Anda di halaman 1dari 3

1. Cuka Para = Cuka yang berguna untuk menggumpalkan lateks (getah pohon karet).

Selain itu juga dapat digunakan untuk pembersih, fungisida dan berperan dalam industri tekstil. Cuka para bisa berupa asam formiat (HCOOH) dan asam sulfat (H2SO4). Keduanya merupakan asam kuat yang bersifat korosif. Dampak bila terminum cuka para : Merusak struktur kulit yang terkena Mulut yang terbakar Lidah tertelan atau menciut Faring, laring dan esophagus terkikis Edema glottis dalam beberapa menit Rusaknya mukosa saluran napas Aspirasi cairan ke paru sehingga terjadi edema paru dan hemoragik, dan pneumonia aspirasi Esophagus dan perut deskuamasi dan perforasi, sehingga timbul gejala kesulitan menelan, dan rasa sakit retrosternal. Bila terhirup dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat dengan sakit kepala, pingsan, perilaku yang tak terkoordinasi / aneh, atau tidak sadarkan diri, sulit bernafas. Gejala-gejala dapat terlambat beberapa jam. Karena luka bakar menyebabkan dehidrasi, maka bisa syok, atau bisa juga terjadi syok neurogenik karena rasa sakit yang amat sangat.

Asam dengan pH kurang dari 2 dapat mempercepat proses nekrosis koagulasi yang disebabkan oleh protein. Asam kuat yang tertelan dapat menyebabkan nekrosis menggumpal, secara histologi dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah menggumpal, sehingga terjadilah esofagitis korosif.

9. Penanganan awal a. Perawatan di tempat kejadian Identifikasi agen korosif yang tertelan Hindari o induksi muntah karena bisa menyebabkan pajanan berulang o agen penetralisasi dapat menyebabkan injuri termal o bilas lambung dapat menyebabkan perforasi Dapat diberikan air atau susu untuk mencegah menempelnya (adhering) partikel terhadap mukosa esofagus. (>30 menit sesudah kejadian tidak perlu lagi dilakukan).

Letakkan kantung es di atas selembar kain pada tempat cedera (hematom) b. Perawatan intensif di UGD Survei jalur napas dan vital sign, monitoring jantung segera dan akses intravena Kontrol jalur napas o Cedera pada tulang belakang, bisa pake collar cervical, hanya jaw thrust bukan head tilt atau chin lift. o Karena resiko yang sangat cepat dari edema jalur napas, evakuasi segera jalan napas dan kondisi kesadaran. Persiapkan segera alat endotracheal tube dan cricotyrotomy. Pengosongan lambung dan dekontaminasi o Jangan diberi obat perangsang muntah o Gastric lavage o NGT suction spasme dari spinchter pilori mencegah terpaparnya agen korosif terhadap mukosa gaster sampai 90 menit dan mencegah terpaparnya dengan mukosa intestinal Pemberian cairan intravena o Dextrose 5% karena keracunan bahan korosif

Pemeriksaan lanjutan yang diperlukan Pemeriksaan neurologis Foto polos kepala, dada dan abdomen CT scan, Endoskopi

10. Prosedur penanganan tindak lanjut - Jika ditemukan mediastinis atau peritonitis dari pemeriksaan rujuk untuk operasi - Dari endoskopi, dapat ditentukan derajat luka bakar : o Derajat 1 Beri asupan makanan dan follow up o Derajat 2 Berikan kortikosteroid metilprednisolon 40mg/ hari selama 3 hari, juga diberikan antibiotik (Ceftriaxone 1-2 gr IV per 24 jam, tidak melebihi 4g/hari), kemudian mulai pemberian makanan ketika kondisi sudah stabil o Derajat 3 Pertahankan NGT selama 1 bulan - Dilatasi striktur esofagus - Analgesik parenteral, monitor tanda sedasi, depresi dan respirasi. - Nutrisi : o NPO (nothing per oral) karena adanya striktur o Enteral feeding : NGT dan Gastric feeding tube

Follow Up Pasien yang tidak menunjukkan gejala apapun boleh dipulangkan 2-4 jam setelah observasi, tak ada kelainan anatomi , pasien harus bisa meminum cairan tanpa kesulitan, tak ada gangguan bicara. Esofagram setelah 3-4 minggu

11. Prognosis, Komplikasi, KDU Prognosis Dubia ad bonam, tergantung dari kecepatan dan ketepatan penatalaksanaan GCS 11, SpO2 98%, pupil isokhor, tidak ada peritonitis, normotensi. Komplikasi Shock neurogenic Defisit neurologis Perforasi Obstruksi Gaster Koma Pneumonia Aspirasi Mediastinis Peritonitis KDU 3B Apabila terdapat komplikasi pada saluran pencernaan (perforasi dan peritonitis), rujuk ke bagian Gastrointestinal untuk operasi. Apabila ada distres pernapasan dan pembengkakan saluran pernapasan segera kirim ke bagian Respirasi.