Anda di halaman 1dari 3

Kelainan kelenjar adrenal

Hiperplasia adrenal kongenital (HAK) adalah salah satu kelainan genetik dimana terdapat defisiensi enzim atau gangguan disalah satu dari 5 tahapan enzimatik yang diperlukan untuk biosintesa steroid di adrenal. HAK merupakan salah satu kegawatan medis dan sosial. Bila tidak segera diketahui dan diobati ( terutama pada bayi laki2) bisa menyebabkan kematian karena krisis adrenal. Keadaan ambigus genitalia dan pubertas precox bisa menyebabkan beban psikososial selain kegawatan medisnya sendiri. Defek enzim penyebab HAK biasanya adalah defisiensi enzim 21-hydroxylase yang merupakan kasus terbanyak ( sekitar 90% kasus HAK ) , defisiensi enzim 11 b-hydroxylase (5% kasus HAK) dan defisiensi enzim 3B-hydroxylase. Kejadian HAK oleh defek enzim yang lain sangat jarang. Angka kejadian HAK berkisar antara 1:12.000 1:15.000 kelahiran. Tipe salt wasting HAK tiga kali lebih banyak daripada tipe virilisasi sederhana .Angka kejadian di Indonesia tidak diketahui dengan pasti. Sering bayi meninggal dengan tidak terdiagnosis sebagai HAK terutama pada bayi laki2. Virilisasi karena HAK merupakan penyebab tersering dari female pseudohermaphroditism. Pada keadaan berat terlihat fenotip sebagai laki-laki dengan bilateral kriptorchismus. Kemajuan dalam bidang teknologi biomolekuler telah banyak membantu mengungkapkan hal2 mengenai kelainan ini sehingga memungkinkan deteksi dan terapi dini. Dengan diagnosis dini HAK dengan severe formbisa hidup sampai dewasa. Prenatal diagnosis dan terapi dapat juga dilakukan sehingga externa genitalia yang abnormal dapat dihindari. Beberapa masalah dalam diagnosis dan terapi kadang perlu pendekatan secara individu karena klinis dan respon yang berbeda terhadap terapi Patofiologi dan patogenesis Mutasi gen yang penyebabnya ? HAK merupakan kelainan bawaan yang diturunkan secara autosomal resesif. Terdapat 5 enzim utama di kelenjar adrenal yang penting dalam membentuk steroid kortisol. Defisiensi salah satu enzim pada sintesis kortisol janin sehingga terjadi hiperplasia adrenal . HAK melibatkan 3 steroid penting di adrenal yaitu : 1. Kortisol (glukokortikoid) : ikut mengontrol tubuh dalam menanggulangi keadaan stress, emosi dan fisik seperti infeksi dan luka, juga membantu mengontrol kadar gula darah 2. Aldosteron (mineralokortikoid): membantu regulasi kadar garam tubuh 3. Adrenal androgen : diantaranya adalah hormon testoteron dimana mengontrol tanda2 sex sekunder saat pubertas Penyebab tersering HAK adalah karena defisiensi enzim 21 hydroxylase. Pada kasus ini produksi kortisol dan aldosteron rendah sehingga kelenjar adrenal berusaha meningkatkan kadar kortisol dan berakibat produksi testoteron berlebih. menyebabkan kadar kortisol rendah . Akibat mekanisme umpan balik maka drenokortikotropik hormon (ACTH) disekresi berlebihan oleh hipofise

Pada laki-laki kelebihan testoteron berakibat terjadinya perkembangan sexual dini. Pada perempuan, kelebihan testoteron menyebabkan perkembangan abnormal genitalia saat janin (prenatal virilisasi) dan pertumbuhan rambut yang tidak diinginkan, jerawat, gangguan menstruasi saat dewasa.

Regulation of cortisol secretion in normal subjects and in patients with congenital adrenal hyperplasia (from New MI, Levine LS: Congenital adrenal hyperplasia. In: H Harris and K Hirschhorn (eds), Advances in Human Genetics, vol 4, Plenum Press, New York 1973, pp 251?326 with permission). Penyebab gangguan hormonal yang disebabkan HAK adalah : 1. Kekurangan kortisol 2. Kekurangan aldosteron ( bila tidak ada dapat terjadi Salt wasting ) 3. Kelebihan androgen Inadekuat kadar kortisol menyebabkan kelemahan, toleransi terhadap stress dan infeksi rendah. Ketidak seimbangan aldosteron tergantung dari hasil adanya agonis mineralokortikoid (aldosteron dan dan deoxycorticosterone) dan kerja antagonisnya (progesterone dan 17-hydroxyprogesterone) sehingga dapat terjadi kehilangan garam dan terjadi hipotensi dan syok atau garam tertahan dan terjadi hipertensi Androgen yang berlebihan menyebabkan virilisasi pada wanita dan pubertas dini pada laki-laki

Clinical Features of Cushing Syndrome are Seen in Many Organs Clinical Features: The manifestations of Cushing syndrome (Fig. 21-20) depend on the degree and duration of excessive corticosteroid levels, as well as on the levels of adrenal androgens and mineralocorticoids. OBESITY: Typically, the patient notes a gradual onset of obesity of the face (moon face), neck (buffalo hump), trunk, and abdomen. The extremities are characteristically unaffected or even wasted. SKIN: The skin is atrophic, and subcutaneous fat is decreased. Enlargement of the abdomen and other areas of fat deposition stretches the thin skin and produces purplish striae, which represent venous channels that are visible through the attenuated dermis. MUSCULOSKELETAL SYSTEM: Increased bone resorption causes osteoporosis. Back pain is common, and up to one fifth of patients with Cushing syndrome have radiologic

evidence of vertebral compression fractures. Proximal muscle wasting (steroid myopathy) causes weakness, which may be so severe that the patient cannot rise from sitting or climb a flight of stairs. CARDIOVASCULAR SYSTEM: Hypertension is common in Cushing syndrome, often reflecting excessive mineralocorticoid activity. In older patients, congestive heart failure is a frequent sequel. SECONDARY SEX CHARACTERISTICS: Women with Cushing syndrome tend to be virilized, with increased facial hair, thinning of scalp hair, acne, and oligomenorrhea. Excess glucocorticoid levels in men cause erectile dysfunction, and both genders experience decreased libido. GLUCOSE INTOLERANCE: Stimulation of gluconeogenesis by glucocorticoids leads to glucose intolerance and hyperinsulinemia. Diabetes mellitus develops in 15% of patients, usually in those with a family history of diabetes. PSYCHOLOGICAL CHANGES: Most patients with Cushing syndrome, both endogenous and iatrogenic, suffer distinct personality changes. These include irritability, emotional lability, depression, and paranoia. The disturbance in mentation may be so severe that the patient becomes suicidal. Cushing syndrome is treated by (1) extirpation (surgery or irradiation) of pituitary, adrenal, or ectopic ACTH-producing tumors; (2) discontinuation of corticosteroid therapy; or (3) administration of adrenal enzyme inhibitors (e.g., aminoglutethimide, ketoconazole, metapyrone). Cushing syndrome is highly curable when not associated with malignant neoplastic tumors.