Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum perlu diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 melalui Pembangunan Nasional yang berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta disusun dalam satu program kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi epidemiologi yang valid. Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai masalah. Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular tertentu, maka tindakan pencegahan untuk mencegah berpindahnya penyakit dari satu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat dan dengan hasil yang efektif. Dengan upaya imunisasi terbukti bahwa penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974. Mulai tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, tuberculosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B. Walaupun PD3I sudah dapat ditekan, cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan merata. Kegagalan untuk menjaga tingkat perlindungan yang tinggi dan merata dapat menimbulkan letusan (KLB) PD3I. Untuk itu, upaya imunisasi perlu disertai dengan upaya surveilans epidemiologi agar setiap peningkatan kasus penyakit atau terjadinya KLB dapat terdeteksi dan segera diatasi. Dalam PP Nomor 25 Tahun 2000 kewenangan surveilans epidemiologi, termasuk penanggulangan KLB merupakan kewenangan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Selama beberapa tahun terakhir ini, kekawatiran akan kembalinya beberapa penyakit menular dan timbulnya penyakit-penyakit menular baru kian meningkat.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa program imunisasi kedalam penyelenggaraan yang bermutu dan efisien. Upaya tersebut didukung dengan kemajuan yang pesat dalam bidang penemuan vaksin baru (Rotavirus, Japanese encephalitis, dan lain-lain). Beberapa jenis vaksin dapat digabung sebagai vaksin kombinasi yang terbukti dapat meningkatkan cakupan imunisasi, mengurangi jumlah suntikan dan kontak dengan petugas imunisasi. Dari uraian diatas jelaslah bahwa upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, upaya imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan anak, ibu serta masyarakat lainnya.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Imunisasi Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya. Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak. Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya.

2.2.

Keberhasilan Vaksinasi Dalam Profilaksis Imun Imunisasi merupakan kemajuan yang besar dalam usaha imunoprofilaksis serta menurunkan prevalensi penyakit. Cacar merupakan penyaklit yang sangat ditakuti, berkat imunisasi masal, sekarang telah dapat dilenyapkan dari muka dunia ini (Tabel 1). Demikian pula dengan polio yang dewasa ini sudah dapat dilenyapkan di banyak Negara. IgG biasanya efektif dalam darah, juga dapat melewati plasenta dan memberikan iminitas pasif kepada janin. Adanya transfer pasif tersebut dapat merugikan oleki karena itu Ig maternal dapat menghambat imunisasi yang efektif pada bayi. Jadi sebaiknya imunisasi pada neonatus ditunggu sampai antibody ibu menghilang dari darah anak. Antibodi yang diberikan pasif menunjukan efek yang sama. Imunitas selular (sel T, makrofag) yang diinduksi vaksinasi adalah esensial untuk mencegah dan eradikasi bakteri, protozoa, virus, dan jamur intraselular. Oleh karena itu vaksinasi harus diarahkan untuk menginduksi baik system imun humoral maupun selular, respons CD4 atau CD8, respons Th! Atau Th2 sesuai dengan yang

dibutuhkan. Untuk infeksi cacing dipilih induksi imunitas Th2 yang memacu produksi IgE, sedang untuk proteksi terhadap mikrobakteri dipilih respons Th1 yangt mengaktifkan makrofag (DTH). Imunisasi pasif dengan sel, dewasa ini tidak dapat dilakukan oleh karena dapat menimbulkan imunitas tranplantasi terhadap sel asal donor dengan histokompatibilitas yang berbeda. Imunisasi dapat terjadi secara alamiah dan buatan (aktif dan pasif) seperti pada gambar 1.

Tabel 1. Gambaran penyakit infeksi sebelum dan sesudah vaksinasi Jumlah kasus / tahun Sebelum Vaksinasi Cacat Difteri Parotitis Pertutis Polio paralitik Rubella Tetanus 48.164 175.885 503.282 152.209 147.271 16.316 47.745 1.314 (kematian) Hemofilus influenza infasif 20.000 Sesudah vaksinasi 0 0 378 236 18.957 0 12 26 (kasus) Kasus pada tahun 2004 Reduksi (%) 100 100 99,99 99,85 87,13 100 99,97 98,02

Jenis Penyakit

172

99,14

2.3.

2.2. Jenis-jenis Imunisasi 2.2.1. Imunisasi Pasif Imunisasi pasif terjadi bila seseorang menerima antibodi atau produk sel dari orang lain yang telah mendapatkan imunisasi aktif. Imunisasi pasif dapat diperoleh melalui antibody dari ibu atau dari globulin gama homolog yang dikumpulkan. 1. Imunisasi pasif alamiah a. Imunisasi maternal melalui plasenta Antibodi dalam darah ibu merupakan proteksi pasif kepada janin. IgG dapat berfungsi antitoksin, antivirus dan antibacterial terhadap H. Influenza B atau S. agalactic B. Ibu yang mendapat vaksinasi aktif akan memberikan proteksi pasif kepada janin dan bayi. b. Imunitas maternal melalui kolostrum ASI mengandung berbagai komponen system imun. Beberapa diantaranya berupa Enhancemen Growth Factor untuk bakteri yang diperlukan dalam usus atau faktor yang justru dapat menghambat tumbuhnya kuman tertentu. Antibodi ditemukan dalam ASI dan kadarnya lebih tinggi dalam kolostrum. Daya proteksi antibodi kelenjar susu tergantung dari antigen yang masuk ke dalam usus ibu dan gerakan sel yangf dirangsang antigen. Antibodi terhadap mikroorganisme yang menempati usus ibub dapat ditemukan dalam kolostrum sehingga selanjutnya bayi memperoleh proteksi terhadap mikroorganisme yang masuk saluran cerna. 2. Imunisasi pasif buatan a. Immune Serum Globulin nonspesifik (Human Normal Immunoglobulin) Imunisasi pasif tidak diberikan secara rutin, hanya diberikan dalam keadaan tertentu kepada penderita yang terpajan dengan bahan yang berbahaya terhadapnya dan sebagai regimen jangka panjang pada penderita dengan defisiensi antibodi. Jenis imunitas diperoleh segera setelah suntikan, ttetapi

hanya berlangsung selama masa hidup antibody in vivo yang sekitar

minggu untuk kebanyakan bentuk proteksi oleh Ig. Imunisasi pasif dapat berupa tindakan profilaktik atau terafetik, tetapi bsedikit kurang berhasil sebagai terapi. Tergantung dari isi dan kemurnian antisera, preparat dapat disebut globulin imun atau globulin imun spesifik. Preparat dibuat dari plasma atau serum yang dikumpulkn dari donor sehat atau plasenta tanpa memperhatikan sudah atau belum divaksin/dalam atau tidak dalam masa konvalesen suatu pemnyakit. Preparat yang diperoleh harus bebas dari virus hepatitis dan HIV atau AIDS, kadar antibody sekitar 25 kali (biasanya mengandung 16,5 g/dl globulin, terutama IgG), stabil untuk beberapa tahun dapat mencapai puncaknya dalam darah sekitar 2 hari setelah pemberian IM. b. Immune Serum Globulin spesifik Plasma atau serum yang diperoleh dari donor yang dipilih sesudah imunisasi atau booser atau konvalensi dari suatu penyakit, tersebut sesuai dengan jenisnya misalnya TIG, HBIG, VZIG dan RIG. Preparat dapat juga diperoleh dalam jumlah besar dari hasil plasmaferesis. Hepatitis B Immune Globulin HBIG yang diperoleh dari pool plsma manusia yang menunjukan titer tinggi antibody HBsAg. HBIG juga dapat diberikan pada masa perinatal kepada anak yang dilahirkan oleh ibu dengan infeksi virus hepatitis B. ISG hepatitis A Diberikan sebagai proteksi sebelum dan sesudah pajanan. Juga diberikan untuk mencegah hepatitis A pada mereka yang akan mengunjungi Negara dengan prevalensi hepatitis A tinggi. ISG Campak ISG dapat diberikan sebelum vaksinasi dengan virus campak yang dilemahkan kepada anak-anak yang imunodefisien. Human Rabies Immune Globulin HRIG yang diperoleh dari serum manusia yang hiperimun terhadap rabies. HRIG digunakan untuk mengobati penderita terpajan dengan anjing gila. Ai HRIG juga dapat diberikan bersamaan dengan imunisasi aktif oleh

karena antibody dibentuk lambat. Karena tidak tersedianya serum asal manusia, kadang diberi serum asal kuda. Human Varicella-Zoster Immune Globulin HVIG dipilih oleh kerene itu mengandung antibody dengan titer tinggi terhadap virus varisela-zoster. Produk ini digunakan sebagai profilaksis pada anak imunodefisien untuk mencegah terjangkit varisela, tetapi tidak menguntungkan untuk digunakan pada penderita dengan varisela aktif leukemia dengan risiko tinggi, 72jam setelah terpanjang dengan virus varisela. Antiserta terhadap virus sitomegalo Antisera terhadap pirus Sitomegalo diberikan secara rutin kepada mereke yang mendapat transplan sumsum tulang untuk

mengurangireaktivasi virus bias diberikan obat imunosupresif dalam usaha mengurangi kemungkinan penolakan tandur. Antibiotik Rhogam Antibiotik rhogam terhadap antigen RhD, diberikan dalam usaha

mencegah imunisasi oleh eritrisit fetal yang Rh. Rho (D)-Immune Globulin (RhoGAM) adalah preparat asal manusia, diberikan kepada wanita Resus negative dalam 72 jam sesudah melahirkan, keguguran atau aborsi dengan bayi/janin Resus negatif. Maksudnya adalah mencegah sensitasi ibu terhadap kemungkinan sel darah merah janin yang Resus-positif. Juga diberikan selama trimester terakhir (16 minggu) kepada prima gravid Resus-negatif. Tetanus Immune Globulin TIG adalah antitoksin yang diberikan sebagai proteksi pasif setelah menderita liuka. Biasanya diberikan IM dengan toksoid tetapi pada lengan yang sebaliknya. Vaccinia Immune Globulin VIG yang diberikan kepada penderita dengan eksim atau

imunokompromais yang terpajan dengan vaksinia dan pada anggota tentara.

c. Serum asal hewan Serum asal hewan seperti anti bias ular tertentu, laba-laba, kalajengking yang beracun digunakan untuk mengobati mereka yang digigit. Bahayanya ialah penyakit serum. d. Antibodi heterolog versus antibody homolog Antibodi heterolog asal kuda dapat menimbulkan sedikitnya 2 jenis hipersensitivitas yaitu reaksi tipe I atau tipe III (penyakit serum atau kompleks imun). Kalau perlu dapat dilakukan desensitisasi pada seseorang terhadap reaksi tipe I dengan memberikan dosis kecil secara perlahan-lahan dan berulang-ulang dalam waktu beberapa jam. Efek antibodi manusia yang homolog diharapkan lebih lama dibandingt dengan antibody heterolog dari kuda. Ada 4 fase eliminasi antibodi heterolog ialah : pengenceran, katabolisme, pembentukan kompleks imun dan eliminasi. e. Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemberian globulin serum Biasanya preparat globulin diberikan IM mengikat pemberian IV dapat menimbulkan reaksi anafilaksis. Ig (IgG1, IgG2, IgG3 dan IgM) dapat mengaktifkan komplemen dan melepas anafilatoksin melalui jalur klasik, sedang IgG4 dan IgA menimbulkan hal yang sama melaui jalur alternatif.

2.2.2. Imunisasi Aktif Dalam imunisasi aktif untuk mendapatkan proteksi dapat diberikan vaksin hidup/dilemahkan atau yang dimatikan. Vaksin yang baik harus mudah diperoleh, murah, stabil dalam cuaca ekstrim dan non patogenik. Efeknya harus tahan lama dan mudah direaktivasi dengan suntikan booster antigen. Baik sel B maupun sel T diaktifkan oleh imunisasi. Keuntungan dari pemberian vaksin hidup/dilemahkan ialah terjadinya replikasi mikroba sehingga menimbulkan pajanan dengan dosis lebih besar dan respons imun di tempat infeksi alamiah. Vaksin yang dilemahkan diproduksi dengan mengubah kondisi biakan mikroorganisme dan dapat merupakan pembawa gen dari nikroorganisme lain yang sulit untuk dilemahkan.

BCG merupakan pembawa yang baik antigen yang memerlukan imunitas sel CD4 dan salmonella sehingga dapat memeberikan imunitas melalui pemberian oral. Imunisasi intranasal telah mendapat popularitas. 1. Respon primer dan sekunder Kontak pertama dengan antigen eksogen menimbulkan respons humoral primer yang ditandai dengan sel plasma yang memproduksi antibodi dan sel B memori. Respon primer ditandai dengan lag phase yang diperlukan sel naf untuk menjalani seleksi klon, ekspansi klon dan diferensiasi menjadi sel memori dan sel plasma. Kemampuan untuk memberikan respons humoral sekunder tergantung dari adanya sel B memori dan sel T memori. Aktivasi kedua sel memori menimbulkan respons antibodi sekunder yang dapat dibedakan dari respons primer. 2. Perbedaan respon imun di berbagai bagian tubuh Ada perbedaan kadar antibody dalam intra dan ekstra vaskuler. sIgA diproduksi setempat dilamina propria dibawah membrane mukosa saluran napas dan cerna yang sering merupakan tempat kuman masuk. sIgA merupakan Ig utama dalam sekresi hidung, bronkus, intestinal, saluran kemih, saliva, kolostrum dan empedu.

2.3.

Jenis-jenis Vaksin

2.3.1. Vaksin Virus Respons antivirus adalah kompleks, oleh karena ada beberapa faktor yang berperan seperti tempat virus amsuk tubuh, tempat virus melekat pada sel, aspek pathogenesis infeksi virus, induksi interferon, respons antibody dan CMI. Respons imun yang baik harus mencakup efek antibodi pada permukaan epitel. Efek ini dapat diperoleh dari IgA lokal atau IgG dan IgM ekstravaskular setempat. Infeksi virus seperti campak atau polio, mulai di epitel mukosa saluran napas atau cerna dan efek patogeniknya yang utama terjadi setelah disebarkan melalui darah kea lat-alat tubuk lainnya. Antibodi pada permukaan epitel akan mampu melindungi badan yang vmencegah virus masuk tubuh. Antibodi dalam sirkulasi dapat menetralisasi virus yang masuk darah pada fase viremia. Respons antibody terhadap virus dap[at ditemukan in vitro sebagai berikut :

Menetralkan infektivitas virus dan melindungi penjamu yang rentan Mengikat komplemen Mencegah adherens dan aglutinasi eritrosit oleh beberapa jenis virus (haemaglutination inhibition)

IgG adalah antibodi yang terpenting di antara antibodi antivirus, tetapi virus yang sudah diikat sel penjamu tidak dapat dilepaskan lagi oleh antibodi.

1. Vaksin Rubela Vaksin Rubela (german measles) mengandung virus yang dilemahkan atau dimatikan, berasal dari virus dengan antigen tunggal yang ditumbuhkan dalam biakan Human Diploid Cell Line. Kepada wanita yang seronegatif perlu diberikan imunisasi sebelum pubertas dengan virus yang dilemahkan. Hal tersebut diperlukan mengingat rubella dapat menimbulkan malformasi pada janin 2. Vaksin Influenza Penyakit influenza disebabkan virus family ortomiksoviride, yang terdiri atas viruts tipe A, B dan C berdasarkan hemaglutinin permukaan (H) dan antigen neuraminidase (N). Dalam alam, antigen virus A dapat mengalami dua jenis

perubahan/mutasi yaitu antigenic drift bila mutasi tersebut terjadi perlahan dan antigenic shift yang terjadi mendadak. Virus B lebih stabil dibandingkan virus A dan hanya menimbulkan antigenic drift. Adanya antigenic drift/shift tersebut memungkinkan virus untuk lolos dari pengawasan system imun penjamu, sehingga manusia selalu rentan terhadap infeksi virus untuk seumur hidup. Ada dua jenis vaksin yaitu yang dimatikan, diinaktifkan dalam formalin atau propiolakton (parenteral) dan yang hidup/dilemahkan (oral/nasal). 3. Vaksin Campak Vaksin campak adalah vaksin hidup yang dilemahkan dari galur virus dengan antigen tunggal yang dibiakan dalam embrio ayam. MMr adalah

vaksin yang dimatikan dan diberikan dalam suntikan tunggal, untuk pencegahan penyakit campak, mumps (gondok) dan rubela. 4. Vaksin Poliomielitis Vaksin poliomyelitis diperoleh dalam 2 bentuk : masing-masing polivalen yang terdiri atas 3 tipe : Vaksin virus mati (Inaktivatid Polio Vaccin, Salk) Vaksin salk diproduksi dari virus yang ditumbuhkan dalam biakan (ginjal kera) yang kemudian diinaktifkan dengan formalin atau sinar ultraviolet. Vaksin tersebut memberikan imunitas terhadap penyakit sistemik, tetapi tidak terhadap infeksi intestinal oleh polio. Diberikan sebelum vaksin sabin dikembangkan. Vaksin oral (Oral Polio Vaccin, Sabin) Vaksin sabin dibuat dari virus yang juga ditumbuhkan dalam biakan (ginjal kera, Human Diploid Cells) yang dilemahkan dan member proteksi terhadap infeksi intestinal dan penyakit paralisa. 5. Vaksin Hepatitis B Vaksin hepatitis B terdiri atas partikel antigen permukaan hepatitis B yang diinaktifkan (HBsAg)bdan diabsorpsi dengan tawas, dimurnikan dari plasma manusia/karier hepatitis. Saat iini vaksin hepatitis B diganti dengan vaksin rekombinan. Vaksin rekombinan HBsAg (rHBsAg) diproduksi dengan rekayasa genetic galur Saccharomyces cerevisiae yang mengandung plasmid/gen untuk antigen HBsAG. Produksi vaksin hepatitis b dari jamur dengan teknik rekombinan, merupakan cara yang lebih mudah untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar dan aman disbanding dengan yang diproduksi dari serum. 6. Vaksin Hepatitis A Vaksin hepatitis A terdiri atas virus dimtikan yang cukup efektif, diberikan kepada orang dengan resiko misalnya dalam perjalanan/mengunjungi Negara dengan resiko. 7. Vaksin Varisela Vaksin varisela digunakan untuk mencegah varisela, merupakan vaksin yang dilemahkan, biasanya tidak diberikan kepada anak-anak sampai

IgG asal ibu hilang (sekitar usia 15 bulan). Varisela yang dilemahkan diberikan kepada penderita dengan leukemia limfositik akut. 8. Vaksin Retro Vaksin virus retro dapat mencegah kematian pada bayi akibat diare. Vaksin mengandung 4 tipe antigen virus yang berhubungan dengan penyakit pada manusia. 9. Vaksin Rabies Vaksin rabies diperoleh dalam 2 bentuk yaitu vaksin dimatikan untuk manusia dan vaksin hidup yang dilemahkan pada hewan. Ada 2 bentuk vaksin untuk manusia yaitu yang dibiakan dalam embrio bebek yang memiliki beberapa efek ensefalitogrnik dan yang dibiakan dalam sel human diploid. Kadang diperlukan bersamaan dengan RIG. 10. Vaksin Papiloma Kanker serviks merupakan kanker nomor dua tersering pada wanita, sekitar 10% dari semua kanker wanita yang ada.

2.3.2. Vaksin Bakteri Respons imun antibacterial meliputi lisis melalui antibodi dan komplemen, opsonisasi, fagositosis yang diaktifkan dengan eliminasi bakteri dihati, limpa dan sl-sel dari system fagosit makrofag. Yang bergerak pada opsonin dan fagositosis bakteri negatif-gram adalah IgG dan IgM saja atau komponen komplemen C3b. 1. Vaksin DOMI Penyakit-penyakit infeksi yang menimpa Negara-negara sedang

berkembang seperti kolera, demam tifoid dan sigela yang merupakan DOMI. Program DOMI dikembangkan di berbagai Negara antara lain Indonesia melalui transfer teknologi untuk memproduksi vaksin Vi dan vaksin kolera yang sekaligus dapat mengurangi beban sigelosis. 2. Vaksin Bacille Calmette-Guerin Vaksin BCG adalah vaksin galur mikrobakterium bovis yang dilemahkan dan digunakan pada manusia terhadap pencegahan tuberculosis dihampir seluruh penjuru dunia.

3. Vaksin Subunit Vaksin subunit adalah vaksin yang terdiri ats makromolekul spesifik asal pathogen yang dimurnikan. Ada 3 bentuk umum vaksin yang digunakan : Vaksin eksitoksin atau toksoid Vaksin polisakarida kapsel Vaksin antigen protein rekombinan

a. Vaksin polisakarida Vaksin polisakarida (disebut juga vaksin konjugat) dibuat dari polisakarida kapsul bakteri, terdiri atas dinding poliakarida bakteri yang nerupakan vaksin sub-unit. Contoh-contoh vaksin polisakarida adalah sebagai berikut : Vaksin pneumokoko Vaksin pneumokoko terdiri atas polisakarida kapsul 23 tipe antigen streptokoko pneumoni dan dianjurkan untuk golongan tertentu seperti usia diatas 60 tahun, penyakit paru kronis atau mereka tanpa limpa. Vaksin member perlindungsn sampai 90% terhadap galur pneumokoko yang dapat menjangkit manusia. Vaksin Hemofilus influenza Vaksin hemofilus influenza berupa polisakarida tipe b (Hib) yang dikonjugasi dengan toksoid atau protein. Vaksin Neseria meningitidis Vaksin Nm terdiri atas beberapa golongan polisakarida, digunakan untuk mencegah infeksi meningitis pada anggota tentara dan anak-anak di Negara-negara dengan resiko tinggi. Lyme disease Lyme disease adalah penyakit yang disebabkan spiroket. Infeksi terjadi melalui gigitan sejenis serangga yang terinfeksi. Vaksin terdiri atas protein permukaan Borelia burgdorferi yang dimurnikan. Vaksin S. pneumoni Vaksin polivalen yang dibuat dari kapsul polisakarida beberapa galur steptokok pneumoni, diberikan kepada penderita penyakit

kardiovaskuler, sesudak spelektomi, anemia sel sabit, kegagalan ginjal, sirosis alcohol dan diabetes mellitus. Vaksin S. tifi (Typhi Vi) Vaksin S. tifi berupa vaksin polisakarida dan pemberian booster tidak menimbulkan respons peningkatan. Untuk meningkatkan respons, dibuat vaksin konjugasi dengan menggabungkan polisakarida S. tifi dengan protein. Vaksin ini diberikan pararel, diperoleh dari kapsul polisakarida S.tifi. biasanya diberikan kepada anak usia 6 bulan dalam 2 dosis dengan jarak 4 minggu. b. Antitoksin (ekso- dan endotoksin)-toksoid Vaksin toksoid digunakan hanya bila toksin bakteri merupakan penyebab utama penyakit. Toksin biasanya diaktifkan dengan formalin dan biasanya disebut toksin yang ditoksifikasi atau toksoid sehingga aman untuk digunakan dalam vaksin. Antitoksin botulinum Antitoksin botulisme adalah polivalen, dibuat terhadap 3 tipe, tipe A, B dan E) yang diproduksi klostridium botulinum. Antitoksin asal hewan juga dapat diperoleh, tetapi tidak diutamakan oleh karena risiko penyakit serum. Antitoksin difteri Antioksin difteri dibuat pada kuda dengan menyuntikan toksoid korinebakterium difteri. Toksoid adalah eksotoksin yang diolah dngan formaldehid yang merusak patogenisitasnya tetapi tetap antigenic. Antitoksin tetanus Antitoksin tetanus terdiri atas globulin imun asal manusia yang spesifik terhadap toksin klostridium tetani. Difteri, pertusis, dan tetanus Difteri, pertusis dan tetanus DPT adalah produk polivalen yang mengandung toksoid korinebakteri difteri, bordetela pertusis dan klostridium tetani yang dimatikan.

c. Vaksin peptide Peptide sintetik adalah vaksin subunit yang hanya mengandung epitop dari antigen protektif. d. Vaksin konjugat Keterbatasan vaksin polisakarida adaklah ketidakmampuanya untuk mengaktifkan sel Th. Polisakarida yang merupakan lapisan dinding luar bakteri akan menghalangi respons imatur imun bayi dan anak untuk mnengenal antigen. Salah satu cara untuk melibatkan sel Th secara direk adalah mengkonjugasikan antigen polisakarida dengan protein pembawa. 2.3.3. Vaksin Hasil Rekayasa 1. Vaksin subunit multivalent Salah satu keterbatasan vaksin peptide sintetik dan subunit polisakarida atau vaksin protein adalah cenderung kurang imunogenik. Disamping itu vaksin subunit lebih cenderung memicu imunitas humoral sinding seluler. 2. Vaksin DNA dan naked DNA Vksin subunit rekombianan adalah vaksin yang menggunakan teknologi DNA, hasil rekayasa molekul antigen mikroba tertentu. Vaksin DNA terdiri atas plasmid bakteri yang mengandung DNA yang menyandi protein antigen, dapat memacu baik imunitas humoral maupun selular. Melalui rekayasa genetic, segmen dari bahan herediter/DNA dari satu jenis organism dapat dikombinasikan dnegan gen organism ke dua. Rekayasa genetik memungkinkan untuk memilih dan mengambil segmen gen bahan herediter DNA dari organisme tertentu dan dapat dikombinasikanya dengan gen dari organism kedua. 3. Vaksin vector rekombinan Vaksin vector rekombinan adalah vaksin yang dibuat dengan

mengguanakan virus atau bakteri yang dimodifikasi untuk mengantarkan gen (sebagai vector) yang menyandi antigen mikroba ke sel tubuh. Vaksin vector rekombinan merupakan strategi terhadap virus X. 4. Sitokin, pembawa vaksin

Menambahkan sitokin pembawa vaksin diduga akan merupakan cara efisien untuk mendapatkan lingkungan/milieu sitokin yang benar dalam mengarahkan respons imun yang diharapkan. Efek sitokin adalah untuk meningkatkan efisiensi sel APC. 2.3.4. Vaksin tumor Imunisasi yang membunuh sel tumor atau antigen tumor dapat meningkatkan respons terhadap tumor.