Anda di halaman 1dari 3

PERNYATAAN SIKAP KONSORSIUM OTD WADUK JATIGEDE tentang Penanganan Dampak Sosial Pembangunan Waduk Jatigede 1.

Bahwa Pembangunan Waduk Jatigede yang tujuan utamanya untuk mensejahterakan rakyat, dalam implementasinya ternyata banyak pihak-pihak yang merasa dirugikan dan/atau diabaikan hak-haknya, khususnya OTD Waduk Jatigede dengan demikian berbagai permasalahan yang timbul akibat dibangunnya Waduk Jatigede, harus diselesaikan secara baik dan benar, dalam kurun waktu sebelum penggenangan waduk jatigede dilakukan. 2. Bahwa dalam penyelesaian dampak sosial Pembangunan Waduk Jatigede harus mengacu pada data primer yang benar-benar obyektif hasil investigasi dan observasi secara langsung terhadap sasaran. Bukan atas dasar laporanlaporan diatas meja yang kadang kala bertolak belakang dengan fakta yang ada di lapangan. 3. Bahwa dampak sosial Pembangunan Waduk Jatigede meliputi masalah : pembebasan lahan, relokasi penduduk, relokasi situs, pemberdayaan OTD, pengamanan dan pengelolaan Waduk Jatigede. 4. Bahwa pembebasan lahan bagi kepentingan Pembangunan Waduk Jatigede sampai saat ini masih belum tuntas, dimana masih terdapat tanah-tanah yang belum dibebaskan, terlewat, kekurang luas, salah klasifikasi, salah penerima hak, terisolir, dan rawan bencana, bangunan yang belum dituntaskan ganti ruginya, dan harta benda milik masyarakat yang terkena dampak pengerjaan fisik, yang tersebar di desa-desa wilayah bakal genangan Waduk Jatigede. 5. Bahwa sejalan dengan percepatan pembangunan Waduk Jatigede, Satuan Kerja NVT Pembangunan Waduk Jatigede, harus segera dalam tahun anggaran 2010 ini melakukan langkah-langkah kongkrit untuk menyikapi masalah pembebasan lahan sebagaimana tercantum dalam poin empat di atas. 6. Bahwa dewasa ini masih terdapat 8.485 KK ( 26.010 orang) OTD Waduk Jatigede yang masih berdomisili di areal genangan, mereka ini harus segera pindah dan/atau dipindahkan, dari mereka ini 80 % ( 6.677 KK ) menghendaki untuk di ressettlement sesuai arah minat masing-masing, sisanya 13 % Swakarsa Mandiri, 7 % transmigrasi. 7. Bahwa konsep dasar relokasi penduduk OTD Waduk Jatigede buklan hanya sekedar memindahkan manusi, akan tetapi termasuk di dalamnya memindahkan sumber kehidupan dan penghidupannya . 8. Bahwa sampai saat ini, Pemerintah Propinsi Jawa Barat belum menentukan kepastian hukum tentang OTD Waduk Jatigede yang berhak untuk direlokasi, mengingat dalam mekanisme pembebasan lahan bagi kepentingan pembangunan Waduk Jatigede menggunakan empat payung hukum, dimana diantara keempat payung hukum tersebut memiliki perbedaan konsekuensi, khususnya dalam masalah pemukiman kembali OTD. Dalam hal ini, Pemerintah Propinsi Jawa Barat harus segera membuat kepastian hukumnya, sehingga tidak menimbulkan diskriminasi dalam melayani kepentingan dan hak-hak OTD Waduk Jatigede.

9. Bahwa dalam penetapan lokasi untuk lahan relokasi (resettlement) OTD Waduk Jatigede, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Legal aspek tanah harus jelas dan tegas : b. OTD Waduk Jatigede yang akan dimukimkan memiliki persepsi positif terhadap lokasi relokasi yang akan dihuninya. c. Penduduk asal disekitar pemukiman menerima dengan baik kehadiran OTD Waduk Jatigede untuk bermukim diwilayahnya. d. Terdapat sumber mata pencaharian yang bisa diberdayakan sesuai dengan kualifikasi keahlian OTD Waduk Jatigede. e. Letaknya relatif strategis untuk memudahkan mobilisasi dan komunikasi OTD Waduk Jatigede. f. Adanya kesamaan kultur sosial kemasyarakatan dengan daerah asal. g. Daya dukung lingkungan memungkinkan untuk mengembangkan pola usaha masyarakat lebih lanjut. 10. Bahwa keberadaan 68 buah benda cagar budaya berupa makam keramat dan artefak di sekitar wilayah bakal genangan Waduk Jatigede, bagaimanapun juga harus dilestarikan ( UU No. 5 Tahun 1992). 11. Bahwa lokasi untuk lahan relokasi 68 buah benda cagar budaya dimaksud dalam poin 9, minimal harus dialokasikan pada dua tempat yang berbeda dengan luas masing-masing 3 Ha, yaitu untuk situs-situs yang berasal dari sebelah Barat dan untuk situs-situs dari sebelah Timur Sungai Cimanuk. Khusus untuk situs Cipeueut ( makan Prabu Guru Adji Putih) yang berlokasi di Desa Cipaku, tidak boleh dipindahkan, karena merupakan leluhur Kerajaan Sumedang Larang. 12. Bahwa Pemindahan fisik dari situs-situs dimaksud dilakukan setelah tuntasnya penanganan dampak sosial yang berkaitan dengan OTD Waduk Jatigede yang masih hidup. 13. Bahwa dari 26.010 orang OTD Waduk Jatigede, terdapat angkatan kerja yang siap diberdayakan bagi pelaksanaan pembangunan fisik waduk tersebut, yang mana dalam mekanismenya harus melibatkan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sumedang dan/atau Provinsi Jawa Barat. 14. Bahwa mengingat kawasan disekitar rencana genangan Waduk Jatigede merupakan lahan kritis dan setengah terlantar, maka untuk menopang kelestarian dan keasrian Waduk Jatigede secara berkesinambungan, terhadap kawasan tersebut harus dilakukan penghijauan ( reboisasi ). Atas dasar itulah, disamping harus menciptakan program hutan rakyat bagi tanah milik masyarakat dan tanah kas desa yang setengah terlantar, juga lahan pengganti milik Departeman Kehutanan yang akan tergenang Waduk Jatigede seluas 1200 Ha, harus dialokasikan di wilayah kawasan Waduk Jatigede. 15. Bahwa Kabupaten dan masyarakat Sumedang tidak hanya berkorban bagi kepentingan pembangunan Waduk Jatigede, akan tetapi harus juga menjadi Kabupaten dan masyarakat pemanfaat dari waduk tersebut, sehingga keberadaannya bisa memberikan konstribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan PAD Kabupaten Sumedang. 16. Bahwa bagi kepentingan tersebut pada poin 15, Pemerintah Kabupaten Sumedang harus segera melakukan koordinasi dengan Pemerintah Propinsi

Jawa Barat, untuk merumuskan kebijakan, membuat Keputusan tentang Pembentukan Badan Pengelola Waduk Jatigede. 17. Bahwa, Pemerintah Propinsi Jawa Barat pada tanggal 13 Februari 2006 melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 611.1/Kep.78-Sarek/2006 membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Waduk Jatigede dengan tugas pokok membantu Gubernur Jawa Barat dalam merumuskan kebijakan, mengkoordinasikan dan memonitor serta mengantisipasi permasalahan pelaksanaan pembangunan Waduk Jatigede, dan pada tanggal 23 Februari 2006 melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 611.1/Kep.124Sarek/2006 membentuk Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Waduk Jatigede yang tugasnya melakukan kegiatan pendukung terhadap percepatan pembangunan Waduk Jatigede. Akan tetapi dalam implementasinya, setelah hampir empat tahun berjalan, kedua lembaga yang dibentuk Pemerintah Propinsi Jawa Barat tersebut, tidak menunjukan keseriusan dan kesungguhan, sehingga pada akhirnya kami OTD Waduk Jatigede yang akan menjadi korbannya. 18. Bahwa apabila pemberdayaan dan kinerja Tim Koordinasi Pembangunan Waduk Jatigede maupun Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Waduk Jatigede tidak ada perubahan yang signifikan didalam melakukan percepatan penyelesaian dampak sosial pembangunan waduk Jatigede, maka akan lebih baik Pemerintah Propinsi Jawa Barat segera mengembalikan pertanggung jawaban penanganan dampak sosial pembangunan Waduk Jatigede kepada Departemen Pekerjaan Umum yang harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan pembangunan Waduk tersebut dengan berbagai konsekuensinya. Urgensi permasalahan ini, mengingat ketersediaan waktu yang relatif singkat dengan keaneka ragaman masalah sosial yang tidak seimbang, apabila tidak ada keseriusan menanganinya, bisa jadi OTD Waduk Jatigede menjadi korban kedua setelah OTD Waduk Kedungombo. 19. Bahwa apabila Departemen Pekerjaan Umum tidak bersedia menangani masalah dampak sosial pembangunan waduk Jatigede secara Konprehensif dan atau saling lempar tanggung jawab antar pihak-pihak terkait, maka akan lebih baik menunda dulu pelaksanaan pembangunan fisik waduk tersebut, dari pada dipaksakan, akhirnya akan melahirkan kemiskinan baru bagi kami yang telah ditelantarkan dan disengsarakan selama lebih dari 40 tahun. 20. Bahwa dari berbagai langkah yang telah kami lakukan didalam memperjuangkan hak-hak dan aspirasi OTD Waduk Jatigede, pada akhirnya selalu berakhir dengan dua pernyataan baku dari para pihak yang telah kami konfirmasi, pertama; ini bukan kewenangan instansi kami, kedua ; akan kami sampaikan kepada pihak pengambil kebijakan. Agar dua pernyataan baku tersebut tidak kami terima kembali dan tidak terjadi saling lempar tanggung jawab, maka sebaiknya Pihak Kementrian Pekerjaan Umum segera menggelar semiloka dengan menyertakan para pengambil kebijakan dari instansi terkait, unsur penegak hukum, unsur akademisi, dan perwakilan OTD Waduk Jatigede.