Anda di halaman 1dari 5

Infeksi dan Penyakit Pada Ambing

1. Bovine ulcerative mammilitis Bovine Herpes Virus tipe 2 (BHV2) sebagai salah satu agen virus penting yang menyebabkan peradangan puting dan ambing atau Bovine ulcerative mammilitis pada sapi perah, kaitannya sangat erat dengan kepentingan ekonomi seperti penurunan produksi susu, mastitis yang selalu muncul dan air susu yang terkontaminasi darah.Ada dua macam bentuk klinis yang terlihat pada infeksi oleh BHV2 atau virus herpes mammilitis yaitu peradangan puting dan ambing susu serta penyakit pada mukosa kulit (pseudo lumpyskin). Penyakit yang disebabkan BHV2, secara klinis terlihat hampir sama pada infeksi Pseudocowpox, Foot and mouth disease, Vesicular stomatitis. Virus yang berasal dari sampel luka pada puting selama outbreak dapat didiagnosis dengan menggunakan mikroskop elektron. Virus dapat mudah diisolasi dari kasus mammilitis atau penyakit kulit dengan menggunakan sel ginjal sapi bahkan secara histopatologi terlihat perubahan secara karakteristik adanya sel raksasa dan benda inklusi dalam inti sel epidermis. Secara serologik juga dapat diuji dengan serum netralisasi. Desinfektan seperti cairan Iodophor dan hypochlorite dapat digunakan untuk mencegah penularan ke sapi lainnya. Sampai saat ini penyakit BHV2 didunia sudah dideteksi secara serologi maupun isolasi. Tulisan ini mengulas tentang infeksi BHV2 pada sapi perah. Virus Herpes berasal dari bahasa Yunani yang berarti creep atau bergerak secara perlahan (BESWICK, 1962). Sampai saat ini, yang merupakan anggota famili virus herpes sangat beragam, demikian juga dalam menyebabkan infeksi pada bermacam-macam induk semang. Virus tersebut tidak dapat dibedakan dari gambaran dasar atau bentuknya, tapi dapat dibedakan secara biologis, ukuran komposisi basa, serta komposisi genom dan kandungan antigenisitasnya. Dari perbedaan urutan DNA digunakan dalam mengklasifikasi famili Herpesviridae kedalam 3 subfamili seperti Alphaherpesvirinae, Betaherpesvirinae dan Gamma herpesvirinae. Penyakit BHV2 sudah dilaporkan menyerang sapi jenis Ayrshire, Friesen dan sapi crosbred dan kerbau (MARTIN et al., 1966a; LETCHWORTH et al., 1982). Derajat kesakitan rata-rata 20-30% dan pada beberapa kasus berlanjut dengan adanya mastitis yang tidak dapat disembuhkan, pada kasus tersebut sebaiknya diadakan pemotongan pada sapi sakit karena penyakit biasanya bertahan sampai 2-3 bulan. (PEPPER et al., 1966) Kejadian penyakit BHV2 pada hewan yang sedang menyusui dan atau pada masa kering dilaporkan oleh MARTIN et al., 1966a pada 17 peternakan di Scotland (Tabel 1). Tercatat bahwa angka kesakitan atau morbiditasnya berkisar antara 18-96% atau rata2 sebanyak 50%, sedangkan dari kasus tersebut yang menderita mastitis sebanyak 22% atau berkisar 0-59%, pada sapi yang baru pertama menyusui biasanya terlihat lebih parah.

Periode inkubasi penyakit BHV2 berkisar antara 5 sampai 10 hari, tetapi banyak lesi pada hewan pada hari ke 14, setelah kasus terlihat pertama (MARTIN et al., 1966a), gejala klinis pada sapi yang baru melahirkan terjadi setelah 1 minggu. Sedangkan keropeng pada putting biasanya terlihat 5-9 hari, kemudian terjadi pengelupasan setelah 10-13 hari. Penyakit yang disebabkan virus BHV2 yang secara klinis terlihat adanya keropeng pada kulit dari putting dan ambing atau dapat juga secara menyeluruh pada kulit tubuh sapi (Gambar1) yang disebut pseudolumpyskin disease, dengan lesi jendolan di seluruh permukaan tubuh hewan, Benjolan terlihat padat, bundar atau dapat juga berbentuk rata dengan membentuk legokan ditengah benjolan tersebut. Kadang-kadang luka tersebut menjalar sampai ke mulut dan cungur anak sapi yang sedang menyusu pada induk sapi yang terkena infeksi (JOHNSTON et al., 1971).

Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh penyakit BHV2 karena adanya lesi pada putting dan ambing berkaitan dengan penurunan jumlah air susu yang dihasilkan sampai dengan 20% (GIBBS dan RWEYEMAMU, 1977), disebabkan oleh kesulitan dalam memerah, kejadian mastitis yang selalu muncul yang secara langsung menyebabkan turunnya produksi susu, kualitas susu serta keuntungan. Lesi pada puting biasanya menyebabkan kesakitan yang luar biasa, yang menyebabkan pemerahan susunya tidak maksimal yang akhirnya tidak menghasilkan susu secara tuntas pada akhirnya dapat memicu terjadinya infeksi mastitis subklinis yang berlanjut pada mastitis klinis. Karena lesi pada puting maka akan terjadi pengelupasan kulit pada kulit yang mempunyai lesi maupun epithelium yang sehat sehingga kesempatan bakteri untuk masuk ke saluran puting tersebut lebih tinggi.

Bovine Herpes Virus tipe 2 (BHV2) adalah penyebab kasus Bovine ulcerative mammilitis yaitu peradangan puting dan ambing pada sapi perah. Kejadian infeksi BHV2 perlu diperhatikan karena menyebabkan derajat kesakitan sampai dengan rata-rata 50%. Infeksi yang disebabkan oleh virus BHV2 pada sapi perah sangat merugikan peternak karena produksi air susu pada sapi perah menurun sampai 20%, kontaminasi air susu dengan serpihan luka keropeng dan darah serta timbulnya mastitis. Penyakit BHV2 dapat didiagnosis sedini mungkin dan dapat segera ditanggulangi, dengan memperhatikan gejala perlukaan pada puting dan ambing pada ternak sapi serta pemeriksaan dan pengujian di laboratorium secara isolasi, histopatologi dan serologi sehingga penyebaran ke sapi lainnya dapat dicegah, yang pada akhirnya kerugian peternakan dapat dihindari (Tuti. 2010).

2. Mastitis

Mastitis adalah peradangan jaringan interna kelenjar susu atau ambing dengan berbagai penyebab, derajat keparahan, lama penyakit dan akibat penyakit yang sangat beragam. Secara garis besar mastitis terbagi atas mastitis klinis dan mastitis subklinis (Morin and Hurley, 2003). Mastitis klinis senantiasa diikuti tanda klinis baik berupa pembengkakan, pengerasan ambing, rasa sakit, panas, kemerahan sampai penurunan fungsi ambing. Sedangkan mastitis subklinis adalah mastitis yang tidak menampakkan perubahan yang nyata pada ambing dan susu yang dihasilkannya, hanya produksi susu turun sehingga peternak kerap kali terlambat menyadari. Untuk itulah diperlukan pengendalian penyakit mastitis yang melibatkan pengkajian dari berbagai aspek. Proses terjadinya mastitis senantiasa dikaitkan dengan tiga faktor yaitu sapi, penyebab keradangan dan lingkungan. Resiko terjadinya mastitis terletak pada ketidakseimbangan ke tiga faktor tersebut (Jones, 1998). Mastitis terjadi sebagian besar akibat masuknya bakteri patogen melalui lubang puting susu, kemudian berkembang di dalamnya lalu terjadilah mastitis (Hurley and Morin, 2003). Walaupun data mengenai kasus mastitis di Indonesia telah banyak dilaporkan, namun tingginya kasus mastitis subklinis sering dikaitkan dengan faktor-faktor yang mempermudah terjadinya mastitis, seperti luka lecet pada ambing akibat pemerahan yang salah dan kasar, serta sanitasi yang buruk. Beberapa data menampilkan persentase kejadian mastitis subklinis cukup tinggi, seperti di tahun 1983 tercatat 67% mastitis subklinis di pulau Jawa dan tahun 1987 lebih dari 80% sapi yang diperiksa di DKI Jakarta menderita mastitis subklinis. Selanjutnya dari tahun 1989 sampai dengan tahun 1996 persentase mastitis subklinis baik di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur berkisar 80 90%. Data tahun 1999 di Jawa Barat terutama Kabupaten Bogor dan sekitarnya tercatat 70% dari sapi-sapi yang diperiksa menderita mastitis subklinis (Sudarwanto, 1999). Kerugian ekonomi secara umum yang diakibatkan mastitis subklinis, meliputi penurunan produksi, penurunan mutu susu, pembuangan susu, biaya perawatan dan pengobatan, pengafkiran ternak lebih awal serta pembelian sapi perah baru. Penurunan produksi susu akibat mastitis sangat bervariasi antara 10 40% (Department of Animal Science, 2003). Kerugian ekonomi akibat turunnya kualitas susu asal penderita mastitis subklinis lebih banyak disoroti dari aspek teknologinya. Kualitas susu turun ditandai dengan perubahan kandungan susu seperti turunnya kadar laktosa, lemak, dan kasein (Department of Animal Science, 2003). Di samping susunan susu dan pH susu meningkat, daya menggumpal dan aktifitas plasmin juga turut meningkat. Akibat lain adalah susu menjadi tidak stabil bila dipanaskan, produk susu pasteurisasi berkualitas rendah, dan cita rasanya menurun (Hurley and Morin, 2003).

Bakteri Streptococci dan coliform yang merupakan patogen lingkungan dapat hidup dan berkembang pada alas tidur dari bahan organik. Jerami yang digunakan sebagai alas tidur dapat mendukung pertumbuhan Streptococcus uberis, sementara bahan gergajian kayu dan kotoran yang didaur ulang umumnya meningkatkan jumlah E. coli dan Klebsiella spp. (Schrick et al., 2001). Salah satu alternatif untuk pengendalian mastitis yang disebabkan oleh patogen lingkungan adalah penggunaan alas dari bahan inorganik seperti pasir atau tumbukan batu kapur yang terbukti menghambat pertumbuhan patogen lingkungan. Faktor lain untuk tingginya angka prevalensi mastitis adalah patogen kontagiosa. Patogen

kontagiosa yang sering menyebabkan mastitis pada sapi perah adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus dysgalactiae dan Corynebacterium bovis (Fox, 2000) Secara ekonomis yang paling merugikan berperan besar dalam menyebabkan mastitis adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae. Semua patogen kontagiosa mempunyai karakteristik umum yang menjadi sumber utama mikroorganisme untuk menginfeksi kelenjar susu adalah kelenjar susu yang sudah terinfeksi yang berada di peternakan tersebut. Penyebaran patogen kontagiosa utamanya pada saat pemerahan dangan bantuan alat pemerahan termasuk mesin pemerahan, tangan pemerah, handuk untuk pembersihan ambing. Streptococcus agalactiae merupakan parasit obligat di ambing sapi perah dan tidak ditemukan hidup bebas di lingkungan (Waage et al., 2001). Sapi dara yang dimasukkan dalam peternakan pertama kali dapat terinfeksi dengan Streptococcus agalactiae dan infeksi umumnya dihasilkan dari sapi dara menyusu dari induk yang terinfeksi patogen (Waage et al., 2001). Untuk lebih mengenal mastitis yang disebabkan oleh agen penyakit Staphylococcus aureus, perlu dikaji lebih mendalam mengenai epidemiologi dari agen penyakit tersebut. Epidemiologi Staphylococcus aureus harus terkait dalam faktor sumber penyakit, sistem penularan dan faktor resiko penyakit (Roberson, 1999). Pengendalian Staphylococcal mastitis ditekankan pada pengertian bahwa penularan penyakit ini utamanya terjadi dalam proses pemerahan. Higiene dalam proses pemerahan akan menurunkan angka penularan antar sapi perah yang juga menurunkan adanya kasus mastitis baru yang disebabkan Staphylococcus aureus. Pengendalian kasus ini lebih difokuskan pada pengobatan masa kering laktasi dan pengafkiran sapi yang terinfeksi (Roberson, 1999).

Dapus BESWICK TSL. 1962. The origin of the use of word herpes. Med His 6 : 214-232. MARTIN WB, B MARTIN, D HAY and IM LAUDER. 1966a. Bovine ulcerative mammilitis caused by a herpes virus. Vet. Rec. 78 (14): 494-497. LETCHWORTH GJ and R LADUE. 1982. Bovine herpes mammilitis in two New York dairy herds. JAVMA 180 (8): 902-907. PEPPER TA, LP STAFFORD, RH JOHSON, and AD OSBORNE. 1966. Bovine ulcerative mammilitis caused by herpesvirus. Vet. Rec. 78: 569 JOHNSTON WS; C WRAY and JA SCOTT. 1971. An outbreak of bovine herpes mammilitis in suckler herd. Vet. Rec.: 372. GIBBS EPJ and MM. RWEYEMAMU. 1977. Bovine herpes viruses. Part II. Bovine Herpesviruses 2 and 3. Vet Bull. 47 (6): 411-425. Tati, Syafriati.2010. Infeksi Bovine Herpes Virus Tipe (BHV2) Penyebab Peradangan Putting Dan Ambing Pada Sapi Perah. Balai Besar Penelitian Veteriner .Bogor Morin, D.E. and W.L. Hurley. 2003. Mastitis Lesson B. University of Illinois, USA. Hurley , W.L and D.E. Morin. 2003. Mastitis Lesson A. University of Illinois, USA. Virginia Cooperative Extension, USA.
Jones, G.M. 1998. Staphylococcus aureus Mastitis: Cause, Detection and Control. Sudarwanto. 1999. Angka Prevalensi Bovine Mastitis dari Beberapa Peternakan Sapi Perah di Jawa Timur. Fakultas Kedaokternan Hewan Unair. Surabaya

Departement of Animal Science. 2003. Mastitis in Dairy Cows. Faculty of Agricultural dan Environmental Sciences, Macdonald Campus of McGill University. Roberson, J.R. 1999. The Epidemiology of Staphylococcus aureus on Dairy Farms. Proc. Natl. Mastitis Council, USA.