Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Antropologi adalah suatu kajian bersifat komparatif, holistik, dan global. Hal ini dikarenakan, berbeda dengan kajian ilmu yang lainnya yang juga mempelajari manusia, kajian antropologi mempelajari manusia dari berbagai aspeknya, yaitu biologi, bahasa, dan kebudayaan. Untuk bisa mencapai hal tersebut maka kajian antropologi harus menggunakan metode penelirian yang sifatnya dapat menggambarkan secara mendalam (depth description) subyek (kelompok masyarakat) yang menjadi kajiannya. Metode penelitian tersebut disebut etnografi. Pada dasarnya etnografi sendiri, mempunyai arti pelukisan bangsa-bangsa. Etnografi dalam antropologi juga merupakan pendekatan yang lazim digunakan dalam penelitian antropologi. Manfaat dari mempelajari etnografi ini adalah untuk memahami penelitian atas berbagai kajian sosial yang akan kita lakukan. Selain itu juga bisa digunakan untuk perspektif dari suatu kajian sosial. Dengan mempelajari kedua materi tersebut maka secara umum kita mampu menjelaskan konsep dan tekhnik metode penelitianetnografi baik yang digunakan untuk mengkaji masyarakat sederhana maupun masyarakat kompleks. 1.2 Rumusan Masalah Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu kita ketahui mengenai Konsep Etnografi, maka terlebih dahulu kita mengetahui masalahmasalah yang ada. 1. Apa pengertian dari konsep etnografi ? 2. Jelaskan lokasi, lingkungan alam dan demografi dalam etnografi ? 3. Bagaimana asal mula dan sejarah suku bangsa dalam etnografi ? 4. Bagaimana bahasa dalam etnografi ? 5. Bagaimana sistem teknologi tradisional dalam etnografi ? 6. Bagaimana sistem ekonomi tradisional dalam etnografi ? 7. Jelaskan organisasi sosial dan unsur-unsur khususnya ? 8. Bagaimana sistem pengetahuan dalam etnografi ? 9. Bagaimana sistem religi dalam etnografi ? 10. Bagaimana kesenian dalam etnografi ? 11. Bagaimana perubahan budaya dalam etnografi ?

1.3 Tujuan Masalah Dari beberapa rumusan masalah diatas, kita dapat menjawab berbagai masalah tersebut dan mengartikannya sebagai tujuan dari penulisan makalah ini. 1. Menjelaskan pengertian dari konsep etnografi. 2. Menjelaskan lokasi, lingkungan alam dan demografi. 3. Menjelaskan asal mula dan sejarah suku bangsa. 4. Menjelaskan bahasa dalam etnografi 5. Menjelasakan sistem teknologi tradisional dalam etnografi. 6. Menjelaskan sistem ekonomi tradisional dalam etnografi. 7. Menjelaskan organisasi sosial dan unsur-unsur khususnya. 8. Menjelaskan sistem pengetahuan dalam etnografi. 9. Menjelaskan sistem religi dalam etnografi. 10. Menjelaskan kesenian dalam etnografi. 11. Menjelaskan perubahan budaya dalam etnografi.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Konsep Etnografi Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Etnografi pada mulanya merupakan bagian dari ilmu antropologi. Secara harfiah kata etnografi mengandung arti tulisan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau tahun. Marzali dalam Sudikin menjelaskan bahwa etnografi merupakan laporan penelitian dan juga mengacu kepada metode penelitian yang menjadi dasar ilmu antropologi. (Sudikin, 2002: 75). Pada tataran awal etnografi merupakan studi tentang deskripsi dan analisi tentang budaya dan bahasa dengan menmberikan pengkodean terhadap deskrpsi dan analisa bahasa dan kebudayaan.. (Savielle-Troike, 1982: 1). Sedangkan Engkus Kuswarno menjelaskan etnografi sebagai bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi dan Maka dapat kita uraikan bahwa etnografi pada mulanya adalah bagian dari ilmu antropologi. Dalam melakukan penelitiannya, peneliti etnografi harus berpegangan pada sejumlah konsep penting yang digunakan sebagai pegangan dan pedoman seorang peneliti etnografi melakukan penelitian lapangan. Kalau fieldwork adalah jantung dari penelitian etnografi maka konsep-konsep yang dijadikan acuan dalam penelitian etnografi adalah elemen fundamental dari penelitian tersebut. Melalui pengalaman dalam melakukan penelitian etnografi, maka konsep-konsep ini secara otomatis akan menuntun peneliti mengembangkan strategi penelitiannya dan perilakunya selama melakukan penelitian lapangan. Konsep-konsep yang dimaksud adalah : a. Kebudayaan Kebudayaan adalah konsep etnografi yang sifatnya sangat luas. Definisi tentang kebudayaan biasanya dibedakan dalam dua kelompok persepektif besar, yaitu persepektif materialisme dan ideasionalisme. Persepektif materialisme melihat kebudayaan sebagai tingkah laku manusia. Penganut persepektif materialisme mengartikan kebudayaan sebagai sejumlah pola tingkah laku, adat istiadat dan pandangan hidup yang diobservasi dari sebuah kelompok sosial. Di lain pihak, persepektif Ideasional mengartikan

kebudayaan sebagai sejumlah ide, kepercayaan dan pengetahuan yang mengkarakteristik kelompok masyarakat tertentu. Persepektif ideasional lebih melihat pada elemen kognisi. b. Persepektif Holistik Peneliti etnografi menggunakan cara pandang holistik untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang kelompok masyarakat yang ditelitinya. Orientasi holistik ini memaksa peneliti untuk melihat gejala sosial yang ditelitinya jauh melampaui kerangka budaya maupun kejadian (event) yang ditelitinya. Untuk itu peneliti etnografi harus menggambarkan tentang sejarah, religi (kepercayaan), politik, ekonomi dan lingkungan dari masyarakat yang ditelitinya. Oleh karena peneliti etnografi mempunyai orientasi holistik maka penelitian ini membutuhkan waktu yang lama, untuk mengumpulkan berbagai macam data agar dapat menggambarkan keadaan sosial sebagaimana adanya. Di samping membutuhkan waktu yang lama, penelitian etnografi juga membutuhkan metode dan hipotesis yang beraneka (multiple hypotheses and method). c. Kontekstualisasi Kontekstualisasi data adalah penempatan observasi pada perspektif yang luas. Jadi disini observasi pada suatu masalah menuntut observasi pada beberapa aspek yang relevan untuk menghindari kesalahan dalam melihat permasalahan. Kontekstualisasi ini menjadi sangat bervariasi untuk melihat permasalahan secara benar, sehingga solusi yang ditawarkannya pun tidak salah sasaran. d. Persepektif Emik Persepektif emik adalah cara pandang tentang realita yang berasal dari orang dalam (insider), merupakan intisari dari penelitian etnografi. Persepektif orang dalam tentang realita ini merupakan instrumen untuk memahami dan mendeskripsikan secara akurat situasi dan perilaku subyek penelitian. Walaupun persepektif orang dalam ini tidak selalu obyektif, tetapi sangat menolong peneliti untuk memahami mengapa warga suatu kelompok masyarakat melakukan sesuatu. e. Persepektif Etik Persepektif etik berasal dari sudut pandang ilmuwan sosial. Sehubungan dengan persepektif ini, peneliti etnografi terbagi dalam dua kelompok kecenderungan, yaitu satu pihak cenderung menyandarkan kajiannya pada persepektif emik dan menggunakan persepektif ideasional dan phenomenology dalam analisanya, sedangkan pihak yang lain cenderung menyandarkan kajiannya pada persepektif etik dan menggunakan

persepektif materialisme dan positivistik pada analisanya. Hal ini dikarenakan adanya ketidaksepahaman tentang apakah tindakan manusia itu lebih dipengaruhi oleh ide (persepektif ideasional) atau oleh lingkungan (persepektif materialisme). Akan tetapi saat ini peneliti etnografi cenderung menggunakan baik persepektif emik maupun etik. Mereka mulai mengumpulkan data dan bersandar pada persepektif emik dan kemudian memahaminya (menganalisanya) dan menggunakan persepektif emik dan etik. f. Nonjudgmental Orientation Dalam penelitian sosial dituntut agar data yang dikumpulkan valid dan terhindar dari pengaruh yang tidak diperlukan. Sehubungan dengan hal ini nonjudgmental orientation menolong peneliti etnografi untuk terhindar dari pembuatan penilaian yang tidak tepat dan tidak akurat tentang apa yang telah mereka observasi. Untuk itu peneliti tidak boleh membuat penilaian yang sifatnya personal. Peneliti harus berusaha melihat budaya yang ditelitinya tanpa harus membuat penilaian tentang praktek-praktek budaya yang asing baginya yang bagi peneliti mungkin bersifat irasional dan tidak dapat dipercaya. g. Perbedaan Inter dan Intrabudaya Satu hal yang membahayakan dalam penelitian etnografi adalah bahwa penelitian etnografi dapat menghasilkan stereotipe kelompok, subkebudayaan atau kebudayaan. Untuk menghindari munculnya stereotipe tersebut maka peneliti harus mengolah seluruh informasi hasil pengamatan dan wawancara, teori dan pola-pola yang muncul selama penelitian secara akurat agar dapat dihasilkan esensi dari sebuah kebudayaan. Melihat pada kenyataan diatas nampak bahwa konsep perbedaan inter dan intrakebudayaan ternyata sangat berguna. Perbedaan interkebudayaan mengacu pada perbedaan antara dua kebudayaan, sedangkan perbedaan intrakebudayaan mengacu pada perbedaanperbedaan diantara subkebudayaan yang ada dalam suatu kebudayaan. h. Struktur dan Fungsi Struktur dan fungsi adalah konsep yang biasanya ada pada penelitian tentang organisasi sosial. Struktur mengacu pada konfigurasi (susunan) kelompok. Fungsi mengacu pada hubungan sosial diantara anggotaanggota kelompok. Kebanyakan kelompok masyarakat mempunyai struktur internal yang teridentifikasi dan menetapkan serangkaian norma hubungan sosila untuk mengatur tingkah laku warganya. Dalam hal ini peneliti etnografi harus mendeskripsikan struktur dari organisasi sosial dan

hubungan fungsional yang ada didalam organisasi sosial tersebut untuk menjelaskan bagaimana sistem sosial budaya bekerja. 2.2 Kerangka Kebudayaan dan Kerangka Etnografi Bahan mengenai kesatuan kebudayaan suku bangsa di suatu komunitas dalam suatu daerah geografi ekologi atau suatu wilayah administratif yang menjadi pokok deskripsi, biasanya dibagi ke dalam bab-bab tentang unsur-unsur kebudayaan, sesuai dengan tata-urut yang baku, yang kita sebut saja kerangka etnografi. Untuk merinci unsur-unsur bagian dari suatu kebudayaan, sebaiknya dipakai daftar unsur-unsur kebudayaan universal yang telah diuraikan dalam jilid I,1 yaitu : (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) sistem ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) kesenian, dan (7) sistem religi. Karena unsur-unsur kebudayaan bersifat universal, maka dapat diperkirakan bahwa kebudayaan suku bangsa yang dideskripsi juga mengandung aktivitas adat-istiadat, pranata-pranata sosial, dan benda-benda kebudayaan yang dapat digolongkan ke dalam salah satu di antara keujuh universal tadi. Para ahli antropologi dapat memakai sistem tata-urut dari unsur-unsur sesuai dengan selera dan perhatian mereka masing-masing. Sistem yang paling lazim dipakai adalah sistem dari unsur yang paling konkret ke paling yang paling abstrak. Dengan demikian selain unsur bahasa yang selalu diuraikan dalam bab yang paling depan, sebagai unsur yang dapat memberi identifikasi kepada suku bangsa yang dideskripsi, unsur yang dideskripsi kemudian adalah sistem teknologi. Sistem religi adalah unsur yang menempati tempat yang paling belakang. Dalam bab tentang sistem teknologi, misalnya, dapat dimasukkan deskripsi tentang benda-benda kebudayaan dan alat-alata kehidupan sehari-hari yang sifatnya konkret. Bab mengenai sistem religi antara lain diuraikan gagasan-gagasan dan keyakinankeyakinan mengenai ruh nenek moyang yang sifatnya sangat abstrak. Walaupun demikian setiap ahli antropologi mempunyai fokus perhatian khusus, seperti misalnya perhatian terhadap sistem ekonomi, kehidupan kekerabatan, sistem pelapisan masyarakat, sistem kepemimpinan, religi, kesenian, atau bahkan salah satu cabang kesenian. Selain bab-bab yang mengandung deskripsi mengenai unsur-unsur universal dari kebudayaan suku bangsa, bab awal dari suatu karangan etnografi harus mendeskripsi lokasi dan lingkungan geografi dari wilayah suku bangsa yang menjadi obyek perhatiannya, yang juga dilengkapi dengan keterangan demografis.

Buku-buku etnografi mengenai kebudayaan suku-suku bangsa di berbagai tempat di dunia umumnya memakai daftar unsur-unsur kebudayaan universal sebagai kerangka etnografinya.

Bab umumnya mengandung uraian tentang asal dan sejarah suku bangsa, serta uraian menegnai unsur-unsur kebudayaan yang menjadi isi dari kebudayaan suatu suku bangsa. Dengan demikian, etnografi yang mendeskripsi kebudayaan suatu suku bangsa yang disusun berdasarkan suatu kerangka etnografi, terdiri dari bab-bab seperti tercantum di bawah ini, sementara setiap bab terbagi lagi kedalam sub-sub bab khusus. a. Lokasi, lingkungan alam dan demografi b. Asal-mula dan sejarah c. Bahasa d. Sistem teknologi e. Sistem ekonomi f. Organisasi sosial dan unsur-unsur khususnya g. Sistem pengetahuan h. Kesenian i. Sistem religi 1. Perubahan budaya a. Lokasi, Lingkungan Alam dan demografi Dalam menguraikan lokasi dan penyebaran suku bangsa yang menjadi pokok diskripsi perlu dijelaskan ciri-ciri geografinya (iklimnya : tropis, mediterania sedang, kutub, dan sebagainya; sifat daerah : pegunungan, dataran tinggi atau dataran rendah, kepulauan, daerah rawa-rawa, hutan tropis, sabana, stepa, gurun, dan lain-lain; suhu udaranya, dan curah hujannya). Seorang penulis etnografi sebaiknya juga melukiskan ciri-ciri geologi dan geomorfologi dari daerah lokasi serta penyebaran suku bangsa itu, di samping ciri-ciri flora dan fauna yang ada di daerah itu. Bahan keterangan geografi dan geologi itu sebaiknya dilengkapi peta-peta yang memenuhi syarat ilmiah dan memuat data-data yang penting yang perlu di tonjolkan. Semua keterangan itu perlu bagi para ahli yang ingin mempelajari hubungan dan pengaruh timbal-balik antara alam dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Beberapa hal yang kini terutama banyak mendapat perhatian peneliti gizi adalah pengaruh timbal-balik antara lingkungan alam dengan pola makan penduduknya dan untuk studi kependudukan diperlukan pengetahuan mengenai pengaruh timbak-balik antara lingkungan alam dengan kesehatan dan laju kematian, maupun mengenai fertilisasi penduduk. Masalah hubungan antara alam dan tanah dengan sistem mata pencarian penduduk juga merupakan hal yang penting. Studi-studi semacam itu tergolong studi ekologi.

Suatu etnografi perlu pula dilengkapi data demografi, yaitu data mengenai jumlah penduduk (dirinci dalam jumlah wanita dan pria, dan sedapat mungkin sesuai dengan tingkat umur dengan selisih 5 tahun, data Mengenai laju kelahiran dan kematian, dan data mengenai jumlah pendatang baru maupun penduduk yang meninggalkan daerah). Data seperti ini diseluruh dunia umumnya sukar diperoleh, terutama di daerah pedesaan, karena orang desa jarang membuat catatan mengenai pernikahan, kelahiran, kematian, masuknya pendatang baru, ataupun orang yang meninggalkan desa untuk bermukim di tempat lain. Keadaannya di daerah pedesaan memang seringkali demikian, kecuali di tempat-tempat di mana gereja (Katolik maupun Kristen) secara khusus telah membuat arsip mengenai jumlah murid yang keluar masuk sekolah, catatan perikahan, pembabtisan, dan kematian umatnya. b. Asal Mula dan Sejarah Suku Bangsa Sebuah etnografi sebaiknya juga dilengkapi keterangan mengenai asal mula dan sejarah suku bangsa yang menjadi pokok deskripsi. Dalam menjalankan upaya ini diperlukan bantuan para ahli ilmu-ilmu lain, seperti sejarah dan ilmu-ilmu bantuannya. Keterangan mengenai asal mula suku bangsa yang bersangkutan umumnya harus dicari dalam tulisan para ahli prehistori yang pernah melakukan penggalian dan analisa benda-benda kebudayaan prehistori di daerah sekitar lokasi penelitian. Seorang ahli prehistori Amerika merasa dirinya dekat dengan antropologi karena dalam antropologi, prehistori merupakan ilmu bagiannya, berbeda dengan halnya di Indonesia. Seorang ahli prehistori sebenarnya seorang ahli arkeologi, dan dengan demikian ia juga ahli dalam suatu ilmu bagian dari sejarah. Kerjasama antara seorang ahli antropologi dan ahli prehistori di Indonesia merupakan kerjasama lintas bidang ilmu, atau interdisiplin. Dalam praktek, untuk mencari keterangan mengenai zaman prehistori suatu suku bangsa, seorang ahli antropologi cukup membaca laporan-laporan hasil penggalian dan penelitian para ahli prehistori mengenai daerah umum dari lokasi yang dihuni suku bangsa yang diteliti. Ahli antropologi yang meneliti masyarakat suku bangsa Bugis, misalnya, dapat memperoleh keterangan mengenai asal mula suku bangsa tersebut di dalam tulisan-tulisan para ahli prehistori mengenai daerah Sulawesi Selatan. Apabila tulisan semacam itu tidak ada, atau apabila data yang tercantum kurang memadai, perlu diupayakan bahan keterangan lain dari dongeng-dongeng suci (mitologi) dan kesusasteraan rakyat Bugis (yaitu folklor). Dalam meneliti masyarakat Bugis, informasi mengenai asal mula dan sejarah orang Bugis banyak terdapat di dalam naskah-naskah tradisional yang

jumlahnya sangat banyak mengenai kehidupan masyarakat dan adat istiadat kerajaan-kerajaan Bugis tradisional dan tinggal diseleksi mana yang relevan bagi penelitian ahli yang bersangkutan. Keterangan sejarah dari zaman sejak suku bangsa yang diteliti telah mempunyai hubungan dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian menghasilkan berbagai tulisan (biasanya dalam bahasa Inggris, Prancis, Portugis, Spanyol, Jerman, Arab, Cina, dan lain-lain) mengenai suku bangsa yang bersangkutan sangat banyak membantu pekerjaan seorang peneliti antropologi. Kontak asing yang pertama bagi suku bangsa Batak berlangsung dengan orang Belanda, khususnya para pendeta penyiar agama Kristen, yang kemudian juga merupakan orang-orang yang pertama-tama menulis mengenai masyarakat, kebudayaan, serta adat istiadat orang Batak. c. Bahasa Menentukan luas persebaran suatu bahasa memang tidak mudah, karena di daerah perbatasan hubungan antarwarga dari dua suku bangsa yang tinggal berdekatan umumnya sangat intensif, sehingga terjadi proses saling mempengaruhi. Daerah batas antara bahasa jawa dan bahasa Sunda, misalnya, sangat sukar ditentukan, karena bahasa yang digunakan di daerah itu merupakan campuran dari kedua suku bahasa tersebut. Lain halnya apabila dua bahasa yang berlainan dipisahkan oleh laut, gunung yang sukar dilalui, sungai yang sangat lebar, atau batas-batas alam lainnya yang menghambat kontak antara kedua suku bangsa yang berbeda bahasa. Selain itu, pada bahasa dari suatu suku bangsa (terutama suku bangsa yang besar, dan terdiri dari beberapa juta pengujar) pun senantiasa terjadi variasi-variasi, karena adanya perbedaan daerah geografi atau karena adanya perbedaan lapisan dan lingkungan sosialnya. Dalam bahasa Jawa, misalnya, bahsa orang Jawa di Purwokerto, di Tegal, di Surakarta, atau di Surabaya, masing-masing memiliki logat (atau dialeg) yang berbeda. Perbedaan bahasa Jawa yang ditentukan oleh lapisan sosial dalam masyarakat Jawa juga sangat mencolok. Contohnya adalah bahasa Jawa yang digunakan orang di daerah pedesaan, yang jauh berbeda dengan bahasa yang dipakai dikalangan lapisan pegawai (priyayi), dan keduanya pun berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam keraton-keraton di Jawa Tengah. Perbedaan bahasa berdasarkan lapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan disebut tingkat sosial bahasa. Walaupun tidak seestrim bahasa Jawa, perbedaan bahasa berdasarkan tingkat sosial sering terjadi.

d. Sistem Teknologi Tradisional Teknologi tidak dapat hanya dipahami sebagai benda-benda konkret saja, seperti mesin, alat, perkakas dan lain sebagainya. Seperti terlihat dari awal katanya, teknologi adalah sebuah ilmu, yaitu ilmu untuk membuat suatu alat, perkakas, mesin atau bentuk-bentuk konkret lainnya (sebagai penerapan kaidah dan prinsip- prinsip ilmu pengetahuan) untuk memudahkan aktivitas atau pekerjaan manusia. Dengan demikian, teknologi itu, mempunyai empat komponen utama (1) pengetahuan, yaitu seperangkat gagasan bagaimana mengerjakan sesuatu, (2) tujuan, untuk apa "sesuatu" tersebut digunakan, (3) Aktivitasnya harus terpola dan terorganisasi, dan, (4) lingkungan pendukung agar aktivitas itu dapat berjalan efektif. Teknologi yang paling awal ditemukan berbentuk perkakas dari batu(tombak, pisau). Dalam perkembangan selanjutnya ditemukan teknologi besi (pisau logam). Sampai akhirnya ditemukan pula teknologi mesin yang mengolah tenaga dari alam (air dan angin) untuk menggerakkan dirinya. Semakin tinggi teknologi mesin, semakin sedikit pula intervensi manusia. Mesin modern harus dikendalikan oleh sekelompok manusia yang terorganisir dan terlatih. Berbeda dengan teknologi batu di mana teknologi diperlukan sebagai `pembantu". dan teknologi besi di mana teknologi diperlukan sebagai `kawan", maka pada, tahap teknologi mesin, teknologi harus ditundukkan agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Pada masyarakat modern. kesadaran antroposentrisme, menjadi faktor pendorong temuan berbagai teknologi, terutama teknologi material. Pada kelompok masyarakat tradisional berburu dan meramu sudah mengenal pembagian kerja menurut jenis kelamin dan kelompok umur. Lelaki berburu sedangkan perempuan meramu. Teknologi yang berkembang pada masa itu adalah teknologi berburu dan meramu tahap Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!awal (paleolitik), tahap menengah (mesolitik), dan tahap akhir (neolitik). Teknologi yang berkembang pada tahap akhir ini disebut juga paleometalik, yaitu tradisi logam awal (perunggu, dan besi) Untuk mengantisipasi krisis makanan mereka mengembangkan teknologi pertanian sistem ladang berpindah. Perkembangan teknologi dalam masyarakat tradisional tidak terlalu pesat, meskipun tidak selambat dalam masyarakat ladang berpindah apalagi masyarakat berburu dan meramu. Inovasi terpenting teknologi tradisional adalah dari sudut bahan dasar dan fungsi. Bahan dasar teknologi tradisional adalah dari logam, sementara dari fungsinya teknologi tradisional tidak hanya

10

sebatas sebagai kepanjangan tangan saja, tetapi sudah menjadi kepanjangan seluruh tubuh. e. Sistem Ekonomi Tradisional Sistem ekonomi ini merupakan sistem ekonomi yang dijalankan secara bersama untuk kepentingan bersama (demokratis), sesuai dengan tata cara yang biasa digunakan oleh nenek moyang sebelumnya. Dalam sistem ini segala barang dan jasa yang diperlukan, dipenuhi sendiri oleh masyarakat itu sendiri. Tugas pemerintah hanya terbatas memberikan perlindungan dalam bentuk pertahanan, dan menjaga ketertiban umum. Dengan kata lain kegiatan ekonomi yaitu masalah apa dan berapa, bagaimana dan untuk siapa barang diproduksi semuanya diatur oleh masyarakat. Pada umumnya, sistem perekonomian ini berlaku pada negara-negara yang belum maju, dan mulai ditinggalkan. Misalnya Etiopia. Tapi pada umumnya, sistem ekonomi ini sangatlah primitif dan hampir tidak ada lagi di dunia. Ciri dari sistem ekonomi tradisional adalah : Teknik produksi dipelajari secara turun temurun dan bersifat sederhana 1. Hanya sedikit menggunakan modal 2. Pertukaran dilakukan dengan sistem barter (barang dengan barang) 3. Belum mengenal pembagian kerja 4. Masih terikat tradisi 5. Tanah sebagai tumpuan kegiatan produksi dan sumber kemakmuran Sistem ekonomi tradisional memiliki kelebihan sebagai berikut : 1. Tidak terdapat persaingan yang tidak sehat, hubungan antar individu sangat erat 2. Masyarakat merasa sangat aman, karena tidak ada beban berat yang harus dipikul 3. Tidak individualistis. f. Organisasi Sosial dan Unsur-unsur Khususnya Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Organisasi sosial menurut Amitai Etzioni adalah unit sosial (pengelompokan manusia) yang sengaja dibentuk dan dibentuk kembali dengan penuh

11

pertimbangan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Etzioni menjelaskan umumnya organisasi ditandai ciri sebagai berikut : (1) pembagian kerja, kekuasaan, dan tanggung jawab komunikasil; (2) ada satu atau beberapa pusat kekuasaan yang berfungsi mengawasi usaha-usaha organisasi serta mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan; (3) ada pergantian tenaga (kaderisasi) bila ada individu yang tak mampu menjalankan tugas-tugas organisasi. Ciri-ciri organisasi sosial menurut Berelson dan Steiner(1964:55) sebuah organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Formalitas, merupakan ciri organisasi sosial yang menunjuk kepada adanya perumusan tertulis daripada peratutan-peraturan, ketetapanketetapan, prosedur, kebijaksanaan, tujuan, strategi, dan seterusnya. 2. Hierarkhi, merupakan ciri organisasi yang menunjuk pada adanya suatu pola kekuasaan dan wewenang yang berbentuk piramida, artinya ada orang-orang tertentu yang memiliki kedudukan dan kekuasaan serta wewenang yang lebih tinggi daripada anggota biasa pada organisasi tersebut. 3. Besarnya dan Kompleksnya, dalam hal ini pada umumnya organisasi sosial memiliki banyak anggota sehingga hubungan sosial antar anggota adalah tidak langsung (impersonal), gejala ini biasanya dikenal dengan gejala birokrasi. 4. Lamanya (duration), menunjuk pada diri bahwa eksistensi suatu organisasi lebih lama daripada keanggotaan orang-orang dalam organisasi itu. Ada juga yang menyatakan bahwa organisasi sosial, memiliki beberapa ciri lain yang behubungan dengan keberadaan organisasi itu. Diantaranya dalah: 1. Rumusan batas-batas operasionalnya(organisasi) jelas. Seperti yang telah dibicarakan diatas, organisasi akan mengutamakan pencapaian tujuantujuan berdasarkan keputusan yang telah disepakati bersama. Dalam hal ini, kegiatan operasional sebuah organisasi dibatasi oleh ketetapan yang mengikat berdasarkan kepentingan bersama, sekaligus memenuhi aspirasi anggotanya. 2. Memiliki identitas yang jelas. Organisasi akan cepat diakui oleh masyarakat sekelilingnya apabila memiliki identitas yang jelas. Identitas berkaitan dengan informasi mengenai organisasi, tujuan pembentukan organisasi, maupun tempat organisasi itu berdiri, dan lain sebagainya. 3. Keanggotaan formal, status dan peran. Pada setiap anggotanya memiliki peran serta tugas masing masing sesuai dengan batasan yang telah disepakati bersama.

12

Tipe-tipe organisasi secara garis besar organisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu organisasi formal dan organisasi informal. Pembagian tersebut tergantung pada tingkat atau derajat mereka terstruktur.

a. Organisasi Formal
Organisasi formal memiliki suatu struktur yang terumuskan dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi berlangsung. Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi masing-masing anggotanya. Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasarat lainya terurutkan dengan baik dan terkendali. Selain itu organisasi formal tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan mereka beraturan, maka mereka relatif bersifat tidak fleksibel. Contoh organisasi formal dalah perusahaan besar, badan-badan pemerintah, dan universitasuniversitas (J Winardi, 2003:9).

b. Organisasi informal
Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut. Sifat eksak hubungan antar anggota dan bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh organisasi informal adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan. Selain itu, organisasi juga dibedakan menjadi organisasi primer dan organisasi sekunder menurut Hicks: Organisasi Primer, organisasi semacam ini menuntut keterlibatan secara lengkap, pribadi dan emosional anggotanya. Mereka berlandaskan ekspektasi rimbal balik dan bukan pada kewajiban yang dirumuskan dengan eksak. Contoh dari organisasi semacam ini adalah keluargakeluarga tertentu. Organisasi Sekunder, organisasi sekunder memuat hubungan yang bersifat intelektual, rasional, dan kontraktual. Organisasi seperti ini tidak bertujuan memberikan kepuasan batiniyah, tapi mereka memiliki anggota karena dapat menyediakan alat-alat berupa gaji ataupun imbalan kepada anggotanya.

13

Sebagai contoh organisasi ini adalah kontrak kerjasama antara majikan dengan calon karyawannya dimana harus saling setuju mengenai seberapa besar pembayaran gajinya. Dinamika Organisasi Sosial Pencermatan dinamika organisasi dapat dilihat dari : 1. Sistem Organisasi a. Tujuan b. Struktur c. lingkungan fisik d. lingkungan sosial budaya 2. Struktur Organisasi a. Kewenangan komunikasi b. Tugas 3. Proses Organisasi a. Hubungan antar peranan b. Pengendalian c. Koordinasi d. Sosialisasi e. Supervisi. g. Sistem Pengetahuan Mereka memiliki pengetahuan tentang pemanfaatan lahan dari tinggi dan letak lahan tersebut. Daerah pada ketinggian 0-100 meter di atas laut dengan lereng yang datar melandai, digunakan warga sebagai persawahan, ladang, perkebunan, perumputan. Daerah ketinggian 100- 500 meter dengan lereng datar dan landai miring, digunakan warga sebagai sawah, ladang, hutan produksi, perkebunan, dan perumputan. Daerah yang sangat miring dijadikan hutan lindung dengan produksi terbatas, dan perkebunan tanaman keras. Daerah ketinggian 500-1000 meter digunakan sebagai perkebunan tanaman keras dengan teknik terasering, sedang yang sangat miring dan curam dijadikan hutan lindung mutlak. Pengetahuan tentang alam, dimana mereka mengetahui bahsa sifat dari tanaman / batang tumbuhan tuis akan semakin memanjang seiring dengan berjalannya waktu, walaupun batang itu tidak terhubung lagi dengan induknya. Terlebih jika terus-menerus terkena air. Sejak dulu, orang Minahasa telah mempunyai pengetahuan tentang arah mata angin, seperti yang tertulis di asal usul masyarakat Minahasa. Karema dapat membimbing dan menempatkan dengan tepat tubuh Lumimuut ke arah

14

hembusan angin barat yang tengah bertiup kencang. Pengetahuan tentang ilmu penyulingan. Dimana, jika saguer yang dihasilkan oleh pohon saguer disuling dan disimpan dengan baik, maka kadar alkohol dari minuman tersebut dapat naik bahkan sampai 40 %. Masyarakat Minahasa telah memiliki pengetahuan tentang simbol-simbol dari dahulu kala. Terbukti dari semua bukti-bukti yang berhasil ditemukan, kebanyakan tergambar simbol yang mempunyai banyak arti h. Sistem Religi Sistem religi dalam suatu kebudayaan mempunyai ciri khas, yaitu sebisa mungkin untuk selalu memelihara emosi keagamaan di antara para pengikutnya. Dengan demikian, emosi keagamaan merupakan unsure penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsure yang lainnya, yaitu sistem keyakinan, sistem upacara keagamaan, dan umat yang menganut religi tersebut. Sistem keyakinan sacara khusus mengandung banyak sub-unsusr lainnya, antara lain keyakinan terhadap adanya konsepsi tentang dewa-dewa yang baik maupun jahat dan sifat maupun tanda dari dewa; konsepsi tentang makhluk halus lainnya seperti roh-roh leluhur, roh-roh lain yang baik maupun yang jahat, hantu dan lain-lain; konsepsi tentang dewa tertinggi dan penciptaan alam; masalah terciptanya dunia dan alam; konsepsi tentang hidup dan maut; konsepsi tentang dunia roh dan dunia akhirat. Sistem upacara keagamaan secara khusus mengandung empat aspek, yaitu sebagai berikut. 1. Tempat upacara keagamaan dilakukan. Aspek ini berkaitan dengan tempat-tempat keramat untuk upacara, yaitu di makam, candi, pura, kuil, gereja, langgar, surau, masjid, dan sebagainya. 2. Saat-saat upacara keagamaan dijalankan. Aspek ini meliputi saat-saat beribadah, hari-hari keramat dan suci, dan sebagainya. 3. Benda-benda dan alat upacara. Aspek ini berkaitan dengan benda-benda yang dipakai dalam upacara, termasuk patung yang melambangkan dewadewa dan alat-alat bunyi-bunyian (lonceng suci, seruling suci, gendering suci, dan lain-lain). 4. Orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara. Aspek ini terkait pelaku upacara keagamaan, yaitu para pendeta, biksu, syaman, dukun, dan launnya. Upacara keagamaan itu sendiri memiliki beberapa unsure, yaitu bersaji, berkorban, berdoa, memakan hidangan yang telah disucikan dengan doa, menari tarian suci secara bersama-sama, melagukan nyanyian suci, berprosesi atau berpawai, memainkan seni drama suci, berpuasa, intoksikasi atau

15

mengaburkan pikiran dengan memakan obat bius untuk mencapai keadaan trance (mabuk), bertapa, atau bersemadi. Di antara unsure-unsur upacara keagamaan tersebut, ada yang dianggap penting dalam satu agama, tetapi tidak dikenal dalam agama lain, demikian juga sebaliknya. Suatu upacara keagamaan biasanya mengandung rangkaian yang terdiri dari sejumlah unsure tersebut. Misalnya, pada upacara kesuburan tanah, para pelaku upacara dan para pendeta berpawai terlebih dulu menuju ke tempat bersaji, kemudian mengorbankan seekor ayam, setelah itu menyajikan bunga kepada dewa kesuburan, disusul dengan doa yang di ucapkan oleh para pelaku upacara, dilanjutkan dengan melagukan berbagai nyanyian suci secara bersama-sama, dan diakhiri dengan memakan hidangan kenduri yang telah disucikan dengan doa oleh pemimpin upacara. Sub-unsur ketiga dalam sistem religi, yaitu sub-unsur umat yang menganut agama atau religi yang bersangkutan. Sub-unsur ini meliputi pengikut suatu agama / religi ; hubungan mereka satu dengan yang lain ; hubungannya dengan para pemimpin agama, baik saat upacara keagamaan maupun dalam kehidupan sehari-hari ; organisasi para umat ; kewajiban ; hak-hak warganya. i. Kesenian Umumnya, bagi orang yang berbahasa Indonesia, kebudayaan adalah kesenian, yang bila dirumuskan, bunyinya sebagai berikut : Kebudayaan (dalam arti kesenian) adalah ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang fungsional, estetis, dan indah, sehingga ia dapat dinikmati dengan pancaindranya yaitu (pengelihatan, penghidup, pengecap, pendengar, dan perasa). Menurut para ahli filsafat, khususnya E. Kant, ilmu estatika adalah kemampuan manusia untuk mengamati keindahan lingkungannya secara teratur. Berkaitan dengan penilaian mengenai keindahan itu, aturan-aturannya tentu banyak. Sejak beribu-ribu tahun (mungkin bahkan lebih lama), yaitu sejak manusia purba masih hidup, keindahan dicapai dengan meniru lingkungan. Dalam upaya meniru lingkungan itu, manusia kadang-kadang berhasil menirunya dengan hampir sempurna. Dikatakan hampir sempurna, karena masih ada bedanya. Seni rupa yang meniru mirip lingkungan itu menjadi aliran yang sekarang disebut aliran naturalisme, sementara yang berbeda dengan lingkungan, tetapi masih memiliki keindahan, disebut aliran seni rupa primitif. Kita kenal juga lukisan-lukisan dinding yang dihasilkan manusia-manusia purba di dinding-dinding gua tempat ia berteduh atau tinggal, yang seringkali memiliki keindahan yang khas.

16

Pada suatu ketika manusia kemudian berhenti untuk meniru lingkungan, tetapi menggunakan garis-garis dan lingkaran-lingkaran geometrik, dekoratif, sesuai dengan penilaian keindahan dan kreatifitas seniman yang bersangkutan. Sebenarnya penduduk Irian Jaya pun telah meninggalkan upaya untuk meniru lingkungan tatkala mereka menciptakan tiang-tiang mbis, yaitu patung-patung yang menggambarkan silsilah orang dengan para leluhurnya. j. Perubahan Budaya Perubahan kebudayaan adalah suatu keadaan dalam masyarakat yang terjadi karena ketidak sesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan. Semua terjadi karena adanya salah satu atau beberapa unsur budaya yang tidak berfungsi lagi, sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan didalam masyarakat. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat bahkan perubahan dalam bentuk juga aturan-aturan organisasi social. Perubahan kebudayaan akan berjalan terus-menerus tergantung dari dinamika masyarakatnya. Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu: 1. Mendorong perubahan kebudayaan a. Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi ( kebudayaan material). b. Adanya individu-individu yang mudah menerima unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi muda. c. Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah. 2. Menghambat perubahan kebudayaan a. Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah b. seperti :adat istiadat dan keyakinan agama ( kebudayaan non material) c. Adanya individu-individu yang sukar menerima unsure-unsur perubahan terutama generasi tu yang kolot. Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan: 1. Faktor intern a. Perubahan Demografis Perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah, akan mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan, contoh : bidang perekonomian, pertambahan penduduk akan mempengaruhi persedian kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

17

b.

Konflik Sosial Konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam suatu masyarakat. Contoh : konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk setempat didaerah transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para transmigran. c. Bencana alam Bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempengaruhi perubahan contoh : bencana banjir, longsor, letusan gunung berapi masyarkat akan dievakuasi dan dipindahkan ketempat yang baru, disanalah mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga terjadi proses asimilasi maupun akulturasi. d. Perubahan lingkungan alam Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga membentuk tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan setempat. 2. Faktor ekstern a. Perdagangan Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur Tengah bahkan Eropa Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan pedagang-pedagang besar selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya dengan percampuran budaya yang ada. b. Penyebaran agama Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan proses penyebaran agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama Kristen dan kolonialisme. c. Peperangan Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia umumnya menimbulkan perlawanan keras dalam bentuk peperangan, dalam suasana tersebut ikut masuk pula unsure-unsur budaya bangsa asing ke Indonesia.

18

DAFTAR PUSTAKA Koentjaningrat.2005.Pengantar II.Jakarta:Rineka Cipta Koentjaningrat.2009.Pengantar Ilmu Antropologi.Jakarta: Rineka Cipta Pengantar Antropologi.2010. Konsep Etnografi.pdf (Online), (http://google.com, diakses tanggal 02 Juni 2011) Simajuntak, Posman.1996.Berdasarkan dengan Antropologi untuk SMU Kelas 3.Jakarta: Erlangga Antropologi Pokok Pokok Etnografi

19