Anda di halaman 1dari 8

ASKEP ANAK DENGAN ENCEPHALITIS A. PENGERTIAN a.

Encephalitis ialah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam

mikroorganisme. ( Mansjoer 2002 ) b. Encephalitis ialah radang jaringan otak dan dapat disebabkan oleh bakteri,cacing,protozoa kapang,virus ( Soemarmo Markam, 1992) c. Reaksi peradangan yang mengenai jaringan otak oleh berbagai mikroorganisme penyebab, penyebab terpenting dan tersering adalah virus (Abdul Rohim, 2002)

B. ETIOLOGI Berbagai macam microorganisme dapat menimbulkan ensefalitis, misalnya bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirochaeta dan virus. Penyebab yang terpenting dan tersering ialah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak atau reaksi radang akut karena infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu. Berbagai jenis virus dapat menimbulkan ensefalitis, meskipun gejala klinisnya sama. Sesuai dengan jenis virus serta epidemiologinya, diketahui berbagai macam ensefalitis virus.

C. KLASIFIKASI Klasifikasi yang diajukan oleh robin adalah : 1. Infeksi yang bersifat epidemik a. Golongan enterovirus:Poliomyelitis, Virus Coxsackie, virus ECHO. b. Golongan virus ARBO : Western equine encephalitis, St. Louis

encephalitis, Eastern equine encephalitis, Japanese B encephalitis, Russian spring summer encephalitis, Murray valley encephalitis. Infeksi virus yang bersifat sporadik : Rabies, Herpes simpleks, Herpes zoster, Limfogranuloma, Mumps, Lymphocytic chorio meningitis dan jenis lain yang dianggap disebabkan oleh virus tetapi belum jelas. Ensefalitis pasca infeksi : pasca-morbili, pasca-varisela, pasca rubela, paska-vaksinia, pasca-mononukleosis infeksious dan jenis-jenis yang mengikuti infeksi traktus respiratorius yang tidak spesifik.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Secara klinis ensefalitis dapat didiagnosis dengan menemukan gejala klinis seperti tersebut diatas. Diagnosis etiologis dapat ditegakkan dengan : 1. Biakan darah biasanya sukar untuk mendapatkan hasil yang positif, kerana viraemia hanya berlangsung sebentar, biakan virus dapat dilakukan dari cairan cerebrospinal atau jaringan otak (post mortem), dan pada biakan feses sering ditemukan jenis entero virus. 2. Pemeriksaan serologis : uji fiksasi komplemen uji inhibisi hemaglutinasi dan neutralisasi yang dilakukan pada akut dan rekonvalesen lebih menunjukkan hasil positif. 3. Pemeriksaan patologi anatomis post mortem, hasilnuya juga dapat memastikakn diagnosis kecuali apabila penyebabnya bukan virus misalnya malaria falsifarum.

G. PENATALAKSANAAN Prinsip pengelolaan seperti pada penderita dengan infeksi intra kranial pada umumnya. Pengobatan ditekankan pada tindakan suportif. 1. Terapi cairan sesuai kebutuhan anak 2. Anti konvulsif (im/iv ) 3. Sebagai hibernasi diberi largaktil 2 mg/kgBB/ hr dan phenergan 4 mg/ kgBB/hr secara im/iv dibagi dalam 3 x pemberian 4. Antipiretik (asetosol/parasetamol) bila keadaan sudah memungkinkan pemberian oba per oral 5. Glukosa 20%, 10 ml iv untuk menghilangkan udema otak 6. Kortikosteroid im/iv untuk menghilangkan udema sel otak ( dosis tinggi) 7. Oksigen sesuai indikasi 8. Fisioterapi jangka panjang H. PROGNOSA DAN KOMPLIKASI Angka kematian untuk ensefalitis ini masih tinggi, berkisar antara 35 50%. Daripada penderita yang hidup 20 - 40% mempunyai komplikasi atau gejala sisa berupa parese/paralisis, pergerakan choreaatheroid, gangguan pengelihatan atau gejala neurologik lain. Penderita yang sembuh tanpa kelainan neurologik yang nyata, dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin menderita retardasi mental, gangguan tingkah laku dan epilepsi.

Angka-angka untuk gejala sisa belum jelas. Penderita dipulangkan bila : 5 hari bebas panas, tidak ada penyulit yang memerlukan tindakan khusus. Penderita dipulangkan di poliklinik neurologi anak, bila didapatkan gejala sisa.

I. 1. PENGKAJIAN

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ENSEFALITIS

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. 2. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lapisan otak 3. Resiko injuri berhubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran 4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskulaer, penurunan kekuatan otot, penurunan kesadaran, kerusakan persepsi/kognitif 5. Kerusakan sensori persepsi berhubungan dengan kerusakan penerima rangsang sensori, transmisi sensori dan integrasi sensori 6. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik 3. INTERVENSI I. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. Tujuan : Pasien kembali pada keadaan status neurologis sebelum sakit Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal Rasa sakit kepala berkurang Kesadaran meningkat Tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat. Rencana Tindakan :

INTERVENSI Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS. Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Respirasi dan hati-hati pada hipertensi sistolik

RASIONAL Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuatif. Kegagalan autoregulasi akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diikuti oleh penurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi. Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadar serta nausea yang menurunkan intake per oral Aktifitas muntah atau batuk dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler. Menurunkan edema serebri Menurunkan metabolik sel / konsumsi dan kejang.

Monitor intake dan output

Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur. Kolaborasi : Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat. Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.

II. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lapisan otak Tujuan : Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol Kriteria evaluasi : Pasien dapat tidur dengan tenang Memverbalisasikan penurunan rasa sakit. Rencana Tindakan : INTERVENSI Independent Usahakan membuat lingkungan yang Menurunkan reaksi terhadap rangsangan ekternal atau RASIONAL

aman dan tenang Kompres dingin (es) pada kepala dan kain dingin pada mata Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hatihati Kolaborasi : Berikan obat analgesik

kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan pasien untuk beristirahat Dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak Dapat membantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit / disconfort Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit. Catatan : Narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk dikaji.

III.Resiko injuri berhubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran Tujuan: Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran Rencana Tindakan : INTERVENSI Independent : Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien. Pertahankan bedrest total selama fase akut Kolaborasi : Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital, dll. Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi Untuk mencegah atau mengurangi kejang. Catatan : Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi. RASIONAL Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi. Melindungi pasien bila kejang terjadi

IV. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskulaer, penurunan kekuatan otot, penurunan kesadaran, kerusakan persepsi/kognitif Tujuan : Tidak terjadi kontraktur, footdrop, gangguan integritas kulit, fungsi bowell dan bladder optimal serta peningkatan kemampuan fisik Rencana Tindakan

Intervensi Independen : Review kemampuan fisik dan kerusakan yang terjadi Kaji tingkat imobilisasi, gunakan skala ketergantungan dari 0 4

Rasional Mengidentifikasi kerusakan fungsi dan menentukan pilihan intervensi Kemungkinan tingkat ketergantungan (0) hanya memerlukan bantuan minimal (1)Memerlukan bantuan moderate (3) Memerlukan bantuan komplit dari perawat (4)Klien yang memerlukan pengawasan khusus karena resiko injury yang tinggi Perubahan posisi teratur dapat mendistribusikan berat badan secara meneyluruh dan memfasilitasi peredaran darah serta mencegah dekubitus Mencegah terjadinya kontraktur atau foot drop serta dapat mempercepat pengembalian fungsi tubuh nantinya Memfasilitasi sirkulasi dan mencegah gangguan integritas kulit

Berikan perubahan posisi yang teratur pada klien Pertahankan body aligment adekuat, berikan latihan ROM pasif jika klien sudah bebas panas dan kejang Berikan perawatan kulit secara adekuat, lakukan masasse, ganti pakaian klien dengan bahan linen dan pertahankan tempat tidur dalam keadaan kering Berikan perawatan mata, bersihkan mata dan tutup dengan kapas yang basah sesekali Kaji adanya nyeri, kemerahan, bengkak pada area kulit

Melindungi mata dari kerusakan akibat terbukanya mata terus menerus Indikasi adanya kerusakan kulit

V. Kerusakan sensori persepsi berhubungan dengan kerusakan penerima rangsang sensori, transmisi sensori dan integrasi sensori Tujuan : Kesadaran klien dan persepsi sensori membaik RencanaTindakan : Intervensi Evaluasi secara teratur perubahan orientasi klien, kemampuan bicara, keadaan emosi serta proses berpikir klien. Kaji kemampuan menterjemahkan rangsang sensori misalnya : respon terhadap sentuhan, panas atau dingin, serta kesadaran terhadap pergerakan tubuh. Rasional Kerusakan area otak akan menyebabkan klien mengalami gangguan persepsi sensori. Sejalan dengan proses peneymbuhan, lesi area otak akan mulai membaik sehingga perlu dievaluasi kemajuan klien Informasi tersebut penting untuk menentukan tindak lanjut bagi klien

Batasi suara-suara bising serta pertahankan lingkungan yang tenang Tetap bicara dengan klien dengan suara yang tenang, gunakan kata-kata yang sederhana dan singkat serta pertahankan kontak mata Kolaborasi : Rujuk ke ahli fisioterapi atau okupasi

Menurunkan kecemasan, dan mencegah kebingungan pada klien akibat rangsang sensori berlebihan Rangsang sensori tetap diberikan pada klien walaupun dalam keadaan tidak sadar untuk memacu kemampuan sensori persepsi klien Untuk dapat memberikan penanganan menyeluruh pada klien

VI.Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik Tujuan : Nutrisi klien terpenuhi dengan kriteria tidak adanya tanda malnutrisi dengan nilai laboratorium dalam batas normal Rencana Tindakan Intervensi Kaji kemampuan klien dalam menelan, batuk dan adanya secret Auskultasi bowel sounds, amati penurunan atau hiperaktivitas suara bpowell Timbang berat badan sesuai indikasi Berikan makanan dengan cara meninggikan kepala Pertahankan lingkungan yang tenang dan anjurkan keluarga atau orang terdekat untuk memberikan makanan pada klien Rasional Faktor-faktor tersebut menentukan kemampuan menelan klien dan klien harus dilindungi dari resiko aspirasi Fungsi gastro intestinal tergantung pula pada kerusakan otak, bowelll sounds menentukan respon feeding atau terjadinya komplikasi misalnya illeus Untuk megevaluasi efektifitas dari asupan makanan Menurunkan resiko regurgitasi atau aspirasi Membuat klien merasa aman sehingga asupan dapat dipertahankan

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998 Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997. Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986. Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993. Sutjinigsih (1995), Tumbuh kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta.