Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH EFEK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP KONDISI PERTAHANAN DAN KEAMANAN INDONESIA

Oleh : Tim Puslitbang Indhan Balitbang Dephan (Kol. Ctp. Drs. Umar S.T., Mayor Ctp. Drs.Dedet H. dan Dra. Suharlina)

PENDAHULUAN Pemanasan global (global warming issues) saat ini sudah menjadi permasalahan dunia yang mendapat perhatian serius di banyak negara. Berbagai penelitian telah dilaksanakan untuk membuktikan adanya gejala ini, berikut dampak negatif yang mungkin ditimbulkan. Hasil penelitian tersebut menjadi acuan badan-badan dunia termasuk International Panel on Climate Change (IPCC) untuk mengetahui faktor-faktor penyebab dan sekaligus mencari solusinya. Dalam pertemuan terakhir IPCC di Bangkok Thailand, ketua IPCC Rajendra Pochauri menyatakan bahwa walaupun 0 peningkatan temperatur dunia hanya mencapai 3,5 F, berdampak terhadap minusnya pasokan air terhadap 2 milyar orang di dunia pada tahun 2050. Lebih lanjut hal itu akan berdampak terhadap kemungkinan punahnya 20 30 % spesies di dunia (Kompas, 3 Mei 2007). Indonesia sebagai Negara kepulauan dan berpenduduk cukup banyak (nomor empat terpadat di dunia), diperkirakan akan menghadapi berbagai permasalahan akibat perubahan iklim ini. Berdasarkan pemikiran di atas, maka upaya untuk memperkuat ketahanan dan pertahanan negara dari sektor pertahanan nir militer, identifikasi permasalahan yang dihadapi adalah: 1. Sehubungan dengan signifikannya dampak negatif yang sedang telah, sedang dan akan ditimbulkan oleh pemanasan global ini, kemungkinan besar juga akan mempengaruhi kondisi pertahanan dan keamanan di Indonesia (Y. Sudarsono, 2007). 2. Sehubungan dengan adanya pergeseran spektrum ancaman terhadap pertahanan dan keamanan pasca perang dingin dan penyerangan ke gedung kembar World Trade Centre (11 September 2002), permasalahan sosial yang dapat menimbulkan konflik menjadi faktor penting. Berdasarkan indikasi dan pembatasan masalah yang dibuat, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana terjadinya peningkatan suhu rata-rata akibat pemanasan global dan pengaruhnya terhadap kondisi pertahanan dan keamanan. 2. Bagaimana strategi untuk mencegah, mengurangi dan mengantisipasi dampak pemanasan global terhadap kondisi pertahanan dan keamanan di Indonesia. LANDASAN TEORI Gambaran Umum tentang Pemanasan Global. Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata dunia baik di daratan, lautan maupun di atmosfer bumi. Penelitian para ahli yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dalam kurun waktu seratus tahun terakhir ini, suhu bumi telah 0 meningkat sebesar 0,6 C. Pemantauan Pemanasan Global. Pengamatan tentang peningkatan suhu bumi dilakukan baik dengan jalan pengamatan langsung dengan menggunakan peralatan pengukuran maupun dengan mempergunakan data tak langsung. Menurut Pittock (2005, hal. 25) cara pengamatan tersebut dapat dilakukan melalui cara pengamatan langsung atau instrumental measurement dan pengamatan secara tidak langsung atau proxy. Pengukuran suhu dengan mempergunakan instrumen telah dilakukan sejak 200 tahun terakhir ini. Lebih lanjut Pittock menyatakan bahwa pengamatan secara tidak langsung dilakukan dengan mempelajari arsip-arsip atau catatan-catatan masa lalu yang menyinggung tentang adanya perubahan iklim. Metode pengukuran yang dilakukan adalah dengan mempergunakan radiokarbon yang dapat dipakai menghitung mundur ke jutaan tahun silam. Fred Pearce dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Mangunwardoyo (2003, hal. 6-7) membeberkan bahwa peningkatan suhu bumi memang sedang berlangsung. Dari catatan panjang tentang perubahan suhu bumi tercatat tiga kali bumi mengalami suhu terpanas (1988, 1997 dan 0 1995). Hal tersebut disebabkan karena suhu bumi rata-rata meningkat sebesar 0,25 C per 10 tahun

(diolah Pearce berdasarkan data dari Pusat Data Iklim Amerika Serikat). Peningkatan suhu tersebut diikuti dengan berkurangnya daratan es di daerah Alaska dan di Greenland. Menurut John Church dan beberapa koleganya dari Commonwealth Scientific and Industry Research Organization (CSIRO) Australia telah membuat perbandingan model pengukuran dari kenaikan permukaan air laut regional terhadap hasil observasi dari catatan pengukuran pasang surut dan pengukuran altimeter dari satelit. Mereka menyimpulkan bahwa perkiraan terbaik tentang ratarata kenaikan permukaan air laut secara global untuk periode tahun 1950 sampai dengan tahun 2000 berkisar antara 1.8 sampai 1.9 + 0.2 mm pertahun (berada di bawah 10 cm). Dibuktikan pula bahwa kenaikan air laut tertinggi (sekitar 3 mm pertahun atau 30 cm per abad) terjadi di daerah Pasific barat dekat khatulistiwa dan samudera Hindia pada daerah ekuator barat (Pittock, 2005, hal. 7). Tetapi dengan adanya kenaikan suhu udara (rata-rata) selama 3 tahun berturut-turut pada akhir abad 20, o o diprediksi suhu atmosfer bumi akan meningkat antara 1,4 C s.d. 5,8 C selama periode 1990 s.d. 2100. Dampak dari kenaikan panas atmosfir bumi tsb akan menaikkan permukaan air laut 9 cm s.d. 88 cm. Penyebab Pemanasan Global Sebahagian besar ahli menganggap bahwa efek rumah kaca sebagai penyebab utama pemanasan global. Padahal awalnya, efek rumah kaca ( greenhouse effect) merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh bumi sebagai pelindung terhadap radiasi langsung matahari. Dari radiasi matahari yang menembus atmosfer, bumi melepaskan energi panas ke angkasa. Bila seluruh energi panas ini terbuang ke angkasa, suhu permukaan bumi akan menurun. Namun adanya lapisan seperti selimut yang terdiri dari uap air dan carbon dioksida (CO 2) maka sebagian panas terperangkap di bawah lapisan atmosfer sehingga suhu permukaan bumi menjadi hangat (efek rumah kaca). Fenomena lain yang ikut berperan dalam pemanasan global adalah berkurangnya lapisan ozon. Lapisan ozon merupakan filter terhadap sinar ultra violet dari radiasi matahari. Tanpa dan/atau semakin menipisnya lapisan ini, sinar ultra violet akan lebih leluasa sampai ke muka bumi sehingga akan menambah panas permukaan bumi. Seiring dengan meningkatnya jumlah pemakaian gas chlorofluorocarbon (CFC) menyebabkan lapizan ozon semakin menipis karena terjadinya reaksi antara CFC dan lapisan ozon. Pelepasan karbon ini berpengaruh pada peningkatan kandungan karbon di atmosfir yang berdampak pada peningkatan suhu atmosfir di permukaan bumi. Kebakaran hutan juga disebut-sebut sebagai penyumbang signifikan terhadap meningkatnya suhu global (Tempo, 2007, hal. 67). Emisi yang dihasilkan dalam kebakaran hutan tersebut menyebabkan pencemaran lapisan ozon. Meningkatnya jumlah kandungan ozon di udara menyebabkan penyerapan panas dari radiasi juga bertambah, hal tersebut menyebabkan suhu permukaan di daerah dengan lapisan ozon yang mengalami pencemaran/penambahan semakin meningkat (Kompas, 2003). Pandangan Ahli. Para ahli iklim dan lingkungan ternyata mempunyai berbagai pandangan terhadap terjadinya pemanasan global. Sebahagian ahli menganggap bahwa pemanasan yang terjadi adalah sebagai siklus perubahan iklim yang selalu terjadi dalam rentang waktu yang sangat panjang. Sebahagian lagi menganggap bahwa pemanasan global memang lagi berlangsung namun demikian mereka juga masih berdebat tentang ketidakpastian ilmu pengetahuan ( scientific uncertainty). Hal yang sama juga dinyatakan oleh Susanto dan Sutjahjo (2007, hal. 35). Pernyataan tersebut didukung oleh pimpinan pusat iklim nasional Australia dan anggota delegasi Australia untuk program negosiasi perjanjian mengenai iklim di PBB, William Kininmonth (Kompas, 2005). Sebaliknya, Damian Wilson, dari lembaga meteorologi Inggris yang menangani masalah cuaca dan parameter cuaca, menyatakan bahwa dengan adanya model komputer yang mengolah perubahan suhu di permukaan bumi model tersebut telah bekerja dengan baik terlihat dari hasil penarikan kesimpulan dari model tersebut masuk akal. Perbedaan pandangan para ahli juga terlihat pada banyaknya skenario peningkatan suhu yang berbeda seperti yang dibuat pada Special Report on Emissions Scenarious (SRES) tahun 2000 yang dimaksudkan sebagai masukan bagi the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change of 2001. Menurut Pittock (2005, hal. 49-50) 40 Scenario asli SRES dibuat berdasarkan atas 4 alur urutan (story lines). Menurutnya, dengan skenario yang terbaik sekalipun tetap menunjukkan peningkatan suhu akibat pemanasan global tetap signifikan besarnya.

Perkiraan Dampak Pemanasan Global. Secara umum pemanasan global berdampak terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia (Wikipedia). Hal tersebut berdasarkan prediksi yang dibuat para ilmuwan dengan

memanipulasi/mengolah data-data iklim dan cuaca yang ada dan dimasukkan kedalam model komputer.

Doktrin Pertahanan Keamanan Negara. Menurut buku Kaji Ulang Pertahanan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan RI, dinyatakan bahwa sejalan dengan reformasi di bidang pertahanan negara, Doktrin pertahanan dan keamanan negara tahun 1991 telah dikaji ulang. Lahirnya Undang-undang Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan Undang-undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI mendorong perlunya menata kembali kebijakan pertahanan negara, sekaligus melakukan perubahan mendasar yang harus dijabarkan ke dalam sistem dan kebijakan pertahanan negara, peraturan perundangan, dan doktrin serta petunjuk pelaksanaannya. Strategi pertahanan dan keamanan negara Indonesia memuat strategi pembangunan kemampuan dan kekuatan komponen pertahanan keamanan negara, strategi pembinaan kemampuan dan kekuatan komponen pertahanan keamanan negara, strategi penggunaan komponen pertahanan keamanan negara, serta strategi kerjasama keamanan untuk kepentingan pertahanan keamanan negara. Kekuatan non militer disiapkan untuk melaksanakan pertahanan nir militer dalam rangka memelihara stabilitas keamanan dalam negeri. Salah satu unsur dalam pertahanan ini adalah pertahanan sipil (civil defence) yang mengemban misi untuk dapat menyelenggarakan tindakan penyelamatan dan kebutuhan dasar masyarakat yaitu tindakan untuk melindungi, mengatasi, menanggulangi dan mencegah terjadinya kerusakan akibat perang, bencana alam, ataupun bencana pencemaran lingkungan. Spektrum Ancaman. Pada hakekatnya spektrum ancaman terhadap keamanan dan pertahanan akibat terjadinya globalisasi di berbagai bidang telah berubah. Saat ini ancaman non militer lebih menunjukkan kemungkinan yang signifikan untuk timbul. Maraknya aksi terorisme yang terjadi di mana-mana seperti penghancuran kedua gedung World Trading Centre (WTC) pada tanggal 11 September 2002, telah menggeser/mengubah bentuk spektrum ancaman terhadap pertahanan keamanan negara. Diyakini saat ini bahwa bentuk ancaman konvensional seperti agresi militer, pengerahan pasukan untuk menyerang negara lain dan penggunaan kekuatan militer secara langsung bukan menjadi ancaman utama. Adapun spektrum ancaman menurut Prof. Mahfud MD (2001, hal. 29 30), di masa depan bentuknya bersifat multikompleks dan multidimensi. Hal ini berarti meningkatnya kerawanan sosial yang secara akumulatif berdampak pada pelemahan pertahanan nasional atau dengan kata lain melemahnya pertahanan negara lebih mungkin terjadi. Hubungan antara Lingkungan dan Konflik. Konflik bisa terjadi dari instabilitas keamanan yang secara eskalatif akan berlanjut menjadi perang. Hal tersebut diuraikan oleh Libiszwenski (1997, hal. 9 dan 11) dimana konflik terjadi/bermula dari adanya perbedaan antara kelompok sosial atau negara yang menimbulkan friksi antar kelompok/negara kemudian berkembang menjadi krisis dan berakhir dengan perang. Situasi krisis ditandai oleh pihak-pihak yang terlibat dengan menggunakan alat seperti sanksi politik dan ekonomi atau perang informasi yang mendahului ancaman militer. Pemanasan Global dan Ancaman Keamanan. Pihak Amerika Serikat sudah mulai memperhitungkan dampak pemanasan global terhadap keamanan negaranya. Hal tersebut terlihat dari upaya yang dilakukan oleh mantan petinggi militer Amerika Serikat yang tergabung dalam suatu badan yang bernama Military Advisory Board bekerjasama dengan Pusat Analisis Angkatan Laut mengeluarkan laporan yang berjudul National Security and the Threat of Climate Change (Keamanan Nasional dan Ancaman Pemanasan Global) (Revkin and Timothy Williams, 2007; Borenstein, 2007). Dalam studi tersebut antara lain dinyatakan bahwa kenaikan permukaan air laut, kekeringan dan cuaca ekstrim yang diakibatkan oleh pemanasan global juga perlu mendapat perhatian karena mengancam kepentingan keamanan nasional karena dapat mengakibatkan migrasi dalam skala besar, meningkatkan ketegangan di perbatasan, penyebaran penyakit dan kelangkaan pangan yang dapat berujung pada konflik yang dipicu oleh perebutan bahan/sumber makanan.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Pengamatan fenomena lingkungan. Data yang dikumpulkan dari Kompas, Tempo dan Tempo Interaktif dan hasil wawancara dengan pejabat yang kompeten serta penduduk in situ menunjukkan

telah terjadinya perusakan lingkungan serius yang secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi terhadap pemanasan global. Kegagalan panenpun mewarnai fenomena akibat pemanasan global. Sebagai contoh di Madiun 968 hektar sawah mengalami gagal panen. Fenomena lainnya akibat pemanasan global 0 adalah naiknya suhu antara 0,2 1 C rata-rata pertahun yang menyebabkan dalam seratus tahun terakhir ini kenaikan permukan air laut telah naik antara 20 25 cm yang mengancam tenggelamnya 2000 pulau kecil pada tahun 2030. Diakhir abad ini diprediksi permukaan air laut meningkat setinggi 1 meter yang berakibat pulau-pulau kecil yang berelevasi di bawah 1 meter akan tenggelam. Saat ini di Indonesia, sebanyak 24 pulau telah dinyatakan hilang, walaupun penyebabnya dinyatakan akibat Tsunami dan abrasi akibat penggalian pasir, namun dapat ditarik korelasi dengan telah timbulnya kenaikan air laut. Menurut Pierrs Cazalet, Konsulat Bidang Politik Kedutaan Inggris menyatakan bahwa pemanasan global telah menyebabkan bencana alam yang dahsyat. Selain itu kenaikan air laut membuat batas antar negara kepulauan dan negara pantai menjadi kacau dan tidak jelas, akibat berubahnya garis pantai sehingga harus direkonstruksi ulang. Hasil pendataan di lapangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan ahli dari Balitbang BMG dan KLH diperoleh informasi sebagai berikut: 1. Perubahan periode waktu musim hujan dan kemarau di Indonesia cenderung telah mengalami perubahan. 2. Pemanasan global memang telah terjadi, bukan semata-mata siklus perubahan iklim normal. 3. Indonesia dapat dikatakan sebagai penyumbang CO 2 cukup signifikan sebagai akibat kebakaran hutan yang cukup parah disamping buangan industri dan emisi kendaraan bermotor yang semakin meningkat. 4. Indikasi telah terjadinya kenaikan rata-rata permukaan air laut adalah telah hilangnya beberapa pulau kecil, penyusutan garis pantai, perubahan bentuk pulau dan penetrasi air laut ke sungai. 5. Indonesia telah berbuat cukup banyak dalam upaya mengatasi efek pemanasan global. Tindakan yang telah diambil antara lain ikut mensukseskan penyelenggaran pertemuan-pertemuan internasional tentang permasalah pemanasan global, melaksanakan pelestarian lingkungan dan mencegah terjadinya aksi perusakan lingkungan hutan, polusi dan lain-lain. Dampak Kenaikan Suhu Udara. Pengaruh kenaikan suhu udara rata-rata secara global sangat berpengaruh terhadap terjadinya kekeringan. Kekeringan selain berdampak terhadap lahan pertanian dan vegetasi juga menyebabkan mudahnya terjadi kebakaran hutan. Kekeringan juga telah mengubah habitat lingkungan. Banyak kawasan rawa dan danau yang mengering, hutan lebat merubah menjadi hutan biasa, hutan biasa menjadi sabana dan sabana menjadi semak belukar. Perubahan habitat ini berdampak serius terhadap komunitas binatang liar yang hidup pada habitat asal. Secara keseluruhan pengaruh peningkatan suhu global membawa permasalahan terhadap kehidupan manusia. Timbulnya masalah kerawanan pangan, air dan sumber kehidupan di suatu daerah akan memberikan tekanan terhadap penduduknya. Salah satu solusi adalah berpindah tempat, namun aktivitas ini dapat menimbulkan konflik kriminal atau berubah menjadi ancaman apabila dilaksanakan lintas negara. Kebakaran hutan tropis sebagai salah satu unsur variabel peningkatan suhu global memberikan kontribusi cukup besar terhadap pemanasan global, selain itu juga dapat menimbulkan permasalahan lain yaitu dapat terjadinya polusi udara lintas negara berupa emisi karbon akibat pembakaran dan asap yang dapat mengurangi jarak pandang dan penyakit sesak napas. Adanya pengaruh signifikan dari perubahan suhu rata-rata akibat pemanasan global terhadap sektor-sektor yang berkaitan dengan harkat hidup manusia akan berdampak terhadap stabilitas keamanan dan pertahanan suatu negara. Dampak Kenaikan Permukaan Air Laut. Kenaikan permukaan air laut dapat menyebabkan semakin meluasnya daerah yang terkena banjir. Hal tersebut selain disebabkan jumlah volume air yang tercurah melebihi daya serap tanah dan kecepatan pengaliran serta penguapan juga disebabkan oleh topografi daerah yang bersangkutan. Muara sungai-sungai yang permukaannya sejajar dengan permukan air laut, ketika air laut naik arus aliran air berbalik ke arah hulu, hal ini dapat mempertinggi penetrasi air laut ke arah darat, akibatnya air tanah/sumur di daerah pantai menjadi payau.

Tenggelamnya pulau-pulau kecil dengan ketinggian hampir sama dengan rata-rata tinggi permukaan air laut. Hilangnya pulau-pulau kecil berdampak terhadap berbagai hal: sempitnya habitat fauna, flora dan manusia, berubahnya garis batas perbatasan antar dua atau lebih negara yang berbatasan, atau hilangnya base points yang akan menggeser titik pangkal acuan untuk menentukan laut territorial negara pantai dan negara kepulauan. Dampak Pemanasan Global Terhadap Pertahanan dan Keamanan. Secara langsung tidak dapat dinyatakan tentang adanya hubungan antara fenomena pemanasan global yang terjadi dengan aktifitas pertahanan dan keamanan. Namun demikian, secara tidak langsung dapat dikorelasikan adanya hubungan tersebut. Pemanasan global dengan indikator utamanya peningkatan suhu dunia secara global berdampak langsung terhadap aspek-aspek kehidupan. Hal tersebut dapat dipahami karena dampaknya yang berkaitan dengan pengurangan kualitas lingkungan hidup sebagai akibat yang ditimbulkan yang akhirnya bermuara ke timbulnya masalah untuk pemenuhan kebutuhan hidup komunitas manusia. Hal tersebut belum ditambah dengan permasalahan kedaulatan negara yang dapat terganggu stabilitasnya akibat konflik tentang batas properti/teritorial masing-masing negara. Ditinjau dari konsep doktrin pertahanan keamanan negara Indonesia dan bentuk/spektrum ancaman yang ada saat ini, pemanasan global dapat dinyatakan berkontribusi signifikan terhadap pertahanan dan keamanan negara khususnya pertahanan nir militer. Karena pengaruh yang ditimbulkannya mengenai banyak bidang, maka dampak yang diakibatkannya bersifat multi dimensi sehingga sangat memungkinkan menimbulkan benih-benih beragam konflik. Posisi Indonesia yang berada di persilangan dunia barat dan timur serta belahan bumi utara dan selatan dapat menjadi suatu kerawanan. Bila terjadi perpindahan penduduk akibat bencana, maka kemungkinan beberapa tempat di kepulauan Indonesia dapat menjadi sasaran/tujuan migrasi. Upaya yang dilakukan badan-badan dunia belum maksimal. Hal ini disebabkan masih adanya pertentangan untuk melaksanakannya secara konsekuen persetujuan yang telah dicapai pada forum/konvensi international, sebagai contoh belum dilasanakannya ketentuan-ketentuan yang tertuang pada Montreal Protocol dan Kyoto Protocol. Strategi untuk Mengurangi Dampak. Setelah dianalisis aspek-aspek baik dari faktor lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor lingkungan eksternal (kesempatan dan ancaman), didapatkan strategi sebagai berikut: Strategi kekuatan dihadapkan dengan adanya kesempatan adalah: a. Mengkedepankan konsep pertahanan nir militer dengan Departemen/Instansi terkait sebagai penjuru dalam rangka pengurangan tingkat emisi dunia. b. Menggelar kekuatan dalam rangka menghadapi segala bentuk kegiatan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Strategi kelemahan dihadapkan dengan adanya kesempatan adalah: a. Menjalankan upaya mitigasi internal dengan memotivasi masyarakat untuk mematuhi regulasiregulasi yang berkaitan dengan lingkungan hidup. b. Melakukan upaya mitigasi masal sesuai skala prioritas berdasarkan peluang yang tersedia c. Membantu petani, peternak dan nelayan tradisional mengatasi perubahan iklim yang terjadi. Strategi bila kekuatan dihadapkan dengan ancaman: a. Memobilisasi kekuatan yang ada untuk melawan gerakan-gerakan yang menggunakan isu pemanasan global untuk separatisme dan meredam konflik yang ada. b. Mengerahkan kemampuan yang ada untuk mengatasi kerusakan-kerusakan alam yang terjadi dengan bakti sosial yang dapat mencegah kerusakan lingkungan Strategi bila kelemahan dihadapkan dengan ancaman yang dihadapi adalah: menggunakan cara persuasif dan memberdayakan masyarakat untuk membentuk persepsi positif dalam rangka menghilangkan pertentangan dan memotivasi seluruh komponen bangsa untuk ikut berperan aktif mengurangi tingkat emisi. Kesimpulan Pemanasan global terjadi sebagai akibat akumulasi dari emisi buangan ke udara berupa gasgas CO2, CFC, metana dan lain-lain yang menyebabkan efek rumahkaca dan menipisnya lapisan ozon akibat pencemaran yang mengakibatkan radiasi matahari yang memanasi bumi tanpa atau hanya sedikit terfilter oleh lapisan ozon. Secara langsung pemanasan global tidak mempengaruhi kondisi pertahanan dan keamanan. Namun melalui konflik yang telah ada, efek dari pemanasan global akan meningkatkan konflik atau benih konflik yang telah ada.

Strategi untuk mengantisipasi pengaruh pemanasan global terhadap kondisi pertahanan dan keamanan di Indonesia di kelompokkan menjadi empat: / 1. Penggunaan ..... 1. Penggunaan kekuatan yang ada untuk menanggulangi dampak dan mengurangi penyebab meluasnya fenomena pemanasan global . 2. Mengutamakan/mengprioritaskan prioritas upaya penanggulangan yang langsung menyentuh permasalahan masyarakat lapisan bawah yang rentan terhadap pengaruh pemanasan global. 3. Penggunaan seluruh potensi yang ada untuk mengatasi konflik yang timbul dan menggunakan segala sumberdaya untuk mengatasi kerusakan alam yang terjadi. 4. Penggunaan cara persuasif dan edukatif untuk membentuk kesamaan persepsi dalam rangka menghilangkan pertentangan guna memotivasi partisipasi seluruh komponen bangsa untuk ikut berperan aktif mengurangi tingkat emisi. Saran Telah banyak peraturan perundang-undangan mengenai/yang berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan pemanasan global, tetapi dalam implementasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penyebabnya adalah kebanyakan peraturan-peraturan tersebut tidak mencantumkan sanksi atau jika ada, sanksinya terlalu ringan. Untuk itu perlu ada regulasi yang lebih jelas dengan sanksi yang lebih keras dan penegakan hukum (law enforcement). Untuk itu perludi selenggarakan kampanye nasional tentang Gerakan Sadar Lingkungan, Sadar Pemanasan Global dan Hemat Energi yang disosialisasikan secara intens melalui berbagai mass media dan diimplementasikan dalam tindakan nyata. Untuk mengakselerasi gerakan ini perlu diagendakan oleh pemerintah/Pemda yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan departemen/dinas pemerintah yang terkait.. Jakarta sebagai ibukota negara dunyatakan sebagai kota terkotor (terpolusi) nomor 3 di dunia, tanpa ada upaya signifikan untuk mencegah dan menanggulanginya. Untuk itu disarankan: 1. Ketentuan ambang batas Ranangmor pemroduksi gas buang CO 2 diperketat (diturunkan ambang batasnya). 2. Ada pembatasan penggunaan kendaraan bermotor perorangan. 3. Mengintensifkan kegiatan-kegiatan seperti: a. Penindakan (secara tegas) terhadap perusak hutan dan lingkungan b. Reboisasi dan penanaman pohon di tanah pribadi c. Pembuangan sampah metode/sistem Sanitary Landfil menjadi suatu gerakan dan kepedulian bersama.

Bibliografi Anonim, Jika Penebangan Berlanjut, 2005 Hutan Jabar Musnah, Kompas, 3 Januari 2003. Anonim, Kritis Air Bersih Mulai Terasa, Kompas, 7 Agustus 2003. Anonim, Panas Bumi, Gudang Energi Bersih di Jawa Barat, Kompas, 6 Desember 2003. Anonim, 102.510 ha. Hutan di Jateng dijarah, Kompas, 7 Juni 2004. Anomim, Hektaran Sawah Rusak, Bencana akibat Akumulasi Lingkungan, Kompas, 1 Februari 2006. Anomim, 700.000 hektar lahan hutan Kritis, Kompas, 14 Februari 2006. Anonim, Persentase Hutan di Jawa Sudah Sangat Rendah, Kompas, 9 Januari 2007. Anonim, Jakarta Terancam Pemanasan Global, Tempo Interaktif, 28 Maret 2007. Anonim, IPPC Desak Atasi Pemanasan Global, Kompas, 3 Mei 2007. Anonim, Pemanasan Global Picu Konflik Antar Negara, Tempo Interaktif, 15 Mei 2007.

Anonim. Lingkungan, Bencana Alam, Tempo, edisi 27 Mei 2007. Anonim. Bila Pulau-pulau di Indonesia Tenggelam, Suara Pembaharuan, Minggu, 17 Juni 2007. Arikunto, S. (1995). Prosedur Penelitian, Suatu pendekatan praktek, edisi ke-10, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Borenstein, S. (2007), Global Warming a Security Risk, Assosiate press, diakses pada 16 April 2007, WWW.SpectraGreen.com. Damardono, H., Kerusakan Hutan Ketika Semua sudah Terlambat, Kompas, 3 April 2006. David, F. R. (2004). Strategic Management Concept, PT. Bharata Karya Aksara, Jakarta. Departemen Pertahanan RI. (2005). Menata Sistem Pertahanan, Kaji Ulang Pertahanan (Strategic Defence Review).

http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=20&mnorutisi=10

http://ennybubble.blogspot.com/2010/06/makalah-global-warming.html

global warming
Global Warming (Pemanasan Global) adalah proses peningkatan suhu rata-rata, atmosfer, laut, dan dataran bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18 oC(1.33 0.32 oF) atau dari 15oC menjadi 15.6oC selama seratus tahun terakhir.

Senin, 14 Juni 2010


makalah global warming

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Perubahan pada cuaca yang terjadi pada belakangan ini telah mengakibatkan banyak hal. Hal itu tidak hanya mempengaruhi pertanian yang bergantung pada musim, tapi juga menimbulkan berbagai jenis penyakit.

Perubahan cuaca tersebut hanya satu contoh dampak yang dilahirkan perubahan iklim global. Perubahan iklim global tidak hanya terjadi di Indonesia, namun hamper di semua belahan Bumi. Tetapi, perubahan iklim itu terjadi disebabkan hal lain, yaitu pemanasan global.

B. Rumusan Masalah

Pemanasan global (global warming) merupakan pemicu terjadinya perubahan iklim di seluruh belahan Bumi, termasuk Indonesia. Apasih sebenarnya pemicu terjadinya pemanasan global saat ini? dan Dampak apa saja yang ditimbulkan oleh pemanasan ini bagi Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas dari dosen pengajar Bahasa Indonesia, adapun secara khusus yaitu :

1. Untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman penulis dan pembaca mengenai pemanasan global dan Indonesia 2. Untuk memberikan serta menambah informasi dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca.

D. Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup pembahasan makalah ini, yaitu :

1. Apa itu pemanasan global (global warming)?


3. Pengaruh global warming bagi Indonesia. 4. Landasan hukum yang terkait dengan pemanasan global. 5. Upaya-upaya pencegahan pemanasan global.

E. Metode Penulisan

Metode yang penulis gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kepustakaan yaitu mengambil materi pembelajaran dari buku-buku dan internet.

II. PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING)


A. Pengertian Global Warming
Global Warming (Pemanasan Global) adalah proses peningkatan suhu rata-rata, atmosfer, laut, dan dataran bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18
o

C(1.33 0.32 oF) atau dari 15oC menjadi 15.6oC selama seratus tahun terakhir. Hasil pengukuran yang lebih akurat oleh Stasiun Meteorologi dan juga data pengukuran

satelit sejak tahun 1957, menunjukkan bahwa sepuluh tahun terhangat terjadi setelah tahun 1980, tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun1990. Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC) menyim-pulkan bahwa, sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut. Secara kuantitatif nilai perubahan temperatur rata-rata bumi ini kecil tetapi dampaknya sangat luar biasa terhadap lingkungan. Meningkatnya suhu global ini mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan seperti meningkatnya permukaan air laut , perluasan gurun pasir, punahnya flora dan fauna tertentu, pelelehan es di kutub, dan sebagainya.

B. Penyebab Global Warming


Pemanasan global disebabkan oleh beberapa factor,penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang melepas CO2 (karbon dioksida) dan gas-gas lainnya seperti metana(CH4), N2O, belerang, dan CFC.

Pelepasan gas-gas tersebut telah menyebabkan munculnya fenomena yang disebut dengan efek rumah kaca( Green House Effect).

Beberapa penyebab pemanasan global, yaitu:

1. Efek Rumah Kaca


Efek rumah kaca terjadi karena gas-gas yang dilepaskan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil bersifat seperti rumah kaca. Rumah kaca bersifat meloloskan radiasi gelombang pendek dari radiasi matahari, tetapi akan menahan pantulan radiasi matahari tersebut yang setelah mencapai permukaan bumi, berubah menjadi radiasi gelombang panjang. Selama matahari bersinar, akan terjadi akumulasi radiasi sehingga temperature di dalam rumah kaca semakin panas. Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 C (59 F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 C (59 F) dari temperaturnya semula,

jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer akan meng-akibatkan pemanasan global. 2. Efek Umpan Balik
Umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, ke-lembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghanga. Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Efek umpan balik karena pengaruh awan. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Untuk mengetahui efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan hal tersebut tergantung pada tipe dan ketinggian awan tersebut. Hal ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batasbatas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang

berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

3. Peternakkan
Beberapa jenis gas rumah kaca bertanggung jawab langsung ter-hadap pemanasan yang kita alami dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik serta pembabatan hutan.

Menurut Laporan PBB tentang peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, "industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). " Hampir seperlima (20%) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini me-lampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!

Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam jangka 20 tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat dari CO2). Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam.

Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak.

Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock's Long Shadow-Environmental Issues and Options), peternakan adalah "penggerak utama dari penebangan hutan .... kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, (IPCC) Inter-governmental Panel on Climate Change menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 oF) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan risiko populasi yang sangat besar.

C. Dampak Global Warming


Dampak pemanasan global yang terjadi di setiap Negara berbeda karena faktanya iklim di setiap Negara berbeda yaitu terdiri dari tropik dan subtropik. Di daerah subtropik dampak pemanasan global terutama terjadi pada perubahan suhu yang makin ekstrim saat musim panas dan musim dingin. Sedangkan di daerah tropik terutama berpengaruh terhadap pergesiran musim serta meningkatnya kasus wabah penyakit. Dampak yang dirasakan Negara kepulauan adalah ancaman berkurangnya panjanggaris pantai akibat meningkatnya permukaan air laut karena mencairnya lapisan es di kutub. Dampaknya beragam, seperti dampak terhadap cuaca, tinggi muka laut, pertanian, flora dan fauna, dan kesehatan manusia.

1. Cuaca

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan

curah

hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pema-nasan (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

2. Peningkatan Permukaan Laut

Global warming akan mencairkan banyak es di kutub. Akibatnya, Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20 dan para ilmuan IPCC memprediksi pening-katan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.

Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Kenaikan tinggi permukaan laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai.

Menurut

perhitungan

para

ahli

IPCC,kenaikan

100cm

permukaan

laut

akan

menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% daerah Bangladesh, dan ribuan pulau kecil di Indonesia akan tenggelam. (Arianto Sam, --Maret 2008).

Akibat yang ditimbulkan peningkatan air laut, yaitu:

a) Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.

b) Perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove.

c) Meluasnya intrusi air laut.

d) Ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

e) Berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.

3. Pertanian

Bumi yang hangat akan menghasilkan banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal tersebut tidak sama beberapa tempat. Mungkin ada yang mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

4. Gangguan Ekologis

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan punah.

5. Kesehatan Manusia

Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang

berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.

III. PENGARUH GLOBAL WARMING BAGI INDONESIA


Pemanasan global yang bermuara pada perubahan iklim khususnya di Negara kita sungguh memiliki dampak yang sangat serius. Indonesia mulai merasakan dampak pemanasan global yang dibuktikan dari berbagai perubahan iklim maupun bencana alam yang terjadi. Pemanasan tersebut bisa mengakibatkan kemarau panjang, banjir, merosotnya produktivitas pertanian, tenggelamnya pulau dan mewabahnya malaria. Kata Direktur Eksekutif Pelangi Agus Pratama Sari (16-Oct-2002; 13:09).

A. Dampak Pemanasan Global bagi Negara Kita

1. Perubahan Iklim

a. Peningkatan temperatur Bumi

IPCC mengatakan bahwa kenaikan suhu Bumi periode 1990 2005 antara 0,15 0,13 oC, jika kondisi ini dibiarkan maka diprediksikan periode 2050 2070 suhu Bumi akan naik pada kisaran 4,2 oC.

b. Kenaikan suhu udara

Peningkatan suhu juga diperkirakan membuat musim kemarau Indonesia semakin panjang dan memunculkan bencana kekeringan sehingga gagal panen, krisis air bersih, dan kebakaran hutan. Sebaliknya musim hujan semakin pendek, tapi dengan curah semakin tinggi sehingga bisa menyebabkan banjir. Dari BMG menyebutkan, februari 2007 merupakan periode dengan intensitas curah hujan tertinggi selama 30 tahun terakhir di Indonesia.

Di awal tahun 2010 ini beberapa daerah bagian barat Indonesia diterpa badai yang besar seperti daerah Jawa Timur yang mengakibatkan banyak rumah yang hancur dan pohon-pohon tumbang sehingga mengakibatkan aliran listrik terhenti.

Pengaruh kenaikan suhu udara rata-rata secara global sangat berpengaruh terhadap terjadinya kekeringan. Kekeringan selain berdampak terhadap lahan pertanian dan vegetasi juga menye-babkan mudahnya terjadi kebakaran hutan. Kekeringan juga te-lah mengubah habitat lingkungan. Banyak kawasan rawa dan -danau yang mengering, hutan lebat merubah menjadi hutan -biasa, hutan biasa menjadi sabana dan sabana menjadi semak belukar.

2. Pertanian a. Mengubah pola presipitasi, penguapan, air limpasan, dan kelembaban tanah. b. Risiko terjadinya ledakan hama dan penyakit tanaman. c. Terancamnya ketahanan pangan

Ketahanan pangan adalah salah satu titik perhatian kita sebab kelangsungan Negara ini bertumpu pada ketersediaan padi disamping alternatif bentuk pangan lain seperti umbi-umbian dan biji-bijian. Misalnya, di Jawa Tengah produksi padi dari 8.729.291 ton (2006) menjadi 8.378.854 ton (2007), penurunan sebesar 350.436 ton.

3. Kelautan a. Naiknya permukaan air laut (bisa menenggelamkan daerah pesisir yang produktif). Kenaikan permukaan air laut dapat menyebabkan semakin meluasnya daerah yang terkena banjir. Tanpa adanya upaya pencegahan maka kita ak an kehilangan 2.000 pulau karena air laut akan naik pada ketinggian 90 cm. Tadinya kita memiliki 17.504 pulau tapi kini tinggal 17.480 pulau. (sumber : kompas.com) b. Pemanasan air laut yang mempengaruhi keanekaragaman hayati laut. c. Peningkatan jenis penyakit yang dibawa melalui air dan vektor. Pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan munculnya penyakitpenyakit. Penyakit yang paling jelas terlihat seperti penyakit demam berdarah, diare, malaria, kolera, dan virus.

4. Flora dan Fauna a. Terjadinya perubahan habitat. b. Kepunahan pada flora maupun fauna. Adanya penebangan liar (illegal logging), pengalihan fungsi lahan, eksploitasi hutan yang berlebihan, dan akibat dari bencana-bencana alam. Akibatnya flora maupun fauna berkurang karena tempat mereka dialih fungsikan. Bagi hewan yang tidak bisa ber-adaftasi dengan lingkungan baru maka akan punah dan sebaliknya.

5. Pertahanan dan Keamanan Indonesia yang memiliki posisi strategis yang berada di persilang-an dunia dapat menjadi suatu kerawanan. Sehingga, bila terjadi per-pindahan penduduk akibat bencana alam, maka beberapa tempat di ke-pulauan Indonesia dapat menjadi tujuan migrasi. Benca alam pun ter-kadang menyebabkan di beberapa daerah di Indonesia terjadi pemadaman listrik. Jika, hal ini terus terjadi maka akan mengganggu kestabilan/keamanan Negara.

B. Kerangka Hukum Pencegahan Pemanasan Global

Terdapat beberapa kelompok yang menyuarakan keinginan kembali ke alam untuk menyelamatkan Bumi.Kerjasama internasional telah dilakukan di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca. Pada tahun 1997 Conference of Parties to UNFCCC di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto. Pada tahun 2007 di Nusa Dua Bali, Indonesia diadakan pertemuan UNFCCC kembali.

Saat ini Indonesia telah meletakkan beberapa institusi hukum yang terkait dengan pemanasan global seperti :

1. UU No.23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

2. UU No.26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

3. UU No.30 Tahun 2007 Tentang Energi.

4. UU 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

5. Peraturan Pemerintah No.59 Tahun 2007 Tentang Panas Bumi.

6. Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas PP No.35 Tahun 2002 Tentang Dana Reboisasi,

7. PP No.6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan

8. UU No.18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.

Di beberapa daerah juga terdapat peraturan yang terkait dengan pemanasan global seperti: Perda Kabupaten Lampung Barat No.18 tahun 2004 tentang Pengelolaan SDM dan Lingkungan Hidup Berbasis Masyarakat. Perda Kabupaten Lampung Timur No.3 Tahun 2002 tentang Rehabilitasi Pesisir, Pantai, dan Laut dalam Wilayah Kabupaten Lampung Timur

Pencegahan pemanasan global harus mengedepankan aspek sinergitas dari institusi hukum internasional, institusi hukum nasional, dan institusi hukum di daerah.

C. Pencegahan Pemanasan Global

Tahun 2009 menjadi tahun yang penting bagi bangsa Indonesia yang rentan terhadap perubahan iklim. Sepanjang tahun 2009, telah diadakan serangkaian perundingan internasional untuk menetapkan kesepakatan baru mengenai penanggulangan perubahan iklim. Perunding-an diawali di Born, Jerman pada 29 Maret 8 April yang diakhiri pada bulan Desember di Kopenhagen, Denmark.

Hari Bumi 2009 pada 22 April dijadikan momentum lahirnya Green Generation Campaign (Kampanye Generasi Hijau). Prinsip Green Generation yaitu memperjuangkan bebas emisi gas rumah kaca (GRK) pada masa mendatang dengan menggunakan energi ramah lingkungan yang menggantikan bahan bakar fosil seperti BBM dan batu bara. Usaha-usaha praktis dan sederhana untuk mendinginkan Bumi, seperti :

1. Mematikan listrik antara di dua titik pada pukul 17.00 s/d 22.00 2. Ganti bola lampu ke jenis CFL 3. Hemat energy dengan cara selektif menggunakan peralatan elektronik 4. Kurangi pemakaian mobil/kendaraan pribadi 5. Kurangi pemakaian kemasan plastic 6. Hemat penggunaan kertas 7. Memilih dan mengelola sampah rumah tangga 8. Menanam pohon di halaman rumah 9. Jemur pakaian di luar 10. Jika pakai AC tutup pintu dan jendela dan atur suhu sekitar 21-24oC.

IV. PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pemanasan global (global warming) adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata, atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Hal ini diakibatkan oleh akumulasi dari emisi buangan ke udara berupa gas-gas CO2, CFC, metana, dan lain-lain yang menyebabkan efek rumah kaca dan menipisnya lapisan ozon akibat pencemaran yang mengakibatkan radiasi matahari yang memanasi Bumi tanpa atau hanya sedikit terfilter oleh lapisan ozon. Perubahan iklim terjadi hampir di semua belahan Bumi, termasuk Indonesia. Indonesia mulai merasakan dampak pemanasan global yang di-buktikan dari berbagai perubahan iklim maupun bencana alam yang terjadi.

Di Indonesia bencana alam banyak terjadi akibat kesadaran masyarakat yang lemah, seperti pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembuangan CO2. Agar bencana alam dapat diminimalisir diperlukan sinkronisasi antara pemerintah, dunia usaha, dan individu.

Dampak yang dirasakan oleh negara Indonesia, seperti :

1. Perubahan iklim

2. Pertanian

3. Kelautan

4. Flora dan fauna

5. Pertahanan dan keamanan

B. Saran
Pemanasan global ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup di Bumi. Kita sebagai generasi muda khususnya bisa menjaga Bumi ini karena masa depan kita, masa depan

anak cucu kita sangat tergantung kepada bagaimana kita menjaga dan melestarikan lingkungan. Semoga kita akan lebih sadar dan peduli bagaimana menjaga kelestarian alam dan lingkungan, mulai dari lingkungan terdekat dengan cara menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan dan hal bermanfaat lainnya terhadap lingkungan. Mulailah dari diri kita sendiri, masyarakat dan bangsa kita tidak akan berubah dan pada akhirnya semua manusia di Bumi tidak juga berubah kalau tidak ada yang memulainya. Mari kita mulai dari sekarang juga.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Bila Pulau-Pulau di Indonesia Tenggelam, Suara Pembaharuan. Minggu, 17 Juni 2007

Antara,

dilihat

pada

http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1533-30-

penyakit-baru-muncul-akibat-pemanasan-global.html

Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Firmansyah, dilihat pada http://firmansyah11.wordpress.com/category/usaha-mengatasi-globalwarming/

ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/a701e/a701e02.pdf

http://byraymond.wordpress.com/2009/02/04/pengaruh-global-warming

http://byraymond.wordpress.com-global

http://handy.hagemman.com/index.php/2007/12/01/dampak-pemanasan-global-bagi-indonesia/

http://keyblog-okeblog.blogspot.com/2009/02/reboisasi-hutan-sebagai-salah-satu.html

http://meylya.wordpress.com/2008/01/22/dampak-pemanasan-global

http://theowordpower.wordpress.com/2008/04/19/dampak-pemanasan-global-bagi-indonesia/

http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1531-green-festival-aksiku-untukbumi-kampanye-pencegahan-pemanasan-global.html

http://www.selamatkanbumi.blospot.com/2007/12

Kompas

(2005).

Terungkap,

Bukti

Pemanasan

Global,

edisi

Senin

Mei

2005,

http://www.kompas.com/teknologi/news/0505/02/132323.html

Liputan6

SCTV,

diakses

pada

20

Desember

2009

dilihat

pada

http://tekno.liputan6.com/berita/200911/252944/sendawa.biri.biri.penyebab.pemanasan. global

Pelangi in The Media. Dampak Pemanasan Global Indonesia Hancur, diakses pada 20 Desember 2009, http://pelangi@pelangi.or.id

Rhea,

Sissy.

Pemanasan

Global,

diakses

pada

24

Desember

2009,

http://id.answer.yahoo.com/question/index

Rudy, Membangun Kerangka Hukum Mengenai Pencegahan Pemanasan Global di Daerah, http://rechtboy.wordpress.com//2009/01/21

Sam, Arianto. 2008. Pengertian Global Warming, diakses pada 24 Desember 2009, http://www.sobatbaru.blogspot.com/2008/04/pengertianglobal-warming

Susanto, G. & Sutjahjo, H. (2007). Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global?. Jakarta: Penebar Swadaya.

Tim Penyusun. 2004. Geografi Kelas X SMA. Klaten: Cempaka Putih

Wikipedia, diihat pada http://.id.wikipedia.org/wiki/pemanasan-global Yandi, M.R., Fikri, A. & Mawuntyas, D. (2007). Lantaran Suhu Bumi Memanas: Pemanasan Global Mengancam Produksi Pangan, Penyakit Bakal Bermunculan, Jakarta: Tempo 27 Mei 2007, hal. 93.

Diposkan oleh TUMBUH KEMBANG ANAK di 19:54