Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN

Kondisi Lingkungan Biofisik Perairan Estuari Desa Poka

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK F1 (PRODI: MSP) CYECILIA PICAL (2009 63 028) RAHMAWATI (2009 63 0 ) VINI LANITH (2009 63 001) DEVI MALAWAT (2006 63 012) SANI YATI LESSY (2009 63 037) MICHAEL MAHULETE (2009 63 035)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON 2011

I. PENDAHULAUN 1.1 Latar Belakang Ekologi perairan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang biofisik perairan. Melalui ekologi periran kita dapat mengetahui interaksi lingkungan yang terjadi di perairan baik fisik, kimia, biologis, maupun interaksi antar komponen biofisik dari perairan dimaksud. Ekologi perairan memberikan gambaran tentang berbagai komunitas maupun ekosistem perairan yang biasanya kita temui. Secara umum, terdapat tiga ekosistem besar pada laut antara lain Ekosistem Mangrove, Ekosistem Padang Lamun, dan Ekosistem Terumbu Karang. Pada ketiga ekosistem ini hidup berbagai organisme yang saling ketergantungan satu dengan lainnya membentuk suatu mata rantai ekologis. Rasanya memahami ekologi perairan secara teoritis saja belum cukup. Untuk itu, perlu dilakukannya praktikum yang dapat memberikan kesempatan langsung untuk mempelajari setiap interaksi organisme pada ekosistem dimana organisme tersebut berada. Praktikum juga merupakan suatu jenis variasi belajar yang dipandang lebih efektif karena adanya interaksi langsung dengan media yang dipelajari.

1.2

Tujuan dan Manfaat Praktikum Adapun tujuan dan manfaat dari pelaksanaan praktikum Ekologi Perairan sebagai berikut: 1. Dapat mengetahui kondisi fisik-kimia perairan Desa Poka 2. Dapat mengetahui kondisi lingkungan biologi di Perairan Desa Poka melalui: a. Komposisi jenis biota b. Distribusi jenis biota c. Kepadatan, kelimpahan, serta frekuensi kehadiran tiap spesies. 3. Dapat mengenal penggunaan beberapa teknik dan metode pengukuran, pengambilan data dan informasi, serta metode analisisnya sesuai peralatan yang tersedia, baik untuk lapangan mapun laboratorium

II. METODE PRAKTIKUM

Praktikum Ekologi Perairan dilakukan pada: Hari/Tanggal Waktu Lokasi : : : Sabtu, 11 Juni 2011 Pukul 14.05 15.35 WIT Desa Poka

2.1

Kondisi Lingkungan Fisik-Kimia Tabel 1. Parameter fisik-kimia perairan Sampling I (TrF1/Kw1) 26 28 8 8 Hujan Keruh Sampling II (TrF1/Kw5) 26 28 11 8 Hujan Keruh Sampling III (TrF1/Kw9) 26 28 13 8 Hujan Keruh

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Parameter Temperatur udara (0C) Temperatur air (0C) Salinitas (0/00) pH air Kondisi Cuaca Kondisi substrat perairan

2.2

Alat dan Bahan a. Alat : - Refraktometer - Termometer batang - Kertas lakmus - Meteran roll - Frame - Ayakan - Trovol

b. Bahan

: - Kantung plastik (1 kg dan 5 kg) - Spidol parmanen - Karet gelang - Tali - Tissue - Formalin 10% - Alkohol 70%

2.3

Metode Pengambilan a. Pengukuran dan pengambilan data fisik kimia Kondisi cuaca ditentukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi cuaca pada lokasi saat sampling Temperatur udara dan air ditentukan dengan menggunakan termometer batang. Salinitas dilakukan dengan menggunakan refraktometer yang telah dikalibrasi terlebih dahulu pH diukur dengan mengambil sample air dan kemudian diukur tingkat keasamannya dengan menggunakan kertas lakmus di laboratorium Kondisi substrat dasar perairan yakni pasir berbatu. Sedangakan kondisi air pada lokasi sampling adalah keruh. Hal ini diakibatkan terjadinya hujan saat pengambilan sample. Sehingga terdapat masukan dari daratan yang menyebabkan perairan menjadi keruh.

b. Lingkungan Biologis Untuk melakukan sampling terhadap data organisme digunakan Metode Transek Linear Kwadran, berdasarkan prosedur berikut: 1. Sampling Benthos Tarik Garis transek tegak lurus garis pantai, mulai dari batas pasang tertinggi hingga surut terendah. Pada tiap interval jarak 5 m sepanjang garis transek tersebut, letakkan kwadran ukuran 1mx1m

lakukan penggalian substrat dalam kuadran contoh dengan bantuan trovol dan kemudian substrat tersebut di letakkan pada ayakan untuk kemudian di ayak dengan ayakan. Hal ini disebabkan cara hidup organisme benthos yang hidup di dalam tanah. Hitung jumlah organisme/individu tiap jenis biota yang terdapat di dalam tiap kwadran contoh dan tuliskan datanya dalam Data Sheet-2 Ambil masing-masing spesies 2 individu dan masukkan ke dalam kantong plastic untuk kemudian diidentifikasi di laboratorium.

2. Sampling Ekosistem Lamun Tarik Garis transek tegak lurus garis pantai, mulai dari batas pasang tertinggi hingga surut terendah. Pada tiap interval jarak 5 m sepanjang garis transek tersebut, letakkan kwadran ukuran 1x1m Hitung semua jumlah tegakan lamun per jenis yang ada di dalam kwadran contoh dan tuliskan pada data sheet. Ambil masing-masing jenis 2 tegakan dan masukkan dalam kantong plastik untuk kemudian diidentifikasi di laboratorium

3. Sampling Ekosistem Mangrove Tarik Garis transek tegak lurus garis pantai, mulai dari batas pasang tertinggi hingga surut terendah. Dengan bantuan meteran dan tali, buat kwadran dengan ukuran 10x10m untuk sampling pohon, 5x5m untuk sampling sapihan, dan 1x1m untuk sampling anakan. Hitung dan catat semua jumlah pohon, sapihan, maupun anakan per jenis yang ada dalam wilayah kwadran contoh Ambil daun, bunga dan buah masing-masing jenis sample yang telah dicatat untuk kemudian diiidentifikasi di laboratorium.

2.4

Analisa Data Tabel 2. Data Sampling Benthos dan Lamun Tr/Kw Jenis Biota Clypeomorus moniliferus Tr15/Kw1 (0 m) Rhinoclavis sinensis Clithon sp Kepiting Clypeomorus moniliferus Clithon sp Tr15/Kw2 ( 5 m) Rhinoclavis sinensis Gafrarium sp Kepiting Clypeomorus moniliferus Tr15/Kw3 (10 m) Clithon sp Gafrarium sp Clypeomorus moniliferus Tr15/Kw4 (15 m) Rhinoclavis sinensis Clithon sp Clypeomorus moniliferus Tr15/Kw5 (20 m) Clithon sp Gafrarium sp Tr15/Kw6 (25 m) Jumlah Biota 38 individu 22 individu 47 individu 1 individu 29 individu 38 individu 16 individu 2 individu 3 individu 23 individu 13 individu 3 individu 15 individu 11 individu 8 individu 9 individu 7 individu 1 individu Substrat berbatu kondisi keruh Substrat berbatu kondisi keruh Substrat berbatu kondisi keruh pasir serta perairan Substrat lumpur berbatu. Kondisi perairan keruh. Substrat lumpur berbatu. Kondisi perairan keruh. Substrat berbatu. perairan keruh. lumpur Kondisi sangat Kondisi Substrat Substrat lumpur dan terdapat banyak sampah dari aktifitas masyarakat

Clithon sp`

10 individu

pasir serta perairan pasir serta perairan

Tr15/Kw7 (30 m)

Clypeomorus moniliferus Clithon sp

6 individu 4 individu

Lanjutan table 2. Tr/Kw Clithon sp Tr15/Kw8 (35 m) Gafrarium sp Enhalus acoroides Tr15/Kw9 (40 m) Gafrarium sp Enhalus acoroides Jenis Biota Jumlah Biota 2 individu 1 individu 27 Tegakan 1 individu 38 Tegakan Kondisi Substrat Substrat pasir berbatu serta kondisi perairan keruh dan berminyak Substrat pasir berbatu serta kondisi perairan keruh dan berminyak.

A.

Analisis Data Bentos Kepadatan Individu/Tegakan Organisme Rumus : (m2)

a. Clypeomorus moniliferus =

= 13,3 individu/m2

b. Rhinoclavis sinensis =

= 5,4 individu/m2

c. Clithon sp =

= 14,3 individu/m2

d. Gafrarium sp = e. Kepiting =

= 0,9 individu/m2 = 0,4 individu/m2

Kepadatan Relatif Individu Benthos Rumus : x 100% = (%)

Kepadatan semua spesies = 34,3 individu/m2 a. Clypeomorus moniliferu = x 100% = 38,8%

b. Rhinoclavis sinensis =

x 100% = 15,7%

c. Clithon sp =

x 100% = 41,7%

d. Gafrarium sp =

x 100% = 2,6%

e. Kepiting =

x 100% = 1,2%

Kelimpahan Organisme (m2)

Rumus :

a. Clypeomorus moniliferus =

= 20 individu/m2

b. Rhinoclavis sinensis = c. Clithon sp = d. Gafrarium sp = e. Kepiting =

= 16,3 individu/m2 = 16,125 individu/m2 = 1,6 individu/m2 = 2 individu/m2

Kelimpahan Relatif Organisme

Rumus :

x 100% = (%)

Dengan Jumlah Kelimpahan semua spesies = 56,025 individu/m2

a. Clypeomorus moniliferus =

x 100% = 39,98%

b. Rhinoclavis sinensis =

x 100% = 29,09%

c. Clithon sp =

x 100% = 32,23%

d. Gafrarium sp =

x 100% = 2,86%

e. Kepiting =

x 100% = 3,57%

Frekwensi Kehadiran Organisme

Rumus :

a. Clypeomorus moniliferus =

= 0,67

b. Rhinoclavis sinensis =

= o,33

c. Clithon sp =

= 0,89

d. Gafrarium sp =

= 0,56

e. Kepiting =

= 0,22

Frekwensi Kehadiran Relatif Organisme

Rumus :

x 100% = (%)

Dengan jumlah frekwensi kehadiran semua spesies = 2,67 a. Clypeomorus moniliferus = x 100% = 25,1%

b. Rhinoclavis sinensis =

x 100% = 12,36%

c. Clithon sp =

x 100% = 33,3%

d. Gafrarium sp =

x 100% = 21%

e. Kepiting =

x 100% = 8,24%

B.

Analisis Data Lamun Kepadatan Lamun (m2)

Rumus : Enhalus acoroides =

= 7,22 tegakan/m2

Kepadatan Relatif Lamun

Rumus

x 100% = (%)

Enhalus acoroides = Kelimpahan Lamun

x 100% = 100%

Rumus

(m2)

Enhalus acoroides = Kelimpahan Relatif Lamun

= 32,5 tegakan/m2

Rumus

x 100% = (%)

Enhalus acoroides = Frekuensi Kehadiran Lamun

x 100% = 100%

Rumus

Enhalus acoroides =

= 0,22

Frekuensi Kehadiran Relatif Lamun

Rumus

x 100% = (%)

Enhalus acoroides

x 100%

= 100%

Tabel 3. Data Sampling Mangrove Tr/Kw Kondisi Substrat No. 1. Tr15/Kw1 Lumpur 2. Lumpur Tr15/Kw2 1. berbatu Sonneratia alba 1 1 Sonneratia alba 3 1 4 Jenis Mangrove Pohon Rhizophora mucronata 3 Jumlah Sapihan 2 Anakan 1 6 Jumlah

C.

Analisis Data Mangrove Kepadatan Mangrove Rumus : a. Rhizophora mucronata = b. Sonneratia alba = (m2) =0,03 individu/m2 = 0,025 individu/m2

Kepadatan Relatif Mangrove Rumus : x 100% = (%)

Dengan Jumlah kepadatan semua spesies = 0,055 individu/m2 a. Rhizophora mucronata = x 100% = 54,55%

b. Sonneratia alba =

x 100% = 45,45%

Kelimpahan Mangrove (m2)

Rumus :

a. Rhizophora mucronata = b. Sonneratia alba =

= 0,06 individu/m2 = 0,025 individu/m2

Kelimpahan Relatif Mangrove

Rumus :

x 100% = (%)

Dengan Jumlah Kelimpahan semua spesies = 0,085 individu/m2 a. Rhizophora mucronata = x 100% = 70,6%

b. Sonneratia alba =

x 100% = 29,4%

Frekwensi Kehadiran Mangrove

Rumus :

a. Rhizophora mucronata = b. Sonneratia alba = =1

= 0,5

Frekwensi Kehadiran Relatif Mangrove

Rumus : Dengan jumlah frekuensi kehadiran relatif = 1,5 a. Rhizophora mucronata = x 100% = 33,3%

x 100% = (%)

b. Sonneratia alba =

x 100% = 66,7%

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Kondisi Lingkungan Fisik Kimia a. Kondisi Suhu Suhu merupakan salah satu parameter fisik-kimia lingkungan yang dapat menunjukkan keadaan panas suatu benda maupun lingkungan serta dapat diukur dengan menggunakan thermometer. Kondisi suhu udara di lokasi praktikum saat itu tidak memiliki variasi yang berarti. Relatif sama yakni berada pada kisaran 260C. hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang sedang hujan sehingga suhu tampak merata dari jarak 0 - 40m jika dihitung dari pasang tertinggi hingga surut terendah. Suhu air laut pada dasarnya lebih tinggi dari suhu udara. Hal ini juga terlihat jelas melalui adanya variasi suhu antara suhu udara dan suhu perairan. Suhu perairan berkisar pada 280C. suhu air yang tidak mengalami variasi juga disebabkan oleh kondisi cuaca yang sedang hujan sehingga tidak terdapat stratifikasi secara horizontal. Cuaca Yang hujan membuat sebaran sinar matahari yang merata sehingga mempengaruhi suhu di tempat itu. b. Salinitas Berbeda dengan suhu yang tidak mengalami stratifikasi secara horizontal, salinitas memiliki stratifikasi yang jelas. Pada titik sampling 1 (Tr15/Kw1) yang merupakan daerah surut terendah yakni 80/00, titik sampling 2 (Tr15/Kw5) yang berjarak 20 meter dari daerah surut terendah kearah laut memiliki salinitas 110/00, dan titik sampling ke-3 yang terakhir berjarak 40 m kearah laut dari surut terendah tepatnya pada Tr15/Kw9 dengan salinitas 130/00. Data salinitas yang mengalami variasi menggambarkan bahwa dari batas surut terendah hingga 40 m ke arah laut terjadi stratifikasi salinitas secara horizontal. Selain itu berdasarkan kadar salinitasnya, perairan desa Poka yang merupakan lokasi praktikum tergolong dalam perairan estuari karena dikarenakan memiliki variasi salinitas yang berkisar antara 50/00 300/00. Kondisi salinitas yang relatif rendah juga diakibatkan oleh kondisi cuaca yang hujan sehingga mendapatkan banyak masukkan air tawar. Selain itu kondisi pasang-surut juga sangat

mempengaruhi sebaran salinitas perairan. Saat air surut, maka salinitas di estuari akan turun, karena terpengaruh oleh tingginya volume air tawar. Perbedaan salinitas perairan juga sangat mempengaruhi sebaran organisme di dalamnya. c. pH pH air merupakan kadar keasaman air. Berdasarkan perhitungannya dengan kertas lakmus, diketahui bahwa pH air di lokasi praktikum adalah 8. Nilai pH air yang normal adalah netral, yaitu antara pH 6 sampai pH 8 (Fardiaz, 1992). Air yang pH-nya kurang dari 7 bersifat asam, sedangkan yang pH-nya lebih dari 7 bersifat basa. Biasanya pH yang rendah pada perairan menunjukkan bahwa perairan tersebut mengalami kontaminasi dengan zat-zat pencemar. d. Substrat dan Cuaca Kondisi substrat suatu perairan sangat menentukan organisme-organisme apa saja yang dapat menempati lokasi tersebut. Pada lokasi transek ditemui 2 jenis substrat yang dapat dilihat pada gambar berikut ini: Lokasi yang bersubstat lumpur berbatu lebih didominasi oleh gastropoda dan tumbuhan mangrove. Sedangkan substrat pasir berbatu tidak lagi ditemukan tanaman mangrove dan hanya ditempati oleh organisme benthos beserta lamun. Saat pengambilan sample, cuaca di lokasi mendung dan hujan. Dampak dari hujan yang turun mengakibatkan kekeruhan pada perairan dan mempengaruhi stratifikasi parameter lingkungan di lokasi tersebut.

3.2

Kondisi Lingkungan Biologis a. Komposisi Jenis Biota 1. Clypeomorus moniliferus Clypeomorus moniliferus merupakan gastropoda laut yang banyak ditemukan di sepanjang pesisir Maluku. Hal ini dikarenakan Clypeomorus moniliferus memiliki adaptasi penyebaran terhadap perairan dangkal yang berbatu, dekat mangrove dan beriklim tropis.

Pada dasarnya Clypeomorus moniliferus hidup di daerah pasang surut. Gastropoda ini memiliki ciri morfologi berupa tubuh dengan banyak whorl (lekukan), terdapat tonjolantonjolan yang berbaris rapi pada cangkang, serta memiliki operculum yang yang oval. Cangkang Clypeomorus moniliferus berwarna hitam kecokelatan. Taksonomi Kingdom Filim Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Animalia Moluska Gastropoda Cerithioidea Cerithiidae Clypeomorus C. moniliferus Gambar C. moniliferus

2. Rhinoclavis sinensis Taksonomi Kingdom Filim Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Animalia Moluska Gastropoda Cerithioidea Cerithiidae Rhinoclavis R. sinensis Gambar R. sinensis

Rhinoclavis sinensis memiliki kebiasaan hidup yang sama dengan C. moniliferus karena merupakan organisme pantai tropis yang mendiami daerah pasang surut. Yang membuat berbeda adalah warna cangkah dari R. sinensis yang lebih cerah yakni berwarna cokelat muda dengan corak bintik hitam pada cangkangya.

3. Clithon sp Taksonomi Kingdom Filim Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Animalia Moluska Gastropoda Neritoida Neritidae Clithon Clithon sp Gambar Clithon sp

Clithon sp lebih dikenal dengan nama umumnya yaitu nerita. Nerita merupakan gastropoda berukuran bulat kecil yang warnanya sangat bervariasi. Organisme ini dapat hidup di air tawar maupun pada air laut. Jadi bisa dikatakan toleransi nerita terhadap salinitas sangat tinggi. Organisme ini hidup menempel pada batu sehingga banyak ditemukan pada daerah yang memiliki substrat berbatu. Morfologi umum dari tubuhnya yakni memiliki tubuh yang terdiri dari 3 whorl dan operculumnya mengarah ke kanan sehingga disebut dekstral. Nerita memiliki tubuh yang kecil. Bahkan lebar tubuhnya lebihbesar dari tinggi badannya. 4. Gafrarium sp Taksonomi Kingdom Filim Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Veneridae Gafrarium Gafrarium sp Gambar Gafrarium sp Animalia Moluska Bivalvia

Gafrarium sp merupakan kelopok bivalvia yang memiliki cangkang yang keras serta berstruktur. Memiliki warna putih dengan bintik-bintik orange pada kedua cangkangnya. Merupakan organisme pantai tropis yang menempati zona intertidal sebagai habitatnya.

Bivalvia ini sering di temukan pada daerah mangrove bahkan jika terjadi surut yang panjang ditemukan berasosiasi dengan ekosistem lamun. 5. Kepiting Taksonomi Kingdom Filum Kelas : : : Animalia Arthropoda Krustasea Gambar Krustasea

Kepiting merupakan organisme yang hidup di dasar perairan dan berasosiasi dengan organime lainnya. Kepiting yang hidup pada zona intertidal merupakan kepiting yang menyukai subtract berlumpur dan biasanya berasosiasi dengan tanaman mangrove. Walaupun begitu ada pula yang berasosiasi dengan lamun.

6. Enhalus acoroides Taksonomi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Plantae Anthophyta Angiospermae Helobiae Hydrocharitaceae Enhalus E. acoroides Gambar Enhalus acoroides

Enhallus acoroides mempunyai akar rimpang yang tertutup rapat dengan rambut-rambut yang keras. Akar berbentuk seperti tali berjumlah banyak dan memanjang. Daunnya memanjang, memiliki tepi daun yang rata, serta ujung daun berbentuk tumpul. E. acoroides biasanya tumbuh di pantai berlumpur dan perairan yang keruh.

7. Rhizophora mucronata Taksonomi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Myrtales Rhizophoraceae Rhizophora R. mucronata Gambar R. mucronata Rhizophora mucronata lebih dikenal sebagai bakau yakni merupakan jenis mangrove yang umum dijumpai. R. mucronata memiliki daun yang lebar dengan panjang mencapai 10 cm, berwarna hijau pada bagian atasnya dan hijau muda pada bagian bawahnya. Daunnya tersusun dalam rumpun sampai ujung tangkai. Bunga berwarna putih dan berukuran kecil. Buahnya berbentuk memanjang dan meruncing pada bagian ujungnya. Yang menjadi cirri khas dari R. mucronata adalah memiliki tipe akar tongkat yang keluar dari batang dan memiliki lentisel untuk pernapasan. Sama halnya dengan tumbuhan mangrove lainnya, R. mucronata tumbuh pada substrat berlumpur dan biasanya berada pada daerah estuari dengan kadar salinitas yang rendah. Memiliki daun yang berukuran 10-20 cm, buah panjangnya 25-45 cm

Gambar daun, bunga, dan buah R. mucronata

8. Sonneratia alba Taksonomi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Myrtales Sonneratiaceae Sonneratia S. alba Gambar Sonneratia alba

Gambar daun, bunga, dan buah S.alba Sonneratia alba merupakan tanaman mangrove yang khas dengan bentuk akar cakar ayam yang mencuat ke permukaan tanah. Ini merupakan cara S. alba untuk menyesuaikan diri dengan habitat berlumpur yang rendah akan oksigen. Akar ini disebut akar pneumatofora. Selain itu memiliki daum berbentuk bulat dan berpasangan pada cabang. Pada bagian ujung daun agak melengkung ke bawah. Bunganya berwarna merah dan buahnya agak besar berwarna hijau dengan pelepah berbentuk bintang mengelilingi buah.

b. Distribusi Jenis Biota Berdasarkan Transek Pada praktikum yang dilakukan ditemukan 3 jenis kelas gastropoda antara lain Clypeomorus moniliferus, Rhimoclavis sinensis, dan Clithon sp. Selain itu terdapat pula 1 jenis

bivalvia seperti Gafrarium sp. Selain kelompok moluska terdapat pula kepiting, lamun jenis Enhalus acoroides, serta mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba. Berdasarkan data sampling yang ada, dari kelompok benthos Clithon sp, Clypeomorus moniliferus dan Gafrarium sp terdistribusi secara merata sepanjang garis digunakan. Sedangkan mangrove hanya transek yang

terdistribusi pada 20 m pertama dari titik awal

transek. Berbeda dengan lamun yang terdistribusi mulai dari jarak 35 m 40 m (Tr15Kw8,9) dari titik awal transek. Lokasi yang memiliki substrat lumpur berbatu dan pasir berbatu secara merata sangat mempengaruh pola distribusi organisme bentos. Hal ini disebabkan baik gastropoda maupun bivalvia menyukai substrat seperti demikian sebagai tempat tinggal mereka. c. Kepadatan, Kelimpahan, dan Frekwensi Kehadiran Organisme Tabel 4. Kepadatan, Kelimpahan, dan Frekwensi Kehadiran Organisme
Kepadatan Kelimpahan

No.

Organisme

Kepadatan

Relatif

Kelimpahan

Relatif

FK

FK Relatif

Organisme Benthos
1. Clypeomorus moniliferus Rhinoclavis sinensis Clithon sp Gafrarium sp Kepiting 13,3 ind/m 5,4 ind/m
2

38,8%

20 ind/m

39,98%
2

0,67

25,1%

2. 3. 4. 5.

15,7% 41,7% 2,6% 1,2%

16,3 ind/m

29,09%
2

0,33 0,89 0,56 0,22

12,36% 33,3% 21% 8,24%

14,3 ind/m 0,9 ind/m 0,4 ind/m

16,125 ind/m 1,6 ind/m 2 ind/m


2 2

32,23% 2,86% 3,57%

Lamun
6. Enhalus acoroides 7,22 teg/m
2

100%

32,5 teg/m

100%

0,22

100%

Mangrove
7. Rhizophora mucronata Sonneratia alba 0,03 ind/m
2

54,55%

0,06 ind/m

70,6%

0,5

33,3%

8.

0,025 ind/m

45,45%

0,025 ind/m

29,4%

66,7%

Berdasarkan proses sampling yang dilakukan diperoleh data bahwa kepadatan tertinggi pada organisme benthos terdapat pada Clithon sp dengan nilai kepadatan 14,3 ind/m2. Sedangkan yang terendah adalah kepiting yakni 0,4 ind/m2. Hal ini berarti dalam tiap luasan 1 m, kepadatan kepiting di lokasi sampling bahkan tidak sampai 1 individu. Sedangkan berdasarkan data, Clypeomorus moniliferus memiliki tingkat kelimpahan yang lebih tinggi 20 ind/m2. Setelah itu diikuti oleh Rhinoclavis sinensis dengan kelimpahan 16,3 ind/m2. Walaupun pada dasarnya Rhinoclavis sinensis memiliki kepadatan yang lebih rendah dibandingkan Clithon sp, tetapi setiap kehadiran Rhinoclavis sinensis pada suatu kwadran contoh selalu dengan jumlah individu yang banyak. Sehingga kelimpahannya lebih tinggi dibandingkan Clithon sp. Hal ini juga senada dengan Gafrarium sp. Walalupun memiliki frekwensi kehadiran yang cukup tinggi, namun kelimpahannya sangat rendah diantara semua organisme bentos yang ada yakni 1,6 ind/m2. Hal ini disebabkan kehadirannya pada setiap kwadran dengan jumlah individu yang sedikit. Sepanjang lokasi transek 15 yang menjadi acuan titik-titik pengamatan, hanya ditemukan satu jenis lamun yakni Enhalus acoroides dengan kepadatan 7,22 tegakan/m2 dan kelimpahan 32,5 tegakan/m2. Kepadatan Enhalus acoroides cukup rendahjika dibandingkan dengan kelimpahannya. Hal ini disebabkan oleh penyebarannya yang tidak merata pada kesembilan kwadran contoh. Enhalus acoroides hanya terdapat pada 2 kuadran terakhir dari transek yang diamati. Sedangkan kelimpahannya yang cukup tinggi yakni 32 tegakan dalam area 1 meter disebabkan oleh karena jumlah tegakan yang banyak setiap kehadirannya. Kondisi mangrove pada lokasi transek sangat sedikt sehingga berpengaruh kepada jumlah kepadatan maupun kelimpahan dari tumbuhan mangrove. Pada 2 kwadran pengamatan dengan masing-masing luasan 10mx10m hanya ditemukan 2 jenis mangrove yakni Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba. Bahkan berdasarkan data yang ditunjukkan oleh table, nilai kepadatan maupun kelimpahan mangrove tidak sampai 1 individu/m 2. Hal ini berarti kondisi tumbuhan mangrove tidak padat sama sekali. Sonneratia alba memiliki frekuensi lebih tinggi dibandingkan dengan Rhizophora mucronata pada lokasi pengamatan. Secara umum, kepadatan maupun kelimpahan organisme pada lokasi sampling bisa dikategorikan sangat rendah. Selain faktor kondisi cuaca yang dapat mempengaruhi lingkungan fisik kimia perairan, aktifitas sekitar juga sangat menentukan kestabilan kehidupan organisme pada suatu lokasi. Perairan di sepanjang pantai Desa Poka banyak menerima masukkan limbah

aktifitas daratan maupun perairan sehingga berdampak kepada kehidupan organisme di lokasi tersebut. Di sepanjang pesisir pantai terutama dekat daerah mangrove, kita tidak akan sulit menemukan berbagai jenis limbah rumah tangga baik limbah organik maupun anorganik. Selain itu, aktifitas kapal juga sangat berdampak kepada tumpahan minyak yang terlihat jelas pada permukaan air laut. Perairairan Pantai Desa Poka pada dasarnya memiliki beragam sumberdaya. Hanya saja, jika tidak ada pengelolaan limbah dari berbagai aktifitas manusia secara baik, limbahlimbah dimaksud akan dapat mempengaruhi kestabilan hidup sumberdaya yang ada pada lokasi dimaksud. Bahkan jika dilihat, kondisi sampah di sepanjang pantai begitu padat serta tumpahan minyak pada permukaan air laut dengan bau yang menyengat merupakan ancaman besar bagi keberadaan sumberdaya.

IV. PENUTUP Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Perairan pantai Desa Poka merupakan perairan estuari karena memiliki salinitas antara 80/00 sampai 130/00. Kondisi fisik kimia perairan Desa Poka tidak mengalami variasi disebabkan oleh cuaca Adanya stratifikasi horizontal sebaran organisme di pesisir pantai Desa Poka yang sangat menonjol yakni dari ekosistem mangrove, kehidupan organisme bentos, dan kemudian ekosistem lamun. Kondisi lingkungan maupun organisme di Desa Poka mulai terganggu akibat limbah pemukiman mapun limbah perairan yang berdampak kepada rendahnya kepadatan dan kelimpahan organisme di alam.

DAFTAR PUSTAKA
Dr.Dietriech G. Bengen, DEA.2001.Pedoman Teknis Pengenalan Dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.PKSPL-IPB:Bogor http://delta-intkey.com/britmo/www/neritida.htm (Selasa, 14 Juni 2011;Pukul 22.37) http://efendikonservasi.blogspot.com/ (Selasa, 14 Juni 2011;Pukul 22.15) http://fpik.bunghatta.ac.id/files/downloads/E-book/Biologi%20Laut%20Jilid%202/bab_8.pdf (Selasa, 14 Juni 2011;Pukul 23.21) http://seashellsofnsw.org.au/Cerithiidae/Pages/Cerithiidae_intro.htm (Selasa, 14 Juni 2011;Pukul 22.18) http://www.scribd.com/doc/17811616/Mengenal-jenis-bakau (Selasa, 14 Juni 2011;Pukul 20.16) Ronald.C.Philips,Ernani G.Menes.1998.Seagrasses.Smithsonian Institution Press:Washington.D.C

Anda mungkin juga menyukai