Anda di halaman 1dari 14

Praktikum Fisiologi Hewan

Analisis Urin
Dosen pengampu : Anti Damayanti H., S.Si, MMolBio

Disusun oleh : Arofatin Nazila 10680056 Asistan : Dewi kurniasih

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2013 Pemeriksaan Urin


A 1 2 B Tujuan Praktikum Mengidentifikasi ciri ciri dan komposisi urin yang normal Mengidentifikasi kelainan ginjal dari hasil pemeriksaan urin Dasar teori Sistem ekskresi adalah suatu proses pengeluaran zat-zat sisa yang tidak digunakan lagi. Zat-zat sisa ini berupa urine, keringat dan air. Kegunaan dari system ekskresi in adah untuk menjaga konsentrasi ion-ion seperti ion Na +, K+, Cl-, Ca2+ dan H+, menjaga konsentrasi kandungan osmotic, menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, membuang sisa metabolisme yaitu urea dan asam urat dan membuang zat asing yang tidak berguna dari hasil metabolisme (Dahelmi, 1991). System urin terdiri dari ginjal, ureter, kantong kemih dan uretra dengan menghasilkan urin yang membawa serta berbagai produk sisa metabolisme untuk dibuang. Ginjal juga berfungsi dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh dan merupakan tempat pembuangan hormon rennin dan eritropitin. Renin ikut berperan dalam pengaturan tekanan darah dan eritropitin berperan dalam merangsang produksi sel darah merah. Urin juga dihasilkan oleh ginjal berjalan melalui ureter ke kantung kemih melalui uretra (Juncquiera, 1997). Urine merupakan cairan hasil sisa metabolisme yang dikeluarkan karena tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh hewan melalui proses fisiologi tubuh hewan. Hormone yang berperan dalam pembentukan urine adalah hormone insulin. Hormone ini berfungsi untuk mengatur kadar gula, seseorang penderita diabetes disebabkan karena kerja hormone insulinnya terganggu. Faktor yang memepengaruhi jumlah urine dihasilkan seseorang antara lain adalah volume air yang dimimun, suhu, banyak garam yang harus dikeluarkan di dalam tubuh, zat-zat diuritict seperti kopi dan alcohol, yang dapat mengurangi penyerapan ion Na+ sehingga penyerapan tersebut terhambat dan volume air akan meningkat (Kimball, 1996). Ada tiga tahap pembentukan urin yaitu : 1) Proses filtrasi merupakan prpses yang terjadi dalam glomerulus, terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari

permukaan eferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpauni bawman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat diteruskan ke tubulus seminiferos. 2) Proses reabsorpsi : terjadi penyerapan kembali sebagian dari glukosa, sodium, kloroda dan fosfat dan beberpa ion bikarbonat. Prose ini terjadi secara pasif yang dikenal obligator reapsorbsi terjadi pada tubulus atas. 3) proses sekresi, sisanya penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan keluar (Syaifuddin, 1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah atau keadaan urine yaitu diantaranya : jumlah air yang diminum, keadaan sistem syaraf, hormon ADH, banyaknya garam yang harus dikeluarkan dari darah agar tekanan menjadi osmotic, pada penderita diabetes melitus pengeluaran glukosa diikuti kenaikan volume urine (Thenawijaya, 1995).

C 1 1 2 3 4 5 6 7

Metode Alat dan Bahan Alat Tabung reaksi dan rak Pembakar spiritus Gelas kimia 100 ml Indikator universal pH Korek api Pipet Test Pack 1 2 3 4 5 Bahan Sampel urin Reagen benedict Reagen Biuret Larutan AgNO3 1 % Larutan Betadine

Cara Kerja

Mengukur pH urin

Urin dimasukkan ke dalam gelas kimia kemudian ukur pH urin dengan menggunakan indikato universal

Warna dicocokkan pada indikatornya

Menguji Amonia

1 ml urin dimasukkan kedalam tabung reaksi.kemudian dipanaskan dengan pembakar spiritus sampai mendidih

Bagaimana bau hasil urin tersebut

Menguji Empedu 2 ml urin dimasukkan dalam tabung reaksi

Tabung reaksi dimiringkan dan ditetesi dengan larutan betadine hingga seluruh permukaan urin tertutup. Perhatikan pada batas urin dan betadine

Menguji Protein 2 ml urin dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 5 tetes reagen biuretdan dibiarkan selama 5 menit dan diamati perubahan warnanya

Menguji Glukosa 2ml urin dimasukkan dalam tabung reaksi

Dtambahkan 5 tetes reagen benedict kemudian dipanaskan dan diamati perubahannya

Menguji ion klorida 2 ml urin dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Dtambahkan 5 tetes larutan AgNO3 1 % kemudian dibiarkan selama 5 menit, kemudian diamati apakah terbentuk endapan putih atau tidak

Mengui Kandungan hormon hCG Sampel urin ditaruh di botol sampel

Alat test pack dicelupkan ke sampel urin sampai batas yang telah ditentukan

Tunggu beberapa saat kemudian dan lihat reaksinya

D 1

Hasil dan Pembahasan Data hasil Pengamatan

No Perlakuan sampel
1 2 3 Mengukur pH Menguji amonia Menguji empedu pH urin: 7

Hasil

Keterangan
Urin normal Urin normal Karena larutan yang digunakan betadin jadi cincin hijau tidak terlihat Urin normal Urin normal Urin normal A hamil 2 bulan B hamil 5 bulan (tua) C tidak hamil

Ada bau amonia Tidak ada cincin hijau

4 5 6 7

Menguji glukosa Menguji protein Menguji ion klorida Menguji kandungan hormon hCG 2 a

Tidak ada endapan merah bata Tidak ada cincin violet Terbentuk endapan putih Urin A ada dua garis Urin B ada dua garis Urin C hanya satu garis

Gambar data pengamatan

Uji empedu

Uji glukosa

Uji protein

Uji ion klorida

Kandungan hCG

Pembahasan Praktikum kali ini mengenai pemeriksaan urin yang bertujuan untuk mengidentifikasi

ciri ciri dan komposisi urin yang normal dan mengidentifikasi kelainan ginjal dari hasil pemeriksaan urin. Pada praktikum ini dilakukan 7 kali pengujian yaitu mengukur pH, menguji amonia, menguji empedu, menguji glukosa,menguji protein,menguji ion klorida, dan menguji kandungan hormon hCG. Praktikum pertama yakni mengukur pH urin. Urin dimasukkan ke dalam gelas kimia kemudian urin diukur pHnya dengan menggunakan pH meter , kemudian dicocokkan dengan

warnanya pada indikator. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan urin mempunyai pH 7 hal ini membuktikan bahwa urin dalam keadaan normal. Urin yang normal mempunyai pH berkisar antara 4,5 7,5. Praktikum yang kedua yakni menguji amonia. Amoniak merupakan senyawa kimia yang memiliki lambang NH4. bau amoniak ini sangat menyengat (bau pesing) apalagi jika habis menkonsumsi jengkol, dan pete. Hal ini dikarenakan setelah diolah maka pati jengkol tersebut akan mengkristal dan akan dikeluarkan lagi dengan zat-zat yang tidak berguna. Sehingga dapat menyebabkan bau yang lebih pesing. Pada praktikum kali ini praktikan melakukan pengamatan terhadap urine untuk mengenal bau amoniak dari hasil penguraian urea dalam urine. Praktikan melakukan pemanasan kepada urine yang telah dimasukan ke dalam tabung reaksi. Setelah dipanaskan lalu cium bau urine tersebut dengan cara dikipaskipas pada atas tabung reaksi sehingga bau amoniaknya dapat tercium. Berdasarkan data yang diperoleh urin yang diamati mengandung amonia, hal ini menunjukkan bahwa keadaan urin normal. Praktikum yang ketiga yakni menguji empedu. Zat warna pada empedu berasal dari pemecahan hemoglobin pada butir darah merah. Beberapa zat warna itu adalah biliverdin (hijau) dan bilirubin (orange, kuning, cokelat). Pertama2 ml larutan urin dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian ditetesi dengan larutan iodium tincture sampai seluruh permukaan tertutup. Perubahan warna diamati. Cairan empedu encer ditambahkan dengan aquadest kemudian dialira dengan larutan I2 0,5% dalam alcohol melalui dinding tabung, sehingga diperoleh cincin hijau diantara dua lapisan, lapisan atas(merah) dan lapisan bawah(hijau) yang merupakan cairan dari empedu. Reaksi yang terjadi:

C2H5-5H H -C-COOH + I2 +Ag+ NH2

C2H5-5H H-C-COOH NH2I (Biru hijau)

Praktikum yang keempat yakni tentang menguji Glukosa. Pertama 2 ml urin dimasukkan kedalam tabung reaksi , kemudian 5 tetes benedict ditambahka kemudian dipanaskan . pemanasan ini adalah untuk mempercepat reaksi antara glukosa dalam urin dan reagen benedict. Karena uji Benedict digunakan untuk mendeteksi zat uji mengandung gula pereduksi atau gula invers. Pereaksi benedict terdiri dari kupri sulfat,natrium sitrat, dan natrium karbonat. Pada uji benedict, teori yang mendarsarinya adalah gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalamsuasana alkalis, menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O(kupro oksida) berwarna merah bata. Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa Cu2O. Sedangkan Berikut reaksi yangberlangsung: O Gula Pereduksi O Endapan Merah Bata

RCH + Cu2+ 2OH- RCOH + Cu2O Namun pada acara praktikum tidak terjadi perubahan warna pada urin, ini menunjukkan bahwa urin normal. Tidak ada penyakit yang menyebabkan terlepasnya glukosa pada urin. Acara praktikum selanjutnya adalah pengujian protein dalam urin. Pertama 2 ml urin dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 5 tetes reagen biuret dan dibiarkan selama 5 menit. Kemudian diamati apakah terjadi perubahan warna. Hasil percobaan tidak menunjukkan perubahan warna pada urin. Bila ada protein pada urin maka reaksi dengan biuret akan menunjukkan cincin ungu pada protein. Terlepasnya protein pada urin menunjukkan terjadi kerusakan pada glomerulus sebagai penyaring pertma pada proses filtrasi. Pada fase filtrasi tidak ada protein yang dilepaskan ke tubulus proksimal, bila ada maka ada kurusakan yang bisa jadi disebabkan oleh infeksi bakteri. Reaksi biuret dengan protein adalah sebagai berikut : reagen Biuret bereaksi dengan gugus amin yang terdapat pada asam amino. Biuret merupakan reagen yang bersifat basa, sehingga gugus amin dari asam amino bertindak sebagai asam Dengan membentuk NH4+. Reaksi menghasilkan senyawa basa NH4OH yang menyebabkan larutan berwarna ungu. Praktikum selanjutnya yaitu uji ion klorida dalam urin. Pertama 2 ml uri dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 5 tetes larutan AGNO3 1% dan dibiarkan selama 5 menit. Perubahan warna diamati. Hasil praktikum menunjukkan terdapat endapan

putih. Ini menunjukkan bahwa urin mengandung ion klorida. Urin mengeluarkan garam nacl yang bila larut dalam air akan membentuk Na+ DAN Cl-. Penambahan AGNO3 yang bila larut dalam air akan membentuk ion Ag+ dan NO3-. ketika urin bercampur dengan AgNO33 maka akan terjadi reaksi 2NaCl + AgNO3 -> Na2NO3 + AgCl2

Praktikum selanjutnya menguji kandungan hormon hCG. Pertama sampel urin ditempatkan dibotol sampel. Kemudian alat test peck dicelupkan kesampel urin sampai batas yang telah ditentukan kemudian ditunggu reaksinya apakah menunjukkan 1 garis atau 2 garis. Hasil praktikum menunjukkan pada tabel dibawah ini : Menguji kandungan Urin A ada dua garis hormon hCG Urin B ada dua garis Urin C hanya satu garis A hamil 2 bulan B hamil 5 bulan (tua)

C tidak hamil Urin A dan urin B menunjukkan ada 2 garis menunjukan hamil karena kedua sampel mengandung hormon hCG dan urin C tidak mengandung hormon hCG. Urin B berwarna lebih tua jika dibandingkan urin A pada alat test pack. Ini menunjukkan bahwa urin B lebih banyak mengandung hormon hCG. Ini sesuai dengan teori bahwa semakin tua usia kehamilan maka hormon hCG akan diproduksi lebih banyak. Produksi hCG ini terdapat pada embrio yaitu human chorionic gonadrotropin. Bekerja seperti LH pituitari dalam mempertahankan sekresi progesteron dan esterogen oleh korpus luteum selama beberapa bulan pertama kehamilan. Jika tidak ada hCG yang menggantikan LH selama kehamilan, korpus luteum akan hancur dan kadang progesteron menurun, mengakibatkan menstruasi dankehilangan embrio. Kadar hCG dalam darah tinggi sehingga menyebabkan sebagian diantaranya diekresikan dalamurin, yang keberadaannya merupakan dasar pada tes kehamilan.

Cara kerja alat test pack yaitu di suatu sampel yang reaktif, antigen HCG akan melampirkan bersama zat darah penyerang kuman di dalam larutan koloid. Seperti sekelompok bergerak maju di selaput, antibodi monoklon HCG affixed di zone ujian ("T") akan mengikat kompleks sekelompok HCG-gold, membentuk suatu garis yang merah muda ("T"). Setiap contoh akan menyebabkan suatu garis yang ditanda warna merah muda yang muncul di dalam zone kendali ("C"). Garis ini dibentuk oleh jilid zat darah penyerang kuman polyclonal (Anti-mouse IgG) diletakkan ke zone kendali kepada sampel sekawan emas koloidal. Kehadiran dari garis ini menunjukkan bahwa pengetesan sudah dilaksanakan secara benar.