Anda di halaman 1dari 13

Identitas Nama Umur Jenis kelamin Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat : Ny.

T : 42 tahun : Perempuan : SD : Ibu Rumah Tangga : Islam : Cirebon

Anamnesa Keluhan utama Keluhan Tambahan Riwayat penyakit sekarang : : : Susah Menelan Nyeri menelan dan kepala pusing

Pasien datang ke Poliklinik THT RSUD Gunung jati pada tanggal 4 Desember 2012 dengan keluhan susah menelan sejak 1 bulan yang lalu. Susah menelan karena seperti ada yang mengganjal. Keluhan disertai nyeri menelan, kepala pusing. Nyeri menelan terutama terjadi jika pasien memakan makanan yang keras. Pasien awalnya merasa sakit tenggorokan pada pagi hari. Kemudian pasien hanya meminum air hangat untuk mengurangi nyeri. Riwayat penyakit dahulu :

Sudah dari beberapa tahun yang lalu pasien merasakan keluhan yang sama dan berulang ulang :

Riwayat penyakit keluarga

Riwayat pada keluarga disangkal

Status pemeriksaan fisik Status generalisata Keadaan umum Kepala Mata THT Leher Toraks : Tampak sakit sedang, composmentis : Normocephal : Konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) injeksi ciliar (-/-) : lihat status THT : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-) massa (-) : Bronkovesikular sound (+/+) fremitus taktil dan vokal simetris (+/+) Wheezing (-/-) rhonki (-/-) Abdomen Ekstermitas : Tampak datar, supel, bising usus (+) : Tidak ada kelainan

Status THT A. Telinga Daun telinga Bentuk Radang Nyeri tekan Tumor / efusi Liang telinga Lapang/sempit Radang Sekret Tumor Kanan Normal, Simetris Kanan Lapang Kiri Normal, Simetris Kiri Lapang -

Belakang telinga Nyeri tekan Radang

Kanan -

Kiri -

Membran timpani Utuh/perforasi Warna Refreks cahaya Gerakan Bulging/retraksi Tes pendengaran(garpu tala) Rinne Weber Swabach B. Hidung Pemeriksaan luar Bentuk Radang Palpasi Tumor C. Pemeriksaan dalam Rhinoskopi anterior Mukosa Sekret Edema Septum Konka nasalis dan meatus inferior Mukosa Sekret edema

Kanan Utuh Putih Keabuan + + -

Kiri Utuh Putih Keabuan + + -

Kanan Kiri + + Tidak ada lateralisasi Sama dengan pemeriksa

Kanan Normal Krepitasi (-) nyeri tekan (-) -

Kiri Normal Krepitasi (-) nyeri tekan (-) -

Kanan Normal Lurus Kanan Normal Krepitasi (-) nyeri tekan (-)

Kiri Normal Lurus Kiri Normal Krepitasi (-) nyeri tekan (-)

Konka nasalis dan meatus media Mukosa Sekret dan ostium Edema / hipertropi Rhinoskopi posterior Adenoid Choana Fossa rosenmuller Torus tubarius Dasar sinus sfenoidalis Inus paranasal Sinus paranasal Sinus maksilaris Sinus ethmoidalis Sinus frontalis Transiluminasi D. Orofaring Pemeriksaan Tonsil Mukosa Arkus anterior Arkus posterior Uvula Kelenjar waldeyer Dinding faring Granula / sicca Warna mukosa Nervus Nervus IX Nervus X Nervus VII Nervus XII Chorda timpani

Kanan Normal Hasil Sekret (-) massa (-) Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Hasil Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-) Tidak dilakukan

Kiri Normal -

Hasil T2b T2b Kripta (+) Detritus (+) Hiperemis Hiperemis Normal Ditengah, deviasi (-) : tidak ada pembesaran Hasil Granula (-) Hiperemis (-) Hasil Menelan (+) Refleks muntah (+) Lipatan dahi, nasolabial simetris, mata dapat menutup sempurna Deviasi lidah (-) Pengecapan baik

E. Mulut Gigi : 87654321 87654321 Ginggiva Lidah Kelenjar parotis Kelenjar mandibularis Kelenjar submandibularis : Tidak ada kelainan : Gerakan baik, ulkus (-) : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran 12345678 12345678

Laring Epiglotis Pita suara asli Pita suara palsu Aritenoid Valekula, recessus pyriformis Leher Trigonum posterior Trigonum anterior M. sternocleidomastoideus Belakang angulus mandibularis Daerah tiroid Supratiroid

Hasil Hiperemis (-) Warna putih, gerakan simetris Hiperemis (-) Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Hasil Tidak teraba adanya massa Tidak teraba adanya massa Tidak ada kelainan Pembesaran KGB Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Ringkasan : Pasien datang ke Poliklinik THT RSUD Gunung jati pada tanggal 4 Desember 2012 dengan keluhan disfagia sejak 1 bulan yang lalu. Susah menelan karena seperti ada yang mengganjal. Keluhan disertai odinofagia dan cephalgia. odinofagia terutama terjadi jika pasien memakan makanan yang keras. Pasien awalnya merasa odinofagia pada pagi hari. Kemudian pasien hanya meminum air hangat untuk mengurangi nyeri.

Hasil pemeriksaan : Telinga : Tidak ada kelainan Orofaring : Tonsil T2b T2b Mukosa hiperemis Arkus anterior hiperemis

Concha nasalis media: Leher : Pembesaran KGB pada belakang angulus mandibulare Tidak ada kelainan

Diangnosis kerja : Tonsilitis Kronik Diangnosis banding : Faringitis kronik Rencana kerja : Roentgen :-

Laboratorium : darah rutin Lain-lain : sediaan hapus tenggorokan

Pengobatan : Antibiotik Multivitamin Analgetic

Prognosis : Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : ad malam `

LAPORAN STATUS THT

TONSILITIS KRONIS
PEMBIMBING : Dr. H. R. Gayat Rochiyat, Sp. THT Dr. H. Asad, Sp. THT KL Dr. Achmad Sodikin, Sp. THT KL

DISUSUN OLEH : Ibnu Abbas Satrio Bagoes Putro Wijaya Adika Tito Dharmadi Anugrah Mahadewa Putra Mustafa Budi Mulyawan Dwi Chandra Mulyani Irfan Nadiyansyah Putra

KEPANITRAAN SMF THT

RSUD. GUNUNG JATI CIREBON 2012-2013


PEMBAHASAN Definisi Tonsilitis merupakan keradangan kronis yang mengenai seluruh jaringan tonsil yang umumnya didahului oleh suatu keradangan di bagian tubuh lain, misalnya sinusitis, rhinitis, infeksi umum seperti morbili, dan sebagainya. Sedangkan Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis.

Insiden Di Indonesia 3,8% setelah nasofaring akut yaitu tahun 1994-1996 berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suwento dan sering terjadi pada anak-anak, terutama berusia 5 tahun dan 10 tahun.

Etiologi Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari Commission on Acute Respiration Disease bekerja sama dengan Surgeon General of the Army America dimana dari 169 kasus didapatkan data sebagai berikut : 25% disebabkan oleh Streptokokus hemolitikus yang pada masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita. 25% disebabkan oleh Streptokokus golongan lain yang tidak menunjukkan kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita. Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influenza.

Adapula yang menyatakan etiologi terjadinya tonsilitis sebagai berikut : 1. Streptokokus hemolitikus Grup A 2. Hemofilus influenza 3. Pneumonia 4. Stafilokokus (dengan dehidrasi, antibiotika) 5. Tuberkulosis (pada keadaan immunocompromise).

Patofisiologi Terjadinya proses radang berulang disebabkan oleh rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat. Proses keradangan dimulai pada satu atau lebih kripte tonsil. Karena proses radang berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripte akan melebar. Secara klinis kripte ini akan tampak diisi oleh Detritus (akumulasi epitel yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripte berupa eksudat yang berwarna kekuning-kuningan). Proses ini terus meluas hingga menembus kapsul sehingga terjadi perlekatan dengan jaringan sekitar fossa tonsillaris. Pada anak-anak, proses ini akan disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula.

Diagnosis Tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kemudian kripta terlihat melebar dan beberapa kripta terisi oleh debritus. Terasa ada yang mengganjal di tenggorokan, kemudian pasien merasa tenggorokan kering dan nafas berbau (Eviaty, 2001, Ugras, 2008).

Diagnosa Banding Terdapat beberapa diagnosa banding dari tonsilitis kronis adalah sebagai berikut : Penyakit Kronik Faring Granulomatus a. Faringitis Tuberkulosa Merupakan proses sekunder dari TBC paru. Keadaan umum pasien adalah buruk karena anoreksi dan odinofagi. Pasien juga mengeluh nyeri hebat di tenggorok, nyeri di telinga (otalgia) dan pembesaran kelenjar limfa leher.

b. Faringitis Luetika Gambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder atau tersier. Pada penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang sembuh disertai pembentukan jaringan ikat. Sekuele dari gumma bisa mengakibatkan perforasi palatum mole dan pilar tonsil.

c. Lepra (Lues)

Penyakit ini dapat menimbulkan nodul atau ulserasi pada faring kemudian menyembuh dan disertai dengan kehilangan jaringan yang luas dan timbulnya jaringan ikat.

d. Aktinomikosis Faring Terjadi akibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri, bisa mengalami ulseasi dan proses supuratif. Blastomikosis dapat mengakibatkan ulserasi faring yang ireguler, superfisial, dengan dasar jaringan granulasi yang lunak.

Penyakit-penyakit diatas umumnya memiliki keluhan berhubungan dengan nyeri tenggorokan (odinofagi) dan kesulitan menelan (disfagi). Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan serologi, hapusan jaringan atau kultur, foto X-ray dan biopsi jaringan.

Penatalaksanaan Lokal Terapi lokal bertujuan pada higiene mulut atau obat hisap yaitu antibiotik dan analgesik. Indikasi Tonsilektomi Berdasarkan The American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery ( AAO-HNS) tahun 1995 indikasi tonsilektomi terbagi menjadi : 1. Indikasi absolut a) b) c) d) Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas atas,disfagia berat,gangguan tidur, atau terdapat komplikasi kardiopulmonal. Abses peritonsiler yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase, kecuali jika dilakukan fase akut. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam. Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi.

2. Indikasi relatif a) Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan pengobatan medik yang adekuat

b) c)

Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medik Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik denganpemberian antibiotik kuman resisten terhadap laktamase.

Prognosa Baik setelah dilakukan tonsilektomi dan sebelum terjadinya komplikasi lebih lanjut (Shah, 2007).

Komplikasi Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut : 1. Komplikasi sekitar tonsil a. Peritonsilitis Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan abses.

b. Abses Peritonsilar (Quinsy) Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.

c. Abses Parafaringeal Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening atau pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus.

d. Abses Retrofaring

Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.

e. Krista Tonsil Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan ini menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih dan berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.

f. Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil) Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil yang membentuk bahan keras seperti kapur.

2. Komplikasi Organ jauh a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik b. Glomerulonefritis c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis d. Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura e. Artritis dan fibrositis

Anda mungkin juga menyukai