Anda di halaman 1dari 3

Dosen : Prof. dr. Ibnu Pranoto, SpOG.,Sp.

And Editor : Tya Tanggal : 15 Mei 2012 Judul : Termination of Pregnancy First, Second, and Third Trimester, Induction, Stimulation

TERMINASI KEHAMILAN
Induksi aborsi Induksi persalinan

1. Induksi aborsi/therapeutic abortion


Definisi induksi aborsi adalah terminasi (penghentian) kehamilan sebelum janin viable (hidup) yang bertujuan untuk keselamatan ibu. Biasanya disebut abortus kalo umur kehamilan kurang dari 20 minggu, kalo udah lebih 20 minggu disebut proses persalinan. Ngitung umur kehamilan dari HPMT (hari pertama mens terakhir), udah pada tau kan ya caranya? udah dong Indikasinya induksi aborsi ini dibagi jadi 2, maternal dan fetal. Kalo pada maternal, indikasinya yaitu persistent heart disease (kelainan jantung), hypertensive vascular disease berat, dan invasive kanker serviks. Pada fetal indikasinya yaitu jika diketahui adanya cacat kongenital berat. Tehnik induksi aborsi Surgical Dilatasi serviks yg diikuti dengan evakuasi produk kehamilan, dengan cara berikut : o Kuretase o Vakum aspirasi/suction curettage o Dilatasi dilakukan secara mekanik dengan higroskopik dilatators/laminaria atau dengan dilatator logam dan evakuasi dilakukan dg digital artinya pake jari telunjuk, kuretase, suksion kuretase. Laparotomi tindakan pembedahan dinding perut, SC juga termasuk laparotomy. Dilakukan bila induksi aborsi pada trimester kedua secara medikal gagal, karena kalo udh trimester kedua janinnya udah gede, jadi dengan SC. o Histerotomi uterusnya diinsisi o Histerektomi pengangkatan uterus Medikal Aborsi pada awal kehamilan Antiprogestin: mifepriston Antimetabolit: metotrexat Kedua obat tersebut bekerja dengan menurunkan efek inhibisi kontraksi dari progesterone. Prostaglandin: misoprostol bekerja dengan meningkatkan kontraktilitas myometrium. Bisa juga digunakan kombinasi antara:

Mifepriston + misoprostol Metotrexate + misoprostol

Kontraindikasi: Akseptor IUD, anemia berat, koagulopati, active liver disease, penyakit kardiovaskular, uncontrolled seizure disorder.

Induksi aborsi pada trimester kedua : Oksitosin dosis tinggi Prostaglandin E2 Prostaglandin E1 (misoprostol) Komplikasi Induksi Aborsi : Mortalitas maternal meningkat Meningkatkan risiko infeksi dan sepsis abortion

2. Induksi Persalinan
Indikasi : Ketuban pecah dini Chorioamnionitis inflamasi fetal membrane/selaput ketuban Preeklampsia berat Kehamilan post-term leih dari 42 minggu Kontraindikasi: sama dengan kontraindikasi persalinan vaginal (DKP *disporposi kepala panggul*, placenta previa, riwayat SC klasikal).

Preinduction cervical ripening Keberhasilan induksi persalinan sangat tergantung pada kematangan serviks (cervical ripening) Kematangan serviks terjadi krn peningkatan enzim kolagenase yang memecah kolagen menjadi fiber halus dan bersifat distensible Kematangan serviks dinilai dengan Bishop score Bishop Score: Bishop score 8 : keberhasilan induksi tinggi Bishop score <4 : perlu cervical ripening

Bishop Score
Score 0 1 2 3 Dilatasi (cm) 12 34 5 Pendataran (%) 0 30 40 50 60 70 > 80 Penurunan (station) -3 -2 -1 +1, +2 kepala Konsistensi Kaku Agak lunak lunak Posisi serviks Posterior Tengah Anterior

Syarat Preinduction Cervical Ripening Indikasi jelas Presentasi kepala Bishop score < 4

NST reaktif Tidak ada DKP dan placenta previa Tehnik Preinduction cervical ripening Medical o Prostaglandin E2 (dinoprostone) intraservikal/intravaginal o Prostaglandin E1 (misoprostol) oral/intravaginal Mekanikal o Transservikal kateter o Higroskopik servikal dilator (laminaria, sintetis dilator) o Membran stripping. Induksi Persalinan dan Stimulasi Induksi: memacu timbulnya kontraksi sebelum ada tanda persalinan Stimulasi: memperbaiki kontraksi yang inadekuat (dalam persalinan) Induksi atau stimulasi bertujuan menimbulkan his yang adekuat sehingga menyebabkan dilatasi serviks dan penurunan kepala Amniotomi Amniotomi menyebabkan pelepasan prostaglandin, meningkatkan kontraksi uterus dan mematangkan serviks. Pastikan bahwa DJJ baik (risiko kompresi tali pusat) dan kepala menekan OUI sehingga tidak terjadi tali pusat menumbung. Okstosin Intravena Okstosin: memacu pelepasan kalsium (Ca) intrasel sehingga meningkatkan kontraksi miometrium Sensitivitas miometrium terhadap okstosin tergantung pada umur kehamilan. Onset 3-5 menit, waktu paruh 3-10 menit. Dosis: 10 20 unit okstosin dilarutkan dalam RL 1000 ml (10-20 iU/ml) dosis awal 0,5 10 iU/menit dosis ditingkatkan tiap 15 menit dosis maximal 36 iU/menit Monitoring: DJJ hiperstimulasi: dalam 10 menit terjadi > 5 kontraksi Dalam 15 menit terjadi 7 kontraksi dengan pola DJJ nonreasuring menetap

Segera stop infus okstosin! Karena waktu paruhnya pendek, kontraksi akan segera berkurang.

Anda mungkin juga menyukai