Anda di halaman 1dari 2

Menyulap Lahan Terlantar Menjadi Kebun Buah Tropika

Oleh : Martias

Sejauh mata memandang kadang terlihat hamparan lahan rawa yang luas. Ujung lahan tersebut bagaikan berdinding kaki langit.. Pemandangan lahan terlantar yang sanga luas seperti itu juga ditemukan di Desa Lamunti B-2 Kecamatan Mentangai Kabupaten Kapuas , tepatnya di lokasi eks Proyek Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar. Ketersediaan airnya melimpah, topografi relatif datar, sarana transportasinya cukup memadai baik melalui darat maupun dengan sungai. Tentunya kawasan tersebut sangat prospektif untuk pengembangan usahatani dalam skala luas. Lahan terlantar tersebut merupakan potret terkecil dari sekian luas lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal di tanah air, terutama pada lahan rawa pasang surut. Khususnya pada lokasi eks PLG ini, lahannya didominasi oleh tanah sulfat masam dan gambut atau campurannya. Kesuburan kimia dan fisiknya sangat rendah, yaitu kemasaman tanah sangat tinggi (pH 3,8-4), kesediaan hara rendah dan apa adanya senyawa yang bersifat racun, terutama pirit. Pengolahan yang terlalu dalam berakibat terusiknya kandungan pirit yang dapat menyebabkan kematian tanaman dan ikan-ikan disekitar perairan tersebut. Drainase yang berlebihan akan mengakibatkan tanah mengering permanent dan mudah terbakar di musim kemarau serta akan mengalami penurunan permukaan sejalan dengan pertambahan waktu. Setahun yang lalu Badan Penelitian Tanaman Buah Tropika diberi kesempatan untuk melakukan penelitian sesuai dengan mandatnya yang dikoordinir oleh Balai Besar Sumber Daya Lahan. Melihat karakteristik tanah, kendala dan potensi lahan, pengembangan pisang dan pepaya berpeluang besar bila dikelola dengan baik. Perlakukan yang menjadi prioritas untuk memperbaiki produktifitas lahan adalah menurunkan kemasan tanah ke ambang yang tidak berbahaya bagi kedua komoditi tersebut, yaitu pada kisaran pH 5,5 hingga 6,5. Bahan yang harus digunakan untuk menaikan pH tanah tentunya harus murah harganya, mudah didapat dan implementasinya bagi petani tidak rumit. Abu Sekam padi adalah salah satu limbah pertanian yang cukup efektif untuk menaikan pH tanah., yaitu setiap tanaman pisang hanya membutuhkan 20 kg abu sekam padi dan stara manfatnya dengan menggunakan 300 g kapur dolomite. Abu sekam padi berfungsi tidak hanya dalam menaikan pH tanah, tetapi juga berperan dalam mensubstitusikan kebutuhan kalium bagi tanaman. Di samping menurunkan kemasaman pada tanah, penambahan hara melalui pupuk sangat menentukan pertumbuhan pisang dan pepaya. Mengkondisikan pH tanah ke level yang aman belum memadai bagi pisang dan papaya apabila pemupukan di abaikan.

Dari sekian banyak macam hara yang diperlukan tanaman, ternyata kesedian kalium yang rendah menjadi kendala bagi pertumbuhan pisang dan pepaya di lahan rawa pasang surut. Hal ini terlihat dari penampilan pertumbuhan pisang dan pepaya yang sangat merana apabila tanpa diberi pupuk kalium. Perlakuan yang diberikan akan sia-sia apabila permukaan air tanah tidak dipertahankan sekitar 30 hingga 75 cm dari permukaan tanah. Kedalaman muka air tanah dibawah 30 cm akan menyebabkan busuknya akar papaya dan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan mati, sedangkan bagi pisang aan tumbuh merana dan tidak akan menghasilkan buah. Apabila kedalaman air tanah diatas 75 cm, akan menyebabkan tanah terlalu kering terutama pada musim kemarau. Struktur tanah menjadi padat dank eras meskipun dalam waktu tertentu di guyur oleh air hujan. Perakaran tanaman akan menjadi sulit berkembang, disamping diskibatkan oleh oleh struktur tanah yang padat, kemungkinan juga disebabkan oleh perakaran tanaman mengalami keracunan pada sat terjadinya oksidasi pirit. Belum genap satu tahun, hamparan alang-alang dilahan terlantar, seluas 2 hektar telah hijau dengan tanaman pisang dan pepaya. Malah pada umur 8 bulan, pisang kepok yang ditanam pada lahan tersebut telah mengeluarkan jantung sebagai pertanda lahan terlantar tersebut bersedia di produktifkan.serta kualitas buahnya tidak kalah jauh dari tanam pada lahan subur. Upaya untuk mendapatkan teknologi perbaikan produktifitas lahan terlantar, khusunya pada lahan rawa pasang surut dengan tanaman buah secara menyeluruh, sangat memerlukan kesinambungan penelitian minimal tiga tahun lagi. Sehungga upaya meningkatkan produktifitas lahan tidak hanya nostalgia belaka, yaitu menyulap lahan terlantar selama delapan bulan ddengan tanaman buah, namun dalam jangka panjang produktifitas lahan tersebut hendaknya bekelanjutan. Tentunya harapan tersebut harus di dukung teknologi yang tangguh, tidak hanya tangguh untuk skala penelitian tetapi juga layak diadopsi petani untuk jangka waktu yang lama. Sehungga lahan terlantar tidak membuat petaninya tertidur, penelitiannya terlantar di gemerlapnya dunia.

Martias, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Di muat di Sinar Tani, Edisi 9-15 April 2008