Anda di halaman 1dari 17

Teologi Humanis: Upaya Mengikis Radikalisme Islam

Nurrochman S. Fil. I Mahasiswa PPS. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan 2009

Siapa yang menghukum mati seseorang karena pendirian dan iman, ia akan mendengar sepotong kepala yang tertawa -Goenawan Mohamad-

Abstrak Agama dalam konteks modern memiliki dua sisi. Di satu sisi berisi ajaran tentang perdamaian dan cinta kasih, di sisi yan lain agama sering kali memicu terjadinya konflik horizontal. Tulisan ini muncul dari sebuah kegelisahan akan terjadinya benturan antar agama yang acap kali terjadi di Indonesia. Konflik di berbagai daerah mereda karena pemerintah yang rajin mendamaikan kedua kubu dan diterapkannya beberapa UU tentang kedaerahan, sedangkan meredanya aksi teror tidak lebih dari usaha polisi yang giat memberantas terorisme satu persatu. Padahal masalah sebenarnya adalah pada pamahaman pemeluk agama dalam menyikapi pluralisme di Indonesia. Selama masih ada golongan yang berpola pikir tertutup dan tidak mau menerima perbedaan sebagai konsekuensi serta keniscayaan kehidupan, maka konflik antar agama dan aksi radikalisme atas nama agama sewaktu-waktu bisa terjadi kembali. Yang mendesak untuk segera dilakukan adalah melakukan reedukasi dari dalam. Yaitu memberi pemahaman secara komprehensif atas cara-cara berkeyakinan di tengah masyarakat pluralis. Sebagai tawaran pertama dalam Teologi Humanis, penulis mengemukakan pentingnya pola pikir inklusif (terbuka) yang mau menerima kebenaran orang lain, dalam artian tidak selalu membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. untuk mewujudkan pola pikir seperti itu diperlukan proses yang tidak sebentar. Untuk itu perlu dilakukan pengajaran tentang keberagamaan yang inklusif semenjak dini. Di ranah praksis hubungan antar agama hal yang

perlu dilakukan adalah menjaga komunikasi antar agama serta membudayakan agar setiap pergeseran paradigma yang terjadi di masyarakat tidak selalu ditanggapi dengan over reaction.

Pendahuluam Seorang penyair Rusia kenamaan dalam sebuah cerpennya berujar perbedaan, masalah dan hikmah adalah hal-hal yang akau selalu kau temui dalam bentangan hidup ini, bahkan ketika kau tertidur, bersembunyi dalam selimut maka mereka akan mengendap-endap lalu tanpa kau nyana telah memelukmu. Ungkapan itu sangat cocok untuk membahasakan secara indah apa yang dialami tiap individu manusia ketika menjalankan perannya dalam kehidupan. Ruang dan waktu kehidupan seakan tidak menyisakan ruang kosong, di dalamnya penuh dengan unsur pembentuk kehidupan, unsur yang tak boleh alpa ketika kehidupan bergulir dinamis. Manusia sebagai pelaku kehidupan telah terikat kontrak untuk menjalani beragam peran aktif, salah satunya adalah peran sebagai mahkluk theis, pribadi beragama dan menjadi hamba dari sebuah kekuatan yang melatarbelakangi penciptaan alam, sesuatu itu disebut: Tuhan. Ranah hubungan manusia dengan Tuhan itulah yang disebut dengan ranah teologi. (Karen Amstrong, 2001: 134). Beraneka rupa ragam dan corak serta cara penghambaan manusia terhadap sesuatu yang diyakini sebagai Tuhannya kemudian mengkotak-kotakkan manusia dalam beberapa varian keagamaan. Wilayah ini selalu mengesankan hubungan penghambaan makhluk kepada sang khalik dengan spirit keihlasan semata karena menjalankan perintah Tuhan serta bermotif pengharapan pahala sorga (konsep reward and punishment dalam agama). Dalam Islam wilayah teologi ini kemudian terpecah dalam beberapa cabang keilmuan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas lebih dalam mengenai corak atau ragam penghambaan namun lebih kepada bagaimana wilayah teologi yang sarat dengan nilai spiritual agama dan ajaran yang tertuang dalam teks-teks bisa membumi, benar-benar hidup bukan hanya sebagai sebuah paham yang mengawang-awang dan tidak membumi. Kenapa dikatakan tidak membumi? Seperti diketahui bahwa fenomena yang muncul belakangan ini di Indonesia adalah masalah konflik antar golongan yang bersumber pada ajaran agama. Kerusuhan di Ambon, Poso dan beberapa teror bom yang terjadi di Bali dan Jakarata adalah setumpuk bukti betapa piciknya pemahaman seseorang terhadap ajaran agama yang ia anut. Kerusuhan berbau SARA di Ambon dan Poso memang sudah mereda, jaringan terorisme juga bisa dipastikan kesulitan menebar terror bomnya setelah Noordin M Top sang arsitek terror

berhasil dibunuh, namun selama pola pikir (meminjam istilahnya Amin Abdullah, (Abdullah, 2006)). narrowminded masih menjadi primadona dan menjadi style berpikir umat Islam, maka cukup dini untuk mengatakan serentetan peristiwa menyedihkan itu sudah sepenuhnya bisa dihentikan, karena endemi radikalisme sewaktu-waktu bisa muncul kembali, tinggal menanti momentum saja. Kesimpulan awalnya adalah agama cenderung mempunyai sisi ganda, di satu sisi agama menawarkan ajaran tentang keselarasan hidup, kedamaian keselamatan dan moralitas hidup, namun, di sisi yang lain tidak bisa dipungkiri agama juga seringkali punya andil dalam konflik horizontal antar manusia. Naluri kritis inteleketual pasti tergelitik mendengar kata konflik agama. Benarkah agama yang struktur ajarannya dibangun dengan nilai-nilai kebaikan bisa berpotensi menjadi sumber konflik? Bila memang agama diklaim berperan menyulut clash of community lalu bagian mana yang salah dari agama, ajarannyakah atau pesan-pesan teks-teks keagamaan yang tidak sampai pada pelaku agama? Dari sejumlah pertanyaan itu alur penyebab konflik bisa diungkap untuk kemudian dicari solusi untuk mencegah konflik antar agama menjadi endemi dalam kehidupan sosial beragama. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas akan lebih bijak kiranya bila dipetakan terlebih dahulu seperti apa Islam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dalam al-Quran jelas dinyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia oleh Tuhan tidak lain adalah untuk beribadah. Tema itu merupakan tema sentral dalam memetakan peran manusia di hadapan Tuhan. Di bagian lain dalam al-Quran Tuhan juga memerintahkan pada manusia untuk mengimani adanya Malaikat, Nabi-nabi utusan Tuhan, Kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul dan mengimani ketentuan yang telah diputuskan Tuhan. Dari pesan-pesan yang tertuang dalam alQuran tersebut bisa disimpulkan bahwa hard core ajaran Islam adalah Iman dan penyerahan (baca: penghambaan) diri manusia kepada Allah. Namun, selain mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, al-Quran juga memuat ajaran tentang hubungan antar manusia. Al-Quran membahasakannya dengan hablum min al-nas. Bahwa tidak sempurna keimanan seseoran ketika ia hanya mempriorotaskan hubungan mahdhah (transendental) saja tanpa memperhatikan hubungannya dengan sesama makhluk (imanen) Amin Abdullah, Engineer, 1999: 82). Allah sindiri secara eksplisit tidak menyebut hubungan mana yang harus didahulukan, transenden atau imanen. Logika ini mirip dengan logika and matematika lanjut yang dikembangkan dalam teknologi informasi terutama pengoperasian

komputer. Program di komputer hanya akan berjalan jika terjadi proses perintah antara sistem software yang disupport oleh hardware yang compatible. Ilustrasi itu mungkin cocok untuk menggambarkan how more important (saya terjemahkan dengan lebih pentingan mana) antara hubungan imanen dan transenden. Mengacu pada logika andseperti dituturkan di atas, keduanya memiliki nilai penting yang sama. Keimanan seseorang adalah perpaduan dari nilai hubungan transenden sekaligus imanennya, tak satupun ditoleransi untuk alpa. Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih menempatkan hubungan transendental (ketuhanan) di posisi yang lebih penting, sehingga hubungan antar manusia kadang dinomorduakan -untuk tidak mengatakan dikesampingkan-. Selain itu pola keberagamaan yang berkembang di masyarakat adalah pola eksklusif yang cenderung memahami agama sebagai satu hal yang sakral dan memiliki kebenaran final. Tumbuh suburnya tradisi berpikir seperti ini sedikit banyak tentu dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang berkembang. Sistem pendidikan (Islam) yang masih mendewakan teks sebagai sumber kebenaran absolut tanpa melibatkan akal sebagai pembandingnya menyebabkan Islam tampil sebagai ajaran tentang ketuhanan bukan ajaran tentang kemanusiaan. Padahal dijelaskan dalam al-Quran bahwa Allah menurunkan Islam sebagai agama untuk (mengatur) kehidupan manusia. (Munir Mulkhan, 2002). Teosentrisme ajaran Islam ini banyak ditentang terutama oleh para pemikir kontemporer Muhammad Arkoun (Ali Rahmena (ed. 1995), -- untuk menyebut salah satu nama diantaranyamenyangkal bahwa al-Quran bukan kitab ketuhanan melainkan kitab kemanusiaan. Seluruh isi kandungan dalam al-Quran diperuntukkan untuk menkosepkan tata kehidupan sosial manusia. Lebih lanjut Arkoun menegaskan bahwa ada kebutuhan untuk melakukan reformasi pemahaman ajaran Islam terutama dalam konteks keimanan yang imanen. Proyek reformasi itu bertujuan untuk menghapus kehampaan serta kegersangan dari pola beragama yang individualis, arogan, kaku, rigid dan terkesan ingin membangun menara gading kebenaran. Bagi Arkoun konsep zuhud yang ditawarkan oleh tasawuf klasik juga tidak memberi solusi nyata dalam meghidupkan semangat humanisme yang diusung Islam. Tasawuf klasik bahkan dengan tidak sengaja telah menjatuhkan manusia pada sikap apatisme sosial yang akut dan berpotensi mengaliensai manusia dari sifat dasariahnya.

Shifting Paradigm Menuju Dialog Antar Agama di Indonesia

Tidak bisa dipungkiri, dari semenjak pertama kali berdiri, Indonesia dikenal dengan multikulturalismenya. Bahkan jauh sebelum Indonesia lepas dari kolonialisme Belanda dan Jepang, Indonesia terbagi-bagi atas beberapa kerajaan dengan kebudayaan dan agama yang berbeda. Anehnya, perbedaan itu kemudian tidak menyebabkan satu bentuk separasi, namun malah melebur dalam satu kepentingan yaitu merdeka dari penjajahan. Setelah berhasil mendapatkan kemerdekaan, perbedaan itu pun tetap terjaga, muncul kemudian salah satu slogan Bhneka Tunggal Ika sebagai satu ikrar bangsa untuk tetap bersatu. Secara konstitusional para penggagas bangsa ini sebenarnya sudah sangat akomodatif terhadap perbedaan. Terbukti dengan dijadikannya Pancasila sebagai dasar negara dan diakuinya beberapa agama selain Islam sebagai agama resmi pemerintah. Para pendahulu tersebut juga tidak menjadikan Islam sebagai asas negara. Walaupun dipeluk oleh mayoritas rakyat Indonesia, namun mereka juga tidak ingin begitu saja melupakan para pemeluk agama lain. Untuk mencari jalan tegahnya Pancasila dinilai tepat untuk menjadi jalan tengah. Namun, dalam rentang waktu selanjutnya Pancasila kemudian banyak mendapat penolakan dari kalangan Islam, terutama golongan Islam garis keras. Pasca reformasi yang berarti juga dimulainya era kebebasan setelah rezim orde baru yang otoriter, Islam mulai bergeliat, berkembang bukan hanya dakwahnya, pendidikannya namun yang justru terlihat sangat dominan adalah berkembangnya organisasi-organisasi Islam. Beberapa organisasi kemudian mengukuhkan diri menjadi sekte atau aliran tersendiri dalam Islam. Reformasi seakan menjadi momentum kebebasan bagi pers, politik, kesenian tak ter kecuali agama. Agama di era reformasi lebih bisa mendapatkan ruang untuk mengaktualisikan diri. Beberapa aliran keislaman yang selama orde beri terpaksa ditidurkan oleh UU Subversi mulai bergerak perlahan-lahan membangun aliansi kembali. Tidak hanya aliran Islam modernis, justru Islam fundamentalislah yang bayak bermunculan pasca reformasi. Satu hal yang cukup berat sebenarnya untuk mendikotomikan Islam dalam dua aliran: radikal dan non radikal (anda boleh baca: liberal atau moderat). Namun, setiap aktualisasi gerakan yang terjadi di lapangan memaksa masing-masing dari aliran tersebut ke dalam kategorisasi radikal atau non-radikal. Radikalisme sebagai pengejawantahan sikap fundamentalisme sebenarnya ada pada setiap agama. Fundamentalisme ditunjukkan dengan sikap meyakini ajaran kebenaran agama secara berlebihan yang menyebabkan munculnya sikap monopoli kebenaran. Secara psikologis, kalangan fundamentalis memiliki egoisme yang sangat tinggi dan mempunyai hasrat untuk membentuk opini tunggal atas kebenaran. (Bertrand Russsel, 2008: 132) Dalam diskurus agama,

sikap seperti inilah yang kemudian menyulut beragam kekerasan terbuka dan kerusuhan. Fundamentalisme lahir sebagai akumulasi dari bertumpuk ketidakmampuan individu atau golongan dalam memahami pesan agamanya. Setiap agama pasti mendoktrinkan bahwa ajarannyalah yang paling sempurna, paling benar dan satu-satunya yang bisa memberi jalan keselamatan. Pemahaman membabi buta tentang doktrin ini tentu sangat berbahaya. Bagaimana asas kebenaran tunggal dalam agama tersebut diyakini sebagai ajaran agama dan teraplikasikan dalam kehidupan negara yang multikultur layaknya Indonesia. Setiap individu butuh untuk meyakini bahwa ajaran agamanya adalah yang paling benar. Hal itu diperparah oleh adanya perintah agama yang menyuruh untuk menyebarkan agama (dakwah dalam Islam dan zending dalam Kristen). Di lapangan, kepentingan tersebut bertemu, saling gesek dan pecahnya konflik akhirnya tak terhindarkan. Padahal jika ditilik lebih dalam, tidak ada satupun agama yang menyetujui apalagi mengajarkan umatnya untuk bertindak tidak manusiawi. Complicated memang, mengingat banyaknya pemeluk agama yang berbeda dan kesemuanya mempunyai konsep kebenaran masing-masing. Kita juga tidak bisa menutup mata dengan perbedaan keyakinan yang ada dalam satu agama tertentu, misalnya Islam dengan NU dan Muhammadiyahnya, Kristen dengan Katolik dan Protestannya. Menyikapinya, setiap individu sewajarnya selalu sadar dalam setiap tindakannya bahwa di sekelilingnya tumbuh subur perbedaan yang sekali waktu berpotensi menyulut konflik. Menjembatani perbedaan tersebut, di era tahun 70-an Nurcholis Madjid, (Fuad Fanani, 2004: 97), mengemukakan ide tentang pluralitas keberagamaan. Pluralitas keberagamaan dalam pendangan Nurcholis Madjid sebenarnya sudah termaktub dalam al-Quran. Di salah satu suratnya, al-Quran menyebut bahwa bisa saja sebenarnya Allah membuat satu isi dunia ini dengan satu macam golongan tetapi Allah menciptakan dengan bermacam perbedaan. Tersebutkan juga satu riwayat ketika suatu saat Nabi Muhammad merasa ada pada titik nadir semangat untuk menyebarkan Islam dan beliau berpikir untuk memaksakan kehendaknya agar seluruh masyarakat mengimani Islam. Dengan wahyuNya Allah menegur Nabi Muhammad agar tidak melakukan pemaksaan keimanan. Dari beberapa ayat dalam alQuran terlihat bahwa Islam sebenarnya sangat menghargai semangat perbedaan. Bahkan akar kata Islam sendiri adalah bermakna perdamaian. Hubungan antara Islam dan pluralisme adalah pad aspek humanitasnya. Sebagai langkah awalnya adalah setiap individu sadar bahwa

multikultur dan multireligi adalah fakta. Masalahnya kemudian adalah bukan pada bagaimana menyeragamkan perbedaan itu ke dalam satu warna, namun, bagaimana agar perbedaan (agama khususnya) bisa disandigkan dalam satu tatanan kehidupan yang harmonis. Dalam hal ini penulis tidak mau dengan mudah menjatuhkan diri pada satu kesimpulan bahwa semua agama adalah benar seperti yang dikembangkan oleh Nurcholis Madjid. Bahwa semua agama mengajarkan kebaikan adalah benar, namun masing-masing pemeluk agama punya tanggung jawab secara teologis untuk benar-benar mengimani kepercayaannya dan mengakui bahwa ajaran agamanyalah yang paling benar. Perlu ditegaskan bahwa kata paling di sini tidak berafiliasi untuk memunculkan makna bahwa agama atau kepercayaan yang lain salah, namun lebih ke masalah personal identity. Seperti yang dituturkan oleh Talcott Parsons, bahwasannya setiap individu mempunyai kebutuhan untuk mengaktualkan identitasnya, namun di balik itu, tiap individu juga mempunyai kecenderungan yang sama untuk mencari titik ekuilibrium atau titik keseimbangan. Obyek bidik yang tepat bagi bahasan pluralisme adalah wilayah hubungan antara agama dan sosial bukan wilayah keimanan. Jika kemudian Islam dengan konspe ajarannya seringkali berpenampilan garang dan kurang terbuka terhadap perbedaan, tentu bukanlah kesalahan dari ajaran melainkan adanya missing link antara teks dengan konteks. Jika kita berpikir historis, kita akan menemukan sejarah perjalanan Nabi Muhammad yang begitu akomodatif dalam mengatur perbedaan. Hal itu nampak ketika ia mendeklarasikan Piagam Madinah untuk mengatur tata kehidupan masyarakat madinah waktu itu yang terdiri atas masyarakat muslim dan non-muslim. Bisa dibilang, Piagam Madinah adalah bentuk peraturan konstitusional pertama yang mengakomodasi kepentingan dari kelompokkelompok yang berbeda keyakinan agama. Nabi Muhammad dengan semangat kemerdekaan individu secara langsung ingin mencitrakan Isalam sebagai rahmatan lil alamin. Jadi, Islam diturunkan oleh Allah tidak semata hanya untuk umat Islam saja, namun juga bagi semua kalangan termasuk yang tidak mengimaninya. Sebagai muslim, harus bisa membedakan antara Islam (murni sebagai doktrin) dan Islam yang berkembang di ranah sosial. Islam sebagai ajaran murni adalah ajaran agama yang dibawa Muhammad yang bersumber dari Allah dengan tujuan menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Sedangkan Islam sebagai agama yang berkembang di ranah sosial adalah seperangkat ajaran Islam tentang peribadatan dan hukum-hukum (fiqh) yang sudah menyatu dengan kebudayaan di mana Islam pertama kali dipahami dan berkembang. Oleh sebab itu tidak

bisa disangkal bahwa Islam mau tidak mau selalu terikat ruang dan waktu. Islam yang berkembang dua ratus tahun yang lalu pasti berbeda dengan Islam yang berkembang di era kekinian. Begitu juga Islam yang berkembang di Afrika tentu berbeda dengan Islam yang berkembang di Asia. Kostruksi sosial yang berbeda senantiasa membuat Islam berevolusi menyesuaikan kebutuhan zaman, walau dari segi subtansinya, Islam di mana dan kapanpun ia berkembang tetaplah sama. Agar Islam bisa mempertahankan reputasinya sebagai rahmatan lil alamin dan shalihun li kulli zaman wa makan, diperlukan penafisran yang tidak hanya normatif, namun juga mengedepankan sisi historis. Tafsir al-Quran dan Hadist dituntut mampu menjawab kegelisahan manusia modern yang sering kali gamang melihat persoalan. Kritik untuk model penafsiran klasik adalah matinya teks tersebut ketika berusaha ditarik ke wilayah kontekstual atau realitas kehidupan. Teks-teks keagamaan yang dipahami secara normatif terkesan terengah-engah mengikuti gerak zaman yang dinamis. Tantangan ini harus segera dijawab dengan langkah nyata. (Zuly Qodir, 2007: 24) Respon dari gerak dinamis kehidupan dan ketidakmampuan ilmu-ilmu agama yang bercorak positivistik-noramtif itu melahirkan tradisi berpikir baru yang lebih berani dalam melakukan pembacaan ulang atas teks-teks keagamaan dan kemudian mereinterpretasikan makna yang dikandungnya. Aktifitas penafisiran dengan model seperti itu dikenal dengan istilah hermeneutika. Dalam perkembangannya hermeneutika terpecah dalam beberapa aliran. Aliranaliran hermeutik itu dilatarebelakangi oleh pemikiran tokoh-tokohnya. Untuk menyebut beberapa nama misalnya, hermeneutika versi Hans Robert Gadamer (Sumaryono, 1999). dikenal dengan hermeneutika Gadamerian, hermeneutika versi Jaques Derrida kemudian disebut hermeneutika Derridarian. Namun secara substansial, kesemuanya ada dalam koridor batas yang sama yaitu metode pembacaan teks yang tidak sekedar mengalihbahasakan dari bahasa asli ke bahasa sang pembaca namun juga mencari makna baru dari tafsir yang sudah dimunculkan pada pemaknaan sebelumnya (reproduktif). Model penafsiran seperti ini memungkinkan pembaca untuk masuk ke dalam sudut pikir penulis, sehingga ada kedalaman makna yang ditampilkan. Lalu apa signifikansi hermenutika bagi perkembangan Islam dan khususnya terhadap gagasan Teologi Humanis seperti yang digagas dalam tulisan ini? Selama ini, umat Islam hanya terpancang pada satu tradisi berpikir yang mendewakan teks. Teks-teks keagamaan diyakini sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Muhammad Arkoun bahkan sampai menyebut bahwa penyakit utama umat Islam era kontemporer adalah taqdisu afkari diniyyah (pensakralan

terhadap agama). Hal itu berjalan sekian lamanya, turun temurun dari beberapa generasi ke generasi selanjutnya. Side effectnya adalah Islam berkembang ke arah yang tak lagi sejalan dengan semangat awal ketika masa Nabi Muhammad yaitu Islam yang ramah menebar kedamaian untuk semua manusia tanpa terkecuali. Aspek normatifitas yang terlalu mendominasi pelaksanaan keislaman oleh sebagian besar umat telah menyebabkan matinya nilai-nilai humanitas dalam Islam. Padahal humanitas seperti dituturkan oleh John Harwood Hicks adalah inti dari semua ajaran agama. Faktanya memang semua agama mengakarkan kebaikan dan kasih sayang antar manusia, bukankah itu unsur-unsur pembantuk humanisme? Terkadang perselingkuhan teks (baca: agama) dengan bermacam kepentingan (politik kekuasaan, ekonomi, dominasi golongan atau yang lainnya) menyebabkan mandulnya peran agama dalam menciptakan satu keadaan sosial yang sehat, bebas dari hegemoni kelas dan bebas dari kekerasan. Pernyataan Gregory Baum mungkin pantas diperhitungkan dalam masalah ini, di berujar bahwa misi awal Islam adalah liberatifemansiatorif, kalau dalam perkembangannya Islam kemudian menjadi kekuatan penghancur atas apa yang bertentangan darinya, maka Islam secara historis telah menyalahi misi awalnya dan niscaya lambat laun akan ditinggalkan (sebagian) para pemeluknya. Hal mendesak yang harus dilakukan sebelum Islam benar-benar berganti wajah menjadi wajah garang adalah upaya membongkar tradisi pikir eksklusif, taqdis dan budaya truth claim. Amin Abdullah, (1999) misalnya dalam pemikiran epistemologi Integrasi-Interkoneksi berusaha menalanjangi kejumudan tradisi berpikir dalam Islam kemudian menggantikannya dengan tradisi berpikir baru yang lebih relevan dengan konteks kekinian dan keIndonesiaan. Ia (Amin) tidak sepenuhnya yakin bahwa ilmu bisa berdiri sendiri sebaghai sebuah single entity. Di zaman klasik para pemikir cenderung menempatkan Ilmu sebagai kluster-kluster yang berbeda satu sama lain dan dibatasi oleh garis batas demarkasi. Hampir tidak ada celah untuk berdialog. Bahkan antara satu tradisi berpikir yang satu dengan tradisi berpikir yang lain saling menyalahkan, mengkafirkan dan semacamnya (ingat kasus antara epistemology Bayani, Burhani dan Irfani). Pola itu tentu berakibat negatif dalam praksis sosial, terbukti Islam yang tumbuh dalam tradisi berpikir rigid seperti itu lambat laun berubah citranya, dari agama santun menjadi agama radikal. Ironis memang, adanya missing link antara teks dengan konteks telah mereduksi makna dan menimbulkan sekian banyak (meminjam istlahnya Thomas Khun) anomali-anomali.

Pendidikan Bercorak Multikulturatif-Liberatif: Sebuah Solusi Clash of Religion Community Pendidikan adalah elemen penting pembentuk jati diri bangsa. Nasib masa depan dari sebuah paradaban bangsa ditentukan oleh kualitas sistem pendidikan. (Paulo Freire, 1999). Sistem pendidikan yang tidak menceraikan peserta didik dengan konteks kehidupan beserta tantangan problematika yang dihadapi akan membentuk bangsa dengan heterogenitas tinggi untuk senantiasa hidup dalam harmoni kedamaian. Begitu pula dalam lingkup yang lebih kecil, yaitu Islam. Pendidikan multicultural-liberatif adalah model pendidikan yang dipandang relevan diterapkan di Indonesia yang pluralis. Model pendidikan ini menawarkan nilai-nilai dasar yaitu penanaman dan pembumian sikap toleransi, empati, simpati dan solidaritas sosial. Dari sistem pendidikan ini diharapkan lahir generasi yang tak hanya mempunyai kesalehan individual tetapi juga mempunyai kesalehan sosial. Satu hal yang harus digaris bawahi dalam proses ini adalah jangan sampai isu-isu pluralitas, toleransi dan inklusifitas hanya berhenti pada ranah wacana tanpa diaplikasikan pada praksis sosial. Tidak mudah memang bagaimana satu paham (baca: paradigma) bisa memperoleh simpati di kalangan luas dan mendapat sosial acceptance. Kepentingan kekuasaan, politis dan status quo adalah halangan terbesar agenda pendidikan yang bercorak multikulturatif liberatif. Model pendidikan yang selama ini dijalankan di wilayah keagamaan, faktanya sering melahirkan fanatisme keagamaan yang pada akhirnya menimbulkan gerakan radikal. Beberapa contoh kasus kerusuhan antar agama dan beberapa terror bom di Indonesia adalah contoh nyata kegagalan sistem pendidikan agama yang selama ini diterapkan di Indonesia. Penulis yakin ada kaitan antara tindak sentimen keagamaan dengan sistem pendidikan karena di lapagan, orang-orang yang terlibat dalam gerakan fundamentalis-liberal sebagian besar adalah orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan baik formal (sekolah) atau non formal (Islam: pesantren). Hal itu bisa terjadi karena praktik pendidikan agama kurang menyentuh aspek realitas sosial. Padahal bidang garap ilmu-ilmu agama sebagaimana diungkapkan oleh Amin Abdullah tidak hanya sampai ke wilayah teologis (ketuhanan), namun merambah sampai ranah sosial. Sistem pendidikan agama yang selama ini diterapkan cenderung bergaya dogmatis dan eksklusif sehingga tidak mengeherankan jika SDM yang dihasilkannya pun berideologi yang serupa. Sanagt perlu untuk dimunculkan sistem pendidikan baru yang visible untuk mencetak insan muslim moderat yang mampu mencari solusi atas beragam konflik agama yang kian merebak di masyarakat.

Di Indonesia khususnya, model yang tepat tentu saja harus digali dari aspek sosiologis, antropologis dan teologis masyarakatnya. Terminologi itu dalam epistemilogi Amin Abdullah dikenal dengan teoantroposentris yang kemudian ia kembangkan menjadi epistemologi integrasiinterkoneksi keilmuan. Epistemologi itu di tahap yang paling awal berusaha menghapus dikotomi ilmu umum dan ilmu agama yang sampai saat ini masih kental mejadi adagium dalam pendidikan. Pendidikan multikulturatif-liberatif sedianya menawarkan paradigma baru bagi pendidikan keagamaan di Indonesia, yang bebas dari intervensi negara. Pendidikan yang diselenggarakan bukanlah untuk mencetak intelektual positivis yang hanya bisa memecahkan problem dari sudut pandang keilmuan namun mencetak intelektual yang mampu mengawal perkembangan agama agar benturan antar agama tidak berakhir menjadi satu konflik melainkan berakhir dalam sebuah dialog. Ali Syariati (Eko Prasetyo, 2007), membahasakannya dengan istilah rausyan fikr, yaitu intelektual yang tidak hanya piawai berretorika dengan teks-teks keagamaan tanpa tahu problem dasariah umat, namun inteletual yang terjun langsung mengurai benang kusut umat beragama. Pluralisme keberagamaan yang dipupuk lewat aspek pendidikan adalah mesin transformasi sosial yang efektif untuk merubah cara pandang masyarakat dari narrowminded ke arah openminded. Paham toleransi adalah langkah awal terbukanya kesempatan dialog antar agama dan kemudian melakukan aksi nyata. Misalnya bekerja sama dalam keadaan sulit seperti ketika terjadi bencana dan semacamnya. Alih-alih antara agama saling ribut dan mengklaim dirinya yang paling benar alangkah eloknya jika perbedaan tersebut diterima sebagai sebuah keniscayaan kehidupan dan mengalihkan tensi aktifitas ke isu yang lebih produktif. Tujuan final pencapaian pendidikan multikultural-liberatif adalah memunculkan kesadaran peserta didik bahwa tugas manusia adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tak bisa ditawar lagi, pendidikan berbasis multikulturalisme dan pluralisme urgen untuk diterapkan di Indonesia. Mengingat begitu rawannya keberagamaan kita digesek lalu dibenturkan dalam perang terbuka. Perlu ditanamkan sifat kedewasaan dalam beragama. Nilai penting ajaran agama juga harus didesain ulang. Selama ini, agama lebih dipahami sebagai sesuatu yang simbolis yang dikemas dalam satu kultur atau style yang sebenarnya tidak agamis. Dalam Islam misalnya, Islam yang kaffah sering disimbolkan dengan sesuatu yang kearab-araban dari segi fashion dan tampilan. Tingkat keislaman seseorang kemudian hanya dilihat dari apakah ia memakai gamis, berjenggot, memakai sorban, memakai celana di atas mata kaki, berjidat hitam,

berjilbab dan lain sebagainya. Abdurrahman Wahid (2003) melihat fenomena tesebut dengan paradigma Arabisasi. Sebagaimana diuraikan di atas bahwa semua agama tidak bisa tidak harus melewati tiap fase kehidupan yang di dalamnya tentu tidak bisa mengelak dari persinggungan dengan budaya. Simbol-simbol Islam seperti jilbab, gamis dan lain-lain adalah produk budaya Islam ketika bersinggungan dengan realitas Arab pada waktu itu. Nilai-nilai toleransi, semangat kebersamaan dan kesetaraanlah yang seharusnya ditampilkan dalam kehidupan keberagamaan.

Menggalang Dialog dan Kerjasama Antar Agama Satu pertanyaan yang pantas untuk mengawali pembahasan dalam sub bab ini adalah bagaimanakah sikap al-Quran ketika berhadapan dengan agama lain? Apakah Islam harus menerima kebenaran mereka juga dan bagaimana Islam lewat al-Quran mengatur hubungan masyarakat beda agama? Semua pertanyaan tersebut sebenarnya telah terjawab oleh al-Quran. Dalam surat al-Baqarah ayat 256, Allah berfirman: Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam) sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang sangat kuat dan tidak akan terlepas. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. Ayat di atas bisa dipahami bahwa Islam sendiri mengakui eksistensi manusia untuk memilih keyakinan agama. Tidak ada satu pun yang berhak mengintervensi seseorang untuk masuk dalam agama tertentu. Ayat tentang kebebasan beragama di atas mengandung dua macam makna. Pertama, bahwa kebenaran keberagamaan tidak ditentukan oleh manusia atau kelompok sosial melainkan ditentukan oleh Allah. Fazlur Rahman (Islam and Modernity) menegaskan bahwa kebebasan beragama ini erat kaitannya dengan klaim kebenaran oleh sebagian pemeluk agama. Ditinjau dari ayat al-Quran Rahman sepakat bahwa klaim kebenaran adalah tindakan arogan yang menyalahi ketentuan agama Islam sendiri karena yang berhak menentukan sesuatu itu benar atau salah hanyalah Allah sebagai pemilik kebenaran sejati. Sekali lagi ditekankan bahwa kebebasan beragama penting ditanamkan menjadi paradigma berpikir masyarakat pluralis. Bentuk dari kebebasan beragama salah satunya adalah tidak mengajak atau bahkan memaksa seseorang yang sudah beragama untuk masuk ke dalam salah satu agama. Hal ini juga diatur dalam hukum positif Indonesia, di mana setiap agama diberi hak untuk beribadah dan menyabarkan ajarannya dengan catatan tidak ada pemaksaan. Sebenarnya,

ditinjau dari perangkat hukum (UU) Indonesia sudah mempunyai semacam protectioan law untuk mencegah timbulnya konflik horizontal antara agama. Namun, lagi-lagi fundamentalisme keberagamaan yang begitu kuat membudaya dalam masyarakat tidak bisa dengan mudah digeser dengan paradigma yang lebih moderat dan humanis. Di dalam masyarakat, terlepas apakah itu masyarakat agraris, industrialis, kapitalis atau komunis, pasti terdapat konsep pengidolaan. (Anthony Giddens, 1985), Satu atau dua dari anggota masyarakat yang dianggap pantas untuk memimpin kemudian diangkat menjadi pemimpin walau tanpa keputusan tertulis. Budaya ini juga terjadi dalam Islam (Sunny khususnya), yang dikenal dengan sebutan kiai, ulama, syekh dan semacamnya. Perannya dalam masyarajat cukup sentral. Di kalangan muslim tradisional (katakanlah yang masih tinggal di perkampungan dan memiliki tingkat pendidikan yang sangat rendah) kiai atau orang yang dianggap tahu tentang agama memiliki otoritas yang lebih dibanding pemerintah. Segala yang dikatakan olehnya, maka sebuah keharusan bagi para pengikutnya, dengan tidak lagi menghidupkan budaya kritis untuk sekedar tahu apakah ucapan kiai itu benar atau penuh dengan tendensi personal. Dalam konteks ini, kiai kemudian menjelma menjadi role model, trend setter serta penguasa dari sebuah grand theory. Sayangnya, sebagian besar elit agamapun masih terjebak pada pemahaman keberagamaan primordial dan ekslusif. Dari hasil analisa gerakan-gerakan radikal di Indonesia termasuk gerakan jihad versi Imam Samudera cs tidak murni berasal dari grass root Islam, namun digerakkan oleh elit-elit fundamentalis yang kebetulan mempunyai power untuk menggerakkan umat pengikutnya. Ketika sayap kiri (baca: golongan Islam inklusif) melakuakan counter radical, maka yang paling efektif adalah memberi kesadaran pentingnya toleransi dan dialog antar agama pada para elit agama terlebih dahulu. Mengingat masih kuatnya budaya pengidolaan dalam masyarakat beragama di Indonesia. Cukup menggembirakan dan membanggakan melihat fakta bahwa kesadaran akan toleransi dan dialog antar agama tersebut kian hari kian meningkat. Layaknya jamur di musim penghujan, banyak sekali bermunculan forum-forum kajian lintas agama baik yang hanya berupa kegiatan seminar-seminar sampai lembaga-lembaga non pemerintahan (LSM) bahkan di beberapa perguruan tinggi telah dibuka konsentrasi studi tentang dialog lintas agama dan yang terkait konflik antar agama (beberapa diantaranya adalah CRCS di UGM dan Studi Agama dan Resolusi Konflik di UIN Yogyakarta), sayangnya kedua program studi tersebut hanya ada di jenjang strata dua. Dialog antar agama memang tidak bisa instan lalu menghasilkan

tawaran ideal bagu hubungan antar agama. Dinamisnya masyarakat beragama juga berbanding lurus dengan masalah-masalah yang muncul. Thus, idealnya adalah terjadi komunikasi dan dialog yang berkelanjutan antar agama, demi menghindari kesalahpahaman yang sering berujung pada konflik. Lembaga-lembaga kajian lintas agama diharapkan tidak bersifat sporadis atau bekerja hanya untuk mendapatkan grand project dari lembaga donor asing, tentu hal itu akan megaburkan misi awal untuk menyandingkan agama-agama dalam satu barisan paduan suara yang menyanyikan lagu persatuan dan perdamaian.

Kesimpulan Membicarakan agama dalam penggal sejarah kapanpun, terpaksa harus diakui bahwa selain berisi ajaran tentang kedamaian, cinta kasih dan janji-janji sorga, agama (tentu tidak dipahami an sich) juga menyimpan sisi potensi konflik. Sejarah telah mencatat setumpuk cerita kelam pertarungan antar agama yang menumpahkan darah-darah pejuang pembela kepercayaan yang diklaim menjadi kebenarana universal. Dalam sebuah kesempatan, Gandhi pernah ditanya oleh seseorang, Jika memang ada satu kebenaran (Tuhan), mengapa harus ada banyak agama? Gandhi menjawabnya dengan ilustrasi sebuah pohon besar yang memilki banyak cabang, di cabang-cabang tersebut tumbuh ranting-ranting kecil dan di sela-sela ranting itu menggantung dedaunan. Alangkah indahnya jika antar cabang, ranting maupun daun tidak saling ingin membinasakan namun sebaliknya saling menopang demi keberdirian pohon. Jelasnya, perbedaan (apapun) haruslah dipahamai sebagai kenyataan hidup. Bukankah dalam Islam sendiri dikenal idiom perbedaan adalah rahmat. Perbedaan, baik yang dimunculkan oleh sebuah proses shifting paradigma atau apapun hendaknya disikapi dengan bijak, mujadalah bil laty hiya akhsan tentu akan lebih mulia dibanding clash berkepanjangan. Dalam dekonstruksi cara beragama seperti yang penulis tawarkan dengan konsep Teologi Humanis di atas, terlihat bahwa agama tidak hanya dipahami sebatas sebagai dogma, kulit muka, institusi-institusi dan ritual-ritual seperti yang dipahami akhir-akhir ini. Lebih penting dari beberapa hal tersebut adalah keharusan umat agar menempatkan agama sebagai sebuah bentuk relativisme (tanpa terjebak pada pemahaman postmodern) dan lebih mementingkan isi, substansi dan pengalamanpengalaman kemanusiaan. Intinya, dogma agama penting bagi dasar eksistensi agama secara independent, mustahil satu agama meminjam ajaran agama lain sebagai dogma, namun di

tangan pemeluk agama, dogma tidak lagi mempunyai otoritas untuk membenarkan diri dan merusak eksistensi dogma agama lain. Yang terjadi di masyarakat kekinian tidaklah demikian. Betapa masyarakat mementingakan ritus agama melebihi isi dan pengalaman manusia sebagai pelaku agama. Ketika itu semua memuncak dalam satu paradigma besar kehidupan, muncul pertanyann, bagaimana roh agama bisa membangun peradaban manusia yang penuh dengan keadilan dan perdamaian jika perbedaan antar agama selalu dijadikan alasan untuk bertindak tidak adil bahkan tidak manusiawi? Problem antar agama semakin rumit ketika keyakinan satu pemeluk agama kemudian pada akhirnya mengantarkannya pada ekspresi keberingasan untuk menyerang kelompok lain yang berkeyakinan beda. Pertanyaan di atas mungkin cukup memicu refleksi cara berteologi yang dipahami selama ini. Teologi Humanis sebagi konsep berpikir mungkin memberi warna baru bagi hubungan antar agama-agama. Penulis meyakini bahwa maslah besar yang dihadapi pemeluk agama di era glonbalisasi ini adalah di seputar penafsiran umat atas teks-teks keagamaan. Tak bisa disangkal, hampir semua kitab suci agama meriwayatkan kisah kekerasan, namun cerita-cerita itu dituturkan bukan untuk ditiru. Cerita-cerita tersebut adalah ibrah, pesan Tuhan agar manusia di kehidupan yang akan datang tidak melakukan hal serupa. Teks sebagaimana dituturkan para hermeneut haruslah dipahami dengan tidak memisahkannya dari konteks. Saat ini yang dibutuhkan adalah pemahaman teks kegamaan yang sesuai dengan konteks pengalaman kemanusiaan yang sedang dihadapi. Pemahaman yang berdasarkan akar historis semata akan membawa manusia ke legitimasi kekerasan dari yang satu atas yang lain. sudah lama manusia merindukan rahmat berwujud kedamaian hidup. Untuk apa beragama jika setiap detik kita dituntut untuk selalu menjadi yang peling benar dan itu berarti kita harus memusnahkan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita? Pada umumnya manusia meyakini bahwa agama bisa mengantarkannya menuju kedamaian, bahkan yang sifatnya abadi. Namun dalam prosesnya, seringkali manusia lupa akan tujuan awal diturunkannya agama. Kebenaran agama kemudian menjadi mutlak dipertentangkan. Akhirnnya setiap invidu agama harus sadar bahwa warna-warni hidup adalah sebuah fakta sejarah. Sudah saatnya sifat kekanak-kanakan dala beragama dihapus total dari pemahaman kita. Agama bukanlah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan beragamam permasalaha kehidupan yang kita hadapi. Beragama, jelas bukan pekerjaan meniti lorong waktu lalu kembali pada masa

lampau di mana pertama kali agama turun. Paham romantisisme seperti ini hanya akan mengasingkan manusia dari ajaran agamanya sendiri. akibat paling nyata dari pola pikir itu adalah munculnya manusia-manusia yang mengaku mampu membela Tuhan dengan gerakan radikal-anarkisnya. Padala menurut penulis, tidak ada Tuhan dalam agama apapun yang pantas untuk dibela, yang wajib dibela adalah rasa moralitas dan humanitas manusia sendiri yang kian hari kian menjadi barang langka. Bukanlah Tuhan yang ada di balik perjuangan kaum-kaum radikal. Kesombongan, kecongkakan dan hasrat untuk berkuasa yang tak terbendunglah Tuhan mereka, karena pada dasarnya tidak ada Tuhan yang memerintahkan umatnya untuk membinaskan golongan yang berbeda. Seperti ditulis Gibran dalam satu sajaknya, Perdamaian ada bersamamu, yang terjaga. Semoga para insan beragama senantiasa terjaga untuk tidak gelap mata lalu membenarkan tindakan radikal atas nama agama.

Daftar Pustaka Abdullah, Amin, Kata Pengantar dalam Ilham B. Saenong, Hermenetika Pembebasan: Metodologi Tafsir al-Quran Menurut Hassan Hanafi, Bandung: Mizan, Teraju, 2002 ----------------------, Islamic Studies di Peguruan Tunggi Paradigma Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006 Amstrong, Karen, Sejarah Tuhan terj. Zainul Am (Bandung: Mizan, 2001 Engineer, Ali Asghar, Islam dan Teologi Pembebasan terj. Agung Prihantoro, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999 Fanani, Ahmad Fuad, Islam Mazhab Krirtis, Jakarta: Gramedia, 2004. Freire, Paulo, Politik Pendidikan; Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyanto Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999 Giddens, Anthony, Kapitallisme dan Teori Sosial Modern; Suatu Analisis terhadap Karya Tulis Marx, Durkheim dan Weber terj. Suhera Kramadibrata, Jakarta: UI PRESS, 1985 Mulkhan, Abdul Munir, Teologi Kiri: Landasan Membela Kaum Mustadzafin, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002 Prasetyo, Eko, Jadilah Intelektual Progresif. Yogyakarta: Ressist Book, 2007 Qodir, Zuly, Islam Liberal Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007

Rahmena, Ali (ed.). Para Perintis Zaman Baru Islam, Bandung: Mizan, 1995 Russsel, Bertrand, Bertuhan Tanpa Agama,Yogyakarta: Ressist Book, 2008 Sumaryono, E., Hermeneutik Yogyakarta: Kanisius, 1999 Wahid, Abdurrhaman, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Jakarta: The Wahid Institute, 2003