Anda di halaman 1dari 33

PROTEIN 1.PENDAHULUAN 1.

Latar belakang Protein-protein yang bersifat senyawa organik yang besar membuat dari asam amino mengatur disuatu rantai linier dan bekerjasama oleh ikatan peptide antara carboxyl dan gugus amino dari residu-residu asam amino yang bersebelahan. Urutan dari asam amino disuatu protein digambarkan oleh suatu gen menjadi didalam kode genetik. Meski kode genetic ini menyatakan 20 yang standar sel enocysteine asam amino lebih didalam archaea yang tertentu pyrrolysin, residu-residu disuatu protein kadang-kadang secara kimiawi diuubah dimodifikasi post translational: bisa sebelum protein itu dapat berfungsi didalam sel, atau sebagai bagian dari mekanisme-mekanisme kendali. Protein-protein dapat juga bekerja sama untuk mencapai fungsi tertentu, dan mereka seringkali rekanan untuk membentuk complexes yang stabil (anonymous, 2009). Kebanyakan protein merupakan enzim atau sub unit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi structural atau mekanis. Seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam system kekebalan (imun) sebagai anti bosi, system kendali dalam bentuk hormone, sebagai kopr penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam aminotersebut ( heterotrof). (anonymous, 2009). Pengetahuan kita tentang protein telah sangat meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh tekhnologi baru dalam bidang biologi molecular dan protein penelitian. Hal ini telah menjadi jelas bahwa dari satu gen tidak hanya satu produk gen tetapi banyak yang berbeda. Disebut protein spesies dihalikan yang semuanya berhubungan dengan fungsi yang berbeda. (anonymous, 2009).

2.Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum ini agar praktikan mengetahui proses denaturasi protein dari bahan yang disediakan. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui sifat khusus dan sifat umum protein.

3.Waktu dan Tempat Praktikum kimia dasar dengan materi reaksi khusus protein dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 14 oktober 2009 pada pukul 10.00-12.00 WIB di laboratorium Ilmi-Ilmu Perairan (IIP) di gedung C lantai 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univesitas Brawijaya Malang.

2.TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian protein protein (asal kata protos dari yunani yang berarti yang paling utama). Merupakan senyawa organic kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptide molekul protein mengandung karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi structural atau mekanis. Seperti yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein yang terdapat. Protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat uama dalam

pembentukan sel-sel tubuh sebagai sumber energy. Protein terlibat dalam system kekbalan sebagai anti bodi. (anonymous, 2009). Protein yang namanya berarti utama merupakan makro molekul yang paling berlimpah didalam sel dan menyusul lebih dari setengah berat kering pada hamper semu organisme. Protein merupakan instrument yang mengekspresikan informasi genetic. Seperti juga terdapat ribuan gen didalam inti sel. Masing-masing mencirikan suatu sifat nyata dari organisme, didalam sel terdapat ribuan jenis protein yang berbeda. Masing-masing membawa fungsi spesifik yang dibentuk oleh gen yang sesuai. Protein, karenanya bukan hanya merupakan makromolekul yang berlimpah. Tetapi juga amat bervariasi.(Lehninger, 1995). Protein adalah suatu zat dalam susunan kimianya mengandung unsure-unsur oksigen, karbon, hydrogen, nitrogen dan kadang-kadang mengandung unsure-unsur lain seperti sulfur dan fosfor. (anonymous, 2009). 2.2 Jenis-jenis Protein Protein menurut komposisi dapat dibagi, diantaranya: a.Protein sederhana Albumin Albumin merupakan golongan protein yang paling penting dan banyak dijumpai Globulin Globulin tidak larut dalam air tetapi larut dalam larutan garam enes. Histon Histon merupakan protein penting, karena mengandung proporsi yang tinggi asam amino essensial yaitu lisin dan arginin. Skieroprotein (Albuminoid) Skleroprotein mempunyaibentuk dan fungsi pelindung dan dicarikan oleh ketidak larutannya dalam air dan dalam kebanyakan pelarut.

b.Protein terkonjugasi Fosfoprotein Glikoprotein Kromoprotein Nucleoprotein Lipoprotein Protein menurut pembagian fungsi: Protein struktur Protein kotraktil Enzim Hormon Anti bodi 2.3 Sifat-sifat protein Protein kadang-kadang diperkenalkan sebagai molekul makro pemberi keterangan, karena urutan asam amino dari dalam urutan basa dari bagian yang bersebgketa dalam DNA yang mengarahkan biositesa protein. Tiap jenis protein ditandai sifat-sifat: 1.Susunan kimia yang khas. Setiap protein individual merupakan senyawa murni 2.Babul molecular yang khas semula dalam satu contoh tertentu dari protein mempunyai bobot moleculer yang sama. Jenis polimer ini disebut monodispers. Suatu contoh acak dari polimer yang polidispenser mencakup berbagai plastic buatan maupun polisakarida alam seperti kanji dan selulosa. 3.Urutan asam amino yang khas. Urutan asam amino dari protein tertentu adalah terinci secara genetik. Akan tetapi, perubahan-perubahan kecil dalam urutan asam amino dari protein tertentu dapat menjadi melalui hasil-hasil yang diinginkan jika protein yang

diperbaiki, diciptakan melalui proses pemilikan alamiah pada tingkat molecular. Mutasi dapat juga mempunyai akibat-akibat yang mencelakakan, seperti yang kita lihat apabila kita meninjau anemia sel sabit. (anonymous, 2009) 2.4 Macam-macam uji protein Menurut anonymous (2009) analisis protein dilakukan dengan dua metode yaitu secara kulitatif dan kuantitatif terdiri dari: Analisa Kualitatif 1.Reaksi Xantoprotein Larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati kedalam larutan protein setelah dicampur menjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan reaksi yang terjadi ialah titrasi pada inti benzena reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin, fenilatonin, dan triprofon. 2.Rekasi Hopkins-cole Larutan yang mengandung troprofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-cole yang mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuatdari asam oksalat dengan serbuk magnesium dalam air. Adanya protein ditunjukkan dengan timbulnya cincin ungu pada batas antar lapisan. 3.Reaksi millon Pereaksi adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Protein ditunjukkan dengan adanya endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. 4.Reaksi natrium nitroprosida Natrium nitroprosida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan protein yang mempunyai gugus SH bebas. 5.Reaksi sakaguchi

Perekasi yang digunakan ialah noftol dan natrium hipobromit. Reaksi ini berbentuk hasil positif apabila ada gugus guanidine contohnya arginin. Perubahan terjadi ialah adanya perubahan warna menjadi metal. 6.Metode biuret Larutan protein dibuat alkalis dengan NaOH. Kemudian titambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk menunjukkan adanya senyawa yang mengandung gugus asam anida. Iji ini memberikan reaksi positif yaiu ditandai dengan timbulnya warna violet atau biru violet.

Analisa Kuantitatif 1.Metode Kjeldahl Merupakan metode sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksikan dengan asam sulfat dan katalis dengan katalisator yang sesuai sehingga menghasilkan ammonium sulfat. Setelah pembebasan alkali dengan kuat, ammonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif kedalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi. 2.Metode Titrasi Formal Larutan protein dinetralkan dengan basa (NaOH) lalu ditambahkan dengan formalin akan membentuk dimethilol. Dengan terbentuknya dimethilol ini berarti gugus aminonya sudah terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi antara asam dengan basa NaOH sehingga hasil titrasi dapat diakhiri dengan tepat. 3.Metode Lowry Pembuatan reagen lowry merupakan larutan asam fosfotonsitat-asam fosfomolibolat dengan perbandingan (1:1) dan dicampur 2% natrium karbonat dalam 100 ml natrium hidroksida dan ditambahkan dengan 1ml tembaga (II) sulfat serta 1ml kalium natrium tartrat 4.Metode Spektofotometri

Asam amino penyusun protein diantaranya adalah triprofon, tirosin, dan fenilalanin yang mempunyai gugus aromatic. Reaksi adsorbs sinar yaitu 280/260 menentukan factor korksi dari metode ini. 2.5 Macam-macam Kerusakan Protein Menurut anonymous (2009) kerusakan protein diantaranya disebabkan oleh: 1.Autolysis Penembakan tubuh organisme yang mati oleh enzim tanpa bantuan bakteri. Contoh ikan mati enzim tubuh ikan merombak ikan tersebut maka daging ikan jadi lunak 2.Denaturasi Berubahnya sifat fisik dari protein. Pada daging ikan semula kenyal maka menjadi kaku. Denaturasi disebabkan oleh Panas Dingin Zat kimia garam 3.Koagulasi Proses lebih lanjut dari denaturasi 4.Penambahan Protein dirombak oleh mikroba menjadi asam amino, maka akan terjadi bau busuk pada ikan 5.Pelarutan

3.METODOLOGI 1.Alat dan Fungsi Alat yang digunakan pada praktikum kimia dasar dengan materi protein diantaranya: 1.Tabung reaksi : untuk mereaksikan larutan 2.Beaker glass 100ml : untuk tempat larutan 3.Bunsen : alat untuk memanaskan beaker glass 4.Penjepit tabung reaksi: untuk menjepit tabung reaksi saat pembakaran 5.Pipet : untuk memindahkan cairan dalam skala kecil 6.Rak tabung reaksi : untuk meletakan tabung reaksi a.Bahan dan Fungsi Bahan yang digunakan pada praktikum kimia dasar dengan materi protein diantaranya: 1.Susu bubuk : sebagai objek yang diamati 2.Susu cair : sebagai objek yang diamati 3.Putih telur : sebagai objek yang diamati 4.Kertas label : menandai beaker glass agar tidak tertukar 5.Asam Nitrat pekat : sebagai larutan untuk menguji bahan b.Skema Kerja

4.PEMBAHASAN 1.Analisa Prosedur Praktikum kimia dasar dengan materi protein dibutuhkan alat diantaranya tabung reaksi, beaker glass 100ml, Bunsen, penjepit tabung reaksi, pipet dan rak, serta bahan yang dibutuhkan diantaranya susu bubuk, susu cair, putih telur, asam nitrat pekat dan kertas label. Kemudian dilakukan perlakuan antara lain: Putih Telur Pertama dimasukkan putih telur kedalam tabung reaksi, lalu ditetesi dengan larutan asam nitrat sebanyak 2 tetes. Ini ditujukan agar dapat diketahui proses perubahan protein. Kemudian diberi label sesuaidengan nama larutan agar tidak tertukar dengan larutan yang lain. Dimasukkan tabung reaksi kedalam beaker glass yang telah diisi air 0,5 ml. kemudian dipanas bertujuan untuk mempercepat reaksi. Setelah itu diamati perubahan yang terjadi setiap menitnya dan dicatat hasilnya. Susu Cair Pertama dimasukkan putih telur kedalam tabung reaksi, lalu ditetesi dengan larutan asam nitrat sebanyak 2 tetes. Ini ditujukan agar dapat diketahui proses perubahan protein. Kemudian diberi label sesuaidengan nama larutan agar tidak tertukar dengan larutan yang lain. Dimasukkan tabung reaksi kedalam beaker glass yang telah diisi air 0,5 ml. kemudian dipanas bertujuan untuk mempercepat reaksi. Setelah itu diamati perubahan yang terjadi setiap menitnya dan dicatat hasilnya.

Susu Bubuk Pertama dimasukkan putih telur kedalam tabung reaksi, lalu ditetesi dengan larutan asam

nitrat sebanyak 2 tetes. Ini ditujukan agar dapat diketahui proses perubahan protein. Kemudian diberi label sesuaidengan nama larutan agar tidak tertukar dengan larutan yang lain. Dimasukkan tabung reaksi kedalam beaker glass yang telah diisi air 0,5 ml. kemudian dipanas bertujuan untuk mempercepat reaksi. Setelah itu diamati perubahan yang terjadi setiap menitnya dan dicatat hasilnya.

Protein dapat memerahkan fungsi sebagai bahan structural karena seperti halnya polimer lain, protein memiliki rantai yang panjang dan juga dapat mengalami cross linking dan lain-lain. Selain itu juga dapat berperan sebagai biokatalis untuk reaksi-reaksi kimia dalam system makhluk hidup, makromolekul ini mengendalikan jalur dan waktu metabolism yang kompleks untuk menjaga kelangsungan hidup suatu organisme. Suatu system metabolism akan terganggu apabila biokatalis yang berperan didalamnya mengalami kerusakan. (anonymous, 2009).

2.Analisa Hasil Pada praktikum kimia dasar dengan materi protein didapatkan hasil dari bahan uji susu bubuk, susu cair, dan putih telur. Antara lain: Pada susu cair Sebelum ditetesi asam nitrat kondisinya berwarna putih susu, sesudah ditetesi asam nitrat menjadi menggumpal, dan mengendap setelah dipanaskan. Pada susu bubuk Sebelum ditetesi asam nitrat kondisinya berwarna putih susu, setelah ditetesi asam nitrat menjadi menggumpal, dan muncul endapan setelah dipanaskan. Pada putih telur Sebelum ditetesi asam sitrat berwana kuning bening, setelah ditetesi asam nitrat menjadi

putih menggumpal, setelah dipanaskan menjadi mengeras berupa padatan.

Jika suatu larutan protein seperti albumin telur secara perlahan-lahan dipanaskan, larutan ersebut lambat laun akan keruh dan terbentuk koagulasi berbrntuk seperti tali. Proses ini terjadi pada saat merebus telur, putih telur yang mengandung albumin berkoagulasi menjadi padatan putih dengan pemanasan. (anonymous,2009).

3.Data Hasil Pengamatan berikut hasil pengamatan praktikum kimia dasar dengan materi protein:

No Bahan yang diuji Sebelum ditetesi asam nitrat Sesudah ditetesi asam nitrat Setelah dipanaskan keterangan 1 Susu bubuk Putih susu Menggumpal (koagulasi) Muncul endapan

Mengandung protein 2 Susu cair Putih susu Menggumpal (koagulasi) Putih mengendap Mengandung protein 3 Putih telur Kuning bening Putih menggumpal Mengendap, menjadi padatan Mengandung protein

5.PENUTUP 1.Kesimpulan Protein merupakan senyawa organic kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Protein memiliki berbagai macam jenis, diantaranya adalah, golongan utama berdasarkan peran biologi yaitu: enzim, protein transport, protein nutrient, protein kontraksi, protein structural, protein pertahanan, protein pengatur dan yang lainnya. Ternyata seluruh bahan yang dijadikan bahan uji protein, menunjukkan bahwa semua mengandung protein Bahan uji yang diamati dan yang mengandung protein kebanyakan mengalami penggumpalan Susu bubuk, susu cair, dan putih telur merupakan bahan-bahan yang mengandung protein.

2.Saran Dalam praktikum praktikan harus mengamati dengan sekasama dan sedetail-detailnya agar

dapat mengetahui perubahan-perubahan warna yang terjadi dan lebih teliti ketika melihat terjadinya perubahan wujud bahan yang mengandung dan tidak mengandung protein.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2009. Protein (http://www.g-excess.com/indeks2php?Option= com_conten&du_pdf=1&id=540.html). Diakses pada tanggal16 oktober 2009 pada pukul 20.00 WIB. Anonymous, 2009. Protein (http://www.blogpribadi.com/2009/07/protein-24.html). Diakses pada tanggal 16 oktober 2009 pada pukul 20.00 WIB Anonymous, 2009. Protein (http://kusmandanuuindra4.blogspot.com/2004/ protein.html). Diakses pada tanggal 16 Oktober 2009 pada pukul 20.15 WIB Anonymous, 2009. Protein (http://www.ziamaystri.blogfriend.com/protein.html). Diakses pada tanggal 16 Oktober 2009 pada pukul 20.15 WIB Anonymous, 2009. Protein (http://www.hobiikan.blogspot.com/2008/08/jenis-jeniskerusakan-protein.html). Diakses pada tanggal 16 Oktober 2009 pada pukul 20.20 WIB. Lehninger, Albert.L.1995. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid I. Jakarta

A.

Tujuan Percobaan

Percobaan ini bertujuan untuk : 1) 2) 3) B. Mengisolasi protein dari tahu. Melakukan uji reaksi dari protein. Mengamati sifat-sifat dari protein. Landasan Teori

Protein (protos yang berarti paling utama) adalah senyawa organik kompleks yang mempuyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya digolongkan sebagai polipeptida.

Protein banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia. Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber dari protein adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi kehidupan organisme pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan suplai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang yang biasa dijumpai pada protein. Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi asetilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat. Semua asam amino yang ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus karboksil dan amino diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik yang melibatkan gugus Rnya. Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam amino yang dibagi berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan tersebut : asam amino non-polar

dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein, Tirosin, Asparagin dan Glutamin. Golongan ketiga yaitu asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan golongan keempat yaitu asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R. Dari ke-20 asam amino yang ada, dijumpai delapan macam asam amino esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin, metionin, Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial ini tidak bisa disintesis sendiri oleh tubuh manusia sehingga harus didapatkan dari luar seperti makanan dan zat nutrisi lainnya. Protein tersusun atas asam-asam amino melalui ikatan peptide, yaitu ikatan antara gugus karboksil (-COOH) dan gugus amina (-NH2). Oleh karena itu protein juga disebut polipeptida. Ikatan yang terjadi pada protein selain ikatan peptide antar asam-asam amino penyusunnya, juga terjadi ikatan-ikatan yang lain. Misalnya, ikatan hydrogen yang terjadi pada gugus N-H dan pada gugus O-H, ikatan disulfide yaitu S S menyokong terjadinya ikatan yang kompleks pada protein. Ikatan ion pada protein juga terjadi bila di dalamnya terdapat gugus ion logam, dan ikatan koordinasi, misalnya ikatan koordinasi antara ion Fe3+ dengan hemoglobin pada darah. Protein : H2O H+ { NHCHC NHCHC } R R Kalor H2NCHCO2H + H2NCHCO2H + .. R R

Sifat-sifat protein :

a) b) c)

Protein sukar larut dalam air Karen ukuran molekulnya yang sangat besar. Dapat mengalami koagulasi oleh pemanasan, penambahan asam atau basa. Bersifat amfoter karena membentuk zwitter ion, pada titik isoelektriknya protein

mengalami koagulasi sehingga dapat dipisahkan dari pelarutnya. d) Protein dapat mengalami kerusakan (terdenaturasi) oleh pemanasan. Pada denaturasi

protein dapat mengalami kerusakan mulai dari kerusakan struktur primernya sampai pada struktur tersiernya. Protein merupakan kelompok biomakromolekul yang sangat heterogen. Ketika berada di luar makhluk hidup atau sel, protein sangat tidak stabil. Untuk mempertahankan fungsinya, setiap jenis protein membutuhkan kondisi tertentu ketika diekstraksi dari normal biological milie. Protein yang diekstraksi hendaknya dihindarkan dari proteolisis atau dipertahankan aktivitas enzimatiknya. Untuk menganalisa protein yang ada di dalam sel tersebut, diperlukan prosedur fraksinasi sel yaitu : Memisahkan sel dari jaringannya. Menghancurkan membrane sel untuk mengambil kandungan sitoplasma dan organelnya. Memisahkan organel-organel dan molekul penyusunnya. Isolasi protein yaitu memisahkan protein dari makromolekul yang lain atau memisahkan protein dengan sifat tertentu dan protein dari protein lain lain yang tidak diinginkan dalam analisa. Suatu teknik isolasi dan identifikasi protein harus mempertimbangkan sifat-sifat fisik, kimiawi dan kelistrikan suatu protein sedemikian rupa sehingga konformasi dan aktifitasnya

tidak berubah. Pada tahap awal isolasi, biasanya digunakan metode yang memiliki daya pemisah terendah seperti pengendapan dengan ammonium sulfat. Pengendapan ini dipengaruhi olah berbagai factor antara lain jumlah dan posisi gugus polar, berat molekul, pH dan temperature larutan. Pemurnian Protein Pemurnian protein dilakukan untuk mempelajari sifat dan fungsi protein. Pemisahan dilakukan berdasarkan ukuran, kelarutan, muatan dan afinitas ikatan. 1. Cara Dialisis

Pemisahan berdasarkan ukuran molekul melalui selaput semipermiabel, dimana molekulmolekul dengan berat molekul lebih besar dari 15.000 akan tertahan dalam kantong dialysis. Sedangkan molekul yang berukuran lebih kecil dan juga ion-ion akan melewati pori-pori selaput semipermiable tersebut keluar dari kantong dialysis. 2. Cara Kromatografi Filtrasi Sel

Pemisahan berdasarkan ukuran molekul. Prinsipnya, larutan dialirkan dari atas kolom yang berisi butir-butir gel yang terdiri dari karbohidrat berpolimer tinggi. Butir-butir tersebut dikenal sebagai sephadex. Molekul-molekul berukuran kecil dapat masuk ke dalam butirbutir sephadex. Sedangkan yang berukuran besar tidak. Karena itu terjadi pemisahan. Molekul-molekul kecil berada dalam larutan butir-butir sephadex diantara butir-butir sephadex. Karena molekul-molekul besar akan turun lebih cepat, maka molekul-molekul besar terelusi atau keluar terlebih dahulu. 3. Cara Kromatografi Pertukaran Ion

Pemisahan berdasarkan muatannya. Bila sebuah protein mempunyai muatan positif pada pH 7, ia akan terikat pada kolom penukar ion yang berisi gugus yang bermuatan negative. Sedangkan protein yang bermuatan negative tidak. Protein bermuatan positif yang terikat dalam kolom dapat dielusi dengan penambahan garam NaCl atau garam lain pada larutan buffer yang digunakan untuk elusi. Ion Na+ akan berkompetensi dengan protein untuk berikatan dengan gugus pada kolom dan secara bertahap ion Na+ akan menggantikan kedudukan protein. C. Alat : Tabung reaksi + rak dan penjepit Gelas ukur 50 mL Pipet ukur 1 mL Gelas kimia 100 mL Pembakar bunsen Bola hisap Pipet tetes Corong Bunchner Erlenmeyer bertutup Penjepit tabung Kaca arloji 2 buah dan 100 mL 3 buah 1 buah 1 unit 2 buah 10 buah Alat dan Bahan

Bahan : Tahu/ampas tahu Kertas saring Larutan KOH 5% Larutan CuSO4 1% Larutan NaOH 6N Larutan HCl 6N Larutan HgCl 1% Larutan Pb-asetat Larutan HNO3 pekat Aquadest Alcohol 95% Indicator metal merah D. 1) Cara kerja Isolasi protein dari tahu

Tahu (ampas tahu) yang segar dikeringkan pada temperature yang tidak terlalu tinggi, kemudian digerus hingga halus.

Tahu yang sudah digerus ditimbang sebanyak 15 gram, kemudian dimasukan kedalam labu Erlenmeyer 250 mL dan ditambahkan 60 mL aquadest dan 30 mL KOH 5%. Kemudian labu ditutup dan dikocok selama 45 menit. Larutan disaring dengan kain, kedalam filtrat tersebut ditambahkan tetes demi tetes larutan HCl hingga pH larutan menjadi 4,3. Setelah itu filtrate dipanaskan selama 10 menit. Kemudian disaring dengan corong Buchner. Setelah itu endapan dipindahkan kedalam gelas arloji yang telah ditimbang. Endapan kemudian dikeringkan didalam oven pada 100 untuk menghilangkan air. Setelah itu endapan ditimbang. 2) Reaksi-reaksi protein

Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan beberapa tetes alcohol 96%. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan 1 mL larutan NaOH 6N kemudian dipanaskan dengan hati-hati, bau gasnya dicium dan larutannya diuji dengan kertas lakmus. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan 1 mL larutan NaOH 6N dan beberapa tetes Pbasetat, kemudian dipanaskan. Kedalam 1 mL larutan proteinditambahkan 1 mL larutan CuSO4 1% dan beberapa tetes larutan NaOH 6N. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan 1 mL HgCl2 1% (reagen Millon). Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan larutan HNO3 pekat. Larutan dipanaskan kemudian setelah dingin ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH 6N sambil dikocok. E. Data Percobaan

1)

Isolasi protein dari tahu : 15,07 gram : 84,3840 gram : 0,7832 gram : 89,5760 gram : c (a+b)

Berat tahu Berat kaca arloji (a) Berat kertas saring (b) Berat protein+kertas saring+kaca arloji (c) Berat protein : 89,5760 (84,3840 + 0,7832) : 4,4088 gram Kadar : x 100% : 29, 25% 2) No. Reaksi protein Pereaksi yang ditambahkan kedalam larutan protein 1. 2. Alcohol 96% NaOH 6N

: x 100%

Pengamatan

Terbentuk larutan putih seperti susu (suspensi). Terbentuk larutan beda fasa. Setelah dipanaskan terbentuk larutan kuning dan membirukan kertas lakmus merah (tidak larut)

3.

NaOH 6N + Pb-asetat

Saat ditambahkan NaOH terbentuk larutan beda

fasa, setelah ditambahkan Pb-asetat terbentuk endapan putih, setelah dipanaskan terbentuk endapan yang berwarna hitam. 4. Larutan CuSO4 1% + NaOH Saat ditambahkan CuSO4 terbentuk suspense 6N berwarna biru kehijauan, setelah ditambahkan NaOH larutan menjadi berwarna ungu. 5. 6. Larutan HgCl2 1% Larutan berwarna putih seperti susu.

Larutan HNO3 pekat + NaOH Saat ditambahkan HNO3 terbentuk suspense 6N berwarna putih, setelah dipanaskan dan ditambah NaOH terbentuk endapan merah muda.

PEMBAHASAN

Protein merupakan suatu senyawa organik yang terdiri dari kumpulan asam-asam amino, dimana setiap asam amino terdiri dari gugus amino, sebuah gugus karboksil dan sebuah atom hidrogen dan gugus R yang terikat dengan atom C yang dikenal sebagai karbon , serta gugus R merupakan rantai cabang. Gambar Struktur Asam Amino

H N H C

H C R

OH

(gambarnya tebak sendiri yah) Dalam percobaannya telah dilakukan analisis terhadap senyawa protein itu. Diantaranya analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif yang dilakukan untuk mengetahui reaksi identifikasi protein dalam dan kereaktifan dari protein. Sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui banyaknya kandungan protein dari suatu sampel. 1. Isolasi Protein Pada Sampel Tahu.

Merupakan analisis kuantitatif untuk mengetahui perbandingan jumlah protein dalam sampel. Pertama-tama sampel dikeringkan bertujuan agar kadar air dalam sampel berkurang karena air dalam sampel dapat mengencerkan preaksi yang digunakan sehingga preaksi tidak sesuai dengan yang seharusnya (terencerkan oleh air yang terdapat dalam sampel). Setelah dikeringkan sampel ditambahkan air, dan basa alkali. Bila suatu protein dihidrolisis dengan asam, alkali atau enzim akan dihasilkan campuran asam-asam amino. Dalam praktikumnya digunakan NaOH sebagai alkali yang ditambahkan yang berfungsi untuk memisahkan dalam asam amino dalam sampel. Kemudian didiamkan selama 45 menit berfungsi mengoptimalkan proses hidrolisis sehingga asam amino pecah dan terpisah dari sampel. Karena protein yang telah terhidroslisis strukturnya berubah maka ikatan rantai polipeptida pada protein mengalami kerusakan inilah yang dinamakan proses denaturasi. Denaturasi dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhadap stuktur sekunder,tersier dan kuartener tehadap molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan kovalen. Pada praktikumnya setelah ditambahkan basa alkali kemudian ditambahkan asam hingga pH berada pada pH 5 ini berfungsi untuk melarutkan ekstrak selain protein, dan juga berfungsi untuk pemekaran dan pengembangan molekul protein yang terdenaturasi akan membuka

gugus reaktif yang ada pada rantai polipeptida selanjutnya akan terjadi pengikatan kembali pada gugus reaktif yang sama atau berdekatan, dan bila unit tersebut banyak protein tidak terdispersi lagi sebagai koloid maka protein tersebut mengalami koagulasi, dan dari praktikum telah didapat koagulasi dari protein tersebut dan setelah di hitung beratnya telah didapat protein seberat 4,4008 gram. 2. Reaksi Reaksi Pada Protein

Reaksi protein dengan alkohol. Reaksi ini untuk membuktikan kelarutan protein dalam alkohol. Karena protein sangat banyak jenisnya. Dan menurut kelarutannya protein dibagi kedalam beberapa kelompok; albumin, globulin, glutelin, prolamin, histon, dan protamin. Yang masing-masing dari jenis protein tersebut memilki kelarutan yang berbeda-beda dalam setiap pelarut. Dan pada sampel yang di uji reaksi protein adalah sampel putih telur yang tergolong jenis albumin karena sampel tersebut larut dalam air dan terkoagulasi oleh pemanasan. Dan ketika ditambahkan oleh alkohol 95% sampel berubah warna menjadi berwarna putih seperti endapan, hal ini terjadi karena koloid-koloid protein pada sampel mengalami koagulasi. Reaksi Protein dengan Basa. Protein albumin telur tidak terhidolisis dalam basa, ini terbutkti ketika basa (NaOH) ditambahkan pada sampel, tidak terbentuk suspensi berwarna putih, melainkan hanya terbentuk larutan yang berbeda fasa. Dan setelah dipanaskan larutan albumin tersebut berubah menjadi sepeerti timbul endpan putih ini membuktikan bahwa albumin terkoagulasi oleh panas (tidak tahan panas yang tinggi) dan ketika diamati larutan sampel yang tadinya berwarna bening berubah menjadi kuning terang ini disebabkan karena adanya reaksi ion Na

dalam basa bereaksi dengan asam amino, dan asam amino memutuskan ikatan terhadap atom H nya sehingga terjadi reaksi seperti berikut: H N H C R H C O + NaOH OH NH2 H- C COONa R +H2O

(gambarnya tebak sendiri yah) Uji Reaksi Timbal Asetat Dalam suatu protein terdapat beberapa unsur diantaranya C,H,N,O. Bahkan beberapa jenis protein memiliki unsur S dalam senyawanya. Fungsi dari uji timbal asetat ini adalah mengidentifikasi apakah dalam protein ini terdapat unsur S atau tidak. Dan dalam praktikumnya dalam albumin telur yang diuji ternyata protein dari telur tersebut mengandung unsur S. Ini terbukti ketika sampel ditambahkan Pb-Asetat, pada sampel timbul endapan Hitam PbS. Karena endapan PbS stabil dalam suasana basa makan sebelumnya sampel harus dikondisikan dahulu dalam suasana basa oleh NaOH. Uji Biuret ( CuSO4 dalam NaOH) Pada praktikum sampel ditambahkan NaOH terlebih dahulu kemudian sampel protein tersebut ditambahkan CuSO4. Kedua preaksi tersebut adalah preaksi Biuret. Fungsi dari penambah preaksi biuret ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya ikatan peptida dalam suatu sampel. Karena ada tidaknya suatu protein dalam suatu sampel dapat dilihat apakaha ada tidaknya ikatan peptida dalam sampel tersebut. Dengan kata lain suatu protein pasti memilkik ikatan peptida.

Ikatan peptida adalah ikatan yang menghubungkan antara asam amino satu dengan asam amino lainnya. Ikatan ini terjadi antar atom N pada suatu asam amino dengan atom C pada asam amino lain yang mengikat atom O. Reaksi yang terjadi pada uji biuret adalah: Ikatan peptida tersebut membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu dengan ion Cu2+ pada larutan CuSO4 dalam basa. Namun reaksi pada zat organik umumnya bereaksi sangat lambat sehingga perlu pemanasan dalam proses reaksinya. Uji Pengendapan dengan Ion Logam Pada larutan protein yang akan diuji, pereaksi yang ditambahkan adalah HgCl 1% (reagen millon). Pengujian ini digunakan untuk menguji atau mengidentifikasi adanya senyawa protein yang memiliki gugus fenol seperti tiroksin. Saat percobaan, penambahan pereaksi millon terhadap larutan protein menghasilkan larutan berwarna putih pada bagian atas, gumpalan putih dibagian tengah, dan larutan berwarna kuning pudar pada bagian bawah. Ini menunjukan bahwa reaksi negatif. Secara literatur, reaksi positif akan didapatkan bila pereaksian tersebut menghasilkan endapan putih. Reaksi yang terjadi adalah : H H

2R C C O- + 2Hg2+ 2R C C O Hg H Endapan Hitam (gambarnya tebak sendiri yah) NH2

Reaksi (negatif) artinya di dalam senyawa protein tersebut tidak mengandung fenol. Pada dasarnya reaksi ini akan positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna. Uji Xantoprotein Dalam praktikum larutan sampel terlebih dahulu direaksikan dengan dengan asam nitrat kemudian ditambahkan NaOH. Ini lah yang disebut dengan uji Xantoprotein. Fugsi dari uji xantoprotein ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya gugus benzena dalam sampel protein. Karena protein merupakan senyawa yang kompleks maka beberapa jenis protein memiliki gugus benzena didalamnya. Mekanismenya adalah proses nitrasi langsung dari asam nitrat terhadap gugus benzen pada protein. Apabila dalam suatu protein terdapat gugus benzena maka reaksi ditandai dengan perubahan warna sampel menjadi orange setelah penambahan NaOH (basa), biasanya warna timbul dan berada diantara lapisan NaOH dan sampel protein. Didalam literatur protein pada putih terlur (albumin) memiliki gugus benzen. Namun pada praktikumnya, data pengamatan yang didapat setelah melalui proses nitrasi sampel protein berubah warna menjadi berwarna merah muda (pink). Ini terjadi karena adanya kemungkinan preaksi yang rusak atau adanya kontaminan pada preaksi sehingga warna yang timbul menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi adalah : H H NCC=O H CH2 OH NO2 + HNO3 NH2HCN NO2 OH Jingga

Kuning (gambarnya tebak sendiri yah) F. Kesimpulan

Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa: protein pada putih telur tergolong jenis protein albumin yang merupakan gabungan beberapa asam amino yang sangat kompleks. Didalamnya terdapat ikatan peptida, gugus benzena, dan berikatan dengan atom S. Dari hasil isolasi protein telah didapat bahwa kadar protein dalam sampel berada disekitar 29, 25% G. Daftar Pustaka

Girindra, A. 1986. Biokimia I. Gramedia, Jakarta. Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya. Erlangga, Jakarta. http://www.rismaka.net/2009/06/uji-kualitatif-protein-dan-asam-amino.html