Anda di halaman 1dari 5

PENATALAKSANAAN HERPES SIMPLEX

Oleh: Solichati Fatonah, S.Ked

PENDAHULUAN Hingga saat ini penyakit herpes simplex terutama herpes genital menjadi salah satu penyakit menular seksual yang sering ditemui di Amerika Serikat dan telah berhasil mempengaruhi kehidupan jutaan pasien beserta pasangannya. Kebanyakan individu mengalami gangguan psikologi dan psikososial sebagai akibat dari nyeri yang timbul serta gejala lain yang menyertai ketika terjadi infeksi aktif. Oleh karena penyakit herpes genital tidak dapat disembuhkan serta bersifat kambuh-kambuhan, maka terapi sekarang difokuskan untuk meringankan gejala yang timbul, menjarangkan kekambuhan, serta menekan angka penularan sehingga diharapkan kualitas hidup dari pasien menjadi lebih baik setelah dilakukan penanganan dengan tepat. PENATALAKSANAAN Pada prinsipnya, penanganan dari infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) ada 3 macam, yaitu (1) Terapi Spesifik; (2) Terapi Non-Spesifik; dan (3) Terapi Profilaksis 1. Tujuan dari terapi tersebut masing-masing adalah untuk mempercepat proses penyembuhan, meringankan gejala prodromal, dan menurunkan angka penularan.

Terapi Spesifik
Herpes Labialis Topikal : Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama 4 hari) atau Acyclovir krim 5% (tiap 3 jam selama 4 hari). Idealnya, krim ini digunakan 1 jam setelah munculnya gejala, meskipun juga pemberian yang terlambat juga dilaporkan masih efektif dalam mengurangi gejala serta membatasi perluasan daerah lesi. (Rekomendasi FDA & IHMF) Sistemik : Valacyclovir tablet 2 gr sekali minum dalam 1 hari yang diberikan begitu gejala muncul, diulang pada 12 jam kemudian, atau Acyclovir tablet 400 mg 5 kali sehari selama 5 hari, atau Famciclovir 1500 mg dosis tunggal yang diminum 1 jam setelah munculnya gejala prodromal. Herpes Genitalis Infeksi Primer Rekomendasi WHO 2003 Acyclovir 200 mg po 5 x/hr, selama 7hr, Atau Acyclovir 400 mg po 3 x/hr, selama 7hr, atau Valaciclovir 1 gr po 2x/hr selama 7 hari

Rekomendasi CDC 2006 Acyclovir 200 mg po 5 x/hr, selama 7-10hr, atau Acyclovir 400 mg po 3 x/hr, selama 7-10hr, atau Valaciclovir 1 gr po 2x/hr selama 7-10 hari, atau Famciclovir 250 mg po 3x/hr selama 7-10 hr

Infeksi Rekuren Terapi rekuren ditujukan untuk mengurangi angka kekambuhan dari herpes genitalis, dimana tingkat kekambuhan berbeda pada tiap individu, bervariasi dari 2 kali/tahun hingga lebih dari 6 kali/tahun. Terdapat 2 macam terapi dalam mengobati infeksi rekuren, yaitu terapi episodik dan terapi supresif. Terapi Episodik: Rekomendasi WHO 2003 Acycovir o 200 mg po 5x/hr, 5 hr, atau 400 mg p.o 3 x/hr, 5 hr, atau 800 mg p.o 2 x/hr, 5 hr Valacyclovir o 500 mg p.o 2 x/hr,5 hr, atau 1 gr p.o 1x/hr,5 hr Famciclovir o 125 mg p.o 2x/hr,5 hr

Rekomendasi CDC 2006 Acycovir o 400 mg p.o 3 x/hr, 5 hr, atau 800 mg 2 x/hr, 5 hr, atau 800 mg p.o 3 x/hr,3 hr Valacyclovir o 500 mg p.o 2 x/hr 3 hr, atau 1 gr p.o 1x/hr, 5 hr Famciclovir o 125 mg p.o 2 x/hr,5 hr, atau 1 gr p.o 2 x/hr,1 hr Terapi Supresif: Rekomendasi WHO 2003 & CDC 2006: Acyclovir 400 mg p.o 2 x/hr selama 6 th, atau Famciclovir 250 mg p.o 2 x/hr selama 1 th, atau Valacyclovir 500 mg p.o 1x/hr selama 1 th, atau Valacyclovir 1 gr p.o 1x/hr selama 1 th

HSV pada Kehamilan Penanganan HSV pada kehamilan didasarkan pada riwayat herpes genitalis sebelumnya dan usia kehamilan ketika terjadi serangan. Bagan penatalaksanaan HSV pada kehamilan dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Manajemen HSV pada Kehamilan

HSV pada Neonatus Penatalaksanaan bayi lahir dari ibu dengan herpes genitalis yaitu mengidentifikasi secepatnya kemungkinan adanya infeksi herpes pada bayi tersebut. Oleh karena itu direkomendasikan dilakukan pemeriksaan kultur virus dari sekret servik ketika persalinan berlangsung pada semua ibu hamil dengan riwayat herpes genitalis. Selain itu juga pemeriksaan kultur virus dari mukosa orofaring atau mukosa konjungtiva dari bayi yang dicurigai. Pada bayi dengan ibu mengidap herpes genitalis primer pada saat persalinan pervaginam, harus diberikan terapi profilaksis acyclovir intravena dengan dosis 60 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis yang diberikan selama 21 hari atau acyclovir intravena 10 mg/kgBB tiap 8 jam selama 10-21 hari Terapi ini juga diberikan pada bayi yang dinyatakan positif terinfeksi, dan terapi diberikan seawall mungkin ketika mulai timbul gejala. HSV dengan HIV Penderita dengan immunocompromised biasanya memiliki gejala yang lebih berat serta lebih lama pada daerah genital, perianal, atau oral. Lesi yang disebabkan oleh HSV biasanya bersifat atipik, lebih nyeri, serta lebih berat. Meskipun terapi antiretroviral bisa menurunkan tingkat keparahan dari infeksi herpes genital, namun infeksi subklinik tetap dapat terjadi. Pemberian terapi supresif atau terapi episodic menggunakan agen antivirus oral terbukti efektif dalam memperingan manifestasi klinik dari HSV yang disertai dengan infeksi HIV. Penatalaksanaan HSV pada HIV bisa dilihat pada gambar 2. Terapi Supresif Rekomendasi CDC 2006 Acyclovir 400-800 mg peroral 2-3 kali sehari, atau Famciclovir 500 mg peroral 2 kali sehari, atau valacyclovir 500 mg peroral 2 kali sehari

Terapi Episodik Rekomendasi CDC 2006 Acyclovir 400-800 mg p.o 3 x/hr 5-10 hr, atau Famciclovir 500 mg p.o2x/hr, 5-10 hr, atau valacyclovir 1000 mg p.o 2x/hr,5-10 hr, atau

Terapi pada keadaan resistensi Acyclovir Foscarnet intravena 40 mg/kgBB/8 jam hingga terjadi perbaikan klinis. Atau

Cidofovir gel 1% sekali sehari selama 5 hari yang dioleskan pada lesi

Gambar 2. Manajemen HSV pada HIV

Terapi Non-Spesifik
Pengobatan non-spesifik ditujukan untuk memperingan gejala yang timbul berupa nyeri dan rasa gatal. Rasa nyeri dan gejala lain bervariasi, sehingga pemberian analgetik, antipiretik dan antipruritus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Zat-zat pengering yang bersifat antiseptic juga dibutuhkan untuk lesi yang basah berupa jodium povidon secara topical untuk mengeringkan lesi, mencegah infeksi sekunder dan mempercepat waktu penyembuhan. Selain itu pemberian antibiotic atau kotrimoksasol dapat pula diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.

Tindakan Profilaksis
Langkah langkah yang dapat diambil guna mencegah penularan penyakit herpes simplek yaitu dengan memberi penjelasan kepada penderita tentang sifat penyakit yang dapat menular terutama bila sedang terkena serangan. Selain itu juga dilakukan proteksi individual dengan menggunakan 2 macam alat perintang, yaitu busa spermisidal dan kondom. Kombinasi tersebut bila diikuti dengan pencucian alat kelamin memakai air dan sabun pasca koitus, dapat mencegah transmisi herpes genitalis hampir 100%. Busa spermisidal secara in vitro ternyata mempunyai sifat virisidal, dan kondom dapat mengurangi penetrasi virus. Langkah profilaksis lain yaitu dengan menghindari factor factor pencetus timbulnya serangan herpes, seperti stress, kelelahan, atau yang lainya. Konsultasi psikiatrik dapat pula membantu karena faktor psikis mempunyai peranan untuk timbulnya serangan. Vaksin HSV sedang dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan kekebalan kepada individu yang rentan sehingga diharapkan tidak terjadi infeksi pada daerah genital serta ganglion sensori menjadi terlindung dari infeksi laten virus Herpes simplek. Virus yang dikembangkan sekarang dibagi menjadi 2 jenis, yaitu berupa virus aktif dan inaktif yang masih diteliti mengenai keamanan dan keefektifanya. Vaksin yang berasal dari HSV gB dan gD, yaitu suatu subunit glikoprotein yang dikembangkan oleh perusahaan Chiron Group Amerika, ternyata tidak efektif dalam mencegah transmisi herpes.

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim. 2004. Herpes Simplex. Dalam Wikipedia yang diakses melalui http://en.wikipedia.org/wiki/Herpes_simplex pada tanggal 3 Februari 2009. 2. Kriebs, Jan. 2008. Understanding Herpes Simplex Virus: Transmission, Diagnosis, and Considerations in Pregnancy Management. Dalam Journal Midwifery Women Health yang diakses melalui http://webMD.org/medscapeCME/573984.htm pada tanggal 3 Februari 2009.

3. Anonim. 2004. Herpes Simplex Virus. Dalam Wikipedia yang diakses melalui http://en.wikipedia.org/wiki/Herpes_simplex_virus pada tanggal 3 Februari 2009. 4. Daili, Sjaiful & Judanarso, Jubianto. 2007. Infeksi Menular Seksual: Herpes Genitalis edisi ketiga, hal 125-139. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 5. Anonim. 2007. Herpes Simplex. Dalam Adam yang diakses melalui http://adam.about.com/reports/000052_2.htm pada tanggal 3 Februari 2009. 6. Workowski, KA & Berman, SM. 2006. Sexually Transmitted Diseases Treatment Guidelines. Center for Disease Control and Prevention: MMWR Recomm Rep. 7. Volpi, Antonio & Stanbery. 2004. New Guidelines from IHMF. Editorial Herpes Journal. Diakses melalui http://www.ihmf.org pada tanggal 24 Februari 2009. 8. Spruance, Spotswood & Kriesel, John. 2002. Treatment of Herpes Simplex Labialis. Herpes Journal volume 9. International Herpes Management Forum. Diakses melalui http://www.ihmf.org pada tanggal 24 Februari 2009. 9. Anonym.2005. Herpes Learn Treatment. American Social Health Association. Diakses melalui http://www.asha.org pada tanggal 6 Februari 2009. 10. Barclay, Laurie. 2008. Management of Herpes Simplex Infections Reviewed. Medscape Medical News. Diakses melalui http://webMD.org/medscapeCME/575859.htm pada tanggal 5 Februari 2009. 11. Whitley, Richard. 2006. New Approaches to the Therapy of HSV Infections. Report From The 2005 Ihmf Annual Meeting. Diakses melalui http://www.ihmf.org/132whitley.pdf pada tanggal 24 Februari 2009. 12. World Health Organization. 2003.Guidelines for the management of sexually transmitted infections: Herpes Genitalis. WHO. Switzerland. 13. Money, Deborah & Steben, Marc. 2008. Guidelines for the Management of Herpes Simplex Virus in Pregnancy. Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada. Diakses melalui http://www.sogc.org/guidelines/documents/gui208CPG0806.pdf pada tanggal 3 Februari 2009. 14. Braig ,Suzanne. 2004. Management of Genital Herpes during Pregnancy: the French Experience. Herpes Journal of IHMF. Diakses melalui http://www.ihmf.org/112Braig pada tanggal 24 Februari 2009. 15. Aoki, Fred. 2001. Management of Genital Herpes in HIV-infected Patients. Herpes Journal of IHMF. Diakses melalui http://www.ihmf.org/82aoki pada tanggal 24 Februari 2009. 16. Jones, Cheryl A & Cunningham, Anthony L. 2004. Vaccination Strategies to Prevent Genital Herpes and Neonatal Herpes Simplex Virus (HSV) Disease. Herpes Journal of IHMF. Diakses melalui http://www.ihmf.org/111Jones pada tanggal 24 Februari 2009.
DIPOSKAN OLEH ARIS BUDIARSO DI 23:13