. Tertatanya pembiayaan kesehatan gigi dan mulut.

5. Kompetensi Dokter Gigi Keluarga Perbedaan kompetensi dokter gigi dan dokter gigi keluarga terdapat pada pendalamannya, antara lain:

a. Diet dan konseling b. Manajemen resiko berbasis keluarga c. Perencanaan pembiayaan kesehatan gigi dan mulut keluarga d. Analisis efektif biaya e. Manajemen perilaku berbasis dinamika keluarga f. Manajemen data berbasis rekam medik keluarga

g. Surveillance epidemiology berbasis keluarga, serta h. Pengendalian mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut keluarga

6. Jenis Pelayanan, Model Pelayanan, dan Cakupan Dokter Gigi Keluarga Pelayanan kedokteran gigi keluarga dilaksanakan dengan pola pelayanan berlapis melalui sistem rujukan berjenjang (Level of Care) dengan pendekatan Primary Health Care. Pelayanan dokter gigi keluarga berkembang menjadi dua model yaitu dokter gigi keluarga praktik perorangan yang dikembangkan atas dasar inisiatif dokter gigi dan perawatnya, dan dokter gigi keluarga praktik kelompok yang dikembangkan atas dasar inisiatif dokter gigi keluarga bersama tim-nya. Ruang lingkup atau cakupan dokter gigi keluarga sendiri antara lain pelayanan darurat atau basic emergency care, pelayanan pencegahan atau preventive care, pelayanan medik gigi dasar atau simple care, dan pelayanan medik gigi khusus atau moderate care. Pelayanan darurat atau basic emergency care adalah dokter gigi keluarga sebagai pemberi layanan kesehatan yang pertama kali ditemui oleh pasien dalam menyelesaikan masalah kesehatan gigi mulut yang terdiri atas basic life support, mengurangi rasa sakit atau eliminasi infeksi mulut karena penyakit atau cidera, reposisi dislokasi sendi rahang, replantasi gigi, dan penyesuaian oklusi. Pelayanan pencegahan atau preventive care terdiri dari memberikan edukasi, perlindungan khusus dan penanganan dini (early detection & prompt treatment) pada

pasien,

menghilangkan

kebiasaan

buruk,

serta

memberi

advokasi

untuk

menanggulangi kelainan saliva dan masalah nutrisi gizi/diet. Pelayanan medik gigi dasar terdiri atas pelayanan yang dapat dilakukan oleh dokter gigi umum (bukan spesialis) antara lain: penumpatan gigi, ekstraksi gigi, perawatan pulpa, perawatan atau pengobatan abses, penanganan dry socket, mengobati ulkus rekuren, dan pengelolaan halitosis. Sedangkan untuk pelayanan medik gigi khusus atau moderate care dapat dilakukan oleh dokter gigi spesialis antara lain konservasi gigi, pedodonsi, periodonsia, bedah mulut, orthodonsi, prostodonsi, dan oral medicine. 7. Mekanisme Pembiayaan Dokter Gigi Keluarga Untuk mendapatkan pelayanan dokter gigi keluarga yang maksimal, maka pembiayaannya harus dikelola secara efisien, adil, berkelanjutan, transparan dan akuntable. Dalam penyelenggaraan pelayanan, kepesertaan yang menjadi tanggung jawabnya terlindungi dalam satu sistem jaminan, sehingga kebutuhan dasar kesehatannya terpenuhi, mutu dan biayanya pun terkendali. Disamping itu, jaminan kesehatan ini juga akan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memperoleh dan membiayai pemeliharaan kesehatan serta pembentukan budaya perilaku hidup sehat. Pembayaran pra-upaya dalam sistem jaminan kesehatan diterima dari badan penyelanggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (PJK). Pemberi pelayanan Kesehatan (PPK), dalam hal ini dokter gigi keluarga, Harus menekankan upaya promotif-preventif, sementara upaya kuratif dan rehabilitatif di berikan sesuai dengan kebutuhan. Menurut Sistem Kesehatan Nasional (SKN), dana pemerintah lebih banyak dialokasikan pada upaya kuratif, sedangkan dana yang dialokasikan untuk upaya promotif dan preventif sangat terbatas. Pembelanjaan dana pemerintah belum cukup adil untuk mengedepankan upaya kesehatan masyarakat dan bantuan untuk keluarga miskin. Jumlah masyarakat yang memiliki jaminan kesehatan yang masih terbatas, yakni kurang dari 20% penduduk. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bila sistem jaminan kesehatan ini telah berjalan, UKP strata 1 akan diselenggarakan dengan penerapan konsep dokter gigi keluarga. Sistem dokter gigi keluarga memakai sistem pembiayaan yang diadopsi dari sistem Managed Care (MC). Seperti Pada pembiayaan dokter gigi keluarga, dianut konsep wilayah dimana peserta pembiayaan kesehatan dikelompokkan dalam suatu

wilayah tertentu. Pelayanan diberikan oleh seorang dokter gigi dengan sistem pembiayaan prepaid capitation (prospective payment) yang berarti sistem pembayaran kepada pemberi pelayanan kesehatan dalam suatu jumlah dilakukan sebelum suatu pelayanan medik dilakukan. Departemen Kesehatan Indonesia pada tahun 2006 menyatakan bahwa pada dasarnya, pembiayaan pada pelayanan dokter gigi keluarga haruslah cukup, dikelola dengan efisien, adil dan berkelanjutan serta transparan dan akuntabel. Kondisi tersebut akan dapat tercapai bila pelayanan dokter gigi keluarga diselenggarakan dalam satu sistem jaminan, sehingga peserta yang menjadi tanggung jawabnya terlindungi. Dengan demikian, diharapkan kebutuhan dasar akan kesehatan akan terpenuhi melalui penyelenggaraan kesehatan yang terkendali, baik dari segi mutu maupun biaya. Departemen Kesehatan dan Wardani (2008) juga menyatakan bahwa pada sistem jaminan kesehatan, dengan pembayaran pra-upaya yang diterima dari badan penyelenggara JPK, dokter gigi keluarga sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) akan menekankan pada upaya promotif dan preventif, serta pelayanan layanan kuratif dan rehabilitatif yang diberikan sesuai dengan kebutuhan. Bentuk pokok pembiayaan UKP (Upaya Kesehatan Perorangan) sebagaimana tercantum dalam SKN adalah sebagai berikut: 1. Dana untuk UKP dari individu dalam kesatuan keluarga melalui JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) wajib dan JPK sukarela. 2. Dana untuk UKP masyarakat rentan dan keluarga miskin dari pemerintah melalui JPK wajib. 3. Dana dari mayarakat (dana sehat dan dana sosial keagamaan) digunakan untuk UKM dan UKP Dalam SKN dinyatakan pula bahwa jika sistem jaminan kesehatan telah berjalan, secara bertahap UKP strata I akan diselenggarakan dengan penerapan konsep dokter gigi keluarga, kecuali untuk daerah sangat terpencil masih akan dilakukan oleh Puskesmas. Pada tahun 2006, Departemen Kesehatan Indonesia sendiri mengeluarkan adanya 3 dasar bentuk pembiayaan secara pra-upaya. Bentuk-bentuk pembiayaan tersebut antara lain adalah: 1. Kapitasi: pembayaran di muka yang besarnya sesuai dengan kesepakatan harga dihitung untuk setiap peserta dalam waktu tertentu.

2. Sistem paket: pembayaran di muka berdasarkan kesepakatan harga yang dihitung untuk paket pelayanan kesehatan tertentu. 3. Sistem anggaran (budget system): pembayaran di muka berdasarkan kesepakatan harga, sesuai dengan besarnya anggaran yang diajukan PPK. Karena pembiayaan dokter gigi keluarga ini masih merupakan suatu sistem yang berkembang, tidak menutup kemungkinan seorang dokter gigi keluarga dapat menarik biaya secara fee for service, yaitu pembayaran langsung dari pengguna jasa setelah pelayanan kesehatan diberikan. Sehingga kesimpulannya, model pembiayaan dokter gigi keluarga dapat berupa fee for service, pihak ketiga (asuransi, dll) atau membership. Sistem dokter gigi keluarga pada suatu Negara bergantung pada komitmen untuk melaksanakan konsep dokter gigi keluarga. Di negara-negara maju memiliki tata kelola dan sistem rujukan berjenjang seperti yang dilaksanakan di Indonesia, namun memiliki penerapan yang lebih baik dan menguntungkan baik bagi dokter gigi maupun masyarakat yang dilayani. Tentu saja hal ini perlu didukung oleh sistem pembiayaan/asuransi yang baik yang dijamin pemerintah.

BAB IV KESIMPULAN 1. Pelayanan kedokteran gigi keluarga adalah suatu upaya pelayanan bidang kesehatan gigi dan mulut secara paripurna yang memusatkan layanannya kepada

setiap individu dalam suatu keluarga binaan dengan visi dan misi untuk mencapai kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut. 2. Konsep pelayanan dokter gigi keluarga terdiri atas dokter gigi kontak pertama (first contact), layanan pribadi (personal care), pelayanan paripurna (comprehensive), paradigma sehat, continuous care, koordinasi dan kolaborasi, dan family and community oriented. 3. Perbedaan kompetensi dokter gigi dan dokter gigi keluarga terdapat pada pendalamannya. 4. Pelayanan kedokteran gigi keluarga dilaksanakan dengan pola pelayanan berlapis melalui sistem rujukan berjenjang yaitu pelayanan darurat, pencegahan, medik gigi dasar, dan medik gigi khusus. 5. Dengan adanya penyelenggaraan pelayanan kedokteran gigi keluarga maka berbagai kebutuhan dan tuntutan pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan terpenuhi, pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan mudah dilakukan, biaya kesehatan akan lebih terkendali dan mutu pelayanan akan lebih meningkat.

DAFTAR PUSTAKA BPS. 2010. Sensus Penduduk 2010, http://www.bps.go.id

Departemen Kesehatan Indonesia. 2005. Kebijakan Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga. Departemen Kesehatan Indonesia. 2006. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga. Hendrartini, J., 2001. Konsep Manage Care dan Aplikasinya di Indonesia. Modul Manajemen Pembiayaan RS-MMR UGM: Jogjakarta Herijulianti, E. 2001. Pendidikan Kesehatan Gigi. EGC: Jakarta Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1415/Menkes/SK/2005 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 039/Menkes/SK/I/2007 Wardani, Riana. 2008. Family Dental Health Care Service, Padjajaran Journal of Dentistry. 20(2): 130-134