Anda di halaman 1dari 2

Only One Colour

Seorang gadis berparas muka cantik berjalan menyusuri tepi pantai dibawah terik Matahari. Selain gadis itu juga banyak orang-orang yang menikmati keindahan pantai Sydney karena air lautnya yang biru berkaca-kaca. Merasa lelah, gadis itu lalu duduk dibawah sekumpulan pohon kelapa yang tumbuh dipinggir pantai. Dia mencopot kedua sandalnya dan meletakkanya disamping ditempat ia duduk. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang dibawanya. Sebuah lukisan yang indah. Gadis itu memandangi lukisan itu. Penyesalan dan kerinduan tersirat di wajahnya. Tiba-tiba, seseorang menggunakan celana panjang dan jaket berwarna hitam duduk di sebelah gadis itu. Pria serba hitam itu juga memakai topi dan kacamata hitam. Gadis itu kaget melihat seorang pria duduk disebelahnya tanpa minta ijin. Gadis itu hanya memilih diam. Seara, kata pria itu setelah terdiam agak lama. Apa?, sahut gadis itu. Jadi nama kamu Seara?, kata pria itu sambil memandangi gadis di sebelahnya itu. Ya, benar. Gadis itu balas memandang pria itu. Dia lalu tertegun. Kok Anda bisa tahu nama saya?. Pria utu menunjuk ke lukisan yang sedang dipandangi gadis itu yang namanya tidak lain yang dikatakan oleh pria itu. Seara hanya diam. Sepertinya tidak penting untuknya menanyakan siapa orang asing yang sekarang sedanng duduk disebelahnya itu. Ngomong-ngomong, kenapa dalam lukisan kamu sepertinya ada gambar yang kurang?, kata pria itu sambil memiringkan kepala menghadap lukisan Seara. Apa memang kamu ngelukisnya dibuat tangan kamu di lukisan itu ngambang satu?. Pria itu lalu merebut lukisan itu dari Seara. Kalau saya perhatikan, kamu dalam gambar ini sedang bergandengan tangan. Hei, jangan sentuh lukisan itu, teriak Seara tidak terima. Dia merebut kembali lukisannya dari tangan pria itu. Pria itu melihat muka Seara menjadi muram. Lukisan ini sangat berarti untukku. Teringat kembali kejadian saat dirinya masih SMA. * * *

Setahun yang lalu... Sory Fer, aku gak suka bunga mawar merah itu. Jadi daripada kubuang mending kuberikan ke teman-teman pulang sekolah kemarin, katya Seara santai. Ingin rasanya Ferdy membentak dan memarahi ceweknya itu. Tapi hati kecilnya berkata untuk tidak melakukannya karena selain ada banyak siswa yang sedangb keluar dari kelas, Ferdy juga tidak tega perkataannya nanti akan menyakiti gadis yang dicintainya itu. Ok, aku bisa ngerti. Ferdy diam sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam. Lalu apa yang kamu mau, Ra? Kenapa semua benda yang aku kasih gak pernah kamu terima, kata Ferdy masih bersikap lembut. Aku gak suka war Kalimat Seara dipotong oleh Ferdy Jangan bilang kamu gak suka warnanya, kata Ferdy sudah bisa menebak. Tapi perkataannya pada Seara tidak selembut tadi. Ferdy mulai naik darah. Terus, warna apa yang kamu suka?, kata Ferdy agak membentak. Akuaku Ra, kenapa kamu gak nghargain semua yang udah aku berikan untuk kamu. Aku tulus, Ra. Semua ini aku lakuin karena aku cinta ma kamu, kata ferdy serius. Aku pacar kamu, Ra! Aku

gak pernah minta lebih selain kamu juga mencintaiku. Jangan perlakukan aku seperti Reno, Dika, Nattan dan yang lainnya itu. Karena akulah pacar kamu, Ra. Ferdy lalu perdi dari kelasnya meninggalkan Seara sendirian. * * * Fer, belum pernah gue nemuin cowok sepengertian lo, kata si empunya rumah. Lani meneruskan. Lo tanya gue warna apa yang Seara suka?. Lani diam sesaat. Yang pasti gue juga gak tau. Masak lo sebagai sahabatnya gak tau sih, kata Fardy dengan nada meremehkan. Please La, gue butuh banget bantuan Lo sekarang, kata Ferdy memohon. Ternyata pasangan yang sekarang banyak orang bilang pasanga paling serasi ternyata salah besar, kata Lani santai. Kata orang kalian serasi banget karena kalian memang mahir di bidang yang sama yaitu melukis. Rani meneruskan. Orang bilang kalian pasangan paling sempurna karena banyak orang bilang muka kalian lebih dari standart alias Seara cantik dan lojujur lo emang cakep, kata Lani sambil meminum es sirupnya di meja. Makasih kalau kalian bilang gue dan Seara pasangan serasi. Tapi gue gak butuh semua itu. Gue hanya mau Seara juga cinta ma guae. Cinta yang tulus. Jujur sebagai pacarnya gue gak diperlakuin berbeda dari cowok lainnya, kata Ferdy serius. Nah, itu hebatnya Seara. Sok cuek. Lani tidak sadar muka Ferdy ssuram. Gue hanya ingin gue satu-satunya warna di hatinya. Ferdy menunduk. Lani mengerti perasaan pacar sahabatnya itu. Dia menepuk-nepuk bahu Ferdy. Gue ngerti perasaan lo, Fer, kata lani menghibur. Tapi, sorry gue gak bisa bantu lo karena emang gue gak tau warna apa yang Seara suka. Tapi kalau lo satu-satunya warna dihatinya, lo pasti bisa nebak warna itu karena warna itu adalah lo sendiri. * * *

Ferdy merenung di meja belajarnya sambil memegang sebuah foto, foto Seara, yang diambil di pantai Parangtrtitis. Foto Seara yang sedang tersenyum riang

Anda mungkin juga menyukai